Santapan Harian Keluarga, 16 – 22 Januari 2022

Tema Mingguan : ” Menghargai Kasih Setia Allah

Minggu, 16 Januari 2022                              

bacaan : Mazmur 36 : 1 – 13

Kefasikan orang berdosa dan kasih setia Allah
Untuk pemimpin biduan. Dari hamba TUHAN, dari Daud. (36-2) Dosa bertutur di lubuk hati orang fasik; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu, 2 (36-3) sebab ia membujuk dirinya, sampai orang mendapati kesalahannya dan membencinya. 3 (36-4) Perkataan dari mulutnya ialah kejahatan dan tipu daya, ia berhenti berlaku bijaksana dan berbuat baik. 4 (36-5) Kejahatan dirancangkannya di tempat tidurnya, ia menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik; apa yang jahat tidak ditolaknya. 5 (36-6) Ya TUHAN, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan. 6 (36-7) Keadilan-Mu adalah seperti gunung-gunung Allah, hukum-Mu bagaikan samudera raya yang hebat. Manusia dan hewan Kauselamatkan, ya TUHAN. 7 (36-8) Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu. 8 (36-9) Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu. 9 (36-10) Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang. 10 (36-11) Lanjutkanlah kasih setia-Mu bagi orang yang mengenal Engkau, dan keadilan-Mu bagi orang yang tulus hati! 11 (36-12) Janganlah kiranya kaki orang-orang congkak menginjak aku, dan tangan orang fasik mengusir aku. 12 (36-13) Lihat, orang-orang yang melakukan kejahatan itu jatuh; mereka dibanting dan tidak dapat bangun lagi.

Kasih Setia Tuhan Menyertai Mereka yang Berlindung Pada-Nya

Jika kita suka menonton berita di TV, mendengar  radio atau membaca koran, maka setiap hari pasti ada suguhan berita kriminal. Entah itu yang terjadi pada lingkungan kita maupun di tempat lain. Kejahatan memang telah merajalela di seantero jagad raya. Namun tidak kurang juga berita-berita yang memuat kisah tentang perbuatan baik seseorang atau sekelompok orang terhadap sesamanya. Jadi apa yang diungkapakan para pemazmur ribuan tahun terjadi juga dalam kehidupan kita saat ini. Ada orang fasik, namun ada juga orang benar seperti yang ada dalam bacaan kita Mazmur 36 : 1 – 13. Jika kita membaca bagian ini dengan cermat maka kita akan menemukan kemiripannya dengan Mazmur 1. Keduanya berbiacara tentang orang fasik versus orang benar namun dengan posisi terbalik. Mazmur 1 membahas orang benar baru orang fasik sementara Mazmur 36 membahas soal orang fasik lebih dulu baru orang benar.

Orang-orang fasik memenuhi hidup mereka dengan dosa dan kejahatan. Mereka tidak takut Tuhan. Perkataan, pikiran, dan perbuatan mereka penuh dengan kejahatan dan tipu daya. Mereka ini ada di seputar Daud, tapi ia tidak takut terhadap mereka, sebaliknya  dapat merasakan besar dan berharganya kasih setia Tuhan dalam kehidupannya. Kasih setia Tuhan juga dialami orang lain yang mengenal dan mengandalkan Tuhan sehingga Ia menyelamatkan, melindungi, memelihara, dan menuntun kehidupan mereka. Tuhan menjadi tempat perlindungan paling aman di dunia ini bagi mereka yang percaya dan mengandalkan Dia.Saudaraku, ada banyak orang fasik di sekitar kita. Jangan arahkan pandangan kita kepada mereka, pandang saja pada Yesus, berharap dan percayalah maka kasih setia-Nya akan menyelamatkan  dan orang fasik akan dibinasakan.

Doa: Tuhan, kami hanya mau berlindung pada-Mu. Amin.

Senin, 17 Januari 2022                                          

bacaan : Hosea 6 : 4 – 6

4 Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Efraim? Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Yehuda? Kasih setiamu seperti kabut pagi, dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar. 5 Sebab itu Aku telah meremukkan mereka dengan perantaraan nabi-nabi, Aku telah membunuh mereka dengan perkataan mulut-Ku, dan hukum-Ku keluar seperti terang. 6 Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.

Betobatlah Dengan Sungguh, Bukan Hanya Di Bibir Saja 

Masih ingat Brenda pada SHK dua hari lalu? Suatu hari Brenda menyatakan penyesalannya dan meminta maaf kepada orang tuanya. Ia berjanji untuk tidak melakukan kesalahan dan membuat orang tuanya marah lagi. Namun rupanya penyesalan itu hanya berumur sehari saja. Karena Brenda kembali lagi dalam kehidupan lamanya. Ia kembali berulah dan membuat kesal orang tua dan saudara-saudaranya. Penyesalan Brenda hanyalah penyesalan di bibir saja.

Keadaan Brenda mirip dengan kehidupan umat Israel di zaman nabi Hosea. Tuhan memandang bahwa pengakuan yang dibuat Israel bukanlah pertobatan sejati. Ibadah dan korban yang mereka persembahkan untuk memohon pengampunan Tuhan tidak lebih dari ibadah semu semata. Mereka hanya menginginkan belas kasihan Tuhan agar mereka terluput dari hukuman-Nya bukan karena mereka betul-betul ingin berubah dan bertobat. Tuhan sangat tidak suka dengan kelakuan umat-Nya ini. Karena yang dituntut dari umat adalah pertobatan yang sungguh. Tuhan ingin agar kasih dan kesetian-Nya terhadap mereka dapat dibalas dengan kasih mereka yang tulus kepada Dia juga.

Saudaraku, pertobatan sejati mestinya disertai bukti bahwa dosa telah ditinggalkan. Tidak lagi melakukan kesalahan yang sama atau yang baru, itu yang Tuhan mau. Dalam kehidupan sesehari, masih banyak pertobatan palsu yang kita temukan. Mengaku dosa hanya di bibir tetapi hati masih menikmati kejahatan. Mengaku dosa hanya untuk menghidari hukuman. Ingatlah bahwa Tuhan mengasihi kita, bahwa kasih dan kesetiaan-Nya tak dijauhkan dari kita, tetapi Ia juga tak mau dipermainkan. Ada waktu untuk Tuhan bertindak. Jangan lupa, Tuhan itu maha mengetahui karena itu kita kitak bisa mempermainkan Dia dengan kebohongan dan kemunafikan. Karena itu, mari kita menyatakan penyesalan dengan hati, bukan bibir agar kita diampuni dan Tuhan dipemuliakan.

Doa: Tuhan tolong kami ‘tuk bertobat dengan hati, bukan hanya di bibir. Amin.

Selasa, 18 Januari 2022                                      

bacaan : Hosea 11 : 1 – 4

Kasih TUHAN mengalahkan kedegilan orang Israel
Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu. 2 Makin Kupanggil mereka, makin pergi mereka itu dari hadapan-Ku; mereka mempersembahkan korban kepada para Baal, dan membakar korban kepada patung-patung. 3 Padahal Akulah yang mengajar Efraim berjalan dan mengangkat mereka di tangan-Ku, tetapi mereka tidak mau insaf, bahwa Aku menyembuhkan mereka. 4 Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih. Bagi mereka Aku seperti orang yang mengangkat kuk dari tulang rahang mereka; Aku membungkuk kepada mereka untuk memberi mereka makan.

Kasih Setia Tuhan Tak Berkesudahan

Evert, ponakan saya sudah berumur 11 bulan. Dia sedang giat-giatnya diajar berjalan oleh ibunya. Evert kecil kadang seperti terlihat sudah sangat siap berjalan dengan menapakkan satu atau dua langkah. Namun, saat ia meneruskan langkah berikutnya, kakinya mulai goyah dan kadang langsung terjatuh. Ketika itu terjadi, ibunya dengan sigap langsung meraih tangannya dan menuntunnya untuk berjalan kembali. Kami bertepuk tangan dan menyemangatinya untuk belajar melangkah lagi.

Nabi Hosea dalam bacaan ini menggambarkan kasih Tuhan yang besar kepada Israel. Berkali-kali Israel meninggalkan Tuhan, namun Tuhan senantiasa mengulurkan tangan-Nya untuk menolong. Tuhan tidak pernah merasa lelah mengajar mereka untuk berjalan dalam kehendak-Nya. Tuhan, dengan tangan yang perkasa, mendorong kita untuk berani melangkah menuju masa depan tanpa takut. Jika jatuh, tangan-Nya pasti meraih dan segera memegang kita. Dia akan menopang kita. Dengan sabar dan tanpa menyerah, Tuhan memantau setiap kemajuan kita. Semakin sulit proses yang kita hadapi, maka semakin besar perhatian dan kebaikan yang dicurahkan-Nya.

Hari ini, jika kita merasa terpuruk oleh berbagai situasi hidup, mari segera datang kepada-Nya. Jangan ragu akan kasih-Nya yang besar dan sanggup memulihkan Anda. George MacDonald berkata, “Allah akan membantu ketika kita tidak dapat berjalan, dan Dia juga akan membantu pada saat kita sulit untuk berjalan. Akan tetapi, Dia tidak dapat membantu apabila kita tidak mau berjalan.” Sambutlah kasih-Nya yang besar!

Doa: Tuhan, tuntunlah kami agar senantiasa berjalan di jalanMu. Amin.

Rabu, 19 Januari 2022                                    

bacaan : Hosea 12 : 1 – 7

Efraim dan Yakub bapa leluhurnya
(12-2) Efraim menjaga angin, dan mengejar angin timur sehari suntuk, memperbanyak dusta dan pemusnahan; mereka mengadakan perjanjian dengan Asyur, dan membawa minyak kepada Mesir. 2 (12-3) TUHAN mempunyai perbantahan dengan Yehuda, Ia akan menghukum Yakub sesuai dengan tingkah lakunya, dan akan memberi balasan kepadanya sesuai dengan perbuatan-perbuatannya. 3 (12-4) Di dalam kandungan ia menipu saudaranya, dan dalam kegagahannya ia bergumul dengan Allah. 4 (12-5) Ia bergumul dengan Malaikat dan menang; ia menangis dan memohon belas kasihan kepada-Nya. Di Betel ia bertemu dengan Dia, dan di sanalah Dia berfirman kepadanya: 5 (12-6) --yakni TUHAN, Allah semesta alam, TUHAN nama-Nya-- 6 (12-7) "Engkau ini harus berbalik kepada Allahmu, peliharalah kasih setia dan hukum, dan nantikanlah Allahmu senantiasa."

Jangan Diulangi Lagi

Israel adalah umat pilihan Allah. Mereka mewarisi janji keselamatan dan berkat nenek moyangnya. Hal ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi mereka. Sayangnya, mereka sering lupa bahwa warisan itu juga menuntut tanggung jawab. Mereka harus hidup setia di hadapan Tuhan. Berulang kali sepanjang sejarah, mereka lalai menjaga kesetiaan kepada Tuhan. Tuhan menegur umat-Nya dengan perantaraan Nabi Hosea. Tuhan memperlihatkan dosa-dosa umat, termasuk juga dosa-dosa nenek moyang mereka. Umat Israel telah dipilih dan diberkati bukan karena kebaikan mereka, melainkan hanya karena kasih Tuhan kepada mereka. Karena itu, keselamatan dan berkat Tuhan harus ditanggapi dengan penuh syukur. Salah satunya ialah menjalani hidup dengan kesungguhan dan tidak menyia-nyiakan anugerah-Nya. Umat pilihan itu harus menghargai kasih setia Allah. Umat Israel sering jatuh pada kesalahan bermegah diri dan mendua hati. Melalui Hosea, Tuhan memanggil mereka untuk berbalik kepada-Nya. Mereka harus  memelihara kasih setia dan hukum, serta tekun menantikan Tuhan. Jika kita melakukan kesalahan, maka minta ampun dan jangan dilakukan lagi. Belajarlah dari kesalahan itu dan berusahalah jadi pribadi yang lebih baik, jangan juga menyesali apa yang sudah terjadi, fokus ke depan pandang Tuhan dan selalu berikan yang terbaik untuk-Nya.

Doa: Tuhan, mampukan aku untuk selalu menghargai kasih setia-Mu, mampukan aku Tuhan untuk menjadi yang terbaik versi diriku untuk Kemuliaan-Mu. Amin.

Kamis, 20 Januari 2022                                

bacaan : Mazmur 13 : 1 – 6

Doa kepercayaan
Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (13-2) Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? 2 (13-3) Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku? 3 (13-4) Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati, 4 (13-5) supaya musuhku jangan berkata: "Aku telah mengalahkan dia," dan lawan-lawanku bersorak-sorak, apabila aku goyah. 5 (13-6a) Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. 6 (13-6b) Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.

Jangan Mengeluh, Hitung Kasih Setianya

Pemazmur, yakni Daud mengeluhkan tentang pergumulan hidupnya. Ia merasa hidupnya terpojok dan tertekan. Kehidupannya berubah setelah ia berhasil mengalahkan Goliat. Saat itu ia banyak mendapat sanjungan dan dielu-elukkan, sayangnya Saul iri hati kepada Daud. Peristiwa ini menjadi awal yang membuat Daud tidak nyaman dekat dengan Saul, sebab Saul menggunakan segala kesempatan untuk membunuh Daud. Kondisi tersebut disikapi Daud dengan cara mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan dan meminta pertolongan. Ia tetap percaya akan kesetiaan Tuhan dan tidak berhenti berharap pada-Nya. Perikop ini ditutup oleh  pengakuan pemazmur bahwa ia akan terus memuji Tuhan karena apa yang sudah dilakukan-Nya dalam kehidupannya. Dalam hidup pasti ada tantangan, ketika tantangan datang marilah fokus pada kebaikan dan kesetiaan Tuhan bukan fokus pada tantangannya. Tetaplah ingat akan kebaikan dan kesetiaan-Nya. Sekalipun ada banyak tantangan tapi teruslah berharap pada penyertaan-Nya. Ingatlah bahwa  walaupun banyak pergumulan tapi Tuhan selalu menopang dan mendengar setiap doa serta permohonan. Bersyukur pada kasih setia Tuhan yang masih kita alami sampai hari ini, mari bersujud, bernyanyi memuji Tuhan, hitung berkat-berkat-Nya bukan menghabiskan waktu dengan mengeluh.

Doa: Tuhan, mampukan untuk selalu bersyukur apapun keadaanku, biarlah dari mulutku selalu ku senandungkan kebaikan-Mu dalam hidupku Amin.

Jumat, 21 Januari 2022                               

Ulangan 7 : 7 – 11

7 Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu--bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? -- 8 tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir. 9 Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan, 10 tetapi terhadap diri setiap orang dari mereka yang membenci Dia, Ia melakukan pembalasan dengan membinasakan orang itu. Ia tidak bertangguh terhadap orang yang membenci Dia. Ia langsung mengadakan pembalasan terhadap orang itu. 11 Jadi berpeganglah pada perintah, yakni ketetapan dan peraturan yang kusampaikan kepadamu pada hari ini untuk dilakukan."

Dipilih Tuhan, Bertanggung Jawablah

Ulangan 7:7-11 memperlihatkan bagaimana Musa, memanggil para tua-tua dan menyampaikan kepada bangsa Israel segala yang difirmankan oleh Allah untuk disampaikan kepada umat-Nya itu. Musa menegaskan status umat Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan..”sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu, dari segala bangsa di atas bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya”(ay.6). Pemilihan dan pemberian status sebagai bangsa pilihan Tuhan bagi bangsa Israel bukan karena jumlah mereka yang banyak tapi karena Tuhan-lah yang berkehendak. Hal yang mendasari pemilihan Allah bagi bangsa ini, bukan karena siapa bangsa Israel, melainkan siapa Allah. Jadi penekanan  dalam pemilihan ini bukan terletak pada “bangsa” Israel tapi terletak pada siapa Allah. Pemilihan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan tidak didasarkan pada apa yang mereka lakukan bagi Allah, melainkan apa yang Allah lakukan bagi mereka. Allah sampai sedemikian mengasihi kita, Ia mempercayai kita, kita dipilih untuk masuk dalam rencana besar-Nya untuk kemuliaan-Nya, bagaimana sikap kita meresponi kasih setia-Nya? Dengan hidup sesuai dengan kehendak Allah, melakukan tugas dan tanggung jawab sebaik mungkin jangan malas, tetapi lakukan itu dengan penuh tanggung jawab apapun itu yang dipercayakan kepada kita jangan disia-siakan.

Doa:  Tuhan, Terima kasih karena Engkau telah memilihku, lengkapi aku Tuhan dan biarlah aku selalu berkenan pada pemandangan-Mu Amin.

Sabtu, 22 Januari 2022                                 

bacaan : Mazmur 89 : 1 – 8

Kesetiaan TUHAN kepada Daud
Nyanyian pengajaran Etan, orang Ezrahi. (89-2) Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. 2 (89-3) Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. 3 (89-4) Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: 4 (89-5) Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun." Sela 5 (89-6) Sebab itu langit bersyukur karena keajaiban-keajaiban-Mu, ya TUHAN, bahkan karena kesetiaan-Mu di antara jemaah orang-orang kudus. 6 (89-7) Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar dengan TUHAN, yang sama seperti TUHAN di antara penghuni sorgawi? 7 (89-8) Allah disegani dalam kalangan orang-orang kudus, dan sangat ditakuti melebihi semua yang ada di sekeliling-Nya.

Jaminan Sudah di Tangan, Peliharalah

Tuhan memperlakukan umat-Nya sebagai pribadi yang dewasa. Karena itu, hubungan antara Tuhan dan umat-Nya diikat dalam bentuk perjanjian. Ikatan perjanjian hanya dapat dilakukan oleh orang dewasa karena mereka telah mengerti hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya. Lazimnya, kedudukan kedua belah pihak yang mengadakan suatu perjanjian adalah setara. Namun, perjanjian seperti yang disaksikan dalam Alkitab, kesetaraan itu tidak dapat dikenakan kepada Tuhan. Itu sebabnya, perjanjian antara Allah dan umat-Nya disebut perjanjian anugerah. Isi perjanjian itu adalah Tuhan menjadi Allah Israel dan menjamin kehidupan umat-Nya, sedangkan bangsa Israel menjadi umat pilihan-Nya. Jaminan Tuhan kepada Israel dinyatakan-Nya melalui Daud sebagai raja yang diurapi. Karena itu, seorang raja wajib melaksanakan titah Tuhan dengan cara menyejahterakan rakyatnya. Kita sudah mendapatkan jaminan anugerah Allah, cara untuk berterima kasih dan menghargai kasih setia-Nya adalah dengan taat dan eratkan hubunganmu dengan Tuhan, lakukan apa yang menjadi tanggung jawabmu dengan sukacita, jangan bersunggut. Lakukan saja apa yang menjadi bagianmu. Setiap kita punya panggilan masing-masing untuk dilakukan. Lakukan itu dengan setia, lakukan itu dengan dedikasimu bukan karena mengharapkan imbalan tetapi karena kasih setia-Nya selalu tercurah dalam hidup kita. SEPATU = Selalu Pandang Tuhan, Tuhan sangat baik dan terlalu baik di hidupmu. Nyatakanlah kebaikan-Nya dalam hidupmu. Tersenyumlah menapaki hari yang penuh kepastian bersama dengan Tuhan.

Doa:  Tuhan, Mampukan aku memelihara setiap anugerah-Mu dalam hidupku, ajarku melakukan kehendak-Mu setiap hari sehingga hidupku berkenan. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN JANUARI 2022; LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 9-15 Januari 2022

Tema Mingguan : ” Percayalah Kepada Yesus Sumber Kehidupan

Minggu, 09 Januari 2022                          

bacaan : Yohanes 6 : 25 – 59

Roti hidup
25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?" 26 Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. 27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." 28 Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" 29 Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah."

Jangan Pesimis! Yesus Sumber Kehidupan

Pernyataan “Aku adalah roti hidup” (Yoh. 6:35) merupakan penyataan pertama dari tujuh pernyataan Yesus tentang diri-Nya “Aku adalah”. Dengan peryataan ini, Yesus hendak menegaskan aspek penting dari pelayanan pribadi Kristus untuk mendorong dan membangun rasa percaya dari orang-orang Kristen saat itu. Pernyataan tentang “Aku adalah roti hidup” memberitahukan kepada kita bahwa Kristus adalah sumber kehidupan. Ia menawarkan diri-Nya sebagai sumber kehidupan kepada yang mau bertobat dan beriman. Sumber artinya tempat keluar atau asal dari sesuatu. Jika Kristus adalah sumber kehidupan, maka ia adalah tempat asal kehidupan atau daripada-Nya-lah keluar kehidupan. Karena itu, siapa saja yang datang pada-Nya pasti akan memperoleh kehidupan. Sikap mencari Tuhan merupakan perwujudan dari sebuah upaya untuk memperoleh kehidupan. Salah satu di antara sikap tersebut yakni melibatkan diri dalam persekutuan ibadah. Sayangnya, masih ada sebagian orang Kristen yang mencari Tuhan dengan melibatkan diri dalam persekutan ibadah dan tujuannya hanya untuk memperoleh materi. Orang-orang tersebut terkadang selain orientasi hidupnya lebih ditujukan pada materi, mereka juga pesimis menghadapi kehidupan. Tahun 2022 memang baru saja kita tapaki sampai di tangga ke-9, dan mungkin ada yang sudah mengawali perjalanan tahun ini dengan cerita-cerita kehidupan yang susah dan menderita. Namun realitas kesusahan dimaksud semestinya tidak kita sikapi dengan keliru yakni berpikir materi dan pesimis. Sebagai orang percaya, seharusnya yakin bahwa kehidupan yang kita miliki bersumber pada Allah kehidupan. Allah yang setia dan penuh kasih. Ia akan selalu menyatakan kehadiran-Nya sebagai roti hidup bagi kita.

Doa:  Tuhan, kami  percaya bahwa Engkau adalah  Sumber kehidupan  bagi kami.  Amin

Senin, 10 Januari 2022                         

bacaan : 1 Yohanes 3 : 19 – 24

Keyakinan di hadapan Allah
19 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, 20 sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu. 21 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, 22 dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. 23 Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita. 24 Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.

Selaraskan Suara Hatimu!

Jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah” (ayat 21). Hati pada konteks ayat ini dipahami sebagai “suara hati”. Suara hati adalah keputusan praktis akal budi yang membantu seseorang dalam menjalankan atau membatalkan suatu tindakan. Secara rasional, salah satu dimensi dari peran suara hati yakni mesti tekun mencari kebenaran. Idealnya memang adalah setiap manusia harus setia pada suara hati yang benar, karena hal tersebut mencerminkan ia setia kepada Allah. Tak dapat dipungkiri bahwa terkadang suara hati juga bisa keliru atau tidak sejalan dengan kehendak Allah. Oleh sebab itu, manusia dalam sikap dan tindakannya dituntut untuk menyelaraskan suara hatinya dengan Tuhan. Bagaimana kita menyelaraskannya? Yohanes menganjurkan setiap orang Kristen untuk menaruh kepercayaan yang sungguh akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya. Penegasan Yohanes pada “nama” menunjukkan adanya pemahaman yang lebih luas dari sekadar nama sebagai identitas. Nama memberi pengertian juga pada kuasa Yesus, yang mampu melakukan apa saja yang baik bagi kita, sekalipun  hal tersebut dianggap sulit atau mustahil. Sebagai manusia, keterbatasan memang menjadi bagian dari kehidupan kita. Kehidupan yang kita tapaki di tahun yang baru belum tentu semuanya baik-baik saja. Untuk itu, kita harus lebih setia mendengarkan suara Tuhan di dalam hati supaya  bijak menyikapi hari-hari hidup yang  dijalani sambil percaya dengan sungguh bahwa penyertaan Tuhan pasti dialami.

Doa : Berbicaralah terus kepada kami ya Yesus untuk hidup benar. Amin. 

Selasa, 11 Januari 2022                                  

bacaan : Yohanes 4 : 1 – 26

Percakapan dengan perempuan Samaria
Ketika Tuhan Yesus mengetahui, bahwa orang-orang Farisi telah mendengar, bahwa Ia memperoleh dan membaptis murid lebih banyak dari pada Yohanes 2 --meskipun Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya, -- 3 Iapun meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea. 4 Ia harus melintasi daerah Samaria. 5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. 6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. 7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum." 8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. 9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) 10 Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." 11 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? 12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?" 13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, 14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." 15 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air." 16 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini." 17 Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, 18 sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar." 19 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. 20 Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah." 21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. 22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. 23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. 24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." 25 Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." 26 Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."

Perjumpaan Yang Membawa Perubahan

Tuhan Yesus berjumpa dengan perempuan Samaria di sumur yakni tempat di mana ia menimba air. Tuhan Yesus tidak berjumpa dengannya di tempat ibadah atau saat ia lagi santai, namun ketika perempuan Samaria tersebut sementara melakukan pekerjaannya sehari-hari. Situasi perjumpaan seperti ini kemudian mendorong terjadinya perubahan pemahaman bahkan perubahan hidup dari perempuan Samaria. Mengapa? Karena di sumur, percakapan yang terbangun menjadi sebuah percakapan yang dipenuhi dengan empati dari Yesus kepada perempuan Samaria tersebut. Yesus menunjukkan pemahaman-Nya akan kebutuhan utama  perempuan Samaria terkait dengan air yang dikatakan oleh-Nya. Untuk itu, Yesus meminta ia memanggil suaminya. Yesus membuka ruang pergumulan pribadi perempuan itu, yang secara tak langsung telah disembunyikan olehnya. Bahwa perempuan itu secara status sosial sangatlah berada pada posisi terendah, karena itu ia pun harus memikul tanggung jawab sehari-hari yang sangat membebaninya. Namun setelah mendengar pengajaran Yesus, pikiran perempuan Samaria menjadi terbuka dan imannya pun lahir. Dengan yakinnya, perempuan Samaria itu kemudian menyebut Yesus dengan sebutan “Nabi”. Pemahaman yang berubah dan melahirkan sikap iman yang luar biasa dari perempuan Samaria itu, seharusnya menjadi juga sikap iman kita dalam menjalani pergumulan pribadi yang tidak mudah dan berat. Seharusnya kita lebih membuka diri pada Yesus, supaya dalam pengenalan-Nya terhadap kita, kepedulian dan cinta kasih-Nya dapat kita rasakan dengan baik.

Doa : Inilah kami Tuhan, kenalilah kami dengan kasih-Mu. Amin.

Rabu, 12 Januari 2022                                 

bacaan : Matius 15 : 21 – 28

Perempuan Kanaan yang percaya
21 Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. 22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." 23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak." 24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." 25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku." 26 Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." 27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." 28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Berjuang Dengan Iman

Pa, Onco pung badan panas lai. Mari katong bawa ke dokter jua. Su dua hari ni, dia panas naik turun-naik turun terus”, kataku kepada sang suami. “Lalu mama pung pekerjaan kantor sudah selesai ka blom? Katanya hari ini musti kasi maso to?”, Tanya suamiku. “Iya, tapi masa gara-gara pekerjaan kantor, katong kasi tinggal anak ni sakit? Pekerjaan itu pasti bisa beta selesaikan hari ini juga. Tapi katong bawa Onco ke dokter dolo”, jelasku kepada sang suami. Percakapan seperti ini tentunya menjadi cerita umum dari keluarga yang mengalami masalah anak sakit. Situasi seperti ini, mendorong setiap orang untuk mengambil langkah penanganan yang cepat agar kondisi fisik anak tidak bertambah parah. Tak sedikit dari antara kita ketika berhadapan dengan situasi demikian, sementara berhadapan juga dengan situasi-situasi lain yang membutuhkan perhatian dan tindakan segera. Untuk itu, tentunya setiap orang harus berpikir tenang dan mampu memutuskan mana yang harus didahulukan. Namun apapun situasi yang lain itu, cerita  perempuan Kanaan menggugah sikap etis yang lahir dari iman kepada Tuhan Yesus. Kondisi penderitaan anak telah membangkitkan daya juangnya yang luar biasa untuk memperoleh kesembuhan. Ia pun tidak mempedulikan status sosial budayanya yang berbeda dan tidak pantas saat berhadapan dengan Yesus. Ia hanya menginginkan  kesembuhan anaknya. Karena itu ia rela dianggap tidak benar hanya demi kehidupan anaknya. Demikanlah sebagai orang percaya, sebuah kehidupan menjadi perhatian penting dari sikap iman kita. Sebab Tuhan pasti mengindahkan kita karena iman yang sungguh kepada-Nya.

Doa: Anugerahkanlah kesehatan bagi keluarga kami ya Tuhan. karena Engkau-lah Sumber kehidupan kami. Amin.  

Kamis, 13 Januari 2022

bacaan : Yohanes 14 : 1 – 7

Rumah Bapa
"Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. 2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. 3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. 4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." 5 Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" 6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. 7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."

         Yesus Satu-Satunya Jalan Menuju Selamat

Banyak jalan menuju Roma” adalah peribahasa yang mempunyai arti ada banyak jalan atau cara untuk mencapai tujuan atau menggapai sesuatu. Tujuan atau sesuatu itu antara lain : kesuksesan, cinta, cita-cita dsb, yang tentunya berbeda untuk setiap orang. Contoh : banyak orang ingin hidup senang, bergelimang harta. Cara untuk mendapatkannya beragam, seperti: bekerja mengejar karir di kantor, berbisnis, bertani dan sebagainya dan ada pula yang menggunakan jalan pintas. Semua cara ini memungkinkan untuk menghasilkan harta dan kemudian menggunakannya sesuai yang diinginkan.

Keselamatan adalah tujuan yang ingin dicapai dan digapai orang Kristen, baik di dunia ini maupun di sorga nanti. Untuk mendapatkannya tidak ada banyak jalan. Hanya satu Jalan, yaitu Yesus. Seperti yang dikatakan oleh penulis Yohanes dalam bacaan kita hari ini. Jika kita hadir dan menjadi bagian murid-murid Yesus pada saat Yesus mengucapkan perkataan-Nya, kemungkinan kita akan menjadi seperti  Tomas yang bertanya : “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ.” Kita perlu berterima kasih kepada Tomas yang mengeluarkan perasannya sehingga Yesus menyampaikan jawaban yang meneguhkan para murid saat itu dan kita di saat sekarang : “Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6). Untuk mendapat keselamatan, hanya ada satu jalan, yaitu percaya dengan iman yang sungguh kepada Tuhan Yesus Kristus. Percaya bukan dengan mulut tetapi nyatakan dalam seluruh aspek kehidupan.

Doa: Tolong kami ‘tuk meyakini-Mu sebagai satu-satunya jalan menuju selamat, Tuhan. Amin.

Jumat, 14 Januari 2021                                   

bacaan : Yohanes 10 : 1 – 21

Gembala yang baik
"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; 2 tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. 3 Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. 4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. 5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal." 6 Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka. 7 Maka kata Yesus sekali lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. 8 Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. 9 Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. 10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. 11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; 12 sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. 13 Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. 14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku 15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. 16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. 17 Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. 18 Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku." 19 Maka timbullah pula pertentangan di antara orang-orang Yahudi karena perkataan itu. Banyak di antara mereka berkata: 20 "Ia kerasukan setan dan gila; mengapa kamu mendengarkan Dia?" 21 Yang lain berkata: "Itu bukan perkataan orang yang kerasukan setan; dapatkah setan memelekkan mata orang-orang buta?"

Percayakanlah Hidupmu Kepada Tuhan Yesus, Gembala Yang Baik

Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memberikan gambaran yang unik dan istimewa tentang hubungan antara Tuhan dengan umat-Nya yaitu Gembala dan domba. Teks  bacaan kita hari ini menyaksikan bahwa Yesus sendiri menyebut diri-Nya Gembala, sedangkan umat-Nya sebagai domba.  Pertanyaannya : “Mengapa kita digambarkan sebagai domba bukan binatang lain yang mungkin lebih kuat seperti kuda, gajah, singa, harimau, rajawali dan yang lainnya?”  Rupanya penggambaran manusia sebagai domba hendak memperlihatkan keberadaan manusia yang penuh dengan kelemahan, ketidakberdayaan, mudah tersesat dan selalu berada dalam bahaya. Karena manusia, termasuk saya dan basudara digambarkan seperti domba yang penuh kelemahan, maka kita sangat membutuhkan gembala yang dapat membimbing dan menuntun kita ke jalan yang benar.  Syukurlah  kita mempunyai Tuhan Yesus yang menyatakan diri sebagai Gembala yang baik. Gembala yang selalu peduli dengan keselamatan domba-domba-Nya dan rela melakukan apa saja agar domba-domba-Nya hidup sejahtera.

Saudaraku, ketika Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Gembala yang baik, Ia mengontraskan diri-Nya dengan pencuri, perampok dan gembala upahan, yaitu mereka yang identik dengan gembala yang jahat yang hanya mengambil keuntungan dari kawanan dombanya. Karena itu marilah kita tetap percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan mengandalkan Dia dalam hidup. Jangan mengandalkan manusia dengan segala kemegahannya karena sering mereka menjadi teman di saat kita dapat “menghasilkan” sesuatu dan akan dicampakan pada waktu tidak lagi dibutuhkan. Ibarat pepatah “habis manis sepah dibuang”. Tuhan Yesus Gembala yang baik akan menjaga keluar masuk kita, kini dan selamanya.

Doa: Tuhan, kami mau tetap memercayakan hidup kami kepada-Mu. Amin.

Sabtu, 15 Januari 2022                                  

bacaan : Matius 21 : 18 – 22

Yesus mengutuk pohon ara
18 Pada pagi-pagi hari dalam perjalanan-Nya kembali ke kota, Yesus merasa lapar. 19 Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu: "Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!" Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu. 20 Melihat kejadian itu tercenganglah murid-murid-Nya, lalu berkata: "Bagaimana mungkin pohon ara itu sekonyong-konyong menjadi kering?" 21 Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi. 22 Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya."

Percaya dan Berbuahlah

Brenda, seorang pemudi yang sangat aktif dalam berbagai kebaktian. Tak satu pun kebaktian yang terlewatkan olehnya. Jika ia mendengar bahwa ada orang yang dikenalinya meninggal, sekalipun tinggal jauh dari tempat tinggal nya, Brenda tak pernah absen mengikuti kebaktian penghiburan dan pemakaman. Dengan rajin berkebaktian maka orang berpikir bahwa Brenda adalah seseorang yang patut dicontohi. Benarkah demikian? Ooo..tidak! Di rumahnya, Brenda ternyata seorang yang keras kepala, mau punya mau, pembangkang dan suka membuat masalah dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Brenda taat beribadah tapi tidak bisa menghasilkan buah. Ia sama seperti pohon ara dalam kesaksian Matius pada bacaan kita hari ini.

Saudaraku, hari ini kita belajar dari kesaksian Matius tentang  peristiwa pengutukan pohon ara yang tidak berbuah oleh Tuhan Yesus serta perumpamaan tentang “mencampakkan gunung ke laut”. Kisah Tuhan Yesus ini hendak mengajarkan  bahwa sebagai orang percaya kita harus berbuah. Berbuah, berarti kita memberitakan kebenaran firman Tuhan dengan kata tetapi juga melalui perbuatan. Berbuah berarti lewat sikap hidup yang kita perlihatkan ada orang lain yg diselamatkan. Kenapa Yesus ingin pohon ara berbuah? Karena Yesus ingin umat-Nya berbuah. Karena itu sekalipun seseorang tampak rajin berkebaktian, namun jika hidupnya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan maka kebaktian yang dilakukannya setiap waktu hanya sesuatu yang sia-sia belaka. Sesuatu yang dilakukan sebagai rutinitas dan tidak lahir dari hati yang sungguh percaya. Untuk bisa menghasilkan buah kita juga harus melekat pada pokok pohon yaitu Tuhan Yesus Kristus (band. Yohanes 15 : 5 Yesus Pokok Anggur  dan kita carangnya). Melekat pada pokok berarti percaya kepada Yesus dengan sepenuh hati. Hasilnya, kita pasti akan menghasilkan buah yang baik dan banyak dan nama Tuhan dipermuliakan.

Doa: Tuhan, kami mau ercaya pada-Mu dan menghasilkan buah. Amin.

*SUMBER : SHK JANUARI 2022; LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 2-8 Januari 2022

Tema Mingguan : ” Hidup Dalam Kekayaan Kasih Karunia Allah

Minggu, 02 Januari 2022                                 

bacaan : Efesus 1 : 3 – 14

Kekayaan orang-orang yang terpilih
3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. 4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. 5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, 6 supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. 7 Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, 8 yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. 9 Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus 10 sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi. 11 Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan--kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya-- 12 supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. 13 Di dalam Dia kamu juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. 14 Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Kekayaan Kasih Karunia Allah

Kekayaan adalah idaman setiap orang. Karena itu manusia bekerja keras dalam hidupnya supaya mendapatkan sejumlah kekayaan materi yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan keinginan hati termasuk menyimpannya untuk diwariskan pula kepada keturunannya. Memang manusia tidak pernah puas dengan kekayaan.  Namun berapa pun banyaknya kekayaan yang dimiliki oleh seorang manusia, satu hal yang secara pasti tidak dapat dibeli dengan kekayaan dan harta duniawi itu adalah penebusan Allah atau keselamatan kita. Itulah kekayaan kasih karunia Allah yang dimaksudkan oleh Paulus yakni Allah melalui Yesus Kristus telah memberikan diri-Nya secara cuma-cuma untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan kebinasaan. Rasul Paulus menjelaskan kekayaan di sini bukanlah kekayaan dunia yang kita peroleh melalui kerja keras, namun kekayaan rohani yang kita peroleh melalui anugerah Allah di dalam Yesus Kristus. Berkat Rohani atau kekayaan rohani itu juga yang memungkinkan kita telah dipilih oleh Allah untuk menjadi anak-anak-Nya, dan oleh karena pilihan itulah Allah karena kasih-Nya mengaruniakan di dalam Yesus keselamatan bagi kita. Sebab itu hikmat dan pengertian dilimpahkan kepada kita untuk memahami betapa kekayaan kasih karunia Allah itu telah dilimpahkan dalam kehidupan kita. Dengan begitu status sebagai anak-anak Allah sepatutnya diresponi dengan memberikan puji-pujian kepada Tuhan lalu bertekad untuk hidup di dalam kekayaan kasih karunia-Nya itu dengan selalu menjaga identitas diri kita sebagai anak-anak Allah yang harus selalu menghadirkan, kasih, kebaikan, damai dan sukacita dalam kehidupan ini.

Doa: Ya Allah, kami mengucap syukur atas berkat keselamatan yang melimpah oleh karena kasih karunia-Mu. Amin

Senin, 03 Januari 2022                                    

bacaan : Ulangan 7 : 7 – 9

7 Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu--bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? -- 8 tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir. 9 Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan,

Allah Setia Terhadap Janji-Nya

Kita pernah mendengar ungkapan “Ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang”. Seperti itulah kebanyakan relasi yang diikat antar manusia. Relasi yang diikat oleh karena materi atau uang. Relasi yang hanya berdasarkan keuntungan atau kebutuhan. Hal ini berbeda dengan relasi antara Allah terhadap umat-Nya. Relasi Allah dan Israel tidak diikat oleh hal-hal duniawi, namun oleh ikatan perjanjian. Allah mengasihi bangsa Israel dan setia terhadap janji-Nya bagi nenek moyang Israel, sehingga Ia menuntun bangsa itu keluar dari tanah perbudakan serta memberkati mereka beserta keturunan. Melalui Bacaan firman Tuhan hari ini kita diajarkan untuk hidup penuh dengan tanggung jawab dan berlaku setia terhadap perkataan atau janji yang kita berikan, dengan menghayati apa yang telah dilakukan Tuhan atas janji-janji-Nya kepada umat. Tuhan teguh memegang janji-Nya kepada kita. Karena itu kita pun sebagai manusia harus setia terhadap Allah. Dalam kehidupan ini ada banyak persoalan dan pencobaan yang siap merongrong kesetian kita kepada Tuhan. Ketika diperhadapkan dengan berbagai masalah dan pencobaan itu, kita akan tekun berdoa dan bergumul, bahkan dalam pergumulan seringkali kita berjanji kepada Allah untuk melakukan hal-hal tertentu yang akan menyukakan hati Allah. Tetapi ketika ada dalam kebahagiaan dan kesenangan, kita lalu melupakan janji  untuk tetap setia kepada Allah. Firman Tuhan ini mengingatkan, marilah menjaga relasi kita dengan Tuhan atas dasar kesetiaan untuk memegang teguh firman-Nya, agar dalam perjalanan kehidupan ke depan kita tetap dipenuhi berkat Tuhan.

Doa: Ya Tuhan, ajarilah kami untuk berlaku setia sebagai anak-anak-Mu, sama seperti Engkau yang selalu setia terhadap janji penyertaan-Mu bagi kami. Amin

Selasa, 04 Januari 2022                                   

bacaan : Ibrani 12 : 12 – 17

12 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; 13 dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh. 14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. 15 Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. 16 Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. 17 Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.

Jangan Menjauhkan Diri Dari Kasih Karunia Allah

Dalam keluarga seringkali kita dengan atau tanpa sengaja mengutarakan kata-kata yang menyinggung  satu dengan yang lain, tanpa menyadari perkataan dan perbuatan kita itu mengakibatkan kepahitan dalam diri. Ketika hal itu terjadi maka tidak akan ada damai dalam kehidupan kita. Apa yang seharusnya kita lakukan untuk menjaga damai itu tetap utuh dalam hidup keluarga kita? Penulis kitab Ibrani menegaskan dalam bagian pembacaan ini untuk mengutamakan hidup kudus dan berdamai dengan semua orang. Jangan memiliki nafsu yang rendah seperti Esau yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan sehingga ia tidak memperoleh berkat. Nafsu yang rendah akan membuat seseorang lebih mementingkan diri sendiri dan cenderung mengabaikan orang lain. Hal inilah yang akan menimbulkan akar pahit, jika seseorang bertindak semena-mena terhadap orang lain. Mengapa harus ada akar kepahitan? Karena orang menjauh dari kasih karunia Allah. Itulah sebabnya penulis Ibrani mengingatkan kita agar jangan menjauh dari kasih karunia Allah. Jika kita menjauh dari kasih karunia Allah maka kita cenderung menjadi apatis dan egois, sehingga menimbulkan masalah atau permusuhan. Sebagai suami isteri, orang tua dan anak, saudara-bersaudara, di dalam perjalanan hidup pasti mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Ada yang terluka dan ada yang tersakiti. Dalam pekerjaan dan pelayanan sekalipun, ada juga hal-hal yang membuat kita tersakiti. Namun kita harus ingat untuk jangan sampai ada akar kepahitan dalam hidup. Karena itu haruslah memilih untuk tidak menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, supaya dapatlah diketahui mana yang baik bagi hidup kita dan orang lain.

Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami untuk hidup dalam kekudusan dan berdamai dengan semua orang agar kami tidak menimbulkan akar pahit dan menjadi jauh dari kasih karunia-Mu. Amin.

 

Rabu, 05 Januari 2022                             

bacaan : 2 Timotius 1 : 3 – 10

Ucapan syukur dan nasihat untuk bertekun
3 Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. 4 Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku. 5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. 6 Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. 7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. 8 Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. 9 Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman 10 dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.

Jangan Takut Bersaksi Tentang Kasih Karunia Tuhan

Tidak mudah menjadi pengikut Kristus.  Kita berpikir jika  mengikut Dia perjalanan hidup akan enak dan tidak akan susah.  Tentu tidak!  Ada tanggung jawab besar berada di pundak kita yaitu memikul salib dan memiliki kehidupan yang ‘berbeda’ dengan dunia, karena sebagai orang Kristen kehidupan kita harus benar-benar mencerminkan Kristus.  Teks  bacaan ini menegaskan bahwa Paulus berpesan agar Timotius tidak mundur dan pantang menyerah untuk mewartakan kesaksian akan Tuhan dan kerajaan Allah sesuai dengan keimanan Timotius yang begitu kuat seperti para pendahulunya. Sebab Allah telah memberi kekuatan kepada setiap hamba terkasih-Nya melalui kasih karunia Allah dalam Kristus Yesus untuk tugas kesaksian itu. Sebab itu melalui suratnya ini, Paulus mengungkapkan kekuatan iman yang memampukannya untuk memberitakan Injil, sebagai pengalaman untuk menguatkan Timotius. Memberitakan Injil hanya mengandalkan iman. Demikianlah pula kita sebagai orang tua bertanggungjawab mempersiapkan anak-anak kita sebagai generasi penerus untuk tidak takut bersaksi tentang kasih karunia Tuhan. Kita membesarkan mereka di dalam pertumbuhan iman yang benar dan baik, sehingga mereka bukan hanya dapat bertahan dalam berbagai tantangan jaman, tetapi mereka justru mampu untuk menyatakan kebenaran Tuhan dalam kehidupannya. Dalam iman dan doa kita yakin anak-anak kita bahkan kita semua akan menjadi pemberita-pemberita  injil melalui sikap dan pengaruh yang positif dengan orang-orang yang ada di sekitar kita.

Doa:  Ya Tuhan berikanlah kami kekuatan untuk terus memberitakan tentang Kasih KaruniaMu dalam hidup ini, amin.

Kamis, 06 Januari 2022                                

bacaan : 1 Korintus 1 : 4 – 9

Ucapan syukur
4 Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus. 5 Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, 6 sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu. 7 Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. 8 Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. 9 Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.

Mengucap Syukur Atas Kasih Karunia Allah

Dalam relasi dengan sesama, kita lebih mudah mengingat kelemahan dan kekuarangan daripada kebaikan. Tidak demikian dengan Rasul Paulus. Persoalan jemaat di Korintus tidak membuatnya berhenti mengucap syukur. Ia mengingat umat Allah di Korintus serta menaikkan ucapan syukurnya atas mereka. Ada tiga hal yang menjadi dasar ucapan syukur Rasul Paulus. Pertama, jemaat di Korintus telah menerima dan mengalami kasih karunia Allah. Inilah sumber kekayaan mereka. Karunia ini akan digunakan sebagai sarana untuk memuliakan dan menyaksikan Allah karena itu mereka mengalami pertumbuhan rohani yang pesat. Kedua, mereka sudah menjadi saksi Kristus. Ketiga, Allah yang melimpahkan kasih karunia dan rahmat kepada mereka, adalah Allah yang setia.  Ungkapan syukur ini memang merupakan suatu penilaian yang jujur tentang keadaan jemaat Korintus di dalam Kristus dan merupakan landasan bagi permintaan Paulus agar jemaat hidup sesuai dengan keadaan itu. Belajar dari surat Paulus ini, maka pengucapan syukur dalam Kristus harus dimulai dari pemahaman dan kesadaran. Kita harus sadar tentang siapa kita di hadapan Allah. Kita wajib mengenal siapa Tuhan serta Pemimpin kehidupan kita. Tanpa pemahaman ini, maka pelayanan yang kita lakukan hanya sebatas kesibukan belaka. Pertumbuhan iman yang benar akan mengarahkan dan menuntun pelayanan untuk memuliakan Kristus. Inilah dasar yang sejati dari hidup yang bersyukur. Karena itu, berupayalah dengan ketulusan hati selalu mengucap syukur atas segala sesuatu termasuk bersyukur untuk kebaikan dan keberhasilan orang lain. Bukan sebaliknya sombong atas keberhasilan kita dan iri hati atas keberhasilan orang lain. Syukurilah setiap kebaikan dan keberhasilan karena itulah kasih karunia Allah dalam hidup kita.

Doa:  Ya Tuhan, kami mengucap syukur atas kasih karunia-Mu yang telah menyelamatkan kami umat-Mu. Amin.

Jumat, 07 Januari 2022                                    

bacaan :  Efesus 2 : 1 – 10  

Semuanya adalah kasih karunia
Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. 2 Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. 3 Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. 4 Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, 5 telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita--oleh kasih karunia kamu diselamatkan-- 6 dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, 7 supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. 8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, 9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. 10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Kasih Karunia Allah Bagi Keluarga Kristen

Kasih karunia berasal dari kata kharis (bahasa Yunani). Menurut Kevin J. Conner, kata kasih karunia muncul dari kebiasaan Yunani, yaitu ketika orang-orang Yunani ingin memberikan hadiah dari kemurahan hati yang murni, tanpa berpikir akan imbalan, maka kata yang mereka gunakan untuk pemberian itu adalah “kharis”. Dalam PB, kata kasih karunia dihubungkan dengan keselamatan dari Allah bagi manusia di dalam Kristus, yaitu kemurahan Allah yang diberikan kepada orang berdosa yang tidak layak menerimanya. Karena itu, Paulus mengatakan dalam nas bacaan kita bahwa pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan – (Efesus 2:3c-5). Kasih karunia Allah ini begitu hebat, sehingga memungkinkan John Newton untuk memperoleh keselamatan dari Allah. Ketika ia berseru kepada Tuhan memohon keselamatan, Tuhan tidak memperhitungkan lagi kekejaman yang telah ia lakukan kepada para budak pada masa itu. Hal ini bukan berarti Tuhan tolerir dengan perbuatan tidak benar dari manusia, namun kasih karunia-Nya menjadi lebih utama demi keselamatan manusia. Sekalipun demikian, jangan pernah lupa bahwa penyesalan dan pertobatan dibutuhkan juga dari pihak kita.Marilah nyatakan kasih karunia Allah itu dalam kehidupan keluarga kita. Kita patut hidup di dalam-Nya menurut rasul Paulus (ayat 10d). Sebagai keluarga Kristen, seharusnya kita mengandalkan Tuhan dan melakukan segala sesuatu sesuai perintah-Nya, supaya kasih karunia Allah terus mengalir dalam kehidupan.

Doa : Berikanlah kasih karunia-Mu bagi keluarga kami, ya Tuhan! Amin.

Sabtu, 08 Januari 2022                           

bacaan : 1 Korintus 15 : 9 – 10

9 Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. 10 Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.

Integritas Diri Dalam Kasih Karunia Allah

Dalam sebuah percakapan panjang melalui handphone, seorang laki-laki yang biasanya dipanggil Kaka bu mengatakan : beta seng sangka lai kalau orang banyak pilih beta par jadi pengurus di unit. Beta pung kehidupan yang gelap beberapa tahun yang lalu ternyata dong seng hitung akang dan menjadikan akang sebagai alasan untuk menolak beta. Beta yakin kalau samua ini dapat terjadi karna kasih karunia Allah. Apa yang dikatakan dan diakui oleh Kaka bu tersebut sama dengan yang dirasakan dan diakui oleh Rasul Paulus. Ia dapat mendirikan Jemaat Korintus dan melayani selama kurang lebih 18 bulan di sana hanya karena kasih karunia Allah. Rasul Paulus menjelaskan tentang dirinya sebagai bagian dari pemberitaan injilnya kepada jemaat di Korintus. Cara Allah memilih dan memakainya merupakan sesuatu yang luar biasa, yang hanya dapat dipahami dengan iman. Rasul Paulus pun menyebut tindakan Allah tersebut sebagai bukti kasih karunia-Nya kepadanya. Untuk itu sudah sepatutnyalah kasih karunia tersebut diresponi oleh Paulus dengan ketekunan dan kerja kerasnya dalam pemberitaan injil. Komitmen dan integritas dirinya untuk melayani pun tak dapat diragukan oleh siapa pun. Semua yang dilakukan itu pun dipahami Paulus sebagai kerja dari kasih karunia Allah di dalam dirinya.

Sebagaimana pemahaman dan iman yang dimiliki oleh Rasul Paulus dalam memandang cara Allah bagi dirinya, demikian juga seharusnya bagi kita selaku orang percaya. Semua yang dialami dan kerjakan sehingga menimbulkan suatu karya pelayanan dan kesaksian tentang Tuhan Allah, mestinya kita sadari sungguh sebagai wujud dari kasih karunia Allah. Hal ini tentunya akan berdampak pada dijalaninya kehidupan dengan selalu mengandalkan campur tangan Tuhan serta menjadikan kita sebagai pribadi yang rendah hati.

Doa : Tuhan berikanlah kasih karunia-Mu bagi kami untuk tetap setia melakukan tugas pelayanan dan kesaksian. Amin.

*SUMBER : SHK JANUARI 2022, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 26 – 31 Desember 2021

Tema Mingguan : ” Terpujilah Tuhan Yang Telah Melawat UmatNya

Minggu, 26 Desember 2021                              

bacaan : Lukas 1 : 67 – 79

Nyanyian pujian Zakharia
67 Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya: 68 "Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, 69 Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, 70 --seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus-- 71 untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, 72 untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, 73 yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, 74 supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, 75 dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita. 76 Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, 77 untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, 78 oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, 79 untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera."

Allah Melawat Karena Ia Begitu Peduli

Pertama, ketika Roh Kudus menjamah Zakharia, segera ia meresponnya dengan ungkapan pujian untuk memuliakan Allah yang besar. Isi nyanyian Zakharia antara lain pujian kepada Allah karena Allah telah melawat umat-Nya, Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang Israel dan atas perbuatan Allah yang telah memilih dia sebagai ayah seorang nabi besar, nabi pembuka jalan bagi Mesias yang akan datang. Roh Kudus yang ada pada orang tua mewarnai didikan kepada anaknya sehingga Yohanes bertumbuh semakin besar dan makin kuat rohnya. Kedua, Zakharia dibentuk Allah menjadi teladan bagi kita yang mungkin meragukan Allah dan mulai tidak taat. Sesuatu yang sulit diterima oleh pikiran Zakharia, karena usianya yang telah lanjut, membuat dia ragu terhadap janji Allah. Keraguan terhadap janji Allah menyebabkan dia bisu sampai anaknya lahir. Sebagai seorang imam yang mempunyai tugas sebagai perantara antara umat dengan Allah, tidak bisa berbicara merupakan hal yang sangat berat. Tetapi pada Akhirnya Zakharia percaya dan sangat bersyukur akan rencana Allah dalam hidupnya. Jangan meragukan rencana Allah dalam hidup dan masa depan kita karena rencana Allah itu indah pada WaktuNya dan pasti akan digenapi. Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Tuhan begitu memperhatikan kita dan sangat peduli. Sama seperti seorang ayah yang selalu ingin memberikan yang terbaik begitu juga Allah yang selalu ingin memberi yang terbaik. Percayakah kita kepadaNya?

Doa:  Ya Tuhan, terima kasih Engkau selalu melawat dan memperhatikan kami serta selalu merancangkan yang terbaik untuk kehidupan kami.  Amin.   

Senin, 27 Desember 2021                                  

bacaan : Keluaran 15 : 13

13 Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kautebus; dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu yang kudus.

Kasih SetiaNya Tak Berkesudahan Dalam Hidup

Kasih setia Tuhan merupakan kata kunci dalam peristiwa keluarnya umat Israel dari Mesir. Dan dengan kasih setia-Nya pula Tuhan menuntun umat-Nya untuk datang ke tempat kediaman-Nya. Keluarnya Israel dari Mesir yang berpuncak pada kisah Laut teberau menjadi inti kepercayaan Israel. Betapa tidak, jika Tuhan tidak menyertai umat-Nya, kesaksian umat Tuhan berakhir di tepi laut itu. Saat itu mereka berada pada jalan buntu. Mereka terjepit di antara kekuatan tentara Mesir yang mengejar untuk menangkap dan melenyapkan mereka, dengan kekuatan alam yang tak dapat ditaklukan. Melalui kepemimpinan Musa, Allah menyelamatkan umat-Nya dengan membelah air laut Teberau, sehingga Israel dapat berjalan di dasar laut Teberau ke seberang dan selamat. Kebaikan Tuhan yang boleh disyukuri adalah bahwa Ia mau mendengar permohonan kita, kita tidak mengetahui bagaimana dan kapan pertolongan Tuhan akan terjadi, namun kesediaan Tuhan mendengar seruan kita adalah sesuatu yang patut kita syukuri. Tuhan itu baik pada orang yang mengasihiNya. Bukan artinya Tuhan butuh kasih manusia, justru kasihNya yang besar telah diberikanNya pada kita melalui pengorbanan di kayu salib. Namun Tuhan sangat mengasihi orang-orang yang mengharapkan pengasihanNya, mempercayai bahwa hanya kasihNya sajalah yang dapat menyelamatkan kita, Mengasihi berarti memiliki kedekatan yang dalam seperti kasih seorang ibu dengan anak yang dilahirkannya. Mau mencurahkan seluruh hidup untuk yang dikasihinya. Sudahkah kita bersyukur akan kasih setia Tuhan dalam hidup?

Doa:  Tuhan, ajarlah kami untuk senantiasa bersyukur untuk kasih setia Tuhan dalam hidup kami. Amin.

Selasa, 28 Desember 2021                                

bacaan : Lukas 2 : 25 – 35

25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, 26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. 27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, 28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: 29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, 30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, 31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, 32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." 33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. 34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan 35 --dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."

Ada Damai Dan Sukacita

Hati yang penuh dengan kedamaian dan sukacita menjadi dambaan atau harapan setiap orang. Inilah yang dirasakan oleh Simeon orang benar dan saleh itu, pada saat berjumpa secara langsung dengan Yesus. Kedamaian dan sukacita terlihat dari respons Simeon yang menyambut dan menatang Yesus sambil memuji Allah. Ia dilawat oleh Tuhan sampai tergenapi yang difirmankan atas kehidupannya. Kisah ini menunjukan kuasa Allah yang teramat luar biasa. Apa yang difirmakan-Nya terjadi dan menghadirkan damai dan sukacita. Pelajaran berharga yang dapat kita petik yaitu bahwa lawatan Tuhan akan selalu menyertai mereka yang hidup di dalam-Nya serta memelihara kesetiaan dan ketaatan kepada Allah. sebagai orang percaya kita diajarkan untuk tetap setia kepada Allah meskipun dalam segala kelemahan dan keterbatasan sebagai manusia. Bahkan tetap memuji Tuhan atas setiap kebaikan dan kemurahan yang Ia nyatakan dalam seluruh kehidupan kita. Memuji kebesaran Tuhan bukan saja ketika kebutuhan dan gumulan kita di jawab oleh-Nya, tetapi ketika berbagai ujian hidup datang silih berganti menghapiri kehidupan kita. Kasih kemurahan Allah tidak hanya terlihat lewat setiap berkat yang kita nikmati tetapi justru terlihat ketika kita menghadapi masalah dan mampu melaluinya dan masih diberi kesempatan untuk hidup. Penyertaan Tuhan itu kekal. Ia akan senantiasa menyertai hidup orang-orang yang bersandar serta percaya kepada-Nya. Oleh sebab itu tetaplah percaya kepada Allah yang  selalu melawat seluruh hidup kita. biarlah sukacita dan damai-Nya menyertai di sepanjang perjalanan hidup.

Doa: Tuhan, kiranya damai dan sukacitaMu itu ada dan tetap diam di dalam kami,  Amin.  

Rabu, 29 Desember 2021                               

bacaan : Lukas 2 : 36 – 40

36 Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, 37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. 38 Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. 39 Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. 40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

Lanjut Usia Bukan Penghalang Untuk Bersaksi

Terkadang faktor usia sering mempengaruhi semangat seseorang untuk terus berkarya. Namun hal itu tidak berlaku bagi Hana. Walaupun sudah berusia 84 tahun ketika ia turut melihat bayi Yesus yang sedang diberkati bersama ke dua orang tuan-Nya oleh Simeon, dengan antusiasnya dia bersyukur bahkan langsung bersaksi kepada semua orang tentang apa yang di saksikannya. Semangat yang terlihat dari diri Hana tidak terlepas dari campur tangan Allah yang selalu melawat kehidupannya. Hal itu juga tidak dapat dilepaspisahkan dari iman Hana. Ketaatanya dan kesetiaanya kepada Allah dibuktikan dengan hidup yang selalu ada dalam menjaga relasi dengan Allah dalam bentuk ibadah, puasa dan juga doa. Pola hidup Hana memperlihatkan ketaatan dan kesetiaan yang sungguh kepada Allah, terlihat jelas dengan ungkapan syukurnya itu. Yang jadi pertanyaan, apakah kita sudah benar-benar taat dan setia kepada Allah? Dari kisah Hana kita belajar untuk tetap setia dan taat kepada Allah, tidak hanya berupa usapan jempol saja tapi ditunjukkan lewat sikap dan tindakan kita. Dengan tetap memperhatikan pentingnya membangun relasi antara kita dengan Allah yang ditunjukan lewat kehidupan kita hari lepas hari, secara pribadi, keluarga, bergereja maupun bermasyarakat. Sebab Ia yang telah menganugerahkan kehidupan akan selalu melawat dan menjaga kita. Ingat bahwa usia tidak menjadi penghalang untuk menyaksikan kasih Allah, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Tetaplah bersyukur dan bersemangat. Tuhan menolong kita.

Doa:    Tuhan, jadikan kami orang-orang yang tetap bersemangat menjalani hidup ini, Amin.

Kamis, 30 Desember 2021                                

bacaan : Lukas 7 : 11 – 17

Yesus membangkitkan anak muda di Nain
11 Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. 12 Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. 13 Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!" 14 Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!" 15 Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. 16 Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: "Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita," dan "Allah telah melawat umat-Nya." 17 Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

Dukacita Menjadi Sukacita

Kematian merupakan realita kehidupan yang akan di alami oleh setiap orang. Menghadapi kenyataan yang tidak dapat dihindari ini menggoreskan luka yang mendalam karena kehilangan orang yang kita kasihi, baik mereka yang memiliki hubungan darah atau pun tidak. Hal ini pun yang dirasakan seorang janda di Naim yang kehilangan anak satu-satunya. Kesedihan menggoncang kehidupannya. Ia harus berbesar hati menerima kenyataan ini dan tetap tegar melanjutkan hidup seorang diri. Bacaan kita memperlihatkan bahwa kehadiran Yesus pada saat itu benar-benar memberikan harapan baru dan bukti dari cinta kasih Tuhan lewat setiap lawatan-Nya. bahkan memberikan sukacita penuh bukan hanya bagi ibu janda, tapi juga bagi setiap orang yang ada di tempat itu. Kehadiran-Nya mengubah dukacita menjadi sukacita. Kisah di atas mengajarkan kita tentang kasih dan lawatan Tuhan yang diberikan selalu tepat pada waktunya. Ia peduli dan penuh dengan belas kasihan. Pertolongan-Nya akan selalu diberikan sekalipun tanpa kita yang memintanya. Kenyataan hidup seringkali membuat kita terpuruk dan kecewa, merasa sendiri dan tidak ada yang peduli. Tetapi sebagai orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus Tuhan kita, yakinlah  Ia tidak akan pernah meninggalkan kita sendiri. Ia adalah Tuhan yang mampu mengubah dukacita menjadi sukacita. Jadi ingatlah, apapun yang menjadi persoalan kita termasuk kematian sekalipun, Roh Kudus-Nya akan selalu tetap menghibur kita melalui Firman-Nya maupun orang-orang yang berada di sekitar kita yang hadir untuk menghibur dan menguatkan.

Doa: Kami percaya lewat lawatan tangan-Mu, sukacita akan selalu kami rasakan, Amin.

Jumat, 31 Desember 2021                          

bacaan : Mazmur 77 : 12 – 21

11 (77-12) Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. 12 (77-13) Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu. 13 (77-14) Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami? 14 (77-15) Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa. 15 (77-16) Dengan lengan-Mu Engkau telah menebus umat-Mu, bani Yakub dan bani Yusuf. Sela 16 (77-17) Air telah melihat Engkau, ya Allah, air telah melihat Engkau, lalu menjadi gentar, bahkan samudera raya gemetar. 17 (77-18) Awan-awan mencurahkan air, awan-gemawan bergemuruh, bahkan anak-anak panah-Mu beterbangan. 18 (77-19) Deru guntur-Mu menggelinding, kilat-kilat menerangi dunia, bumi gemetar dan bergoncang. 19 (77-20) Melalui laut jalan-Mu dan lorong-Mu melalui muka air yang luas, tetapi jejak-Mu tidak kelihatan. 20 (77-21) Engkau telah menuntun umat-Mu seperti kawanan domba dengan perantaraan Musa dan Harun.

Mengingat Kembali Kebaikan Tuhan

Susah senang, suka duka, menangis tertawa merupakan dinamika hidup yang akan dilewati oleh setiap kita. Kita akan senang, bersuka bahkan tertawa lepas ketika kenyataan yang menghampiri sesuai dengan harapan kita. Akan tetapi susah, duka, dan tangisan juga akan hadir ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Penderitaan yang dialami oleh pemazmur membuatnya beranggapan bahwa kasih setia Allah sudah hilang dari padanya. Menariknya bahwa keadaan itu tidak berlangsung lama. Ia tidak berlarut-larut di dalam kesedihannya, melainkan merenungkan dan mengingat kembali semua kebaikan yang telah Tuhan nyatakan kepada dirinya dan bangsanya. Apa yang dilakukan oleh pemazmur  menjadi contoh yang patut diteladani. Kita diajarkan agar tidak terus memandang pada setiap penderitaan yang kita alami, melainkan memfokuskan diri pada kebaikan-kebaikan yang sudah Tuhan nyatakan. Pemeliharaan Tuhan bagi kita sepanjang tahun ini  membuktikan kebaikan-Nya. Segala kebaikan-Nya itu tidak dapat di ukur dan di balas dengan apapun juga selain  beriman dan percaya kepada-Nya. Ingat, sebagai manusia kita tidak terlepas dari cobaan hidup. Cobaan dan tantangan bisa datang dari orang-orang terdekat seperti  suami istri, yang punya peranan sebagai orang tua tetapi juga anak-anak. Tantangan itu juga bisa datang dari lingkungan eksternal seperti gereja dan masyarakat. Tetapi sebagai orang percaya kita harus meyakini bahwa apapun yang kita alami, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Kasih dan kebaikan-Nya akan selalu menyertai. Selamat mengakhiri tahun 2021 dan dengan sukacita memasuki tahun yang baru dengan tetap mengingat semua kebaikan Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati.

Doa:  Kebaikan-MuTuhan, selalu ada dan nyata dalam setiap kehidupan kami, Amin.

*sumber : SHK terbitan LPJ GPM

Santapan Harian Keluarga, 19 – 25 Desember 2021

Tema Mingguan : ” Merayakan Adventus Dengan Kedamaian Hati

Minggu, 19 Desember 2021                                 

bacaan : Yesaya 9 : 1 – 6

(9-1) Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. 3 (9-2) Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan. 4 (9-3) Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian. 5 (9-4) Sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api. 6 (9-5) Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. 7 (9-6) Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.

Wujudkan Kedamaian Hati Bersama Yesus

Beberapa hari lagi semua umat Kristiani di seluruh dunia akan merayakan Kelahiran Sang Juruselamat, Yesus Kristus. Euforia menyambut kelahiran Yesus dirasakan sejak memasuki bulan Ber-Ber (September, Oktober, November, Desember). Kidung natal terdengar di setiap sudut jalan, gang-gang, bahkan mall-mall. Pernak-pernik natal menghiasi setiap swalayan dan mengundang ibu-ibu rumah tangga untuk berbelanja atau sekedar hanya untuk ‘cuci mata’. Kelahiran Raja Damai merupakan perikop bacaan kita hari ini yang menjelaskan tentang datangnya seorang Pelepas untuk menuntun umat Allah kepada Sukacita, Damai Sejahtera, Kebenaran, Keadilan dan Kedamaian. Dialah Mesias, Yesus Kristus, Anak Allah (ay.5). Nabi Yesaya secara tegas menyampaikan kabar sukacita bahwa akan datang Raja Damai kepada setiap umat Allah untuk menyelamatkan dan membawa kedamaian bagi kehidupan mereka. Kelahiran Raja Damai adalah Berita yang membawa sukacita karena Sang Juruselamat, yakni Yesus Kristus telah meninggalkan segala kemuliaan-Nya dan mendamaikan Diri-Nya dengan kita. Tuhan Yesus tidak menyamar sebagai manusia, namun IA benar-benar telah menjadi manusia. Melalui Tuhan Yesus, kita pun diperdamaikan dengan Allah, oleh Karena itu kita mesti menampakkan damai dari Allah itu di dalam kehidupan kita. Baiknya kita menjadi agen-agen perdamaian di dalam keluarga, jemaat bahkan masyarakat. Disadari bahwa manusia tidak dapat mewujudkan kedamaian tanpa Tuhan, oleh sebab itu mintalah hikmat Kristus untuk menuntun kita agar mampu menghadirkan kedamaian bagi sesama.

Doa:  Ya Tuhan… Penuhilah hidup kami dengan Roh kedamaian, agar kami siap menjadi agen pendamai bagi sesama. Amin.

Senin, 20 Desember 2021                                   

bacaan : Mazmur 69 : 33

32 (69-33) Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali!

Rendah Hati, Sabar Dan Selalu Berdoa Dalam Hidup

Manusia pada umumnya tidak menginginkan hidup dalam keadaan susah, miskin, dan menderita. Manusia ingin hidup sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berada dalam keadaan bebas, tidak tertekan, dan tidak terbelenggu oleh keadaan apapun yang membuat gerak-geriknya dibatasi. Keadaan seperti ini biasanya dirasakan oleh seseorang ketika berada sebagai tahanan (hidup di penjara). Mengapa demikian? Sebab biasanya manusia yang hidup dalam keadaan demikian: susah, miskin, menderita, dan disebut sebagai tahanan yang berada di penjara, dipandang oleh orang lain sebagai manusia hina. Kadang mereka tidak dihargai, dan menjadi cemohan banyak orang. Memang, orang miskin dan para tahanan dianggap sebagai orang-orang yang tidak berharga dalam masyarakat. Firman Tuhan hari ini hendak menegaskan bahwa Tuhan selalu ada bersama orang miskin dan tahanan. Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka dan Tuhan tetap menyayangi dan akan menolong mereka. Karena itu, orang-orang miskin dan para tahanan tidak perlu berkecil hati. Firman Tuhan ini juga mau mengingatkan orang-orang yang sering menghina dan mencela mereka yang miskin dan yang ditahanan untuk jangan pernah menganggap rendah dan hina, serta mencela dan mencemooh orang yang miskin dan yang di tahanan. Jadilah rendah hati satu terhadap yang lain, sabar dalam segala keadaan, dan dalam segala kondisi selalu berdoa kepada Tuhan dalam menjalani kehidupan ini.

DoaTuhan, kuatkan dan mampukanlah kami untuk hidup rendah hati, sabar, dan selalu dekat dalam doa kepadaMU. Amin.                                        

Selasa, 21 Desember 2021                               

bacaan : Lukas 1 : 57 – 66

Kelahiran Yohanes Pembaptis
57 Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki. 58 Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. 59 Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, 60 tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes." 61 Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian." 62 Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. 63 Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan merekapun heran semuanya. 64 Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. 65 Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. 66 Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Bersukacitalah Dalam Ketulusan

Pernahkah kita bersukacita dengan orang yang bersukacita? Tuluskah sukacita itu? Sebab seringkali dalam diri kita,  muncul rasa iri ketika orang lain mengalami keberhasilan  dalam pemberkatan Tuhan. Biasanya, hal ini terjadi dalam kehidupan antar tetangga maupun antar orang bersaudara. Apabila ada satu keluarga diberkati, tetangga atau saudaranya pasti ada yang iri. Mereka tidak turut bersukacita. Kalau pun ada rasa sukacita, itu tidak tulus. Bacaan Alkitab hari ini memberikan catatan penting untuk hidup sebagai tetangga dan sebagai orang bersaudara. Berita kehamilan Elisabet memberikan rasa sukacita tersendiri, apalagi ketika Elisabet telah melahirkan. Semua tetangga dan sanak saudaranya pun turut merasakan sukacita (58). Ketulusan sukacita mereka terlihat ketika bersama Elisabet dan Zakharia, mereka berdiskusi dan membicarakan tentang nama yang akan diberikan kepada anak Elisabet dan Zakharia yang baru lahir itu. Meskipun pada akhirnya Zakharia-lah yang diminta untuk memberi nama kepada anaknya dan memberikan nama Yohanes, namun setidaknya suasana pemberian nama anak terjadi dalam situasi yang penuh sukacita bersama antara Elisabet, Zakharia, para tetangga, dan sanak saudara. Kisah kelahiran Yohanes ini ingin mengajarkan kepada kita begaimana hidup bertetangga dan hidup sebagai orang bersaudara. Tetangga dan saudara yang baik adalah tetangga dan saudara yang penuh pengertian dan selalu hidup dalam saling peduli dan saling memperhatikan satu dengan yang lain. Hal tersebut juga harus berlangsung dalam keikhlasan dan ketulusan. Jangan ada yang mendustai perasaan. Kalau merasakan sukacita biarlah sukacita itu terjadi dalam keikhlasan dan ketulusan agar Tuhan memberkati semua yang bersukacita secara bersama.

Doa:   Ajarlah aku Tuhan untuk bersukacita dengan sesama dalam ketulusan hati yang mendalam. Amin.

Rabu, 22 Desember 2021                             

bacaan : Yesaya 32 : 17 – 18

17 Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya. 18 Bangsaku akan diam di tempat yang damai, di tempat tinggal yang tenteram di tempat peristirahatan yang aman.

Nyatakan Kebenaran Supaya Damai Dan Tenang Dalam Hidup

Semua orang menginginkan damai dan tenang, tidak ada seorang pun yang menginginkan hidup dalam ketidakdamaian dan ketidaktenangan. Namun, terkadang kita tidak tahu bagaimana caranya menumbuhkan kedamaian dan ketenangan dalam hidup. Melalui nabi Yesaya, Tuhan menyampaikan cara untuk membuat kedamaian dan ketenangan tumbuh dalam kehidupan umatNya. Caranya yaitu dengan berpikir, berkata, dan berbuat kebenaran. Nabi Yesaya mengatakan, “dimana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan” (ay.17).  Nubuatan nabi Yesaya ini hendak meletakkan dasar untuk bertumbuhnya damai dan ketenangan dalam hidup, yang tidak lain adalah dengan mengedepankan kebenaran disetiap aspek kehidupan. Mengapa harus kebenaran? Sebab dengan kebenaran merupakan suatu kekuatan yang sangat dahsyat, yang di dalamnya ada hal yang sangat mendasar dan yang sangat dibutuhkan untuk membuat hidup menjadi semakin berarti. Manfaat kebenaran tidak hanya untuk orang yang melakukan kebenaran tetapi juga bagi orang yang menerima kebenaran. Dengan berkata dan melakukan kebenaran sebenarnya di situlah kita sudah berupaya untuk membuat orang lain mengalami perubahan dan perkembangan dalam kehidupannya. Selain itu, ketika kita mengatakan sesuatu yang benar dan melakukan hal yang benar tersebut kepada orang lain dalam hidup ini maka dengan sendirinya kita telah membuat bathin kita dan bathin orang lain mengalami suatu kedamaian dan ketenangan dalam hidup. Tidak hanya itu, kita juga harus menyadari bahwa tanda cinta kita kepada orang lain itu terletak juga dalam perkataan dan perbuatan kebenaran tersebut. Bahwa saat kita mengatakan suatu kebenaran dan memberlakukan segala sesuatu yang benar, tanpa sadar di situlah kita sudah menciptakan suatu relasi yang lebih dalam, dan yang berlangsung dalam suasana yang penuh kedamaian dan ketenangan. Karena itu, baiklah kita dalam menyambut kedatanganNya, mengatakan dan melakukan kebenaran, serta menjadikan kebenaran itu tumbuh di setiap perjalanan hidup kita agar damai dan ketenangan selalu menyertai perjalanan kehidupan kita selamanya.

Doa: Tuhan, Tolonglah kami untuk selalu berkata dan bertindak dalam kebenaran. Amin.

Kamis, 23 Desember 2021                               

bacaan : 2 Korintus 13 : 11

11 Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!

Memperoleh Berkat Tuhan Dengan Cara Tuhan

Berkat Tuhan menjadi hal yang sangat didambakan oleh setiap orang percaya. Kelihatannya orang percaya menganggap berkat Tuhan itu sangat mudah didapatkan dari Tuhan. Bahkan ada yang menganggap dan percaya bahwa berkat Tuhan itu setiap hari Tuhan berikan kepada manusia, yaitu berupa nafas kehidupan. Itu tidak salah, sebab tanpa diminta atau didoakan pun nafas kehidupan diberikan oleh Tuhan. Namun, terkadang banyak orang lupa akan hal itu, sehingga lupa untuk bersyukur atas nafas kehidupan yang Tuhan anugerahkan setiap hari, setiap saat. Selain itu, orang percaya juga banyak yang tidak tahu bagaimana ia harus mendapatkan berkat Tuhan lainnya, selain nafas kehidupan. Dalam 2 Korintus 13:11 ini Rasul Paulus membeberkan tips untuk memperoleh berkat Tuhan (selain nafas kehidupan). Pertama-tama Rasul Paulus mengajak orang percaya untuk bersukacita atas kehidupan yang dianegerahkan Tuhan. Mengapa demikian? Sebab dengan bersukacita orang percaya mengekspresikan dirinya sebagai pribadi yang sadar akan Tuhan sebagai sumber hidup. Selain itu, orang percaya diminta untuk tetap menjaga dirinya agar tetap sempurna dalam hidup. Yang dimaksud dengan sempurna di sini adalah segala pikiran, perkataan dan perbuatan selalu menyatakan kebenaran sebagai umat Tuhan. Bagaimana untuk menjadi sempurna? Matius 19:21,  katakan: “Kata Yesus kepadanya: jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku”. Hal ini berarti untuk menjadi sempurna dalam hidup orang percaya dituntut untuk memberlakukan kasih secara total bukan hanya dalam perkataan, tetapi yang terpenting adalah dalam perbuatan. Menjadi sempurna memerlukan pengorbanan diri demi kehidupan orang lain, bukan mengorbankan orang lain demi kehidupan diri sendiri.Hal yang tidak kalah penting untuk seseorang memperoleh berkat Tuhan yaitu tidak mengabaikan nasehat Firman Tuhan, selalu hidup sehati dan sepikir, serta hidup dalam damai sejahtera penuh kasih mesra dan saling mengasihi. Ketika melakukan hal-hal tersebut, maka dengan sendirinya akan ada berkat Tuhan yang mengalir dalam kehidupan orang percaya, yakni “Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu”.

Doa:  Ajarlah kami untuk bersukacita, dan kuatkanlah kami untuk hidup ramah dan rendah hati… Amin.      

Jumat, 24 Desember 2021                                 

bacaan : Lukas 1 : 26 – 38

Pemberitahuan tentang kelahiran Yesus
26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, 27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. 28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." 29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. 30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. 32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, 33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." 34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" 35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. 36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. 37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." 38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Rayakanlah Natal Dengan Rendah Hati Dan Setia

Sejak dahulu orang yang hamil tanpa status pernikahan itu dianggap aib. Karena itu, siapa pun perempuan yang mengalaminya akan menutupinya sedapat mungkin. Bila ketahuan pasti mendapatkan sanksi sosial, dikucilkan, dan harus menanggung malu. Dalam budaya Yahudi tempat Maria hidup, hukumannya dirajam batu karena dianggap berzinah. Karena itulah, ketika malaikat Gabriel datang kepadanya memberitahukan bahwa ia akan mengandung, Maria berkata, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami?” Maria pasti membayangkan betapa dahsyat hukuman yang akan diperolehnya. Ia pasti bergolak secara mental. Apa kata orang dan pembelaan apa yang akan disampaikannya? Tetapi ia memilih taat atas berita itu. Simaklah perkataannya, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Ia tidak menolak, tetapi menerimanya dengan sepenuhnya berserah kepada Allah. Maria tahu bahwa Allah, yang kepada-Nya ia percaya, berkuasa menolong dan melindunginya. Di malam natal ini marilah kita merenung dan introspeksi diri apakah kita sudah benar-benar berserah terhadap rencana-Nya. Apakah kita mau mengikuti apa yang Allah kehendaki dengan rendah hati dan setia. Seperti Maria walaupun ia tahu akan ada konsekuensi dibalik keputusannya, tetapi ia lebih memilih rendah hati dengan menerima apa yang dpercayakan kepadanya dan dengan setia melakukan perintahNya karena dihatinya ia sangat bersyukur mendapat karunia yang sangat besar. Bagaimana dengan kita apakah kita sudah rendah hati dan setia ?

Doa:  Ya Tuhan, Ajarlah kami untuk Merayakan Natal dengan Rendah hati dan Setia bukan hanya mementingkan kemeriahan pesta. Amin.

Sabtu, 25 Desember 2021                                

bacaan : Matius 1 : 18 – 25

Kelahiran Yesus Kristus
18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. 19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. 20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. 21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." 22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: 23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" --yang berarti: Allah menyertai kita. 24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, 25 tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

Hati yang Merendah dan Setia Lebih Penting

Pasangan muda Yusuf dan Maria paling menonjol dalam kisah kelahiran Yesus versi Injil Matius. Tokoh Yusuf memercayakan dirinya kepada Tuhan. Saat malaikat Tuhan memberitakan alasan kehamilan Maria. Yusuf yang disebut seorang yang saleh, sederhana, dan tulus, belajar percaya dan taat pada sabda Allah. Melalui Roh Kudus, Tuhan berkarya secara istimewa dalam diri Maria. Pada awalnya, dalam diri Yusuf timbul rasa ragu dan konflik batin saat ia mengetahui tunangannya hamil. Injil Matius mencatat bahwa “ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam”. Di satu sisi, Yusuf tidak menginginkan Maria bernasib malang karena ia pasti dirajam oleh masyarakat Yahudi. Di sisi lain, ia tidak dapat menerima kenyataan itu dan berupaya meninggalkan Maria dengan cara menceraikannya. Ia tidak ingin mempermalukan martabat tunangannya di depan publik. Mungkin Yusuf berpikir bahwa dengan cara seperti itu barangkali Maria dapat menikah dengan lelaki yang telah membuatnya hamil. Inilah jalan iman yang dihayati dengan ikhlas dan rela oleh Yusuf. Tetapi setelah mengetahui yang sebenarnya Yusuf memilih tetap menikahi Maria menerima calon istrinya dengan rendah hati dan setia pada rencana Allah. Di hari Natal ini kita bersyukur bahwa sang Juruslamat telah lahir, kita berpesta dengan berbagai macam cara sesuai tradisi di dalam keluarga masing-masing, tetapi bagaimana dengan hati kita? Sudahkah kita rendah hati dan setia mempercayai Dia dalam hidup kita dan percaya akan RencanaNya. Jangan fokus pada perayaannya lebih baik fokus pada hati kita, dan merenungkan apakah hidup kita selama ini sudah sesuai dengan kehendakNya?

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk selalu mengikuti kehendakMu dengan Rendah Hati Dan Setia. Amin.

*Sumber : SHK terbitan LPJ GPM

Santapan Harian Keluarga, 12 – 18 Desember 2021

Tema Mingguan : ” Merayakan Adventus Dengan Bersukacita

Minggu, 12 Desember 2021                             

Zakharia 9 : 9 – 10

Raja Mesias di Sion
9 Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda. 10 Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi.

Menyambut Raja Damai dengan Sukacita

Dihari ini kita telah memasuki minggu adventus ketiga dengan pendasaran firman Tuhan dari kesaksian nabi Zakharia yang menubuatkan kedatangan Mesias sebagai Raja Damai. Gambaran dari kedatangan Raja Damai yang lemah lembut dengan mengendarai seekor keledai. Biasanya seorang raja mengenderai seekor kuda yang menunjuk kepada keperkasaan dan kekuataannya untuk bertarung dalam peperangan. Namun Raja Damai dengan mengendarai seekor keledai menunjuk kepada sosok yang lemah lembut, bersahaja dan rendah hati. Nubuatan nabi ini menjawab segala kejenuhan umat Israel atas setiap kekerasan, pertempuran, peperangan serta jauh dari kedamaian dan ketentraman. Itulah sebabnya seruan nabi ini dengan mengajak umat untuk bersukacita menyambut datangnya Raja Damai. Nubuatan nabi Zakharia ini tergenapi dalam kedatangan Tuhan Yesus yang puncaknya ketika Ia memasuki kota Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai untuk sebuah misi pengorbanan demi keselamatan orang percaya termasuk kita sebagai keluarga Kristen. Kehadiran Tuhan Yesus yang kita nantikan dalam minggu-minggu adventus ini tidak lagi sebagai bayi mungil di Bethlehem, namun sebagai Raja yang akan menghakimi manusia dan dunia ini. Sebagai keluarga Kristen kita mesti bersyukur dan bersukacita karena karya cinta kasih Allah bagi kita melalui kedatangan Tuhan Yesus yang telah menyelamatkan kita diperoleh dengan jalan damai dan jauh dari segala kekerasan. Untuk itu sukacita kita dalam menanti kedatangan Tuhan Yesus harus diwujudkan melalui sikap hidup kita yang selalu lemah lembut, cinta kasih dan penuh damai dalam kehidupan keluarga, persekutuan maupun bermasyarakat.

Doa: Tuhan Yesus kami bersukacita atas kehadiranMu sebagai raja Damai yang telah menyelamatkan kami. Amin.

Senin, 13 Desember 2021                             

bacaan : Mazmur 16 : 7 – 11

7 Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. 8 Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. 9 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; 10 sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. 11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

Bersukacitalah Didalam Tuhan

Kita semua pasti pernah merasakan sukacita. Perasaan sukacita ini dilatarbelakangi dengan berbagai alasan. Namun yang pasti ada kejadian atau situasi yang menguntungkan dan menyenangkan hati kita. Misalnya kita mendapat promosi jabatan, lulus ujian, menang udian berhadiah, keuntungan dalam usaha atau bisnis, dlsbnya. Semua itu wajar dan sah-sah saja, namun berapa lama kita menikmati sukacita atas hal-hal lahiriah itu. Tentu terbatas dan tidak kekal. Hanya satu sukacita kita yang besar dan kekal adalah kesukacitaan kita dalam kasih Tuhan. Hal ini yang disaksikan oleh pemazmur dalam ayat 9 bacaan firman Tuhan saat ini bahwa hatinya bersukacita dan jiwanya bersorak-sorak atas cinta kasih Tuhan yang telah menyelamatkannya. Hati sebagai pusat dari seluruh kehidupan pemazmur yang tentu merasakan sukacita yang berasal dari Tuhan itu kekal dan abadi. Apapun situasi dam kondisi baik tantangan, persoalan maupun penderitaan tetap membuat pemazmur untuk bersukacita. Sebab bukan dari kekuatan dan kemampuan pemazmur tetapi kekuatan dari Allah yang menuntun serta menyertainya sehingga ia tetap bersukacita memuji dan memuliakan Tuhan. Demikianpun kita sebagai keluara Kristen ketika ada di minggu-minggu adventus ini hendaklah kita bersyukur dan bersukacita atas cinta kasih Kristus yang telah menyelamatkan kita melalui pengorbanan, kematian dan kebangkitanNya. Sukacita yang tiada ternilai harganya sebab dibayar dengan pengorbananNya dan memberi hidup kekal bagi kita. Itulah sebabnya apapun keadaan kita dengan berbagai persoalan dan tantangan serta pergumulan hidup, baiklah kita tetap teguh dan bersukacita sebab kita tidak sendiri, Tuhan Yesus sebagai Sang Imanuel selalu menyertai dan memberkati kita.

Doa: Tuhan Yesus sempurnakan sukacita kami dalam cinta kasihMu. Amin.

Selasa 14 Desember 2021                                

bacaan : Mazmur 68 : 1 – 5

Perarakan kemenangan Allah
Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. Nyanyian. (68-2) Allah bangkit, maka terseraklah musuh-musuh-Nya, orang-orang yang membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya. 2 (68-3) Seperti asap hilang tertiup, seperti lilin meleleh di depan api, demikianlah orang-orang fasik binasa di hadapan Allah. 3 (68-4) Tetapi orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukacita. 4 (68-5) Bernyanyilah bagi Allah, mazmurkanlah nama-Nya, buatlah jalan bagi Dia yang berkendaraan melintasi awan-awan! Nama-Nya ialah TUHAN; beria-rialah di hadapan-Nya!

Bersukacita Atas Kemenangan Allah

Allah bangkit maka terseraklah musuh-musuhNya, kenyataan ini disambut dengan sukacita oleh orang-orang benar. Pengalaman iman umat pilihan Allah Israel ketika mereka keluar dari tanah perbudakan Mesir menuju tanah perjanjian Kanaan, berapa banyak Tuhan Allah menghalau segala tantangan dan ancaman bagi umat pilihanNya itu. Baik manusia maupun kekuatan dan kedasyatan alam takluk dalam kuasa dan kemuliaan Allah. Bangsa-bangsa dengan segala kekuatan mereka mencoba untyuk melawan namun mereka hancur dan binasa. Ibarat asap yang hilang tertiup angin serta lilin yang meleleh di depan api, seperti itu orang-orang fasik yang tidak percaya dan mengenal Allah. Kontras dengan kehidupan orang benar yang percaya serta yakin akan kemahakuasaan Allah yang selalu hadir dan nyata dalam seluruh perjalanan kehidupan mereka. Oleh pemazmur digambarkan kehadiran Allah seperti seorang bapak bagi anak yatim dan menjadi suami bagi yang janda serta memberi perlindungan bagi yang sebatang kara. Kehadiran Allah tergenapi melalui kelahiran dan kedatangan Tuhan Yesus sebagai Mesias Anak Allah yang menyelamatkan umat manusia dan dunia dari penghukuman dosa. Kita bersyukur dan bersukacita menyambut karya keselamatan Allah dalam Kristus. Sekalipun ada banyak tantangan dan persoalan bahkan ancaman yang kita hadapi, namun kuasa dan  kemuliaan Allah dalam kasih Kristus selalu nyata dalam  perjalanan kehidupan kita sebagai keluarga Allah. Hal ini patut kita  sambut dengan sukacita dan terwujud melalui sikap dan perilaku hidup yang bersyukur serta setia dan taat kepadaNya.

Doa: Tuhan, kami bersukacita menyambut karya keselamatanmu. Amin.

Rabu, 15 Desember 2021                               

bacaan : Mazmur 100 : 1 – 5

Pujilah Allah dalam bait-Nya
Mazmur untuk korban syukur. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! 2 Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! 3 Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. 4 Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! 5 Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.

Bersorak-sorak dan Bersukacita Memuji Tuhan

Ungkapan perasaan syukur dan kebahagiaan selalu membawa kedamaian dan ketentraman. Sebaliknya marah, dendam, emosi, kekerasan, kebencian adalah luapan perasaan negatif yang berdampak buruk baik fisik maupun psyhis kita. Dalam bagian bacaan firman Tuhan saat ini pemazmur mengajak umat untuk senantiasa bersyukur dan memuji Tuhan. Bersyukur dan memuji Tuhan dalam tradisi Israel menunjuk kepada kesalehan dan ketaatan. Dalam karya pelayanan Tuhan Yesus sebagai Mesias Anak Allah, juga menekankan soal kasih dan pengampunan. Itu berarti orang-orang yang hidup dalam kasih dan pengampunan selalu menunjukan sikap bersyukur, bersukacita dan bersorak-sorai. Mereka mampu melakukan dan menyatakannya oleh karena kekuatan Roh Kudus yang selalu menuntun, menyertai dan memberkati. Di minggu-minggu adventus ini, marilah kita sebagai keluarga Kristen selalu bersyukur, bersukacita dan bersorak-sorai memuji dan memuliakan Allah dalam Kristus oleh karena cinta kasih dan sayangNya yang besar dan melimpah sehingga kita semua tetap kuat dan tegar dalam menjalani hari-hari hidup. Kita mengungkapkannya melalui doa dan ibadah baik dalam persekutuan keluarga maupun bergereja. Memuji dan memuliakan Allah dalam Kristus adalah wajib dan layak kita lakukan sebagai kekuatan dan senjata yang ampuh di tengah kehidupan dunia ini dengan godaan dan tipuan iblis. Jadi mari, naikkan pujian dalam doa dan ibadah kepada Tuhan dengan penuh sukacita dan sorak sorai. Dia yang kita nantikan akan segera datang!

Doa:  Ya Tuhan kami bersorak-sorak dan bersukacita memuji Tuhan, sebab Engkau layak dipuji dan disembah. Amin.

Kamis, 16 Desember 2021                             

bacaan : Mazmur 122 : 1 – 9

Doa sejahtera untuk Yerusalem
Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." 2 Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. 3 Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, 4 ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel. 5 Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud. 6 Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: "Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa. 7 Biarlah kesejahteraan ada di lingkungan tembokmu, dan sentosa di dalam purimu!" 8 Oleh karena saudara-saudaraku dan teman-temanku aku hendak mengucapkan: "Semoga kesejahteraan ada di dalammu!" 9 Oleh karena rumah TUHAN, Allah kita, aku hendak mencari kebaikan bagimu.

Sukacita Berdiam Di Dalam Rumah Tuhan

Kata orang “Sejauh apapun kita pergi menuntut ilmu, bekerja atau berlibur. Ada saatnya kita harus kembali pulang ke rumah dan berjumpa dengan orang-orang yang kita cintai”. Rumah bukan sekedar sebuah tempat tinggal atau tempat berteduh, tetapi rumah merupakan tempat mencurahkan kasih sayang dan berbagi bersama orang-orang terkasih. Bacaan hari ini mengungkapkan tentang sukacita Daud ketika datang ke Rumah Tuhan. Sebagai Raja, Daud pastinya dapat memiliki apapun yang ia inginkan. Namun satu hal yang ia inginkan ialah berada di dalam Rumah Tuhan. Bagi Daud, Sukacita sejati justru ia rasakan saat berada di Rumah Tuhan.  Mengapa demikian?  Karena di Rumah Tuhan, ia mendapatkan segala hal yang diperlukan:  kelepasan, kelegaan, kemenangan, pertolongan, kedamaian dan sukacita.  Sama halnya dengan rumah tempat kita tinggal yang selalu mendatangkan kehangatan dan sukacita karena berjumpa dengan orang-orang yang kita sayangi, Rumah Tuhan juga merupakan Tempat kita sebagai orang-orang percaya berjumpa dengan-Nya dan menikmati sukacita bersama Tuhan. Pernahkah kita merasakan, jika kita ke Gereja (Rumah Tuhan) kita sungguh merasakan kedamaian dan mendapat kekuatan baru? Jika Ya! Maka berbahagialah, sebab itu berarti kita dipenuhi Roh Allah untuk tetap bersukacita dalam setiap keadaan. Sukacita itu mengantar kita untuk menjadi sumber sukacita bagi sesama kita juga. Wujudkanlah itu mulai dari dalam keluarga, tetangga di sekitar hingga semua orang di tengah gereja dan masyarakat.

Doa: Ya Tuhan, Penuhilah hati kami dengan Sukacita. Amin.

Jumat, 17 Desember 2021                             

bacaan : Mazmur 150 : 1 – 6

Haleluya
Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! 2 Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat! 3 Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! 4 Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! 5 Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang! 6 Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!

Pujilah Tuhan!

Francis Jane Crosby lahir pada tanggal 24 Maret 1820. Ketika berusia enam minggu, dia menderita infeksi di matanya. Lalu ada seorang yang mengaku-ngaku sebagai dokter dan mencoba mengobati mata Francis dengan cara meletakkan semangkuk bubur panas di atas kelopak matanya, akibatnya mata Francis menjadi buta. Pada usia 12 tahun, Francis bersekolah di Institut untuk orang buta di New York. Dia kemudian mengajar di tempat itu sambil terus menulis puisi. Hingga meninggal, Francis telah menulis 900 Hymne dan lagu-lagu Rohani. Beberapa lagunya termuat dalam Kidung Jemaat antara lain: Ku Berbahagia (Kj. 392), Di Jalanku, kudiiring (Kj.408), dan Mampirlah dengan Doaku (Kj.26). Dalam kebutaannya, Francis tetap Memuji Tuhan dan Bersukacita. Keterbatasan fisiknya tak membatasi ia menyampaikan pujian dan syukur kepada Tuhan yang dikasihiNya. Mazmur hari ini mengingatkan kita untuk selalu memuji Tuhan Allah. Allah digambarkan sebagai Gembala, Perisai, Batu Karang, Pencipta, Penguasa, Hakim, Pemelihara, dsb. Oleh sebab itu, selama kita masih diberikan kesempatan hidup di dunia ini, maka Pujilah Allah dan Percaya akan Kuasa-Nya. IA akan memberikan kekuatan bagi setiap orang yang berharap pada-Nya. Jika Francis dalam kelemahan dan ketidakberdayaannya Tuhan memampukan ia menjadi penyair dan pencipta lagu yang luar  biasa, maka kita pun pasti akan dimampukan dan dikuatkan untuk menghadapi setiap persoalan hidup. Asalkan, Tetaplah Memuji dan Mengagungkan kebesaran Tuhan.

Doa: Kami ingin selalu Memuji Engkau, Ya Tuhan, Ya Allah Kami. Amin.

Sabtu, 18 Desember 2021                             

bacaan : Yesaya 61 : 10 – 11

10 Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya. 11 Sebab seperti bumi memancarkan tumbuh-tumbuhan, dan seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan ALLAH akan menumbuhkan kebenaran dan puji-pujian di depan semua bangsa-bangsa.

Keajaiban Kemuliaan Tuhan

Miracle in Cell No.7 (Keajaiban di sel no.7) adalah salah satu drama korea yang mengisahkan tentang perjuangan seorang ayah berkebutuhan khusus untuk membahagiakan putri semata wayangnya. Sang putri termasuk anak yang cerdas, dan karena itu ia memahami kekurangan ayahnya serta selalu memuji semua pemberian ayahnya kepadanya. Suatu kali sang anak menginginkan sebuah tas sekolah yang unik. Persediaan tas tersebut tidaklah banyak sehingga ayahnya harus berusaha mengumpulkan uang dari hasil kerja sebagai tukang parkir untuk membeli tas itu. Akhirnya tas itu terjual namun orang lain yang membelinya. Sang putri kecewa, namun ia tetap tersenyum agar ayahnya tidak merasa bersalah. Baginya, kebahagiaan yang sejati adalah memiliki ayah yang selalu menyenangkannya. Bacaan hari ini memperlihatkan tentang Nabi Yesaya yang Bersukaria karena Tuhan mengenakan kepadanya pakaian keselamatan dan Jubah kebenaran. Hal ini membuat Yesaya cakap melakukan tugasnya serta bijaksana dalam mengambil setiap keputusan. Tuhan tidak memberikan harta dan tahta, tetapi jaminan keselamatan dan kekuatan serta jalan kebenaran kepada Yesaya sebagai Harta yang berharga. Merasakan kebahagiaan di dalam hidup ini tidak selamanya harus bergantung pada kekayaan dan materi semata. Seperti sang putri yang merasakan bahagia karena kehadiran ayahnya serta cinta kasih yang tulus dari sang ayah, Yesaya pun bersukaria karena Tuhan mengasihinya dan memberikan perlindungan serta menunjukkan jalan kebenaran kepadanya. Marilah Bersukaria bersama Tuhan, segala Jalan-Nya pastilah mendatangkan Keselamatan dan Damai Sejahtera. Biarlah jiwa kita terus memuliakan Tuhan lewat setiap perkataan dan perbuatan yang menyenangkan-Nya.

Doa: Terima kasih Tuhan… Engkau telah menyelamatkan jiwaku, dan aku Bersukaria. Amin.

Santapan Harian Keluarga, 5 – 11 Desember 2021

Tema Mingguan : “Merayakan Adventus Dengan Beriman

Minggu, 05 Desember 2021                                   

bacaan : Habakuk 2:1-5

Orang yang benar akan hidup oleh karena percayanya
Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku. 2 Lalu TUHAN menjawab aku, demikian: "Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. 3 Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. 4 Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya. 5 Orang sombong dan khianat dia yang melagak, tetapi ia tidak akan tetap ada; ia mengangakan mulutnya seperti dunia orang mati dan tidak kenyang-kenyang seperti maut, sehingga segala suku bangsa dikumpulkannya dan segala bangsa dihimpunkannya."

Menanti Dengan Iman

Habakuk adalah salah satu kitab  yang terdapat di dalam kanon PL dan merupakan bagian dari kelompok Kitab nabi-nabi kecil.. Tema utama di dalam kitab ini menceritakan bagaimana Tuhan tidak pernah lalai menepati janjiNya atas kehidupan orang benar. Orang-orang fasik yang hidup dengan berlaku curang akan mendapatkan hukuman yang setimpal dan adil dari Tuhan.Oleh sebab itu pada ayat 1 ditegaskan tentang sikap kesetiaan yang harus dimiliki oleh orang percaya dan Habakuk menyatakan bahwa sikap tersebut harus menjadi sikapnya. Habakuk harus menantikan Tuhan dengan kesetiaannya meminta pertolongan dan kekuatan dari Tuhan saja, sekalipun banyak terjadi penindasan dan kejahatan disekitarnya. Kondisi keterpurukan ini mungkin saja akan sangat mempengaruhi keadilan Tuhan bagi Habakuk dan bangsa Israel, sehingga mempengaruhi pula setiap orang yang menanti untuk tetap bertahan. Tetapi Nabi Habakuk menegaskan bahwa orang benar akan memperoleh kehidupan dari kepercayaannya kepada Tuhan (ayat 4). Hal ini berarti bahwa kesetiaan harus disertai iman yang sungguh yang berwujud juga dalam kesetiaan setiap orang benar untuk menyampaikan doa pengaduannya kepada Tuhan. Habakuk menyatakan pentingnya sikap tersebut melalui kehidupannya yang juga terus menerus berseru kepada Tuhan meyakini akan kuasa Tuhan yang akan menolongnya. Tidak pernah luntur dalam hatinya bahwa Tuhan pasti akan menepati janji keselamatanNya. Itulah iman yang sesungguhnya di masa-masa penantian atau adventus bagi kita saat ini.

Doa: Teguhkanlah iman kami dengan tuntutan RohMu, ya Tuhan, dalam masa-masa adventus ini. Amin.  

Senin, 06 Desember 2021                      

bacaan : Mazmur 119 : 166 – 168

166 Aku menantikan keselamatan dari pada-Mu, ya TUHAN, dan aku melakukan perintah-perintah-Mu. 167 Aku berpegang pada peringatan-peringatan-Mu, dan aku amat mencintainya. 168 Aku berpegang pada titah-titah-Mu dan peringatan-peringatan-Mu, sebab seluruh hidupku terbuka di hadapan-Mu.

Mencintai Dalam Penantian

Shasha, ini sudah jam 11 malam, ayo cepat tidur”, seruku kepada Shasha. “Sebentar ma, sedikit lagi, ini sudah mau hampir selesai. Saya lagi menyelesaikan soal-soal ini”, jelas Shasha kepadaku. “Kamu lagi menyelesaikan soal-soal apa? pelajaran apakah itu?, tanyaku. “Pelajaran matematika, ma. Saya menyukainya. Saya ingin menyelesaikan beberapa pertanyaan ini. Saya harus bisa mendapatkan penilaian harian yang lebih baik dari sebelumnya. Beberapa teman memintaku untuk bekerja sama, tapi mereka tidak serius mengerjakan latihan soal-soal ini. Saya tidak mau. Jadi mama, ijinkan saya mengerjakan pelajaran yang saya sukai ini ya? setelah itu, saya akan segera tidur”, jelas Shasha sambil sedikit memelas. Rasa suka/senang dapat memberi dorongan yang lebih kuat bagi seseorang untuk mengerjakan sesuatu yang sifatnya wajib atau harus. Pemazmur mengatakan pada ayat 166b dan 167 yakni “dan aku melakukan perintah-perintah-Mu. Aku berpegang pada peringatan-peringatanMu, dan aku amat mencintaiNya”, menunjukkan pula rasa suka atau yang yang disebut Pemazmur “mencintainya” sebagai alasan yang kuat untuk Pemazmur tetap setia pada perintah-perintah Tuhan. “Mencintainya” tidak hanya sekedar menggambarkan perasaan atau emosi, melainkan menjadi motivasi dan kekuatan bagi Pemazmur selama ia menantikan keselamatan dari Tuhan. Waktu-waktu penantian sebagai masa yang belum pasti harus disikapi dengan kekuatan atau hal-hal dari dalam diri yang akan menolong seseorang untuk tetap tekun melakukannya. Untuk itu, bagi kita sebagai orang percaya di minggu adventus kedua ini, marilah kita mengisi minggu ini dengan rasa suka/senang dan mencintai disertai dengan ketaatan pada perintah Tuhan.

Doa:  Kami mencintai perintahMu dan menyukai untuk melakukannya selama masa-masa penantian ini. Amin

Selasa, 07 Desember 2021                               

bacaan : Roma 15 : 12 – 13

12 Dan selanjutnya kata Yesaya: "Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan." 13 Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.

Hidup Dengan Berpengharapan

Apakah hidup kita sekarang lebih baik daripada dulu? Ada yang menjawabnya,belum tentu!. Sebab kenyataannya sekalipun kita hidup dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun kita masih menghadapi banyak masalah. Kemiskinan, keterbelakangan, bencana alam, masalah kemanusiaan bahkan pandemi virus corona masih menjadi wajah kehiduoan saat ini. begitu banyak peristiwa dan tragedi yang mengancam dan merenggut nyawa dan membuat pedih hati kita.. Dalam kondisi demikian, apakah iman kita dapat menjadi landasan yang kokoh untuk bertahan menghadapi situasi ini dan masih adakah harapan yang kita miliki akan hadirnya sebuah kehidupan yang jauh lebih baik ke depan?. Kegelisahan itu dirasakan pula oleh bangsa Israel masa lampau. kapankah masanya sebuah pemerintahan yang adil dan benar, yang memberikan kesejahteraan kepada umat akan mereka nikmati? Dalam kegelisahan itu nabi Yesaya tampil dengan nubuatannya, “Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan”. Ini pula yang diulangi dan ditegaskan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Jadi,  pengharapan itu berasal dari penyerahan hidup kepada Allah melalui  kekuatan Roh Kudus. Karena itu, orang yang berpengharapan selalu bersikap optoimis, sanggup menghadapi berbagai tantangan hidup, karena ia memilih berserah pada  kehendak Tuhan. Itulah sikap pengharapan kita yang harus dimiliki di minggu-minggu adventus ini.

Doa: Tolonglah kami ya Roh Kudus, tetap berpengharapan dalam segala situasi hidup. Amin.

Rabu, 08 Desember 2021                             

bacaan : 2 Korintus 5 : 6 – 10

6 Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan, 7 --sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat-- 8 tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan. 9 Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. 10 Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.

Merayakan Adven Dengan Beriman

Masa advent atau persiapan hari raya natal yaitu perayaan penggenapan kedatangan Tuhan yang pertama diantara umat manusia. Ia lahir sebagai bayi mungil yang memberi sukacita dan keselamatan bagi manusia. Masa advent juga mengarahkan kita dengan penuh harapan menantikan kedatangan Tuhan pada akhir zaman. Tuhan yang dinantikan pada kedua masa ini adalah Tuhan yang hadir secara konkrit dalam sejarah hidup manusia yang beriman. Sebagai gereja, kita berjalan dalam proses keselamatan Allah yang sudah dan sedang berlangsung, serta terus menantikan kepenuhannya. Karena itu, advent mengingatkan gereja akan panggilan misionernya untuk mewartakan sabda Allah kepada segala bangsa agar mengenal Kristus dan kehendakNya. Semangat adventus tidak lain adalah pengharapan, bersihkan hati, beriman teguh, dan tabah menghadapi berbagai berbagai tantangan dan persoalan hidup, tidak mudah tawar hati. Dalam bahasa Paulus, tetaplah berpengharapan dan hiduplah berkenan di hadapan Tuhan, sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus untuk memperoleh apa yang patut kita terima, sesuai dengan yang dilakukan dalam hidup baik ataupun jahat. Semangat adventus ini harus kita miliki. Jagalah diri kita masing-masing supaya jangan jatuh kedalam godaan dunia ini. Mari bersihkan hati dari semua hal yang membuat kita kehilangan damai hati, lalu tetaplah beriman dan berharap menantikan Dia yang datang bukan lagi sebagai bayi malaf, namun sebagai hakim yang menghakimi manusia.

Doa: Peliharalah hidup kami di masa-masa penantian ini ya Tuhan. Amin.

Kamis, 09 Desember 2021                              

bacaan : Filipi 3 : 17 – 4 : 1

Nasihat-nasihat kepada jemaat
17 Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu. 18 Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. 19 Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi. 20 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, 21 yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.
Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!

Jadilah Teladan Iman

Menjadi teladan bukanlah hal mudah. Orang yang menjadi teladan artinya orang yang patut ditiru atau dijadikan panutan oleh orang lain. Ia menjadi role model bagi orang lain. Di dalam keluarga, jemaat, gereja dan masyarakat, kita akan selalu membutuhkan orang-orang yang dapat diteladani dalam sikap, tuturkata dan perilaku hingga teladan iman setiap hari. Dalam alkitab kita pun bisa menemukan banyak contoh orang-orang yang penuh keteladanan.  Rasul Paulus adalah salah satunya. Ia memberi nasehat kepada jemaat di Filipi  “ikutilah teladanku sama seperti aku telah mengikuti teladan Kristus.” Apa yang perlu diteladani dari Paulus? Kehidupannya ternyata sepenuhnya dipimpin oleh Roh Kudus sehingga ia benar-benar mengerti bahwa keberadaan hidupnya hanya untuk Tuhan. Paulus tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Yang dipikirkan hanyalah bagaimana ia bisa memuliakan nama Kristus yang telah mati bagi dirinya, baik melalui kehidupan maupun kematiannya. Itulah sebabnya ia tetap berdiri teguh melayani dan memberitakan Injil. Berdiri teguh menunjuk kepada sikap hidup dan pendirian tidak berubah, tidak goyah namun memiliki sikap hidup setia dan tetap beriman didalam kondisi dan situasi apapun. Itulah hal yang patut diteladani dari Paulus. Pertanyaannya, ada berapa banyak sosok yang layak untuk diteladani di hari-hari penantian ini? Apakah kita sendiri sudah siap dan sanggup menjadi teladan? Belajar dari apa yang dinasihatkan Paulus kepada jemaat di Filipi dan ia mencontohkan dirinya sendiri, marilah kita pun menjadi teladan kebaikan dan teladan iman, tidak goyah dalam situasi apapun. 

Doa:  Mampukan kami menjadi teladan iman dan kebaikan. Amin.

Jumat, 10 Desember 2021                            

bacaan : 1 Yohanes 5 : 1 – 5

Iman mengalahkan dunia
Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari pada-Nya. 2 Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. 3 Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, 4 sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. 5 Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?

Iman Untuk Mengalahkan Dunia

Untuk dapat mengalahkan dunia dan godaannya, kita mesti kuat dalam iman. Yohanes dalam suratnya yang pertama ini mengajak untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah. Ajakan ini sangat penting, sebab inilah bukti dari kekristenan. Orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah, tentu mengasihi Allah dan menuruti perintah-Nya Dalam menuruti perintah-Nya itu, kita diingatkan untuk tidak takut. Namun, ketakutan memperlihatkan ketidaksempurnaan kasih. Memang ada banyak faktor yang membuat orang hidup dalam ketakutan. Justru itu Yohanes mengingatkan: “Siapakah yang mengalahkan dunia ini, selain daripada dia yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah?. Sikap percaya bahwa Yesus Anak Allah, yang menjadi kekuatan bagi orang percaya menghadapi hidup. Yesuslah sumber kekuatan kita yang akan datang sebagai Tuhan. Sebagai orang percaya kita diajak untuk tidak perlu takut. Berani menghadapi dan berperang melawan roh-roh jahat di dunia ini sebab  Allah yang telah menyediakan  perlengkapan senjata rohani yang memperlengkapi kita menghadapi dunia dan  cobaannya.  Ada banyak pergumulan hidup di dunia ini yang senantiasa mengintai dan mengancam kita. Mungkin masalah ekonomi, kesehatan, keluarga, pekerjaan, dan masih banyak lagi. Sekalipun demikian iman percaya kita kepada Yesus Kristus jangan menjadi lemah, namun iman kita harus tetap kokoh dan teguh, ibarat batu karang. Dengan demikian di masa-masa penantian ini, sebagai keluarga marilah jaga dan pelihara hubungan kita dengan Tuhan, supaya ada kekuatan  yang dapat kita miliki untuk dapat  mengalahkan dunia ini.

Doa: Tuhan memberi iman untuk  mengalahkan dunia  dan cobaannya. Amin.

Sabtu, 11 Desember 2021                                

bacaan : Yudas 1 : 17 – 23

Nasihat-nasihat untuk meneguhkan iman
17 Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus. 18 Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu: "Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka." 19 Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus. 20 Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. 21 Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. 22 Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, 23 selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.

Teguh Dalam Iman

Di minggu-minggu Adventus ini hendak mengajak kita untuk merenungkan dan memaknai seluruh perjalanan hidup agar tetap setia beriman kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Hal ini penting sebab situasi hidup sekarang ini dengan berbagai tantangan dan masalah sangat berpengaruh dan menantang iman orang percaya khusus keluarga Kristen. Oleh penulis surat Yudas menyaksikan bahwa pada akhir jaman akan tampil pengejek-pengejek yang hidup menurut nafsu kefasikan mereka. Mereka adalah pemecah belah yang dikuasi keinginan dunia dan hidup tanpa Roh Kudus. Sifat keserakahan yang kuat  membuat mereka begitu lihai menipu dengan kata-kata manis yang bertujuan memutarbalikkan kebenaran Injil tentang Kristus sebagai Mesias dan Juruselamat. Dengan segala cara mereka membangun kekuatan dan gerakan untuk menolak dan melawan iman Kristen tentang Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Secara sederhana saja kalau sikap dan perilaku hidup kita yang tidak mengimani Kristus, mengandalkan kekuatan-kekuatan  diluar Kristus, hidup dalam keserakahan, kedagingan, perseteruan, kedengkian, amarah, dendam serta berbagai nafsu dunia berarti kita menjadi sama dengan para pengejek tersebut. Itulah sebabnya penting untuk kita memohon tuntunan kuasa Roh Kudus dalam kehidupan kita di minggu-minggu adventus ini agar kita dapat menjauhi sifat-sifat demikian serta menjadi keluarga Kristen yang selalu mewujudkan cinta kasih Kristus melalui sikap dan perilaku hidup yang benar dalam keteguhan iman.

Doa: Tuhan Yesus kuatkan iman kami ditengah tantangan zaman ini. Amin.

*sumber : SHK Terbitan LPJ GPM

Santapan Harian Keluarga, 28 Nov – 4 Des 2021

Tema Mingguan : “Merayakan Adventus Dengan Berpengharapan

Minggu, 28 November 2021                            

bacaan : Yesaya 7 : 10 – 17

Pemberitaan mengenai Imanuel
10 TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya: 11 "Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas." 12 Tetapi Ahas menjawab: "Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN." 13 Lalu berkatalah nabi Yesaya: "Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? 14 Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. 15 Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, 16 sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong. 17 TUHAN akan mendatangkan atasmu dan atas rakyatmu dan atas kaum keluargamu hari-hari seperti yang belum pernah datang sejak Efraim menjauhkan diri dari Yehuda--yakni raja Asyur."

Menaati Firman-Nya

Ketika berada dalam situasi yang mengancam kehidupan, secara tidak langsung mendorong kita untuk cepat bereaksi. Salah satu reaksi yang ditunjukan yaitu terkait dengan pengambilan keputusan. Namun karena kondisi yang mendesak membuat kita tidak memperhitungkan sabda Allah bahkan lalai melibatkan Tuhan di dalam keputusan itu. Hal itu juga yang dilakukan oleh raja Ahas. Mendengar kabar bahwa raja Aram dan raja Israel akan menyerang Yehuda, maka timbulah ketakutan yang besar dari raja Ahas dan juga seluruh rakyatnya. Allah memberi pengharapan bagi Ahas dan rakyatnya melalui nabi Yesaya agar mereka tetap meneguhkan hati dan tetap tinggal tenang, jangan takut dan kecut hati terhadap kedua raja itu. Meski pun Tuhan sudah menyampaikan Firman-Nya melalui nabi Yesaya, namun raja Ahas  tidak mengindahkannya malah justru menolak tanda yang akan diberikan Tuhan. Tanda bahwa akan lahir seorang anak laki-laki yang akan dinamai Imanuel, sesungguhnya merupakan pengharapan yang diberikan oleh Allah. Tidak jarang kita juga seringkali mengabaikan Firman Allah dan mengikuti kehendak diri sendiri ketika menghadapi berbagai ancaman. Namun kita seharusnya menyadari bahwa apapun keputusan serta tindakan yang kita lakukan untuk melindungi diri dari ancaman, akan sia-sia ketika itu diluar Firman dan kehendak Allah. Bacaan hari ini mengajarkan kita tentang pentingnya mengambil keputusan sesuai dengan Firman dan kehendak Allah. Sebab Firman-Nya akan selalu menuntun kehidupan kita serta memberikan pengharapan. Belajarlah untuk tetap menaruh harapan kepada-Nya sebab Allah yang kita sembah di dalam Yesus tidak pernah memberikan harapan yang palsu. Bersama-Nya kita tidak akan kecewa.

Doa: Mampuhkanlah kami memahami kehendak Tuhan sesuai Firman-Mu, Amin.

Senin, 29 November 2021                              

bacaan : Yesaya 30 : 18 – 26

Janji keselamatan bagi Sion
18 Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia! 19 Sungguh, hai bangsa di Sion yang diam di Yerusalem, engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru; pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab. 20 Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia, 21 dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: "Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya," entah kamu menganan atau mengiri. 22 Engkau akan menganggap najis patung-patungmu yang disalut dengan perak atau yang dilapis dengan emas; engkau akan membuangnya seperti kain cemar sambil berkata kepadanya: "Keluar!" 23 Lalu TUHAN akan memberi hujan bagi benih yang baru kamu taburkan di ladangmu, dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah. Pada waktu itu ternakmu akan makan rumput di padang rumput yang luas; 24 sapi-sapi dan keledai-keledai yang mengerjakan tanah akan memakan makanan campuran yang sedap, yang sudah ditampi dan diayak. 25 Dari setiap gunung yang tinggi dan dari setiap bukit yang menjulang akan memancar sungai-sungai pada hari pembunuhan yang besar, apabila menara-menara runtuh. 26 Maka terang bulan purnama akan seperti terang matahari terik dan terang matahari terik akan tujuh kali ganda, yaitu seperti terangnya tujuh hari, pada waktu TUHAN membalut luka umat-Nya dan menyembuhkan bekas pukulan.

Kasih Setia Tuhan Yang Tak Berkesudahan

Setinggi-tinginya langit, lebih tinggi kasih Yesus ku. sedalam-dalam lautan, lebih dalam kasih Yesus ku. seindah-indah pelangi, lebih indah kasih Yesus ku…dst….

Syair lagu di atas menggambarkan kasih Allah yang tidak tertandingi oleh apapun juga. Hal ini jelas terlihat dalam bacaan kita. Allah tetap menunjukan kasih-Nya kepada Israel sekalipun berulang-ulang kali mereka melakukan kesalahan dan pelanggaran. Pada saat mereka mengandalkan kekuatan manusia atau meminta perlindungan dari bangsa lain, membuktikan ketidaktaatan dan ketidaksetiaan mereka kepada Allah. Namun karena kasih Allah yang begitu besar, Ia tetap mengasihi Israel bahkan memberikan harapan baru bagi mereka apabila mereka kembali dan berseru kepada-Nya. Kasih dan penyertaan Tuhan yang dinyatakan bagi bangsa Israel mengajarkan kita tentang pentingnya bersandar dan bergantung pada Dia sang pemilik kehidupan. Kasih-Nya yang tak berkesudahan akan senantiasa menyertai apabila kita meninggalkan dosa  dan kembali kepada-Nya. Sebagai manusia, kita tidak terlepas dari berbagai kesalahan. Akan tetapi kesalahan dan pelanggaran itu tidak mengurangi kasih Allah sebab Ia memiliki kasih yang tidak dapat di ukuur oleh apapun. Percayakanlah hidupmu kepada Tuhan dan tetaplah bersandar kepada-Nya serta andalkan Dia dalam menjalani hari-hari hidup kita. Pastikan bahwa kita tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri juga tidak mengandalkan sesama manusia, sebab hal itu tidak berguna dan percuma. Ingatlah dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terlatak kekutanmu. Tetaplah percaya dan berharap hanya kepada yang Maha kasih..

DoaTuhan, biaralah kasih setia-Mu yang tak berkesudahan itu menyertai setiap langkah hidup kami. Amin.

Selasa, 30 November 2021                           

bacaan : Yesaya 40 : 27 – 31

27 Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?" 28 Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. 29 Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. 30 Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, 31 tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Ia Selalu Memberi Kekuatan

Menghadapi situasi atau keadaan yang rumit, seringkali membuat kita putus asa dan hilang harapan. Ada yang mencoba menjalaninya dengan iklas, tetapi ada juga yang sebaliknya. Ketika kenyataan hidup tidak sesuai dengan harapan maka kita akan marah, kecewa, menyalahkan diri sendiri, menyalahkan orang lain, tapi juga tanpa sadar kita menyalahkan Tuhan. Kita lalu bertanya, dimanakah Tuhan? Menjadi hilang harapan dan beranggapan seolah-olah Allah tidak mempedulikan kita. Ungkapan serupa juga diucapkan oleh bangsa Israel “hidupku tersembunyi dari Tuhan, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?”. Kesulitan hidup yang dihadapi pada saat pembuangan membuat mereka merasa bahwa Allah telah melupakan dan tidak memperhatikan mereka lagi. Melalui nabi Yesaya dalam bacaan kita mau menyampaikan bahwa dalam setiap ketidak mampuan menghadapi berbagai masalah, sesungguhnya Allah tidak pernah meninggalkan kita. Ia adalah Allah yang setia dan kasih setia-Nya itu untuk selama-lamanya. Ia adalah Allah yang punya kuasa serta mampu memberikan kekuatan bagi kita yang lemah. FirmanTuhan mengingatkan kita sebagai orang percaya agar tetap mengimani dan mengandalkan serta tetap menaruh harapan kepada-Nya. Sebab Ia sumber kekuatan dan tempat perlindungan kita. Kuasa-Nya dapat menolong, menghadapi berbagai tantangan hidup yang mengancam kehidupan kita. Percayalah kepada Allah dan ingatlah, Ia akan senantiasa memberikan kekuatan kepada orang-orang yang selalu menantikan-Nya. Tuhan menyertai dan menolong kita dalam menapaki kehidupan selanjutnya.

Doa:  Berilah kekuatan ya Tuhan, untuk kami menapaki hari-hari hidup ke depan. Amin.

Rabu, 01 Desember 2021                                

bacaan : Yesaya 60 : 1 – 2  

Kemuliaan Sion yang akan datang
Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. 2 Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.

Bangkitlah, Menjadi Teranglah

Yang penting skarang su bangkit to?” atau “yang penting sekarang sudah bangkit, benarkan?, Kalimat tanya retoris ini terjawab di akhir cerita seorang pendeta senior. Kata bangkit yang dipergunakan oleh seorang pendeta junior ini hendak menegaskan perubahan hidup yang kini dialami oleh pendeta berusia 50 tahunan tersebut. Bangkit dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung salah satu arti yakni bangun (hidup) kembali. Dengan kata lain, adanya sebuah perubahan dari keadaan yang tidak baik, yang berat, yang sukar atau sulit, yang suram atau gelap menjadi keadaan yang baik, yang mudah dan terang. Menurut tafsiran Wycliffe, perubahan ini pun ditekankan dalam nubuatan nabi Yesaya kegelapan dunia akan dikalahkan oleh terang Israel. Sudut pandang Wycliffe ini terkait dengan kedatangan Kristus pertama kali atau kelahiran Yesus Kristus, sama seperti Terang yang akan terbit atas bangsa Yahudi. Selanjutnya, terang tersebut hendaknya diteruskan oleh orang percaya sebagai jemaat atau gerejaNya. Sesuai tema bulan Desember yakni merayakan adventus dan natal Kristus dengan rendah hati dan setia, maka terang yang dinyatakan tersebut hendaknya nampak dalam ucapan dan tindakan yang menghargai dan menerima orang lain yang terbatas pengetahuan dan kemampuannnya, yang tidak menjadikan kepentingan dirinya sebagai yang paling utama dan tidak mempedulikan kepentingan orang lain bahkan menganggap kepentingan mereka tidaklah penting untuk diperhatikan, dll. Sebagai keluarga, kita mestinya menyatakan terang tersebut lebih dulu dalam hubungan antar suami dan istri serta orangtua dan anak, supaya kita pun mampu melakukannya bagi orang sekitar. Itulah sikap adventus kita yang sebenarnya.

Doa:  Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk menyatakan terang Kristus kepada yang lain. Amin. 

Kamis, 02 Desember 2021                              

bacaan : Yesaya 62 : 1 – 5

Keselamatan Sion akan datang dengan segera
Oleh karena Sion aku tidak dapat berdiam diri, dan oleh karena Yerusalem aku tidak akan tinggal tenang, sampai kebenarannya bersinar seperti cahaya dan keselamatannya menyala seperti suluh. 2 Maka bangsa-bangsa akan melihat kebenaranmu, dan semua raja akan melihat kemuliaanmu, dan orang akan menyebut engkau dengan nama baru yang akan ditentukan oleh TUHAN sendiri. 3 Engkau akan menjadi mahkota keagungan di tangan TUHAN dan serban kerajaan di tangan Allahmu. 4 Engkau tidak akan disebut lagi "yang ditinggalkan suami", dan negerimu tidak akan disebut lagi "yang sunyi", tetapi engkau akan dinamai "yang berkenan kepada-Ku" dan negerimu "yang bersuami", sebab TUHAN telah berkenan kepadamu, dan negerimu akan bersuami. 5 Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu, dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu.

Perubahan Hidup di Bulan Ber – Ber

Rasanya natal semakin dekat, lagu-lagu natal yang terdengar dibalik jendela semakin mendamaikan hati. “Ibu pendeta…ibu pendeta!, suara seorang perempuan terdengar di luar kamar. Aku pun tersadar dari lamunanku dan menyambut suara tersebut sambil bergegas ke luar kamar “ya, oma Tin”, jawabku. Oma yang sudah menjalani masa pensiunnya sekitar 6 tahun itu terlihat gesit menyiapkan sarapan pagi untukku. Hari itu merupakan hari kedua aku tinggal di rumah Oma Tin. ”Katong su di bulan ber-ber” ni oma e, natal su dekat”, ucapku. “Iya ibu”, jawab oma sambil tersenyum. Suasana pagi itu pun semakin terasa akrab dalam cerita kami tentang Ohoifau, tempat asal oma. Sejak menjadi tempat pelaksanaan sidang MPP AMGPM tahun 2021, pembangunan di kampung Ohoifau pun menampakkan perubahan yang sangat besar. Kondisi ini tentunya berdampak pula bagi pertumbuhan masyarakat setempat, ringkas cerita dari Ketua Majelis Ohoifau, Pendeta Ona Wenno. Sebuah kondisi baik dari masyarakat sangat diharapkan oleh setiap pemimpinnya, demikian juga Nabi Yesaya. Saat itu, keadaan Israel, Yerusalem khususnya sedang mengalami kehancuran, termasuk aspek spiritualitas. Ketidakbenaran menjadi gaya hidup Bangsa Israel. Yesaya pun melihat keadaan bangsanya seperti istri yang ditinggalkan suaminya. Bangsa Israel seperti kehilangan kekuatan dan kebanggaannya. Dalam keadaan yang demikian, nabi tetap percaya bahwa ada saatnya Tuhan akan memulihkan umatNya sesuai janjiNya. Pemulihan tersebut akan mengembalikan Bangsa Israel dalam hubungannya dengan Tuhan seperti suami-istri. Untuk itu, kebenaran harus dinyatakan dalam perubahan hidup seluruh bangsa Israel. Karena kebenaran menjadi penentu perubahan bagi bangsa Israel. Di minggu-minggu adventus ini, marilah kita menjalani hidup sesuai kebenaran yang dikehendaki Tuhan.

Doa: Tuntunlah kami Tuhan untuk hidup dalam kebenaranMu. Amin 

Jumat, 03 Desember 2021                               

bacaan : Yesaya 62 : 6 – 9

6 Di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintai-pengintai. Sepanjang hari dan sepanjang malam, mereka tidak akan pernah berdiam diri. Hai kamu yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion, janganlah kamu tinggal tenang 7 dan janganlah biarkan Dia tinggal tenang, sampai Ia menegakkan Yerusalem dan sampai Ia membuatnya menjadi kemasyhuran di bumi. 8 TUHAN telah bersumpah demi tangan kanan-Nya, demi tangan kekuatan-Nya: "Sesungguhnya, Aku tidak akan memberi gandummu lagi sebagai makanan kepada musuhmu, dan sesungguhnya, orang-orang asing tidak akan meminum air anggurmu yang telah kauhasilkan dengan bersusah-susah; 9 tetapi orang yang menuainya akan memakannya juga dan akan memuji-muji TUHAN, dan orang yang mengumpulkannya akan meminumnya juga di pelataran-pelataran tempat kudus-Ku."

Menanti Dengan Antusias

Ipen, nanti tunggu bapak yang gemuk-gemuk di luar ya”, kata teman pendetaku melalui telepon. Sudah lima menit berlalu, kapal cepat sudah hampir lepas jangkar, namun bapak yang dibilang oleh teman pendetaku belum juga tiba. Aku sudah mulai tidak tenang menunggu kedatangan bapak tersebut. Ketika tubuhku hendak berbalik menuju pintu kapal, tiba-tiba ada seorang ibu yang memanggil “ibu pendeta, sepertinya bapak yang tadi ibu pendeta bilang sudah dari sana”, serunya sambil menunjuk ke arah pagar masuk pelabuhan. Mataku pun tertumbuk pada seorang bapak yang berbadan besar sementara duduk di belakang pengendara motor sambil memegang sebuah bingkisan. Menunggu memang bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi jika dilakukan dalam waktu yang terbatas. Ketidaksabaran hingga kekuatiran pun menjadi sikap orang yang menunggu. Nabi Yesaya dan bangsa Israel pun dalam teks bacaan hari ini menunjukkan sikap penantiannya terhadap penggenapan janji keselamatan dari Allah. Mereka menantinya sedemikian rupa seperti pengintai yang berjaga-jaga. Walau mereka belum tahu kapan Tuhan akan menyelamatkan, tetapi mereka tidak kehilangan kepercayaan dan pengharapan akan janji tersebut. Mereka menanti sepanjang hari, sepanjang malam bahkan tidak pernah berdiam diri. Mereka hendak menunjukan kesungguhan mereka kepada Tuhan, sehingga Tuhan pun tak dapat tenang dan dapat segera mewujudnyatakan janjiNya. Seperti sikap Nabi Yesaya dan bangsa Israel, demikian pula seharusnya sikap kita saat ini di dalam masa-masa adventus. Kita menanti perayaan kelahiran Yesus tanggal 25 Desember dan kita menanti kedatangan Tuhan pada kali kedua. Kita harus menunjukkan kesungguhan dan sikap kewaspadaan kita dalam penantian. Sehingga ketika Ia datang, kita menjadi orang percaya yang sungguh-sungguh siap.

Doa:  Kami menanti-nantikan Engkau Tuhan, Penyelamat kami. Amin

Sabtu, 04 Desember 2021                            

bacaan : Yesaya 62 : 10 – 12

 10 Berjalanlah, berjalanlah melalui pintu-pintu gerbang, persiapkanlah jalan bagi umat, bukalah, bukalah jalan raya, singkirkanlah batu-batu, tegakkanlah panji-panji untuk bangsa-bangsa! 11 Sebab inilah yang telah diperdengarkan TUHAN sampai ke ujung bumi! Katakanlah kepada puteri Sion: Sesungguhnya, keselamatanmu datang; sesungguhnya, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. 12 Orang akan menyebutkan mereka "bangsa kudus", "orang-orang tebusan TUHAN", dan engkau akan disebutkan "yang dicari", "kota yang tidak ditinggalkan".

Berjalanlah, Jangan Diam Saja!

Sambil menggerakkan kaki berjalan di tempat, anak-anak sekolah minggu pun bernyanyi dengan riang “berjalanlah-berjalanlah melalui pintu gerbang, persiapkanlah jalan bagi Tuhan…”. Lirik lagu sekolah minggu ini hampir sama dengan ayat 10 pada teks bacaan kita. Namun dalam teks ini hendak menegaskan sikap penantian dari Nabi Yesaya dan Bangsa Israel akan keselamatan Tuhan yang seharusnya berlangsung dalam kesungguhan dan kesetiaan supaya pada saat pemulihan terjadi, mereka pun menjadi kesaksian bagi bangsa-bangsa. Berjalan melalui pintu gerbang artinya bahwa mereka harus berjalan menurut ketentuan/kehendak/perintah Allah, sehingga kelak pada saat keselamatan itu datang, orang akan menyebutkan mereka bangsa yang kudus, umat tebusan Tuhan yang dicari oleh Tuhan dan tidak ditinggalkanNya. Sebutan tersebut pun akan dikenakan pada diri kita dan menjadi saksi Allah bagi dunia ini, jika kita juga hidup dalam ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan Allah di minggu-minggu adventus. Sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan melalui kematian dan kebangkitan Kristus, penantian kita bukan lagi pada perayaan kelahiranNya saja, melainkan pada kedatanganNya di kali yang kedua. Masa itu terjadi sama seperti pencuri yang datang pada malam hari, dimana kita tidak tahu kapan waktu pastinya. Oleh sebab itu tindakan “berjalan” merupakan suatu tindakan aktif dan optimis yang harus dinampakkan dalam sikap penantian kita. Tindakan aktif yang sesuai dengan kehendak Tuhan atau seturut FirmanNya.

Doa: Tolonglah kami ya Tuhan untuk berjalan seturut kehendakMu. Amin

*sumber : SHK terbitan LPJ GPM

Santapan Harian Keluarga, 21 – 27 November 2021

Tema Mingguan : “Kesetaraan Semua Ciptaan Di Hadapan Allah

Minggu, 21 November 2021                         

bacaan : Mazmur 147 : 1 – 11

Kekuasaan dan kemurahan TUHAN
Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu. 2 TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai; 3 Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka; 4 Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya. 5 Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga. 6 TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi. 7 Bernyanyilah bagi TUHAN dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi! 8 Dia, yang menutupi langit dengan awan-awan, yang menyediakan hujan bagi bumi, yang membuat gunung-gunung menumbuhkan rumput. 9 Dia, yang memberi makanan kepada hewan, kepada anak-anak burung gagak, yang memanggil-manggil. 10 Ia tidak suka kepada kegagahan kuda, Ia tidak senang kepada kaki laki-laki; 11 TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.

Kemurahan Tuhan Tak Berkesudahan

Ketika diperhadapkan dengan pertanyaan, Maukah menyenangkan Hati Tuhan atau Hati manusia? Pasti setiap orang percaya dengan lantang menjawab menyenangkan Hati Tuhan. Tetapi, kenyataannya lebih banyak kita mengecewakan Hati Tuhan daripada menyenangkan-Nya.

Pemazmur lewat bacaan hari ini mengungkapkan bahwa Kekuasaan dan Kemurahan Tuhan tidak pernah berkesudahan di dalam kehidupan kita. IA menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka mereka (ay.3). Ketika seseorang terluka, hal yang dirasakan ialah sakit, remuk jiwa, patah hati dan hancur. Dalam keadaan yang demikian, Iblis memakainya sebagai senjata agar kita menyerah dan tidak bangkit lagi. Kita senantiasa mengingat pengalaman-pengalaman buruk serta terus dihantui dengan kekecewaan. Pada akhirnya kita menjadi kecewa, dendam, depresi, sulit mengampuni, apatis dan meragukan Kuasa Tuhan. Jika diperhadapkan dengan situasi ini, maka hal mendasar yang harus kita lakukan ialah Berdoa dan Tenangkan diri. Tidak perlu memaksakan untuk menanggung semuanya sendiri, Panggillah Nama Tuhan, Curahkan keluh kesahmu Pada-Nya. IA akan menyembuhkan dan memulihkan kita. Walaupun kita sering kali mengecewakan-Nya, namun IA tidak pernah membiarkan kita jatuh hingga tergeletak, bahkan IA selalu menggendong dan menolong kita. Oleh sebab itu, respon untuk setiap Kemurahan Tuhan harus kita nyatakan lewat pikiran, tutur kata, tindakan kita. Bernyanyilah bagi Tuhan dengan setiap perbuatan baikmu, Pujilah Nama-Nya dengan tutur katamu yang manis, Senangkanlah Hati-Nya dengan selalu Bersandar dan Berharap Pada-Nya.

Doa: Ya Tuhan, Kemurahan-Mu selalu menyertai Kehidupan Kami. Amin.

Senin, 22 November 2021                               

bacaan : Ulangan 22 : 1 – 4

Tentang tolong-menolong
"Apabila engkau melihat, bahwa lembu atau domba saudaramu tersesat, janganlah engkau pura-pura tidak tahu; haruslah engkau benar-benar mengembalikannya kepada saudaramu itu. 2 Dan apabila saudaramu itu tidak tinggal dekat denganmu dan engkau tidak mengenalnya, maka haruslah engkau membawa hewan itu ke dalam rumahmu dan haruslah itu tinggal padamu, sampai saudaramu itu datang mencarinya; engkau harus mengembalikannya kepadanya. 3 Demikianlah harus kauperbuat dengan keledainya, demikianlah kauperbuat dengan pakaiannya, demikianlah kauperbuat dengan setiap barang yang hilang dari saudaramu dan yang kautemui; tidak boleh engkau pura-pura tidak tahu. 4 Apabila engkau melihat keledai saudaramu atau lembunya rebah di jalan, janganlah engkau pura-pura tidak tahu; engkau harus benar-benar menolong membangunkannya bersama-sama dengan saudaramu itu."

Jangan Menahan Kebaikan

Don’t Judge a Book by its Cover “Jangan menilai buku dari sampulnya! Ungkapan ini sangat pas untuk menggambarkan penampilan Mark Bustos yang sangar. Mark adalah seorang penata rambut dari new York yang menghabiskan akhir pekannya dengan memberi layanan potong rambut gratis bagi para Tunawisma. Kisahnya menjadi perbincangan hangat di dunia maya dan semua orang tersentuh dengan Kebaikan hatinya. Dalam sehari ia menargetkan enam orang untuk dicukur atau dipotong rambutnya. Kegiatan ini ia lakukan sejak Mey 2012 ketika ia pergi ke Filipina. Di sana ia berjumpa dengan anak-anak miskin dan ia memulainya dengan memangkas rambut mereka secara gratis. “Rasanya begitu menyenangkan” begitulah yang dirasakan Mark, menolong dengan sukacita. Energi positif ini ia bawa hingga kembali ke New York.

Bacaan hari ini dilihat sebagai lampiran tentang Hukum Teokratis. Hukum itu mengingatkan bahwa Allah menghendaki hubungan antar sesama dipenuhi dengan Kasih, Hukum Kasih inilah yang merupakan prinsip hakiki yang dipakai dalam bidang kehidupan umat.  Salah satu Hukum itu ialah Tolong Menolong.

Berkaca dari kisah Mark, maka Firman Tuhan juga mengajarkan kita untuk terbuka menolong orang yang membutuhkan pertolongan. Janganlah menutup mata hati kita untuk melakukan kebaikan. Selagi kita diberi kesempatan, talenta dan waktu untuk berbuat baik, maka lakukanlah! Lakukan dengan Kasih yang tidak pura-pura. Lakukan karena kita sadar bahwa Tuhan tidak pernah menahan Kebaikan untuk menolong kita.

Doa: Ajari kami Tuhan, untuk hidup saling Menolong. Amin.

Selasa, 23 November 2021                               

bacaan : Imamat 25 : 1 – 7

Tahun Sabat dan tahun Yobel
TUHAN berfirman kepada Musa di gunung Sinai: 2 "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu telah masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, maka tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi TUHAN. 3 Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu, 4 tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi TUHAN. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi. 5 Dan apa yang tumbuh sendiri dari penuaianmu itu, janganlah kautuai dan buah anggur dari pokok anggurmu yang tidak dirantingi, janganlah kaupetik. Tahun itu harus menjadi tahun perhentian penuh bagi tanah itu. 6 Hasil tanah selama sabat itu haruslah menjadi makanan bagimu, yakni bagimu sendiri, bagi budakmu laki-laki, bagi budakmu perempuan, bagi orang upahan dan bagi orang asing di antaramu, yang semuanya tinggal padamu. 7 Juga bagi ternakmu, dan bagi binatang liar yang ada di tanahmu, segala hasil tanah itu menjadi makanannya.

Kasih Allah Yang Membebaskan

Merasakan kebebasan adalah hal mutlak yang diinginkan setiap orang. Bebas berekspresi, bebas berpendapat, bebas dari ketidakadilan bahkan bebas dari tuntutan hidup. Kebebasan sedikit saja pastinya membuat kita merasa lega.

Ada 3 (tiga) hukum Sabat dalam Perjanjian Lama, yaitu Hari Sabat (siklus mingguan), Tahun Sabat (siklus tahunan) dan Tahun Yobel (siklus generasi).  Walaupun puncak dari ketiga siklus ini memiliki penekanan yang khas, tetapi maknanya sama yaitu “Berhenti”, “Beristirahat”, atau “Pembebasan”.  Kedua hukum ini sama-sama memberi pedoman legal bagi bangsa Israel yang sedang dan atau baru saja mengalami pembuangan/perbudakan di negeri orang, bahwa di tanah perjanjian, mereka tidak boleh saling menerkam/memakan, tidak boleh saling mematikan, tidak boleh memperbudak sesama bangsa mereka, dan tidak boleh lagi melakukan tindakan ketidakadilan.

Pembebasan yang sama dirasakan bukan hanya oleh manusia, namun alam ciptaan pun merasakannya. Bahwa di tahun ke-7 Tanah juga harus beristirahat. Tidak ada pekerjaan membajak atau menanam tumbuhan. Hal ini mengajarkan kita bahwa Tuhan Allah menghendaki adanya keseimbangan semua ciptaan. Manusia dan alam menjadi sahabat untuk saling melengkapi. Setiap pribadi, keluarga, persekutuan harus memiliki akses dan kesempatan yang adil pada berbagai sumber daya yang ada untuk kehidupan yang lebih baik. Kebaikan Tuhan inilah yang patut disyukuri dalam kehidupan orang-orang beriman.

Doa: Terima Kasih Tuhan, Engkau Membebaskanku dari Belenggu Dosa. Amin.

Rabu, 24 November 2021                              

bacaan : Imamat 25 : 14 – 17

14 Apabila kamu menjual sesuatu kepada sesamamu atau membeli dari padanya, janganlah kamu merugikan satu sama lain. 15 Apabila engkau membeli dari sesamamu haruslah menurut jumlah tahun sesudah tahun Yobel, dan apabila ia menjual kepadamu haruslah menurut jumlah tahun panen. 16 Makin besar jumlah tahun itu, makin besarlah pembeliannya, dan makin kecil jumlah tahun itu, makin kecillah pembeliannya, karena jumlah panenlah yang dijualnya kepadamu. 17 Janganlah kamu merugikan satu sama lain, tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.

Jangan Bikin Orang Lain Susah Dan Rugi

Dalam dunia ekonomi, faktor yang paling diutamakan adalah untung. Alasannya, prinsip utama dalam ekonomi adalah pengorbanan yang sekecil-kecilnya memperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Karena itu, dalam setiap kegiatan ekonomi selalu yang dicari dan yang ingin didapatkan adalah keuntungan. Tidak ada pelaku ekonomi yang tidak menginginkan untung. Pelaku ekonomi tidak mau mengalami kerugian dalam setiap tindakan ekonominya. Hal inilah yang membuat umumnya manusia dalam setiap pekerjaan mengejar keuntungan lalu orang lain mendapatkan kerugian. Setiap manusia tidak mau mengalami kerugian dalam segala aspek kehidupannya. Kadangkala, bahkan seringkali agar tidak ingin mengalami kerugian manusia lalu melakukan segala cara untuk mendapatkan keuntungan. Di sinilah manipulasi, rekayasa, parlente, penipuan terjadi. Masing-masing orang selalu ingin menang dan ingin untung dengan cara apapun, menghalalkan segala cara. Prinsipnya yang penting beta (saya) untung walaupun yang lain rugi.

Firman Tuhan dari Imamat 25:14-17, mengingatkan kita bahwa segala pikiran, perkataan, bahkan perbuatan kita tidak boleh membuat orang lain mengalami kerugian (17). Kita mesti hidup dalam rasa takut akan Tuhan. Sebab orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang tidak membuat orang lain mengalami kerugian melalui pikiran, perkataan bahkan tindakannya. Karena itu, berhati-hatilah menggunakan hidup dalam bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, dan lainnya. Hendaknya seluruh aspek hidup kita mencerminkan sikap takut akan Tuhan, sehingga tidak menimbulkan kerugian dalam bentuk apapun bagi orang lain.   

Doa: Tuhan, mampukanlah kami melakukan segala sesuatu yang tidak merugikan orang lain. Amin.

Kamis, 25 November 2021                            

bacaan : Imamat 25 : 39 – 43

39 Apabila saudaramu jatuh miskin di antaramu, sehingga menyerahkan dirinya kepadamu, maka janganlah memperbudak dia. 40 Sebagai orang upahan dan sebagai pendatang ia harus tinggal di antaramu; sampai kepada tahun Yobel ia harus bekerja padamu. 41 Kemudian ia harus diizinkan keluar dari padamu, ia bersama-sama anak-anaknya, lalu pulang kembali kepada kaumnya dan ia boleh pulang ke tanah milik nenek moyangnya. 42 Karena mereka itu hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir, janganlah mereka itu dijual, secara orang menjual budak. 43 Janganlah engkau memerintah dia dengan kejam, melainkan engkau harus takut akan Allahmu.

Lakukanlah Apa Yang Ingin Orang Lain Lakukan Kepada Kita

Salah satu kalimat bijak Socrates (470-399 SM) yang cukup bermakna yaitu: “Jangan lakukan pada orang lain apa yang membuatmu marah jika dilakukan padamu oleh orang lain”. Pernyataan Socrates ini diperjelas lagi oleh Yesus dengan mengatakan: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka….” (Matius 7:12). Pernyataan Socrates maupun Yesus sama-sama hendak menekankan kepada kita untuk tidak memperlakukan orang lain dengan hal-hal yang kita sendiri tidak menginginkan orang lain melakukannya kepada kita, berupa perlakuan yang tidak baik, negatif, dan jahat.

Atas dasar itulah, Tuhan Allah menyampaikan kehendakNYA kepada umat Israel untuk memperlakukan orang miskin, budak, orang upahan, dan pendatang dengan baik. Bahkan lebih dari itu, jika mereka itu (orang miskin, budak, upahan, dan pendatang) bekerja sebagai budak, maka harus dibebaskan pada waktunya (tahun Yobel). Selain itu, mereka juga tidak boleh diperlakukan dengan kejam, sebab Israel sendiri dulu adalah orang miskin, budak, orang upahan, dan pendatang di tanah Mesir. Setelah pembebasan dikerjakan Tuhan Allah bagi umatNya, maka mereka juga patut untuk membebaskan sesama yang menderita dan susah. Orang yang hidup takut Tuhan, pasti akan memperlakukan orang lain dengan baik, sama seperti yang diinginkan orang lain perbuat baginya. Sebaliknya, tidak memperlakukan orang lain secara kejam. Marilah kita menjadikan pribadi dan rumah tangga kita, orang-orang yang berbuat kebaikan kepada semua orang.

Doa:  Mampukanlah kami untuk memperlakukan orang lain dengan baik, agar kami juga diperlakukan dengan baik oleh orang lain. Amin. 

