Tema Bulanan : Bertumbuhlah Sebagai Gereja Yang Teguh
Tema Mingguan : Bertumbuh Dalam Iman
Minggu, 02 Februari 2025
bahan bacaan : Daniel 6 : 1 – 29
Gua singa
(6-2) Lalu berkenanlah Darius mengangkat seratus dua puluh wakil-wakil raja atas kerajaannya; mereka akan ditempatkan di seluruh kerajaan; 2 (6-3) membawahi mereka diangkat pula tiga pejabat tinggi, dan Daniel adalah salah satu dari ketiga orang itu; kepada merekalah para wakil-wakil raja harus memberi pertanggungan jawab, supaya raja jangan dirugikan. 3 (6-4) Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya. 4 (6-5) Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya. 5 (6-6) Maka berkatalah orang-orang itu: "Kita tidak akan mendapat suatu alasan dakwaan terhadap Daniel ini, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya!" 6 (6-7) Kemudian bergegas-gegaslah para pejabat tinggi dan wakil raja itu menghadap raja serta berkata kepadanya: "Ya raja Darius, kekallah hidup tuanku! 7 (6-8) Semua pejabat tinggi kerajaan ini, semua penguasa dan wakil raja, para menteri dan bupati telah mufakat, supaya dikeluarkan kiranya suatu penetapan raja dan ditetapkan suatu larangan, agar barangsiapa yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, maka ia akan dilemparkan ke dalam gua singa. 8 (6-9) Oleh sebab itu, ya raja, keluarkanlah larangan itu dan buatlah suatu surat perintah yang tidak dapat diubah, menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali." 9 (6-10) Sebab itu raja Darius membuat surat perintah dengan larangan itu. 10 (6-11) Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. 11 (6-12) Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya. 12 (6-13) Kemudian mereka menghadap raja dan menanyakan kepadanya tentang larangan raja: "Bukankah tuanku mengeluarkan suatu larangan, supaya setiap orang yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, akan dilemparkan ke dalam gua singa?" Jawab raja: "Perkara ini telah pasti menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali." 13 (6-14) Lalu kata mereka kepada raja: "Daniel, salah seorang buangan dari Yehuda, tidak mengindahkan tuanku, ya raja, dan tidak mengindahkan larangan yang tuanku keluarkan, tetapi tiga kali sehari ia mengucapkan doanya." 14 (6-15) Setelah raja mendengar hal itu, maka sangat sedihlah ia, dan ia mencari jalan untuk melepaskan Daniel, bahkan sampai matahari masuk, ia masih berusaha untuk menolongnya. 15 (6-16) Lalu bergegas-gegaslah orang-orang itu menghadap raja serta berkata kepadanya: "Ketahuilah, ya raja, bahwa menurut undang-undang orang Media dan Persia tidak ada larangan atau penetapan yang dikeluarkan raja yang dapat diubah!" 16 (6-17) Sesudah itu raja memberi perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa. Berbicaralah raja kepada Daniel: "Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!" 17 (6-18) Maka dibawalah sebuah batu dan diletakkan pada mulut gua itu, lalu raja mencap itu dengan cincin meterainya dan dengan cincin meterai para pembesarnya, supaya dalam hal Daniel tidak dibuat perubahan apa-apa. 18 (6-19) Lalu pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia semalam-malaman itu; ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur, dan ia tidak dapat tidur. 19 (6-20) Pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, bangunlah raja dan pergi dengan buru-buru ke gua singa; 20 (6-21) dan ketika ia sampai dekat gua itu, berserulah ia kepada Daniel dengan suara yang sayu. Berkatalah ia kepada Daniel: "Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?" 21 (6-22) Lalu kata Daniel kepada raja: "Ya raja, kekallah hidupmu! 22 (6-23) Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan." 23 (6-24) Lalu sangat sukacitalah raja dan ia memberi perintah, supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu. Maka ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya, karena ia percaya kepada Allahnya. 24 (6-25) Raja memberi perintah, lalu diambillah orang-orang yang telah menuduh Daniel dan mereka dilemparkan ke dalam gua singa, baik mereka maupun anak-anak dan isteri-isteri mereka. Belum lagi mereka sampai ke dasar gua itu, singa-singa itu telah menerkam mereka, bahkan meremukkan tulang-tulang mereka. 25 (6-26) Kemudian raja Darius mengirim surat kepada orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, yang mendiami seluruh bumi, bunyinya: "Bertambah-tambahlah kiranya kesejahteraanmu! 26 (6-27) Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; pemerintahan-Nya tidak akan binasa dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir. 27 (6-28) Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkaman singa-singa." 28 (6-29) Dan Daniel ini mempunyai kedudukan tinggi pada zaman pemerintahan Darius dan pada zaman pemerintahan Koresh, orang Persia itu.
