Santapan Harian Keluarga, 27 Feb – 5 Maret 2022

Tema Mingguan : “Hadapi Penderitaan Dengan Berani” MINGGU SENGSARA I

Minggu, 27 Februari 2022                          

bacaan : Matius 16 : 21 – 28

Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikut Dia
21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. 22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." 23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." 24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. 25 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. 26 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? 27 Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. 28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya."

Hadapi dengan Berani

Ketika Yesus mengatakan bahwa Ia harus menghadapi berbagai macam penderitaan, bahkan siksaan, dan kematian yang mengerikan dengan cara dibunuh, Petrus kelihatannya tidak siap. Ia pun mengatakan kepada Yesus, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Bukan hanya Petrus tidak rela Gurunya, Mesiasnya, Tuhannya disiksa dan dibunuh, tapi juga kelihatannya ia tidak siap untuk ikut menderita bersama dengan penderitaan Gurunya itu. Hal ini terbukti dalam rentetan peristiwa penangkapan dan penyaliban Yesus, di mana Petrus menyangkal pengenalannya akan Kristus. Setahun yang lalu saya di vonis dokter terkena kanker payudara stadium dini yang membuat saya harus menjalani sekian banyak pengobatan mulai dari kemoterapi sampai radioterapi awalnya menjalani itu semua saya rasa sangat berat karena efek dari kemo mual-muntah badan sakit, rambut rontok dll. Awalnya saya merasa sangat menderita, tetapi apakah dalam keadaan itu saya marah pada Tuhan? Tidak, saya tetap bersyukur atas semua yang terjadi dan tetap menghadapi kenyataan itu dengan berani bersama  Tuhan. Akhirnya karena kemurahan Tuhan saya diberi kesembuhan. Apapun yang terjadi, apapun pergumulan hidupmu hadapilah dengan berani bersama Tuhan, Tuhan menolongmu, Tuhan ada bersamamu dan Tuhan akan menyediakan jalan keluar. Tetap bersyukur apapun itu.

Doa: Tuhan, berikan aku kekuatan menghadapi pergumulan hidup. Amin.

Senin, 28 Februari 2022                           

bacaan : Mazmur 18 : 21 – 30

20 (18-21) TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku, Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku, 21 (18-22) sebab aku tetap mengikuti jalan TUHAN dan tidak berlaku fasik terhadap Allahku. 22 (18-23) Sebab segala hukum-Nya kuperhatikan, dan ketetapan-Nya tidaklah kujauhkan dari padaku; 23 (18-24) aku berlaku tidak bercela di hadapan-Nya, dan menjaga diri terhadap kesalahan. 24 (18-25) Karena itu TUHAN membalas kepadaku sesuai dengan kebenaranku, sesuai dengan kesucian tanganku di depan mata-Nya. 25 (18-26) Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, 26 (18-27) terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit. 27 (18-28) Karena Engkaulah yang menyelamatkan bangsa yang tertindas, tetapi orang yang memandang dengan congkak Kaurendahkan. 28 (18-29) Karena Engkaulah yang membuat pelitaku bercahaya; TUHAN, Allahku, menyinari kegelapanku. 29 (18-30) Karena dengan Engkau aku berani menghadapi gerombolan, dan dengan Allahku aku berani melompati tembok.

Di Balik Penderitaan Ada Kekuatan

Menjalani kehidupan yang penuh tantangan, kita berjalan bak seorang bayi yang belum memiliki cukup kekuatan untuk melangkah. Kita membutuhkan tangan Tuhan yang selalu memegang. Ketika meyakini tangan-Nya, kita akan berjalan tanpa rasa takut sebab Ia tidak akan membiarkan kita jatuh. Tuhan tidak saja mengajar kita untuk berjalan, Ia menuntun  langkah demi langkah, memegang hidup, menjaga, dan membimbing  agar selalu melangkah ke tempat yang aman. Raja Daud menggambarkan pemeliharaan Tuhan itu sebagai kekuatan dan tuntunan yang selalu diberikan-Nya saat ia mulai kehilangan arah tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Topangan tangan-Nya selalu menguatkan kaki-kakinya seperti kaki rusa dan melompat di tempat yang terjal. Sebagai orang beriman dalam menjalani hidup di dunia ini, kita dipanggil untuk mau menjalani hidup bersama dengan Yesus. Berani menjalani hidup dalam kesukacitaan maupun dalam penderitaan. Berani menjalani hidup dalam kegembiraan maupun dalam penderitaan dengan rendah hati, taat kepada kehendak-Nya. Kita tidak akan dibiarkan-Nya sendiri menghadapi penderitaan. Mohonlah kekuatan dan perlndungan-Nya dalam doa dengan tak berkeputusan. Tangan-Nya yang kuat akan selalu menopang kita, apapun yang terjadi, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan hanya sejauh doa. Bersediakah kita menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan menghadapi penderitaan dengan iman bukan dengan putus asa, hadapi dengan berani bukan dengan ketakutan. Tuhan besertamu selalu dalam menapaki jalan hidup yang penuh harapan.

Doa: Tuhan, Mampukan aku untuk selalu mengandalkan-Mu dalam menghadapi penderitaan.Amin.

Selasa, 01 Maret 2022                                      

bacaan : Mazmur 56 : 1 – 5

Kepercayaan kepada Allah dalam kesusahan
Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Merpati di pohon-pohon tarbantin yang jauh. Miktam dari Daud, ketika orang Filistin menangkap dia di Gat. (56-2) Kasihanilah aku, ya Allah, sebab orang-orang menginjak-injak aku, sepanjang hari orang memerangi dan mengimpit aku! 2 (56-3) Seteru-seteruku menginjak-injak aku sepanjang hari, bahkan banyak orang yang memerangi aku dengan sombong. 3 (56-4) Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; 4 (56-5) kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?

Yakin Sekalipun Takut

Papaaa! katong satu keluarga mati di Damer! Teriak seorang ibu dengan raut wajah penuh ketakutan. Kepanikan sangat terasa oleh semua orang yang bersama-sama dengan kami di atas motor laut yang melayari tanjung Batu Kapal dan “mulut” pulau Damer. Saya baru datang untuk melayani di Klasis itu, dan mengalami ketakutan melihat ombak bergulung ombak, seperti hendak menenggelamkan kami. Keringat dingin mengucur dan jantung berdetak kencang, mata berkaca-kaca, dan meragukan keselamatan. Namun, emosi saya terkendali dan menjadi yakin ketika menatap seorang hamba-Nya yang tetap tenang dan berkata, “angkat hati untuk Tuhan”! Daud, juga mencurahkan perasaannya saat ia mengalami ketakutan karena serangan orang-orang yang seakan-akan mau mencabut nyawanya. Ia takut, namun mengaku, “Aku yakin bahwa Allah akan memihak kepadaku. Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Pemazmur datang mencari dan minta perlindungan kepada Tuhan, saat ia mengalami ketakutan. Itulah kunci kekuatan menghadapi ketakutan. Sebab itu, kepada kita diingatkan bahwa munculnya rasa takut ketika menghadapi sesuatu yang mengerikan atau membahayakan itu wajar, tetapi jangan sampai ketakutan itu begitu menguasai kita sampai tidak tahu harus melakukan apa. Kita harus sepenuhnya percaya kepada Tuhan, bahwa Ia sanggup menolong. Banyak orang sedang diliputi rasa ketakutan. Sampai kapan pandemi covid ini selesai?, Keluarga mau makan apa sementara sudah tidak lagi bekerja? Bencana alam yang terjadi di mana-mana, sakit yang tidak tersembuhkan, dan banyak hal lainnya. Bagaimanapun situasi ketakutan yang dihadapi, yakinlah! Tuhan selalu menyertai dan sedia menolong kita menghadapi berbagai ketakutan itu. Datanglah kepadaNya!

Doa: Ya Tuhan, dalam berbagai ketakutan yang kami alami, yakinkan kami bahwa  Engkau ada bersama dan sedia menolong kami, Amin.

Rabu, 02 Maret 2022                                      

bacaan : Mazmur 56 : 6 – 14

5 (56-6) Sepanjang hari mereka mengacaukan perkaraku; mereka senantiasa bermaksud jahat terhadap aku. 6 (56-7) Mereka mau menyerbu, mereka mengintip, mengamat-amati langkahku, seperti orang-orang yang ingin mencabut nyawaku. 7 (56-8) Apakah mereka dapat luput dengan kejahatan mereka? Runtuhkanlah bangsa-bangsa dengan murka-Mu, ya Allah! 8 (56-9) Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan? 9 (56-10) Maka musuhku akan mundur pada waktu aku berseru; aku yakin, bahwa Allah memihak kepadaku. 10 (56-11) Kepada Allah, firman-Nya kupuji, kepada TUHAN, firman-Nya kupuji, 11 (56-12) kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? 12 (56-13) Nazarku kepada-Mu, ya Allah, akan kulaksanakan, dan korban syukur akan kubayar kepada-Mu. 13 (56-14) Sebab Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, bahkan menjaga kakiku, sehingga tidak tersandung; maka aku boleh berjalan di hadapan Allah dalam cahaya kehidupan.

Air Mataku Kau Taruh Dalam Kirbat-Mu

Air mataku, Kau taruh dalam kirbat-Mu.” Sepenggal nats bacaan dari pemazmur ini, telah membuat seorang ibu menangis tersedu-sedu menatap wajah anak kandungnya yang terbujur kaku. Betapa hatinya remuk melihat anak kesayangan yang dibesarkannya dengan penuh kasih sayang meninggalknnya karena kecelakaan. Tuhan, mengapa beta harus mengalami penderitaan seberat ini? Sejak kecil anak-anak ini saya pelihara sendiri karena suami yang telah pergi meninggalkan kami, dan sekarang Tuhan mengambilnya pulang”, ujar ibu tersebut diselingi isak tangis. Tapi saya yakin, airmata yang selalu keluar ini, akan Tuhan tampung dalam kirbat-Nya. Masa depan yang penuh harapan akan saya nikmati bersama anak-anak yang masih hidup. Daud, seorang pelarian yang dirongrong oleh musuh, menyebutkan kirbat dalam arti kiasan. Kirbat adalah wadah dari kulit binatang yang terutama digunakan oleh orang-orang pada zaman dahulu untuk tempat air, minyak, susu, anggur, mentega, dan keju, agar tetap terjaga rasanya dan tidak menjadi rusak.  Daud berkata: ”Taruhlah air mataku dalam kirbat-Mu.”  Ia  percaya bahwa ketika kemelut hidupnya diserahkan dan disampaikan, maka sesungguhnya Allah akan mengelola semuanya dalam “wadah” yang tepat. Masalah tidak akan merusak dan menghambarkan kehidupannya, namun menjadi semakin “enak” dan “indah” karena pertolongan Tuhan. Ya, semua kesusahan, penderitaan, kekecewaan, kesulitan, tekanan hidup dan sebagainya, kadang membuat airmata tertumpah. Namun, melalui semua itu, sesungguhnya Tuhan sedang mengerjakan kebaikan dalam hidup kita. Berserahlah terus dan jalanilah hidup, Ia tahu apa yang terbaik bagi anak-anak-Nya.

Doa: Ya Tuhan,  ubahlah derita kami agar menjadi  bermakna. Amin.

Kamis, 03 Maret 2022                                     

bacaan : Matius 10 : 29 – 33

29 Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. 30 Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. 31 Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. 32 Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. 33 Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga."

Jangan Takut! Tuhan Pelihara Hidupmu

Bacaan hari ini mengisahkan tentang cara Yesus menguatkan para murid dengan jaminan pemeliharaan hidup. Yesus memberikan jaminan, sebab para murid harus melaksanakan tugas pemberitaan injil dan dimungkinkan untuk berhadapan dengan berbagai kesukaran. Penganiayaan adalah contoh dari kesukaran yang akan mereka alami dan itu berarti bahwa hidup menjadi terancam. Oleh sebab itu Yesus mengutus mereka dengan jaminan pemeliharaan hidup. Jaminan pemeliharaan hidup adalah janji yang pasti Yesus tepati. Yesus menepati semua janji-Nya, sebab Ia adalah Tuhan pencipta dan pemelihara. Semua ciptaan dipelihara Tuhan, baik manusia, maupun makhluk lain, termasuk burung pipit. Pengutusan pemberitaan injil dan jaminan pemeliharaan hidup ini juga diuntukkan bagi orang percaya dewasa ini. Kita terpanggil untuk menjalani hidup sebagai kesempatan memberitakan injil. Injil diberitakan melalui hidup, keluarga, jabatan, pekerjaan, pikiran, keputusan dan perilaku. Seluruh keberadaan kita haruslah menjadi berita sukacita, atau bermanfaat bagi kehidupan, sehingga orang lain mengakui Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Ingatlah bahwa kehidupan orang percaya kapan dan di mana pun tak akan pernah lepas dari kesukaran. Namun, bacaan hari ini menolong memberi tuntunan untuk menjalani hidup secara berarti dengan cara sebagai berikut. Yakinlah akan kepedulian dan pemeliharaan Tuhan atas hidup yang adalah ciptaan dan anugerah-Nya. Tuhan yang kita percaya adalah pencipta dan pemelihara yang baik. Ia tahu siapa dan bagaimana keadaan kita serta terus mengaktakan kehadiran juga kepedulian-Nya. Tak ada alasan untuk menjalani hidup dengan takut. Sebab hidup adalah anugerah Tuhan dan Dia pulalah yang pasti memeliharanya. Jadi selama hidup masih dijalani, akuilah Yesus sebagai Tuhan yang berkuasa memelihara hidupmu.

Doa: Ya Tuhan, peliharalah hidup kami siang dan malam. Amin. 

Jumat, 04 Maret 2022                                      

bacaan : Markus 13 : 3 – 13

Permulaan penderitaan

3 Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, berhadapan dengan Bait Allah, Petrus, Yakobus, Yohanes dan Andreas bertanya sendirian kepada-Nya: 4 "Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi, dan apakah tandanya, kalau semuanya itu akan sampai kepada kesudahannya." 5 Maka mulailah Yesus berkata kepada mereka: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! 6 Akan datang banyak orang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah dia, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. 7 Dan apabila kamu mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang, janganlah kamu gelisah. Semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. 8 Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan. Akan terjadi gempa bumi di berbagai tempat, dan akan ada kelaparan. Semua itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru. 9 Tetapi kamu ini, hati-hatilah! Kamu akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul di rumah ibadat dan kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka. 10 Tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa. 11 Dan jika kamu digiring dan diserahkan, janganlah kamu kuatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Kudus. 12 Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. 13 Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya ia akan selamat."

Tetap Beriman Walau Dalam Kesukaran

Perikop ini berisi khotbah Yesus tentang akhir zaman. Khotbah tersebut disampaikan-Nya di atas bukit Zaitun, tak lama setelah Ia memasuki kota Yerusalem. Hal penting yang terkandung dalam gagasan akhir zaman adalah akan tiba waktunya seluruh tatanan dunia diperbarui. Waktu itu sedang ditunggu dan tak dapat ditentukan kapan persisnya. Karena itu para murid diminta untuk mewaspadai semua peristiwa yang terjadi menjelang masa akhir itu. Peristiwa-peristiwa itu haruslah dipahami sebagai permulaan dari zaman baru yang dinanti kedatangannya. Mereka akan mengalami kejadian yang mengherankan dan mengguncang iman dengan hebatnya. Masa permulaan itu ditandai dengan tejadinya fakta penyesatan dan penganiayaan serta kebencian. Kebenaran tentang Yesus akan diputar-balikkan dengan sengaja dan para murid mengalami masa-masa hidup yang sulit. Tanda lainnya adalah terjadinya pergolakan politis yang luas, perang terjadi di mana-mana, bangsa melawan bangsa, dan kerajaan bangkit melawan kerajaan. Selain itu tanda permulaan akan dialami pula secara alami, dalam bentuk gempa bumi dan kelaparan. Keterguncangan hidup yang luar biasa oleh sebab kemelut baik keagamaan, politik maupun alam. Gambaran fakta seperti ini dibentangkan dengan maksud menjelaskan realitas hidup dan meneguhkan iman orang percaya. Cara terbaik hidup dalam kesukaran adalah tetap percaya akan kemahakuasaan Allah, bertahan dan mewaspadai segala kejadian. Kita diminta untuk bertahan dalam kesukaran dan menjalani hidup beriman dengan waspada. Pilihan cara yang tepat untuk hadapi penderitaan adalah bertahan karena iman dan waspada bukan ceroboh. Penderitaan bukanlah akhir sejarah manusia melainkan pembaruan secara menyeluruh. Karena itu disebutkan, kamu akan dibenci oleh sebab nama-Ku, tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat (ay. 13).

Doa: Ya Tuhan mampukanlah kami untuk tetap beriman. Amin.

Sabtu, 05 Maret 2022                                       

bacaan : Yesaya 50 : 8 – 11

8 Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku berperkara? Biarlah ia mendekat kepadaku! 9 Sesungguhnya, Tuhan ALLAH menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah? Sesungguhnya, mereka semua akan memburuk seperti pakaian yang sudah usang; ngengat akan memakan mereka. 10 Siapa di antaramu yang takut akan TUHAN dan mendengarkan suara hamba-Nya? Jika ia hidup dalam kegelapan dan tidak ada cahaya bersinar baginya, baiklah ia percaya kepada nama TUHAN dan bersandar kepada Allahnya! 11 Sesungguhnya, kamu semua yang menyalakan api dan yang memasang panah-panah api, masuklah ke dalam nyala apimu, dan ke tengah-tengah panah-panah api yang telah kamu pasang! Oleh tangan-Kulah hal itu akan terjadi atasmu; kamu akan berbaring di tempat siksaan.

Berani Hadapi Penderitaan

Isakan tangis tak henti terdengar dari kejauhan. Ita menceritakan kepedihan hatinya dengan terbata-bata, “Ibu pendeta, papa, mama dan keluarga masih dalam hutan. Dong sementara berjalan menuju hutan kampung Hulaliu. Beta takut  papa pung kondisi fisik tambah lemah. Papa baru keluar rumah sakit minggu lalu karena gangguan pada ginjalnya. Papa masih ada dalam pemulihan fisik. Ibu pendeta, beta takut! Sioh e, kanapa katong musti alami kayak bagini ulang lai?”. Saya hanya terdiam mendengar luapan kesedihan hati Ita dan bisa merasakan kesedihan yang begitu dalam saat itu. Ketika tangisannya terdengar mulai mereda, saya mengajaknya berdoa melalui telepon genggam. Saya rasa hanya itu cara yang bisa dilakukan sementara untuk menolong dirinya. Kata-kata penguatan dan penghiburan memang sangatlah dibutuhkan oleh Ita dan saudara-saudara di kampung Kariu yang hari itu harus menelan pahit “terusir” dari tanah kelahiran mereka. Sebagai orang beriman, mereka harus mampu memandang kenyataan derita tersebut dengan tetap berpengharapan kepada Tuhan. Seperti spirit ketaatan seorang hamba Tuhan dalam nas bacaan hari ini yang mengatakan: “Sesungguhnya, Tuhan Allah menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah?” Bagi Yesaya, berani bukan hanya soal tidak takut, melainkan suatu daya tahan menghadapi kesusahan atau penderitaan dengan tetap setia dan taat pada ajaran/perintah/kehendak Tuhan. Kita membutuhkan spiritualitas keberanian dalam Tuhan dalam menapaki kehidupan yang selalu diwarnai dengan beragam persoalan bahkan penderitaan. Kita tidak boleh dilemahkan oleh bermacam-macam tantangan yang menerpa. Hidup takut Tuhan dan percaya kepada-Nya harus menjadi modal utama kita sebagai orang beriman. Tuhan akan selalu ada di pihak kita dan menolong kita.

Doa: Kuatkanlah kami Tuhan supaya tetap berani menghadapi penderitaan hidup ini. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN FEB-MARET 2022, LPJ GPM

Santapan Harian Keluarga, 20 – 26 Februari 2022

Tema Mingguan : “Kuasa Yesus Mengalahkan Roh Jahat“

Minggu, 20 Februari 2022                             

bacaan : Matius 12 : 22 – 37

Yesus dan Beelzebul
22 Kemudian dibawalah kepada Yesus seorang yang kerasukan setan. Orang itu buta dan bisu, lalu Yesus menyembuhkannya, sehingga si bisu itu berkata-kata dan melihat. 23 Maka takjublah sekalian orang banyak itu, katanya: "Ia ini agaknya Anak Daud." 24 Tetapi ketika orang Farisi mendengarnya, mereka berkata: "Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan." 25 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata kepada mereka: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan. 26 Demikianlah juga kalau Iblis mengusir Iblis, iapun terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri; bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? 27 Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa siapakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. 28 Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. 29 Atau bagaimanakah orang dapat memasuki rumah seorang yang kuat dan merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu? Sesudah diikatnya barulah dapat ia merampok rumah itu. 30 Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan. 31 Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. 32 Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak. 33 Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal. 34 Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. 35 Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. 36 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. 37 Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum."

Kebaikan Mengalahkan Kejahatan

Kisah berikut menarik untuk disimak bersama-sama, yakni pengalaman perjumpaan dengan sebuah keluarga di salah satu jemaat yang berada di kota Ambon. Berlangsunglah percakapan seputar pergumulan keluarga tersebut. Papa-mama keluarga ini menyampaikan kekesalan dan amarah mereka terhadap tetangga sebelah. Dikatakan bahwa tetangga menggunakan “kuasa gelap” untuk menyerang mereka sehingga salah seorang anak sakit dan belum sembuh meskipun sudah dibawa ke beberapa dokter. Selain itu, anak yang lain pun sudah tes CPNS berkali-kali tapi tidak lolos. Sejalan dengan kisah di atas, bacaan hari ini juga berbicara tentang seseorang yang buta dan bisu karena dikuasai oleh roh jahat. Namun, dengan Kuasa yang Yesus miliki Ia menyembuhkan orang itu sehingga dapat berbicara dan melihat (ay.22). Mujizat yang dibuat Yesus ini menimbulkan reaksi yang beragam dari orang banyak maupun orang Farisi. Orang banyak menjadi kagum akan apa yang dilakukan Yesus meskipun mereka memiliki sedikit keraguan, apakah Yesus berasal dari keturunan Daud? (ay.23). Sebaliknya,  orang Farisi menuduh Yesus menggunakan kekuatan Beelzebul (pemimpin setan/iblis) untuk menyembuhkan orang yang buta dan bisu tersebut. Yesus menyangga tuduhan mereka dengan berkata bagaimana setan dapat melawan setan? Kerajaannya akan hancur (ay.26) tapi Aku mengusir setan dengan menggunakan kuasa Roh Allah (ay.28). Maknanya adalah bahwa Yesus berkuasa menyembuhkan dan menyelamatkan hidup kita. Janganlah takut dan berhenti berharap pada-Nya, sebab Ia yang mati dan bangkit itu berkuasa mengalahkan kuasa apa pun.

