SANTAPAN HARIAN KELUARGA, 1 – 7 Agustus 2021

Tema Mingguan : “Menjadi Keluarga Yang Beriman”

Minggu, 01 Agustus 2021                                

bacaan : Kejadian 12 : 1 – 9

Abram dipanggil Allah
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; 2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." 4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. 5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ. 6 Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu. 7 Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. 8 Kemudian ia pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN. 9 Sesudah itu Abram berangkat dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb.

Siapkan Hidupmu Untuk Menjadi Berkat

Abram adalah seorang yang dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi satu bangsa sebagai umat Allah. Bangsa besar juga termasyhur yang akan menjadi model tentang perjanjian kasih antara Tuhan dan manusia. Panggilan yang diterima oleh Abram bukan sesuatu yang mudah, tetapi berisiko tinggi. Panggilannya berdampak pada dialaminya hidup dalam keterbatasan. Ia harus meninggalkan banyak hal: negerinya, sanak saudaranya, dan rumah bapanya. Abram pergi ke negeri yang akan ditunjukan Tuhan kepadanya itu dengan membawa serta seluruh keluarganya. Mereka berjalan menuju Kanaan, tanah yang dijanjikan karena meyakini janji berkat yang dikatakan Tuhan. Tuhan berjanji akan memberikan kepada Abram keturunan dan tanah. Inilah perjanjian berkat, Tuhan berjanji memberi berkat dan Abram menanggapinya dengan ketaatan tanpa syarat. Kita belajar bahwa orang yang menaati perintah Tuhan dituntun untuk mengalami berkat-berkat-Nya. Tuhan berjanji lalu menepati janji-Nya dan orang yang taat, menjadi besar, termasyhur, serta diberkati. Tanah yang janjikan itu dimasuki, dan dijelajahi Abram, sambil mendirikan mezbah untuk memanggil nama Tuhan. Pemenuhan janji tentang tanah dialami dan disyukuri Abram bagi kemuliaan-Nya lalu memberi hidup sebagai saluran berkat Tuhan.    Kita semua pada dasarnya memiliki dorongan untuk menjadikan hidup berguna bagi orang lain. Kita merasa senang atau bahagia  ketika menyadari apa yang dikatakan atau dilakukan berguna bagi orang lain. Keberadaan yang kita jalani baik dalam keluarga, di tempat bekerja, maupun tempat  melayani adalah kesempatan berharga untuk menjadi berkat sebagai  wujud nyata menyatakan iman kepada Tuhan. Bersyukurlah atas panggilan dan pengutusan Tuhan, sebab dengan demikian berarti kita siap menjadi berkat.

Doa:  Tuhan, kami siap mengikuti panggilan dan pengutusan-Mu untuk hidup menjadi berkat, Amin.

Senin, 02 Agustus 2021                            

bacaan : Kejadian 12 : 10 – 20

Abram di Mesir
10 Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu. 11 Pada waktu ia akan masuk ke Mesir, berkatalah ia kepada Sarai, isterinya: "Memang aku tahu, bahwa engkau adalah seorang perempuan yang cantik parasnya. 12 Apabila orang Mesir melihat engkau, mereka akan berkata: Itu isterinya. Jadi mereka akan membunuh aku dan membiarkan engkau hidup. 13 Katakanlah, bahwa engkau adikku, supaya aku diperlakukan mereka dengan baik karena engkau, dan aku dibiarkan hidup oleh sebab engkau." 14 Sesudah Abram masuk ke Mesir, orang Mesir itu melihat, bahwa perempuan itu sangat cantik, 15 dan ketika punggawa-punggawa Firaun melihat Sarai, mereka memuji-mujinya di hadapan Firaun, sehingga perempuan itu dibawa ke istananya. 16 Firaun menyambut Abram dengan baik-baik, karena ia mengingini perempuan itu, dan Abram mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta. 17 Tetapi TUHAN menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun, demikian juga kepada seisi istananya, karena Sarai, isteri Abram itu. 18 Lalu Firaun memanggil Abram serta berkata: "Apakah yang kauperbuat ini terhadap aku? Mengapa tidak kauberitahukan, bahwa ia isterimu? 19 Mengapa engkau katakan: dia adikku, sehingga aku mengambilnya menjadi isteriku? Sekarang, inilah isterimu, ambillah dan pergilah!" 20 Lalu Firaun memerintahkan beberapa orang untuk mengantarkan Abram pergi, bersama-sama dengan isterinya dan segala kepunyaannya.

Jangan Lupa Melibatkan Tuhan Dalam Hidup

Pernahkah kita diperhadapkan pada sebuah pengambilan keputusan yang sangat sulit sebagaimana pernah dialami Abram?  Bacaan hari ini, menceritakan tentang rencana Abram untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik dan terhindar dari kelaparan yang terjadi di Tanah Negeb. Rencana tersebut  ternyata membawanya kepada pengambilan keputusan yang sulit. Keputusan untuk menjadikan isterinya berpura-pura sebagai adik, tentulah tidak mudah bagi Abram. Ia berkehendak baik, yakni agar mereka dapat tinggal dengan aman di Mesir, tanpa berharap bahwa Firaun akan mengambil Sarai menjadi isterinya. Tujuan yang baik dapat dialami bila diupayakan dengan cara yang baik pula. Kemungkinan terburuk tidak dipikirkan Abram, tetapi Tuhan menyelematkannya. Tuhan tetap bekerja atau campur tangan dalam keadaan genting dan menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun serta seisi istananya. Menyadari kesalahannya, Firaun akhirnya mengembalikan Sarai kepada Abram dan membiarkan Abram pergi bersama kepunyaannya. Tindakan Abram yang didasarkan pada rencana penipuan untuk menyelamatkan keluarganya dari bencana kelaparan, ternyata menyebabkan orang lain mengalami hukuman Tuhan. Ini bukan tindakan yang tepat. Jangan karena kekuatiran akan hidup, lalu menipu orang lain. Belajar dari kisah ini membuat kita menyadari bahwa hidup dan semua kebutuhan dalam keluarga, pasti dijamin Tuhan. Sebab itu jangan lupa melibatkan Tuhan dalam pemikiran dan setiap pengambilan keputusan yang akan diambil sebagai solusi agar  tidak berdampak buruk bagi kehidupan kita sendiri dan juga orang lain.

Doa:   Ya Tuhan, mampukan kami untuk selalu mengandalkan-Mu dalam setiap pengambilan keputusan hidup, Amin.

Selasa, 03 Agustus 2021                            

bacaan : Kejadian 13 : 1 – 18

Abram dan Lot berpisah
Maka pergilah Abram dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia. 2 Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya. 3 Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, 4 ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN. 5 Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu dan kemah. 6 Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama. 7 Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu. 8 Maka berkatalah Abram kepada Lot: "Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. 9 Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri." 10 Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. --Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora. -- 11 Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah. 12 Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom. 13 Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN. 14 Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, 15 sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya. 16 Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga. 17 Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu." 18 Sesudah itu Abram memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN.

Utamakanlah Jalan Damai

Kita pasti pernah mengalami konflik. Mulai dari konflik dengan diri sendiri hingga konflik dengan orang lain. Ada yang dengan cepat dapat menangani konflik itu, namun ada juga yang membiarkan konflik tersebut berlangsung sangat lama tanpa mengupayakan perdamaian. Bacaan kita hari ini menceritakan tentang konflik antara Abram dengan keponakannya sendiri, Lot. Konflik di antara mereka berkaitan dengan pembagian tempat atau tanah untuk masing-masing mereka tinggal. Abram tidak mau mengulangi pengalaman kesalahan seperti yang dilakukannya di Mesir, ketika terjadi perkelahian antara gembalanya dan gembala Lot. Karena itu Abram berinisiatif untuk menyelesaikan konflik itu dengan jalan damai. Ia mempersilahkan Lot untuk memilih tempat terlebih dahulu, meskipun ia pamannya dan berdasarkan usia, tentu Abram lebih tua. Peluang ini diresponi oleh Lot dengan memilih tempat yang menurut dia terbaik tanpa mempertimbangkan lingkungan di sekitarnya. Padahal tempat yang dipilihnya berdekatan dengan tempat dimana tinggal orang-orang Sodom dan Gomora yang jahat dan berdosa terhadap Tuhan. Pilihan Lot untuk mengutamakan jalan damai sebagai bentuk keyakinannya bahwa Allah tidak lupa akan janji-Nya kepada Abram. Karena itu, situasi dan kondisi apa pun yang dialaminya tidak akan menghalangi Tuhan untuk menggenapi janji-Nya. Kisah ini memberi pelajaran berharga bagi kita bahwa memilih dan mengupayakan jalan damai merupakan hal penting. Kehidupan menjadi harmonis dan relasi pun tidak terganggu jika semua orang hidup berdamai. Marilah kita menjalani hari-hari hidup ini dengan tetap mengutamakan jalan damai!

Doa:  Tuhan, berikanlah kami hati yang mau berdamai dengan semua orang, Amin.

Rabu, 04 Agustus 2021                                

bacaan : Kejadian 14 : 1 – 16

Abram mengalahkan raja-raja di Timur dan menolong Lot
Pada zaman Amrafel, raja Sinear, Ariokh, raja Elasar, Kedorlaomer, raja Elam, dan Tideal, raja Goyim, terjadilah, 2 bahwa raja-raja ini berperang melawan Bera, raja Sodom, Birsya, raja Gomora, Syinab, raja Adma, Syemeber, raja Zeboim dan raja negeri Bela, yakni negeri Zoar. 3 Raja-raja yang disebut terakhir ini semuanya bersekutu dan datang ke lembah Sidim, yakni Laut Asin. 4 Dua belas tahun lamanya mereka takluk kepada Kedorlaomer, tetapi dalam tahun yang ketiga belas mereka memberontak. 5 Dalam tahun yang keempat belas datanglah Kedorlaomer serta raja-raja yang bersama-sama dengan dia, lalu mereka mengalahkan orang Refaim di Asyterot-Karnaim, orang Zuzim di Ham, orang Emim di Syawe-Kiryataim 6 dan orang Hori di pegunungan mereka yang bernama Seir, sampai ke El-Paran di tepi padang gurun. 7 Sesudah itu baliklah mereka dan sampai ke En-Mispat, yakni Kadesh, dan mengalahkan seluruh daerah orang Amalek, dan juga orang Amori, yang diam di Hazezon-Tamar. 8 Lalu keluarlah raja negeri Sodom, raja negeri Gomora, raja negeri Adma, raja negeri Zeboim dan raja negeri Bela, yakni negeri Zoar, dan mengatur barisan perangnya melawan mereka di lembah Sidim, 9 melawan Kedorlaomer, raja Elam, Tideal, raja Goyim, Amrafel, raja Sinear, dan Ariokh, raja Elasar, empat raja lawan lima. 10 Di lembah Sidim itu di mana-mana ada sumur aspal. Ketika raja Sodom dan raja Gomora melarikan diri, jatuhlah mereka ke dalamnya, dan orang-orang yang masih tinggal hidup melarikan diri ke pegunungan. 11 Segala harta benda Sodom dan Gomora beserta segala bahan makanan dirampas musuh, lalu mereka pergi. 12 Juga Lot, anak saudara Abram, beserta harta bendanya, dibawa musuh, lalu mereka pergi--sebab Lot itu diam di Sodom. 13 Kemudian datanglah seorang pelarian dan menceritakan hal ini kepada Abram, orang Ibrani itu, yang tinggal dekat pohon-pohon tarbantin kepunyaan Mamre, orang Amori itu, saudara Eskol dan Aner, yakni teman-teman sekutu Abram. 14 Ketika Abram mendengar, bahwa anak saudaranya tertawan, maka dikerahkannyalah orang-orangnya yang terlatih, yakni mereka yang lahir di rumahnya, tiga ratus delapan belas orang banyaknya, lalu mengejar musuh sampai ke Dan. 15 Dan pada waktu malam berbagilah mereka, ia dan hamba-hambanya itu, untuk melawan musuh; mereka mengalahkan dan mengejar musuh sampai ke Hoba di sebelah utara Damsyik. 16 Dibawanyalah kembali segala harta benda itu; juga Lot, anak saudaranya itu, serta harta bendanya dibawanya kembali, demikian juga perempuan-perempuan dan orang-orangnya.

Karena Aku Mengasihimu

Konflik sering membuat ikatan kasih dan damai menjadi hilang. Bacaan hari ini, menegaskan baik teladan maupun pelajaran tentang kekuatan kasih yang tanpa batas dari Abram. Sebenarnya ada dua faktor yang dapat menghalangi Abram untuk menyatakan kasihnya kepada Lot. Pertama, kekuatan para musuh. Kisah ini memperlihatkan adanya dua kekuatan besar yang bermusuhan, yaitu Kedorlaomer dan sekutunya di satu pihak serta Sodom dan Gomora beserta sekutunya di pihak lain. Kerajaan Kedorlaomer dan sekutunya adalah kerajaan yang besar. Mereka adalah bangsa yang kuat dan terlatih berperang. Kedua, konflik yang pernah terjadi antara Abram dengan Lot mengenai ladang penggembalaan. Konflik yang menyebabkan terpisahnya tempat tinggal mereka. Namun ternyata persoalan itu tidak disimpan Abram di dalam hatinya. Maka ketika Abram mendengar bahwa Lot menjadi tawanan perang, ia menunjukkan kasih yang besar dengan mengerahkan pasukan untuk mengejar musuh, tanpa memikirkan risikonya. Mengapa Abram bersedia melakukan hal itu? Karena Abram mengasihi Lot yang adalah keponakannya dan sudah dianggap sebagai anaknya. Juga karena kepercayaan Abram pada kekuatan kuasa Tuhan yang mampu menolongnya. Dapatkah kita meneladani Abram dalam hal kasihnya kepada keluarganya? Tetap mengasihi dan berdamai sebagai kerabat yang memiliki ikatan kekeluargaan. Ibu Teresa pernah berkata “Jika tidak ada kedamaian di antara kita, itu dikarenakan kita melupakan bahwa kita memiliki satu sama lain.” Benar, sebab sebagai satu persekutuan keluarga, kita saling memiliki. Karena itu, jangan melupakan ikatan itu. Tetaplah mengasihi, tetaplah berdamai. Berkat Tuhan  tersedia bagi semua orang dan semua keluarga yang tetap saling mengasihi.

Doa: Ya Tuhan Allah, tolonglah kami agar dapat mengasihi dan hidup berdamai satu dengan lainnya. Amin.

Kamis, 05 Agustus 2021                            

bacaan : Kejadian 14 : 17 – 24

Pertemuan Abram dengan Melkisedek
17 Setelah Abram kembali dari mengalahkan Kedorlaomer dan para raja yang bersama-sama dengan dia, maka keluarlah raja Sodom menyongsong dia ke lembah Syawe, yakni Lembah Raja. 18 Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. 19 Lalu ia memberkati Abram, katanya: "Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, 20 dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu." Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya. 21 Berkatalah raja Sodom itu kepada Abram: "Berikanlah kepadaku orang-orang itu, dan ambillah untukmu harta benda itu." 22 Tetapi kata Abram kepada raja negeri Sodom itu: "Aku bersumpah demi TUHAN, Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi: 23 Aku tidak akan mengambil apa-apa dari kepunyaanmu itu, sepotong benang atau tali kasutpun tidak, supaya engkau jangan dapat berkata: Aku telah membuat Abram menjadi kaya. 24 Kalau aku, jangan sekali-kali! Hanya apa yang telah dimakan oleh bujang-bujang ini dan juga bagian orang-orang yang pergi bersama-sama dengan aku, yakni Aner, Eskol dan Mamre, biarlah mereka itu mengambil bagiannya masing-masing."

Keberhasilanku Dipersembahkan Bagi Kemuliaan Nama-Mu

Keberhasilan bisa membuat orang lupa diri dan sombong. Mudah sekali untuk merasa bahwa semua keberhasilan adalah usaha dan kerja keras serta kemampuan diri sendiri. Tujuan akhir dari semua itu hanya kepujian diri sendiri. Abram bukanlah tipe manusia seperti itu.  Keberhasilan yang dia raih tidak membuatnya lupa diri dan sombong. Ia mempersembahkan seluruh keberhasilannya kepada Tuhan dengan cara memberikan persembahan persepuluhan kepada imam yang Mahatinggi, Melkisedek. Abram membuktikan bahwa dirinya adalah seorang beriman yang mengembalikan segala hormat dan pujian kepada Tuhan yang diyakininya sudah memberikan kepadanya keberhasilan dan kemenangan. Sikap Abram yang rendah hati membuatnya tidak  melupakan orang-orang yang telah membantunya. Abram memastikan bahwa orang-orang itu mendapatkan pahala masing-masing sesuai dengan hak mereka sebagai pemenang perang. Ia juga tidak memberi kesempatan  kepada orang berdosa bermegah atas orang benar. Sikapnya yang lain adalah menolak untuk menerima ucapan terimakasih Raja Sodom, karena merasa seakan-akan perbuatan Abram itu adalah jasa untuk Sodom. Abram tahu bahwa ia bertindak atas kehendak Tuhan untuk menyelamatkan Lot ponakannya. Oleh karena itu ia merasa tidak perlu menerima hadiah dari raja Sodom. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk hati-hati menyikapi keberhasilan. Keberhasilan dapat menjadi sumber kesombongan. Ingatlah selalu orang-orang yang telah membantu kita menuju keberhasilan dan mensyukurinya sebagai anugerah Tuhan. Gunakanlah  semua keberhasilan itu untuk membawa kemuliaan bagi nama-Nya dan bukan untuk kemuliaan dan kepujian diri sendiri.

Doa:  Tuhan, keberhasilan yang kami dapat biarlah dipersembahkan hanya bagi kemuliaan nama-Mu. Amin.

Jumat, 06 Agustus 2021                              

bacaan : Kejadian 15 : 1 – 21

Perjanjian Allah dengan Abram; janji tentang keturunannya
Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar." 2 Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." 3 Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku." 4 Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu." 5 Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." 6 Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. 7 Lagi firman TUHAN kepadanya: "Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu." 8 Kata Abram: "Ya Tuhan ALLAH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?" 9 Firman TUHAN kepadanya: "Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati." 10 Diambilnyalah semuanya itu bagi TUHAN, dipotong dua, lalu diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain, tetapi burung-burung itu tidak dipotong dua. 11 Ketika burung-burung buas hinggap pada daging binatang-binatang itu, maka Abram mengusirnya. 12 Menjelang matahari terbenam, tertidurlah Abram dengan nyenyak. Lalu turunlah meliputinya gelap gulita yang mengerikan. 13 Firman TUHAN kepada Abram: "Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya. 14 Tetapi bangsa yang akan memperbudak mereka, akan Kuhukum, dan sesudah itu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak. 15 Tetapi engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera; engkau akan dikuburkan pada waktu telah putih rambutmu. 16 Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap." 17 Ketika matahari telah terbenam, dan hari menjadi gelap, maka kelihatanlah perapian yang berasap beserta suluh yang berapi lewat di antara potongan-potongan daging itu. 18 Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat: 19 yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, 20 orang Het, orang Feris, orang Refaim, 21 orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu."

Ku Tahu Siapa Yang Ku Percaya

“Untuk apakah kekayaan yang kumiliki ini jika pada akhirnya aku tidak dapat mewariskan kepada keturunanku”? Pertanyaan ini merupakan ekspresi suasana batin Abram. Tuhan mengetahui apa yang ada dalam hati Abram, sehingga Ia mengingatkan kembali akan janji-Nya tentang keturunan. Tuhan tidak melupakan apa yang telah diucapkanNya kepada Abram. Abram diajak untuk melihat karya tangan Tuhan agar keyakinannya tetap teguh. Ia berkata kepada Abram,  “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya, demikian banyaknya nanti keturunanmu”. Artinya dengan mengatakan itu, Tuhan menunjukkan siapa diriNya kepada Abram. Dia-lah Tuhan Pencipta semesta alam yang mengatur seisi ciptaan-Nya termasuk hal yang dianggap mustahil bagi Abram, maka percayalah ia. Keteguhan iman Abram untuk mempercayai janji Tuhan bukan berasal dari dirinya, tetapi karena dia melihat Tuhan Sang Khalik   yang telah berjanji. Tuhan memperhitungkan kepercayaan Abram sebagai kebenaran. Firman hari ini mengajarkan kita  bahwa janji Tuhan itu pasti!  Tuhan tidak pernah ingkar janji. Kita dapat juga menghadapi berbagai kenyataan dan pergumulan hidup yang berdampak pada munculnya pertanyaan serta keraguan  tentang janji atau kasih setia Tuhan. Kisah  hari ini mengingatkan dan memberi inspirasi untuk tetap teguh beriman kepada Tuhan. Jangan meragukan kuasa-Nya, sebab Ia sanggup memberikan apapun yang kita butuhkan sekalipun itu mungkin mustahil untuk  didapatkan. Biarlah kita semua yakin dan selalu berkata dalam berbagai situasi hidup,” Ku tahu siapa yang ku percaya,” Dialah Tuhan Pencipta semesta yang kasih-Nya tak pernah berubah dalam hidup kita.

Doa:  Ya Tuhan, ajarilah kami untuk selalu percaya pada janji dan kasih setiaMu dalam hidup ini, Amin.

Sabtu, 07 Agustus 2021                              

bacaan : Kejadian 17 : 1 – 27

Sunat sebagai tanda perjanjian Allah dengan Abraham
Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. 2 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak." 3 Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya: 4 "Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. 5 Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. 6 Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja. 7 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. 8 Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka." 9 Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. 10 Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; 11 haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. 12 Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. 13 Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. 14 Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku." 15 Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: "Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. 16 Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya." 17 Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" 18 Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" 19 Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya. 20 Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar. 21 Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga." 22 Setelah selesai berfirman kepada Abraham, naiklah Allah meninggalkan Abraham. 23 Setelah itu Abraham memanggil Ismael, anaknya, dan semua orang yang lahir di rumahnya, juga semua orang yang dibelinya dengan uang, yakni setiap laki-laki dari isi rumahnya, lalu ia mengerat kulit khatan mereka pada hari itu juga, seperti yang telah difirmankan Allah kepadanya. 24 Abraham berumur sembilan puluh sembilan tahun ketika dikerat kulit khatannya. 25 Dan Ismael, anaknya, berumur tiga belas tahun ketika dikerat kulit khatannya. 26 Pada hari itu juga Abraham dan Ismael, anaknya, disunat. 27 Dan semua orang dari isi rumah Abraham, baik yang lahir di rumahnya, maupun yang dibeli dengan uang dari orang asing, disunat bersama-sama dengan dia.

Janganlah Meragukan Janji Tuhan

Janji merupakan sesuatu yang sangat mudah untuk diucapkan, namun dapat pula sulit untuk ditepati. Saat janji diucapkan, banyak orang terlena dan terbuai. Janji yang ditepati membuahkan sukacita, tetapi bila diingkari menimbul kekecewaan bahkan kehancuran.  Saat janji diingkari, muncul banyak  respon dari korban pengingkaran itu. Ada yang berusaha keras menagih janji, mungkin juga mengalami putus asa dan mengakhiri hidup, atau bertindak fatal  menghabisi si pengingkar janji. Anak muda misalnya, sering menjadi korban pengingkaran janji kekasihnya. Pengingkaran janji mengakibatkan banyak orang mengalami krisis kepercayaan, sulit dipercaya dan mempercayai. Mari kita belajar dari kisah Abraham. Allah berkenan menetapkannya menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Hal inilah yang menjadi alasan bagi Allah untuk menggantikan namanya dari Abram menjadi Abraham. Isterinya juga ditetapkan Allah menjadi ibu bangsa-bangsa, dan menggantikan namanya dari Sarai menjadi Sara. Suami isteri ini telah dipilih Allah untuk mengerjakan karya selamat-Nya, dan untuk maksud tersebut Ia mengikat perjanjian dengan mereka. Mereka telah menerima janji berkat Tuhan tentang keturunan, namun meragukannya sebab Sara telah berusia lanjut. Perjanjian Allah bersifat kekal dan Abraham diminta untuk berpegang teguh padanya. Allah berjanji untuk memberikan keturunan dan pasti mewujudkannya. Abraham meyakini janji Allah, menaatinya dan berserah serta bersabar dalam penantian panjang. Tuhan menepati janji tentang keturunan seturut waktu dan kehendak-Nya. Percayalah pada Tuhan dan jangan meragukan janji-Nya.

Doa: Tuhan, tolonglah kami supaya tidak ragu akan janjiMu. Amin.

*Sumber : SHK bulan Agustsu 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 25-31 Juli 2021

Tema Mingguan : “Pelayanan Terhadap Hak Hidup Anak

Minggu, 25 Juli 2021                                    

bacaan : Yohanes 4 : 46 – 54

Yesus menyembuhkan anak pegawai istana
46 Maka Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Dan di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anaknya sedang sakit. 47 Ketika ia mendengar, bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. 48 Maka kata Yesus kepadanya: "Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya." 49 Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: "Tuhan, datanglah sebelum anakku mati." 50 Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. 51 Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. 52 Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: "Kemarin siang pukul satu demamnya hilang." 53 Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: "Anakmu hidup." Lalu iapun percaya, ia dan seluruh keluarganya. 54 Dan itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea.

BERJUANG UNTUK HAK HIDUP ANAK

Anak adalah obyek kasih orangtua yang berhak memperoleh perlindungan, pendampingan, kasih sayang dan pemeliharaan. Segala kebutuhan anak menjadi tanggung jawab orang tua. Jadi apa saja yang anak itu perlukan, pasti orang tua menyediakannya. Bukan saja soal pendidikan, makanan, minuman dan berbagai kebutuhan lainnya. Namun juga soal pelayanan kesehatan terhadap anak tersebut. Setiap orang tua tidak akan tega melihat anaknya jatuh sakit dan membiarkannya begitu saja. Pasti ada perjuangan untuk kesembuhan anaknya. Sebuah kisah nyata yang saya alami ketika berada di rumah singgah GPM, jalan Tambak, Menteng Jakarta Pusat. Di sana saya berjumpa dengan ibu Ety, yang berjuang untuk kesembuhan anak perempuannya yang bernama Karen, dari penyait kanker darah atau Leukemia. Dari kota Ambon sampai ke Jakarta, ibu Ety berharap adanya pertolongan Tuhan melalui team medis di RS. Gatot Subroto. Yaahh… semua orang tua pasti mengingini hal yang sama dengan ibu Ety walau pada akhirnya, semua keputusan tentang hidup anak itu ada dalam tangan Tuhan. Bacaan kita juga membuktikan hal yang sama. Seorang ayah, yang merupakan pegawai istana juga berjuang demi memperoleh kesembuhan anaknya. Harapan  untuk kesembuhan anaknya adalah pergi menjumpai Yesus. Dan Yesus pun menyembuhkan anaknya. Peristiwa ini mengajarkan kepada kita, bahwa tanggung jawab kita sebagai orang tua adalah memperjuangkan hak hidup anak dengan memberikan kepada mereka pelayanan apapun yang menyangkut kebutuhan mereka saat itu.

Doa: Ya Tuhan, jaga dan lindungilah anak-anak kami. Amin.

Senin, 26 Juli 2021                                     

bacaan : Kejadian, 29 : 31 – 35

Anak-anak Yakub
31 Ketika TUHAN melihat, bahwa Lea tidak dicintai, dibuka-Nyalah kandungannya, tetapi Rahel mandul. 32 Lea mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ruben, sebab katanya: "Sesungguhnya TUHAN telah memperhatikan kesengsaraanku; sekarang tentulah aku akan dicintai oleh suamiku." 33 Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: "Sesungguhnya, TUHAN telah mendengar, bahwa aku tidak dicintai, lalu diberikan-Nya pula anak ini kepadaku." Maka ia menamai anak itu Simeon. 34 Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: "Sekali ini suamiku akan lebih erat kepadaku, karena aku telah melahirkan tiga anak laki-laki baginya." Itulah sebabnya ia menamai anak itu Lewi. 35 Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: "Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN." Itulah sebabnya ia menamai anak itu Yehuda. Sesudah itu ia tidak melahirkan lagi.

