Santapan Harian Keluarga, 19 – 25 Juli 2026

Tema Bulanan : Gereja Tekun Melakukan Pastoralia Intergenerasi di Era Digital

Tema Mingguan : Gereja Tekun Mendidik Keluarga Untuk Menjadi  Berkat Bagi Masyarakat

Minggu, 19 Juli 2026

bahan bacaan : Kejadian 24 : 22 – 49 (TB2)

22 Setelah unta-unta itu selesai minum, orang itu mengambil anting-anting emas seberat setengah syikal sepasang gelang tangan seberat sepuluh syikal emas, 23 serta berkata: "Anak siapakah engkau? Tolong katakan kepadaku! Adakah tempat bermalam bagi kami di rumah ayahmu?" 24 Ia menjawab kepadanya: "Ayahku Betuel, anak Milka, yang melahirkannya bagi Nahor." 25 Kata gadis itu lagi: "Baik jerami, maupun pakan ternak ada banyak pada kami, tempat bermalampun ada." 26 Lalu orang itu berlutut dan sujud menyembah TUHAN, 27 serta berkata: "Terpujilah TUHAN, Allah tuanku Abraham, yang tidak melepaskan kasih-Nya dan kesetiaan-Nya dari tuanku itu; akupun telah TUHAN tutun di jalan ke rumah saudara-saudara tuanku ini!" 28 Anak gadis itu berlari lalu menceritakan kejadian itu kepada seisi rumah ibunya. 29 Ribka mempunyai saudara laki-laki, bernama Laban. Laban berlari ke luar menemui orang itu, ke mata air tadi, 30 sesudah ia melihat anting-anting itu dan gelang pada tangan saudaranya, dan mendengar Ribka, saudaranya, berkata: "Begitulah dikatakan orang itu kepadaku." Ia menemui orang itu, yang masih berdiri di samping unta-untanya dekat mata air itu, 31 Ia berkata: "Marilah engkau yang diberkati TUHAN, mengapa engkau berdiri di luar, aku telah menyediakan rumah bagimu, dan juga tempat untuk unta-untamu." 32 Lalu orang itu masuk ke dalam rumah. Pelana unta-unta dilepas, jerami dan pakan diberikan kepada unta-unta itu, dan air pembasuh kaki kepada orang itu serta orang-orang yang bersama dengan dia. 33 Tetapi ketika makanan dihidangkan di depannya, berkatalah orang itu: "Aku tidak akan makan sebelum kusampaikan pesan yang kubawa ini." Jawab Laban: "Katakan!" 34 Lalu ia berkata: "Aku ini hamba Abraham. 35 TUHAN sangat memberkati tuanku itu, sehingga ia telah menjadi kaya; TUHAN telah memberikan kepadanya kambing domba dan lembu, emas dan perak, budak laki-laki dan perempuan, unta dan keledai. 36 Sara, isteri tuanku itu, dimasa tuanya, telah melahirkan anak laki-laki bagi tuanku itu; kepada anaknya itu tuanku telah memberikan segala harta miliknya. 37 Tuanku itu telah mengambil sumpahku, katanya: Engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan orang Kanaan, yang negerinya kudiami ini, 38 melainkan engkau harus pergi ke rumah ayahku dan kepada kaumku untuk mengambil seorang isteri bagi anakku. 39 Jawabku kepada tuanku itu: Mungkin perempuan itu tidak mau mengikut aku. 40 Tetapi katanya kepadaku: TUHAN, yang di hadapan-Nya aku hidup, akan mengutus malaikat-Nya menyertai engkau, dan akan membuat perjalananmu berhasil, sehingga engkau akan mengambil bagi anakku seorang isteri dari kaumku dan dari rumah ayahku. 41 Engkau hanya dapat terlepas dari sumpahmu kepadaku, jika engkau sampai kepada kaumku dan mereka tidak memberikan perempuan itu kepadamu; hanya dalam hal itulah engkau terlepas dari sumpahmu kepadaku. 42 Hari ini aku sampai ke mata air tadi, dan aku berkata, TUHAN, Allah tuanku Abraham, jika Engkau berkenan membuat perjalanan yang kutempuh ini berhasil. 43 lihatlah aku berdiri di dekat mata air ini; kiranya terjadi begini: Apabila seorang gadis datang ke luar untuk menimba air dan aku berkata kepadanya: Tolong berikan aku minum air sedikit dari kendimu itu, 44 dan ia menjawab: Minumlah, dan untuk unta-untamu pun akan kutimba air, maka dialah isteri, yang telah TUHAN tentukan bagi anak tuanku itu. 45 Sebelum aku selesai berkata dalam hatiku, Ribka datang membawa kendi di atas bahunya, dan turun ke mata air itu, lalu menimba air. Kataku kepadanya: Tolong berikan aku minum. 46 Ia segera menurunkan kendi itu dari atas bahunya serta berkata: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum. Lalu aku minum, dan unta-unta itu juga diberinya minum. 47 Sesudah itu aku bertanya kepadanya: Anak siapakah engkau? Jawabnya: Aku anak Betuel bin Nahor. Betuel itu dilahirkan Milka bagi Nahor. Lalu aku mengenakan anting-anting pada hidungnya dan gelang pada tangannya. 48 Kemudian aku berlutut dan sujud menyembah TUHAN, serta memuji TUHAN, Allah tuanku Abraham, yang telah menuntun aku di jalan yang benar untuk mengambil anak perempuan saudara tuanku ini bagi anaknya. 49 Sekarang, jika kamu mau menunjukkan kasih dan setia kepada tuanku itu, beritahukanlah kepadaku; Jika tidak, beritahukanlah juga kepadaku, supaya aku berpaling entah ke kanan atau ke kiri."

Berkat yang Meluap dari Rumah

Teks Kejadian 24:22-49 memberi sebuah kebenaran penting: karakter hebat tidak jatuh dari langit, melainkan dibentuk dalam keluarga. Secara teologis, tindakan Ribka memberi minum sepuluh unta adalah iman yang bekerja. Memberi minum satu orang itu biasa, tapi memberi minum sepuluh unta yang haus butuh ketulusan dan kerja keras luar biasa. Ini membuktikan bahwa di rumahnya, Ribka sudah dididik untuk peduli pada sesama tanpa pilih-pilih.Rumah adalah “laboratorium” kebaikan. Jika sebuah keluarga hanya sibuk mengurus kenyamanan sendiri, mereka akan gagal secara spiritual. Ribka dipilih Tuhan menjadi bagian dari sejarah besar karena ia sudah terbiasa menjadi berkat dalam hal-hal kecil di kesehariannya.Oleh sebab itu, gereja harus sadar bahwa keberhasilan aslinya bukan dilihat dari penuhnya bangku ibadah, melainkan dari seberapa berdampaknya keluarga-keluarga di lingkungan setelah mereka selesai beribadah. Karenanya, orangtua yang beriman tidak hanya mewariskan harta, tapi juga mewariskan karakter melayani. Jangan biarkan keluarga menjadi kelompok yang eksklusif atau tertutup tetapi rumah tangga harus menjadi saluran berkat yang meluap hingga ke tetangga dan masyarakat. Saat rumah menjadi sekolah kasih, maka dunia akan melihat kemuliaan Tuhan secara nyata.

Doa: Tuhan, Biarlah bersama denganMu, berkat itu terus meluap dari rumah kami, amin  

Senin, 20 Juli 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 10 : 1 – 8 (TB2)

Petrus dan Kornelius
Di Kaisarea ada seorang laki-laki yang bernama Kornelius, seorang perwira dari batalion yang disebut batalion Italia. 2 Ia saleh, ia beserta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah. 3 Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, ia melihat dengan seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: "Kornelius!" 4 Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: "Ada apa, Tuhan?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau. 5 Sekarang, suruhlah beberapa orang ke Yope untuk memanggil seorang bernama Simon yang disebut juga Petrus. 6 Ia menumpang di rumah seorang penyamak kulit bernama Simon, yang tinggal di tepi laut." 7 Setelah malaikat yang berbicara kepadanya itu meninggalkan dia, dipanggilnya dua orang hambanya beserta seorang prajurit yang saleh dari orang-orang yang selalu bersama dia. 8 Sesudah ia menjelaskan segala sesuatu kepada mereka, ia menyuruh mereka ke Yope.

Keluarga: Dari Doa Menjadi Aksi Nyata

Kisah Kornelius menunjukkan bahwa iman sejati tidak hanya disimpan di dalam hati, tetapi harus nyata melalui doa dan tindakan kasih kepada sesama. Kornelius bukan hanya seorang yang takut akan Tuhan secara pribadi, tetapi ia juga mengajak seluruh keluarganya hidup dalam iman. Mereka tekun berdoa dan rela menolong orang-orang yang membutuhkan. Doa serta kebaikan yang mereka lakukan menjadi persembahan yang berkenan di hadapan Allah. Melalui kisah ini, kita belajar bahwa keluarga adalah tempat pertama untuk bertumbuh dalam kasih dan kepedulian. Ketika keluarga rajin berdoa bersama, hati setiap anggota keluarga akan semakin peka melihat kesulitan orang lain. Iman yang benar tidak membuat seseorang hidup egois atau menutup diri, melainkan mendorong untuk menjadi saluran berkat bagi sesama. Karena itu, gereja dipanggil untuk terus mendampingi dan membimbing keluarga agar hidup dalam doa, kasih, dan semangat berbagi. Orang tua memiliki tanggung jawab mengajarkan anak-anak untuk peduli, menolong, dan hidup takut akan Tuhan sejak dini. Iman tidak boleh berhenti di dalam gedung gereja saja, tetapi harus nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk mengasihimu secara nyata melalui sesama, amin  

Selasa, 21 Juli 2026

bahan bacaan : Kejadian 12 : 1 – 9 (TB2)

Panggilan Abram 
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu, dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; 2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." 4 Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. 5 Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang mereka kumpulkan serta orang-orang yang mereka peroleh di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di sana. 6 Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, ke pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan tinggal di negeri itu. 7 Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." Lalu disitu ia mendirikan mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. 8 Kemudian dari situ ia pindah ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia memasang kemahnya di antara Betel di sebelah barat dan Ai di sebelah timur, lalu di situ ia mendirikan mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN. 9 Sesudah itu Abram berangkat dan berjalan terus ke Tanah Negeb.

Berani Keluar Untuk Berbagi Berkat

Cerita Abraham dalam dalam teks ini bukan sekadar cerita tentang pindah rumah, melainkan tentang ketaatan yang berbuah berkat. Tuhan memberkati Abraham bukan agar ia menikmatinya sendirian, melainkan supaya ia menjadi saluran berkat bagi semua bangsa. Tuhan memanggilnya keluar dari zona nyaman untuk membawa dampak positif bagi dunia. Di setiap tempat perhentiannya, Abraham membangun mezbah sebagai tanda ketaatan keluarganya kepada Tuhan. Ini membuktikan bahwa keluarga yang dekat dengan Tuhan pasti memiliki hati yang terbuka bagi orang lain. Keluarga kita saat ini memiliki panggilan yang sama persis dengan Abraham. Kita tidak diberkati Tuhan hanya supaya hidup berkecukupan atau sukses secara pribadi. Keberadaan rumah tangga kita di sebuah lingkungan harus menjadi jawaban atas masalah yang ada di sekitar kita. Jika keluarga kita hanya sibuk dengan urusan sendiri, kita kehilangan makna sebagai pengikut Tuhan. Setiap keluarga mesti sadar bahwa keluarga adalah utusan Tuhan di tengah masyarakat. Jangan biarkan keluarga kita menjadi tertutup atau tidak mau tahu urusan orang lain. Mari kita sadari bahwa setiap keluarga dipanggil untuk menjadi saluran berkat yang nyata bagi lingkungan. Saat kita berani berbagi, kasih Tuhan akan dirasakan oleh semua orang.

Doa: dalam Nama Yesus, keluarga kami siap menjadi  berkat bagi dunia, amin 

Rabu, 22 Juli 2026

bahan bacaan : Ester 4 : 1 – 17 (TB2)

Usaha Mordekhai untuk menolong orang Yahudi
Setelah mengetahui semua yang terjadi itu, Mordekhai mengoyak pakaiannya, serta memakai kain kabung dan abu, kemudian ia keluar berjalan di tengah-tengah kota, sambil menangis dengan nyaring dan pedih. 2 Ia pergi hanya sampai di depan pintu gerbang istana raja, karena tidak seorangpun boleh memasuki pintu gerbang istana raja dengan berpakaian kain kabung. 3 Di setiap daerah, ke mana titah dan undang-undang raja telah sampai, ada perkabungan yang besar di antara orang Yahudi disertai puasa dan ratap tangis; banyak orang membentangkan kain kabung dengan abu sebagai alas tempat tidurnya. 4 Ketika dayang-dayang dan sida-sida Ester memberitahukan hal itu kepadanya, sangat risaulah hati sang ratu, ia mengirim pakaian, supaya dikenakan pada Mordekhai dan supaya kain kabung ditanggal darinya, tetapi ia tidak menerimanya. 5 Ester lalu memanggil Hatah, salah seorang sida-sida raja yang ditetapkan untuk melayani dia. Ester memberi perintah kepadanya untuk menemui Mordekhai dan menanyakan apa arti dan sebab hal itu. 6 Lalu keluarlah Hatah menemui Mordekhai di lapangan kota yang di depan pintu gerbang istana raja, 7 Mordekhai menceritakan kepadanya segala yang dialaminya, serta banyaknya perak yang dijanjikan oleh Haman untuk ditimbang bagi perbendaharaan raja sebagai harga pembinasaan orang Yahudi. 8 Salinan surat undang-undang, yang dikeluarkan di Susan untuk memunahkan mereka, ia serahkan kepada Hatah untuk diperlihatkan dan diberitahukan kepada Ester. Hatah juga disuruh menyampaikan pesan kepada Ester, supaya pergi menghadap raja untuk memohon kasih karunianya dan membela bangsanya di hadapan baginda. 9 Lalu masuklah Hatah dan menyampaikan perkataan Mordekhai kepada Ester. 10 Akan tetapi Ester menyuruh Hatah memberitahukan kepada Mordekhai: 11 "Semua pegawai raja serta penduduk daerah-daerah kerajaan mengetahui bahwa bagi setiap laki-laki atau perempuan, yang menghadap raja di pelataran dalam tanpa dipanggil, berlaku satu undang-undang, orang itu harus hukuman mati. Hanya orang yang diberi uluran tongkat emas oleh raja akan tetap hidup. Padahal selama tiga puluh hari ini aku tidak dipanggil menghadap raja." 12 Ketika perkataan Ester disampaikan kepada Mordekhai, 13 Mordekhai menyampaikan jawaban ini kepada Ester: "Jangan kira, karena engkau di istana raja, hanya engkau dari antara semua orang Yahudi yang akan terluput. 14 Sebab, jika engkau berdiam diri saja pada saat ini, pertolongan dan kelepasan bagi orang Yahudi akan muncul dari pihak lain, tetapi engkau dan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu." 15 Lalu Ester menyampaikan jawaban ini kepada Mordekhai: 16 "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang ada di Susan dan berpuasalah untuk aku; jangan makan dan minum selama tiga hari, siang dan malam. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, kemudian aku akan masuk menghadap raja, meskipun berlawanan dengan undang-undang; kalau aku harus mati, biarlah aku mati." 17 Mordekhai lalu pergi dan melakukan sama seperti yang dipesan Ester kepadanya.

Keluarga : Penopang di Tengah Krisis

Keselamatan sebuah bangsa sering kali dimulai dari keberanian satu keluarga kecil, inilah inti dari teks Ester 4:1-17. Artinya bahwa Tuhan tidak pernah menempatkan kita di suatu posisi secara kebetulan. Mordekhai menyadarkan Ester bahwa kenyamanan di istana bukanlah untuk dinikmati sendiri, melainkan alat untuk menolong sesama yang sedang di ujung tanduk. Ester kemudian mengajak seluruh umat untuk bersatu dalam doa dan puasa. Ini menunjukkan bahwa krisis yang berat hanya bisa dihadapi jika kita mau melepas ego dan berjuang bersama sebagai satu keluarga besar. Kadang, di masa sulit, banyak orang cenderung menutup pintu rumah rapat-rapat karena takut ikut susah. Namun, belajar dari Ester dan Mordekhai, krisis seharusnya membuat kita semakin erat dalam kerja sama. Setiap keluarga terpanggil agar memiliki mentalitas saling menopang, terutama saat situasi ekonomi atau sosial sedang tidak menentu. Jangan biarkan kesulitan mengubah kita menjadi pribadi yang acuh tak acuh. Mari kita sadari bahwa setiap keluarga adalah benteng pertahanan bagi sesamanya. Berusahalah untuk terus hidup saling menopang di tengah krisis apa pun. Saat kita berani berbagi beban, di situlah harapan dan kasih Tuhan nyata bagi masyarakat.

Doa: Tuhan, jadikanlah keluarga kami penopang hidup bagi sesama, amin 

Kamis, 23 Juli 2026

bahan bacaan : Kejadian 41 : 53 – 57 (TB2)

53 Setelah berakhir ketujuh tahun kelimpahan yang terjadi di tanah Mesir itu, 54 mulailah tujuh tahun kelaparan datang, seperti yang telah dikatakan Yusuf; Di semua negeri terjadi kelaparan, tetapi di seluruh negeri Mesir ada roti. 55 Ketika seluruh negeri Mesir menderita kelaparan, dan rakyat berteriak meminta roti kepada Firaun, berkatalah Firaun kepada semua orang Mesir: "Pergilah kepada Yusuf, lakukanlah apa yang dikatakannya kepadamu." 56 Kelaparan itu melanda seluruh bumi. Lalu Yusuf membuka semua lumbung dan menjual gandum kepada orang Mesir, sebab kelaparan itu semakin dahsyat di tanah Mesir. 57 Dari seluruh bumi datanglah orang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, sebab kelaparan itu dahsyat di seluruh bumi.

Menjadi Berkat Di Tengah Krisis

Setiap orang menjalani pengalaman hidup yang berbeda, pengalaman itu meninggalkan jejak dalam pembentukan kepribadian. Pengalaman baik dapat membentuk rasa percaya diri, sebaliknya pengalaman buruk seperti penolakan, kehilangan, atau kegagalan bisa melahirkan ketakutan atau luka emosional. Tidak semua orang merespons pengalaman yang sama dengan cara yang sama. Ada yang tumbuh lebih kuat dari kegagalan, namun ada pula yang menjadi mudah menyerah. Yusuf memaknai berbagai pengalaman pahit yang pernah dialaminya sebagai cara Tuhan untuk membentuknya menjadi pribadi yang lebih berhikmat, setia, dan bertanggung tanggung jawab. Yusuf menunjukkan manajemen yang baik selama masa kelimpahan untuk bersiap menghadapi kelaparan. Yusuf tidak menyia-nyiakan masa kelimpahan. Ia mengaturnya secara bijak untuk menghadapi krisis. Krisis adalah bagian dari kehidupan, melalui Yusuf Tuhan berdaulat dan menyediakan pertolongan di tengah kesukaran. Ia tidak egois, melainkan menggunakan posisinya untuk menyelamatkan nyawa banyak orang. Tekanan, tantangan bahkan krisis mendorong kita untuk hidup berhikmat mengelola sumber daya, bertanggung jawab, dan berbagi di masa sulit, serta mengandalkan Tuhan yang selalu setia memelihara hidup kita.

Doa: Tuhan, bentuk kami untuk menjadi penyalur damai sejahteramu, Amin

Jumat, 24 Juli 2026

bahan bacaan : Yesaya 58 : 6 – 7 (TB2)

6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, 7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

Memperjuangkan Keadilan dan Kasih

Puasa dalam pandangan Alkitab bukan hanya menghindari atau menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menghindarkan diri dari melakukan hal-hal yang tidak dikehendaki Tuhan. Berpuasa merupakan tindakan untuk menaklukan diri sepenuhnya di bawah kehendak Tuhan. Tidak hanya menahan lapar, puasa yang sejati juga terwujud dalam kepedulian untuk melepaskan mereka yang terbelenggu oleh kelaliman, dan memerdekakan mereka yang teraniaya. Puasa bukan sekedar ritual melainkan upaya untuk mewujudkan kasih Allah lewat sikap peduli kepada mereka yang lapar, miskin, dan memberi pakaian pada yang telanjang. Karena Ibadah sejati tercermin melalui tindakan yang penuh belas kasihan. Perbuatan kasih kepada sesama adalah cerminan dari hubungan yang benar dengan Tuhan. Jadilah saluran berkat. Jangan menutup mata terhadap mereka yang berkekurangan atau tertindas di sekitar kita. Tuhan lebih menghargai tindakan kasih daripada sekadar menjalankan sebuah ritual. Memperjuangkan keadilan dan kasih adalah wujud memuliakan Tuhan.

Doa: Tuhan, tuntun kami untuk selalu memperjuangkan keadilan dan mewujudkan kasih, Amin

Sabtu, 25 Juli 2026

bahan bacaan : Yesaya 58 : 10 – 12 (TB2)

10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar makananmu sendiri dan memenuhi kebutuhan orang yang tertindas, maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. 11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memenuhi kebutuhanmu di tanah yang gersang, serta membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti kebun yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. 12 Reruntuhan yang sudah berabad-abad akan kau bangun lagi, dan dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan akan kau perbaiki. Engkau akan disebutkan "yang memperbaiki tembok yang bolong", "yang memperbaiki jalan supaya seluruhnya layak huni".

