Tema Bulanan : Gereja Tekun Meningkatkan Kapasitas Pelayan dan Umat
Tema Mingguan : Tekun Melayani Dengan Rendah Hati
Minggu, 20 September 2026
bahan bacaan : Yohanes 13 : 1 – 20 (TB2)
Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya
Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Ia mengasihi orang-orang milik-Nya yang di dunia ini, dan Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya. 2 Ketika mereka sedang makan bersama, Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas, anak Simon Iskariot, untuk menyerahkan Dia. 3 Yesus tahu, bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. 4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain linen dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, 5 kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah baskom, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. 6 Lalu sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya: "Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?" 7 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan memahaminya kelak." 8 Kata Petrus kepada-Nya: "Engkau tidak akan pernah membasuh kakiku sampai selama-lamanya." Jawab Yesus: "Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku." 9 Kata Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!" 10 Kata Yesus kepadanya: "Siapa yang telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Kamu sudah bersih, tetapi tidak semua." 11 Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata: "Tidak semua kamu bersih." 12 Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Ia berkata kepada mereka: "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? 13 Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. 14 Jadi jikalau Aku Tuhan dan Gurumu membasuh kakimu, kamupun wajib saling membasuh kakimu; 15 sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. 16 Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada orang yang mengutusnya. 17 Jikalau kamu tahu semua ini, berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya. 18 Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. 19 Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia. 20 Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan siapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku."
Melayani dengan Rendah Hati
Saat ini, seakan kerendahan hati menjadi barang langka. Akibatnya, hubungan dalam keluarga atau masyarakat sering retak karena ego yang terlalu tinggi dan keengganan untuk mengalah. Teks Yohanes 13:1-20 memberikan teladan yang sangat kontras melalui tindakan Yesus mencuci kaki murid-murid-Nya. Secara teologis, tindakan ini menunjukkan bahwa kasih Tuhan yang paling tinggi justru dinyatakan melalui pelayanan yang paling rendah. Mencuci kaki adalah tugas seorang budak, namun Yesus, Sang Guru, melakukannya untuk mengajarkan tentang kerendahan hati da menghapus kesombongan para murid-Nya. Ia mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati di dalam keluarga dimulai dari kesediaan untuk menjadi “hamba” bagi anggota keluarga yang lain. Gereja wajib membimbing orang tua dan anak-anak untuk memiliki hati yang tulus dalam membantu sesama tanpa mengharap imbalan. Jangan biarkan pelayanan kita di gereja berbeda dengan sikap kita di rumah yang mungkin masih kasar atau egois. Mari kita belajar untuk tekun melayani Tuhan dengan cara merendahkan hati di hadapan sesama manusia.
Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk melayaniMu dengan rendah hati, amin
Senin, 21 September 2026
bahan bacaan : Amsal 15 : 33 (TB2)
33 Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kehormatan didahului kerendahan hati.
Rendah Hati: Jalan menuju Hikmat dan Kehormatan
Kerendahan hati diletakkan sebagai syarat mutlak yang harus ada sebelum seseorang menerima hikmat dan kehormatan. Tuhan tidak dapat mengisi hati yang sudah penuh dengan keakuan; karena itu, kerendahan hati merupakan pengakuan jujur atas keterbatasan diri yang membutuhkan bimbingan Ilahi. Alkitab menetapkan pola yang tegas bahwa kerendahan hati adalah pintu masuk, sementara hikmat dan kehormatan adalah hasil akhirnya. Kehormatan yang dimaksud di sini bukanlah penghormatan duniawi yang dikejar melalui materi atau jabatan, melainkan pengakuan tulus dari Tuhan yang lahir karena karakter yang telah teruji, bukan karena paksaan atau sekadar pencitraan. Berdasarkan kebenaran ini, mari kita berhenti mengejar pengakuan dunia yang semu dan mulai membangun hidup di atas dasar rasa hormat kepada Tuhan. Jangan biarkan diri kita dikuasai oleh ego atau haus akan jabatan, karena kehormatan yang bernilai kekal lahir dari karakter yang teruji di hadapan Allah, bukan dari pencitraan di mata manusia. Milikilah keberanian untuk mengakui keterbatasan diri dan tunduklah pada otoritas Tuhan, sebab saat kita memilih untuk tetap rendah hati, saat itulah Tuhan sendiri yang akan mengangkat dan melimpahkan hikmat-Nya bagi kita.
Doa: Tuhan, jadikanlah kami, pribadi yang rendah hati, amin
Selasa, 22 September 2026
bahan bacaan : Matius 18 : 1 – 5 (TB2)
Siapa yang terbesar dalam Kerajaan Sorga
Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" 2 Yesus memanggil seorang anak kecil, menempatkannya di tengah-tengah mereka 3 dan berkata: "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 4 Oleh sebab itu, siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. 5 Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."
