Tema Bulan Mei : Membangun ketahanan keluarga, gereja dan masyarakat”.
Tema Mingguan : Mengasihi TUHAN dan Bencilah Kejahatan
Minggu, 29 Mei 2022
bacaan : Mazmur 97 : 1 -12
TUHAN adalah Raja TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! 2 Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya. 3 Api menjalar di hadapan-Nya, dan menghanguskan para lawan-Nya sekeliling. 4 Kilat-kilat-Nya menerangi dunia, bumi melihatnya dan gemetar. 5 Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi. 6 Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya. 7 Semua orang yang beribadah kepada patung akan mendapat malu, orang yang memegahkan diri karena berhala-berhala; segala allah sujud menyembah kepada-Nya. 8 Sion mendengarnya dan bersukacita, puteri-puteri Yehuda bersorak-sorak, oleh karena penghukuman-Mu, ya TUHAN. 9 Sebab Engkaulah, ya TUHAN, Yang Mahatinggi di atas seluruh bumi, Engkau sangat dimuliakan di atas segala allah. 10 Hai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan! Dia, yang memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya, akan melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik. 11 Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati. 12 Bersukacitalah karena TUHAN, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus.
Hidup Benar Dan Kudus
Mazmur 97 memiliki tiga bagian yang memberi pengharapan kepada bangsa Israel. Pertama(1-5) mengajak bangsa Israel melihat kemuliaan Allah. Kemuliaan-Nya tampak melalui berbagai tanda di alam (awan, api, kilat, langit, dan sebagainya). Tanda-tanda ini menunjukkan takhta Allah yang berlandaskan pada keadilan dan hukum-Nya. Kedua (6-9) menunjukkan respons alam dan manusia. Jika alam melalui langit memberitahukan keadilan Allah, respons manusia justru beragam. Manusia bisa menerima atau menolak-Nya. Mereka yang menolak-Nya akan mendapat konsekuensi. Mereka yang menerima-Nya akan mendapat sukacita. Apa pun responsnya, Allah berdaulat atas segalanya. Ketiga (10-12) tindakan Allah kepada mereka yang menerima-Nya. Allah mencintai, menjaga, dan menyelamatkan mereka. Terang akan hadir bagi mereka. Karena itu, orang Israel diminta untuk bersukacita dalam pengharapan kepada Allah. Ketiga struktur ini menguatkan orang Israel bahwa Allah Yang Mahakuasa tidak tinggal diam. Ia menjaga mereka yang percaya kepada-Nya. Kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu, hiduplah kudus dihadapan-Nya. Maka Engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan manusia dan di mata Allah sendiri. Ia hanya meminta kita hidup benar dan menjauhi kejahatan, ketika kita melakukannya itu sangat menyukakan hati-Nya. Roh Kudus akan selalu memimpin kita. Tuhan kita adalah Raja di atas segala raja, kuasa-Nya tak terbatas melampaui pikiran kita. Jika kita sungguh mengasihi-Nya kita akan hidup sesuai kehendak-Nya dan ketika itu kita lakukan janji berkat dan penyertaan-Nya akan selalu ada dalam hidup kita. Sekalipun ada banyak tantangan dan persoalan, mesti kita yakin dan percaya bahwa kuasa Tuhan jauh melebihi segala persoalan dan tantangan yang kita hadapi. Yakin dan percayalah, Tuhan akan menolong dan menyelamatkan kita.
Doa: Tuhan, kami ingin selalu hidup benar dan kudus dihadapan-Mu mampukan kami Tuhan agar kami hidup seturut kehendak-Mu. Amin.
Senin, 30 Mei 2022
bacaan : Amos 5 : 14 – 15
Hidup dan mati
14 Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup; dengan demikian TUHAN, Allah semesta alam, akan menyertai kamu, seperti yang kamu katakan. 15 Bencilah yang jahat dan cintailah yang baik; dan tegakkanlah keadilan di pintu gerbang; mungkin TUHAN, Allah semesta alam, akan mengasihani sisa-sisa keturunan Yusuf.