Hidup Berbagi Berkat Dengan Orang Lemah

Ibadah sejati bukan sekadar ritual, melainkan tindakan nyata mengasihi sesama melalui kedermawanan. Saat kita peduli pada yang lapar dan tertindas, Tuhan berjanji menuntun, memulihkan, dan menjadikan hidup kita sumber berkat yang tak pernah kering, seperti taman yang diairi. Kita dipanggil untuk “mencurahkan diri” bagi mereka yang membutuhkan. Ini berarti memberikan perhatian, waktu, dan materi kepada orang lapar dan tertindas. Tindakan ini mengubah “kegelapan” (kesedihan/masalah) kita menjadi terang seperti rembang tengah hari. Ketika kita melakukan kehendak-Nya, Tuhan berjanji akan menuntun kita senantiasa dan tidak meninggalkan kita sendirian. Tuntunannya memberi kepuasan di tengah situasi yang sulit atau “tanah yang kering” juga memberikan energi baru untuk melayani dan menghadapi hidup. Kita diibaratkan seperti “taman yang diairi dengan baik” dan “mata air yang tidak pernah mengecewakan”. Hidup kita tidak hanya diberkati, tetapi juga menjadi saluran berkat bagi orang lain yang tidak pernah kering. Jangan menahan kebaikan, karena saat kita menjadi terang bagi orang lain, Tuhan meneguhkan kehidupan kita.

Doa: Tuhan, jadikan kami terang kasihMu, Amin

SUMBER : SHK BULAN JULI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 12 – 18 Juli 2026

Tema Bulanan : Gereja Tekun Melakukan Pastoralia Intergenerasi di Era Digital

Tema Mingguan : Gereja Tekun Melakukan Pastoralia Keluarga

Minggu, 12 Juli 2026

bahan bacaan : Matius 15 : 1 – 9 (TB2)

Perintah Allah dan adat istiadat Yahudi
Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: 2 "Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan." 3 Jawab Yesus kepada mereka: "Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? 4 Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus dihukum mati. 5 Namun kamu berkata: Siapa saja yang berkata kepada ayahnya atau ibunya: Segala bantuan yang seharusnya engkau terima dariku adalah persembahan kepada Allah, 6 orang itu tidak wajib lagi menghormati ayahnya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri. 7 Hai orang-orang munafik! tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu: 8 Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. 9 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sementara ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."

Keluarga Butuh Pendampingan Pastoralia

Keluarga atau rumah tangga adalah kekuatan inti dari Gereja. Bayangkan sebuah rumah di mana setiap anggota keluarga saling menguatkan dalam doa, menopang dalam kesulitan, dan mengingatkan untuk tetap setia kepada Tuhan. Rumah itu bukan hanya tempat tinggal, tetapi menjadi “gereja kecil” yang memancarkan kasih Kristus. Namun, kita juga tahu bahwa tidak semua keluarga berada dalam kondisi demikian. Ada keluarga yang retak karena tekanan ekonomi, konflik, atau jarak emosional. Di sinilah gereja terpanggil untuk hadir bukan sekadar sebagai institusi, tetapi sebagai sahabat rohani yang setia. Pendampingan pastoralia hadir sebagai solusi efektif yang tidak hanya berfokus pada aspek psikologis dan sosial, tetapi juga spiritual. Melalui pastoralia tersebut, maka membantu keluarga memperbaiki komunikasi, menyembuhkan luka batin, serta memperkuat kelekatan emosional. Pelayanan pastoralia yang dilakukan secara konsisten dan intensif, mampu meningkatkan keharmonisan keluarga dan mendukung perkembangan holistik anggota keluarga. Dengan demikian, pendampingan pastoralia, merupakan langkah strategis yang sangat penting untuk membangun keluarga yang kuat, harmonis, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan modern secara sehat dan seimbang.

Doa:  Tuhan, kuatkan kami untuk teru melakukan pastoralia bagi keluarga-keuarga kami. Amin.

Senin, 13 Juli 2026

bahan bacaan : Amsal 24 : 27 – 29 (TB2)

27 Bereskanlah pekerjaanmu di luar, siapkanlah itu bagimu di ladang; kemudian barulah engkau mendirikan rumahmu. 28 Jangan menjadi saksi terhadap sesamamu tanpa sebab, dan menipu dengan bibirmu. 29 Janganlah berkata: "Sebagaimana ia memperlakukan aku, demikian kuperlakukan dia. Aku membalas orang sesuai dengan perbuatannya."

Jangan Berniat Membalas dan Mendendam

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, kita mengembangkan hubungan satu sama lain. Hubungan terdekat dan terdalam dapat ditemukan dalam keluarga, karena ikatan darah lebih kuat daripada ikatan persahabatan. Namun, seperti yang kita ketahui, tidak ada keluarga yang sempurna, dan meskipun kita menginginkan kebahagiaan dan keharmonisan dalam keluarga, kita juga harus siap menghadapi cobaan dan kesulitan dalam hubungan keluarga. Sebanyak pertengkaran dan perselisihan di antara anggota keluarga, hal itu harus diimbangi dengan pengertian dan pengampunan. Kita tidak boleh membiarkan kebencian menuntun kita kepada dosa, dan jika ikatan darah lebih kuat daripada ikatan persahabatan, maka jangan sampai ada permusuhan di antara anggota keluarga. Hidup orang basudara harus laeng sayang laeng. Jangan berniat membalas dan mendendam. Sebab menyimpan dendam ibarat meminum racun sambil berharap saudara kita yang mati. Dendam mengikat hati kita pada masa lalu, membuat kita sulit merasakan damai dan sukacita. Sebaliknya, pengampunan adalah kunci pembebasan. Mengampuni bukan berarti melupakan atau membenarkan kesalahan orang lain, tetapi melepaskan hak kita untuk membalas, dan menyerahkan penghakiman itu kepada Tuhan yang adil.

Doa. Tuhan bersihkan hati kami sari niat membalas dan mendendam terhadap sesama Amin.

Selasa, 14 Juli 2026

bahan bacaan : 1 Tesalonika 4 : 1 – 12 (TB2)

Nasihat supaya hidup kudus
Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi. 2 Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus. 3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, 4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam kekudusan dan kehormatan, 5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, 6 dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan merugikan saudaranya atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu. 7 Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. 8 Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu. 9 Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah. 10 Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. 11 Anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tanganmu, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, 12 sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada siapapun.

Keluarga dan Hidup Kudus

Setiap orang tentu mendambakan keluarga yang bahagia dan sejahtera. Keluarga yang dibangun atas dasar kasih, kesetiaan, dan sukacita. Keluarga yang bukan hanya berkecukupan secara lahiriah, tetapi juga bertumbuh dalam iman kepada Tuhan. Rumah menjadi tempat yang nyaman untuk pulang, tempat anggota keluarga saling mendukung, berdoa, dan hidup dalam kasih. Namun kenyataannya, kehidupan keluarga Kristiani saat ini menghadapi banyak tantangan. Kesibukan kerja, tuntutan ekonomi, perkembangan teknologi, serta pengaruh media sosial sering membuat anggota keluarga semakin jauh satu sama lain. Waktu kebersamaan berkurang, doa bersama mulai ditinggalkan, dan perhatian terhadap pendidikan iman anak-anak semakin melemah. Tidak sedikit orang tua kehilangan keteladanan hidup rohani di tengah tekanan kehidupan modern. Akibatnya, banyak keluarga menjadi rapuh dan mudah mengalami konflik. Dalam situasi seperti ini, gereja memiliki peran penting untuk mendampingi keluarga-keluarga jemaat melalui pelayanan pastoralia. Gereja dipanggil menjadi sahabat yang menguatkan, mengajarkan pentingnya menjaga komitmen, saling mendukung, serta menghadirkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, marilah kita menjadikan Tuhan sebagai pusat keluarga, hidup sederhana, tekun berdoa, dan saling mengasihi agar keluarga tetap kuat, kudus, dan penuh damai.

Doa:  Tuhan, jadikanlah keluarga kami kudus di hadapanMu. Amin.

Rabu, 15 Juli 2026

bahan bacaan : 1 Timotius 5 : 1 – 2 (TB2)

Mengenai saudara-saudara seiman
Janganlah engkau keras terhadap orang yang tua, melainkan tegurlah dia sebagai bapak. Tegurlah orang-orang muda sebagai saudaramu, 2 perempuan-perempuan tua sebagai ibu, dan perempuan-perempuan muda sebagai saudaramu dengan penuh kemurnian.

Relasi Saling Menghargai

Dalam suratnya kepada Timotius, Rasul Paulus memberikan panduan tentang cara hidup dalam komunitas iman seperti dalam sebuah keluarga. Gereja bukan sekadar organisasi, melainkan keluarga Allah yang dibangun atas dasar kasih dan hormat. Paulus mengajarkan agar orang yang lebih tua diperlakukan seperti ayah dan ibu, dengan sikap penuh penghargaan dan tanpa perkataan kasar. Sikap ini menunjukkan kedewasaan rohani serta penghormatan terhadap pengalaman hidup mereka. Sementara itu, mereka yang sebaya atau lebih muda harus diperlakukan seperti saudara laki-laki dan perempuan. Prinsip ini mengajarkan kasih persaudaraan, menghilangkan kesombongan, iri hati, dan persaingan di dalam persekutuan. Paulus juga mengingatkan Timotius untuk hidup dengan “penuh kemurnian,” artinya menjaga hati, pikiran, dan motivasi dalam setiap hubungan dengan sesama. Pesan ini menegaskan bahwa kehormatan tidak didasarkan pada jabatan atau kedudukan, melainkan karena kita semua adalah anggota tubuh Kristus. Ketika kita memandang sesama sebagai keluarga dalam Tuhan, maka komunikasi yang penuh kasih, nasihat yang membangun, dan perhatian yang tulus akan tercipta. Dengan demikian, gereja dapat menjadi tempat yang menghadirkan damai, persatuan, dan pertumbuhan iman bagi semua orang.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu saling menghargai. Amin.  

Kamis, 16 Juli 2026

bahan bacaan : Imamat 19 : 1 – 3 (TB2)

Kudusnya hidup
TUHAN berfirman kepada Musa: 2 "Berbicaralah kepada segenap umat Israel dan katakan kepada mereka: Hendaklah kamu kudus, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus. 3 Setiap orang di antara kamu haruslah menyegani ibu dan ayahnya serta memelihara hari-hari sabat-Ku; Akulah TUHAN, Allahmu.

 Menghormati Orang Tua

Panggilan untuk hidup kudus bukanlah sekadar saran, melainkan perintah Tuhan yang didasarkan pada karakter-Nya: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Bagi anak muda, kekudusan bukan hanya tentang menjauhi dosa, tetapi juga terlihat dalam sikap hati dan perilaku sehari-hari, terutama di dalam keluarga. Hidup kudus berarti meninggalkan sikap egois dan mulai hidup sesuai nilai-nilai Kerajaan Allah. Dalam teks ini, perintah hidup kudus langsung diikuti dengan ajakan untuk menghormati ayah dan ibu. Hal ini menunjukkan bahwa menghormati orang tua adalah bagian penting dari ibadah kepada Tuhan. Sikap menyegani orang tua mencakup rasa hormat, kepatuhan, perhatian, dan kasih yang tulus. Melalui sikap itulah iman seseorang terlihat nyata, bukan hanya melalui perkataan atau kegiatan di gereja. Bagi generasi muda, melayani dan menghargai orang tua bukan sekadar kewajiban tradisi, tetapi bentuk ketaatan kepada Tuhan.  Kekudusan juga berkaitan dengan hidup yang tertib, seimbang, dan menghargai waktu bersama Tuhan. Anak muda yang menghormati orang tuanya sedang membangun karakter yang kuat dan masa depan yang diberkati. Melalui sikap hormat, kasih, dan pelayanan yang tulus kepada orang tua, seorang anak muda dapat menghadirkan damai dan sukacita di dalam rumah serta menjadi kesaksian hidup bagi orang lain.

Doa: Tuhan, Kuduskanlah hati kami menghormati orang tua. Amin  

Jumat, 17 Juli 2026

bahan bacaan : Imamat 18 : 1 – 5 (TB2)

Kudusnya perkawinan
TUHAN berfirman kepada Musa: 2 "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Akulah TUHAN, Allahmu. 3 Janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Mesir, di mana kamu tinggal dahulu; juga janganlah kamu berbuat seperti yang diperbuat orang di tanah Kanaan, ke mana Aku membawa kamu; janganlah kamu hidup menurut kebiasaan mereka. 4 Kamu harus lakukan peraturan-Ku dan berpegang pada ketetapan-Ku dengan hidup menurut semuanya itu; Akulah TUHAN, Allahmu. 5 Sesungguhnya kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan peraturan-Ku. Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya; Akulah TUHAN.

Ketaatan dalam Rumah Tangga

Panggilan hidup dalam ketaatan bagi rumah tangga Kristen dimulai dengan kesadaran bahwa keluarga adalah institusi yang dikuduskan oleh Tuhan. Dalam Imamat 18:1-5, Tuhan dengan tegas memperingatkan umat-Nya agar tidak mengikuti kebiasaan bangsa Mesir maupun bangsa Kanaan. Bagi rumah tangga saat ini, pesan ini sangat relevan: keluarga dipanggil untuk berani tampil beda dan tidak berkompromi dengan standar moral dunia yang kian merosot. Ketaatan kepada ketetapan Tuhan bukan bertujuan untuk membatasi kebahagiaan, melainkan untuk memagari pernikahan agar tetap berada dalam perlindungan dan berkat-Nya. Kekudusan perkawinan adalah inti dari perintah Tuhan. Tuhan menekankan bahwa umat-Nya harus memegang teguh hukum-hukum-Nya sebagai panduan hidup. Dalam konteks pastoralia rumahtangga, menjaga kekudusan berarti menjaga kesetiaan dan kemurnian hubungan antara suami dan istri. Kekudusan bukan hanya tentang menjauhi berbagai pelanggaran, tetapi tentang membangun mezbah doa dan kasih yang tulus di dalam rumah, di mana setiap anggota keluarga saling menghargai martabat satu sama lain sebagai citra Allah. Pernikahan yang kudus adalah pernikahan yang menjadikan firman Tuhan sebagai otoritas tertinggi dalam mengambil setiap keputusan. Ketaatan menjadi napas bagi rumahtangga yang ingin mengalami penyertaan Tuhan secara penuh.

Doa: Tuhan, bantu kami menjadi keluarga yang Taat Amin. 

Sabtu, 18 Juli 2026

bahan bacaan : Lukas 18 : 15 – 17 (TB2)

Yesus memberkati anak-anak
15 Orang-orang membawa juga anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menyentuh mereka. Melihat itu murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. 16 Namun Yesus memanggil mereka dan berkata: "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah. 17 Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."

Tanggung Jawab Orang Tua

Teks ini menunjukkan perbedaan sikap antara para murid yang menghalangi anak-anak dan Yesus yang justru menyambut mereka dengan penuh kasih. Dalam kehidupan keluarga, pesan ini menjadi panggilan bagi orang tua untuk menjadi jembatan, bukan penghalang, bagi pertumbuhan iman anak-anak. Kesibukan dan berbagai tuntutan hidup sering membuat orang tua lalai membimbing anak mengenal Tuhan. Padahal, tugas utama orang tua adalah menghadirkan kasih Kristus melalui teladan hidup, doa, dan pengajaran di rumah. Membawa anak kepada Tuhan berarti menyadari bahwa anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga dan dibimbing dalam iman. Yesus berkata bahwa orang-orang seperti anak kecillah yang empunya Kerajaan Allah. Karena itu, orang tua tidak hanya bertanggung jawab memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga membangun kehidupan rohani mereka. Saat orang tua mengajarkan doa, firman Tuhan, dan kasih dalam keluarga, mereka sedang menanam dasar iman yang kuat bagi masa depan anak-anak. Yesus juga mengajarkan bahwa orang dewasa perlu belajar dari ketulusan dan kepercayaan seorang anak kecil kepada Tuhan. Melalui pelayanan dan perhatian kepada anak-anak, orang tua bukan hanya membentuk iman anak, tetapi juga mengalami pertumbuhan rohani dalam hidup mereka sendiri.

Doa: Tuhan, bantu kami menjadi orang tua yang bertanggung jawab, Amin.  

SUMBER : SHK BULAN JULI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 5 – 11 Juli 2026

Tema Bulanan : Gereja Tekun Melakukan Pastoralia Intergenerasi di Era Digital

Tema Mingguan : Gereja Tekun Melakukan Pastoral Interpersonal

Minggu, 5 Juli 2026

bahan bacaan : Yohanes 6 : 25 – 40 (TB2)

Roti hidup
25 Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, kapan Engkau tiba di sini?" 26 Yesus menjawab mereka: "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. 27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang dimeteraikan Allah Bapa." 28 Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" 29 Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah." 30 Sebab itu, kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? Apakah yang Engkau kerjakan? 31 Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga." 32 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. 33 Sebab roti yang dari Allah ialah yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia." 34 Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa." 35 Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. 36 Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya. 37 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. 38 Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, melainkan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. 39 Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku Aku tidak kehilangan satupun, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. 40 Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, supaya setiap orang yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman."

Roti Hidup

Roti adalah makanan pokok yang penting bagi kehidupan manusia. Dalam Alkitab, roti menjadi tanda pemeliharaan Tuhan bagi umat-Nya. Roti dipersiapkan bagi mereka yang melakukan perjalanan jauh dan juga diberikan kepada orang asing sebagai bentuk kepedulian dan penerimaan. Namun ketika umat tidak taat, Tuhan memperingatkan bahwa persediaan roti dapat diambil sebagai hukuman atas dosa mereka. Dalam tradisi umat Tuhan, roti juga memiliki makna rohani yang mendalam. Gulungan Naskah Laut Mati mencatat kebiasaan makan roti dan minum anggur bersama sebagai tanda persekutuan. Hal ini diteruskan oleh para pengikut Tuhan Yesus yang percaya bahwa Yesus adalah Roti Hidup yang turun dari sorga untuk memberi hidup kepada manusia. Karena itu, dalam Perjamuan Kudus, roti melambangkan tubuh Kristus yang dipecahkan dan anggur melambangkan darah-Nya yang tercurah demi keselamatan kita. Kasih Tuhan yang besar itu patut disyukuri melalui iman dan kehidupan yang diperbarui. Orang percaya dipanggil untuk hidup dalam pengharapan serta menyatakan kasih kepada sesama. Iman kepada Kristus harus nyata melalui tindakan kasih, kepedulian, dan pengampunan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, hidup kita dibentuk oleh kasih Tuhan untuk menjadi “roti hidup” yang membawa kekuatan, penghiburan, dan berkat bagi sesama yang membutuhkan.

 Doa: Tuhan, kuatkan hati kami di tengah badai. Amin.

Senin, 6 Juli 2026

bahan bacaan : 1 Samuel 30 : 1 – 6 (TB2)

Pembalasan Daud kepada orang Amalek
Ketika Daud dan orang-orangnya sampai ke Ziklag pada hari yang ketiga, orang Amalek telah menyerbu Tanah Negeb dan Ziklag; Mereka mengalahkan Ziklag dan membumihanguskannya. 2 Mereka menawan perempuan-perempuan dan semua orang di sana, tua dan muda, tanpa membunuh seorangpun; melainkan menggiringnya sambil meneruskan perjalanan mereka. 3 Daud bersama orang-orangnya sampai ke kota itu, ternyata kota itu telah dibumihanguskan, dan isteri serta anak mereka yang laki-laki dan perempuan telah ditawan. 4 Pecahlah tangis Daud dan tentara yang bersamanya sampai mereka tidak kuat lagi menangis. 5 Kedua isteri Daud ditawan, yakni Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, janda Nabal, orang Karmel. 6 Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat pedih hatinya, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan hatinya di dalam TUHAN, Allahnya.

Jangan Saling Menyalahkan Saat Masalah Datang

Pernahkah kita merasa semuanya hancur lebur? Seperti Daud yang pulang ke rumah, ternyata kampungnya dibakar musuh dan keluarga ditawan. Yang paling sakit, teman-temannya malah mau melempari dia dengan batu karena mereka kecewa dan panik. Di zaman sekarang, saat ada masalah misalnya uang habis, anak sakit, atau bisnis rugi, sering kali reaksi pertama kita justru saling menyalahkan. Suami marah pada istri, istri membentak anak, atau kita mudah tersinggung dengan komentar orang di media sosial. Kita lupa bahwa di saat krisis, keluarga justru butuh pelukan, bukan pukulan; butuh dukungan, bukan tuduhan. Daud mengajarkan kita hal hebat: sebelum dia memimpin orang lain, dia “menguatkan hatinya dalam Tuhan” dulu. Dia tidak ikut-ikutan panik atau balas memarahi orang-orangnya. Ia tenang, berdoa, dan mencari Tuhan. Baru setelah hatinya kuat, dia bisa menjadi pemimpin yang menyejukkan bagi keluarganya. Mari belajar dari Daud: saat badai datang, jangan jadikan rumah sebagai medan perang tempat kita saling serang. Jadikan rumah sebagai tempat kita bersama-sama menguatkan hati dalam Tuhan. Tarik napas, berhenti sejenak dari gadget, pegang tangan pasangan atau anak, dan katakan, “Didalam Tuhan pasti ada jalan.”

Doa: Tuhan, kuatkan keluarga kami dalam kasih-Mu selalu. Amin.

Selasa, 7 Juli 2026

bahan bacaan : Mazmur 23 : 1 –  6 (TB2)

TUHAN, gembalaku yang baik
Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. 2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; 3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar demi nama-Nya. 4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang meneguhkan aku. 5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. 6 Kebajikan dan kasih setia belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan tinggal dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Jaminan Pemeliharaan Sang Gembala Yang Baik

Kita tidak bisa memprediksi masa depan, tetapi kita tahu siapa yang memegangnya.  Tuhan adalah Gembala yang Baik — Ia memelihara hidup kita dengan kasihNya, menuntun langkah kita di jalan yang benar, dan menjamin masa depan kita dalam damai sejahtera-Nya. Tuhan menyediakan “padang berumput hijau” dan “air yang tenang” sebagai simbol dari pemeliharaan yang menyeluruh, baik secara jasmani maupun rohani.

