Santapan Harian Keluarga, 31 Agustus – 06 September 2025

Tema Bulanan : Gereja Yang Berbuah: Menghadirkan Tanda-Tanda Kerajaan Allah

Tema Minggu : Memperkuat Keluarga, Mengokohkan Bangsa.

Minggu, 31 Agustus 2025

bahan bacaan : Kolose 3 : 18 – 25 & 4 : 1 – 6  

Hubungan antara anggota-anggota rumah tangga
18 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. 19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. 20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. 21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. 22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. 23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. 24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. 25 Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.
Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di sorga. 2 Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur. 3 Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan. 4 Dengan demikian aku dapat menyatakannya, sebagaimana seharusnya. 5 Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. 6 Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.

Kehangatan Keluarga yang Diberkati Tuhan

Bacaan ini sering kita dengar dalam Ibadah Pemberkatan Nikah atau perayaan hari ulang tahun pernikah keluarga Kristen. Bacaan yang menjelaskan tentang peran anggota-anggota keluarga. Semua anggota keluarga memiliki tugas dan setiap tugas saling melengkapi satu dan yang lain. Peran suami dan istri yang mesti selalu menumbuhkan cinta kasih di dalam keluarga, peran orang tua dan anak yang mesti saling menghormati dan menghargai. Peran tuan dan hamba yang mesti saling menjaga. Sadarkah kita bahwa zaman sekarang nilai kekeluargaan tergeser karena kecanggihan Teknologi. Suami istri tidak lagi saling menatap namun lebih sering menatap HP masing-masing, tangan pun tidak saling merangkul sebab lebih nyaman menggenggam gadget, komunikasi semakin berkurang. Rumah yang ditempati pun tidak lagi hangat dan berisik dengan tawa keluarga. Meja makan sebagai tempat untuk saling menasihati, saling berbagi dan saling mencurahkan rasa kini sepi dan tidak lagi difungsikan. Realitas ini merupakan tantangn bagi keluarga-keluarga. Mari, hidupkan kembali iklim keluarga Kristen yang saling mengasihi dan menghormati, sebab keluarga adalah tempat pulang yang paling nyaman dan diatas semuanya ialah Kasih Tuhan ada tinggal menetap didalamnya.

Doa: Tuhan, biarlah cinta kasihMu hidup di dalam keluarga kami.  Amin. 

Senin, 01 September 2025

bahan bacaan : Mazmur 92 : 13-16

12 (92-13) Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; 13 (92-14) mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. 14 (92-15) Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, 15 (92-16) untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.

Jangan Berhenti Berbuah

Menjadi pribadi, keluarga bahkan persekutuan yang hidup benar di hadapan Tuhan merupakan suatu keharusan sebagai orang percaya. Kendatipun sadar akan hal dimaksud, namun seringkali terabaikan karena dipengaruhi oleh banyak faktor. Itu sebabnya ada sekian banyak orang percaya yang hidupnya bertolak belakang dengan kehendak Tuhan. Terkait dengan hidup yang demikian, maka hidup hanya dilihat sebagai sesuatu yang sekedar dijalani saja tanpa ada pemaknaan yang berarti. Padahal hidup yang dikehendaki Tuhan yaitu hidup yang terus bertumbuh dan menghasilkan buah. Agar tetap bertumbuh dan berbuah, maka kita berkewajiban untuk terus melakukan kehendak-Nya.  Inilah juga yang dimaksudkan pemazmur dalam bacaan kita hari ini. Bagi pemazmur hanya orang benar yang akan bertunas dan bertumbuh subur seperti pohon kurma dan pohon aras (ay. 13). Karenanya hidup benar tidak dapat diabaikan melainkan menjadi prinsip hidup yang terus dinyatakan dari waktu ke waktu. Sebab hanya dengan begitu, kita akan terus berbuah sekalipun berada di usia yang sudah lanjut. Buah yang dihasilkan akan mununjukkan siapa kita sesungguhnya karena akan nampak dari sikap, perkataan maupun perbuatan kita. Dengan demikian jangan berhenti menghasilkan buah yang menunjukkan bahwa kita adalah orang benar. Sebab hanya orang benarlah yang dapat berbuah sampai tua.

Doa: Pimpinlah Kami Tuhan, agar mengikuti kehendak-Mu dan terus berbuah. Amin.

Selasa, 02 September 2025

bahan bacaan : Yosua 24 : 14-15

14 Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. 15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"

Beribadah Kepada Tuhan Dengan Tulus dan Setia

Jika merenungkan kembali seluruh proses hidup yang telah dijalani, bukankah kita akan bersyukur kepada Tuhan? Disampaikan demikian sebab seluruh perjalanan hidup dengan berbagai dinamikanya dapat kita lalui hanya karena campur tangan-Nya.  Pertanyaannya, apa yang mesti kita lakukan meresponi kebaikan-Nya yang selama ini dialami? Ketika berbicara kepada seluruh bangsa Israel, Yosua mengingatkan tentang segala kebaikan Tuhan yang telah dinyatakan bagi mereka. Terhadap hal tersebut ia menyampaikan agar bangsa itu harus meresponinya dengan hidup yang takut Tuhan dan beribadah Pada-Nya dengan tulus dan setia. Selanjutnya ia memberikan ketegasan bahwa sekalipun bangsa itu memilih untuk beribadah kepada ilah lain, tetapi ia dan seisi rumahnya akan tetap beribadah kepada Tuhan. Keputusannya itu merupakan cerminan kehidupan yang patut diteladani oleh orang percaya masa kini. Sebab sebagai pemimpin bangsa Israel dan keluarga, ia tetap melakukan yang benar bagi Tuhan. Apakah hal yang demikian sudah diterapkan dalam kehidupan keluarga kita masing-masing? Melalui firman Tuhan saat ini kita diingatkan baik secara pribadi maupun keluarga, kepada siapa kita harus beribadah. Oleh sebab itu peranan sebagai orang tua maupun anggota keluarga yang lain, harus difungsikan dengan baik. Kendatipun ada banyak persoalan dan tantangan kehidupan, namun kebaikan Tuhan masih kita alami dan rasakan sampai detik ini. Sadar akan hal itu maka yang harus dilakukan sebagai keluarga kristen dalam menjalani hari-hari hidup yaitu takut akan Tuhan, serta senantiasa beribadah kepada-Nya dengan tulus dan setia.

Doa: Hanya kepadaMu Tuhan, keluarga kami datang beribadah dengan tulus dan setia.  Amin

Rabu, 03 September 2025

bahan bacaan : Amsal 31 : 1-9

Amsal-amsal untuk Lemuel dari ibunya
Inilah perkataan Lemuel, raja Masa, yang diajarkan ibunya kepadanya. 2 Apa yang akan kukatakan, anakku, anak kandungku, anak nazarku? 3 Jangan berikan kekuatanmu kepada perempuan, dan jalanmu kepada perempuan-perempuan yang membinasakan raja-raja. 4 Tidaklah pantas bagi raja, hai Lemuel, tidaklah pantas bagi raja meminum anggur, ataupun bagi para pembesar mengingini minuman keras, 5 jangan sampai karena minum ia melupakan apa yang telah ditetapkan, dan membengkokkan hak orang-orang yang tertindas. 6 Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa, dan anggur itu kepada yang susah hati. 7 Biarlah ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak lagi mengingat kesusahannya. 8 Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. 9 Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada yang tertindas dan yang miskin hak mereka.

Pengajaran Yang Benar Menuntun Hidup

Semua orang tua selalu berharap hal terbaik bagi anak-anaknya dimasa kini maupun masa depan mereka. Karena itu ada banyak hal yang terus menjadi perhatian dan dilakukan untuk menunjang kebutuhan anak. Misalnya: mencukupi makan dan pakai, memberikan kesempatan belajar di bangku pendidikan dan yang lainnya. Kendatipun semua ini dipenuhi, namun tanggung jawab mengajarkan dalam bentuk wejangan atau nasihat harus dilakukan sejak dini dalam keluarga. Hal yang demikian juga ditemui pada bagian bacaan kita saat ini. Perkataan yang disampaikan Lemuel raja Masa merupakan pengajaran yang mula-mula diajarkan oleh ibunya. Semua pengajran yang baik dan benar ini akan menolong raja Lemuel tentang bagaimana seharusnya bersikap dan bertindak serta dapat dengan baik dan benar dalam pengambilan keputusan. Bukankah hal yang sama pula dibutuhkan oleh anak-anak kita? Sadar akan hal itu, maka tanggung jawab sebagai orang tua untuk terus mengajar dan menasihati anak-anak sangat penting diterapkan. Sebab berbagai nasihat dan pengajaran yang benar dari orang tua akan sangat bermanfaat bagi anak-anak dikemudian hari. Atas dasar itulah sebagai orang tua kita diingatkan agar terus menjalankan tugas kita dengan penuh tanggung jawab. Percayalah semua hal baik dan benar yang kita taburkan bagi anak-anak, akan memberi hasil yang baik dan benar.

Doa: Biarlah kami dimampukan Tuhan untuk terus menyampaikan pengajaran yang benar.  Amin

Kamis, 04 September 2025

bahan bacaan : Amsal 1 : 20-33

Nasihat hikmat
20 Hikmat berseru nyaring di jalan-jalan, di lapangan-lapangan ia memperdengarkan suaranya, 21 di atas tembok-tembok ia berseru-seru, di depan pintu-pintu gerbang kota ia mengucapkan kata-katanya. 22 "Berapa lama lagi, hai orang yang tak berpengalaman, kamu masih cinta kepada keadaanmu itu, pencemooh masih gemar kepada cemooh, dan orang bebal benci kepada pengetahuan? 23 Berpalinglah kamu kepada teguranku! Sesungguhnya, aku hendak mencurahkan isi hatiku kepadamu dan memberitahukan perkataanku kepadamu. 24 Oleh karena kamu menolak ketika aku memanggil, dan tidak ada orang yang menghiraukan ketika aku mengulurkan tanganku, 25 bahkan, kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku, 26 maka aku juga akan menertawakan celakamu; aku akan berolok-olok, apabila kedahsyatan datang ke atasmu, 27 apabila kedahsyatan datang ke atasmu seperti badai, dan celaka melanda kamu seperti angin puyuh, apabila kesukaran dan kecemasan datang menimpa kamu. 28 Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tetapi tidak akan kujawab, mereka akan bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku. 29 Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih takut akan TUHAN, 30 tidak mau menerima nasihatku, tetapi menolak segala teguranku, 31 maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka. 32 Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya. 33 Tetapi siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka."

 Dengarkanlah Teguran Hikmat

Sesuatu yang bertolak belakang dengan kehendak Allah, tentu saja pernah kita lakukan. Hal ini dapat terjadi baik disengaja ataupun sebaliknya lewat sikap, tutur kata maupun perbuatan. Terhadap itu, nasihat hikmat terus diberikan agar kita lebih memahami dan mampu membedakan antara yang benar dan salah. Nasihat hikmat juga bertujuan mengarahkan agar yang mendengarkan dapat memperbaiki kekeliruan dan kesalahan yang pernah dilakukan. Terkait hal dimaksud penulis mengungkapkan bahwa hikmat selalu berseru, memperdengarkan suaranya dan mengucapkan kata-katanya (ay. 20-21). Itu berarti semua orang dapat mendengarkannya. Selanjutnya keputusan memilih untuk menerima dan memperhatikan teguran hikmat atau justru menolak dan mengabaikannya, tergantung tiap-tiap orang. Sebab apapun yang menjadi pilihan kita berdampak pada apa yang akan didapatkan kemudian. Jika menolak peringatan dan nasihat hikmat, maka kehancuran dan kebinasaan yang akan didapatkan (ay. 31-32). Sebaliknya jika menerima nasihat dan teguran hikmat, maka akan tinggal dengan aman dari kengerian malapetaka. Pertanyaannya, apakah kita akan menolak dan mengabaikan nasihat hikmat dan terus terlena serta tetap melakukan kesalahan? Ataukah kita menerima teguran hikmat kemudian memperbaiki kesalahan serta hidup benar dihadapan Tuhan? Dengarkanlah teguran dan nasihat hikmat yang kita dengarkan baik dari dalam keluarga, lingkungan masyarakat maupun dalam ruang lingkup bergereja. Dengan mendengar teguran, hikmat hidup kita senantiasa dibaharui dan diberikan pemahaman untuk menjalani hari-hari hidup selanjutnya.

Doa: Roh Kudus tuntunlah kami agar menerima dan mendengar  teguran hikmat. Amin.

Jumat, 05 September 2025

bahan bacaan : Matius 19 : 1-12

Perceraian
Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan. 2 Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Iapun menyembuhkan mereka di sana. 3 Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" 4 Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? 5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." 7 Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" 8 Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. 9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah." 10 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin." 11 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. 12 Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."

Menjaga Keutuhan Keluarga

Membuat keputusan dan berkomitmen untuk bersatu dalam ikatan pernikahan serta menjalani hidup bersama, tentu saja di pandang baik. Namun sangat disayangkan, tidak semua pasangan suami istri mampu bertahan pada keputusan dan komitmen awal yang telah disepakati. Hal ini dapat disebabkan karena berbagai faktor yang mengakibatkan hilang keharmonisan, rusaknya rumah tangga dan yang paling fatal yaitu terjadinya perceraian. Kondisi yang demikian juga tidak jarang dialami oleh kehidupan keluarga-keluarga kristen. Ini marak terjadi, meskipun sesungguhnya mereka memahami bahwa apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia. Itu berarti perceraian merupakan salah satu keputusan manusia yang di tentang oleh Allah. Dengan demikian berusaha menjaga keutuhan keluarga mesti terus dipertahankan. Bagaimana caranya? Pasangan suami istri seharusnya berkomitmen untuk saling mencintai dengan tulus, tetap setia, saling menghormati dll. Semuanya tidak sulit untuk dilakukan bila masing-masing orang hidup takut akan Tuhan. Itu sebabnya, keluarga kristen tidak boleh membuka cela dan memberi ruang bagi semua hal yang bertolak belakang dengan kehendak Allah. Karena percaraian tidak hanya berdampak bagi pasangan suami istri saja tetapi juga bagi anak-anak mereka, maka jadilah keluarga kristen yang selalu menjaga keutuhan rumah tangga.

Doa: Mampukan kami Tuhan untuk selalu menjaga keutuhan keluarga. Amin.

Sabtu, 06 September 2025 (Dirgahayu ke 80 GPM)

bahan bacaan : Markus 4 : 1-9

Perumpamaan tentang seorang penabur
Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. 2 Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka: 3 "Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 4 Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. 8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat." 9 Dan kata-Nya: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"

Semua Karena Kasih Tuhan (Selamat Merayakan HUT ke-90 GPM)

Tema HUT GPM tahun 2025 adalah Gereja yang menabur, bertumbuh dan berbuah karena kasih Tuhan.  Tema ini mendasari syukur GPM yang ke 90. Melaluinya tergambar komitmen terkait sikap autokritik gereja. Usia yang hampir mendekati satu abad, mestinya membuat GPM menjadi gereja yang tetap menyadari eksistensi dirinya sebagai saluran syalom Allah. GPM terpanggil menyuarakan suara Allah dan menyalurkan damai sejahtera-Nya. Umat dan pelayan harus menghadirkan kehidupan yang selaras dengan kehendak Allah. Inilah yang dinyatakan dalam teks Markus 4:1-9. Tuhan Yesus memberikan pengajaran dalam bentuk perumpaan tentang bagaimana kehidupan gereja yang seharusnya. Penabur menaburkan benih namun keberadaan benih yang jatuh di pinggir jalan, batu-batu dan semak duri tidak bertumbuh dan berbuah pada akhirnya. Kondisi mana yang berbeda dengan benih yang jatuh di tanah yang baik. Melaluinya eksistensi gereja sebagai tempat jatuhnya benih dipertanyakan. Apakah GPM tetap bertumbuh dan berbuah? Apakah yang menjadi indikatornya? Yang pasti selama Injil diberitakan, bila kita tetap berakar pada Kristus Sang Kepala Gereja, kita akan bertumbuh dan saatnya kita akan berbuah dalam kemurahan Tuhan.

Doa:  ya Allah, mampukan kami tetap menabur, bertumbuh dan berbuah, Amin

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS DAN SEPTEMBER 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 24 – 30 Agustus 2025

Tema Bulanan : Gereja yang Berbuah : Mengisi Kemerdekaan

Tema Mingguan : Merdeka untuk Membangun Demokrasi Yang Bertanggungjawab

Minggu, 24 Agustus 2025

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 4 : 1 – 22

Petrus dan Yohanes di hadapan Mahkamah Agama
Ketika Petrus dan Yohanes sedang berbicara kepada orang banyak, mereka tiba-tiba didatangi imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki. 2 Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati. 3 Mereka ditangkap dan diserahkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam. 4 Tetapi di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki. 5 Pada keesokan harinya pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat mengadakan sidang di Yerusalem 6 dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar. 7 Lalu Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang itu dan mulai diperiksa dengan pertanyaan ini: "Dengan kuasa manakah atau dalam nama siapakah kamu bertindak demikian itu?" 8 Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus: "Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua, 9 jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu kebajikan kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa manakah orang itu disembuhkan, 10 maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati--bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu. 11 Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan--yaitu kamu sendiri--,namun ia telah menjadi batu penjuru. 12 Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." 13 Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus. 14 Tetapi karena mereka melihat orang yang disembuhkan itu berdiri di samping kedua rasul itu, mereka tidak dapat mengatakan apa-apa untuk membantahnya. 15 Dan setelah mereka menyuruh rasul-rasul itu meninggalkan ruang sidang, berundinglah mereka, 16 dan berkata: "Tindakan apakah yang harus kita ambil terhadap orang-orang ini? Sebab telah nyata kepada semua penduduk Yerusalem, bahwa mereka telah mengadakan suatu mujizat yang menyolok dan kita tidak dapat menyangkalnya. 17 Tetapi supaya hal itu jangan makin luas tersiar di antara orang banyak, baiklah kita mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapapun dalam nama itu." 18 Dan setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. 19 Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka: "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. 20 Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." 21 Mereka semakin keras mengancam rasul-rasul itu, tetapi akhirnya melepaskan mereka juga, sebab sidang tidak melihat jalan untuk menghukum mereka karena takut akan orang banyak yang memuliakan nama Allah berhubung dengan apa yang telah terjadi. 22 Sebab orang yang disembuhkan oleh mujizat itu sudah lebih dari empat puluh tahun umurnya.

Merdeka untuk Membangun Demokrasi yang Bertanggungjawab

Demokrasi merupakan salah satu bentuk penyampaian pendapat di depan umum. Karena itu, salah satu hal yang harus dimiliki oleh orang-orang yang menganut paham demokrasi adalah keberanian berbicara menyampaikan pendapat. Itu berarti tidak boleh takut kepada siapa pun, termasuk pemimpin, juga tidak boleh takut dihukum atau dipenjara karena penyampaian pendapat yang berbeda dengan kebijakan atau keinginan penguasa/pemimpin. Teks Alkitab hari ini berisikan keberanian dua murid Yesus, Petrus dan Yohanes yang berani bersaksi menyampaikan pendapat dan berbicara di depan Mahkamah Agama saat sidang. Dalam sidang tersebut kedua murid Yesus ini disuruh untuk tidak boleh berbicara dan mengajar lagi dengan menggunakan nama Yesus. Namun, Petrus dan Yohanes menolaknya, sebab bagi mereka apa yang disampaikan adalah sebuah kebenaran, dan semua yang dilakukan adalah untuk kebaikan banyak orang. Mereka berani menolak permintaan pemimpin sidang, dan lebih tunduk serta taat kepada Allah.Firman Tuhan  hari ini  mengingatkan kita untuk tidak takut menyampaikan suara kebenaran. Kita punya hak untuk menyampaikan pikiran dan pendapat. Lakukanlah itu dengan sopan dan beretika serta penuh rasa tanggungjawab. Teruslah berkata dan bertindak yang baik dan benar kepada siapa pun demi kebaikan hidup bersama.

Doa: Tuhan, berikanlah keberanian kepada kami untuk menyampaikan kebenaran.  Amin. 

Senin, 25 Agustus 2025

bahan bacaan : Amsal 16 : 9 – 15

9 Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya. 10 Keputusan dari Allah ada di bibir raja, kalau ia mengadili mulutnya tidak berbuat salah. 11 Timbangan dan neraca yang betul adalah kepunyaan TUHAN, segala batu timbangan di dalam pundi-pundi adalah buatan-Nya. 12 Melakukan kefasikan adalah kekejian bagi raja, karena takhta menjadi kokoh oleh kebenaran. 13 Bibir yang benar dikenan raja, dan orang yang berbicara jujur dikasihi-Nya. 14 Kegeraman raja adalah bentara maut, tetapi orang bijak memadamkannya. 15 Wajah raja yang bercahaya memberi hidup dan kebaikannya seperti awan hujan musim semi.

Berpikir Postif dan Berkata Benar

Setiap orang, termasuk raja atau pemimpin dalam hidupnya harus selalu berpikir dan berbicara segala hal yang baik untuk dirinya, maupun untuk orang lain. Karena itu, dalam diri seseorang harus terbiasa berpikir positif, supaya bisa berkata yang baik atau yang positif juga kepada orang lain. Bagi Salomo, sebagaimana terbaca pada teks hari ini, berpikir positif akan membuat Tuhan turut terlibat untuk menentukan arah langkahnya (ay.9), sedangkan orang yang berbicara baik adalah mereka yang selalu berbicara jujur (bd.ay.13). Bagi Salomo, ini penting untuk setiap orang yang berjuang menjalani hidup agar lebih baik, apalagi seorang pemimpin dalam memimpin anggotanya. Jadi, kejernihan berpikir berimplikasi pada campur tangan Tuhan menuntun arah langkah hidup maupun berbicara kepada siapa pun juga. Karena itu, pesan nas bacaan ini bagi kita yaitulah jangan pernah berpikir negatif tentang orang lain, apalagi berkata yang tidak benar, menuduhkan sesuatu yang belum tentu terbukti kebenarannya. Mari selalu berpikir positif dan berkata yang benar supaya kata-kata yang dikeluarkan melalui bibir mulut kita diberkati dan bermanfaat bagi orang yang mendengarnya.

