Santapan Harian Keluarga, 14 – 20 Juni 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga Dan Pemberdayaan yang Holistik

Tema Mingguan   : Gereja Rumah Tangga Dan Pemberdayaan Ekonomi

Minggu, 14 Juni 2026

bahan bacaan : Kisah  Para Rasul 16 : 13 – 18 (TB2)

Paulus di Filipi
13 Pada hari Sabat kami ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami berbicara kepada perempuan-perempuan yang berkumpul di situ. 14 Salah seorang perempuan yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia berasal dari Kota Tiatira dan ia seorang penjual kain ungu, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. 15 Sesudah ia dibaptis bersama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: "Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku." Ia mendesak sampai kami menerimanya. 16 Pada suatu kali ketika kami pergi ke tempat sembahyang itu, kami bertemu dengan seorang budak perempuan yang mempunyai roh tenung; dengan tenungan-tenungannya tuan-tuannya memperoleh penghasilan besar. 17 Ia mengikuti Paulus dan kami dari belakang sambil berseru: "Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan keselamatan." 18 Hal itu dilakukannya selama beberapa hari lama. Namun ketika Paulus sudah tidak tahan lagi, ia berpaling dan berkata kepada roh itu: "Dalam nama Yesus Kristus kuperintahkan engkau keluar dari perempuan ini." Seketika itu juga keluarlah roh itu.

Pengembangan Ekonomi, Jadilah Berkat

Agar dapat mengalami kesejahteraan hidup setiap orang berupaya dengan pengembangan ekonomi. Itu baik dan sah-sah saja selagi masih sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan, dimana setiap usaha itu dilakukan dengan tidak mengorbankan orang lain atau dengan cara-cara curang atau dengan cara-cara yang mengabaikan prinsip-prinsip keadilan. Lidia seorang penjual kain ungu dari Tiatira. Dia tidak hanya seorang pengusaha sukses tetapi dia juga turut menggunakan seluruh aset ekonominya untuk menopang misi pelayanan Paulus. Hal yang berbeda dilakukan oleh seorang hamba perempuan yang dimanfaatkan tuan-tuannya untuk meraup keuntungan karena perempuan itu memiliki roh tenung. Cara demikian justru mendatangkan kesukaran besar. Usaha demi pemberdayaan ekonomi itu baik apabila berkenan dengan kehendak Tuhan dan semua hanya untuk kemuliaan nama Tuhan. Ingat harta kekayaan itu berkat Tuhan bagi setiap orang yang sungguh-sungguh berusaha. Tuhan memberkati ekonomi kita bukan hanya untuk penumpukan harta, tetapi untuk menjadi saluran berkat bagi pekerjaan misi dan kemanusiaan. Seperti Paulus yang memutus rantai keuntungan dari eksploitasi roh tenung, kita dipanggil untuk memiliki sistem ekonomi yang jujur dan memerdekakan sesama.

Doa: Berkatilah setiap usaha demi pengembangan ekonomi dan jadikanlah kami sebagai saluran berkat. Amin      

Senin, 15 Juni 2026

bahan bacaan : Amsal 3 : 9 – 10 (TB2)

9 Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan buah sulung dari hasil tanahmu, 10 maka lumbung-lumbungmu akan terisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerasanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.

Kebijaksanaan Mengelola Berkat

Amsal 3:9-10 mengajarkan bahwa gereja rumah tangga (keluarga) dipanggil untuk memuliakan Tuhan dengan mengakui Dia sebagai sumber dari segala hasil kerja dan penghasilan. Memuliakan Tuhan dengan harta berarti mengalokasikan bagian terbaik atau “buah sulung” dari pendapatan keluarga untuk pekerjaan Tuhan, yang mencerminkan sikap hati yang lebih menghargai Pencipta. Dalam konteks keluarga, hal ini diwujudkan melalui pengelolaan keuangan yang bijak, di mana setiap uang yang dihasilkan dari pekerjaan tangan dipandang sebagai amanah untuk mendukung misi pelayanan dan membantu sesama. Ketika keluarga sepakat untuk mendahulukan Tuhan dalam aset dan pendapatan mereka, ada janji penyertaan ilahi yang nyata. Ayat ke sepuluh menjelaskan bahwa ketaatan ini akan membawa kelimpahan, di mana “lumbung-lumbung akan diisi penuh” dan “bejana pemerahan akan meluap,” yang melambangkan kecukupan dan berkat yang melimpah atas rumah tangga tersebut. Prinsip ini bukan sekadar tentang kemakmuran materi, melainkan tentang membangun fondasi iman yang kokoh dalam keluarga, sehingga rumah tangga benar-benar menjadi saksi yang memuliakan nama Tuhan melalui dedikasi mereka dalam bekerja dan memberi.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk bijaksana mengelola berkat yang dipercayakan. Amin.  