Saat dunia menawarkan kecemasan dan ketidakpastian, Tuhan menawarkan penyertaan dan ketenangan.Ketika kita tinggal dalam pemeliharaan Tuhan, kita tidak akan kekurangan apa pun yang benar-benar kita butuhkan.

Di tengah dunia yang penuh perubahan dan ketidakpastian, kita bisa tetap tenang karena Gembala yang Baik selalu menyertai kita. Biarlah kita terus percaya bahwa setiap langkah, setiap musim hidup, selalu ada dalam genggaman kasih-Nya. Karena itu, marilah kita belajar berserah dan berjalan dalam pimpinan-Nya setiap hari. Kita tidak perlu tahu semua tentang masa depan, asal kita tahu siapa yang menuntun kita hari ini.” Tuhan, Gembala yang Baik, itu selalu cukup bagi kita.

 Doa: Tuhan, Engkaulah Gembala kami selamanya. Amin.

Rabu, 8 Juli 2026

bahan bacaan : Amsal 30 : 11 – 12  (TB2)

11 Ada keturunan yang mengutuki ayahnya dan tidak memberkati ibunya. 12 Ada keturunan yang menganggap dirinya tahir, tetapi belum dibasuh dari kotorannya sendiri.

Hati-Hati Lidah yang Tajam di Rumah

Ada penyakit berbahaya yang mudah sekali menular, apalagi di era digital: penyakit suka menghakimi dan mengutuk. Di medsos, orang berani mengetik kata-kata kasar karena sembunyi di balik layar. Sayangnya, racun ini sering terbawa masuk ke rumah. Tanpa sadar, kita jadi generasi yang susah memberkati orang tua sendiri atau mudah mencemooh pasangan. “Ah, Bapak ketinggalan zaman,” “Ih, Ibu gaptek,” atau suami yang terus-menerus mengkritik masakan istri. Kata-kata tajam ini melukai hati lebih dalam daripada pisau. Kita merasa paling benar, paling pintar, sampai lupa bahwa kita sedang menyakiti orang yang paling kita kasihi. Firman Tuhan hari ini mau menegur kita halus: berhenti merasa paling suci. Pastoral interpersonal yang asli itu dimulai dari menahan lidah. Sebelum kita bicara kasar atau mengetik komentar jahat, tanya dulu: “Apakah ini membangun atau merusak?” Mari ubah suasana rumah kita. Kalau ada kesalahan, tegurlah dengan kasih, bukan dengan ejekan. Kirimlah pesan WA yang isinya ucapan terima kasih dan ayat penyemangat ke grup keluarga, bukan keluhan. Ingat, keluarga yang bahagia adalah keluarga yang saling memberkati dengan kata-kata manis, bukan saling mengutuk dengan sindiran pedas. Mulailah dari mulut kita sendiri.

 Doa: Tuhan,tolong kami memberi saling menyemangati dalam rumah,Amin.

Kamis, 9 Juli 2026

bahan bacaan : Amsal 30 : 13 – 14 (TB2)

13 Ada generasi yang angkuh pandangannya, dan terangkat kelopak matanya. 14 Ada keturunan yang giginya pedang, yang taringnya pisau, untuk memakan habis orang yang tertindas dari bumi, dan orang miskin di antara manusia.

Turunkan Gengsi, Lihatlah Orang di Sekitar

Salah satu godaan terbesar zaman sekarang adalah merasa sok hebat. Karena punya HP canggih, punya jabatan, atau punya banyak pengikut di media sosial, kita jadi merasa lebih tinggi dari orang lain. Mata kita jadi “tinggi”, sulit melihat orang kecil. Kita sibuk pamer kehidupan mewah di Instagram, tapi lupa bertanya apakah pembantu di rumah sudah makan. Kita sibuk berkhotbah di grup WhatsApp, tapi tidak peka melihat istri yang sedang lelah atau anak yang sedang sedih sendirian di kamar. Kita jadi buta terhadap kebutuhan nyata di depan mata karena terlalu fokus pada pencitraan di layar. Amsal hari ini mengingatkan bahaya sikap sombong seperti itu. Pelayanan sejati itu bukan soal terlihat hebat di depan orang banyak, tapi soal kerendahan hati untuk melayani yang paling kecil. Di rumah, ini artinya Papa harus mau turun dari “tahta”-nya untuk bantu cuci piring. Mama harus mau dengarkan cerita anak meski sedang sibuk. Jangan biarkan gengsi membuat kita asing di rumah sendiri. Tataplah mata anggota keluarga kita dengan kasih, bukan dengan penilaian. Sadarilah bahwa di hadapan Tuhan, kita semua sama. Kehadiran kita yang tulus jauh lebih berharga daripada seribu pujian di dunia maya.

Doa: Tuhan, ajarkan kami rendah hati satu sama lain di dalam rumah. Amin.

Jumat, 10 Juli 2026

bahan bacaan : 1 Timotius 4 : 13 – 16 (TB2)

13 Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membacakan Kitab Suci, membangun dan mengajar. 14 Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu melalui nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. 15 Perhatikanlah semuanya itu, hiduplah di dalamnya supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang. 16 Awasilah dirimu sendiri dan ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

Anak-anak Butuh Teladan, Bukan Sekedar Status

Di tengah banjir informasi internet, anak-anak dan generasi muda sekarang sangat kritis. Mereka tidak lagi mudah percaya cuma karena kita bicara bagus atau status rohani kita keren di media sosial. Mereka punya radar khusus untuk mendeteksi kemunafikan. Jika papa rajin posting ayat Alkitab tapi di rumah mudah marah-marah, jika Mama aktif di kegiatan gereja tapi di rumah malas mengurus keluarga, maka anak-anak akan bingung dan kehilangan respek. Mereka tidak butuh konten kreator rohani; mereka butuh orang tua yang hidupnya nyata, yang perkataannya sesuai dengan perbuatan. Paulus berpesan: “Jadilah teladan… dalam perkataan, dalam tingkah laku.” Ini kunci utama pastoralia intergenerasi. Warisan terbesar yang bisa kita tinggalkan buat anak cucu bukan harta atau popularitas, tapi contoh hidup yang konsisten. Mari kita periksa diri: apakah hidup kita sehari-hari sudah mencerminkan kasih Yesus? Apakah kita jujur, sabar, dan penuh kasih saat bersama keluarga? Jadikan rumah kita tempat belajar iman yang sesungguhnya, di mana anak-anak melihat Papa meminta maaf saat salah, dan Mama melayani dengan sukacita. Biarlah mereka mengenal Tuhan bukan dari layar HP, tapi dari cara kita hidup sehari-hari. Itu baru teladan yang berpengaruh.

Doa: Tuhan, jadikankami teladan nyata bagi keluarga. Amin.

Sabtu, 11 Juli 2026

bahan bacaan : Lukas 5 : 12 – 16 (TB2)

Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kulit
12 Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang kulitnya penuh dengan penyakit menular. Ketika ia melihat Yesus, sujudlah ia dan memohon: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." 13 Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu, dan berkata: "Aku mau, jadilah tahir." Seketika itu juga penyakit kulit itu meninggalkan dia. 14 Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapapun juga dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk penahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka." 15 Namun kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. 16 Tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang terpencil dan berdoa.

Menjaga Keseimbangan Hidup

Kehidupan yang kita jalani seringkali berlalu dengan begitu cepat. Kerja, menjalin relasi, dan pelayanan yang kita lakukan berjalan silih berganti. Terkadang kita tidak punya waktu untuk berhenti sejenak, beristirahat, merefleksikan perjalanan kehidupan yang kita jalani dan berdoa. Maka setiap orang memerlukan istirahat secukupnya, sebagaimana yang juga ditunjukkan oleh Yesus dalam bacaan hari ini. Bahwa dalam istirahat yang kita lakukan-pun tetap ada karya Tuhan yang dinyatakan atas hidup kita dan orang-orang di sekitar kita. Dalam bacaan hari ini, terlihat setelah Yesus mentahirkan seorang yang sakit kusta, ia lalu mengundurkan diri dari kerumunan banyak orang saat itu.  Pengunduran diri Yesus bukan karena malas dan enggan melayani sesama, tetapi didorong oleh kebutuhan untuk beristirahat dan berdoa untuk mencegah terjadinya kondisi “drop” dalam pelayananNya. Mengundurkan diri ke tempat sunyi untuk beristirahat sebentar guna mendapatkan keseimbangan dalam ritme kehidupan. Kita juga harus menjaga keseimbangan hidup kita. Jangan sampai kita mengalami kelelahan yang menghambat dan menurunkan produktivitas dalam bekerja dan melayani. Berhentilah sejenak untuk meredakan ketegangan jiwa dan merenungkan kasih Allah dengan penuh ungkapan syukur.

Doa:  Tuhan, tolong kami menjaga keseimbangan hidup, berdoa dan bekerja, Amin.

SUMBER : SHK BULAN JULI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 21 – 27 Juni 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Dan Pemberdayaan yang Holistik

Tema Mingguan : Gereja Rumah Tangga Dan Pemulihan Trauma Sosial

Minggu, 21 Juni 2026

bahan bacaan : Mazmur 137 : 1 – 9 (TB2)

Di tepi sungai-sungai Babel
Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. 2 Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita menggantungkan kecapi kita. 3 Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: "Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!" 4 Bagaimana mungkin kita menyanyikan nyanyian TUHAN di negeri asing? 5 Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah lumpuh tangan kananku! 6 Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak mengutamakan Yerusalem lebih dari pada sukacitaku! 7 Ingatlah, ya TUHAN, akan keturunan Edom, pada hari pemusnahan Yerusalem, mereka mengatakan: "Runtuhkan, runtuhkan sampai ke dasarnya!" 8 Hai puteri Babel, yang suka melakukan kekerasan, berbahagialah orang yang membalas kepadamu perbuatan-perbuatan yang kaulakukan kepada kami! 9 Berbahagialah orang yang menangkap dan memecahkan anak-anakmu pada bukit batu!

Memulihkan Luka, Membangun Harapan

Trauma sosial, baik akibat konflik, ketidakadilan maupun krisisi ekonomi, seringkali meninggalkan luka batin yang dalam bagi keluarga. Mazmur 137 memberi gambaran jelas tentang bangsa yang hancur hatinya di pembuangan di Babel. Teks ini dimulai dengan “di tepi sungai-sungai Babel, bangsa Israel menggantungkan kecapi mereka dan menangis.”  Luka mereka sungguh hebat sehingga “nyanyian Tuhan” terasa asing ditanah penindasan. Secara psikologis, Mazmur ini menggambarkan tahap ratapan jujur; sebuah langkah awal menuju pemulihan. Banyaknya kenyataan luka batin tiap anggota dalam keluarga, mengharuskan gereja keluarga menjadi “ruang aman” bagi anggotanya untuk mengekspresikan kepedihan tanpa merasa dihakimi. Pemulihan trauma sosial dimulai ketika keluarga berani mengakui luka tersebut di hadapan Allah, bukan dengan menyimpan dendam yang menghancurkan (ay 8-9), melainkan dengan menjaga iman agar tidak mati di tengah kesulitan. Hidup ini penuh dengan perjuangan, dimana luka pun harus kita perjuangkan untuk sembuh. Karena itu, jangan biarkan luka/trauma masa lalu membungkam nyanyian syukur kita. Sebagai keluarga, tugas kita adalah saling membalut luka dan memutus rantai kepahitan antar generasi. Bawalah setiap luka kepada Tuhan, bangunlah harapan dalam iman bersamaNya. Percayalah Dia mampu memulihkan martabat dan masa depan kita, bahkan di “tanah perantauan” sekalipun.

Doa: Tuhan, semua luka kami dalam keluarga ini, kami bawa dihadapanMu, amin  

Senin, 22 Juni 2026

bahan bacaan : Yeremia 31: 10 – 14 (TB2)

10 Dengarlah firman TUHAN, hai bangsa-bangsa, beritahukanlah di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerakkan Israel akan mengumpulkannya kembali, dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan dombanya! 11 Sebab TUHAN telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya. 12 Mereka akan datang bersorak-sorak di atas bukit Sion, muka mereka akan berseri-seri karena kebajikan TUHAN, karena gandum, anggur dan minyak, karena anak-anak kambing domba dan lembu; hidup mereka akan seperti taman yang diairi, mereka tidak akan merana lagi. 13 Pada waktu itu anak dara akan bersukaria menari-nari, bersama orang-orang muda dan orang-orang tua. Aku akan mengubah dukacita mereka menjadi sukacita, akan menghibur dan membuat mereka gembira lepas dari kedukaan mereka. 14 Aku akan memuaskan jiwa para imam dengan kelimpahan, dan umat-Ku akan kenyang dengan kebajikan-Ku, demikianlah firman TUHAN.

Membangun Kembali dari Reruntuhan hati

Trauma sering kali lahir dari rasa tidak berdaya melawan ketidakadilan atau kekerasan. Ayat 11 mengatakan bahwa Tuhan membebaskan Yakub dari tangan “orang yang lebih kuat”. Dalam pemulihan trauma sosial, kita belajar bahwa luka masa lalu tidak lagi memiliki kuasa atas masa depan kita. Di dalam ekosistem keluarga yang sehat, kita belajar melepaskan beban tersebut kepada Tuhan yang jauh lebih kuat dari sejarah kelam mana pun. Tatkala itu perawan-perawan akan bersukacita menari-nari… Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan…” Pemulihan trauma bukanlah sekadar “melupakan”, melainkan sebuah transformasi atau perubahan. Dulu: kesedihan dan kelaparan jiwa. Sekarang: kebun yang dialiri air dengan baik. Gereja rumah tangga harus menjadi “kebun yang diairi”, tempat di mana emosi yang kering karena trauma disirami dengan penerimaan, kasih sayang, dan doa. Pemulihan sosial terjadi ketika keluarga-keluarga tidak lagi menyimpan dendam, melainkan mulai hidup kembali dalam pengharapan. Ketika gereja rumah tangga menjadi sehat, ia akan memancarkan berkat bagi masyarakat luas. Trauma sosial disembuhkan bukan hanya dengan terapi medis, tetapi dengan komunitas yang menunjukkan bahwa kebaikan Tuhan itu nyata dan melimpah.

Doa: Tuhan, kami memohon pemulihan atas trauma sosial yang masih membekas di hati kami, keluarga maupun masyarakat, amin 

Selasa, 23 Juni 2026

bahan bacaan : Yeremia 31: 15 – 17 (TB2)

15 Beginilah firman TUHAN: Dengar! Di Rama terdengar ratapan, tangisan yang memilukan: Rahel menangisi anak-anaknya, ia tidak mau dihibur perihal anak-anaknya, sebab mereka sudah tiada. 16 Beginilah firman TUHAN: Tahanlah suara tangismu, janganlah matamu mencucurkan air mata, sebab ada imbalan untuk jerih payahmu, demikianlah firman TUHAN; mereka akan kembali dari negeri musuh. 17 Masih ada harapan untuk masa depanmu, demikianlah firman TUHAN: anak-anak akan kembali ke daerah mereka.

Mengubah Ratapan Menjadi Harapan

Trauma sosial sering kali meninggalkan luka kolektif yang mendalam, kehilangan masa depan, kehilangan rasa aman, atau kehilangan orang-orang terkasih. Ayat bacaan hari ini mencatat Rahel ada dalam “tangisan yang pahit” itu. Tuhan tidak membiarkan Rahel larut dalam keputusasaan tanpa batas. Firman-Nya datang dengan lembut namun tegas: “Cegahlah suaramu dari menangis, dan matamu dari mencucurkan air mata!” Ini bukan perintah untuk menekan emosi, melainkan sebuah janji bahwa “ada upah untuk jerih payahmu.” Dalam konteks trauma sosial, “jerih payah” kita adalah upaya untuk tetap bertahan hidup, tetap beriman, dan tetap mendidik keluarga di tengah reruntuhan sosial. Tuhan melihat setiap tetes air mata yang jatuh di ruang tamu kita dan Ia menjanjikan pemulihan, tetapi Gereja rumah tangga harus menjadi tempat pertama di mana luka diakui, bukan disembunyikan. Pemulihan trauma tidak dimulai dengan berpura-pura kuat, tetapi dengan kejujuran di hadapan Tuhan di dalam rumah kita. Rumah harus menjadi ruang aman di mana setiap anggota keluarga boleh menangis tanpa dihakimi.  Memang, pemulihan trauma sosial membutuhkan waktu (proses), namun fondasinya harus diletakkan di dalam keluarga. Jika hari ini rumah tangga kita sedang merasa seperti “Rahel yang menangis”, karena tekanan ekonomi, ketidakadilan sosial, atau luka masa lalu, ingatlah janji ini: Tuhan sedang bekerja untuk memulihkan. Ia mau mengubah ratapan rumah tangga kita menjadi harapan.

Doa Tuhan ubahlah ratapan kami menjadi harapan. Amin.  

Rabu, 24 Juni 2026

bahan bacaan : Yesaya 49: 14 – 21 (TB2)

14 Sion berkata: "TUHAN telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku." 15 Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, dan tidak menyayangi anak dari kandungannya? Kalaupun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. 16 Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu senantiasa di pelupuk mata-Ku. 17 Orang-orang yang membangun engkau datang bersegera, tetapi orang-orang yang membongkar dan merusak engkau meninggalkan engkau. 18 Layangkanlah pandangmu ke sekeliling dan lihatlah, mereka semua datang berhimpun kepadamu. Demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN, sungguh, mereka semua akan kaupakai, dan kulilitkan sebagai perhiasan, seperti yang dilakukan pengantin perempuan. 19 Sebab tempat-tempatmu yang tandus dan sunyi sepi dan negerimu yang dibongkar, sungguh, sekarang terlalu sempit untuk pendudukmu dan orang-orang yang mau menelan engkau akan menjauh. 20 Malahan, anak-anakmu yang kausangka hilang akan berkata kepadamu: "Tempat itu terlalu sempit bagiku, menyingkirlah, supaya aku dapat diam di situ!" 21 Engkau akan berkata dalam hatimu: "Siapakah yang telah melahirkan sekaliannya ini bagiku? Bukankah aku kehilangan anak-anak dan mandul, diangkut ke dalam pembuangan dan disingkirkan? Akan tetapi anak-anak ini, siapakah yang membesarkan mereka? Sesungguhnya, aku tertinggal seorang diri, tetapi mereka ini, dari manakah datangnya?"

Tangan yang Mengukir Nama

Dalam perjalanan hidup berbangsa dan bermasyarakat, kita sering kali menemui luka yang tidak hanya membekas pada individu, tetapi juga pada kelompok. Itulah yang disebut trauma social, luka kolektif akibat pengabaian, konflik, atau krisis yang membuat sebuah komunitas merasa “ditinggalkan Tuhan. Ayat 14 menggambarkan kondisi itu, kondisi psikologis Sion yang hancur. Kalimat “Tuhan telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku” bukan sekadar keluhan, melainkan jeritan trauma. Tuhan menjawab trauma tersebut dengan analogi kasih ibu. “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya… sekalipun ia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” (ay. 15) Tuhan melangkah lebih jauh dengan berkata: “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku” (ay. 16). Ini adalah bentuk pemulihan trauma yang paling mendalam. Di saat dunia luar menganggap kita beban, Tuhan menganggap kita sebagai identitas yang terukir secara permanen di tangan-Nya. Identitas ini memberi kita tanggungjawab untuk terus bangkit dan membangun hidup yang lebih baik.

Doa Tuhan, terima kasih kerena telah melukiskan kami di tanganMu Amin.  

Kamis, 25 Juni 2026

bahan bacaan : Yeremia 30 : 17 – 22 (TB2)

17 Sesungguhnya Aku akan memberikan kesembuhan bagimu, Aku akan mengobati luka-lukamu, demikianlah firman TUHAN, sebab engkau telah disebut: yang terbuang, Sion yang tidak dipedulikan seorangpun. 18 Beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya, Aku akan memulihkan keadaan kemah-kemah Yakub, dan akan mengasihani tempat-tempat tinggalnya, kota itu akan dibangun kembali di atas reruntuhannya, dan puri itu akan berdiri di tempatnya yang asli. 19 Nyanyian syukur akan terdengar dari antara mereka, juga suara orang yang bersukaria. Aku akan membuat mereka bertambah banyak dan mereka tidak akan berkurang lagi; Aku akan membuat mereka dihormati dan mereka tidak akan dihina lagi. 20 Anak-anak mereka akan menjadi seperti dahulu kala, dan perhimpunan mereka akan kokoh di hadapan-Ku; Aku akan menghukum semua orang yang menindas mereka. 21 Pemimpin mereka akan berasal dari mereka sendiri, dan penguasa mereka akan muncul dari tengah-tengah mereka; Aku akan membuat dia menghampiri-Ku dan ia akan mendekat kepada-Ku, sebab siapakah yang berani mempertaruhkan nyawanya untuk mendekat kepada-Ku? demikianlah firman TUHAN. 22 Maka kamu akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan menjadi Allahmu."

Allah Memulihkan Luka Batin

Seorang anak kecil jatuh dari sepeda dan lututnya terluka. Ia menangis keras bukan hanya karena sakit, tetapi karena takut. Ibunya tidak langsung menyuruh dia berhenti menangis. Ia menggendong, membersihkan luka, meniup perlahan, lalu berkata, “lukamu akan sembuh.” Anak itu belum langsung berhenti menangis, tetapi hatinya tenang karena merasa aman. Sentuhan kasih membuat proses pemulihan dimulai. Firman Tuhan hari ini menyuarakan janji Tuhan: “Aku akan memulihkan kesehatanmu dan menyembuhkan luka-lukamu.” Umat Tuhan saat itu terluka bukan hanya secara fisik, tetapi batin dan sosial ditolak, dihina, dan kehilangan rasa aman. Dalam kehidupan gereja rumah tangga, luka sosial juga nyata: konflik, kata-kata kasar, kekecewaan, bahkan penolakan. Trauma sering diwariskan diam-diam lewat sikap dingin, marah, atau menarik diri. Pemulihan dimulai saat rumah menjadi ruang aman: ada pelukan, doa, pengampunan, dan kesediaan mendengar. Dari keluarga yang disembuhkan, lahir gereja yang kuat. Tuhan bukan hanya menutup luka, Ia mengangkat kita kembali menjadi umat-Nya yang dipulihkan dan diberdayakan untuk memulihkan sesama.