Doa: Tuhan, kuasailah pikiran kami agar selalu berpikir postif tentang orang lain,  Amin. 

Selasa, 26 Agustus 2025

bahan bacaan : I Petrus 2 : 11 – 15 

Peringatan untuk hidup sebagai hamba Allah
11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. 12 Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka. 13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, 14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. 15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.

Hati sebagai Hamba

Pemerintah adalah wakil Allah di dunia”, Kalimat ini tidak asing lagi di telinga kita. Maknanya ialah mereka yang dipercayakan untuk bekerja dalam pemerintahan baik di aras Legislatif, Eksekutif maupun Yudikatif adalah orang-orang pilihan, yang mesti melakukan kehendak Allah.Hal itu nampak dalam kerja-kerja pemerintah yang mendatangkan ketentraman dan kesejahteraan atas dasar keadilan dan kebenaran. Peringatan yang disampaikan Petrus untuk mengerjakan keselamatan Allah sebagai pemegang kekuasaan yang harus berbuat baik patut untuk diperhatikan. Tidak menyalahgunakan kekuasaan untuk menyelubungi kejahatan. Namun peringatan yang sama disampaikan pula kepada semua orang agar hidup sebagai orang merdeka. Menghormati dan mengasihi semua orang. memiliki hati sebagai hamba untuk melakukan tugas dan tanggung jawab dengan takut akan Tuhan. Pemerintah dengan banyak kebijakan dan aturan-aturan yang baru, membawa perubahan yang mesti kita sesuaikan dengan pola hidup dan kerja yang mungkin telah menjadi kebiasaan. Perubahan itu pastinya bertujuan baik. Pada akhirnya kita harus mengakui bahwa Allah Kehidupan yang menganugerahkan tugas dan tanggung jawab bagi kita dalam bentuk apapun, jika dilakukan dengan takut akan Tuhan dan jujur maka akan mendatangkan berkat serta sukacita. Tetap merendah dan milikilah hati sebagai hamba.

Doa: Ajari kami Tuhan, untuk menjadi Hamba yang setia.  Amin. 

Rabu, 27 Agustus 2025

bahan bacaan : Galatia 5 : 13 – 15

13 Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. 14 Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" 15 Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.

Tuhan Yesus Mengasihi tanpa Syarat

Merdeka dari dosa merupakan dambaan semua manusia di dunia ini. Orang-orang percaya telah dimerdekakan oleh Allah dari perbudakan dosa melalui pengorbanan Tuhan Yesus. Bacaan hari ini mau mengingatkan untuk selalu bersyukur atas karya   keselamatan Allah. Wujud syukur itu haruslah nampak dalam kehidupan yang saling mengasihi antar sesama. “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” kalimat ini mesti menjadi pedoman untuk hidup berdampingan sebagai sesama manusia, saling mengingatkan agar tidak jatuh dalam dosa, sebab jika tidak demikian maka kemerdekaan yang telah diperoleh tidak akan mendatangakan kesejahteraan melainkan kebinasaan. Mengasihi harus dimulai dari keluarga. Suami dan istri saling jujur, tidak saling mengkhianati, saling mendukung dan menopang. Orang tua dan anak harus memiliki waktu berkualitas untuk saling berkomunikasi dan terbuka. Adik dan kakak harus saling menyayangi dan menghargai. Dalam lingkup jemaat dan masyarakat, hidup saling mengasihi harus melampaui banyak perbedaan dan banyak sekat. Mengasihi tidaklah bersyarat, sebab Tuhan pun mengasihi dan memerdekakan kita karena Kasih-Nya yang tak bersyarat.

Doa: Tolong kami menjalani kemerdekaan dengan hidup dalam kasih,  Amin

Kamis, 28 Agustus 2025

bahan bacaan : Keluaran  18 : 13 – 23

Pengangkatan hakim-hakim
13 Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang. 14 Ketika mertua Musa melihat segala yang dilakukannya kepada bangsa itu, berkatalah ia: "Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?" 15 Kata Musa kepada mertuanya itu: "Sebab bangsa ini datang kepadaku untuk menanyakan petunjuk Allah. 16 Apabila ada perkara di antara mereka, maka mereka datang kepadaku dan aku mengadili antara yang seorang dan yang lain; lagipula aku memberitahukan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan Allah." 17 Tetapi mertua Musa menjawabnya: "Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. 18 Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja. 19 Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah. 20 Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan, dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan. 21 Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. 22 Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya. 23 Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya."

Hikmat Allah Menyelesaikan Perkara

Sosok mertua Musa digambarkan dalam bacaan kita sebagai sosok yang bijaksana dan penuh dengan Hikmat Allah. Ketika musa diperhadapkan dengan berbagai persoalan dan perkara bangsa Israel yang mesti diselesaikan, Yitro dengan bijaksana memberi solusi yang sungguh membantu Musa. Pada akhirnya, Musa dapat mengendalikan tugasnya dengan bantuan orang-orang yang dipandangnya mampu menyelesaikan setiap perkara bangsa itu. Bacaan hari ini mengajarkan kita beberapa hal, yakni; Pertama, bahwa keputusan sebagai seorang pemimpin tidaklah mudah, karena itu selain membutuhkan saran atau nasihat orang lain mesti juga membutuhkan Hikmat Allah. Hikmat Allah ada pada diri Yitro dan kemudian ia menyampaikannya kepada Musa ketika harus menyelesaikan banyak perkara. Setiap perkara memiliki keunikan dan cara penyelesaiannya berbeda-beda. Ada perkara kecil dan ada pula perkara besar. tetapi dalam segala perkara kita membutuhkan kekuatan dari Tuhan untuk menyelesaikannya. Kedua, sebagai pemimpin kita pun tidak dapat melakukan segala sesuatu seorang diri, oleh karenanya orang lain diperlukan untuk membantu kita menjalankan tugas yang kita kerjakan. Janganlah merasa angkuh dan sombong, jangan mengandalkan kekuatan sendiri dan menganggap diri mampu tanpa bantuan orang lain, sebab sejatinya sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan manusia lain pula. Mari terus membangun relasi yang baik.

Doa: hikmatMu  Tuhan kami perlu untuk menyelesaikan segala perkara kehidupan ini.  Amin. 

Jumat, 29 Agustus 2025

bahan bacaan : Amsal  15 : 22

22 Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.

Kehendak Tuhan yang Memberkati

Manusia punya rencana, Tuhan punya kehendak. Kalimat bijak ini memiliki makna yang mendalam dan memberi kesan berarti bagi hidup orang percaya. Ya! Manusia memang memiliki rencana: baik itu rencana pekerjaan, rencana jodoh, rencana perjalanan, rencana hari tua, dan sebagainya, namun semua rencana itu jika tidak dikehendaki Tuhan maka akan sia-sia. Pada titik ini kita harus mengakui bahwa sungguh Tuhanlah yang berkehendak. Oleh sebab itu, kita selalu diingatkan agar menaruh pengharapan sungguh kepada Tuhan Allah atas setiap gumulan hidup kita. Nas bacaan Amsal 15:22 memperlihatkan bagaimana hasil yang diperoleh manusia jika semua rencananya tidak melalui pertimbangan yang matang, tidak memberi ruang menerima saran apalagi tidak mengandalkan Tuhan. Kegagalan manusia yang mendasar atas perencanaan gumulannya ialah kesombongan dan keangkuhan. Ketika sudah ada pada puncak kejayaan seringkali manusia lupa mengandalkan Tuhan. Nasihat dari sesama pun diabaikan. Akhirnya, jika gagal dan hancur lalu mulai menyalahkan Tuhan, menyalahkan keadaan dan orang sekitar. Firman ini mengingatkan agar tidak angkuh, terbuka bagi pikiran yang positif dan membangun dan jangan gegabah mengambil keputusan. Sertakan Tuhan dalam setiap perencanaan, niscaya pasti mendatangkan kebaikan.

Doa: Rencana kami sekeluarga ditaruh hanya ke dalam tanganMu Tuhan,  Amin.

Sabtu, 30 Agustus 2025

bahan bacaan : Mazmur 1 : 1 – 6

Jalan orang benar dan jalan orang fasik
Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, 2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. 3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. 4 Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. 5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; 6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Jalan Hidup Orang Benar Diterangi Kemuliaan Tuhan

Ada dua jalan kehidupan yang selalu dijumpai manusia. Jalan yang benar dan jalan yang tidak benar. Pemazmur mengawali bacaan ini dengan menegaskan konsekuensi memilih jalan yang benar dan yang tidak benar. Jelas bahwa ketika memilih jalan yang benar maka kita menjadi orang benar dan kesukaan kita pada taurat atau Firman Tuhan yang akan mengantar kita pada keberhasilan dan sukacita. Sedangkan jalan yang tidak benar membuat kita menjadi orang fasik dan dihentar pada kebinasaan. Setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi. Bacaan hari ini menuntut kita untuk memilih, ingin menjadi orang benar atau orang fasik? Kita telah mengetahui hasilnya pada tiap pilihan dan oleh karenanya bawalah diri kita menjadi orang-orang yang benar agar sukacita dan keberhasilan menjadi bagian dalam kehidupan kita. Orang tua sedari dini  akan mengajarkan anak-anak untuk menjadi orang benar, dimulai dari hidup Takut Tuhan, rajin berdoa, rajin beribadah, patuh kepada orang tua, jujur, mengasihi sesama, dll. Percayalah bahwa hal-hal sederhana itu akan membuahkan hasil yang luar biasa, ketika anak-anak bertumbuh dewasa mereka akan sangat peka dengan keadaan sekitar dan mengusahakan untuk hidup sebagai orang yang benar. Semoga bulan keluarga GPM tahun ini menuntun kita untuk menjadi keluarga-keluarga Kristen yang berjalan di jalan yang benar.

Doa: Ya Tuhan, kiranya kami dapat terus di jalan-jalan orang benar  Amin. 

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 17 – 23 Agustus 2025

Tema Bulanan : Gereja yang Berbuah : Mengisi Kemerdekaan

Tema Mingguan : Merdeka untuk Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Minggu, 17 Agustus 2025

bahan bacaan : 1 Raja-Raja 12 : 1 – 24

Pecahnya kerajaan itu
Kemudian Rehabeam pergi ke Sikhem, sebab seluruh Israel telah datang ke Sikhem untuk menobatkan dia menjadi raja. 2 Segera sesudah hal itu kedengaran kepada Yerobeam bin Nebat--pada waktu itu dia masih ada di Mesir, sebab ia melarikan diri ke sana dari hadapan raja Salomo--maka kembalilah ia dari Mesir. 3 Orang menyuruh memanggil dia, lalu datanglah Yerobeam dengan segenap jemaah Israel dan berkata kepada Rehabeam: 4 "Ayahmu telah memberatkan tanggungan kami, maka sekarang ringankanlah pekerjaan yang sukar yang dibebankan ayahmu dan tanggungan yang berat yang dipikulkannya kepada kami, supaya kami menjadi hambamu." 5 Tetapi ia menjawab mereka: "Pergilah sampai lusa, kemudian kembalilah kepadaku." Lalu pergilah rakyat itu. 6 Sesudah itu Rehabeam meminta nasihat dari para tua-tua yang selama hidup Salomo mendampingi Salomo, ayahnya, katanya: "Apakah nasihatmu untuk menjawab rakyat itu?" 7 Mereka berkata: "Jika hari ini engkau mau menjadi hamba rakyat, mau mengabdi kepada mereka dan menjawab mereka dengan kata-kata yang baik, maka mereka menjadi hamba-hambamu sepanjang waktu." 8 Tetapi ia mengabaikan nasihat yang diberikan para tua-tua itu, lalu ia meminta nasihat kepada orang-orang muda yang sebaya dengan dia dan yang mendampinginya, 9 katanya kepada mereka: "Apakah nasihatmu, supaya kita dapat menjawab rakyat yang mengatakan kepadaku: Ringankanlah tanggungan yang dipikulkan kepada kami oleh ayahmu?" 10 Lalu orang-orang muda yang sebaya dengan dia itu berkata: "Beginilah harus kaukatakan kepada rakyat yang telah berkata kepadamu: Ayahmu telah memberatkan tanggungan kami, tetapi engkau ini, berilah keringanan kepada kami--beginilah harus kaukatakan kepada mereka: Kelingkingku lebih besar dari pada pinggang ayahku! 11 Maka sekarang, ayahku telah membebankan kepada kamu tanggungan yang berat, tetapi aku akan menambah tanggungan kamu; ayahku telah menghajar kamu dengan cambuk, tetapi aku akan menghajar kamu dengan cambuk yang berduri besi." 12 Pada hari lusanya datanglah Yerobeam dengan segenap rakyat kepada Rehabeam, seperti yang dikatakan raja: "Kembalilah kepadaku pada hari lusa." 13 Raja menjawab rakyat itu dengan keras; ia telah mengabaikan nasihat yang diberikan para tua-tua kepadanya; 14 ia mengatakan kepada mereka menurut nasihat orang-orang muda: "Ayahku telah memberatkan tanggungan kamu, tetapi aku akan menambah tanggunganmu itu; ayahku telah menghajar kamu dengan cambuk, tetapi aku akan menghajar kamu dengan cambuk yang berduri besi." 15 Jadi raja tidak mendengarkan permintaan rakyat, sebab hal itu merupakan perubahan yang disebabkan TUHAN, supaya TUHAN menepati firman yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Ahia, orang Silo, kepada Yerobeam bin Nebat. 16 Setelah seluruh Israel melihat, bahwa raja tidak mendengarkan permintaan mereka, maka rakyat menjawab raja: "Bagian apakah kita dapat dari pada Daud? Kita tidak memperoleh warisan dari anak Isai itu! Ke kemahmu, hai orang Israel! Uruslah sekarang rumahmu sendiri, hai Daud!" Maka pergilah orang Israel ke kemahnya, 17 sehingga Rehabeam menjadi raja hanya atas orang Israel yang diam di kota-kota Yehuda. 18 Kemudian raja Rehabeam mengutus Adoram yang menjadi kepala rodi, tetapi seluruh Israel melontari dia dengan batu, sehingga mati, bahkan raja Rehabeam hampir-hampir tidak dapat menaiki keretanya untuk melarikan diri ke Yerusalem. 19 Demikianlah mulanya orang Israel memberontak terhadap keluarga Daud sampai hari ini. 20 Segera sesudah seluruh Israel mendengar, bahwa Yerobeam sudah pulang, maka mereka menyuruh memanggil dia ke pertemuan jemaah, lalu mereka menobatkan dia menjadi raja atas seluruh Israel. Tidak ada lagi yang mengikuti keluarga Daud selain dari suku Yehuda saja. 21 Ketika Rehabeam datang ke Yerusalem, ia mengumpulkan segenap kaum Yehuda dan suku Benyamin, seratus delapan puluh ribu teruna yang sanggup berperang untuk memerangi kaum Israel dengan maksud mengembalikan kerajaan itu kepada Rehabeam, anak Salomo. 22 Tetapi datanglah firman Allah kepada Semaya, abdi Allah, demikian: 23 "Katakanlah kepada Rehabeam, anak Salomo, raja Yehuda, dan kepada segenap kaum Yehuda dan Benyamin dan kepada selebihnya dari bangsa itu: 24 Beginilah firman TUHAN: Janganlah kamu maju dan janganlah kamu berperang melawan saudara-saudaramu, orang Israel. Pulanglah masing-masing ke rumahnya, sebab Akulah yang menyebabkan hal ini terjadi." Maka mereka mendengarkan firman TUHAN dan pergilah mereka pulang sesuai dengan firman TUHAN itu.

Memperkokoh Persatuan Dan Kesatuan Bangsa

Hari ini seluruh masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, mensyukuri dan merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 80. Tema HUT kemerdekaan RI tahun ini “Merdeka untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa”. Persatuan dan kesatuan bangsa merupakan hal yang penting untuk diwujudkan, dimana semua anak bangsa tidak diperlakukan dengan tidak adil, namun semua mendapatkan hak hidup dengan damai demi kemakmuran dan kesejahteraan bersama. Hal ini masih menjadi pergumulan bagi pemerintah untuk mewujudkannya sebab maraknya KKN menjadi tantangan besar untuk menuju cita-cita bangsa dan negara Indonesia mencapai masyarakat adil dan makmur. Kesaksian firman Tuhan menceritakan sikap raja Rehabeam yang tidak mendengar nasehat dari para tua-tua untuk meringankan beban rakyat tetapi ia mengikuti nasehat para pemuda untuk memberatkan tanggungan rakyat yang pada akhirnya keutuhan sebagai bangsa terpecah menjadi dua kerajaan Israel utara dan selatan. Pentingnya hikmat Tuhan bagi para pemimpin di masyarakat, gereja maupun keluarga untuk mendengar pendapat yang baik dari semua pihak agar dapat mewujudkan hal baik bagi semua orang.

Doa: Ya Tuhan, karuniakanlah hikmat bagi pemimpin kami agar mereka dapat melakukan tugas dengan baik. Amin. 

Senin, 18 Agustus 2025

bahan bacaan : 2 Tawarikh 11 : 5 – 12

Raja Rehabeam -- Pengokohan kerajaan; keluarga raja
5 Rehabeam diam di Yerusalem dan memperkuat kota-kota kubu di Yehuda. 6 Ia memperkuat Betlehem, Etam, Tekoa, 7 Bet-Zur, Sokho, Adulam, 8 Gat, Mares, Zif, 9 Adoraim, Lakhis, Azeka, 10 Zora, Ayalon dan Hebron, yang terletak di Yehuda dan di Benyamin, sebagai kota-kota berkubu. 11 Ia memperkokoh kota-kota kubu itu dan menempatkan di situ kepala-kepala pasukan dengan persediaan makanan, minyak dan anggur; 12 perisai dan tombakpun disediakan di tiap-tiap kota. Ia membuat kota-kota itu amat kokoh. Demikianlah Yehuda dan Benyamin menjadi daerah kekuasaannya.

Pemimpin yang Bijak Membawa Kemakmuran bagi Masyarakat

Pemimpin bangsa yang bijak adalah pemimpin yang mengedepankan kekuatan pada daerah dan kota-kota agar tidak mudah diserang oleh musuh. Membangun kekuatan tersebut meliputi semua hal, baik secara ekonomi maupun peralatan persenjataan untuk keamanan bangsa dan negara. Hal ini dilakukan oleh raja Rehabeam yang tinggal di Yerusalem sebagai pusat pemerintahannya sambil memperkuat kota-kota di Yehuda dengan mendistribusikan bahan-bahan makanan serta perlengkapan persenjataan. Dengan kebijakan ini memberikan rasa aman dan tentram bagi masyarakat serta membangkitkan semangat mereka untuk saling tolong-menolong dan membantu dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing. Hal inipun menjadi teladan bagi semua pemimpin di berbagai aras dalam negara tercinta Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat demi memenuhi kebutuhan hidup serta dalam bidang keamanan melalui militer yang kuat dan bertanggungjawab terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat. Semuanya itu dapat dilakukan dengan baik ketika memohon campur tangan Tuhan sehingga pemimpin dengan bijak dapat melaksanakan hal tersebut juga dengan baik.

Doa: Ya Tuhan berkati pemimpin kami untuk wujudkan cita-cita bangsa dan negara yang adil dan Makmur. Amin  

Selasa, 19 Agustus 2025

bahan bacaan : 2 Tawarikh 11 : 13 – 23  

13 Para imam dan orang Lewi di seluruh Israel datang menggabungkan diri dengan dia dari daerah-daerah kediaman mereka. 14 Sebab orang Lewi meninggalkan tanah penggembalaan dan milik mereka, lalu pergi ke Yehuda dan Yerusalem, oleh karena Yerobeam dan anak-anaknya melarang mereka memegang jabatan imam TUHAN, 15 dan mengangkat bagi dirinya imam-imam untuk bukit-bukit pengorbanan untuk jin-jin dan untuk anak-anak lembu jantan yang dibuatnya. 16 Dari segenap suku Israel orang datang ke Yerusalem mengikuti orang-orang Lewi itu, yakni orang yang telah membulatkan hatinya untuk mencari TUHAN Allah Israel; dan mereka datang untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka. 17 Demikianlah mereka memperkokoh kerajaan Yehuda dan memperkuat pemerintahan Rehabeam bin Salomo selama tiga tahun, karena selama tiga tahun mereka hidup mengikuti jejak Daud dan Salomo. 18 Rehabeam mengambil Mahalat, anak Yerimot bin Daud dan Abihail binti Elhiab bin Isai, menjadi isterinya, 19 yang melahirkan baginya anak-anak lelaki ini: Yeush, Semarya dan Zaham. 20 Sesudah Mahalat ia mengambil Maakha, anak Absalom, menjadi isterinya, yang melahirkan baginya Abia, Atai, Ziza dan Selomit. 21 Rehabeam mencintai Maakha, anak Absalom itu, lebih dari pada semua isteri dan gundiknya--ia mengambil delapan belas isteri dan enam puluh gundik dan memperanakkan dua puluh delapan anak laki-laki dan enam puluh anak perempuan. 22 Rehabeam mengangkat Abia, anak Maakha, sebagai pemuka, yakni sebagai pemimpin di antara saudara-saudaranya, karena ia bermaksud menjadikan dia raja. 23 Oleh sebab itu ia mengambil kebijaksanaan untuk menyebarkan semua anaknya yang lain ke seluruh daerah Yehuda dan Benyamin, ke segala kota kubu. Ia memberikan mereka makanan dengan limpahnya dan menyediakan bagi mereka banyak isteri.