Menjadi Besar dengan Merendah
Pertanyaan para murid tentang siapa yang terbesar di Surga menunjukkan bahwa mereka masih terjebak dalam ambisi duniawi. Mereka mengira Surga memiliki hierarki kekuasaan yang sama dengan kerajaan di bumi. Namun, Yesus justru menghadirkan seorang anak kecil sebagai teladan. Di masa itu, anak kecil tidak memiliki status sosial atau kekuatan apa pun. Dengan ini, Yesus menegaskan bahwa syarat utama masuk Kerajaan Surga adalah bertobat dan menjadi “kecil” dalam ego. Menjadi seperti anak kecil bukan berarti tidak dewasa, melainkan melepaskan ambisi berkuasa dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Kebesaran di mata Tuhan berbanding terbalik dengan dunia; yang terbesar adalah mereka yang paling rendah hati dan rela melayani orang-orang yang dianggap remeh. Mari kita berhenti mengejar pengakuan atau jabatan yang hanya memicu persaingan. Nilai diri kita di hadapan Tuhan tidak diukur dari hebatnya prestasi, tetapi dari ketulusan hati untuk bergantung pada bimbingan-Nya. Milikilah hati yang jujur dan tidak menyimpan dendam. Percayalah, saat kita berani melepaskan gengsi dan tulus melayani sesama, di situlah kita benar-benar menjadi besar dalam pandangan Tuhan. Jalan menuju Surga bukanlah melalui tangga kekuasaan, melainkan melalui pintu kerendahan hati.
Doa: Menjadi besar dengan merendah adalah harapan kami, Tuhan, dengarkanlah, amin
Rabu, 23 September 2026
bahan bacaan : Yohanes 12 : 1 – 8 (TB2)
Yesus diurapi di Betania
Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. 2 Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedangkan salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. 3 Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal sekali, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; bau semerbak minyak itu memenuhi seluruh rumah itu. 4 Namun Yudas Iskariot, seorang murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: 5 "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" 6 Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. 7 Lalu kata Yesus: "Biarkanlah dia, supaya ia melakukannya untuk hari penguburan-Ku. 8 Sebab orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama kamu."
Melayani Yesus Dengan Tulus Dan Penuh Kerendahan Hati
Tindakan Maria yang mengurapi kaki Yesus dengan minyak narwastu murni menggambarkan puncak pelayanan yang tulus. Tulus dalam melayani berarti memberikan yang terbaik, tanpa pamrih dan berpusat pada kasih Kristus, bukan pada penilaian manusia. Maria menggunakan minyak narwastu yang sangat mahal untuk membasuh kaki Yesus dalam kesadarannya untuk memberikan yang terbaik sebagai bentuk persembahan kasih. Maria menyeka kaki Yesus dengan rambutnya menyatakan ia merendahkan diri sepenuhnya di hadapan Yesus. Maria mengajarkan tulus melayani tidak berarti mencari panggung atau pengakuan manusia melainkan fokus menghormati Tuhan. Kontras dengan Maria, Yudas mengkritik pengurapan tersebut dengan alasan ekonomi padahal motivasinya palsu untuk mencari keuntungan diri sendiri. Dari sini kita belajar ketulusan diuji dari motivasi hati apakah untuk kemuliaan Tuhan atau kepentingan diri sendiri. Kisah Maria memberikan motivasi benar bagi kita yang terpanggil untuk melayani dalam ruang-ruang hidup dan kerja kita sebab semua itu pun kita lakukan untuk Tuhan.
Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk melayaniMu dengan tulus dan rendah hati dalam setiap peran dan fungsi setiap hari. Amin.
Kamis, 24 September 2026
bahan bacaan : Ulangan 8 : 11 – 20 (TB2)
11 Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; 12 Jangan sampai, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, 13 dan apabila lembumu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, 14 engkau menjadi tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan, 15 dan memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan mengerikan, dengan ular ganas serta kalajengking dan tanah gersang tanpa air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras, 16 Dia yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, dengan maksud merendahkan hatimu dan menguji engkau, supaya mendatangkan kebaikan kepadamu pada akhirnya. 17 Jangan sampai kaukatakan dalam hatimu: Kuasaku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. 18 Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. 19 Tetapi jika engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dan mengikuti ilah-ilah lain, beribadah kepada mereka dan sujud menyembah mereka, aku memperingatkan kamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa; 20 seperti bangsa-bangsa, yang dibinasakan TUHAN di hadapanmu, kamupun akan binasa, sebab kamu tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu."