Doa Tuhan pulihkan luka hati kami, dan keluarga kami. Amin. 

Jumat, 26 Juni 2026

bahan bacaan : Amos 9 : 11 – 15 (TB2)

Janji mengenai pemulihan
11 "Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh; Aku akan menutup retakan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya; Aku akan membangunnya kembali seperti di dahulu kala, 12 supaya mereka menguasai yang tersisa dari bangsa Edom dan segala bangsa yang dinamai milik-Ku," demikianlah firman TUHAN yang melakukan hal ini. 13 "Sesungguhnya, waktunya akan datang," demikianlah firman TUHAN, "bahwa pembajak akan segera menyusul penuai dan pengirik buah anggur segera menyusul penabur benih; gunung-gunung akan meniriskan anggur baru dan segala bukit akan kebanjiran. 14 Aku akan memulihkan kembali umat-Ku Israel: mereka akan membangun kota-kota yang hancur luluh dan mendiaminya; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan minum anggurnya; mereka akan membuat kebun-kebun buah-buahan dan makan buahnya. 15 Aku akan menanam mereka di tanah mereka, dan mereka tidak akan dicabut lagi dari tanah yang telah Kuberikan kepada mereka," firman TUHAN, Allahmu.

 Dari Reruntuhan Menuju Pemulihan   

Sebuah rumah rusak berat karena gempa. Dindingnya retak, atapnya bocor, dan barang-barang di dalamnya berserakan. Para penghuninya bukan hanya kehilangan tempat tinggal yang nyaman, tetapi juga rasa aman. Setiap suara keras membuat mereka terkejut; setiap getaran kecil membangkitkan kembali ketakutan lama. Namun perlahan rumah itu mulai diperbaiki. Bukan sekadar ditambal di bagian yang rusak, melainkan fondasinya diperkuat, tiang-tiang diganti, halaman ditata ulang, dan pohon baru ditanam di sekitarnya. Rumah itu bukan hanya berdiri kembali, tetapi menjadi tempat yang lebih kokoh, lebih indah, dan penuh harapan baru. Nubuat Amos tentang pemulihan “pondok Daud yang roboh” menggambarkan karya Tuhan yang serupa. Tuhan tidak sekadar menutup keretakan, tetapi membangun kembali dari dasar yang paling dalam.  Ia peduli pada luka sosial dan ketidakadilan, bukan hanya pergumulan pribadi. Trauma memang membuat keluarga dan masyarakat merasa hancur serta kehilangan arah masa depan. Namun janji Tuhan adalah pemulihan yang menyeluruh, sehingga hidup kembali berbuah dan bermakna. Gereja rumah tangga dipanggil menjadi ruang aman, tempat luka disembuhkan, hati diteguhkan, relasi dipulihkan, dan kehidupan diberdayakan kembali.

Doa Tuhan pulihkan hati kami dan relasi kami dengan orang lain. Amin.  

Sabtu, 27 Juni 2026

bahan bacaan : Yoel 2: 23 – 27 (TB2)

23 Hai bani Sion, bersorak-sorailah dan bersukacitalah karena TUHAN, Allahmu! Sebab telah diberikan-Nya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkan-Nya bagimu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti semula. 24 Tempat-tempat pengirikan akan penuh dengan gandum, dan tempat-tempat penampungan kelimpahan anggur dan minyak. 25 Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, pasukan-Ku yang besar yang Kukirim ke tengah-tengah kamu. 26 Kamu akan makan sepuasnya dan menjadi kenyang, dan kamu akan memuji-muji nama TUHAN, Allahmu, yang melakukan perbuatan ajaib bagimu; Umat-Ku tidak akan mendapat malu lagi untuk selama-lamanya. 27 Kamu akan mengetahui bahwa Aku ada di antara orang Israel, dan bahwa Akulah TUHAN, Allahmu; tidak ada yang lain; Umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya."

Janji Pemulihan: Dari Kekeringan Menuju Kelimpahan             

Teks Kitab Yoel pasal 2 ayat 23-27 adalah pesan pemulihan yang sangat kuat. Setelah masa-masa sulit akibat tulah belalang yang menghancurkan ekonomi dan spiritualitas bangsa Israel, Tuhan datang membawa janji kelimpahan. Efek dari pemulihan Tuhan bukan sekadar perut yang kenyang, melainkan pemulihan martabat. Tuhan berjanji bahwa umat-Nya “tidak akan mendapat malu lagi.” Ketika Tuhan memulihkan keadaan kita, Dia juga memulihkan nama baik dan posisi kita. Tujuannya hanya satu: supaya dunia tahu bahwa Dia adalah Tuhan di tengah-tengah kita dan tidak ada yang lain. Kalau kita sedang merasa waktu kita terbuang sia-sia karena kegagalan, penyakit, atau kesalahan masa lalu, ingatlah janji Tuhan yang luar biasa ini: Dia mampu memperbaiki yang rusak menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tuhan tidak hanya memberikan apa yang kita butuhkan hari ini, tetapi Dia sanggup mengganti kerugian dari “musim belalang” yang telah lewat. Di tangan Tuhan, tidak ada yang benar-benar hilang; Dia sanggup melipatgandakan hasil di musim yang baru. Janganlah biarkan kegagalan masa lalu membuat langkah kita tertahan. Jika Tuhan sudah memulihkan, maka rasa malu itu sudah diangkat.

Doa Tuhan terima kasih untuk janji pemulihan-Mu. Amin.  

*SUMBER : SHK BULAN JUNI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 12 – 18 April 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Yang Bermisi Melalui Pelayanan Sosial

Tema Mingguan : Gereja Rumah Tangga Menjadi Basis Misi

Minggu, 12 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  18 : 1 – 8 (TB2)

Paulus di Korintus
Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. 2 Di situ ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus dan baru datang dari Italia, dan dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah di rumah mereka. 3 Karena memiliki pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah. 4 Setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani. 5 Ketika Silas dan Timotius datang dari Makedonia, Paulus mulai dengan sepenuhnya memberitakan firman, dan bersaksi kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah Mesias. 6 Ketika orang-orang itu melawan dia dan menghujat, ia mengebaskan debu dari pakaiannya dan berkata kepada mereka: "Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri; aku bersih, tidak bersalah. Mulai sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain." 7 Ia keluar dari situ, lalu pergi ke rumah seorang bernama Titius Yustus, yang takur akan Allah, dan yang rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat. 8 Namun Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya kepada Tuhan bersama seisi rumahnya, dan banyak dari orang-orang Korintus, yang mendengarkan pemberitaan Paulus, menjadi percaya dan dibaptis.

Rumah Tangga Tempat Persemaian Injil  

Ketika Paulus tiba di Korintus, ia bertemu dengan Akwila dan Priskila. Menariknya, titik temu mereka bukan hanya karena panggilan pelayanan, tetapi juga sama-sama  kerja: Mereka semua tukang kemah. Rumah tangga Akwila dan Priskila menjadi ruang kerja sekaligus ruang kesaksian. Ketika paulus setia mengajar di rumah ibadat, ia menghadapi penolakan keras dan hujatan, namun ia tidak berhenti. Paulus kemudian menumpang di rumah Titius Yustus, seorang yang takut akan Allah, yang rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat. Hasilnya luar biasa: Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya, ia beserta dengan seluruh seisi rumahnya. Dalam budaya Alkitab, ketika kepala keluarga percaya, seluruh ekosistem rumah tangga (keluarga, hamba, sahabat) ikut terpapar kebenaran. Rumah Yustus menjadi basis misi Kerajaan Allah yang strategis. Hal ini mau menegaskan bahwa Gereja rumah tangga adalah basis atau tempat di mana nilai-nilai iman, karakter dan moral diajarkan dan dipraketkkan dalam keseharian hidup. Mari jadikan rumah tangga, keluarga kita tempat dimana Injil Kristus dihidupi  dan disaksikan agar orang lain pun dapat menikmati anugerah keselamatan dari Tuhan.

Doa:  Ya Tuhan, jadikanlah rumah tangga kami ladang Injil dan berbias keluar bagi kemuliaan namaMu. Amin.

Senin, 13 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  18 : 18 – 23 (TB2)

Paulus kembali ke Antiokhia
18 Paulus tinggal beberapa hari lagi di Korintus. Lalu ia minta diri kepada saudara-saudara di situ, dan berlayar ke Siria, sesudah ia mencukur rambutnya di Kengkrea, karena ia telah bernazar. Priskila dan Akwila menyertai dia. 19 Sampailah mereka di Efesus, dan Paulus meninggalkan Priskila dan Akwila di situ. Ia sendiri masuk ke rumah ibadat dan bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi. 20 Mereka minta kepadanya untuk tinggal lebih lama di situ, tetapi ia tidak mengabulkannya. 21 Ia minta diri dan berkata: "Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya." Lalu bertolaklah ia dari Efesus. 22 Ia sampai di Kaisarea dan setelah pergi ke Yerusalem dan memberi salam kepada jemaat, ia berangkat ke Antiokhia. 23 Setelah tinggal beberapa hari lama di situ, ia berangkat lagi, lalu menjelajahi seluruh tanah Galatia dan Frigia untuk menguatkan hati semua murid.

Rumah Tangga Sebagai Alat Menopang Misi Tuhan

Aquila dan Priskila adalah pasangan suami istri sekaligus rekan kerja dan sahabat yang  setia menemani Rasul Paulus dalam melakukan tugas memberitakan injil. Mereka sungguh-sungguh telah memberikan kehidupan pribadi dan keluarganya, pekerjaannya menjadi ruang persekutuan dan tugas- tugas pengutusan. ​Ketika Paulus tiba di Efesus dan memulai diskusi di rumah ibadat, jemaat di sana memintanya untuk tinggal lebih lama, namun Paulus menolak. Ia berkata, “Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah menghendakinya.” Paulus tidak didorong oleh “perasaan tidak enak” kepada orang lain, melainkan oleh kehendak Tuhan. Ia tahu kapan harus tinggal dan kapan harus pergi. Ia meninggalkan Akwila dan Priskila di sana. Ini adalah strategi misi yang baik. Paulus tidak menjadi “pusat” dari segala sesuatu. Ia melatih orang lain agar pekerjaan Tuhan tetap berjalan meski dia tidak ada.Adalah sukacita besar saat rumah tangga kita tidak sekedar dijadikan sebagai tempat kumpul keluarga namun sukacita itu akan menjadi sempurna saat rumah tangga kita dijadikan sebagai ruang persekutuan dan pengutusan misi Kristus. Tempat di mana kita mengkaderkan anak-anak kita untuk melanjutkan misi pelayanan ke depan.

Doa:  Ya Tuhan, jadikanlah rumah tangga kami  alat untuk menopang misi Tuhan, Amin.

Selasa, 14 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  21 : 15 – 16 (TB2)

Pertemuan Paulus dengan Yakobus di Yerusalem
15 Sesudah tinggal beberapa hari di Kaisarea, berkemaslah kami, lalu berangkat ke Yerusalem. 16 Bersama kami turut juga beberapa murid dari Kaisarea. Mereka membawa kami ke rumah seorang yang bernama Manason. Ia dari Siprus dan sudah lama menjadi murid. Kami akan menumpang di rumahnya.

Topanglah Pelayanan Dengan Keramahtamahan

Pekerjaan apapun  dapat berjalan dengan baik bukan semata-mata karena sang pekerja itu memiliki keahlian yang mumpuni. Harus diakui bahwa dibalik  setiap kesuksesan yang diraih, ada orang lain  yang ikut menopang, termasuk dalam tugas-tugas pelayanan. Ayat 16 nas bacaan hari ini menyebutkan bahwa beberapa murid dari Kaisarea ikut pergi bersama Paulus ke Yerusalem. Mereka tidak membiarkan Paulus pergi sendirian menghadapi ketidakpastian. Ini memberi pesan, dalam masa-masa sulit ketika bekerja atau melayani, kehadiran sahabat atau sesama orang percaya sangatlah menguatkan kita. Di Yerusalem, kehadiran Manason seorang murid lama dari Siprus turut menguatkan Paulus dan rombongannya. Manason menunjukkan kesediaan untuk membuka pintu rumahnya bagi para pelayan Tuhan meskipun situasi saat itu kurang baik bagi pengikut Kristus. Sungguh membuat hati bersukacita, saat rumah tangga kita dapat menjadi sarana untuk menopang pekerjaan pelayanan dan membantu tugas-tugas para pelayan. Keluarga yang ramah dan mau terbuka bagi orang lain, menjadi tempat berteduh bagi yang sedang dalam perjalanan atau suatu tugas tertentu adalah tindakan iman yang  mulia. Semoga keluarga kita semua dapat berlaku demikian.

Doa: Tuhan, kiranya rumah tangga kami terbuka, penuh keramahan bagi orang lain, Amin. 

Rabu, 15 April 2026

bahan bacaan : 1 Timotius 5 : 13 – 16 (TB2)

13 Lagi pula, dengan keluar masuk rumah orang, mereka membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga suka bergunjing dan mencampuri urusan orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas. 14 Karena itu aku mau supaya janda-janda yang muda kawin lagi, melahirkan anak, memimpin rumah tangganya dan jangan memberi alasan kepada lawan untuk memburuk-burukkan nama kita. 15 Sebab beberapa janda telah tersesat mengikut Iblis. 16 Jika seorang perempuan yang percaya mempunyai anggota keluarga yang janda, hendaklah ia membantu mereka sehingga mereka jangan menjadi beban bagi jemaat. Dengan demikian jemaat dapat membantu mereka yang benar-benar janda.

Peduli dan Saling Membantu

Dalam nas 1 Timotius 5:13-16, Rasul Paulus menekankan pentingnya perempuan, khususnya yang lebih muda, untuk menjalani hidup yang produktif dan disiplin agar tidak terjerumus dalam kebiasaan buruk seperti bermalas-malasan atau menjadi pengumpat. Semangat ini bertujuan agar setiap perempuan mampu mengelola rumah tangga dengan baik dan menjadi saluran berkat bagi sesama. Dengan bekerja keras dan memiliki karakter yang takut akan Tuhan, perempuan dipanggil untuk saling membantu dalam meringankan beban hidup satu sama lain, sehingga energi yang dimiliki tidak habis untuk hal-hal yang sia-sia, melainkan untuk membangun komunitas iman yang solid. Paulus menegaskan tanggung jawab keluarga untuk menyokong anggota mereka yang berkekurangan agar tidak menjadi beban bagi jemaat secara keseluruhan. Hal ini mengajarkan bahwa kemandirian ekonomi dan solidaritas dalam keluarga adalah bentuk ibadah yang nyata. Ketika setiap perempuan yang mampu turut mengambil bagian dalam meringankan kesulitan keluarga/saudaranya, jemaat memiliki sumber daya yang cukup untuk memfokuskan bantuan kepada mereka yang benar-benar lemah dan membutuhkan.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk peduli dan saling membantu. Amin.  

Kamis, 16 April 2026

bahan bacaan : Kisah  Para Rasul 20 : 7 – 12 (TB2)

7 Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. 8 Di ruang atas, tempat kami berkumpul, ada banyak lampu. 9 Seorang pemuda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, pemuda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah meninggal. 10 Paulus turun ke bawah, lalu merebahkan diri ke atas pemuda itu, mendekapnya, dan berkata: "Jangan khawatir, ia masih hidup." 11 Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; sehabis makan ia berbicara lama lagi sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat. 12 Sementara itu mereka membawa pemuda itu dalam keadaan hidup, dan mereka semua merasa sangat terhibur.

Rumah Tangga Menjadi Ruang Pemulihan

Dalam Kisah Para Rasul 20:7-12, persekutuan di Troas berlangsung di sebuah rumah. Ini menunjukkan bahwa rumah tangga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang suci untuk bersekutu dan mencari solusi atas persoalan hidup melalui Firman Tuhan. Eutikhus yang terjatuh dan mati di tengah ibadah mencerminkan kerentanan manusia yang sering kali merasa lelah atau “terlelap”  saat menghadapi beban masalah. Namun, respon jemaat dan pelayanan Paulus menegaskan bahwa dalam persekutuan yang didasari kasih, maut dan kegelisahan dapat diatasi oleh kuasa Allah. Melalui doa dan kebersamaan di dalam rumah, situasi yang tampak mustahil dapat dipulihkan, memberikan kelegaan nyata bagi setiap anggota keluarga yang sedang berbeban berat.  Eutikhus yang hidup kembali menjadi kesaksian bagi banyak orang, membuktikan bahwa mukjizat Allah bekerja secara hebat di dalam rumah-rumah yang terbuka bagi hadirat-Nya. Kesaksian ini bukan hanya tentang pemulihan fisik, tetapi juga tentang bagaimana sebuah komunitas iman yang dibangun dalam rumah tangga mampu menjadi ruang pemulihan bagi lingkungan sekitarnya. Ketika sebuah masalah diselesaikan di dalam persekutuan doa di rumah, hal itu menjadi bukti nyata bagi orang luar bahwa Tuhan benar-benar hidup dan peduli pada pergumulan umat-Nya.

Doa:  Ya Tuhan, biarlah dengan tuntunan kuasa Roh KudusMu keluarga kami hadir sebagai penopang pelayanan di jemaat. Amin.

Jumat, 17 April 2026

bahan bacaan : 1 Timotius 5 : 3 – 8 (TB2)

Mengenai janda
3 Hormatilah janda-janda yang benar-benar janda. 4 Namun jikalau seorang janda mempunyai anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka, karena itulah yang berkenan kepada Allah. 5 Sedangkan seorang janda yang benar-benar janda, yang ditinggalkan seorang diri, menaruh harapannya kepada Allah dan bertekun dalam permohonan dan doa siang malam. 6 Namun seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup. 7 Peringatkanlah hal-hal ini juga kepada janda-janda itu agar mereka hidup dengan tidak bercela. 8 Namun, jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.

Memperhatikan Sanak Saudara

Dalam 1 Timotius 5:3-8, Rasul Paulus memberikan penekanan bahwa kasih yang sejati harus dibuktikan melalui tindakan nyata di dalam keluarga sendiri. Memelihara seisi rumah dan sanak saudara, terutama mereka yang sudah lanjut usia atau menjanda, bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bentuk ibadah yang menghormati Allah. Dengan saling menanggung beban hidup di lingkaran keluarga, kita belajar untuk membalas budi orang tua dan memastikan tidak ada anggota keluarga yang terabaikan. Prinsip tanggung jawab domestik ini menjadi pondasi bagi karakter seorang beriman. Paulus memberikan peringatan keras bahwa mengabaikan kebutuhan sanak saudara sendiri setara dengan menyangkal iman dan lebih buruk daripada orang yang tidak percaya. Hal ini menunjukkan bahwa kesalehan tidak diukur dari aktivitas gereja semata, melainkan dari sejauh mana kita bersedia berbagi beban dan menyediakan kebutuhan bagi keluarga terdekat. Solidaritas keluarga ini bertujuan agar jemaat secara luas tidak terbebani secara finansial, sehingga sumber daya gereja dapat dialokasikan bagi mereka yang benar-benar sebatang kara dan tanpa dukungan sama sekali. Oleh karena itu, berbagi berkat dengan sanak saudara adalah kesaksian hidup yang menyatakan bahwa kasih Kristus nyata ditengah pergumulan ekonomi keluarga.

Doa: Tuhan, kiranya kami dapat terus saling menopang sebagai sanak saudara,  amin  

Sabtu, 18 April 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul  21 : 7 – 9 (TB2)

7 Dari Tirus kami tiba di Ptolemais dan di situ berakhirlah pelayaran kami. Kami memberi salam kepada saudara-saudara dan tinggal satu hari di antara mereka. 8 Keesokan harinya kami berangkat dari situ dan tiba di Kaisarea. Kami masuk ke rumah Filipus, pemberita Injil itu, salah satu dari ketujuh pelayan, dan kami tinggal di rumahnya. 9 Filipus mempunyai empat anak gadis yang memiliki karunia bernubuat.

Keluarga yang Saling Mendukung

Dalam Kisah Para Rasul 21:7-9, kita melihat teladan baik dari keluarga Filipus sang pemberita Injil di Kaisarea. Filipus tidak hanya melayani sendirian, tetapi ia membangun suasana rohani di rumahnya sedemikian rupa sehingga keempat anak perempuannya pun memiliki karunia bernubuat. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga yang sehat adalah keluarga yang saling mendukung dalam pertumbuhan karunia masing-masing, sehingga rumah tangga berubah menjadi pusat misi yang efektif. Ketika setiap anggota keluarga bersedia dipakai oleh Tuhan, pelayanan tidak lagi menjadi beban individu, melainkan sinergi kasih yang memperkuat kesaksian jemaat. Lebih dari sekadar memendam karunia untuk kepentingan pribadi, keluarga Filipus membuka pintu rumah mereka untuk menyambut Paulus dan kawan-kawannya, ini menunjukkan bahwa keramahtamahan adalah bagian integral dari misi. Kehadiran empat anak perempuan yang bernubuat menunjukkan bahwa Tuhan tidak membatasi usia atau gender dalam memberikan karunia-Nya demi pembangunan tubuh Kristus. Keluarga ini menjadi bukti nyata bahwa rumah tangga yang berfokus pada pelayanan akan menjadi tempat di mana visi Tuhan dinyatakan dan dikerjakan bersama-sama. Melalui keterbukaan hati dan kerelaan memberi diri, keluarga kita pun dapat menjadi alat misi yang kuat bagi lingkungan sekitar.