Persatuan Bangsa Demi Kesejahteraan Bersama

Tema pelayanan minggu ini “ Merdeka untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa ”. Tema ini tergambar dalam pelayanan kepemimpinan raja Rehabeam putra Salomo yang melanjutkan kepemimpinan ayahnya di kerajaan Israel selatan. Raja Rehabeam menerima para imam dan orang Lewi yang datang dari Israel utara, saat raja Yerobeam tidak lagi memakai mereka dalam tugas pelayanan dan menggantikan dengan imam-imam untuk dewa pemujaan yang lain. Para imam dan orang Lewi bersyukur sebab bisa kembali ke Yerusalem serta membulatkan hati mereka untuk mencari  Tuhan melalui seluruh tugas dan tanggung jawab pelayanan mereka. Bergabungnya para imam dan orang Lewi dengan raja Rehabeam, maka lebih memperkuat dan memperkokoh kerajaan Yehuda. Raja Rehabeam tidak hanya fokus pada seluruh kehidupan rakyat yang ia pimpin dan layani, namun ia juga memperhatikan kehidupan keluarganya. Dengan bijak raja Rehabeam menyebarkan anak-anaknya ke seluruh daerah kekuasaannya serta menyediakan segala kebutuhan hidup mereka. Sebuah teladan kepemimpinan yang baik dengan selalu bergantung dan memohon tuntunan Tuhan yang berdampak bagi keutuhan persatuan serta kemakmuran bagi semua orang.

Doa: Tuhan, tuntun kami sebagai pemimpin untuk mewujudkan kesejahteraan bagi semua orang. Amin. 

Rabu, 20 Agustus 2025

bahan bacaan : 2 Tawarikh 8 : 1 – 9

Beberapa usaha raja Salomo
Setelah lewat dua puluh tahun selesailah Salomo mendirikan rumah TUHAN dan istananya sendiri. 2 Maka Salomo memperkuat kota-kota yang diberikan Huram kepadanya, dan menyuruh orang Israel menetap di sana. 3 Lalu Salomo pergi ke Hamat-Zoba dan menaklukkannya. 4 Kemudian ia memperkuat Tadmor di padang gurun dan semua kota perbekalan yang didirikannya di Hamat. 5 Ia memperkuat juga Bet-Horon Hulu dan Bet-Horon Hilir menjadi kota kubu yang bertembok, berpintu gerbang dan berpalang, 6 dan juga Baalat, dan segala kota perbekalan kepunyaan Salomo, segala kota tempat kereta, kota-kota tempat orang berkuda dan apa saja yang Salomo ingin mendirikannya di Yerusalem, atau di gunung Libanon, atau di segenap negeri kekuasaannya. 7 Semua orang yang masih tinggal dari orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, yang tidak termasuk orang Israel, 8 yakni keturunan bangsa-bangsa yang masih tinggal di negeri itu dan yang tidak dibinasakan oleh orang Israel, merekalah yang dikerahkan Salomo untuk menjadi orang rodi; demikianlah mereka sampai hari ini. 9 Tetapi orang Israel tidak ada yang dijadikan budak oleh Salomo untuk pekerjaannya, melainkan mereka menjadi prajurit, atau perwira pasukan berkuda, atau panglima atas pasukan kereta dan pasukan berkuda.

Perkuat Keamanan Dan Ketahanan Pangan

Raja Salomo merupakan seorang raja yang dikarunia Tuhan hikmat dan kebijaksanaan yang luar biasa dalam tugas dan tanggungjawabnya sebagai pemimpin bagi seluruh bangsa Israel. Setelah selesai membangun bait suci yang besar dan megah di kota Yerusalem serta istananya, Salomo melanjutkan dengan memperkuat keamanan bagi kota-kota yang menjadi pertahanannya. Disamping itu juga Salomo membangun kota perbekalan sebagai ketahanan pangan bagi kebutuhan seluruh bangsa dan masyarakat Israel yang sangat banyak. Hal ini menunjukkan kemampuan Salomo dalam mewujudkan tanggung jawabnya sebagai pemimpin yang baik dan bijaksana. Keamanan bangsanya serta ketahanan pangan menjadi hal yang menentukan untuk mewujudkan kesejahteraan banyak orang. Kepemimpinan raja Salomo inipun menjadi teladan bagi kita semua dalam tugas dan tanggung jawab sebagai pemimpin masa kini baik dalam masyarakat, gereja dan keluarga. Semua orang akan merasa tentram dan damai saat jaminan akan keamanan dan terpenuhinya kebutuhan hidup menjadi hal yang penting untuk diwujudkan. Kepentingan bersama lebih diutamakan dari kepentingan pribadi tentu dilakukan oleh pemimpin yang selalu mengandalkan hikmat Tuhan.

Doa: Tuntun kami Tuhan sebagai pemimpin yang membangun kesatuan demi kesejahteraan bersama. Amin

Kamis, 21 Agustus 2025

bahan bacaan : 2 Tawarikh 17 : 1 – 6

Raja Yosafat -- Pengokohan kerajaan
Maka Yosafat, anaknya, menjadi raja menggantikan dia. Sebagai pemimpin Israel ia memperkuat dirinya 2 dengan menempatkan tentara di semua kota yang berkubu di Yehuda dan pasukan-pasukan pendudukan di tanah Yehuda serta di kota-kota Efraim yang direbut oleh Asa, ayahnya. 3 Dan TUHAN menyertai Yosafat, karena ia hidup mengikuti jejak yang dahulu dari Daud, bapa leluhurnya, dan tidak mencari Baal-baal, 4 melainkan mencari Allah ayahnya. Ia hidup menurut perintah-perintah-Nya dan tidak berbuat seperti Israel. 5 Oleh sebab itu TUHAN mengokohkan kerajaan yang ada di bawah kekuasaannya. Seluruh Yehuda memberikan persembahan kepada Yosafat, sehingga ia menjadi kaya dan sangat terhormat. 6 Dengan tabah hati ia hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN. Pula ia menjauhkan dari Yehuda segala bukit pengorbanan dan tiang berhala.

Jalani Kemerdekaan Bersama Tuhan

Kemerdekaan dan kebebasan merupakan dua hal yang didambakan oleh setiap manusia. Dalam kekristenan, kedua hal tersebut didapat secara cuma-cuma, yaitu ketika Tuhan Yesus mengorbankan dirinya mati di Salib demi mengalahkan kuasa dosa yang membelenggu manusia. Melalui pengorbanan Yesus itulah, manusia berdosa diselamatkan, yang serentak dengan itu dimerdekakan dan dibebaskan dari kuasa dosa. Kini manusia sudah mengalami kemerdekaan dan kebebasan, namun tindak lanjut dari kemerdekaan dan kebebasan tersebut adalah hidup dengan selalu mencari Tuhan, melakukan perintah-perintah Tuhan, hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, dan menjauhkan diri dari segala berhala dunia. Itulah yang dilakukan oleh Yosafat ketika dilantik menjadi raja Yehuda, menata kekuatan militer, serta yang terpenting membekali hidupnya dengan mengandalkan Tuhan, dan ini terbaca dalam bacaan hari ini. Bagi Yosafat apapun yang dilakukan olehnya jika tanpa mengandalkan Tuhan semuanya sia-sia. Kemerdekaan dan kebebasan tidak berarti hidup di luar Tuhan, melainkan semakin hidup di dalam Tuhan. Pesan firman Tuhan ini penting untuk dilaksanakan agar kemerdekaan yang adalah anugerah-Nya dapat kita isi dengan baik dan bertanggungjawab. 

Doa: Mampukanlah kami untuk hidup bersama Tuhan dalam mengisi kemerdekaan.  Amin. 

Jumat, 22 Agustus 2025

bahan bacaan : Amsal 29 : 12 – 14

12 Kalau pemerintah memperhatikan kebohongan, semua pegawainya menjadi fasik. 13 Si miskin dan si penindas bertemu, dan TUHAN membuat mata kedua orang itu bersinar. 14 Raja yang menghakimi orang lemah dengan adil, takhtanya tetap kokoh untuk selama-lamanya. 15 Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.

Laksanakan kejujuran dan Keadilan Di Sepanjang Hidup

Ada dua hal yang harus dimiliki oleh setiap manusia, tanpa terkecuali. Kedua hal tersebut adalah: kejujuran  dan sikap adil. Kejujuran sama artinya kita tidak berkata dusta atau berbohong dan bersikap adil sama artinya kita tidak berat sebelah, tidak memihak dan berpihak kepada yang benar. Teks bacaan hari ini menegaskan kedua hal tersebut, yang menurut Salomo sebagai penulis kitab Amsal, semuanya penting untuk dimiliki oleh manusia, apalagi  jika ia menjadi penguasa atau pemimpin dalam masyarakat pada suatu lembaga kecil maupun besar. Kalau pemimpinnya penuh kebohongan, bawahannya menjadi liar atau hidup seperti orang fasik yang selalu melakukan kejahatan. Jika pemimpinnya membuat bawahannya miskin atau terjadi penindasan maka Tuhan akan berpihak pada mereka yang dimiskinkan dan ditindas. Apabila dalam memimpin, pemimpinnya bertindak adil kepada orang lemah maka kepemimpinannya akan kokoh dan diberkati oleh Tuhan. Nasehat Salomo ini penting bagi kita selaku pemimpin dalam lembaga terkecil yakni keluarga, atau dalam kepemimpinan di lembaga yang besar. Karena itu, pegang dan laksanakan kejujuran dan keadilan di sepanjang hidup, supaya pekerjaan kita berkenan menjadi berkat bagi banyak orang.

Doa: Lengkapilah kami dengan RohMu Tuhan untuk hidup jujur dan adil. Amin. 

Sabtu, 23 Agustus 2025

bahan bacaan : Amsal 11 : 14

14 Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada.

Nasihat untuk Keutuhan Hidup 

Salah satu peran penting seorang pemimpin adalah memimpin anggotanya untuk mengalami hidup lebih baik ke depan. Untuk itu perkataan dan perbuatan pemimpin harus mencerminkan kata-kata dan perilaku yang dapat membangun semangat dan kerja anggotanya agar semakin baik dari waktu ke waktu. Dalam hal ini perkataan dan perbuatannya haruslah berisikan kebenaran, yakni berkata dan berbuat segala hal yang benar dalam kepemimpinannya. Agar setiap perkataan dan tindakannya selalu benar maka pemimpin mesti juga membuka diri untuk mendengar masukan atau nasihat dari siapa pun. Nasihat itu penting, sebab dalam nasihat kita, selaku pemimpin mendapat masukan dan saran untuk berkata dan berbuat yang baik dan benar. Karena itu, Salomo melalui teks bacaan hari ini mengingatkan semua pemimpin, termasuk pemimpin keluarga untuk jangan menutup telinga dari setiap nasihat yang disampaikan agar keutuhan, kemajuan, dan keselamatan selalu ada dalam hidup kita ke depan.  

Doa: Biarlah RohMu memampukan kami untuk berkata yang baik dan benar dalam hidup. Amin. 

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 10 – 16 Agustus 2025

Tema Bulanan : Gereja yang Berbuah : Mengisi Kemerdekaan

Tema Mingguan : Merdeka untuk Mengusahakan Kesejahteraan Bersama

Minggu, 10 Agustus 2025

bahan bacaan : Amsal 6 : 6 – 11

6 Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: 7 biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, 8 ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. 9 Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? 10 "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring" -- 11 maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Kebebasan untuk Kesejahteraan Bersama

Penulis Amsal menasihati orang malas agar belajar dari semut; makhluk kecil yang rajin, terorganisir, dan bekerja tanpa diawasi. Ia memperingatkan bahwa kemalasan akan membawa kemiskinan seperti perampok yang datang tiba-tiba. Alkitab memang memberi makna tentang hal menghargai kerja sebagai cara untuk mencerminkan karakter Allah Sang Pencipta. Seperti semut yang bekerja tanpa paksaan, manusia dipanggil untuk bekerja bukan karena takut hukuman, tetapi karena memahami tujuan hidupnya. Kemalasan bukan sekadar kebiasaan buruk, tapi bisa menjadi dosa sosial bila membuat seseorang menjadi beban atau tidak peduli pada kesejahteraan bersama. Amsal memberi seruan agar setiap orang aktif berkontribusi untuk kesejahteraan hidup bersama. Kesejahteraan bukanlah mimpi dan tidak bisa tidak datang secara instan. Ada proses, ketekunan, dan pengaturan hidup yang harus diusahakan untuk memperolehnya. Dalam konteks ini, kemerdekaan haruslah dimengerti sebagai kebebasan untuk bertindak secara bijak dan bertanggung jawab demi kebaikan diri dan orang lain. Jadi berusahalah dan bekerjalah sebagai wujud syukur kepada Allah yang memberi kehidupan! Bangun budaya kerja keras, saling dukung, dan gotong royong sebagai jalan menuju kesejahteraan bersama.

Doa: Tuhan, ajarkanlah kami untuk mulai mengkritik diri dan memperbaiki hidup kami. Amin 

Senin, 11 Agustus 2025

bahan bacaan : Nehemia 2 : 1 – 10

Nehemia diutus ke Yerusalem
Pada bulan Nisan tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta, ketika menjadi tugasku untuk menyediakan anggur, aku mengangkat anggur dan menyampaikannya kepada raja. Karena aku kelihatan sedih, yang memang belum pernah terjadi di hadapan raja, 2 bertanyalah ia kepadaku: "Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati." Lalu aku menjadi sangat takut. 3 Jawabku kepada raja: "Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?" 4 Lalu kata raja kepadaku: "Jadi, apa yang kauinginkan?" Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit, 5 kemudian jawabku kepada raja: "Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali." 6 Lalu bertanyalah raja kepadaku, sedang permaisuri duduk di sampingnya: "Berapa lama engkau dalam perjalanan, dan bilakah engkau kembali?" Dan raja berkenan mengutus aku, sesudah aku menyebut suatu jangka waktu kepadanya. 7 Berkatalah aku kepada raja: "Jika raja menganggap baik, berikanlah aku surat-surat bagi bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat, supaya mereka memperbolehkan aku lalu sampai aku tiba di Yehuda. 8 Pula sepucuk surat bagi Asaf, pengawas taman raja, supaya dia memberikan aku kayu untuk memasang balok-balok pada pintu-pintu gerbang di benteng bait suci, untuk tembok kota dan untuk rumah yang akan kudiami." Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku. 9 Maka datanglah aku kepada bupati-bupati di daerah seberang sungai Efrat dan menyerahkan kepada mereka surat-surat raja. Dan raja menyuruh panglima-panglima perang dan orang-orang berkuda menyertai aku. 10 Ketika Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, pelayan itu, mendengar hal itu, mereka sangat kesal karena ada orang yang datang mengusahakan kesejahteraan orang Israel.

Cinta Tanah Air Melalui Sikap Peduli dan Tindakan Nyata

Saudaraku, enam hari lagi kita akan merayakan HUT ke-80 Kemerdekaan RI. Momen bersejarah ini harus kita maknai dengan sikap cinta Tanah Air melalui tindakan nyata. Cinta bangsa dan tanah air juga ditunjukkan oleh Nehemia, seorang  Yahudi yang dipercaya raja Arthasasta dari Persia sebagai pejabat tinggi, namun tidak melupakan penderitaan bangsanya. Ia menunjukkan cintanya kepada bangsa Israel dan tanah airnya, Yerusalem dengan membangun kembali tembok yang runtuh. Nehemia memberi teladan kepada kita tentang cinta bangsa dan Tanah Air melalui cara hidup yang bertanggung jawab dan peduli terhadap persoalan bangsanya. Hal ini dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti mendoakan para pemimpin bangsa, belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, disiplin dan bertanggungjawab, melayani rakyat dengan baik, bebas dari korupsi, menjaga toleransi, meningkatkan kesatuan dan persatuan, menggunakan media sosial secara bijak, dan sebagainya.

Doa:  Roh Kudus tuntun kami untuk cinta tanah air dengan cara peduli dan bertanggung jawab bagi bangsa.  Amin 

Selasa, 12 Agustus 2025

bahan bacaan : Rut 2 : 1 – 12

Rut bertemu dengan Boas
Naomi itu mempunyai seorang sanak dari pihak suaminya, seorang yang kaya raya dari kaum Elimelekh, namanya Boas. 2 Maka Rut, perempuan Moab itu, berkata kepada Naomi: "Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku." Dan sahut Naomi kepadanya: "Pergilah, anakku." 3 Pergilah ia, lalu sampai di ladang dan memungut jelai di belakang penyabit-penyabit; kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh. 4 Lalu datanglah Boas dari Betlehem. Ia berkata kepada penyabit-penyabit itu: "TUHAN kiranya menyertai kamu." Jawab mereka kepadanya: "TUHAN kiranya memberkati tuan!" 5 Lalu kata Boas kepada bujangnya yang mengawasi penyabit-penyabit itu: "Dari manakah perempuan ini?" 6 Bujang yang mengawasi penyabit-penyabit itu menjawab: "Dia adalah seorang perempuan Moab, dia pulang bersama-sama dengan Naomi dari daerah Moab. 7 Tadi ia berkata: Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit. Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketikapun ia tidak berhenti." 8 Sesudah itu berkatalah Boas kepada Rut: "Dengarlah dahulu, anakku! Tidak usah engkau pergi memungut jelai ke ladang lain dan tidak usah juga engkau pergi dari sini, tetapi tetaplah dekat pengerja-pengerja perempuan. 9 Lihat saja ke ladang yang sedang disabit orang itu. Ikutilah perempuan-perempuan itu dari belakang. Sebab aku telah memesankan kepada pengerja-pengerja lelaki jangan mengganggu engkau. Jika engkau haus, pergilah ke tempayan-tempayan dan minumlah air yang dicedok oleh pengerja-pengerja itu." 10 Lalu sujudlah Rut menyembah dengan mukanya sampai ke tanah dan berkata kepadanya: "Mengapakah aku mendapat belas kasihan dari padamu, sehingga tuan memperhatikan aku, padahal aku ini seorang asing?" 11 Boas menjawab: "Telah dikabarkan orang kepadaku dengan lengkap segala sesuatu yang engkau lakukan kepada mertuamu sesudah suamimu mati, dan bagaimana engkau meninggalkan ibu bapamu dan tanah kelahiranmu serta pergi kepada suatu bangsa yang dahulu tidak engkau kenal. 12 TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung."

Kemerdekaan Adalah Kesetaraan Antara Kaya dan Miskin

 Kemerdekaan bukan hanya soal terbebas dari penjajahan, tetapi yang terpenting adalah tentang keseimbangan hidup antara yang kaya dan yang miskin. Artinya, dalam masyarakat yang merdeka, orang kaya terpanggil untuk membuka akses dan kesempatan bagi orang miskin agar mereka dapat berjuang dan memperoleh kesejahteraan yang merata. Boas adalah orang kaya yang berkuasa, tetapi tidak menyelahgunakan posisinya, sebaliknya ia memberi ruang, melindungi dan memberkati Rut- seorang perempuan  asing dan miskin. Sementara itu, Rut menunjukkan dirinya sebagai perempuan yang terhormat; ia tidak bersikap meminta-minta, melainkan mau bekerja keras. Firman Tuhan ini memberi pesan berharga bagi kita. Mengisi kemerdekaan berarti menggunakan kekayaan, jabatan dan kuasa sebagai anugerah Tuhan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Kemerdekaan bukan digunakan sebagai alat untuk menindas atau mempersulit orang lain apalagi orang miskin, melainkan untuk memberi mereka kesempatan untuk menikmati kehidupan yang lebih baik, sebagaimana yang juga kita miliki.

Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk memperlakukan sesama dengan setara, Amin.

Rabu, 13 Agustus 2025

bahan bacaan : Rut  2 : 13 – 23

13 Kemudian berkatalah Rut: "Memang aku mendapat belas kasihan dari padamu, ya tuanku, sebab tuan telah menghiburkan aku dan telah menenangkan hati hambamu ini, walaupun aku tidak sama seperti salah seorang hamba-hambamu perempuan." 14 Ketika sudah waktu makan, berkatalah Boas kepadanya: "Datanglah ke mari, makanlah roti ini dan celupkanlah suapmu ke dalam cuka ini." Lalu duduklah ia di sisi penyabit-penyabit itu, dan Boas mengunjukkan bertih gandum kepadanya; makanlah Rut sampai kenyang, bahkan ada sisanya. 15 Setelah ia bangun untuk memungut pula, maka Boas memerintahkan kepada pengerja-pengerjanya: "Dari antara berkas-berkas itupun ia boleh memungut, janganlah ia diganggu; 16 bahkan haruslah kamu dengan sengaja menarik sedikit-sedikit dari onggokan jelai itu untuk dia dan meninggalkannya, supaya dipungutnya; janganlah berlaku kasar terhadap dia." 17 Maka ia memungut di ladang sampai petang; lalu ia mengirik yang dipungutnya itu, dan ada kira-kira seefa jelai banyaknya. 18 Diangkatnyalah itu, lalu masuklah ia ke kota. Ketika mertuanya melihat apa yang dipungutnya itu, dan ketika dikeluarkannya dan diberikannya kepada mertuanya sisa yang ada setelah kenyang itu, 19 maka berkatalah mertuanya kepadanya: "Di mana engkau memungut dan di mana engkau bekerja hari ini? Diberkatilah kiranya orang yang telah memperhatikan engkau itu!" Lalu diceritakannyalah kepada mertuanya itu pada siapa ia bekerja, katanya: "Nama orang pada siapa aku bekerja hari ini ialah Boas." 20 Sesudah itu berkatalah Naomi kepada menantunya: "Diberkatilah kiranya orang itu oleh TUHAN yang rela mengaruniakan kasih setia-Nya kepada orang-orang yang hidup dan yang mati." Lagi kata Naomi kepadanya: "Orang itu kaum kerabat kita, dialah salah seorang yang wajib menebus kita." 21 Lalu kata Rut, perempuan Moab itu: "Lagipula ia berkata kepadaku: Tetaplah dekat pengerja-pengerjaku sampai mereka menyelesaikan seluruh penyabitan ladangku." 22 Lalu berkatalah Naomi kepada Rut, menantunya itu: "Ya anakku, sebaiknya engkau keluar bersama-sama dengan pengerja-pengerjanya perempuan, supaya engkau jangan disusahi orang di ladang lain." 23 Demikianlah Rut tetap dekat pada pengerja-pengerja perempuan Boas untuk memungut, sampai musim menuai jelai dan musim menuai gandum telah berakhir. Dan selama itu ia tinggal pada mertuanya.