Doa: Tuhan, tuntun kami untuk melakukan kebaikan bagi sesama. Amin.

Senin, 21 Februari 2022                                

bacaan : Markus 3 : 7 – 12

Yesus menyembuhkan banyak orang
7 Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea, 8 dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya. 9 Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. 10 Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya. 11 Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: "Engkaulah Anak Allah." 12 Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.

Lihat, Roh Jahat Menyembah dan Mengakui Yesus Anak Allah

Adakah di antara kita yang tidak menginginkan kesembuhan? Pasti tidak ada. Mengapa demikian? Sebab, ketika kita mengalami sakit, maka kondisi tubuh lemah dan aktifitas terganggu. Jalan keluarnya adalah minum obat, periksa ke dokter, istirahat dan berdoa. Bacaan hari ini juga berbicara tentang situasi hidup yang dipengaruhi penyakit dan upaya mendatangi Yesus agar kesembuhan dialami. Gangguan kesehatan dialami di berbagai tempat, yakni Galilea, Yudea, Yerusalem, Idumea seberang Yordan, Tirus, dan Sidon. Mereka itu bukan saja yang mengalami gangguan kesehatan fisik, tetapi juga karena dirasuki roh-roh jahat. Semua orang yang mengalami gangguan kesehatan fisik mengalami kesembuhan karena menjamah Yesus. Yesus dijamah dan dialamilah kesembuhan, sebab kuasa-Nya melebihi seluruh pergumulan hidup. Kuasa Yesus itu ternyata terwujud dengan cara yang lebih ajaib pada mereka yang mengalami gangguan roh-roh jahat. Semua mereka yang diganggu roh jahat ketika melihat Yesus mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak “Engkaulah Anak Allah”. Hal ini berarti, roh-roh jahat mengakui Yesus adalah Anak Allah. Jatuh tersungkur menunjukkan pula sikap menyembah kepada Yesus yang adalah Anak Allah. Kisah ini sebenarnya hendak memberi pesan kepada kita bahwa setan, iblis, roh-roh jahat saja menyembah dan mengakui Yesus sebagai Anak Allah, lalu mengapa kita harus mencari yang lain untuk menyembuhkan kita dari sakit yang diakibatkan oleh berkuasanya roh-roh jahat dalam diri kita. Kita adalah umat Tuhan, karena itu cari dan menyembah Tuhan adalah keputusan yang tepat untuk melepaskan kuasa-kuasa roh jahat dari kehidupan kita.

Doa:  Ya Tuhan, kuatkanlah diriku agar setia menyembah-Mu. Amin.

Selasa, 22 Februari 2022                                 

bacaan : Markus 9 : 38 – 41

Seorang yang bukan murid Yesus mengusir setan
38 Kata Yohanes kepada Yesus: "Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." 39 Tetapi kata Yesus: "Jangan kamu cegah dia! Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. 40 Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita. 41 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya."

Hati – Hati Dengan Murid Gadungan

Istilah yang selalu digunakan kepada orang-orang yang bukan tentara atau polisi namun mengaku tentara atau polisi adalah tentara atau polisi gadungan. Memang sulit untuk mengatakan mereka adalah tentara atau polisi gadungan sebab mereka memakai seragam tentara atau polisi beserta atributnya. Yang bisa mengetahui apakah mereka adalah tentara atau polisi gadungan adalah mereka yang benar-benar tentara atau polisi.Tampaknya kisah dalam Markus 9:38-41 adalah peristiwa adanya murid Yesus gadungan yang mengusir setan juga dengan menggunakan nama Yesus. Ketika murid-murid Yesus melihat adanya orang lain yang menggunakan nama Yesus untuk mengusir setan, dicegahlah ia yang melakukan tindakan mengusir setan menggunakan nama Yesus. Namun, Yesus melarang murid-muridNya mencegah murid Yesus gadungan tersebut. Bagi Yesus, semua orang bisa memakai namaNya untuk melakukan apapun, termasuk mengusir setan. Namun, jika hal itu dilakukan tanpa sepengetahuan Yesus maka sia-sialah apa yang dilakukan oleh orang tersebut, meskipun memakai nama Yesus. Butuh penerimaan dan penghormatan akan Yesus baru dapat melakukan apapun dengan menggunakan nama Yesus. Itulah yang diungkapkan oleh Yesus di ayat 41 “…sesungguhnya barangsiapa memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya”.

Kisah ini hendak memberi pesan kepada kita untuk hati-hati dengan mereka yang menggunakan nama Yesus untuk melakukan penyembuhan atau mengusir kuasa-kuasa setan atau

Doa: Ya Tuhan Yesus, mampukanlah kami untuk dapat membedakan mana yang dari-Mu, dan mana yang bukan dari-Mu…Amin.

Rabu, 23 Februari 2022                                    

bacaan : Matius 8 : 28 – 34

Dua orang yang kerasukan disembuhkan
28 Setibanya di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang kerasukan setan menemui Yesus. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorangpun yang berani melalui jalan itu. 29 Dan mereka itupun berteriak, katanya: "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?" 30 Tidak jauh dari mereka itu sejumlah besar babi sedang mencari makan. 31 Maka setan-setan itu meminta kepada-Nya, katanya: "Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu." 32 Yesus berkata kepada mereka: "Pergilah!" Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Maka terjunlah seluruh kawanan babi itu dari tepi jurang ke dalam danau dan mati di dalam air. 33 Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, diceriterakannyalah segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. 34 Maka keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, merekapun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

Setan Takluk Pada Yesus

Cerita tentang dua orang yang kerasukan setan memiliki ketertarikan tersendiri. Meskipun kita sudah berada di zaman yang serba maju, zaman yang perkembangannya sangat cepat dan ditandai dengan kemajuan di bidang informasi, telekomunikasi, serta tekhnologi. Meskipun demikian, kita juga sering mendengar adanya orang yang ternyata di zaman sekarang ini masih mengalami kerasukan. Hal ini berarti roh jahat atau kuasa setan masih ada dalam era sekarang ini dan selalu mencari jalan untuk merasuki kehidupan kita. Hal ini sejalan dengan Firman Tuhan dalam 1 Petrus 5: 8 katakan “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu si Iblis berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya”. Cerita tentang dua orang yang kerasukan menarik, karena  ketika Yesus mengusir dan menyuruh setan itu keluar, setan justeru meminta kepada Yesus untuk memindahkan mereka ke dalam  kawanan babi. Yesus lalu berkata kepada mereka:”pergilah!”. Dua orang yang kerasukan sekejap pun sembuh dari kerasukan setan-setan tersebut. Kisah ini menegaskan bahwa roh-roh jahat atau setan itu takluk kepada Yesus. Yesus memiliki kuasa atas seisi dunia termasuk setan atau roh jahat yang ada. Melalui kisah ini kita diingatkan bahwa bersama Yesus kuasa apa pun akan takluk. Itu pertanda kita harus menjalani kehidupan ini di dalam dan bersama Yesus agar kuasa setan dan roh jahat menjauh dan tidak akan menguasai kehidupan kita, yang mana di dalam kuasa setan atau roh jahat kita akan terjerumus melakukan dosa.

Doa: Ya Tuhan, berjalanlah bersama kami agar kuasa setan tidak menguasai hidup ini. Amin.

Kamis, 24 Februari 2022                                    

bacaan :  Lukas 4 : 31-37   

Yesus dalam rumah ibadat di Kapernaum
31 Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. 32 Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. 33 Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras: 34 "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." 35 Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" Dan setan itupun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali tidak menyakitinya. 36 Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, katanya: "Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan merekapun keluar." 37 Dan tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu.

Setiap Saat Yesus Berkuasa Dalam Hidupku

Kita pasti tahu bahwa Bait Allah atau gedung gereja adalah tempat untuk umat yang beragama Kristen beribadah kepada Tuhan. Mengapa demikian? Sebab Bait Allah atau gedung gereja diyakini sebagai tempat kediaman Tuhan Allah. Pertanyaannya, apakah setan tidak boleh atau tidak bisa masuk ke dalam Bait Allah atau gedung gereja, apalagi masuk saat umat Kristen beribadah kepada Tuhan? Ternyata, dari cerita Lukas 4:31-37 kita dapat menemukan jawaban atas pertanyaan ini bahwa saat orang-orang beribadah di rumah Ibadat, yakni di Kapernaum, setan pun ada hadir dalam ibadah tersebut. Setan tidak hanya hadir dalam rumah Ibadat, namun juga masuk juga pada salah satu orang yang sementara mengikuti ibadah. Tidak tanggung-tanggung, setan juga tidak mau kalah dengan Yesus yang sedang berkhotbah dan menyampaikan ajaran-Nya. Makanya, setan berteriak melalui salah orang yang telah dirasuki roh setan itu. Namun, Yesus tidak tinggal diam, Ia pun menghardik setan itu dengan mengatakan: “Diam, keluarlah dari padanya”. Seketika itu pula setan tersebut keluar tidak hanya dari orang kerasukan, namun juga dari rumah Ibadat. Peristiwa ini membuat semua orang tercengang dan kagum dengan Yesus yang penuh wibawa dan kuasa mengusir setan. Kiranya kita  menjadi sadar bahwa setan pun ada di mana-mana termasuk tempat ibadah. Andalkanlah kuasa Tuhan agar semua kuasa yang menghambat hidup dapat dikalahkan. Hindarilah mengandalkan kekuatan diri sendiri, kepintaran, kekayaan, atau menganggap diri kita kuat, dan lainnya. Karena itu, pada setiap tempat dan saat berilah tempat dalam hidup agar Yesus berkuasa.

Doa:  Tuhan, Kuasailah hidupku setiap saat. Amin. 

Jumat, 25 Februari 2022                               

bacaan : Lukas 4 : 38 – 41

Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon Petrus dan orang-orang lain
38 Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. 39 Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. 40 Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Iapun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. 41 Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.

Kuasa Yesus Luar Biasa

Setelah Ia mengusir setan di rumah ibadat, Yesus pun meninggalkan tempat itu. Yesus pergi ke rumah Simon. Ternyata, ibu mertua Simon sedang demam tinggi. Demam ini membuat tubuhnya lemah sampai-sampai dia tidak sanggup menghampiri Yesus. Melihat kondisi ini, orang-orang di rumah itu meminta Yesus agar menolongnya (38). Yesus pun menghampiri tempat tidurnya dan menghardik demam itu. Seketika itu, demamnya hilang dan tubuhnya menjadi kuat. Lukas menulis, “Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka”. Kuasa Yesus mengalahkan roh jahat, kuasa Yesus mengalahkan segalanya. Ketika  misalnya menonton film horor, kadang kita merasa takut karena adegan film tersebut menegangkan atau menyeramkan. Perilaku seperti itu agak mencerminkan bahwa kita kehilangan kesadaran akan adanya Tuhan yang luar biasa dan dapat membuat semua bertekuk lutut. Kuasa-Nya lebih besar daripada kuasa-kuasa apapun, Ia menjaga dan melindungi kita dari kuasa kegelapan. Ingatlah bahwa dengan doa kita, Tuhan hadir, dan membentengi menyelamatkan. Ia tidak akan membiarkan  dan  melupukan kita. Janganlah takut sebab Allah menyertai dan Kuasa-Nya memagari, sehingga kita aman dalam lindungan-Nya. Kuncinya hidup orang beriman adalah selalu mengandalkan-Nya maka Ia akan berperang untuk kita dan kita hanya diam saja. Andalkanlah Tuhan dalam hidupmu bukan andalkan yang lain, karena hanya dari Tuhan lah kita mendapat keselamatan.

Doa: Tuhan, aku mau hidup selalu mengandalkanMu setiap saat karena hanya di dalamMu ada rasa aman. Amin.

Sabtu, 26 Februari 2022                

bacaan : Kisah Para Rasul 8 : 4 – 13

Filipus di Samaria
4 Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil. 5 Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. 6 Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu. 7 Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan. 8 Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu. 9 Seorang yang bernama Simon telah sejak dahulu melakukan sihir di kota itu dan mentakjubkan rakyat Samaria, serta berlagak seolah-olah ia seorang yang sangat penting. 10 Semua orang, besar kecil, mengikuti dia dan berkata: "Orang ini adalah kuasa Allah yang terkenal sebagai Kuasa Besar." 11 Dan mereka mengikutinya, karena sudah lama ia mentakjubkan mereka oleh perbuatan sihirnya. 12 Tetapi sekarang mereka percaya kepada Filipus yang memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus, dan mereka memberi diri mereka dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan. 13 Simon sendiri juga menjadi percaya, dan sesudah dibaptis, ia senantiasa bersama-sama dengan Filipus, dan takjub ketika ia melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat besar yang terjadi.

Hanya Yesus Bukan Yang Lain

Saat Filipus berkarya di kota Samaria, sudah ada Simon yang lebih dahulu dikenal oleh masyarakat. Simon dikenal sebagai ahli sihir dan membuat takjub rakyat Samaria dengan perbuatan sihirnya itu. Bahkan dikatakan, baik orang besar maupun orang kecil mengikuti dia dan menyebutnya “Kuasa Besar.” Namun, keadaan berubah setelah Filipus memberitakan Injil di kota itu. Setelah mendengar dan melihat tanda-tanda mukjizat yang dilakukan Filipus, penduduk Samaria sangat bersukacita. Bukan hanya itu, mereka yang tadinya mengikuti Simon, si tukang sihir, kini beralih menjadi percaya kepada Injil Kerajaan Allah dan kepada Yesus Kristus. Mereka pun memberi diri dibaptis karena mereka sebulat hati menerima pemberitaan Filipus itu. Hal ini memperlihatkan bahwa kuasa Yesus mengalahkan kuasa sihir mana pun. Berita Injil lebih kuat dan mengubahkan banyak orang yang mau mendengar-Nya. Sekitar 20 tahun yang lalu ketika SMP saya pernah ditawari oleh seseorang untuk ke dukun supaya dipasang susuk biar tambah cantik katanya, tetapi saat itu saya menolaknya karena itu tidak dibenarkan, saya hanya mengandalkan Tuhan, dan saya percaya Tuhan akan berikan yang terbaik. Hanya Yesus lah tempat jawaban dari segala persoalanmu, hanya Yesus lah yang dapat memberimu kelegaan. Kuasa Nya besar untuk hidupmu.

Doa: Tuhan, hanya Kau harapanku, Hanya kepada-Mu aku berlindung dari kejamnya dunia. Amin.

*sumber : SHK Bulan Februari 2022

Santapan Harian Keluarga, 13 – 19 Februari 2022

Tema Mingguan : “Kuasa Yesus Menyembuhkan“

Minggu, 13 Pebruari 2022                                

bacaan : Matius 9 : 35 – 38

Belas kasihan Yesus terhadap orang banyak
35 Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. 36 Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. 37 Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. 38 Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

Bukang Cuma Rasa Kasiang Saa..

Waktu beta deng paitua pi mangente karabat yang dapa rawat di RSJ, katong lewat di dong pung “tampa” rawat, terjadilah percakapan berikut :

Paitua : “Ma, kasiang ee, dong macang dalang bui sa”.

Beta    :  “Memang bagitu suda. Maar itu cuma par dong yang masi suka barontak deng bajalang”

Paitua :  “Ma ada kepeng ka z? Kasi par dong bli roti deng aer jua”

Beta    :  “Ada, maar seng bisa kasi kepeng, labai pi bali sa la kasi par perawat jaga, nanti perawat bage akang par dong.”

Paitua :  “Oke, kasi kepeng la beta pi bli. Nanti katong sombayang deng dong lai e.. Bisa to.” (Beta angguk kapala)

Beta pung laki seng tahang lia orang susa deng saki, dia kasiang.

Itu lai yang Yesus biking waktu Antua bajalang koliling kota-kota la bakudapa orang-orang susa deng sangsara, termasuk dong yang saki. Matius bilang : “Yesus pung hati kasiang paskali par dong barang dong lala deng macang deng domba yang seng pung tuang” (ayat 36). “Yesus pung hati kasiang paskali”, dalang bahasa Yunani, splagkhnizomai. Kata ni akang pung arti : Yesus pung rasa kasiang paleng dalam par orang-orang sangsara deng saki. Tagal itu deng kuasa yang ada par Antua Yesus “angka” dong dar dong pung saki deng sangsara tu. Yesus seng cuma rasa kasiang sa, maar Antua biking apapa yang bisa biking dong kaluar dar dong pung kaadaang tu. Ada aksi, seng cuma rasa.

Basudara, pasti katong rasa kasiang waktu lia orang yang susa, saki deng sangsara. Tuhan pung firman hari ini ajar katong par jang cuma kasiang sa. Katong musti tolong dong supaya dong jadi labe bae. Tolong deng apa yang ada par katong. Paleng tida katong sombayang par dong. Tuhan Yesus sayang katong.

Doa: Tuhan tolong katong par seng cuma rasa kasiang, maar biking apapa yang bisa tolong orang yang susa deng saki.  Amin.

Senin, 14 Februari  2022                                   

bacaan : Markus 2 : 1 – 12

Orang lumpuh disembuhkan
Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. 2 Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintupun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, 3 ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. 4 Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. 5 Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" 6 Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: 7 "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" 8 Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? 9 Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? 10 Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" --berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu--: 11 "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" 12 Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat."

Perbuatan Sebagai Wujud Kasih

Sejak seminggu lalu, Noel sudah mengingatkan saya : “Ma, minggu depan kan hari Valentine” Saya: “Iya, lalu..?” Noel : “Ade pung ibu guru bilang katong seng bawa bunga deng coklat lai.” Saya : “Trus…Ade dong bawa apa?” Noel : “Nanti katong kumpul uang sa, lalu  ibu guru deng satu dua orang pi bali apapa la katong kasi par anana di panti asuhan.” Saya : “Hmm… bagus itu, Mamie setuju karena itu bentuk kasih sayang yang berbuat..!”

Ya.. hari ini banyak orang sedang merayakan “Hari Kasih Sayang” atau “Valentine Day”, hari yang identik dengan warna pink, bunga dan cokelat. Satu pertanyaan: Apakah mereka yang merayakan hari kasih Sayang ini sungguh-sungguh memaknai arti “Kasih Sayang” atau hanya sekadar tradisi dan tanpa makna?

Hari ini kita belajar beberapa hal tentang “Kasih Sayang” dari bacaan kita, Markus 2:1-12. Kasih sayang yang tak terbatas pada ucapan tetapi terwujud dalam tindakan, kasih yang berbuat.

  1. Empat orang pembawa si lumpuh untuk berjumpa dengan Yesus agar dipulihkan oleh kuasa-Nya. Entah apa hubungan mereka dengan si lumpuh: keluarga, tetangga, atau kenalan. Yang jelas kasih sayang mereka terhadap si lumpuh mendorong mereka untuk berbuat sesuatu, tidak sekadar kasihan, sekalipun harus membobol atap rumah dimana Yesus berada demi mempertemukannya dengan Yesus.
  2. Yesus, sosok yang peduli dengan mereka yang menderita, termasuk yang sakit. Karena itu dengan kuasa-Nya Ia menyembuhkan sekaligus memulihkannya dari dosa. Sekalipun ditentang ahli Taurat di dalam hati mereka.

Hari ini kita belajar untuk mengasihi tidak sekadar memberi cokelat atau bunga. Mulailah dari rumah. Papa dan Mama saling mengasihi dengan saling menghormati dan menghargai. Orang tua mengasihi anak demikian pun anak mengasihi orang tua. Itulah “Valentin/ Kasih Sayang” yang sesungguhnya.

Doa: Tolong kami untuk melakukan KASIH YANG BERBUAT, Tuhan, Amin.

Selasa, 15 Februari 2022                              

bacaan : Markus 7 : 31 – 37

Yesus menyembuhkan seorang tuli
31 Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. 32 Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. 33 Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. 34 Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! 35 Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. 36 Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapapun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. 37 Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."

Efata! – Terbukalah!

Maaa..!” teriak Noel suatu pagi. Karena sibuk kerja saya tidak menjawab. Noelpun menghampiri saya dan berkata: “Mami e, Mami su tuli deng bisu ka, Ade panggel Mami dar tadi kenapa mami seng jawab Ade.”

Telinga dan mulut (termasuk lidah) adalah organ tubuh yang penting sehingga jika mereka tidak bisa berfungsi dengan baik maka bisa menimbulkan masalah bagi sang pemilik organ itu ataupun orang lain seperti yang terjadi pada saya dan Noel.

Dalam bacaan kita hari ini, Markus berkisah tentang seorang tuli dan gagap yang dibawa kepada Yesus agar ia disembuhkan. Ia pasti sangat ingin bisa mendengar dan berbicara sebab dalam kehidupannya selama itu mungkin sekali ada banyak masalah yang muncul karena kekurangannya ini. Yesus melihat harapannya, juga harapan orang banyak yang membawanya lalu Iapun bertindak dengan kasih dan kuasa-Nya untuk memulihkan orang itu. Setelah memisahkan dia dari orang banyak, Yesus memasukkan jari ke telinga orang itu,  meludah dan meraba lidahnya lalu menengadah ke langit, menarik nafas dan berkata kepadanya: “Efata” (=terbukalah), maka terbukalah telinga orang itu sehingga ia bisa mendengar dan berbicara.