Doa: Tuhan, kiranya keluarga kami saling mendukung dan ramah kepada yang lain. Amin.   

*SUMBER : SHK BULAN APRIL 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 5 – 11 April 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Yang Bermisi Melalui Pelayanan Sosial

Tema Mingguan : Kebangkitan Kristus Memberdayakan Gereja Rumah Tangga, Semakin Beriman dan Sejahtera

Minggu, 5 April 2026

bahan bacaan :

Keluaran 12 : 24 – 28; (TB2)

24 Kamu harus melaksanakan hal itu sebagai ketetapan sampai selama-lamanya, bagimu dan bagi anak-anakmu. 25 Apabila kamu tiba di negeri yang akan TUHAN berikan kepadamu, seperti yang difirmankan-Nya, kamu harus melaksanakan ibadah ini. 26 Apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah arti ibadah ini bagimu? 27 maka kamu harus berkata: Itulah kurban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita." Lalu berlututlah umat itu dan sujud menyembah. 28 Orang Israel pergi dan melakukan seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa dan Harun. Demikian mereka lakukan.

1 Korintus 15 : 1 – 11  (TB2)

Kebangkitan Kristus
Sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. 2 Melalui Injil itu kamu diselamatkan, seperti yang telah kuberitakan kepadamu, asal kamu teguh berpegang padanya, kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. 3 Sebab, yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, 4 bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; 5 bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. 6 Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. 7 Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. 8 Yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. 9 Sebab akulah yang paling hina dari semua rasul, bahakan tidak layak disebut rasul, karena aku telah menganiaya Jemaat Allah. 10 Namun karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anugerah yang diberikan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukan aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku. 11 Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.

Kebangkitan Kristus Membuat Hidup Berdaya dan Sejahtera

Siapakah yang tidak kenal dengan Rasul Paulus?. Setiap orang pasti memiliki pandangan sendiri tentangnya. Mungkin ada yang berangggapan bahwa ia adalah seorang penganiaya jemaat yang telah diselamatkan Allah dalam Kristus Yesus. Mungkin juga ada yang berpandangan bahwa ia adalah seorang rasul besar malah lebih dari Simon Petrus murid Tuhan Yesus. Apapun pandangan kita, teks hari ini berbicara tentang sosok seorang Paulus sebagai seorang yang dikasihani Allah melalui anugerah-Nya. Pernyataan ini bukan tanpa alasan sebab hal inilah yang ditekankan oleh Paulus dalam suratnya ini. Di dalam teks Paulus menuturkan tokoh-tokoh yang kepadanya Tuhan Yesus saat bangkit menampakan diri. Mereka adalah Kefas (Simon Petrus), 12 murid, lebih dari 500 saudara seiman, Yakobus, semua rasul dan Paulus menyebutkan dirinya yang paling hina yang juga mendapatkan kemurahan penampakan diri Tuhan Yesus itu. Kesaksian Paulus harus juga menjadi bagian dari kesaksian kita dalam menghadapi kehidupan. Kita mungkin bukan siapa-siapa dalam kehidupan ini. Kita hanya orang biasa tapi yang harus kita yakini sungguh bahwa kebangkitan Kristus memberdayakan kita sebagai gereja rumah tangga untuk semakin beriman dan sejahtera. Karena itu mari hadapi hidup dengan pengharapan. 

Doa:  Ya Tuhan kuatkan iman percaya kami. Amin.

Senin, 6 April 2026

bahan bacaan :  1 Korintus 15 : 12 -19 (TB2)

Kebangkitan kita
12 Jadi, bilamana diberitakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? 13 Seandainya tidak ada kebangkitan orang mati, Kristus juga tidak dibangkitkan. 14 Andai kata Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. 15 Lebih dari pada itu, kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus--padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, andai kata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. 16 Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, Kristus juga tidak dibangkitkan. 17 Jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. 18 Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. 19 Jikalau kita hanya dalam hidup ini menaruh pengharapan pada Kristus, kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.

Kristus Bangkit, Iman Kita Berarti

Bayangkan jika Yesus hanya mati dan tidak pernah bangkit. Paulus berkata dengan tegas: jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan Injil dan sia-sialah juga iman kita. Semua doa, ibadah, dan pengharapan kita hanya akan menjadi rutinitas kosong tanpa makna kekal. Tanpa kebangkitan, iman Kristen hanyalah cerita moral tanpa kuasa yang menyelamatkan. Namun syukur bagi Allah, Kristus sungguh bangkit! Kebangkitan-Nya menjadi dasar iman kita yang paling kokoh. Ia hidup, dan karena itu iman kita bukan ilusi, melainkan kebenaran yang memberi hidup. Mari kita jalani hari ini dengan keyakinan dan semangat, sebab iman kita berdiri di atas kemenangan Kristus atas maut.

Namun persoalannya bukan hanya apakah Kristus bangkit, melainkan apakah kebangkitan itu sungguh mengubah hidup kita. Sebab ada orang yang mengaku percaya, tetapi hidupnya tetap dikuasai ketakutan, keputusasaan, dan kekosongan. Kebangkitan bukan sekadar doktrin yang diakui, tetapi realitas yang harus dialami. Jika Kristus benar-benar hidup, maka hidup kita tidak boleh lagi dijalani dengan cara yang lama.

Doa:  Kami sungguh meyakini kebangkitan-Mu ya Tuhan, ,Amin.

Selasa, 7 April 2026

bahan bacaan :  1 Korintus 15 : 23 – 31 (TB2)

23 Namun tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. 24 Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. 25 Sebab Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. 26 Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut. 27 Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Kalau dikatakan, bahwa "segala sesuatu telah ditaklukkan", teranglah bahwa Ia yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk di dalamnya. 28 Namun kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua. 29 Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal? 30 Kami juga--mengapa kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya? 31 Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar.

Maut Kalah, Keluarga Kita Berdaya

Kematian adalah musuh terbesar manusia, sumber ketakutan dan keputusasaan. Namun melalui kebangkitan-Nya, Yesus telah mengalahkan maut secara tuntas. Artinya, kuasa kematian tidak lagi memegang kata terakhir atas hidup kita. Di dalam Kristus, ketakutan digantikan oleh pengharapan, dan keputusasaan digantikan oleh keberanian. Karena maut telah dikalahkan, keluarga Kristen dipanggil untuk hidup berdaya dan tangguh. Tantangan boleh datang, tetapi kita tidak menyerah pada rasa takut. Kita merawat kesehatan jiwa dan raga, saling menguatkan, dan menjalani hidup dengan penuh syukur sebagai keluarga yang percaya kepada Tuhan yang hidup.Namun seringkali kita masih hidup seolah-olah maut masih berkuasa. Kita takut kehilangan, takut gagal, takut masa depan. Kita mengaku percaya kepada Kristus yang bangkit, tetapi hati kita tetap dikuasai kecemasan dan ketakutan. Kebangkitan Kristus menantang kita untuk hidup dengan cara yang berbeda: bukan lagi sebagai orang yang dikendalikan oleh ketakutan, tetapi sebagai orang yang dikuatkan oleh pengharapan. Firman Tuhan hari ini memanggil kita untuk memeriksa dasar pengharapan kita. Jika kita percaya pada kebangkitan Kristus, kita tidak perlu takut terhadap maut. Kita memiliki kekuatan untuk bertahan dalam penderitaan, dan pelayanan serta kasih yang kita lakukan hari ini memiliki nilai kekekalan.

Doa:  Syukur kepadaMu Tuhan yang telah memberikan kepada kami kemenangan oleh Yesus Kristus, amin..

Rabu, 8 April 2026

bahan bacaan : 1 Korintus 15 : 35 – 49 (TB2)

Kebangkitan tubuh
35 Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?" 36 Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau tidak mati dahulu. 37 Yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi bijinya saja, umpamanya biji gandum atau biji lain. 38 Namun Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri. 39 Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan. 40 Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi. 41 Kemuliaan matahari lain dari pada kemuliaan bulan, dan kemuliaan bulan lain dari pada kemuliaan bintang-bintang, dan kemuliaan bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan bintang yang lain. 42 Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Tubuh yang ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. 43 yang ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan; yang ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan. 44 Yang ditaburkan adalah tubuh alami, yang dibangkitkan adalah tubuh rohani. Jika ada tubuh alami, ada pula tubuh rohani. 45 Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan. 46 Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohani, tetapi yang alami; kemudian barulah datang yang rohani. 47 Manusia pertama berasal dari debu tanah, manusia kedua berasal dari surga. 48 Mereka yang dari debu sama dengan dia yang dari debu dan orang-orang surgawi sama dengan Dia yang sorgawi. 49 Sama seperti kita telah memakai rupa yang dari debu, demikian pula kita akan memakai rupa yang surgawi.

Menanti Tubuh Sorgawi yang Baru

Tubuh kita saat ini rapuh: bisa sakit, lelah, dan menua. Namun kebangkitan Yesus memberi kita janji yang melampaui keterbatasan ini. Tuhan menyiapkan bagi kita tubuh sorgawi yang mulia, tubuh yang tidak lagi dikuasai penderitaan, air mata, dan kematian. Karena itu, jangan biarkan kelemahan fisik membuat kita kehilangan harapan. Apa yang kita alami sekarang bersifat sementara. Masa depan kita di dalam Tuhan adalah pemulihan yang sempurna dan kemuliaan yang kekal. Pengharapan ini memberi kekuatan bagi kita untuk tetap setia dan bersukacita hari demi hari. Namun pengharapan akan tubuh yang mulia bukan alasan untuk meremehkan hidup saat ini. Justru sebaliknya, pengharapan itu mengubah cara kita menjalani hidup sekarang. Kita tidak hidup untuk mengejar kesenangan sesaat, tetapi untuk mempersiapkan diri bagi kemuliaan kekal. Tubuh yang rapuh ini adalah tempat kita belajar setia sebelum kita menerima yang mulia. Jangan menyerah pada keadaan tubuh fisik kita yang lemah atau keadaan keluarga yang sulit. Kebangkitan Kristus membuktikan bahwa dari tempat yang gelap (kubur/masalah), Tuhan bisa memunculkan kehidupan yang baru dan penuh kemuliaan.

Doa:  Terima kasih Tuhan Yesus, atas kekuatan bagi kami sekeluarga,  Amin.

Kamis, 9 April 2026

bahan bacaan :  1 Korintus 15 : 50 – 58 (TB2)

50 Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak dapat mewarisi Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mewarisi apa yang tidak binasa. 51 Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah, 52 dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah. 53 Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati. 54 Sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, akan digenapi firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan. 55 Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" 56 Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. 57 Namun syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan melalui Tuhan kita Yesus Kristus. 58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Teguh Beriman dan Giat Melayani

Kebangkitan Kristus bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dihidupi. Paulus mengingatkan bahwa iman kepada Kristus yang bangkit harus mendorong jemaat di Korintus dan kita  di saat ini untuk berdiri teguh dan giat dalam pekerjaan Tuhan. Keluarga yang percaya pada kuasa Paskah seharusnya menjadi keluarga yang aktif mengasihi dan melayani. Jangan goyah oleh ajaran sesat atau penderitaan. Fokuskan energi pada hal yang baik atau positif. Yakinlah, setiap jerih payah dalam Tuhan tidak pernah sia-sia. Tuhan melihat setiap kebaikan kecil, setiap pelayanan sederhana, setiap kasih yang kita taburkan dan setiap doa yang kita sampaikan. Mari terus melangkah dengan setia, menjadikan keluarga kita alat berkat di mana pun Tuhan menempatkan kita. Namun seringkali kita mudah lelah, kecewa, bahkan berhenti melayani karena merasa tidak dihargai. Kita mengukur pelayanan dengan hasil yang terlihat. Padahal kebangkitan Kristus mengingatkan kita bahwa yang tidak terlihat pun berharga di mata Tuhan. Kesetiaan tidak diukur dari besar kecilnya hasil, tetapi dari ketekunan untuk tetap berjalan bersama Tuhan.

Doa:  Tuhan, mampukanlah kami agar tidak goyah dan lemah dalam melayaniMu, . Amin.

Jumat, 10 April 2026

bahan bacaan :  Yohanes 11 : 17 – 32 (TB2)

17 Ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. 18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira tiga kilometer jauhnya. 19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. 20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Namun Maria tinggal di rumah. 21 Lalu kata Marta kepada Yesus: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. 22 Namun sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya." 23 Kata Yesus kepada Marta: "Saudaramu akan bangkit." 24 Kata Marta kepada-Nya: "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman." 25 Kata Yesus kepadanya: "Akulah kebangkitan dan hidup; siapa yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, 26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?" 27 Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang datang ke dalam dunia." 28 Sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: "Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau." 29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi menemui Dia. 30 Namun waktu itu Yesus belum sampai di kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. 31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. 32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, sujudlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati."

Percaya Tuhan, Hidup Penuh Harapan

Pernahkah kita merasa Tuhan terlambat menolong? Maria dan Marta pernah merasakan hal itu. mereka berada dalam kesedihan mendalam saat Lazarus saudara laki-laki merea meninggal. Dalam situasi itu, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai kebangkitan dan hidup. Ia menunjukkan bahwa di tengah keadaan paling gelap sekalipun, kuasa Allah sanggup menghadirkan kehidupan baru. Begitu juga dalam kehidupan keluarga kita. Masalah boleh terasa buntu, harapan boleh tampak mati, tetapi Tuhan tidak pernah kehabisan jalan. Selama kita percaya dan mengandalkan-Nya, selalu ada pengharapan yang hidup dan masa depan yang dipulihkan oleh kasih-Nya.Namun iman seringkali diuji justru ketika Tuhan tampak terlambat. Maria dan Marta percaya, tetapi mereka juga kecewa: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini…” Kalimat itu adalah suara banyak orang percaya. Kita percaya, tetapi kita juga bertanya mengapa Tuhan terlambat menolong. Tapi di sini kita belajar, waktu Tuhan bukanlah waktu kita. Itu juga bukan berarti Tuhan tidak peduli. Justru di tangan Tuhan, “terlambat” merupakan persiapan untuk mujizat yang lebih besar. Tetaplah percaya pada perkataan Tuhan Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup”!.

Doa:  Tuhan, beri kami kekuatan  dan percaya pada waktu-Mu yang tepat dalam bekerja Amin.

Sabtu, 11 April 2026

bahan bacaan : Yohanes 11 : 33 – 44 (TB2)

33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan begitu juga orang-orang Yahudi yang datang bersama dia, kesallah hati-Nya. Ia terguncang dan berkata: 34 "Di manakah kamu baringkan dia?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!" 35 Lalu menangislah Yesus. 36 Kata orang-orang Yahudi: "Lihatlah, Ia sungguh mengasihi dia!" 37 Namun beberapa orang di antaranya berkata: "Ia yang mencelikkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?" 38 Yesus sekali lagi kesal, lalu pergi ke kubur itu. Kubur itu sebuah gua yang ditutup dengan batu. 39 Kata Yesus: "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati." 40 Jawab Yesus: "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?" 41 Mereka pun mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: "Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. 42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." 43 Sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: "Lazarus, marilah keluar!" 44 Orang yang telah mati itu keluar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kafan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: "Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi."

Kemuliaan Allah Nyata, Tetaplah Percaya!

Kisah tentang kebangitan Lazarus, bukan sekedar tentang kekuatan kuasa Allah dalam Kristus yang bangkit. Kisah ini adalah kisah tentang kedalaman kasih Allah bagi kita manusia, sebab kita melihat Yesus yang tersentuh hatinya dan bahkan menangis. Itu artinya Tuhan Yesus tidak pernah jauh atau dingin dan tidak peduli dengan penderitaan kita. Apa yang dilakukan-Nya dengan membangkitkan Lazarus memperlihatkan bahwa Tuhan Yesus juga merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Maria dan Marta, saudara perempuan Lazarus. Ketika Ia berkata, Akulah kebangkitan dan hidup. Tuhan Yesus mau menegaskan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengubah duka menjadi sukacita dan kematian menjadi kehidupan. Di dalam kematian dan kebangkitan-Nya ada kehidupan bagi orang percaya. Karena itu, Tuhan mengajak kita untuk percaya pada-Nya, pada semua rencana-Nya dalam kehidupan kita, bahkan saat kita berada di ”depan kubur” persoalan dan pergumulan kita. Jangan biarkan keraguan ada dalam hati sehingga iman dan percaya kita menjadi goyah kepada Tuhan. Kemuliaan Allah nyata, jadi tetaplah percaya!

Doa:  Tuhan, teguhkanlah iman dan percaya kami bahwa Engkaulah kebangkitan dan Hidup Amin.

*SUMBER : SHK BULAN APRIL 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 29 Maret – 4 April 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Penderitaan Kristus yang Menyelamatkan

Tema Mingguan : Sambutlah Yesus dan Ikutlah Dia!

Minggu, 29 Maret 2026

bahan bacaan : Markus 11 : 8 – 11 (TB2)

8 Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang. 9 Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang mengikuti dari belakang berseru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, 10 terpujilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapa kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!" 11 Ia masuk ke Yerusalem, ke Bait Allah, dan meninjau semuanya. Namun, karena hari hampir malam, Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya.

Sambutlah Yesus dan Ikutlah Dia

Ketika Yesus memasuki Yerusalem, banyak orang menyambut-Nya dengan sorak sorai dan daun palma. Mereka memuji dan mengagungkan Dia sebagai Raja. Namun, di kemudian hari, banyak dari mereka yang sama justru menolak dan membiarkan Dia disalibkan. Sambutan yang semula penuh sukacita berubah menjadi penolakan karena mereka tidak memahami arti sebenarnya dari kehadiran Yesus. Yesus datang bukan untuk mencari kemuliaan dunia, melainkan untuk menebus dosa manusia melalui pengorbanan di salib. Dari salib itu, kita melihat kasih yang sempurna kasih yang rela menderita demi keselamatan dunia. Hari ini ada banyak anak Tuhan yang mengaku untuk menyambut Yesus dan mengikuti-Nya. Menyambut Yesus berarti bukan hanya bersorak ketika keadaan baik, tetapi mengikut Dia dengan setia di jalan penderitaan, ketaatan, dan kasih. Mengikut Yesus berarti membiarkan hati kita dibentuk oleh kasih yang rela berkorban, dan hidup dalam ketaatan kepada kehendak Allah.Jangan hanya menyambut Yesus dengan kata dan seruan, tetapi sambutlah Dia dengan hati yang mau taat dan setia mengikuti jalan-Nya, sekalipun itu jalan salib.

Doa Tuhan, teguhkanlah pengakuan iman kami untuk menyambut-Mu dan setia mengikuti-Mu, Amin

Senin, 30 Maret 2026

bahan bacaan : Lukas 9 : 23 – 27 (TB2)

Syarat-syarat mengikut Yesus
23 Yesus berkata kepada mereka semua: "Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. 24 Karena siapa saja yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; Tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. 25 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri? 26 Sebab siapa saja yang malu karena Aku dan karena perkataan-Ku, Anak Manusia juga akan malu karena orang itu, apabila Ia datang dalam kemuliaan-Nya dan dalam kemuliaan Bapa dan malaikat-malaikat kudus. 27 Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mengalami kematian sebelum mereka melihat Kerajaan Allah."

Ikut Yesus Membutuhkan Pengorbanan

Perkataan Yesus dalam ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa menjadi murid Kristus bukan sekadar mengikuti dari jauh, tetapi keputusan untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya dengan segala konsekuensi yang menyertai. Mengikut Yesus berarti menyangkal diri, melepaskan keinginan pribadi yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Ini bukan hal mudah, sebab dunia menawarkan kenyamanan dan kebanggaan diri. Namun, Yesus mengajar bahwa hidup yang sejati justru ditemukan saat kita berani kehilangan diri karena Dia. Syarat berikutnya ialah memikul salib setiap hari. Akhirnya, mengikut Yesus berarti berjalan di jejak Kristus dan hidup dalam kasih, kebenaran, dan pengorbanan. Jalan ini bukan jalan mudah, tetapi inilah jalan menuju kehidupan yang kekal. Yesus memanggil setiap kita bukan hanya untuk menyambut-Nya, tetapi juga mengikut Dia dengan kesetiaan. Mengikut Yesus tidak cukup hanya dengan kata-kata atau perasaan kagum, melainkan dengan ketaatan dan pengorbanan setiap hari sepanjang hidup. Ada harga yang harus dibayar, tetapi di dalamnya ada sukacita sejati, karena kita berjalan bersama Tuhan yang telah lebih dahulu mengasihi kita.

Doa: Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk rela berkorban, taat dan setia mengikuti-Mu, Amin

Selasa, 31 Maret 2026

bahan bacaan : Lukas 9 : 57 – 58 (TB2)

Mengikut Yesus
57 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada-Nya, "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." 58 Yesus berkata kepadanya: "Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."

Ikut Yesus Rela Melepaskan Zona Nyaman

Bayangkan seekor anak burung yang sudah nyaman di sarangnya. Ia diberi makan oleh induknya setiap hari, hangat dan aman. Namun suatu hari, induknya mendorongnya keluar dari sarang. Awalnya ia takut, tapi ketika sayapnya mulai mengepak, ia menemukan bahwa ia bisa terbang! Demikian juga dengan kita Tuhan sering “mendorong” kita keluar dari kenyamanan agar kita belajar percaya dan mengalami kuasa-Nya. Yesus tidak memanggil kita untuk hidup mudah, tetapi untuk hidup bermakna. Ketika seorang datang kepada Yesus dan berkata, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Tetapi Yesus menjawab, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Perkataan ini bukan sekadar penolakan, tetapi sebuah pengingat bahwa mengikut Yesus berarti siap meninggalkan kenyamanan duniawi. Yesus tidak menjanjikan kemudahan, tetapi memanggil kita untuk hidup dalam kesetiaan dan pengorbanan. Ia ingin pengikut yang tidak hanya ikut ketika keadaan baik, tetapi juga ketika jalan menjadi sempit dan penuh tantangan. Mengikut Yesus berarti siap beranjak dari “zona nyaman” tempat di mana kita merasa aman, mapan, dan tidak terganggu. Namun, di luar zona itu, ada pertumbuhan iman, ketaatan yang lebih dalam, dan pengalaman akan kasih Tuhan yang nyata. Mengikut Yesus bukan tentang kenyamanan, tetapi tentang komitmen. Di mana pun Dia memimpin, di situlah tempat terbaik untuk kita berada.