Menjadi Pribadi Yang Murah Hati

Hidup dan pelayanan Bunda Teresa dari kota Kalkuta India, bagaikan “Pelita cinta di tengah kemiskinan”. Setiap kakinya melangkah, hatinya selalu tergerak untuk melayani orang miskin: memberi makan yang lapar, merawat yang sakit, dan memeluk mereka yang tersisih dengan senyum dan kelembutan. Karena baginya, “Setiap orang adalah Yesus dalam rupa yang menyamar” artinya, Yesus bisa hadir lewat siapa saja, termasuk orang miskin. Palayanan kepada orang miskin dengan hati juga diteladankan oleh tokoh Boas dalam nas bacaan tadi. Boas tidak saja membiarkan Rut memungut jelai, tetapi juga mengundangnya makan bersama dan memberikan perlindungan serta rasa aman (ay.14-17). Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dengan kepentingan masing-masing, ketika banyak orang lupa untuk peduli dan melayani sesama, marilah kita bersedia menjadi pribadi yang murah hati seperti: Bunda Teresa, Boas dan Rut. Semoga!.

Doa: Roh Kudus tuntunlah kami menjadi pribadi yang peduli dan melayani sesama, Amin 

Kamis, 14 Agustus 2025

bahan bacaan : Nehemia 5 : 14 – 19

Sikap Nehemia yang tidak mencari keuntungan
14 Pula sejak aku diangkat sebagai bupati di tanah Yehuda, yakni dari tahun kedua puluh sampai tahun ketiga puluh dua pemerintahan Artahsasta jadi dua belas tahun lamanya, aku dan saudara-saudaraku tidak pernah mengambil pembagian yang menjadi hak bupati. 15 Tetapi para bupati yang sebelumnya, yang mendahului aku, sangat memberatkan beban rakyat. Bupati-bupati itu mengambil dari mereka empat puluh syikal perak sehari untuk bahan makanan dan anggur. Bahkan anak buah mereka merajalela atas rakyat. Tetapi aku tidak berbuat demikian karena takut akan Allah. 16 Akupun memulai pekerjaan tembok itu, walaupun aku tidak memperoleh ladang. Dan semua anak buahku dikumpulkan di sana khusus untuk pekerjaan itu. 17 Duduk pada mejaku orang-orang Yahudi dan para penguasa, seratus lima puluh orang, selain mereka yang datang kepada kami dari bangsa-bangsa sekeliling kami. 18 Yang disediakan sehari atas tanggunganku ialah: seekor lembu, enam ekor kambing domba yang terpilih dan beberapa ekor unggas, dan bermacam-macam anggur dengan berlimpah-limpah setiap sepuluh hari. Namun, dengan semuanya itu, aku tidak menuntut pembagian yang menjadi hak bupati, karena pekerjaan itu sangat menekan rakyat. 19 Ya Allahku, demi kesejahteraanku, ingatlah segala yang kubuat untuk bangsa ini.


Kepemimpinan Yang Takut Tuhan

Menjelang perayaan delapan dekade kemerdekaan bangsa ini, pada tanggal 17 Agustus mendatang, ada realitas getir yang tidak bisa disembunyikan bahwa masih banyak pejabat publik (menteri, gubernur, bupati, walikota dll) yang menjadikan  jabatan sebagai alat untuk memperkaya diri, bukan untuk melayani rakyat. Jabatan yang seharusnya menjadi mandat dari rakyat dan anugerah dari Tuhan bagi seseorang, justru dijadikan ladang untuk praktek korupsi, proyek fiktif, penyalahgunaan anggaran, hingga jual beli jabatan. Hal berbeda diperlihatkan Nehemia; sebagai bupati, ia memiliki hak untuk mencari dan memperoleh keuntungan pribadi dari pajak rakyat, namun ia memilih untuk tidak mengambilnya (ay.14-15). Ia tidak menyalahgunakan kekuasaannya. Firman Tuhan ini mengingatkan kita sebagai para pemimpin yang bertanggungjawab mengusahakan kesejahteraan masyarakat, agar menunjukkan teladan kepemimpinan yang adil dan jujur. Tidak menyalahgunakan jabatan untuk memperkaya diri sendiri atau keluarga, tetapi untuk melayani rakyat demi kesejahteraan bersama. Memimpinlah dengan takut akan Tuhan!

Doa: Tuhan, tolonglah para pemimpin kami agar tidak menyalahgunakan jabatan bagi kepentingan pribadi, amin.

Jumat, 15 Agustus 2025

bahan bacaan : Mazmur 122 : 1 – 9

Doa sejahtera untuk Yerusalem
Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." 2 Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. 3 Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, 4 ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel. 5 Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud. 6 Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: "Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa. 7 Biarlah kesejahteraan ada di lingkungan tembokmu, dan sentosa di dalam purimu!" 8 Oleh karena saudara-saudaraku dan teman-temanku aku hendak mengucapkan: "Semoga kesejahteraan ada di dalammu!" 9 Oleh karena rumah TUHAN, Allah kita, aku hendak mencari kebaikan bagimu.

Berdoa Demi Kesejahteraan Bangsa Indonesia

Kita patut bersyukur kepada Tuhan atas pimpinan dan pertolongan-Nya sehingga bangsa Indonesia akan merayakan Hari Ulang Tahun ke-80 yang tinggal dua hari lagi.  Kemerdekaan bukan hanya berarti bebas dari penjajahan, tetapi juga merupakan panggilan bagi seluruh bangsa Indonesia untuk membangun dan mengusahakan kesejahteraan bersama. Panggilan ini  sejalan dengan ajakan Daud dalam perikop bacaan tadi. Daud mengajak  bangsa Israel untuk berdoa dan mengusahakan kesejahteraan kota Yerusalem (ay.6),  karena Yeusalem  yang adil, damai, aman dan rukun akan membawa dampak yang positif bagi kesejahteraan bersama. Maka, sebagai bangsa yang mencintai bangsa dan tanah air Indonesia, marilah kita berdoa bagi para pemimpin dan seluruh rakyat, serta bersama-sama mengusahakan kebaikan agar kita dapat hidup dalam damai dan sejahtera. Jagalah keharmonisan keluarga, pupuklah kebersamaan dalam jemaat dan jauhkan perpecahan. Hindarkanlah sikap hidup yang anti harmonis. Berhentilah melakukan korupsi dan tidak menyalahgunakan jabatan dan sebagaianya. Itulah tekad baru yang harus kita lakukan dalam mengisi kemerdekaan ini.

Doa: Roh kudus tuntunlah kami untuk terus berdoa dan mengusahakan kesejahteraan bersama , amin. 

Sabtu, 16 Agustus 2025

bahan bacaan : Pengkhotbah 9 : 10

10 Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.

Menggunakan Kesempatan Untuk Bekerja Dengan Giat

Kesempatan untuk melakukan sesuatu hal yang baik melalui pekerjaan kita tidak akan kembali untuk kedua kalinya. Pergunakanlah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk bekerja dengan sebaik mungkin. Bekerja dengan sekuat tenaga, bekerja dengan sungguh-sungguh sehingga mendapatkan hasil yang baik dan memuaskan. Mengapa ? oleh penulis kitab Pengkhotbah katakan bahwa tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati. Artinya semua telah berakhir dan selesai segala aktivitas seseorang didalam kehidupannya saat kematian datang menjemputnya. Itulah sebabnya Pengkhotbah menasehati kita semua sebagai keluarga Allah untuk menggunakan waktu sebagai kesempatan dari Tuhan dengan baik. Jangan menunda waktu atau membuang waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. Orang tua bekerja keras untuk kehidupan dan masa depan keluarga. Pun juga anak-anak berlajar dengan giat dan rajin menuntut ilmu untuk masa depan yang sukses. Semuanya bekerja dan belajar  dengan giat sambil memohon tuntunan Tuhan agar apa yang dihasilkan menjadi berkat bagi keluarga dan semua orang serta kepujian nama Tuhan.

Doa:  Tuhan, tolong kami untuk menggunakan kesempatan dengan baik dalam bekerja. Amin

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 03 – 09 Agustus 2025

Tema Bulanan : Gereja yang Berbuah : Mengisi Kemerdekaan

Tema Mingguan : Merdeka untuk Bersuara

Minggu, 03 Agustus 2025

bahan bacaan : Yeremia 26 : 1 – 19

Yeremia mau dibunuh, karena menubuatkan kemusnahan Bait Suci Nabi Uria dihukum mati
Pada permulaan pemerintahan Yoyakim, anak Yosia raja Yehuda, datanglah firman ini dari TUHAN, bunyinya: 2 Beginilah firman TUHAN: "Berdirilah di pelataran rumah TUHAN dan katakanlah kepada penduduk segala kota Yehuda, yang datang untuk sujud di rumah TUHAN, segala firman yang Kuperintahkan untuk kaukatakan kepada mereka. Janganlah kaukurangi sepatah katapun! 3 Mungkin mereka mau mendengarkan dan masing-masing mau berbalik dari tingkah langkahnya yang jahat, sehingga Aku menyesal akan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka oleh karena perbuatan-perbuata mereka yang jahat. 4 Jadi katakanlah kepada mereka: Beginilah firman TUHAN: Jika kamu tidak mau mendengarkan Aku, tidak mau mengikuti Taurat-Ku yang telah Kubentangkan di hadapanmu, 5 dan tidak mau mendengarkan perkataan hamba-hamba-Ku, para nabi, yang terus-menerus Kuutus kepadamu, --tetapi kamu tidak mau mendengarkan-- 6 maka Aku akan membuat rumah ini sama seperti Silo, dan kota ini menjadi kutuk bagi segala bangsa di bumi." 7 Para imam, para nabi dan seluruh rakyat mendengar Yeremia mengucapkan perkataan-perkataan itu dalam rumah TUHAN. 8 Lalu sesudah Yeremia selesai mengatakan segala apa yang diperintahkan TUHAN untuk dikatakan kepada seluruh rakyat itu, maka para imam, para nabi dan seluruh rakyat itu menangkap dia serta berkata: "Engkau harus mati! 9 Mengapa engkau bernubuat demi nama TUHAN dengan berkata: Rumah ini akan sama seperti Silo, dan kota ini akan menjadi reruntuhan, sehingga tidak ada lagi penduduknya?" Dan seluruh rakyat berkumpul mengerumuni Yeremia di rumah TUHAN. 10 Ketika para pemuka Yehuda mendengar tentang hal ini, pergilah mereka dari istana raja ke rumah TUHAN, lalu duduk di pintu gerbang baru di rumah TUHAN. 11 Kemudian berkatalah para imam dan para nabi itu kepada para pemuka dan kepada seluruh rakyat itu, katanya: "Orang ini patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah bernubuat tentang kota ini, seperti yang kamu dengar dengan telingamu sendiri." 12 Tetapi Yeremia berkata kepada segala pemuka dan kepada seluruh rakyat itu, katanya: "Tuhanlah yang telah mengutus aku supaya bernubuat tentang rumah dan kota ini untuk menyampaikan segala perkataan yang telah kamu dengar itu. 13 Oleh sebab itu, perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu, sehingga TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas kamu. 14 Tetapi aku ini, sesungguhnya, aku ada di tanganmu, perbuatlah kepadaku apa yang baik dan benar di matamu. 15 Hanya ketahuilah sungguh-sungguh, bahwa jika kamu membunuh aku, maka kamu mendatangkan darah orang yang tak bersalah atas kamu dan atas kota ini dan penduduknya, sebab TUHAN benar-benar mengutus aku kepadamu untuk menyampaikan segala perkataan ini kepadamu." 16 Lalu berkatalah para pemuka dan seluruh rakyat itu kepada imam-imam dan nabi-nabi itu: "Orang ini tidak patut mendapat hukuman mati, sebab ia telah berbicara kepada kita demi nama TUHAN, Allah kita." 17 Memang beberapa orang dari para tua-tua negeri itu tampil juga ke depan dan berkata kepada kumpulan rakyat itu, katanya: 18 "Mikha, orang Moresyet itu, telah bernubuat di zaman Hizkia, raja Yehuda. Dia telah berkata kepada segenap bangsa Yehuda: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Sion akan dibajak seperti ladang dan Yerusalem akan menjadi timbunan puing dan gunung Bait Suci akan menjadi bukit yang berhutan. 19 Apakah Hizkia, raja Yehuda, beserta segenap Yehuda membunuh dia? Tidakkah ia takut akan TUHAN, sehingga ia memohon belas kasihan TUHAN, agar TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas mereka? Dan kita, maukah kita mendatangkan malapetaka yang begitu besar atas diri kita sendiri?"

Merdeka Untuk Bersuara

Merdeka untuk bersuara atau bersuara untuk orang lain, kelompok dan golongan lain di luar kita sendiri membutuhkan kemauan, keberanian dan jiwa yang besar. Tidak semua orang mau melakukannya sebab mengandung banyak resiko. Dalam nas bacaan hari ini, kita belajar dari tokoh Yeremia yang berani bersuara tentang keadaan bangsa Yehuda dan apa yang akan dialami yakni kehancuran Yerusalem. Karena keberaniannya bersuara ini, nyawanya terancam, ia mau dibunuh. Padahal yang disampaikannya adalah sesuatu yang benar. Kalau mereka mau bertobat dan membarui hidup, Tuhan akan menyesali dan tidak menghukum mereka dengan kehancuran. Kebenaran yang disampaikan Yeremia juga pernah disampaikan oleh Hizkia dan Tuhan menyelamatkan mereka berdua. Firman ini menjadi pelajaran berharga bagi kita, Tuhan berkenan menolong orang-orang yang tidak pernah takut menyuarakan kebenaran. Tuhan menyelamatkan orang-orang yang berpihak kepada kebenaran bahkan yang karena itu kadang terancam nyawanya. Jangan takut untuk bersuara, jika yang hendak kita katakan adalah sesuatu yang benar. Mintalah pertolongan Roh Kudus, sebab hanya kuasa Roh Kudus yang memberanikan kita menyatakan kebenaran melalui kata dan perbuatan.

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk berani menyuarakan kebenaran, dalam kata dan perbuatan, amin

Senin, 04 Agustus 2025

bahan bacaan : Yeremia 26 : 20 – 24

20 Ada juga seorang lain yang bernubuat demi nama TUHAN, yaitu Uria bin Semaya, dari Kiryat-Yearim. Dia bernubuat tentang kota dan negeri ini tepat seperti yang dikatakan Yeremia. 21 Ketika raja Yoyakim, bersama-sama dengan segenap perwiranya dan semua pemuka, mendengar perkataan orang itu, maka rajapun mencari ikhtiar untuk membunuhnya. Mendengar hal itu maka takutlah Uria, lalu melarikan diri dan tiba di Mesir. 22 Kemudian raja Yoyakim menyuruh orang ke Mesir, yaitu Elnatan bin Akhbor beserta beberapa orang. 23 Mereka mengambil Uria dari Mesir dan membawanya kepada raja Yoyakim. Raja menyuruh membunuh dia dengan pedang dan melemparkan mayatnya ke kuburan rakyat biasa. 24 Tetapi Yeremia dilindungi oleh Ahikam bin Safan, sehingga ia tidak diserahkan ke dalam tangan rakyat untuk dibunuh.

Keberanian Menyatakan Kebenaran

Bacaan hari ini masih merupakan kelanjutan dari bacaan kemarin. Dalam Yeremia 26:20-24 ini, seorang bernama Uria bin Semaya juga menyampaikan nubuat demi nama Tuhan. Ia bukan nabi palsu dan bukan bernubuat palsu sebab nubuatanya sama dengan Yeremia, mengingatkan bangsa Yehuda agar bertobat, sebelum mengalami kehancuran. Namun bedanya, karena nubuatan itu hidupnya terancam oleh raja Yoyakim sehingga ia harus melarikan diri. Raja Yoyakim memerintahkan orang mencari Uria untuk dibunuh. Akhirnya Uria mati, sebaliknya Yeremia dilindungi oleh Ahikam bin Safan, seorang pejabat tinggi kerajaan, sehingga nyawanya selamat. Menjadi orang yang menyampaikan kebenaran atau perintah Tuhan bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan atau resiko yang dihadapi, bahkan sampai kehilangan nyawa. Kenyataan ini akan membuat sebagian orang menjadi takut dan memilih diam, tidak lagi berani. Kita harus senantiasa berdoa agar Tuhan menghindarkan kenyataan seperti ini. Namun, jika pada akhirnya kita alami, berbahagialah, sebab itu berarti kita ada di jalan Tuhan. Kiranya segala tantangan dan resiko tidak melemahkan iman dan semangat kita untuk menyampaikan kebenaran kepada siapa saja.

Doa: Kuatkanlah iman kami agar mampu menghadapi tantangan karena berani menyatakan kebenaran, Amin  

Selasa, 05 Agustus 2025

bahan bacaan : Yeremia 38 : 14 – 28

Pembicaraan terakhir dengan raja Zedekia
14 Raja Zedekia menyuruh orang membawa nabi Yeremia kepadanya di pintu yang ketiga pada rumah TUHAN. Berkatalah raja kepada Yeremia: "Aku mau menanyakan sesuatu kepadamu; janganlah sembunyikan apa-apa kepadaku!" 15 Jawab Yeremia kepada Zedekia: "Apabila aku memberitahukannya kepadamu, tentulah engkau akan membunuh aku, bukan? Dan apabila aku memberi nasihat kepadamu, engkau tidak juga akan mendengarkan aku!" 16 Lalu bersumpahlah raja Zedekia dengan diam-diam kepada Yeremia, katanya: "Demi TUHAN yang hidup yang telah memberi nyawa ini kepada kita, aku tidak akan membunuh engkau dan tidak akan menyerahkan engkau ke dalam tangan orang-orang yang berusaha mencabut nyawamu itu!" 17 Sesudah itu berkatalah Yeremia kepada Zedekia: "Beginilah firman TUHAN, Allah semesta alam, Allah Israel: Jika engkau keluar menyerahkan diri kepada para perwira raja Babel, maka nyawamu akan terpelihara, dan kota ini tidak akan dihanguskan dengan api; engkau dengan keluargamu akan hidup. 18 Tetapi jika engkau tidak menyerahkan diri kepada para perwira raja Babel, maka kota ini akan diserahkan ke dalam tangan orang-orang Kasdim yang akan menghanguskannya dengan api; dan engkau sendiri tidak akan luput dari tangan mereka." 19 Kemudian berkatalah raja Zedekia kepada Yeremia: "Aku takut kepada orang-orang Yehuda yang menyeberang kepada orang Kasdim itu; nanti aku diserahkan ke dalam tangan mereka, sehingga mereka mempermainkan aku." 20 Yeremia menjawab: "Hal itu tidak akan terjadi! Dengarkanlah suara TUHAN dalam hal apa yang kukatakan kepadamu, maka keadaanmu akan baik dan nyawamu akan terpelihara. 21 Tetapi jika engkau enggan menyerahkan diri, maka inilah firman yang dinyatakan TUHAN kepadaku: 22 Sungguh, semua perempuan yang masih tinggal di istana raja Yehuda digiring ke luar ke hadapan para perwira raja Babel sambil berseru: Engkau diperdayakan, dikalahkan oleh sahabat-sahabatmu. Tetapi baru saja kakimu terperosok ke dalam lumpur, mereka sudah berpaling pulang. 23 Semua isterimu dan anak-anakmu akan digiring ke luar ke hadapan orang-orang Kasdim itu. Dan engkau sendiri tidak akan terluput dari tangan mereka, tetapi engkau akan tertangkap oleh raja Babel. Dan kota ini akan dihanguskan dengan api." 24 Lalu berkatalah Zedekia kepada Yeremia: "Janganlah ada orang yang mengetahui tentang pembicaraan ini, supaya engkau jangan mati. 25 Apabila para pemuka mendengar, bahwa aku telah berbicara dengan engkau, lalu mereka datang meminta kepadamu: Beritahukanlah kepada kami apa yang telah kaukatakan kepada raja dan apa yang telah dikatakan raja kepadamu; janganlah sembunyikan kepada kami, supaya engkau jangan kami bunuh!, 26 maka haruslah kaukatakan kepada mereka: Aku menyampaikan permohonanku ke hadapan raja, supaya aku jangan dikembalikannya ke rumah Yonatan untuk mati di sana." 27 Memang semua pemuka itu datang bertanya kepada Yeremia, tetapi ia memberi jawab kepada mereka tepat seperti segala yang diperintahkan raja. Maka mereka membiarkan dia, sebab sesuatupun dari pembicaraan itu tidak ada yang diketahui siapapun. 28 Demikianlah Yeremia tinggal di pelataran penjagaan itu sampai kepada hari Yerusalem direbut.

Jangan Takut Menyampaikan Suara Tuhan

Ketika ada dalam keadaan yang sulit atau terjepit, meminta nasehat dari orang lain dapat menolong kita menemukan solusi. Itulah yang dilakukan oleh raja Zedekia. Ia bertanya kepada nabi Yeremia tentang apa yang harus dilakukan menghadapi kenyataan hidupnya dan bangsa Yehuda yang terancam oleh Babel.  Yeremia menjawab: “dengarkanlah suara Tuhan dalam hal apa yang kukatakan kepadamu, maka keadaanmu akan baik dan nyawamu akan terpelihara”. Bagi Yeremia, nasehat yang disampaikannya terbatas, tetapi mendengarkan apa yang menjadi kehendak Tuhan akan membuat Raja Zedekia dan seluruh rakyatnya selamat. Kehendak Tuhan yaitulah Zedekia menyerahkan diri kepada para pemuka raja Babel. Bagi Zedekia itu sesuatu yang tidak mungkin, karena itu ia memilih tidak mendengarkan suara Tuhan. Akhirya ia ditangkap dan dibawa ke Babel, keluarganya mati dan rakyatnya mengalami kehancuran. Mendengarkan suara Tuhan selalu menjadi solusi terbaik dalam hidup orang percaya. Sayangnya, kita kadang tidak mau mendengar suara Tuhan dan memilih mendengarkan suara kita sendiri. Mengawali aktifitas di hari ini, marilah dengarkan suara Tuhan sebagai pesan bagi kita. Lakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan agar keadaan kita tetap baik dan terpelihara.