Membuat Pilihan Yang Tepat
Hidup adalah pilihan, adalah frasa yang sering kita dengar. Dan pada kenyataannya, memang benar. Dari bangun pagi sampai waktu beristirahat di malam hari, kita terus diperhadapkan dengan berbagai pilihan. Ada pilihan rutin sehari-hari. Seperti pilihan menu untuk sarapan, makan siang dan makan malam atau pilihan busana harian. Ada pula pilihan-pilihan yang menyangkut prinsip hidup, yang mempengaruhi cara hidup, cara pikir untuk masa depan kita. Dalam nas hari ini, Allah menegaskan sebuah dimensi lain tentang arti mencari Dia. Mencari Allah berarti juga mencari yang baik dan membenci yang jahat. Mencari yang baik berarti melakukan segala sesuatu yang menyenangkan Allah dan bersukacita dalam melakukannya. Apa yang menyenangkan hati Allah? Nabi Amos menegaskan yakni mewujudkan dan membangun sikap untuk membela orang yang terpinggirkan. Amos juga menunjuk pada penegakan keadilan dalam kehidupan umat. Membenci kejahatan berarti bukan hanya menjauhi atau tidak melakukan kejahatan, melainkan juga melawannya. Selain itu kita melihat sebuah janji Firman Tuhan yang menyatakan bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Imanuel yang senantiasa menyertai dan memberi kita kekuatan untuk dapat mengambil keputusan yang tepat dalam menjalani hidup ini. Musa berkata kepada bangsa Israel, “Pilihlah Tuhan, maka engkau akan hidup.” (bd. Ul.5:33). Karena Allah kita adalah Allah yang menyertai kita. Ia memberi aturan-aturan untuk hidup dalam kebenaran. Kemudian Ia menyertai dan memampukan kita untuk melakukan aturan-aturanNya. Ia mengawasi kita. Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar dan kita selalu ada dalam penjagaan-Nya. Sebagai keluarga Allah hendaknya kita bangun relasi senantiasa dengan Tuhan sebagai sumber hidup, sebab disitulah kekuatan, berkat dan sukacita bagi kehidupan kita.
Doa: Ya Tuhan, beri kami kebijaksanaan untuk selalu memilih yang baik, agar hidup kami semakin berkenan kepadaMu. Amin.
Selasa, 31 Mei 2022
bacaan : Amsal 3 : 7
7 Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;
Senangkan Hati-Nya Dengan Menjauhi Kejahatan
Kita bersyukur atas pernyataan Tuhan dalam seluruh perjalanan hidup kita sampai di penghujung bulan Mei 2022. Kita menikmati semua berkat hanya karena anugerah dan kasih sayang Tuhan bagi kita semua. Itulah sebabnya penting untuk selalu kita mewujudkan hidup takut Tuhan. Takut akan Tuhan berbicara mengenai kekuatan, kebesaran, kemuliaan, ororitas dan kekudusan Tuhan. Takut akan Tuhan itu positif, menggambarkan sebuah bentuk ketakutan yang sehat. Menerapkan takut akan Tuhan berarti kita menghormati Tuhan, patuh dan taat kepada perintahNya, tunduk secara total, berpegang kepadaNya dan percaya penuh kepadaNya. Mengenali Tuhan sebagai Allah yang berdaulat, dan memuliakanNya dengan segala yang kita lakukan. Jika kita takut akan Tuhan, maka secara otomatis kita akan memiliki sikap rendah hati tidak menganggap diri sendiri paling bisa atau paling pintar karena semua yang kita punya adalah hanya karena anugerahNya. Yohanes Pembaptis mengatakan biarlah aku yang semakin kecil dan Dia yang semakin besar (Yoh. 3:30). Selain itu kita semua adalah umat Allah yang dipanggil dan ditetapkan berbuah yang baik atau anak-anak terang. Kita adalah ranting-ranting yang tumbuh dari pokok pohon anggur yang benar, yaitu Yesus Kristus (Yoh.15:5). Anak-anak Tuhan harus menghasilkan buah yang terbaik dan harus kuat melawan kejahatan. Anak-anak Tuhan mengalahkan kejahatan bukan dengan kekerasan atau perlawanan dengan senjata namun mengalahkan kejahatan dengan perbuatan baik. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan. Ujilah segala sesuatu, peganglah apa yang baik dan jauhilah kejahatan. Senangkanlah Tuhan melalui sikap hidup kita cukup dengan taat saja itu sudah lebih dari cukup biarkan Tuhan yang jadi nahkoda atas hidup kita serahkan semua kepada Tuhan, biarlah Ia yang mengatur segalanya. Kiranya kita dimampukan oleh Tuhan untuk melakukan firmanNya.