Iman Yang Menyelamatkan
Kisah Daniel di Gua Singa adalah kisah heroik yang sungguh memberikan spirit bagi setiap orang percaya bahwa dalam Keyakinan yang sungguh kepada Allah, tidak ada yang mustahil. Daniel diselamatkan! Kesaksiannya pada ayat 23 adalah bukti bahwa orang-orang tulus hati dan jujur di hadapan Tuhan serta manusia pasti diselamatkan. Pada akhirnya, mereka yang memfitnah Daniel justru dihukum dan menuai apa yang mereka tabur. Dari kisah Daniel, kita belajar bahwa orang yang jujur, tulus dan hidup sesuai kehendak Tuhan pasti selamat. Mengandalkan Tuhan sebab menyadari bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya penolong adalah wujud Iman yang berakar pada diri setiap orang percaya. Oleh karenanya, hidupkan Iman itu, tetap bertumbuh pada Iman yang mengarah hanya kepada Tuhan sang penyelamat. Janganlah mengandalkan diri sendiri, kekuatan dan kehebatan manusia tidaklah berfaedah jika Iman kepada Allah di dalam Yesus Kristus tidak bertumbuh. Setiap kita akan diperhadapakan dengan ‘singa2 masalah yang siap menerkam kapan dan dimana saja. Namun, ketika kita berlaku jujur, tulus dan benar dihadapan Tuhan maka ‘singa-singa’ atau masalah itu tidak akan mematikan kita justru akan membangkitkan Iman yang lebih kuat sebab Allah telah menyelamatkan kita. Marilah, perkuat Iman kepada Tuhan, pelihara dan yakinilah.
Doa: Ya Tuhan, teguhkanlah Iman kami. Amin.
Senin, 03 Februari 2025
bahan bacaan : Kisah Para Rasul 14 : 8 – 10
8 Di Listra ada seorang yang duduk saja, karena lemah kakinya dan lumpuh sejak ia dilahirkan dan belum pernah dapat berjalan. 9 Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. 10 Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: "Berdirilah tegak di atas kakimu!" Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari.
Dengan Iman, Selamatlah Engkau!
Dia berjalan dan melompat, Puji Hu,, Dalam Nama Yesus, berjalanlah engkau’ penggalan lirik ini merupakan lagu sekolah minggu yang terinspirasi dari kisah seorang lumpuh yang termuat dalam bacaan kita hari ini. Di Listra, dikisahkan ada seseorang yang lumpuh sejak lahir, ia duduk dan mendengar Paulus berbicara. Paulus menatapnya dan melihat bahwa ia beriman, sehingga pasti dapat diselamatkan. Lalu Paulus menyuruhnya untuk berdiri, seketika ia pun berdiri dan dapat berjalan. Mujizat yang terjadi pada orang lumpuh ini menyirat makna bahwa hanya dengan memiliki Iman yang sungguh akan Kuasa Allah, Allah akan menyatakan kemuliaanNya lewat orang-orang yang IA percayakan untuk membantu mereka yang membutuhkan pertolongan dan Jamahan Kasih Tuhan. Disekitar kita ada mereka yang membutuhkan pertolongan. Membalut luka hati yang putus asa dan hilang harapan bahkan mengulurkan tangan bagi mereka yang berkekurangan. Iman yang demikian mesti dikelola dan dipelihara sebab sangat berdampak baik bagi keutuhan relasi antar sesama bahkan juga relasi dengan Tuhan. Jika kita pernah melakukan kebaikan dan memiliki hati yang tergerak untuk menolong sesama itu sungguh menjadi sukacita bagi mereka yang mendapatkannya. Laksana orang lumpuh yang berloncat-loncat kegirangan itulah sukacita yang kita rasakan pula ketika memiliki Iman yang mau menggerakkan.