Doa: Kami mau mendengar dan melakukan perintahMu Tuhan agar kami selamat terpelihara, amin 

Rabu, 06 Agustus 2025

bahan bacaan : Keluaran 5 : 1 – 14

Musa menghadap Firaun -- Bangsa Israel makin ditindas
Kemudian Musa dan Harun pergi menghadap Firaun, lalu berkata kepadanya: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Biarkanlah umat-Ku pergi untuk mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun." 2 Tetapi Firaun berkata: "Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku TUHAN itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi." 3 Lalu kata mereka: "Allah orang Ibrani telah menemui kami; izinkanlah kiranya kami pergi ke padang gurun tiga hari perjalanan jauhnya, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allah kami, supaya jangan nanti mendatangkan kepada kami penyakit sampar atau pedang." 4 Tetapi raja Mesir berkata kepada mereka: "Musa dan Harun, mengapakah kamu bawa-bawa bangsa ini melalaikan pekerjaannya? Pergilah melakukan pekerjaanmu!" 5 Lagi kata Firaun: "Lihat, sekarang telah terlalu banyak bangsamu di negeri ini, masakan kamu hendak menghentikan mereka dari kerja paksanya!" 6 Pada hari itu juga Firaun memerintahkan kepada pengerah-pengerah bangsa itu dan kepada mandur-mandur mereka sendiri: 7 "Tidak boleh lagi kamu memberikan jerami kepada bangsa itu untuk membuat batu bata, seperti sampai sekarang; biarlah mereka sendiri yang pergi mengumpulkan jerami, 8 tetapi jumlah batu bata, yang harus dibuat mereka sampai sekarang, bebankanlah itu juga kepada mereka dan jangan menguranginya, karena mereka pemalas. Itulah sebabnya mereka berteriak-teriak: Izinkanlah kami pergi mempersembahkan korban kepada Allah kami. 9 Pekerjaan orang-orang ini harus diperberat, sehingga mereka terikat kepada pekerjaannya dan jangan mempedulikan perkataan dusta." 10 Maka para pengerah bangsa itu dan para mandurnya pergi dan berkata kepada mereka: "Beginilah kata Firaun: Aku tidak memberi jerami lagi kepadamu. 11 Pergilah kamu sendiri mengambil jerami, di mana saja kamu mendapatnya, tetapi pekerjaanmu sedikitpun tidak boleh kurang." 12 Lalu berseraklah bangsa itu ke seluruh tanah Mesir untuk mengumpulkan tunggul gandum sebagai pengganti jerami. 13 Dan pengerah-pengerah itu mendesak mereka dengan berkata: "Selesaikan pekerjaanmu, yaitu tugas sehari, seperti pada waktu ada jerami." 14 Lalu pengerah-pengerah Firaun memukul mandur-mandur Israel, yang mereka angkat, sambil bertanya: "Mengapakah kamu pada hari ini tidak menyelesaikan jumlah batu bata yang harus kamu buat seperti kemarin?"

Bersuara Atas Nama Tuhan

Keberanian untuk menyampaikan kehendak Tuhan adalah panggilan kita selaku orang percaya. Meski kita tahu ada banyak resiko yang akan dialami. Dalam nas bacaan hari ini, Musa dan Harun menyampaikan perintah Tuhan kepada Firaun agar ia membiarkan bangsa Israel pergi untuk beribadah kepada Tuhan di padang gurun. Firaun menolak dengan keras permintaan mereka. Perdebatan pun terjadi diantara mereka. Musa dan Harun bersikukuh membela hak saudara-saudaranya, bangsa Israel. Atas nama Tuhan, mereka berulang kali bersuara supaya saudara-saudaranya memperoleh kesempatan dan hak untuk beribadah kepada Tuhan, sekaligus mereka bisa beristirahat sejenak dari kerja paksa yang diberlakukan Firaun atas mereka. Keteguhan hati dan keberanian Musa dan Harun untuk bersuara atas nama Tuhan menjadi teladan bagi kita untuk juga bersuara membela yang lemah dan tertindas. Tindakan ini memang bukanlah hal yang mudah dilakukan, sebab penuh dengan resiko. Tapi jika tetap bersikap diam, maka tanpa sadar kita turut memperpanjang penindasan. Suara kebenaran harus terus digaungkan meski ada tantangan. Tuhan pasti menolong kita untuk melakukannya.

Doa:  Tuhan, tolonglah kami untuk berani bersuara demi kebaikan hidup bersama. Amin.

Kamis, 07 Agustus 2025

bahan bacaan : Keluaran 5 : 15 – 24

15 Sesudah itu pergilah para mandur Israel kepada Firaun dan mengadukan halnya kepadanya: "Mengapakah tuanku berlaku seperti itu terhadap hamba-hambamu ini? 16 Jerami tidak diberikan lagi kepada hamba-hambamu ini tetapi walaupun begitu, kami diperintahkan: Buatlah batu bata. Dan dalam pada itu hamba-hambamu ini dipukuli, padahal rakyat tuankulah yang bersalah." 17 Tetapi ia berkata: "Pemalas kamu, pemalas! Itulah sebabnya kamu berkata: Izinkanlah kami pergi mempersembahkan korban kepada TUHAN! 18 Jadi sekarang, pergilah, bekerja! Jerami tidak akan diberikan lagi kepadamu, tetapi jumlah batu bata yang sama harus kamu serahkan." 19 Maka mengertilah para mandur Israel, bahwa mereka ada dalam keadaan susah, karena dikatakan kepada mereka: "Kamu tidak boleh mengurangi jumlah batu bata pada tiap-tiap hari." 20 Waktu mereka meninggalkan Firaun berjumpalah mereka dengan Musa dan Harun, yang sedang menantikan mereka, 21 lalu mereka berkata kepada keduanya: "Kiranya TUHAN memperhatikan perbuatanmu dan menghukumkan kamu, karena kamu telah membusukkan nama kami kepada Firaun dan hamba-hambanya dan dengan demikian kamu telah memberikan pisau kepada mereka untuk membunuh kami." 22 Lalu Musa kembali menghadap TUHAN, katanya: "Tuhan, mengapakah Kauperlakukan umat ini begitu bengis? Mengapa pula aku yang Kauutus? 23 Sebab sejak aku pergi menghadap Firaun untuk berbicara atas nama-Mu, dengan jahat diperlakukannya umat ini, dan Engkau tidak melepaskan umat-Mu sama sekali." 24 Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa: "Sekarang engkau akan melihat, apa yang akan Kulakukan kepada Firaun; sebab dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan membiarkan mereka pergi, ya dipaksa oleh tangan yang kuat ia akan mengusir mereka dari negerinya."

Bersuara Kepada Tuhan

Nas hari ini merupakan kelanjutan dari pembacaan Alkitab kemarin tentang Musa dan Harun menghadap Firaun. Situasi penderitaan yang dialami setelah Musa dan Harun menghadap Firaun semakin bertambah berat. Bagian ini memang mengungkapkan realitas iman ketika umat berada di titik terendah penderitaan. Bangsa Israel menyalahkan Musa dan Harun yang dianggap memperburuk keadaan mereka. Musa lalu berseru kepada Tuhan, mempertanyakan maksud penderitaan yang dialami oleh Bangsa Israel dan mengapa Tuhan belum campur tangan. Ia dengan jujur berseru, “Ya TUHAN, mengapa Kau perlakukan bangsa ini begitu buruk?” (ay. 22). Pertanyaan dan seruan Musa ini menunjukkan bahwa berseru kepada Tuhan, bahkan dalam bentuk keluhan merupakan ekspresi kejujuran orang beriman. Ia meyakini Tuhan pasti mendengar suara setiap orang yang menyampaikan permohonan dalam kelemahannya. Kita berseru kepada Tuhan dalam permohonan bukan karena lemah secara rohani, tetapi karena kita tahu bahwa hanya Tuhan yang dapat melepaskan kita dari berbagai hal yang menekan dan membawa penderitaan. Itulah iman kita yang menyatakan ketergantungan mutlak kepada Tuhan.

Doa : Mampukanlah kami dengan kekuatan Roh-Mu untuk berani menghentikan ketidakbenaran, Amin

Jumat, 08 Agustus 2025

bahan bacaan : Matius 14 : 1 – 12

Yohanes Pembaptis dibunuh
Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. 2 Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya: "Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya." 3 Sebab memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya. 4 Karena Yohanes pernah menegornya, katanya: "Tidak halal engkau mengambil Herodias!" 5 Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. 6 Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyukakan hati Herodes, 7 sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. 8 Maka setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata: "Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam." 9 Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. 10 Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara 11 dan kepala Yohanes itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. 12 Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.

Bersuaralah, Hentikan Ketidakbenaran!

Teks Matius 14:1-12 menceritakan tentang kematian Yohanes Pembaptis. Ia dipenggal atas permintaan Herodias, istri Herodes, melalui anak perempuannya kepada Herodes. Sebelumnya, Yohanes telah dengan berani menegur tindakan tidak bermoral Herodes, sehingga membuatnya ditangkap dan dimasukkan dalam penjara. Yohanes berani melakukan hal tersebut karena ia tahu bahwa menyuarakan kebenaran adalah bagian dari panggilan kenabiannya. Sebaliknya, respons Herodes dan Herodias menunjukkan bahwa kuasa dunia sering menolak kebenaran, apalagi jika kebenaran itu menggugat gaya hidup atau keputusan mereka. Berhadapan dengan penguasa seperti ini, tidak membuat Yohanes lalu berkecil hati dan mundur untuk menyuarakan kebenaran. Yohanes menunjukkan dirinya sebagai orang percaya yang memiliki integritas diri dan tidak berkompromi dengan hal-hal yang tidak benar. Apa yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis menjadi teladan bagi kita sebagai orang percaya untuk tetap memiliki integritas diri dan mampu menghentikan ketidakbenaran dengan bersuara. Kita harus mulai membiasakan hal ini dilakukan dalam keluarga. Kita membelajarkan anak-anak untuk melakukannya dengan sikap saling menghargai.

Doa: Kepada-Mu ya Tuhan, kami berseru dan membawa pengharapan. Engkaulah Penolong kami. Amin   

Sabtu, 09 Agustus 2025

bahan bacaan : 1 Raja-Raja 18 : 16 – 19   

Elia bertemu dengan Ahab
16 Lalu pergilah Obaja menemui Ahab dan memberitahukan hal itu kepadanya. Kemudian Ahab pergi menemui Elia. 17 Segera sesudah Ahab melihat Elia, ia berkata kepadanya: "Engkaukah itu, yang mencelakakan Israel?" 18 Jawab Elia kepadanya: "Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah-perintah TUHAN dan engkau ini telah mengikuti para Baal. 19 Sebab itu, suruhlah mengumpulkan seluruh Israel ke gunung Karmel, juga nabi-nabi Baal yang empat ratus lima puluh orang itu dan nabi-nabi Asyera yang empat ratus itu, yang mendapat makan dari meja istana Izebel."

Berani Mengkritik Kesalahan

Nas hari ini bercerita tentang Elia bertemu dengan Ahab, raja Israel yang menyembah Baal dan menyesatkan bangsa Israel. Ketika Ahab menuduh Elia sebagai “pengacau Israel”, Elia langsung membalikkan tuduhan itu dan menyatakan bahwa Ahab-lah yang membawa kekacauan karena meninggalkan perintah Tuhan dan mengikuti Baal. Sikap Elia yang berani menegur Ahab karena ia berdiri di atas firman Tuhan. Keberaniannya bukan karena kekuatan pribadi, tapi karena ia yakin akan kebenaran yang berasal dari Tuhan, yang sementara diembannya. Elia tidak gentar sedikitpun, sekalipun ia harus berhadapan dengan raja yang bisa saja membunuhnya. Hal ini menunjukkan bahwa suara penegakkan kebenaran tidak boleh dilemahkan oleh tekanan apapun, termasuk tekanan politik atau kekuasaan duniawi. Tidaklah mudah melakukannya. Tapi seperti Elia, kita juga dipanggil untuk berani bersuara mengkritik kesalahan sebagai wujud suara kenabian. Sebaiknya, kita memulai dari diri kita sendiri. Kita harus berani mengoreksi diri dan tidak membenarkan kebiasaan yang salah meskipun sudah umum dilakukan. Kita melakukannya juga dari keluarga dengan menjadi orang tua yang terbuka menerima masukan dan kritik dari anak-anak kita, yang melakukannya dengan santun.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk menggunakan kebebasan yang mendatangkan kesejahteraan bersama. Amin

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga : 11 – 17 Mei 2025

Tema Bulanan : Kritik Diri dan Transformasi Sebagai Gereja Yang Profetik

Tema Mingguan : Menghidupi Ibadah Sejati

Minggu, 11 Mei 2025

bahan bacaan : Yesaya 58 : 1 – 12

Kesalehan yang palsu dan yang sejati
Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka! 2 Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya: 3 "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. 4 Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. 5 Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada TUHAN? 6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, 7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! 8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu. 9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, 10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. 11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. 12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan "yang memperbaiki tembok yang tembus", "yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni".

Ibadah Sejati

Ibadah merupakan kewajiban yang harus dijalankan oleh semua orang percaya sebagai bukti kepercayaan yang sungguh kepada Allah yang memberi kehidupan. Namun dibalik ibadah yang selama ini kita lakukan, ternyata ada yang berkenan di hadapan Allah tetapi juga sebaliknya. Hal yang demikian pula dijumpai dalam keberadaan hidup bangsa Israel. Terhadap hal demikian, Allah memerintahkan Yesaya agar memperingatkan bangsa Israel perihal ibadah yang mereka jalankan selama ini. Israel menjalankan ibadah dengan tetap membawa kurban dan persembahan yang ditentukan serta berpuasa pada hari raya keagamaan. Bahkan mereka mengenakan kain karung dan menggosok tubuh mereka dengan abu sebagai tanda penyesalan. Namun, semuanya itu tidak berarti apa-apa jika mereka tidak memperlakukan sesamanya dengan hormat dan adil. Oleh sebab itu, ibadah yang demikian harus mengalami perubahan dengan tidak mengabaikan mereka yang teraniaya, termarginal dan miskin, sebagai bentuk wujud nyata ibadah yang sejati. Jika demikianlah ibadah yang sejati, apakah sebagai orang percaya kita telah menjalankannya? Kita perlu menyadari bahwa ibadah ritual itu penting dan harus dijalankan, namun harus pula disertai dengan hidup yang peduli terhadap sesama. Tetaplah menghidupi ibadah sejati, sebab hanya dengan demikian ibadah yang kita lakukan berkenan kepada Allah!

Doa: Tuhan tolong sertai kami agar dapat menghidupi ibadah yang sejati. Amin.

Senin, 12 Mei 2025

bahan bacaan : Yesaya 58 : 13 – 14

Menghormati hari Sabat
13 Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; apabila engkau menyebutkan hari Sabat "hari kenikmatan", dan hari kudus TUHAN "hari yang mulia"; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong, 14 maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut Tuhanlah yang mengatakannya.

Menyenangkan Tuhan

Tidak ada hal lain yang dapat dilakukan oleh manusia untuk menyenangkan hati Tuhan, selain hidup menuruti kehendak-Nya. Pada perikop ini jelas terbaca bahwa Allah menghendaki agar umat Israel menghormati hari Sabat. Tanda Israel menghormati hari Sabat yakni tidak melakukan, menjalankan, mengurusi dan membicarakan hal-hal terkait dengan kepentingan diri sendiri ( ay.13) di hari tersebut. Itu berarti semua hal yang berkaitan dengan mementingkan diri sendiri haruslah dihindari dan tidak dilakukan oleh Israel. Hal ini tentu saja berkaitan erat dengan cara hidup sebagai umat pilihan Tuhan. Dengan menghormati hari Sabat, maka umat Israel akan menikmati sukacita, penyertaan dan berkat yang berasal dari-Nya (ay. 14). Memang hari Sabat yang dimaksudkan diperuntukkan hanya bagi bangsa Israel. Namun cara hidup yang demikian tidak hanya berlaku bagi bangsa Israel saja, melainkan juga bagi kehidupan kekristenan. Sebab memusatkan perhatian hanya kepada kepentingan diri sendiri dan mengabaikan orang lain, sama halnya dengan meninggalkan ibadah yang sejati. Karena itu semua orang kristen diharapkan agar tetap menghargai hari-hari pemberian Tuhan yang disertai dengan tindakan nyata, yakni tidak mementingkan diri sendiri dan mengabaikan orang lain. Kita harus melakukan kehendak Tuhan lewat cara hidup kita yang mencirikan kepribadian sebagai pengikut-pengikut Kristus. Yakinilah, kesetiaan untuk terus menyenangkan hati-Nya, akan membuahkan berkat bagi kehidupan kita secara pribadi, keluarga maupun persekutuan.

Doa: Tuhan kami mau selalu hidup dengan terus menyenangkanMu. Amin

Selasa, 13 Mei 2025

bahan bacaan : Matius 6 : 16 – 18

Hal berpuasa
16 "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 17 Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, 18 supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Tak Usah Memakai Topeng

Topeng adalah sejenis alat penutup yang digunakan untuk mengelabui pandangan atau dimaksudkan untuk tidak dikenali oleh orang lain. Topeng biasanya hanya dipakai oleh para badut dalam sirkus. Pemakaiannya sangat tidak lazim bagi kebanyakan orang. Namun, yang kurang disadari oleh semua orang pula, ternyata dalam hidup ini, ada banyak orang yang mengenakan topeng. Topeng yang dimaksud bukan dalam bentuk fisik seperti penutup wajah melainkan dua karakter dalam satu diri manusia. Di satu sisi ia menampilkan senyuman, namun di sisi lain, faktanya ia ingin sekali marah. Pengunaan topeng ini bisa diamati dalam banyak segi kehidupan. Tuhan Yesus dalam pengajarannya tentang soal menahan diri atau puasa, mengajarkan agar orang percaya tidak menjadi pribadi yang bertopeng atau dengan kata lain “munafik”. Yesus menegur mereka yang berpuasa dengan wajah muram agar dilihat oleh orang lain. Ini menunjukkan bahwa ibadah sejati harus dilakukan dengan sikap hati yang tulus dan hanya untuk kemuliaan Allah. Bila kita melakukan sesuatu untuk Tuhan, baiklah dilakukan dalam kesadaran, jangan pernah berlaku seperti yang diungkapkan : di mulut bilang laen, di hati bilang lain.

Doa: ya Allah, mampukanlah kami untuk hidup tidak munafik. Amin.

Rabu, 14 Mei 2025

bahan bacaan : Mazmur 50 : 7 – 23

7 "Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berfirman, hai Israel, Aku hendak bersaksi terhadap kamu: Akulah Allah, Allahmu! 8 Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku? 9 Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu, 10 sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung. 11 Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku. 12 Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya. 13 Daging lembu jantankah Aku makan, atau darah kambing jantankah Aku minum? 14 Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi! 15 Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku." Sela 16 Tetapi kepada orang fasik Allah berfirman: "Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, 17 padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku? 18 Jika engkau melihat pencuri, maka engkau berkawan dengan dia, dan bergaul dengan orang berzinah. 19 Mulutmu kaubiarkan mengucapkan yang jahat, dan pada lidahmu melekat tipu daya. 20 Engkau duduk, dan mengata-ngatai saudaramu, memfitnah anak ibumu. 21 Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu. 22 Perhatikanlah ini, hai kamu yang melupakan Allah; supaya jangan Aku menerkam, dan tidak ada yang melepaskan. 23 Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya."

Ibadah itu Kata dan Sikap

Putra pemuda lajang yang berusia 21 tahun adalah pemuda yang sangat aktif dalam pelayanan di jemaatnya. Di dalam organisasi Angkatan Muda, Putra adalah salah satu pengurus di rantingnya. Di samping itu, ia juga aktif melayani sebagai seorang pengasuh. Keaktifan Putra ternyata berbanding terbalik dengan kehidupannya bersama keluarganya. Seringkali tetangganya mencoba menenangkannya tatkala ia selalu bertengkar dengan orangtuanya. Ia juga tidak pernah akur dengan adik-adiknya. Sebagai anak tertua, Putra merasa selalu benar dengan apa yang dilakukan. Sikap Putra ini tidak sesuai dengan apa yang dimaksud dengan ibadah yang sejati. Tuhan menegur umat-Nya yang berpikir bahwa ibadah sejati hanya tentang mempersembahkan korban bakaran dan hewan. Tuhan tidak membutuhkan kurban mereka, karena segala sesuatu di dunia adalah milik-Nya. Ibadah yang sejati bukan hanya tindakan lahiriah, tetapi kesadaran bahwa Tuhan mencari hati yang benar. Tuhan menegur orang yang melakukan ibadah tetapi hidup dalam kefasikan, seperti membenci ajaran Tuhan, berbuat dosa, dan bersikap munafik. Ibadah sejati tidak bisa dipisahkan dari kehidupan yang benar sesuai kehendak Tuhan. Marilah nyatakan ibadah yang sejati sebagai ibadah yang bukan hanya dengan kata tetapi juga sikap!