Saudara, jika pendengaran kita baik maka percakapan akan berlangsung secara bermutu dan kesalahpahaman dapat dihindari. Namun, bisa saja terjadi bahwa secara fisik kita dapat mendengar dan berbicara, tapi sering kali justru mengalami tuli dan gagap secara rohani. Akibatnya kata-kata yang keluar dari mulut kita bukan kata-kata yang memberkati dan menyejukkan, tetapi makian, cacian, cemoohan dan sejenisnya. Karena itu, kita perlu dipertemukan dengan Yesus agar dengan kuasa-Nya, mulut dan lidah terbuka untuk mengatakan hal-hal yang memberkati dan menyejukkan.

Doa:    Tuhan biarlah mulut dan lidah kami terbuka untuk mengeluarkan kata-kata yang memberkati dan menyejukkan sesama, Amin.

Rabu, 16 Februari 2022                                     

bacaan : Lukas 8 : 40 – 56

Yesus membangkitkan anak Yairus dan menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan
40 Ketika Yesus kembali, orang banyak menyambut Dia sebab mereka semua menanti-nantikan Dia. 41 Maka datanglah seorang yang bernama Yairus. Ia adalah kepala rumah ibadat. Sambil tersungkur di depan kaki Yesus ia memohon kepada-Nya, supaya Yesus datang ke rumahnya, 42 karena anaknya perempuan yang satu-satunya, yang berumur kira-kira dua belas tahun, hampir mati. Dalam perjalanan ke situ Yesus didesak-desak orang banyak. 43 Adalah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan dan yang tidak berhasil disembuhkan oleh siapapun. 44 Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya. 45 Lalu kata Yesus: "Siapa yang menjamah Aku?" Dan karena tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus: "Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau." 46 Tetapi Yesus berkata: "Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku." 47 Ketika perempuan itu melihat, bahwa perbuatannya itu ketahuan, ia datang dengan gemetar, tersungkur di depan-Nya dan menceriterakan kepada orang banyak apa sebabnya ia menjamah Dia dan bahwa ia seketika itu juga menjadi sembuh. 48 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" 49 Ketika Yesus masih berbicara, datanglah seorang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, jangan lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru!" 50 Tetapi Yesus mendengarnya dan berkata kepada Yairus: "Jangan takut, percaya saja, dan anakmu akan selamat." 51 Setibanya di rumah Yairus, Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut masuk dengan Dia, kecuali Petrus, Yohanes dan Yakobus dan ayah anak itu serta ibunya. 52 Semua orang menangis dan meratapi anak itu. Akan tetapi Yesus berkata: "Jangan menangis; ia tidak mati, tetapi tidur." 53 Mereka menertawakan Dia, karena mereka tahu bahwa anak itu telah mati. 54 Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, kata-Nya: "Hai anak bangunlah!" 55 Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan. 56 Dan takjublah orang tua anak itu, tetapi Yesus melarang mereka memberitahukan kepada siapapun juga apa yang terjadi itu.

Percaya Kepada Kuasa Yesus Yang Menghidupkan

Setiap orang pasti mendambakan hidup dalam kondisi yang sehat agar dapat melakukan aktivitas dengan baik. Pada sisi lain, seseorang yang tidak sehat (sakit) pasti akan berjuang untuk memperoleh kesembuhan. Hal berjuang untuk memperoleh kesembuhan diceritakan dalam perikop bacaan kita tentang Yairus, kepala rumah ibadat dan ayah dari seorang anak perempuan satu-satunya, yang berumur kira-kira 12 tahun, yang berada dalam keadaan hampir mati (ay.42). Ia datang sujud di depan Yesus dan memohon supaya Yesus datang ke rumahnya. Sikap Yairus menunjukkan penghormatan yang tinggi dan pengakuan akan kuasa Yesus yang dapat menyembuhkan anaknya. Yesus kemudian membangkitkan anak itu dengan kuasa-Nya (ay.54-55). Demikian pula dengan seorang perempuan yang menderita sakit pendarahan selama dua belas tahun (pendarahan yang berlebihan setiap kali dia haid/datang bulan) dan tidak seorang pun yang berhasil menyembuhkannya (ay.43). Dalam Hukum Taurat, Perempuan yang mengalami masalah seperti itu dianggap najis dan tidak layak ikut dalam acara-acara ibadah (Imamat 15:25). Perempuan itu berjuang untuk mendekati Yesus dan memegang jubbah-Nya, dan imanlah yang menyembuhkannnya (ay.44). Ada hal menarik dari 2 peristiwa dalam kisah tersebut, yakni baik Yairus sebagai seorang ayah maupun perempuan yang sakit pendarahan menaruh kepercayaan kepada kuasa Yesus yang menyembuhkan dan menyelamatkan. Makna bagi keluarga, dalam menghadapi berbagai persoalan dan pergumulan hidup termasuk sakit penyakit sehingga membuat kita stress, putus asa, hilang harap, maka datanglah kepada Yesus dengan kerendahan hati dan iman yang sungguh, maka pasti diselamatkan. Jangan mengandalkan kuasa lain di luar kuasa Tuhan Yesus karena kita pasti binasa, sebaliknya orang-orang yang mengandalkan Tuhan hidupnya diberkati (band.Yer. 17:7-8)

Doa: Tuhan, kiranya kami teguh percaya pada kuasa-Mu. Amin.

Kamis, 17 Februari 2022                                

bacaan : Markus 8 : 22 – 26

Yesus menyembuhkan seorang buta di Betsaida
22 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia. 23 Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: "Sudahkah kaulihat sesuatu?" 24 Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: "Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon." 25 Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. 26 Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata: "Jangan masuk ke kampung!"

Kasih Dan Kuasa Yesus Mengatasi Masalah

Hidup sebagai orang buta (penyandang tunanetra) memang tidak mudah dan butuh banyak proses dalam menyesuaikan diri. Misalnya: orang buta harus terbiasa menggunakan tongkat khusus kemana-mana, ketergantungan kepada orang lain, ruang gerak dan aktivitasnya menjadi terbatas, dll. Maka tak heran bila mereka yang mengalami kebutaan membutuhkan dukungan keluarga dan orang-orang sekitarnya. Hal ini pun diperlihatkan dalam bacaan kita tadi. Ay. 22, menyebutkan orang banyak membawa seorang yang buta kepada Yesus sambil memohon supaya Ia menyembuhkan si buta itu (di dunia timur, kebutaan dianggap sebagai salah satu kutukan). Melihat orang yang buta sejak lahir itu, maka tergeraklah hati Yesus yang penuh dengan belas kasihan, lalu Ia membawa orang buta itu keluar dari kota Betsaida dan menyembuhkan dia dengan cara yang sangat sederhana (tradisional) yakni Ia menaruh ludah-Nya pada (mata) orang itu dengan tangan-Nya (ay.23 bd. 7:33). Yesus dua kali meletakan tangan-Nya pada mata orang buta itu dan ia menjadi sembuh (ay.25). Hal ini memperlihatkan bahwa Yesus mengasihi orang buta dan dengan kuasa-Nya menyembuhkan orang tersebut. Tuhan Yesus telah membebaskan orang buta itu dari dunianya yang gelap, terbatas dan dianggap sebagai kutukan pada saat itu, kini ia mendapatkan kehidupan baru. Makna bagi kita, Pertama, Tuhan Yesus memiliki kuasa untuk menyembuhkan orang-orang yang buta secara fisik maupun rohani. Sebab itu, datanglah kepada Yesus untuk mendapatkan kesembuhan. Kita butuh hubungan secara intens dengan Tuhan Yesus. Kedua, Tuhan Yesus dan orang banyak berbela rasa dengan si buta karena itu orang percaya hendaknya memiliki perhatian, dukungan dan kerelaan untuk berbagi dengan mereka yang mengalami masalah hidup sehingga mereka memiliki kehidupan (jangan menutup mata/buta terhadap hidup orang lain).

Doa: Tuhan, tuntun hati kami berbelarasa dengan sesama. Amin.

Jumat, 18 Februari 2022                                 

bacaan : Matius 9 : 32 – 34

Seorang bisu disembuhkan
32 Sedang kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. 33 Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: "Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel." 34 Tetapi orang Farisi berkata: "Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan."

Kebaikan Tidak Selamanya Dihargai, Tapi Harus Diperjuangkan

Ada peribahasa yang mengatakan “Apa yang dilihat oleh mata tergantung pada apa yang dirasakan oleh hati”. Artinya, jika hati kita baik terhadap orang lain, maka penilaian pun baik terhadap orang tersebut. Sebaliknya, jika hati kita tidak baik, maka penilaian kita pun tidak baik. Peribahasa ini mau menggambarkan sikap/penilaian orang banyak dan orang farisi tentang Yesus. Sikap orang banyak adalah keheranan/ketakjuban terhadap mujizat yang dibuat oleh Yesus. Dimana Ia mengusir setan dari orang bisu dan pada saat itu juga ia dapat berbicara (ay.33). Bagi orang banyak, kejadian seperti ini belum pernah terjadi baik dalam sejarah kehidupan bangsa Israel maupun dalam pengalaman hidup mereka sendiri (band psl 8-9). Dengan kata lain, mujizat ini hanya dilakukan oleh Yesus dan tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Perikop ini menunjukkan bahwa Yesus memiliki kuasa untuk menghidupkan; menyembuhkan dan menyelamatkan mereka yang terbelenggu oleh kuasa setan. Di sisi lain, orang-orang Farisi tidak mau mengakui bahwa kuasa Yesus berasal dari Allah, malahan mereka menyatakan bahwa kuasa Yesus datang dari penghulu setan atau kepala roh-roh jahat yaitu Iblis (ay.34). Makna bagi orang beriman: Pertama, tidak ada kuasa di bawah kolong langit ini selain kuasa Yesus yang menyelamatkan dan membebaskan manusia bahkan kuasa iblis sekalipun. Untuk itu, berharap dan percaya hanya pada kuasa Tuhan Yesus. Hal ini penting, menjalani tahun 2022, dimana kita masih dihadapkan dengan banyak tantangan hidup termasuk covid 19 yang bermutasi melalui varian baru Omicron dan berdampak sangat besar bagi hidup; baik kesehatan, ekonomi, sosial dan sebagainya. Kedua, perbuatan baik cenderung ditolak dan tidak diakui karena manusia memiliki sifat iri hati, cemburu dan dengki kepada sesamanya. Tapi jangan berhenti berbuat baik karena tujuan hidup orang beriman adalah memuliakan Tuhan dan melayani sesama.

Doa: Semoga kami tetap berdaya memperjuangan kebaikan. Amin.

Sabtu, 19 Februari 2022                                

bacaan : Matius 4 : 23 – 25

Yesus mengajar dan menyembuhkan banyak orang
23 Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. 24 Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka. 25 Maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Mereka datang dari Galilea dan dari Dekapolis, dari Yerusalem dan dari Yudea dan dari seberang Yordan.

Apa Yang Dikatakan, Itu Yang Diperbuat

Ada tiga kata yang menggambarkan pelayanan Yesus semasa hidup-Nya, yakni pengajaran (Teaching), khotbah (Preaching) dan penyembuhan (Healing). Bacaan hari ini juga menceritakan tentang Tuhan Yesus yang melakukan perjalanan ke seluruh wilayah Galilea untuk mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit juga kelemahan (ay.23). Ia memberitakan kerajaan Allah    kepada orang banyak supaya mereka memiliki pemahaman yang baik dan benar (bukan seperti yang disampaikan oleh nabi-nabi palsu yang membalikan kebenaran injil dan mencari kepentingan diri sendiri). Pengajaran atau pemberitaan yang disampaikan oleh Yesus di Galilea disertai pula dengan tindakan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Karya Yesus di Galilea itu tersiar sampai  di seluruh daerah Siria, sehingga dibawalah kepada Yesus mereka yang sakit dan sengsara, kerasukan, dan lumpuh untuk disembuhkan (ay.24). Maka makin bertambahlah orang yang mengikuti Yesus, yakni mereka yang datang dari Galilea, Dekapolis, Yerusalem, Yudea dan Yordan (ay.25). Mereka datang untuk melihat, mendengar Yesus mengajar serta untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan dari belas kasih-Nya. Keluarga Kristen juga diajak untuk datanglah kepada Tuhan Yesus mengaku segala dosa dan serahkan semua beban-beban hidup kepada-Nya. Ia akan menyembuhkan dan menyelamatkan hidup kita. Rajinlah membaca Alkitab supaya kita memahami dan hidup sesuai kehendak-Nya. Firman Tuhan adalah pelita dan terang bagi hidup kita (band. Mazmur 119:105). Ingatlah pula bahwa tugas utama orang beriman adalah memberitakan injil kepada dunia.

Doa: Tuhan, kiranya kami menjadi pemberita-pemberita Injil. Amin.

*sumber : SHK bulan Februari 2022

Santapan Harian Keluarga (SHK) 6 – 12 Februari 2022

Tema Mingguan : “Kuasa Yesus Mengubah Hidup”

Minggu, 06 Februari 2022                               

Bacaan : Lukas 5 : 1 – 11

Penjala ikan menjadi penjala manusia
Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. 2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. 3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. 4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." 5 Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." 6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. 7 Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. 8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa." 9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; 10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." 11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Allah Segalanya Bagi Hidupku

Allah harus menjadi yang utama atau segalanya dalam kehidupan kita. Hal ini ditunjukkan oleh Simon ketika ia merelakan dirinya untuk mengikuti kata-kata Yesus yakni bertolak ke tempat yang lebih dalam supaya dapat memperoleh ikan. Perkataan Yesus telah menantang cara berpikir Simon yang selama ini dibangun hanya berdasar atas pengalamannya. Simon pun mengikuti perintah Yesus sekalipun hal tersebut tidak bisa diterima oleh akal sehatnya. Apalagi sepanjang malam ia dan teman-temannya sudah bekerja dan tidak mendapatkan seekor ikan pun. Ada sedikit nada keraguan dari respon Simon, namun akhirnya ia melakukan juga permintaan Yesus, Gurunya itu. Ketaatan Simon pada perkataan Yesus kemudian membawa pada sebuah keajaiban yakni hasil tangkapan yang berlimpah, sehingga membutuhkan para murid Yesus yang lain untuk membantu mengangkut hasil tangkapan tersebut. Banyak orang takjub melihat kejadian tersebut dan timbullah kepercayaan di hati mereka. Kuasa Yesus selain mengubah keyakinan Simon dan kawan-kawannya, juga situasi hidup. Gagal dalam pencarian diubah menjadi sukses besar. Manusia tak selamanya berhasil dalam karier, pekerjaan, pencarian, dan perjuangan. Karena itu hendaklah kisah ini menjadi inspirasi untuk tetap bersandar pada Yesus dan mengandalkan kuasa-Nya yang ajaib itu. Kuasa Yesus mengubah hidup, sehingga sejak saat itu, Simon tidak lagi menjadi penjala ikan, melainkan menjadi penjala manusia.

Kita juga sedang ditantang, beranikah  mengarahkan hati, pikiran dan kehendak pada sabda Allah dengan konsekuensi meninggalkan apa yang merupakan andalan hidup?

Doa: Tuhan berikan kuasa-Mu untuk setia pada perintah-perintah-Mu. Amin.

Senin, 07 Februari 2022

Bacaan : Lukas 8 : 1 – 3

Perempuan-perempuan yang melayani Yesus.
Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia,dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.

Perempuan – Perempuan Yang Telah Menerima Kuasa Yesus
Perempuan-perempuan yang melayani Yesus adalah orang-orang yang telah mengalami kuasa Yesus. Mereka adalah Maria Magdalena, perempuan yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, dan banyak perempuan lain. Respon terhadap kuasa ilahi yang telah mereka alami adalah dengan melayani rombongan Yesus. Perempuan-perempuan tersebut melayani rombongan Yesus dengan kekayaan yang mereka miliki. Kekayaan yang dimaksud disini adalah keuangan, dan seluruh potensi yang dimiliki. Perempuan-perempuan ini melayani Yesus secara total, baik dengan materi maupun tenaga atau seluruh keberadaan. Kehadiran dan penerimaan Yesus terhadap pelayanan mereka membuktikan bahwa misi pelayanan-Nya tidak membedakan strata golongan dan jenis kelamin. Faktanya, dalam kehidupan sosial-budaya saat itu, perempuan dianggap sebagai masyarakat kelas dua. Realitas itu didobrak Yesus, sehingga ketimpangan sosial runtuh. Perempuan-perempuan yang telah menerima sentuhan kasih Yesus itu memperoleh kesempatan untuk melayani-Nya.. Mereka telah mengalami kuasa Yesus yang ajaib. Kuasa tersebut kemudian menjadi daya dorong bagi perempuan itu untuk melayani Yesus. Sama seperti Maria Magdalena dan perempuan-perempuan yang lainnya, marilah kita juga menjadi orang percaya yang termotivasi untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi Tuhan dan banyak orang. Kebaikan Tuhan telah kita terima dengan limpahnya, sehingga layak untuk diteruskan bagi orang lain dan kemuliaan-Nya.

Doa: Tuhan, kuasa-Mu adalah kekuatan hidup, mampukanlah kami untuk semakin rela melayani Engkau .Amin!

Selasa, 08 Februari 2022

Bacaan : Lukas 19 : 1 – 10

Zakheus.
Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.
Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.
Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.
Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.
Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."
Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."
Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat."
Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.
Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

Kuasa Yesus Mengubah Hidup dan Membawa Keselamatan
Zakheus memiliki kerinduan hati untuk berjumpa dengan Yesus, sehingga berlari mendahului semua orang dan memanjat pohon ara karena badannya pendek. Bukanlah kebetulan bahwa kerinduan hati Zakheus yang hanya mau melihat saja ternyata diintervensi Yesus dengan langsung memanggil nama Zakheus dan menumpang di rumahnya. Misi penyelamatan pun terjadi bagi Zakheus yang dianggap orang berdosa oleh orang banyak karena pekerjaannya sebagai pemungut cukai. Zakheus yang sebelumnya hanya dianggap sebagai orang yang suka menerima dan mengambil, berubah menjadi seseorang yang suka memberi dan mengembalikan kepada sesamanya. Perjumpaan dengan Yesus telah membawa perubahan hidup bagi Zakheus. Bagaimana dengan kita sebagai keluarga Allah, apakah ada perubahan dalam kehidupan kita saat berjumpa dengan Tuhan Yesus? Mungkin tadinya kita menjadi orang-orang yang suka mendukacitakan hati Tuhan dan sesama melalui tutur kata, sikap serta perilaku hidup. Namun kita dapat berubah menjadi anak-anak Tuhan yang bersikap manis dalam tutur kata serta perilaku hidup yang menyenangkan hati Tuhan dan sesama, jika kita juga sungguh-sungguh mau memberi hidup. Kita percaya semuanya itu akan terwujud atas campur tangan Tuhan, di saat hati kita terbuka untuk dituntun oleh Roh Kudus. Tak ada seorang dari kita yang luput dari kesalahan atau dosa. Namun Tuhan Allah kita senantiasa berkehendak baik dan campur tangan untuk mengubah hidup menjadi berkenan pada-Nya. Ia menghendaki umat-Nya mengalami pertobatan dan selamat, bukan kebinasaan.

Doa: Tuhan Yesus ubahlah hati dan hidup kami seturut kehendak-Mu. Amin.


Rabu, 09 Februari 2022

Bacaan : Yohanes 8 : 2 – 11

Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah
lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.
Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Kuasa Yesus Memberi Pengampunan
Betapa bahagianya perempuan yang kedapatan berbuah zinah saat diancam hukuman dilempari dengan batu sesuai dengan hukum Taurat, namun mendapat pengampunan dari Tuhan Yesus. Perempuan ini dibawa oleh orang-orang yang punya tujuan untuk menjebak Yesus dengan pilihan kalau Yesus setuju menghukum perempuan tersebut, maka Yesus akan dinilai tidak mempunyai kasih. Sebaliknya, kalau Yesus melarang maka Yesus melanggar hukum Taurat. Maksud jahat orang-orang tersebut telah diketahui oleh Yesus dan Ia menanggapi mereka dengan menulis di tanah. Namun karena terus didesak akhirnya Yesus mengatakan bahwa barangsiapa yang tidak berdosa dialah yang pertama melempari perempuan itu dengan batu. Atas jawaban Tuhan Yesus itu maka mereka satu persatu meninggalkan Tuhan Yesus sendiri bersama dengan perempuan berzinah itu. Yesus menanyakan di mana mereka dan apakah tidak ada yang menghukumnya? Perempuan itu menjawab “tidak ada”. Yesus kemudian menyampaikan kepada perempuan yang berzinah itu bahwa Ia juga tidak menghukumnya, tetapi perempuan tersebut tidak boleh mengulangi perbuatannya lagi. Pengampuan dari Tuhan Yesus menjadi jalan bagi perempuan dimaksud untuk memulai hidup baru. Demikian juga seharusnya dengan kita yang telah menikmati kasih dan pengampunan Tuhan Yesus melalui pengorban-Nya di kayu salib. Janganlah kita menyia-nyiakannya dengan sikap dan perilaku hidup dalam dosa dan kecemaran. Namun, hiduplah baru dengan pengampunan yang telah diperoleh.

Doa: Tuntunlah kami ya Tuhan dengan kuasa Roh Kudus agar kami menjauhi perbuatan dosa. Amin.

Kamis, 10 Februari 2022

Bacaan : Yohanes 4 : 27 – 42

Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorang pun yang berkata: "Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?" Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ:"Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?"Maka mereka pun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus. Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: "Rabi, makanlah." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal."Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: "Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?"Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita.Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai.Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka."Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat."Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Ia pun tinggal di situ dua hari lamanya.Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya, dan mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.

