Tema Bulanan : Gereja, Keadilan dan Kesejahteraan bangsa
Tema Mingguan : Keluarga yang Tekun Menghayati Cinta Kasih Tuhan
Minggu, 30 Agustus 2026
bahan bacaan : Efesus 3 : 14 – 21 (TB2)
Doa Paulus
14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, 15 yang dari-Nya semua keluarga yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. 16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya di dalam batinmu, 17 sehingga oleh imanmu Kristus tinggal di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan semua orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 19 dan dapat mengenal kasih itu yang melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. 20 Bagi Dia, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, 21 bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.
Kekuatan Doa Yang Menyatukan Ikatan Keluarga
Di hari keluarga ini, kita diajak menghayati bahwa keluarga adalah bagian terpenting dalam hidup. Keluarga adalah tempat kita menerima kasih, dukungan, dan rasa aman. Di dalamnya, kita belajar nilai, adab, dan moral yang membentuk karakter kita. Keluarga juga mengingatkan kita untuk menghargai setiap anggotanya, meskipun sering kali kita sibuk dan lupa memperhatikan orang-orang terdekat. Dalam keluarga tidak ada hubungan yang sempurna. Konflik, perbedaan, dan kesalahan pasti terjadi. Namun, justru di situlah kita belajar memaafkan dan menerima satu sama lain apa adanya. Sikap ini penting untuk membangun hubungan yang kuat dan menjaga keharmonisan. Keluarga adalah tempat kita berbagi sukacita, kesedihan, dan pergumulan hidup. Karena itu, marilah kita terus hadir bagi keluarga, saling mendukung, dan berbagi beban. Ketika kita saling menguatkan, ikatan keluarga akan semakin kokoh. Firman Tuhan juga mengajarkan bahwa doa adalah kekuatan keluarga Kristen. Dalam doa terdapat kuasa yang mempersatukan.
Doa: Tuhan, ajarlah keluarga kami selalu menghayati cinta kasihMu. Amin.
Senin, 31 Agustus 2026
bahan bacaan : Mazmur 112 : 1 – 10 (TB2)
Bahagia orang benar
Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. 2 Anak cucunya akan perkasa di bumi; keturunan orang benar akan diberkati. 3 Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya. 4 Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; ia pengasih, penyayang dan adil. 5 Bahagialah orang yang menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan adil. 6 ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar akan diingat selama-lamanya. 7 ia tidak takut akan kabar buruk, hatinya teguh, penuh kepercayaan kepada TUHAN. 8 Hatinya kukuh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah lawan-lawannya. 9 Dengan murah hati ia membagi-bagi kepada orang miskin; kebajikannya tetap untuk selama-lamanya, tanduk kekuatannya ditinggikan dalam kemuliaan. 10 Orang fasik melihatnya, lalu sakit hati, ia menggertakkan giginya, lalu menjadi tawar hati; keinginan orang fasik akan menuju kebinasaan.
Kebahagiaan dalam Takut Tuhan
Setiap keluarga mengukur kebahagiaan dan memiliki ukuran kebahagiaan yang berbeda-beda. Ada yang bahagia karena mempunyai uang yang banyak, harta yang melimpah, punya kuasa dan jabatan. Ada juga yang bahagia saat anak-anak sudah mendapatkan pekerjaan. Hal tersebut wajar saja. Tentang kebahagiaan dan ukuran kebahagiaan, firman Tuhan hari ini menjadi menarik untuk kita renungkan. Pemazmur dalam pasal ini menyatakan bahwa berbahagialah orang yang takut akan Tuhan. Bagi Pemazmur, Takut akan Tuhan adalah pokok kebahagiaan bagi semua orang termasuk keluarga Kristen. Kondisi yang baik ataupun buruk tak akan mengurangi kebahagiaan seseorang yang takut akan Tuhan. Ia bahkan akan tetap berdiri teguh dan kokoh dalam segala situasi maupun kondisi sebab takut akan Tuhan menjadi kekuatan bagi orang yang selalu bahagia. Takut akan Tuhan berarti mengagumi, mengagungkan dan memuliakan Tuhan dalam seluruh hidup semua anggota keluarga. Kata-kata dan sikap serta perilaku selalu setia dan taat kepada perintah dan kehendak Tuhan. Maka sebagai keluarga-keluarga beriman; orang tua dan anak-anak cucu, pilihlah hidup takut akan Tuhan sebab itulah sesungguhnya kebahagiaan sejati yang akan menjadi berkat turun temurun bagi seisi keluarga.
Doa: ya Tuhan Yesus ajar kami saling mengasihi dalam keluarga, Amin.