Doa: Ya Allah, mampukanlah kami untuk berbicara dan bersikap yang sesuai kehendak-Mu amin

Kamis, 15 Mei 2025

bahan bacaan : Zakaria 7 : 1 – 14

Ibadah puasa yang baik
Pada tahun yang keempat zaman raja Darius datanglah firman TUHAN kepada Zakharia, pada tanggal empat bulan kesembilan, yakni bulan Kislew. 2 Adapun penduduk Betel telah mengutus Sarezer dan Regem-Melekh serta orang-orangnya untuk melunakkan hati TUHAN, 3 untuk menanyakan kepada para imam dari rumah TUHAN semesta alam dan kepada nabi, demikian: "Haruskah kami sekalian menangis dan berpantang dalam bulan yang kelima seperti yang telah kami lakukan bertahun-tahun lamanya?" 4 Maka datanglah firman TUHAN semesta alam kepadaku, bunyinya: 5 "Katakanlah kepada seluruh rakyat negeri dan kepada para imam, demikian: Ketika kamu berpuasa dan meratap dalam bulan yang kelima dan yang ketujuh selama tujuh puluh tahun ini, adakah kamu sungguh-sungguh berpuasa untuk Aku? 6 Dan ketika kamu makan dan ketika kamu minum, bukankah kamu makan dan minum untuk dirimu sendiri? 7 Bukankah ini firman yang telah disampaikan TUHAN dengan perantaraan para nabi yang dahulu, ketika Yerusalem dengan kota-kota yang di sekelilingnya masih didiami orang dan masih sentosa dan Tanah Negeb dan Daerah Bukit masih didiami?" 8 Firman TUHAN datang kepada Zakharia, bunyinya: 9 "Beginilah firman TUHAN semesta alam: Laksanakanlah hukum yang benar dan tunjukkanlah kesetiaan dan kasih sayang kepada masing-masing! 10 Janganlah menindas janda dan anak yatim, orang asing dan orang miskin, dan janganlah merancang kejahatan dalam hatimu terhadap masing-masing." 11 Tetapi mereka tidak mau menghiraukan, dilintangkannya bahunya untuk melawan dan ditulikannya telinganya supaya jangan mendengar. 12 Mereka membuat hati mereka keras seperti batu amril, supaya jangan mendengar pengajaran dan firman yang disampaikan TUHAN semesta alam melalui roh-Nya dengan perantaraan para nabi yang dahulu. Oleh sebab itu datang murka yang hebat dari pada TUHAN. 13 "Seperti mereka tidak mendengarkan pada waktu dipanggil, demikianlah Aku tidak mendengarkan pada waktu mereka memanggil, firman TUHAN semesta alam. 14 Oleh sebab itu Aku meniupkan mereka seperti angin badai ke antara segala bangsa yang tidak dikenal mereka, dan sesudahnya tanah itu menjadi sunyi sepi, sehingga tidak ada yang lalu lalang di sana; demikianlah mereka membuat negeri yang indah itu menjadi tempat yang sunyi sepi."

Belas Kasih Jauh Lebih Bernilai

Belas kasih jauh lebih bernilai daripada kekayaan yang berlimpah. Ini ungkapan yang tepat untuk gambarkan situasi yang dihadapi keluarga Margaret. Bersama suami dan anak-anaknya, ia baru saja mengalami masa sulit ketika ditipu oleh rekan kerjanya. Namun ketika dimintai untuk menopang pelayanan melalui bantuan sentuhan kasih yakni berupa natura bagi para janda, duda dan lansia, Margaret bersama keluarganya dengan sukacita memberikan apa yang bisa mereka beri. Suaminya Roby malah tidak tanggung-tanggung meminjamkan motornya untuk dipakai sebagai kendaraan bagi proses pembagian natura tersebut. Apa yang dilakukan oleh Margaret dan keluarganya adalah teladan baik. Ini jauh lebih baik ketimbang menaruh hati kepada kekayaan dan mengabaikan nilai kasih. Zakaria 7:1-14 mengajarkan kita bahwa bukan puasa yang utama melainkan dengan menunjukkan kasih setia dan kasih sayang satu kepada yang lain. Ibadah yang sejati diwujudkan dalam tindakan nyata yakni menegakkan keadilan, menunjukkan belas kasihan, dan tidak menindas orang-orang lemah seperti janda, yatim, orang asing, dan orang miskin. Ini menunjukkan bahwa ibadah bukan hanya soal seremonial, tetapi juga mengenai bagaimana seseorang hidup dalam keseharian. Semoga Tuhan menolong kita melakukannya!

Doa : Tuhan Yesus tolong kami agar hidup saling berbelas kasih Amin

Jumat, 16 Mei 2025

bahan bacaan : Yesaya 1 : 10 – 20

Bertobat lebih baik dari mempersembahkan korban
10 Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora! 11 "Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman TUHAN; "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. 12 Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? 13 Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. 14 Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya. 15 Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. 16 Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, 17 belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda! 18 Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. 19 Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu. 20 Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang." Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya.

Beribadah Berarti Berhenti Berbuat Jahat

Jefry nyaris membakar rumah Jeky karena dikuasai miras usai merayakan hari ulang tahun anaknya Jeky. Nona istri Jeky segera memproses ulah Jefry di kantor polisi. Setelah dimediasi, Nona dan keluarganya bersedia memaafkan Jefry. Mereka mengingat pesan Tuhan tentang soal pengampunan. Jefry pun dilepaskan dari terali besi namun sebelumnya ia harus terlebih dahulu menandatangani surat pernyataan bahwa ia tidak akan mengulangi perbuatannya. Di dalam hidup ini sesunguhnya kita tidak berbeda jauh dengan Jefry. Banyak pelanggaran yang kita buat tapi Tuhan berkenan mengampuni kita. Tuhan menghendaki kita hidup taat dan yang pastinya ketaatan itu mengandung arti bahwa kita harus berhenti melakukan kejahatan. Tuhan mengundang umat-Nya untuk “membersihkan diri” dengan menjauhi kejahatan (ayat 16-17). Ibadah yang benar harus diwujudkan dalam tindakan nyata yakni menegakkan keadilan, membela hak orang tertindas, memperhatikan yatim, dan membela perkara janda, dll.
Ini menunjukkan bahwa ibadah sejati harus berdampak dalam kehidupan sosial, bukan hanya dalam ruang ibadah. Tuhan inginkan dari kita adalah ketika kita memutuskan beribadah maka itu berarti kita harus berhenti berbuat jahat.

Doa: Tuhan Yesus, tolong kami untuk tidak berbuat jahat. Amin.

Sabtu, 17 Mei 2025

bahan bacaan : Matius 5 : 21 – 26

21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. 22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. 23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. 26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Jangan Simpan Amarah

Tasya sudah bersiap-siap ke gereja untuk pengembalaan baptisan. Ia dimintakan menjadi orangtua baptis untuk anak sahabat dekatnya. Ketika hendak keluar kamar, ia disenggol secara sengaja oleh Nofry kakaknya. Nofry hanya ingin menggoda Tasya yang hari itu kelihatan cantik dengan memakai make up. Tasya tidak memahami sikap Nofry. Dengan suara besar, ia mengeluarkan kata kotor kepada kakaknya itu. Nofry tidak menerima kata makian adiknya. Ia dengan segera melayangkan tangan hendak menampar adiknya. Untungnya ketika mendengar keributan kedua anak itu, Vandry sebagai papa keluar dan menasehati mereka agar saling memaafkan. Tasya pun menyadari kesalahan dirinya. Ini yang mesti diteladani oleh kita sebagaimana yang ditulis dalam teks hari ini. Dalam ayat 23-24, Yesus menekankan bahwa sebelum mempersembahkan korban kepada Allah, seseorang harus lebih dahulu berdamai dengan sesamanya. Ini berarti bahwa ibadah sejati bukan hanya tentang hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga tentang hubungan horizontal dengan sesama. Pengampunan dan rekonsiliasi merupakan bagian integral dari ibadah sejati. Jika seseorang datang ke hadapan Allah dengan hati yang penuh amarah dan kebencian, maka ibadahnya menjadi sia-sia.

Doa: Tuhan Yesus, tolong kami bisa mengendalikan kemarahan kami , Amin.

*SUMBER : SHK BULAN MEI 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga : 4 – 10 Mei 2025

Tema Bulanan : Kritik Diri dan Transformasi Sebagai Gereja Yang Profetik

Tema Mingguan : Pendidikan Untuk Keadilan

Minggu, 4 Mei 2025

bahan bacaan : Amos 5 : 7 – 13

Melawan perkosaan keadilan
7 Hai kamu yang mengubah keadilan menjadi ipuh dan yang mengempaskan kebenaran ke tanah! 8 Dia yang telah membuat bintang kartika dan bintang belantik, yang mengubah kekelaman menjadi pagi dan yang membuat siang gelap seperti malam; Dia yang memanggil air laut dan mencurahkannya ke atas permukaan bumi--TUHAN itulah nama-Nya. 9 Dia yang menimpakan kebinasaan atas yang kuat, sehingga kebinasaan datang atas tempat yang berkubu. 10 Mereka benci kepada yang memberi teguran di pintu gerbang, dan mereka keji kepada yang berkata dengan tulus ikhlas. 11 Sebab itu, karena kamu menginjak-injak orang yang lemah dan mengambil pajak gandum dari padanya, --sekalipun kamu telah mendirikan rumah-rumah dari batu pahat, kamu tidak akan mendiaminya; sekalipun kamu telah membuat kebun anggur yang indah, kamu tidak akan minum anggurnya. 12 Sebab Aku tahu, bahwa perbuatanmu yang jahat banyak dan dosamu berjumlah besar, hai kamu yang menjadikan orang benar terjepit, yang menerima uang suap dan yang mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang. 13 Sebab itu orang yang berakal budi akan berdiam diri pada waktu itu, karena waktu itu adalah waktu yang jahat.

Kenakan Perisai Keadilan Sebagai Sumber Kehidupan

Amos mengutarakan kemahakuasaan Tuhan atas kehidupan orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Banyak sekali penyimpangan yang dilakukan oleh segelintir orang yang memiliki kekuasaan terhadap mereka yang termaginal, terabaikan dan dipandang sebelah mata. Teks bacaan hari ini mengingatkan kita akan pentingnya melakukan kebaikan dan keadilan terhadap sesama. Sebab Tuhan Allah akan menghempaskan mereka yang berbuat tidak adil, dengan caraNya. Praktek ketidakadilan terhadap mereka yang kecil dan termarginal menjadi juga persoalan saat ini. Mereka yang termarginal tidak memiliki kekuatan untuk memperjuangkan hak-hak mereka sendiri, bahkan pemenuhan hak-hak mereka pun sengaja diabaikan. Perlakuan tidak adil mereka peroleh dalam berbagai aspek, misalnya pemberian upah yang tidak adil, hak pendidikan yang tidak merata, dll. Terhadap kenyataan ini, kita harus sadar bahwa Tuhan itu Maha Adil. Ia menghendaki kita berlaku adil dan kita dapat memulainya dari keluarga. Kita membelajarkan hal keadilan sebagai orang tua yang mengasihi semua anak tanpa membeda-bedakan. Kita mengajarkan berbagi tugas rumah secara merata. Kita menumbuhkan pendidikan untuk keadilan yang berlangsung dalam iman kepada Tuhan yang hidup.

Doa: Ya Tuhan, karuniakanlah kepada kami, Roh melakukan Keadilan bagi sesama. Amin,

Senin, 5 Mei 2025

bahan bacaan : 1 Samuel 25 : 32 – 35

32 Lalu berkatalah Daud kepada Abigail: "Terpujilah TUHAN, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini; 33 terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri, bahwa engkau pada hari ini menahan aku dari pada melakukan hutang darah dan dari pada bertindak sendiri dalam mencari keadilan. 34 Tetapi demi TUHAN, Allah Israel yang hidup, yang mencegah aku dari pada berbuat jahat kepadamu--jika engkau tadinya tidak segera datang menemui aku, pasti tidak akan ada seorang laki-lakipun tinggal hidup pada Nabal sampai fajar menyingsing." 35 Lalu Daud menerima dari perempuan itu apa yang dibawanya untuk dia, dan berkata kepadanya: "Pulanglah dengan selamat ke rumahmu; lihatlah, aku mendengarkan perkataanmu dan menerima permintaanmu dengan baik."

Kebijaksanaan Seorang Perempuan Yang Takut Tuhan

Hari ini kita merayakan HUT Perempuan GPM yang ke 57. Sesuai dengan Tema Mingguan : Terpujilah Perempuan GPM yang arif, kita pun diingatkan untuk tetap menjadi perempuan-perempuan Gereja yang bijaksana dan arif. Dalam teks hari ini, Abigail merupakan seorang istri yang cakap dan takut Tuhan telah menyelamatkan suaminya Nabal dari kemarahan Daud. Tindakan Nabal yang tidak hormat kepada Daud seharusnya berdampak padanya, tetapi atas kebaikan dan kerendahan hati istrinya Abigail, Nabal selamat. Sosok Abigail menjadi sosok perempuan dan istri yang patut diteladani. Ia melakukan tugasnya untuk menjaga keutuhan hidup rumah tangganya dan sebagai cara menghormati suami atau kepala keluarga. Di Perayaan HUT Perempuan GPM, kita dituntun untuk juga menjadi perempuan-perempuan yang bijaksana dan arif. Tak dapat disangkal, seringkali kita juga berhadapan dengan suami yang berperawakan seperti Nabal yakni kasar dan tidak menghargai istri, namun hal itu tidak dapat menjadi alasan untuk kita melakukan hal yang sama sebab jika demikian maka kehancuran rumah tangga akan kita alami. Untuk itu, prioritaskan kebaikan dalam rumah tanggamu walaupun jalan yang ditemui tidaklah mudah.

Doa: Ya Tuhan, jadikan kami bijaksana untuk menghadapi setiap persoalan. Amin

Selasa, 6 Mei 2025

bahan bacaan : Yehezkiel 18 : 1 – 9

Setiap manusia bertanggung jawab atas dirinya
Maka datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 "Ada apa dengan kamu, sehingga kamu mengucapkan kata sindiran ini di tanah Israel: Ayah-ayah makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu? 3 Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, kamu tidak akan mengucapkan kata sindiran ini lagi di Israel. 4 Sungguh, semua jiwa Aku punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Aku punya! Dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. 5 Kalau seseorang adalah orang benar dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, 6 dan ia tidak makan daging persembahan di atas gunung atau tidak melihat kepada berhala-berhala kaum Israel, tidak mencemari isteri sesamanya dan tidak menghampiri perempuan waktu bercemar kain, 7 tidak menindas orang lain, ia mengembalikan gadaian orang, tidak merampas apa-apa, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang, 8 tidak memungut bunga uang atau mengambil riba, menjauhkan diri dari kecurangan, melakukan hukum yang benar di antara manusia dengan manusia, 9 hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap mengikuti peraturan-Ku dengan berlaku setia--ialah orang benar, dan ia pasti hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH.

Baik Buruk Perbuatan Akan Dipertanggungjawabkan

Perihal bertanggungjawab atas apa yang dilakukan adalah keharusan setiap manusia. Yehezkiel 18:1-9 menekankan prinsip tanggung jawab pribadi dalam hubungan manusia dengan Allah, terutama dalam hal keadilan dan kebenaran. Pada masa itu, orang Israel memiliki anggapan bahwa mereka dihukum karena dosa nenek moyang mereka, seperti yang tercermin dalam peribahasa yang dikutip dalam Yehezkiel 18:2: “Ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu.” Namun, Allah melalui Yehezkiel menegaskan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Jika seseorang hidup dengan benar dan melakukan keadilan, ia akan hidup, tetapi jika ia berbuat dosa, ia sendiri yang menanggung akibatnya. Allah adil dalam menilai manusia. Ia tidak membiarkan orang benar binasa, dan Ia tidak menyelamatkan orang fasik tanpa pertobatan. Keadilan Allah memberi harapan bahwa siapa pun yang berbalik dari kejahatan dan hidup benar akan diselamatkan. Tindakan Keadilan dalam hidup sebagai orang yang benar, yaitu mereka yang tidak menyembah berhala, tidak menindas sesama, tetapi berlaku adil, tidak memeras atau mengambil riba. Hal Ini menekankan bahwa iman sejati harus disertai dengan tindakan keadilan sosial.

Doa: Tuhan, mampukan kami untuk bertanggung jawab melakukan keadilan. Amin

Rabu, 7 Mei 2025

bahan bacaan : 1 Tim 6 : 11 – 16

Pesan penutup
11 Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. 12 Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi. 13 Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu: 14 Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya, 15 yaitu saat yang akan ditentukan oleh Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. 16 Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin.

Hidup Benar Di Hadapan Allah
Memiliki keterbatasan dan kekurangan sebagai manusia, seringkali menjadi alasan ketika kita melakukan kekeliruan bahkan salah dalam bersikap maupun bertindak. Akan tetapi jika direnungkan kembali, hal demikian tidak dapat dibenarkan mengingat status kita sebagai anak-anak Allah. Karena status itu jugalah, mengakhiri suratnya ini Paulus tetap mengingatkan dan menasihati Timotius dan pemimpin-pemimpin jemaat agar selalu hidup benar di hadapan Allah. Itu berarti mereka harus menjauhkan diri dari berbagai kejahatan termasuk cinta uang yang akan membuat mereka menyimpang dari iman dan menyiksa diri dengan berbagai-bagai duka. Terhadap hal demikian, secara tegas Paulus menyampaikan agar mereka mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan. Cara hidup seperti ini penting diperhatikan dan dilakukan agar kita tidak semena-mena terhadap sesama. Untuk memahami semuanya itu harus didukung dan didorong oleh didikan serta pengajaran yang baik dan benar. Pengajaran dimaksud dapat dimulai dari dalam keluarga sebagai basis pembinaan yang pertama. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari peranan orang tua untuk membimbing dan mengarahkan anggota keluarga lainnya, tentang cara hidup yang berkenan di hadapan Allah. Biarlah dengan didikan yang kita dapatkan selama ini mampu menjadikan kita memahami cara hidup yang benar dan adil.

Doa: Tuhan, kami mau berkomitmen agar hidup benar dan adil Amin.

Kamis, 8 Mei 2025

bahan bacaan : Mazmur 40 : 10 – 11

9 (40-10) Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN. 10 (40-11) Keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan-Mu dan keselamatan dari pada-Mu kubicarakan, kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan kepada jemaah yang besar.

Teruslah Suarakan Keadilan

Ada sekian banyak orang diantara kita yang tidak tanggung-tanggung menyuarakan tentang keadilan. Namun tidak sedikit pula yang bungkam bahkan tidak peduli dengan ketidakadilan yang terjadi dimana-mana. Padahal semua orang berhak mendapatkan keadilan dan semua orang juga berkewajiban menyuarakan keadilan. Terkait hal ini, pemazmur dalam bacaan kita telah memberikan contoh yang baik. Dalam doa dan ungkapan syukurnya, pemazmur mengaku dihadapan Tuhan tentang keberadaan dirinya yang tidak pernah menahan bibir untuk terus memberitakan keadilan. Untuk memperkuat perkataanya itu, ia menyampaikan bahwa terhadap perihal itu Tuhan juga mengetahuinya (ay. 10). Sekali lagi secara tegas pemazmur menyampaikan bahwa ia tidak pernah menyembunyikan keadilan, kesetiaan, karya keselamatan, kasih dan kebenaran yang berasal dari Tuhan kepada banyak orang (ay. 11). Pertanyaannya seberapa pentingkah kita turut menyuarakan keadilan dan hal-hal lainnya yang telah Allah nyatakan? Hal ini tentu saja memberikan dampak positif yang mengajarkan semua orang percaya agar juga memberitakan hal serupa dan menjadi orang-orang yang berlaku adil terhadap sesama. Tuhan telah lebih dahulu menyatakan keadilan-Nya bagi manusia, oleh sebab itu kita pun dituntut untuk berlaku adil dan terus bersuara untuk keadilan. Pergunakan kesempatan yang Allah berikan bagi kita dengan baik kepada semua orang tanpa terkecuali. Pastikanlah selalu bahwa kita tidak akan bungkam atau diam saja melainkan tetap menyampaikan suara Allah tentang keadilan.

Doa: Pakailah kami Tuhan sebagai alat untuk terus menyuarakan keadilan. Amin

Jumat, 9 Mei 2025

bahan bacaan : Kejadian 18 : 16 – 19

Doa syafaat Abraham untuk Sodom
16 Lalu berangkatlah orang-orang itu dari situ dan memandang ke arah Sodom; dan Abraham berjalan bersama-sama dengan mereka untuk mengantarkan mereka. 17 Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini? 18 Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? 19 Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya."

Lakukanlah Perintah-Nya

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting yang tidak dapat diabaikan dalam kehidupan. Mengapa demikian? Sebab melalui pendidikan kita dapat menghasilkan generasi-generasi selanjutnya yang berkualitas. Hal ini tentu tidak hanya terbatas diterapkan dalam pendidikan formal saja, melainkan harus dilakukan sejak dini dalam kehidupan keluarga. Itu sebabnya orang tua sedapat mungkin harus memainkan peranannya dengan baik. Peranan sebagai orang tua pun nampak jelas terbaca dalam bacaan kita saat ini ketika Abraham dipilih Allah. Selain Abraham telah ditetapkan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa (ay. 18), ia juga telah dipilih supaya memerintahkan anak-anaknya dan keturunannya agar hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan dengan melakukan kebenaran dan keadilan (ay. 19). Tanggung jawab yang diperintahkan Tuhan kepada Abraham merupakan tanggung jawab yang harusnya juga diperankan oleh kita sebagai orang tua. Ini tentu saja bertujuan agar anak-anak kita bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang berkualitas hidupnya yakni melakukan yang benar dan adil. Pertanyaannya, apakah semua orang tua telah melakukan tanggung jawabnya ini dengan baik? Lakukanlah perintah-Nya dalam hari-hari hidup kita sebab hanya dengan demikian, kita telah setia dan taat kepada Allah serta menjadi berkat bagi keluarga dan orang lain.

Doa: Tuntun kami Tuhan, agar kami dimampukan untuk melakukan perintahMu. Amin.