Kuasa Yesus Memberi Hidup Baru
Perempuan Samaria yang berjumpa dengan Yesus di sebuah sumur saat ia datang hendak menimba air merupakan kelompok masyarakat yang terpinggirkan dalam strata masyarakat Yahudi pada waktu itu. Apalagi dengan status rumah tangganya yang kawin cerai sampai 5 kali membuatnya tidak layak dalam pandangan hidup bermasyarakat. Hal ini dibuktikan saat ia datang menimba air pukul 12 siang dalam situasi sepi dan tidak ada orang yang melihatnya. Namun, perjumpaan dengan Yesus mengubah hidup perempuan ini dengan pernyataan imannya kepada Tuhan Yesus sebagai Mesias Anak Allah (ay.19;25). Menarik dari kesaksian ini bahwa berkat hidup baru bagi perempuan Samaria yang berjumpa dengan Yesus tidak hanya diklaim atau ditutupi untuk dirinya sendiri, namun ia pergi menyampaikan dan memberitakannya kepada semua orang Samaria di kota itu (ay.39). Sebuah perubahan yang penting dan mendasar dalam kehidupan perempuan Samaria ini saat berjumpa dengan Yesus. Bagaimana dengan kita sebagai keluarga Kristen, papa, mama dan anak-anak? Apakah perjumpaan dengan Tuhan Yesus melalui doa kita serta ibadah setiap hari dan setiap saat membuat kita bersemangat dan sukacita untuk menyampaikan kepada semua orang yang belum mengenal dan percaya kepada Tuhan Yesus melalui sikap dan perilaku hidup yang selalu menyenangkan hati Tuhan dan sesama? Mintalah tuntunan Roh Kudus supaya kita mampu melakukannya.

Doa: Mampukan kami ya Tuhan dengan kuasa Roh KudusMu agar kami dapat memberitakan tentang Tuhan bagi semua orang. Amin.-

Jumat, 11 Februari 2022

Bacaan : Kisah Para Rasul 9 : 1 – 19a

Saulus Bertobat.
Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar,
dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.
Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia.
Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?"
Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu.
Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat."
Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang juga pun.
Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik.
Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum.
Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: "Ananias!" Jawabnya: "Ini aku, Tuhan!"
Firman Tuhan: "Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa,
dan dalam suatu penglihatan ia melihat, bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi."
Jawab Ananias: "Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem.
Dan ia datang ke mari dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu."
Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.
Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku."
Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: "Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus."
Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis.
Dan setelah ia makan, pulihlah kekuatannya. 

Kuasa Yesus Membawa Pertobatan
Rasul Paulus, seorang rasul yang besar dalam jamannya, mempunyai sejarah perjalanan hidup yang mengalami perubahan secara radikal saat berjumpa dengan Tuhan Yesus di depan pintu kota Damsyik. Sebelum perjumpaan dengan Tuhan Yesus, Saulus (nama awalnya) dengan keras memperjuangkan dan mempertahankan tradisi keyahudiannya. Saulus menjadi penggerak untuk menangkap dan membunuh setiap orang Kristen mula-mula yang percaya kepada Tuhan Yesus. Sepak terjangnya terus berlanjut dengan meminta surat kuasa untuk pergi ke majelis Yahudi di Damsyik dengan tujuan menangkap orang Kristen dan membawa mereka ke Yerusalem untuk dibunuh. Niat hati dan tindakan Saulus pun menjadi hancur lembur saat cahaya kemuliaan Tuhan menyinarinya. Saulus rebah ke tanah dan tidak dapat melihat apa-apa. Ia hanya mendengar suara Tuhan dari Sorga yang bertanya mengapa ia menganiaya Tuhan? Perjumpaan dengan Tuhan Yesus mengubah seluruh hidup Saulus. Namanya kemudian disebut Paulus. Seorang penghambat pekerjaan Tuhan menjadi seorang pelayan dan pekabar injil Tuhan. Kesaksian inipun menjadi kekuatan bagi kita sebagai keluarga Kristen baik orang tua maupun anak-anak untuk setia dan taat dalam tugas dan tanggung jawab pelayanan serta kesaksian kita sebagai orang percaya. Kita mesti yakin bahwa sekeras atau sejahat apapun seseorang, ia pasti akan dapat diubah dan bertobat atas campur tangan Tuhan. Itulah sebabnya pentingnya perjumpaan dengan Tuhan melalui tuntunan Roh Kudus untuk melakukan perintah dan kehendak Tuhan sebagai bagian dari pemberitaan Injil Tuhan.

Doa: Terima kasih Tuhan atas perjumpaan yang selalu membawa pembaruan dan pertobatan dalam hidup kami. Amin.-

Sabtu, 12 Februari 2022

Bacaan : Kisah Para Rasul 11 : 19 – 21

Paulus dan Barnabas ke Anthiokia
Sementara itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja. Akan tetapi di antara mereka ada beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada orang-orang Yunani dan memberitakan Injil, bahwa Yesus adalah Tuhan.Dan tangan Tuhan menyertai mereka dan sejumlah besar orang menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan.

Kuasa Yesus Memberi Keberanian Untuk Bersaksi
Semakin dibabat semakin merambat, istilah ini menggambarkan proses hidup tumbuhan alang-alang. Istilah inipun dapat dipakai untuk melukiskan situasi dan kondisi penyebaran injil Kristus oleh para rasul dan orang percaya pada masa gereja mula-mula. Tidak sedikit tantangan bahkan penganiayaan yang dialami oleh persekutuan orang percaya dalam memberikan injil Kristus kepada dunia dan semua orang yang belum percaya. Namun, semangat untuk menyaksikan tentang Yesus adalah Tuhan dan Mesias Anak Allah terus dilakukan oleh para murid dengan tidak rasa takut dan gentar. Para murid dan orang percaya dengan yakin dan berani menyampaikan kabar sukacita dan keselamatan karena tangan Tuhan yang tak kelihatan selalu menuntun, menyertai dan memberkati mereka. Para rasul menghadapi tantangan bahkan ancaman namun situasi tersebut tidak menyurutkan semangat dan keberanian mereka untuk memberikan injil Kristus bagi dunia. Apa yang mereka alami, lakukan dan saksikan ini tentunya menjadi teladan bagi mereka yang belum percaya untuk menerima dan percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Sebuah teladan yang baik juga untuk kita sebagai keluarga Kristen di tengah tantangan bahkan ancaman hidup sekarang ini. Terkadang situasi dan kondisi yang sulit membuat kita takut juga malu untuk memberitakan tentang Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Untuk itu, andalkanlah kuasa Roh Kudus agar kita tetap semangat dan berani untuk memberitakan tentang Tuhan Yesus bagi semua orang yang belum percaya.

Doa: Roh Kudus tuntun kami untuk semangat dan berani memberitakan tentang Tuhan Yesus bagi dunia ini. Amin.-

*SUMBER : SHK BULAN FEBRUARI 2022 LJP-GPM

Santapan Harian Keluarga, 30 Jan – 5 Feb 2022

Tema Mingguan : ” Berpegang Teguh Dan Bertumbuh Dalam Tuhan “

Minggu, 30 Januari 2022                              

bacaan : 2 Petrus 3 : 17 – 18

Penutup
17 Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh. 18 Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.

Tetaplah Waspada

Akibat fatal dari wabah virus Corona, mengharuskan kita sebagai manusia untuk tetap taat pada protokoler kesehatan yang ditetapkan pemerintah antara lain menjaga jarak, memakai masker dan rajin mencuci tangan. Hal tersebut wajib di lakukan sebagai bentuk kewaspadaan terhadap virus yang mematikan itu. Namun, waspada tidak hanya diperlukan untuk hal-hal yang bersifat jasmani saja melainkan juga yang bersifat rohani seperti yang disampaikan rasul Petrus dalam bacaan kita hari ini. Ia mau menyampaikan tentang pentingnya kewaspadaan di dalam hidup dengan tujuan agar penerima suratnya yang kedua pada saat itu, tetap berjaga-jaga terhadap pengajaran-pengajaran sesat yang akan menjauhkan mereka dari kasih karunia serta pengenalan akan Allah. Pesan yang disampaikan  oleh rasul Petrus tersebut mengajarkan kita juga untuk tetap waspada menghadapi berbagai macam tantangan hidup. Sebab seringkali berbagai tantangan dan persoalan hidup mempengaruhi iman atau percaya bahkan menjauhkan kita dari kasih karunia serta pengenalan akan Allah. Oleh sebab itu, kita perlu membentengi diri dengan cara mengenal dan mematuhi perintah Allah melalui kebenaran Firman-Nya. Seperti yang disampaikan pemazmur bahwa, Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku (Mazmur 119:105). Dengan berpegang teguh pada Firman Tuhan kita dimampukan, dikuatkan bahkan akan terus bertumbuh dalam iman. Jadikan Firman Tuhan sebagai sandaran orang percaya dan tetaplah berdoa kepada Allah yang mampu menolong kita menjalani hari-hari hidup yang penuh dengan berbagai pencobaan. Tetaplah waspada sebab iblis mempunyai seribu macam cara untuk menjatuhkan dan menjauhkan kita dari kasih Kristus.

Doa:  Ya Tuhan, mampukan kami untuk tetap berpegang pada Firman-Mu yang menuntun hidup kami. Amin.

Senin, 31 Januari 2022                                       

bacaan : 1 Petrus 2 : 2 – 3

2 Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, 3 jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.

Firman-Mu Peganganku

Baca kitab suci doa tiap hari kalau mau tumbuh, merupakan penggalan syair lagu sekolah minggu yang tak asing lagi di pendengaran kita. Penggalan syair lagu ini mau menyampaikan tentang pentingnya membaca kitab suci dan berdoa yang mampu menumbuhkan iman di dalam Tuhan. Hal seperti inilah yang dimaksudkan oleh rasul Petrus dalam bacaan kita hari ini. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni…..(ay 2) merupakan metafora merujuk pada pertobatan manusia yang membutuhkan pengenalan serta pemahaman tentang Firman Allah. Sebab dengan pengenalan akan Firman Allah yang sunguh-sungguh, manusia dapat bertumbuh, mengenali dan memahami kehendak Tuhan. Sebagai manusia, kita tidak terlepas dari berbagai perbuatan dosa baik lewat tutur kata, sikap maupun perbuatan. Akan tetapi kebenaran Firman Tuhan saat ini mengajarkan kepada kita yang mau bertobat dan kembali ke jalan yang benar tentang pentingnya hidup menurut Firman Allah. Orang yang hidup dalam Firman adalah dia yang tidak hanya rindu menambahkan pengetahuan Alkitab tetapi rindu melakukannya, sehingga hidupnya semakin berkenan kepada Tuhan. Sama seperti seorang bayi yang membutuhkan air susu yang murni, begitu pula dengan kita yang membutuhkan Firman Tuhan untuk terus bertumbuh di dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Jadikan hati kita sebagai tanah yang subur supaya ketika benih yang tidak fanah ditaburkan dapat berakar, bertumbuh dan menghasilkan buah. Selamat mengakhiri bulan ini dan memasuki bulan baru serta menjadi pelaku Firman.

Doa:  Tuhan Yesus, tolong kami supaya memegang erat Firman-Mu dalam hati kami serta menjadi pelaku-pelaku Firman. Amin.

Selasa, 1 Februari 2022

Bacaan : 2 Timotius 1 : 13

Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

Jadilah Pengikut Kristus yang Setia

Minggu ini hendaklah dijalani dengan tetap bersyukur dan berpegang teguh serta bertumbuh dalam Tuhan. Tema bulannya adalah Kuasa Yesus Menghidupkan. Rasul Paulus terbukti mampu memberitakan injil dengan berani dan setia sampai akhir hidupnya karena pengaruh dari kuasa Yesus yang menghidupkan. Berdasar pada pengalaman iman yang luar biasa ini, Paulus kemudian menasihati, memperingati dan mendorong Timotius untuk meneladani dirinya. Timotius diminta untuk terus bersaksi tentang Yesus walaupun sedang mengalami situasi hidup yang tidak mudah. Permintaan ini didasarkan pada anggapan Paulus bahwa Timotius adalah “seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus” (2:1-3). Seorang prajurit pasti memiliki kualitas kesetiaan yang tinggi. Timotius harus menjadi pengikut Yesus yang baik. Ia juga diminta untuk mengajar jemaat sesuai dengan ajaran yang telah diajarkan Paulus kepadanya. Kiranya pesan kesetiaan ini menjadi milik kita agar layak menjalani hidup sebagai pengikut Yesus yang baik. Terutama ketika menghadapi masa hidup yang sulit. Janganlah tergoda untuk berpaling dari kebenaran injil dan tetaplah setia dalam iman serta bersabar menanggung penderitaan. Jalanilah bulan ini sebagai kesempatan menjadi pengikut Kristus yang baik.

Doa: Ya Tuhan, tolonglah agar kami tetap menjadi pengikut-Mu yang setia. Amin.

Rabu, 02 Februari 2022                           

bacaan : 2 Tesalonika 2 : 15 – 17

15 Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis. 16 Dan Ia, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah, Bapa kita, yang dalam kasih karunia-Nya telah mengasihi kita dan yang telah menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan baik kepada kita, 17 kiranya menghibur dan menguatkan hatimu dalam pekerjaan dan perkataan yang baik.

Penghiburan dan Kekuatan adalah Anugerah Tuhan

Gagasan teologi yang utama dari teks hari ini adalah kedatangan Yesus yang kedua. Orang percaya diminta untuk tidak meragukannya, sebab sejak permulaan, mereka telah dipilih Allah untuk diselamatkan. Keyakinan orang percaya terkadang goyah bila diperhadapkan dengan kesukaran atau tawaran serta pilihan hidup tertentu. Oleh sebab itu keyakinan Paulus ini tetap relevan untuk dijadikan sandaran beriman dewasa ini. Kita sedang menjalani masa hidup di antara Yesus yang telah naik ke sorga dan akan datang pada kedua kalinya. Kemungkinan menghadapi hal yang mengguncang iman selalu terbuka. Karena itu turutilah nasihat Paulus: Berdirilah teguh dan berpegang pada ajaran Kristen atau kesaksian Alkitab. Rajinlah membaca Alkitab agar jalan hidupmu diterangi Firman Allah.  Takutlah akan Tuhan dan hiduplah dalam cinta kasih serta kepedulian seorang akan yang lainnya. Allah, Bapa kita akan senantiasa menganugerahkan penghiburan dan kekuatan sehingga setiap keberadaan menjadi berarti. Keberadaan menjadi berarti karena hati kita dikuatkan dan dimampukan untuk melakukan pekerjaan serta mengucapkan perkataan yang baik. Hidup adalah anugerah Tuhan untuk dijadikan sebagai kesempatan bekerja. Pilihlah melakukan pekerjaan yang baik, sebab untuk hal itulah Tuhan pasti menganugerahkan penghiburan dan kekuatan. Akhirnya ucapkanlah perkataan yang baik agar Tuhan dimuliakan.

Doa: Kami bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau menganugerahkan kekuatan dan penghiburan. Amin.

Kamis, 03 Februari 2022                       

bacaan : Pengkhotbah 12 : 9 – 14

Akhir kata

9 Selain Pengkhotbah berhikmat, ia mengajarkan juga kepada umat itu pengetahuan. Ia menimbang, menguji dan menyusun banyak amsal. 10 Pengkhotbah berusaha mendapat kata-kata yang menyenangkan dan menulis kata-kata kebenaran secara jujur. 11 Kata-kata orang berhikmat seperti kusa dan kumpulan-kumpulannya seperti paku-paku yang tertancap, diberikan oleh satu gembala. 12 Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan. 13 Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. 14 Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.

Orang Berhikmat Takut Akan Allah

Teks bacaan hari ini disebut sebagai kesimpulan atau akhir kata kitab Pengkhotbah. Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takut akan Allah dan berpegang pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang (ayat 13). Setiap orang termasuk para pemuda, haruslah takut akan Allah dan berpegang pada perintah-Nya. Menaati Allah merupakan bukti terbaik kebijakan seseorang. Karena itu sebaiknya dilakukan sejak masih muda. Manusia, terutama orang muda harus menjalani hidup dengan bijak agar terhindar dari kesia-siaan. Itulah sebabnya dalam ayat 12 bacaan kita disebutkan: Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan. Pernyataan pengkhotbah ini jangan sampai keliru dimengerti. Ia tidak bermaksud mengatakan bahwa orang muda tak perlu membuat buku dan belajar. Membuat buku dan belajar penting bagi orang muda, tetapi jauh lebih penting dari semua itu adalah takut akan Tuhan. Kita diminta untuk membuat tulisan yang berkualitas tentang hidup, sehingga dengannya Tuhan dimuliakan. Belajar itu penting dan karenanya harus dilakukan dengan berhikmat, agar terhindar dari mempelajari hal yang tidak berfaedah atau merusak hidup. Ingatlah bahwa segala sesuatu tentang hidup pada dasarnya adalah menghormati dan menaati Allah. Menghormati dan menaati Allah adalah ciri orang berhikmat. Perkataan mereka  bagaikan kusa dan paku. Maksudnya “menancap” atau “tertanam” dengan kuat pada orang yang mendengarnya. Perkataan orang berhikmat bukan “kosong” dan berlalu begitu saja, tetapi bermakna bagi hidup. Berusahalah untuk menjadi orang muda yang demikian.

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk takut padaMu. Amin.

Jumat, 04 Februari 2022                                

bacaan : Efesus 4 : 11 – 16

11 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, 12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, 13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, 14 sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, 15 tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. 16 Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Bertumbuh Ke Arah Kristus

Keutuhan merupakan unsur penting yang menentukan pertumbuhan jemaat. Hal inilah yang dimaksudkan Paulus sebagaimana tersebut dalam bacaan hari ini. Ia mendorong jemaat di Efesus untuk hidup bersatu dan melayani seluruh tubuh Kristus atau jemaat. Pelayanan dalam jemaat harus dilakukan dengan cara memanfaatkan karunia-karunia khusus yang telah dianugerahkan oleh Kristus. Rasul Paulus meyakini bahwa Kristuslah yang memilih sejumlah orang untuk melakukan tugas-tugas khusus. Mereka itu adalah rasul, nabi, pemberita injil, gembala, dan pengajar. Orang-orang yang diberikan karunia khusus ini bekerja untuk memastikan bahwa iman seluruh jemaat mengalami pertumbuhan. Arah dan tujuan pertumbuhan itu adalah teguh berpegang pada kebenaran di dalam kasih. Inilah yang dimaksudkan dengan bertumbuh ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Kesaksian Paulus ini menegaskan beberapa hal pokok untuk dijadikan sebagai pegangan hidup bagi orang beriman. Pertama, hiduplah dalam keutuhan sebagai sebuah keluarga kemudian di kehidupan berjemaat. Keluarga dan jemaat Kristen haruslah hidup dalam keutuhan bukan perpecahan. Keutuhan adalah kekuatan hidup yang memungkinkan bertumbuhnya karunia atau potensi yang dimiliki oleh masing-masing orang. Kedua, tetaplah beriman, terutama ketika menghadapi masa hidup yang sulit. Caranya adalah berserah dengan sungguh kepada-Nya, belajarlah memahami kehendak-Nya, dan jalanilah hidup dalam ketaatan. Ketiga, hendaklah setiap orang mengasihi seorang akan yang lainnya. Demikianlah caranya kita mengusahakan hidup berkenan kepada Kristus, Sang Kepala.

Doa: Ya Tuhan, kiranya hidup kami bertumbuh ke arah kepenuhan kasih karunia-Mu. Amin.  

Sabtu, 05 Februari 2022                          

bacaan : 1 Tesalonika 5 : 21 – 22

21 Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. 22 Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.

Ujilah Segala Hal dan Peganglah Yang Baik

Pribadi, keluarga dan jemaat Kristen hendaknya menjalani keberadaan dengan prinsip: berpegang teguh dan bertumbuh dalam Tuhan. Prinsip ini sejalan dengan gagasan Paulus sebagaimana tersebut dalam teks hari ini. Berpegang teguh dan bertumbuh dalam Tuhan hanya mungkin dialami bila seseorang menguji segala sesuatu dan memegang yang baik. Segala sesuatu yang didengar, dilihat dan dialami baik berupa informasi maupun peristiwa haruslah diuji. Pengujian perlu untuk memastikan apakah terdapat manfaat atau kebaikan padanya. Hidup perlu dijalani dengan berhati-hati atau mewaspadai segala sesuatu agar terhindar dari dialaminya keburukan. Ujilah segala sesuatu dengan Firman Tuhan, sehingga baik dan buruknya informasi atau peristiwa dalam keseharian kita dapat menjadi jelas. Pastikanlah bahwa semua yang dialami itu berkenan pada Tuhan dan bermanfaat bagi kita. Jika tidak terbukti demikian, hindarilah atau janganlah berpegang padanya. Kita juga diminta untuk menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan. Manusia memiliki kecenderungan bertindak tidak sesuai dengan kehendak Allah. Ingatlah bahwa kecenderungan untuk berbuat jahat diakui sebagai sesuatu yang mendasar dalam keadaan manusia. Kejahatan terdapat dalam kehendak manusia tetapi juga dapat berwujud dalam bentuk cinta uang secara berlebihan, karena itu sebaiknya dijauhkan. Uang memang diperlukan selama kita hidup, tetapi bukan untuk dicintai secara berlebihan. Bagaimana pun bermanfaatnya uang itu, janganlah karenanya Tuhan sumber berkat dilupakan. Bergantunglah pada-Nya, maka hidupmu pasti diberkati. 

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk memegang yang baik. Amin.

*SUMBER : SHK JANUARI-FEBRUARI 2022; LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 23 – 29 Januari 2022

Tema Mingguan : ” Ceritakanlah Kemuliaan Allah “

Minggu, 23 Januari 2022                            

bacaan : Mazmur 19 : 1 – 15

Kemuliaan TUHAN dalam pekerjaan tangan-Nya dan dalam Taurat-Nya
Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (19-2) Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; 2 (19-3) hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. 3 (19-4) Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; 4 (19-5) tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari, 5 (19-6) yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya. 6 (19-7) Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya. 7 (19-8) Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. 8 (19-9) Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. 9 (19-10) Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, 10 (19-11) lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah. 11 (19-12) Lagipula hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar. 12 (19-13) Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari. 13 (19-14) Lindungilah hamba-Mu, juga terhadap orang yang kurang ajar; janganlah mereka menguasai aku! Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar. 14 (19-15) Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.

Berani Bersaksi, Nyatakan Kemuliaan Allah

Pemazmur punya cara memperkenalkan Allah, kemuliaan Allah sungguh Agung. Kemuliaan Allah, di dapati pada karya tangan-Nya terhadap alam. Mengukur kebesaran Allah lihatlah pada langit dan cakrawala, bagaimana gugusan-gugusan alam semesta begitu indah. Matahari, bulan dan bintang memberi sinar sesuai porsi waktu. Air dan darat dipisahkan dengan peran yang indah, makin kita menelusuri alam makin kita terkagum-kagum akan kebesaran Tuhan. Malam datang, kemudian pagi setelah pagi ada siang, senja lalu kembali malam. Semua berjalan sesuai urutan waktu yang indah. Perbedaan waktu di hampir seluruh bumi dirancang oleh Tuhan agar semua umat mengagumi kebesaran-Nya. John Ernest, seorang yang menginjakkan kaki di bulan, ia juga merupakan manusia pertama yang mengendarai mobil di bulan. Memberi kesaksian, saat ia menginjakkan kaki di bulan, ia langsung berdoa dan di bulan pun ia bertobat. Setiap kita punya pengalaman iman yang berbeda dalam hidup dan kebaikan Tuhan selalu dinyatakan berbeda-beda untuk setiap pribadi, karena keragaman itulah yang membuat kita semakin bertumbuh dan kesaksian atau cerita itu menguatkan, jangan malu untuk menceritakan kebaikan Tuhan dalam hidup kita kepada orang banyak karena melaluinya kita bisa menguatkan orang lain dalam iman dan nama Tuhan dimuliakan. Jadi marilah nyatakan kemuliaan Allah melalui kesaksian kita.

Doa:  Tuhan, Mampukan aku untuk berani bersaksi menceritakan kemuliaan-Mu dan menjadi terang untuk mereka. Amin.

Senin, 24 Januari 2022                           

bacaan : 1 Tawarikh 16 : 7 – 18

Nyanyian puji-pujian Daud
7 Kemudian pada hari itu juga, maka Daud untuk pertama kali menyuruh Asaf dan saudara-saudara sepuaknya menyanyikan syukur bagi TUHAN: 8 Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! 9 Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! 10 Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! 11 Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! 12 Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Ny dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, 13 hai anak cucu Israel, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya! 14 Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya. 15 Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, akan firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan, 16 yang diikat-Nya dengan Abraham, dan akan sumpah-Nya kepada Ishak, 17 diadakan-Nya bagi Yakub menjadi ketetapan, bagi Israel menjadi perjanjian kekal, 18 firman-Nya: "Kepadamu akan Kuberi tanah Kanaan sebagai milik pusaka yang ditentukan bagimu."

Bercerita Melalui Nyanyian

Memperkenalkan perbuatan-Nya artinya memberitahukan agar semua orang tahu tentang perbuatan Allah. Memperkenalkan juga berarti mempromosikan Tuhan kepada orang lain dan hidup kita adalah untuk mempromosikan perbuatan Tuhan. Untuk dapat mempromosikan sesuatu harus ada sumber atau buktinya. Begitu juga ketika kita mempromosikan Tuhan, kita harus memiliki bukti atau sumber yang dapat dipercaya dan sumber promosi itu diri kita sendiri. Saat Tuhan diperkenalkan, kehidupan kita juga harus menunjukkan  keberadaan sebagai orang percaya supaya orang lain pun memuliakan Tuhan. Daud dengan nyanyiannya mengundang umat Tuhan untuk memuji kebesaran Tuhan, sebab layaklah umat Tuhan memuliakan Tuhan dalam kehidupannya. Nyanyian jemaat tidak hanya untuk enak didengar oleh telinga bukan karena suara yang merdu bukan juga karena kepiawaian dalam memainkan alat musik. Tetapi nyanyian jemaat adalah penyataan iman tentang perbuatan Allah yang besar. Ketika kita bernyamyi memuji Tuhan itu juga berarti kita menceritakan perbuatan-Nya dalam hidup kita. Memang Tuhan tidak memaksa kita untuk punya suara yang merdu untuk memuji-Nya tetapi alangkah lebih baik juga bernyanyi tidak asal-asalan. Bila kita ingin memuji Tuhan, lakukanlah  persiapan dengan matang. Saat kita  menceritakan kebaikan Tuhan dengan nyanyian, haruslah disampaikan dengan sepenuh hati dan syukur karena Tuhan, bukan karena ingin tampil dan menjadi pusat perhatian. Ceritakan kebaikan Tuhan dengan caramu sendiri sebab Ia pasti berkenan dengan semua hal yang engkau aktakan.

Doa: Tuhan, mampukan aku untuk bernyanyi memuji dan memuliakan nama-Mu dengan sepenuh hati. Amin.

Selasa, 25 Januari 2022                          

bacaan : 1 Tawarikh 16 : 19 – 27

19 Ketika jumlah mereka tidak seberapa, sedikit saja, dan mereka orang-orang asing di sana, 20 dan mengembara dari bangsa yang satu ke bangsa yang lain, dan dari kerajaan yang satu ke suku bangsa yang lain, 21 Ia tidak membiarkan siapapun memeras mereka; dihukum-Nya raja-raja oleh karena mereka: 22 "Jangan mengusik orang-orang yang Kuurapi, dan jangan berbuat jahat terhadap nabi-nabi-Ku!" 23 Bernyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. 24 Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuata yang ajaib di antara segala suku bangsa. 25 Sebab besar TUHAN dan terpuji sangat, dan lebih dahsyat Ia dari pada segala allah. 26 Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah berhala, tetapi Tuhanlah yang menjadikan langit. 27 Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan sukacita ada di tempat-Nya.

Mensyukuri Segala Perbuatan Tuhan

Tidak sedikit dari para penulis lagu yang merangkaikan setiap syair lagunya itu (baik gendre musik pop, dangdut, country dll) berdasarkan pengalaman pribadi mereka. Begitu pula dengan lagu himne dalam kidung-kidung rohani seperti kidung jemaat dan pelengkap kidung jemaat, yang sering dinyanyikan oleh kita dalam ibadah jemaat maupun wadah-wadah pelayanan organisasi gereja. Demikian juga raja Daud yang kita kenali dengan berbagai `pujian dan puisinya dalam kitab Mazmur. Setiap syair yang ditulisnya itu lahir dari pengalaman hidupnya secara pribadi maupun kehidupan bersama dengan bangsa Israel.  Bacaan hari ini adalah salah satu bukti syair Daud yang didasarkan pada pengalaman iman. Nyanyian puji-pujiannya juga mengungkapkan pengalaman bangsa Israel yang merasakan perbuatan Allah yang ajaib dengan melindungi serta menyertai mereka dari ancaman bangsa-bangsa lain, sehungan dengan kepemilikan tanah perjanjian (ayat 21 dan 22). Pujian syukur raja Daud atas segala perbuatan Allah patutlah diteladani oleh kita sebagai orang percaya. Benar adanya pengalaman hidup bukan hanya terkait dengan kebahagiaan dan sukacita saja, melainkan berbagai macam ketidakadilan dan kepahitan. Namun, kita pun harus meyakini bahwa apapun yang terjadi semua ada dalam kendali Allah. Ia akan selalu melindungi dan menyertai orang-orang yang dikasihi-Nya dan tak akan pernah menguji melewati batas kemampuan kita. Dalam setiap rencana dan rancangan-Nya, Ia akan selalu menganugerahkan kekuatan dan sukacita. Sebab Allah kita besar dan dasyat, keselamatan berasal dari pada-Nya. Dengan bersyukur memperlihatkan pengakuan atas kuasa dan campur tangan Allah dalam kehidupan kita. Tetaplah bersyukur dengan doa dan puji-pujian, sebab dengan ugkapan syukur itulah yang membuktikan sekaligus menunjukan cara kita menceriterakan kemulian Allah.

Doa:  Ya Tuhan, ajarilah kami untuk selalu bersyukur atas setiap perbuatan yang Engkau nyatakan dalam hidup kami. Amin.

Rabu, 26 Januari 2022                             

bacaan : 1 Tawarikh 16 : 28 – 36

28 Kepada TUHAN, hai suku-suku bangsa, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan! 29 Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah menghadap Dia! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan. 30 Gemetarlah di hadapan-Nya hai segenap bumi; sungguh tegak dunia, tidak bergoyang. 31 Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah orang berkata di antara bangsa-bangsa: "TUHAN itu Raja!" 32 Biarlah gemuruh laut serta isinya, biarlah beria-ria padang dan segala yang di atasnya, 33 maka pohon-pohon di hutan bersorak-sorai di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. 34 Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 35 Dan katakanlah: "Selamatkanlah kami, ya TUHAN Allah, Penyelamat kami, dan kumpulkanlah dan lepaskanlah kami dari antara bangsa-bangsa, supaya kami bersyukur kepada nama-Mu yang kudus, dan bermegah dalam puji-pujian kepada-Mu." 36 Terpujilah TUHAN, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Maka seluruh umat mengatakan: "Amin! Pujilah TUHAN!"

Kebaikan Dan Kasih Setia Tuhan Tak Terbatas

Mengangkat puji-pujian, bermazmur, mendengarkan kebenaran Firman Tuhan serta berdoa merupakan bagian yang dilakukan sebagai orang percaya yang kita kenal dengan ibadah. Hal ini dilakukan baik secara persekutuan yang besar di gereja maupun dalam kelompok-kelompok kecil seperti wadah-wadah pelayanan sebagai tanda ungkapan syukur. Inilah yang dimaksudkan oleh raja Daud dalam bacaan kita sebagai respons mengsyukuri kebaikan Tuhan dan pengakuan atas kemuliaan-Nya. Berilah kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya…..(ay 29) merupakan jawaban yang harus kita nyatakan atas kebaikan dan kemurahan Tuhan yang dianugerahkan dalam seluruh kehidupan kita. Akan tetapi seringkali ibadah yang adalah persekutuan dengan Allah, kita jalankan hanya sebatas rutinitas tanpa memaknai nilai-nilai penting yang terkandung di dalamnya. Bahkan ibadah dapat berlangsung dengan berbagai motifasi dan tujuan yang tidak benar. Pelayan maupun umat mungkin saja beribadah dengan tujuan yang tidak benar, yakni mencari keuntungan, perhatian dan lain sebagainya. Sedangkan inti dari ibadah itu sendiri merupakan keyakinan bahwa Allah ada, hadir dan berkenan didapati oleh kita yang mencari dan meninggikan Dia. Itu berarti kita harus melakukannya dengan sungguh-sungguh disertai dengan ketulusan hati. Ingatlah ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang (1 Tim 4:8). Kita diajarkan untuk terus memuliakan Allah sebab Ia layak menerima puji-pujian kita. Bersyukur kepada-Nya, sebab Ia mengasihi dan memberikan keselamatan bagi kita. Kebaikan dan kasih setia-Nya tidak pernah berubah dan tetap untuk selama-lamanya. Tetaplah mengsyukuri kebaikan dan kasih setia Tuhan yang tak terbatas itu dengan terus memuliakan-Nya.

Doa:  Ya Tuhan, ajari kami memaknai setiap ibadah sebagai ungkapan syukur atas kasih-Mu. Amin.

Kamis, 27 Januari 2022                                 

bacaamn : Yohanes 11 : 1 – 5

Lazarus dibangkitkan
Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. 2 Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya. 3 Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: "Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit." 4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan." 5 Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus.

Allah Berkuasa Atas Segala Sesuatu

Ternyata selama sepuluh tahun penyakit yang mematikan itu berkembang dan menggerogoti tubuh ini tanpa menunjukan gejalah apapun.  Gejalanya baru muncul pada pertengahan tahun 2020. Kondisi yang mulai menurun akhirnya memaksakan saya untuk memeriksakan diri ke dokter ahli kandungan dan hasil dari diagnosa dokter, saya menderita kanker servicks stadium 2B. terkejut, bingung, sedih, stres bercampur aduk menjadi satu di tambah dengan penanganan yang harus dilakukan secepatnya namun terbatas secara finansial. Tuhan peduli dengan semua penderitaan yang saya alami. Ia menolong dengan cara menggerakan hati orang lain untuk membiayai semua proses pengobatan tersebut. Tahap demi tahap dijalani dan akhirnya ketakutan terbesar itu berubah menjadi sukacita karena saya dinyatakan sembuh total (tutur seorang ibu berusia 39 thn). Penderitaan karena sakit penyakit jugalah, yang dirasakan oleh Lazarus sehingga kedua saudara perempuannya terdorong untuk memberitahukan hal tersebut kepada Yesus. Kata Yesus: penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu anak Allah akan dimuliakan. Perkataan-Nya itu terbukti dengan fakta Lazarus di bangkitkan (ay 44). Hal ini menunjukan  bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu yang terjadi termasuk penderitaan bahkan kematian manusia. Seringkali kita diperhadapkan dengan berbagai macam masalah serta penderitaan dalam hidup, baik  berkaitan dengan kehidupan keluarga, pekerjaan, ekonomi, hubungan sosial dan kesehatan yang berdampak buruk. Namun, renungan hari ini mengajarkan kita untuk tetap berserah kepada Allah di dalam Yesus, sebab Ia berkuasa mengubah segala masalah dan penderitaan yang kita alami. Percayakan seluruh hidup kita kepada-Nya, karena rencana dan rancangan Allah itu indah, memberikan damai serta sukacita.

Doa:  ajari kami ya Tuhan, untuk terus meyakini kuasa-Mu. Amin.

Jumat, 28 Januari 2022                                

bacaan : Mazmur 115 : 1 – 18

Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu! 2 Mengapa bangsa-bangsa akan berkata: "Di mana Allah mereka?" 3 Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya! 4 Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, 5 mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, 6 mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium, 7 mempunyai tangan, tetapi tidak dapat meraba-raba, mempunyai kaki, tetapi tidak dapat berjalan, dan tidak dapat memberi suara dengan kerongkongannya. 8 Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadanya. 9 Hai Israel, percayalah kepada TUHAN! --Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka. 10 Hai kaum Harun, percayalah kepada TUHAN! --Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka. 11 Hai orang-orang yang takut akan TUHAN, percayalah kepada TUHAN! --Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka. 12 TUHAN telah mengingat kita; Ia akan memberkati, memberkati kaum Israel, memberkati kaum Harun, 13 memberkati orang-orang yang takut akan TUHAN, baik yang kecil maupun yang besar. 14 Kiranya TUHAN memberi pertambahan kepada kamu, kepada kamu dan kepada anak-anakmu. 15 Diberkatilah kamu oleh TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. 16 Langit itu langit kepunyaan TUHAN, dan bumi itu telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia. 17 Bukan orang-orang mati akan memuji-muji TUHAN, dan bukan semua orang yang turun ke tempat sunyi, 18 tetapi kita, kita akan memuji TUHAN, sekarang ini dan sampai selama-lamanya. Haleluya!

Seutuhnya Percaya Kepada Allah

Bagai mencincang air adalah pribahasa yang berarti melakukan pekerjaan yang sia-sia. Hal ini sama dengan kepercayaan kepada berhala-berhala buatan tangan manusia dari emas dan perak yang tidak dapat melakukan apapun seperti yang digambarkan oleh pemazmur dalam bacaan kita hari ini. Mempunyai mulut, mata, telinga, hidung, tangan, kaki dan kerongkongan tetapi semuanya itu sama sekali tidak memiliki fungsi (ay 5-7). Selain itu, pemazmur juga mau menyampaikan pentingnya memiliki kepercayaan yang utuh kepada Allah, sebab hanya nama-Nya yang patut menerima kemuliaan dan puji-pujian. Dia adalah Allah yang penuh dengan kasih dan setia, Dia adalah sumber pertolongan dan perisai serta Allah yang senantiasa memberkati mereka yang percaya kepada-Nya. Indentitas yang melekat pada diri kita sebagai orang percaya tidak serta merta menunjukan kepercayaan yang sesungguhnya kepada Allah. Sebab tanpa kita sadari identitas itu terkadang bertolak belakang dengan perkataan, sikap dan juga perbuatan sehari-hari.  Seringkali kita menaruh harapan kepada hal-hal duniawi yang dapat memenuhi hasrat  sebagai manusia, baik untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan sekelompok orang. Upaya untuk memenuhi hasrat itu, secara tidak langsung menggambarkan ketidak percayaan kita secara utuh kepada Allah. Kita lupa bahwa berharap tanpa melibatkan Tuhan sama dengan melakukan sesuatu yang sia-sia.  Latihlah dirimu agar tidak mempercayai sesuatu yang semu, melainkan tetap mantapkan hati untuk terus percaya kepada Allah. Percaya kepada Allah tidak hanya sebatas usapan jempol belaka tetapi ditunjukan dengan iman yang sungguh-sungguh. Karena hanya Dia yang dengan kasih setia-Nya mampu menolong dan memberkati kita.

Doa: Ya Tuhan, teguhkanlah selalu iman percaya kami kepada-Mu. Amin.

Sabtu, 29 Januari 2022                            

bacaan : 1 Korintus 10 : 27 – 33

27 Kalau kamu diundang makan oleh seorang yang tidak percaya, dan undangan itu kamu terima, makanlah apa saja yang dihidangkan kepadamu, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani. 28 Tetapi kalau seorang berkata kepadamu: "Itu persembahan berhala!" janganlah engkau memakannya, oleh karena dia yang mengatakan hal itu kepadamu dan karena keberatan-keberatan hati nurani. 29 Yang aku maksudkan dengan keberatan-keberatan bukanlah keberatan-keberata hati nuranimu sendiri, tetapi keberatan-keberatan hati nurani orang lain itu. Mungkin ada orang yang berkata: "Mengapa kebebasanku harus ditentukan oleh keberatan-keberatan hati nurani orang lain? 30 Kalau aku mengucap syukur atas apa yang aku turut memakannya, mengapa orang berkata jahat tentang aku karena makanan, yang atasnya aku mengucap syukur?" 31 Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 32 Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. 33 Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.

Hanya Untuk Kemuliaan Allah

Ketika diperhadapkan dengan pilihan antara susah dan senang juga rugi atau untung, kita pasti akan menjatuhkan pilihan pada yang bersifat menyenangkan dan menguntungkan. Apalagi hal itu memberi kesenangan dan keuntungan pada diri kita. Sejalan dengan itu dapatkah kita melakukan sesuatu yang berdampak positif dan menguntungkan bagi orang lain? Banyak orang memiliki jiwa sosial dan fokus pada kepentingan bersama, tetapi tidak sedikit orang yang hanya mementingkan diri sendiri. Rasul Paulus dalam bacaan kita hari ini mau menegasan bahwa baik makan, minum bahkan segala sesuatu yang kita lakukan harus disertai dengan prinsip bahwa semata-mata hanya untuk kemuliaan Allah (ay 31). Ia juga berusaha menyenangkan hati orang lain, bukan untuk kepentingannya melainkan untuk kepentingan banyak orang agar mereka beroleh selamat (ay 33). Hal ini memperlihatkan kepribadian rasul Paulus yang peduli kepada sesama bukan untuk mencari keuntungan tapi sebaliknya supaya orang lain juga diselamatkan dan untuk kemuliaan Allah. Dua hal di atas patutlah diteladani oleh kita  sebagai orang percaya. Sebab seringkali tanpa kita sadari perbuatan baik kita dilatarbelakangi oleh keinginan-keinginan yang memberi keuntungan bagi diri sendiri. Bahkan dengan sengaja dan tanpa rasa bersalah, kita merampas dan menikmati hak orang lain. Belajarlah dan hidup sebagai orang percaya yang tidak mengabaikan  kepentingan sesama, sebagai bentuk  kepedulian dan kasih. Ingatlah bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dengan tulus biarlah semata-mata hanya untuk kemuliaan Allah. Janganlah hidup untuk diri sendiri tetapi jadilah berkat bagi sesama.

Doa:  Tuhan, ajari kami untuk mengutamakan kepentingan bersama dari pada    kepentingan pribadi. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN JANUARI 2022; LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 16 – 22 Januari 2022

Tema Mingguan : ” Menghargai Kasih Setia Allah “

Minggu, 16 Januari 2022                              

bacaan : Mazmur 36 : 1 – 13

Kefasikan orang berdosa dan kasih setia Allah
Untuk pemimpin biduan. Dari hamba TUHAN, dari Daud. (36-2) Dosa bertutur di lubuk hati orang fasik; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu, 2 (36-3) sebab ia membujuk dirinya, sampai orang mendapati kesalahannya dan membencinya. 3 (36-4) Perkataan dari mulutnya ialah kejahatan dan tipu daya, ia berhenti berlaku bijaksana dan berbuat baik. 4 (36-5) Kejahatan dirancangkannya di tempat tidurnya, ia menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik; apa yang jahat tidak ditolaknya. 5 (36-6) Ya TUHAN, kasih-Mu sampai ke langit, setia-Mu sampai ke awan. 6 (36-7) Keadilan-Mu adalah seperti gunung-gunung Allah, hukum-Mu bagaikan samudera raya yang hebat. Manusia dan hewan Kauselamatkan, ya TUHAN. 7 (36-8) Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu. 8 (36-9) Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah-Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu. 9 (36-10) Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang. 10 (36-11) Lanjutkanlah kasih setia-Mu bagi orang yang mengenal Engkau, dan keadilan-Mu bagi orang yang tulus hati! 11 (36-12) Janganlah kiranya kaki orang-orang congkak menginjak aku, dan tangan orang fasik mengusir aku. 12 (36-13) Lihat, orang-orang yang melakukan kejahatan itu jatuh; mereka dibanting dan tidak dapat bangun lagi.