Selasa, 16 Juni 2026

bahan bacaan : Amsal 27 : 23 – 27 (TB2)

23 Kenallah baik-baik keadaan kambing dombamu, perhatikanlah kawanan ternakmu. 24 Sebab harta benda tidak abadi dan mahkota tidak turun-temurun. 25 Kalau rumput lengap dan tunas muda tampak, dan tumbuh-tumbuhan di gunung dikumpulkan, 26 maka engkau mempunyai domba-domba muda untuk pakaianmu dan kambing-kambing jantan untuk membeli ladang, 27 cukup susu kambing untuk makananmu dan makanan keluargamu, serta untuk kehidupan pelayan-pelayanmu perempuan.

Bertanggung Jawab dan Bertekun

Amsal 27:24-27 memberikan peringatan keras bahwa harta duniawi tidaklah abadi dan jabatan tidak akan bertahan selamanya, sehingga gereja rumah tangga dituntut untuk bekerja keras dan memiliki ketekunan dalam mengelola apa yang ada. Ayat ini menginstruksikan setiap anggota keluarga untuk “mengetahui keadaan kawanan ternak” atau sumber daya mereka dengan saksama, yang dalam konteks modern berarti bertanggung jawab penuh atas manajemen aset dan pekerjaan yang dipercayakan Tuhan. Dengan bekerja keras memanfaatkan kesempatan yang diberikan seperti memotong rumput atau mengumpulkan hasil ladang pada waktunya keluarga tersebut menunjukkan ketaatan iman yang nyata dalam mempersiapkan kebutuhan masa depan. Ketekunan dalam mengelola sumber daya keluarga ini menjanjikan pemeliharaan Tuhan yang cukup bagi seluruh anggota rumah tangga. Kitab Amsal menekankan bahwa hasil dari kerja keras yang bijak bukan hanya memberikan kelimpahan materi, tetapi juga memastikan ketersediaan pakaian dan makanan bagi seisi rumah, termasuk para pelayan atau mereka yang bergantung pada keluarga tersebut. Dengan menerapkan prinsip pengelolaan yang teliti sesuai ajaran firman Tuhan, gereja rumah tangga tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga menjadi saksi tentang bagaimana hikmat Tuhan berkarya didalamnya.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk bertanggung jawab dalam hidup kami. Amin.   

Rabu, 17 Juni 2026

bahan bacaan : Keluaran 35: 30 – 33 (TB2)

Tenaga Ahli dan Persembahan yang Melimpah
30 Berkatalah Musa kepada orang Israel: "Lihatlah, TUHAN telah menunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, 31 dan telah memenuhinya dengan Roh Allah, dengan hikmat, pengertian, pengetahuan dan berbagai keahlian, 32 supaya ia membuat berbagai rancangan untuk dikerjakan dengan bahan emas, perak dan tembaga; 33 dengan mengasah batu permata yang akan ditatah; dengan mengukir kayu, dan dengan melakukan berbagai pekerjaan yang dirancang itu.

Panggilan Untuk Ahli di Dalam Rumah

Dalam teks ini, kita melihat Bezalel bukan sekadar pekerja kasar, melainkan seseorang yang dipenuhi Roh Allah untuk sebuah karya seni. Dalam konsep Gereja Rumah Tangga, rumah bukan hanya tempat istirahat atau ibadah formal, melainkan “bengkel” tempat talenta ditemukan dan diasah. Tuhan tidak hanya memberikan hikmat untuk berdoa, tetapi juga hikmat untuk “merancang” dan “membuat” (ayat 32). Ini berarti ekonomi keluarga adalah bagian dari pelayanan yang kudus. Memang seringkali kita memisahkan antara yang “rohani” (berdoa, baca Alkitab) dengan yang “sekuler” (bekerja, bisnis). Namun, Bezalel menunjukkan bahwa: keahlian teknis (menukang, memotong batu, mengukir kayu) adalah karunia Roh. Kreativitas adalah bentuk pemuliaan terhadap Tuhan yang Maha Pencipta. Gereja rumah tangga yang kuat secara ekonomi adalah keluarga yang mampu melihat potensi di tangannya, apakah itu bisnis kuliner, jasa, atau kerajinan sebagai sarana untuk membangun ekonomi dan kesejahteraan. Tuhan sedang mencari “Bezalel-Bezalel” baru di dalam rumah tangga kita. Ia ingin memenuhi kita dengan Roh-Nya agar cakap dalam usaha dan pekerjaan kita. Jangan remehkan keterampilan tangan kita masing-masing, karena di sana ada urapan untuk memberkati ekonomi keluarga dan gereja-Nya.