Sabtu, 10 Mei 2025

bahan bacaan : 1 Taw 18 : 14 – 17

Pegawai-pegawai Daud

14 Demikianlah Daud telah memerintah atas seluruh Israel, dan menegakkan keadilan dan kebenaran bagi seluruh bangsanya. 15 Yoab, anak Zeruya, menjadi panglima; Yosafat bin Ahilud menjadi bendahara; 16 Zadok bin Ahitub dan Ahimelekh bin Abyatar menjadi imam; Sausa menjadi panitera; 17 Benaya bin Yoyada menjadi panglima orang Kreti dan orang Pleti; dan anak-anak Daud adalah orang-orang utama yang diperbantukan kepada raja.

Hentikan Ketidakadilan

Hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas merupakan ungkapan yang menggambarkan ketidakadilan dalam penegakan hukum, di mana hukum cenderung keras terhadap rakyat kecil (tajam ke bawah) tetapi lunak terhadap orang-orang yang memiliki kekuasaan atau kedudukan tinggi (tumpul ke atas). Itu berarti keadilan tidak diberlakukan merata kepada semua kalangan. Tindakan dimaksud acapkali kita temui, saksikan dan dengarkan baik dilingkungan sekitar maupun lewat media massa. Bahkan tidak jarang kita menjadi korban atau justru menjadi pelaku ketidakadilan. Kendati pun banyak pengalaman hidup yang kita alami, belajarlah dari Daud dalam bacaan kita hari ini! Bagian ini menceritakan tentang kepribadiannya menjadi seorang raja yang selalu menegakkan kebenaran dan keadilan bagi seluruh bangsanya (ay. 14). Artinya dalam kepemimpinan Daud, kebenaran dan keadilan tidak timpang sebelah melainkan merata bagi semua orang yang di pimpinnya. Hal yang demikian juga diharapkan menjadi bagian karakter hidup kita sebagai pengikut-pengikut Kristus. Ini harus menjadi perhatian bersama, sebab ada banyak anak-anak Tuhan yang terjebak dalam sikap dan tindakan yang tidak benar dan tidak adil terhadap sesamanya. Namun melalui firman saat ini, kita diajarkan tentang bagaimana seharusnya bersikap dan bertindak. Pastikanlah bahwa kita akan menjadi pelaku-pelaku tindak kebenaran dan keadilan baik dalam lingkungan keluarga, di ruang lingkup pelayanan maupun dalam hidup bermasyarakat! Hentikanlah ketidakadilan sebab semua orang hanya ingin diperlakukan dengan benar dan adil!

Doa: kami percaya Tuhan Roh KudusMu menuntun kami berlaku benar dan adil . Amin.

*SUMBER : SHK BULAN MEI 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 27 April – 3 Mei 2025

Tema Bulanan : Sadar Dan Peka Sebagai Gereja Yang Profetik

Tema Mingguan : Yesus Tuhan Yang Hidup, Percayalah!

Minggu, 27 April 2025

bahan bacaan : Yohanes 20 : 24 – 28

Yesus menampakkan diri kepada Tomas
24 Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. 25 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." 26 Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" 27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." 28 Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" 29 Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."

Iman Tanpa Melihat

Sebagai murid atau pun pengikut Yesus, prinsip iman yang harus dimiliki dalam hidup kekristenan kita adalah percaya bahwa Yesus Kristus itu adalah Tuhan yang hidup. Prinsip iman seperti ini bukan sekedar pernyataan atau kata-kata semata, namun suatu keyakinan yang lahir dari lubuk hati yang paling dalam. Hal ini penting, mengingat sering kita kehilangan iman tatkala mengalami berbagai masalah hidup, tekanan, bahkan ancaman. Terkadang kita seperti Tomas yang hanya mau percaya kalau melihat. Kita lupa bahwa kita bukan saja telah melihat Tuhan yang memberi hidup, tetapi lebih dari pada itu yakni kita telah mengalami hidup yang Tuhan nyatakan kepada kita secara langsung. Karena itu, semestinya dalam hidup ini kita selalu percaya bahwa Yesus itu adalah Tuhan yang hidup. Selanjutnya dalam teks ini menunjukkan bahwa Yesus tidak menolak Tomas, tetapi justru menolongnya untuk percaya. Hal ini menunjukkan kasih dan kesabaran Tuhan terhadap mereka yang bergumul dalam iman. Pengakuan Tomas : “Ya Tuhanku dan Allahku!” sebagai pernyataan iman yang menegaskan bahwa Yesus bukan sekadar manusia, tetapi benar-benar Tuhan. Nyatakanlah terus iman Percaya ini di sepanjang hidup kita, kini dan selamanya, di sini dan dimana pun kita berada

Doa: Buatlah kami selalu percaya, Yesus itu Tuhan yang Hidup Amin.

Senin, 28 April 2025

bahan bacaan : Lukas 24 : 36 – 49

Yesus menampakkan diri kepada semua murid
36 Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: "Damai sejahtera bagi kamu!" 37 Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. 38 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? 39 Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku." 40 Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. 41 Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: "Adakah padamu makanan di sini?" 42 Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. 43 Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. 44 Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." 45 Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. 46 Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, 47 dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. 48 Kamu adalah saksi dari semuanya ini. 49 Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi."

Tuhan itu Hidup, Saksikanlah!
Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Dia bukan hanya seorang guru atau nabi, tetapi Tuhan yang berkuasa atas maut. Yesus menampakkan diri kepada murid-mjuridNya dalam tubuh yang nyata dan tidak hanya sebagai roh, menunjukkan bahwa kebangkitan-Nya adalah fisik, bukan sekadar spiritual. Murid-murid awalnya takut dan ragu, tetapi Yesus menenangkan mereka dengan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” (Lukas 24:36). Hal ini untuk meneguhkan iman mereka yang percaya pada Yesus yang hidup bahwa damai sejahtera menjadi milik mereka. Yesus membawa damai sejahtera untuk mengatasi ketakutan dan kebimbangan dalam hidup para murid saat itu, serta memampukan mereka untuk bersaksi tentang Tuhan yang hidup. Para murid diutus untuk memberitakan pertobatan dan pengampunan dosa dalam nama-Nya ke segala bangsa. Hal ini menegaskan bahwa percaya kepada Yesus yang hidup juga berarti bersaksi tentang Dia kepada dunia. Pernyataan Yesus di ayat 48, “Kamu adalah saksi dari semuanya ini” dimaksudkan agar segala hal yang murid-murid Yesus sampaikan atau beritakan adalah kebenaran bahwa Yesus memang sudah bangkit. Murid-murid Yesus adalah saksi dari kebangkitan Yesus. Penekanan Yesus agar murid-murid Yesus harus menjadi saksi mengandung pesan bagi kita selaku pengikut Yesus. Kita juga harus terus melakukan peran bersaksi tentang karya Tuhan Yesus melalui perkataan dan perbuatan sesehari.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk menyaksikan bahwa Bengkau hidup. Amin.

Selasa, 29 April 2025

bahan bacaan : 1 Yohanes 5 : 1 – 5

Iman mengalahkan dunia
Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari pada-Nya. 2 Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. 3 Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, 4 sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. 5 Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?

Iman Membawa Kasih dan Ketaatan
Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dalam hidupnya tidak mengalami masalah, meskipun semua orang ingin mengantisipasi atau keluar dari masalah yang dialaminya. Ada berbagai cara yang ditempuh dalam mengatasi permasalahan hidup; mengandalkan jabatan/pangkat, kepintaran, dan uang/kekayaan. Ayat 1 menegaskan, siapa yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus, ia lahir dari Allah. Hal ini menunjukkan bahwa iman kepada Yesus membawa kita ke dalam hubungan sebagai anak-anak Allah. Ayat 2-3 menyatakan bahwa kasih kepada Allah terbukti dalam kasih kepada sesama dan ketaatan terhadap perintah-Nya. Sebagai orang percaya, iman sejati bukan hanya dalam perkataan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan kasih dan hidup yang taat kepada firman Tuhan. Selanjutnya dalam ayat 4-5 menegaskan bahwa setiap orang yang lahir dari Allah dapat mengalahkan dunia, dan kemenangan itu diperoleh melalui iman kepada Yesus. Percaya kepada Yesus memang bukan sekadar kepercayaan intelektual, tetapi percaya dengan melibatkan seluruh keberadaannya sebagai anak-anak Allah. kuncinya adalah iman kita (lihat ayat 4). Iman dimaksud berwujud tidak hanya sebagai keyakinan yang diucapkan, tetapi iman yang nyata dalam gaya hidup yang mencerminkan kasih, ketaatan, dan kemenangan dalam Kristus. Dengan demikian beriman kepada Yesus yang bangkit, merupakan tanda kemenangan Allah yang memampukan kita menang atas permasalahan hidup yang dialami dan setia menyatakan kasih kepada sesama.

Doa: Tuhan, teguhkanlah iman kami supaya kasih an ketaatan dapat kami lakukan. Amin.

Rabu, 30 April 2025

bahan bacaan : 1 Yohanes 5 : 6 – 12

Kesaksian tentang Anak Allah
6 Inilah Dia yang telah datang dengan air dan darah, yaitu Yesus Kristus, bukan saja dengan air, tetapi dengan air dan dengan darah. Dan Rohlah yang memberi kesaksian, karena Roh adalah kebenaran. 7 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. 8 Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu. 9 Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. Sebab demikianlah kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. 10 Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. 11 Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. 12 Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.

Percaya Kepada Yesus Pasti Hidup

Setiap manusia pasti ingin mengalami hidup, sehingga selalu berupaya agar tetap hidup. Teks Alkitab hari ini menegaskan tentang bagaimana kehidupan itu di dapat dan dialami. “Yesus Kristus telah datang dengan air dan darah” mengacu pada baptisan-Nya (air) dan kematian-Nya di kayu salib (darah). Hal ini menegaskan bahwa Yesus bukan hanya manusia biasa, tetapi Ia adalah Mesias yang menjalankan misi keselamatan Allah. Roh Kudus pun menjadi saksi kebenaran ini. Karya Yesus memang bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi rencana ilahi untuk menebus manusia. Selanjutnya, dalam teks hari ini ditegaskan pula tentang ketritunggalan Allah (Bapa, Yesus/Firman, dan Roh Kudus). Ketritunggalan Allah inilah yang memberi kesaksian bahwa Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita, dan hidup itu ada di dalam anakNya (ay.11). lebih spesifik lagi dikatakan dalam ayat 12, “Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki Hidup; barang siapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup”. kedua ayat ini menegaskan bahwa hidup itu dapat dapat dimiliki ketika kita percaya kepada Allah Tritunggal, dengan menerima Yesus Kristus sebagai kepunyaan kita. Sebab memiliki Anak Allah, berarti percaya dan menyerahkan diri seutuhnya dalam pimpinan serta tuntunan Allah, yakni Roh Kudus.

Doa: Tuhan, buatlah kami semakin percaya kepada Yesus agar kami memiliki hidup yang sesungguhnya. Amin.

Kamis, 1 Mei 2025

bahan bacaan : Lukas 24 : 13 – 35

Yesus menampakkan diri di jalan ke Emaus
13 Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, 14 dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. 15 Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. 16 Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. 17 Yesus berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?" Maka berhentilah mereka dengan muka muram. 18 Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya: "Adakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi di situ pada hari-hari belakangan ini?" 19 Kata-Nya kepada mereka: "Apakah itu?" Jawab mereka: "Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. 20 Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. 21 Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. 22 Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, 23 dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. 24 Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat." 25 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! 26 Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?" 27 Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. 28 Mereka mendekati kampung yang mereka tuju, lalu Ia berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-Nya. 29 Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya: "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. 30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. 31 Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. 32 Kata mereka seorang kepada yang lain: "Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" 33 Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. 34 Kata mereka itu: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon." 35 Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.

Kebangkitan Yesus, Menghidupkan!
Peristiwa Kebangkitan Yesus menjadi spirit bagi setiap orang percaya bahwa kemenangan akan dosa telah ditaklukkan oleh Tuhan Yesus sehingga kita pun diberi jaminan keselamatan. Menjadi saksi atas peristiwa Iman ini tidaklah berdasar hanya pada melihat dengan mata, tetapi lebih dari itu melihat dengan ‘mata hati’ serta merasakan Kuasa KebangkitanNya. Kisah kebangkitan selalu disandingkan dengan kehadiran saksi yang melihat dengan nyata bahwa Yesus telah bangkit. Penampakkan Yesus menjadi kekuatan bagi mereka yang berjumpa denganNya secara langsung seperti yang disaksikan pada bacaan hari ini. Beberapa murid Yesus berjumpa dengan-Nya dalam perjalanan menuju Emaus. Mereka membangun percakapan denganNya, namun tidak mengenalNya sampai pada jamuan makan malam dan mereka sadar akan keberadaan Yesus. Dari perjumpaan ini, mereka kemudian menjadi saksi tentang kebangkitanNya. Percaya pada Kebangkitan Yesus bukanlah perkara adanya pembuktian secara kasat mata, tetapi hendaknya diyakini dalam Iman. Kebangkitan Yesus menjadi nyata ketika kita masih menikmati kehidupan ini hingga saat ini. Berbagai pergolakan hidup dan beban yang berat karena persoalan Rumah Tangga, pendidikan anak-anak, pekerjaan, dll masih dapat kita lalui hanya karena kemurahan Tuhan Yesus dan oleh Karya kebangkitanNya. Sebab itu, bersyukurlah Yesus telah bangkit!

Doa: Kami Percaya, Tuhan Yesus sumber Kebangkitan itu menyertai kehidupan kami. Amin.

Jumat, 2 Mei 2025

bahan bacaan : Roma 10 : 4 – 15

Kebenaran karena iman
4 Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya. 5 Sebab Musa menulis tentang kebenaran karena hukum Taurat: "Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya." 6 Tetapi kebenaran karena iman berkata demikian: "Jangan katakan di dalam hatimu: Siapakah akan naik ke sorga?", yaitu: untuk membawa Yesus turun, 7 atau: "Siapakah akan turun ke jurang maut?", yaitu: untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati. 8 Tetapi apakah katanya? Ini: "Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." Itulah firman iman, yang kami beritakan. 9 Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. 10 Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. 11 Karena Kitab Suci berkata: "Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan." 12 Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. 13 Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. 14 Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? 15 Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"

Pakailah Hidupmu Untuk Menyatakan Kebenaran

Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu”. Penggalan ayat bacaan ini menjadi penekanan yang disampaikan Paulus kepada Jemaat di Roma. Bagi Paulus, Firman tentang kebenaran yang diajarkan Yesus memiliki dampak luar biasa bagi setiap orang yang sungguh-sungguh meyakininya. Iman timbul dari kepercayaan dan kepercayaan akan berimplikasi pada kebenaran. Segala sesuatu yang dilakukan jika bersandar pada kepercayaan akan Firman Allah itu pasti berujung pada kebenaran. Paulus mengajak umat di Roma untuk sungguh-sungguh percaya pada Yesus dengan Hati, bukan hanya dibibir mulut. Percaya di bibir mulut serta hati yang tulus adalah kunci memperoleh keselamatan. Percaya bukanlah perkara mudah, bukan pula sebagai pemanis bibir saja sebab jika tidak diimbangi dengan tindakan dan ketulusan hati maka semua sia-sia. Jadi, jika kita berani berkata bahwa kita percaya pada Tuhan, maka haruslah pula berani menyatakannya dalam ketulusan hati kita. Belajarlah untuk terus mengimani Yesus dengan total dengan sungguh-sungguh memberi diri dan berserah padaNya.

Doa: Baharui hidup kami Tuhan, agar menjadi Saksi Kebenaran lewat tutur kata dan hidup kami. Amin

Sabtu, 3 Mei 2025

bahan bacaan : Wahyu 1 : 17 – 20

17 Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, 18 dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut. 19 Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini. 20 Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kanan-Ku dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat."

Tuhanku, Alfa & Omega. Mengawal & Menyertai
Akulah Alfa dan Omega, yang awal dan yang akhir. Kalimat ini sering kita dengar setiap Perayaan Natal dalam Nats natal anak-anak SMTPI. Yesus adalah Alfa dan Omega, yang berarti Dia adalah awal dan akhir dari segala sesuatu, memiliki otoritas mutlak atas sejarah, kehidupan, dan kematian. Yesus berkata : “Jangan takut!”. Perkataan ini merupakan jaminan bagi orang percaya bahwa Dia mengendalikan segala sesuatu. Ia yang mengawali perjalanan hidup dengan kita dan yang juga akan bersama-sama dengan kita mengakhiri pergumulan hidup yang kita alami. Kita tidak perlu takut karena Yesus berkuasa atas segala sesuatu. Dia memegang kendali atas kehidupan, kematian, dan masa depan kita. Kepercayaan kepada-Nya membawa penghiburan, keteguhan, dan harapan dalam kehidupan setiap orang percaya. Kata Yesus pula : “Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut”. Perkataan ini menunjukkan bahwa Yesus memiliki kuasa atas kehidupan dan kematian. Kematian tidak lagi menakutkan bagi orang percaya karena Yesus telah mengalahkannya melalui kebangkitan-Nya. Untuk itu, hiduplah dalam tuntunan penyertaanNya, supaya kita diberi kekuatan untuk berdaya guna, membangun persekutuan dengan sesama dan menyatu dengan alam.

Doa: Ya Tuhan, Kawal selalu kehidupan kami. Amin

*SUMBER : SHK BULAN APRIL-MEI 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 26 Januari – 01 Februari 2025

Tema Bulanan : Berdirilah Teguh Sebagai Gereja!

Tema Mingguan : Berakar Pada Kristus, Bermitralah!

Minggu, 26 Januari 2025

bahan bacaan : Efesus 4 : 1 – 16

Kesatuan jemaat dan karunia yang berbeda-beda
Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu. 2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. 3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: 4 satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, 5 satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, 6 satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua. 7 Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. 8 Itulah sebabnya kata nas: "Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia." 9 Bukankah "Ia telah naik" berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? 10 Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu. 11 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, 12 untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, 13 sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, 14 sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, 15 tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. 16 Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Berakar dan Bertumbuh dalam Kasih Kristus

Setiap rumah pasti punya fondasi yang berfungsi sebagai dasar berdirinya tiang dan bangunan rumah. Fondasi rumah yang kuat berefek pada kokohnya rumah yang dibangun. Begitu pula dengan pohon, bahwa setiap pohon atau tumbuhan pasti mempunyai akar yang disebut akar pohon/tumbuhan. Semakin dalam akar pohon itu tumbuh, maka semakin kokoh pohon itu berdiri, sehingga mampu menghadapi angin kencang atau cuaca buruk. Orang Kristen ibarat tumbuhan atau pohon yang menurut Paulus harus bertumbuh di dalam Kristus (ay. 15). Bahwa orang Kristen dalam hidup ini harus tetap berpegang teguh kepada kebenaran di dalam Kristus. Tujuannya agar orang Kristen mampu membangun dirinya dalam kasih, meskipun ada berbagai macam perbedaan yang dihadapi dan dialami dalam kenyataan hidup kekristenan. Karakter tersebut hendaknya diwujudnyatakan dalam kehidupan berelasi dengan sesama, yakni dalam hal saling membantu, sesuai dengan karunia yang telah dianugerahkan kepada kita, sehingga perbedaan yang kita jumpai, tidak lagi menimbulkan perpecahan melainkan boleh bersatu, saling melengkapi, dan mencapai tujuan bersama.

Doa: Ya Tuhan mampukan kami untuk melayani dengan segenap hati untuk kepujian nama Tuhan. Amin.

Senin, 27 Januari 2025

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 18 : 1 – 4

Paulus di Korintus
Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. 2 Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah ke rumah mereka. 3 Dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah. 4 Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani.

Mengasihi Sebagai Orang Kristen di Tengah Tantangan Hidup

Sejak peristiwa penganiayaan dan pembunuhan terhadap Stefanus, orang-orang kristen terus mengalami kesulitan dan penderitaan. Orang-orang kristen mengalami penganiayaan dan penderitaan karena nama Yesus. Meskipun demikian, pekabaran injil terus dilakukan, sebab Allah memakai situasi tersebut untuk menumbuhkan dan menguatkan iman orang-orang kristen. Salah satu faktor yang menonjol dari hidup sebagai orang kristen adalah saling membantu. Penganiayaan dan penderitaan tidak membuat karakter saling membantu hilang dari hidup sebagai orang Kristen. Itulah kasih yang menguatkan dan menyatukan kekristenan saat itu.
Ketika kita mengalami penderitaan kasih jangan pernah hilang antara satu dengan lainnya. Ingatlah bahwa kasih merupakan keuntungan bagi setiap orang yang setia kepada Allah. Kasih itulah yang akan menguatkan perjalanan hidup sebagai orang kristen dalam menghadapi tantangan.

Doa: Tuhan, ajari kami agar mampu mengerjakan pelayanan kepada semua orang. Amin

Selasa, 28 Januari 2025

bahan bacaan : Galatia 2 : 6 – 10

6 Dan mengenai mereka yang dianggap terpandang itu--bagaimana kedudukan mereka dahulu, itu tidak penting bagiku, sebab Allah tidak memandang muka--bagaimanapun juga, mereka yang terpandang itu tidak memaksakan sesuatu yang lain kepadaku. 7 Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat 8 --karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat. 9 Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat; 10 hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.

Layanilah Semua Orang, Meskipun Berbeda

Suatu hal yang sulit dilepaskan dari setiap orang adalah tradisi. Hal itu terlihat pada orang-orang kristen di Galatia. Mereka sudah menerima Kristus, namun masih tetap mempertahankan tradisi Yahudi, yaitu sunat. Orang-orang kristen di Galatia mempersoalkan perkara sunat dan tidak bersunat. Padahal, posisi Paulus terhadap isu ini sudah jelas, yaitu ia sudah tidak punya keberatan dengan mereka yang tidak bersunat. Sunat atau tidak bersunat, bagi Paulus, sama sekali tidak berpengaruh pada anugerah keselamatan. Dalam pemberitaan Injil, Paulus tidak tunduk kepada sekelompok orang yang berusaha menghalanginya. Ia sama sekali tidak memandang kasta. Paulus hanya ingin mengingatkan bahwa betapa pentingnya pelayanan kepada siapapun, teritimewa untuk orang miskin dan yatim piatu. Pesan terdalam dari Paulus adalah pelayanan yang dikerjakan Paulus itu bersifat menyeluruh, tanpa memandang muka. Ini penting bagi kita ke depan.