Selasa, 1 September 2026
bahan bacaan : Efesus 5 : 25 – 27 (TB2)
25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
Laki – Laki Bae
Masih ingatkah kita akan lagu : Laki-laki Bae ? Lagu yang sempat viral di tahun 2019 yang dinyanyikan Beto Habibu (Idol) menjadi lagu yang menarik disimak. Salah satu liriknya mengatakan ”Laki-laki bae selalu jaga se pung perasaan, Laki-laki bae selalu lindungi se nona” . Hidup saling menjaga perasaan dan melindungi penting dimiliki sebagai karakter dalam berumah tangga. Tidak jarang harus kita akui bahwa banyak persoalan dalam keluarga berakar dari minimnya rasa hormat dan kasih antara suami-istri. Tindakan KDRT, perselingkuhan, dan perceraian bahkan pembunuhan bisa terjadi karenanya. Itulah sebabnya penting memahami soal kebersamaan atau kesatuan hidup. Efesus 5:25-27 memberikan pesan tersebut dengan secara khusus menjelaskan bagaimana sikap laki-laki yang seharusnya. “Laki-laki harus mengasihi istrinya sebagaimana Kristus mengasihi jemaat dan menyerahkan diri-Nya baginya” (5:25). Pesan ini mengandung makna bahwa Kristus mesti menjadi model keteladanan bagi laki-laki. Kasih-Nya mendorong laki-laki untuk tidak bersikap kasar atau ringan tangan dan mulut. Pertengkaran dalam rumah tangga tidak mesti dipandang sebagai batu loncatan untuk memperlihatkan kuasa atau arogan tetapi dalam kebijaksanaan mendampingi perempuan. Suasana damai dan sukacita harus dihadirkan melalui peran laki-laki. Karena itu, jadilah selalu laki-laki bae.
Doa: Tuhan, ajar kami saling mengasihi dalam keluarga Amin
Rabu, 02 September 2026
bahan bacaan : Efesus 5 : 22 – 24 (TB2)
Kasih Kristus adalah dasar hidup suami isteri
22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.
Istri harus mengasihi Suami
Rasul Paulus mengangkat masalah kesatuan dalam jemaat sebagai salah satu persoalan utama dalam surat Efesus. Apa yang disoalkan bisa dikatakan merupakan masalah yang tetap terupdate. Di era ini, berbagai upaya memecah belah persekutuan kerap terjadi bahkan di dalam lingkungan keluarga. Teks hari ini menyoroti peran perempuan sebagai istri. Penulis menggunakan kata “tunduk” sebagai sikap yang mesti diperlihatkan perempuan kepada suaminya. Yang menarik, Kristus tetap menjadi role model atas sikapnya.“Hai istri, tunduklah kepada suamimu, seperti kepada Tuhan”. Pesan ini berarti sikap yang diperlihatkan mesti bersesuaian dengan kesadaran bahwa apa yang dilakukan adalah seperti dilakukan terhadap Tuhan.Tuhan adalah pengasihi dan penyayang dan bila suami memperlihatkan sikap yang bertentangan maka istri mesti arif dalam memperlihatkan “tunduk” kepada suami. Pastinya bukan petunjuk agar istri mencari pria idaman lain. Sebaliknya istri diajak agar tetap bisa menghormati suami. Kurang-kurangnya seorang suami, tetap mintakan hikmat dari Tuhan, agar bisa setia dan bijaksana dalam menjalani biduk rumah tangga. Kristuslah Kepala dalam rumah tangga kita dan sebab itu, seorang istri atau perempuan harus belajar mengasihi suaminya atau laki-laki.
Doa: Tuhan ajar kami untuk belajar saling menghormati Amin.
Kamis, 03 September 2026
bahan bacaan : 1 Yohanes 4 : 7 – 12 (TB2)
Allah adalah kasih
7 Saudara-saudara yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. 8 Siapa yang tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. 9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. 10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. 11 Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau Allah demikian mengasihi kita, kita juga saling mengasihi. 12 Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.
Keluarga yang Baku Sayang
Kita selalu diajak untuk saling mengasihi satu dengan yang lain apalagi dalam keluarga. Dinda dan Donny adalah pasangan suami istri, Tetapi rumah tangga yang dijalani sekian tahun tanpa kehadiran anak selalu saja menjadi bumerang bagi mereka berdua. Dinda selalu menyalahkan Doni karena berdasarkan hasil diagnosa dokter, Doni positif dinyatakan mandul. Doni merasa tersudut dengan sikap Dinda tetapi itu tidak membuatnya berhenti mengasihi Dinda. Sebagai keluarga Kristen, Dinda tidak seharusnya bersikap demikian kepada Doni. Ia harus tetap mengasihi Doni. Memang sulit perjalanan rumah tangga yang mereka lalui, tetapi pernikahan telah menjadi keputusan iman mereka dan sebab itu mereka harus bisa tetap menjalaninya. Kasih harus tetap menjadi pondasi rumah tangga mereka. Teks hari ini memberikan alasan utama mengapa mereka harus mengasihi. Allah adalah kasih itulah jawabannya. Karena Allah adalah kasih maka Dinda mesti memahami bahwa ketiadaan anak bukan penghalang baginya dan Doni untuk tetap saling mengasihi. Ia harus mengasihi Doni apa adanya sebagaimana Doni tetap mengasihinya. Allah adalah kasih dan dalam kasih-Nya, kita tidak tahu apa maksud-Nya dibalik setiap peristiwa yang terjadi. Satu hal yang pasti : kita keluarga yang dikasihi Allah, maka sudah sepantasnya kita hidup baku sayang.
Doa: Tuhan ajar kami untuk tetap baku sayang Amin.
Jumat, 04 September 2026
bahan bacaan : Kidung Agung 8 : 5 – 7 (TB2)
Cinta kuat seperti maut
5 Siapakah itu yang muncul dari padang gurun, yang bersandar pada kekasihnya? Di bawah pohon apel kubangunkan engkau, di sanalah ibumu telah mengandung engkau, di sanalah ia mengandung dan melahirkan engkau. 6 Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN! 7 Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia tetap akan dihina.
Tetaplah Saling Mencinta
Opa Edo dan oma Leny adalah dua orang lansia yang memiliki kisah hidup yang menarik. Dalam usia lanjut, mereka merupakan teman cerita yang sulit dipisahkan. Opa Edo memiliki kebiasaan ruk-ruk (marah) bila oma Leny belum duduk bercerita dengannya. Oma Leny walau kadang dimarahi opa Edo namun beliau dengan setia selalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi. Opa Edo kelihatannya selalu merasa tidak lengkap bila oma Leny tidak bersamanya. Kisah mereka memperlihatkan kekuatan cinta yang mendalam. Walau dalam usia lanjut, namun mereka tetap memilih bersama. Kitab Kidung Agung menuliskan kekuatan cinta dalam teks hari ini. Sebagai kidung yang terindah, atau dalam terjemahan lain , Kidung Salomo, teks ini mengibaratkan cinta kuat bagai maut. Karena kuatnya cinta, maka yang membangun hubungan atas dasar cinta pasti akan bertahan. Keluarga Kristen mesti tetap menjadikan cinta kasih Kristus sebagai dasar dalam hidupnya. Tanpanya maka berbagai krisis akan terjadi dalam keluarga apalagi di era digital ini. Bisa saja suami-istri tidak saling menghargai; anak tidak mau ditegur, hubungan adik kakak yang renggang atau bahkan juga minimnya komunikasi. Keluarga Kristen sebagai gereja seharusnya tetap memberi diri dipenuhi dengan cinta kasih Kristus. Mari menua bersama dalam terang cinta kasih Tuhan.
Doa: Tuhan ajar kami untuk tetap mempertahankan cinta, Amin.
Sabtu, 05 September 2026
bahan bacaan : Kolose 3 : 14 – 15 (TB2)
14 Di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. 15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil dalam satu tubuh. Dan bersyukurlah.
Kasih Menjadi Pengikat
Kehidupan sejati seperti apakah yang kita kehendaki terjadi ? Hari ini kitab Kolose menuntun kita menemukannya dalam Kristus. Penulis menceritakan apa yang dilakukan Tuhan Yesus. Ia adalah kunci yang membuka rahasia Allah dan karena itu manusia harus hidup baru. Segala sesuatu yang duniawi harus dimatikan. Marah, geram, kejahatan, dan kata-kata kotor dibuang. Tidak saling mendustai, tidak saling membedakan. Ada belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati dan kelemahlembutan dan kesabaran. Tidak menyimpan dendam. Semua tindakan itu bila dilakukan tanpa kasih sama sekali tidak berarti apa-apa. Kasih harus menjadi dasar dari hidup sebab kasih adalah pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Kebenaran ini penting diperhatikan terutama dalam keluarga jemaat. Kita tahu kemajuan era digital membuat banyak perubahan. Tanpa bisa dibendung kita diperhadapkan dengan sejumlah tantangan dan ancaman. Keluarga pun jemaat berada dalam situasi genting yang mendorongnya membangun pertanyaan: bagaimana caranya menyikapi semuanya ? Teks hari ini mengajarkan kita untuk tetap hidup dalam kasih. Hanya ketika kasih dijadikan pengikat, maka kita akan bisa menjalani kehidupan dalam sukacita dan damai sejahtera. Sebab itu, mari jadikan kasih sebagai pengikat.
Doa: ya Tuhan Yesus, satukanlah kami dalam kasih-Mu, Amin.
*SUMBER : SHK BULAN AGUS-SEPT 2026