KEHADIRAN ANAK ADALAH ANUGERAH TUHAN

Sebuah keluarga tidaklah lengkap dan tampak sepi tanpa hadirnya seorang anak. Memiliki anak adalah impian setiap pasangan suami isteri.  Sungguh, anak adalah harta yang tak ternilai dari Tuhan.  Ketahuilah bahwa seorang anak berada di dunia ini bukan karena keinginannya sendiri, tetapi semua karena rencana dan kehendak Tuhan semata.  Itulah sebabnya Tuhan sendiri yang membentuk dan menenun mereka sejak dalam kandungan ibunya. Dan Tuhan melihat kesungguhan hati seorang perempuan yang sangat mendambakan kehadiran anak untuk melengkapi rumah tangganya. Lea, adalah salah seorang dari perempuan tersebut. Demi mempertahankan hubungannya dengan Yakub, maka Lea berupaya keras untuk itu. Dan Tuhan melihat Yakub tidak mencintai Lea. Maka mulailah Tuhan bekerja memberkati kandungan Lea hingga lahirlah Ruben, Simon, Lewi dan Yehuda. Kehadiran 4 anak lelakinya diharapkan mampu mengubah sikap Yakub kepadanya. Lea sangat mendambakan cinta Yakub, suaminya. Karena Lea sadar bahwa Yakub hanya mencinta Rahel, adiknya.Pelajaran penting bagi setiap keluarga Kristen saat ini, bagaimanapun situasi pernikahanmu, ada cinta atau sudah pudarnya cinta atau tidak ada cinta sama sekali, namun jika sudah ada anak-anak yang menghiasi rumahmu, maka hendaknya jangan sekali-kali meremehkan kehadiran mereka. Anak adalah berkat Tuhan yang juga memerlukan hak hidup. Layanilah mereka dengan cinta. Hidupilah mereka dengan kasih sayang.  Bimbing dan didiklah mereka berdasarkan nilai-nilai pengajaran iman Kristiani yang baik, kelak mereka akan menyenangkan hatimu.  

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami melakukan tanggung jawab dengan takut akan Engkau. Amin.

Selasa, 27 Juli 2021                                        

bacaan : Kejadian 35: 16-20

Kelahiran Benyamin -- Rahel mati
16 Sesudah itu berangkatlah mereka dari Betel. Ketika mereka tidak berapa jauh lagi dari Efrata, bersalinlah Rahel, dan bersalinnya itu sangat sukar. 17 Sedang ia sangat sukar bersalin, berkatalah bidan kepadanya: "Janganlah takut, sekali inipun anak laki-laki yang kaudapat." 18 Dan ketika ia hendak menghembuskan nafas--sebab ia mati kemudian--diberikannyalah nama Ben-oni kepada anak itu, tetapi ayahnya menamainya Benyamin. 19 Demikianlah Rahel mati, lalu ia dikuburkan di sisi jalan ke Efrata, yaitu Betlehem. 20 Yakub mendirikan tugu di atas kuburnya; itulah tugu kubur Rahel sampai sekarang.

ANAK: BERKAT ALLAH YANG HARUS DIPERJUANGKAN

Anak merupakan anugerah dan berkat Allah bagi setiap keluarga. Sebab itu, setiap orang tua rela berkorban dan berjuang demi kehidupan anaknya. seorang ibu misalnya, rela mengorbankan hidupnya demi kehidupan sang buah hati yang dilahirkan di dunia.  Perjuangan seorang ibu pada saat melahirkan buah hatinya tidak pernah mudah selalu butuh perjuangan dan pengorbanan. Orang selalu bilang “perjuangan seorang ibu untuk melahirkan sang buah hati diibaratkan sebagai perjuangan hidup dan mati” karena ada banyak resiko yang dihadapi para ibu selama proses persalinan. Ada banyak kisah para ibu yang meninggal dunia setelah melahirkan buah hatinya, padahal mereka sudah menanti kehadiran buah hatinya. Hal ini pula yang dialami Rahel pada saat ia melahirkan buah hatinya, Benyamin. Ay.16-17 menyebutkan Rahel bersalin sangat sukar, sebab itu ia berjuang sampai akhir hidupnya. Dan sebelum ia menghembuskan nafasnya, ia menamakan anaknya Ben-Oni yang berarti “anak kesukaranku” atau “kesedihanku”. Penamaan Ben-Oni menunjukkan bahwa Rahel merupakan seorang ibu yang berjuang dan berkorban nyawa demi kehidupan anaknya. Nama tersebut kemudian dirubah oleh Yakub, ayahnya menjadi Benyamin (ay.18). Nama Benyamin berarti “anak kesayanganku” atau “anak pengharapanku”. Dengan memberi nama Benyamin menunjukan Yakub menaruh pengharapan besar bahwa kelak anaknya akan menjadi anak yang membanggakan dan mendatangkan kebahagian bagi dirinya. Bacaan ini mengajar kita sebagai orang tua, untuk melaksanakan tugas sebagai orang tua untuk memberikan perhatian dan kasih sayang; merawat dan melayani dengan setia, memberikan pendidikan dan kehidupan yang layak supaya kelak mereka menjadi anak-anak  yang berguna bagi keluarga, gereja, bangsa dan Negara.

Doa : Tuhan, tuntunlah kami untuk memperjuangkan hak anak. Amin

Rabu, 28 juli 2021                                             

bacaan : Ulangan 6 : 20-25

20 Apabila di kemudian hari anakmu bertanya kepadamu: Apakah peringatan, ketetapan dan peraturan itu, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN Allah kita? 21 maka haruslah engkau menjawab anakmu itu: Kita dahulu adalah budak Firaun di Mesir, tetapi TUHAN membawa kita keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat. 22 TUHAN membuat tanda-tanda dan mujizat-mujizat, yang besar dan yang mencelakakan, terhadap Mesir, terhadap Firaun dan seisi rumahnya, di depan mata kita; 23 tetapi kita dibawa-Nya keluar dari sana, supaya kita dapat dibawa-Nya masuk untuk memberikan kepada kita negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyang kita. 24 TUHAN, Allah kita, memerintahkan kepada kita untuk melakukan segala ketetapan itu dan untuk takut akan TUHAN, Allah kita, supaya senantiasa baik keadaan kita dan supaya Ia membiarkan kita hidup, seperti sekarang ini. 25 Dan kita akan menjadi benar, apabila kita melakukan segenap perintah itu dengan setia di hadapan TUHAN, Allah kita, seperti yang diperintahkan-Nya kepada kita."

MEWARISKAN KASIH DAN KUASA ALLAH KEPADA ANAK

Keluarga merupakan tempat pertama kali anak belajar mengenal kehidupan. Sebab itu, orang tua berperan untuk memberikan pendidikan dan kehidupan yang layak kepada anak. Tugas tersebut juga dilakukan oleh bangsa Israel kepada generasi mereka saat itu, sebelum mereka memasuki tanah perjanjian (Kanaan). Musa dengan tegas memperingatkan bangsa Israel, bahwa  Orang tua berkewajiban untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka tentang Tuhan Allah yang berkuasa dalam sejarah hidup mereka. Bahwa Allah Israel adalah Allah yang berkuasa dan mengasihi mereka. Ia  membawa mereka keluar dari Mesir, tanah perbudakan; membuat tanda-tanda mujizat, yang membelah air laut Teberau. Tuhan yang akan menuntun mereka mendiami tanah perjanjian (Kanaan) yang dijanjikan kepada nenek moyang Israel; Abraham, Ishak dan Yakub. Perbuatan-perbuatan besar Allah yang menyelamatkan itu patut direspons dengan ketaatan dan kesetiaan Israel untuk melakukan perintah, ketetapan dengan takut akan Tuhan (ay.24-25). Sebab dengan melakukan perintah Tuhan, maka kehidupan umat Israel akan diberkati. Pengalaman hidup keluarga kita bersama Tuhan (pengalaman manis maupun pahit)  perlu juga diajarkan/diceritakan kepada anak-anak kita, supaya mereka mengetaui dan memahami bahwa Tuhan berkuasa dan mengasihi mereka. Oleh sebab itu, setiap orang harus melakukan perintah Tuhan dengan taat dan setia. Dengan hidup taat dan setia kepada Tuhan, maka hidupnya akan berbahagia. Sayangnya, ada orang tua yang mengabaikan tugas tersebut karena kesibukan;  sibuk kerja, sibuk main Handphone, sibuk jalan-jalan dan sebagainya. Padahal anak – anak sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang orangtua.

Doa: Tuhan, tuntunlah kami untuk mewariskan kasih Allah kepada anak.

Kamis, 29 Juli 2021                                      

bacaan : 1 Samuel 1 : 21-28

21 Elkana, laki-laki itu, pergi dengan seisi rumahnya mempersembahkan korban sembelihan tahunan dan korban nazarnya kepada TUHAN. 22 Tetapi Hana tidak ikut pergi, sebab katanya kepada suaminya: "Nanti apabila anak itu cerai susu, aku akan mengantarkan dia, maka ia akan menghadap ke hadirat TUHAN dan tinggal di sana seumur hidupnya." 23 Kemudian Elkana, suaminya itu, berkata kepadanya: "Perbuatlah apa yang kaupandang baik; tinggallah sampai engkau menyapih dia; hanya, TUHAN kiranya menepati janji-Nya." Jadi tinggallah perempuan itu dan menyusui anaknya sampai disapihnya. 24 Setelah perempuan itu menyapih anaknya, dibawanyalah dia, dengan seekor lembu jantan yang berumur tiga tahun, satu efa tepung dan sebuyung anggur, lalu diantarkannya ke dalam rumah TUHAN di Silo. Waktu itu masih kecil betul kanak-kanak itu. 25 Setelah mereka menyembelih lembu, mereka mengantarkan kanak-kanak itu kepada Eli; 26 lalu kata perempuan itu: "Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada TUHAN. 27 Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. 28 Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN." Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN.

AIR SUSU IBU MEMBERI KEHIDUPAN

Satu tetes aer susu mama e, beta hidop deng puluh taong…” lirik lagu ini menjelaskan bahwa Air Susu Ibu (ASI) memberikan kehidupan bagi anak – anaknya. Peran ASI bagi pertumbuhan dan kehidupan seorang anak sangatlah penting. Hal ini dijelaskan pula dalam bacaan kita tadi. Ay, 23 menyebutkan Hana menyusui Samuel anaknya sampai disapihnya (berhenti/stop susu).  Alkitab menjelaskan pentingnya ASI/menyusui bagi seorang bayi,.  ASI dibutuhkan seorang bayi untuk pertumbuhan (band.1 Ptrs 2:2), dengan menyusui akan membuat seorang bayi merasa aman, karena dekat dengan ibunya (band.Maz.22:10). Dengan kata lain, ASI dianugerahkan Tuhan memberikan kandungan gizi pada anak sekaligus terjalin ikatan cinta kasih ibu dan anak sebagai pembentukan karakter. Pemberian ASI secara eksklusif bagi seluruh bayi di Indonesia  diatur dalam Undang-undang Thn 2004. Artinya, ASI merupakan hak setiap bayi yang baru lahir. Jadi, yang tidak memberikan ASI berarti membatasi hak setiap bayi yang baru lahir untuk mendapatkan air susu ibu. Memang, ada berbagai alasan para ibu tidak memberikan ASI/menyusui kepada bayinya. Misalnya: masalah kesehatan ibu (dapat dipahami), menjaga tubuh tetap cantik, tergoda merek susu formula, sibuk kerja, Hal ini sangat disayangkan karena ASI memiliki manfaat:yang besar; seperti: system kekebalan tubuh bayi lebih kuat, anak menjadi cerdas, tulang bayi lebih kuat, mengurangi resiko kematian bayi, dan sebagainya. Jadi, setiap ibu diharapkan untuk memberikan ASI/ menyusui bayinya sampai usia 2 tahun. Setiap orang tua mempunyai tanggung jawab untuk membawa anak semakin dekat kepada Tuhan, dengan cara: memberikan pengajaran Kristen, rajin beribadah, berdoa, memberikan teladan yang baik kepada anak, dll.

Doa: Tuhan tolonglah kami untuk menghargai hak anak – anak kami, Amin.

Jumat, 30 Juli 2021                                      

bacaan : 1 Raja-raja 2 : 7

7 Tetapi kepada anak-anak Barzilai, orang Gilead itu, haruslah kautunjukkan kemurahan hati. Biarlah mereka termasuk golongan yang mendapat makanan dari mejamu, sebab merekapun menunjukkan kesetiaannya dengan menyambut aku pada waktu aku melarikan diri dari depan kakakmu Absalom.

ANAK YANG MEMPEROLEH KEMURAHAN HATI

Ingatkah kita tentang cerita orang kaya yang murah hati, yakni Ibu Monica Soraya yang mengadopsi (mengangkat anak) 13 bayi sejak tahun 2020 lalu. Menurutnya, hal ini ia lakukan untuk membantu keluarga-keluarga yang tidak mampu secara ekonomi. Mengadopsi bayi-bayi tersebut membuat hidupnya lebih berarti, karena selama ini dirinya bisa makan enak dan tinggal di rumah yang mewah tapi di luar sana banyak orang yang hidupnya tidak seberuntung dirinya. Pesan indahnya bagi 13 bayi angkatnya: “kami sekelurga berjanji untuk selalu menjaga kalian semua serta mengantarkan kalian ke pintu gerbang kesuksesan”. Ibu Soraya dan keluarganya memiliki hati yang mulia karena bersedia memberikan kehidupan yang layak bagi 13 bayi tersebut. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah memberikan perhatian dan pelayanan kepada anak-anak yang mengalami kesusahan hidup dan sementara berjuang di tengah tantangan dan ancaman kehidupan? (kekerasan seksual, perdagangan anak). Bacaan tadi, berisikan pesan terakhir Daud kepada Salomo sebelum ia meninggal. Daud berpesan agar Salomo dapat menunjukkan kemurahan hatinya kepada anak-anak Barzilai, orang Gilead. Mereka harus dihargai dan dilayani dengan baik karena keluarga ini berjasa besar kepada Daud dengan memberikan dukungan dan pelayanan semasa pemberontakan Absalom. Kemurahan hati Ibu Soraya dan Daud menginspirasi kita semua untuk memberikan perhatian, kasih sayang dan pelayanan kepada anak-anak yang “kurang beruntung” dalam hidup ini, supaya mereka memperoleh kehidupan dan pendidikan yang layak. Dan ingatlah, bahwa kita pernah hidup susah, karena itu setiap orang yang susah perlu ditolong, juga kepada mereka yang pernah menolong/berjasa kepada kita.

Doa: Tuhan, kiranya kami memiliki kemurahan hati untuk melayani hak hidup anak, Amin

Sabtu, 31 Juli 2021                                        

Bacaan : 2 Raja-raja 4: 1-7

Minyak seorang janda

Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: "Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya." 2 Jawab Elisa kepadanya: "Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah." Berkatalah perempuan itu: "Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak." 3 Lalu berkatalah Elisa: "Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. 4 Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!" 5 Pergilah perempuan itu dari padanya; ditutupnyalah pintu sesudah ia dan anak-anaknya masuk; dan anak-anaknya mendekatkan bejana-bejana kepadanya, sedang ia terus menuang. 6 Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: "Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi," tetapi jawabnya kepada ibunya: "Tidak ada lagi bejana." Lalu berhentilah minyak itu mengalir. 7 Kemudian pergilah perempuan itu memberitahukannya kepada abdi Allah, dan orang ini berkata: "Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu."

MEMPERJUANGKAN HAK HIDUP ANAK

Kita masih berada dalam suasana perayaan Hari Anak Nasional 2021 dengan mengusung tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Tema ini menegaskan bahwa anak merupakan potensi dan penerus cita-cita perjuangan bangsa, yang menjamin kelangsungan hidup bangsa dan Negara di masa depan. Karena itu, Negara memberikan perlindungan terhadap hak anak yang merupakan salah satu dari hak asasi manusia. Penyelenggara perlindungan terhadap hak anak berhubungan dengan peran orang tua, keluarga, masyarakat dan pemerintah. Peran orang tua dalam memberikan perlindungan kepada hak hidup anak ditemukan dalam bacaan kita tadi. Ay.1 menjelaskan tentang seorang janda yang datang kepada Elisa karena masalah keuangannya. Janda itu takut anak-anaknya akan diambil oleh penagih hutang sebagai budak untuk melunasi hutangnya. Maka Elisa yang menaruh kasih kepada janda itu dan anak-anaknya, memerintahkan mereka untuk mengisi minyak kedalam semua bejana sampai penuh (ay.3-4). Janda ini bersama anak-anaknya melakukan sesuatu yang memperlihatkan imannya, mengikuti petunjuk nabi Elisa, Tuhan memakai Elisa untuk menolong orang-orang yang mengalami masalah hidup, terutama ancaman terhadap hak hidup anak. Pelajaran penting bagi kita saat ini, perjuangan janda tadi untuk melindungi hak hidup anak-anaknya dari penagih hutang memberikan teladan bagi setiap orang tua untuk berjuang melindungi anak-anak dari  perbudakan modern, seperti: perdagangan anak, pekerja seks secara online yang marak terjadi saat ini dan berbagai ancaman hidup lainnya. Orang tua juga memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan hidup anak.

Doa: Tuhan, lindungilan anak-anak dari ancaman kehidupan. Amin

*sumber SHK bulan Juli 2021

Santapan Harian Keluarga, 18-24 Juli 2021

Tema Mingguan : “Gereja dan Tanggungjawab Penyembuhan Berbagai Penyakit Dalam Masyarakat”

Minggu, 18 Juli 2021                                         

bacaan : Markus 5 : 1 – 20  

Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa

Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa. 2 Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. 3 Orang itu diam di sana dan tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, 4 karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorangpun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. 5 Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu. 6 Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, 7 dan dengan keras ia berteriak: "Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!" 8 Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya: "Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!" 9 Kemudian Ia bertanya kepada orang itu: "Siapa namamu?" Jawabnya: "Namaku Legion, karena kami banyak." 10 Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu. 11 Adalah di sana di lereng bukit sejumlah besar babi sedang mencari makan, 12 lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, katanya: "Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!" 13 Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya. 14 Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi. 15 Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion itu. Maka takutlah mereka. 16 Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceriterakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu. 17 Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka. 18 Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. 19 Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!" 20 Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.

KUASA YESUS MENYEMBUHKAN DAN MEMULIHKAN

Salah satu misi pelayanan Yesus  adalah memberikan pemulihan dan kesembuhan bagi mereka yang sakit dan dibelenggu kuasa roh jahat. Dalam kesaksian penginjil Markus saat pelayanan Yesus di daerah Gerasa, Ia berjumpa dengan seorang yang datang dari pekuburan dan dirasuki roh jahat. Namanya Legion dan oleh kekuatan roh jahat membuatnya sangat menderita. Dia sering dirantai dan dibelengggu, karena tidak ada yang berkuasa untuk menenangkannya, sehingga ia selalu berkeliaran siang dan malam didaerah pekuburan. Ketika berjumpa dengan Yesus, roh-roh yang menguasai Legion meminta untuk masuk ke dalam kawanan babi yang ada disekitar itu. Yesus segera mengabulkan dan menyembuhkan Legion serta melepaskannya dari kuasa roh jahat. Yesus memberikan cara penyelesaian yang berbeda, Ia   berdialog dengan orang sakit tersebut. Yesus menerima orang itu apa adanya, Yesus mendengarkan ia berbicara atau mendengarkan keluhannya, Yesus menanyakan namanya, Yesus mengenal jenis penyakitnya, Yesus memenuhi permintaannya. Akhirnya orang itu sembuh dan bebas dari roh jahat dan ia mau melakukan perintah Yesus. Juga, masyarakat sekitar menjadi takut dan menceritakan segala yang terjadi. Kuasa kebangkitan Tuhan Yesus telah menang atas segala kuasa roh jahat, sakit penyakit, kejahatan, kedagingan yang terus menggoda dan menghantui kehidupan manusia sampai sekarang ini. Sebagai keluarga Allah hendaklah kita mengundang dan menghadirkan kuasa Yesus melalui Roh Kudus sebagai penolong dan kekuatan bagi kita ketika berhadapan dengan jeratan iblis dan kuasa lain dalam kehidupan manusia antara lain, ketergantungan pada teknologi digital yang begitu kuat merasuki kehidupan manusia. Hanya kuasa  Roh Kudus yang dapat melepaskan kita dari jeratan itu.

Doa:   Tuhan, lepas kami dari jeratan kuasa roh jahat. Amin.-           

Senin, 19 Juli 2021                                               

bacaan : Matius 8 : 1 – 4

Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta

Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. 2 Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." 3 Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya. 4 Lalu Yesus berkata kepadanya: "Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka."

MENGASIHI MEREKA YANG SAKIT DAN TERABAIKAN

Sampai saat ini kita masih terus bergumul dengan bencana non alam virus Covid-19 yang entah kapan berakhir. Ada beberapa kasus terjadi, dimana pasien yang terkonfirmasi positif saat di bawa ke rumah sakit sudah dalam kondisi parah dan akhirnya tidak dapat tertolong lagi. Mengapa terjadi demikian? Salah satu alasannya, mereka takut untuk menyampaikan status mereka sebab akan dikucilkan serta dijauhi oleh masyarakat. Pun juga demikian seorang yang sakit kusta datang menjumpai Tuhan Yesus ketika Ia turun dari bukit setelah selesai mengajar. Begitu kuatnya pandangan masyarakat yang menggangap sakit kusta sebagai penyakit kutukan dan aib. Hal ini membuat orang kusta dengan begitu memelas datang dihadapan Yesus sambil sujud, menyembah dan berkata “Tuan, jika Tuan mau”, Tuan dapat mentahirkan aku. Orang kusta ini sadar akan keberadaan dirinya, namun Yesus menjamah orang kusta ini. Sikap serta tindakan Tuhan Yesus mengubah pandangan masyarakat Yahudi pada waktu itu, bahwa orang seperti itu tidak boleh dikucilkan dan diabaikan, namun mesti mendapat perhatian, pelayanan, dukungan serta cinta kasih yang menyemangati mereka untuk bangkit serta dipulihkan dari penderitaan sakit. Hal inipun yang mesti menjadi tugas kita sebagai keluarga Allah dan juga selaku persekutuan gereja secara luas kepada semua orang dan sesama yang menderita sakit dan sering terabaikan, termasuk juga saudara-saudara kita yang terjangkit Covid-19. Kita mesti mendoakan mereka dan selalu memberikan dukungan serta menyemangati mereka untuk bangkit agar segera pulih dan sembuh. Kita melakukannya berlandaskan pada cinta kasih Tuhan Yesus yang selalu peduli dan mengasihi semua orang termasuk kita sekeluarga. 

Doa: Ya Tuhan mampukan kami untuk meneruskan kasih-Mu yang memulihkan bagi sesama yang sakit dan menderita. Amin.

Selasa, 20 Juli 2021                                            

bacaan : Matius 8 : 5 – 13  

Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum
5 Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: 6 "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita." 7 Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya." 8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. 9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." 10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel. 11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, 12 sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." 13 Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

MELAYANI TANPA MEMBEDAKAN

Pelayanan Tuhan Yesus tidak memandang latar belakang hidup seseorang serta membeda – bedakan mereka. Semuanya mendapat perhatian dan tempat di hati Yesus. Seperti halnya seorang perwira romawi, yang memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan hambanya yang sakit. Tuhan Yesus menyatakan kesediaan untuk datang ke rumah perwira itu, namun ditanggapi oleh perwira itu dengan menyatakan dia tidak layak menerima Tuhan Yesus di rumahnya. Menurut budaya saat itu orang Yahudi tidak bergaul dengan orang romawi karena dianggap haram apalagi masuk ke dalam rumahnya. Perwira ini pahami tentang kuasa seorang nabi untuk menyembuhkan dan membuat mujizat. Perkataan seorang nabi sama seperti seorang atasan yang memberi perintah kepada bawahannya. Apapun yang dikatakan oleh nabi akan terjadi karena perkataannya itu mengandung kuasa untuk menyembuhkan. Pemahaman perwira ini dipuji oleh Tuhan Yesus dan menjadi heran akan imannya ini tidak pernah dijumpai diantara orang Israel. Sehingga Ia berkata “bahwa banyak orang dari Timur dan Barat akan duduk makan bersama dengan Abraham, Ishak dan Yakub, sedangkan anak-anak Kerajaan akan dicampakkan ke dalam kegelapan”. Ini gambaran bahwa yang diselamatkan adalah mereka yang percaya dan bukan atas status mereka sebagai bangsa pilihan Allah. Hal inipun menjadi teladan bagi kita sebagai keluarga Kristen dalam melakukan pelayanan dengan tidak melihat latar belakang seseorang. Pelayanan kita berdasarkan pada cinta kasih Kristus yang memulihkan dan menyembuhkan. Kita meneruskan pelayanan kasih itu kepada semua orang yang membutuhkannya dengan keyakinan iman bahwa kita juga menjadi bagian dari orang-orang yang akan menerima anugerah keselamatan didalam Tuhan Yesus Kristus.

Doa:  Tolong   kami   Tuhan  untuk  meneruskan  kasihMu  yang  memulihkan  tanpa membeda-bedakan. Amin.

Rabu, 21 Juli 2021                                          

bacaan :  Markus: 6 : 53 – 56

Yesus menyembuhkan orang-orang sakit di Genesaret
53 Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. 54 Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. 55 Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. 56 Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

KEPEKAAN DAN KEPEDULIAN BERSAMA, UNTUK KESEMBUHAN

Setiap orang yang sakit, pasti tidak mampu menolong dirinya sendiri, tetapi ia membutuhkan pertolongan orang lain, apakah itu anggota keluarganya, sahabat, teman, bahkan orang – orang yang ada di sekitarnya. Persoalannya adalah, masih adakah kepekaan dan kepedulian kita terhadap saudara – saudara kita yang sakit? Bacaan kita menceriterakan bahwa ketika Yesus tiba di Genesaret, orang-orang yang mengenal Dia berlari – lari keseluruh daerah itu untuk membawa saudara – saudara mereka yang sakit kepada-Nya. Mereka beramai – ramai mengusung orang – orang yang sakit untuk disembuhkan oleh Yesus. Rupanya kesaksian tentang Yesus yang menyembuhkan orang-orang sakit telah sampai kepada mereka. Keyakinan mereka yang begitu besar akan Yesus tampak melalui ungkapan “supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh” (ay.56.b). Saat ini, banyak  orang yang menderita sakit dengan berbagai jenis penyakit yang mengancam kehidupan. Sebagai orang percaya, kitapun terpanggil untuk menolong mereka, antara lain mendoakan dan memberi dukungan moril maupun materil. Dukungan banyak orang adalah kekuatan bagi orang yang sakit untuk disembuhkan dan dipulihkan. Bagaimana kita menyikapi panggilan ini dalam persekutuan kita, baik di keluarga, di Unit, Sektor, bahkan dalam persekutuan Jemaat. Yesus menghendaki agar kita saling menopang dan mendoakan dalam menghadapi setiap persoalan termasuk penderitaan sakit. Semakin banyak orang yang sepakat memohon kesembuhan, akan menjadi berkat kesembuhan bagi seseorang yang menderita sakit. Yesus katakan: “…Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di Sorga” (Matius 8:19).