Doa: Kuatkanlah kami untuk tetap mengasihi dalam tantangan hidup.. Amin.

Rabu, 29 Januari 2025

bahan bacaan : 1 Tesalonika 3 : 1 – 13

Kabar baik yang dibawa oleh Timotius
Kami tidak dapat tahan lagi, karena itu kami mengambil keputusan untuk tinggal seorang diri di Atena. 2 Lalu kami mengirim Timotius, saudara yang bekerja dengan kami untuk Allah dalam pemberitaan Injil Kristus, untuk menguatkan hatimu dan menasihatkan kamu tentang imanmu, 3 supaya jangan ada orang yang goyang imannya karena kesusahan-kesusahan ini. Kamu sendiri tahu, bahwa kita ditentukan untuk itu. 4 Sebab, juga waktu kami bersama-sama dengan kamu, telah kami katakan kepada kamu, bahwa kita akan mengalami kesusahan. Dan hal itu, seperti kamu tahu, telah terjadi. 5 Itulah sebabnya, maka aku, karena tidak dapat tahan lagi, telah mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu, karena aku kuatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia. 6 Tetapi sekarang, setelah Timotius datang kembali dari kamu dan membawa kabar yang menggembirakan tentang imanmu dan kasihmu, dan bahwa kamu selalu menaruh kenang-kenangan yang baik akan kami dan ingin untuk berjumpa dengan kami, seperti kami juga ingin untuk berjumpa dengan kamu, 7 maka kami juga, saudara-saudara, dalam segala kesesakan dan kesukaran kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu. 8 Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan. 9 Sebab ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas segala sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita? 10 Siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu. 11 Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan kami jalan kepadamu. 12 Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu. 13 Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya.

Jadilah Umat yang Selalu Bersyukur dan Berdoa

Timotius merupakan rekan sekerja Paulus yang diutus ke Tesalonika untuk melayani orang-orang kristen di Tesalonika. Rasul Paulus sangat mengetahui dengan pasti keadaan jemaat Tesalonika sehingga mengirim orang yang tepat, supaya pelayanan dapat berjalan dengan baik dan lancar. Ternyata pelayanan di Tesalonika membawa perubahan positif mengenai iman dan kasih jemaat Kristen di Tesalonika (ay.6). Karena itu bagi Paulus, orang-orang kristen di Tesalonika harus selalu bersyukur (ay.9) dan berdoa (ay.10) agar selalu bertumbuh dalam kelimpahan (ay.12). Pesan mendalam dari teks ini adalah orang-orang kristen harus selalu bersyukur dan berdoa kepada Tuhan dalam setiap keadaan hidup, baik suka maupun duka, susah, senang, gagal dan sukses, serta yang lainnya. Dengan cara hidup demikian, akan memberikan teladan yang baik dan positif kepada semua orang.

Doa: Jauhkanlah keangkuhan dan kesombongan dari hidup kami. Amin.

Kamis, 30 Januari 2025

bahan bacaan : Filipi 4 : 2 – 3

2 Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan. 3 Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.

Sehati Sepikir Dalam Berteman

Apa gunanya punya banyak teman kalau teman tidak membantu kita saat susah; kalau teman membuat kita susah; kalau teman selalu berniat jahat menjatuhkan kita; dan kalau teman hanya menyalahkan dan menghakimi kita, tidak menasehati saat kita melakukan kesalahan. Bacaan hari ini hendak mengingatkan kita tentang bagaimana bagaimana berteman. Euodia, Sintikhe, Sunsugos, dan Klemens adalah sahabat-sahabat Paulus dalam pelayanan. Kepada mereka Paulus menasihati agar selalu sehati sepikir, dan selalu saling tolong-menolong dalam pekerjaan apapun. Bagi Paulus pertemanan yang baik adalah yang dalam dirinya selalu tidak membuat dan membiarkan teman susah, dan karena itu selalu sehati sepikir dalam pertemanan. Nasehat Paulus ini penting bagi kita, supaya kita tidak berteman hanya saat teman kita sukses. Kita juga mau berteman kalau teman kita gagal atau susah.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk selalu bersyukur dan berdoa dalam keadaan apapun. Amin.

Jumat, 31 Januari 2025

bahan bacaan : 2 Korintus 8 : 16 – 21

Titus diutus
16 Syukur kepada Allah, yang oleh karena kamu mengaruniakan kesungguhan yang demikian juga dalam hati Titus untuk membantu kamu. 17 Memang ia menyambut anjuran kami, tetapi dalam kesungguhannya yang besar itu ia dengan sukarela pergi kepada kamu. 18 Bersama-sama dengan dia kami mengutus saudara kita, yang terpuji di semua jemaat karena pekerjaannya dalam pemberitaan Injil. 19 Dan bukan itu saja! Ia juga telah ditunjuk oleh jemaat-jemaat untuk menemani kami dalam pelayanan kasih ini, yang kami lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan sebagai bukti kerelaan kami. 20 Sebab kami hendak menghindarkan hal ini: bahwa ada orang yang dapat mencela kami dalam hal pelayanan kasih yang kami lakukan dan yang hasilnya sebesar ini. 21 Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia.

Bersungguh-Sungguhlah Dalam Bekerja dan Melayani
Dalam bekerja kita pasti ingin melihat hasil kerja. Jika ada keberhasilan, maka perlu ditingkatkan. Apabila belum berhasil perlu melakukan perubahan pendekatan. Paulus merasa bahwa ia perlu mengirim Titus yang dipercaya dapat melakukan perubahan yang signifikan pada kekristenan di Korintus. Kesungguhan bekerja dalam pelayanan (ay.17) itulah yang membuat Paulus yakin bahwa Titus mampu melayani dengan baik untuk perubahan peningkatan iman Kristen di Korintus. Paulus dan Titus sama-sama memiliki prinsip dalam pelayanan, yaitu memikirkan yang baik bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia (ay.16). Kerelaan melayani dan memiliki integritas adalah faktor utama yang dimiliki Titus. Nasihat Paulus ini harus dijadikan pegangan bagi kita dalam bekerja dan melakukan pelayanan dimana pun kita ditempatkan, supaya di situ nama Tuhan Yesus dimuliakan.

Doa: buatlah kami sungguh-sungguh bekerja dan melayani bagi semua orang. Amin

Sabtu, 1 Februari 2025

bahan bacaan : Efesus 6 : 21 – 24

Pemberitahuan Salam
21 Supaya kamu juga mengetahui keadaan dan hal ihwalku, maka Tikhikus, saudara kita yang kekasih dan pelayan yang setia di dalam Tuhan, akan memberitahukan semuanya kepada kamu. 22 Dengan maksud inilah ia kusuruh kepadamu, yaitu supaya kamu tahu hal ihwal kami dan supaya ia menghibur hatimu. 23 Damai sejahtera dan kasih dengan iman dari Allah, Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai sekalian saudara. 24 Kasih karunia menyertai semua orang, yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa.

Akar Kehidupan Yang Kuat Hanya di Dalam Yesus Kristus

Pasal 6 : 21-24 adalah bagian akhir dari surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus. Bagian akhir ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya dimana Paulus memperingatkan jemaat di Efesus agar jemaat tetap teguh dan berpengharapan hanya pada Tuhan. Kondisi yang dialami Paulus membuat ia menjadi kuat dan karena itu, ia menyerukan dan mengingatkan jemaat Efesus untuk tetap berakar dan teguh pada Kristus. Kesetiaan dan keteguhan hati seorang pengikut Kristus mengantarnya pada keadaan dimana Damai Sejahtera akan senantiasa menaunginya. 31 hari di bulan januari telah terlewati dan pastinya telah mengukir 31 cerita baik suka atau duka sepanjang bulan januari. Oleh karenanya, memulai perjalanan hidup di bulan kedua tahun ini harus didasari dengan kesetiaan dan kepasrahan hanya kepada Yesus Kristus, Penyelamat kehidupan. Hendaklah hidup saling menguatkan seperti yang diserukan Paulus kepada jemaat di Efesus. Pendampingan bagi mereka yang hilang harapan, putus asa serta diliputi dengan kekecewaan. Tugas dan tanggung jawab di dalam keluarga, suami-istri, orang tua-anak, adik dan kakak serta di dalam ladang-ladang gumulan (pekerjaan), akan diperhadapkan dengan berbagai persoalan sehingga kadang melemahkan iman dan pendirian kita akan kuasa Allah di dalam Yesus Kristus. Pada kondisi yang demikian, hendaknya saling mengingatkan dan menguatkan. Percayalah! Damai SejahteraNya akan selalu menyertai kita yang selalu berharap pada Kasih Allah yang tidak terbatas itu.

Doa: TopanganMu Tuhan, menguatkan kami. Amin.

*SUMBER : SHK BU;AN JANUARI 2025, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 19-25 Januari 2025

Tema Bulanan : Berdirilah Teguh Sebagai Gereja!

Tema Mingguan : Berakar pada Kristus, Melayani dengan Tulus

Minggu, 19 Januari 2025

bahan bacaan : Markus 10 : 35 – 45

Permintaan Yakobus dan Yohanes Bukan memerintah melainkan melayani
35 Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!" 36 Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?" 37 Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu." 38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?" 39 Jawab mereka: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. 40 Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan." 41 Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. 42 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 43 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 44 dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. 45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Kepemimpinan Berhati Hamba

Manusia cenderung memiliki keinginan untuk mencapai posisi yang lebih tinggi dan terhormat. Keinginan ini seringkali berakar pada beberapa faktor, seperti: kebutuhan untuk diakui, dihargai dan memiliki pengaruh dalam kehidupan sosial. Ambisi untuk menjadi yang terbesar/terkemuka ini sangat ditentang oleh Tuhan Yesus sebagaimana terdapat dalam perikop tadi. Yesus dengan tegas merespons permintaan yang penuh ambisi dari Yakobus dan Yohanes yang ingin duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus dalam kemuliaan-Nya (ayat 37). Mereka menginginkan posisi terhormat, kedudukan yang tinggi dan penghargaan yang besar. Namun kepemimpinan menurut Yesus adalah tentang melayani bukan menguasai. “Siapa yang ingin menjadi besar di antara kamu , hendaklah ia menjadi pelayanmu” (ayat 43). Kepemimpinan sejati dalam Kerajaan Allah bukan tentang menguasai, mencari kedudukan tinggi melainkan tentang memberi diri untuk melayani orang lain dengan penuh kasih dan kerendahan hati.

Doa: Tuhan tolonglah kami agar dapat memberitakan cinta kasihMu kepada semua orang dengan tidak mementingkan diri sendiri. Amin.-

Senin, 20 Januari 2025

bahan bacaan : Filipi 1 : 12 – 17

Kesaksian Paulus dalam penjara
12 Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil, 13 sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus. 14 Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut. 15 Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. 16 Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, 17 tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara.

Tidak Mementingkan Diri Sendiri

Panggilan kita sebagai orang kristen adalah memberitakan injil Kristus agar semua orang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Panggilan ini mesti kita lakukan dengan sukacita dan tidak hanya sebatas kata-kata saja, namun melalui sikap dan perilaku hidup. Salah satunya adalah tidak mementingkan diri sendiri. Sikap ini sering terjadi dalam hidup kita sebagai manusia. Ingin senang, untung hanya untuk diri sendiri. Kalau yang susah, menderita, rugi tentu tidak ada yang mau terjadi dalam hidupnya. Namun sebagai murid Tuhan Yesus, Paulus memberi contoh dari pengalaman hidupnya dan kiranya itupun menjadi teladan bagi kita sebagai orang tua maupun anak-anak. Paulus setia, taat melakukan pelayanan pemberitaan injil. Sekalipun ia menderita, namun ia tetap setia, tidak meninggalkan pelayannnya demi umat yang ia layani untuk mendapatkan keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Hendaknya keteladanan Paulus dapat kita teruskan melalui perilaku hidup yang mau melayani, membantu dan menolong sesama dengan tulus dan sukacita sebagai wujud memberitakan Tuhan Yesus agar kita semua diselamatkan.

Doa: Tuhan tolonglah kami agar dapat memberitakan cinta kasihMu kepada semua orang dengan tidak mementingkan diri sendiri. Amin.-

Selasa, 21 Januari 2025

bahan bacaan : 1 Petrus 5 : 1 – 4

Gembalakanlah kawanan domba Allah
Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. 2 Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. 3 Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. 4 Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu.

Lakukan Tugas Pelayanan Sebagai Bentuk Pengabdian Diri

Menjadi pelayan baik dalam gereja maupun masyarakat adalah anugerah dari Tuhan sebagai sumber hidup yang mesti kita lakukan dengan baik. Petrus sebagai rasul Tuhan menasehati kita agar pelayanan yang kita lakukan kepada umat dan masyarakat hendaknya dengan sukacita dan tidak dengan keterpaksaan. Jangan mencari keutungan untuk diri sendiri, namun selalu memperhatikan seluruh kehidupan umat dan masyarakat yang dilayani secara baik. Semua itu dilakukan sebagai bentuk pengabdian diri kita kepada Allah dalam Kristus sebagai sumber hidup yang memanggil, memilih dan mengutus kita dalam tugas panggilan pelayanan tersebut. Sekalipun ada banyak tantangan, persoalan bahkan penderitaan yang kita alami, namun cinta kasih Tuhan Yesus selalu memberikan kekuatan dan sukacita untuk kita tetap setia dalam tugas pelayanan tersebut. Kita mulai dari dalam keluarga sebagai papa, mama dan anak-anak untuk saling mengasihi, menolong dan membantu satu dengan yang lain. Sehingga tugas dan beban apapun yang berat, akan menjadi ringan sebab kita melakukannya dengan sukacita sebagai bentuk pengabdian diri kita dalam iman percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Doa: Ya Tuhan karuniakan hikmatMu agar kami dapat lakukan tugas pelayanan dengan sukacita Amin.-

Rabu, 22 Januari 2025

bahan bacaan : 2 Korintus 7 : 2 – 7

Sukacita sesudah dukacita
2 Berilah tempat bagi kami di dalam hati kamu! Kami tidak pernah berbuat salah terhadap seorangpun, tidak seorangpun yang kami rugikan, dan tidak dari seorangpun kami cari untung. 3 Aku berkata demikian, bukan untuk menjatuhkan hukuman atas kamu, sebab tadi telah aku katakan, bahwa kamu telah beroleh tempat di dalam hati kami, sehingga kita sehidup semati. 4 Aku sangat berterus terang terhadap kamu; tetapi aku juga sangat memegahkan kamu. Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah. 5 Bahkan ketika kami tiba di Makedonia, kami tidak beroleh ketenangan bagi tubuh kami. Di mana-mana kami mengalami kesusahan: dari luar pertengkaran dan dari dalam ketakutan. 6 Tetapi Allah, yang menghiburkan orang yang rendah hati, telah menghiburkan kami dengan kedatangan Titus. 7 Bukan hanya oleh kedatangannya saja, tetapi juga oleh penghiburan yang dinikmatinya di tengah-tengah kamu. Karena ia telah memberitahukan kepada kami tentang kerinduanmu, keluhanmu, kesungguhanmu untuk membela aku, sehingga makin bertambahlah sukacitaku.

Saling Keterbukaan Dalam Melakukan Tugas Pelayanan

Pelayanan yang berakar dan bertumbuh didalam Tuhan Yesus Kristus akan berbuah manis dan penuh dengan sukacita. Sekalipun ada banyak persoalan yang dihadapi, namun kekuatan cinta kasih Kristus sebagai anugerah selalu memberikan kekuatan, penghiburan, semangat untuk teguh dan kokoh dalam melayani. Paulus menyampaikan perasaan dan isi hatinya kepada jemaat di Korintus sebab ia sendiri merasakan dan menikmati persekutuan dengan jemaat dalam tugas pelayanannya. Sehingga apapun tantangan yang dihadapi oleh Paulus dan teman-temannya dalam pelayanan, membuat Paulus tetap bersyukur dan bersukacita. Itulah sebabnya Paulus pun tetap menasehati umat agar mereka pun mengikuti teladan hidupnya dimana memohon agar persekutuan hidup terus terjalin diantara mereka serta berdampak baik dan positif kepada persekutuan umat secara keseluruhan. Keteladanan inipun bagi kita sebagai keluarga untuk melakukan tugas panggilan pelayanan, baik di rumah, di sekolah maupun di tempat kerja dan di tengah masyarakat. Saling terbuka dan saling mendukung dengan membantu dan menolong satu dengan yang lain adalah hal yang baik dan positif untuk terus kita lakukan dan wujudkan. Dari padanya kita akan menikmati sukacita dan berkat yang melimpah sebagai buah dari pelayanan demi hormat dan kepujian nama Tuhan.

Doa: Tuhan tuntunan kami dengan RohMu agar kami saling terbuka satu dengan yang lain dalam tugas pelayanan. Amin.-

Kamis, 23 Januari 2025

bahan bacaan : 1 Petrus 5 : 5 – 6

5 Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." 6 Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.

Hidup Dalam Kerendahan Hati Sebagai Orang Muda

Nasehat rasul Petrus terkhusus kepada para pemuda agar mereka tunduk kepada orang-orang tua. Pengertian tunduk berarti menghormati dan menghargai orang tua yang hadir sebagai wakil Allah dalam kehidupan kita di dunia ini. Kenyataan sering membuktikan terkadang orang muda kurang menghargai dan menghormati para orang tua. Hal ini disebabkan karena perbuahan zaman dengan segala kemajuannya sehingga anak-anak muda menganggap orang tua telah ketinggalan zaman. Orang muda merasa diri lebih kuat, lebih hebat dan lebih pintar sehingga membuat mereka sombong dan angkuh. Padahal rasul Petrus menasehati bahwa hal menghormati dan mengahagai orang tua akan membawa dampak positif yakni menikmati berkat Tuhan. Sebab orang yang angkuh dan sombong, Allah menentang mereka. Itulah sebabnya sebagai orang muda kita selalu rendah hati dengan menjadikan orang tua sebagai teladan dengan menghormati dan menghargai mereka. Kita dengar setiap nasehat untuk yang terbaik kita lakukan sebab mereka punya segudang pengalaman hidup dengan bergantung dan berakar didalam persekutuan dengan Tuhan.-

Doa: Ya Tuhan tolong kami sebagai orang muda untuk selalu rendah hati dengan menghormati para orang tua kami. Amin.

Jumat, 24 Januari 2025

bahan bacaan : Matius 6 : 19 – 24

Hal mengumpulkan harta
19 "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. 20 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. 21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. 22 Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; 23 jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. 24 Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

Selalu Mengandalkan Tuhan Dengan Tidak Mendua Hati

Bersama dengan Tuhan menjadi kekuatan utama dalam tugas dan panggilan pelayanan kita sebagai anak-anak Tuhan di tengah dunia ini. Ada berbagai tawaran dunia yang sangat menggiurkan bagi kita yang sering membuat kita gagal sehingga kehilangan berkat dan sukacita yang sesungguhnya dalam hidup kita. Penginjil Matius menggambarkan antara Tuhan dan mamon atau segala hal yang bertentangan dengan Tuhan ibarat terang dan gelap selalu menantang kehidupan kita. Tidak ada kekuatan lain bagi kita, selain datang kepada Tuhan sumber hidup dan terang kita sehingga kita tahu ke mana jalan yang mesti kita tempuh dan lalui menuju kepada kehidupan dan keselamatan kekal. Itulah sebabnya penting untuk kita meminta dan memohon hikmat dari Tuhan agar kita mampu untuk melakukan tugas dan pelayanan kita dengan membawa dan menghadirkan terang Kristus bagi dunia dan semua orang agar mereka menjadi yakin dan percaya. Kita memulainya dari dalam keluarga kita sebagai orang tua dan anak-anak untuk menjadi terang melalui tutur kata serta perilaku hidup agar nama Tuhan terus di puji dan dimuliakan.

Doa: Ya Tuhan mampukan kami agar kami mampu menjadi terang dalam kehidupan kami. Amin.

Sabtu, 25 Januari 2025

bahan bacaan : Kolose 3 : 23 – 24

23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. 24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.

Melayani Dengan Segenap Hati

Hendaknya tugas pekerjaan ataupun pelayanan kita melakukannya dengan segenap hati dan jangan setengah hati. Tentu semua itu akan berdampak kepada hasil dari apa yang kita lakukan. Hasil tidak dapat menyangkali proses. Artinya ketika proses yang kita lakukan dengan segenap hati, setulus hati maka hasilnya pasti akan baik dan bermanfaat bagi banyak orang serta untuk hormat dan kepujian nama Tuhan. Sebaliknya kalau proses kita lakukan dengan setengah hati dan tidak tulus maka hasilnya pun juga setengah-setengah dan hanya untuk kepentingan diri serta keangkuhan diri. Paulus menasehati jemaat di Kolose agar semua yang dikerjakan dalam pelayanan hendaknya dengan segenap hati untuk kepujian nama Tuhan. Kita lakukan dan kerjakan bukan untuk manusia sehingga kita cari berkenan dengan berbagai pencitraan diri. Tetapi untuk Tuhan berarti dengan segenap dan setulus hati, sebab Tuhan akan melihat hati kita dan bukan penampilan sebagai upaya pencitraan. Hal ini menjadi teladan bagi kita sekeluarga untuk menjadi anak-anak Tuhan dalam melakukan semua tugas pekerjaan, pelayanan dan pendidikan dengan sungguh-sungguh dan segenap hati demi kepujian nama Tuhan.

Doa: Ya Tuhan mampukan kami untuk melayani dengan segenap hati untuk kepujian nama Tuhan. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN JANUARI 2025, LPJ-GPM