Santapan Harian Keluarga, 19 – 25 September 2021

Tema Mingguan : ” GEMBALA YANG TEKUN MELAYANI “

Minggu, 19 September 2021                    

bacaan : Yehezkiel 34 : 1 – 16

TUHAN, Gembala Israel yang baik, melawan gembala-gembala yang jahat
Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 "Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? 3 Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. 4 Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman. 5 Dengan demikian mereka berserak, oleh karena gembala tidak ada, dan mereka menjadi makanan bagi segala binatang di hutan. Domba-domba-Ku berserak 6 dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit yang tinggi; ya, di seluruh tanah itu domba-domba-Ku berserak, tanpa seorangpun yang memperhatikan atau yang mencarinya. 7 Oleh sebab itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN: 8 Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, sesungguhnya oleh karena domba-domba-Ku menjadi mangsa dan menjadi makanan bagi segala binatang di hutan, lantaran yang menggembalakannya tidak ada, oleh sebab gembala-gembala-Ku tidak memperhatikan domba-domba-Ku, melainkan mereka itu menggembalakan dirinya sendiri, tetapi domba-domba-Ku tidak digembalakannya-- 9 oleh karena itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN: 10 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku sendiri akan menjadi lawan gembala-gembala itu dan Aku akan menuntut kembali domba-domba-Ku dari mereka dan akan memberhentikan mereka menggembalakan domba-domba-Ku. Gembala-gembala itu tidak akan terus lagi menggembalakan dirinya sendiri; Aku akan melepaskan domba-domba-Ku dari mulut mereka, sehingga tidak terus lagi menjadi makanannya. 11 Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. 12 Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan. 13 Aku akan membawa mereka keluar dari tengah bangsa-bangsa dan mengumpulkan mereka dari negeri-negeri dan membawa mereka ke tanahnya; Aku akan menggembalakan mereka di atas gunung-gunung Israel, di alur-alur sungainya dan di semua tempat kediaman orang di tanah itu. 14 Di padang rumput yang baik akan Kugembalakan mereka dan di atas gunung-gunung Israel yang tinggi di situlah tempat penggembalaannya; di sana di tempat penggembalaan yang baik mereka akan berbaring dan rumput yang subur menjadi makanannya di atas gunung-gunung Israel. 15 Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan ALLAH. 16 Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.

Panggilan Seorang Gembala

Terkadang, bahkan sering kita tidak memahami bahwa kita  semula adalah domba yang telah dipanggil untuk menjadi gembala. Inilah yang sering membuat kita mengabaikan panggilan sebagai gembala di tengah-tengah domba. Kita menjadi gembala yang ingin diperlakukan sama seperti domba. Ingin diperhatikan, ingin dilayani, ingin diberi makan, dan ingin dilindungi. Bacaan hari ini dari Yehezkiel 34:1-16 hendak mengingatkan dan menegaskan peran seorang gembala di tengah-tengah domba. Sebagai gembala, ia tidak boleh lupa bahwa di tengah-tengah manusia yang lainnya (domba) dirinya berbeda. Gembala tidak boleh lupa bahwa dia adalah orang khusus yang ditempatkan di tengah-tengah manusia yang lainnya sehingga selalu ingin menjadi sama dengan manusia lainnya, bahkan cenderung ingin menjadi yang lebih dari manusia lainnya. Hal ini pada akhirnya menimbulkan sikap egois, ingin menang sendiri, tidak peduli dengan yang lainnya, bahkan tanpa sadar menyusahkan orang lain. Seorang gembala harus melakukan apapun untuk membangun kehidupan umatnya (domba), mengupayakan kehidupan bagi dombanya; yang sakit didoakan, yang lapar diberi makan, yang haus diberi minum, yang berduka dihibur, yang lemah dikuatkan, yang bersalah diberi pengampunan, dan sebagainya. Itulah panggilan sebagai gembala (pemimpin/pelayan) di tengah domba (umat/masyarakat). Maka marilah kita menjadi gembala yang baik.

Doa: Mampukanlah kami untuk menjadi gembala yang baik dan bertanggungjawab. Amin.

Senin,  20 September 2021                     

bacaan : Yehezkiel 34 : 20 – 24

20 Oleh sebab itu, beginilah firman Tuhan ALLAH terhadap mereka. Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan menjadi hakim di antara domba yang gemuk dengan domba yang kurus; 21 oleh karena semua yang lemah kamu desak dengan lambungmu dan bahumu serta kamu tanduk dengan tandukmu, sehingga kamu menghalau mereka ke luar kandang, 22 maka Aku akan menolong domba-domba-Ku, supaya mereka jangan lagi menjadi mangsa dan Aku akan menjadi hakim di antara domba dengan domba. 23 Aku akan mengangkat satu orang gembala atas mereka, yang akan menggembalakannya, yaitu Daud, hamba-Ku; dia akan menggembalakan mereka, dan menjadi gembalanya. 24 Dan Aku, TUHAN, akan menjadi Allah mereka serta hamba-Ku Daud menjadi raja di tengah-tengah mereka. Aku, TUHAN, yang mengatakannya.

Jangan Menolak Penggilan Menjadi Gembala

Banyak alasan yang selalu menjadi pertimbangan bagi seseorang untuk menerima suatu tanggung jawab. Ada yang beralasan tidak mempunyai waktu, tidak mampu berbicara, masih muda, tidak pintar, dan lain-lain. Bisa saja kita adalah salah satu dari orang-orang yang selalu beralasan jika dipanggil atau diberi suatu tugas/tanggung jawab. Alasan-alasan seperti yang dikemukakan ini dapat dijumpai pada orang-orang yang hendak dipanggil untuk suatu tugas pelayanan di gereja. Banyak yang tidak memahami bahwa panggilan pelayanan di gereja bukanlah semata panggilan dunia, melainkan panggilan Tuhan. Bacaan Yehezkiel 34:20-24,  secara tegas mengingatkan bahwa ketika dalam suatu “kawanan domba” (umat Tuhan) terjadi kekurangan gembala maka Tuhan sendiri yang akan mengangkat satu orang gembala atas mereka. Hal ini berarti panggilan sebagai pelayan atau pemimpin dalam gereja harus dipahami sebagai panggilan Tuhan: Tuhan yang memanggil dan yang mengangkat. Karena itu, dalam merespons panggilan Tuhan tidak boleh ada alasan untuk menolak panggilan Tuhan. Semestinya yang ada yaitu menerima dan siap melaksanakan tanggung jawab tugas pelayanan tersebut. Kita harus meyakini kalau Tuhan yang memanggil dan memilih, maka Tuhan juga yang akan melengkapi dan menyertai dengan Roh hikmat dan kuasaNya agar kita sanggup melakukan tanggungjawab itu dengan baik.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk memahami dan menerima panggilanMU…amin

Selasa, 21 September 2021                         

bacaan : Markus 6 : 30 – 34

Yesus memberi makan lima ribu orang
30 Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. 31 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. 32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. 33 Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. 34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Kamu Harus Memberi Mereka Makan

Cerita Yesus memberi makan lima ribu orang ini memiliki makna terdalam. Bukan soal keanehan lima ribu orang bisa makan dari lima potong roti dan dua ekor ikan. Bukan juga soal terjadinya mujizat yang mana hanya dengan lima potong roti dan dua ekor ikan bisa mengenyangkan lima ribu orang, bahkan ada tersisa lagi. Kalau kita memfokuskan perhatian pada masalah ekonomi (soal makan/minum), soal lapar, maka memang kita akan menganggap cerita ini tidak terlalu penting dan tidak punya makna. Kisah ini sebenarnya ingin menegaskan bagaimana kita selalu merasa terpanggil untuk menolong orang yang lapar atau orang yang sementara mengalami masalah., Yesus hendak mengajarkan murid-muridNYA dan juga orang-orang Kristen untuk jangan pernah tidak peduli atau mengacuhkan orang yang lapar dan haus, atau orang-orang yang mengalami masalah dan kesulitan dalam hidup. Memang hanya ada lima potong roti dan dua ekor ikan, dan itu tidak cukup untuk memberi makan lima ribu orang. Bagi Yesus menolong orang tidak perlu menunggu kalau ada kelebihan. Tolonglah orang dari apa yang ada, bahkan dari kekurangan yang dimiliki. Yesus katakan: “kamu harus memberi mereka makan”. Kata “harus” menunjukkan bahwa orang Kristen wajib memberi makan kepada mereka yang lapar, wajib menolong orang yang susah, wajib membantu orang yang meminta bantuan. Hal ini juga berarti bahwa membantu/menolong orang itu tidak perlu menunggu kalau pada kita ada kelebihan. Apa yang ada pada kita, itulah yang harus diberikan kepada mereka yang meminta tolong atau bantuan kita. Mengapa harus demikian? Sebab di situlah letak wujud nyata kita menjadi gembala. 

Doa:  Ya Tuhan, ajarlah kami untuk memahami kewajiban menolong orang yang susah… Amin. 

Rabu, 22 September 2021                                   

bacaan : Roma 12 : 6 – 8

6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. 7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; 8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.

Jadilah Gembala Yang Memperlabakan Karunia Tuhan

Masing-masing orang, sejak lahir, memiliki kelebihan dan kekurangan tertentu. Hal ini berarti tidak ada manusia yang sempurna sebab manusia yang satu selalu membutuhkan manusia yang lainnya. Ada orang yang memiliki kemampuan berbicara namun tidak memiliki kemampuan menulis, dan sebaliknya. Ada yang memiliki kemampuan menghafal tapi kurang mampu dalam menganalisa sesuatu, dan sebaliknya. Rasul Paulus juga telah menegaskan hal tersebut diatas. Dengan menggunakan istilah yang lain, Rasul Paulus mengatakan bahwa Tuhan telah mengaruniakan karunia yang berbeda-beda kepada umatNya. Ada yang diberikan karunia untuk bernubuat, ada yang dikaruniakan karunia melayani, ada pula yang diberi karunia untuk mengajar, serta ada yang dikaruniakan karunia untuk menasehati. Masing-masing orang dengan karunianya tersendiri. Tuhan tidak memberikan kepada satu orang sekaligus semua karunia. Ada pun maksud Tuhan untuk memberikan karunia yang berbeda-beda kepada masing-masing orang yaitu agar antara satu dengan yang lainnya merasa saling membutuhkan dalam membangun kehidupan bersama. Selain itu, tidak ada yang merasa lebih hebat antara satu dengan lainnya. Yang terpenting di sini adalah masing-masing orang dapat memperlabakan karunia-karunia itu. Karena itu marilah kita menggunakan semua karunia yang telah dianugerahkan Tuhan  dengan sebaik-baiknya, agar melalui semuanya itu nama Tuhan tetap dipermuliakan dan kita pun menjadi berkat bagi banyak orang.

Doa:  Ya Tuhan, tolonglah kami untuk dapat menjadi gembala yang dapat memperlabakan karunia Tuhan… Amin.

Kamis, 23 September 2021                           

bacaan : Roma 15 : 15 – 16

15 Namun, karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu, 16 yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus.

Gembala Yang Berani

Salah satu sifat yang ada pada manusia adalah sifat “malu hati”. Sifat ini terkadang muncul pada orang-orang yang takut atau tidak berani mengatakan sesuatu hanya untuk menghindari jangan sampai terjadi konflik dengan orang lain, apabila ada kesalahan yang dilakukan oleh orang lain yang ditegur oleh seseorang.   Namun, berbeda dengan Rasul Paulus, pada dirinya ada keberanian untuk mengingatkan jemaat-jemaat yang dilayaninya tentang pelayanan pemberitaan. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma (Roma 15:15-16), Rasul Paulus menegaskan bahwa sebagai orang yang telah dianugerahkan kasih karunia, ia tidak takut untuk mengingatkan jemaat Tuhan akan tugas pelayanan pemberitaan Injil. Karena tugas itu penting bagi pertumbuhan iman mereka. Bagi Paulus, orang-orang Kristen di Roma harus juga berani untuk saling mengingatkan tentang Injil Yesus Kristus kepada semua orang tanpa membeda-bedakan agama, suku, ras, dan sebagainya. Demikian halnya diharapkannya dari kita. Keberanian harus dimiliki oleh orang Kristen ketika menyampaikan kebenaran akan Injil Yesus Kristus: berani untuk berbicara, berani untuk berkata-kata, berani untuk melayani, berani untuk mendoakan, berani untuk mengingatkan, dan berani untuk menolong. Karena itu, sifat malu hati mestinya ditiadakan jika hendak melakukan peran sebagai gembala yang melakukan pelayanan pemberitaan Injil Yesus Kristus. Asalkan yang hendak kita sampaikan itu adalah demi sebuah kebaikan, perubahan dan kemajuan lalu disampaikan dengan santun, maka marilah kita berani melakukan hal itu.

Doa: Beranikanlah kami ya Tuhan, untuk melayaniMU…. Amin.

Jumat, 24 September 2021                          

bacaan : Kolose 3 : 18 – 25

Hubungan antara anggota-anggota rumah tangga
18 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. 19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. 20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. 21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. 22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. 23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. 24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. 25 Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.

Anggota Keluarga Adalah Gembala

Terkadang kita memahami peran sebagai gembala itu adalah dengan menjadi pelayan (pendeta, majelis jemaat, pengurus di gereja). Kita lupa bahwa menjadi gembala itu semestinya dimulai dari keluarga. Rasul Paulus, melalui bacaan ini ia menggaris-bawahi peran gembala dalam keluarga. Bahwa dalam keluarga ada peran sebagai gembala yang dapat dilakukan oleh seisi keluarga. Istri (mama), suami (bapa), anak, dan orang lain di dalam rumah. Sebagai gembala, seorang istri harus tunduk kepada suami. Sebagai gembala, seorang suami (bapa) harus mengasihi istri, tidak berlaku kasar terhadap istri, dan tidak menyakiti hati anak-anak. Sebagai gembala, seorang anak harus menaati orang tua. Kita tahu bahwa tugas seorang gembala itu adalah melakukan pekerjaan Tuhan. Bagi Paulus, melakukan sesuatu untuk Tuhan itu mesti telihat dalam perlakuan terhadap sesama manusia. Hal ini harus dimulai dari dalam keluarga. Makanya Paulus menegaskan dalam ayat 23 “apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. Itu berarti semua tindakan penggembalaan di dalam keluarga semuanya itu dilakukan sebagai bukti kasih dan iman kepada Tuhan. Karena itu, yang terpenting di sini adalah membangun relasi dan komunikasi yang baik antaranggota keluarga demi pelaksanaan peran sebagai gembala, sebab dari situ akan mengalir berkat dari Tuhan yang memberkati seisei keluarga yang sudah setia berperan sebagai gembala. 

Doa: Ya Tuhan, ingatkanlah kami bahwa kami adalah gembala dalam keluarga.. Amin.

Sabtu, 25 September 2021                               

bacaan : Filipi 1 : 21 – 22

21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. 22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.

Berfokus Pada Kristus

Ada syair lagu yang berbunyi: “adapun hidupku ini bukannya aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku….”. Setidaknya, sepenggal syair lagu yang sering dinyanyikan ini ingin mengatakan bahwa dalam hidup sebagai orang Kristen, Kristus-lah yang semestinya menjadi pusat dan hidup di dalam kita. Itu berarti selama orang Kristen hidup, kehidupan kekristenan mereka harus menampakkan Kristus lewat kata dan perbuatan. Selain itu, menjadi orang Kristen tidak boleh takut pada kematian. Itu yang dimaknai oleh rasul Paulus. Dai memaknai hidupnya adalah Kristus, sehingga sepanjang hidupnya setelah mengalami pertobatan, Kristus menjadi fokus. Apa pun yang dipikirkannya, dikatakannya, dan dilakukannya selalu terpusat pada Kristus. Mengapa demikian? Sebab Paulus meyakini bahwa ketika dalam hidupnya selalu fokus pada Kristus, ia yakin bahwa kematian itu akan menjadi suatu keuntungan baginya. Hal ini penting diingatkan kepada kita, yakni selama menjalani hidup itu orang Kristen haruslah menegerjakan pekerjaan yang memberi buah. Syair lagu di atas kiranya dapat dimaknai sebagai perintah untuk orang-orang Kristen harus selalu mengerjakan segala sesuatu berfokus pada Kristus. Sebagai keluarga Kristen, kita pun diajarkan oleh firman Tuhan ini untuk dapat mengerjakan segala sesuatu yang memberi buah kebaikan bagi sesama manusia dan alam ciptaan Tuhan.

Doa:   Ya Tuhan, arahkanlah pikiran, perkataan, dan perbuatan kami terfokus pada Kristus… Amin.

*SUMBER : SHK BULAN SEPT 2021, LJP GPM

Santapan Harian Keluarga, 12 – 18 September 2021

Tema Mingguan : ” TANGGUNG JAWAB DAN RESIKO SEORANG GEMBALA “

Minggu, 12 September 2021                       

bacaan : Yehezkiel 3 : 16 – 21    

Yehezkiel dipanggil menjadi penjaga Israel
16 Sesudah tujuh hari datanglah firman TUHAN kepadaku: 17 "Hai anak manusia, Aku telah menetapkan engkau menjadi penjaga kaum Israel. Bilamana engkau mendengarkan sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka atas nama-Ku. 18 Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! --dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. 19 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu dan ia tidak berbalik dari kejahatannya dan dari hidupnya yang jahat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu. 20 Jikalau seorang yang benar berbalik dari kebenarannya dan ia berbuat curang, dan Aku meletakkan batu sandungan di hadapannya, ia akan mati. Oleh karena engkau tidak memperingatkan dia, ia akan mati dalam dosanya dan perbuatan-perbuatan kebenaran yang dikerjakannya tidak akan diingat-ingat, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. 21 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang yang benar itu supaya ia jangan berbuat dosa dan memang tidak berbuat dosa, ia akan tetap hidup, sebab ia mau menerima peringatan, dan engkau telah menyelamatkan nyawamu."

Jadilah Penjaga Bagi Sesamamu

Kita baru merayakan Ulang Tahun GPM yang ke 86 tahun. Jika diibaratkan dengan manusia maka GPM sudah menjadi lansia yang sarat pengalaman karena telah banyak makan asam garam dan pasti akan sangat bijaksana dalam bertutur maupun bertindak. Dirgahayu GPM, semoga para pelayan dan wargamu, akan menjadi orang-orang yang bijak dalam bertutur maupun bertindak.

Hari ini kita belajar dari Nabi Yehezkiel yang diberi tugas oleh Tuhan, sebagai penjaga Israel. Tugas ini berisiko tinggi karena Yehezkiel harus menyampaikan peringatan kepada bangsa pilihan Tuhan itu. Jika peringatan itu tidak disampaikan, maka Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban darinya dan bisa jadi nyawa Yehezkiel sendiri menjadi taruhannya. Memang berat tugas ini, tetapi itu adalah tugas yang harus diembaninya sebagai seorang suruhan Tuhan. Saudaraku, setiap kita adalah juga ‘penjaga’ bagi sesama kita.  Artinya kita memiliki tanggung jawab memberitakan Firman dan kehendak Tuhan bagi orang-orang di sekitar kita.  Kita tidak boleh tinggal diam dan bersikap masa bodoh saat melihat orang-orang di sekitar kita dengan sengaja ataupun tanpa sengaja melakukan dosa.  Kita harus berani menegur mereka jika hidup mereka bertentangan dengan firman Tuhan.  Sebab sama seperti Yehezkiel, kita juga akan dimintai pertanggungjawaban dari Tuhan. Jika Yehezkiel terpanggil untuk menjadi Penjaga Israel maka kita terpanggil untuk menjadi Penjaga bagi sesama kita. Melakukan tugas ini memang berisiko, karena ada yang bisa menerima peringatan kita dan mau berubah, tetapi ada juga yang tidak bisa menerima dan malah berperkara dengan kita. Tetaplah lakukan tugas kita, karena Tuhan akan tetap menyertai kita.

Doa:   Tuhan, lengkapi kami dengan keberanian, hikmat dan semua yang kami perlu untuk menjadi penjaga bagi sesama kami. Amin.    

Senin, 13 September 2021                                  

bacaan : Yeremia 10 : 21   

21 Sungguh, gembala-gembala sudah menjadi bodoh, mereka tidak menanyakan petunjuk TUHAN. Sebab itu mereka tidak berbahagia dan seluruh binatang gembalaan mereka cerai-berai.

Tidak Bertanya Sesat Di Jalan

Coba anda mencari seseorang di suatu tempat yang masih asing bagi anda dan karena malu, anda tidak bertanya. Anda pasti akan muter-muter saja dan mungkin juga tersesat seharian tanpa menemukan orang yang anda cari. Tapi jika anda mau bertanya pada orang-orang yang berdiam di situ, pasti ada petunjuk yang diperoleh dan anda bisa segera menemukan yang dicari. Hal ini terjadi juga pada para gembala yang menurut Yeremia “BODOH”, karena melakukan tugas mereka tanpa bertanya kepada Tuhan sehingga menyebabkan “hewan gembalaan” mereka tercerai berai dan mereka menjadi tidak bahagia (Yeremia 10:21). GEMBALA bagi bangsa Israel adalah gambaran pemimpin mereka. Nabi Yeremia sedang mengecam para pemimpin Israel karena menjadi gembala yang bodoh dan jahat. Mereka bertindak menurut kehendak sendiri tanpa meminta petunjuk Tuhan dan mereka pun gagal menjadi pemimpin yang baik atau menurut bacaan kita “tidak bahagia” Saudaraku, dalam perjalanan kehidupan kita, entah saat kita berada di tengah keluarga, di tempat kerja atau di mana saja dan melakukan aktifitas kita, sering kita juga mengalami “tersesat” dan “tidak bahagia”. Hal itu disebabkan oleh berbagai hal, misalnya : pekerjaan kita berantakan, hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita tidak harmonis dan sebagainya. Kondisi ini terjadi karena kita melakukan segala sesuatu dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri karena menganggap diri bisa, pintar, cakap lalu tidak bertanya kepada Tuhan. Jadi, jika kita tak ingin “tersesat” dan “tidak bahagia” dalam hidup kita, mari tanyakan Tuhan terlebih dulu sebelum kita melakukan sesuatu. Libatkan Tuhan dalam setiap rencana dan kerja kita.

Doa:   Tuhan, kami akan selalu bertanya dan minta petunjuk-Mu sebelum kami  beraktifitas. Kami percaya Tuhan mendengar kami. Amin. 

Selasa, 14 September 2021                             

bacaan : Yeremia 23 : 1 – 4

Janji tentang Tunas Daud yang adil
"Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!" --demikianlah firman TUHAN. 2 Sebab itu beginilah firman TUHAN, Allah Israel, terhadap para gembala yang menggembalakan bangsaku: "Kamu telah membiarkan kambing domba-Ku terserak dan tercerai-berai, dan kamu tidak menjaganya. Maka ketahuilah, Aku akan membalaskan kepadamu perbuatan-perbuatanmu yang jahat, demikianlah firman TUHAN. 3 Dan Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Ku dari segala negeri ke mana Aku menceraiberaikan mereka, dan Aku akan membawa mereka kembali ke padang mereka: mereka akan berkembang biak dan bertambah banyak. 4 Aku akan mengangkat atas mereka gembala-gembala yang akan menggembalakan mereka, sehingga mereka tidak takut lagi, tidak terkejut dan tidak hilang seekorpun, demikianlah firman TUHAN.

Jadilah Pemimpin Yang Bertanggung Jawab

Kores dipercayakan Tuhan untuk menjadi Kepala Desa di salah satu Desa di Pulau B. Pada saat dilantik dan diambil sumpah, Kores berjanji akan melakukan tugasnya dengan baik. Bahkan di dalam pidatonya Kores mengutip beberapa ayat Alkitab dan mengatakan bahwa dia akan menjadi “Gembala Yang Baik” bagi masyarakat desa itu. Namun seiring perjalanan waktu, Kores ingkar janji. Banyak kecurangan yang dilakukannya sehingga jabatan Kores dicopot dan dia dijebloskan ke dalam penjara.    Saudaraku, apa yang terjadi dengan Kores dalam kisah di atas juga terjadi dalam kehidupan umat pilihan Allah, Israel. Dalam bacaan kita, melalui Yeremia, Allah mengecam para raja Yehuda karena perilaku mereka ibarat gembala yang jahat. Mereka lalai dan membiarkan umat Allah terserak dan tercerai berai, karena itu Tuhan menghukum mereka (ay.1-2). Sementara umat Israel, sekalipun telah berdosa terhadap Allah namun karena kasihNya yang besar, Allah berinisyatif untuk mengumpulkan mereka kembali dan memberikan pemimpin yang lebih bertanggung jawab agar kehidupan umat dapat dipulihkan (ay.3-4). Jika kita sedang dipercayakan menjadi pemimpin, entah di dalam masyarakat, di gereja, di persekutuan-persekutuan, termasuk di dalam keluarga sebagai Papa dan Mama, baiklah lakukan tugas kepemimpinan itu dengan baik dan benar. Baik dan benar bukan menurut ukuran kita, tetapi sesuai kehendak Tuhan. Jadilah gembala yang baik dan bertanggung jawab, sebab jika tidak, maka sewaktu-waktu Allah akan mengambil alih kepemimpinan itu dan yang bersalah pasti akan dihukum. Tuhan Yesus, Sang Gembala Yang Maha Baik telah memberikan contoh bagaimana menjaga dan merawat para domba. Belajarlah padaNya dan jadilah pemimpin yang bertanggung jawab.