Doa Ya Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk melepaskan zona nyaman dan setia mengikuti Engkau. Amin

Rabu, 1 April 2026

bahan bacaan : Lukas 9 : 59 – 60 (TB2)

59 Ia berkata kepada seorang yang lain: "Ikutlah Aku!" Namun orang itu berkata: "Tuhan, Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku." 60 Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; Namun engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah."

Yesus yang Terutama

Hidup selalu memberikan berbagai pilihan namun setiap keputusan sangat tergantung pada cara pandang kita tentang hidup itu sendiri. Di bulan April kita belajar mengenali kehendak Tuhan dengan menjadi gereja rumah tangga yang bermisi melalui pelayanan sosial. Inilah tema pembinaan sepanjang bulan April. Adapun gereja rumah tangga itu  adalah keluarga Kristen yang menampilkan wajah dan karakter Kristus di dalam kehidupannya. Pelayanan sosial menjadi salah satu bentuk misi gereja rumah tangga. Penulis injil Lukas menekankannya saat menceritakan respon Yesus terhadap orang yang meminta ijin untuk menguburkan ayahnya. Baginya ada hal yang utama yakni keluarganya dan keinginan mengikut Yesus hanya sampingan. Menghormati orang yang meninggal dengan penguburan yang pantas merupakan suatu kewajiban dalam tradisi Israel dan bangsa-bangsa lain di Timur Dekat Kuno. Karena iklim di Palestina cukup panas, orang yang meninggal harus segera dikuburkan paling lambat 24 jam sejak kematiannya. Penguburan diprioritaskan ketimbang mengikut Yesus. Respon yang Yesus berikan mengandung pesan bahwa untuk mengikut-Nya, apapun harus ditinggalkan. Siapapun yang telah berkomitmen menjadi pengikut Tuhan harus bisa merubah cara pandangnya. Ia harus bisa membuat keputusan  memprioritaskan Tuhan  di atas semua kepentingan apapun.

Doa:  Ajar kami untuk tidak menoleh ke belakang ya Tuhan,  Amin.

Kamis, 2 April 2026

bahan bacaan : Lukas 9 : 61 – 62 (TB2)

61 Seorang yang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku."62 Yesus berkata kepadanya: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."

Pegang Janji untuk Tuhan

Perjalanan mengiring Tuhan memang hal yang tidak mudah. Tetapi kita harus mempertahankan komitmen itu sekalipun berhadapan dengan sejumlah tantangan. Sebut saja namanya Berty. Ia seorang pecandu alkohol.  Suatu ketika Berty jatuh sakit. Ginjalnya bermasalah dan Berty ketakutan. Di saat pendeta datang berdoa, ia membuat  janji akan menjadi pengasuh bila sembuh. Ia juga  berjanji tidak akan mengkonsumsi minuman keras. Bila sebelumnya ia malas beribadah, dalam kesakitannya, Berty mulai mengikuti ibadah-ibadah. Ia juga rajin memberi sumbangan untuk kegiatan gereja. Hanya saja semua berubah ketika ia sembuh. Ia mendapatkan kenaikan jabatan dan sering menghadiri rapat di cafe-cafe. Ia mulai mengkonsumsi minuman keras dan jarang mengikut ibadah. Ia bahkan menolak ketika diminta untuk menjadi pengasuh. Berty melupakan kebaikan Tuhan yang menolongnya melewati kesakitannya. Ia menganggap sepele keputusannya  mengikuti Tuhan. Sikap Berty adalah seperti seorang yang berkata “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku. Teks ini mengajarkan bahwa mengikut Yesus berarti menuntut adanya komitmen penuh, tidak menoleh ke belakang. Kalau kita menoleh, maka kepada kita akan dikatakan : ”Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah”.

Doa:  ya Tuhan Yesus, tolong kami tetap pada komitmen mengikut-Mu,  Amin.

Jumat, 3 April 2026

bahan bacaan : Yohanes 19 : 28 – 30 (TB2)

Yesus mati
28 Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia--supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci--:"Aku haus!" 29 Di situ ada suatu bejana penuh anggur asam. Lalu mereka menlilitkan suatu bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengulurkannya ke mulut Yesus. 30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

Kematian Yesus demi Selamatkan Hidup

Semua orang berdosa dan tidak ada seorangpun yang mampu menyelamatkan dirinya. Dosa membuat hidup kita terjebak dalam ketidakpastian tetapi juga kebinasaan. Kita sangat membutuhkan penyelamatan dari Alah sebab hanya Allah yang sanggup lepaskan kita dari jerat dosa. Hari ini sebagai gereja kita memperingati kematian Tuhan Yesus. Ia mati demi menyelamatkan kita yang berdosa. Peristiwa kematian-Nya sebagaimana yang ditulis Injil Yohanes memberikan gambaran dalamnya kasih-Nya kepada kita. Injil Yohanes menulis “Yesus tahu bahwa segala sesuatu sudah selesai, berkatalah Ia, – supaya digenapi apa yang tertulis dalam Kitab Suci – Aku haus” (Yohanes 19:28). Kematian-Nya di tiang kayu salib mempertontonkan kasih Allah yang agung itu. Allah pengasih merasakan setiap sisi kelemahan manusia.  Saat berada di salib, Tuhan Yesus menderita kehausan. Bukan air yang diberikan kepada-Nya melainkan anggur asam. Ia pun berkata “sudah selesai”. Cerita ini  memberikan kesaksian adanya kejahatan yang begitu menguasai kehidupan kita. Dosa membuat kita  kehilangan akal sehat dan hati nurani. Kita menyalibkan dan membunuh Pencipta. Kematian Tuhan yang kita peringati hari ini membuat kita mesti melakukan evaluasi diri. Transformasi hidup harus kita kerjakan. Sebagai gereja rumah tangga kita terpanggil bermisi melalui pelayanan sosial. Hidup kita tidak boleh terus berkanjang dalam dosa.

Doa:  YTuhan Yesus, terima kasih karena kematian-Mu, kami diselamatkan, Amin.

Sabtu, 4 April 2026

bahan bacaan :  Yohanes 19 : 38 – 42 (TB2)

Yesus dikuburkan
38 Sesudah itu Yusuf dari Arimatea meminta kepada Pilatus,supaya ia diperbolehkan menurunkan jenazah Yesus. Ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada para pemuka Yahudi. Pilatus mengabulkan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. 39 Datanglah juga Nikodemus, orang yang dahulu pernah datang kepada Yesus pada malam hari. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira tigapuluh kilogram beratnya. 40 Mereka mengambil mayat Yesus, mengafani-Nya dengan kain linen dan membubuhi-Nya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat. 41 Dekat tempat Yesus disalibkan ada taman dan dalam taman itu ada kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. 42 Karena hari itu Hari Persiapan orang Yahudi, sedangkan kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan Yesus di situ.

Kasih akan Dia yang Tersalib

Alkitab menceritakan dua tokoh yang berperan dalam proses penguburan Tuhan Yesus : Yusuf dari Arimatea  dan Nikodemus. Yusuf dari Arimatea adalah seorang yang kaya dan ia telah menjadi murid Tuhan Yesus pula (Matius 27:57). Di saat Tuhan Yesus mati, ia yang berinsiatif meminta kepada Pilatus agar bisa menurunkan mayat Tuhan Yesus dan menguburkannya. Sebagai murid, ia menyatakan kasih kepada Tuhan. Walau ia tidak mengerti bahkan mungkin merasa hancur karena kematian Sang Guru, tetapi ia tetap memberanikan diri meminta mayat Tuhan. Ini tindakan berani sebab ia akan berhadapan dengan pemuka Yahudi (Yohanes 19:38). Kasihnya mendorongnya memakamkan Tuhan Yesus di kuburan miliknya yang baru. Nikodemus adalah tokoh yang pernah bercakap dengan Tuhan Yesus (Yohanes 3). Ia juga menyatakan kasih kepada Tuhan Yesus dengan cara bersama Yusuf dari Arimatea memakamkan tubuh Tuhan. ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu kira-kira 30 kilogram beratnya. Baik Yusuf atau Nikodemus, kasih kepada Tuhan tidak hanya dinyatakan ketika Tuhan masih hidup. Mereka tetap menyatakan kasih kepada Tuhan Yesus. Pelayanan itu mereka wujudkan dengan cara memakamkan Tuhan Yesus.  Pelayanan sosial yang mereka lakukan merupakan teladan bagi gereja sepanjang masa.

Doa:  Ya Tuhan Yesus, terimalah seluruh tanda kasih kami akan Dikau, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN MARET-APRIL 2026, LPJ-GPM

 

Santapan Harian Keluarga, 22 – 28 Maret 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Penderitaan Kristus yang Menyelamatkan

Tema Mingguan : Bertanggungjawablah demi Keadilan, Jangan Cuci Tangan!

Minggu, 22 Maret 2026

bahan bacaan : Matius 27 : 11 – 26 (TB2)

Yesus di hadapan Pilatus
11 Ketika Yesus berdiri di hadapan gubernur, gubernur itu bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." 12 Ketika tuduhan terhadap Dia diajukan oleh imam-imam kepala dan tua-tua, Ia tidak menjawab sepatah kata pun. 13 Lalu kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" 14 Namun, Ia tidak menjawab sepatah kata pun, sehingga gubernur itu sangat heran. 15 Telah menjadi kebiasaan bagi gubernur untuk membebaskan satu orang tahanan pada tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak. 16 Pada waktu itu ada seorang tahanan yang terkenal bernama Yesus Barabas. 17 Ketika mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?" 18 Ia sudah mengetahui, bahwa mereka menyerahkan Yesus karena dengki. 19 Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: "Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam." 20 Namun, imam-imam kepala dan tua-tua menghasut orang banyak untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati. 21 Gubernur itu berkata kepada mereka: "Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?" Kata mereka: "Barabas." 22 Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!" 23 Katanya: "Namun kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Mereka malahan semakin keras berteriak: "Ia harus disalibkan!" 24 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, bahkan sudah timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!" 25 Seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!" 26 Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus dicambuknya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Bertanggungjawablah demi Keadilan, Jangan Cuci Tangan!

Yesus dibawa ke hadapan Pilatus, Gubernur Romawi. Pilatus sendiri, setelah menginterogasi Yesus, yakin bahwa Yesus tidak bersalah dan tidak menemukan alasan untuk menghukum mati-Nya. Ia memiliki otoritas untuk membebaskan-Nya, terutama melalui adat membebaskan seorang tahanan pada perayaan Paskah. Namun, ia dihadapkan pada tekanan massa yang dihasut oleh para imam kepala dan tua-tua Yahudi yang menuntut agar Barabas, seorang penjahat, yang dibebaskan, dan Yesus disalibkan. Puncak dari drama ini adalah tindakan simbolis Pilatus: ia mengambil air dan mencuci tangannya di hadapan orang banyak. Tindakan ini, yang dimaksudkan untuk melepaskan diri dari tanggung jawab dan rasa bersalah, justru menyoroti kelemahan karakternya dan kegagalannya sebagai pemimpin yang seharusnya menegakkan keadilan. Meskipun Pilatus mencuci tangan secara fisik, tindakan itu tidak menghapus tanggung jawab moralnya. Kita tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab moral kita dengan sekadar “melempar” masalah atau kesalahan kepada orang lain. Sebagai orang percaya, di minggu sengsara Tuhan Yesus keenam ini, kita dipanggil untuk berani berdiri di sisi kebenaran dan keadilan, bahkan ketika itu sulit. Keadilan harus diperjuangkan, bukan dihindari. Marilah kita belajar dari kegagalan Pilatus. Jangan biarkan rasa takut, tekanan sosial, atau keinginan untuk menyenangkan orang lain membungkam suara hati kita yang mengetahui kebenaran. Bertanggung jawablah demi keadilan, dengan berani membela apa yang benar, mengikuti teladan Mesias.

Doa: Tuhan, bantu kami tetap melakukan keadilan ditengah ketidakadilan. Amin.

Senin, 23 Maret 2026

bahan bacaan : Matius 27 : 27 – 31 (TB2)

Yesus diolok-olok
27 Kemudian serdadu-serdadu gubernur membawa Yesus masuk ke istana gubernur, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. 28 Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah merah kepada-Nya. 29 Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!" 30 Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. 31 Sesudah mengolok-olok Dia mereka menanggalkan jubah dari-Nya dan mengenakan lagi pakaian-Nya kepada-Nya. Serdadu-serdadu membawa Dia ke luar untuk disalibkan.

Mahkota Duri dan Tugas Manusia kini

Sering kita melihat baik melalui berita atau secara langsung, mereka yang memiliki kekuasaan dan otoritas menggunakannya bukan hanya untuk keadilan, tetapi untuk menghina dan menyakiti yang lemah. Kekerasan fisik, bullying, dan penyiksaan yang dilakukan atas nama hukum atau otoritas merupakan rahasia umum. Peristiwa yang dialami Yesus di tangan para serdadu Romawi adalah cerminan abadi dari kekejaman manusia yang dilegalkan. Teks  ini mencatat tiga adegan yang memilukan yang dilakukan oleh para serdadu Romawi kepada Yesus: pertama, mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu untuk mengejek Yesus. Kedua Mereka mengenakan mahkota duri dan meletakkan tongkat/buluh di tangan kanan-Nya. Tindakan ini adalah gabungan antara kekerasan fisik (duri menusuk kepala) dan kekerasan psikologis (ejekan, meludah). Ketiga, mereka berlutut dan menghormati-Nya, lalu memukul kepala-Nya dengan tongkat. Kekerasan yang dialami Yesus adalah simbol penderitaan semua orang yang diperlakukan tidak adil oleh struktur kekuasaan. Firman ini mengajak kita untuk berpihak pada korban ketidakadilan. Ketika kita melihat bullying, pelecehan, atau penyalahgunaan kekuasaan hari ini, kita harus melawannya dan menyuarakannya.

Doa: Sanggupkan kami dengan kuasaMu untuk menyuarakan keadilan untuk dunia. Amin.

Selasa, 24 Maret 2026

bahan bacaan : Lukas 23 : 1 – 7 (TB2)

Yesus di hadapan Pilatus
Seluruh sidang itu bangkit dan membawa Yesus menghadap Pilatus. 2 Mereka mulai menuduh Dia, katanya: "Kami mendapati bahwa orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada Kaisar, dan tentang diri-Nya Ia mengatakan, bahwa Dialah Mesias, Raja." 3 Pilatus bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." 4 Kata Pilatus kepada imam-imam kepala dan seluruh orang banyak itu: "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada orang ini." 5 Namun, mereka makin kuat mendesak, katanya: "Ia menghasut rakyat dengan ajaran-Nya di seluruh tanah orang Yahudi, mulai di Galilea dan sampai ke sini." 6 Ketika Pilatus mendengar itu ia menanyakan apakah orang itu seorang Galilea. 7 Ketika ia tahu, bahwa Yesus seorang dari wilayah Herodes, dikirimnya Dia menghadap Herodes, yang pada hari-hari itu ada juga di Yerusalem.

Suara Rakyat dan Kegagalan Keadilan

Di era media sosial, opini publik dan framing narasi memiliki kekuatan luar biasa untuk mempengaruhi keputusan yang seringkali mengarah pada ketidakadilan. Terlepas dari fakta, politik modern sering menggunakan penghasutan massal untuk menghancurkan reputasi seseorang.. Peristiwa dalam Lukas 23:1-7 menunjukkan bagaimana suara yang diorganisir oleh kepentingan tertentu dapat menenggelamkan kebenaran hukum. Kisah ini menggambarkan proses yang penuh manipulasi tentang tuduhan palsu, Keputusan Pilatus yang goyah dan tekanan masa menuntut pembebasan Barabas dan penyaliban Yesus. Kisah ini mengingatkan kita tentang bahaya hukum rimba opini publik. Ketika kita menerima informasi (terutama politik) tanpa diverifikasi dan ikut menyebarkannya, kita berisiko menjadi bagian dari kelompok yang menghasut ketidakadilan. Hati-hati terhadap suara yang paling keras. Kita dipanggil untuk menjadi pembela kebenaran hukum dan moral, bukan sekadar pengikut arus. Jangan biarkan penghasutan massa mengubur suara hati nurani dan keadilan di dalam diri kita.

Doa: Ya Roh Kudus, kiranya kami dapat menggunakan hak suara untuk keadilan dunia, amin.

Rabu, 25 Maret 2026

bahan bacaan : Lukas 23 : 8 – 12 (TB2)

Yesus di hadapan Herodes
8 Ketika Herodes melihat Yesus, ia sangat girang. Sebab, sudah lama ia ingin melihat-Nya, karena ia sering mendengar tentang Dia, dan berharap melihat Yesus mengadakan suatu tanda mukjizat. 9 Ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus, tetapi Yesus tidak memberi jawaban apapun. 10 Sementara itu imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat maju ke depan dan melontarkan tuduhan-tuduhan yang berat terhadap Dia. 11 Bahkan Herodes dan pasukannya menghina dan mengolok-olok Dia. Ia mengenakan jubah kebesaran kepada-Nya lalu mengirim Dia kembali kepada Pilatus. 12 Pada hari itu juga bersahabatlah Herodes dan Pilatus; sebelum itu mereka bermusuhan.

Keheningan adalah Jawaban Terbaik

Dalam masyarakat saat ini, kita sering menyaksikan orang benar atau mereka yang mencoba berbicara tentang kebenaran,  dihina, diremehkan atau dijadikan tontonan oleh orang-orang berkuasa. Kisah Yesus di hadapan Herodes dalam nas ini adalah contoh klasik dimana otoritas disalahgunakan untuk menghina seorang yang tidak bersalah. Dalam teks ini kita dapat mengetahui tiga hal penting yang terjadi: pertama, pengabaian Kebenaran: Herodes mengajukan banyak pertanyaan, tetapi Yesus menolak untuk berpartisipasi dalam drama yang bertujuan merendahkan-Nya. Kedua, Penghinaan Massa: Para imam kepala dan ahli Taurat, yang seharusnya menjunjung hukum, justru berdiri di sana dan menuduh Yesus dengan keras. Ketiga, hinaan dan kekerasan. Mereka mengenakan pakaian kebesaran untuk-Nya, menjadikan-Nya badut. Ini adalah sungguh-sungguh ketidakadilan. Kehormatan seorang raja ditukar dengan ejekan. Di tengah penghinaan, keheningan-Nya adalah jawaban terkuat bagi ketidakadilan yang dangkal dan picik. Ketika kita dihina atau diremehkan karena menjunjung kebenaran, ingatlah martabat ilahi Yesus. Jangan biarkan penghinaan orang lain menentukan nilai diri kita. Terkadang, jawaban terbaik terhadap ketidakadilan dan cemoohan bukanlah membela diri, melainkan menjaga keheningan, bermartabat dan membiarkan kebenaran sejati berbicara pada waktunya.

Doa: Tuhan, ajarkan kami untuk tetap hening menghadapi ketidakadilan, amin

Kamis, 26 Maret 2026

bahan bacaan : Matius 26 : 57 – 68 (TB2)

Yesus di hadapan Mahkamah Agama
57 Orang-orang yang telah menangkap Yesus membawa-Nya menghadap Kayafas, Imam Besar. Di situ telah berkumpul ahli-ahli Taurat dan tua-tua. 58 Petrus mengikuti Yesus dari jauh sampai ke halaman Imam Besar. Setelah masuk ke dalam, ia duduk di antara pengawal-pengawal untuk melihat bagaimana akhir semuanya itu. 59 Imam-imam kepala dan seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu melawan Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati, 60 tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Akhirnya tampillah dua orang, 61 yang mengatakan: "Orang ini berkata: Aku dapat meruntuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari." 62 Imam Besar itu berdiri dan berkata kepada-Nya: "Tidakkah Engkau memberi jawaban atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" 63 Namun, Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah." 64 Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit." 65 Lalu Imam Besar itu mengoyak pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat itu. 66 Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab, "Ia harus dihukum mati!" 67 Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain menampar Dia, 68 dan berkata: "Bernubuatlah kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?"

Kedaulatan Yesus ditengah Pengadilan Dunia

Ketika kita menghadapi kritik yang tidak adil atau fitnah, reaksi pertama kita adalah membela diri dengan keras. Kita kesulitan menerima penderitaan yang disebabkan oleh kebohongan orang lain. Namun, peristiwa di hadapan Mahkamah Agama menunjukkan Yesus tidak hanya menderita, tetapi memilih menderita dengan kedaulatan. 3 hal penting yang terjadi di hadapan Mahkamah Agama adalah: pengadilan ini sepenuhnya dipenuhi ketidakadilan, keheningan Yesus yang berdaulat dan jawaban yang menetapkan takdir. Ketika Kayafas memaksanya bersumpah, Yesus akhirnya berbicara. Pembicaraan itu menegaskan identitas-Nya sebagai Kristus, Anak Allah. Jawaban Yesus ini kemudian menjadi alasan mereka menjatuhkan hukuman mati, namun secara ironis, itu adalah penegasan kedaulatan-Nya atas takdir mereka. Yesus tahu bahwa penderitaan saat ini adalah jalan menuju kemuliaan. Kekuatan kita terletak pada kepasrahan kepada kehendak Tuhan. Ketika kita difitnah, biarkan keheningan yang berdaulat menjadi respons pertama kita dan penegasan iman menjadi jawaban terakhirnya. Maka kita akan dapat tenang, pada akhirnya kita akan menunjukan kebenaran muncul seperti rembang tengah hari.