Kasih Setia Tuhan Menyertai Mereka yang Berlindung Pada-Nya

Jika kita suka menonton berita di TV, mendengar  radio atau membaca koran, maka setiap hari pasti ada suguhan berita kriminal. Entah itu yang terjadi pada lingkungan kita maupun di tempat lain. Kejahatan memang telah merajalela di seantero jagad raya. Namun tidak kurang juga berita-berita yang memuat kisah tentang perbuatan baik seseorang atau sekelompok orang terhadap sesamanya. Jadi apa yang diungkapakan para pemazmur ribuan tahun terjadi juga dalam kehidupan kita saat ini. Ada orang fasik, namun ada juga orang benar seperti yang ada dalam bacaan kita Mazmur 36 : 1 – 13. Jika kita membaca bagian ini dengan cermat maka kita akan menemukan kemiripannya dengan Mazmur 1. Keduanya berbiacara tentang orang fasik versus orang benar namun dengan posisi terbalik. Mazmur 1 membahas orang benar baru orang fasik sementara Mazmur 36 membahas soal orang fasik lebih dulu baru orang benar.

Orang-orang fasik memenuhi hidup mereka dengan dosa dan kejahatan. Mereka tidak takut Tuhan. Perkataan, pikiran, dan perbuatan mereka penuh dengan kejahatan dan tipu daya. Mereka ini ada di seputar Daud, tapi ia tidak takut terhadap mereka, sebaliknya  dapat merasakan besar dan berharganya kasih setia Tuhan dalam kehidupannya. Kasih setia Tuhan juga dialami orang lain yang mengenal dan mengandalkan Tuhan sehingga Ia menyelamatkan, melindungi, memelihara, dan menuntun kehidupan mereka. Tuhan menjadi tempat perlindungan paling aman di dunia ini bagi mereka yang percaya dan mengandalkan Dia.Saudaraku, ada banyak orang fasik di sekitar kita. Jangan arahkan pandangan kita kepada mereka, pandang saja pada Yesus, berharap dan percayalah maka kasih setia-Nya akan menyelamatkan  dan orang fasik akan dibinasakan.

Doa: Tuhan, kami hanya mau berlindung pada-Mu. Amin.

Senin, 17 Januari 2022                                          

bacaan : Hosea 6 : 4 – 6

4 Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Efraim? Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Yehuda? Kasih setiamu seperti kabut pagi, dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar. 5 Sebab itu Aku telah meremukkan mereka dengan perantaraan nabi-nabi, Aku telah membunuh mereka dengan perkataan mulut-Ku, dan hukum-Ku keluar seperti terang. 6 Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.

Betobatlah Dengan Sungguh, Bukan Hanya Di Bibir Saja 

Masih ingat Brenda pada SHK dua hari lalu? Suatu hari Brenda menyatakan penyesalannya dan meminta maaf kepada orang tuanya. Ia berjanji untuk tidak melakukan kesalahan dan membuat orang tuanya marah lagi. Namun rupanya penyesalan itu hanya berumur sehari saja. Karena Brenda kembali lagi dalam kehidupan lamanya. Ia kembali berulah dan membuat kesal orang tua dan saudara-saudaranya. Penyesalan Brenda hanyalah penyesalan di bibir saja.

Keadaan Brenda mirip dengan kehidupan umat Israel di zaman nabi Hosea. Tuhan memandang bahwa pengakuan yang dibuat Israel bukanlah pertobatan sejati. Ibadah dan korban yang mereka persembahkan untuk memohon pengampunan Tuhan tidak lebih dari ibadah semu semata. Mereka hanya menginginkan belas kasihan Tuhan agar mereka terluput dari hukuman-Nya bukan karena mereka betul-betul ingin berubah dan bertobat. Tuhan sangat tidak suka dengan kelakuan umat-Nya ini. Karena yang dituntut dari umat adalah pertobatan yang sungguh. Tuhan ingin agar kasih dan kesetian-Nya terhadap mereka dapat dibalas dengan kasih mereka yang tulus kepada Dia juga.

Saudaraku, pertobatan sejati mestinya disertai bukti bahwa dosa telah ditinggalkan. Tidak lagi melakukan kesalahan yang sama atau yang baru, itu yang Tuhan mau. Dalam kehidupan sesehari, masih banyak pertobatan palsu yang kita temukan. Mengaku dosa hanya di bibir tetapi hati masih menikmati kejahatan. Mengaku dosa hanya untuk menghidari hukuman. Ingatlah bahwa Tuhan mengasihi kita, bahwa kasih dan kesetiaan-Nya tak dijauhkan dari kita, tetapi Ia juga tak mau dipermainkan. Ada waktu untuk Tuhan bertindak. Jangan lupa, Tuhan itu maha mengetahui karena itu kita kitak bisa mempermainkan Dia dengan kebohongan dan kemunafikan. Karena itu, mari kita menyatakan penyesalan dengan hati, bukan bibir agar kita diampuni dan Tuhan dipemuliakan.

Doa: Tuhan tolong kami ‘tuk bertobat dengan hati, bukan hanya di bibir. Amin.

Selasa, 18 Januari 2022                                      

bacaan : Hosea 11 : 1 – 4

Kasih TUHAN mengalahkan kedegilan orang Israel
Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu. 2 Makin Kupanggil mereka, makin pergi mereka itu dari hadapan-Ku; mereka mempersembahkan korban kepada para Baal, dan membakar korban kepada patung-patung. 3 Padahal Akulah yang mengajar Efraim berjalan dan mengangkat mereka di tangan-Ku, tetapi mereka tidak mau insaf, bahwa Aku menyembuhkan mereka. 4 Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih. Bagi mereka Aku seperti orang yang mengangkat kuk dari tulang rahang mereka; Aku membungkuk kepada mereka untuk memberi mereka makan.

Kasih Setia Tuhan Tak Berkesudahan

Evert, ponakan saya sudah berumur 11 bulan. Dia sedang giat-giatnya diajar berjalan oleh ibunya. Evert kecil kadang seperti terlihat sudah sangat siap berjalan dengan menapakkan satu atau dua langkah. Namun, saat ia meneruskan langkah berikutnya, kakinya mulai goyah dan kadang langsung terjatuh. Ketika itu terjadi, ibunya dengan sigap langsung meraih tangannya dan menuntunnya untuk berjalan kembali. Kami bertepuk tangan dan menyemangatinya untuk belajar melangkah lagi.

Nabi Hosea dalam bacaan ini menggambarkan kasih Tuhan yang besar kepada Israel. Berkali-kali Israel meninggalkan Tuhan, namun Tuhan senantiasa mengulurkan tangan-Nya untuk menolong. Tuhan tidak pernah merasa lelah mengajar mereka untuk berjalan dalam kehendak-Nya. Tuhan, dengan tangan yang perkasa, mendorong kita untuk berani melangkah menuju masa depan tanpa takut. Jika jatuh, tangan-Nya pasti meraih dan segera memegang kita. Dia akan menopang kita. Dengan sabar dan tanpa menyerah, Tuhan memantau setiap kemajuan kita. Semakin sulit proses yang kita hadapi, maka semakin besar perhatian dan kebaikan yang dicurahkan-Nya.

Hari ini, jika kita merasa terpuruk oleh berbagai situasi hidup, mari segera datang kepada-Nya. Jangan ragu akan kasih-Nya yang besar dan sanggup memulihkan Anda. George MacDonald berkata, “Allah akan membantu ketika kita tidak dapat berjalan, dan Dia juga akan membantu pada saat kita sulit untuk berjalan. Akan tetapi, Dia tidak dapat membantu apabila kita tidak mau berjalan.” Sambutlah kasih-Nya yang besar!

Doa: Tuhan, tuntunlah kami agar senantiasa berjalan di jalanMu. Amin.

Rabu, 19 Januari 2022                                    

bacaan : Hosea 12 : 1 – 7

Efraim dan Yakub bapa leluhurnya
(12-2) Efraim menjaga angin, dan mengejar angin timur sehari suntuk, memperbanyak dusta dan pemusnahan; mereka mengadakan perjanjian dengan Asyur, dan membawa minyak kepada Mesir. 2 (12-3) TUHAN mempunyai perbantahan dengan Yehuda, Ia akan menghukum Yakub sesuai dengan tingkah lakunya, dan akan memberi balasan kepadanya sesuai dengan perbuatan-perbuatannya. 3 (12-4) Di dalam kandungan ia menipu saudaranya, dan dalam kegagahannya ia bergumul dengan Allah. 4 (12-5) Ia bergumul dengan Malaikat dan menang; ia menangis dan memohon belas kasihan kepada-Nya. Di Betel ia bertemu dengan Dia, dan di sanalah Dia berfirman kepadanya: 5 (12-6) --yakni TUHAN, Allah semesta alam, TUHAN nama-Nya-- 6 (12-7) "Engkau ini harus berbalik kepada Allahmu, peliharalah kasih setia dan hukum, dan nantikanlah Allahmu senantiasa."

Jangan Diulangi Lagi

Israel adalah umat pilihan Allah. Mereka mewarisi janji keselamatan dan berkat nenek moyangnya. Hal ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi mereka. Sayangnya, mereka sering lupa bahwa warisan itu juga menuntut tanggung jawab. Mereka harus hidup setia di hadapan Tuhan. Berulang kali sepanjang sejarah, mereka lalai menjaga kesetiaan kepada Tuhan. Tuhan menegur umat-Nya dengan perantaraan Nabi Hosea. Tuhan memperlihatkan dosa-dosa umat, termasuk juga dosa-dosa nenek moyang mereka. Umat Israel telah dipilih dan diberkati bukan karena kebaikan mereka, melainkan hanya karena kasih Tuhan kepada mereka. Karena itu, keselamatan dan berkat Tuhan harus ditanggapi dengan penuh syukur. Salah satunya ialah menjalani hidup dengan kesungguhan dan tidak menyia-nyiakan anugerah-Nya. Umat pilihan itu harus menghargai kasih setia Allah. Umat Israel sering jatuh pada kesalahan bermegah diri dan mendua hati. Melalui Hosea, Tuhan memanggil mereka untuk berbalik kepada-Nya. Mereka harus  memelihara kasih setia dan hukum, serta tekun menantikan Tuhan. Jika kita melakukan kesalahan, maka minta ampun dan jangan dilakukan lagi. Belajarlah dari kesalahan itu dan berusahalah jadi pribadi yang lebih baik, jangan juga menyesali apa yang sudah terjadi, fokus ke depan pandang Tuhan dan selalu berikan yang terbaik untuk-Nya.

Doa: Tuhan, mampukan aku untuk selalu menghargai kasih setia-Mu, mampukan aku Tuhan untuk menjadi yang terbaik versi diriku untuk Kemuliaan-Mu. Amin.

Kamis, 20 Januari 2022                                

bacaan : Mazmur 13 : 1 – 6

Doa kepercayaan
Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (13-2) Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? 2 (13-3) Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku? 3 (13-4) Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati, 4 (13-5) supaya musuhku jangan berkata: "Aku telah mengalahkan dia," dan lawan-lawanku bersorak-sorak, apabila aku goyah. 5 (13-6a) Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. 6 (13-6b) Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.

Jangan Mengeluh, Hitung Kasih Setianya

Pemazmur, yakni Daud mengeluhkan tentang pergumulan hidupnya. Ia merasa hidupnya terpojok dan tertekan. Kehidupannya berubah setelah ia berhasil mengalahkan Goliat. Saat itu ia banyak mendapat sanjungan dan dielu-elukkan, sayangnya Saul iri hati kepada Daud. Peristiwa ini menjadi awal yang membuat Daud tidak nyaman dekat dengan Saul, sebab Saul menggunakan segala kesempatan untuk membunuh Daud. Kondisi tersebut disikapi Daud dengan cara mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan dan meminta pertolongan. Ia tetap percaya akan kesetiaan Tuhan dan tidak berhenti berharap pada-Nya. Perikop ini ditutup oleh  pengakuan pemazmur bahwa ia akan terus memuji Tuhan karena apa yang sudah dilakukan-Nya dalam kehidupannya. Dalam hidup pasti ada tantangan, ketika tantangan datang marilah fokus pada kebaikan dan kesetiaan Tuhan bukan fokus pada tantangannya. Tetaplah ingat akan kebaikan dan kesetiaan-Nya. Sekalipun ada banyak tantangan tapi teruslah berharap pada penyertaan-Nya. Ingatlah bahwa  walaupun banyak pergumulan tapi Tuhan selalu menopang dan mendengar setiap doa serta permohonan. Bersyukur pada kasih setia Tuhan yang masih kita alami sampai hari ini, mari bersujud, bernyanyi memuji Tuhan, hitung berkat-berkat-Nya bukan menghabiskan waktu dengan mengeluh.

Doa: Tuhan, mampukan untuk selalu bersyukur apapun keadaanku, biarlah dari mulutku selalu ku senandungkan kebaikan-Mu dalam hidupku Amin.

Jumat, 21 Januari 2022                               

Ulangan 7 : 7 – 11

7 Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu--bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? -- 8 tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir. 9 Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan, 10 tetapi terhadap diri setiap orang dari mereka yang membenci Dia, Ia melakukan pembalasan dengan membinasakan orang itu. Ia tidak bertangguh terhadap orang yang membenci Dia. Ia langsung mengadakan pembalasan terhadap orang itu. 11 Jadi berpeganglah pada perintah, yakni ketetapan dan peraturan yang kusampaikan kepadamu pada hari ini untuk dilakukan."

Dipilih Tuhan, Bertanggung Jawablah

Ulangan 7:7-11 memperlihatkan bagaimana Musa, memanggil para tua-tua dan menyampaikan kepada bangsa Israel segala yang difirmankan oleh Allah untuk disampaikan kepada umat-Nya itu. Musa menegaskan status umat Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan..”sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan, Allahmu, dari segala bangsa di atas bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya”(ay.6). Pemilihan dan pemberian status sebagai bangsa pilihan Tuhan bagi bangsa Israel bukan karena jumlah mereka yang banyak tapi karena Tuhan-lah yang berkehendak. Hal yang mendasari pemilihan Allah bagi bangsa ini, bukan karena siapa bangsa Israel, melainkan siapa Allah. Jadi penekanan  dalam pemilihan ini bukan terletak pada “bangsa” Israel tapi terletak pada siapa Allah. Pemilihan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan tidak didasarkan pada apa yang mereka lakukan bagi Allah, melainkan apa yang Allah lakukan bagi mereka. Allah sampai sedemikian mengasihi kita, Ia mempercayai kita, kita dipilih untuk masuk dalam rencana besar-Nya untuk kemuliaan-Nya, bagaimana sikap kita meresponi kasih setia-Nya? Dengan hidup sesuai dengan kehendak Allah, melakukan tugas dan tanggung jawab sebaik mungkin jangan malas, tetapi lakukan itu dengan penuh tanggung jawab apapun itu yang dipercayakan kepada kita jangan disia-siakan.

Doa:  Tuhan, Terima kasih karena Engkau telah memilihku, lengkapi aku Tuhan dan biarlah aku selalu berkenan pada pemandangan-Mu Amin.

Sabtu, 22 Januari 2022                                 

bacaan : Mazmur 89 : 1 – 8

Kesetiaan TUHAN kepada Daud
Nyanyian pengajaran Etan, orang Ezrahi. (89-2) Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. 2 (89-3) Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. 3 (89-4) Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: 4 (89-5) Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun." Sela 5 (89-6) Sebab itu langit bersyukur karena keajaiban-keajaiban-Mu, ya TUHAN, bahkan karena kesetiaan-Mu di antara jemaah orang-orang kudus. 6 (89-7) Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar dengan TUHAN, yang sama seperti TUHAN di antara penghuni sorgawi? 7 (89-8) Allah disegani dalam kalangan orang-orang kudus, dan sangat ditakuti melebihi semua yang ada di sekeliling-Nya.

Jaminan Sudah di Tangan, Peliharalah

Tuhan memperlakukan umat-Nya sebagai pribadi yang dewasa. Karena itu, hubungan antara Tuhan dan umat-Nya diikat dalam bentuk perjanjian. Ikatan perjanjian hanya dapat dilakukan oleh orang dewasa karena mereka telah mengerti hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya. Lazimnya, kedudukan kedua belah pihak yang mengadakan suatu perjanjian adalah setara. Namun, perjanjian seperti yang disaksikan dalam Alkitab, kesetaraan itu tidak dapat dikenakan kepada Tuhan. Itu sebabnya, perjanjian antara Allah dan umat-Nya disebut perjanjian anugerah. Isi perjanjian itu adalah Tuhan menjadi Allah Israel dan menjamin kehidupan umat-Nya, sedangkan bangsa Israel menjadi umat pilihan-Nya. Jaminan Tuhan kepada Israel dinyatakan-Nya melalui Daud sebagai raja yang diurapi. Karena itu, seorang raja wajib melaksanakan titah Tuhan dengan cara menyejahterakan rakyatnya. Kita sudah mendapatkan jaminan anugerah Allah, cara untuk berterima kasih dan menghargai kasih setia-Nya adalah dengan taat dan eratkan hubunganmu dengan Tuhan, lakukan apa yang menjadi tanggung jawabmu dengan sukacita, jangan bersunggut. Lakukan saja apa yang menjadi bagianmu. Setiap kita punya panggilan masing-masing untuk dilakukan. Lakukan itu dengan setia, lakukan itu dengan dedikasimu bukan karena mengharapkan imbalan tetapi karena kasih setia-Nya selalu tercurah dalam hidup kita. SEPATU = Selalu Pandang Tuhan, Tuhan sangat baik dan terlalu baik di hidupmu. Nyatakanlah kebaikan-Nya dalam hidupmu. Tersenyumlah menapaki hari yang penuh kepastian bersama dengan Tuhan.

Doa:  Tuhan, Mampukan aku memelihara setiap anugerah-Mu dalam hidupku, ajarku melakukan kehendak-Mu setiap hari sehingga hidupku berkenan. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN JANUARI 2022; LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 9-15 Januari 2022

Tema Mingguan : ” Percayalah Kepada Yesus Sumber Kehidupan “

Minggu, 09 Januari 2022                          

bacaan : Yohanes 6 : 25 – 59

Roti hidup
25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?" 26 Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. 27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." 28 Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" 29 Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah."

Jangan Pesimis! Yesus Sumber Kehidupan

Pernyataan “Aku adalah roti hidup” (Yoh. 6:35) merupakan penyataan pertama dari tujuh pernyataan Yesus tentang diri-Nya “Aku adalah”. Dengan peryataan ini, Yesus hendak menegaskan aspek penting dari pelayanan pribadi Kristus untuk mendorong dan membangun rasa percaya dari orang-orang Kristen saat itu. Pernyataan tentang “Aku adalah roti hidup” memberitahukan kepada kita bahwa Kristus adalah sumber kehidupan. Ia menawarkan diri-Nya sebagai sumber kehidupan kepada yang mau bertobat dan beriman. Sumber artinya tempat keluar atau asal dari sesuatu. Jika Kristus adalah sumber kehidupan, maka ia adalah tempat asal kehidupan atau daripada-Nya-lah keluar kehidupan. Karena itu, siapa saja yang datang pada-Nya pasti akan memperoleh kehidupan. Sikap mencari Tuhan merupakan perwujudan dari sebuah upaya untuk memperoleh kehidupan. Salah satu di antara sikap tersebut yakni melibatkan diri dalam persekutuan ibadah. Sayangnya, masih ada sebagian orang Kristen yang mencari Tuhan dengan melibatkan diri dalam persekutan ibadah dan tujuannya hanya untuk memperoleh materi. Orang-orang tersebut terkadang selain orientasi hidupnya lebih ditujukan pada materi, mereka juga pesimis menghadapi kehidupan. Tahun 2022 memang baru saja kita tapaki sampai di tangga ke-9, dan mungkin ada yang sudah mengawali perjalanan tahun ini dengan cerita-cerita kehidupan yang susah dan menderita. Namun realitas kesusahan dimaksud semestinya tidak kita sikapi dengan keliru yakni berpikir materi dan pesimis. Sebagai orang percaya, seharusnya yakin bahwa kehidupan yang kita miliki bersumber pada Allah kehidupan. Allah yang setia dan penuh kasih. Ia akan selalu menyatakan kehadiran-Nya sebagai roti hidup bagi kita.

Doa:  Tuhan, kami  percaya bahwa Engkau adalah  Sumber kehidupan  bagi kami.  Amin

Senin, 10 Januari 2022                         

bacaan : 1 Yohanes 3 : 19 – 24

Keyakinan di hadapan Allah
19 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, 20 sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu. 21 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, 22 dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. 23 Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita. 24 Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.

Selaraskan Suara Hatimu!

Jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah” (ayat 21). Hati pada konteks ayat ini dipahami sebagai “suara hati”. Suara hati adalah keputusan praktis akal budi yang membantu seseorang dalam menjalankan atau membatalkan suatu tindakan. Secara rasional, salah satu dimensi dari peran suara hati yakni mesti tekun mencari kebenaran. Idealnya memang adalah setiap manusia harus setia pada suara hati yang benar, karena hal tersebut mencerminkan ia setia kepada Allah. Tak dapat dipungkiri bahwa terkadang suara hati juga bisa keliru atau tidak sejalan dengan kehendak Allah. Oleh sebab itu, manusia dalam sikap dan tindakannya dituntut untuk menyelaraskan suara hatinya dengan Tuhan. Bagaimana kita menyelaraskannya? Yohanes menganjurkan setiap orang Kristen untuk menaruh kepercayaan yang sungguh akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya. Penegasan Yohanes pada “nama” menunjukkan adanya pemahaman yang lebih luas dari sekadar nama sebagai identitas. Nama memberi pengertian juga pada kuasa Yesus, yang mampu melakukan apa saja yang baik bagi kita, sekalipun  hal tersebut dianggap sulit atau mustahil. Sebagai manusia, keterbatasan memang menjadi bagian dari kehidupan kita. Kehidupan yang kita tapaki di tahun yang baru belum tentu semuanya baik-baik saja. Untuk itu, kita harus lebih setia mendengarkan suara Tuhan di dalam hati supaya  bijak menyikapi hari-hari hidup yang  dijalani sambil percaya dengan sungguh bahwa penyertaan Tuhan pasti dialami.