Doa: Tuhan ajarlah kami untuk mendoakan sesama yang sakit, Amin

Kamis, 22 Juli 2021                                    

bacaan : Markus 10 : 46 – 52

Yesus menyembuhkan Bartimeus
46 Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. 47 Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" 48 Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" 49 Lalu Yesus berhenti dan berkata: "Panggillah dia!" Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau." 50 Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. 51 Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!" 52 Lalu kata Yesus kepadanya: "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

MILIKI TELINGA DAN HATI YANG PEKA DENGAN TERIAKAN SESAMAMU

Disekitar kita ada cukup banyak orang yang sebenarnya membutuhkan pertolongan. Ada yang membutuhkan makanan, bantuan dana untuk biaya sekolah, pekerjaan, kesembuhan dari penyakit, dukungan doa-doa kita dan lain sebagainya. Namun seringkali, kita tidak bertindak untuk mengulurkan tangan menolong mereka. Bacaan hari ini mengisahkan, sekalipun sedang berada ditengah begitu banyak orang yang mengerumuni-Nya, Yesus mampu mendengars seruan minta tolong dari Bartimeus, seorang pengemis buta. Demikian juga Bartimeus, ketika mendengar tentang Yesus, diapun ingin disembuhkan dan ia percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkannya. Dia sadar karena dirinya buta, dia harus berteriak dengan lantang agar Yesus mendengarnya, walaupun ia ditegur oleh banyak orang yang menghalanginya berjumpa dengan Yesus. Ketika Yesus  mendengar teriakan Bartimeus, Ia berhenti, mengajaknya bercakap – cakap untuk mengetahui keadaan Bartimeus dan menyembuhkan dia. Mungkin saat ini ada banyak teriakan minta tolong dari orang – orang yang menderita, tetapi apakah kita mendengar teriakan itu? Ataukah hati dan telinga kita sudah tidak   dapat mendengar teriakan sesama kita? Semoga kisah ini menggelisahkan kita, untuk memberi telinga dan hati kita,  mendengar teriakan sesama yang menderita dan berupaya memberi pertolongan sesuai dengan kemampuan kita.

Doa:  Tuhan Yesus, ajarlah kami memiliki hati yang penuh kasih untuk mendengar teriakan sesama yang menderita. Amin.

Jumat, 23 Juli 2021                                             

bacaan : Lukas 4 : 38 – 41

Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon Petrus dan orang-orang lain
38 Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. 39 Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka. 40 Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Iapun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. 41 Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.

KASIH YESUS YANG MENYEMBUHKAN

Tuhan Yesus dikenal luas sebagai ‘rabi’ atau guru yang suka “blusukan atau mengunjungi.” Ia pergi ke mana-mana dan masuk ke segala lapisan masyarakat. Kadang Ia bergaul dengan kaum marginal: para janda, anak yatim piatu, orang asing, orang-orang sakit, dan sebagainya; kadang pula Ia berdiri di muka umum dan mengajar di rumah-rumah ibadat di depan para pemuka agama, orang-orang Farisi, dan ahli-ahli Taurat. Ia suka berkeliling; dari desa ke desa, dari kota ke kota, dan dari rumah ke rumah. Tuhan Yesus adalah milik semua orang yang percaya kepada-Nya. Hari ini Penginjil Lukas menceritakan salah satu dari sekian banyak kebiasaan Yesus itu. Dalam suatu perjalanan-Nya, Ia mampir ke rumah Petrus dan melakukan penyembuhan terhadap mertua Petrus sedang sakit. Hanya dengan ‘menghardik’, demam keras yang dialami oleh ibu mertua Petrus itu pun hilang dalam sekejap. Ia mampu bangkit dan berdiri untuk melayani Yesus. Bahkan banyak orang yang menyaksikan peristiwa tersebut membawa begitu banyak orang sakit dan Yesus menyembuhkan mereka. Dalam kenyataan hidup sekarang ini, keluarga merupakan gereja kecil yang juga dapat menjadi alat penyalur kesembuhan bagi saudara bersaudara dalam lingkup keluarga dan masyarakat. Ada begitu banyak orang sakit dalam keluarga dan masyarakat yang memerlukan bantuan kita. Hal terpenting adalah penerimaan, sentuhan, rangkulan, pendampingan dan doa adalah kekuatan terbesar sebetulnya saat ini bagi hidup kemanusiaan. Mampukah kita melakukan aksi nyata seperti yang dilakukan oleh Yesus?

Doa:  Tuhan Yesus, mampukanlah kami untuk mengasihi seperti-Mu. Amin.

Sabtu, 24 Juli 2021                                       

bacaan : Lukas 13 : 10 – 17

Menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat
10 Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat. 11 Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. 12 Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: "Hai ibu, penyakitmu telah sembuh." 13 Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. 14 Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: "Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat." 15 Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: "Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? 16 Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?" 17 Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.

KEKUATAN CINTA MENDASARI HUKUM

Beragama dan beriman berbeda satu sama lain. Orang beragama belum tentu beriman, sebaliknya orang beriman belum tentu beragama. Alangkah indahnya jika beragama sekaligus beriman! Apa yang terjadi akhir-akhir ini perihal kekerasan agama yang dilakukan oleh oknum atau kelompok tertentu cukup menarik dan memprihatinkan. Atas nama agama menyakiti orang lain itulah yang terjadi, entah itu disadari sepenuhnya oleh pelaku atau tidak, atau pelaku hanya sekadar ‘wayang’ yang dimainkan oleh dalang tertentu.  Sabda Yesus hari ini mengkritik orang-orang munafik, yang berpegang teguh pada peraturan tanpa dijiwai oleh iman dan cinta kasih. Menurut hukum taurat, pada hari Sabat setiap orang harus istirahat dari kerja. Maka ketika Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, kepala rumah ibadat itu gusar. Namun, Yesus menentang hukum yang demikian dengan alasan bahwa hukum yang menekan hidup tidak dikehendaki Tuhan. Inilah usaha Yesus untuk melepaskan ikatan yang membelenggu manusia. Nilai keselamatan lebih tinggi daripada hukum, karena itu manusia harus dilepaskan dari belenggu ikatan hukum. Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat. Dialah yang menetapkan hari Sabat untuk menghidupkan dan membina hubungan mulia antara Tuhan dan manusia. Kita semua mungkin mengakui diri sebagai umat beriman, namun apakah menghayati iman dengan benar masih merupakan pertanyaan. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, sehingga hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan yang utama adalah perintah untuk saling mengasihi satu sama lain. Cinta kasih mendasari aneka peraturan dan kebijakan atau tata tertib, sekaligus menjadi sasaran pelaksanaan peraturan, kebijakan atau tata tertib.

Doa: Ajarilah kami ya Tuhan untu mengerti antara cinta dan hukum. Amin.

*sumber : SHK Bulan Juli 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 11-17 Juli 2021

Tema Mingguan : “Risiko dari Panggilan dan Pengutusan Tuhan”

Minggu, 11 Juli 2021                                      

bacaan :  Amos 7 : 10 – 17

Amos diusir
10 Lalu Amazia, imam di Betel, menyuruh orang menghadap Yerobeam, raja Israel, dengan pesan: "Amos telah mengadakan persepakatan melawan tuanku di tengah-tengah kaum Israel; negeri ini tidak dapat lagi menahan segala perkataannya. 11 Sebab beginilah dikatakan Amos: Yerobeam akan mati terbunuh oleh pedang dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan." 12 Lalu berkatalah Amazia kepada Amos: "Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda! Carilah makananmu di sana dan bernubuatlah di sana! 13 Tetapi jangan lagi bernubuat di Betel, sebab inilah tempat kudus raja, inilah bait suci kerajaan." 14 Jawab Amos kepada Amazia: "Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. 15 Tetapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan TUHAN berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel. 16 Maka sekarang, dengarlah firman TUHAN! Engkau berkata: Janganlah bernubuat menentang Israel, dan janganlah ucapkan perkataan menentang keturunan Ishak. 17 Sebab itu beginilah firman TUHAN: Isterimu akan bersundal di kota, dan anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan tewas oleh pedang; tanahmu akan dibagi-bagikan dengan memakai tali pengukur, engkau sendiri akan mati di tanah yang najis, dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan."

RISIKO DARI PANGGILAN DAN PENGUTUSAN TUHAN

Amos adalah seorang peternak di Tekoa (Amos 1: 1) di wilayah Israel Selatan/Yahuda. Dia dipanggil dan diutus oleh Tuhan ke Israel Utara/Samaria untuk menyampaikan kehendak Tuhan kepada  umat Israel di sana. Pada waktu itu umat di Israel Utara rajin melaksanakan Ibadah ritual mereka, tetapi terjadi banyak kejahatan dalam masyarakat. Salah satunya ialah masalah ketidak-adilan sosial. Orang yang kaya dan berkuasa menindas orang yang miskin dan tidak berdaya. Akibatnya ialah banyak orang miskin  mengalami penderitaan hidup. Di tengah kenyataan hidup yang demikian Amos dipanggil dan diutus oleh Tuhan untuk menyampaikan kehendak-Nya.  Tetapi Amos harus menghadapi risiko dari panggilannya yaitu ia terancam di usir oleh Amazia seorang Imam yang bekerja di Bethel. Amasia mengusir Amos untuk pulang ke kampung halamannya di Israel Selatan. Tetapi Amos tidak takut menghadapi ancaman itu, dan dengan berani ia menyampaikan ancaman hukuman Allah kepada Amazia dan keluarganya. Ini mengingatkan kita untuk tidak takut menghadapi risiko apapun karena panggilan dan pengutusan kita. Apakah itu dibenci, dimusuhi, dijauhkan bahkan disingkirkan dari  di tengah masyarakat. Baik di  tempat kita tinggal dan berdiam maupun di tempat kita bekerja dan melayani sesuai panggilan dan pengutusan Tuhan kepada kita. Panggilan kita adalah terus menyampaikan pesan firman Allah di manapun kita berada dan bagaimanapun keadaannya. Yang benar katakan benar, yang salah katakan salah. Tuhan memberkati.

Doa: Ya Tuhan, kuatkan kami menghadapi risiko apapun karena  panggilan dan pengutusan-Mu, Amin

Senin, 12  Juli 2021                                      

bacaan : 1 Samuel 22 : 9 – 19

9 Lalu menjawablah Doeg, orang Edom itu, yang berdiri dekat para pegawai Saul, katanya: "Telah kulihat, bahwa anak Isai itu datang ke Nob, kepada Ahimelekh bin Ahitub. 10 Ia menanyakan TUHAN bagi Daud dan memberikan bekal kepadanya; juga pedang Goliat, orang Filistin itu, diberikannya kepadanya." 11 Lalu raja menyuruh memanggil Ahimelekh bin Ahitub, imam itu, bersama-sama dengan seluruh keluarganya, para imam yang di Nob; dan datanglah sekaliannya menghadap raja. 12 Kata Saul: "Cobalah dengar, ya anak Ahitub!" Jawabnya: "Ya, tuanku." 13 Kemudian bertanyalah Saul kepadanya: "Mengapa kamu mengadakan persepakatan melawan aku, engkau dengan anak Isai itu, dengan memberikan roti dan pedang kepadanya, menanyakan Allah baginya, sehingga ia bangkit melawan aku menjadi penghadang seperti sekarang ini?" 14 Lalu Ahimelekh menjawab raja: "Tetapi siapakah di antara segala pegawaimu yang dapat dipercaya seperti Daud, apalagi ia menantu raja dan kepala para pengawalmu, dan dihormati dalam rumahmu? 15 Bukan ini pertama kali aku menanyakan Allah bagi dia. Sekali-kali tidak! Janganlah kiranya raja melontarkan tuduhan kepada hambamu ini, bahkan kepada seluruh keluargaku, sebab hambamu ini tidak tahu apa-apa tentang semuanya itu, baik tentang perkara kecil maupun perkara besar." 16 Tetapi raja berkata: "Engkau mesti dibunuh, Ahimelekh, engkau dan seluruh keluargamu." 17 Lalu raja memerintahkan kepada bentara yang berdiri di dekatnya: "Majulah dan bunuhlah para imam TUHAN itu sebab mereka membantu Daud; sebab walaupun mereka tahu, bahwa ia melarikan diri, mereka tidak memberitahukan hal itu kepadaku." Tetapi para pegawai raja tidak mau mengangkat tangannya untuk memarang imam-imam TUHAN itu. 18 Lalu berkatalah raja kepada Doeg: "Majulah engkau dan paranglah para imam itu." Maka majulah Doeg, orang Edom itu, lalu memarang para imam itu. Ia membunuh pada hari itu delapan puluh lima orang, yang memakai baju efod dari kain lenan. 19 Juga penduduk Nob, kota imam itu, dibunuh raja dengan mata pedang; laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak yang menyusu, pula lembu, keledai dan domba dibunuhnya dengan mata pedang.

BERPIHAKLAH PADA KEBENARAN, APAPUN RISIKONYA

Berpihak kepada sesuatu yang benar, seringkali menimbulkan ketidaksenangan dari orang yang merasa dirugikan. Hal ini yang terjadi dalam kehidupan raja Saul, yang berprasangka buruk kepada Daud dan juga para kepada para imam termasuk Ahimelekh bin Ahatub. Saul berpikir bahwa mereka telah berpihak kepada Daud dan akan berbalik menyerang Saul. Dugaan Saul diperkuat oleh laporan Doeg orang Edom, yang ingin mengambil hati raja Saul dengan cara yang licik. Tanpa berpikir panjang, Saul memerintahkan untuk memanggil Ahimelekh beserta keluarganya, dan juga para imam yang ada di Nob. Di hadapan Saul, Ahimelekh berupaya menjelaskan tentang tanggungjawab mereka sebagai  para imam yang selalu menanyakan Allah tentang banyak perkara termasuk tentang Daud dan bahwa mereka tidak berpihak kepada siapapun, termasuk Daud. Bahkan ia menyebut Daud sebagai seorang yang baik dan tidak bermaksud jahat kepada Saul. Namun karena sakit hati, Saul memerintahkan para pegawainya untuk membunuh Ahimelekh, namun mereka tidak bersedia melakukan perbuatan keji itu, sebab mereka tau Ahimelekh dan para imam adalah orang baik dan mereka tidak bersalah. Namun di saat itu Doeg mengambil kesempatan untuk mengambil hati raja, dan akhirnya Ahimelekh beserta keluarganya dan para imam yang ada di Nob, mati di tangan Doeg orang Edom itu. Memang ketika kita berpihak kepada hal yang benar, kita akan dimusuhi oleh orang yang berada di pihak yang salah, bahkan kita akan berhadapan dengan fitnahan dan rancangan jahat. Namun demikian tetaplah berpihak pada kebenaran dan berlakulah dengan adil dan benar. Tuhan Yesus pasti melindungi. 

Doa: Tuhan, kuatkan kami menghadapi setiap risiko ketika kami berpihak pada kebenaran, Amin

Selasa, 13 Juli 2021                                   

bacaan : Yeremia 11 : 18 – 23

Nyawa Yeremia terancam di Anatot
18 TUHAN memberitahukan hal itu kepadaku, maka aku mengetahuinya; pada waktu itu Engkau, TUHAN, memperlihatkan perbuatan mereka kepadaku. 19 Tetapi aku dulu seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih, aku tidak tahu bahwa mereka mengadakan persepakatan jahat terhadap aku: "Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya! Marilah kita melenyapkannya dari negeri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat orang lagi!" 20 Tetapi, TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku. 21 Sebab itu beginilah firman TUHAN tentang orang-orang Anatot yang ingin mencabut nyawaku dengan mengatakan: "Janganlah bernubuat demi nama TUHAN, supaya jangan engkau mati oleh tangan kami!" -- 22 Sebab itu beginilah firman TUHAN semesta alam: "Sesungguhnya, Aku akan menghukum mereka: pemuda-pemuda mereka akan mati oleh pedang, anak-anak mereka yang laki-laki dan perempuan akan habis mati kelaparan; 23 tidak ada yang tinggal hidup di antara mereka, sebab Aku akan mendatangkan malapetaka kepada orang-orang Anatot pada tahun hukuman mereka."

DIKHIANATI DAN DIANCAM TETAPI DILINDUNGI TUHAN

Menyatakan suatu kebenaran dan menegur kesalahan adalah panggilan orang percaya ketika hadir dan beraktifitas di tengah – tengah masyarakat yang cenderung bersahabat dengan kejahatan. Namun demikian, kita selalu diperhadapkan dengan  risiko yang berat, kita bukannya diterima tetapi ditolak, dibenci, dan dimusuhi. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa Tuhan Allah memanggil kita untuk melakukan kebenaran dan menyuarakan kebenaran. Hal ini yang dilakukan oleh Yeremia ketika dipanggil dan diutus oleh Allah untuk menegur Yehuda. Yeremia memberitakan penghukuman Allah kepada Yehuda yang melakukan banyak perbuatan jahat. Ia dengan tegas menegur  Yehuda agar bertobat dan berbalik kepada Allah. Karena itulah Yeremia harus menghadapi risiko dikhianati dan terancam dibunuh. Namun Tuhan Allah yang mengutus Yeremia untuk menegur kesalahan Yehuda, selalu melindunginya. Yeremia menyebut Allah sebagai hakim yang adil, yang selalu berpihak pada kebenaran dan menyelamatkan setiap orang yang berani menyatakan kebenaran. Allah yang adil akan bertindak untuk menghukum setiap orang yang melakukan kejahatan. Dengan meyakini bahwa Tuhan itu melindungi setiap orang yang setia kepada-Nya memberanikan kita untuk menyampaikan suara kenabian dilingkungan kita, dengan selalu menegur dan menasehati jika ada yang berbuat salah, membela orang – orang yang diperlakukan dengan tidak adil, berkata dan bertindak benar dan adil, apapun risikonya. Percayalah bahwa Allah akan bertindak memberi pertolongan, menjaga dan melindungi kita tepat pada waktunya.

Doa: Tuhan, beri kami kemampuan untuk menyuarakan kebenaran. Amin!

Rabu, 14 Juli 2021                                       

Yeremia 37 : 11 – 16

Yeremia dipenjarakan
11 Ketika tentara orang Kasdim itu telah angkat kaki dari Yerusalem oleh karena takut kepada tentara Firaun, 12 maka keluarlah Yeremia dari Yerusalem untuk pergi ke daerah Benyamin dengan maksud mengurus di sana pembagian warisan di antara kaum keluarga. 13 Tetapi ketika ia sampai ke pintu gerbang Benyamin, maka di sana ada seorang kepala jaga yang bernama Yeria bin Selemya bin Hananya; ia menangkap nabi Yeremia sambil berteriak: "Engkau mau menyeberang kepada orang Kasdim!" 14 Dan sekalipun Yeremia menjawab: "Itu bohong, aku tidak hendak menyeberang kepada orang Kasdim!", tetapi Yeria tidak mendengarkan, lalu ia menangkap Yeremia dan membawanya menghadap para pemuka. 15 Para pemuka ini menjadi marah kepada Yeremia; mereka memukul dia dan memasukkannya ke dalam rumah tahanan, rumah panitera Yonatan itu; adapun rumah itu telah dibuat mereka menjadi penjara. 16 Demikianlah halnya Yeremia masuk ke dalam ruang cadangan air di bawah tanah itu. Dan lama Yeremia tinggal di sana.

DIFITNAH ADALAH RISIKO ORANG YANG BERTINDAK BENAR 

Memfitnah merupakan tindakan menuduh seseorang melakukan kejahatan tanpa alat bukti.Memfitnah adalah tindakan kejam dan berdampak buruk bagi orang yang difitnah, ada ungkapan yang mengatakan : “Fitnah lebih kejam dari pembunuhan”, ungkapan ini sering disampaikan menyikapi berbagai perbuatan orang – orang yang suka memfitnah sesamanya. Memfitnah tidak membunuh secara fisik, tetapi membunuh karakter, membunuh masa depan seseorang. Dalam bacaan kita, dikatakan bahwa setelah orang Kasdim “angkat kaki” dari Yerusalem, maka Yeremia bermaksud untuk pergi ke daerah Benjamin untuk suatu urusan keluarganya. Namun, ia ditangkap oleh Yeria bin Selemya seorang kepala jaga, yang menuduh Yeremia hendak menyeberang kepada orang Kasdim. Yeremia sudah berupaya untuk memberi penjelasan bahwa tuduhan itu adalah suatu kebohongan, namun Yeria tidak mendengarnya, bahkan Yeria menangkap Yeremia dan membawanya kehadapan para pemuka, bahkan memasukannya ke dalam ruang cadangan air di bawah tanah. Yeria memfitnah Yeremia seakan – akan Yeremia akan menyeberang kepada orang Kasdim dan bersekongkol dengan mereka untuk menyerang Yerusalem.  Hal yang dihadapi oleh Yeremia, juga bisa dialami oleh setiap orang percaya yang diutus Tuhan untuk berkarya di tengah masyarakat. Orang yang bekerja dengan jujur dan setia, orang yang berani berkata benar dan berpihak pada kebenaran, sering dituduh, difitnah, dan dimusuhi. Namun Tuhan Allah tidak akan tinggal diam, melihat perbuatan orang – orang yang kejam dan dengan sewenang – wenang suka menuduh dan memfitnah orang yang tidak bersalah. Allah akan bertindak untuk memberi keadilan, sebab penghakiman itu hak Allah

Doa : Tuhan, jauhkan daripada kami kecendrungan untuk saling memfitnah, amin

Kamis, 15 Juli 2021                                       

Yeremia 38 : 1 – 13

Yeremia dimasukkan ke dalam perigi; ia tertolong oleh Ebed-Melekh

Tetapi Sefaca bin Matan, Gedalya bin Pasyhur, Yukhal bin Selemya dan Pasyhur bin Malkia mendengar perkataan yang tidak henti-henti diucapkan oleh Yeremia kepada segenap orang banyak itu: 2 "Beginilah firman TUHAN: Siapa yang tinggal di kota ini akan mati karena pedang, karena kelaparan dan karena penyakit sampar; tetapi siapa yang keluar dari sini mendapatkan orang Kasdim, ia akan tetap hidup; nyawanya akan menjadi jarahan baginya dan ia tetap hidup. 3 Beginilah firman TUHAN: Kota ini akan pasti diserahkan ke dalam tangan tentara raja Babel yang akan merebutnya." 4 Maka berkatalah para pemuka itu kepada raja: "Baiklah orang ini dihukum mati! Sebab sebenarnya dengan mengatakan hal-hal seperti itu maka ia melemahkan semangat prajurit-prajurit yang masih tinggal di kota ini dan semangat segenap rakyat. Sungguh, orang ini tidak mengusahakan kesejahteraan untuk bangsa ini, melainkan kemalangan." 5 Raja Zedekia menjawab: "Baiklah, ia ada dalam kuasamu! Sebab raja tidak dapat berbuat apa-apa menentang kamu!" 6 Maka mereka mengambil Yeremia dan memasukkannya ke dalam perigi milik pangeran Malkia yang ada di pelataran penjagaan itu; mereka menurunkan Yeremia dengan tali. Di perigi itu tidak ada air, hanya lumpur, lalu terperosoklah Yeremia ke dalam lumpur itu. 7 Tetapi ketika didengar Ebed-Melekh, orang Etiopia itu--ia seorang sida-sida yang tinggal di istana raja--bahwa Yeremia telah dimasukkan ke dalam perigi--pada waktu itu raja sedang duduk di pintu gerbang Benyamin-- 8 maka keluarlah Ebed-Melekh dari istana raja itu, lalu berkata kepada raja: 9 "Ya tuanku raja, perbuatan orang-orang ini jahat dalam segala apa yang mereka lakukan terhadap nabi Yeremia, yakni memasukkan dia ke dalam perigi; ia akan mati kelaparan di tempat itu! Sebab tidak ada lagi roti di kota." 10 Lalu raja memberi perintah kepada Ebed-Melekh, orang Etiopia itu, katanya: "Bawalah tiga orang dari sini dan angkatlah nabi Yeremia dari perigi itu sebelum ia mati!" 11 Ebed-Melekh membawa orang-orang itu dan masuk ke istana raja, ke gudang pakaian di tempat perbendaharaan; dari sana ia mengambil pakaian yang buruk-buruk dan pakaian yang robek-robek, lalu menurunkannya dengan tali kepada Yeremia di perigi itu. 12 Berserulah Ebed-Melekh, orang Etiopia itu, kepada Yeremia: "Taruhlah pakaian yang buruk-buruk dan robek-robek itu di bawah ketiakmu sebagai ganjal tali!" Yeremiapun berbuat demikian. 13 Kemudian mereka menarik dan mengangkat Yeremia dengan tali dari perigi itu. Demikianlah Yeremia tinggal di pelataran penjagaan itu.

BERKATA BENAR, BIJAKSANA DAN TEGAS, DI WAKTU YANG TEPAT

Berterus terang mengatakan suatu kebenaran adalah hal yang tidak mudah dilakukan, sebab perkataan yang tajam dan jujur sering tidak disukai orang. Banyak orang kuatir akan risiko yang dialami, jika ia berkata dan bertindak benar. Hari ini, kita diperhadapkan dengan sikap orang – orang yang dipanggil dan diutus oleh Allah untuk menyatakan suatu kebenaran di tengah masyarakat. Yang pertama adalah sikap Yeremia, ketika menghadapi perilaku hidup dari para pemimpin Yehuda dan Yerusalem yang melakukan banyak ketidakadilan dan kejahatan. Yeremia dengan tegas menegur dan menyampaikan penghukuman Allah. Tetapi sikap Yeremia berakibat buruk pada dirinya, ia ditangkap dan dimasukan dalam perigi lumpur. Sebagai seorang raja Zedekia tidak berani mengambil keputusan yang tegas dihadapan para pemuka, dan membiarkan Yeremia dihakimi oleh para pemuka itu, padahal raja tau bahwa apa yang dikatakan oleh Yeremia adalah benar. Rupanya Zedekia takut jika ia kehilangan jabatannya sebagai raja. Sikap yang lain adalah  Ebed-Melekh, seorang sida – sida dari Etiopia. Ketika melihat perbuatan para pemuka terhadap Yeremia, ia datang menjumpai raja pada waktu yang tepat dan di tempat yang tempat, yaitu di pintu gerbang Benjamin, tempat raja duduk mendengar keluhan rakyat. Dengan bijaksana Ebed-Melekh berbicara dan mempengaruhi raja untuk melihat perbuatan jahat yang dilakukan terhadap Yeremia, akhirnya raja setuju untuk membebaskan Yeremia. Melihat ini kita patut bertanya, di manakah kita berada? Bagaimana sikap kita menghadapi persoalan kejahatan dan ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita. Mintalah tuntunan  Roh Kudus, agar mampu berkata benar, dengan bijaksana dan tegas, tetapi di waktu dan tempat yang tepat. Tuhan pasti memberkati.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk menyikapi berbagai persoalan dengan bijaksana dan tepat, Amin

Jumat, 16 Juli 2021                                      

bacaan : Yeremia 38 : 14 – 28  

Pembicaraan terakhir dengan raja Zedekia
14 Raja Zedekia menyuruh orang membawa nabi Yeremia kepadanya di pintu yang ketiga pada rumah TUHAN. Berkatalah raja kepada Yeremia: "Aku mau menanyakan sesuatu kepadamu; janganlah sembunyikan apa-apa kepadaku!" 15 Jawab Yeremia kepada Zedekia: "Apabila aku memberitahukannya kepadamu, tentulah engkau akan membunuh aku, bukan? Dan apabila aku memberi nasihat kepadamu, engkau tidak juga akan mendengarkan aku!" 16 Lalu bersumpahlah raja Zedekia dengan diam-diam kepada Yeremia, katanya: "Demi TUHAN yang hidup yang telah memberi nyawa ini kepada kita, aku tidak akan membunuh engkau dan tidak akan menyerahkan engkau ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawamu itu!" 17 Sesudah itu berkatalah Yeremia kepada Zedekia: "Beginilah firman TUHAN, Allah semesta alam, Allah Israel: Jika engkau keluar menyerahkan diri kepada para perwira raja Babel, maka nyawamu akan terpelihara, dan kota ini tidak akan dihanguskan dengan api; engkau dengan keluargamu akan hidup. 18 Tetapi jika engkau tidak menyerahkan diri kepada para perwira raja Babel, maka kota ini akan diserahkan ke dalam tangan orang-orang Kasdim yang akan menghanguskannya dengan api; dan engkau sendiri tidak akan luput dari tangan mereka." 19 Kemudian berkatalah raja Zedekia kepada Yeremia: "Aku takut kepada orang-orang Yehuda yang menyeberang kepada orang Kasdim itu; nanti aku diserahkan ke dalam tangan mereka, sehingga mereka mempermainkan aku." 20 Yeremia menjawab: "Hal itu tidak akan terjadi! Dengarkanlah suara TUHAN dalam hal apa yang kukatakan kepadamu, maka keadaanmu akan baik dan nyawamu akan terpelihara. 21 Tetapi jika engkau enggan menyerahkan diri, maka inilah firman yang dinyatakan TUHAN kepadaku: 22 Sungguh, semua perempuan yang masih tinggal di istana raja Yehuda digiring ke luar ke hadapan para perwira raja Babel sambil berseru: Engkau diperdayakan, dikalahkan oleh sahabat-sahabatmu. Tetapi baru saja kakimu terperosok ke dalam lumpur, mereka sudah berpaling pulang. 23 Semua isterimu dan anak-anakmu akan digiring ke luar ke hadapan orang-orang Kasdim itu. Dan engkau sendiri tidak akan terluput dari tangan mereka, tetapi engkau akan tertangkap oleh raja Babel. Dan kota ini akan dihanguskan dengan api." 24 Lalu berkatalah Zedekia kepada Yeremia: "Janganlah ada orang yang mengetahui tentang pembicaraan ini, supaya engkau jangan mati. 25 Apabila para pemuka mendengar, bahwa aku telah berbicara dengan engkau, lalu mereka datang meminta kepadamu: Beritahukanlah kepada kami apa yang telah kaukatakan kepada raja dan apa yang telah dikatakan raja kepadamu; janganlah sembunyikan kepada kami, supaya engkau jangan kami bunuh!, 26 maka haruslah kaukatakan kepada mereka: Aku menyampaikan permohonanku ke hadapan raja, supaya aku jangan dikembalikannya ke rumah Yonatan untuk mati di sana." 27 Memang semua pemuka itu datang bertanya kepada Yeremia, tetapi ia memberi jawab kepada mereka tepat seperti segala yang diperintahkan raja. Maka mereka membiarkan dia, sebab sesuatupun dari pembicaraan itu tidak ada yang diketahui siapapun. 28 Demikianlah Yeremia tinggal di pelataran penjagaan itu sampai kepada hari Yerusalem direbut.