Doa: Tuhan, jadikanlah ajaranMu memenuhi hidupku setiap waktu, amin

Jumat, 27 Maret 2026

bahan bacaan : Yohanes 19 : 1 – 16a (TB2)

Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang mencambuk Dia. 2 Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, 3 dan terus-menerus maju mendekati-Nya dan berkata: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Lalu mereka menampar muka-Nya. 4 Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya." 5 Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Kemudian kata Pilatus kepada mereka: "Lihatlah manusia itu!" 6 Ketika imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Dia, berteriaklah mereka: "Salibkan Dia, salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Ambil Dia dan salibkan Dia; sebab aku tidak menemukan kesalahan pada-Nya." 7 Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: "Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah." 8 Ketika Pilatus mendengar perkataan itu ia makin takut, 9 lalu ia masuk pula ke dalam isatana gubernur dan berkata kepada Yesus: "Dari manakah asal-Mu?" Namun, Yesus tidak memberi jawab kepadanya. 10 Karena itu, kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?" 11 Yesus menjawab: "Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: Dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya." 12 Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: "Jikalau engkau membebaskan orang ini, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar." 13 Ketika Pilatus mendengar perkataan itu, ia menyuruh membawa Yesus ke luar, dan ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani Gabata. 14 Hari itu hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu: "Lihatlah rajamu!" 15 Lalu berteriaklah mereka: "Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Haruskah aku menyalibkan rajamu?" Jawab imam-imam kepala: "Kami tidak mempunyai raja selain dari pada Kaisar!"16a Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan.

Yesus Korban Ketidakadilan

Saat ini, kita dapat melihat bagaimana tekanan massa dan opini publik dapat memutarbalikkan kebenaran. Teriakan sekelompok orang yang diikuti dengan share atau bagikan pada kolom media sosial, seringkali lebih didengar daripada fakta itu sendiri. Ketidakadilan sering lahir bukan karena tidak adanya bukti tapi dari keberanian untuk tunduk pada desakan banyak orang. Realita sosial ini, kurang lebih adalah realita yang pernah alami Yesus ketika berada di depan Pilatus. Pilatus tahu bahwa Yesus tidak bersalah. Ia mencoba membebaskanNya sebanyak tiga kali. Tetapi karena Pilatus berada dibawah tekanan masa   untuk menyalibkan Yesus.  Apalagi ketika para pemimpin Yahudi mengancam status Pilatus bahwa jika Pilatus membebaskan Yesus maka Pilatus bukan sahabat kaisar. Ditengah situasi demikian, Pilatus mengorbankan keadilan dan hati nuraninya demi mempertahankan kedudukan dan menghindari konflik dengan kerumunan orang yang mengancam untuk salibkan Yesus. Kisah ini mengingatkan kita bahwa mempertahankan kebenaran seringkali membutuhkan pengorbanan yang besar.  Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk tidak menyatakan kebenaran secara tegas bahkan jika karenanya kita harus melawan banyak orang. Jangan biarkan tekanan sosial menumpulkan suara kebenaran.

Doa: Kami percaya, Tuhan menolong kami menyatakan kebenaran, sekalipun didalam tekanan, amin

Sabtu, 28 Maret 2026

bahan bacaan : Yesaya 32 : 1 – 6 (TB2)

Pemerintahan yang adil
Sesungguhnya, seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin akan memimpin menurut keadilan, 2 mereka masing-masing akan seperti tempat perteduhan terhadap angin dan tempat perlindungan terhadap angin ribut, seperti aliran-aliran air di tempat kering, seperti naungan batu yang besar, di tanah yang tandus. 3 Mata orang yang melihat tidak akan tertutup lagi, dan telinga orang yang mendengar akan menyimak. 4 Hati orang yang terburu-buru akan tahu menimbang-nimbang, dan lidah orang yang gagap akan dapat berbicara lancar dan jelas. 5 Orang bebal tidak akan disebut lagi orang berbudi luhur, dan penipu tidak akan dikatakan orang terhormat. 6 Sebab orang bebal mengatakan kebebalan, dan hatinya merencanakan kejahatan, ia melakukan kefasikan dan mengatakan hal yang menyesatkan tentang TUHAN, membiarkan perut orang lapar tetap kosong dan orang haus tanpa minuman.

 Pemimpin yang Adil, Tempat Perlindungan Bagi Sesama

Nabi Yesaya menubuatkan tentang hadirnya seorang raja yang memerintah dengan keadilan dan para pemimpin yang bertindak dengan kebenaran. Dalam pemerintahan seperti itu, umat Tuhan hidup dengan aman, seperti berlindung di tempat yang teduh dari angin kencang dan badai. Gambaran ini menegaskan bahwa pemimpin yang adil bukan hanya mengatur dengan kekuasaan, tetapi menjadi tempat perlindungan bagi rakyatnya tempat di mana mereka merasa aman, didengar, dan dihargai. Di zaman ini, tanggung jawab kepemimpinan bukan hanya bagi para pemimpin bangsa atau gereja saja, tetapi juga bagi setiap kita dalam peran masing-masing di keluarga, pekerjaan, dan pelayanan. Tuhan memanggil kita untuk tidak “mencuci tangan” atau lari dari tanggung jawab terhadap keadilan. Diam terhadap ketidakbenaran sama dengan ikut membiarkan ketidakadilan bertumbuh. Oleh sebab itu Jadilah pemimpin yang adil dan benar di mana pun Tuhan tempatkan kita, baik di gereja, baik di pemerintahan atau dalam kehidupan berkeluarga. Dengan hidup dalam kebenaran dan menegakkan keadilan, kita menjadi tempat perlindungan bagi sesama dan menghadirkan kasih Allah di tengah dunia yang haus akan keadilan.

Doa Mampukan kami Tuhan, menjadi pemimpin yang adil sehingga menjadi tempat perlindungan bagi sesama, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN MARET 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 25 – 31 Januari 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Memelihara Kehidupan Semesta

Tema Mingguan : Pemeliharaan Tuhan atas Semua Ciptaan

Minggu, 25 Januari 2026

bahan bacaan : Mazmur 147 : 1-20

Kekuasaan dan kemurahan TUHAN
Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu. 2 TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai; 3 Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka; 4 Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya. 5 Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga. 6 TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi. 7 Bernyanyilah bagi TUHAN dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi! 8 Dia, yang menutupi langit dengan awan-awan, yang menyediakan hujan bagi bumi, yang membuat gunung-gunung menumbuhkan rumput. 9 Dia, yang memberi makanan kepada hewan, kepada anak-anak burung gagak, yang memanggil-manggil. 10 Ia tidak suka kepada kegagahan kuda, Ia tidak senang kepada kaki laki-laki; 11 TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. 12 Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! 13 Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu. 14 Ia memberikan kesejahteraan kepada daerahmu dan mengenyangkan engkau dengan gandum yang terbaik. 15 Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari. 16 Ia menurunkan salju seperti bulu domba dan menghamburkan embun beku seperti abu. 17 Ia melemparkan air batu seperti pecahan-pecahan. Siapakah yang tahan berdiri menghadapi dingin-Nya? 18 Ia menyampaikan firman-Nya, lalu mencairkan semuanya, Ia meniupkan angin-Nya, maka air mengalir. 19 Ia memberitakan firman-Nya kepada Yakub, ketetapan-ketetapan-Nya dan hukum-hukum-Nya kepada Israel. 20 Ia tidak berbuat demikian kepada segala bangsa, dan hukum-hukum-Nya tidak mereka kenal. Haleluya!

Pemeliharan Tuhan untuk Semua Ciptaan

Hidup kita hari ini sering diwarnai kekhawatiran mulai dari kesehatan hingga keuangan. Di saat yang sama, kita menyadari keagungan alam semesta, yang kadang terasa tak terjangkau. Mazmur 147 menghubungkan kedua hal ini: Allah yang mengurus alam semesta juga peduli pada detail kehidupan kita. Mazmur ini berisikan pujian sebagai respons tepat terhadap pemeliharaan Tuhan bagi semesta. Ia menutupi langit dengan awan, menyediakan hujan dan membuat rumput tumbuh di gunung. Dia juga memberi makan binatang liar dan anak burung gagak. Keseimbangan alam, yang begitu kompleks, adalah bukti dari manajemen sumber daya Allah yang sempurna. Jika Allah mengatur awan yang bergerak, salju yang turun, dan angin yang bertiup dengan hikmat-Nya yang sempurna, maka Dia pasti mengatur setiap elemen dalam hidup kita. Kita tidak perlu cemas. Kekuatan kita tidak terletak pada kegagahan kuda atau kaki manusia, tetapi pada Tuhan. Itulah kekuatan orang-orang yang takut akan Dia, orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. Percayalah bahwa Allah yang menata seluruh ciptaan di semesta ini dengan detail, telah menata masa depan kita dengan kebaikan yang jauh lebih besar, syukurilah!

Doa: Tuhan, Engkau sungguh berkuasa dan berdaulat atas semesta ciptaanMu, amin.

Senin, 26 Januari 2026

bahan bacaan : Ayub 37 : 1-13

Kemuliaan Allah di alam semesta
"Sungguh, oleh karena itu hatiku berdebar-debar dan melonjak dari tempatnya. 2 Dengar, dengarlah gegap gempita suara-Nya, guruh yang keluar dari dalam mulut-Nya. 3 Ia melepaskannya ke seluruh kolong langit, dan juga kilat petir-Nya ke ujung-ujung bumi. 4 Kemudian suara-Nya menderu, Ia mengguntur dengan suara-Nya yang megah; Ia tidak menahan kilat petir, bila suara-Nya kedengaran. 5 Allah mengguntur dengan suara-Nya yang mengagumkan; Ia melakukan perbuatan-perbuatan besar yang tidak tercapai oleh pengetahuan kita; 6 karena kepada salju Ia berfirman: Jatuhlah ke bumi, dan kepada hujan lebat dan hujan deras: Jadilah deras! 7 Tangan setiap manusia diikat-Nya dengan dibubuhi meterai, agar semua orang mengetahui perbuatan-Nya. 8 Maka binatang liar masuk ke dalam tempat persembunyiannya dan tinggal dalam sarangnya. 9 Taufan keluar dari dalam perbendaharaan, dan hawa dingin dari sebelah utara. 10 Oleh nafas Allah terjadilah es, dan permukaan air yang luas membeku. 11 Awanpun dimuati-Nya dengan air, dan awan memencarkan kilat-Nya, 12 lalu kilat-Nya menyambar-nyambar ke seluruh penjuru menurut pimpinan-Nya untuk melakukan di permukaan bumi segala yang diperintahkan-Nya. 13 Ia membuatnya mencapai tujuannya, baik untuk menjadi pentung bagi isi bumi-Nya maupun untuk menyatakan kasih setia.

Kedaulatan Allah Dalam Kekacauan Semesta

Manusia modern berjuang untuk mengendalikan segalanya,  seperti mengendalikan cuaca melalui modifikasi iklim, mengendalikan informasi dan waktu. Namun, melalui fenomena yang tak terhindarkan seperti ketika penerbangan dibatalkan karena hujan dan badai, atau ketika bencana alam menghentikan seluruh aktivitas, itu adalah panggilan berhenti paksa agar kita merenungkan kebesaran-Nya, bukan kehebatan kita. Jika Allah mengatur petir, angin, salju, dan es dengan bijaksana, baik untuk mengingatkan atau demi kemurahanNya bagi alam semesta, maka tidak ada satu pun peristiwa dalam hidup kita yang luput dari kendaliNya. Dalam nas ini Elihu mengajak Ayub untuk melihat kembali kepada alam semesta sebagai cermin kemuliaan dan pemeliharaan Allah. Ketika manusia tidak memahami jalan Tuhan, ciptaan menjadi pengingat bahwa Sang Pencipta tetap berkuasa dan memelihara segala yang ada. Ini mengingatkan kita untuk mengangkat kepala dan mengagumi Arsitektur yang agung dan jauh lebih canggih. Jika alam semesta yang begitu besar saja diatur-Nya, bagaimana mungkin hidup kita yang dikasihi-Nya, tidak Tuhan pelihara?

Doa: Terima kasih atas pemeliharaanMu yang sempurna bagi semesta ini, Tuhan. Amin.

Selasa, 27 Januari 2026

bahan bacaan : Ayub 37 : 14-24

14 Berilah telinga kepada semuanya itu, hai Ayub, diamlah, dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah. 15 Tahukah engkau, bagaimana Allah memberi tugas kepadanya, dan menyinarkan cahaya dari awan-Nya? 16 Tahukah engkau tentang melayangnya awan-awan, tentang keajaiban-keajaiban dari Yang Mahatahu, 17 hai engkau, yang pakaiannya menjadi panas, jika bumi terdiam karena panasnya angin selatan? 18 Dapatkah engkau seperti Dia menyusun awan menjadi cakrawala, keras seperti cermin tuangan? 19 Beritahukanlah kepada kami apa yang harus kami katakan kepada-Nya: tak ada yang dapat kami paparkan oleh karena kegelapan. 20 Apakah akan diberitahukan kepada-Nya, bahwa aku akan bicara? Pernahkah orang berkata, bahwa ia ingin dibinasakan? 21 Seketika terang tidak terlihat, karena digelapkan mendung; lalu angin berembus, maka bersihlah cuaca. 22 Dari sebelah utara muncul sinar keemasan; Allah diliputi oleh keagungan yang dahsyat. 23 Yang Mahakuasa, yang tidak dapat kita pahami, besar kekuasaan dan keadilan-Nya; walaupun kaya akan kebenaran Ia tidak menindasnya. 24 Itulah sebabnya Ia ditakuti orang; setiap orang yang menganggap dirinya mempunyai hikmat, tidak dihiraukan-Nya."

Allah, Penata Semesta

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, seringkali kita merasa cemas dan bertanya-tanya: Apakah ada rencana di balik kekacauan? Apakah ada kontrol di balik peristiwa yang tak terduga?. Elihu dalam nas ini menantang Ayub: “Dengarkanlah ini, hai Ayub, berdirilah dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah!” Ini adalah ajakan untuk Ayub menghentikan fokusnya pada penderitaannya dan merenungkan kemahakuasaan Allah yang memimpin alam semesta. Keagungan Tuhan melampaui batas pemikiran manusia. Jika Allah menata setiap detail formasi awan, kilat, dan cuaca dengan hikmat yang sempurna, maka Dia pasti menata setiap detail kehidupan dan masa depan kita dengan kebijaksanaan yang jauh lebih besar. Jangan biarkan ketidakpastian dunia membuat kita ragu akan kendali Tuhan. Tugas kita bukanlah memahami bagaimana Dia melakukannya, melainkan memercayai bahwa Dia melakukannya dengan adil dan hikmat. Bersandarlah pada kedaulatan-Nya, sebab Allah yang menata jagat raya tidak pernah membuat kesalahan dalam menata hidup anak-anak-Nya.

Doa Tuhan, kami percaya, tangan-Mu yang memegang alam semesta dan memeliharanya, juga memegang dan memelihara hidup kami, Amin.

Rabu, 28 Januari 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 17 : 22 – 28

22 Paulus pergi berdiri di atas Areopagus dan berkata: "Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. 23 Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. 24 Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, 25 dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. 26 Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, 27 supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. 28 Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.

 Allah Berkuasaatas Hidup Ciptaan-Nya

Paulus berbicara kepada orang-orang Atena tentang Allah yang berkuasa, Allah yang tidak tinggal dalam kuil buatan tangan manusia, tetapi Dia yang menciptakan langit, bumi, dan segala isinya. Paulus menegaskan bahwa Allah  yang memberi nafas hidup, dan segala sesuatu kepada manusia. Tidak ada satu pun  yang hidup di luar kuasa dan pemeliharaan Tuhan.  Ayat 28 adalah pengakuan iman yang mendalam: sebab seluruh ciptaan bergantung sepenuhnya kepada kekuasaan Allah. Ketika kita menyadari bahwa hidup kita ada dalam tangan Allah, kita diajak untuk hidup dengan rasa syukur dan hormat kepada-Nya. Hidup yang kita miliki dan seluruh ciptaan ada dalam genggaman kasih Allah. Karena itu, marilah kita hidup dengan rasa syukur dan hormat kepada Tuhan yang berkuasa atas langit dan bumi. Jangan sombong dan jangan mengandalkan kekuatan sendiri. Segala yang ada, nafas kita, kesehatan, berkat dan kesempatan adalah tanda bahwa Tuhan terus memelihara semesta. Tanpa pemeliharaanNya, keberadaan kita rapuh seperti debu. Maka, biarlah kita terus mensyukuri pemeliharaan-Nya dan memuliakan Tuhan karena Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Berdoa bukan memanggil Allah yang jauh, tetapi membuka hati kepada Dia yang sudah ada bersama kita.

Doa: Tuhan, Kami mengagumi kuasa dan pemeliharaan-Mu dalam hidup kami tiap hari, amin

Kamis, 29 Januari 2026

bahan bacaan : Yesaya  45 : 9 – 13

TUHAN adalah Pencipta
9 Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: "Apakah yang kaubuat?" atau yang telah dibuatnya: "Engkau tidak punya tangan!" 10 Celakalah orang yang berkata kepada ayahnya: "Apakah yang kauperanakkan?" dan kepada ibunya: "Apakah yang kaulahirkan?" 11 Beginilah firman TUHAN, Yang Mahakudus, Allah dan Pembentuk Israel: "Kamukah yang mengajukan pertanyaan kepada-Ku mengenai anak-anak-Ku, atau memberi perintah kepada-Ku mengenai yang dibuat tangan-Ku? 12 Akulah yang menjadikan bumi dan yang menciptakan manusia di atasnya; tangan-Kulah yang membentangkan langit, dan Akulah yang memberi perintah kepada seluruh tentaranya. 13 Akulah yang menggerakkan Koresh untuk maksud penyelamatan, dan Aku akan meratakan segala jalannya; dialah yang akan membangun kota-Ku dan yang akan melepaskan orang-orang-Ku yang ada dalam pembuangan, tanpa bayaran dan tanpa suap," firman TUHAN semesta alam.

Tangan Tuhan Berdaulat

Apakah hidup kita sudah mencerminkan rasa hormat dan tanggung jawab terhadap pemeliharaan ciptaan Tuhan?. Melalui firman hari ini, Tuhan menegur umat-Nya agar menyadari bahwa hanya Ialah Sang Pencipta dan Pemelihara sejati. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi berada di bawah kuasa-Nya. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta, tetapi jugaterus memeliharanya dengan kasih dan hikmat. Setiap matahari terbit, setiap tetes hujan, dan setiap hembusan angin adalah bukti bahwa tangan Tuhan masih bekerja dan tidak pernah meninggalkan kita. Manusia yang adalah ciptaanNya, hidup bukan untuk melawan Sang Pencipta, melainkan hidup selaras dengan kehendak-Nya. menjaga dan memelihara alam sebagai wujud syukur atas pemeliharaan Tuhan. Tuhan bukan hanya Pencipta, tetapi juga Pemelihara yang setia. Jangan melawan kehendak-Nya, tetapi percayalah bahwa segala sesuatu berada dalam rancangan kasih-Nya. Mari kita jaga ciptaan Tuhan dengan rasa hormat dan tanggung jawab, sebab melalui kita, dunia dapat terus mencerminkan kemuliaan Sang Pencipta. Mari bersyukur atas pemeliharaan Tuhan dan ikut memelihara alam semesta yang dipercayakan kepada kita.

Doa: Tolong kami merawat ciptaan-Mu sebagai wujud syukur atas kasih-Mu. Amin

Jumat, 30 Januari 2026

bahan bacaan : Yesaya 45 : 14 – 19

14 Beginilah firman TUHAN: "Hasil tanah dari Mesir dan segala laba dari Etiopia dan orang-orang Syeba, orang-orang yang tinggi perawakannya, akan pindah kepadamu dan menjadi kepunyaanmu, mereka akan berjalan di belakangmu dengan dirantai; mereka akan sujud kepadamu dan akan membujuk engkau, katanya: Hanya di tengah-tengahmu ada Allah, dan tidak ada yang lain; di samping Dia tidak ada Allah! 15 Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan diri, Allah Israel, Juruselamat. 16 Tetapi tukang-tukang berhala harus mundur dengan penuh noda, semuanya akan mendapat malu dan kena noda juga. 17 Sedangkan Israel diselamatkan oleh TUHAN dengan keselamatan yang selama-lamanya; kamu tidak akan mendapat malu dan tidak akan kena noda sampai selamanya dan seterusnya." 18 Sebab beginilah firman TUHAN, yang menciptakan langit, --Dialah Allah--yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, --dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami--:"Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain. 19 Tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi atau di tempat bumi yang gelap. Tidak pernah Aku menyuruh keturunan Yakub untuk mencari Aku dengan sia-sia! Aku, TUHAN, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus."

Bumi Milik Tuhan 

Pemeliharaan Tuhan nyata dalam tatanan alam yang harmonis: matahari yang terbit setiap pagi, hujan yang menyuburkan tanah, dan udara yang memberi kehidupan bagi semua makhluk. Semua itu bukan kebetulan, tetapi tanda kasih dan kesetiaan Tuhan terhadap ciptaan-Nya. Sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya, kita dipanggil untuk menjaga dan merawat bumi ini sebagai bentuk partisipasi dalam karya pemeliharaan Allah. Dengan menghargai alam, kita sedang menghormati Sang Pencipta yang membuat dunia ini baik adanya. Tuhan tidak hanya menciptakan alam semesta, tetapi juga terus memeliharanya agar menjadi tempat yang layak bagi kehidupan. Tuhan menciptakan bumi bukan untuk kehancuran, tetapi untuk kehidupan. Karena itu, setiap orang percaya dipanggil untuk hidup dalam kesadaran bahwa kita adalah bagian dari ciptaan yang dijaga oleh kasih Allah. Mari kita pelihara alam, bersyukur atas segala anugerah kehidupan, dan ikut menjadi alat Tuhan dalam menjaga keseimbangan ciptaan-Nya. Dengan demikian, dunia akan tetap menjadi tempat yang baik untuk didiami oleh kita sebagaimana kehendak Tuhan sejak semula.

Doa Tuhan Ajarlah kami untuk menghargai dan menjaga karya tangan-Mu dengan setia. Amin.

Sabtu, 31 Januari 2026

bahan bacaan : Nehemia 9 : 6 – 8

6 "Hanya Engkau adalah TUHAN! Engkau telah menjadikan langit, ya langit segala langit dengan segala bala tentaranya, dan bumi dengan segala yang ada di atasnya, dan laut dengan segala yang ada di dalamnya. Engkau memberi hidup kepada semuanya itu dan bala tentara langit sujud menyembah kepada-Mu. 7 Engkaulah TUHAN, Allah yang telah memilih Abram dan membawanya keluar dari Ur-Kasdim dan memberikan kepadanya nama Abraham. 8 Engkau dapati bahwa hatinya setia terhadap-Mu dan Engkau mengikat perjanjian dengan dia untuk memberikan tanah orang Kanaan, tanah orang Het, tanah orang Amori, tanah orang Feris, tanah orang Yebus dan tanah orang Girgasi kepada keturunannya. Dan Engkau telah menepati janji-Mu, karena Engkau benar.

Bersyukurlah! Tuhan Memelihara Kehidupan Semesta

Bacaan ini merupakan bagian dari doa umat Israel yang dipimpin oleh Nehemia setelah mereka kembali dari pembuangan. Dalam doa itu, umat mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang menciptakan dan memelihara seluruh ciptaan. Bukan hanya manusia, tetapi seluruh alam semesta  langit, bumi, laut, dan segala isinya  berada di bawah kasih dan pemeliharaan Tuhan. Nehemia menegaskan bahwa Allah bukan hanya Pencipta, tetapi juga Pemberi hidup. Ia tidak meninggalkan ciptaan-Nya begitu saja, melainkan terus bekerja menjaga keseimbangan kehidupan. Matahari yang terbit setiap pagi, udara yang kita hirup, hujan yang menyuburkan bumi  semuanya adalah bukti kasih setia Tuhan yang terus bekerja tanpa henti bagi kehidupan ini. Pemeliharaan Tuhan terlihat bukan hanya dalam ciptaan alam, tetapi juga dalam perjalanan umat-Nya. Kepada Abraham, Tuhan berjanji dan menepati janji itu. Ia menuntun langkah Abraham dan keturunannya. Demikian pula kepada kita hari ini, Tuhan tetap setia memelihara kehidupan kita  dalam suka maupun duka, dalam kelimpahan maupun kekurangan. Satu bulan telah kita lalui dalam pemeliharaan-Nya, mari datang bersyukur kepada Tuhan. Jangan biarkan kekhawatiran dunia membuat kita lupa akan tangan Tuhan yang bekerja diam-diam memelihara segalanya. Pujilah Tuhan!.

Doa Tuhan, terima kasih atas pemeliharaan-Mu di bulan Januari ini. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN JANUARI 2026, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 18 – 24 Januari 2026

Tema Bulanan : Anugerah Allah: Memelihara Kehidupan Semesta

Tema Mingguan : Percayalah Kepada Tuhan, Engkau dan Seisi  Rumahmu Selamat

Minggu, 18 Januari 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 16 : 19 – 34 

Kepala penjara Filipi
19 Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa. 20 Setelah mereka membawa keduanya menghadap pembesar-pembesar kota itu, berkatalah mereka, katanya: "Orang-orang ini mengacau kota kita ini, karena mereka orang Yahudi, 21 dan mereka mengajarkan adat istiadat, yang kita sebagai orang Rum tidak boleh menerimanya atau menurutinya." 22 Juga orang banyak bangkit menentang mereka. Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka. 23 Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh. 24 Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat. 25 Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. 26 Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua. 27 Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri. 28 Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: "Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!" 29 Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas. 30 Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: "Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?" 31 Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." 32 Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. 33 Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis. 34 Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah.

Hanya Tuhan Sumber Selamat bagi Seisi Rumah

Nas bacaan hari ini menunjukkan bahwa keselamatan adalah karya Tuhan yang mengalir dari iman seseorang dan berdampak pada seluruh isi rumah. Penjaga penjara hampir bunuh diri karena mengira para tahanan melarikan diri. Namun paulus menahannya, ”jangan celakakan dirimu”. Kebaikan itu membuka pintu pertobatan dan keselamatan. Melalui Paulus dan Silas yang memberitakan firman kepada penjaga penjara dan semua orang yang di rumahnya, malam itu juga mereka dibaptis dan mengalami sukacita besar. Ini menunjukkan bahwa keselamatan bukan hanya pengalaman pribadi, tetapi juga pemulihan keluarga. Firman ini mengingatkan kita, Tuhan menginginkan rumah-rumah kita menjadi tempat dimana kita berdoa, mendengarkan firman dan sukacita Kristus berlangsung, sehingga setiap anggota keluarga mengalami damai sejahtera dan keselamatan.  Apapun keadaan keluarga kita saat ini, bahagia, bermasalah, lemah dan retak atau jauh dari Tuhan, firman Tuhan ini berkata: selama ada yang percaya, selalu ada harapan bagi seisi rumah. Jadilah alat keselamatan bagi keluarga kita melalui kesaksian hidup, kasih dan doa. Ingatlah selalu, Tuhan sanggup menyelamatkan setiap rumah yang percaya kepada-Nya.

Doa: Terima kasih Tuhan untuk keselamatan bagi seisi keluargaku, Amin.

Senin, 19 Januari 2026

bahan bacaan : 2 Samuel 6 : 6 – 14

6 Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir. 7 Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu. 8 Daud menjadi marah, karena TUHAN telah menyambar Uza demikian hebatnya; maka tempat itu disebut orang Peres-Uza sampai sekarang. 9 Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN, lalu katanya: "Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?" 10 Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut TUHAN itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu. 11 Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya. 12 Diberitahukanlah kepada raja Daud, demikian: "TUHAN memberkati seisi rumah Obed-Edom dan segala yang ada padanya oleh karena tabut Allah itu." Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita. 13 Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan. 14 Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan.

Mengalami Berkat Tuhan Karena Menopang Pelayanan

Dalam pengalaman melayani, ada saja orang baik yang turut menopang tugas pelayanan. Mereka mengorbankan waktu, pikiran,tenaga dan apapun talenta yang dimiliki. Seperti Obed-Edom yang tidak menolak ketika daud menitipkan Tabut Allah-simbol kehadiran Allah di rumahnya. Ia menjaga dan merawat Tabut Allah itu selama tiga bulan. Ketaatan dan kesetiaan dalam menunaikan kepercayaan yang diberikan Daud telah menggerakan Allah untuk mengaruniakan berkat keselamatan bagi Obed-Edom dan seisi rumahnya. Dalam 1 Tawarikh 15 dikatakan, anak-anak Obed-edom aktif menjadi pelayan di rumah Tuhan sebagai penyanyi, penjaga pintu gerbang dan pemain alat musik. Di sinilah  kita belajar bahwa rumah yang terbuka bagi pekerjaan Tuhan adalah rumah yang akan menikmati berkat Tuhan. Bukan hanya berkat materi, tetapi damai dan sukacita serta pemeliharaan Tuhan. Keluarga yang menyediakan diri menopang pekerjaan Tuhan apapun bentuknya, adalah keluarga yang melihat tangan Tuhan bekerja dalam hidup mereka. Jadi selagi masih ada kesempatan layanilah Tuhan dengan terus menopang tugas- tugas pelayanan yang dipercayakan.

Doa: Tuhan, kiranya rumah kami terbuka untuk menopang pelayanan, Amin.

Selasa, 20 Januari 2026

bahan bacaan : Kejadian 19 : 15 – 23

15 Ketika fajar telah menyingsing, kedua malaikat itu mendesak Lot, supaya bersegera, katanya: "Bangunlah, bawalah isterimu dan kedua anakmu yang ada di sini, supaya engkau jangan mati lenyap karena kedurjanaan kota ini." 16 Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana. 17 Sesudah kedua orang itu menuntun mereka sampai ke luar, berkatalah seorang: "Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap." 18 Kata Lot kepada mereka: "Janganlah kiranya demikian, tuanku. 19 Sungguhlah hambamu ini telah dikaruniai belas kasihan di hadapanmu, dan tuanku telah berbuat kemurahan besar kepadaku dengan memelihara hidupku, tetapi jika aku harus lari ke pegunungan, pastilah aku akan tersusul oleh bencana itu, sehingga matilah aku. 20 Sungguhlah kota yang di sana itu cukup dekat kiranya untuk lari ke sana; kota itu kecil; izinkanlah kiranya aku lari ke sana. Bukankah kota itu kecil? Jika demikian, nyawaku akan terpelihara." 21 Sahut malaikat itu kepadanya: "Baiklah, dalam hal inipun permintaanmu akan kuterima dengan baik; yakni kota yang telah kau sebut itu tidak akan kutunggangbalikkan. 22 Cepatlah, larilah ke sana, sebab aku tidak dapat berbuat apa-apa, sebelum engkau sampai ke sana." Itulah sebabnya nama kota itu disebut Zoar. 23 Matahari telah terbit menyinari bumi, ketika Lot tiba di Zoar.

Tuhan Memelihara Keluarga yang Beriman

Lot bukanlah orang yang sempurna. Dia memiliki banyak kelemahan, termasuk keputusan awalnya untuk tinggal di lingkungan Sodom yang tidak benar. Namun, Tuhan menyelamatkannya karena “mengasihani dia” dan Ia mengingat Abraham. Pemeliharaan Tuhan datang dengan syarat ketaatan yang jelas dan mendesak. Malaikat-malaikat Tuhan memerintahkan Lot dan keluarganya untuk segera keluar dari Sodom dan tidak menoleh ke belakang. Ancaman kematian menjadi nyata jika mereka melanggar perintah tersebut dan itulah yang dialami oleh isteri Lot. Ketaatan menjadi jalan keselamatan. Kisah ini bukan sekedar cerita tentang pelarian sebuah keluarga dari kota yang binasa, tetapi ini kesaksian iman bagaimana Allah menopang dan memelihara keluarga dari ancaman kematian. Jika keluarga terus berjalan bersama Tuhan, mendengarkan suaraNya dengan taat, maka apapun yang terjadi pemeliharaan Tuhan akan dinikmati. Banyak keluarga mengalami kehancuran karena memilih menoleh ke belakang, kembali ke kebiasaan lama, kehidupan lama yang penuh dosa. Kiranya setiap keluarga akan hidup dalam kesadaran ini, Tuhan sendiri yang akan menjadi pemelihara keluarga kita. Taatlah kepadaNya!

Doa: Tuhan, keluarga kami mau hidup selalu dalam iman dan ketaataan kepada-Mu. Amin.

Rabu, 21 Januari 2026

bahan bacaan : Kejadian 26 : 23-33

23 Dari situ ia pergi ke Bersyeba. 24 Lalu pada malam itu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: "Akulah Allah ayahmu Abraham; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu." 25 Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama TUHAN. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ. 26 Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya. 27 Tetapi kata Ishak kepada mereka: "Mengapa kamu datang mendapatkan aku? Bukankah kamu benci kepadaku, dan telah menyuruh aku keluar dari tanahmu?" 28 Jawab mereka: "Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN menyertai engkau; sebab itu kami berkata: baiklah kita mengadakan sumpah setia, antara kami dan engkau; dan baiklah kami mengikat perjanjian dengan engkau, 29 bahwa engkau tidak akan berbuat jahat kepada kami, seperti kami tidak mengganggu engkau, dan seperti kami semata-mata berbuat baik kepadamu dan membiarkan engkau pergi dengan damai; bukankah engkau sekarang yang diberkati TUHAN." 30 Kemudian Ishak mengadakan perjamuan bagi mereka, lalu mereka makan dan minum. 31 Keesokan harinya pagi-pagi bersumpah-sumpahanlah mereka. Kemudian Ishak melepas mereka, dan mereka meninggalkan dia dengan damai. 32 Pada hari itu datanglah hamba-hamba Ishak memberitahukan kepadanya tentang sumur yang telah digali mereka, serta berkata kepadanya: "Kami telah mendapat air." 33 Lalu dinamainyalah sumur itu Syeba. Sebab itu nama kota itu adalah Bersyeba, sampai sekarang.

Tuhan Memberkati Keluarga Turun-temurun

Kehadiran Tuhan adalah jaminan pemeliharaan tertinggi. Ketika Ishak pindah ke Bersyeba, Tuhan menampakkan diri kepadanya pada malam hari dan berkata, “Akulah Allah ayahmu Abraham. Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan memperbanyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu.” Tuhan menegaskan kembali perjanjian yang dibuat-Nya dengan Abraham berlaku juga untuk Ishak dan keturunannya. Abimelekh, raja orang Filistin, datang menemui Ishak dan mengakui, “Memang kami lihat, bahwa Tuhan menyertai engkau”. Pengakuan ini menunjukkan berkat dan pemeliharaan Tuhan atas Ishak terlihat nyata oleh bangsa-bangsa di sekitarnya. Ishak dan Abimelekh mengikat perjanjian damai, yang menunjukkan bahwa Tuhan tidak hanya memelihara Ishak dalam konflik, tetapi juga memberinya kedamaian dan keamanan di negeri asing tersebut dan memastikan kelangsungan hidup keluarganya.  Pengalaman iman yang dijalani hari ini dalam keluarga, adalah pupuk bagi iman generasi berikutnya. Tuhan yang memelihara dan memberkati kita, juga rindu memelihara dan memberkati anak cucu kita. Ceritakanlah kepada anak-anak apa yang Tuhan sudah lakukan, sebab itu meneguhkan iman generasi berikutnya. Kesetiaan Tuhan adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu, sekarang, dan masa depan dalam keluarga.

Doa: Tuhan, berkatilah keluarga kami turun temurun, Amin.

Kamis, 22 Januari 2026

bahan bacaan : Keluaran 2 : 1-10

Musa lahir dan diselamatkan
Seorang laki-laki dari keluarga Lewi kawin dengan seorang perempuan Lewi; 2 lalu mengandunglah ia dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika dilihatnya, bahwa anak itu cantik, disembunyikannya tiga bulan lamanya. 3 Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama lagi, sebab itu diambilnya sebuah peti pandan, dipakalnya dengan gala-gala dan ter, diletakkannya bayi itu di dalamnya dan ditaruhnya peti itu di tengah-tengah teberau di tepi sungai Nil; 4 kakaknya perempuan berdiri di tempat yang agak jauh untuk melihat, apakah yang akan terjadi dengan dia. 5 Maka datanglah puteri Firaun untuk mandi di sungai Nil, sedang dayang-dayangnya berjalan-jalan di tepi sungai Nil, lalu terlihatlah olehnya peti yang di tengah-tengah teberau itu, maka disuruhnya hambanya perempuan untuk mengambilnya. 6 Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: "Tentulah ini bayi orang Ibrani." 7 Lalu bertanyalah kakak anak itu kepada puteri Firaun: "Akan kupanggilkah bagi tuan puteri seorang inang penyusu dari perempuan Ibrani untuk menyusukan bayi itu bagi tuan puteri?" 8 Sahut puteri Firaun kepadanya: "Baiklah." Lalu pergilah gadis itu memanggil ibu bayi itu. 9 Maka berkatalah puteri Firaun kepada ibu itu: "Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu." Kemudian perempuan itu mengambil bayi itu dan menyusuinya. 10 Ketika anak itu telah besar, dibawanyalah kepada puteri Firaun, yang mengangkatnya menjadi anaknya, dan menamainya Musa, sebab katanya: "Karena aku telah menariknya dari air."

Tuhan memeliharaKeluarga yang Saling Menolong

Orangtua Musa, Amram dan Yokhebed, menunjukkan iman yang besar dengan menyembunyikan bayi Musa selama tiga bulan. Mereka menentang perintah Firaun untuk membunuh semua bayi laki-laki Ibrani. Ketika tidak bisa menyembunyikannya lagi, mereka membuat rencana dengan iman, yaitu meletakkan bayi itu dalam peti pandan di sungai Nil, mempercayakan nasibnya kepada Tuhan. Miryam, kakak perempuan Musa, memainkan peran penting dalam pemeliharaan ini. Ia tidak hanya mengawasi peti berisi adiknya dari kejauhan, tetapi juga bertindak cepat dan bijaksana ketika putri Firaun menemukan bayi itu. Miryam dengan berani menawarkan untuk memanggilkan seorang inang penyusu dari kalangan perempuan Ibrani. Tawaran Miryam diterima, ibu kandung Musa sendiri akhirnya dipekerjakan untuk menyusui dan merawat anaknya dengan upah dari putri Firaun. Ketika kita sebagai keluarga, suami istri, orang tua anak, atau adik kakak bekerja sama, saling mendukung, dan bertindak dengan iman di tengah tantangan hidup, kita membuka jalan bagi pemeliharaan Tuhan untuk bekerja dengan cara yang ajaib. Tuhan memberkati persatuan dan kasih dalam keluarga. Dia memakai ikatan tersebut sebagai alat-Nya untuk melindungi dan memberkati semua ciptaan-Nya di bumi.

Doa: Tuhan, Terima kasih untuk pemeliharaan-Mu bagi keluarga kami. Amin.

Jumat, 23 Januari 2026

bahan bacaan : Ulangan 12 : 1-7

Satu tempat ibadah
"Inilah ketetapan dan peraturan yang harus kamu lakukan dengan setia di negeri yang diberikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu untuk memilikinya, selama kamu hidup di muka bumi. 2 Kamu harus memusnahkan sama sekali segala tempat, di mana bangsa-bangsa yang daerahnya kamu duduki itu beribadah kepada allah mereka, yakni di gunung-gunung yang tinggi, di bukit-bukit dan di bawah setiap pohon yang rimbun. 3 Mezbah mereka kamu harus robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu bakar habis, patung-patung allah mereka kamu hancurkan, dan nama mereka kamu hapuskan dari tempat itu. 4 Jangan kamu berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu. 5 Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi. 6 Ke sanalah harus kamu bawa korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, korban nazarmu dan korban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu. 7 Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu.

Tuhan Menaungi Keluarga yang Taat dan Setia

Nas bacaan ini merupakan pengingat bagi umat Israel ketika mereka akan memasuki tanah perjanjian. Tuhan menegaskan bahwa berkat yang akan mereka terima sangat berkaitan dengan ketaatan dan kesetiaan untuk hidup sesuai kehendak-Nya. ada tiga hal yang berkaitan dengan hal itu: umat harus menghancurkan berhala, mau menyembah Tuhan dan menguduskan persembahan bagi-Nya. Semua itu bersumber pada satu hal: hidup yang setia kepada Tuhan.Di zaman skarang, berhala tidak selalu berupa patung, tetapi hal-hal yang mendominasi hati dan gaya hidup yang membuat Tuhan tersisih.  Keluarga yang taat dan setia memilih untuk tetap fokus kepada Tuhan, menggunakan segala sesuatu dengan bijak tanpa diperbudak olehnya. Marilah kita berkomitmen untuk membangun keluarga yang demikian. Jujur dalam melakukan apapun, menghindari tindakan yang kurang baik atau merusak, menjaga hati dari keinginan tercela dan sebagainya. Ketika keluarga mengandalkan Tuhan dalam setiap keadaan, maka Tuhan sendiri yang akan memelihara, menguatkan dan memberkati. Kesetiaan membawa damai, keutuhan dan sukacita yang tidak bisa diberikan dunia.

Doa: Tuhan, tolong keluarga kami hidup taat dan setia kepadaMu. Amin.

Sabtu, 24 Januari 2026

bahan bacaan : Kejadian 35 : 1-5

Yakub di Betel untuk kedua kalinya
Allah berfirman kepada Yakub: "Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu." 2 Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: "Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu. 3 Marilah kita bersiap dan pergi ke Betel; aku akan membuat mezbah di situ bagi Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh." 4 Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikhem. 5 Sesudah itu berangkatlah mereka. Dan kedahsyatan yang dari Allah meliputi kota-kota sekeliling mereka, sehingga anak-anak Yakub tidak dikejar.

Tuhan Tempat Perlindungan

Keluarga-keluarga kita hari ini menghadapi banyak krisis, mulai dari pengaruh digital negatif hingga tekanan kebutuhan ekonomi. Seperti keluarga Yakub yang baru saja melalui krisis di Sikhem. Ia takut diserang bangsa-bangsa sekitar karena tindakan anak-anaknya. Allah menegur dan memanggil Yakub untuk kembali ke Betel, tempat perjanjian. Yakub meresponsnya dengan bijaksana. Ia memerintahkan pemurnian total seisi rumah tangganya: menjauhkan dewa asing dan mentahirkan diri. Seluruh keluarga, termasuk anak-anak, berpartisipasi dalam menguburkan patung dewa-dewa di bawah pohon.Tindakan kolektif ini menegaskan bahwa takut akan Tuhan adalah komitmen yang harus dipegang seluruh keluarga. Apa hasil dari ketaatan keluarga ini? Pemeliharaan dan kedahsyatan dari Allah meliputi kota-kota sekeliling mereka, sehingga anak-anak Esau tidak berani mengejar anak-anak Yakub.” Firman ini mengingatkan kita sebagai keluarga, ketika hidup mengalami banyak masalah dan krisis. Tuhan mengundang kita untuk kembali kepada-Nya. Untuk itu, ada hal-hal yang perlu “dikubur” agar hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan dan dijaga: kebiasaan yang buruk, hati yang kera atau dosa yang kita simpan diam-diam. Saat melangkah dalam ketaatan, Tuhan sendiri menjaga dan menuntun langkah kita dan seisi keluarga.

Doa: Tuhan, pagarilah keluarga kami dalam kasihMu, amin

*SUMBER : SHK BULAN JANUARI 2026, LPJ-GPM