Doa: Ya Tuhan, biarlah kami selalu mewujudkan sikap taat dan setia kepadaMu. Amin
Rabu, 01 Juni 2022
bacaan : 1 Petrus 1 : 13-16
Kekudusan dan kasih persaudaraan
13 Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. 14 Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, 15 tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, 16 sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.
Menjadi Kudus Dalam Seluruh Hidup
Rasul Petrus dalam kesaksiannya mengajak seluruh umat percaya untuk hidup Kudus. Ajakan ini penting dimaknai karena kehidupan orang percaya sudah sepenuhnya menjadi milik Allah. Ketika kita mengaku percaya kepada Yesus, itu berarti kita mempercayakan hidup dikuasai sepenuhnya oleh Allah yang kudus. Dengan cara itulah Allah menjadikan kita kudus, karena Allah yang kudus ada di dalam kita. Jika demikian, ajakan untuk hidup dalam kekudusan menjadi sesuatu yang mutlak. Kudus berarti berbeda. Orang percaya disebut kudus karena memang berbeda dari yang lain, yaitu bahwa kita adalah milik Allah yang dipilih-Nya sendiri untuk suatu tugas Ilahi di dunia. Kita hidup bagi Allah di dunia ini. Hidup yang dipisahkan dari cara hidup orang-orang dunia. Supaya hidup kudus, rasul Petrus mengingatkan agar selalu mempersiapkan akal budi, waspada dan meletakan pengharapan atas kasih karunia. Membangun kehidupan dalam ketaatan kepada hukum-hukum Allah, bukan menurut selera atau kemauan diri sendiri. Orang percaya adalah manusia yang kehidupannya dipenuhi oleh Kristus sehingga dalam seluruh kehidupannya, setiap tutur kata, pikiran, sikap dan perilaku harus mencerminkan Allah yang kudus. Memang bukanlah hal yang mudah dapat bertahan dalam kehidupan yang kudus karena selalu saja ada godaan yang membuat jatuh. Godaan uang, jabatan, seks, dan sebagainya terkadang menjadi penghalang untuk mewujudkan kekudusan hidup. Kita diajak oleh firman Tuhan hari ini, tetaplah menjaga dan mempertahankan identitas sebagai orang kudus pilihan Allah agar kasih karunia Allah menjadi nyata dalam kehidupan.
Doa: Ajarilah kami untuk tetap setia dan hidup kudus sesuai ketetapan-Mu ya Tuhan, Amin.
Kamis, 02 Juni 2022
bacaan : Yohanes 3 : 19 – 21
19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. 20 Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; 21 tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."
Menjauhi Kegelapan dan Hidup di Dalam Terang
Dalam percakapan Yesus dengan Nikodemus, penulis Injil Yohanes menekankan bagaimana Allah oleh Kasih-Nya telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal untuk membawa terang keselamatan kepada umat manusia, sehingga kebinasaan itu tidak akan terjadi. Tetapi manusia lebih suka hidup di dalam kegelapan sehingga walaupun Terang itu telah datang, manusia tetap hidup di dalam kegelapan sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Di dalam kehidupan kita, Tuhan Yesus mengajarkan agar kita hidup dalam terang artinya adalah hidup dalam Yesus Kristus, dimana Yesus yang menjadi cahaya terang itu. Salah satu sikap hidup dalam terang adalah hidup dalam kasih. Sedangkan mereka yang lebih menyukai kegelapan akan membenci terang dan berarti mereka lebih memilih untuk hidup di dalam dosa. Orang yang hidup dalam gelap adalah mereka yang mengabaikan Allah, terus berkanjang dalam kejahatan dan hidup dalam daging. Mereka akan kehilangan kemuliaan Allah bahkan kehilangan segalanya. Sebaliknya, orang yang hidup sebagai anak-anak Terang Tuhan akan nyata dari perbuatannya yang menghasilkan buah-buah Roh: kasih sukacita, damai sejahtera, dan sebagainya. Hidup dalam Terang adalah hidup yang terus mengasihi Tuhan dan sesama, melayani Tuhan dengan sungguh, rajin beribadah, tekun berdoa dan terus melakukan kebaikan kepada sesama. Dan upah untuk hidup dalam Terang adalah sukacita, bahagia, dan sejahtera. Marilah terus hidup dalam terang Tuhan.
Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk tetap hidup di dalam terangMu dan menjauhi kegelapan dosa. Amin.