TETAP SETIA DITENGAH KETIDAKTAATAN  

Nabi Yeremia dipanggil dan diutus Tuhan Allah untuk menyampaikan nubuatan Tuhan kepada Zedekia raja Yehuda di Israel Selatan yang berpusat di Yerusalem. Beberapa kali raja Zedekia memanggil Yeremia untuk mendengar pesan Tuhan, namun raja Zedekia tidak melakukannya tetapi mengabaikannya. Dalam bacaan kita, nabi Yeremia dipanggil kembali dan melakukan percakapan terakhir dengan raja Zedekia. Yeremia menyampaikan firman Tuhan kepada Zedekia untuk menyerahkan diri kepada penguasa Babel, tetapi Zedekia tidak menaatinya dan akhirnya ia dan umat Israel di buang ke Babel. Namun demikian, Yeremia tetap melakukan tugas panggilan dan pengutusannya dengan setia, walaupun ia juga diperhadapkan dengan tantangan bahkan ancaman bagi keselamatan dirinya. Yeremia percaya bahwa perlindungan dan penyertaan Tuhan selalu nyata dalam seluruh kehidupan serta tugas panggilan dan pelayanannya. Itulah sebabnya Yeremia tetap konsisten serta setia melakukan tugas panggilan dari Tuhan. Yeremia tetap menyampaikan suara kenabiannya dengan berani dan tidak ada kepentingan bagi dirinya. Yeremia siap menerima apapun risiko yang ia lakukan dari tugas panggilan dan pengutusannya. Hal inipun menjadi kesaksian bagi kita sebagai orang percaya untuk tetap setia melakukan panggilan dan pengutusan kita, menyampaikan suara kenabian kita di tengah masyarakat, ketika berhadapan dengan ketidaktaatan dan berbagai perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Seringkali apa yang kita katakan atau lakukan, tidak didengar atau tidak dipedulikan, apalagi ditaati. Tetapi teruslah menyampaikan pesan firman Tuhan melalui buah pikiran, perkataan, sikap dan perbuatan yang baik dan benar, apapun risikonya. Percayalah bahwa kita tidak sendiri, sebab Allah dalam Yesus Kristus pasti menyertai kita.

Doa:  Tuhan, mampukan kami dalam melakukan tugas panggilan-Mu. Amin.

Sabtu, 17 Juli 2021                       

bacaan : Kisah Para Rasul 13 : 50 – 51

Ke Ikonium, Listra dan Derbe
50 Orang-orang Yahudi menghasut perempuan-perempuan terkemuka yang takut akan Allah, dan pembesar-pembesar di kota itu, dan mereka menimbulkan penganiayaan atas Paulus dan Barnabas dan mengusir mereka dari daerah itu. 51 Akan tetapi Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka sebagai peringatan bagi orang-orang itu, lalu pergi ke Ikonium.

BERSAKSI DITENGAH ANCAMAN PENGANIAYAAN

Rasul Paulus dan Barnabas dalam tugas pelayanan Pekabaran Injil Kristus banyak menghadapi tantangan dan penderitaan bahkan ancaman terhadapan keselamatan mereka. Risiko yang dihadapi Paulus dan Barnabas, tidak membuat mereka takut, bimbang atau ragu, tetapi membuat mereka lebih giat dan semangat untuk memberitakan Injil Kristus. Bacaan kita hari ini, menceriterakan bahwa, pada saat kehadiran Paulus dan Barnabas di Antiokhia di Pisidia  untuk memberitakan Injil Kristus, ada orang-orang Yahudi yang tidak senang dan tidak suka dengan Paulus dan Barnabas, sehingga mereka menghasut perempuan-perempuan terkemuka yang takut akan Allah dan pembesar-pembesar di kota itu sehingga menimbulkan penganiayaan terhadap Paulus dan Barnabas dan mereka di usir dari kota itu. Saat meninggalkan kota itu, Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka sebagai peringatan bagi orang-orang itu. Apa yang dibuat Paulus dan Barnabas sebagai tanda akan datangnya penghukuman Allah bagi mereka yang menolak keselamatan dalam Kristus. Kita juga mesti meneladani Paulus dan Barnabas untuk menyampaikan berita keselamatan Allah dalam Kristus bagi dunia dan semua orang yang belum percaya. Kita memberitakannya melalui perkataan serta juga sikap dan perbuatan kita. Kalau ada pimpinan, teman, sahabat atau saudara yang salah, mesti kita tegur dan mengingatkan mereka dengan penuh kasih, agar mereka sadar dan berbalik dari kesalahan mereka. Kalaupun mereka menolak, maka hal itu ditanggung mereka sendiri. Bisa saja kita tidak disukai, dibenci dan dimusuhi. Namun kita mesti bersyukur bahwa lebih baik kita tidak disukai oleh manusia dari pada kita tidak melakukan perintah serta panggilan dari Tuhan.       

Doa :   Tuhan, tolong kami agar untuk bersaksi tentang nama-Mu di tengah dunia ini. Amin.-

*sumber : SHK bulan Juli 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 4-10 Juli 2021

Tema Mingguan : “Gereja Dipanggil dan Diutus Tuhan di Tengah Masyarakat”

Minggu, 04 Juli 2021                                  

bacaan : 1 Petrus 2 : 1 – 10

Yesus Kristus batu penjuru
Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. 2 Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, 3 jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan. 4 Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. 5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. 6 Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan." 7 Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: "Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan." 8 Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan. 9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: 10 kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.

KITA DIPANGGIL DAN DIUTUS TUHAN

Siapapun diantara kita sebagai orang – orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, akan mengakui bahwa, kita adalah orang – orang yang dipilih, dipanggil untuk diselamatkan oleh Yesus Kristus lewat pengorbanan-nya di Tiang Kayu Salib. Kita dipanggil dan diutus untuk menjadi saksi Kristus di tengah – tengah dunia ini. Nasehat ini disampaikan oleh Rasul Petrus menguatkan jemaat – jemaat di Asia Kecil, yang pada waktu itu sementara mengalami penganiayaan karena iman dan percaya mereka kepada Yesus. Petrus menyebut mereka sebagai umat pilihan Allah, yaitu umat yang perilaku hidupnya harus berbeda dengan orang – orang yang tidak percaya kepada Yesus. Karena itu, mereka harus menanggalkan semua gaya hidup mereka yang lama, seperti: kejahatan, tipu muslihat, kedengkian dan fitnah. Mereka harus berbalik kepada Yesus dan mengubah gaya hidup mereka menjadi baru. Orang percaya yang dipanggil, hidupnya akan dibarui dan di utus untuk menjadi saksi di mana saja ia berada dan beraktifitas. Petrus menyebut orang percaya yang diutus menjadi saksi ibarat batu – batu yang hidup, yang dipergunakan untuk pembangunan suatu rumah rohani yaitu persekutuan umat sebagai Tubuh Kristus. Kita adalah batu – batu yang hidup, yang dipilih dan diutus oleh Allah untuk menjadi saksi Kristus. Banyak orang akan percaya kepada Yesus, jika kita menampakkan gaya hidup yang penuh kasih, dan menjaga persekutuan sebagai Tubuh Kristus. Karena itu jadikanlah Batu Penjuru yaitu Yesus Kristus Tuhan kita sebagai dasar bangunan yang kokoh, yang diatasnya kita semua bertumpu untuk menjadi bangunan rohani, yaitu persekutuan umat yang kokoh.

Doa : Tuhan, inilah kami, utuslah kami untuk menjadi Saksi-Mu, Amin.

Senin, 05 Juli 2021                              

bacaan : Bilangan 16 : 23 – 29

23 Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 24 "Katakanlah kepada umat itu: Pergilah dari sekeliling tempat kediaman Korah, Datan dan Abiram." 25 Lalu pergilah Musa kepada Datan dan Abiram, dan para tua-tua Israel mengikuti dia. 26 Berkatalah ia kepada umat itu: "Baiklah kamu menjauh dari kemah orang-orang fasik ini dan janganlah kamu kena kepada sesuatu apapun dari kepunyaan mereka, supaya kamu jangan mati lenyap oleh karena segala dosa mereka." 27 Maka pergilah mereka dari sekeliling tempat kediaman Korah, Datan dan Abiram. Keluarlah Datan dan Abiram, lalu berdiri di depan pintu kemah mereka bersama-sama dengan isterinya, para anaknya dan anak-anak yang kecil. 28 Sesudah itu berkatalah Musa: "Dari hal inilah kamu akan tahu, bahwa aku diutus TUHAN untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah dari hatiku sendiri: 29 jika orang-orang ini nanti mati seperti matinya setiap manusia, dan mereka mengalami yang dialami setiap manusia, maka aku tidak diutus TUHAN.

MENDENGAR DAN MELAKUKAN PERINTAH ALLAH

Merasa kuat dan membanggakan diri sendiri adalah sifat angkuh yang dimiliki oleh manusia, ketika berada pada kesuksesan atau keberhasilan. Mereka tidak lagi mendengar dan melakukan perintah Allah, tetapi mengikuti kehendak diri sendiri. Hal ini terjadi dalam bacaan kita, Bilangan 16, yang menceriterakan tentang pemberontakan Korah, Datan dan Abiram yang ingin mengambil alih kepemimpinan Musa dan Harun, yang dipercayakan oleh Tuhan untuk memimpin bangsa Israel dalam perjalanan menuju tanah Kanaan. Mereka bukan saja memberontak kepada Musa tetapi justru mereka tidak mendengar dan melakukan perintah Tuhan. Akhirnya Korah, Datan dan Abiram dihukum oleh Allah. Disisi lain, ketika Korah, Datan dan Abiram dihukum, Allah  berfirman kepada Musa agar ia memerintahkan seluruh umat Israel menyingkir dari tempat kediaman ketiga orang itu agar mereka tidak kena bencana. Akhirnya Umat Israel yang mendengar dan melakukan perintah Tuhan, selamat dari bencana yang menimpa Korah, Datan dan Abiram. Keangkuhan, kesombongan, iri hati akan membawa kebinasaan, namun kerendahan hati untuk mendengar dan melakukan perintah Allah akan membawa selamat. Oleh karena itu, jangan pernah merasa hebat dan puas dengan kekuatan sendiri sehingga mengabaikan dan meremehkan Kuasa Tuhan. Seringkali kita diperhadapkan dengan berbagai persoalan yang mengharuskan kita untuk bersikap, apakah kita akan mendengar dan melakukan perintah Tuhan ataukah mengikuti keinginan diri sendiri dan memberontak kepada Allah. Sebagai orang percaya, hendaklah kita menghadapi setiap persoalan dengan berserah di dalam doa kepada Allah. Berilah diri dituntun oleh Roh Kudus agar kita dapat mendengar dan melakukan perintah Tuhan, sebab itulah yang menyelamatkan.

Doa : Tuhan, ajarlah kami mendengar dan melakukan perintah-Mu, Amin.

Selasa, 06 Juli 2021                                     

bacaan : 2 Samuel 5 : 1 – 4

Daud menjadi raja atas seluruh Israel
Lalu datanglah segala suku Israel kepada Daud di Hebron dan berkata: "Ketahuilah, kami ini darah dagingmu. 2 Telah lama, ketika Saul memerintah atas kami, engkaulah yang memimpin segala gerakan orang Israel. Dan TUHAN telah berfirman kepadamu: Engkaulah yang harus menggembalakan umat-Ku Israel, dan engkaulah yang menjadi raja atas Israel." 3 Maka datanglah semua tua-tua Israel menghadap raja di Hebron, lalu raja Daud mengadakan perjanjian dengan mereka di Hebron di hadapan TUHAN; kemudian mereka mengurapi Daud menjadi raja atas Israel. 4 Daud berumur tiga puluh tahun, pada waktu ia menjadi raja; empat puluh tahun lamanya ia memerintah

DIPANGGIL DAN DIUTUS UNTUK MENGGEMBALAKAN

Menjadi gembala adalah panggilan untuk melayani. Panggilan ini dipercayakan kepada semua orang, baik sebagai orang tua di keluarga, maupun sebagai pemimpin dalam setiap persekutuan dan pekerjaan. Tugas seorang gembala adalah melayani, mengasuh, membimbing, menolong, dan mengayomi. Gembala tidak mementingkan diri sendiri tetapi mengutamakan keselamatan orang yang dipimpinnya. Seorang gembala dapat diteladani, jika tanggungjawabnya dapat dikerjakan dengan baik.  Dalam bacaan kita, dikisahkan bahwa ketika raja Saul mati, maka segala suku Israel datang menjumpai Daud di Hebron dan meminta Daud untuk menjadi pemimpin mereka. Mereka mengingatkan Daud tentang firman Tuhan kepada Daud : “…….engkaulah yang yang harus menggembalakan umat-Ku Israel dan engkaulah yang menjadi raja atas Israel”. Datanglah juga tua – tua Israel ke Hebron dan mereka mengurapi Daud menjadi Raja atas Israel. Tanggungjawab Daud yang utama adalah menggembalakan umat Israel. Seorang gembala adalah pemimpin namun seorang pemimpin belum tentu menjadi gembala. Daud diharapkan menjadi pemimpin yang menggembalakan, dan itu dikerjakan oleh Daud dengan penuh rasa tanggungjawab. Sebagai orang percaya, ketika dipercayakan untuk menjadi pemimpin, baik dalam kehidupan keluarga, dan berbagai persekutuan maupun dalam kehidupan gereja dan masyarakat, hendaklah ia menjadi seorang gembala yang dipanggil dan diutus untuk membimbing, mengasuh, menolong, menuntun, membalut yang terluka. Ia tidak mementingkan diri sendiri tetapi mengutamakan kepentingan bersama. Hanya dengan demikian, ia mendatangkan kesejahteraan bersama bagi banyak orang yang dipimpinnya.

Doa : Tuhan, jika Engkau percayakan kami menjadi seorang pemimpin, jadikanlah kami sebagai gembala, Amin.

Rabu, 07 Juli 2021                                       

bacaan : Yesaya 6 : 8 – 10

8 Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" 9 Kemudian firman-Nya: "Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan! 10 Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh."

MELAYANI DEMI PERTOBATAN DAN PENYELAMATAN DARI TUHAN

Tuhan tidak menghendaki agar manusia hidup di tengah berbagai kejahatan. Sebab dampak berbagai kejahatan manusia ialah penderitaan hidup manusia dan makhluk-makhluk lain. Karena itu Tuhan mengutus orang-orang pilihan-Nya untuk menyampaikan apa kehendak-Nya kepada masyarakat/umat di mana orang percaya itu berada agar bertobat dan diselamatkan oleh Tuhan. Yesaya dipanggil dan diutus oleh Tuhan untuk menyampaikan kehendak-Nya bagi umat Israel, yang pada waktu itu setia beribadah kepada Tuhan, tetapi perilakunya di tengah masyarakat adalah jahat, mereka menindas orang-orang yang lemah  Jadi, di gereja alim, dimasyarakat lalim. Itulah situasi orang percaya saat ini, rajin beribadah tetapi tidak melaksanakan firman Tuhan yang didengar dalam kehidupan bersama dengan orang lain di tengah masyarakat. Sikap saling menindas dan meremehkan masih dengan sadar dilakukan oleh kita. Tanpa  disadari, kebanyakan perilaku kita turut merusak kehidupan bermasyarakat. Jika ini masih terus terjadi, maka sebenarnya kita tidak memenuhi panggilan dan pengutusan Tuhan bagi kita. Firman Tuhan katakan, setiap ranting yang tidak berbuah akan dipotong.! Karena itu, berubahlah  sekarang juga.. ! Katakan kepada Tuhan :”Inilah aku, utuslah aku!”. Nyatakanlah dengan berani kehendak Tuhan ditengah masyarakat, baik siang maupun malam, dalam susah maupun senang, dalam setiap peran dan tanggujawab yang dimiliki. Supaya terjadi pertobatan dan penyelamatan Tuhan di tengah masyarakat dan kehidupan bersama adalah kehidupan yang mengalami damai sejahtera yang berasal dari Tuhan.

Doa: Ya, Tuhan, inilah aku, utuslah aku.  Amin. 

Kamis, 08 Juli 2021                                         

bacaan : Yehezkiel 2 : 1 – 7

Panggilan Yehezkiel
Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, bangunlah dan berdiri, karena Aku hendak berbicara dengan engkau." 2 Sementara Ia berbicara dengan aku, kembalilah rohku ke dalam aku dan ditegakkannyalah aku. Kemudian aku mendengar Dia yang berbicara dengan aku. 3 Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga. 4 Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH. 5 Dan baik mereka mendengarkan atau tidak--sebab mereka adalah kaum pemberontak--mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka. 6 Dan engkau, anak manusia, janganlah takut melihat mereka maupun mendengarkan kata-katanya, biarpun engkau di tengah-tengah onak dan duri dan engkau tinggal dekat kalajengking. Janganlah takut mendengarkan kata-kata mereka dan janganlah gentar melihat mukanya, sebab mereka adalah kaum pemberontak. 7 Sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku kepada mereka, baik mereka mau mendengarkan atau tidak, sebab mereka adalah pemberontak.

JANGAN TAKUT, BERITAKAN FIRMANKU KEPADA SEMUA ORANG

Manakah yang sangat berbahaya : tahu tapi pura-pura tidak tahu dan karena itu tidak melakukannya ataukah tidak tahu dan karena itu tidak melakukannya? Tentu saja yang berbahaya adalah yang tahu tapi tidak melakukannya. Israel memiliki sikap tersebut. Terlalu banyak kebaikan Allah yang mereka alami. Terlalu sering mereka mendengarkan Firman Allah melalui para utusan Allah, mulai dari Musa, para hakim, para nabi, tetapi mereka tidak melakukannya. Allah menyebut mereka sebagai bangsa pemberontak. Seharusnya, sebagai umat milik Allah mereka menuruti dan melakukan kehendak Allah. Tetapi mereka dan nenek moyangnya melawan Allah, keras kepala dan tegar tengkuk. Mereka lebih suka menuruti dan melakukan kehendak dirinya atau kemauan mereka. mereka diibaratkan seperti onar dan duri, juga seperti kalajengking. Kata-kata mereka sangat menyakitkan, wajah mereka pun tidak bersahabat. Perilaku seperti inipun masih dijumpai  dalam  hidup masyarakat dan persekutuan saat ini. Begitu banyak orang percaya saat ini, melakukan kesalahan dan dosa dengan sangat sadar. Mereka tak lagi memperhitungkan Allah yang begitu setia mengasihi mereka. Kita merasa seperti membuang garam ke dalam laut jika memberitakan Firman Allah kepada orang-orang seperti ini. Haruskah mereka dihindari..? Tidak boleh, sebab  justru kepada mereka seperti inilah Firman Allah diberitakan. Seperti Yehezkiel kita juga dipanggil dan diutus untuk terus menyampaikan firman Tuhan, supaya mereka tahu bahwa Allah tetap ada dalam kehidupan mereka. Mintalah tuntunan Roh Kudus untuk menggelisahkan mereka agar berbalik menjadi setia kepada Allah.

Doa : Ya Tuhan, kuatkan kami melaksanakan panggilan-Mu, walaupun menghadapi tantangan, amin

Jumat, 09 Juli 2021                                     

bacaan : Matius 4 : 18 – 22

Yesus memanggil murid-murid yang pertama
18 Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. 19 Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." 20 Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. 21 Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka 22 dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

SAYA MAU IKUT YESUS

“Saya mau iku Yesus, sampai s’lama – lamanya. Meskipun saya susah, menderita dalam dunia….” Lirik lagu Kidung Jemaat 375 ini menggambarkan kerinduan seseorang yang percaya dan mau mengikuti Yesus, apapun yang ia hadapi. Ketika Yesus berkata : “mari ikutlah Aku” artinya mari berjalanlah dengan-Ku dan lakukanlah semua perintah-Ku. Apa jawaban kita terhadap panggilan Yesus ini? Tentu saja spontan kita berkata “ya”. Tetapi, apakah kita konsisten dengan jawaban kita? Banyak orang percaya menjawab panggilan Yesus dengan “ya”, baik pada saat Pegakuan Sidi Gereja, juga dalam berbagai akta iman lainnya, tetapi seringkali  perilaku hidupnya selalu bertentangan dengan jawabannya kepada Yesus. Sebab, jawaban “ya” berarti kita telah menyerahkan diri secara total kepada Yesus. Seluruh tubuh, jiwa dan waktu kita dipakai untuk melakukan kehendak Yesus. Tujuan hidup kita adalah untuk melakukan kehendak Yesus. Apapun yang kita lakukan dalam hidup selalu disebabkan oleh kehendak Yesus. Orang yang mengikut Yesus, tak pernah menyoal siapa dirinya, apa profesinya, berapa banyak pengetahuannya? Sebab ia tahu Yesus lebih memperhatikan kesediaan hati dan bukan kemampuan. Orang yang mengikut Yesus tak pernah menyoal apa untung dan ruginya, atau apa yang akan didapatkannya? Sebab ia tahu bahwa Yesus menyiapkan segala sesuatu bagi hidupnya baik pada masa kini maupun pada masa yang akan datang. Orang yang mengikut Yesus tidak akan menjadikan keluarganya dan pekerjaanya sebagai penghalang untuk melakukan kehendak Yesus, sebab ia tahu Yesus memberkatinya dalam segala keadaan. Orang yang mengikut Yesus, akan menjadi penjala manusia, yaitu menolong sesamanya yang menderita karena berbagai persoalan hidup.

Doa: Ya Tuhan, kami mau mengikuti-Mu.  Amin.

Sabtu, 10 Juli 2021                                         

bacaan : Matius 10 : 16

16 "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

CERDIK SEPERTI ULAR, TULUS SEPERTI MERPATI

Homo homini lupus, adalah sebuah istilah latin yang artinya, manusia adalah serigala bagi sesamanya. Dalam kenyataannya, manusia saling memangsa, saling menjual, saling menikam, saling membunuh, saling menyerang, diantara teman, sahabat, saudara, kakak-adik, orangtua-anak, pimpinan-staf, dll. Tidak dapat dibedakan, mana kawan, mana lawan, mana teman, mana saudara. Semuanya bisa berubah dalam hitungan detik, hanya karena satu alasan yaitu kepentingan. Baik kepentingan perut atau kepentingan diri. Suatu situasi yang buruk dan sangat mengancam keutuhan hidup bersama sebagai suatu keluarga, persekutuan dan masyarakat. Firman Tuhan katakan, kita di utus ke dunia seperti domba ke tengah-tengah serigala. Sebagaimana domba adalah hewan yang selalu dituntun dan dipelihara  oleh  gembalanya, demikianlah kita dalam menjalani hidup kita selalu dituntun dan dipelihara oleh Tuhan sekalipun kita hidup  dalam situasi masyarakat seperti serigala. Lalu, bagaimana menjalani tugas pengutusan dalam situasi masyarakat seperti ini? Yesus memberi bagi kita suatu  strategi yaitu “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”. Cerdik artinya cepat mengerti situasi dan pandai mencari pemecahannya, seperti ular yang mengerti keberadaan dirinya sebagai hewan melata yang tak berkaki, tak bertangan, tak bersayap, sehingga cendrung menjauh dari ancaman bahaya, tetapi sekali muncul pagutannya mematikan. Merpati adalah burung bisa terbang tinggi tetapi selalu kembali ke sarangnya. Dengan kecerdikan dan ketulusan orang percaya dapat menyelamatkan dirinya dari setiap ancaman kehidupan, dan tetap setia melakukan tugas pengutusannya ditengah masyarakat.

Doa : Ya Tuhan, tolonglah kami agar cerdik dan tulus menghadapi tantangan, amin

*sumber SHK Bulan Juli 2021 LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 27 Juni – 3 Juli 2021

Tema Mingguan : “Hiduplah Dengan Bekerja Keras Dan Hati Nurani Yang Taat Kepada Allah”

Minggu, 27 Juni 2021                                

bacaan : Kejadian 3 : 1 – 19

Manusia jatuh ke dalam dosa
Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" 2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, 3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati." 4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, 5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat." 6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. 7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. 8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. 9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" 10 Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi." 11 Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?" 12 Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan." 13 Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan." 14 Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: "Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. 15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." 16 Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu." 17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: 18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; 19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

HIDUPLAH DENGAN BEKERJA DAN HATI YANG TAAT KEPADA ALLAH

Hidup dan kerja merupakan dua kata yang saling berkaitan, tidak bisa dilepas-pisahkan. Tidak ada orang hidup yang tidak bekerja, begitu pun juga tidak ada pekerjaan yang dilakukan oleh orang yang tidak hidup. Hal ini mengandung pengertian bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang diisi dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berguna untuk hidup itu sendiri. Begitu pun juga, kerja yang bermakna adalah pekerjaan yang dilakukan dengan tujuan untuk menjadikan hidup itu sendiri menjadi bermakna. Dalam paham yang demikian itulah, kerja harus dimaknai sebagai suatu aktivitas yang dilakukan oleh manusia demi melaksanakan amanat Tuhan, yaitu bekerja.