Doa: Tuhan, berkatilah semua unit usaha, pekerjaan dan rencana ekonomi yang sedang kami rintis Amin. 

Kamis, 18 Juni 2026

bahan bacaan : Keluaran 35: 34  – 35 (TB2)

34 TUHAN mengaruniakan juga kepandaian di dalam dirinya untuk mengajar, begitu pula kepada Aholiab bin Ahisamakh dari suku Dan. 35 Ia memenuhi mereka dengan keahlian, untuk melakukan segala pekerjaan sebagai pengrajin, perancang dan pembuat tenunan dari benang unggu tua, ungu muda, dan merah tua, serta linen halus, juga sebagai penyulam. Mereka melakukan berbagai pekerjaan dan membuat berbagai rancangan.

Panggilan Untuk Melipatgandakan Berkat

Dalam ayat 34, ada satu detail yang sering terlewatkan: Tuhan tidak hanya memberi Bezalel dan Aholiab keahlian teknis, tetapi juga “keinginan untuk mengajar”. Dalam konteks pemberdayaan ekonomi keluarga, ini adalah kunci keberlanjutan. Sebuah keterampilan tidak boleh berhenti pada satu orang. Gereja rumah tangga yang kuat adalah keluarga yang saling menurunkan ilmu. Ayah mengajarkan manajemen, ibu mengajarkan kreativitas, dan anak-anak dikembangkan talentanya. Ekonomi yang berdaya bermula dari transfer pengetahuan di dalam rumah. Ayat 35 menekankan bahwa mereka dipenuhi dengan keahlian untuk menjadi perancang, ahli tenun, tukang sulam, dan tukang logam. Mereka adalah para profesional di bidangnya. Pemberdayaan ekonomi menuntut kita untuk tidak bekerja “asal-asalan”. Tuhan menghendaki kualitas terbaik (profesionalisme). Ketika kita melakukan pekerjaan atau bisnis kita dengan standar yang tinggi, kita sedang memuliakan Tuhan. Rumah tangga kita menjadi “pusat keunggulan” di mana kualitas kerja kita menjadi kesaksian bagi dunia. Tuhan ingin kita tidak hanya menjadi “pengguna” berkat, tetapi juga “pengajar” berkat. Pemberdayaan ekonomi terjadi ketika kita mau berbagi ilmu dan bekerja sama. Jangan simpan keahlian kita untuk diri sendiri; ajarkanlah, bagikanlah, dan bangunlah kerjasama di dalam rumah tangga dan komunitas di mana kita berada.

Doa: Tuhan, biarlah ekonomi rumah tangga kami menjadi saluran berkat bagi banyak orang, Amin.  

Jumat, 19 Juni 2026

bahan bacaan : Pengkhotbah 5 : 7 – 19 (TB2)