Doa: Gerakkan hati kami Tuhan, untuk menjadi penolong bagi sesama kami.. Amin.
Selasa, 04 Februari 2025
bahan bacaan : Kejadian 15 : 1 – 6
Perjanjian Allah dengan Abram; janji tentang keturunannya
Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar." 2 Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." 3 Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku." 4 Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu." 5 Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." 6 Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.
Menanti Penggenapan Janji Tuhan
Manusia berjanji seringkali berkhianat, manusia berjanji seringkali tidak ditepati, manusia berjanji seringkali berujung pada kekecewaan. Tetapi, Janji Tuhan tidak pernah mengecewakan, tidak pernah tidak ditepati, selalu tepat pada waktunya. Benar adanya kalimat-kalimat yang disampaikan itu, bahwa janganlah percaya sepenuhnya pada janji manusia sebab dapat mengecewakan dan tidak sesuai dengan yang diucapkan. Hanyalah, percaya pada janji Tuhan yang sungguh dan pasti ditepati. Abraham bergumul bersama istrinya, Sarai untuk memiliki keturunan. Dalam waktu yang tidak cepat dan tidak mudah pergumulan itu dibangun bersama Tuhan. Sungguh, ujian Iman yang tidak mudah dilalui oleh Abraham untuk memiliki keturunan. Belajar dari kisah Abraham, kita diingatkan untuk mempercayakan seutuhnya kehidupan kita pada janji dan rancangan Tuhan dalam kehidupan kita. Ingatlah, bahwa Tuhan yang berjanji pasti akan digenapi. Persoalannya, apakah kita siap menanti penggenapan janji itu? Kemanusiaan kita sering membuat kita tidak sabar menanti penggenapan janji Allah sehingga kita sering menyalahkanNya jika janji itu belum tergenapi. Oleh karenanya, Percayalah, Nantikanlah penggenapan Janji Tuhan, sebab Janji Tuhan Ya dan Amin serta mendatangkan Kebaikan dan sukacita.
Doa: Ya Tuhan, kami menantikan Janji SetiaMu yang menyelamatkan. Amin
Rabu, 05 Februari 2025
bahan bacaan : Markus 7 : 24 – 30
Perempuan Siro-Fenisia yang percaya
24 Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. 25 Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. 26 Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. 27 Lalu Yesus berkata kepadanya: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." 28 Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." 29 Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu." 30 Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.
“Remah-remah” Yang Menghidupkan
Perempuan Siro-Fenisia mendatangi Yesus ketika mendengar Yesus berada di daerah Tirus. Maksud perjumpaan itu ialah Perempuan ini ingin Yesus menyelamatkan anaknya yang sedang kerasukan setan. Ketika maksud itu disampaikan kepada Yesus, jawab Yesus kepadanya dengan sebuah perumpamaan (baca ayat 27). Dari perumpamaan itu, dengan bijak sang perempuan menjawab Yesus bahwa remah-remah yang jatuh pun akan dinikmati oleh anjing. Jawaban perempuan itu merupakan wujud kepercayaannya pada Kuasa Tuhan dan benar saja, Tuhan Yesus mengatakan bahwa jawaban perempuan itu menyelamatkan anaknya. Remah-remah adalah sisa-sisa makanan yang terbuang, dalam konteks pergumulan Perempuan Siro Fenisia itu, Remah-remah dilihat sebagai Iman yang justru membawa keselamatan. Sesunggunya, dalam kehidupan kita ada banyak sekali ‘remah-remah’ yang dapat menjadi kekuatan dan menyelamatkan kita dari persoalan yang kita alami. Jangan abaikan ‘remah-remah’ yang masih ada dalam kehidupan kita, sedikit saja kita memperhatikan dan mendayagunakan ‘remah-remah’ itu maka kita pasti akan merasakan sukacita. Remah itu adalah rasa Percaya kita pada Kuasa Tuhan. Taruhlah kepercayaan itu pada KuasaNya, maka semua persoalan kita pasti akan diselesaikan oleh KemuliaanNya.
Doa: Kami Percaya Tuhan, Engkau Penolong kami di dalam kesesakan. Amin.
Kamis, 06 Februari 2025
bahan bacaan : 1 Samuel 17 : 40 – 47
Perkelahian Daud dengan Goliat
40 Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu. 41 Orang Filistin itu kian dekat menghampiri Daud dan di depannya orang yang membawa perisainya. 42 Ketika orang Filistin itu menujukan pandangnya ke arah Daud serta melihat dia, dihinanya Daud itu karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya. 43 Orang Filistin itu berkata kepada Daud: "Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?" Lalu demi para allahnya orang Filistin itu mengutuki Daud. 44 Pula orang Filistin itu berkata kepada Daud: "Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang." 45 Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. 46 Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, 47 dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami."
Tuhanlah Perisaiku, Ku Tak akan Takut!
Daud dan Goliat ada dalam sebuah pertarungan yang sengit dan menegangkan. Goliat menggunakan pedang dan tombak sedangkan Daud hanya menggunakan Umban/ Katapel dan yang terpenting bagi Daud ialah Nama Tuhan yang menjadi perisainya. Daud menerima penghinaan dan dianggap remeh oleh Goliat, sebab dilihatnya Daud masih muda dan belum berpengalaman. Namun Alkitab menyaksikan Goliat kalah menghadapi Daud. Kekalahan Goliat ini mengajarkan kita untuk tidak bermegah dengan kekuatan, kekuasaan dan kekayaan kita sebab semua akan sirna jika Tuhan tidak berkehendak untuk kita yang mengandalkan hal-hal duniawi tersebut. Bahkan kita juga belajar untuk tidak memandang rendah orang lain dengan keterbatasan atau kelemahan mereka, sebab bisa saja dari kelemahan itu Tuhan mengangkat menjadi pemenang. Nilai lain yang kita pelajari dari bacaan ini juga adalah Mengandalkan Tuhan dalam menghadapi tantangan. Tuhanlah satu-satunya Perisai dan Penolong bagi kita yang diterpa dengan berbagai tantangan hidup. Tetaplah tunduk pada Kedaulatan dan Kemahakuasaan Tuhan itu, sebab jika hanya mengandalkan kekuatan kita, semua akan sia-sia. Janganlah takut, jangan khawatir dan cemas, tantangan kita akan diubah dengan kemenangan jika Tuhan yang menjadi Perisai.
Doa : Terima Kasih Tuhan, telah menjadi Perisai atas Persoalan hidup kami. Amin.
Jumat, 07 Februari 2025
bahan bacaan : II Raja-Raja 6 : 8 – 18
Tindakan Elisa dalam peperangan melawan Aram
8 Raja negeri Aram sedang berperang melawan Israel. Ia berunding dengan pegawai-pegawainya, lalu katanya: "Ke tempat ini dan itu haruslah kamu turun menghadang." 9 Tetapi abdi Allah menyuruh orang kepada raja Israel mengatakan: "Awas, jangan lewat dari tempat itu, sebab orang Aram sudah turun menghadang ke sana." 10 Sebab itu raja Israel menyuruh orang-orang ke tempat yang disebutkan abdi Allah kepadanya. Demikianlah Elisa memperingatkan kepadanya, supaya berawas-awas di sana, bukan sekali dua kali saja. 11 Lalu mengamuklah hati raja Aram tentang hal itu, maka dipanggilnyalah pegawai-pegawainya, katanya kepada mereka: "Tidakkah dapat kamu memberitahukan kepadaku siapa dari kita memihak kepada raja Israel?" 12 Tetapi berkatalah salah seorang pegawainya: "Tidak tuanku raja, melainkan Elisa, nabi yang di Israel, dialah yang memberitahukan kepada raja Israel tentang perkataan yang diucapkan oleh tuanku di kamar tidurmu." 13 Berkatalah raja: "Pergilah melihat, di mana dia, supaya aku menyuruh orang menangkap dia." Lalu diberitahukanlah kepadanya: "Dia ada di Dotan." 14 Maka dikirimnyalah ke sana kuda serta kereta dan tentara yang besar. Sampailah mereka pada waktu malam, lalu mengepung kota itu. 15 Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: "Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?" 16 Jawabnya: "Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka." 17 Lalu berdoalah Elisa: "Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat." Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa. 18 Ketika orang-orang Aram itu turun mendatangi dia, berdoalah Elisa kepada TUHAN: "Butakanlah kiranya mata orang-orang ini." Maka dibutakan-Nyalah mata mereka, sesuai dengan doa Elisa.
Doa Adalah Kekuatan
Kekuatan Doa orang-orang yang tulus dan sungguh-sungguh akan mendatangkan keselamatan dan kebaikan. Elisa meyakini Kuasa Doanya kepada Tuhan sehingga menyelamatkan bangsa Israel dari amukan Raja Aram. Jika Elisa tidak berdoa maka bangsa Israel akan binasa di tangan Bangsa Aram. Hampir saja mereka diserang dan dibinasakan. Elisa menyadari sungguh bahwa Tuhan saja yang dapat menyelamatkannya bersama smua orang Israel, maka Berdoalah dia. Seringkali Doa yang kita sampaikan kepada Tuhan masih diliputi dengan keragu-raguan, ketakutan dan kekhawatiran. Padahal, jika kita meyakini Doa memiliki Kuasa, maka Yakinilah. Elisa mengajarkan kepada kita bahwa Doa yang dipanjatkan dengan sungguh dan penuh keyakinan akan dikabulkan oleh Tuhan. Oleh karenanya, dalam semua gumulan kita yang didasari dengan Doa pasti akan membawa Berkat. Berdoa dengan keyakinan dan kepasrahan bahwa tidak ada yang melebihi kuasa Allah dalam Doa yang kita panjatkan itu memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menenangkan, menyembuhkan, memulihkan dan menolong. Bangun Relasi dengan Tuhan dalam doa-doa kita. Berdoa bersama keluarga di meja makan, di kamar tidur, di ruang-ruang hati kita. Teruslah Berdoa dan Yakini, Tuhan akan menjawab Doa dan Gumul kita jika kita Percaya Kuasa Doa itu. Bukankah Doa orang benar, besar Kuasanya?
Doa: Ajari kami Tuhan, untuk memiliki Keyakinan akan Doa yang kita panjatkan kepada Tuhan. Amin.
Sabtu, 08 Februari 2025
bahan bacaan : Lukas 7 : 1 – 10
Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum
Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. 2 Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. 3 Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. 4 Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: "Ia layak Engkau tolong, 5 sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami." 6 Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; 7 sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. 8 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." 9 Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!" 10 Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.
Hidup Dalam Kerendahan Hati
Memiliki jabatan dan kekuasaan sering kali menjadikan kita tinggi hati dan memandang rendah orang lain. Kendatipun realitas ini dapat kita temui dimana-mana, namun hal yang berbeda justru nampak dalam pribadi seorang perwira di Kapernaum dalam bacaan kita. Kerendahan hatinya itu nampak dari cara ia bersikap serta memperlakukan hambanya (ay. 2-3). Hal yang sama pun terlihat ketika sang perwira menganggap dirinya tidak layak menemui dan menerima Yesus di dalam rumahnya, untuk menyembuhkan hambanya (ay. 6-7). Terkait dengan itu sang perwira hanya meminta Yesus untuk mengatakan sepatah kata dan dalam keyakinannya ia meyakini hambanya akan sembuh. Keyakinannya terhadap kuasa Yesus lahir dan bertumbuh hanya dengan mendengar mujizat-mujizat yang dilakukan-Nya. Pengalaman iman seperti ini memberikan pelajaran yang berharga bagi kita sebagai orang percaya, agar semakin bertumbuh dalam iman percaya kepada Yesus. Salah satu wujud bertumbuhnya iman kita kepada-Nya yaitu hidup dalam kerendahan hati. Karena itu sekalipun kita dianugerahi jabatan dan kekuasaan serta kekayaan yang berlimpah, tetaplah rendah hati di hadapan-Nya. Sebab dengan kerendahan hati, kita akan mengakui kemahakuasaan Allah dan keterbatasan kita sebagai manusia. Tetaplah rendah hati dan pastikanlah iman kita terus bertumbuh dari waktu ke waktu.
Doa: Tuhan, mampukanlah kami agar tetap rendah hati sebagai wujud iman kepada-Mu. Amin.
*SUMBER : SHK BULAN FEBRUARI 2025, LPJ-GPM