Bacaan Alkitab hari ini, khususnya ayat 19 memberikan penekanan yang sangat jelas bahwa untuk menjadikan hidup itu bermakna (yakni bisa makan, dll), setiap orang harus bekerja (istilah yang digunakan dalam ayat 19 yaitu berpeluh). Berpeluh pertanda harus ada keringat yang keluar, dan biasanya keringat itu dapat keluar dari tubuh seseorang jika ia melakukan suatu pakerjaan. Dalam konteks bacaan Alkitab ini, setiap orang harus memahami kerja itu merupakan suatu amanat Tuhan kepada manusia ciptaan-Nya. Karena itu, dalam melakukan pekerjaan dibutuhkan sikap taat dengan hati nurani yang murni. Ketaatan tersebut bukanlah merupakan sikap ketertundukan kepada manusia, melainkan kepada Tuhan yang memberikan pekerjaan tersebut kepada manusia.

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk taat melakukan pekerjaan yang Tuhan percayakan ini. Amin.

Senin, 28 Juni 2021                               

bacaan : Kejadian 30 : 25 – 36

Yakub memperoleh ternak
25 Setelah Rahel melahirkan Yusuf, berkatalah Yakub kepada Laban: "Izinkanlah aku pergi, supaya aku pulang ke tempat kelahiranku dan ke negeriku. 26 Berikanlah isteri-isteriku dan anak-anakku, yang menjadi upahku selama aku bekerja padamu, supaya aku pulang, sebab engkau tahu, betapa keras aku bekerja padamu." 27 Tetapi Laban berkata kepadanya: "Sekiranya aku mendapat kasihmu! Telah nyata kepadaku, bahwa TUHAN memberkati aku karena engkau." 28 Lagi katanya: "Tentukanlah upahmu yang harus kubayar, maka aku akan memberikannya." 29 Sahut Yakub kepadanya: "Engkau sendiri tahu, bagaimana aku bekerja padamu, dan bagaimana keadaan ternakmu dalam penjagaanku, 30 sebab harta milikmu tidak begitu banyak sebelum aku datang, tetapi sekarang telah berkembang dengan sangat, dan TUHAN telah memberkati engkau sejak aku berada di sini; jadi, bilakah dapat aku bekerja untuk rumah tanggaku sendiri?" 31 Kata Laban: "Apakah yang harus kuberikan kepadamu?" Jawab Yakub: "Tidak usah kauberikan apa-apa kepadaku; aku mau lagi menggembalakan kambing dombamu dan menjaganya, asal engkau mengizinkan hal ini kepadaku: 32 Hari ini aku akan lewat dari tengah-tengah segala kambing dombamu dan akan mengasingkan dari situ setiap binatang yang berbintik-bintik dan berbelang-belang; segala domba yang hitam dan segala kambing yang berbelang-belang dan berbintik-bintik, itulah upahku. 33 Dan kejujuranku akan terbukti di kemudian hari, apabila engkau datang memeriksa upahku: Segala yang tidak berbintik-bintik atau berbelang-belang di antara kambing-kambing dan yang tidak hitam di antara domba-domba, anggaplah itu tercuri olehku." 34 Kemudian kata Laban: "Baik, jadilah seperti perkataanmu itu." 35 Lalu diasingkannyalah pada hari itu kambing-kambing jantan yang bercoreng-coreng dan berbelang-belang dan segala kambing yang berbintik-bintik dan berbelang-belang, segala yang ada warna putih pada badannya, serta segala yang hitam di antara domba-domba, dan diserahkannyalah semuanya itu kepada anak-anaknya untuk dijaga. 36 Kemudian Laban menentukan jarak tiga hari perjalanan jauhnya antara dia dan Yakub, maka tetaplah Yakub menggembalakan kambing domba yang tinggal itu.

BEKERJALAH DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH DAN TAAT

Semua orang memahami bahwa kerja itu selalu berkaitan dengan upah atau gaji. Karena itu, jika seseorang selesai melakukan pekerjaan, selalu saja yang ditanyakan kepada orang yang memberikan pekerjaan itu adalah upahnya. Itulah yang ditanyakan Yakub kepada Laban, setelah Yakub melakukan pekerjaan yang diberikan Laban kepadanya. Yang menarik dari bacaan Alkitab ini, adalah, Laban tidak langsung memberikan upah kepada Yakub melainkan menyampaikan penilaiannya terhadap kerja Yakub dengan melihat hasil kerjanya. Dalam hal ini Laban menghargai pekerjaan Yakub, dan ternyata pekerjaan Yakub membawa perubahan terhadap kehidupan Laban, yaitu ternak – ternaknya bertambah banyak. Perubahan itu terjadi karena kehadiran Yakub di tengah kehidupan Laban, disertai kerja keras dengan hati nurani yang taat kepada Allah, dalam melaksanakan amanat yang diberikan Laban, dan Laban merasa terberkati melalui kerja keras Yakub. Kisah kerja keras Yakub dengan hati nurani yang taat, semestinya menjadi inspirasi bagi orang – orang Kristen, agar dalam melaksanakan pekerjaan yang dipercayakan, janganlah berorientasi hanya pada upah. Lakukanlah setiap pekerjaan dan tanggung jawab yang dipercayakan kepada masing-masing orang, dengan sungguh – sungguh, agar kita dapat melakukan pekerjaan itu dengan baik dan sampai tuntas, sehingga memberikan hasil yang bermakna. Percayalah bahwa Tuhan Allah akan melimpahkan berkat bagi setiap orang yang melakukan pekerjaan dan tanggungjawabnya dengan sungguh – sungguh dan penuh ketaatan. Itulah sejatinya suatu pekerjaan.

Doa: Ya Tuhan, berkatilah setiap pekerjaan yang kami lakukan. Amin.

Selasa, 29 Juni 2021                                    

bacaan : Kejadian 41: 46 – 57 

46 Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir itu. Maka pergilah Yusuf dari depan Firaun, lalu dikelilinginya seluruh tanah Mesir. 47 Tanah itu mengeluarkan hasil bertumpuk-tumpuk dalam ketujuh tahun kelimpahan itu, 48 maka Yusuf mengumpulkan segala bahan makanan ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir, lalu disimpannya di kota-kota; hasil daerah sekitar tiap-tiap kota disimpan di dalam kota itu. 49 Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung. 50 Sebelum datang tahun kelaparan itu, lahirlah bagi Yusuf dua orang anak laki-laki, yang dilahirkan oleh Asnat, anak Potifera, imam di On. 51 Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: "Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku." 52 Dan kepada anaknya yang kedua diberinya nama Efraim, sebab katanya: "Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku." 53 Setelah lewat ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir itu, 54 mulailah datang tujuh tahun kelaparan, seperti yang telah dikatakan Yusuf; dalam segala negeri ada kelaparan, tetapi di seluruh negeri Mesir ada roti. 55 Ketika seluruh negeri Mesir menderita kelaparan, dan rakyat berteriak meminta roti kepada Firaun, berkatalah Firaun kepada semua orang Mesir: "Pergilah kepada Yusuf, perbuatlah apa yang akan dikatakannya kepadamu." 56 Kelaparan itu merajalela di seluruh bumi. Maka Yusuf membuka segala lumbung dan menjual gandum kepada orang Mesir, sebab makin hebat kelaparan itu di tanah Mesir. 57 Juga dari seluruh bumi datanglah orang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, sebab hebat kelaparan itu di seluruh bumi.

BEKERJALAH HARI INI UNTUK HARI ESOK

Kita yang hidup hari ini tidaklah hidup untuk hari ini, melainkan hidup untuk hari esok dan masa depan. Karena itu, setiap orang dalam hidupnya haruslah mampu berpikir bagaimana ia harus hidup di hari ini demi kehidupan yang akan datang. Dengan berpikir demikian, orang tersebut akan bekerja dan melakukan sesuatu di hari ini untuk masa depannya.

Bacaan Alkitab kita menjelaskan, bagaimana Yusuf sebagai orang kepercayaan Firaun berpikir dan bertindak di hari ini untuk kehidupan banyak orang di masa depan. Dikatakan bahwa untuk menyikapi ancaman bahaya kelaparan yang akan terjadi di musim kering, maka hasil panen tujuh tahun kelimpahan tidak dihambur-hamburkan, melainkan disimpan untuk kepentingan masa depan, ketika masa itu tiba. Dalam hal ini, cara kerja Yusuf harus dipahami sebagai upaya untuk memanfaatkan berkat Tuhan di masa kelimpahan dengan sebaik – baiknya dan tidak menghambur – hamburkannya untuk hal-hal yang tidak penting. Yusuf bekerja tidak hanya untuk hari ini, tidak juga untuk dirinya sendiri,  melainkan ia menyediakan persiapan makanan bagi bangsa Mesir dan juga bangsa – bangsa lain yang terdampak bahaya kelaparan di masa mendatang. Itulah kerja yang diberkati oleh Tuhan, yakni tidak berpikir dan melakukan pekerjaan untuk diri sendiri dan mencukupkan kebutuhan hari ini saja, melainkan juga kebutuhan di masa mendatang.

Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami untuk bekerja bukan untuk hari ini dan diri sendiri, melainkan untuk hari esok dan banyak orang, Amin.

Rabu, 30 Juni 2021                                          

bacaan : Ruth 2 : 1 – 3

Rut bertemu dengan Boas
Naomi itu mempunyai seorang sanak dari pihak suaminya, seorang yang kaya raya dari kaum Elimelekh, namanya Boas. 2 Maka Rut, perempuan Moab itu, berkata kepada Naomi: "Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku." Dan sahut Naomi kepadanya: "Pergilah, anakku." 3 Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh.

KERJA ADALAH TANGGUNGJAWAB UNTUK HIDUP

“Bekerja” dalam pemahaman iman Kristen adalah panggilan untuk memperjuangkan hidup. Sejak manusia diciptakan, Tuhan Allah telah memberi tanggungjawab untuk bekerja agar dapat menikmati berkat Tuhan. Namun demikian, ada kecendrungan manusia yang ingin menikmati hidup tanpa mau bekerja. Ada yang hanya menadahkan tangan dengan berbagai modus penipuan, berlaku curang dan ada yang suka mencuri dengan berbagai cara. Dalam bacaan kita, dikisahkan tentang Rut yang ditinggal mati oleh suaminya, disuruh pulang oleh mertuanya Naomi, namun ia bertekad untuk terus menjalani hidupnya bersama mertuanya. Rut sadar bahwa hidup yang akan ia jalani tidak mudah, namun ia tetap bertahan untuk menjalaninya. Rut percaya bahwa Tuhan Allah memberikan dua tangan dan dua kakinya untuk bekerja dan dengan bekerja ia akan hidup bersama mertuanya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya Rut tidak meminta belas kasihan  Naomi dan Boas untuk memberinya makan, melainkan memberikan baginya pekerjaan. Rut sadar bahwa untuk mendapatkan makanan, ia harus bekerja dengan tangannya sendiri. Rut tidak ingin menadahkan tangan tanpa bekerja, apalagi mendapatkan makanan dengan cara yang tidak benar. Naomi dan Boas sangat menghargai sikap Rut dan membiarkannya bekerja bersama para pengerja di ladang jelai milik Boas. Cerita Rut ini memberi pesan kapada kita bahwa bekerja adalah tanggungjawab yang diberikan oleh Allah. Memang harus diakui bahwa saat ini kita menghadapi berbagai kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, namun bekerja untuk mendapatkan berkat Tuhan bukanlah hal yang tidak mungkin. Tuhan berjanji akan memberkati setiap keringat yang menetes dan itu tidak akan sia –sia.

Doa: Ya Tuhan, berilah kesempatan bagi kami untuk bekerja agar kami dapat menikmati berkat-Mu, Amin

Kamis, 01 Juli 2021                                          

bacaan : Efesus 4 : 28 

28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

JANGAN MENCURI, BEKERJALAH DENGAN TANGAN SENDIRI

Dalam nasehatnya kepada jemaat di Efesus, Rasul Paulus mengingatkan mereka agar tetap menjaga sikap dan perilaku hidup sebagai manusia baru, yaitu meninggalkan semua kebiasaan atau perbuatan lama yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Salah satu sikap hidup yang benar sebagai manusia baru, yaitu bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik. Hal ini menghindarkan orang dari sikap malas, masa bodoh dan akhirnya mencuri. Memang mencuri adalah perbuatan tercela, apapun alasannya. Ada banyak alasan, mengapa orang suka mencuri, dan salah satunya adalah karena kebutuhan hidup yang mendesak. Namun dalam nasehat rasul Paulus, ia mengingatkan jemaat di Efesus untuk jangan mencuri, tetapi sebaliknya bekerja keras dengan tangan sendiri, supaya mereka dapat mencukupkan kebutuhan hidup mereka, bahkan mereka juga dapat berbagi dengan orang yang berkekurangan. Hidup berbagi adalah sikap iman untuk membantu orang yang berkekurangan agar mereka juga tidak mencuri. Sebagai orang percaya, setiap orang harus meyakini bahwa Tuhan Allah adalah sumber berkat, dan Ia akan memberkati setiap jerih lelah orang – orang yang bekerja dengan tangannya sendiri. Tuhan Allah juga akan memberkati setiap orang yang mensyukuri berkat Tuhan dengan hidup berbagi. Saat ini ada orang yang tidak mau bekerja tetapi mau hidup senang, dan jika kebutuhannya tidak terpenuhi, pasti ia akan mencuri. Tetapi sebaliknya ada orang yang bekerja dengan sungguh – sungguh dan menikmati berkatnya dengan rasa syukur bahkan bersedia berbagi dengan sesamanya, walaupun hasil yang ia peroleh tidak seberapa dan sikap inilah yang dikehendaki oleh Allah. Percayalah bahwa setiap orang yang bekerja keras dan melakukan pekerjaan baik, ia tidak akan berkekurangan.

Doa : Tuhan, tolonglah kami untuk bekerja keras dan melakukan pekerjaan baik, amin

Jumat, 02 Juli 2021                                  

bacaan : 2 Tesalonika 3 : 6 – 15

6 Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. 7 Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, 8 dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu. 9 Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti. 10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. 11 Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. 12 Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri. 13 Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik. 14 Jika ada orang yang tidak mau mendengarkan apa yang kami katakan dalam surat ini, tandailah dia dan jangan bergaul dengan dia, supaya ia menjadi malu, 15 tetapi janganlah anggap dia sebagai musuh, tetapi tegorlah dia sebagai seorang saudara.

BEKERJALAH, JANGAN MAKAN DARI KERINGAT ORANG LAIN

“Bekerja s’lama siang, tatkala fajar trang. Janganlah tidur diam lalai waktu s’nang. Lihatlah matahari tak sua b’rentilah, ya dari pagi hari, hingga malamlah”, lirik lagu Dua Dahabat Lama, nomor 207 ini, mengajak kita untuk rajin bekerja dengan meneladani matahari, yang bekerja dengan setia untuk menerangi bumi, sejak terbit di pagi hari, sampai terbenam di sore hari. Nasehat untuk rajin bekerja juga menjadi penekanan rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika. Nasehat ini disampaikan oleh Paulus untuk mengajak jemaat hidup dalam kekudusan dan rajin bekerja sambil menanti kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Paulus mengajak jemaat untuk menjauhkan diri dari orang malas dan tidak mengikuti jejak mereka. Paulus bahkan menegaskan bahwa:  “…jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (ay.10.b). Paulus tidak asal bicara, tetapi dia malah menunjukkan teladan dengan bekerja keras dan tidak mau menjadi beban dari orang lain atau makan dari keringat orang lain. Sebagai orang percaya, kita pun harus memahami bahwa bekerja tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan hidup, walapun untuk menafkahi hidup keluarga orang harus bekerja. Bekerja adalah suatu panggilan iman yang harus diwujudkan dalam hidup bergereja dan bermasyarakat. Bekerja yang dimaksudkan adalah melakukan pekerjaan – pekerjaan yang baik dan benar. Dalam kenyataannya ada orang yang malas dan tidak mau bekerja, tetapi ingin menikmati hidup yang enak. Orang seperti ini cenderung untuk memanfaatkan orang lain bagi kepentingan dirinya, seperti suka mencuri, menipu, dan bersenang – senang diatas penderitaan orang lain. Sesungguhnya tidak dapat dibenarkan, jika ada orang yang mengatakan ‘tidak ada pekerjaan’ atau ‘belum dapat kerja’, tetapi hendaklah semua potensi dalam diri kita diberdayakan untuk bekerja.

Doa : Tuhan, ajar kami agar tidak makan dari keringat orang lain. Amin.   

Sabtu, 03 Juli 2021                                    

bacaan : Pengkhotbah 9 : 10

10 Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.

BEKERJA SELAGI ADA WAKTU

“Jangan tunda sampai besok, apa yang dapat dikerjakan hari ini”, suatu pepatah tua yang mengingatkan kita agar tidak menunda – nunda mengerjakan suatu pekerjaan. Hal ini penting, sebab pasti ada pekerjaan lain yang harus kita lakukan di hari esok.  Nasehat ini disampaikan oleh raja Salomo kepada umat Israel untuk menyadarkan mereka bahwa ‘hidup manusia di dunia ini adalah kesempatan’: “ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal……” (Pengh.3:2a), oleh sebab itu, kesempatan untuk hidup harus digunakan dengan sebaik – baiknya. Pengkhotbah 9:10 katakan: “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga……,” hal ini berarti jika ada kesempatan untuk bekerja, bekerjalah dengan sungguh – sungguh. Salomo hendak mengatakan bahwa apa yang bisa dikerjakan, selagi masih ada waktu, selagi masih kuat, selagi masih sehat. Seringkali orang mengabaikan kesempatan untuk bekerja, dan waktu pemberian Tuhan digunakan untuk bersenang – senang, untuk jalan – jalan dan bersantai, tetapi ada juga orang yang menggunakan waktu untuk melakukan pekerjaan yang merugikan sesama dan menyakiti hati Tuhan. Gaya hidup seperti ini akan merugikan sesama dan diri sendiri. Padahal kita semua tau bahwa kehidupan yang dianugerahkan Tuhan kepada kita hanyalah sementara. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi dengan kita di hari esok, karena itu selagi masih ada kesempatan di hari ini, selagi masih kuat dan sehat, lakukanlah pekerjaan – pekerjaan yang baik, benar, adil dan berguna bagi banyak orang dan untuk kemuliaan Tuhan.

Doa : Tuhan, ajarlah kami untuk menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya untuk bekerja dan menjadi berkat bagi banyak orang, Amin. 

*sumber : SHK bulan Juni-Juli 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 20-26 Juni 2021

Tema Mingguan : ” Perbuatan Besar Allah Di Alam Semesta Tidak Tercapai Oleh Pengetahuan Manusia “

Minggu, 20 Juni 2021                                  

bacaan : Ayub  37: 1 – 24

Kemuliaan Allah di alam semesta
"Sungguh, oleh karena itu hatiku berdebar-debar dan melonjak dari tempatnya. 2 Dengar, dengarlah gegap gempita suara-Nya, guruh yang keluar dari dalam mulut-Nya. 3 Ia melepaskannya ke seluruh kolong langit, dan juga kilat petir-Nya ke ujung-ujung bumi. 4 Kemudian suara-Nya menderu, Ia mengguntur dengan suara-Nya yang megah; Ia tidak menahan kilat petir, bila suara-Nya kedengaran. 5 Allah mengguntur dengan suara-Nya yang mengagumkan; Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita; 6 karena kepada salju Ia berfirman: Jatuhlah ke bumi, dan kepada hujan lebat dan hujan deras: Jadilah deras! 7 Tangan setiap manusia diikat-Nya dengan dibubuhi meterai, agar semua orang mengetahui perbuatan-Nya. 8 Maka binatang liar masuk ke dalam tempat persembunyiannya dan tinggal dalam sarangnya. 9 Taufan keluar dari dalam perbendaharaan, dan hawa dingin dari sebelah utara. 10 Oleh nafas Allah terjadilah es, dan permukaan air yang luas membeku. 11 Awanpun dimuati-Nya dengan air, dan awan memencarkan kilat-Nya, 12 lalu kilat-Nya menyambar-nyambar ke seluruh penjuru menurut pimpinan-Nya untuk melakukan di permukaan bumi segala yang diperintahkan-Nya. 13 Ia membuatnya mencapai tujuannya, baik untuk menjadi pentung bagi isi bumi-Nya maupun untuk menyatakan kasih setia. 14 Berilah telinga kepada semuanya itu, hai Ayub, diamlah, dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah. 15 Tahukah engkau, bagaimana Allah memberi tugas kepadanya, dan menyinarkan cahaya dari awan-Nya? 16 Tahukah engkau tentang melayangnya awan-awan, tentang keajaiban-keajaiban dari Yang Mahatahu, 17 hai engkau, yang pakaiannya menjadi panas, jika bumi terdiam karena panasnya angin selatan? 18 Dapatkah engkau seperti Dia menyusun awan menjadi cakrawala, keras seperti cermin tuangan? 19 Beritahukanlah kepada kami apa yang harus kami katakan kepada-Nya: tak ada yang dapat kami paparkan oleh karena kegelapan. 20 Apakah akan diberitahukan kepada-Nya, bahwa aku akan bicara? Pernahkah orang berkata, bahwa ia ingin dibinasakan? 21 Seketika terang tidak terlihat, karena digelapkan mendung; lalu angin berembus, maka bersihlah cuaca. 22 Dari sebelah utara muncul sinar keemasan; Allah diliputi oleh keagungan yang dahsyat. 23 Yang Mahakuasa, yang tidak dapat kita pahami, besar kekuasaan dan keadilan-Nya; walaupun kaya akan kebenaran Ia tidak menindasnya. 24 Itulah sebabnya Ia ditakuti orang; setiap orang yang menganggap dirinya mempunyai hikmat, tidak dihiraukan-Nya."

PERBUATAN TUHAN TIDAK TERSELAMI OLEH AKAL MANUSIA

Ingatkah kita tentang gempa bumi berkekuatan 6.8 Magnitudo yang melanda kota Ambon dan sekitarnya, pada Kamis, 26 September 2019 sampai dengan Oktober 2019 yang lalu.  Ada sebanyak 114 gempa dan 1.044 kali gempa susulan yang berpotensi tsunami. Akan tetapi grafik gempa mengalami penurunan yang signifikan, sehingga tidak berpotensi tsunami. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan berkuasa dan mengendalikan alam semesta demi keberlangsungan dan kebaikan seluruh makhluk ciptaan termasuk manusia. Dalam Ayub 37: 14 “Berilah telinga kepada semuanya itu, hai Ayub, diamlah, dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah”. Kalimat ini merupakan nasehat Elihu kepada Ayub setelah dia memperlihatkan segala keperkasaan Allah dalam ciptaan-Nya. Bagi Elihu, semua gejala alam yang dahsyat, yang menakutkan dan yang tidak mampu dikendalikan oleh pikiran manusia merupakan tanda kebesaran dan kemuliaan Allah (ay.1-13). Allah memakai alam yang dikendalikan-Nya untuk mengajarkan manusia akan kemahakuasaan-Nya (ay.7), baik untuk menghukum dosa maupun untuk menyatakan kasih setia-Nya (ay.13). Dengan pernyataannya ini, Elihu mau mengingatkan Ayub bahwa perbuatan Allah yang ajaib ini tidak dapat dijangkau dengan pengetahuan Ayub. Karena itu Ayub harus menyadari bahwa ia tidak berhak menggugat Allah sebagai pihak yang bertanggungjawab atas penderitaannya itu. Justeru, ia harus bertobat dan bersyukur bahwa Allah menyelamatkan hidupnya. Bagi kehidupan orang percaya saat ini, peristiwa-peristiwa alam (termasuk gempa bumi) mengingatkan kita bahwa Allah berkarya dan mengendalikan alam untuk keselamatan hidup manusia, karena itu mari kita bersyukur dan mengalami pertobatan hidup dengan merawat dan memelihara alam sebagai ciptaan Tuhan.

Doa:  Tuhan,  kami tahu bahwa apapun yang kami alami di bawah kolong langit ini berada dalam kendali tangan-Mu, Amin.

Senin, 21 Juni 2021                                          

bacaan : Amsal 3: 19-20

19 Dengan hikmat TUHAN telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit, 20 dengan pengetahuan-Nya air samudera raya berpencaran dan awan menitikkan embun.

HIKMAT MELEBIHI APAPUN

Habis gelap terbitlah terang, kalimat bijak ini cocok dipakai untuk menggambarkan situasi yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) pasca badai seroja menerjang daerah ini, Minggu 04 April 2021 lalu. Badai tersebut telah memporakporandakan pemukiman warga dan mengakibatkan korban jiwa. Namun, di sisi lain terjadi fenomena alam yang luar biasa, yakni munculnya pulau dan danau baru dengan sejumlah mata air baru (kurang lebih 20 mata air baru). Limpahan air yang begitu besar di kawasan tersebut patut disyukuri oleh warga setempat karena fenomena alam ini telah menjadi berkat bagi mayarakat. Berkat tersebut berupa air bersih yang dapat dipergunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari . Fenomena alam ini memang menimbulkan keheranan dan menjadi pertanyaan banyak orang: “Bagaimana mungkin daerah yang kering dan tandus di NTT, khususnya Kota Kupang bisa muncul danau baru dengan sejumlah mata air?” Secara ilmiah, dapat disimpulkan bahwa munculnya danau baru karena curah hujan yang sangat tinggi, tetapi sebagai orang beriman kita mengakuinya sebagai bukti kemahakuasaan Tuhan, Sang Pencipta yang telah menciptakan alam semesta dan seluruh isinya. Hal ini juga diungkapkan oleh penulis kitab Amsal: “Dengan hikmat Tuhan meletakan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkannya langit, dengan pengetahuan-Nya air samudera raya berpencaran dan awan menitikkan embun” (ay.19-20). Tuhan menciptakan alam semesta dengan segala isinya amat sangat baik untuk keberlangsungan hidup seluruh makhluk di bumi ini, termasuk manusia. Karena itu, sebagai keluarga Kristen kita patut bersyukur bahwa peristiwa-peristiwa alam yang kita alami merupakan tanda kehadiran Allah untuk memelihara hidup kita.

Doa: Tuhan, kami mau bersyukur untuk alam yang Engkau ciptakan bagi keberlangsungan hidup kami, Amin.

Selasa, 22 Juni 2021                                    

bacaan : Keluaran 13: 17-22

Allah menuntun umat-Nya
17 Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir." 18 Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir. 19 Musa membawa tulang-tulang Yusuf, sebab tadinya Yusuf telah menyuruh anak-anak Israel bersumpah dengan sungguh-sungguh: "Allah tentu akan mengindahkan kamu, maka kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini." 20 Demikianlah mereka berangkat dari Sukot dan berkemah di Etam, di tepi padang gurun. 21 TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. 22 Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu.