Doa: Tuhan, jadikanlah kami pemimpin yang bertanggung jawab. Amin.

Rabu, 15 September 2021                            

bacaan : Yeremia 25 : 34 – 38

34 Mengeluh dan berteriaklah, hai para gembala! Berguling-gulinglah dalam debu, hai pemimpin-pemimpin kawanan kambing domba! Sebab sudah genap waktunya kamu akan disembelih, dan kamu akan rebah seperti domba jantan pilihan. 35 Maka bagi para gembala tidak akan ada lagi kelepasan, dan bagi para pemimpin kawanan kambing domba tidak akan ada lagi keluputan. 36 Dengar! para gembala berteriak, para pemimpin kawanan kambing domba mengeluh! Sebab TUHAN telah merusakkan padang gembalaan mereka, 37 dan sunyi sepilah padang rumput yang sentosa, oleh karena murka TUHAN yang menyala-nyala itu. 38 Seperti singa Ia meninggalkan semak belukar persembunyian-Nya, sebab negeri mereka sudah menjadi ketandusan, oleh karena pedang yang dahsyat, oleh karena murka-Nya yang menyala-nyala."

Ikutilah Kehendak Tuhan

Yeremia dalam bacaan kita hari ini, mengisahkan tentang amarah Tuhan Allah kepada bangsa-bangsa karena tidak melakukan kehendak-Nya. Penghukuman yang Allah berikan tidaklah memandang muka, semua bangsa yang berdosa dihukum-Nya. Gambaran murka Allah itu ibarat  cawan yang berisi anggur yang memabukkan, yang membuat orang yang meminumnya menjadi mabuk, muntah-muntah, rebah dan tidak bangun lagi. Ayat bacaan kita (34-38) memperlihatkan kondisi umat yang mengalami Kemurkaan Tuhan Allah. Mereka seperti kehilangan arah dan ketakutan serta cemas. Inilah gambaran kesengsaraaan manusia ketika tidak setia dan taat kepada Tuhan.

Hal yang sama berlaku juga dalam kehidupan kita. Dalam konteks keluarga misalnya, ada pola didikan yang diberikan setiap orang tua kepada anak-anaknya. Pola didikan itu pasti berbeda-beda namun bertujuan sama yakni menginginkan anak-anaknya menjadi orang yang baik, setia dan taat. Tidak jarang, dalam didikan itu ada orang tua yang mendidik anaknya dengan keras dan tegas agar anaknya lebih bertanggung jawab dan mandiri. Bila kedapatan anaknya melakukan kesalahan, maka akan ada konsekuensi yang diterima anak. Entah dimarahi, dipukul, dicubit, dsb, pasti si anak harus menerimanya dan belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Belajar dari kesalahan adalah sikap yang mesti dimiliki setiap orang dengan komitmen bahwa tidak akan lagi melakukan kesalahan yang sama. Oleh karena itu, bijaklah melihat setiap tantangan dan masalah sebagai bagian dari cara Tuhan sedang mendidik dan mengarahkan kita untuk setia dan taat melakukan kehendak-Nya.

Doa: Ampunilah kami Tuhan, Jadilah penuntun bagi kehidupan kami. Amin.

Kamis, 16 September 2021                           

bacaan : Matius 12 : 9 – 15a

Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat
9 Setelah pergi dari sana, Yesus masuk ke rumah ibadat mereka. 10 Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka bertanya kepada-Nya: "Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat?" Maksud mereka ialah supaya dapat mempersalahkan Dia. 11 Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya? 12 Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat." 13 Lalu kata Yesus kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka pulihlah tangannya itu, dan menjadi sehat seperti tangannya yang lain. 14 Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia.15 Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.

Nilai Kemanusiaan

Bacaan hari ini menceritakan tentang seorang yang lumpuh sebelah tangannya di dalam rumah ibadat. Orang Farisi menjebak dan mempersalahkan Yesus dengan pertanyaan, namun dengan bijaksana, Yesus mengatakan, “Jika seekor dombamu jatuh ke dalam lobang pada hari sabat, pasti kau akan mengeluarkannya?” Tuhan Yesus ingin menunjukkan bahwa manusia pastinya lebih berharga dari domba, oleh sebab itu jika domba dapat diselamatkan pada hari sabat, mengapa manusia tidak? Kita sering terperangkap pada aturan dan batasan-batasan yang mungkin saja tidak memberi kenyamanan dalam kehidupan kita. Bahkan aturan dan batasan itu digunakan juga untuk memojokkan atau menjatuhkan kita. Benar, bahwa setiap aturan yang dibuat untuk kebaikan bersama, namun ada hal-hal tertentu yang mesti disikapi secara bijak sehingga tidak merugikan diri kita. Oleh karenanya, evaluasi perlu dilakukan jika ada aturan yang tidak lagi menjawab kebutuhan hidup manusia. Dalam hidup berkeluarga pasti juga ada seperangkat aturan yang diterapkan. Tidak secara tertulis namun aturan-aturan tersebut sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh setiap anggota keluarga. Misalnya, tugas ibu adalah memasak, tugas ayah memperbaiki sesuatu yang rusak, tugas anak-anak membantu ibu membersihkan rumah. Jika kebiasaan ini setiap hari dilakukan maka akan menjadi sebuah aturan dengan pembagian peran yang ada, sehingga jika ada tugas yang terlewatkan atau tidak dilakukan sesuai kebiasaan itu, maka akan menjadi hal yang salah. Tindakan ini yang dikritisi Yesus, ketika berhadapan dengan pertanyaan orang Farisi tentang bekerja pada hari sabat. Sikap Yesus pada akhirnya menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan lebih tinggi dari aturan/hukum yang ada. Oleh sebab itu, kita diajak untuk bersikap kritis tetapi juga menghargai setiap aturan dengan mempertimbangkan nilai kemanusiaan.

Doa:      Tuhan, berilah kepada kami hati yang selalu mengasihi sesama. Amin.

Jumat, 17 September 2021                                   

bacaan : Lukas 15 : 1 – 7

Perumpamaan tentang domba yang hilang
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. 2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." 3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 4 "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? 5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, 6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. 7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."

Hilangkan Egomu, Temukan Kasihmu

Domba kecil, Domba kecil, hilang di atas bukit, datanglah Gembala angkat Domba kecil.” Ingatkah kita akan lagu ini? Ya! Ini adalah salah satu lirik lagu sekolah minggu yang sudah sangat dikenal. Lirik sederhana ini membuat kita dengan mudah memahami makna lagu, yakni sang Gembala telah menemukan Domba yang hilang. Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli taurat karena mereka bersungut ketika melihat Tuhan Yesus duduk bersama orang-orang berdosa dan para pemungut cukai. Tanggapan Tuhan Yesus kepada mereka sederhana, bahwa satu domba yang hilang ketika ditemukan pasti Gembalanya akan sangat bahagia. Bukankah lebih baik satu orang berdosa bertobat daripada 99 orang benar yang tidak bertobat. Seorang Gembala memang harus selalu berada bersama-sama dengan domba-dombanya, sebab tugas gembala ialah menjaga, memelihara dan melindungi kawanan domba-dombanya itu. Gembala bukan hanya ditujukan kepada para pelayan. Gembala adalah pemimpin dalam suatu komunitas. Gembala di dalam keluarga, jemaat, masyarakat adalah pemimpin yang bertugas mengayomi dan memberi rasa aman kepada semua orang yang dipimpinnya. Sikap netral mesti dimiliki seorang Gembala sehingga tidak membedakan satu dari yang lain, hanya saja terkadang sikap egois dan sombong mengakibatkan kita tidak mampu memberlakukannya. Oleh sebab itu, firman Tuhan mengingatkan belajarlah menghilangkan ego kita dan temukanlah kasih untuk menerima dan menggembalakan tanpa saling membedakan.

Doa:   Ya Yesus Gembala yang Agung, tolong kami Tuhan untuk dapat mengasihi sesama kami. Amin.

Sabtu, 18 September 2021                              

bacaan : Matius 18 : 12 – 14

Perumpamaan tentang domba yang hilang
12 "Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? 13 Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. 14 Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang."

Bring Me Home (Bawa Aku Pulang)

Pulanglah anak-Ku, Bapa rindu berseru.. Pulanglah hai anak-Ku Ada ampun Bapa bagimu”. Sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan oleh Nikita mengisahkan tentang kerinduan seorang ayah kepada anak bungsunya yang merantau dan melakukan hal-hal yang tidak berkenan. Seruan “Pulanglah Anak-Ku” bermakna bahwa sang ayah benar-benar merindukan anaknya untuk kembali pulang. Bacaan hari ini secara sederhana ingin menunjukkan bahwa Kasih Tuhan begitu besar bagi kita, sehingga IA menghendaki agar tidak satupun kita (Anak-anak-Nya) hilang dari hadapan-Nya. Hilang disini berarti tidak menjauh dari Hadirat Tuhan, tidak melakukan sesuatu diluar Kehendak Tuhan, dan tidak menyakiti hati Tuhan. Layaknya seorang ayah yang merindukan kepulangan anaknya, walaupun anaknya telah melakukan kesalahan kepadanya menunjukkan bahwa Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus melakukan hal yang sama, bahwa IA akan memberikan kesempatan untuk kita kembali “Pulang” (bertobat) kepada-Nya. Oleh Sebab itu, peka dengar panggilan-Nya, tetap siuman untuk selalu melakukan kehendak-Nya, taati setiap perintah-Nya.  Bayangkan saja, kita sebagai orang tua ketika anak kita kembali pulang dan meminta maaf untuk setiap kesalahannya pastinya kita akan memeluk dan memaafkannya walaupun mungkin ada sedikit bentakan atau kemarahan yang diluapkan namun setelah itu kita akan bersukacita karena anak kita telah kembali. Hal yang sama akan kita alami bersama Tuhan, kembalilah kepada-Nya, IA tidak memperhitungkan pelanggaran kita, yang IA lihat hanyalah hati yang sungguh-sungguh bertobat.

Doa: Terima Kasih Ya Tuhan, Untuk setiap Kasih-Mu. Amin.

*sumber SHK Sept 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 5 – 11 September 2021

Tema Mingguan : ” KEPEMIMPINAN YANG MENGGEMBALAKAN “

Minggu, 05 September 2021                         

bacaan : Yohanes 10 : 1 – 20

Gembala yang baik
"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; 2 tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. 3 Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. 4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. 5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal." 6 Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka. 7 Maka kata Yesus sekali lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. 8 Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. 9 Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. 10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. 11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; 12 sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. 13 Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. 14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku 15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. 16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. 17 Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. 18 Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku." 19 Maka timbullah pula pertentangan di antara orang-orang Yahudi karena perkataan itu. Banyak di antara mereka berkata: 20 "Ia kerasukan setan dan gila; mengapa kamu mendengarkan Dia?" 21 Yang lain berkata: "Itu bukan perkataan orang yang kerasukan setan; dapatkah setan memelekkan mata orang-orang buta?"

Keluarga Yang Saling Menggembalakan

Tuhan Yesus mengandaikan persekutuan jemaat sebagai domba-domba-Nya dan IA sendiri menyediakan diri-Nya menjadi Gembala domba. Dalam bacaan kita hari ini dijelaskan bahwa tanggungjawab untuk menggembalakan didasari oleh panggilan Tuhan Yesus sebagai Gembala Agung kita. Tidak ada satu pun yang sanggup menjadi gembala yang baik seperti Yesus, yang memelihara dan berkorban bagi domba-dombaNya. Yesus memelihara umatNya dengan penuh kasih dan pengorbanan. Ia telah menderita untuk umatNya, untuk kita semua. Meneladani sang Gembala Agung, Yesus Kristus, maka kita pun dipanggil untuk melakukan tugas menggembalakan itu. Tanggungjawab itu harus dilaksanakan dengan penuh kerendahan hati dan cinta kasih. Keluarga merupakan tempat pertama dan utama untuk melaksanakan tanggungjawab menggembalakan itu, sebab anak-anak di dalam keluarga adalah “domba-domba Allah” yang harus digembalakan untuk mempelajari dan menghayati nilai-nilai kehidupan. Dengan demikian orang tua mempunyai tanggungjawab untuk menggembalakan, yaitu: mengajar, mendidik, membina, mengasuh dan mendewasakan anak-anak dalam iman kepada Tuhan Yesus. Orang tua hendaklah menjadi “gembala” yang rendah hati, yang mengasuh anak-anaknya tanpa kekerasan namun dengan kelemah-lembutan, dan penuh kasih sayang. Ketika dalam keluarga ada saling menggembalakan, maka akan tercipta sebuah persekutuan keluarga yang harmonis dan bahagia. Maka  melalui iman, marilah kita sambut panggilan itu dan menghadirkan Gembala Agung di keluarga kita melalui kehidupan yang saling menggembalakan demi kebaikan dan kebahagiaan bersama.

Doa: Yesus Gembala yang baik, tuntunlah kami untuk hidup saling menggembalakan di dalam keluarga. Amin.

Senin, 06 September  2021                         

bacaan : Mazmur 23 : 1 – 6

TUHAN, gembalaku yang baik
Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. 2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; 3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. 4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. 5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. 6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Bersyukur Atas Kebajikan Dan Kemurahan Tuhan

Hari ini kita bersyukur atas kebajikan dan kemurahan Tuhan di usia 86 tahun Gereja Protestan Maluku. Melewati berbagai persoalan dan tantangan bahkan ancaman, baik yang berasal dari luar persekutuan gereja maupun persoalan yang terjadi dalam kehidupan bergereja,  kita selalu meyakini Tuhan Yesus sebagai Gembala  terus menuntun dan menyertai. Karena itu, firman Tuhan hari ini mau mengajak kita merenungkan kasih dan pemeliharaan Tuhan itu. Dalam nas ini pemazmur mengibaratkan dirinya seperti seekor domba, lemah dan tak berdaya menghadapi tantangan dan bahaya. Di dalam keadaan seperti itu, ia memiliki gambaran yang indah tentang Tuhan: Tuhan adalah Gembalaku. Ketika pemazmur berbicara tentang Tuhan sebagai Gembala, ia berpikir tentang Tuhan sebagai Pelindungnya. Bagi domba, gembala adalah segala-galanya. Seorang gembala akan memimpin domba-dombanya ke tempat di mana domba dapat makan dan beristirahat dengan tenang. Gembala  juga yang menuntun domba-dombanya ke jalan yang benar. Ia akan menjauhkan dari marabahaya dan menjaga mereka dengan baik. Begitu juga  kehidupan kita orang percaya. Kehidupan kita, keluarga, jemaat, dan gereja masih ada hingga hari ini karena Tuhan yang menyertai dan memberkati. Seperti seorang gembala yang baik yang memperhatikan domba-dombanya, begitu juga Tuhan kepada kita semua. Kebajikan dan kemurahan Tuhan sebagai Gembala tetap dinyatakanNya bagi Gereja Protestan Maluku.  Sebab itu, marilah  kita bersyukur dan mengagungkan nama Tuhan setiap waktu lalu kita  bertekad menjadi domba-dombaNya yang baik, yang mengenal suara Sang Gembala dan tetap mengikuti Dia.

Doa: Terima kasih Tuhan Yesus Gembala Yang Baik, atas kebajikan dan kemurahanMu bagi gereja kami. Amin.

Selasa, 07 September  2021                         

bacaan : Mazmur 78 : 70 – 72

70 dipilih-Nya Daud, hamba-Nya, diambil-Nya dia dari antara kandang-kandang kambing domba; 71 dari tempat domba-domba yang menyusui didatangkan-Nya dia, untuk menggembalakan Yakub, umat-Nya, dan Israel, milik-Nya sendiri. 72 Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya.

Tuhan Mencari Orang-Orang Yang Setia Dan Tulus Hati

Sebelum menjadi pemimpin yang besar Daud harus melewati proses ujian kesetiaan dalam perkara-perkara kecil terlebih dahulu. Seperti menggembalakan kawanan domba milik ayahnya. Dalam menggembalakan, Daud menunjukkan kesetiaan dan ketulusan yang pada akhirnya Tuhan membuat segala sesuatu indah tepat waktunya. Seperti yang ditulis Asaf : dipilihnya Daud, hamba-Nya, diambil-Nya dia dari antara kandang-kandang kambing domba; dari tempat domba-domba yang menyusui didatangkan-Nya dia, untuk menggembalakan Yakub, Umat-Nya dan Israel milik-Nya sendiri. Daud teruji, setia dan tulus hati, menggembalakan kawanan domba yang dipercayakan kepadanya. Di masa-masa seperti sekarang ini, ujian dan tantangan semakin besar. Tantangan itu berupa masalah, penderitaan, kesesakan, kedagingan, dll. Anak-anak Tuhan mengalami kekecewaan di tempat-tempat kerja. Yang banyak terisi oleh orang-orang lain yang tidak seiman. Terjadinya hal ini oleh karena kita yang kurang kuat menghadapi resiko-resiko kerja yang berat. Nampak anak-anak Tuhan mulai kehilangan kesetiaan dan ketulusan dalam mengerjakan tugas-tugas yang telah Tuhan percayakan. Kondisi itu yang membuatnya kehilangan kesempatan dalam meraih prestasi. Kembali kita diingatkan Sebagai anak-anak Tuhan jadilah panutan, dimana dan kapanpun waktunya kita harus bisa menjadi berkat bagi dunia ini. Jadilah gembala yang baik dan pakailah pola pendekatan gembala dalam menuntun keluaraga dan sesama yang lain. Tuhan mencintai orang-orang yang setia dan tulus hati di bumi ini.

Doa:  Tuhan kuatkan dan teguhkan hatiku, untuk kerjakan tugas-tugas yang Engkau percayakan. Amin.

Rabu, 08 September 2021                                     

bacaan : Yeremia 3 : 15

15 Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku; mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian.

Allah Mengaruniakan Gembala Yang Menggembalakan

Cacat tubuh laki-laki itu, namun ia bisa mencari nafkah dan  menjadi pengusaha yang sukses. Dia juga menikahi seorang gadis sempurna tanpa cacat dan sama-sama mereka membangun rumah tangga dan memperoleh dua orang anak yang cantik dan sehat. Orang memandang rendah kepadanya, tidak punya masa depan, dengan hidup yang seperti begitu. Namun Tuhan membuat dia  berhasil dan sukses. Dalam kondisi cacat di kursi roda, laki-laki itu memiliki kemampuan untuk mendidik dan menuntun keluarganya dengan baik. Anak-anak diingatkan untuk hadapi tantangang dan cobaan. Jalanilah dengan keyakinan bahwa dengan iman dan doa, setia dan taat pada Tuhan, kita dapat melakukan segala yang baik dalam hidup ini. Sosok Ayah yang cacat ini telah memberikan  inspirasi kepada keluarga kita, dan lainnya bahwa Allah itu baik. Allah mempercayakan kita sebagai gembala yang memimpin keluarga Allah. Ia memberi hati yang taat ibarat hati seorang ayah yang mengasihi anak-anaknya, membimbing menuntun pada jalan kebenaran dan hidup. Anak-anak akan mengenal sosok ayah sebagai gembala dan berbangga memilikinya, sekalipun dia seorang yang cacat fisiknya. Kita belajar tidak saja mengenal Allah, tetapi mengenal perbuatan-perbuatan-Nya yang Ia lakukan atas kita. Karenanya setiap orang yang percaya harus menyerahkan diri penuh dalam tuntunan-Nya. Banyak keberhasilan dan kesuksesan di didapat oleh karena  takut akan Tuhan, hidup dalam ketaatan dan kesetiaan pada Tuhan. Dalam susah maupun senang hiduplah bersama Tuhan sebab Dia gembala yang baik, yang selalu menggembalakan kita. Marilah kita belajar dari Tuhan gembala yang baik, supaya kita  pun dapat menggembalakan yang lain dengan hati yang penuh kasih .

Doa: Tuhan, karuniakanlah kemampuan bagi kami dalam menggembalakan keluarga. Amin.

Kamis, 09 September 2021                              

bacaan : Yesaya 40 : 9 – 11

9 Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: "Lihat, itu Allahmu!" 10 Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. 11 Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.

Allah Dan Kekuatan-Nya

Banyak orang takut pada virus corona, sebab berat resiko jika terinfeksi virus ini. Banyak cara dipakai untuk terhindar baik 5M, pola makan yang sehat, istirahat yang teratur juga vaksin. Virus ini belum juga berakhir. Dalam situasi ini kita bertanya dan terus bertanya, Tuhan, kapan virus ini ,berakhir? Mungkinkah kita akan kuat kedepan dalam menjalani hidup di masa pandemic ini?. Dalam situasi dan keadaan apapun yang membuat kita terganggu, ingatlah bahwa Allah kita tetap ada bersama kita. Yesaya menggambarkan Allah sebagai Gembala yang menggembalakan dan domba-domba-Nya terpelihara. Allah juga dilukiskan sebagai seorang Gembala yang mengangkat seekor anak domba supaya melindungi dan membawanya dekat di hati-Nya. Tuhan datang dengan kekuatan dan kekuasaan seperti pemimpin yang perkasa, namun kehadiran-Nya bagaikan Gembala penuh perhatian yang menggembalakan domba-domba-Nya. Kebenaran ini harus disambut dengan iman, pengharapan dan kerinduan dalam doa kepada Tuhan. Karena itu umat diharapkan tidak merasa kecewa dan takut apalagi putus asa. Yesaya mengumandangkan firman Tuhan bahwa Tuhanlah yang akan menolong mereka. Karena itu umat diajak untuk bersorak-sorak bagi Dia yang datang yang membawa kemenangan, pembebasan, ditengah penderitaan dan kesesakan. Menghadapi situasi sekarang ini, mari kita bersyukur kepada Tuhan yang selalu membuat kita menjadi orang-orang yang kuat, tidak menjadi takut dalam menghadapi semua tantangan dan cobaan. Jadi jangan kita  takut menjalani hidup dalam cobaan dunia ini. Justru yang perlu sekarang ini kita minta adalah kekuatan dan kesehatan dari Tuhan, agar kekuatan Roh-Nya melindungi dan memampukan kita menjalani hidup ini .

Doa: Tuhan membebaskan kita dari rasa takut. Amin.

Jumat, 10 September 2021                          

bacaan : I  Tawarikh  11 : 1 – 3

Daud menjadi raja atas Israel
Lalu berkumpullah seluruh Israel kepada Daud di Hebron dan berkata: "Ketahuilah, kami ini darah dagingmu. 2 Telah lama, ketika Saul memerintah, engkaulah yang memimpin segala gerakan orang Israel. Dan TUHAN, Allahmu, telah berfirman kepadamu: Engkaulah yang harus menggembalakan umat-Ku Israel, dan engkaulah yang menjadi raja atas umat-Ku Israel." 3 Maka datanglah semua tua-tua Israel menghadap raja di Hebron, lalu Daud mengadakan perjanjian dengan mereka di Hebron di hadapan TUHAN, kemudian mereka mengurapi Daud menjadi raja atas Israel, seperti yang difirmankan TUHAN dengan perantaraan Samuel.

Raja Israel Pilihan Allah Sendiri

Tuhan telah menunjuk Daud sebagai Raja pengganti Saul, yang akan menggembalakan umat Israel. Daud yang dipilih Allah itu diberikan kemampuan untuk membawa umatnya ke keadaan yang baik dan sejahtera. Dalam mengerjakan tugas-tugas itu ada unsur pengorbanan. Dia rela berkorban untuk umatnya. Dia tidak saja berdoa dan taat pada Firman-Nya, tetapi mencintai umat juga membebaskan mereka dari banyak musuh. Sama seperti Daud, Allah mempercayakan kita sebagai anak-anak-Nya dalam melakukan tugas-tugas dan Dia meminta kita melakukannya dengan hati yang rela berkorban. Karena itu, sebagai hamba yang melayani, tunjukanlah kasih dan kesetiaan. Dengan kasih kita melayani, baik itu melayani anak-anak, suami/ istri  atau lainnya, dan dengan kesetiaan kita buktikan bahwa kita melakukannya sama seperti kita melakukan untuk Tuhan. Dengan doa dan Firman kita paham akan kebenaran di dalam melaksanan semua bentuk tanggung jawab. Mungkin kita akan kecewa dan putus asa, kita bisa salahkan siapa saja, tetapi jangan lupa Allah tidak pernah mempersatukan kita untuk sesuatu yang buruk, dan kalaupun yang buruk itu datang segeralah memperbaikinya. Tugas kita demikian sebab Allah percayakan kita untuk hal baik dan memperbaiki hal buruk supaya kita menjadi berarti. Oleh karena itu setiap orang yang mau berhasil dan sukses, adalah mereka yang sungguh-sungguh melakukan tanggung jawab dalam doa dan pergumulan. Ingat bahwa Daud yang dipilih Allah itu diberikan kemampuan untuk membawa umatnya ke keadaan yang baik, sejahtera. Jangan kita lupa ada dalam doa, dan jangan jemu-jemu melakukan kebaikan sekalipun tersakiti. Lakukan yang baik, jauhkan yang tidak baik. Lakukan yang positif jauhkan yang negatif, berjuang keras demi keselamatan diri dan sesama demi kebahagiaan bersama.

Doa:  Tuhan mampukan kami mengerjakan tugas-tugas yang Engkau telah percayakan. Amin.                                               

Sabtu, 11 September 2021                           

bacaan : 1 Tawarikh 13 : 1 – 8

Tabut dipindahkan dari Kiryat-Yearim
Daud berunding dengan pemimpin-pemimpin pasukan seribu dan pasukan seratus dan dengan semua pemuka. 2 Berkatalah Daud kepada seluruh jemaah Israel: "Jika kamu anggap baik dan jika diperkenankan TUHAN, Allah kita, baiklah kita menyuruh orang kepada saudara-saudara kita yang masih tinggal di daerah-daerah orang Israel, dan di samping itu kepada para imam dan orang-orang Lewi yang ada di kota-kota yang dikelilingi tanah penggembalaan mereka, supaya mereka berkumpul kepada kita. 3 Dan baiklah kita memindahkan tabut Allah kita ke tempat kita, sebab pada zaman Saul kita tidak mengindahkannya." 4 Maka seluruh jemaah itu berkata, bahwa mereka akan berbuat demikian, sebab usul itu dianggap baik oleh segenap bangsa itu. 5 Lalu Daud mengumpulkan semua orang Israel dari sungai Sikhor di Mesir sampai ke jalan yang menuju Hamat, untuk menjemput tabut Allah dari Kiryat-Yearim. 6 Lalu Daud dan segenap orang Israel berangkat ke Baala, ke Kiryat-Yearim, yang termasuk wilayah Yehuda, untuk mengangkut dari sana tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN yang bertakhta di atas kerubim. 7 Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru dari rumah Abinadab, sedang Uza dan Ahyo mengantarkan kereta itu. 8 Daud dan seluruh orang Israel menari-nari di hadapan Allah dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, ceracap dan nafiri.

Tanyakan Tuhan Dan Jadikan Dia Alternatif Pertama

Syalom saudaraku! Bersyukurlah kepada Tuhan karena kita telah tiba dengan selamat di penghujung usbu ini. Hari ini kita belajar dari Daud dan Umat Israel dalam menangani Tabut Perjanjian, Benda yang adalah lambang kehadiran Allah, yang hanya bisa diangkat/ dipegang oleh para imam dari Suku Lewi. Jika membaca perikop 1 Taw.13:1-8 ini sepintas maka kita akan menyimpulkan bahwa Daud telah melakukan yang terbaik sebagai seorang pemimpin. Ia tidak memutuskan sendiri apa yang hendak dikerjakannya tetapi ia berunding dengan para pemimpin pasukan dan mengumpulkan orang Israel termasuk para imam Lewi dari berbagai penjuru. Tapi kenapa terjadi malapetaka saat tabut itu dipindahkan hingga memakan korban? Rupanya yang baik menurut Daud belum tentu baik menurut Tuhan. Yang Tuhan inginkan adalah, Daud harus bertanya kepada Tuhan lebih dulu. Langkah selanjutnya akan Tuhan tentukan dengan caraNya. Jika hal itu dilakuan Daud maka Uza yang bukan berasal dari imam Lewi tidak akan menyentuh tabut yang berakibat kematiannya. Jika Daud lebih dulu bertanya kepada Tuhan, maka Tuhan akan memberinya hikmat untuk menyerahkan tugas memimpin pujian kepada kaum Lewi, sesuai aturan di Israel.  Saudaraku, sering kali kita berinisiatif melakukan sesuatu tanpa bertanya kepada Tuhan. Tuhan menjadi alternatif terakhir dalam perencanaan kita, bukan alternatif pertama dan utama sehingga kita sering gagal. Karena itu baik Papa sebagai pemimpin dalam keluarga maupun Mama dan anak-anak harus menjadikan Tuhan sebagai alternatif pertama dan utama dalam setiap perencanaan kita, maka Tuhan Pemimpin yang Agung akan menuntun kita untuk melakukan yang baik dan benar menurut Tuhan.

Doa:          Ya Tuhan, tolong kami tuk menempatkan Tuhan sebagai altrnatif pertama dalam setiap perencanaan kami. Amin.

*sumber : SHK Sept 2021, LPJ GPM

Santapan Harian Keluarga, 29 Agustus – 4 September 2021

Tema Mingguan : ” KELUARGA YANG MELAKUKAN KEBAIKAN AKAN MEWARISI KEHORMATAN “

Minggu, 29 Agustus 2021                                  

bacaan : Amsal  3 : 27 – 35

Anjuran untuk berbuat baik
27 Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. 28 Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi," sedangkan yang diminta ada padamu. 29 Janganlah merencanakan kejahatan terhadap sesamamu, sedangkan tanpa curiga ia tinggal bersama-sama dengan engkau. 30 Janganlah bertengkar tidak semena-mena dengan seseorang, jikalau ia tidak berbuat jahat kepadamu. 31 Janganlah iri hati kepada orang yang melakukan kelaliman, dan janganlah memilih satupun dari jalannya, 32 karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat. 33 Kutuk TUHAN ada di dalam rumah orang fasik, tetapi tempat kediaman orang benar diberkati-Nya. 34 Apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Iapun mencemooh, tetapi orang yang rendah hati dikasihani-Nya. 35 Orang yang bijak akan mewarisi kehormatan, tetapi orang yang bebal akan menerima cemooh.

Kehormatan Adalah Buah Perbuatan Baik

Kitab Amsal menegaskan pesan-pesan iman yang patut dipedomani orang percaya dalam hidup sehari-hari. Salah satu dari pesan-pesan itu adalah manusia dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok, yakni “orang benar” dan “orang fasik”. Orang benar disebut juga orang bijak atau orang pandai, sedangkan orang fasik disebut juga orang jahat atau orang bodoh. Bacaan hari ini mengajak kita untuk berusaha menjadi orang benar atau orang bijak. Orang benar memahami bahwa setiap tindakkan pasti menghasilkan akibat, dan karena itu mereka tahu keputusan apa yang harus diambil sebelum melangkah. Orang benar akan memilih “jalan” yang menuju kepada berkat, kebahagiaan, kekayaan, dan kehormatan. Hidup orang benar adalah benar artinya bersikap tulus dan memperlakukan orang lain dengan adil dan jujur, secara khusus mereka yang miskin atau kurang beruntung. Orang benar tidak akan merancang kejahatan terhadap sesamanya. Ia juga tidak bertengkar atau iri hati terutama kepada orang yang melakukan kelaliman. Itulah sebabnya dalam ayat 33 – 35, Tuhan akan memberkati orang yang bijak atau orang benar, tetapi mengutuk rumah orang fasik atau bodoh. Orang bijak yang rendah hati akan dipuji oleh sesama, tetapi orang bodoh yang mengejek Tuhan pada akhirnya akan dicemooh. Orang yang bijak akan mewarisi kehormatan, sebab kehormatan adalah buah dari perbuatan baik. Jalani dan penuhilah hari-hari hidup dengan perbuatan baik.

Doa:  Ya Tuhan layakanlah kami melakukan perbuatan baik dalam hidup yang adalah anugerahmu. Amin.

Senin, 30 Agustus 2021   

bacaan : Amsal  11 : 25 – 27

25 Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. 26 Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum. 27 Siapa mengejar kebaikan, berusaha untuk dikenan orang, tetapi siapa mengejar kejahatan akan ditimpa kejahatan.

Jadikanlah Hidupmu Berkat Bagi Orang Lain

Kitab Amsal juga menyebutkan bahwa hikmat adalah anugerah Tuhan. orang percaya memiliki karunia ini dan didorong untuk menggunakannya. Hikmat memampukan orang percaya memahami pentingnya memperlakukan orang lain secara jujur dan adil, rendah hati, setia, bekerja keras, menghormati orang tua dan orang berpengaruh lainnya serta peduli terhadap orang miskin juga mereka yang memerlukan bantuan. Orang percaya hidup karena berkat Tuhan dan terpanggil untuk menjadi berkat bagi orang lain. Karena itu dalam ayat 25 disebutkan: “Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.” Orang yang suka memberi kepada orang lain, akan menerima ganjaran. Pemberi yang murah hati akan diingat oleh mereka yang pernah ditolongnya. Sebaliknya, orang yang tamak tidak mempunyai sahabat dan dikutuk oleh orang miskin. Kita terpanggil untuk peduli terhadap orang lain yang membutuhkan perhatian dan bertolongan bukan untuk dipuji, tetapi supaya Tuhan dimuliakan. Ada orang yang hidup dalam kondisi yang memprihatinkan karena kurang makan, sehingga muncullah larangan untuk “menahan gandum” (ayat 26). Ayat ini berkaitan dengan para pedagang yang menahan gandum supaya ada kelangkaan gandum, dengan demikian mereka dapat memasang harga lebih tinggi. Oleh sebab itu kita diminta untuk mengejar kebaikan dan menjauhkan kejahatan. Perbuatan baik adalah pilihan iman untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Doa:  Ya Tuhan sumber berkat, jadikanlah kami saluran berkat-Mu bagi orang lain. Amin.

Selasa, 31 Agustus 2021                                 

bacaan : Amsal 25 : 21 – 22     

21 Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. 22 Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan TUHAN akan membalas itu kepadamu.

Orang Bijak Membalas Kejahatan Dengan Kebaikan

Bacaan hari ini berisi pesan yang menarik dan sekaligus menantang orang Kristen. Umumnya manusia berkecenderungan untuk membalas perlakuan kejahatan dengan kejahatan karena didorong terusiknya harga diri dan rasa malu. Bila harga diri seseorang terusik dan ia mengalami rasa malu, maka sangat mungkin perlakuan jahat yang dialaminya akan dibalas dengan jahat pula. Membalas kejahatan dengan kebaikan adalah salah satu wujud perilaku orang bijak, dan karena itu merupakan keunikan hidup yang harus diwujudkan orang Kristen. Keunikan hidup demikian didasarkan pada prinsip kasih. Hal ini tersebut dalam ungkapan “Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air.  Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan Tuhan akan membalas itu kepadamu”. Amsal ini menegaskan pentingnya bersikap baik terhadap musuh. Perilaku seperti ini bersifat ritual,  maksudnya orang yang sudah melakukan kesalahan harus mengusung semangkok bara api di atas kepalanya, sebagai ungkapan penyesalan atas tindakkannya. Maksud Amsal ini adalah bahwa kebaikan akan menyebabkan orang yang bersalah menyesali perbuatan salahnya. Orang Kristen telah dianugerahi hikmat dan oleh sebab itu terpanggil untuk berbuat kebaikan ketika mengalami keburukan, agar Tuhan dimuliakan. Tuhan dimuliakan bila orang yang melakukan kejahatan menyadari kesalanannya dan bertobat. Orang jahat bertobat jika ia mengalami kebaikan Tuhan, melalui hidup orang Kristen yang bersedia mengampuni.

Doa:  Tuhan layakkanlah kami untuk mampu mengasihi orang yang melakukan kejahatan terhadap kami. Amin

Rabu, 01 September 2021                                  

bacaan : Matius 7 : 1 – 5

Hal menghakimi
"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. 2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. 3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? 4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. 5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." 6 "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu."

Janganlah Menghakimi Saudaramu

Gajah di pelupuk mata tak terlihat, semut di seberang lautan terlihat.” Sebuah peribahasa yang sudah sangat sering kita dengar. Peribahasa ini menunjuk kepada kecenderungan mudahnya melihat kesalahan dan keburukan orang lain daripada melihat dan mengakui kesalahan serta kelemahan sendiri.  Dalam ajaranNya hari ini, Tuhan Yesus pun mengingatkan hal yang sama. Dengan tegas Ia berkata: “keluarkan dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” Tuhan mengetahui kecenderungan manusia bahwa sangat mudah seseorang melihat kekurangan dan kesalahan orang lain dari pada melihat dan mengakui kekurangan dan kesalahan dirinya sendiri. Sebab itu, Ia mengecam perilaku hidup yang munafik seperti ini dan menginginkan agar kita menjadi orang-orang yang dapat mengenal diri atau tahu diri, jangan suka menghakimi orang lain. Jujurlah dalam melihat dan mengenal diri kita, di mana selain ada kebaikan yang kita miliki namun pasti ada juga kekurangan dan kelemahannya. Kita tidak perlu menutup-nutupi kekurangan dan kelemahan kita, tetapi justru menyadari dan mengakuinya sehingga kita bisa lebih rendah hati, tidak merasa lebih baik dan lebih benar daripada orang lain, apalagi merasa diri paling benar dan paling baik. Dengan bersikap rendah hati, kita tidak hanya mudah  mengoreksi dan membarui  diri sendiri tetapi juga tidak bersikap mudah menghakimi, melainkan dapat mendengarkan dan menerima orang lain dengan segala keberadaannya. Marilah kita wujudkan hal itu mulai dari dalam keluarga kita, janganlah saling menghakimi,tetapi bangunlah kehidupan keluarga yang penuh cinta kasih, kesabaran, pengertian dan kerendahan hati.

Doa:   Ya Bapa yang Pengasih, ajarlah kami untuk tidak saling menghakimi.   Amin.

Kamis, 02 September 2021                                 

bacaan : Matius 6 : 1 – 4

Hal memberi sedekah
"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. 2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. 4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Berilah Sedekah Dengan Tersembunyi

Mungkinkah seseorang dapat mencegah agar tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya? Kenyataannya, tangan kita sering bekerja bersama-sama. Dua-duanya sering bekerja berpasangan: mengangkat, membawa, menangkap, mengendarai, memeluk dan banyak kegiatan lain. Apa yang dilakukan tangan yang satu diketahui oleh tangan yang lain. Dua-duanya dikendalikan oleh otak yang sama. Dengan begitu, apa yang dilakukan oleh tangan yang satu, yang lainnya juga ikut. Apa yang dinasihatkan oleh Yesus dalam nas ini menggambarkan hal yang sebaliknya. Ucapan Yesus ini bersifat paradoks atau tampak berlawanan. Apakah maksud dari ucapan Yesus dalam nas ini? ucapan nasehat Tuhan Yesus ini lebih bersifat simbolis, yakni Ia mau  memberi tahu kita agar berusaha tidak mengetahui secara sadar apa yang sedang kita lakukan. Dalam hal ini, ketika kita memberi sedekah. Kalau kita memberi sedekah atau sesuatu pemberian, bukan hanya kita diingatkan agar  pemberian kita itu tidak harus diketahui oleh orang lain atau tidak dipamerkan, melainkan juga agar kita tidak terus menerus membicarakan hal itu. Karena kecenderungan manusia adalah ketika ia telah melakukan sebuah kebaikan atau memberikan sebuah pemberian, seringkali kita suka membanggakan diri dan menceritrakan hal itu kepada orang lain agar diketahui Namun firman hari ini mengingatkan kita supaya tidak membanggakan diri karena pemberian-pemberian kasih yang kita lakukan; atau menceritakan perbuatan murah hati yang telah kita lakukan. Kalau kita telah melakukan sebuah perbuatan kasih atau pemberian, Ingatlah! jangan memamerkan kedermawanan itu atau menarik perhatian dan pujian orang lain dengan itu. Kiranya kita semua dapat terhindar dari bahaya kesombongan dan keangkuhan.

Doa:  Tuhan, biarlah hanya Engkau yang tahu kebaikan hati dan pemberian kasihku untuk sesama. Amin.

Jumat, 03 September 2021                        

bacaan : Yakobus 4 : 11 – 12

Jangan memfitnah orang
11 Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. 12 Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?

Janganlah Saling Memfitnah

Siapa yang suka dan merasa senang kalau difitnah? Tidak satu pun diantara kita yang mau difitnah. Kendatipun demikian, perilaku memfitnah sering kita temui dalam kehidupan setiap hari. Padahal tindakan seperti ini adalah tindakan yang tidak terpuji dan tidak dikehendaki oleh Tuhan. Oleh sebab itu, nas bacaan hari ini mau memberikan peringatan penting mengenai hal fitnah ini. Mengapa kita diingatkan untuk jangan saling memfitnah? Karena fitnah adalah suatu tindakan memberikan informasi yang tidak benar mengenai seseorang. Dengan melakukan fitnah, seseorang dapat membuat orang lain menderita dan hancur. Dengan fitnah, seseorang telah menghakimi orang lain berdasarkan bukti palsu. Itu suatu pelanggaran hukum menurut surat Yakobus. ltu berarti orang yang melakukan fitnah menganggap dirinya berada di atas hukum sehingga la bisa mempermainkan hukum demi kepentingan pribadinya. Padahal, hanya ada satu pembuat hukum yaitu Tuhan. Hanya Tuhan sajalah yang dapat menghakimi seseorang berdasarkan hukum-Nya. Karena itu, manusia seharusnya tidak mempermainkan hukum, apalagi menghakimi orang lain dengan  menyebarkan kebohongan atau memfitnah. Jangan karena iri hati dan benci terhadap seseorang lalu kita menghancurkannya dengan cara-cara yang tidak baik. Adakah hari-hari ini kita pernah memfitnah teman, saudara, atau orang lain? adakah saat ini sebagai keluarga kita saling irihati dan cemburu, memendam kebencian dan menyebarkan fitnah diantara saudara, adik-kaka, suami-isteri, orang saudara dan sebagainya? Mari bertobatlah dan minta ampun kepada Allah. Kiranya kita tidak mengulanginya kembali. Dengan mengandalkan Roh Kudus, mulai hari ini, berhentilah memfitnah dan teruslah mengasihi. Jadilah pribadi dan keluarga pembawa damai! 

Doa:  Ya Tuhan Allah, tolonglah kami untuk tidak saling memfitnah dan  menghakimi dalam hidup ini. Amin.

Sabtu, 04 September 2021                        

bacaan : 1 Yohanes 3 : 11 – 18

Kasih terhadap saudara sebagai tanda hidup baru
11 Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi; 12 bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar. 13 Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu. 14 Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. 15 Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. 16 Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. 17 Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? 18 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

Janganlah Membenci Saudaramu

Piring jua bisa tatoki, pica di meja makan, bukan cuma sekali saja, sama deng hidop ade kaka, biar laeng marah laeng, mar busu-busu orang sodara jua. Mari hidup baku sayang, jaga itu ikatan, jangan pisah mama pung sayang, kaka e. Seng ada kepeng bisa cari, mas permata cuma fantasi, kalo kaka mo cari di mana”. Ini sepenggal syair lagu orang Ambon yang memberikan inspirasi tentang pentingnya mengasihi saudara. Hari ini kita pun membaca sebuah nasehat yang sama dari penulis surat 1 Yohanes. Dalam suratnya ia menasihati  supaya jangan membenci saudara kita. Mengapa hal itu diingatkannya? Karena rasa benci dapat berujung pada rencana dan tindakan yang jahat atau menyakiti. Ini merupakan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Lihatlah contoh nyata dari kisah Kain yang membunuh Habel saudaranya, semua itu dimulai dari rasa benci, dan Tuhan menghukumnya karena tindakan itu. Maka janganlah sebagai saudara kita saling membenci apalagi merancangkan kejahatan untuk saudara kita sendiri. Sebaliknya Tuhan mengajarkan kita untuk selalu mengasihi, dimulai dari keluarga kita sendiri. Dari keluargalah benih cinta kasih harus kita tanam dengan baik. Supaya dengan begitu kita mengetahui kasih Kristus ada di dalam kita, yaitu apabila kita tetap hidup saling mengasihi. Dalam situasi hidup yang susah seperti sekarang ini, kita diingatkan, jangan menutup pintu hati manakala ada keluarga atau saudara yang menderita dan kekurangan. Apalagi membenci saudara hanya karena mereka orang kurang. Mari hidup saling berbagi dalam kasih, dan janganlah membenci saudaramu, karena itu menjadi tanda sebuah kehidupan baru yang diperkenankan Tuhan untuk kita hadirkan dalam kehidupan setiap hari.

Doa: Bapa di Surga, tolonglah aku untuk tidak membenci saudaraku. Amin.

*sumber : SHK Agust-Sept 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 22 – 28 Agustus 2021

Tema Mingguan : “Menjadi Keluarga yang Siap Menghadapi Tantangan”

Minggu, 22 Agustus 2021                             

bacaan : Efesus 6 : 10 – 20

Perlengkapan rohani
10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. 13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; 16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, 18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, 19 juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, 20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

Perisai Iman

Ada pengalaman iman dari seorang bapak ketika menghadapi kerusuhan yang terjadi di Ambon tahun 1999. Keadaan kota semakin mencekam, sang bapak harus bersama-sama dengan warga yang lain untuk berjaga-jaga di perbatasan. Setiap mau keluar berjaga, anak perempuannya selalu mengatakan, “Papa, bae-bae ee.. Jang lupa berdoa voor Tuhan Yesus, supaya Tuhan Yesus jaga papa”. Sambil memeluk anaknya itu, sang bapak menunjukkan pada rompi anti pelurunya, ada kantong yang selalu diisi Alkitab kecil berwarna merah, dan ia berkata: “Tuhan Yesus pasti jaga papa”. Bapak itu kemudian keluar untuk berjaga-jaga dan berperang. Kuasa Tuhan dialaminya ketika terjadi baku tembak, ada peluru yang mengenai dada kirinya, namun ia selamat karena peluru tersebut terkena Alkitab yang ada di kantong baju anti pelurunya. Hari itu setelah perang usai, sang bapak pulang lalu menceritakan pengalaman yang dialami itu kepada istri dan anak-anaknya, mereka menangis sambil bersyukur karena Alkitab kecil itu menyelamatkan suami dan papa mereka. Sejak saat itu, keluarga ini tidak pernah kuatir ketika menemui tantangan hidup, karena dengan mengandalkan Tuhan mereka yakin akan diselamatkan. Kuatir, cemas, takut adalah perasaan manusiawi yang dialami setiap manusia ketika berhadapan dengan tantangan. Rasul Paulus mengingatkan Jemaat Efesus untuk berjaga-jaga terhadap segala hal yang dapat menggoyahkan iman mereka kepada Tuhan. Tantangan yang mereka terima secara internal (ay.11, 16) dan eksternal (ay.12) haruslah  dihadapi dengan menggunakan perisai iman yakni berdoa, melakukan kebenaran serta berpegang teguh pada perintah-Nya. Keluarga yang mengenakan perisai iman pasti mampu berdiri di tengah-tengah tantangan hidup bahkan selebihnya juga akan menjadi kuat di dalam Tuhan dan selalu taat untuk mempercayakan hidup di dalam kendali Tuhan.

Doa: Tuhan, yang kami butuhkan adalah Perisai Iman dalam hidup ini. Amin.  

Senin, 23 Agustus 2021                                

bacaan : Ulangan 31 : 1 – 6

Yosua sebagai pengganti Musa
Kemudian pergilah Musa, lalu mengatakan segala perkataan ini kepada seluruh orang Israel. 2 Berkatalah ia kepada mereka: "Aku sekarang berumur seratus dua puluh tahun; aku tidak dapat giat lagi, dan TUHAN telah berfirman kepadaku: Sungai Yordan ini tidak akan kauseberangi. 3 TUHAN, Allahmu, Dialah yang akan menyeberang di depanmu; Dialah yang akan memunahkan bangsa-bangsa itu dari hadapanmu, sehingga engkau dapat memiliki negeri mereka; Yosua, dialah yang akan menyeberang di depanmu, seperti yang difirmankan TUHAN. 4 Dan TUHAN akan melakukan terhadap mereka seperti yang dilakukan-Nya terhadap Sihon dan Og, raja-raja orang Amori, yang telah dipunahkan-Nya itu, dan terhadap negeri mereka. 5 TUHAN akan menyerahkan mereka kepadamu dan haruslah kamu melakukan kepada mereka tepat seperti perintah yang kusampaikan kepadamu. 6 Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau."

Don’t be Afraid! God is Always With You

(Jangan Takut! Tuhan Selalu Menyertai Engkau)

Nyanyian GPM No. 274 berjudul: “Berjalan Bersama Yesus[1] adalah nyanyian yang mengisahkan tentang penyertaan Tuhan Yesus bagi kehidupan orang-orang percaya. Siang atau malam, di tengah badai bahkan Iblis menghalang, kita tidak akan menjadi lemah ketika  “Berjalan bersama Yesus”. Perjalanan bangsa Israel menuju negeri yang dijanjikan Tuhan dipimpin oleh Yosua, sebab Musa telah mencapai usia 120 tahun dan mengaku di hadapan Tuhan, bahwa ia tidak kuat lagi untuk menuntun mereka memasuki tanah yang telah Tuhan janjikan. Ia menguatkan Yosua agar mampu memimpin bangsa Israel, juga mengingatkannya  bahwa Tuhan akan berjalan di depan untuk menuntun mereka. “Tuhan akan Menyertai engkau, IA tidak akan meninggalkan engkau, Karena itu Janganlah Takut dan Janganlah patah hati”. Kalimat ini dikatakan Musa kepada Yosua agar ia teguh dan kuat melakukan tugasnya. Gambar atau lukisan wajah Yesus, ornamen-ornamen Kristiani seperti Salib dan gantungan pintu yang memuat Firman Tuhan serta kalimat motivasi, mungkin saja dapat ditemui dalam kediaman atau rumah kekuarga-keluarga Kristen. Benda-benda mati itu sesungguhnya secara teologis mengekspresikan keyakinan setiap keluarga bahwa Allah di dalam Yesus Kristus akan selalu menjaga kehidupan mereka. Apapun masalah kita, entah antar suami-istri atau orang tua-anak, saudara bersaudara bahkan hidup dengan sesama dapat terselesaikan jika kita selalu berjalan bersama Tuhan. Jangan pernah takut! apapun tantangan hidup di  depan, tetap teguhkan iman dan kuatkan hati, maka jaminan keselamatan  sukacita akan kita peroleh di dalam Tuhan.

Doa:Tuhan, teguhkan hati kami untuk selalu bersandar pada-Mu. Amin.

Selasa, 24 Agustus 2021                                

bacaan : Lukas 21 : 34 – 38

Nasihat supaya berjaga-jaga
34 "Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. 35 Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. 36 Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia." 37 Pada siang hari Yesus mengajar di Bait Allah dan pada malam hari Ia keluar dan bermalam di gunung yang bernama Bukit Zaitun. 38 Dan pagi-pagi semua orang banyak datang kepada-Nya di dalam Bait Allah untuk mendengarkan Dia.

Tetaplah Berjaga – Jaga

Gempa bumi dengan kekuatan 6,8 SR yang melanda provinsi Maluku, khususnya kota Ambon, Kairatu dan pulau Haruku pada tanggal 26 September 2019 memakan korban meninggal 23 orang dan luka-luka sebanyak lebih dari 100 orang. Bencana ini berdampak kepada kerusakan kantor, rumah dan berbagai bangunan lainnya bahkan tidak sedikit masyarakat yang harus mengungsi karena kuatir akan terjadi gempa susulan. Peristiwa ini ada maknanya, kita belajar untuk selalu berjaga-jaga dan waspada. Berjaga-jaga bukan hanya ketika ada dalam kesulitan atau menghadapi bahaya dari luar, namun juga menjaga diri dari setiap tutur kata dan perilaku hidup sehari-hari. Bencana alam yang terjadi dapat juga dipahami sebagai alarm atau pengingat agar sebagai manusia kita menjaga kekudusan hidup. Hal ini diingatkan lewat bacaan saat ini bahwa menjaga diri dari segala hal duniawi yang dapat memabukkan sehingga membuat kita lupa membangun persekutuan dengan Tuhan lewat Doa. Berdoa adalah wujud dari hidup berjaga-jaga agar tidak jatuh dalam berbagai pencobaan namun juga sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi setiap tentangan hidup. Keluarga yang berdoa adalah wujud hidup saling mengasihi agar semua tetap terjaga di dalam lindungan Tuhan. Kita harus memperbiasakan diri ada dalam doa atau pergumulan keluarga setiap saat, entah pagi atau malam hari. Ambillah waktu sejenak bersama suami, istri, anak-anak, orang tua dan bangunlah persekutuan doa sebagai cara untuk berjaga-jaga serta wujud syukur atas pemeliharaan Tuhan bagi kehidupan kita. Hal ini tentu akan semakin menguatkan kehidupan antar anggota keluarga bahkan kita dapat menjadikan moment ini untuk saling berbagi kasih.

Doa: Ya Tuhan, terima kasih untuk penjagaan dan perlindungan-Mu bagi keluarga kami. Amin.

Rabu, 25 Agustus 2021                                        

bacaan : Lukas 17 : 1 – 6

Beberapa nasihat
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. 2 Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. 3 Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. 4 Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." 5 Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!" 6 Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."

Pengampunan Karena Iman

“Kalo ale pung iman basar sama deng biji sesawi saja, maka ale bisa parenta pohon par pindah dari akang pung tampa”, ungkapan ini biasanya kita dengar sebagai penguatan atau solusi ketika  diperhadapkan dengan kesulitan atau masalah. Bacaan hari ini, memperlihatkan bahwa ungkapan di atas memang keluar dari mulut Tuhan Yesus yang menjawab pertanyaan para rasul (ay.5-6). Pernyataan Yesus menjawab kegelisahan para rasul tentang nasihat untuk saling mengampuni. Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial membuat seseorang membutuhkan orang lain untuk berelasi. Relasi di antara nanusia memungkinkan terjadinya banyak hal, baik menyenangkan maupun menyakitkan. Ketersinggungan dan kesalahpahaman yang terjadi dalam hubungan antar dua orang atau lebih, kemungkinan akan sulit diselesaikan, apalagi jika masing-masing mempertahankan pendapat dan egonya. Oleh karena itu, para rasul diingatkan Tuhan  Yesus untuk menegur siapa pun yang berbuat dosa dan mengajarkan mereka untuk hidup saling mengampuni. Perbedaan pendapat sering terjadi dalam keluarga dan dapat dianggap sebagai suatu kewajaran. Karena perbedaan adalah cara untuk saling mengingatkan bahwa setiap kita tidak ada yang sempurna. Oleh karenanya, jika suami atau istri bahkan anak-anak saling menemukan kesalahan, maka tegorlah dengan kasih dan tuntunlah ke jalan yang benar. Hindari kata-kata yang menjatuhkan ketika menyampaikan teguran, jangan menghakimi dan berlaku kasar dalam memberikan nasihat karena semua itu hanya akan berdampak buruk bagi relasi keluarga kita. Percayakan seluruh kehidupan kepada Tuhan, maka hidup saling mengasihi akan terwujud dalam keluarga kita. Ingat, tantangan terbesar dalam hidup Kristiani adalah menaklukan ego diri. Taklukkanlah dengan iman dalam Tuhan Yesus Kristus.

Doa:   Ajarkan kami untuk hidup saling mengasihi dan mengampuni, Ya Tuhan. Amin.

Kamis, 26 Agustus 2021                        

bacaan : 1  Tesalonika 5 : 1 – 11

Berjaga-jaga
Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, 2 karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam. 3 Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman--maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin--mereka pasti tidak akan luput. 4 Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, 5 karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. 6 Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. 7 Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam. 8 Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan. 9 Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, 10 yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia. 11 Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.

Bersiaplah! Baik atau Tidak Baik Waktunya

Beberapa bulan yang lalu ada beberapa video yang beredar tentang penglihatan anak-anak akan kedatangan Tuhan. Salah satunya video yang diunggah oleh seorang ibu yang mengaku bahwa anaknya yang berusia 2 tahun melihat kedatangan Tuhan. Ibu ini menjelaskan dalam video yang berdurasi 2 menit 50 detik itu bahwa anaknya yang bernama Lily melihat sosok yang datang dari atas dan menyebutnya sebagai Raja, Bapa (Abba), yang akan mengangkat kamu ke atas. Kalimat ini diucapkan beberapa kali dan setelah itu Lily menunduk sebanyak 3 kali. Tentang kebenaran video ini sebagai orang-orang percaya, kita tidak dapat memprediksi atau percaya begitu saja namun hal ini dapat dijadikan sebagai peringatan dan pengingat akan Kemahakuasaan Tuhan. Rasul Paulus mengajak umat di jemaat Tesalonika untuk mengadakan “persiapan” bagi kedatangan Yesus yang kedua kali. Hal ini dilakukannya karena ada beberapa anggota jemaat yang mencoba ‘menghitung’ saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, dimana melalui nubuatan, mereka berharap dapat memprediksi saat peristiwa akhir itu tiba agar mereka dapat bersiap-siap untuk menyambut-Nya. Akibatnya, ada beberapa orang yang hidup tanpa merasakan pentingnya “persiapan” bagi kedatangan Tuhan. Paulus menyamakan Parousia (kedatangan Tuhan) sama dengan kedatangan pencuri di waktu malam, tidak ada yang tahu atau mampu memprediksinya. Oleh karena itu, bersiaplah setiap waktu. Persiapan yang kita lakukan ialah memurnikan diri, hidup di dalam persekutuan bersama Tuhan, saling membangun seorang akan yang lain melalui perkataan dan perbuatan yang baik, semuanya itu dimulai dari dalam keluarga. Kita juga diminta untuk  melakukan “persiapan” dengan cara hidup saling menasihati dan menjaga satu dengan yang lain, saling mengingatkan, saling menegur serta hendaknya kita selalu ‘sadar’ untuk hidup dalam kekudusan bersama Tuhan.

Doa: Ya Tuhan, hanya oleh iman kami dapat merasakan kehadiranMu. Amin.

Jumat, 27 Agustus 2021                              

bacaan : Yakobus 4 : 1 – 10

Hawa nafsu dan persahabatan dengan dunia
Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? 2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. 3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu. 4 Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah. 5 Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: "Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!" 6 Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." 7 Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! 8 Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! 9 Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. 10 Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.

Orang Beriman Mampu Hadapi Tantangan Zaman

Bacaan hari ini merupakan petunjuk praktis bagi orang beriman yakni mereka yang percaya telah diselamatkan oleh Yesus. Orang beriman sudah diselamatkan dan dianugerahkan kesempatan untuk hidup di dunia dan mengalami semua kenyataan sebagai manusia. Hidup di dunia tak mungkin luput dari pergumulan, baik dalam diri, maupun yang berasal dari luar. Manusia menghadapi pergumulan ganda, yang ada dalam diri sendiri maupun dari dunia sekitar. Hawa nafsu adalah pergumulan dalam diri dan persahabatan dengan dunia berasal dari luar. Inilah tantangan orang beriman, harus hidup sesuai kehendak Allah dan bukan untuk memuaskan hawa nafsu. Hawa nafsu mengakibatkan iri hati, congkak, halalkan cara untuk mencapai tujuan,  sengketa, pertengkaran, perkelahian, dan pembunuhan.  Bila hal-hal demikian dilakukan, maka orang beriman telah bersahabat dengan dunia dan menjadi musuh Allah. Karena itu kita harus mengalahkan hawa nafsu dan tidak bersahabat dengan dunia. Semua orang yang hidup dengan hawa nafsu dan bersahabat dengan dunia tidak akan dapat melakukan perbuatan baik. Perbuatan baik dapat diaktakan bila hawa nafsu dikalahkan. Lawanlah hawa nafsu dengan pertolongan Allah, tetaplah beriman, dekatkanlah diri pada Allah dan tunduklah pada-Nya, sucikanlah hatimu, dan tahirkanlah tanganmu. Atas dasar itu dalam ayat 10 bacaan hari ini disebutkan; Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu. Janganlah takut, Allah akan memampukan kita menghadapi tantangan zaman, kini dan selamanya.

Doa:  Tuhan, teguhkan iman kami, agar mampu hadapi tantangan zaman. Amin.

Sabtu, 28 Agustus 2021                             

bacaan : Keluaran 20 : 1 – 17

Kesepuluh firman
Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: 2 "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. 3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. 4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. 5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, 6 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku. 7 Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. 8 Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: 9 enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, 10 tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. 11 Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya. 12 Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. 13 Jangan membunuh. 14 Jangan berzinah. 15 Jangan mencuri. 16 Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. 17 Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu."

Taat Pada Perintah Tuhan Dan Hadapilah Tantangan Zaman

Perintah-perintah sebagaimana tersebut dalam daftar sepuluh firman menegaskan hungan  Allah dan umat-Nya. Hubungan Allah dan umat-Nya itu disebut hubungan perjanjian. Allah berjanji melindungi umat-Nya dan umat berjanji setia kepada Allah. Itulah sebabnya perintah-perintah itu diawali dengan pernyataan Allah “Akulah Tuhan, Allahmu yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan” (ayat 2). Tuhan memilih umat Israel dan membebaskan mereka dari perbudakan, dan pada saat itu pula terbentuk hubungan sakral antara Allah dan umat-Nya. Perintah-perintah itu diberikan untuk meneguhkan hubungan perjanjian yang telah tercipta di antara Allah dan umat-Nya. Israel telah dipilih Allah, oleh karena itu mereka harus setia hanya kepada-Nya. Mereka harus menyembah Allah saja dan tidak membuat atau menyembah patung-patung ilah lain. Nama Allah itu kudus sehingga orang tidak boleh menyalahgunakannya dengan cara apapun. Nama itu tidak boleh dipakai untuk ingkar janji, berdusta sesudah bersumpah untuk mengatakan kebenaran, juga tidak boleh dipakai sebagai kata kutukan dll. Hubungan dengan Tuhan juga mengharuskan dikhususkannya sebuah hari untuk istirahat, sebagaimana dilakukan Allah pada penciptaan. Akta beristirahat, beribadah dan membebaskan budak (bahkan hewan) dari pekerjaan, adalah cara umat Israel menunjukkan kepada dunia keunikan hubungan mereka dengan Allah. Perintah-perintah lain menolong memahami hubungan di antara satu sama lain. Inti dari seluruh perintah itu adalah kasih kepada Allah dan sesama manusia. Taat mengasihi mampukan orang percaya hadapi tantangan zaman.       

Doa: Ya Roh Kudus jadikanlah kami orang percaya yang taat. Amin.

*sumber : SHK bukan Agustus 2021, LPJ GPM


Santapan Harian Keluarga, 15 – 21 Agustus 2021

Tema Mingguan : “Menjadi Keluarga Yang Berhikmat”

Minggu, 15 Agustus 2021                      

bacaan : 1 Raja-Raja 3 : 16 – 28 

Hikmat Salomo pada waktu memberi keputusan
16 Pada waktu itu masuklah dua orang perempuan sundal menghadap raja, lalu mereka berdiri di depannya. 17 Kata perempuan yang satu: "Ya tuanku! aku dan perempuan ini diam dalam satu rumah, dan aku melahirkan anak, pada waktu dia ada di rumah itu. 18 Kemudian pada hari ketiga sesudah aku, perempuan inipun melahirkan anak; kami sendirian, tidak ada orang luar bersama-sama kami dalam rumah, hanya kami berdua saja dalam rumah. 19 Pada waktu malam anak perempuan ini mati, karena ia menidurinya. 20 Pada waktu tengah malam ia bangun, lalu mengambil anakku dari sampingku; sementara hambamu ini tidur, dibaringkannya anakku itu di pangkuannya, sedang anaknya yang mati itu dibaringkannya di pangkuanku. 21 Ketika aku bangun pada waktu pagi untuk menyusui anakku, tampaklah anak itu sudah mati, tetapi ketika aku mengamat-amati dia pada waktu pagi itu, tampaklah bukan dia anak yang kulahirkan." 22 Kata perempuan yang lain itu: "Bukan! anakkulah yang hidup dan anakmulah yang mati." Tetapi perempuan yang pertama berkata pula: "Bukan! anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup." Begitulah mereka bertengkar di depan raja. 23 Lalu berkatalah raja: "Yang seorang berkata: Anakkulah yang hidup ini dan anakmulah yang mati. Yang lain berkata: Bukan! Anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup." 24 Sesudah itu raja berkata: "Ambilkan aku pedang," lalu dibawalah pedang ke depan raja. 25 Kata raja: "Penggallah anak yang hidup itu menjadi dua dan berikanlah setengah kepada yang satu dan yang setengah lagi kepada yang lain." 26 Maka kata perempuan yang empunya anak yang hidup itu kepada raja, sebab timbullah belas kasihannya terhadap anaknya itu, katanya: "Ya tuanku! Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia." Tetapi yang lain itu berkata: "Supaya jangan untukku ataupun untukmu, penggallah!" 27 Tetapi raja menjawab, katanya: "Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia; dia itulah ibunya." 28 Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.

Orang Berhikmat Adil Dalam Membuat Keputusan

Hikmat Ilahi tidak semata-mata berupa akal budi yang rasional, karena juga menyangkut kasih dan kepedulian terhadap sesama. Manusia yang bergumul dengan penderitaan dan dosa seharusnya mendapat perlakuan yang adil. Kasus yang diperhadapkan kepada Salomo merupakakan kasus yang pelik. Masalahnya bukan sekadar bagaimana bertindak adil secara rasional, tetapi juga dalam pandangan Allah. Allah menghendaki agar mereka yang tertindas memperoleh belas kasihan dan bagi si penindas diberikan hukuman. Kedua perempuan sundal ini, selain menjadi budak dosa juga mewakili manusia yang diperbudak oleh kondisi sosial masyarakat yang bersifat patrilineal. Kondisi mereka melacurkan diri pasti tidak lepas dari perlakuan masyarakat yang diskriminatif terhadap kaum perempuan. Mereka sepatutnya mendapat perhatian dari masyarakat, bukan dari sang raja muda yang saleh saja. Raja ini bukanlah orang berhikmat yang kehilangan perasaan pada saat memerintahkan agar bayi yang diperebutkan itu dibelah menjadi dua bagian. Salomo justeru karena hikmat ilahi membongkar dinginnya hati manusia yang dibelenggu dosa. Ia juga menghangatkan hati nurani dari orang yang belum kehilangan kemanusiaannya. Kiranya hikmat yang sama memandu kita pada saat keputusan, terutama dalam keluarga. Janganlah mengandalkan rasio, tetapi nurani agar peka terhadap hati Allah yang peduli kepada orang tertindas. Mintalah hikmat ilahi sebab Allah akan memberikan hikmat-Nya kepada yang memintanya.

Doa:  Tuhan berikanlah hikmat agar kami memutuskan hal apapun menurut kehendak-Mu. Amin!.

Senin, 16 Agustus 2021                                       

bacaan : Ezra 7 : 25 – 27

25 Maka engkau, hai Ezra, angkatlah pemimpin-pemimpin dan hakim-hakim sesuai dengan hikmat Allahmu yang menjadi peganganmu, supaya mereka menghakimi seluruh rakyat yang diam di daerah seberang sungai Efrat, yakni semua orang yang mengetahui hukum Allahmu; dan orang yang belum mengetahuinya haruslah kauajar. 26 Setiap orang, yang tidak melakukan hukum Allahmu dan hukum raja, harus dihukum dengan seksama, baik dengan hukuman mati, maupun dengan pembuangan, dengan hukuman denda atau hukuman penjara.” 27 Terpujilah TUHAN, Allah nenek moyang kita, yang dengan demikian menggerakkan hati raja, sehingga ia menyemarakkan rumah TUHAN yang ada di Yerusalem,

Melayani Dengan Sungguh

Tuhan lebih dulu melayani kepadaku, melayani-melayani lebih sungguh. Panggilan untuk melayani sebagaimana tersirat dalam penggalan lirik lagu di atas adalah sebuah komitmen iman yang mulia. Ezra adalah seorang imam, keturunan dari imam Eleazar anak imam Harun. Ia seorang ahli kitab dan mahir dalam taurat Musa. Perlindungan Tuhan selalu menyertainya baik ketika mengalami pembuangan di Babel, maupun pada saat pulang ke Yerusalem. Ezra pulang ke Yerusalem, karena diberikan tanggungjawab oleh raja Artahsasta untuk mengatur semua hal yang berkaitan dengan kebaktiaan di rumah Allah. Bacaan hari ini mengajarkan teladan kesetiaan dalam melayani pekerjaan Tuhan. Melayani merupakan suatu panggilan iman yang lahir dari hati yang tulus tanpa ada paksaan. Bahkan pada saat ketiadaan pengharapan sekalipun, kita harus dengan sungguh memberi diri untuk dipakai oleh Tuhan. Panggilan melayani tidak hanya ditujukan kepada orang-orang tertentu atau di tempat tertentu saja. Melayani adalah panggilan untuk dilakukan oleh siapa saja kapan pun waktunya. baik dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, bergereja maupun dalam keluarga. Berusahalah untuk terus saling melayani satu akan yang lainnya dengan tetap meminta hikmat Allah, agar dituntun dan mampu menjalani hidup sebagai orang percaya. Ingat dan yakinlah bahwa pertolongan Tuhan pasti nyata menyertai setiap orang yang menunjukan kesetiaan kepada-Nya.

Doa:  Tuhan Yesus, berikanlah hikmat bagi kami untuk melayani dimanapun kami berada. Amin.

Selasa, 17 Agustus 2021                          

bacaan : 2 Raja-raja 11 : 1 – 20

Atalya dibunuh dan Yoas menjadi raja
Ketika Atalya, ibu Ahazia, melihat bahwa anaknya sudah mati, maka bangkitlah ia membinasakan semua keturunan raja. 2 Tetapi Yoseba, anak perempuan raja Yoram, saudara perempuan Ahazia, mengambil Yoas bin Ahazia, menculik dia dari tengah-tengah anak-anak raja yang hendak dibunuh itu, memasukkan dia dengan inang penyusunya ke dalam gudang tempat tidur, dan menyembunyikan dia terhadap Atalya, sehingga dia tidak dibunuh. 3 Maka tinggallah dia enam tahun lamanya bersama-sama perempuan itu dengan bersembunyi di rumah TUHAN, sementara Atalya memerintah negeri. 4 Dalam tahun yang ketujuh Yoyada mengundang para kepala pasukan seratus dari orang Kari dan dari pasukan bentara penunggu. Disuruhnyalah mereka datang kepadanya di rumah TUHAN, lalu diikatnya perjanjian dengan mereka dengan menyuruh mereka bersumpah di rumah TUHAN. Kemudian diperlihatkannyalah anak raja itu kepada mereka. 5 Sesudah itu ia memerintahkan kepada mereka: "Inilah yang harus kamu lakukan: sepertiga dari kamu, yakni yang selesai bertugas pada hari Sabat di sini, tetapi mengawal di istana raja-- 6 sepertiga lagi ada di pintu gerbang Sur dan sepertiga pula di pintu gerbang di belakang para bentara penunggu--haruslah mengawal di istana; 7 dan kedua regu dari pada kamu, yakni semua orang yang bertugas di sini pada hari Sabat dan mengawal di rumah TUHAN, 8 haruslah mengelilingi raja dari segala penjuru, masing-masing dengan senjatanya di tangannya, dan siapa yang mendatangi barisan haruslah mati dibunuh. Dan baiklah kamu menyertai raja setiap kali ia keluar atau masuk." 9 Para kepala pasukan seratus itu melakukan tepat seperti yang diperintahkan imam Yoyada. Masing-masing mengambil orang-orangnya yang selesai bertugas pada hari Sabat bersama-sama dengan orang-orang yang masuk bertugas pada hari itu, lalu datanglah mereka kepada imam Yoyada. 10 Imam memberikan kepada para kepala pasukan seratus itu tombak-tombak dan perisai-perisai kepunyaan raja Daud yang ada di rumah TUHAN. 11 Kemudian para bentara itu, masing-masing dengan senjatanya di tangannya, mengambil tempatnya di lambung kanan sampai ke lambung kiri rumah itu, dengan mengelilingi mezbah dan rumah itu untuk melindungi raja. 12 Sesudah itu Yoyada membawa anak raja itu ke luar, mengenakan jejamang kepadanya dan memberikan hukum Allah kepadanya. Mereka menobatkan dia menjadi raja serta mengurapinya, dan sambil bertepuk tangan berserulah mereka: "Hiduplah raja!" 13 Ketika Atalya mendengar suara bentara-bentara penunggu dan rakyat, pergilah ia mendapatkan rakyat itu ke dalam rumah TUHAN. 14 Lalu dilihatnyalah raja berdiri dekat tiang menurut kebiasaan, sedang para pemimpin dengan para pemegang nafiri ada dekat raja. Dan seluruh rakyat negeri bersukaria sambil meniup nafiri. Maka Atalya mengoyakkan pakaiannya sambil berseru: "Khianat, khianat!" 15 Tetapi imam Yoyada memerintahkan para kepala pasukan seratus, yakni orang-orang yang mengepalai tentara, katanya kepada mereka: "Bawalah dia keluar dari barisan! Siapa yang memihak kepadanya bunuhlah dengan pedang!" Sebab tadinya imam itu telah berkata: "Janganlah ia dibunuh di rumah TUHAN!" 16 Lalu mereka menangkap perempuan itu. Pada waktu ia masuk ke istana raja dengan melalui pintu bagi kuda, dibunuhlah dia di situ. 17 Kemudian Yoyada mengikat perjanjian antara TUHAN dengan raja dan rakyat, bahwa mereka menjadi umat TUHAN; juga antara raja dengan rakyat. 18 Sesudah itu masuklah seluruh rakyat negeri ke rumah Baal, lalu merobohkannya; mereka memecahkan sama sekali mezbah-mezbahnya dan patung-patung dan membunuh Matan, imam Baal, di depan mezbah-mezbah itu. Kemudian imam Yoyada mengangkat penjaga-penjaga untuk rumah TUHAN. 19 Sesudah itu ia mengajak para kepala pasukan seratus orang-orang Kari dan para bentara penunggu dan seluruh rakyat negeri, lalu mereka membawa raja turun dari rumah TUHAN; mereka masuk ke istana raja melalui pintu gerbang para bentara; kemudian duduklah raja di atas takhta kerajaan. 20 Bersukarialah seluruh rakyat negeri dan amanlah kota itu, setelah Atalya mati dibunuh dengan pedang di istana raja.

Rencana Allah Mendatangkan Kesejahteraan dan Keamanan

Perencanaan adalah realitas yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia dan dilakukan dengan maksud memperoleh kebaikan.  Ideal atau esensi perencanaan dimaksud dapatlah menjadi sirna bila nurani dibutakan oleh kejahatan dan kepentingan diri semata. Nurani yang jahat menyebabkan perencanaan dan tindakan yang membinasakan sesama. Kisah hari ini mengisahkan pesan iman bahwa Tuhan tidak pernah menghendaki perencanaan dan tindakan yang tidak terpuji karena itu pasti bertindak menyatakan kehendak-Nya. Atalya sangat berambisi mengambil alih tahta kerajaan, sehingga merancangkan yang jahat di mata Tuhan dan akhirnya ia pun mati dibunuh. Membunuh orang lain dipahami sebagai tindakan yang benar untuk memperoleh tujuan memuaskan kepentingan disi sendiri. Kehendak Tuhan ditegakkan, Ia memakai Yoseba dan imam Yoyada sebagai alat penyelamatan, sehingga Yoas diangkat menjadi raja. Kisah pembunuhan terjadi pula dalam kehidupan dewasa ini baik dalam bentuk fisik maupun psikis. Kita juga belajar bahwa mementingkan kepentingan diri sendiri selalu merusak kebersamaan yang rukun. Tanggung jawab untuk saling mengasihi,  melindungi, memberikan rasa nyaman dan aman serta kesejahteraan antara satu dengan yang lainnya harus diwujudkan dalam keluarga.  Momentum peringatan hari kemerdekaan RI yang ke-76 ini hendaknya dimaknai sebagai kesempatan untuk  tidak semena-mena terhadap orang lain. Hiduplah dengan cinta kasih dan harmoni dengan semua orang, lakukanlah yang benar dan bersyukurlah senantiasa.

Doa:  Ya Tuhan, ajari kami agar tidak memutlakkan kepentingan diri dan  mengorbankan orang lain. Amin.

Rabu, 18 Agustus 2021                                     

bacaan : Daniel 5 : 10 – 30

10 Karena perkataan raja dan para pembesarnya itu masuklah permaisuri ke dalam ruang perjamuan; berkatalah ia: "Ya raja, kekallah hidup tuanku! Janganlah pikiran-pikiran tuanku menggelisahkan tuanku dan janganlah menjadi pucat; 11 sebab dalam kerajaan tuanku ada seorang yang penuh dengan roh para dewa yang kudus! Dalam zaman ayah tuanku ada terdapat pada orang itu kecerahan, akal budi dan hikmat yang seperti hikmat para dewa. Ia telah diangkat oleh raja Nebukadnezar, ayah tuanku menjadi kepala orang-orang berilmu, para ahli jampi, para Kasdim dan para ahli nujum, 12 karena pada orang itu terdapat roh yang luar biasa dan pengetahuan dan akal budi, sehingga dapat menerangkan mimpi, menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi dan menguraikan kekusutan, yakni pada Daniel yang dinamai Beltsazar oleh raja. Baiklah sekarang Daniel dipanggil dan ia akan memberitahukan maknanya!" 13 Lalu dibawalah Daniel menghadap raja. Bertanyalah raja kepada Daniel: "Engkaukah Daniel itu, salah seorang buangan yang telah diangkut oleh raja, ayahku, dari tanah Yehuda? 14 Telah kudengar tentang engkau, bahwa engkau penuh dengan roh para dewa, dan bahwa padamu terdapat kecerahan, akal budi dan hikmat yang luar biasa. 15 Kepadaku telah dibawa orang-orang bijaksana, para ahli jampi, supaya mereka membaca tulisan ini dan memberitahukan maknanya kepadaku, tetapi mereka tidak sanggup mengatakan makna perkataan itu. 16 Tetapi telah kudengar tentang engkau, bahwa engkau dapat memberikan makna dan dapat menguraikan kekusutan. Oleh sebab itu, jika engkau dapat membaca tulisan itu dan dapat memberitahukan maknanya kepadaku, maka kepadamu akan dikenakan pakaian dari kain ungu dan pada lehermu akan dikalungkan rantai emas, dan dalam kerajaan ini engkau akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga." 17 Kemudian Daniel menjawab raja: "Tahanlah hadiah tuanku, berikanlah pemberian tuanku kepada orang lain! Namun demikian, aku akan membaca tulisan itu bagi raja dan memberitahukan maknanya kepada tuanku. 18 Ya tuanku raja! Allah, Yang Mahatinggi, telah memberikan kekuasaan sebagai raja, kebesaran, kemuliaan dan keluhuran kepada Nebukadnezar, ayah tuanku. 19 Dan oleh karena kebesaran yang telah diberikan-Nya kepadanya itu, maka takut dan gentarlah terhadap dia orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa; dibunuhnya siapa yang dikehendakinya dan dibiarkannya hidup siapa yang dikehendakinya, ditinggikannya siapa yang dikehendakinya dan direndahkannya siapa yang dikehendakinya. 20 Tetapi ketika ia menjadi tinggi hati dan keras kepala, sehingga berlaku terlalu angkuh, maka ia dijatuhkan dari takhta kerajaannya dan kemuliaannya diambil dari padanya. 21 Ia dihalau dari antara manusia dan hatinya menjadi sama seperti hati binatang, dan tempat tinggalnya ada di antara keledai hutan; kepadanya diberikan makanan rumput seperti kepada lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai ia mengakui, bahwa Allah, Yang Mahatinggi, berkuasa atas kerajaan manusia dan mengangkat siapa yang dikehendaki-Nya untuk kedudukan itu. 22 Tetapi tuanku, Belsyazar, anaknya, tidak merendahkan diri, walaupun tuanku mengetahui semuanya ini. 23 Tuanku meninggikan diri terhadap Yang Berkuasa di sorga: perkakas dari Bait-Nya dibawa orang kepada tuanku, lalu tuanku serta para pembesar tuanku, para isteri dan para gundik tuanku telah minum anggur dari perkakas itu; tuanku telah memuji-muji dewa-dewa dari perak dan emas, dari tembaga, besi, kayu dan batu, yang tidak dapat melihat atau mendengar atau mengetahui, dan tidak tuanku muliakan Allah, yang menggenggam nafas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku. 24 Sebab itu Ia menyuruh punggung tangan itu dan dituliskanlah tulisan ini. 25 Maka inilah tulisan yang tertulis itu: Mene, mene, tekel ufarsin. 26 Dan inilah makna perkataan itu: Mene: masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri; 27 Tekel: tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan; 28 Peres: kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia." 29 Lalu atas titah Belsyazar dikenakanlah kepada Daniel pakaian dari kain ungu dan pada lehernya dikalungkan rantai emas, dan dimaklumkanlah tentang dia, bahwa di dalam kerajaan ia akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga. 30 Pada malam itu juga terbunuhlah Belsyazar, raja orang Kasdim itu.

Takut Tuhan Peroleh Hikmat dan Tinggi Hati Direndahkan Orang

Keegoisan membuat seseorang menjadi tinggi hati, memiliki keyakinan berlebihan atas apa yang dilakukannya, dan tidak memperhitungkan dampak buruk dari keputusan atau tindakannya.   Pengalaman haruslah dijadikan pelajaran hidup agar dapat terhindar dari akibat buruk keegoisan. Belsyazar sama sekali tidak belajar dari pengalaman ayahnya Nebukadnezar tapi justru meninggikan diri dengan kekuasaannya. Kekuasaan yang didapati oleh seseorang sebenarnya adalah pemberian Tuhan yang harus dijalankan dengan penuh rasa tanggungjawab dan takut. Perilaku tinggi hati atau sombong membuat seseorang tidak menghargai kekudusan hadirat Tuhan dan karenanya menimbulkan kemarahan-Nya. Tulisan di dinding adalah bukti kemarahan Tuhan atas tingkah laku Belsyazar seorang raja yang tinggi hati. Bacaan hari mengajarkan bahwa kesombongan akan membuat seseorang tidak menghargai kekudusan hadirat Tuhan. Kita harus menghargai dan tunduk pada otoritasnya-Nya dan terus belajar dari pengalaman, yang baik diteladani serta tidak mengulangi yang buruk. Keluarga berperanan penting dalam upaya pengenalan akan Tuhan. Karya dan kasih Tuhan diceritakan, kehendak-Nya diajarakan terus-menerus, sehingga seluruh keluarga takut Tuhan serta tunduk di hadirat-Nya. Daniel adalah contoh orang yang takut Tuhan, ia diberikan hikmat hikmat dan akal budi untuk mengartikan serta memaknai maksud Allah dalam tulisan di dinding. Orang yang takut akan Tuhan diberikan hikmat dan pengertian, dihargai dalam hidup karena prestasinya serta memuliakan Tuhan.

Doa:  Tuhan, berikanlah hikmat bagi kami agar tetap merendahkan diri dan menghargai kekudusan Hadirat-Mu. Amin.

Kamis, 19 Agustus 2021                              

bacaan : Bilangan 22 : 2 – 13

Balak memanggil Bileam
2 Balak bin Zipor melihat segala yang dilakukan Israel kepada orang Amori. 3 Maka sangat gentarlah orang Moab terhadap bangsa itu, karena jumlahnya banyak, lalu muak dan takutlah orang Moab karena orang Israel. 4 Lalu berkatalah orang Moab kepada para tua-tua Midian: "Tentu saja laskar besar itu akan membabat habis segala sesuatu yang di sekeliling kita, seperti lembu membabat habis tumbuh-tumbuhan hijau di padang." Adapun pada waktu itu Balak bin Zipor menjadi raja Moab. 5 Raja ini mengirim utusan kepada Bileam bin Beor, ke Petor yang di tepi sungai Efrat, ke negeri teman-teman sebangsanya, untuk memanggil dia, dengan pesan: "Ketahuilah, ada suatu bangsa keluar dari Mesir; sungguh, sampai tertutup permukaan bumi olehnya, dan mereka sedang berkemah di depanku. 6 Karena itu, datanglah dan kutuk bangsa itu bagiku, sebab mereka lebih kuat dari padaku; mungkin aku sanggup mengalahkannya dan menghalaunya dari negeri ini, sebab aku tahu: siapa yang kauberkati, dia beroleh berkat, dan siapa yang kaukutuk, dia kena kutuk." 7 Lalu berangkatlah para tua-tua Moab dan para tua-tua Midian dengan membawa di tangannya upah penenung; setelah mereka sampai kepada Bileam, disampaikanlah kepadanya pesan Balak. 8 Lalu berkatalah Bileam kepada mereka: "Bermalamlah di sini pada malam ini, maka aku akan memberi jawab kepadamu, sesuai dengan apa yang akan difirmankan TUHAN kepadaku." Maka tinggallah pemuka-pemuka Moab itu pada Bileam. 9 Kemudian datanglah Allah kepada Bileam serta berfirman: "Siapakah orang-orang yang bersama-sama dengan engkau itu?" 10 Dan berkatalah Bileam kepada Allah: "Balak bin Zipor, raja Moab, mengutus orang kepadaku dengan pesan: 11 Ketahuilah, ada bangsa yang keluar dari Mesir, dan permukaan bumi tertutup olehnya; karena itu, datanglah, serapahlah mereka bagiku, mungkin aku akan sanggup berperang melawan mereka dan menghalau mereka." 12 Lalu berfirmanlah Allah kepada Bileam: "Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati." 13 Bangunlah Bileam pada waktu pagi, lalu berkata kepada pemuka-pemuka Balak: "Pulanglah ke negerimu, sebab TUHAN tidak mengizinkan aku pergi bersama-sama dengan kamu."

 Taat Dan Bertindak Sesuai Petunjuk Allah

Ketaatan merupakan bukti iman setiap orang percaya. Hidup yang taat senantiasa  melibatkan Tuhan dalam berbagai macam pertimbangan dan keputusan. Kisah tentang Balak bin Zipor memanggil Bileam bin Beor sebagimana yang kita baca hari ini secara tegas menyajikan pesan ketataan. Awalnya adalah ketika Balak bin Zipor  yang adalah raja Moab, merasa ketakutan melihat banyaknya bangsa Israel yang sedang berkemah di daerah seberang sungai Yordan. Ia pun mengutus orang-orang suruhannya kepada Bileam untuk mengutuki bangsa Israel, dengan tujuan dapat mengalahkan dan menghalau bangsa tersebut. Bileam seorang pelihat yang diketahui memiliki kemampuan memberkati dan mengutuk. Hal apa pun diberkatinya menjadi terberkati dan bila dikutuk akan terkutuk. Perkataan-perkataan yang diucapkannya berasal dari Tuhan sebab orang ini hidup dalam ketataan yang luar biasa. Ketaatan Bileam pada kehendak Tuhan layak dijadikan teladan beriman agar sebagai orang percaya kita mampu terhindar dari perilaku ketidaktaatan. Kita harus taat menjadikan firman sebagai pedoman agar kehendak Tuhan menguasai keinginan manusiawi. Kisah ini juga mengingatkan kita agar tidak menghalalkan cara dan mengorbankan orang lain demi memperoleh tujuan. Berusahalah terus menjadi orang percaya yang taat, selalu melibatkan dan meminta campur tangan Tuhan dalam seluruh kenyataan hidup. Berdoalah senantiasa, mintalah hikmat dari Tuhan agar terhindar dari niat jahat dan perilaku mendatangkan keburukan bagi orang lain.

Doa:   Tuhan Yesus, berikanlah hikmat agar setiap sikap dan perbuatan  kami mencerminkan ketaatan sesui dengan Kehendak-Mu. Amin.

Jumat, 20 Agustus 2021                                   

bacaan : Ayub 12 : 12 – 13

12 Konon hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya. 13 Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian.

Hikmat Allah Menuntun Hidup

Orang benar menjalani hidupnya bukan dengan mengandalkan pengertian sendiri, tetapi berdasar pada hikmat atau pengertian yang berasal dari Allah. Hidupnya berkenan kepada Allah dan meyakini bahwa campur tangan-Nya berlangsung dalam segala sesuatu yang dialami. Gagasan ideal tentang orang benar ini tak selamanya terwujud dalam kenyataan sehari-hari. Kenyataan membuktikan bahwa masih ada orang yang bersandar pada pengertian sendiri, angkuh, merasa paling hebat atau benar baik dalam pikiran maupun tindakan, dan menganggap bahwa sukses adalah hasil kerja kerasnya bukan anugerah Allah. Bacaan hari ini menegaskan bahwa pada saat Ayub mengalami berbagai tantangan hidup, dengan kesadaran diri ia tetap mengakui kekuasaan dan hikmat Allah. Ia mengakui bahwa sekalipun hikmat dan pengertian ada pada orang berusia lanjut, namun  hanya Allah sajalah yang memiliki hikmat, kekuatan pertimbangan  serta pengertian sejati. Kita diminta untuk menyadari bahwa selama hidup dijalani, masalah pasti ada dan berlangsung kapan serta di mana saja.  Masalah hanya dapat diatasi dengan mengandalkan Allah, bukan bersandar pada pengertian sendiri. Keluarga haruslah dijadikan sebagai tempat belajar tentang hikmat, pengertian serta mengandalkan Allah baik dalam keadaan senang maupun susah. Bergantunglah pada Allah sebab hikmat-Nya akan senantiasa membimbing pada pemahaman, serta menuntun hidup. Ingatlah bahwa hikmat yang sejati berasal dari Allah karena itu janganlah mengandalkan pengertian sendiri agar hidup kita dituntun dan berkenan kepada-Nya.

Doa:  Ya Allah, berikanlah hikmat-Mu agar dapat menuntun seluruh kehidupan kami. Amin.

Sabtu, 21 Agustus 2021                            

bacaan : 2 Tawarikh 34 : 1 – 7

Raja Yosia -- Pembaharuan yang dilakukan Yosia
Yosia berumur delapan tahun pada waktu ia menjadi raja dan tiga puluh satu tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. 2 Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. 3 Pada tahun kedelapan dari pemerintahannya, ketika ia masih muda belia, ia mulai mencari Allah Daud, bapa leluhurnya, dan pada tahun kedua belas ia mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari pada bukit-bukit pengorbanan, tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan. 4 Mezbah-mezbah para Baal dirobohkan di hadapannya; ia menghancurkan pedupaan-pedupaan yang ada di atasnya; ia meremukkan dan menghancurluluhkan tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan, dan menghamburkannya ke atas kuburan orang-orang yang mempersembahkan korban kepada berhala-berhala itu. 5 Tulang-tulang para imam dibakarnya di atas mezbah-mezbah mereka. Demikianlah ia mentahirkan Yehuda dan Yerusalem. 6 Juga di kota-kota Manasye, Efraim dan Simeon, sampai di kota-kota Naftali, yang di mana-mana telah menjadi reruntuhan, 7 ia merobohkan segala mezbah dan tiang berhala, meremukkan segala patung pahatan serta menghancurluluhkannya, dan menghancurkan semua pedupaan di seluruh tanah Israel. Sesudah itu ia kembali ke Yerusalem.

Orang Tua Sebagai Teladan Yang Berhikmat

Umur 8 tahun, secara psikologi dikategorikan sebagai usia anak sekolah. Perkembangan emosional dan sosial anak mulai dialami pada usia ini. Tanda perkembangan tahap ini ialah mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitar, mencari tahu mana yang salah dan benar, dapat mengidentifikasi dirinya melalui pertemanan, keluarga, kegemaran maupun kemampuan diri. Perkembangan yang demikian pada akhirnya menuntut peran orang tua agar dapat mengarahkan anak untuk menemukan jati dirinya. Yosia dinobatkan sebagai Raja Yerusalem pada usia 8 tahun. Ia telah diajarkan sejak kecil untuk mengenal Allah dan bertumbuh di dalam keluarga yang taat. Yosia  tidak mengikuti jejak kakeknya Manasye yang menyimpang dari ketaatan kepada Allah dan membawa bangsa Yehuda untuk menyembah berhala (2 Raja-raja 21:1-18). Ia bertumbuh menjadi anak yang taat kepada Allah dan memilih untuk mereformasi atau melakukan pembaruan terhadap segala penyimpangan. Membimbing anak untuk menjadi pribadi yang baik dan berguna adalah dambaan setiap orang tua. Keluarga adalah basis pembentukan karakter dan kepribadian anak karena itu orang tua haruslah menjadi teladan orang berhikmat. Anak sudah mulai belajar menentukan yang salah dan benar ketika berumur 8 tahun dan orang tua terpanggil menjadi guru kehidupan yang meneladankan kebaikan. Teladan kebaikan adalah karakter orang tua berhikmat yang oleh karenanya anak-anak dibimbing dan dibentuk menjadi manusia yang taat kepada Allah. Anak-anak yang sejak dini telah diajarkan hal yang baik dan benar  menjadi berkualitas dalam perkembangan. Mereka akan menjadi orang berhikmat, tahu membedakan baik dan buruk, tidak jatuh ke dalam pencobaan lalu menjadi mangsa kesia-siaan serta taat kepada Allah.    

Doa:   Ya, Tuhan, sertailah keluarga kami untuk tetap berhikmat kepada-Mu. Amin.

*sumber : SHK bulan Agustus 2021, LPJ GPM

Santapan Harian Keluarga, 8 – 14 Agustus 2021

Tema Mingguan : “Menjadi Keluarga Yang Berharap Kepada Tuhan”

Tema Mingguan : “Menjadi Keluarga Yang Berharap Kepada TUHAN”

Minggu, 08 Agustus 2021                              

bacaan : Mazmur 42 : 1 – 12

Kerinduan kepada Allah
Untuk pemimpin biduan. Nyanyian pengajaran bani Korah. (42-2) Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. 2 (42-3) Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? 3 (42-4) Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: "Di mana Allahmu?" 4 (42-5) Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah-gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan. 5 (42-6) Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! 6 (42-7) Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar. 7 (42-8) Samudera raya berpanggil-panggilan dengan deru air terjun-Mu; segala gelora dan gelombang-Mu bergulung melingkupi aku. 8 (42-9) TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku. 9 (42-10) Aku berkata kepada Allah, gunung batuku: "Mengapa Engkau melupakan aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?" 10 (42-11) Seperti tikaman maut ke dalam tulangku lawanku mencela aku, sambil berkata kepadaku sepanjang hari: "Di mana Allahmu?" 11 (42-12) Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

Curhatlah Kepada Tuhan

Masalah disikapi sebagian orang dengan cara mencari teman curhat, entah itu pelayan, sahabat, keluarga, atau orang terdekat lainnya. Curhat biasanya dilakukan dengan harapan mendapat solusi, atau setidaknya membuat hati lega dan meringankan beban. Curhat bukanlah hal yang salah, namun dapat tidak bermanfaat bila melibatkan orang yang kurang tepat. Kemampuan menyimpan rahasia tidak dimiliki oleh semua orang. Masalah dan rahasia dapat bocor serta tersebar, sehingga  merugikan orang yang curhat. Pengalaman pemazmur hendaknya dijadikan teladan iman menemukan solusi menyelesaikan persoalan tekanan batin. Ia mengungkapkan: “mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah dalam diriku”? Pemazmur mengalami tekanan batin yang mendalam karena berbagai masalah, dan merintih mohon pertolongan. Ia berharap pada Tuhan dan mengungkapkan tekanan batinnya dalam doa. Kita pun mengalami banyak masalah yang menekan batin, terutama pandemi covid 19. Krisis iman, ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan hadir dan menekan batin dengan hebat. Belajarlah pada pemazmur yang berharap pada Tuhan, Ia  memberikan pertolongan, sehingga hati menjadi lega karena diliputi sukacita. Keluarga haruslah menjadi basis beriman yang di dalamnya tekad dan hati disatukan lalu curhat kepada Tuhan dalam doa. Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat dan nyata saat kita berserah dan membuka hati. Tuhan adalah harapan satu-satunya dan tempat berteduh yang abadi. Ia tahu apa yang dihadapi dan menekan batin, jadilah kuat dan tetap berserah diri serta mengandalkan Dia dalam segala situasi.

Doa: KepadaMu ya Tuhan kami membawa seluruh persoalan kami. Amin.

Senin, 09 Agustus 2021                                       

bacaan : Yesaya 2 : 22

22 Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?

Jangan Berharap Kepada Manusia

Uang dan jabatan sering dijadikan sebagai tumpuan harapan seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Uang dipahami sebagai raja dunia, identitas manusia, dan digunakan sebagai standar dalam menentukan derajat sosial. Kualitas seseorang diukur dari ada tidaknya uang yang dimiliki, bukan berdasarkan norma dan karakter. Jabatan pun memiliki pengaruh yang tidak kurang mempengaruhi perilaku manusia dewasa ini. Ingatlah ungkapan “orang dalam” yang diandalkan saat mengikuti tes memperoleh pekerjaan, anak masuk sekolah dll. Uang dan jabatan dijadikan andalan penyelesaian berbagai hal dan Tuhan dilupakan. Kita memerlukan uang dan jabatan atau manusia, namun tidak boleh melupakan Tuhan sumber segala sesuatu. Mereka yang berharap dan mengandalkan Tuhan tidak menjadi kecewa. Bacaan hari ini, Yesaya 2:22 menegaskan, jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih daripada embusan nafas. Manusia adalah ciptaan Allah yang sungguh amat baik, namun tetap terbatas dalam hal tertentu. Tuhan-lah tumpuan harapan satu-satunya, Ia sanggup menjawab segala kebutuhan hidup manusia. Ia hadir dengan pertolongan-Nya di saat manusia berada pada “titik paling rendah” dalam hidupnya. Setiap orang yang berharap kepada Tuhan tidak pernah kecewa. Yakinlah akan kasih dan kebaikan Tuhan dan jadilah kuat serta tenang. Kasih dan kebaikan manusia bisa sirna dan musnah seiring berjalannya waktu, namun yang berasal dari  Tuhan abadi adanya. Setiap orang yang berharap kepadaNya akan mengalami kelimpahan hidup.

Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk tetap berharap kepadaMu. Amin.

Selasa, 10 Agustus 2021                               

bacaan : Yesaya 36 : 1 – 10

Yerusalem dikepung oleh Sanherib
Maka dalam tahun keempat belas zaman raja Hizkia majulah Sanherib, raja Asyur, menyerang segala kota berkubu negeri Yehuda, lalu merebutnya. 2 Raja Asyur mengutus juru minuman agung dari Lakhis ke Yerusalem kepada raja Hizkia disertai suatu tentara yang besar. Ia mengambil tempat dekat saluran kolam atas di jalan raya pada Padang Tukang Penatu. 3 Keluarlah mendapatkan dia Elyakim bin Hilkia, kepala istana, dan Sebna, panitera negara, serta Yoab bin Asaf, bendahara negara. 4 Lalu berkatalah juru minuman agung kepada mereka: "Baiklah katakan kepada Hizkia: Beginilah kata raja agung, raja Asyur: Kepercayaan macam apakah yang kaupegang ini? 5 Kaukira bahwa hanya ucapan bibir saja dapat merupakan rencana dan kekuatan untuk perang! Sekarang, kepada siapa engkau berharap, maka engkau memberontak terhadap aku? 6 Sesungguhnya, engkau berharap kepada tongkat bambu yang patah terkulai itu, yaitu Mesir, yang akan menusuk dan menembus tangan orang yang bertopang kepadanya. Begitulah keadaan Firaun, raja Mesir, bagi semua orang yang berharap kepadanya. 7 Dan apabila engkau berkata kepadaku: Kami berharap kepada TUHAN, Allah kami, --bukankah Dia itu yang bukit-bukit pengorbanan-Nya dan mezbah-mezbah-Nya telah dijauhkan oleh Hizkia sambil berkata kepada Yehuda dan Yerusalem: Di depan mezbah inilah kamu harus sujud menyembah! 8 Maka sekarang, baiklah bertaruh dengan tuanku, raja Asyur: Aku akan memberikan dua ribu ekor kuda kepadamu, jika engkau sanggup memberikan dari pihakmu orang-orang yang mengendarainya. 9 Bagaimanakah mungkin engkau memukul mundur satu orang perwira tuanku yang paling kecil? Padahal engkau berharap kepada Mesir dalam hal kereta dan orang-orang berkuda! 10 Sekarangpun, adakah di luar kehendak TUHAN aku maju melawan negeri ini untuk memusnahkannya? TUHAN telah berfirman kepadaku: Majulah menyerang negeri itu dan musnahkanlah itu!"

Suka Duka DipakaiNya Untuk Kebaikanku

Seorang tukang periuk selalu menginginkan periuk buatannya baik dan sempurna. Periuk yang kurang baik, akan dirombak dan dibentuk kembali  agar menjadi sempurna. Tuhan pun demikian, senantiasa berkarya dan mendatangkan kebaikan dalam seluruh keadaan manusia. Manusia adalah ciptaan-Nya yang sungguh amat baik. Alkitab juga menyaksikan bahwa Israel adalah umat pilihan, dan dari merekalah bangsa-bangsa lain memperoleh berkat. Pilihan dan keistimewahan yang telah ditetapkan Allah itu di kemudian hari disangkali Israel, mereka hidup menurut kehendak sendiri. Dosa besar yang mereka lakukan adalah penyembahan berhala dan berharap serta bersandar pada kekuatan militer bangsa lain. Bacaan hari ini menegaskan pula bahwa kesukaran yang Israel alami bukanlah alasan berakhirnya kebaikan Allah. Allah tetap mengasihi dan menyatakan kebaikan-Nya. Kesaksian Yesaya ini layak dijadikan inspirasi bagi orang percaya agar tetap meyakini kebaikan Allah. Orang yang meyakini kebaikan Allah memiliki kekuatan untuk terus mendekatkan diri, berdoa dan berserah.  Allah menyatakan kasih kepada manusia dalam seluruh situasi hidup, baik suka maupun duka.  Suka duka dipakai Allah untuk membentuk manusia menjadi pribadi beriman yang kuat dan lebih baik serta berkenan kepada-Nya. Ia memberikan kekuatan yang memampukan kita melewati penderitaan atau masa hidup yang sulit. Kebahagiaan dan kesukaran akan terjadi silih berganti menghiasi hidup kita. Hendaklah terus berharap pada Tuhan baik dalam suka maupun duka.

Doa: Ya Tuhan, arahkan langkah kami untuk tetap ada di jalanMu. Amin.

Rabu, 11 Agustus 2021                                 

bacaan : Mazmur 38 : 1 – 23

Doa pada waktu sakit
Mazmur Daud pada waktu mempersembahkan korban peringatan. (38-2) TUHAN, janganlah menghukum aku dalam geram-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan murka-Mu; 2 (38-3) sebab anak panah-Mu menembus aku, tangan-Mu telah turun menimpa aku. 3 (38-4) Tidak ada yang sehat pada dagingku oleh karena amarah-Mu, tidak ada yang selamat pada tulang-tulangku oleh karena dosaku; 4 (38-5) sebab kesalahanku telah menimpa kepalaku; semuanya seperti beban berat yang menjadi terlalu berat bagiku. 5 (38-6) Luka-lukaku berbau busuk, bernanah oleh karena kebodohanku; 6 (38-7) aku terbungkuk-bungkuk, sangat tertunduk; sepanjang hari aku berjalan dengan dukacita. 7 (38-8) Sebab pinggangku penuh radang, tidak ada yang sehat pada dagingku; 8 (38-9) aku kehabisan tenaga dan remuk redam, aku merintih karena degap-degup jantungku. 9 (38-10) Tuhan, Engkau mengetahui segala keinginanku, dan keluhkupun tidak tersembunyi bagi-Mu; 10 (38-11) jantungku berdebar-debar, kekuatanku hilang, dan cahaya matakupun lenyap dari padaku. 11 (38-12) Sahabat-sahabatku dan teman-temanku menyisih karena penyakitku, dan sanak saudaraku menjauh. 12 (38-13) Orang-orang yang ingin mencabut nyawaku memasang jerat, orang-orang yang mengikhtiarkan celakaku, memikirkan kehancuran dan merancangkan tipu daya sepanjang hari. 13 (38-14) Tetapi aku ini seperti orang tuli, aku tidak mendengar, seperti orang bisu yang tidak membuka mulutnya; 14 (38-15) ya, aku ini seperti orang yang tidak mendengar, yang tak ada bantahan dalam mulutnya. 15 (38-16) Sebab kepada-Mu, ya TUHAN, aku berharap; Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan, Allahku. 16 (38-17) Pikirku: "Asal mereka jangan beria-ria karena aku, jangan membesarkan diri terhadap aku apabila kakiku goyah!" 17 (38-18) Sebab aku mulai jatuh karena tersandung, dan aku selalu dirundung kesakitan; 18 (38-19) ya, aku mengaku kesalahanku, aku cemas karena dosaku. 19 (38-20) Orang-orang yang memusuhi aku besar jumlahnya, banyaklah orang-orang yang membenci aku tanpa sebab; 20 (38-21) mereka membalas yang jahat kepadaku ganti yang baik, mereka memusuhi aku, karena aku mengejar yang baik. 21 (38-22) Jangan tinggalkan aku, ya TUHAN, Allahku, janganlah jauh dari padaku! 22 (38-23) Segeralah menolong aku, ya Tuhan, keselamatanku!

KepadaMu Ku Berdoa

Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang lusuh dan layu menghampiri seorang penjaga makam sambil menyerahkan seikat bunga. “Pa, seperti biasanya, tolong letakan bunga ini di makam anakku ya”. Penjaga makam tersenyum dan berkata, “Ibu, selama bertahun-tahun ibu melakukan ini”. Wanita paruh baya itu menjawab, “Anakku telah tiada, untuk apa aku hidup, hidupku hanya untuk anakku”. Penjaga makam itu pun berkata dengan bijaksana, “Anak ibu akan sedih melihat ibu seperti ini. Teruslah melanjutkan hidup, masih banyak hal baik yang bisa ibu lakukan”. Beberapa bulan kemudian, sebuah mobil mewah parkir di depan pintu sebuah makam. Seorang wanita cantik paruh baya turun dengan senyum berseri dan menghampiri penjaga makam. “Saya mau mengucapkan terima kasih, beberapa bulan lalu saat kita berjumpa di sini, sebenarnya saya mengalami sakit kanker otak. Saya putus asa, rasanya ingin mati bersama anakku, tetapi berhasil bangkit berkat nasihatmu. Saya bersama anak-anak yatim piatu di panti asuhan, mengajarkan mereka membaca, menulis, memasak dan menjahit, semua hal itu membuat saya begitu bahagia”. Keputusasaan bisa menimpa siapa saja pada saat mengalami kesukaran, misalnya pada waktu sakit. Pemazmur mengungkapkan: “tidak ada yang sehat, berdegup, terbungkuk”, jiwanya terancam dan ia mengalami kesepian yang amat sangat. Tuhan dijadikannya sebagi tempat bersandar, mengeluh dan memohon.  Saat kita tidak bisa lagi melakukan sesuatu, doalah satu-satunya solusi. Tuhan pasti menjawab doa dan menolong  melalui orang-orang di sekitar kita.

Doa: Tuhan, kepada-Mu lah ku serahkan segala pergumulanku. Amin.

Kamis, 12 Agustus 2021                                     

bacaan : Mazmur 71 : 5

5 Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya ALLAH.

Berharaplah Pada Tuhan Sepanjang Hidupmu

Bacaan hari ini mengisahkan pengalaman beriman yang dialami raja Daud pada masa lanjut usianya. Ia merenung dan mengakui kemurahan Tuhan yang telah dialaminya sejak masa muda. Tuhan berkarya di sepanjang rentang usianya dengan cara menguatkan, menuntun, melindungi, dan memberkati. Hidupnya berlangsung karena kebaikan Tuhan. orang yang menapaki hidup di usia lanjut mengalami berkurangnya kekuatan fisik dan membayang akhir hidup yang mendekat. Pengalaman beriman yang telah dialaminya bersama Tuhan menguatkan iman. Imannya tetap kokoh, walau telah memasuki usia senja dan mengakui bahwa kemurahan Tuhan tidak pernah berakhir. Tuhan terus menyertainya sampai di masa lanjut usia dan ia pun tetap beriman serta memohon pertolongan dari-Nya. Kasih setia Tuhan dipuji dan diakuinya melalui ungkapan: “Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah”. Pengalaman spiritual Daud ini hendaknya dijadikan pelajaran berharga yang menuntun perjalanan hidup kita. Tuhan adalah harapan satu-satunya yang mampu memberi pertolongan untuk mengatasi berbagai kenyataan hidup yang mengguncang. Ia pasti menolong, melindungi, dan menyertai hidup orang percaya. Pertolongan-Nya menghalau takut dan kuatir terhadap risiko memasuki masa tua, sehingga sirnalah perasaan menjadi beban bagi orang lain, terabaikan serta tidak berguna. Hidup dan lanjut usia bukanlah kenyataan yang harus disesali tetapi dimaknai dan disyukuri sebagai kasih karunia Tuhan. Berharaplah pada Tuhan yang menguasai sejarah dan hidupmu, bersukacitalah senantiasa.

Doa: Tuhanlah harapanku berilah berkat-Mu berlimpah-limpah. Amin!

Jumat, 13 Agustus 2021                                

bacaan : Mazmur 123 : 1 – 4

Berharap kepada anugerah TUHAN
Nyanyian ziarah. Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di sorga. 2 Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita. 3 Kasihanilah kami, ya TUHAN, kasihanilah kami, sebab kami sudah cukup kenyang dengan penghinaan; 4 jiwa kami sudah cukup kenyang dengan olok-olok orang-orang yang merasa aman, dengan penghinaan orang-orang yang sombong.

Belas Kasihan Tuhan Melegakan Batin

Banyak orang mengalami tekanan batin ketika dihina, dicela dan dituding tanpa alasan yang jelas. Tekanan seperti ini pada saatnya akan mengakibatkan dialaminya stres dan depresi. Stres dan depresi mengakibatkan kelelahan serta kelemahan baik fisik maupun mental bahkan berbagai macam penyakit. Daud pun pernah mengalami pengalaman serupa, hatinya penuh sesak dengan hinaan. Telinganya tidak kuat lagi mendengar teriakan yang bernada ejekan. Matanya terasa perih melihat orang-orang dan pemandangan di sekelilingnya. Mulutnya pun terbungkam rapat tidak bisa lagi berkata apa-apa. Tekanan batin ini diatasinya dengan berdoa, menyembah dan menaikkan ucapan-ucapan syukur kepada Tuhan. Ia memohon belas kasihan, pertolongan, dan bimbingan Tuhan. Permohonannya bernada seruan dan pengakuan: ”Kasihanilah kami, ya Tuhan, kasihanilah kami,  sebab kami sudah cukup kenyang dengan penghinaan, jiwa kami sudah cukup kenyang dengan olok-olok orang-orang yang merasa aman, dengan penghinaan orang-orang yang sombong” (ayat 3 dan 4). Kata kami dalam bacaan ini menjelaskan bahwa permohonan Daud bukan saja bersifat pribadi tetapi juga persekutuan. Ia berdoa memohon pertolongan untuk seluruh umat dan dirinya sendiri. Berdoa sungguh-sungguh memohon belas kasihan Tuhan telah Daud teladankan kepada kita. Teladanilah sikap iman Daud dan yakinlah bahwa hanya belas kasihan Tuhan sajalah yang bisa mengatasi kemelut batin. Kemelut batin baik yang dialami secara pribadi maupun persekutuan dapat diatasi dengan memohon belas kasihan Tuhan. Belas kasihan Tuhan-lah yang mampu melegakan batin.

Doa: Ya Tuhan legakanlah tekanan batin kami dengan belas kasihan-Mu. Amin!

Sabtu, 14 Agustus 2021

bacaan : Mazmur 130 : 1 – 8

Seruan dari dalam kesusahan
Nyanyian ziarah. Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! 2 Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. 3 Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? 4 Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang. 5 Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. 6 Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi. 7 Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan. 8 Dialah yang akan membebaskan Israel dari segala kesalahannya.

Berharaplah Pada Tuhan Karena Ia  Setia Mengasihi

Ungkapan “Nyanyian ziarah” yang dipakai di awal mazmur ini sesungguhnya berarti “naik”. Yerusalem didirikan di daerah perbukitan, dan Bait Allah ada di atas bukit bernama Sion. Pemazmur naik menghampiri Allah dalam Bait-Nya yang Kudus dan berdoa mengakui kesalahannya. Ia berseru dari dalam kesukaran dan memohon agar Tuhan mengampuni kesalahannya. Kesalahan yang sudah dilakukan diakui dan berseru memohon agar Tuhan mendengar seruannya. Pengampunan Tuhan ia mohonkan supaya terlepas dari akibat kesalahannya. Pengampunan Tuhan-lah yang akan menyelamatkan pemazmur, sebab kasih setia ada pada-Nya. Keyakinannya akan kasih setia Tuhan teguh, sehingga ia sabar menanti jawaban Tuhan. Bacaan hari ini menegaskan pesan bahwa semua orang dapat melakukan kesalahan dan Tuhan tahu semuanya. Kita diminta untuk terbuka dan jujur mengakui semua kesalahan serta memohon pengampunan. Ingatlah kesalahan yang disembunyikan atau ditutupi memberatkan batin dan membuat hidup menjadi tidak bergairah. Kita mengharapkan pengampunan Tuhan agar terlepas dari rasa bersalah dan mengalami kelegaan. Tuhan itu baik, kasih setia ada pada-Nya, datanglah dan berserulah dari dalam kesukaranmu, Ia pasti mendengar. Berhati-hatilah menjalani keberadaan sebagai orang beriman agar terhindar dari melakukan kesalahan. Mohonlah hikmat dari-Nya supaya hidup dituntun dan diterangi serta berkenan kepada-Nya. Bersabarlah bila permohonan tidak cepat terjawab, percayalah bahwa pada waktu-Nya Tuhan pasti menjawab. Yakinlah akan kasih setia Tuhan yang tak pernah berkesudahan.      

Doa: Ya Tuhan, ingatlah akan kami yang mengharapkan kasih setia-Mu. Amin!

*sumber : SHK bulan Agustus 2021, LPJ GPM

SANTAPAN HARIAN KELUARGA, 1 – 7 Agustus 2021

Tema Mingguan : “Menjadi Keluarga Yang Beriman”

Minggu, 01 Agustus 2021                                

bacaan : Kejadian 12 : 1 – 9

Abram dipanggil Allah
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; 2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." 4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. 5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ. 6 Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu. 7 Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. 8 Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN. 9 Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.

Siapkan Hidupmu Untuk Menjadi Berkat

Abram adalah seorang yang dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi satu bangsa sebagai umat Allah. Bangsa besar juga termasyhur yang akan menjadi model tentang perjanjian kasih antara Tuhan dan manusia. Panggilan yang diterima oleh Abram bukan sesuatu yang mudah, tetapi berisiko tinggi. Panggilannya berdampak pada dialaminya hidup dalam keterbatasan. Ia harus meninggalkan banyak hal: negerinya, sanak saudaranya, dan rumah bapanya. Abram pergi ke negeri yang akan ditunjukan Tuhan kepadanya itu dengan membawa serta seluruh keluarganya. Mereka berjalan menuju Kanaan, tanah yang dijanjikan karena meyakini janji berkat yang dikatakan Tuhan. Tuhan berjanji akan memberikan kepada Abram keturunan dan tanah. Inilah perjanjian berkat, Tuhan berjanji memberi berkat dan Abram menanggapinya dengan ketaatan tanpa syarat. Kita belajar bahwa orang yang menaati perintah Tuhan dituntun untuk mengalami berkat-berkat-Nya. Tuhan berjanji lalu menepati janji-Nya dan orang yang taat, menjadi besar, termasyhur, serta diberkati. Tanah yang janjikan itu dimasuki, dan dijelajahi Abram, sambil mendirikan mezbah untuk memanggil nama Tuhan. Pemenuhan janji tentang tanah dialami dan disyukuri Abram bagi kemuliaan-Nya lalu memberi hidup sebagai saluran berkat Tuhan.    Kita semua pada dasarnya memiliki dorongan untuk menjadikan hidup berguna bagi orang lain. Kita merasa senang atau bahagia  ketika menyadari apa yang dikatakan atau dilakukan berguna bagi orang lain. Keberadaan yang kita jalani baik dalam keluarga, di tempat bekerja, maupun tempat  melayani adalah kesempatan berharga untuk menjadi berkat sebagai  wujud nyata menyatakan iman kepada Tuhan. Bersyukurlah atas panggilan dan pengutusan Tuhan, sebab dengan demikian berarti kita siap menjadi berkat.

Doa:  Tuhan, kami siap mengikuti panggilan dan pengutusan-Mu untuk hidup menjadi berkat, Amin.

Senin, 02 Agustus 2021                            

bacaan : Kejadian 12 : 10 – 20

Abram di Mesir
10 Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu. 11 Pada waktu ia akan masuk ke Mesir, berkatalah ia kepada Sarai, isterinya: "Memang aku tahu, bahwa engkau adalah seorang perempuan yang cantik parasnya. 12 Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup. 13 Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau." 14 Sesudah Abram masuk ke Mesir, orang Mesir itu melihat, bahwa perempuan itu sangat cantik, 15 dan ketika punggawa-punggawa Firaun melihat Sarai, mereka memuji-mujinya di hadapan Firaun, sehingga perempuan itu dibawa ke istananya. 16 Firaun menyambut Abram dengan baik-baik, karena ia mengingini perempuan itu, dan Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta. 17 Tetapi TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, isteri Abram itu. 18 Lalu Firaun memanggil Abram serta berkata: "Apakah yang kauperbuat ini terhadap aku? Mengapa tidak kauberitahukan, bahwa ia isterimu? 19 Mengapa engkau katakan: dia adikku, sehingga aku mengambilnya menjadi isteriku? Sekarang, inilah isterimu, ambillah dan pergilah!" 20 Lalu Firaun memerintahkan beberapa orang untuk mengantarkan Abram pergi, bersama-sama dengan isterinya dan segala kepunyaannya.

Jangan Lupa Melibatkan Tuhan Dalam Hidup

Pernahkah kita diperhadapkan pada sebuah pengambilan keputusan yang sangat sulit sebagaimana pernah dialami Abram?  Bacaan hari ini, menceritakan tentang rencana Abram untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik dan terhindar dari kelaparan yang terjadi di Tanah Negeb. Rencana tersebut  ternyata membawanya kepada pengambilan keputusan yang sulit. Keputusan untuk menjadikan isterinya berpura-pura sebagai adik, tentulah tidak mudah bagi Abram. Ia berkehendak baik, yakni agar mereka dapat tinggal dengan aman di Mesir, tanpa berharap bahwa Firaun akan mengambil Sarai menjadi isterinya. Tujuan yang baik dapat dialami bila diupayakan dengan cara yang baik pula. Kemungkinan terburuk tidak dipikirkan Abram, tetapi Tuhan menyelematkannya. Tuhan tetap bekerja atau campur tangan dalam keadaan genting dan menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun serta seisi istananya. Menyadari kesalahannya, Firaun akhirnya mengembalikan Sarai kepada Abram dan membiarkan Abram pergi bersama kepunyaannya. Tindakan Abram yang didasarkan pada rencana penipuan untuk menyelamatkan keluarganya dari bencana kelaparan, ternyata menyebabkan orang lain mengalami hukuman Tuhan. Ini bukan tindakan yang tepat. Jangan karena kekuatiran akan hidup, lalu menipu orang lain. Belajar dari kisah ini membuat kita menyadari bahwa hidup dan semua kebutuhan dalam keluarga, pasti dijamin Tuhan. Sebab itu jangan lupa melibatkan Tuhan dalam pemikiran dan setiap pengambilan keputusan yang akan diambil sebagai solusi agar  tidak berdampak buruk bagi kehidupan kita sendiri dan juga orang lain.

Doa:   Ya Tuhan, mampukan kami untuk selalu mengandalkan-Mu dalam setiap pengambilan keputusan hidup, Amin.

Selasa, 03 Agustus 2021                            

bacaan : Kejadian 13 : 1 – 18

Abram dan Lot berpisah
Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia. 2 Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya. 3 Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, 4 ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN. 5 Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu dan kemah. 6 Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama. 7 Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu. 8 Maka berkatalah Abram kepada Lot: "Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. 9 Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri." 10 Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. --Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. -- 11 Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah. 12 Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom. 13 Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN. 14 Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, 15 sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. 16 Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga. 17 Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu." 18 Sesudah itu Abram memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN.

Utamakanlah Jalan Damai

Kita pasti pernah mengalami konflik. Mulai dari konflik dengan diri sendiri hingga konflik dengan orang lain. Ada yang dengan cepat dapat menangani konflik itu, namun ada juga yang membiarkan konflik tersebut berlangsung sangat lama tanpa mengupayakan perdamaian. Bacaan kita hari ini menceritakan tentang konflik antara Abram dengan keponakannya sendiri, Lot. Konflik di antara mereka berkaitan dengan pembagian tempat atau tanah untuk masing-masing mereka tinggal. Abram tidak mau mengulangi pengalaman kesalahan seperti yang dilakukannya di Mesir, ketika terjadi perkelahian antara gembalanya dan gembala Lot. Karena itu Abram berinisiatif untuk menyelesaikan konflik itu dengan jalan damai. Ia mempersilahkan Lot untuk memilih tempat terlebih dahulu, meskipun ia pamannya dan berdasarkan usia, tentu Abram lebih tua. Peluang ini diresponi oleh Lot dengan memilih tempat yang menurut dia terbaik tanpa mempertimbangkan lingkungan di sekitarnya. Padahal tempat yang dipilihnya berdekatan dengan tempat dimana tinggal orang-orang Sodom dan Gomora yang jahat dan berdosa terhadap Tuhan. Pilihan Lot untuk mengutamakan jalan damai sebagai bentuk keyakinannya bahwa Allah tidak lupa akan janji-Nya kepada Abram. Karena itu, situasi dan kondisi apa pun yang dialaminya tidak akan menghalangi Tuhan untuk menggenapi janji-Nya. Kisah ini memberi pelajaran berharga bagi kita bahwa memilih dan mengupayakan jalan damai merupakan hal penting. Kehidupan menjadi harmonis dan relasi pun tidak terganggu jika semua orang hidup berdamai. Marilah kita menjalani hari-hari hidup ini dengan tetap mengutamakan jalan damai!

Doa:  Tuhan, berikanlah kami hati yang mau berdamai dengan semua orang, Amin.