Bersyukur Dan Jangan Melupakan Tuhan
Teks bacaan hari ini merupakan teguran sekaligus peringatan penting dari Musa kepada bangsa Israel sebelum memasuki tanah Kanaan. Teguran dan peringatan tersebut menekankan bahwa bersyukur bukan hanya ucapan melainkan tindakan mengingat, taat dan kerendahan hati untuk mengakui Tuhan sebagai sumber segala berkat. Musa memperingatkan agar bangsa Israel tetap mengingat segala kebaikan dan tidak melupakan Tuhan yang membawa mereka keluar dari Mesir. Hal ini pun harus menjadi pengingat dalam hidup kita bahwa orang yang tahu bersyukur tidak lupa diri saat sukses. Kemakmuran seringkali membuat manusia sombong dan merasa berhasil karena usahanya sendiri. Syukur yang benar berarti secara sadar mengingat masa-masa padang gurun dan mengakui bahwa semua kelimpahan saat ini adalah berkat Tuhan. Orang yang tahu bersyukur mengerti bahwa bahwa kecerdasan, kesehatan dan kesempatan kerja berasal dari Allah bukan sekedar hasil jeri payah sendiri. Mengucap syukur pun tidak cukup dengan kata-kata saja tetapi tindakan nyata dari rasa syukur adalah taat dan setia kepada kehendak Tuhan. Bersyukur adalah perintah Tuhan, maka bersyukurlah dalam segala hal.
Doa: Ya Tuhan, jadikan kami orang-orang yang tahu bersyukur. Amin
Jumat, 25 September 2026
bahan bacaan : 1 Korintus 4 : 6 – 13 (TB2)
Rendahkanlah dirimu
6 Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apa artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan mengutamakan yang satu dari pada yang lain. 7 Sebab siapa yang menganggap engkau begitu penting? apa yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Jika engkau memang menerimanya, mengapa engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya? 8 Kamu telah kenyang, kamu telah menjadi kaya, tanpa kami kamu telah menjadi raja. Ah, alangkah baiknya kalau benar demikian, bahwa kamu telah menjadi raja, sehingga kamipun turut menjadi raja dengan kamu. 9 Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. 10 Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina. 11 Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, 12 kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; 13 kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini.
Rendahkanlah Dirimu Dalam Pelayanan
Kesombongan sering menjadi akar pahit dalam kehidupan orang percaya. Sadar atau tidak, kesombongan membuat seseorang lupa bahwa semua yang dimiliki adalah anugerah Allah. Dalam bacaan hari ini, rasul Paulus menegur jemaat Korintus yang mengalami perpecahan dan kesombongan rohani. Ada yang mereka merasa lebih tinggi dan lebih baik daripada yang lain. Paulus mengingatkan bahwa kedewasaan rohani tidak diukur dari status, pengetahuan, atau pujian manusia, melainkan melalui pelayanan yang rela berkorban dan hidup dalam kerendahan hati. Kerendahan hati dimulai dengan menaati firman Tuhan, bukan mengandalkan hikmat manusia yang membuat seseorang merasa paling benar. Orang yang rendah hati menyadari dirinya masih perlu terus belajar dan bertumbuh di dalam Tuhan. Paulus memberi teladan melalui pelayanannya yang rela dihina dan dipandang rendah demi Kristus. Sikap itu juga diteladankan Yesus dalam hidup-Nya. Karena itu, sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup rendah hati dan menyadari bahwa hanya Tuhan yang layak dimuliakan. Dengan kerendahan hati, hidup kita dapat menjadi berkat, kesaksian, dan memancarkan kasih Kristus bagi sesama dalam setiap tindakan dan perkataan sehari-hari.
Doa: Ajarlah kami Tuhan untuk tidak hidup dalam kesombongan diri Amin.
Sabtu, 26 September 2026
bahan bacaan : Matius 20 : 25 – 28 (TB2)
25 Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. 26 Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 27 Siapa saja yang ingin menjadi pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; 28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."
Yesus Teladan Kerendahan dalam Pelayanan
Kepemimpinan yang menghamba merupakan salah satu ajaran penting yang diteladankan oleh Yesus. Pemimpin sejati bukanlah pribadi yang memerintah dengan keras dan menindas seperti cara dunia, melainkan seseorang yang melayani sesama dengan kasih dan kerendahan hati. Melalui ajaran-Nya, Yesus mengubah cara pandang tentang jabatan dan kekuasaan. Otoritas yang dimiliki seseorang seharusnya dipakai untuk membawa dampak positif melalui pelayanan, bukan untuk menguasai atau mencari keuntungan pribadi. Karena itu, seseorang yang dipercaya memegang jabatan tidak boleh merasa bebas bertindak sesuka hati. Kenyataannya, masih banyak orang menggunakan jabatan dan kuasa untuk meninggikan diri serta menguasai orang lain. Yesus menolak sikap seperti ini dan menegaskan bahwa pemimpin sejati adalah pelayan bagi sesamanya. Yesus sendiri telah memberi teladan dengan rela merendahkan diri dan melayani manusia sebagai bukti kasih-Nya yang besar. Oleh sebab itu, dalam setiap peran dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita, baik di keluarga, gereja, maupun masyarakat, semangat kehambaan harus menjadi dasar hidup orang percaya. Dengan melayani secara tulus, kita sedang menghadirkan kasih Kristus dan menjadi berkat bagi banyak orang di sekitar kita setiap hari.
Doa: Ya Tuhan, kuatkan kami meneladani kerendahan hatiMu, amin
*SUMBER : SHK BULAN SEPTEMBER 2026, LPJ-GPM