Jumat, 03 Juni 2022
bacaan : Amsal 8 : 13
13 Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.
Takut Akan Tuhan, Membenci Kejahatan.
Kita sering mendengar dan mengatakan bahwa sebagai orang-orang Kristen harus hidup takut akan Tuhan. Tetapi yang menjadi pertanyaannya, apa yang dapat membuktikan bahwa kita benar-benar takut akan Tuhan? Apakah rasa takut akan Tuhan sama seperti rasa ketakutan yang selalu kita hadapi dalam hidup kita selama ini ketika kita berada dalam situasi mencekam? Tentu saja berbeda. Bila seseorang mengaku bahwa ia takut akan Tuhan, maka ia harus menjauhi berbagai perilaku, sikap dan perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Sesuatu yang kurang tepat jika mengatakan bahwa kita adalah orang yang takut akan Tuhan tetapi hidup seenaknya sendiri. Takut akan Tuhan berarti kita memberikan rasa hormat yang penuh kepada Tuhan, dengan menjaga sikap, perilaku, perkataan dan perbuatan setiap saat. Menurut pembacaan kita di hari ini, takut akan Tuhan seharusnya terefleksi dalam tindakan seperti membenci kejahatan, membenci kesombongan, tidak bertingkah laku jahat, dan tidak melakukan tipu muslihat. Sebagai orang percaya, kita perlu memperhatikan cara menjalani hidup, termasuk di dalamnya cara bekerja, respons terhadap orang lain, termasuk ucapan dan pikiran dalam kehidupan keseharian. Tidakkah kita merasa ada yang aneh ketika “takut akan Tuhan” hanya dikaitkan dalam aktivitas kerohanian, lalu seolah menghilang dalam kehidupan keseharian? Seharusnya rasa takut akan Tuhan menggentarkan hati kita, sekaligus mencegah kita dari melakukan segala perbuatan yang tak berkenan di hadapan Tuhan. Karena itu,hiduplah takut akan Tuhan dan bencilah kejahatan.
Doa: Ya Allah di dalam Yesus Kristus, ajarilah kami untuk hidup takut akan Engkau, dengan menjauhi kejahatan. Amin.
Sabtu, 04 Juni 2022
bacaan : Roma 12 : 9
9 Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.
Jauhi Kejahatan dan Lakukan Hal Baik
Kita tentu pernah mendengar pepatah “ada udang di balik batu”. Pepatah ini sering membuat kita merasa skeptis atau ragu-ragu apabila ada orang yang biasanya bersikap tidak baik terhadap kita, tiba-tiba berbuat suatu kebaikan kepada kita. Mengapa demikian? Mungkin saja salah satu penyebabnya karena kita pernah merasa disakiti oleh orang tersebut. Ataukah kita pernah mendengar istilah “fake smile”? senyum yang penuh dengan kepura-puraan apabila kita bertemu dengan seseorang yang tidak kita sukai tetapi kita berusaha untuk menunjukan kebaikan. Firman Tuhan di hari ini mengajarkan kita untuk menunjukan kasih itu dengan sungguh-sungguh dan tidak berpura-pura. Apabila kita bersungguh-sungguh mengasihi orang lain, maka dengan sendirinya perilaku menjauhkan diri dari dosa dan kejahatan tidak akan dinampakkan, sebaliknya kebaikanlah yang akan kita lakukan. Paulus menasehati jemaat di Roma untuk hidup saling mengasihi satu dengan yang lain tanpa adanya kepura-puraan agar mereka dapat melakukan hal-hal yang baik satu terhadap yang lain. Dengan hidup saling mengasihi, umat Allah dapat menjalankan berbagai tugas panggilannya dengan baik dan “menghasilkan buah” bagi kemuliaan Allah dan kebahagian kehidupannya. Kita mesti menempatkan hal saling mengasihi sebagai ciri khas kehidupan. Banyak orang yang sering berkoar-koar berbicara tentang kasih, tetapi melaksanakannya begitu berat, akibatnya banyak yang kehilangan jati dirinya, dan bahkan sering melakukan hal-hal yang jahat kepada orang lain. Jadi, nampakkanlah kasih itu dalam perbuatan yang baik, bukan yang jahat.
Doa: Ya Allah Pengasih, ajarilah kami untuk mengasihi dan menjauhi kejahatan dalam kehidupn ini, Amin.
*SUMBER : SHK Bulan Mei-Juni 2022, LJP-GPM