Rabu, 04 Agustus 2021                                

bacaan : Kejadian 14 : 1 – 16

Abram mengalahkan raja-raja di Timur dan menolong Lot
Pada zaman Amrafel, raja Sinear, Ariokh, raja Elasar, Kedorlaomer, raja Elam, dan Tideal, raja Goyim, terjadilah, 2 bahwa raja-raja ini berperang melawan Bera, raja Sodom, Birsya, raja Gomora, Syinab, raja Adma, Syemeber, raja Zeboim dan raja negeri Bela, yakni negeri Zoar. 3 Raja-raja yang disebut terakhir ini semuanya bersekutu dan datang ke lembah Sidim, yakni Laut Asin. 4 Dua belas tahun lamanya mereka takluk kepada Kedorlaomer, tetapi dalam tahun yang ketiga belas mereka memberontak. 5 Dalam tahun yang keempat belas datanglah Kedorlaomer serta raja-raja yang bersama-sama dengan dia, lalu mereka mengalahkan orang Refaim di Asyterot-Karnaim, orang Zuzim di Ham, orang Emim di Syawe-Kiryataim 6 dan orang Hori di pegunungan mereka yang bernama Seir, sampai ke El-Paran di tepi padang gurun. 7 Sesudah itu baliklah mereka dan sampai ke En-Mispat, yakni Kadesh, dan mengalahkan seluruh daerah orang Amalek, dan juga orang Amori, yang diam di Hazezon-Tamar. 8 Lalu keluarlah raja negeri Sodom, raja negeri Gomora, raja negeri Adma, raja negeri Zeboim dan raja negeri Bela, yakni negeri Zoar, dan mengatur barisan perangnya melawan mereka di lembah Sidim, 9 melawan Kedorlaomer, raja Elam, Tideal, raja Goyim, Amrafel, raja Sinear, dan Ariokh, raja Elasar, empat raja lawan lima. 10 Di lembah Sidim itu di mana-mana ada sumur aspal. Ketika raja Sodom dan raja Gomora melarikan diri, jatuhlah mereka ke dalamnya, dan orang-orang yang masih tinggal hidup melarikan diri ke pegunungan. 11 Segala harta benda Sodom dan Gomora beserta segala bahan makanan dirampas musuh, lalu mereka pergi. 12 Juga Lot, anak saudara Abram, beserta harta bendanya, dibawa musuh, lalu mereka pergi--sebab Lot itu diam di Sodom. 13 Kemudian datanglah seorang pelarian dan menceritakan hal ini kepada Abram, orang Ibrani itu, yang tinggal dekat pohon-pohon tarbantin kepunyaan Mamre, orang Amori itu, saudara Eskol dan Aner, yakni teman-teman sekutu Abram. 14 Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan. 15 Dan pada waktu malam berbagilah mereka, ia dan hamba-hambanya itu, untuk melawan musuh; mereka mengalahkan dan mengejar musuh sampai ke Hoba di sebelah utara Damsyik. 16 Dibawanyalah kembali segala harta benda itu; juga Lot, anak saudaranya itu, serta harta bendanya dibawanya kembali, demikian juga perempuan-perempuan dan orang-orangnya.

Karena Aku Mengasihimu

Konflik sering membuat ikatan kasih dan damai menjadi hilang. Bacaan hari ini, menegaskan baik teladan maupun pelajaran tentang kekuatan kasih yang tanpa batas dari Abram. Sebenarnya ada dua faktor yang dapat menghalangi Abram untuk menyatakan kasihnya kepada Lot. Pertama, kekuatan para musuh. Kisah ini memperlihatkan adanya dua kekuatan besar yang bermusuhan, yaitu Kedorlaomer dan sekutunya di satu pihak serta Sodom dan Gomora beserta sekutunya di pihak lain. Kerajaan Kedorlaomer dan sekutunya adalah kerajaan yang besar. Mereka adalah bangsa yang kuat dan terlatih berperang. Kedua, konflik yang pernah terjadi antara Abram dengan Lot mengenai ladang penggembalaan. Konflik yang menyebabkan terpisahnya tempat tinggal mereka. Namun ternyata persoalan itu tidak disimpan Abram di dalam hatinya. Maka ketika Abram mendengar bahwa Lot menjadi tawanan perang, ia menunjukkan kasih yang besar dengan mengerahkan pasukan untuk mengejar musuh, tanpa memikirkan risikonya. Mengapa Abram bersedia melakukan hal itu? Karena Abram mengasihi Lot yang adalah keponakannya dan sudah dianggap sebagai anaknya. Juga karena kepercayaan Abram pada kekuatan kuasa Tuhan yang mampu menolongnya. Dapatkah kita meneladani Abram dalam hal kasihnya kepada keluarganya? Tetap mengasihi dan berdamai sebagai kerabat yang memiliki ikatan kekeluargaan. Ibu Teresa pernah berkata “Jika tidak ada kedamaian di antara kita, itu dikarenakan kita melupakan bahwa kita memiliki satu sama lain.” Benar, sebab sebagai satu persekutuan keluarga, kita saling memiliki. Karena itu, jangan melupakan ikatan itu. Tetaplah mengasihi, tetaplah berdamai. Berkat Tuhan  tersedia bagi semua orang dan semua keluarga yang tetap saling mengasihi.

Doa: Ya Tuhan Allah, tolonglah kami agar dapat mengasihi dan hidup berdamai satu dengan lainnya. Amin.

Kamis, 05 Agustus 2021                            

bacaan : Kejadian 14 : 17 – 24

Pertemuan Abram dengan Melkisedek
17 Setelah Abram kembali dari mengalahkan Kedorlaomer dan para raja yang bersama-sama dengan dia, maka keluarlah raja Sodom menyongsong dia ke lembah Syawe, yakni Lembah Raja. 18 Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. 19 Lalu ia memberkati Abram, katanya: "Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, 20 dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu." Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya. 21 Berkatalah raja Sodom itu kepada Abram: "Berikanlah kepadaku orang-orang itu, dan ambillah untukmu harta benda itu." 22 Tetapi kata Abram kepada raja negeri Sodom itu: "Aku bersumpah demi TUHAN, Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi: 23 Aku tidak akan mengambil apa-apa dari kepunyaanmu itu, sepotong benang atau tali kasutpun tidak, supaya engkau jangan dapat berkata: Aku telah membuat Abram menjadi kaya. 24 Kalau aku, jangan sekali-kali! Hanya apa yang telah dimakan oleh bujang-bujang ini dan juga bagian orang-orang yang pergi bersama-sama dengan aku, yakni Aner, Eskol dan Mamre, biarlah mereka itu mengambil bagiannya masing-masing."

Keberhasilanku Dipersembahkan Bagi Kemuliaan Nama-Mu

Keberhasilan bisa membuat orang lupa diri dan sombong. Mudah sekali untuk merasa bahwa semua keberhasilan adalah usaha dan kerja keras serta kemampuan diri sendiri. Tujuan akhir dari semua itu hanya kepujian diri sendiri. Abram bukanlah tipe manusia seperti itu.  Keberhasilan yang dia raih tidak membuatnya lupa diri dan sombong. Ia mempersembahkan seluruh keberhasilannya kepada Tuhan dengan cara memberikan persembahan persepuluhan kepada imam yang Mahatinggi, Melkisedek. Abram membuktikan bahwa dirinya adalah seorang beriman yang mengembalikan segala hormat dan pujian kepada Tuhan yang diyakininya sudah memberikan kepadanya keberhasilan dan kemenangan. Sikap Abram yang rendah hati membuatnya tidak  melupakan orang-orang yang telah membantunya. Abram memastikan bahwa orang-orang itu mendapatkan pahala masing-masing sesuai dengan hak mereka sebagai pemenang perang. Ia juga tidak memberi kesempatan  kepada orang berdosa bermegah atas orang benar. Sikapnya yang lain adalah menolak untuk menerima ucapan terimakasih Raja Sodom, karena merasa seakan-akan perbuatan Abram itu adalah jasa untuk Sodom. Abram tahu bahwa ia bertindak atas kehendak Tuhan untuk menyelamatkan Lot ponakannya. Oleh karena itu ia merasa tidak perlu menerima hadiah dari raja Sodom. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk hati-hati menyikapi keberhasilan. Keberhasilan dapat menjadi sumber kesombongan. Ingatlah selalu orang-orang yang telah membantu kita menuju keberhasilan dan mensyukurinya sebagai anugerah Tuhan. Gunakanlah  semua keberhasilan itu untuk membawa kemuliaan bagi nama-Nya dan bukan untuk kemuliaan dan kepujian diri sendiri.

Doa:  Tuhan, keberhasilan yang kami dapat biarlah dipersembahkan hanya bagi kemuliaan nama-Mu. Amin.

Jumat, 06 Agustus 2021                              

bacaan : Kejadian 15 : 1 – 21

Perjanjian Allah dengan Abram; janji tentang keturunannya
Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar." 2 Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." 3 Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku." 4 Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu." 5 Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." 6 Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. 7 Lagi firman TUHAN kepadanya: "Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu." 8 Kata Abram: "Ya Tuhan ALLAH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?" 9 Firman TUHAN kepadanya: "Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati." 10 Diambilnyalah semuanya itu bagi TUHAN, dipotong dua, lalu diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain, tetapi burung-burung itu tidak dipotong dua. 11 Ketika burung-burung buas hinggap pada daging binatang-binatang itu, maka Abram mengusirnya. 12 Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan. 13 Firman TUHAN kepada Abram: "Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. 14 Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. 15 Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu. 16 Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap." 17 Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu. 18 Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat: 19 yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, 20 orang Het, orang Feris, orang Refaim, 21 orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu."

Ku Tahu Siapa Yang Ku Percaya

“Untuk apakah kekayaan yang kumiliki ini jika pada akhirnya aku tidak dapat mewariskan kepada keturunanku”? Pertanyaan ini merupakan ekspresi suasana batin Abram. Tuhan mengetahui apa yang ada dalam hati Abram, sehingga Ia mengingatkan kembali akan janji-Nya tentang keturunan. Tuhan tidak melupakan apa yang telah diucapkanNya kepada Abram. Abram diajak untuk melihat karya tangan Tuhan agar keyakinannya tetap teguh. Ia berkata kepada Abram,  “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya, demikian banyaknya nanti keturunanmu”. Artinya dengan mengatakan itu, Tuhan menunjukkan siapa diriNya kepada Abram. Dia-lah Tuhan Pencipta semesta alam yang mengatur seisi ciptaan-Nya termasuk hal yang dianggap mustahil bagi Abram, maka percayalah ia. Keteguhan iman Abram untuk mempercayai janji Tuhan bukan berasal dari dirinya, tetapi karena dia melihat Tuhan Sang Khalik   yang telah berjanji. Tuhan memperhitungkan kepercayaan Abram sebagai kebenaran. Firman hari ini mengajarkan kita  bahwa janji Tuhan itu pasti!  Tuhan tidak pernah ingkar janji. Kita dapat juga menghadapi berbagai kenyataan dan pergumulan hidup yang berdampak pada munculnya pertanyaan serta keraguan  tentang janji atau kasih setia Tuhan. Kisah  hari ini mengingatkan dan memberi inspirasi untuk tetap teguh beriman kepada Tuhan. Jangan meragukan kuasa-Nya, sebab Ia sanggup memberikan apapun yang kita butuhkan sekalipun itu mungkin mustahil untuk  didapatkan. Biarlah kita semua yakin dan selalu berkata dalam berbagai situasi hidup,” Ku tahu siapa yang ku percaya,” Dialah Tuhan Pencipta semesta yang kasih-Nya tak pernah berubah dalam hidup kita.

Doa:  Ya Tuhan, ajarilah kami untuk selalu percaya pada janji dan kasih setiaMu dalam hidup ini, Amin.

Sabtu, 07 Agustus 2021                              

bacaan : Kejadian 17 : 1 – 27

Sunat sebagai tanda perjanjian Allah dengan Abraham
Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. 2 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak." 3 Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya: 4 "Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. 5 Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. 6 Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja. 7 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. 8 Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka." 9 Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. 10 Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; 11 haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. 12 Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. 13 Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. 14 Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku." 15 Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: "Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. 16 Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya." 17 Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" 18 Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" 19 Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya. 20 Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. 21 Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga." 22 Setelah selesai berfirman kepada Abraham, naiklah Allah meninggalkan Abraham. 23 Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya. 24 Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya. 25 Dan Ismael, anaknya, berumur tiga belas tahun ketika dikerat kulit khatannya. 26 Pada hari itu juga Abraham dan Ismael, anaknya, disunat. 27 Dan semua orang dari isi rumah Abraham, baik yang lahir di rumahnya, maupun yang dibeli dengan uang dari orang asing, disunat bersama-sama dengan dia.

Janganlah Meragukan Janji Tuhan

Janji merupakan sesuatu yang sangat mudah untuk diucapkan, namun dapat pula sulit untuk ditepati. Saat janji diucapkan, banyak orang terlena dan terbuai. Janji yang ditepati membuahkan sukacita, tetapi bila diingkari menimbul kekecewaan bahkan kehancuran.  Saat janji diingkari, muncul banyak  respon dari korban pengingkaran itu. Ada yang berusaha keras menagih janji, mungkin juga mengalami putus asa dan mengakhiri hidup, atau bertindak fatal  menghabisi si pengingkar janji. Anak muda misalnya, sering menjadi korban pengingkaran janji kekasihnya. Pengingkaran janji mengakibatkan banyak orang mengalami krisis kepercayaan, sulit dipercaya dan mempercayai. Mari kita belajar dari kisah Abraham. Allah berkenan menetapkannya menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Hal inilah yang menjadi alasan bagi Allah untuk menggantikan namanya dari Abram menjadi Abraham. Isterinya juga ditetapkan Allah menjadi ibu bangsa-bangsa, dan menggantikan namanya dari Sarai menjadi Sara. Suami isteri ini telah dipilih Allah untuk mengerjakan karya selamat-Nya, dan untuk maksud tersebut Ia mengikat perjanjian dengan mereka. Mereka telah menerima janji berkat Tuhan tentang keturunan, namun meragukannya sebab Sara telah berusia lanjut. Perjanjian Allah bersifat kekal dan Abraham diminta untuk berpegang teguh padanya. Allah berjanji untuk memberikan keturunan dan pasti mewujudkannya. Abraham meyakini janji Allah, menaatinya dan berserah serta bersabar dalam penantian panjang. Tuhan menepati janji tentang keturunan seturut waktu dan kehendak-Nya. Percayalah pada Tuhan dan jangan meragukan janji-Nya.

Doa: Tuhan, tolonglah kami supaya tidak ragu akan janjiMu. Amin.

*Sumber : SHK bulan Agustsu 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 25-31 Juli 2021

Tema Mingguan : “Pelayanan Terhadap Hak Hidup Anak

Minggu, 25 Juli 2021                                    

bacaan : Yohanes 4 : 46 – 54

Yesus menyembuhkan anak pegawai istana
46 Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit. 47 Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. 48 Maka kata Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya." 49 Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati." 50 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. 51 Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. 52 Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: "Kemarin siang pukul satu demamnya hilang." 53 Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: "Anakmu hidup." Lalu iapun percaya, ia dan seluruh keluarganya. 54 Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.

BERJUANG UNTUK HAK HIDUP ANAK

Anak adalah obyek kasih orangtua yang berhak memperoleh perlindungan, pendampingan, kasih sayang dan pemeliharaan. Segala kebutuhan anak menjadi tanggung jawab orang tua. Jadi apa saja yang anak itu perlukan, pasti orang tua menyediakannya. Bukan saja soal pendidikan, makanan, minuman dan berbagai kebutuhan lainnya. Namun juga soal pelayanan kesehatan terhadap anak tersebut. Setiap orang tua tidak akan tega melihat anaknya jatuh sakit dan membiarkannya begitu saja. Pasti ada perjuangan untuk kesembuhan anaknya. Sebuah kisah nyata yang saya alami ketika berada di rumah singgah GPM, jalan Tambak, Menteng Jakarta Pusat. Di sana saya berjumpa dengan ibu Ety, yang berjuang untuk kesembuhan anak perempuannya yang bernama Karen, dari penyait kanker darah atau Leukemia. Dari kota Ambon sampai ke Jakarta, ibu Ety berharap adanya pertolongan Tuhan melalui team medis di RS. Gatot Subroto. Yaahh… semua orang tua pasti mengingini hal yang sama dengan ibu Ety walau pada akhirnya, semua keputusan tentang hidup anak itu ada dalam tangan Tuhan. Bacaan kita juga membuktikan hal yang sama. Seorang ayah, yang merupakan pegawai istana juga berjuang demi memperoleh kesembuhan anaknya. Harapan  untuk kesembuhan anaknya adalah pergi menjumpai Yesus. Dan Yesus pun menyembuhkan anaknya. Peristiwa ini mengajarkan kepada kita, bahwa tanggung jawab kita sebagai orang tua adalah memperjuangkan hak hidup anak dengan memberikan kepada mereka pelayanan apapun yang menyangkut kebutuhan mereka saat itu.

Doa: Ya Tuhan, jaga dan lindungilah anak-anak kami. Amin.

Senin, 26 Juli 2021                                     

bacaan : Kejadian, 29 : 31 – 35

Anak-anak Yakub
31 Ketika TUHAN melihat, bahwa Lea tidak dicintai, dibuka-Nyalah kandungannya, tetapi Rahel mandul. 32 Lea mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ruben, sebab katanya: "Sesungguhnya TUHAN telah memperhatikan kesengsaraanku; sekarang tentulah aku akan dicintai oleh suamiku." 33 Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: "Sesungguhnya, TUHAN telah mendengar, bahwa aku tidak dicintai, lalu diberikan-Nya pula anak ini kepadaku." Maka ia menamai anak itu Simeon. 34 Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: "Sekali ini suamiku akan lebih erat kepadaku, karena aku telah melahirkan tiga anak laki-laki baginya." Itulah sebabnya ia menamai anak itu Lewi. 35 Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: "Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN." Itulah sebabnya ia menamai anak itu Yehuda. Sesudah itu ia tidak melahirkan lagi.

KEHADIRAN ANAK ADALAH ANUGERAH TUHAN

Sebuah keluarga tidaklah lengkap dan tampak sepi tanpa hadirnya seorang anak. Memiliki anak adalah impian setiap pasangan suami isteri.  Sungguh, anak adalah harta yang tak ternilai dari Tuhan.  Ketahuilah bahwa seorang anak berada di dunia ini bukan karena keinginannya sendiri, tetapi semua karena rencana dan kehendak Tuhan semata.  Itulah sebabnya Tuhan sendiri yang membentuk dan menenun mereka sejak dalam kandungan ibunya. Dan Tuhan melihat kesungguhan hati seorang perempuan yang sangat mendambakan kehadiran anak untuk melengkapi rumah tangganya. Lea, adalah salah seorang dari perempuan tersebut. Demi mempertahankan hubungannya dengan Yakub, maka Lea berupaya keras untuk itu. Dan Tuhan melihat Yakub tidak mencintai Lea. Maka mulailah Tuhan bekerja memberkati kandungan Lea hingga lahirlah Ruben, Simon, Lewi dan Yehuda. Kehadiran 4 anak lelakinya diharapkan mampu mengubah sikap Yakub kepadanya. Lea sangat mendambakan cinta Yakub, suaminya. Karena Lea sadar bahwa Yakub hanya mencinta Rahel, adiknya.Pelajaran penting bagi setiap keluarga Kristen saat ini, bagaimanapun situasi pernikahanmu, ada cinta atau sudah pudarnya cinta atau tidak ada cinta sama sekali, namun jika sudah ada anak-anak yang menghiasi rumahmu, maka hendaknya jangan sekali-kali meremehkan kehadiran mereka. Anak adalah berkat Tuhan yang juga memerlukan hak hidup. Layanilah mereka dengan cinta. Hidupilah mereka dengan kasih sayang.  Bimbing dan didiklah mereka berdasarkan nilai-nilai pengajaran iman Kristiani yang baik, kelak mereka akan menyenangkan hatimu.  

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami melakukan tanggung jawab dengan takut akan Engkau. Amin.

Selasa, 27 Juli 2021                                        

bacaan : Kejadian 35: 16-20

Kelahiran Benyamin -- Rahel mati
16 Sesudah itu berangkatlah mereka dari Betel. Ketika mereka tidak berapa jauh lagi dari Efrata, bersalinlah Rahel, dan bersalinnya itu sangat sukar. 17 Sedang ia sangat sukar bersalin, berkatalah bidan kepadanya: "Janganlah takut, sekali inipun anak laki-laki yang kaudapat." 18 Dan ketika ia hendak menghembuskan nafas--sebab ia mati kemudian--diberikannyalah nama Ben-oni kepada anak itu, tetapi ayahnya menamainya Benyamin. 19 Demikianlah Rahel mati, lalu ia dikuburkan di sisi jalan ke Efrata, yaitu Betlehem. 20 Yakub mendirikan tugu di atas kuburnya; itulah tugu kubur Rahel sampai sekarang.

ANAK: BERKAT ALLAH YANG HARUS DIPERJUANGKAN

Anak merupakan anugerah dan berkat Allah bagi setiap keluarga. Sebab itu, setiap orang tua rela berkorban dan berjuang demi kehidupan anaknya. seorang ibu misalnya, rela mengorbankan hidupnya demi kehidupan sang buah hati yang dilahirkan di dunia.  Perjuangan seorang ibu pada saat melahirkan buah hatinya tidak pernah mudah selalu butuh perjuangan dan pengorbanan. Orang selalu bilang “perjuangan seorang ibu untuk melahirkan sang buah hati diibaratkan sebagai perjuangan hidup dan mati” karena ada banyak resiko yang dihadapi para ibu selama proses persalinan. Ada banyak kisah para ibu yang meninggal dunia setelah melahirkan buah hatinya, padahal mereka sudah menanti kehadiran buah hatinya. Hal ini pula yang dialami Rahel pada saat ia melahirkan buah hatinya, Benyamin. Ay.16-17 menyebutkan Rahel bersalin sangat sukar, sebab itu ia berjuang sampai akhir hidupnya. Dan sebelum ia menghembuskan nafasnya, ia menamakan anaknya Ben-Oni yang berarti “anak kesukaranku” atau “kesedihanku”. Penamaan Ben-Oni menunjukkan bahwa Rahel merupakan seorang ibu yang berjuang dan berkorban nyawa demi kehidupan anaknya. Nama tersebut kemudian dirubah oleh Yakub, ayahnya menjadi Benyamin (ay.18). Nama Benyamin berarti “anak kesayanganku” atau “anak pengharapanku”. Dengan memberi nama Benyamin menunjukan Yakub menaruh pengharapan besar bahwa kelak anaknya akan menjadi anak yang membanggakan dan mendatangkan kebahagian bagi dirinya. Bacaan ini mengajar kita sebagai orang tua, untuk melaksanakan tugas sebagai orang tua untuk memberikan perhatian dan kasih sayang; merawat dan melayani dengan setia, memberikan pendidikan dan kehidupan yang layak supaya kelak mereka menjadi anak-anak  yang berguna bagi keluarga, gereja, bangsa dan Negara.

Doa : Tuhan, tuntunlah kami untuk memperjuangkan hak anak. Amin

Rabu, 28 juli 2021                                             

bacaan : Ulangan 6 : 20-25

20 Apabila di kemudian hari anakmu bertanya kepadamu: Apakah peringatan, ketetapan dan peraturan itu, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN Allah kita? 21 maka haruslah engkau menjawab anakmu itu: Kita dahulu adalah budak Firaun di Mesir, tetapi TUHAN membawa kita keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat. 22 TUHAN membuat tanda-tanda dan mujizat-mujizat, yang besar dan yang mencelakakan, terhadap Mesir, terhadap Firaun dan seisi rumahnya, di depan mata kita; 23 tetapi kita dibawa-Nya keluar dari sana, supaya kita dapat dibawa-Nya masuk untuk memberikan kepada kita negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyang kita. 24 TUHAN, Allah kita, memerintahkan kepada kita untuk melakukan segala ketetapan itu dan untuk takut akan TUHAN, Allah kita, supaya senantiasa baik keadaan kita dan supaya Ia membiarkan kita hidup, seperti sekarang ini. 25 Dan kita akan menjadi benar, apabila kita melakukan segenap perintah itu dengan setia di hadapan TUHAN, Allah kita, seperti yang diperintahkan-Nya kepada kita."

MEWARISKAN KASIH DAN KUASA ALLAH KEPADA ANAK

Keluarga merupakan tempat pertama kali anak belajar mengenal kehidupan. Sebab itu, orang tua berperan untuk memberikan pendidikan dan kehidupan yang layak kepada anak. Tugas tersebut juga dilakukan oleh bangsa Israel kepada generasi mereka saat itu, sebelum mereka memasuki tanah perjanjian (Kanaan). Musa dengan tegas memperingatkan bangsa Israel, bahwa  Orang tua berkewajiban untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka tentang Tuhan Allah yang berkuasa dalam sejarah hidup mereka. Bahwa Allah Israel adalah Allah yang berkuasa dan mengasihi mereka. Ia  membawa mereka keluar dari Mesir, tanah perbudakan; membuat tanda-tanda mujizat, yang membelah air laut Teberau. Tuhan yang akan menuntun mereka mendiami tanah perjanjian (Kanaan) yang dijanjikan kepada nenek moyang Israel; Abraham, Ishak dan Yakub. Perbuatan-perbuatan besar Allah yang menyelamatkan itu patut direspons dengan ketaatan dan kesetiaan Israel untuk melakukan perintah, ketetapan dengan takut akan Tuhan (ay.24-25). Sebab dengan melakukan perintah Tuhan, maka kehidupan umat Israel akan diberkati. Pengalaman hidup keluarga kita bersama Tuhan (pengalaman manis maupun pahit)  perlu juga diajarkan/diceritakan kepada anak-anak kita, supaya mereka mengetaui dan memahami bahwa Tuhan berkuasa dan mengasihi mereka. Oleh sebab itu, setiap orang harus melakukan perintah Tuhan dengan taat dan setia. Dengan hidup taat dan setia kepada Tuhan, maka hidupnya akan berbahagia. Sayangnya, ada orang tua yang mengabaikan tugas tersebut karena kesibukan;  sibuk kerja, sibuk main Handphone, sibuk jalan-jalan dan sebagainya. Padahal anak – anak sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang orangtua.

Doa: Tuhan, tuntunlah kami untuk mewariskan kasih Allah kepada anak.