TUHAN MELINDUNGI DAN MENUNTUN HIDUP KITA DENGAN CARANYA

Saat ini seluruh penduduk dunia masih berjuang melawan pandemic covid-19 (virus corona) yang entah kapan berakhir. Kasus covid-19 di India kembali meledak (dikabarkan 200 orang meninggal setiap jam). Situasi ini sangat mengkuatirkan Negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Seluruh rakyat diharapkan mentaati protokol kesehatan  (prokes) dengan baik dan tetap berdoa. Situasi penuh ancaman pernah dialami oleh bangsa Israel pada saat mereka melakukan perjalanan di padang gurun. Mereka harus berperang, dikejar musuh, kehabisan makanan dan minuman, tubuh mereka terbakar oleh sengatan matahari, mereka kedinginan di waktu malam bahkan ada yang meninggal karena tidak mampu bertahan dalam situasi tersebut. Dalam situasi tersebut, Tuhan hadir untuk melindungi dan menyelamtkan mereka. Ayat 21: “Tuhan berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam”. Pada siang hari, tiang awan melindungi mereka dari sengatan matahari. Pada malam hari, tiang api menghangatkan tubuh mereka dari dinginnya angin padang gurun. Tiang awan dan tiang api bukan saja fenomena alam biasa tapi merupakan tanda kehadiran Tuhan Allah untuk menuntun dan melindungi bangsa Israel. Jika dahulu Tuhan melindungi bangsa Israel, Tuhan yang sama juga masih melindungi kita sampai saat ini dari berbagai ancaman kehidupan, seperti: penyakit, bencana alam, pandemic covid 19, dan sebagainya. Namun yang perlu diingat oleh kita sebagai persekutuan keluarga adalah menyerahkan seluruh hidup kita dalam perlindungan Tuhan.

Doa: Tuhan, lindungi hidup kami dari berbagai ancaman dan ajarilah kami untuk menyerahkan segenap hidupM kepada-Mu

Rabu, 23 Juni  2021                                   

bacaan : Keluaran 16: 13-21

13 Pada waktu petang datanglah berduyun-duyun burung puyuh yang menutupi perkemahan itu; dan pada waktu pagi terletaklah embun sekeliling perkemahan itu. 14 Ketika embun itu telah menguap, tampaklah pada permukaan padang gurun sesuatu yang halus, sesuatu yang seperti sisik, halus seperti embun beku di bumi. 15 Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: "Apakah ini?" Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: "Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu. 16 Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa." 17 Demikianlah diperbuat orang Israel; mereka mengumpulkan, ada yang banyak, ada yang sedikit. 18 Ketika mereka menakarnya dengan gomer, maka orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan. Tiap-tiap orang mengumpulkan menurut keperluannya. 19 Musa berkata kepada mereka: "Seorangpun tidak boleh meninggalkan dari padanya sampai pagi." 20 Tetapi ada yang tidak mendengarkan Musa dan meninggalkan dari padanya sampai pagi, lalu berulat dan berbau busuk. Maka Musa menjadi marah kepada mereka. 21 Setiap pagi mereka memungutnya, tiap-tiap orang menurut keperluannya; tetapi ketika matahari panas, cairlah itu.

CUKUPKANLAH HIDUPMU DENGAN BERKAT TUHAN

Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh manusia tetapi tidak cukup untuk mencukupi satu orang tamak atau serakah”, (Mahatma Gandhi). Apa yang dikatakan Gandhi mengandung makna penting agar kita bisa bersyukur dengan apa yang kita miliki karena Tuhan telah menyediakan segalanya dengan baik dan cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh manusia di bumi ini. Betapa seringnya kita merasa tidak puas dengan apa yang kita miliki. Kita terus ingin lebih dan sulit bagi kita untuk merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita miliki. Sifat seperti ini juga diperlihatkan oleh bangsa Israel di padang gurun, mereka lupa tentang kebaikan Tuhan dan terus saja bersungut-sungut (ay.3). Maka Tuhan memberikan manna dan burung puyuh menjadi makanan mereka supaya mereka tidak lupa bahwa Tuhan mengasihi mereka (ay.12). Akan tetapi ada diantara mereka yang serakah, dan mengambil lebih banyak untuk diri sendiri (ay.17). Tuhan melalui Musa memberi perintah kepada bangsa Israel agar mereka mengambil secukupnya saja, sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang (ay.16). Perintah Tuhan ini bermaksud untuk memperingatkan mereka agar tidak serakah, tetapi tahu bersyukur atas berkat yang mereka terima. Karena keserakahan dapat merugikan diri sendiri dan membunuh makhluk hidup lainnya (ay.20-21). Bacaan ini memberikan pelajaran bagi kita dalam rangka memperingati bulan lingkungan hidup, kita diingatkan untuk menjaga dan merawat alam ini dengan baik bagi kelangsungan hidup kita. Jangan merusak alam dengan mengambil sebanyak-banyaknya (eksploitasi) untuk kepentingan diri sendiri. Jika alam menjadi rusak dapat membawa bencana bagi manusia. Ingat, alam bisa hidup tanpa manusia, tapi manusia tidak bisa hidup tanpa alam.

Doa : Tuhan, ajarlah kami untuk bersyukur dengan rasa cukup, Amin.

Kamis, 24 Juni 2021                                 

bacaan : Keluaran 16 : 22 – 31

22 Dan pada hari yang keenam mereka memungut roti itu dua kali lipat banyaknya, dua gomer untuk tiap-tiap orang; dan datanglah semua pemimpin jemaah memberitahukannya kepada Musa. 23 Lalu berkatalah Musa kepada mereka: "Inilah yang dimaksudkan TUHAN: Besok adalah hari perhentian penuh, sabat yang kudus bagi TUHAN; maka roti yang perlu kamu bakar, bakarlah, dan apa yang perlu kamu masak, masaklah; dan segala kelebihannya biarkanlah di tempatnya untuk disimpan sampai pagi." 24 Mereka membiarkannya di tempatnya sampai keesokan harinya, seperti yang diperintahkan Musa; lalu tidaklah berbau busuk dan tidak ada ulat di dalamnya. 25 Selanjutnya kata Musa: "Makanlah itu pada hari ini, sebab hari ini adalah sabat untuk TUHAN, pada hari ini tidaklah kamu mendapatnya di padang. 26 Enam hari lamanya kamu memungutnya, tetapi pada hari yang ketujuh ada sabat; maka roti itu tidak ada pada hari itu." 27 Tetapi ketika pada hari ketujuh ada dari bangsa itu yang keluar memungutnya, tidaklah mereka mendapatnya. 28 Sebab itu TUHAN berfirman kepada Musa: "Berapa lama lagi kamu menolak mengikuti segala perintah-Ku dan hukum-Ku? 29 Perhatikanlah, TUHAN telah memberikan sabat itu kepadamu; itulah sebabnya pada hari keenam Ia memberikan kepadamu roti untuk dua hari. Tinggallah kamu di tempatmu masing-masing, seorangpun tidak boleh keluar dari tempatnya pada hari ketujuh itu." 30 Lalu beristirahatlah bangsa itu pada hari ketujuh. 31 Umat Israel menyebutkan namanya: manna; warnanya putih seperti ketumbar dan rasanya seperti rasa kue madu.

SABAT UNTUK TUHAN, MANUSIA DAN ALAM

Kata kunci pada bacaan ini adalah Sabat. Apa itu sabat? Dalam kamus Alkitab, sabat berarti penghentian (kerja). Hari perhentian kerja yang sangat penting bagi kehidupan orang Israel, didasarkan oleh perhentian kerja Allah sendiri dalam karya “Penciptaan” (Kej.2:1-3). Sabat juga merupakan hari dimana umat pergi ke Bait Allah untuk beribadah (Yes.1:13). Di kemudian hari umat Kristen beristirahat di hari Minggu sebagai hari Tuhan. Jadi, sabat sebenarnya mengandung pengertian waktu dimana  manusia beristirahat, berhenti melakukan pekerjaan mengelola dan mengambil isi bumi dan beribadah, membangun hubungan dengan Allah. Dalam bacaan ini, Musa dengan tegas berbicara tentang sabat sebagai hari perhentian penuh bagi Tuhan (ay.23). Bangsa Israel dilarang untuk melakukan pekerjaan apapun termasuk pekerjaan di ladang.(ay.25). Hal ini berguna untuk menjaga kesuburan tanah. Jika tanah menjadi subur maka akan memberikan hasil yang berlimpah-limpah untuk dinikmati oleh manusia. Hal terpenting yang dapat dipelajari oleh orang percaya, yakni Pertama, kuduskanlah hari sabat untuk beribadah kepada Tuhan. Selama enam hari Tuhan mengijinkan kita untuk bekerja dan memperoleh berkat-Nya, maka sepatutnyalah kita bersyukur kepada Tuhan. Saat ini, orang Kristen sulit menyediakan waktu untuk Tuhan karena ibadah tidak dianggap penting (prioritas). Yang terpikir hanyalah kerja, kerja dan kerja. Seolah-olah ibadah merupakan pemborosan waktu padahal waktu adalah anugerah Tuhan. Kedua, sabat berhubungan dengan tanggungjawab manusia terhadap alam sebagai ciptaan Tuhan. Untuk itu, jangan merusak dan mengeksploitasi alam untuk kepentingan diri sendiri. Sebaliknya, mari kita jaga, rawat dan lindungi alam untuk hidup kita bersama.

Doa: Tuhan, ajar kami untuk menghargai waktu pemberian-Mu, Amin.

Jumat, 25 Juni 2021                                

bacaan : Keluaran 16: 32-36

32 Musa berkata: "Beginilah perintah TUHAN: Ambillah segomer penuh untuk disimpan turun-temurun, supaya keturunan mereka melihat roti yang Kuberi kamu makan di padang gurun, ketika Aku membawa kamu keluar dari tanah Mesir." 33 Sebab itu Musa berkata kepada Harun: "Ambillah sebuah buli-buli, taruhlah manna di dalamnya segomer penuh, dan tempatkanlah itu di hadapan TUHAN untuk disimpan turun-temurun." 34 Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah buli-buli itu ditempatkan Harun di hadapan tabut hukum Allah untuk disimpan. 35 Orang Israel makan manna empat puluh tahun lamanya, sampai mereka tiba di tanah yang didiami orang; mereka makan manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan. 36 Adapun segomer ialah sepersepuluh efa.

JANGAN MELUPAKAN KEBAIKAN TUHAN

Setiap orang atau kelompok pasti mempunyai kenangan masa lalu, baik yang buruk maupun yang indah. Bagi banyak orang, mereka ingin melupakan kenangan buruk dan menyedihkan,  tetapi sebaliknya kenangan yang indah ingin terus diingat. Salah seorang tokoh, mengatakan: “Kenangan perlu ada dalam hidup agar seseorang memiliki hidup dan masa depan yang jauh lebih baik serta menjadi warisan ingatan kepada anak-cucu (keturunan)”. Demikian pula dengan bangsa Israel, mereka memiliki kenangan yang pahit maupun yang manis selama perjalanan mereka dari Mesir menuju tanah Kanaan. Mereka mengalami perbudakan di Mesir, dikejar-kejar oleh musuh, kehabisan makanan, mengalami kedinginan karena cuaca gurun, kelelahan dan kematian karena perjalanan panjang selama 40 tahun di gurun. Namun, Tuhan mengasihi mereka. Ia menjaga dan melindungi mereka, ia memberi mereka makan roti, burung puyuh dan manna. Perbuatan baik Allah ini mesti dikenang oleh bangsa Israel dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, Musa memberikan perintah untuk mengambil manna dan menyimpannya di Bait Allah supaya menjadi kenangan dan peringatan bagi ke- turunan Israel (ay.32),  bahwa Allah mengasihi dan memberkati nenek moyang mereka dengan memberi mereka makan manna untuk menopang perjalanan pengembaraan di padang gurun (band. Ay.15-16). Maknanya bagi kita saat ini, bahwa perjalanan hidup kita juga memiliki kenangan yang pahit maupun manis (ada sukses ada gagal). Akan tetapi Tuhan tidak meninggalkan kita sendiri. Ia senantiasa menuntun, membimbing dan memberkati kita. Oleh karena itu kebaikan Tuhan jangan dilupakan, melainkan diajarkan berulang-ulang kepada anak-cucu kita supaya mereka pun mengingat kebaikan Tuhan dan senantiasa bersyukur.

Doa : Bapa, kami bersyukur kepada-Mu atas segala penyertaan dan perlindungan disepanjang hidup kami, Amin

 Sabtu, 26 Juni 2021                                           

bacaan : Ibrani 11: 1-3

Yesus lebih tinggi dari Musa
Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus, 2 yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, sebagaimana Musapun setia dalam segenap rumah-Nya. 3 Sebab Ia dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar dari pada Musa, sama seperti ahli bangunan lebih dihormati dari pada rumah yang dibangunnya.

DENGAN IMAN KITA MENGERTI

Kitab Ibrani ditulis oleh Paulus kepada orang-orang Kristen asal Yahudi yang sedang mengalami penganiayaan karena imannya kepada Kristus. Penganiayaan tersebut mengakibatkan ada diantara mereka yang menjadi murtad, kembali kepada kepercayaan semula. Menghadapi situasi ini, Paulus menasehati mereka untuk tetap mempertahankan iman atau kepercayaan mereka kepada Kristus hingga pada kesudahannya, terus memperlihatkan kedewasaan rohani dan tidak kembali kepada kehidupan lama yang berada dibawah penghakiman dengan cara meninggalkan kepercayaan kepada Yesus Kristus. Paulus mengatakan: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (ay.1). Dasar inilah yang menjadikan orang Kristen percaya pada kuasa Allah dan mengakui bahwa alam semesta dengan segala isinya dijadikan oleh Firman Allah walaupun kita tidak melihatnya (ay.3). Alam semesta diciptakan oleh Tuhan Allah sangat baik, untuk kelangsungan hidup seluruh makhluk termasuk manusia. Tetapi manusia dengan serakah dan egonya telah merusak ciptaan Tuhan ini dan akibatnya terjadi pemanasan global yang berdampak bagi kehidupan manusia dan lingkungan. Misalnya: cuaca yang tidak teratur (cuaca ekstrim), kekeringan panjang yang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan, gagal panen, munculnya berbagai penyakit, dan sebagainya. Nilainya bagi kita adalah beriman kepada Tuhan Yesus hendaknya diwujudkan dalam sikap hidup menjaga, memelihara dan merawat alam demi kelangsungan hidup kita dan anak-cucu kita ke depan. Ingatlah kata bijak: “Merawat lingkungan hari ini untuk kehidupan yang lebih baik di hari esok”.

Doa: Tuhan, tuntunlah kami mengaktakan iman kepada-Mu dengan cara memelihara dan merawat alam ciptaan-Mu, Amin.

         *sumber : SHK Juni 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 13-19 Juni 2021

Tema Mingguan : ” Kebesaran Allah Di Alam Semesta “

Minggu, 13 Juni 2021                              

bacaan : Bilangan 16 : 30 – 35

30 Tetapi, jika TUHAN akan menjadikan sesuatu yang belum pernah terjadi, dan tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka beserta segala kepunyaan mereka, sehingga mereka hidup-hidup turun ke dunia orang mati, maka kamu akan tahu, bahwa orang-orang ini telah menista TUHAN." 31 Baru saja ia selesai mengucapkan segala perkataan itu, maka terbelahlah tanah yang di bawah mereka, 32 dan bumi membuka mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya dan dengan semua orang yang ada pada Korah dan dengan segala harta milik mereka. 33 Demikianlah mereka dengan semua orang yang ada pada mereka turun hidup-hidup ke dunia orang mati; dan bumi menutupi mereka, sehingga mereka binasa dari tengah-tengah jemaah itu. 34 Dan semua orang Israel yang di sekeliling mereka berlarian mendengar teriak mereka, sebab kata mereka: "Jangan-jangan bumi menelan kita juga!" 35 Lagi keluarlah api, berasal dari pada TUHAN, lalu memakan habis kedua ratus lima puluh orang yang mempersembahkan ukupan itu.

ORANG SOMBONG PASTI BINASA

Thomas Andrews adalah orang yang membuat kapal Titanic, kapal yang dikenal begitu fenomenal. Kapal itu dibuat dengan bahan-bahan yang berkualitas, sehingga pembuatnya merasa kapal itu akan kokoh terhadap serangan dan bahaya apapun. Merasa sukses atas hasil kerja kerasnya itu, Thomas Andrews pernah mengatakan “Kapal ini tidak akan pernah tenggelam oleh apapun, bahkan oleh Tuhan sekalipun”. Ketika melakukan perjalanan pertama kalinya, Titanic menabrak gunung es di Samudera Atlantik, dan membuatnya retak, pecah dan terbelah manjadi dua, sebelum akhirnya tenggelam. Thomas turut menjadi korban dan tenggelam bersama kapalnya itu. Merasa kuat dan membanggakan diri sendiri adalah sifat angkuh yang dimiliki oleh manusia, ketika berada pada kesuksesan atau keberhasilan. Menonjolkan diri karena sukses membuat kapal yang mewah, menjadikan Thomas Andrews “lupa diri” dan meremehkan kuasa Tuhan. Korah, Datan dan Abiram yang ingin melengserkan kepemimpinan Musa dan Harun juga melakukan pemberontakan kepada Tuhan. Bersama 250 orang mereka berdiri di depan pintu kemah pertemuan dan membawa ukupan-ukupan mereka. Tuhan murka kepada mereka dan membelah tanah dibawah mereka, sehingga menelan mereka dengan seisi rumah serta harta milik mereka. Tanah yang terbelah adalah cara Tuhan memakai alam untuk menyatakan kemahakuasaan-Nya atas sifat manusia yang memberontak kepada-Nya. Keangkuhan, kesombongan, iri hati akan membawa kebinasaan. Semua yang terlihat kuat bagi manusia, sangat tidak sebanding dengan Kuasa Kebesaran Tuhan. Oleh karena itu, jangan pernah merasa hebat dan puas dengan kekuatan sendiri sehingga mengabaikan dan meremehkan Kuasa Tuhan.

Doa : Ya Tuhan, berilah kepada kami kerendahan hati untuk memaknai kehendak-MU, Amin

Senin, 14 Juni 2021                                    

bacaan : Yesaya 9 : 17 – 20

18 (9-17) Sebab kefasikan itu menyala seperti api yang memakan habis puteri malu dan rumput, lalu membakar belukar di hutan sehingga tonggak asap berkepul-kepul ke atas. 19 (9-18) Oleh karena murka TUHAN semesta alam, terbakarlah tanah itu, dan bangsa itu menjadi makanan api; seorangpun tidak mengasihani saudaranya. 20 (9-19) Mereka mencakup ke sebelah kanan, tetapi masih lapar, mereka memakan ke sebelah kiri, tetapi tidak kenyang, setiap orang memakan daging temannya: 21 (9-20) Manasye memakan Efraim, dan Efraim memakan Manasye, dan bersama-sama mereka melawan Yehuda. Sekalipun semuanya ini terjadi, murka-Nya belum surut, dan tangan-Nya masih teracung.

HARGAILAH ALAM PEMBERIAN TUHAN

Kita mesti telanjang dan benar – benar bersih, suci lahirlah di dalam batin….” Sepotong syair lagu Ebet G. Ade ini mengingatkan kita untuk merenung dan memaknai berbagai musibah dan bencana yang terjadi akhir – akhir ini di Tanah Air Indonesia. Bencana non alam berupa pandemic Covid-19, gempa bumi, musibah jatuhnya Pesawat udara, badai siklon tropis, tenggelamnya Kapal Selam Nainggala 402, dan mungkin berbagai musibah dan bencana yang lain.  Semuanya meninggalkan duka yang dalam dan berbagai kerugian material yang tidak sedikit. Dalam bacaan kita juga diceriterakan tentang bencana yang menimpa Suku Efraim. Sebagai salah satu suku yang besar, Efraim telah dianugerahkan berkat oleh Tuhan, sehingga dari suku ini terlahir pemimpin-pemimpin yang besar seperti: Yosua dan Raja Yerobeam I. Namun karena ketidaksetiaan dan ketidaktaatan kepada Allah, menyebabkan Efraim dihukum. “Tangan teracung” merupakan gambaran kemarahan Allah. Sebanyak 4 kali kata ini disebutkan (Yes 9:11,16,20; 10:4) yang menandakan Allah sangat marah dengan apa yang dilakukan umat-Nya. Allah menghukum mereka dengan menghanguskan tanah sehingga mereka kelaparan. Peristiwa yang dialami Suku Efraim mengingatkan kita supaya tidak terbuai dengan segala yang kita miliki, sebab berkat kehidupan, kekayaan, kesuksesan adalah pemberian Tuhan yang harus disyukuri. Berkat yang sama pula bukan untuk disombongkan sehingga melupakan kebaikan dan anugerah Allah, tetapi untuk dinikmati dengan syukur dan dibagikan jika berkelebihan, sebab Allah pun dapat menjadi marah karena keserakahan kita, manusia. Dan Allah menunjukan kuasa-Nya lewat alam untuk menegur kita, sehingga kita dapat menjadi manusia yang menghargai pemberian-Nya di alam semesta ini.

Doa : Ampunilah kami Tuhan, bimbinglah kami untuk selalu setia dan taat kepada-MU, Amin

Selasa, 15 Juni 2021                                 

bacaan : Keluaran 3 : 1 – 12

Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. 2 Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. 3 Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?" 4 Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah." 5 Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus." 6 Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. 7 Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. 8 Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. 9 Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. 10 Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir." 11 Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" 12 Lalu firman-Nya: "Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini."

IMANUEL, ALLAH MENYERTAI KITA

Musa dipercayakan oleh Tuhan untuk membawa orang Israel keluar dari Tanah Mesir. Dalam kehidupan pribadinya yang adalah seorang gembala kambing domba, Musa merasa dia tidak mampu melakukannya. “Siapakah aku ini…?”, tanya Musa ketika Tuhan mengutusnya untuk membebaskan bangsa Israel dari Tanah Mesir. Di ayat 12 ditegaskan bahwa Tuhan Allah akan menyertai Musa untuk melakukan tugas pengutusan itu. Setiap orang percaya memiliki panggilan dan misi dari Allah. Panggilan itu dapat berupa tugas dan tanggung jawab pelayanan, tetapi juga berupa perbuatan-perbuatan baik yang mendatangkan damai sejahtera. Oleh sebab itu, jawablah panggilan dan misi dari Allah dengan hati yang beriman. Hati yang beriman akan menuntun kita untuk terus berjalan melaksanakan pengutusan-Nya. Baik di darat, laut, udara bahkan waktu pagi, siang, sore, malam, tengah malam, apapun kondisinya, Tuhan pasti tetap akan menyertai kita. Tuhan yang berkuasa atas alam dan seluruh ciptaan-Nya menyatakan kasih dan kuasa-Nya dalam menjaga dan melindungi kita. Jaminan-Nya ialah keselamatan dan sukacita. Dalam kendali dan kuasa-Nya, maka kita meyakini lautan tidak akan menenggelamkan, udara tidak akan menjatuhkan, dan darat tidak akan mencelakakan. Kita meyakini bahwa Tuhan Allah kita akan selalu menyertai kita, apapun keadaan kita. Dialah Imanuel, Allah beserta kita, dan itu terwujud lewat kehadiran Yesus, yang terus menyertai dan menyelamatkan kita, baik kemarin, hari ini dan esok.  Setiap orang pasti punya pengalaman iman atas penyertaan Tuhan dalam hidupnya, syukurilah itu dan teruslah berserah hanya kedalam tuntun dan pemeliharaan-Nya.

Doa : Sertailah kami Tuhan, dan berjalanlah bersama kami. Amin.

Rabu, 16 Juni 2021                                    

bacaan : Keluaran 17 : 1 – 7

Di Masa dan di Meriba
Kemudian berangkatlah segenap jemaah Israel dari padang gurun Sin, berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, sesuai dengan titah TUHAN, lalu berkemahlah mereka di Rafidim, tetapi di sana tidak ada air untuk diminum bangsa itu. 2 Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: "Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum." Tetapi Musa berkata kepada mereka: "Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?" 3 Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: "Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?" 4 Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: "Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!" 5 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah. 6 Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum." Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel. 7 Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?"

AIR YANG MEMBERI HIDUP

The National Academies of Sciences, Engineering and Medicine (Akademi Sains, Teknik dan Kedokteran Nasional, AS), menetapkan  bahwa asupan cairan harian yang memadai untuk manusia adalah sekitar 15,5 gelas (3,7 liter) untuk laki-laki dan 11,5 gelas (2,7 liter) untuk perempuan. Rekomendasi ini mencakup cairan dari air, minuman lain dan makanan. Setiap manusia membutuhkan air sebagai salah satu asupan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jika kekurangan air maka akan mengalami dehidrasi. Kebutuhan akan air ini juga menjadi kebutuhan bangsa Israel, ketika berada di dalam perjalanan dari Padang Gurun Sin ke Rafidim. Begitu mendesaknya kebutuhan akan air ini, menyebabkan bangsa Israel pun bertengkar dengan Musa karena mereka merasa sangat haus dan kekurangan air. Mereka bersungut-sungut kepada Tuhan melalui Musa, sehingga Musa berseru kepada Tuhan dan Tuhan menuntun mereka hingga tiba di atas gunung Batu Horeb. Musa menggunakan tongkatnya dan memukul gunung batu itu sehingga keluarlah air untuk diminum bangsa Israel. Kemahakuasaan Tuhan yang memberikan air sebagai sumber kehidupan adalah bukti nyata bahwa Kasih-Nya mengalir deras bagaikan air hidup bagi kita. Kita diajak untuk selalu bersyukur atas alam pemberian Tuhan ini yang memungkinkan kita untuk hidup didalamnya. Bersyukurlah untuk setiap musim dengan tidak bersungut-sungut. Hujan dan panas adalah cara Tuhan untuk menghidupi umat-Nya. Walau, kadang musim-musim ini juga dapat menjadi musibah. Namun dengan keyakinan iman kita harus memaknai bahwa musibah atau bencana sesunggunya adalah peringatan untuk kita, manusia agar lebih menghargai alam pemberian-Nya ini dan bertanggungjawab untuk merawatnya dengan baik

Doa : Tuhan, ajarilah kami untuk selalu bersyukur atas alam pemberian-Mu ini, Amin

Kamis, 17 Juni 2021                              

bacaan : Keluaran 15 : 22 – 27

Di Mara dan di Elim
22 Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air. 23 Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara. 24 Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: "Apakah yang akan kami minum?" 25 Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka, 26 firman-Nya: "Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau." 27 Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu.

PERTOLOINGAN TUHAN SELALU TEPAT PADA WAKTUNYA

Kami tak pernah menyangka jika “mama” mesti mengalami gangguan penyakit pada kandungannya. Dari kota Ambon sampai ibukota Jakarta, kami berjuang demi kesembuhan dan pemulihan mama. Kenyataan yang kami hadapi terasa pahit. Ketakutan, kekuatiran, kebimbangan, keputusasaan dan hilangnya pengharapan seperti berjalan mendekati kami. Dan kami hanya bisa berserah dalam doa kepada Tuhan Yesus. Terkadang kami mengeluh, bersungut hadapi penanganan medis yang menurut kami lambat karena kami ingin mama segera sembuh. Kenyataan ini persis dialami bangsa Israel dalam perjalanan dari Laut Teberau ke Padang Gurun Syur yang juga diperhadapkan dengan ketersediaan air yang kurang bahkan air rasa yang pahit (Mara). Mereka tidak tahan dengan kondisi yang demikian sehingga mereka terus berteriak dan bersungut kepada Musa. Tuhan menolong mereka dan menunjukan sepotong kayu kepada Musa untuk dilemparkan ke dalam air, dan seketika itu juga air berubah menjadi manis.  Pertolongan Tuhan mungkin tidak terlalu cepat, tetapi juga tidak pernah terlambat, namun pertolongan-Nya tepat pada waktu-Nya. Sebagai manusia, terkadang kita menginginkan jawaban yang cepat dan sesuai dengan keinginan kita, tanpa memikirkan bahwa rancangan Tuhan pasti yang terbaik. Air yang pahit diubah menjadi manis, bukanlah sebuah kebetulan, namun itu adalah cara Tuhan membentuk orang-orang Israel agar sabar, setia, taat dan berharap selalu pada-Nya. Hal yang sama pula Tuhan inginkan supaya kita memilikinya sebagai keluarga orang-orang percaya. Percaya bahwa proses yang kita jalani, dan jawaban Allah akan membuahkan sesuatu yang manis walau awalnya pahit bagi kita.