Jumat, 26 November 2021                            

bacaan : Imamat 25 : 47 – 55   

47 Apabila seorang asing atau seorang pendatang di antaramu telah menjadi mampu, sedangkan saudaramu yang tinggal padanya jatuh miskin, sehingga menyerahkan dirinya kepada orang asing atau pendatang yang di antaramu itu atau kepada seorang yang berasal dari kaum orang asing, 48 maka sesudah ia menyerahkan dirinya, ia berhak ditebus, yakni seorang dari antara saudara-saudaranya boleh menebus dia, 49 atau saudara ayahnya atau anak laki-laki saudara ayahnya atau seorang kerabatnya yang terdekat dari kaumnya atau kalau ia telah mampu, ia sendiri berhak menebus dirinya. 50 Bersama-sama dengan si pembelinya ia harus membuat perhitungan, mulai dari tahun ia menyerahkan dirinya kepada orang itu sampai kepada tahun Yobel, dan harga penjualan dirinya haruslah ditentukan menurut jumlah tahun-tahun itu; masa ia tinggal pada orang itu haruslah dihitung seperti masa kerja orang upahan. 51 Jikalau jumlah tahun itu masih besar, maka dari harga pembeliannya harus dikembalikan sebagai penebus dirinya menurut jumlah tahun itu. 52 Jika waktu yang masih tinggal sampai kepada tahun Yobel sedikit lagi saja, maka ia harus membuat perhitungan dengan orang itu; menurut jumlah tahun itulah ia harus membayar uang tebusan dirinya. 53 Demikianlah ia harus tinggal padanya sebagai orang upahan dari tahun ke tahun. Janganlah ia diperintah dengan kejam oleh orang itu di depan matamu. 54 Tetapi jikalau ia tidak ditebus dengan cara demikian, maka ia harus diizinkan keluar dalam tahun Yobel, ia bersama-sama anak-anaknya. 55 Karena pada-Kulah orang Israel menjadi hamba; mereka itu adalah hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu."

Ringan Sama Dijinjing, Berat Sama Dipikul

Semut merupakan serangga yang berukuran sangat kecil namun mampu mengangkat dan membawa makanan atau beban yang berukuran lebih besar darinya. Caranya adalah secara bersama atau bergotong royong. Kebersamaan serangga ini memberi nilai bahwa berusaha dan berjuang untuk mencapai sesuatu itu, tidaklah untuk diri sendiri melainkan untuk sesama, untuk rekan-rekan semut lainnya.

Menyimak bacaan Imamat 25:47-55 terlihat penekanan utamanya terletak pada sikap menolong dan menopang sesama saudara untuk keluar dari kesusahan, kesulitan hidup, dan kemiskinan. Bahkan orang yang mampu diharuskan menebus kesusahan dan kemiskinan yang dialami oleh sesamanya. Jika ada perhitungan di dalamnya, perhitungan itu bukan untuk yang satu mendapat untung lebih dari yang lain. Harus ada keadilan di dalamnya. Itulah panggilan sebagai umat Tuhan.

Berdasar dari Firman Tuhan ini, setidaknya, kita bisa belajar dari karakter hidup semut yang saling membantu dan menopang sesama anggotanya. Sekecil apapun diri kita (sama seperti seekor semut yang sangat kecil), kita dapat berperan dan menjadi agen menolong dan menyelamatkan sesama kita yang mengalami kesulitan dan penderitaan dalam hidup. Peran kita adalah tidak menjadi orang yang egois dan individualistik dalam hidup bersama sesama kita. Sebaliknya kita bersama sesama manusia yang lain dapat menjadi partner/rekan yang berjuang bersama menolong sesama yang mengalami kesusahan, kesulitan hidup, dan menderita. Setidaknya dalam hidup sebagai umat Tuhan kita mesti menjalankan prinsip “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”, bukan berprinsip ringan sama dijinjing, berat orang lain yang pikul.

Doa:  Ya Tuhan, kuatkanlah kami untuk dapat bersama yang lain menolong sesama kami yang menderita dan susah…amin.

Sabtu, 27 November 2021                                  

bacaan : Roma 14 : 1 – 10

Jangan menghakimi saudaramu
Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya. 2 Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja. 3 Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu. 4 Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri. 5 Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. 6 Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah. 7 Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. 8 Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. 9 Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup. 10 Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. 

Jangan Menghakimi Jika Tidak Ingin Dihakimi

Sepenggal kalimat yang ditulis oleh Evangelina Tessia Pricilla (Pengarang dan Penulis buku dari Indonesia) mengatakan kepada kita bahwa tidak ada seorang pun diperbolehkan untuk menghakimi orang lain, sebab kita sendiri bukanlah manusia sempurna yang tidak pernah melakukan kesalahan di dunia ini.

Hal ini sejalan dengan pernyataan William Shakespeare (Penyair dan Dramawan dari Inggris 1564-1616) yang menyebutkan: “Bersabarlah untuk menghakimi, karena kita semua orang berdosa”. Tidak hanya itu, seorang Penulis terkenal dari Inggris, George Eliot (1819-1880), lebih tegas lagi mangatakan: “Kita semua memiliki dosa rahasia kita; dan jika kita mengenal diri kita sendiri, maka kita tidak harus menghakimi satu sama lain dengan kasar”. Pernyataan-pernyataan di atas setidaknya merupakan refleksi iman dari ketiga penulis tersebut yang bersumber pada bacaan Roma 14:1-10. Dalam suratnya, Rasul Paulus mengungkapkan hasil pengamatan dan analisanya terhadap kehidupan jemaat di Roma yang ternyata memiliki perilaku hidup saling menghakimi. Saling menghakimi tidak hanya terjadi antara jemaat Kristen asal Yahudi, tapi juga non-Yahudi yang berdebat soal makanan. Jemaat juga menghakimi hamba orang lain (ay.4). Semua ini menegaskan kepada kita bahwa sebelum kita menghakimi orang lain, hakimilah diri kita sendiri. Pertimbangkanlah; apakah kita adalah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan? Ingat, ketika ahli-ahli Taurat dan orang Farisi membawa perempuan yang kedapatan berzinah kepada Yesus, dengan tegas Yesus katakan: “Barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh.8:7). Karena itu, Janganlah menjadi hakim atas orang lain supaya orang lain juga tidak menjadi hakim atas kita. Sebab ukuran yang kita pakai untuk mengukur orang lain, itu juga akan dikenakan kepada kita.

Doa:  Tuhan, mampukanlah kami untuk tidak menjadi hakim atas sesama kami. Amin.

*sumber : SHK bulan November 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 14 – 20 November 2021

Tema Mingguan : “Berbela Rasa Dengan Sesama

Minggu, 14 November 2021                            

bacaan : Lukas 10 : 25 – 37

Orang Samaria yang murah hati
25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 26 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" 27 Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." 28 Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." 29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" 30 Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. 36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" 37 Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

Kebersamaan Hidup Yang Dijaga dan Dirawat

Sering kita lupa  pada ajaran Yesus yaitu kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri. Kebanyakan kita bisa berfikir baik, berbicara juga baik namun kemampuan melakukannya yang sangat lemah. Kasih yang rela berkorban sebagaimana tindakan orang Samaria dalam perikop ini menantang kita semua untuk mewujudkan dalam kehidupan setiap hari. Kata orang Samaria ini “Rawatlah dia dan jika kau belanjakan lebih dari ini, aku akan menggantikannya waktu aku kembali”. Perumpamaan ini menggambarkan cinta kasih kepada sesama. Cinta kasih yang tidak terbatas ini menunjukkan bahwa siapa yang melihat orang terluka dan membiarkannya serta tidak menolongnnya, sama seperti mereka menyebut diri mereka orang Kristen namun hatinya tidak peka terhadap penderitaan dan kesusahan orang lain. Hal ini   dengan jelas mengungkapkan bahwa didalam diri mereka tidak terdapat Kasih. Panggilan untuk mengasihi adalah tanggung jawab orang yang beriman. Karena kasihNya yang besar, Allah menciptakan manusia segambar dan menjadi termulia. Kasih Allah memelihara kita sehingga kita hidup. Karena  kasih setia Allah itulah manusia tidak hidup sekedar hidup, namun membuat hidup itu bermanfaat dan berkualitas dengan mengasihi sesamanya. Sepuluh contoh hidup kebersamaan dalam keluarga dan sesamanya. Saling menyayangi, saling menghormati, hidup selalu rukun, selalu berbagi, selalu tolong-menolong, selalu menghibur seorang dengan yang lain, saling memotivasi, selalu menjadi penyemangat keluarga dan sesama, selalu ada disaat keluarga dan sesama sedang susah. Marilah kita menjaga dan merawat hidup dalam kebersamaan dengan mengasihi, menolong dan membantu sesama sebagai wujud menghidupi kasih Kristus.

Doa: Ajarilah kami Tuhan untuk terus hidup saling mengasihi. Amin.

Senin, 15 November 2021                          

bacaan : Keluaran 22 : 21 – 24

Peraturan tentang orang-orang yang tidak mampu

21 "Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir. 22 Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas. 23 Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring. 24 Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim

Berbela Rasa Dengan Sesama

Suatu hari seorang pemuda mencari sarapan di pagi hari, ia pergi menuju tempat jualan nasi kuning kesukaannya. Ia tidak langsung pergi ke gerobak makanan untuk membeli nasi kuning sarapannya, namun ia mampir ke tempat olahraga untuk  bertemu dengan teman-temannya. Setelah mengobrol, ia kembali pulang dan membeli nasi kuning langganannya. Sesampai disana ia terkejut, karena sang ibu  penjual nasi kuning di gerobak kecil itu, tengah terisak-isak menangis sambil memandang jauh ke jalan. Sang pemuda dengan heran bertanya, mengapa ibu menangis? Jawab ibu itu, tadi ada yang menipu dengan membeli nasi kuning beberapa bungkus lalu ia memberikan uang seratus ribu rupiah dan meminta lagi beberapa bungkus. Setelah ia pergi ibu baru sadar bahwa kalau uangnya ternyata palsu.

Pemuda itu kemudian mengeluarkan dompetnya, dan berkata “bu ini uang seratus ribu buat ibu”. Sangat senang hati ibu sebab dengan seratus ribu itu mengembalikan modalnya sehingga ia dapat kembali berjualan nasi kuning di esok hari.

Melalui bacaan hari ini, Tuhan Allah memperingati umat Israel supaya tidak mengambil keuntungan dari kaum minoritas yakni orang asing, janda dan anak yatim. Mereka harus ditolong dan dikasihi sebab mereka juga butuh hidup. Allah sangat memperhatikan kesulitan mereka yang lemah dan berkekurangan. Terdorong oleh belas kasihan terhadap mereka, Allah mengingatkan untuk tidak memperlakukan mereka seperti orang asing, sebab mereka juga memiliki hak atas hidup. Sebagai keluarga Allah, kita mesti mewujudkan hidup berbela rasa dengan sesama teristimewa mereka yang susah dan lemah supaya ada keseimbangan. Semuanya itu demi kehidupan bersama di bumi tempat kita berpijak untuk menikmati berkat Tuhan.

DoaTuhan berkati kami demi mewujudkan kasih dalam kebersamaan  dengan sesama yang susah dan berkekurangan. Amin.

Selasa, 16 November 2021                        

bacaan : Keluaran 22 : 25 – 27

25 Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya. 26 Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam, 27 sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya--pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih."

Hidup Berbela Rasa

Ada tiga reaksi ketika kita menjumpai seseorang yang malang hidupnya: Pertama, ada yang memandang rendah karena ia merasa dirinya lebih berkuasa; kedua, ada yang merasa tidak peduli sehingga tidak merasa perlu untuk menolong. Dan ketiga, tergerak oleh belas kasihan sehingga mendorongnya untuk memberi pertolongan. Saat hati seseorang berpusat pada diri sendiri maka ia akan mengabaikan hidup orang miskin. Sebaliknya, hati yang berbela rasa akan mendorongnya untuk menolong mereka yang menderita. Di masa lalu, kehidupan para janda, orang asing, dan anak-anak yatim kerap diperlakukan tidak adil. Dan Allah berfirman kepada orang-orang Israel untuk tidak menindas mereka yang lemah. Allah mengingatkan bahwa dulu mereka adalah orang asing, menderita, dan tertindas di Mesir. Allah menunjukkan betapa menderitanya hidup sebagai orang asing yang tertindas. Pengalaman itu akan selalu mengingatkan mereka untuk tidak menindas keberadaan orang-orang yang miskin. Allah juga mengingatkan agar kita menaruh sikap berbela rasa kepada mereka yang malang hidupnya. Ketika kita melihat orang yang lapar dan haus, kita harus memberinya makan dan minum. Artinya, tanggung jawab untuk memperhatikan dan berbela rasa kepada para janda, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin adalah panggilan kita sebagai orang-orang yang telah menerima belas kasihan dan anugerah Allah. ketika kita adalah AnakNya tentu kita mewarisi karakterNya, hiduplah berbela rasa dengan sesama manusia dari hati bukan karena ingin menjadi pusat perhatian.

Doa:  Ya Tuhan, Ajarlah kami untuk memiliki hati yang berbela rasa kepada mereka yang lemah dengan tulus. Amin.

Rabu, 17 November 2021                               

bacaan : Ulangan 15 : 7 – 8

7 Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, 8 tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan

Membantu  Tanpa Memikirkan Untung Rugi

Musa menekankan realitas kemiskinan dan bagaimana orang yang lebih kaya atau berkelebihan harus menanganinya. Mereka diperingatkan akan adanya bahaya bagi orang yang berkelebihan menyikapi orang miskin di sekitarnya, yakni: menegarkan hati mengabaikan kebutuhan orang miskin dan menggenggam tangan untuk tidak bersedia memberikan apa yang diperlukan orang mereka. Allah memperhatikan sikap dan motivasi mereka untuk menolong orang yang berkekurangan. Karena itu, Musa memperingatkan umat Israel agar mereka jangan menegarkan hati dengan sikap yang serakah dan mementingkan diri sendiri. Allah menginginkan mereka memiliki hati yang bersimpati. “..tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan” (ay.8). Firman Allah ini mendorong umat Israel pada masa lampau dan kita pada masa kini untuk memiliki bela rasa dengan sesama, keprihatinan, dan kemurahan terhadap mereka yang sedang kekurangan dan mengalami kesulitan, dan  mereka yang miskin dan bersedia untuk membantu tanpa memikirkan untung rugi. Bukankah Tuhan Yesus telah memberikan teladan yang sama kepada kita untuk kita ikuti? Dia peduli kepada orang banyak dengan berbagi hidup dengan mereka, menolong orang yang susah dan menderita, membantu orang yang berkekurangan. Karena itu, ketika kita berniat membantu sesama yang susah dan membutuhkan, jangan memikirkan untung rugi. Berbela rasalah dengan motivasi yang tulus dan hati yang benar.

Doa:  Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk hidup berbela rasa dengan sesama yang lemah dan membutuhkan. Amin.

Kamis, 18 November 2021                            

bacaan : Ulangan 15 : 9 – 11

9 Hati-hatilah, supaya jangan timbul di dalam hatimu pikiran dursila, demikian: Sudah dekat tahun ketujuh, tahun penghapusan hutang, dan engkau menjadi kesal terhadap saudaramu yang miskin itu dan engkau tidak memberikan apa-apa kepadanya, maka ia berseru kepada TUHAN tentang engkau, dan hal itu menjadi dosa bagimu. 10 Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu. 11 Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu."

Peduli Karena Kita Mengasihi

Pada Tahun Sabat berbagai tindakan pembebasan harus dilakukan oleh umat Israel. Pertama, penghapusan utang. Kedua, pembebasan para budak. Dengan bertindak demikian, umat turut serta di dalam mewujudkan kemurahan Allah. Murah hati memancarkan kesadaran akan kemurahan Allah yang lebih dulu telah memberkati umat dengan limpah. Pengaturan penghapusan utang dalam kehidupan bangsa Israel juga merupakan suatu bentuk keadilan dan pertolongan kepada sesama yang tidak sanggup untuk membayar utang. Firman Tuhan mengatakan pentingnya membuka tangan dan hati untuk menolong mereka yang miskin dan membutuhkan. Yang kuat tidak boleh menindas yang lemah, melainkan mengulurkan tangan untuk membantu. Kenyataanya, orang miskin selalu ada di sekitar kehidupan kita dan mereka membutuhkan pertolongan. Tuhan mau memakai kita untuk menjadi saluran berkat-Nya. Persoalannya, apakah mata kita terbuka untuk melihat mereka yang ada di sekitar kita dan membutuhkan uluran tangan kasih kita? Tuhan menghendaki supaya kita dapat menunjukan kasih dan empati kita terhadap mereka. Bukan saja dalam bentuk derma atau pemberian sesaat, tetapi juga dukungan berkesinambungan yang memampukan mereka mengubah keadaan mereka sendiri menjadi lebih baik. Bersediakah kita menolong? Mari kita melakukannya dengan penuh kasih dan ketulusan hati, karena kasih dan hati yang tulus adalah kekuatan yang mendorong kita untuk menolong mereka yang lemah dan berkekurangan.

Doa:  Ya Tuhan, Kami mau melakukan kehendakMu dengan selalu punya hati yang peduli dengan sesama. Amin.

Jumat, 19 November 2021                                   

bacaan : Rut  2 : 10 – 12

10 Lalu sujudlah Rut menyembah dengan mukanya sampai ke tanah dan berkata kepadanya: "Mengapakah aku mendapat belas kasihan dari padamu, sehingga tuan memperhatikan aku, padahal aku ini seorang asing?" 11 Boas menjawab: "Telah dikabarkan orang kepadaku dengan lengkap segala sesuatu yang engkau lakukan kepada mertuamu sesudah suamimu mati, dan bagaimana engkau meninggalkan ibu bapamu dan tanah kelahiranmu serta pergi kepada suatu bangsa yang dahulu tidak engkau kenal. 12 TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung."

Tunjukkanlah Kebaikan Hatimu

Nama ‘Rut’ berarti ‘belas kasih’. Sesuai dengan arti namanya, Rut memang beroleh belas kasih dari Tuhan. Hidupnya mengalami pemulihan dan diberkati Tuhan. Menarik sekali jika memperhatikan kisah perjalanan hidup Rut beserta Naomi, ibu mertuanya ini. Rut, meski telah ditinggal mati suaminya, tetap berkomitmen mengabdi dan mendampingi ibu mertuanya yang juga janda. Di tengah keterbatasan dan pergumulan yang berat keduanya terus berjuang agar dapat bertahan hidup. Dengan cara-Nya yang ajaib Ia campur tangan dalam kehidupan mereka.  Sesungguhnya bisa saja Naomi minta tolong langsung kepada Boas, seorang kaya raya, tapi ia sadar Boas bukanlah kerabatnya melainkan kerabat mendiang suaminya.  Akhirnya Rut meminta ijin kepada mertuanya pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai yang terlewatkan dari para pekerja, dan ternyata ladang itu milik Boas.  Boas yang melihat itu tidak marah, malah menunjukkan kasih dan kemurahannya.  Ternyata berita kesetiaan dan kebaikan hati Rut terhadap mertuanya sampai ke telinga Boas. Tunjukanlah kebaikan hatimu untuk semua orang bukan karena ada maksud terselubung tetapi karena memang kita mengasihinya, walaupun ia belum tentu melakukan hal yang sama tetapi yang terpenting kita sudah melakukan yang terbaik. Jangan melakukan kebaikan karena ingin mendapat balasan yang sama, tetapi karena kita ingin hidup kita bermakna bagi semua orang. Hendaklah kita tulus seperti Rut yang tidak mengharapkan apapun ketika ia peduli kepada Naomi, dan Boas ketika peduli kepada Rut.

Doa:  Ya Tuhan, Tolonglah kami untuk melakukan kasih kepada sesama kami tanpa mengharapkan imbalan. Amin.

Sabtu, 20 November 2021                                      

bacaan : Amsal 14 : 21

21 Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita.

Take & Give

The Blind Side (Bagian yang tak terlihat) merupakan film yang diangkat dari Kisah nyata Mike Oher, seorang pemuda kulit hitam yang tinggal di lingkungan yang buruk. Ia beberapa kali tinggal bersama orang tua asuh, namun memutuskan untuk pergi. Hidupnya diperparah dengan kondisi ibunya yang menjadi pencandu narkoba. Suatu ketika, Mike bertemu dengan pasangan suami istri kulit putih kaya raya, Sean dan Anne, Pasangan tersebut mengajak Mike menginap di rumahnya setelah melihatnya kedinginan di jalan. Seiring berjalannya waktu, pasangan tersebut memutuskan untuk mengadopsi Mike menjadi anak angkat mereka. Anne kemudian mendaftarkan Mike ke Tim Football karena Mike punya potensi pada olahraga itu. Teman-teman dari Sean dan Anne tidak setuju dengan keputusan mereka mengadopsi Mike, menurut mereka Mike tidaklah cocok menjadi bagian keluarga Sean sebab ia berkulit Hitam. Mendengar cemoohan mereka, Anne kemudian berkata bahwa tidak ada perbedaan diantara kita. Warna kulit bukanlah alasan untuk perbedaan itu. Mike telah menjadi bagian keluarga kami dan akan selamanya seperti itu. Akhirnya, Mike berhasil menjadi pemain Football yang handal dan dilirik oleh banyak Tim. Mike sukses bergabung dengan Baltimor Revans pada posisi penyerang.

Dari kisah diatas, kita belajar bahwa sikap menghargai sesama bukan terletak pada pendidikan, kekayaan atau status seseorang, tetapi karena memiliki Belas Kasih. Bacaan ini mengingatkan kita untuk tidak menghina sesama namun Peka untuk setiap penderitaan mereka yang membutuhkan. Ingatlah bahwa Berkat yang kita terima di dalamnya ada juga Berkat yang Tuhan titipkan untuk kita berbagi dengan sesama. Percayalah bahwa ketika kita memiliki Belas Kasih kepada sesama dengan penuh ketulusan maka kehidupan kita akan selalu diwarnai dengan sukacita dan kebahagiaan.

Doa: Berilah hati yang Penuh Belas Kasih kepada kami, Ya.. Tuhan. Amin.

*sumber : SHK bulan November 2021, LPJ-GPM