Doa : Berbicaralah terus kepada kami ya Yesus untuk hidup benar. Amin. 

Selasa, 11 Januari 2022                                  

bacaan : Yohanes 4 : 1 – 26

Percakapan dengan perempuan Samaria
Ketika Tuhan Yesus mengetahui, bahwa orang-orang Farisi telah mendengar, bahwa Ia memperoleh dan membaptis murid lebih banyak dari pada Yohanes 2 --meskipun Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya, -- 3 Iapun meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea. 4 Ia harus melintasi daerah Samaria. 5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. 6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. 7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum." 8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. 9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) 10 Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." 11 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? 12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?" 13 Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, 14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." 15 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air." 16 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini." 17 Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, 18 sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar." 19 Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. 20 Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah." 21 Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. 22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. 23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. 24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." 25 Jawab perempuan itu kepada-Nya: "Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami." 26 Kata Yesus kepadanya: "Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau."

Perjumpaan Yang Membawa Perubahan

Tuhan Yesus berjumpa dengan perempuan Samaria di sumur yakni tempat di mana ia menimba air. Tuhan Yesus tidak berjumpa dengannya di tempat ibadah atau saat ia lagi santai, namun ketika perempuan Samaria tersebut sementara melakukan pekerjaannya sehari-hari. Situasi perjumpaan seperti ini kemudian mendorong terjadinya perubahan pemahaman bahkan perubahan hidup dari perempuan Samaria. Mengapa? Karena di sumur, percakapan yang terbangun menjadi sebuah percakapan yang dipenuhi dengan empati dari Yesus kepada perempuan Samaria tersebut. Yesus menunjukkan pemahaman-Nya akan kebutuhan utama  perempuan Samaria terkait dengan air yang dikatakan oleh-Nya. Untuk itu, Yesus meminta ia memanggil suaminya. Yesus membuka ruang pergumulan pribadi perempuan itu, yang secara tak langsung telah disembunyikan olehnya. Bahwa perempuan itu secara status sosial sangatlah berada pada posisi terendah, karena itu ia pun harus memikul tanggung jawab sehari-hari yang sangat membebaninya. Namun setelah mendengar pengajaran Yesus, pikiran perempuan Samaria menjadi terbuka dan imannya pun lahir. Dengan yakinnya, perempuan Samaria itu kemudian menyebut Yesus dengan sebutan “Nabi”. Pemahaman yang berubah dan melahirkan sikap iman yang luar biasa dari perempuan Samaria itu, seharusnya menjadi juga sikap iman kita dalam menjalani pergumulan pribadi yang tidak mudah dan berat. Seharusnya kita lebih membuka diri pada Yesus, supaya dalam pengenalan-Nya terhadap kita, kepedulian dan cinta kasih-Nya dapat kita rasakan dengan baik.

Doa : Inilah kami Tuhan, kenalilah kami dengan kasih-Mu. Amin.

Rabu, 12 Januari 2022                                 

bacaan : Matius 15 : 21 – 28

Perempuan Kanaan yang percaya
21 Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. 22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." 23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak." 24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." 25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku." 26 Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." 27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." 28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Berjuang Dengan Iman

Pa, Onco pung badan panas lai. Mari katong bawa ke dokter jua. Su dua hari ni, dia panas naik turun-naik turun terus”, kataku kepada sang suami. “Lalu mama pung pekerjaan kantor sudah selesai ka blom? Katanya hari ini musti kasi maso to?”, Tanya suamiku. “Iya, tapi masa gara-gara pekerjaan kantor, katong kasi tinggal anak ni sakit? Pekerjaan itu pasti bisa beta selesaikan hari ini juga. Tapi katong bawa Onco ke dokter dolo”, jelasku kepada sang suami. Percakapan seperti ini tentunya menjadi cerita umum dari keluarga yang mengalami masalah anak sakit. Situasi seperti ini, mendorong setiap orang untuk mengambil langkah penanganan yang cepat agar kondisi fisik anak tidak bertambah parah. Tak sedikit dari antara kita ketika berhadapan dengan situasi demikian, sementara berhadapan juga dengan situasi-situasi lain yang membutuhkan perhatian dan tindakan segera. Untuk itu, tentunya setiap orang harus berpikir tenang dan mampu memutuskan mana yang harus didahulukan. Namun apapun situasi yang lain itu, cerita  perempuan Kanaan menggugah sikap etis yang lahir dari iman kepada Tuhan Yesus. Kondisi penderitaan anak telah membangkitkan daya juangnya yang luar biasa untuk memperoleh kesembuhan. Ia pun tidak mempedulikan status sosial budayanya yang berbeda dan tidak pantas saat berhadapan dengan Yesus. Ia hanya menginginkan  kesembuhan anaknya. Karena itu ia rela dianggap tidak benar hanya demi kehidupan anaknya. Demikanlah sebagai orang percaya, sebuah kehidupan menjadi perhatian penting dari sikap iman kita. Sebab Tuhan pasti mengindahkan kita karena iman yang sungguh kepada-Nya.

Doa: Anugerahkanlah kesehatan bagi keluarga kami ya Tuhan. karena Engkau-lah Sumber kehidupan kami. Amin.  

Kamis, 13 Januari 2022

bacaan : Yohanes 14 : 1 – 7

Rumah Bapa
"Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. 2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. 3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. 4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." 5 Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" 6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. 7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia."

         Yesus Satu-Satunya Jalan Menuju Selamat

Banyak jalan menuju Roma” adalah peribahasa yang mempunyai arti ada banyak jalan atau cara untuk mencapai tujuan atau menggapai sesuatu. Tujuan atau sesuatu itu antara lain : kesuksesan, cinta, cita-cita dsb, yang tentunya berbeda untuk setiap orang. Contoh : banyak orang ingin hidup senang, bergelimang harta. Cara untuk mendapatkannya beragam, seperti: bekerja mengejar karir di kantor, berbisnis, bertani dan sebagainya dan ada pula yang menggunakan jalan pintas. Semua cara ini memungkinkan untuk menghasilkan harta dan kemudian menggunakannya sesuai yang diinginkan.

Keselamatan adalah tujuan yang ingin dicapai dan digapai orang Kristen, baik di dunia ini maupun di sorga nanti. Untuk mendapatkannya tidak ada banyak jalan. Hanya satu Jalan, yaitu Yesus. Seperti yang dikatakan oleh penulis Yohanes dalam bacaan kita hari ini. Jika kita hadir dan menjadi bagian murid-murid Yesus pada saat Yesus mengucapkan perkataan-Nya, kemungkinan kita akan menjadi seperti  Tomas yang bertanya : “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ.” Kita perlu berterima kasih kepada Tomas yang mengeluarkan perasannya sehingga Yesus menyampaikan jawaban yang meneguhkan para murid saat itu dan kita di saat sekarang : “Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6). Untuk mendapat keselamatan, hanya ada satu jalan, yaitu percaya dengan iman yang sungguh kepada Tuhan Yesus Kristus. Percaya bukan dengan mulut tetapi nyatakan dalam seluruh aspek kehidupan.

Doa: Tolong kami ‘tuk meyakini-Mu sebagai satu-satunya jalan menuju selamat, Tuhan. Amin.

Jumat, 14 Januari 2021                                   

bacaan : Yohanes 10 : 1 – 21

Gembala yang baik
"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; 2 tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. 3 Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. 4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. 5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal." 6 Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka. 7 Maka kata Yesus sekali lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. 8 Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. 9 Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. 10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. 11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; 12 sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. 13 Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. 14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku 15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. 16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. 17 Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. 18 Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku." 19 Maka timbullah pula pertentangan di antara orang-orang Yahudi karena perkataan itu. Banyak di antara mereka berkata: 20 "Ia kerasukan setan dan gila; mengapa kamu mendengarkan Dia?" 21 Yang lain berkata: "Itu bukan perkataan orang yang kerasukan setan; dapatkah setan memelekkan mata orang-orang buta?"

Percayakanlah Hidupmu Kepada Tuhan Yesus, Gembala Yang Baik

Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memberikan gambaran yang unik dan istimewa tentang hubungan antara Tuhan dengan umat-Nya yaitu Gembala dan domba. Teks  bacaan kita hari ini menyaksikan bahwa Yesus sendiri menyebut diri-Nya Gembala, sedangkan umat-Nya sebagai domba.  Pertanyaannya : “Mengapa kita digambarkan sebagai domba bukan binatang lain yang mungkin lebih kuat seperti kuda, gajah, singa, harimau, rajawali dan yang lainnya?”  Rupanya penggambaran manusia sebagai domba hendak memperlihatkan keberadaan manusia yang penuh dengan kelemahan, ketidakberdayaan, mudah tersesat dan selalu berada dalam bahaya. Karena manusia, termasuk saya dan basudara digambarkan seperti domba yang penuh kelemahan, maka kita sangat membutuhkan gembala yang dapat membimbing dan menuntun kita ke jalan yang benar.  Syukurlah  kita mempunyai Tuhan Yesus yang menyatakan diri sebagai Gembala yang baik. Gembala yang selalu peduli dengan keselamatan domba-domba-Nya dan rela melakukan apa saja agar domba-domba-Nya hidup sejahtera.

Saudaraku, ketika Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Gembala yang baik, Ia mengontraskan diri-Nya dengan pencuri, perampok dan gembala upahan, yaitu mereka yang identik dengan gembala yang jahat yang hanya mengambil keuntungan dari kawanan dombanya. Karena itu marilah kita tetap percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan mengandalkan Dia dalam hidup. Jangan mengandalkan manusia dengan segala kemegahannya karena sering mereka menjadi teman di saat kita dapat “menghasilkan” sesuatu dan akan dicampakan pada waktu tidak lagi dibutuhkan. Ibarat pepatah “habis manis sepah dibuang”. Tuhan Yesus Gembala yang baik akan menjaga keluar masuk kita, kini dan selamanya.

Doa: Tuhan, kami mau tetap memercayakan hidup kami kepada-Mu. Amin.

Sabtu, 15 Januari 2022                                  

bacaan : Matius 21 : 18 – 22

Yesus mengutuk pohon ara
18 Pada pagi-pagi hari dalam perjalanan-Nya kembali ke kota, Yesus merasa lapar. 19 Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu: "Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!" Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu. 20 Melihat kejadian itu tercenganglah murid-murid-Nya, lalu berkata: "Bagaimana mungkin pohon ara itu sekonyong-konyong menjadi kering?" 21 Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi. 22 Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya."

Percaya dan Berbuahlah

Brenda, seorang pemudi yang sangat aktif dalam berbagai kebaktian. Tak satu pun kebaktian yang terlewatkan olehnya. Jika ia mendengar bahwa ada orang yang dikenalinya meninggal, sekalipun tinggal jauh dari tempat tinggal nya, Brenda tak pernah absen mengikuti kebaktian penghiburan dan pemakaman. Dengan rajin berkebaktian maka orang berpikir bahwa Brenda adalah seseorang yang patut dicontohi. Benarkah demikian? Ooo..tidak! Di rumahnya, Brenda ternyata seorang yang keras kepala, mau punya mau, pembangkang dan suka membuat masalah dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Brenda taat beribadah tapi tidak bisa menghasilkan buah. Ia sama seperti pohon ara dalam kesaksian Matius pada bacaan kita hari ini.

Saudaraku, hari ini kita belajar dari kesaksian Matius tentang  peristiwa pengutukan pohon ara yang tidak berbuah oleh Tuhan Yesus serta perumpamaan tentang “mencampakkan gunung ke laut”. Kisah Tuhan Yesus ini hendak mengajarkan  bahwa sebagai orang percaya kita harus berbuah. Berbuah, berarti kita memberitakan kebenaran firman Tuhan dengan kata tetapi juga melalui perbuatan. Berbuah berarti lewat sikap hidup yang kita perlihatkan ada orang lain yg diselamatkan. Kenapa Yesus ingin pohon ara berbuah? Karena Yesus ingin umat-Nya berbuah. Karena itu sekalipun seseorang tampak rajin berkebaktian, namun jika hidupnya tidak sesuai dengan kehendak Tuhan maka kebaktian yang dilakukannya setiap waktu hanya sesuatu yang sia-sia belaka. Sesuatu yang dilakukan sebagai rutinitas dan tidak lahir dari hati yang sungguh percaya. Untuk bisa menghasilkan buah kita juga harus melekat pada pokok pohon yaitu Tuhan Yesus Kristus (band. Yohanes 15 : 5 Yesus Pokok Anggur  dan kita carangnya). Melekat pada pokok berarti percaya kepada Yesus dengan sepenuh hati. Hasilnya, kita pasti akan menghasilkan buah yang baik dan banyak dan nama Tuhan dipermuliakan.

Doa: Tuhan, kami mau ercaya pada-Mu dan menghasilkan buah. Amin.

*SUMBER : SHK JANUARI 2022; LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 2-8 Januari 2022

Tema Mingguan : ” Hidup Dalam Kekayaan Kasih Karunia Allah “

Minggu, 02 Januari 2022                                 

bacaan : Efesus 1 : 3 – 14

Kekayaan orang-orang yang terpilih
3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. 4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. 5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, 6 supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. 7 Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, 8 yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. 9 Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus 10 sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi. 11 Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan--kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya-- 12 supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. 13 Di dalam Dia kamu juga--karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu--di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. 14 Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Kekayaan Kasih Karunia Allah

Kekayaan adalah idaman setiap orang. Karena itu manusia bekerja keras dalam hidupnya supaya mendapatkan sejumlah kekayaan materi yang dapat memenuhi segala kebutuhan dan keinginan hati termasuk menyimpannya untuk diwariskan pula kepada keturunannya. Memang manusia tidak pernah puas dengan kekayaan.  Namun berapa pun banyaknya kekayaan yang dimiliki oleh seorang manusia, satu hal yang secara pasti tidak dapat dibeli dengan kekayaan dan harta duniawi itu adalah penebusan Allah atau keselamatan kita. Itulah kekayaan kasih karunia Allah yang dimaksudkan oleh Paulus yakni Allah melalui Yesus Kristus telah memberikan diri-Nya secara cuma-cuma untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan kebinasaan. Rasul Paulus menjelaskan kekayaan di sini bukanlah kekayaan dunia yang kita peroleh melalui kerja keras, namun kekayaan rohani yang kita peroleh melalui anugerah Allah di dalam Yesus Kristus. Berkat Rohani atau kekayaan rohani itu juga yang memungkinkan kita telah dipilih oleh Allah untuk menjadi anak-anak-Nya, dan oleh karena pilihan itulah Allah karena kasih-Nya mengaruniakan di dalam Yesus keselamatan bagi kita. Sebab itu hikmat dan pengertian dilimpahkan kepada kita untuk memahami betapa kekayaan kasih karunia Allah itu telah dilimpahkan dalam kehidupan kita. Dengan begitu status sebagai anak-anak Allah sepatutnya diresponi dengan memberikan puji-pujian kepada Tuhan lalu bertekad untuk hidup di dalam kekayaan kasih karunia-Nya itu dengan selalu menjaga identitas diri kita sebagai anak-anak Allah yang harus selalu menghadirkan, kasih, kebaikan, damai dan sukacita dalam kehidupan ini.

Doa: Ya Allah, kami mengucap syukur atas berkat keselamatan yang melimpah oleh karena kasih karunia-Mu. Amin

Senin, 03 Januari 2022                                    

bacaan : Ulangan 7 : 7 – 9

7 Bukan karena lebih banyak jumlahmu dari bangsa manapun juga, maka hati TUHAN terpikat olehmu dan memilih kamu--bukankah kamu ini yang paling kecil dari segala bangsa? -- 8 tetapi karena TUHAN mengasihi kamu dan memegang sumpah-Nya yang telah diikrarkan-Nya kepada nenek moyangmu, maka TUHAN telah membawa kamu keluar dengan tangan yang kuat dan menebus engkau dari rumah perbudakan, dari tangan Firaun, raja Mesir. 9 Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa TUHAN, Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan berpegang pada perintah-Nya, sampai kepada beribu-ribu keturunan,

Allah Setia Terhadap Janji-Nya

Kita pernah mendengar ungkapan “Ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang”. Seperti itulah kebanyakan relasi yang diikat antar manusia. Relasi yang diikat oleh karena materi atau uang. Relasi yang hanya berdasarkan keuntungan atau kebutuhan. Hal ini berbeda dengan relasi antara Allah terhadap umat-Nya. Relasi Allah dan Israel tidak diikat oleh hal-hal duniawi, namun oleh ikatan perjanjian. Allah mengasihi bangsa Israel dan setia terhadap janji-Nya bagi nenek moyang Israel, sehingga Ia menuntun bangsa itu keluar dari tanah perbudakan serta memberkati mereka beserta keturunan. Melalui Bacaan firman Tuhan hari ini kita diajarkan untuk hidup penuh dengan tanggung jawab dan berlaku setia terhadap perkataan atau janji yang kita berikan, dengan menghayati apa yang telah dilakukan Tuhan atas janji-janji-Nya kepada umat. Tuhan teguh memegang janji-Nya kepada kita. Karena itu kita pun sebagai manusia harus setia terhadap Allah. Dalam kehidupan ini ada banyak persoalan dan pencobaan yang siap merongrong kesetian kita kepada Tuhan. Ketika diperhadapkan dengan berbagai masalah dan pencobaan itu, kita akan tekun berdoa dan bergumul, bahkan dalam pergumulan seringkali kita berjanji kepada Allah untuk melakukan hal-hal tertentu yang akan menyukakan hati Allah. Tetapi ketika ada dalam kebahagiaan dan kesenangan, kita lalu melupakan janji  untuk tetap setia kepada Allah. Firman Tuhan ini mengingatkan, marilah menjaga relasi kita dengan Tuhan atas dasar kesetiaan untuk memegang teguh firman-Nya, agar dalam perjalanan kehidupan ke depan kita tetap dipenuhi berkat Tuhan.

Doa: Ya Tuhan, ajarilah kami untuk berlaku setia sebagai anak-anak-Mu, sama seperti Engkau yang selalu setia terhadap janji penyertaan-Mu bagi kami. Amin

Selasa, 04 Januari 2022                                   

bacaan : Ibrani 12 : 12 – 17

12 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; 13 dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh. 14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. 15 Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. 16 Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. 17 Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.

Jangan Menjauhkan Diri Dari Kasih Karunia Allah

Dalam keluarga seringkali kita dengan atau tanpa sengaja mengutarakan kata-kata yang menyinggung  satu dengan yang lain, tanpa menyadari perkataan dan perbuatan kita itu mengakibatkan kepahitan dalam diri. Ketika hal itu terjadi maka tidak akan ada damai dalam kehidupan kita. Apa yang seharusnya kita lakukan untuk menjaga damai itu tetap utuh dalam hidup keluarga kita? Penulis kitab Ibrani menegaskan dalam bagian pembacaan ini untuk mengutamakan hidup kudus dan berdamai dengan semua orang. Jangan memiliki nafsu yang rendah seperti Esau yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan sehingga ia tidak memperoleh berkat. Nafsu yang rendah akan membuat seseorang lebih mementingkan diri sendiri dan cenderung mengabaikan orang lain. Hal inilah yang akan menimbulkan akar pahit, jika seseorang bertindak semena-mena terhadap orang lain. Mengapa harus ada akar kepahitan? Karena orang menjauh dari kasih karunia Allah. Itulah sebabnya penulis Ibrani mengingatkan kita agar jangan menjauh dari kasih karunia Allah. Jika kita menjauh dari kasih karunia Allah maka kita cenderung menjadi apatis dan egois, sehingga menimbulkan masalah atau permusuhan. Sebagai suami isteri, orang tua dan anak, saudara-bersaudara, di dalam perjalanan hidup pasti mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Ada yang terluka dan ada yang tersakiti. Dalam pekerjaan dan pelayanan sekalipun, ada juga hal-hal yang membuat kita tersakiti. Namun kita harus ingat untuk jangan sampai ada akar kepahitan dalam hidup. Karena itu haruslah memilih untuk tidak menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, supaya dapatlah diketahui mana yang baik bagi hidup kita dan orang lain.

Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami untuk hidup dalam kekudusan dan berdamai dengan semua orang agar kami tidak menimbulkan akar pahit dan menjadi jauh dari kasih karunia-Mu. Amin.

 

Rabu, 05 Januari 2022                             

bacaan : 2 Timotius 1 : 3 – 10

Ucapan syukur dan nasihat untuk bertekun
3 Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. 4 Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku. 5 Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. 6 Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. 7 Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. 8 Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. 9 Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman 10 dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.

Jangan Takut Bersaksi Tentang Kasih Karunia Tuhan

Tidak mudah menjadi pengikut Kristus.  Kita berpikir jika  mengikut Dia perjalanan hidup akan enak dan tidak akan susah.  Tentu tidak!  Ada tanggung jawab besar berada di pundak kita yaitu memikul salib dan memiliki kehidupan yang ‘berbeda’ dengan dunia, karena sebagai orang Kristen kehidupan kita harus benar-benar mencerminkan Kristus.  Teks  bacaan ini menegaskan bahwa Paulus berpesan agar Timotius tidak mundur dan pantang menyerah untuk mewartakan kesaksian akan Tuhan dan kerajaan Allah sesuai dengan keimanan Timotius yang begitu kuat seperti para pendahulunya. Sebab Allah telah memberi kekuatan kepada setiap hamba terkasih-Nya melalui kasih karunia Allah dalam Kristus Yesus untuk tugas kesaksian itu. Sebab itu melalui suratnya ini, Paulus mengungkapkan kekuatan iman yang memampukannya untuk memberitakan Injil, sebagai pengalaman untuk menguatkan Timotius. Memberitakan Injil hanya mengandalkan iman. Demikianlah pula kita sebagai orang tua bertanggungjawab mempersiapkan anak-anak kita sebagai generasi penerus untuk tidak takut bersaksi tentang kasih karunia Tuhan. Kita membesarkan mereka di dalam pertumbuhan iman yang benar dan baik, sehingga mereka bukan hanya dapat bertahan dalam berbagai tantangan jaman, tetapi mereka justru mampu untuk menyatakan kebenaran Tuhan dalam kehidupannya. Dalam iman dan doa kita yakin anak-anak kita bahkan kita semua akan menjadi pemberita-pemberita  injil melalui sikap dan pengaruh yang positif dengan orang-orang yang ada di sekitar kita.