Doa: Berilah kepada kami kesabaran untuk melihat janji manis-Mu, Tuhan. amin

Jumat, 18 Juni 2021                                 

bacaan : Keluaran 19 : 1-13

TUHAN menampakkan diri di gunung Sinai
Pada bulan ketiga setelah orang Israel keluar dari tanah Mesir, mereka tiba di padang gurun Sinai pada hari itu juga. 2 Setelah mereka berangkat dari Rafidim, tibalah mereka di padang gurun Sinai, lalu mereka berkemah di padang gurun; orang Israel berkemah di sana di depan gunung itu. 3 Lalu naiklah Musa menghadap Allah, dan TUHAN berseru dari gunung itu kepadanya: "Beginilah kaukatakan kepada keturunan Yakub dan kauberitakan kepada orang Israel: 4 Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. 5 Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. 6 Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel." 7 Lalu datanglah Musa dan memanggil para tua-tua bangsa itu dan membawa ke depan mereka segala firman yang diperintahkan TUHAN kepadanya. 8 Seluruh bangsa itu menjawab bersama-sama: "Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan." Lalu Musapun menyampaikan jawab bangsa itu kepada TUHAN. 9 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan datang kepadamu dalam awan yang tebal, dengan maksud supaya dapat didengar oleh bangsa itu apabila Aku berbicara dengan engkau, dan juga supaya mereka senantiasa percaya kepadamu." Lalu Musa memberitahukan perkataan bangsa itu kepada TUHAN. 10 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah kepada bangsa itu; suruhlah mereka menguduskan diri pada hari ini dan besok, dan mereka harus mencuci pakaiannya. 11 Menjelang hari ketiga mereka harus bersiap, sebab pada hari ketiga TUHAN akan turun di depan mata seluruh bangsa itu di gunung Sinai. 12 Sebab itu haruslah engkau memasang batas bagi bangsa itu berkeliling sambil berkata: Jagalah baik-baik, jangan kamu mendaki gunung itu atau kena kepada kakinya, sebab siapapun yang kena kepada gunung itu, pastilah ia dihukum mati. 13 Tangan seorangpun tidak boleh merabanya, sebab pastilah ia dilempari dengan batu atau dipanahi sampai mati; baik binatang baik manusia, ia tidak akan dibiarkan hidup. Hanya apabila sangkakala berbunyi panjang, barulah mereka boleh mendaki gunung itu."

PERJANJIAN KASIH DENGAN TUHAN

MOU (Memorandum Of Understanding) adalah suatu bentuk perjanjian yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih yang dicantumkan dalam suatu dokumen formal. Perjanjian itu terkait dengan kesepakatan bersama terhadap kewajiban dan hak dari tiap pihak. Dalam perjanjian itu, kedua belah pihak diharapkan saling mendukung dan mengingatkan untuk pelaksanaan tugas tanggung jawab mereka. Dalam perjalanan keluar dari Tanah Mesir, Bangsa Israel dituntun oleh Musa ke Padang Gurun Sinai dan berkemah disitu. Musa naik ke gunung itu dan mendengar perintah Tuhan kepadanya untuk memperingatkan bangsa Israel agar berpegang teguh kepada Firman-Nya dan Perjanjian-Nya sehingga mereka akan menjadi harta kesayangan milik Tuhan. Awan yang tebal digunakan oleh Tuhan sebagai media untuk memberitakan tentang penampakan-Nya bagi bangsa Israel. Tuhan mengingatkan agar tidak seorang pun menyentuh atau mendaki Gunung Sinai saat penampakan terjadi, hal ini dimaksudkan agar bangsa Israel dapat menjaga kekudusan hidup mereka di hadapan Tuhan. Mereka boleh mendaki gunung itu jika terdengar bunyi sangkakala yang panjang. Pemeliharaan Tuhan adalah bentuk perjanjian kasih yang mendatangkan kedewasaan iman bagi setiap anak-anak-Nya. Dalam perjanjian kasih ini, Tuhan berjanji mengasihi, memelihara dan menyelamatkan umat-Nya dan kita sebagai pihak kedua pun harus berjanji untuk selalu setia, taat dan patuh terhadap perintah-Nya serta percaya dan berserah hanya kepada-Nya. Berdasarkan perjanjian kasih itu, kita pun bertanggung jawab terhadap sesama manusia dan alam ciptaan Tuhan. Itulah respons iman kita kepada Allah, dan buah yang akan kita petik dari respons iman itu ialah hidup bersukacita.

Doa : Terima Kasih Tuhan atas Pemeliharaan-Mu bagi hidup kami. Amin.

Sabtu, 19 Juni 2021                                

bacaan : Keluaran 19 : 14 – 25

14 Lalu turunlah Musa dari gunung mendapatkan bangsa itu; disuruhnyalah bangsa itu menguduskan diri dan merekapun mencuci pakaiannya. 15 Maka kata Musa kepada bangsa itu: "Bersiaplah menjelang hari yang ketiga, dan janganlah kamu bersetubuh dengan perempuan." 16 Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan. 17 Lalu Musa membawa bangsa itu keluar dari perkemahan untuk menjumpai Allah dan berdirilah mereka pada kaki gunung. 18 Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat. 19 Bunyi sangkakala kian lama kian keras. Berbicaralah Musa, lalu Allah menjawabnya dalam guruh. 20 Lalu turunlah TUHAN ke atas gunung Sinai, ke atas puncak gunung itu, maka TUHAN memanggil Musa ke puncak gunung itu, dan naiklah Musa ke atas. 21 Kemudian TUHAN berfirman kepada Musa: "Turunlah, peringatkanlah kepada bangsa itu, supaya mereka jangan menembus mendapatkan TUHAN hendak melihat-lihat; sebab tentulah banyak dari mereka akan binasa. 22 Juga para imam yang datang mendekat kepada TUHAN haruslah menguduskan dirinya, supaya TUHAN jangan melanda mereka." 23 Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: "Tidak akan mungkin bangsa itu mendaki gunung Sinai ini, sebab Engkau sendiri telah memperingatkan kepada kami, demikian: Pasanglah batas sekeliling gunung itu dan nyatakanlah itu kudus." 24 Lalu TUHAN berfirman kepadanya: "Pergilah, turunlah, kemudian naiklah pula, engkau beserta Harun; tetapi para imam dan rakyat tidak boleh menembus untuk mendaki menghadap TUHAN, supaya mereka jangan dilanda-Nya." 25 Lalu turunlah Musa mendapatkan bangsa itu dan menyatakan hal itu kepada mereka.

ALAM SEBAGAI BUKTI KEMAHAKUASAAN TUHAN

Kedatangan Tuhan semakin dekat dan bangsa Israel diminta untuk bersiap diri serta menjaga kekudusan hidup mereka. Guruh, kilat, awan padat dan bunyi sangkakala adalah tanda-tanda alam yang menyertai kedatangan Tuhan. Manifestasi atau wujud yang menandakan kedatangan Tuhan ini sangat mengagumkan dan memiliki beberapa tujuan, yakni: (1). Menunjukkan kekudusan, kuasa dan kemahatinggian Allah, (2). Membangkitkan Iman kepada Allah, (3). Menekankan kepada umat bahwa hukuman dan kematian akan menjadi akibat dari ketidaktaatan yang disengaja kepada Allah. Musa membawa bangsa Israel keluar untuk menjumpai Allah di Gunung Sinai, dan Allah memperingatkan agar mereka tidak melihat-Nya sebab akan binasa. Bahkan Para Imam pun haruslah hidup dalam kekudusan agar dapat melihat Allah. Mereka hanya menyaksikan kemahakuasaan Tuhan Allah lewat berbagai tanda-tanda alam.  Mengalami kemahakuasaan Tuhan tidak hanya sebatas perjumpaan ritual saja, namun lewat berbagai peristiwa alam, kita juga mampu melihat akan kemahakuasaan Tuhan. Allah yang Maha Kuasa itu memberikan kenyamanan kepada kita lewat lingkungan tempat tinggal kita, ciptaan lain yang menjadi sahabat dan penyokong kebutuhan hidup serta iklim yang bersahaja untuk melakukan aktifitas. Tidak jarang juga, karena kelalaian dan keserakahan manusia, maka alam juga dapat membahayakan kehidupan kita lewat berbagai bencana. Semua itu adalah bukti kemahakuasaan Tuhan di Bumi ini dan karena itu tidak ada seorang pun manusia yang dapat melawan kemahakuasaan Tuhan lewat berbagai prediksi dan kecanggihan teknologi. Sebab kita tidak dapat melihat Tuhan jikalau tidak menjaga kekudusan hidup kita.

Doa: Kuduskanlah kehidupan kami Tuhan, agar layak melihat Kuasa dan          Kebesaran-Mu. Amin.

*sumber : SHK Juni 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 6 – 12 Juni 2021

Tema Mingguan : ” TUHAN MENCIPTAKAN SEGALA SESUATU BAIK ADANYA “

Minggu, 06 Juni 2021                                  

bacaan : Kejadian 1 : 1 – 31    

Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. 2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. 3 Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi. 4 Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. 5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. 6 Berfirmanlah Allah: "Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air." 7 Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian. 8 Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua. 9 Berfirmanlah Allah: "Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering." Dan jadilah demikian. 10 Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 11 Berfirmanlah Allah: "Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi." Dan jadilah demikian. 12 Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 13 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga. 14 Berfirmanlah Allah: "Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun, 15 dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi." Dan jadilah demikian. 16 Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang. 17 Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi, 18 dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 19 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat. 20 Berfirmanlah Allah: "Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala." 21 Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 22 Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: "Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak." 23 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima. 24 Berfirmanlah Allah: "Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar." Dan jadilah demikian. 25 Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." 27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." 29 Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. 30 Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya." Dan jadilah demikian. 31 Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

TUHAN MENCIPTAKAN SEGALA SESUATU BAIK ADANYA

Menyatulah dengan alam, cobalah selami cara alam bergerak dan bereaksi, sayangilah ia. Setelah itu baru namakan dirimu manusia” (Jerinx). Kata bijak ini mengingatkan kita untuk menyayangi alam semesta ciptaan Tuhan, seperti diri sendiri.  Memang Tuhan telah menciptakan langit, bumi dan seluruh isinya  sebagai tanda kehadiran Allah. Cerita tentang Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya adalah sebuah pengakuan bahwa langit dan bumi beserta isinya diciptakan oleh Tuhan. Pekerjaan penciptaan itu telah direncanakan dengan sangat baik, dimulai dari tidak ada, kosong dan belum berbentuk, tetapi ada Roh Allah yang melayang – layang di atas permukaan air. Dengan firman-Nya Allah menciptakan terang; cakrawala; lautan dan daratan; segala jenis tumbuhan; benda penerang  penanda malam dan siang; segala makhluk hidup di air dan lautan, segala jenis burung di udara; segala ternak dan binatang liar dan melata. Ketika Allah melihat semuanya baik, maka Allah menciptakan manusia pada hari yang terakhir dan memberi tanggungjawab kepada manusia untuk memelihara, mengusahakan, menjaga dan melestarikan semua ciptaan Allah. Jika Allah yang menciptakan langit, bumi dan segala isinya dengan baik, dan Allah mengasihinya sebagai miliknya yang sangat berharga, bagaimana mungkin manusia merusakannya dengan berbagai perbuatan yang menyebabkan ciptaan Allah itu menjadi tidak baik. Lingkungan yang kotor, banjir, longsor, dan bencana alam lainnya adalah tangisan alam yang disakiti oleh manusia. Alam yang rusak dan sakit, akan menyebabkan hidup manusia juga menjadi terancam, karena itu mulailah mengasihi dan bersahabat dengan alam, pelihara dan rawatlah dengan baik, semua itu untuk kehidupan kita dan anak cucu kita ke depan.    

Doa : Tuhan, tolonglah kami untuk memelihara dan merawat bumi  ciptaan- Mu, untuk hidup kami dan anak cucu kami, Amin.

Senin, 7 Juni 2021                                    

bacaan : Mazmur 89 : 11 – 12

10 (89-11) Engkaulah yang meremukkan Rahab seperti orang terbunuh, dengan lengan-Mu yang kuat Engkau telah mencerai-beraikan musuh-Mu. 11 (89-12) Punya-Mulah langit, punya-Mulah juga bumi, dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya.

KEBAIKAN TUHAN MELALUI CIPTAAN-NYA

Saat ini banyak orang mengunjungi tempat-tempat wisata untuk refresing atau bersantai, karena di situ kita akan menyaksikan keindahan alam ciptaan Tuhan yang menimbulkan rasa takjub dan kagum atas karya Ilahi yang mesti kita lestarikan untuk generasi kita. Kekaguman dan pengakuan inipun lahir dari pemazmur dalam bacaan kita di hari ini, dengan menegaskan bahwa langit, bumi beserta isinya diciptakan dan didasari oleh Tuhan Allah dengan sangat baik dan sempurna. Ditegaskan oleh pemazmur bahwa semua yang diciptakan oleh Tuhan, diperuntukkan kepada manusia, menunjukkan kebaikan dan cinta kasih Tuhan kepada umat manusia termasuk juga pemazmur. Itulah sebabnya pemazmur memuji dan memuliakan Tuhan karena kebaikan cinta kasih-Nya. Pemazmur mau menceritakan dan menyaksikan kebaikan Tuhan itu didalam seluruh kehidupannya. Demikianpun kita sebagai keluarga Allah : opa, oma, papa, mama dan anak-anak yang mengagumi dan mengakui akan kebesaran cinta kasih Tuhan yang selalu nyata dalam kehidupan kita sekeluarga. Apalagi ditengah pergumulan serta tantangan pandemic Covid-19 yang masih mewarnai kehidupan kita, serta juga berbagai masalah yang terus kita hadapi setiap saat. Ketika kita menghirup udara segar secara gratis, menikmati cahaya matahari untuk menguatkan imun tubuh, hendaknya mengingatkan kita akan kebesaran dan kemahakuasaan Ilahi yang mesti disyukuri setiap saat.  Hendaknya kita juga menceriterakan dan menyaksikan cinta kasih Tuhan melalui sikap dan perilaku hidup kita, dengan berbagi kasih dan sukacita bagi semua orang yang membutuhkannya. Sehingga kehidupan di alam ciptaan ini selalu dipenuhi dengan kemuliaan cinta kasih Allah bagi semua makhluk ciptaan.  

Doa : Terima kasih Tuhan untuk kebaikan cinta kasih-Mu bagi kami yang selalu nyata dalam hidup ini melalui alam ciptaan-Mu. Amin.-

        

Selasa, 8 Juni 2021                                    

bacaan : Mazmur 96 : 1 – 6

Allah, Tuhan dan Hakim seluruh dunia
Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! 2 Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. 3 Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa. 4 Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah. 5 Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi Tuhanlah yang menjadikan langit. 6 Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya.

NYANYIAN SYUKUR ATAS BERKAT TUHAN

Sebuah legenda Yahudi kuno mengisahkan bahwa setelah menciptakan dunia, Allah memanggil para malaikat dan menanyakan pendapat mereka. Salah satu malaikat berkata: “Ada satu yang kurang, yaitu suara pujian bagi Sang Pencipta”. Maka Allah pun menciptakan musik yang terdengar melalui desiran angin dan nyanyian burung. Allah juga memberikan karunia pujian bagi manusia. Sepanjang masa nyanyian dan musik telah memberkati banyak orang. Nyanyian pujian kepada Allah untuk memuliakan Nama-Nya, serta menghibur dan menguatkan kita sebagai umat manusia. Itulah sebabnya pemazmur mengajak umat Tuhan dan kita semua untuk menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan. Nyanyian baru adalah ungkapan syukur atas berkat Tuhan, penyertaan dan tuntunan-Nya bagi kita semua. Menyanyi untuk Tuhan, memuji dan memuliakan nama-Nya melalui seluruh sikap serta perilaku hidup kita. Mengapa kita kita harus menyanyi dan memuji Tuhan? Pemazmur katakan, Tuhan Maha Besar dan sangat terpuji, IA lebih dahsyat dari segala allah. Itulah sebabnya kesaksian pemazmur ini mengajak kita sekeluarga untuk menyanyi dan memuji serta memuliakan Tuhan melalui seluruh sikap dan perilaku hidup kita. Kita memuji dan memuliakan Tuhan bukan supaya Dia baik, tetapi karena Dia baik. Bukan supaya Tuhan menolong kita, tetapi karena Dia justru telah menolong kita. Bukan supaya Tuhan tampak agung dan mulia, namun Dia memang benar-benar agung dan mulia. Tanpa nyanyian serta puji-pujian kita, keagungan dan kemuliaan Tuhan tidak akan berkurang sedikitpun. Artinya keagungan dan kemuliaan Tuhan tidak ditentukan dari puji-pujian kita. Namun sebagai orang yang telah menikmati keselamatan dalam Tuhan Yesus, kita patut bersyukur dan memuliakan Tuhan, atas kebesaran cinta kasih-Nya bagi kita.   

Doa : Tuhan kami mau menyanyi dan memuji-Mu melalui seluruh hidup kami, sebagai kesaksian akan kebesaran cinta kasih-Mu. Amin.-

Rabu, 9 Juni 2021                                          

bacaan : Mazmur 102 : 26

26) Dahulu sudah Kauletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.

KEBAIKAN TUHAN MENJADI NYATA DI ALAM CIPTAAN-NYA

Ada ungkapan “di atas langit ada langit”. Ungkapan ini bisa dibuktikan ketika kita berada dalam ruang cabin pesawat terbang dan terasa sudah di atas langit, ternyata ketika kita melihat ke atas dari cabin pesawat tersebut masih juga ada langit. Dengan memandang kondisi tersebut, maka sebuah pengakuan bahwa betapa besar kemahakuasaan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Betapa kecilnya kita sebagai manusia di hadapan kemahakuasaan ciptaan Tuhan itu. Pemazmur menegaskan hal tersebut dalam bacaan kita bahwa sejak dahulu Tuhan telah meletakkan dasar bumi melalui penciptaan-Nya dan langit adalah  buatan tangan-Nya. Langit yang tak berbatas sebagai bukti kebaikan dan cinta kasih Tuhan yang juga tiada berbatas. Serta bumi yang telah diletakkan dasarnya oleh Tuhan sebagai karya ciptaan yang ajaib dari sang Ilahi adalah tempat hunian dan berpijak kita sebagai manusia. Itu berarti kebesaran kuasa Tuhan dalam menciptakan langit dan bumi dari belum berbentuk dan kosong (Ibrani “tohu wabohu”), menjadi ada dan nyata serta baik adanya. Tindakan Allah ini menunjuk kepada hakekat Allah yang tetap mengasihi melalui seluruh alam ciptaan-Nya. Apapun situasi dan kondisi dunia serta alam yang menantang dan mengancam, tidak akan menyurutkan dan mengurangi besarnya cinta kasih Tuhan bagi kita sebagai manusia ciptaan-Nya. Ditengah ancaman pandemic Covid-19 ini, kita yakin dan percaya bahwa perlindungan dan kemahakuasaan Tuhan akan selalu nyata dan hadir dalam seluruh kehidupan kita. Untuk itu sebagai keluarga hendaknya kita bersyukur atas cinta kasih Tuhan melalui alam ciptaan-Nya dengan segala kelimpahan dan keindahan serta keunikannya yang mesti kita jaga, rawat dan lestarikan kepada generasi kita.

Doa : Terima kasih Tuhan untuk alam ciptaan-Mu sebagai wujud cinta kasih- Mu yang besar dan melimpah bagi kehidupan kami. Amin.-

Kamis, 10 Juni 2021                                       

bacaan : Mazmur 33 : 5 – 9

5 Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN. 6 Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya. 7 Ia mengumpulkan air laut seperti dalam bendungan, Ia menaruh samudera raya ke dalam wadah. 8 Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia! 9 Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.

FIRMAN TUHAN MEMBERI KEHIDUPAN

Kebesaran Tuhan dinyatakan melalui karya penciptaan langit dan bumi serta segala isinya yang disaksikan oleh pemazmur dalam bacaan  firman Tuhan di hari ini. Pemazmur menegaskan bahwa dengan berfirman, Tuhan menjadikan langit, bumi  dan seluruh isinya. Melalui perintah Tuhan, maka semuanya ada, sebuah penegasan yang menggambarkan betapa berkuasanya Tuhan bahwa melalui firman yang keluar dari mulut-Nya, maka yang tidak ada menjadi ada, kacau balau menjadi teratur, gelap menjadi terang, tidak baik menjadi baik. Itu berarti betapa pentingnya firman Tuhan yang menjadi pelita dan terang pada jalan kita sebagai orang percaya untuk melakukan kebaikan dalam kehidupan bersama dengan semua makhluk. Sebagai keluarga Allah : opa, oma, papa, mama dan anak-anak hendaknya mengawali aktivitas setiap hari dengan memohon tuntunan Roh Kudus untuk membaca dan merenungan firman Tuhan sebagai kekuatan dan penuntun dalam kehidupan kita. Saat kita membaca firman Tuhan, maka Tuhan pun sedang berkarya dalam hidup kita. Semakin sering kita membaca firman Tuhan, maka semakin banyak hal baik yang kita lakukan bagi kehidupan kita serta juga untuk semua ciptaan di alam semesta. Menurut penelitian, jika kita sedang membaca firman Tuhan, maka tubuh kita sedang mengalami pemulihan. Jantung, hati, pikiran dan bagian tubuh yang lain akan mengalami pemulihan saat kita membaca, merenungan serta menghayati firman Tuhan. Apalagi jika firman Tuhan kita lakukan maka kehidupan yang diberkati Tuhan di alam ciptaan ini akan selalu nyata. 

Doa : Tuhan, terima kasih untuk firman-Mu yang telah menjadi segala sesuatu bagi kami. Mampukan kami untuk melakukan firman-Mu dalam seluruh kehidupan kami, amin

Jumat, 11 Juni 2021                                    

bacaan : Mazmur 146 : 1 – 6

Hanya Allah satu-satunya penolong
Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku! 2 Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada. 3 Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. 4 Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya. 5 Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: 6 Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya,

MEMUJI TUHAN ATAS KEBAIKANNYA

Ada sebuah kesaksian seorang anak Tuhan yang belajar bertumbuh dan mengenal serta membangun hubungan yang intim dan khusus dengan Tuhan. Dalam kesaksiannya bahwa setiap pagi dia mengambil waktu saat teduh untuk berkomunikasi dalam doa dan puji-pujian dengan Tuhan. Anak Tuhan inipun mengkritik ibu-ibu dan anak – anak yang mengawali pagi bukan dengan saat teduh dan doa, tetapi membuka HP mencari pesan – pesan di FB dan WhatsApp. Dia juga mengkritik bapak-bapak yang pagi-pagi tidak bersaat teduh dan berdoa, tetapi mencari sisa rokok yang semalam tidak sempat dihabiskan. Anak Tuhan yang setia dan taat mencari Tuhan selama hidupnya, menceritakan dan menyaksikan bahwa ia mengalami cinta kasih Tuhan yang besar dan ajaib dalam seluruh perjalanan kehidupan keluarganya. Hal ini sejalan dengan kesaksian pemazmur yang selalu memuji Tuhan selama hidupnya sebab pemazmur mengalami jamahan tangan kasih Tuhan yang ajaib dalam kehidupannya. Kuasa dan cinta kasih Tuhan yang tidak berbanding dengan apapun dalam hidup ini termasuk juga manusia dengan segala kekuatan dan kuasa mereka. Sebab bagi pemazmur kuasa dan kekuatan manusia itu terbatas dan sia-sia. Penegasan pemazmur dan kesaksian anak Tuhan ini hendaknya menjadi teladan bagi kita sebagai keluarga Allah bahwa memuji dan memuliakan Tuhan Allah yang telah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya adalah hal penting yang mesti kita lakukan setiap waktu. Setiap pagi hendaknya kita meluangkan waktu bersaat teduh dan berdoa untuk Tuhan yang punya hidup ini. Kalaupun langit dan bumi serta segala isinya telah diciptakan dengan baik dan penuh kuasa oleh Tuhan, masakan masalah dan tantangan yang kita hadapi tidak bisa diatasi dan diselesaikan oleh Tuhan ? Yakin dan percayalah !

Doa : Tuhan kami memuji dan memuliakan-Mu sebab Engkau selalu menuntun, menyertai dan memberkati seluruh kehidupan kami. Amin.-

Sabtu, 12 Juni 2021                                           

bacaan : Kejadian 2 : 1 – 3

Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. 2 Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. 3 Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.

ADA WAKTU UNTUK BERISTIRAHAT DAN MEMULIAKAN TUHAN

Hari ini kita berada di akhir usbu setelah sepekan bergumul dalam berbagai aktivitas pekerjaan, usaha serta pendidikan anak-anak. Besok hari minggu sebagai hari sabat yang dikuduskan Tuhan bagi kita semua sebagai umat-Nya untuk beribadah di rumah-rumah gereja. Hal ini sejalan dengan kesaksian firman Tuhan yang menyatakan bahwa pada hari yang ketujuh Tuhan memberkati dan menguduskannya setelah enam hari lamanya Tuhan menciptakan langit dan bumi serta segala isinya termasuk didalamnya manusia. Kesaksian firman Tuhan ini mau menegaskan bahwa Tuhan Allah pun menyediakan waktu untuk berhenti dan beristirahat dari seluruh proses pekerjaan penciptaan yang dilakukan-Nya. Tuhan  telah mengatur dengan baik segala waktu yang menjadi anugerah itu bagi kita, bahwa ada waktu untuk bekerja maka ada waktu juga untuk beristirahat. Enam hari Tuhan sudah memberikan bagi untuk bekerja, berusaha, belajar dan di hari yang ketujuh Tuhan menguduskannya, dan hal itu mesti kita mematuhinya dengan membangun persekutuan dalam ibadah minggu bersama dengan Tuhan. Sejauhmana waktu beristirahat kita gunakan sebaik mungkin, teristimewa untuk memuliakan Tuhan ataukah waktu tersebut kita prioritaskan untuk bersantai, piknik atau mengerjakan pekerjaan tersisa yang belum selesai ? Demikian pun hal ini  terkait dengan tanggung jawab kita kepada alam semesta. Ketika kita mengelolanya maka mesti ada waktu untuk berisitirahat bagi alam ini. Jangan sampai kita menguras alam ini dengan serakah dan tidak memberi waktu istirahat yang akan berdampak kepada generasi kita. Hal ini mesti menjadi perhatian kita bersama dan dengan kesungguhan hati kita mewujudkannya demi hormat serta kepujian nama Tuhan serta kehidupan semua ciptaan yang diberkati.  

Doa : Terima kasih Tuhan atas teladan-Mu bagi kami untuk beristirahat dan menyediakan waktu  bersekutu dan memuliakan Nama-Mu, Amin.-

*SUMBER : SHK BULAN JUNI 2021 LPJ-GPM

        

Santapan Harian Keluarga, 30 Mei – 5 Juni 2021

Tema Mingguan : ” Roh Kudus Memberi Kekuatan Untuk Menyatakan Pelanggaran dan Dosa.