Kamis, 29 Juli 2021                                      

bacaan : 1 Samuel 1 : 21-28

21 Elkana, laki-laki itu, pergi dengan seisi rumahnya mempersembahkan korban sembelihan tahunan dan korban nazarnya kepada TUHAN. 22 Tetapi Hana tidak ikut pergi, sebab katanya kepada suaminya: "Nanti apabila anak itu cerai susu, aku akan mengantarkan dia, maka ia akan menghadap ke hadirat TUHAN dan tinggal di sana seumur hidupnya." 23 Kemudian Elkana, suaminya itu, berkata kepadanya: "Perbuatlah apa yang kaupandang baik; tinggallah sampai engkau menyapih dia; hanya, TUHAN kiranya menepati janji-Nya." Jadi tinggallah perempuan itu dan menyusui anaknya sampai disapihnya. 24 Setelah perempuan itu menyapih anaknya, dibawanyalah dia, dengan seekor lembu jantan yang berumur tiga tahun, satu efa tepung dan sebuyung anggur, lalu diantarkannya ke dalam rumah TUHAN di Silo. Waktu itu masih kecil betul kanak-kanak itu. 25 Setelah mereka menyembelih lembu, mereka mengantarkan kanak-kanak itu kepada Eli; 26 lalu kata perempuan itu: "Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada TUHAN. 27 Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. 28 Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN." Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN.

AIR SUSU IBU MEMBERI KEHIDUPAN

Satu tetes aer susu mama e, beta hidop deng puluh taong…” lirik lagu ini menjelaskan bahwa Air Susu Ibu (ASI) memberikan kehidupan bagi anak – anaknya. Peran ASI bagi pertumbuhan dan kehidupan seorang anak sangatlah penting. Hal ini dijelaskan pula dalam bacaan kita tadi. Ay, 23 menyebutkan Hana menyusui Samuel anaknya sampai disapihnya (berhenti/stop susu).  Alkitab menjelaskan pentingnya ASI/menyusui bagi seorang bayi,.  ASI dibutuhkan seorang bayi untuk pertumbuhan (band.1 Ptrs 2:2), dengan menyusui akan membuat seorang bayi merasa aman, karena dekat dengan ibunya (band.Maz.22:10). Dengan kata lain, ASI dianugerahkan Tuhan memberikan kandungan gizi pada anak sekaligus terjalin ikatan cinta kasih ibu dan anak sebagai pembentukan karakter. Pemberian ASI secara eksklusif bagi seluruh bayi di Indonesia  diatur dalam Undang-undang Thn 2004. Artinya, ASI merupakan hak setiap bayi yang baru lahir. Jadi, yang tidak memberikan ASI berarti membatasi hak setiap bayi yang baru lahir untuk mendapatkan air susu ibu. Memang, ada berbagai alasan para ibu tidak memberikan ASI/menyusui kepada bayinya. Misalnya: masalah kesehatan ibu (dapat dipahami), menjaga tubuh tetap cantik, tergoda merek susu formula, sibuk kerja, Hal ini sangat disayangkan karena ASI memiliki manfaat:yang besar; seperti: system kekebalan tubuh bayi lebih kuat, anak menjadi cerdas, tulang bayi lebih kuat, mengurangi resiko kematian bayi, dan sebagainya. Jadi, setiap ibu diharapkan untuk memberikan ASI/ menyusui bayinya sampai usia 2 tahun. Setiap orang tua mempunyai tanggung jawab untuk membawa anak semakin dekat kepada Tuhan, dengan cara: memberikan pengajaran Kristen, rajin beribadah, berdoa, memberikan teladan yang baik kepada anak, dll.

Doa: Tuhan tolonglah kami untuk menghargai hak anak – anak kami, Amin.

Jumat, 30 Juli 2021                                      

bacaan : 1 Raja-raja 2 : 7

7 Tetapi kepada anak-anak Barzilai, orang Gilead itu, haruslah kautunjukkan kemurahan hati. Biarlah mereka termasuk golongan yang mendapat makanan dari mejamu, sebab merekapun menunjukkan kesetiaannya dengan menyambut aku pada waktu aku melarikan diri dari depan kakakmu Absalom.

ANAK YANG MEMPEROLEH KEMURAHAN HATI

Ingatkah kita tentang cerita orang kaya yang murah hati, yakni Ibu Monica Soraya yang mengadopsi (mengangkat anak) 13 bayi sejak tahun 2020 lalu. Menurutnya, hal ini ia lakukan untuk membantu keluarga-keluarga yang tidak mampu secara ekonomi. Mengadopsi bayi-bayi tersebut membuat hidupnya lebih berarti, karena selama ini dirinya bisa makan enak dan tinggal di rumah yang mewah tapi di luar sana banyak orang yang hidupnya tidak seberuntung dirinya. Pesan indahnya bagi 13 bayi angkatnya: “kami sekelurga berjanji untuk selalu menjaga kalian semua serta mengantarkan kalian ke pintu gerbang kesuksesan”. Ibu Soraya dan keluarganya memiliki hati yang mulia karena bersedia memberikan kehidupan yang layak bagi 13 bayi tersebut. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah memberikan perhatian dan pelayanan kepada anak-anak yang mengalami kesusahan hidup dan sementara berjuang di tengah tantangan dan ancaman kehidupan? (kekerasan seksual, perdagangan anak). Bacaan tadi, berisikan pesan terakhir Daud kepada Salomo sebelum ia meninggal. Daud berpesan agar Salomo dapat menunjukkan kemurahan hatinya kepada anak-anak Barzilai, orang Gilead. Mereka harus dihargai dan dilayani dengan baik karena keluarga ini berjasa besar kepada Daud dengan memberikan dukungan dan pelayanan semasa pemberontakan Absalom. Kemurahan hati Ibu Soraya dan Daud menginspirasi kita semua untuk memberikan perhatian, kasih sayang dan pelayanan kepada anak-anak yang “kurang beruntung” dalam hidup ini, supaya mereka memperoleh kehidupan dan pendidikan yang layak. Dan ingatlah, bahwa kita pernah hidup susah, karena itu setiap orang yang susah perlu ditolong, juga kepada mereka yang pernah menolong/berjasa kepada kita.

Doa: Tuhan, kiranya kami memiliki kemurahan hati untuk melayani hak hidup anak, Amin

Sabtu, 31 Juli 2021                                        

Bacaan : 2 Raja-raja 4: 1-7

Minyak seorang janda

Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: "Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya." 2 Jawab Elisa kepadanya: "Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah." Berkatalah perempuan itu: "Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak." 3 Lalu berkatalah Elisa: "Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. 4 Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!" 5 Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang. 6 Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: "Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi," tetapi jawabnya kepada ibunya: "Tidak ada lagi bejana." Lalu berhentilah minyak itu mengalir. 7 Kemudian pergilah perempuan itu memberitahukannya kepada abdi Allah, dan orang ini berkata: "Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu."

MEMPERJUANGKAN HAK HIDUP ANAK

Kita masih berada dalam suasana perayaan Hari Anak Nasional 2021 dengan mengusung tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Tema ini menegaskan bahwa anak merupakan potensi dan penerus cita-cita perjuangan bangsa, yang menjamin kelangsungan hidup bangsa dan Negara di masa depan. Karena itu, Negara memberikan perlindungan terhadap hak anak yang merupakan salah satu dari hak asasi manusia. Penyelenggara perlindungan terhadap hak anak berhubungan dengan peran orang tua, keluarga, masyarakat dan pemerintah. Peran orang tua dalam memberikan perlindungan kepada hak hidup anak ditemukan dalam bacaan kita tadi. Ay.1 menjelaskan tentang seorang janda yang datang kepada Elisa karena masalah keuangannya. Janda itu takut anak-anaknya akan diambil oleh penagih hutang sebagai budak untuk melunasi hutangnya. Maka Elisa yang menaruh kasih kepada janda itu dan anak-anaknya, memerintahkan mereka untuk mengisi minyak kedalam semua bejana sampai penuh (ay.3-4). Janda ini bersama anak-anaknya melakukan sesuatu yang memperlihatkan imannya, mengikuti petunjuk nabi Elisa, Tuhan memakai Elisa untuk menolong orang-orang yang mengalami masalah hidup, terutama ancaman terhadap hak hidup anak. Pelajaran penting bagi kita saat ini, perjuangan janda tadi untuk melindungi hak hidup anak-anaknya dari penagih hutang memberikan teladan bagi setiap orang tua untuk berjuang melindungi anak-anak dari  perbudakan modern, seperti: perdagangan anak, pekerja seks secara online yang marak terjadi saat ini dan berbagai ancaman hidup lainnya. Orang tua juga memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan hidup anak.

Doa: Tuhan, lindungilan anak-anak dari ancaman kehidupan. Amin

*sumber SHK bulan Juli 2021

Santapan Harian Keluarga, 18-24 Juli 2021

Tema Mingguan : “Gereja dan Tanggungjawab Penyembuhan Berbagai Penyakit Dalam Masyarakat”

Minggu, 18 Juli 2021                                         

bacaan : Markus 5 : 1 – 20  

Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa

Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa. 2 Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. 3 Orang itu diam di sana dan tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, 4 karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorangpun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. 5 Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu. 6 Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, 7 dan dengan keras ia berteriak: "Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!" 8 Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya: "Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!" 9 Kemudian Ia bertanya kepada orang itu: "Siapa namamu?" Jawabnya: "Namaku Legion, karena kami banyak." 10 Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu. 11 Adalah di sana di lereng bukit sejumlah besar babi sedang mencari makan, 12 lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, katanya: "Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!" 13 Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya. 14 Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi. 15 Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion itu. Maka takutlah mereka. 16 Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceriterakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu. 17 Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka. 18 Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. 19 Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!" 20 Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.

KUASA YESUS MENYEMBUHKAN DAN MEMULIHKAN

Salah satu misi pelayanan Yesus  adalah memberikan pemulihan dan kesembuhan bagi mereka yang sakit dan dibelenggu kuasa roh jahat. Dalam kesaksian penginjil Markus saat pelayanan Yesus di daerah Gerasa, Ia berjumpa dengan seorang yang datang dari pekuburan dan dirasuki roh jahat. Namanya Legion dan oleh kekuatan roh jahat membuatnya sangat menderita. Dia sering dirantai dan dibelengggu, karena tidak ada yang berkuasa untuk menenangkannya, sehingga ia selalu berkeliaran siang dan malam didaerah pekuburan. Ketika berjumpa dengan Yesus, roh-roh yang menguasai Legion meminta untuk masuk ke dalam kawanan babi yang ada disekitar itu. Yesus segera mengabulkan dan menyembuhkan Legion serta melepaskannya dari kuasa roh jahat. Yesus memberikan cara penyelesaian yang berbeda, Ia   berdialog dengan orang sakit tersebut. Yesus menerima orang itu apa adanya, Yesus mendengarkan ia berbicara atau mendengarkan keluhannya, Yesus menanyakan namanya, Yesus mengenal jenis penyakitnya, Yesus memenuhi permintaannya. Akhirnya orang itu sembuh dan bebas dari roh jahat dan ia mau melakukan perintah Yesus. Juga, masyarakat sekitar menjadi takut dan menceritakan segala yang terjadi. Kuasa kebangkitan Tuhan Yesus telah menang atas segala kuasa roh jahat, sakit penyakit, kejahatan, kedagingan yang terus menggoda dan menghantui kehidupan manusia sampai sekarang ini. Sebagai keluarga Allah hendaklah kita mengundang dan menghadirkan kuasa Yesus melalui Roh Kudus sebagai penolong dan kekuatan bagi kita ketika berhadapan dengan jeratan iblis dan kuasa lain dalam kehidupan manusia antara lain, ketergantungan pada teknologi digital yang begitu kuat merasuki kehidupan manusia. Hanya kuasa  Roh Kudus yang dapat melepaskan kita dari jeratan itu.

Doa:   Tuhan, lepas kami dari jeratan kuasa roh jahat. Amin.-           

Senin, 19 Juli 2021                                               

bacaan : Matius 8 : 1 – 4

Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta

Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. 2 Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." 3 Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya. 4 Lalu Yesus berkata kepadanya: "Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka."

MENGASIHI MEREKA YANG SAKIT DAN TERABAIKAN

Sampai saat ini kita masih terus bergumul dengan bencana non alam virus Covid-19 yang entah kapan berakhir. Ada beberapa kasus terjadi, dimana pasien yang terkonfirmasi positif saat di bawa ke rumah sakit sudah dalam kondisi parah dan akhirnya tidak dapat tertolong lagi. Mengapa terjadi demikian? Salah satu alasannya, mereka takut untuk menyampaikan status mereka sebab akan dikucilkan serta dijauhi oleh masyarakat. Pun juga demikian seorang yang sakit kusta datang menjumpai Tuhan Yesus ketika Ia turun dari bukit setelah selesai mengajar. Begitu kuatnya pandangan masyarakat yang menggangap sakit kusta sebagai penyakit kutukan dan aib. Hal ini membuat orang kusta dengan begitu memelas datang dihadapan Yesus sambil sujud, menyembah dan berkata “Tuan, jika Tuan mau”, Tuan dapat mentahirkan aku. Orang kusta ini sadar akan keberadaan dirinya, namun Yesus menjamah orang kusta ini. Sikap serta tindakan Tuhan Yesus mengubah pandangan masyarakat Yahudi pada waktu itu, bahwa orang seperti itu tidak boleh dikucilkan dan diabaikan, namun mesti mendapat perhatian, pelayanan, dukungan serta cinta kasih yang menyemangati mereka untuk bangkit serta dipulihkan dari penderitaan sakit. Hal inipun yang mesti menjadi tugas kita sebagai keluarga Allah dan juga selaku persekutuan gereja secara luas kepada semua orang dan sesama yang menderita sakit dan sering terabaikan, termasuk juga saudara-saudara kita yang terjangkit Covid-19. Kita mesti mendoakan mereka dan selalu memberikan dukungan serta menyemangati mereka untuk bangkit agar segera pulih dan sembuh. Kita melakukannya berlandaskan pada cinta kasih Tuhan Yesus yang selalu peduli dan mengasihi semua orang termasuk kita sekeluarga. 

Doa: Ya Tuhan mampukan kami untuk meneruskan kasih-Mu yang memulihkan bagi sesama yang sakit dan menderita. Amin.

Selasa, 20 Juli 2021                                            

bacaan : Matius 8 : 5 – 13  

Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum
5 Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: 6 "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." 7 Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya." 8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. 9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." 10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel. 11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, 12 sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." 13 Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

MELAYANI TANPA MEMBEDAKAN

Pelayanan Tuhan Yesus tidak memandang latar belakang hidup seseorang serta membeda – bedakan mereka. Semuanya mendapat perhatian dan tempat di hati Yesus. Seperti halnya seorang perwira romawi, yang memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan hambanya yang sakit. Tuhan Yesus menyatakan kesediaan untuk datang ke rumah perwira itu, namun ditanggapi oleh perwira itu dengan menyatakan dia tidak layak menerima Tuhan Yesus di rumahnya. Menurut budaya saat itu orang Yahudi tidak bergaul dengan orang romawi karena dianggap haram apalagi masuk ke dalam rumahnya. Perwira ini pahami tentang kuasa seorang nabi untuk menyembuhkan dan membuat mujizat. Perkataan seorang nabi sama seperti seorang atasan yang memberi perintah kepada bawahannya. Apapun yang dikatakan oleh nabi akan terjadi karena perkataannya itu mengandung kuasa untuk menyembuhkan. Pemahaman perwira ini dipuji oleh Tuhan Yesus dan menjadi heran akan imannya ini tidak pernah dijumpai diantara orang Israel. Sehingga Ia berkata “bahwa banyak orang dari Timur dan Barat akan duduk makan bersama dengan Abraham, Ishak dan Yakub, sedangkan anak-anak Kerajaan akan dicampakkan ke dalam kegelapan”. Ini gambaran bahwa yang diselamatkan adalah mereka yang percaya dan bukan atas status mereka sebagai bangsa pilihan Allah. Hal inipun menjadi teladan bagi kita sebagai keluarga Kristen dalam melakukan pelayanan dengan tidak melihat latar belakang seseorang. Pelayanan kita berdasarkan pada cinta kasih Kristus yang memulihkan dan menyembuhkan. Kita meneruskan pelayanan kasih itu kepada semua orang yang membutuhkannya dengan keyakinan iman bahwa kita juga menjadi bagian dari orang-orang yang akan menerima anugerah keselamatan didalam Tuhan Yesus Kristus.

Doa:  Tolong   kami   Tuhan  untuk  meneruskan  kasihMu  yang  memulihkan  tanpa membeda-bedakan. Amin.

Rabu, 21 Juli 2021                                          

bacaan :  Markus: 6 : 53 – 56

Yesus menyembuhkan orang-orang sakit di Genesaret
53 Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. 54 Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. 55 Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. 56 Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

KEPEKAAN DAN KEPEDULIAN BERSAMA, UNTUK KESEMBUHAN

Setiap orang yang sakit, pasti tidak mampu menolong dirinya sendiri, tetapi ia membutuhkan pertolongan orang lain, apakah itu anggota keluarganya, sahabat, teman, bahkan orang – orang yang ada di sekitarnya. Persoalannya adalah, masih adakah kepekaan dan kepedulian kita terhadap saudara – saudara kita yang sakit? Bacaan kita menceriterakan bahwa ketika Yesus tiba di Genesaret, orang-orang yang mengenal Dia berlari – lari keseluruh daerah itu untuk membawa saudara – saudara mereka yang sakit kepada-Nya. Mereka beramai – ramai mengusung orang – orang yang sakit untuk disembuhkan oleh Yesus. Rupanya kesaksian tentang Yesus yang menyembuhkan orang-orang sakit telah sampai kepada mereka. Keyakinan mereka yang begitu besar akan Yesus tampak melalui ungkapan “supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh” (ay.56.b). Saat ini, banyak  orang yang menderita sakit dengan berbagai jenis penyakit yang mengancam kehidupan. Sebagai orang percaya, kitapun terpanggil untuk menolong mereka, antara lain mendoakan dan memberi dukungan moril maupun materil. Dukungan banyak orang adalah kekuatan bagi orang yang sakit untuk disembuhkan dan dipulihkan. Bagaimana kita menyikapi panggilan ini dalam persekutuan kita, baik di keluarga, di Unit, Sektor, bahkan dalam persekutuan Jemaat. Yesus menghendaki agar kita saling menopang dan mendoakan dalam menghadapi setiap persoalan termasuk penderitaan sakit. Semakin banyak orang yang sepakat memohon kesembuhan, akan menjadi berkat kesembuhan bagi seseorang yang menderita sakit. Yesus katakan: “…Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di Sorga” (Matius 8:19).

Doa: Tuhan ajarlah kami untuk mendoakan sesama yang sakit, Amin

Kamis, 22 Juli 2021                                    

bacaan : Markus 10 : 46 – 52

Yesus menyembuhkan Bartimeus
46 Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. 47 Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" 48 Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" 49 Lalu Yesus berhenti dan berkata: "Panggillah dia!" Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau." 50 Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. 51 Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!" 52 Lalu kata Yesus kepadanya: "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

MILIKI TELINGA DAN HATI YANG PEKA DENGAN TERIAKAN SESAMAMU

Disekitar kita ada cukup banyak orang yang sebenarnya membutuhkan pertolongan. Ada yang membutuhkan makanan, bantuan dana untuk biaya sekolah, pekerjaan, kesembuhan dari penyakit, dukungan doa-doa kita dan lain sebagainya. Namun seringkali, kita tidak bertindak untuk mengulurkan tangan menolong mereka. Bacaan hari ini mengisahkan, sekalipun sedang berada ditengah begitu banyak orang yang mengerumuni-Nya, Yesus mampu mendengars seruan minta tolong dari Bartimeus, seorang pengemis buta. Demikian juga Bartimeus, ketika mendengar tentang Yesus, diapun ingin disembuhkan dan ia percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkannya. Dia sadar karena dirinya buta, dia harus berteriak dengan lantang agar Yesus mendengarnya, walaupun ia ditegur oleh banyak orang yang menghalanginya berjumpa dengan Yesus. Ketika Yesus  mendengar teriakan Bartimeus, Ia berhenti, mengajaknya bercakap – cakap untuk mengetahui keadaan Bartimeus dan menyembuhkan dia. Mungkin saat ini ada banyak teriakan minta tolong dari orang – orang yang menderita, tetapi apakah kita mendengar teriakan itu? Ataukah hati dan telinga kita sudah tidak   dapat mendengar teriakan sesama kita? Semoga kisah ini menggelisahkan kita, untuk memberi telinga dan hati kita,  mendengar teriakan sesama yang menderita dan berupaya memberi pertolongan sesuai dengan kemampuan kita.

Doa:  Tuhan Yesus, ajarlah kami memiliki hati yang penuh kasih untuk mendengar teriakan sesama yang menderita. Amin.

Jumat, 23 Juli 2021                                             

bacaan : Lukas 4 : 38 – 41

Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon Petrus dan orang-orang lain
38 Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. 39 Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. 40 Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Iapun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. 41 Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.

KASIH YESUS YANG MENYEMBUHKAN

Tuhan Yesus dikenal luas sebagai ‘rabi’ atau guru yang suka “blusukan atau mengunjungi.” Ia pergi ke mana-mana dan masuk ke segala lapisan masyarakat. Kadang Ia bergaul dengan kaum marginal: para janda, anak yatim piatu, orang asing, orang-orang sakit, dan sebagainya; kadang pula Ia berdiri di muka umum dan mengajar di rumah-rumah ibadat di depan para pemuka agama, orang-orang Farisi, dan ahli-ahli Taurat. Ia suka berkeliling; dari desa ke desa, dari kota ke kota, dan dari rumah ke rumah. Tuhan Yesus adalah milik semua orang yang percaya kepada-Nya. Hari ini Penginjil Lukas menceritakan salah satu dari sekian banyak kebiasaan Yesus itu. Dalam suatu perjalanan-Nya, Ia mampir ke rumah Petrus dan melakukan penyembuhan terhadap mertua Petrus sedang sakit. Hanya dengan ‘menghardik’, demam keras yang dialami oleh ibu mertua Petrus itu pun hilang dalam sekejap. Ia mampu bangkit dan berdiri untuk melayani Yesus. Bahkan banyak orang yang menyaksikan peristiwa tersebut membawa begitu banyak orang sakit dan Yesus menyembuhkan mereka. Dalam kenyataan hidup sekarang ini, keluarga merupakan gereja kecil yang juga dapat menjadi alat penyalur kesembuhan bagi saudara bersaudara dalam lingkup keluarga dan masyarakat. Ada begitu banyak orang sakit dalam keluarga dan masyarakat yang memerlukan bantuan kita. Hal terpenting adalah penerimaan, sentuhan, rangkulan, pendampingan dan doa adalah kekuatan terbesar sebetulnya saat ini bagi hidup kemanusiaan. Mampukah kita melakukan aksi nyata seperti yang dilakukan oleh Yesus?

Doa:  Tuhan Yesus, mampukanlah kami untuk mengasihi seperti-Mu. Amin.

Sabtu, 24 Juli 2021                                       

bacaan : Lukas 13 : 10 – 17

Menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat
10 Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. 11 Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. 12 Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: "Hai ibu, penyakitmu telah sembuh." 13 Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. 14 Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: "Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat." 15 Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: "Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? 16 Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?" 17 Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.

KEKUATAN CINTA MENDASARI HUKUM

Beragama dan beriman berbeda satu sama lain. Orang beragama belum tentu beriman, sebaliknya orang beriman belum tentu beragama. Alangkah indahnya jika beragama sekaligus beriman! Apa yang terjadi akhir-akhir ini perihal kekerasan agama yang dilakukan oleh oknum atau kelompok tertentu cukup menarik dan memprihatinkan. Atas nama agama menyakiti orang lain itulah yang terjadi, entah itu disadari sepenuhnya oleh pelaku atau tidak, atau pelaku hanya sekadar ‘wayang’ yang dimainkan oleh dalang tertentu.  Sabda Yesus hari ini mengkritik orang-orang munafik, yang berpegang teguh pada peraturan tanpa dijiwai oleh iman dan cinta kasih. Menurut hukum taurat, pada hari Sabat setiap orang harus istirahat dari kerja. Maka ketika Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, kepala rumah ibadat itu gusar. Namun, Yesus menentang hukum yang demikian dengan alasan bahwa hukum yang menekan hidup tidak dikehendaki Tuhan. Inilah usaha Yesus untuk melepaskan ikatan yang membelenggu manusia. Nilai keselamatan lebih tinggi daripada hukum, karena itu manusia harus dilepaskan dari belenggu ikatan hukum. Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat. Dialah yang menetapkan hari Sabat untuk menghidupkan dan membina hubungan mulia antara Tuhan dan manusia. Kita semua mungkin mengakui diri sebagai umat beriman, namun apakah menghayati iman dengan benar masih merupakan pertanyaan. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, sehingga hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan yang utama adalah perintah untuk saling mengasihi satu sama lain. Cinta kasih mendasari aneka peraturan dan kebijakan atau tata tertib, sekaligus menjadi sasaran pelaksanaan peraturan, kebijakan atau tata tertib.

Doa: Ajarilah kami ya Tuhan untu mengerti antara cinta dan hukum. Amin.

*sumber : SHK Bulan Juli 2021, LPJ-GPM