Doa:  Ya Tuhan berikanlah kami kekuatan untuk terus memberitakan tentang Kasih KaruniaMu dalam hidup ini, amin.

Kamis, 06 Januari 2022                                

bacaan : 1 Korintus 1 : 4 – 9

Ucapan syukur
4 Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allahku karena kamu atas kasih karunia Allah yang dianugerahkan-Nya kepada kamu dalam Kristus Yesus. 5 Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, 6 sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu. 7 Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. 8 Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus. 9 Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.

Mengucap Syukur Atas Kasih Karunia Allah

Dalam relasi dengan sesama, kita lebih mudah mengingat kelemahan dan kekuarangan daripada kebaikan. Tidak demikian dengan Rasul Paulus. Persoalan jemaat di Korintus tidak membuatnya berhenti mengucap syukur. Ia mengingat umat Allah di Korintus serta menaikkan ucapan syukurnya atas mereka. Ada tiga hal yang menjadi dasar ucapan syukur Rasul Paulus. Pertama, jemaat di Korintus telah menerima dan mengalami kasih karunia Allah. Inilah sumber kekayaan mereka. Karunia ini akan digunakan sebagai sarana untuk memuliakan dan menyaksikan Allah karena itu mereka mengalami pertumbuhan rohani yang pesat. Kedua, mereka sudah menjadi saksi Kristus. Ketiga, Allah yang melimpahkan kasih karunia dan rahmat kepada mereka, adalah Allah yang setia.  Ungkapan syukur ini memang merupakan suatu penilaian yang jujur tentang keadaan jemaat Korintus di dalam Kristus dan merupakan landasan bagi permintaan Paulus agar jemaat hidup sesuai dengan keadaan itu. Belajar dari surat Paulus ini, maka pengucapan syukur dalam Kristus harus dimulai dari pemahaman dan kesadaran. Kita harus sadar tentang siapa kita di hadapan Allah. Kita wajib mengenal siapa Tuhan serta Pemimpin kehidupan kita. Tanpa pemahaman ini, maka pelayanan yang kita lakukan hanya sebatas kesibukan belaka. Pertumbuhan iman yang benar akan mengarahkan dan menuntun pelayanan untuk memuliakan Kristus. Inilah dasar yang sejati dari hidup yang bersyukur. Karena itu, berupayalah dengan ketulusan hati selalu mengucap syukur atas segala sesuatu termasuk bersyukur untuk kebaikan dan keberhasilan orang lain. Bukan sebaliknya sombong atas keberhasilan kita dan iri hati atas keberhasilan orang lain. Syukurilah setiap kebaikan dan keberhasilan karena itulah kasih karunia Allah dalam hidup kita.

Doa:  Ya Tuhan, kami mengucap syukur atas kasih karunia-Mu yang telah menyelamatkan kami umat-Mu. Amin.

Jumat, 07 Januari 2022                                    

bacaan :  Efesus 2 : 1 – 10  

Semuanya adalah kasih karunia
Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. 2 Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. 3 Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. 4 Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, 5 telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita--oleh kasih karunia kamu diselamatkan-- 6 dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, 7 supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. 8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, 9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. 10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Kasih Karunia Allah Bagi Keluarga Kristen

Kasih karunia berasal dari kata kharis (bahasa Yunani). Menurut Kevin J. Conner, kata kasih karunia muncul dari kebiasaan Yunani, yaitu ketika orang-orang Yunani ingin memberikan hadiah dari kemurahan hati yang murni, tanpa berpikir akan imbalan, maka kata yang mereka gunakan untuk pemberian itu adalah “kharis”. Dalam PB, kata kasih karunia dihubungkan dengan keselamatan dari Allah bagi manusia di dalam Kristus, yaitu kemurahan Allah yang diberikan kepada orang berdosa yang tidak layak menerimanya. Karena itu, Paulus mengatakan dalam nas bacaan kita bahwa pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan – (Efesus 2:3c-5). Kasih karunia Allah ini begitu hebat, sehingga memungkinkan John Newton untuk memperoleh keselamatan dari Allah. Ketika ia berseru kepada Tuhan memohon keselamatan, Tuhan tidak memperhitungkan lagi kekejaman yang telah ia lakukan kepada para budak pada masa itu. Hal ini bukan berarti Tuhan tolerir dengan perbuatan tidak benar dari manusia, namun kasih karunia-Nya menjadi lebih utama demi keselamatan manusia. Sekalipun demikian, jangan pernah lupa bahwa penyesalan dan pertobatan dibutuhkan juga dari pihak kita.Marilah nyatakan kasih karunia Allah itu dalam kehidupan keluarga kita. Kita patut hidup di dalam-Nya menurut rasul Paulus (ayat 10d). Sebagai keluarga Kristen, seharusnya kita mengandalkan Tuhan dan melakukan segala sesuatu sesuai perintah-Nya, supaya kasih karunia Allah terus mengalir dalam kehidupan.

Doa : Berikanlah kasih karunia-Mu bagi keluarga kami, ya Tuhan! Amin.

Sabtu, 08 Januari 2022                           

bacaan : 1 Korintus 15 : 9 – 10

9 Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. 10 Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.

Integritas Diri Dalam Kasih Karunia Allah

Dalam sebuah percakapan panjang melalui handphone, seorang laki-laki yang biasanya dipanggil Kaka bu mengatakan : beta seng sangka lai kalau orang banyak pilih beta par jadi pengurus di unit. Beta pung kehidupan yang gelap beberapa tahun yang lalu ternyata dong seng hitung akang dan menjadikan akang sebagai alasan untuk menolak beta. Beta yakin kalau samua ini dapat terjadi karna kasih karunia Allah. Apa yang dikatakan dan diakui oleh Kaka bu tersebut sama dengan yang dirasakan dan diakui oleh Rasul Paulus. Ia dapat mendirikan Jemaat Korintus dan melayani selama kurang lebih 18 bulan di sana hanya karena kasih karunia Allah. Rasul Paulus menjelaskan tentang dirinya sebagai bagian dari pemberitaan injilnya kepada jemaat di Korintus. Cara Allah memilih dan memakainya merupakan sesuatu yang luar biasa, yang hanya dapat dipahami dengan iman. Rasul Paulus pun menyebut tindakan Allah tersebut sebagai bukti kasih karunia-Nya kepadanya. Untuk itu sudah sepatutnyalah kasih karunia tersebut diresponi oleh Paulus dengan ketekunan dan kerja kerasnya dalam pemberitaan injil. Komitmen dan integritas dirinya untuk melayani pun tak dapat diragukan oleh siapa pun. Semua yang dilakukan itu pun dipahami Paulus sebagai kerja dari kasih karunia Allah di dalam dirinya.

Sebagaimana pemahaman dan iman yang dimiliki oleh Rasul Paulus dalam memandang cara Allah bagi dirinya, demikian juga seharusnya bagi kita selaku orang percaya. Semua yang dialami dan kerjakan sehingga menimbulkan suatu karya pelayanan dan kesaksian tentang Tuhan Allah, mestinya kita sadari sungguh sebagai wujud dari kasih karunia Allah. Hal ini tentunya akan berdampak pada dijalaninya kehidupan dengan selalu mengandalkan campur tangan Tuhan serta menjadikan kita sebagai pribadi yang rendah hati.

Doa : Tuhan berikanlah kasih karunia-Mu bagi kami untuk tetap setia melakukan tugas pelayanan dan kesaksian. Amin.

*SUMBER : SHK JANUARI 2022, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 26 – 31 Desember 2021

Tema Mingguan : ” Terpujilah Tuhan Yang Telah Melawat UmatNya “

Minggu, 26 Desember 2021                              

bacaan : Lukas 1 : 67 – 79

Nyanyian pujian Zakharia
67 Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya: 68 "Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, 69 Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, 70 --seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus-- 71 untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, 72 untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, 73 yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, 74 supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, 75 dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita. 76 Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, 77 untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, 78 oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, 79 untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera."

Allah Melawat Karena Ia Begitu Peduli

Pertama, ketika Roh Kudus menjamah Zakharia, segera ia meresponnya dengan ungkapan pujian untuk memuliakan Allah yang besar. Isi nyanyian Zakharia antara lain pujian kepada Allah karena Allah telah melawat umat-Nya, Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang Israel dan atas perbuatan Allah yang telah memilih dia sebagai ayah seorang nabi besar, nabi pembuka jalan bagi Mesias yang akan datang. Roh Kudus yang ada pada orang tua mewarnai didikan kepada anaknya sehingga Yohanes bertumbuh semakin besar dan makin kuat rohnya. Kedua, Zakharia dibentuk Allah menjadi teladan bagi kita yang mungkin meragukan Allah dan mulai tidak taat. Sesuatu yang sulit diterima oleh pikiran Zakharia, karena usianya yang telah lanjut, membuat dia ragu terhadap janji Allah. Keraguan terhadap janji Allah menyebabkan dia bisu sampai anaknya lahir. Sebagai seorang imam yang mempunyai tugas sebagai perantara antara umat dengan Allah, tidak bisa berbicara merupakan hal yang sangat berat. Tetapi pada Akhirnya Zakharia percaya dan sangat bersyukur akan rencana Allah dalam hidupnya. Jangan meragukan rencana Allah dalam hidup dan masa depan kita karena rencana Allah itu indah pada WaktuNya dan pasti akan digenapi. Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Tuhan begitu memperhatikan kita dan sangat peduli. Sama seperti seorang ayah yang selalu ingin memberikan yang terbaik begitu juga Allah yang selalu ingin memberi yang terbaik. Percayakah kita kepadaNya?

Doa:  Ya Tuhan, terima kasih Engkau selalu melawat dan memperhatikan kami serta selalu merancangkan yang terbaik untuk kehidupan kami.  Amin.   

Senin, 27 Desember 2021                                  

bacaan : Keluaran 15 : 13

13 Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kautebus; dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu yang kudus.

Kasih SetiaNya Tak Berkesudahan Dalam Hidup

Kasih setia Tuhan merupakan kata kunci dalam peristiwa keluarnya umat Israel dari Mesir. Dan dengan kasih setia-Nya pula Tuhan menuntun umat-Nya untuk datang ke tempat kediaman-Nya. Keluarnya Israel dari Mesir yang berpuncak pada kisah Laut teberau menjadi inti kepercayaan Israel. Betapa tidak, jika Tuhan tidak menyertai umat-Nya, kesaksian umat Tuhan berakhir di tepi laut itu. Saat itu mereka berada pada jalan buntu. Mereka terjepit di antara kekuatan tentara Mesir yang mengejar untuk menangkap dan melenyapkan mereka, dengan kekuatan alam yang tak dapat ditaklukan. Melalui kepemimpinan Musa, Allah menyelamatkan umat-Nya dengan membelah air laut Teberau, sehingga Israel dapat berjalan di dasar laut Teberau ke seberang dan selamat. Kebaikan Tuhan yang boleh disyukuri adalah bahwa Ia mau mendengar permohonan kita, kita tidak mengetahui bagaimana dan kapan pertolongan Tuhan akan terjadi, namun kesediaan Tuhan mendengar seruan kita adalah sesuatu yang patut kita syukuri. Tuhan itu baik pada orang yang mengasihiNya. Bukan artinya Tuhan butuh kasih manusia, justru kasihNya yang besar telah diberikanNya pada kita melalui pengorbanan di kayu salib. Namun Tuhan sangat mengasihi orang-orang yang mengharapkan pengasihanNya, mempercayai bahwa hanya kasihNya sajalah yang dapat menyelamatkan kita, Mengasihi berarti memiliki kedekatan yang dalam seperti kasih seorang ibu dengan anak yang dilahirkannya. Mau mencurahkan seluruh hidup untuk yang dikasihinya. Sudahkah kita bersyukur akan kasih setia Tuhan dalam hidup?

Doa:  Tuhan, ajarlah kami untuk senantiasa bersyukur untuk kasih setia Tuhan dalam hidup kami. Amin.

Selasa, 28 Desember 2021                                

bacaan : Lukas 2 : 25 – 35

25 Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, 26 dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. 27 Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, 28 ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: 29 "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, 30 sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, 31 yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, 32 yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel." 33 Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. 34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan 35 --dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."

Ada Damai Dan Sukacita

Hati yang penuh dengan kedamaian dan sukacita menjadi dambaan atau harapan setiap orang. Inilah yang dirasakan oleh Simeon orang benar dan saleh itu, pada saat berjumpa secara langsung dengan Yesus. Kedamaian dan sukacita terlihat dari respons Simeon yang menyambut dan menatang Yesus sambil memuji Allah. Ia dilawat oleh Tuhan sampai tergenapi yang difirmankan atas kehidupannya. Kisah ini menunjukan kuasa Allah yang teramat luar biasa. Apa yang difirmakan-Nya terjadi dan menghadirkan damai dan sukacita. Pelajaran berharga yang dapat kita petik yaitu bahwa lawatan Tuhan akan selalu menyertai mereka yang hidup di dalam-Nya serta memelihara kesetiaan dan ketaatan kepada Allah. sebagai orang percaya kita diajarkan untuk tetap setia kepada Allah meskipun dalam segala kelemahan dan keterbatasan sebagai manusia. Bahkan tetap memuji Tuhan atas setiap kebaikan dan kemurahan yang Ia nyatakan dalam seluruh kehidupan kita. Memuji kebesaran Tuhan bukan saja ketika kebutuhan dan gumulan kita di jawab oleh-Nya, tetapi ketika berbagai ujian hidup datang silih berganti menghapiri kehidupan kita. Kasih kemurahan Allah tidak hanya terlihat lewat setiap berkat yang kita nikmati tetapi justru terlihat ketika kita menghadapi masalah dan mampu melaluinya dan masih diberi kesempatan untuk hidup. Penyertaan Tuhan itu kekal. Ia akan senantiasa menyertai hidup orang-orang yang bersandar serta percaya kepada-Nya. Oleh sebab itu tetaplah percaya kepada Allah yang  selalu melawat seluruh hidup kita. biarlah sukacita dan damai-Nya menyertai di sepanjang perjalanan hidup.

Doa: Tuhan, kiranya damai dan sukacitaMu itu ada dan tetap diam di dalam kami,  Amin.  

Rabu, 29 Desember 2021                               

bacaan : Lukas 2 : 36 – 40

36 Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, 37 dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. 38 Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. 39 Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. 40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

Lanjut Usia Bukan Penghalang Untuk Bersaksi

Terkadang faktor usia sering mempengaruhi semangat seseorang untuk terus berkarya. Namun hal itu tidak berlaku bagi Hana. Walaupun sudah berusia 84 tahun ketika ia turut melihat bayi Yesus yang sedang diberkati bersama ke dua orang tuan-Nya oleh Simeon, dengan antusiasnya dia bersyukur bahkan langsung bersaksi kepada semua orang tentang apa yang di saksikannya. Semangat yang terlihat dari diri Hana tidak terlepas dari campur tangan Allah yang selalu melawat kehidupannya. Hal itu juga tidak dapat dilepaspisahkan dari iman Hana. Ketaatanya dan kesetiaanya kepada Allah dibuktikan dengan hidup yang selalu ada dalam menjaga relasi dengan Allah dalam bentuk ibadah, puasa dan juga doa. Pola hidup Hana memperlihatkan ketaatan dan kesetiaan yang sungguh kepada Allah, terlihat jelas dengan ungkapan syukurnya itu. Yang jadi pertanyaan, apakah kita sudah benar-benar taat dan setia kepada Allah? Dari kisah Hana kita belajar untuk tetap setia dan taat kepada Allah, tidak hanya berupa usapan jempol saja tapi ditunjukkan lewat sikap dan tindakan kita. Dengan tetap memperhatikan pentingnya membangun relasi antara kita dengan Allah yang ditunjukan lewat kehidupan kita hari lepas hari, secara pribadi, keluarga, bergereja maupun bermasyarakat. Sebab Ia yang telah menganugerahkan kehidupan akan selalu melawat dan menjaga kita. Ingat bahwa usia tidak menjadi penghalang untuk menyaksikan kasih Allah, bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Tetaplah bersyukur dan bersemangat. Tuhan menolong kita.

Doa:    Tuhan, jadikan kami orang-orang yang tetap bersemangat menjalani hidup ini, Amin.

Kamis, 30 Desember 2021                                

bacaan : Lukas 7 : 11 – 17

Yesus membangkitkan anak muda di Nain
11 Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. 12 Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. 13 Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!" 14 Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!" 15 Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. 16 Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: "Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita," dan "Allah telah melawat umat-Nya." 17 Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

Dukacita Menjadi Sukacita

Kematian merupakan realita kehidupan yang akan di alami oleh setiap orang. Menghadapi kenyataan yang tidak dapat dihindari ini menggoreskan luka yang mendalam karena kehilangan orang yang kita kasihi, baik mereka yang memiliki hubungan darah atau pun tidak. Hal ini pun yang dirasakan seorang janda di Naim yang kehilangan anak satu-satunya. Kesedihan menggoncang kehidupannya. Ia harus berbesar hati menerima kenyataan ini dan tetap tegar melanjutkan hidup seorang diri. Bacaan kita memperlihatkan bahwa kehadiran Yesus pada saat itu benar-benar memberikan harapan baru dan bukti dari cinta kasih Tuhan lewat setiap lawatan-Nya. bahkan memberikan sukacita penuh bukan hanya bagi ibu janda, tapi juga bagi setiap orang yang ada di tempat itu. Kehadiran-Nya mengubah dukacita menjadi sukacita. Kisah di atas mengajarkan kita tentang kasih dan lawatan Tuhan yang diberikan selalu tepat pada waktunya. Ia peduli dan penuh dengan belas kasihan. Pertolongan-Nya akan selalu diberikan sekalipun tanpa kita yang memintanya. Kenyataan hidup seringkali membuat kita terpuruk dan kecewa, merasa sendiri dan tidak ada yang peduli. Tetapi sebagai orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus Tuhan kita, yakinlah  Ia tidak akan pernah meninggalkan kita sendiri. Ia adalah Tuhan yang mampu mengubah dukacita menjadi sukacita. Jadi ingatlah, apapun yang menjadi persoalan kita termasuk kematian sekalipun, Roh Kudus-Nya akan selalu tetap menghibur kita melalui Firman-Nya maupun orang-orang yang berada di sekitar kita yang hadir untuk menghibur dan menguatkan.

Doa: Kami percaya lewat lawatan tangan-Mu, sukacita akan selalu kami rasakan, Amin.

Jumat, 31 Desember 2021                          

bacaan : Mazmur 77 : 12 – 21

11 (77-12) Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. 12 (77-13) Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu. 13 (77-14) Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami? 14 (77-15) Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa. 15 (77-16) Dengan lengan-Mu Engkau telah menebus umat-Mu, bani Yakub dan bani Yusuf. Sela 16 (77-17) Air telah melihat Engkau, ya Allah, air telah melihat Engkau, lalu menjadi gentar, bahkan samudera raya gemetar. 17 (77-18) Awan-awan mencurahkan air, awan-gemawan bergemuruh, bahkan anak-anak panah-Mu beterbangan. 18 (77-19) Deru guntur-Mu menggelinding, kilat-kilat menerangi dunia, bumi gemetar dan bergoncang. 19 (77-20) Melalui laut jalan-Mu dan lorong-Mu melalui muka air yang luas, tetapi jejak-Mu tidak kelihatan. 20 (77-21) Engkau telah menuntun umat-Mu seperti kawanan domba dengan perantaraan Musa dan Harun.

Mengingat Kembali Kebaikan Tuhan

Susah senang, suka duka, menangis tertawa merupakan dinamika hidup yang akan dilewati oleh setiap kita. Kita akan senang, bersuka bahkan tertawa lepas ketika kenyataan yang menghampiri sesuai dengan harapan kita. Akan tetapi susah, duka, dan tangisan juga akan hadir ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Penderitaan yang dialami oleh pemazmur membuatnya beranggapan bahwa kasih setia Allah sudah hilang dari padanya. Menariknya bahwa keadaan itu tidak berlangsung lama. Ia tidak berlarut-larut di dalam kesedihannya, melainkan merenungkan dan mengingat kembali semua kebaikan yang telah Tuhan nyatakan kepada dirinya dan bangsanya. Apa yang dilakukan oleh pemazmur  menjadi contoh yang patut diteladani. Kita diajarkan agar tidak terus memandang pada setiap penderitaan yang kita alami, melainkan memfokuskan diri pada kebaikan-kebaikan yang sudah Tuhan nyatakan. Pemeliharaan Tuhan bagi kita sepanjang tahun ini  membuktikan kebaikan-Nya. Segala kebaikan-Nya itu tidak dapat di ukur dan di balas dengan apapun juga selain  beriman dan percaya kepada-Nya. Ingat, sebagai manusia kita tidak terlepas dari cobaan hidup. Cobaan dan tantangan bisa datang dari orang-orang terdekat seperti  suami istri, yang punya peranan sebagai orang tua tetapi juga anak-anak. Tantangan itu juga bisa datang dari lingkungan eksternal seperti gereja dan masyarakat. Tetapi sebagai orang percaya kita harus meyakini bahwa apapun yang kita alami, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Kasih dan kebaikan-Nya akan selalu menyertai. Selamat mengakhiri tahun 2021 dan dengan sukacita memasuki tahun yang baru dengan tetap mengingat semua kebaikan Tuhan. Kiranya Tuhan memberkati.

Doa:  Kebaikan-MuTuhan, selalu ada dan nyata dalam setiap kehidupan kami, Amin.

*sumber : SHK terbitan LPJ GPM