Minggu, 30 Mei 2021 

bacaan : Mikha  3 : 5 – 8  

5 Beginilah firman TUHAN terhadap para nabi, yang menyesatkan bangsaku, yang apabila mereka mendapat sesuatu untuk dikunyah, maka mereka menyerukan damai, tetapi terhadap orang yang tidak memberi sesuatu ke dalam mulut mereka, maka mereka menyatakan perang. 6 Sebab itu hari akan menjadi malam bagimu tanpa penglihatan, dan menjadi gelap bagimu tanpa tenungan. Matahari akan terbenam bagi para nabi itu, dan hari menjadi hitam suram bagi mereka. 7 Para pelihat akan mendapat malu dan tukang-tukang tenung akan tersipu-sipu; mereka sekalian akan menutupi mukanya, sebab tidak ada jawab dari pada Allah. 8 Tetapi aku ini penuh dengan kekuatan, dengan Roh TUHAN, dengan keadilan dan keperkasaan, untuk memberitakan kepada Yakub pelanggarannya dan kepada Israel dosanya.

NYATAKANLAH KEHENDAK TUHAN DALAM HIDUP-MU

Bacaan kita hari ini menceriterakan kesaksian nabi Mikha tentang perilaku buruk baik dari umat, nabi, maupun pemimpin Israel. Umat Israel bukannya beribadat dan taat kepada Tuhan, mereka justeru menyembah ilah lain. Para pemimpin menipu dan merampok orang miskin sedangkan para nabi salah menggunakan jabatan. Nabi-nabi berpihak kepada orang kaya dan berlaku tidak adil kepada orang miskin. Mikha berbeda dengan nabi lain pada waktu itu. Nabi yang lain itu menubuatkan apa yang ingin didengar umat agar mereka mendapat bayaran. Seorang nabi harus menubuatkan apa yang Tuhan kehendaki, termasuk menyatakan kesalahan dan penghukuman. Mereka menubuatkan yang menyenangkan umat supaya dengan begitu mereka dibayar. Nabi-nabi tersebut tidak memperjuangkan kehendak Tuhan tetapi kepentingan diri sendiri. Mereka bernubuat agar mendapat bayaran bukan supaya kehendak Tuhan dinyatakan. Nubuatan Mikha datang langsung dari Roh Tuhan, yang merupakan kehadiran dan kuasa Allah. Ia bukanlah nabi yang menyesatkan umat, sebab ia mengingatkan umat tentang bagaimana hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Umat harus hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, agar tidak mendapat hukuman. Para pemimpin harus berlaku adil dan membela orang miskin. Hal senada pun haruslah diperankan para pemimpin dalam kehidupan keluarga, gereja dan masyarakat, mereka tidak boleh memakai jabatan kepemimpinan untuk memperkaya diri sendiri dan mengorbankan kehendak Tuhan.

Doa: Ya Tuhan, kuatkan kami untuk menyatakan kehendak-Mu.  Amin.

Senin, 31 Mei   2021                                    

bacaan : Yakobus 5 : 19 – 20

19 Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik, 20 ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.

IMAN BERARTI BERTINDAK

Kita sungguh bersyukur dapat menjalani dan beraktifitas sampai di hari terakhir bulan ini. Bulan ini kita akhiri dengan menyimak pesan pemberitaan Yakobus. Ia menasihati jemaat Kristen untuk menjaga iman mereka agar tetap hidup. Iman yang hidup berarti bertindak dengan cara teruslah bersabar, jadilah orang yang berbelas kasih, dan berdoalah dengan tidak henti. Orang Kristen diminta bersabar menanti kedatangan Tuhan. Yakobus melarang orang Kristen untuk bersumpah, tetapi memberi anjuran agar berdoa bagi orang lain, terutama bagi mereka yang telah menyimpang ke jalan yang sesat. Keselamatan haruslah diwujudkan dalam perbuatan baik, supaya iman tetap hidup. Ia juga menegaskan bahwa kesalahan atau dosa bukanlah akhir hidup, sebab akan selalu terbuka pengampunan Allah. Karena itu marilah kita akhiri bulan ini dengan semangat menanti kedatangan Tuhan, terus peduli dengan orang lain, tidak menolak orang yang salah atau berdosa, sambil terus menjaga hidup agar tidak melakukan kesalahan atau dosa. Yakinlah bahwa Tuhan selalu menyatakan kebaikan, Ia mengampuni dan memulihkan. Berusahalah untuk memberi diri atau hidup untuk diatur, dan dikasihi Tuhan, melalui nasihat, teguran dan kepedulian orang lain. Hanya dengan demikian iman kita tidak akan mati. Ingatlah selalu pesan utama Yakobus, iman tanpa perbuatan adalah mati. Kita diminta berbuat baik bukan untuk diselamatkan, tetapi sebaliknya kita berbuat baik karena sudah diselamatkan. Perbuatan baik bukanlah sebab untuk memperoleh keselamatan, melainkan akibat dari keselamatan yang sudah dianugerahkan. Orang Kristen berbuat baik bukan untuk memperoleh balas jasa, sebab keselamatan adalah kasih karunia Allah, bukan usaha manusia.

Doa:  Tuhan mampukanlah  kami untuk beriman lewat perbuatan , Amin!

Selasa, 01 Juni 2021                          

bacaan : Yehezkiel 11 : 5 – 12  

5 Maka Roh TUHAN meliputi aku dan TUHAN berfirman kepadaku: "Katakanlah: Beginilah firman TUHAN: Kamu berkata-kata begini, hai kaum Israel, dan Aku tahu apa yang timbul dalam hatimu. 6 Orang-orang yang kamu bunuh di kota ini bertambah banyak dan kamu penuhi jalan-jalannya dengan mereka. 7 Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Orang-orang yang kamu bunuh di kota ini, merekalah dagingnya dan kota inilah periuk, tetapi kamu akan Kugiring keluar dari dalamnya. 8 Kamu takut kepada pedang, tetapi Aku akan mendatangkan pedang atasmu, demikianlah firman Tuhan ALLAH. 9 Aku akan menggiring kamu keluar dari dalamnya dan menyerahkan kamu di tangan orang-orang asing dan menjatuhkan hukuman-hukuman kepadamu. 10 Kamu akan berebahan karena pedang dan di tanah Israel Aku akan menghukum kamu; dan kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN. 11 Kota ini tidak akan menjadi periuk bagimu ataupun kamu seakan-akan daging di dalamnya; di tanah Israel Aku akan menghukum kamu. 12 Dan kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, karena kelakuanmu tidak selaras dengan ketetapan-ketetapan-Ku dan peraturan-peraturan-Ku tidak kamu lakukan; bahkan engkau melakukan peraturan-peraturan bangsa-bangsa yang di sekitarmu."

RENDAHKANLAH DIRIMU DIHADAPAN ALLAH

Setiap orang  tidak pernah luput dari berbuat kesalahan dan dosa. Pernahkah kita menyadari, berapa banyak kesalahan yang telah kita perbuat setiap hari terhadap sesama kita, baik secara sengaja maupun tanpa sengaja? Orang sering mengidentikan kesalahan dan dosa adalah ketika orang melakukan tindakan kriminal berat, seperti: membunuh, mencuri, ataupun berzinah. Namun bagaimana dengan orang yang suka berbohong, menghina, memfitnah, membenci, menyakiti hati orang lain dengan sikap dan ucapannya? Walaupun demikian, tidak banyak orang yang mau menyadari diri dan mengakui segala kesalahannya. Hal ini disebabkan karena gengsi dan  selalu merasa diri benar. Dalam kitab Yehezkiel 11 : 5 – 12, dikisahkan tentang para pemimpin Israel antara lain Yaazanya bin Azur dan Pelaca bin Benaya, yang selalu merasa diri mereka benar. Bahkan ketika umat Israel ditawan ke Babel, para pemimpin ini tetap bertahan di Yerusalem dan menganggap diri mereka sebagai orang – orang benar dan tidak mau mendengar nasehat nabi Yehezkiel. Mereka menyebut diri mereka sebagai “daging pilihan..”  Padahal mereka justru melakukan berbagai perbuatan jahat dengan membunuh penduduk kota itu. Hukuman Tuhan senantiasa berlaku bagi orang – orang yang menyimpang dari ketetapan-Nya, siapapun mereka, apakah orang terkemuka, para pemimpin, sampai dengan masyarakat biasa. Karena itu hendaklah setiap orang menyadari dirinya dan bertobat, sehingga Allah akan mengampuni segala dosanya dan memulihkan hidupnya. Sebagai orang percaya, kitapun diharapkan selalu membuka diri memaknai teguran Tuhan memohonkan ampunan-Nya dan memberi dibarui oleh-Nya. Hanya dengan demikian kita akan menikmati hidup yang diberkati oleh Tuhan.

Doa : Tuhan, ampunilah dosa kami dan baruilah hidup kami, Amin.

Rabu, 02 Juni 2021                              

bacaan : 1 Samuel 2 : 27 – 36      

Nubuat tentang Eli dan kaum keluarganya
27 Seorang abdi Allah datang kepada Eli dan berkata kepadanya: "Beginilah firman TUHAN: Bukankah dengan nyata Aku menyatakan diri-Ku kepada nenek moyangmu, ketika mereka masih di Mesir dan takluk kepada keturunan Firaun? 28 Dan Aku telah memilihnya dari segala suku Israel menjadi imam bagi-Ku, supaya ia mempersembahkan korban di atas mezbah-Ku, membakar ukupan dan memakai baju efod di hadapan-Ku; kepada kaummu telah Kuserahkan segala korban api-apian orang Israel. 29 Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel? 30 Sebab itu--demikianlah firman TUHAN, Allah Israel--sesungguhnya Aku telah berjanji: Keluargamu dan kaummu akan hidup di hadapan-Ku selamanya, tetapi sekarang--demikianlah firman TUHAN--:Jauhlah hal itu dari pada-Ku! Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah. 31 Sesungguhnya akan datang waktunya, bahwa Aku akan mematahkan tangan kekuatanmu dan tangan kekuatan kaummu, sehingga tidak ada seorang kakek dalam keluargamu. 32 Maka engkau akan memandang dengan mata bermusuhan kepada segala kebaikan yang akan Kulakukan kepada Israel dan dalam keluargamu takkan ada seorang kakek untuk selamanya. 33 Tetapi seorang dari padamu yang tidak Kulenyapkan dari lingkungan mezbah-Ku akan membuat matamu rusak dan jiwamu merana; segala tambahan keluargamu akan mati oleh pedang lawan. 34 Inilah yang akan menjadi tanda bagimu, yakni apa yang akan terjadi kepada kedua anakmu itu, Hofni dan Pinehas: pada hari yang sama keduanya akan mati. 35 Dan Aku akan mengangkat bagi-Ku seorang imam kepercayaan, yang berlaku sesuai dengan hati-Ku dan jiwa-Ku, dan Aku akan membangunkan baginya keturunan yang teguh setia, sehingga ia selalu hidup di hadapan orang yang Kuurapi. 36 Kemudian siapa yang masih tinggal hidup dari keturunanmu akan datang sujud menyembah kepadanya meminta sekeping uang perak atau sepotong roti, dan akan berkata: Tempatkanlah kiranya aku dalam salah satu golongan imam itu, supaya aku dapat makan sekerat roti."

SALING MENEGUR UNTUK HIDUP YANG LEBIH BAIK

Teguran dan nasehat dari orang tua kepada anak – anak untuk membimbing mereka menapaki perjalanan hidup ke depan adalah wujud dari perhatian dan kasih sayang orang tua yang tidak menghendaki anak – anaknya binasa. Namun jika anak – anak tidak mau mendengar nasehat orang tua dan senang melakukan perbuatan jahat yang meresahkan banyak orang dan menyakiti hati Tuhan, maka Tuhan pasti akan menegur dengan cara Tuhan untuk menyadarkan mereka. Hal ini terjadi dalam kehidupan imam Eli dan kedua anaknya Hofni dan Pinehas yang ikut melayani di Bait Allah. Dikisahkan bahwa apabila umat yang datang membawa  persembahan korban sembelihan kepada Tuhan, kedua anak itu akan mengambilnya untuk dimakan (1Sam.2:12-13). Apabila umat tidak mau memberikan persembahan korban itu kepada mereka, maka mereka dapat mengambilnya dengan cara kekerasan (1Sam.2: 16). Kedua anak Imam Eli itu tidak hanya mengambil apa yang menjadi hak Tuhan, mereka juga melakukan banyak kejahatan kepada sesamanya. Apa yang dilakukan oleh kedua anak Imam Eli, sangat meresahkan hati umat yang datang beribadah di Silo. Sebagai orangtua, imam Eli sadar bahwa apa yang dilakukan oleh kedua anaknya itu tidak hanya meresahkan umat, tetapi juga menyakiti hati Tuhan, dan ia menasehati mereka. Namun kedua anaknya yang masih muda itu tidak mau mendengarkan apa yang menjadi nasihat Eli sebagai orang tua mereka (1Sam 2:24-25).

Sebab itulah Tuhan Allah mengutus seorang abdi Allah untuk menegur mereka, bahkan menyampaikan hukuman yang akan diberikan oleh Tuhan kepada mereka jika tidak bertobat. Sebagai orang percaya, kita pun diberi tanggungjawab untuk saling menegur dan menasehati untuk hidup yang lebih baik.

Doa : Tuhan berilah Roh Kudus-Mu untuk menuntun kami, Amin.

Kamis, 03 Juni 2021                            

bacaan : 2 Tawarikh 24 : 15 – 22

15 Yoyada menjadi tua, dan lanjut umur, lalu matilah ia. Seratus tiga puluh tahun umurnya ketika ia mati. 16 Ia dikuburkan di kota Daud di samping raja-raja, karena perbuatan-perbuat yang baik di Israel terhadap Allah dan rumah-Nya. 17 Sesudah Yoyada mati, pemimpin-pemimpin Yehuda datang menyembah kepada raja. Sejak itu raja mendengarkan mereka. 18 Mereka meninggalkan rumah TUHAN, Allah nenek moyang mereka, lalu beribadah kepada tiang-tiang berhala dan patung-patung berhala. Oleh karena kesalahan itu Yehuda dan Yerusalem tertimpa murka. 19 Namun TUHAN mengutus nabi-nabi kepada mereka, supaya mereka berbalik kepada-Nya. Nabi-nabi itu sungguh-sungguh memperingatkan mereka, tetapi mereka tidak mau mendengarkannya. 20 Lalu Roh Allah menguasai Zakharia, anak imam Yoyada. Ia tampil di depan rakyat, dan berkata kepada mereka: "Beginilah firman Allah: Mengapa kamu melanggar perintah-perintah TUHAN, sehingga kamu tidak beruntung? Oleh karena kamu meninggalkan TUHAN, Iapun meninggalkan kamu!" 21 Tetapi mereka mengadakan persepakatan terhadap dia, dan atas perintah raja mereka melontari dia dengan batu di pelataran rumah TUHAN. 22 Raja Yoas tidak mengingat kesetiaan yang ditunjukkan Yoyada, ayah Zakharia itu, terhadap dirinya. Ia membunuh anak Yoyada itu, yang pada saat kematiannya berseru: "Semoga TUHAN melihatnya dan menuntut balas!"

JADILAH SETIA, BAIK ATAU TIDAK BAIK WAKTUNYA

Beta ini sebenarnya orang baik, tapi keadaan biking beta tidak baik. Hari ini beta baik, esok lusa tidak baik, jadi sebenarnya beta tidak baik”, demikian salah satu lirik lagu Ambon, yang mengungkapkan sebuah pengakuan  bahwa seseorang menjadi baik tergantung keadaan. Seseorang akan melakukan kebaikan, jika ia mendapat keuntungan daripadanya. Tetapi jika ia dipengaruhi dengan jaminan keuntungan, kedudukan, jabatan, maka ia akan melakukan apapun termasuk melakukan hal yang tidak benar. Hal ini juga terjadi pada raja Yoas, ketika ia memerintah di zaman imam Yoyada, Yoas melakukan banyak perbuatan baik, seperti memperbaiki Rumah Tuhan, mengatur peribadahan, dan mengajak umat untuk beribadah kepada Allah Israel. Namun ketika imam Yoyada mati, raja Yoas dipengaruhi oleh para pemimpin Yehuda untuk berbalik menyembah kepada patung – patung berhala dan akhirnya Yoas meninggalkan ibadahnya kepada Allah. Yoas bahkan membunuh Zakharia , anak imam Yoyada yang memperingatkan raja. “…..oleh karena engkau meninggalkan Tuhan, Ia pun meninggalkan kamu”. Demikian peringatan Zakharia yang kemudian menjadi kenyataan karena raja Yoas tidak berbalik kepada Allah. Dalam kehidupan orang percaya, kita diingatkan oleh firman Tuhan untuk tetap setia dalam iman kepada Yesus, apapun keadaannya. Namun dalam kenyataannya, kita sering berbalik tidak setia dan megecewakan Tuhan, ketika ada godaan kepentingan diri, kenikmatan sesaat,  yang menyebabkan kita berbalik menjadi tidak setia. Seorang suami atau isteri yang berselingkuh adalah wujud ketidak setiaannya kepada pasangannya, tetapi juga tidak setia dalam janji Nikah-nya dihadapan Tuhan. Hari ini kita diingatkan untuk   terus berlaku setia, baik atau tidak baik waktunya.

Doa : Tuhan, tolonglah kami untuk berlaku setia, baik atau tidak baik waktunya, amin

Jumat, 04 Juni 2021                           

bacaan : 2 Samuel 12 : 1 – 10

Natan memperingatkan Daud sehingga Daud menyesal
TUHAN mengutus Natan kepada Daud. Ia datang kepada Daud dan berkata kepadanya: "Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin. 2 Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi; 3 si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya. 4 Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu." 5 Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: "Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati. 6 Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan." 7 Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: "Engkaulah orang itu! Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang mengurapi engkau menjadi raja atas Israel dan Akulah yang melepaskan engkau dari tangan Saul. 8 Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu. 9 Mengapa engkau menghina TUHAN dengan melakukan apa yang jahat di mata-Nya? Uria, orang Het itu, kaubiarkan ditewaskan dengan pedang; isterinya kauambil menjadi isterimu, dan dia sendiri telah kaubiarkan dibunuh oleh pedang bani Amon. 10 Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu.

MENEGUR DENGAN BIJAKSANA

Ketika mengetahui bahwa seorang diantara kita melakukan kesalahan atau perbuatan dosa, apa yang kita lakukan? Mungkin kita akan menghinanya, menceriterakan keburukannya, bahkan menghakiminya. Padahal sebagai orang percaya kita sepatutnya saling menegur dan menasehati untuk menolong saudara kita menyadari kesalahannya dan berubah menjadi lebih baik, sebab tidak seorangpun diantara kita yang luput dari perbuatan salah. Dalam bacaan kita hari ini, kita belajar dari sikap Natan, seorang nabi yang diutus oleh Allah untuk menegur Daud atas kesalahan yang diperbuatnya. Daud telah melakukan perbuatan dosa  dengan mengambil Batseba isteri Uria dan mengatur siasat untuk membunuh Uria di medan perang. Tidak seorangpun yang berani menegur Daud atas perbuatannya, sebab pasti mereka akan berhadapan dengan berbagai risiko. Namun dengan bijaksana, Natan menjumpai Daud dan menggelisahkan hatinya  dengan sebuah kisah yang mempertentangkan “si kaya yang punya kuasa dan memiliki banyak ternak dengan si miskin yang hanya memiliki seekor anak domba”. Daud sangat tersentuh dan marah kepada si kaya yang memperdaya si miskin, namun ternyata perbuatan seperti itulah yang telah Daud lakukan terhadap Uria, seorang pahlawan perang Daud yang paling setia. Teguran Natan benar – benar menyadarkan Daud, dan akhirnya Daud menyadari dan menyesali perbuatan dosanya : “…..Aku sudah berdosa kepada Tuhan” (ay13.a), demikianlah pengakuan Daud. Karena itu, jika  ada saudara kita yang kedapatan melakukan kesalahan, janganlah kita menghakiminya tanpa menolong dia untuk menyadari kesalahannya. Mintalah Roh Kudus menuntun kita untuk hidup saling menegur dan menasehati didalam kasih agar  sebagai orang percaya, kita dapat meneladani Yesus.

Doa : Tuhan, tolonglah kami untuk saling menegur dan menasehati dalam tuntunan Roh-Mu, Amin

Sabtu, 05 Juni 2021                             

bacaan : 1 Raja – Raja 21 : 1 – 29

Kebun anggur Nabot
Sesudah itu terjadilah hal yang berikut. Nabot, orang Yizreel, mempunyai kebun anggur di Yizreel, di samping istana Ahab, raja Samaria. 2 Berkatalah Ahab kepada Nabot: "Berikanlah kepadaku kebun anggurmu itu, supaya kujadikan kebun sayur, sebab letaknya dekat rumahku. Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur yang lebih baik dari pada itu sebagai gantinya, atau jikalau engkau lebih suka, aku akan membayar harganya kepadamu dengan uang." 3 Jawab Nabot kepada Ahab: "Kiranya TUHAN menghindarkan aku dari pada memberikan milik pusaka nenek moyangku kepadamu!" 4 Lalu masuklah Ahab ke dalam istananya dengan kesal hati dan gusar karena perkataan yang dikatakan Nabot, orang Yizreel itu, kepadanya: "Tidak akan kuberikan kepadamu milik pusaka nenek moyangku." Maka berbaringlah ia di tempat tidurnya dan menelungkupkan mukanya dan tidak mau makan. 5 Lalu datanglah Izebel, isterinya, dan berkata kepadanya: "Apa sebabnya hatimu kesal, sehingga engkau tidak makan?" 6 Lalu jawabnya kepadanya: "Sebab aku telah berkata kepada Nabot, orang Yizreel itu: Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kebun anggur kepadamu sebagai gantinya. Tetapi sahutnya: Tidak akan kuberikan kepadamu kebun anggurku itu." 7 Kata Izebel, isterinya, kepadanya: "Bukankah engkau sekarang yang memegang kuasa raja atas Israel? Bangunlah, makanlah dan biarlah hatimu gembira! Aku akan memberikan kepadamu kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu." 8 Kemudian ia menulis surat atas nama Ahab, memeteraikannya dengan meterai raja, lalu mengirim surat itu kepada tua-tua dan pemuka-pemuka yang diam sekota dengan Nabot. 9 Dalam surat itu ditulisnya demikian: "Maklumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat. 10 Suruh jugalah dua orang dursila duduk menghadapinya, dan mereka harus naik saksi terhadap dia, dengan mengatakan: Engkau telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu bawalah dia ke luar dan lemparilah dia dengan batu sampai mati." 11 Orang-orang sekotanya, yakni tua-tua dan pemuka-pemuka, yang diam di kotanya itu, melakukan seperti yang diperintahkan Izebel kepada mereka, seperti yang tertulis dalam surat yang dikirimkannya kepada mereka. 12 Mereka memaklumkan puasa dan menyuruh Nabot duduk paling depan di antara rakyat. 13 Kemudian datanglah dua orang, yakni orang-orang dursila itu, lalu duduk menghadapi Nabot. Orang-orang dursila itu naik saksi terhadap Nabot di depan rakyat, katanya: "Nabot telah mengutuk Allah dan raja." Sesudah itu mereka membawa dia ke luar kota, lalu melempari dia dengan batu sampai mati. 14 Setelah itu mereka menyuruh orang kepada Izebel mengatakan: "Nabot sudah dilempari sampai mati." 15 Segera sesudah Izebel mendengar, bahwa Nabot sudah dilempari sampai mati, berkatalah Izebel kepada Ahab: "Bangunlah, ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, menjadi milikmu, karena Nabot yang menolak memberikannya kepadamu dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi; ia sudah mati." 16 Segera sesudah Ahab mendengar, bahwa Nabot sudah mati, ia bangun dan pergi ke kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya. 17 Tetapi datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu, bunyinya: 18 "Bangunlah, pergilah menemui Ahab, raja Israel yang di Samaria. Ia telah pergi ke kebun anggur Nabot untuk mengambil kebun itu menjadi miliknya. 19 Katakanlah kepadanya, demikian: Beginilah firman TUHAN: Engkau telah membunuh serta merampas juga! Katakan pula kepadanya: Beginilah firman TUHAN: Di tempat anjing telah menjilat darah Nabot, di situ jugalah anjing akan menjilat darahmu." 20 Kata Ahab kepada Elia: "Sekarang engkau mendapat aku, hai musuhku?" Jawabnya: "Memang sekarang aku mendapat engkau, karena engkau sudah memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN. 21 Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan malapetaka kepadamu, Aku akan menyapu engkau dan melenyapkan setiap orang laki-laki dari keluarga Ahab, baik yang tinggi maupun yang rendah kedudukannya di Israel. 22 Dan Aku akan memperlakukan keluargamu sama seperti keluarga Yerobeam bin Nebat dan seperti keluarga Baesa bin Ahia, oleh karena engkau menimbulkan sakit hati-Ku, dan oleh karena engkau mengakibatkan orang Israel berbuat dosa. 23 Juga mengenai Izebel TUHAN telah berfirman: Anjing akan memakan Izebel di tembok luar Yizreel. 24 Siapa dari keluarga Ahab yang mati di kota akan dimakan anjing dan yang mati di padang akan dimakan burung di udara." 25 Sesungguhnya tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, karena ia telah dibujuk oleh Izebel, isterinya. 26 Bahkan ia telah berlaku sangat keji dengan mengikuti berhala-berhala, tepat seperti yang dilakukan oleh orang Amori yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel. 27 Segera sesudah Ahab mendengar perkataan itu, ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban. 28 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu: 29 "Sudahkah kaulihat, bahwa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Oleh karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya; barulah dalam zaman anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya."

BERTOBATLAH DAN BALIK PADA ALLAH

Seringkali orang tidak merasa puas dengan apa yang telah dia miliki, dan cenderung ingin mendapatkan sebanyak – banyaknya. Untuk mendapatkan semua keinginannya, dia pun rela mengorbankan orang lain. Sifat seperti ini terlihat dalam kehidupan raja Ahab dan isterinya Izebel. Sebagai seorang raja, Ahab sudah memiliki banyak kekayaan, tinggal di istana, dilayani oleh para pelayan dan semua keinginannya pasti terpenuhi. Namun demikian Ahab masih menginginkan sebidang tanah di samping istananya, yaitu kebun anggur milik Nabot orang Yizreel. Kebun anggur ini adalah satu – satunya milik Nabot, warisan nenek moyangnya. Walaupun sudah dipertahankan oleh Nabot, namun Izebel isteri Ahab menggunakan cara yang licik untuk membunuh Nabot dan mengambil kebun anggurnya dengan paksa. Perbuatan Ahab dan Izebel sangat bertentangan dengan kehendak Tuhan, mereka merampas milik orang kecil dan tak berdaya, padahal sebagai seorang pemimpin, tanggungjawab mereka adalah melindungi orang – orang seperti Nabot. Hal ini tidak dibiarkan oleh Tuhan, dan Tuhan Allah mengutus Nabi Elia untuk menegur Ahab dan Izebel. Teguran Elia mengantarkan Ahab untuk menyadari kesalahannya, dikatakan bahwa Ahab menyadari kesalahannya, ia mengoyakkan pakaiannya, memakai kain kabung, berpuasa dan merendahkan dirinya di hadapan Tuhan. Melihat sikap Ahab, Tuhan Allah mengampuni dia dan menyelamatkan hidupnya. Pengampunan Allah selalu diberikan kepada setiap orang yang mau bertobat dan berbalik kepada Allah, merendahkan diri dan menyesali semua kesalahannya.  Jika saat ini saudara terantuk dan jatuh dalam perbuatan salah, tidak ada kata terlambat: “bertobatlah dan balik pada Allah”, Dia pasti mengampunimu.

Doa : Tuhan, ampunilah segala salah dan dosa kami, dan tuntunlah kami ke jalan yang benar, amin

*sumber SHK terbitan LPJ-GPM