Kekayaan yang sia-sia 
7 Kalau engkau melihat penindasan terhadap orang miskin di suatu daerah dan pemerkosaan hukum serta keadilan, janganlah heran akan hal itu, sebab pejabat tinggi yang satu mengawasi yang lain, dan pejabat-pejabat yang lebih tinggi mengawasi mereka. 8 Suatu keuntungan bagi negari dalam keadaan demikian ialah: kalau raja mengawasi tanah yang dikerjakan. 9 Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kelimpahan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. 10 Semakin banyak harta, semakin banyak pula orang-orang yang menghabiskannya. Lalu apakah keuntungan bagi pemiliknya selain melihatnya? 11 Nyenyaklah tidur orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kenyangnya orang kaya sekali-kali tidak membuat dia bisa tidur. 12 Ada kemalangan yang menyedihkan kulihat di bawah matahari: kekayaan yang disimpan oleh pemiliknya menjadi kemalangannya sendiri. 13 Kekayaan itu lenyap karena ketidakberuntungan sehingga ketika tak ia mempunyai anak tak ada apapun padanya. 14 Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika ia datang. Ia tidak memperoleh dari jerih payahnya apapun yang dapat dibawa dalam tangannya. 15 Inipun kemalangan yang menyedihkan. Sebagaimana ia datang, demikianpun ia akan pergi. Lalu apakah keuntungan bagi orang itu  yang telah berjerih-payah menjaring angin? 16 Bahkan ia menghabis seluruh hari-harinya dalam kegelapan, serta banyak kekesalan, penderitaan dan kemarahan. 17 Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat bagi orang ialah makan minum dan menikmati kesenangan dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bagiannya. 18 Juga, setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda serta diberi kemampuan untuk menikmatinya, untuk menerima bagiannya, dan bersukacita dalam jerih payahnya. Itupun karunia Allah. 19 Sesungguhnya ia tidak sering ia mengingat umurnya, karena Allah membiarkan dia sibuk dengan kesenangan hatinya.

Hidup Sederhana dengan Sukacita

Dunia saat ini sering memaksa kita untuk percaya bahwa kebahagiaan sebanding dengan tumpukan harta. Namun, perlombaan mengejar kekayaan sering kali berakhir pada kelelahan batin dan kekosongan jiwa yang tak berujung. Teks ini menyinggung “kejahatan yang menyedihkan,” yaitu harta yang disimpan justru mencelakakan pemiliknya karena melahirkan kecemasan yang merampas waktu tidur. Pesan utamanya bukan melarang kita menjadi kaya, melainkan memperingatkan agar kita tidak diperbudak oleh apa yang kita miliki. Kemampuan untuk menikmati hasil kerja, makan, minum, dan bersukacita-disebut sebagai pemberian Allah. Artinya, kebahagiaan bukan hasil otomatis dari kekayaan, melainkan anugerah Tuhan atas hati yang tahu bersyukur. Di era konsumerisme ini, mari kita terapkan prinsip “ugahari.” Jangan biarkan ambisi membuat kita kehilangan waktu untuk keluarga dan persekutuan. Bekerjalah dengan tekun, namun jangan biarkan keserakahan mencuri kedamaian kita. Ingatlah bahwa kita lahir telanjang dan akan kembali telanjang; maka yang terpenting bukanlah seberapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan seberapa besar sukacita Tuhan yang kita rasakan dalam kesederhanaan hidup setiap hari.

Doa: Tuhan, jangan biarkan sukacita di hati kami hilang karena harta yang fana, amin  

Sabtu, 20 Juni 2026

bahan bacaan : Amsal 13 : 11 (TB2)

11 Harta yang mudah diperoleh akan berkurang, tetapi siapa yang mengumpulkan sedikit demi sedikit, akan membuatnya bertambah. 

Bekerja dan Menabung Untuk Masa Depan

Amsal 13:11 menekankan bahwa kemakmuran dalam gereja rumah tangga tidak dibangun melalui jalan pintas atau keberuntungan sesaat, melainkan melalui ketekunan bekerja dan kemauan untuk menabung. Firman Tuhan mengingatkan, harta yang diperoleh dengan cepat melalui cara yang tidak jujur atau spekulasi, cenderung akan lenyap dengan cepat pula. Sebaliknya, keluarga yang belajar untuk mengumpulkan hasil kerja mereka “sedikit demi sedikit”, akan melihat berkat tersebut bertambah dan berlipat ganda. Prinsip ini mengajak setiap anggota keluarga untuk menghargai proses kerja keras dan tidak tergiur oleh godaan kekayaan instan yang dapat merusak integritas serta keberlanjutan masa depan. Menabung merupakan bentuk ketaatan praktis dari iman sebuah keluarga yang memandang jauh ke depan. Dengan disiplin menyisihkan sebagian kecil dari pendapatan secara rutin, sebenarnya kita sedang membangun fondasi keamanan finansial untuk menghadapi berbagai kebutuhan di masa mendatang. Mari jadikan rumah tangga kita tempat di mana kita belajar setia mengelola apa yang ada di tangan sebagai hasil keringat, percaya bahwa Tuhan memberkati tangan yang rajin dan hati yang jujur.

Doa: Tuhan, bantu kami rajin bekerja dan menabung untuk masa depan. Amin.  

*SUMBER : SHK BULAN JUNI 2026, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar