Santapan Harian Keluarga, 09 – 15 Agustus 2026

Tema Bulanan : Gereja, Keadilan dan Kesejahteraan bangsa

Tema Mingguan : Gereja Tekun Menegakkan Hak Asasi Manusia

Minggu, 09 Agustus 2026

bahan bacaan : Matius 22 : 34 – 40 (TB2)

Hukum yang terutama
34 Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka 35 dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: 36 "Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" 37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. 39 Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40 Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Mengasihi Allah dan Sesama Dengan Menegakkan HAM

Firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa kasih adalah dasar hidup orang percaya. Kasih bukan hanya perasaan baik, tetapi tindakan nyata untuk menghargai, melindungi, dan memperlakukan sesama sebagai ciptaan Allah yang mulia. Mengasihi sesama berarti ikut menjaga kehidupan, keadilan, kebenaran, dan martabat manusia. Dalam sebuah keluarga, ada seorang anak yang sering dimarahi karena nilainya kurang baik. Lama-kelamaan anak itu menjadi takut berbicara dan merasa tidak berharga. Suatu hari, orang tuanya sadar bahwa mendidik bukan berarti merendahkan. Mereka mulai mendengar, mendampingi, dan memberi semangat. Anak itu pun perlahan menjadi lebih percaya diri. Ilustrasi ini mengingatkan kita bahwa kasih bukan hanya memberi makan atau memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kasih juga berarti menjaga martabat, perasaan, dan hak setiap anggota keluarga untuk dihargai, didengar, dan diperlakukan dengan adil. Keluarga juga dipanggil menjadi tempat pertama untuk belajar menghargai hak asasi manusia. Di rumah, anak-anak belajar bahwa setiap orang: orang miskin, orang sakit, orang berbeda suku, agama, pendapat, atau keadaan hidup tetap harus dihormati sebagai sesama manusia.

Doa: Ya Tuhan, Jauhkan kami dari sikap semena-mena, tidak adil, dan merendahkan sesama. Amin. 

Senin, 10 Agustus 2026

bahan bacaan : Imamat 19 : 13 – 14 (TB2)

13 Janganlah engkau memeras sesamamu dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang buruh upahan sampai besok hari. 14 Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta jangan kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN.

Jangan Semena-Mena Kepada Sesama!

Imamat 19 berisi perintah Tuhan kepada umat Israel agar hidup kudus dalam relasi dengan Tuhan dan sesama. Perintah di ayat 13-14 menunjukkan bahwa Tuhan sangat memperhatikan cara manusia memperlakukan sesamanya, terutama mereka yang lemah, tidak berdaya, atau mudah dirugikan. Tuhan tidak hanya melihat ibadah umat-Nya, tetapi juga melihat kejujuran, keadilan, dan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Ungkapan penting dalam nas ini: “engkau harus takut akan Allahmu.” Artinya, manusia tidak boleh bertindak semena-mena hanya karena merasa lebih kuat, lebih berkuasa, atau karena orang lain tidak mampu membela diri. Takut akan Tuhan berarti sadar bahwa Tuhan melihat semua perbuatan kita, termasuk perlakuan kita terhadap sesama. Firman Tuhan mengajarkan bahwa orang percaya tidak boleh memperlakukan sesama secara tidak adil. Nasihat yang berulang-ulang dengan menggunakan kata “jangan” karena hati manusia mudah tergoda untuk mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain. Dalam keluarga, Firman ini mengajak kita untuk saling memperlakukan dengan adil dan penuh kasih. Orang tua tidak boleh memakai kuasa untuk menyakiti hati anak. Anak-anak tidak boleh merendahkan orang tua. Kakak tidak boleh menekan adik hanya karena merasa lebih besar. Suami dan istri juga dipanggil untuk saling menghargai, bukan saling menyakiti.

Doa: Tuhan, ajarlah keluarga kami untuk mengasihi Engkau dan tolonglah kami mengasihi sesama seperti diri kami sendiri.Amin.

Selasa, 11 Agustus 2026

bahan bacaan : Amsal 22 : 22 – 23 (TB2)

22 Janganlah merampasi orang lemah, karena ia lemah, dan janganlah menginjak-injak orang miskin di pintu gerbang. 23 Sebab TUHAN membela perkara mereka, dan mengambil nyawa orang yang merampasi mereka.

Tuhan Membela Orang Lemah

Orang lemah sering jadi sasaran karena mereka tidak punya kekuatan untuk melawan. Misalnya, ada penjual kaki lima di pinggir jalan yang dagangannya dihancurkan atau diambil oleh petugas tanpa membayar, ada anak dari keluarga miskin yang dibully (ditindas) di sekolah, atau seorang nenek yang ditipu dengan modus pura-pura diantar pulang ke rumah, padahal dompetnya dicuri. Dan masih banyak kisah miris lainnya tentang orang lemah yang menjadi korban. Dalam kenyataan tersebut, penulis Kitab Amsal (Salomo) mengingatkan kita, “Jangan merampas orang lemah karena ia lemah, dan janganlah menginjak-injak orang miskin”.  Bagian ini berisi peringatan Tuhan, agar kita tidak menyalahgunakan kekuasaan terhadap orang yang tidak berdaya. Sebab, meskipun orang lemah tidak mampu melawan, Tuhan sendiri  yang akan memberikan keadilan kepada mereka. Sebaliknya, orang yang menindas tidak akan luput dari penghakiman Tuhan. Ayat ini bukan hanya berisi peringatan, tetapi juga ajakan supaya orang percaya berlaku adil, menolong yang lemah dan menjadi pembela, bukan penindas.

Doa:  Roh Kudus tuntun kami untuk menjadi pembela bagi orang lemah bukan penindas. Amin.

Rabu, 12 Agustus 2026

bahan bacaan : Amsal 28 : 3 (TB2)

3 Orang miskin yang menindas orang lemah adalah seperti hujan deras, tetapi tidak memberi makanan.

Jangan Menindas yang Lemah

Hidup ini akan menjadi lebih baik dan indah apabila kita saling menghargai hak hidup. Sebab setiap orang berharga dan layak dihormati serta diperlakukan dengan adil. Namun, dalam Amsal 28:3 diperlihatkan hal yang berbeda, yaitu “Orang miskin menindas orang lemah”. Perikop ini menggambarkan keadaan yang seharusnya tidak terjadi, ketika seseorang yang juga berada dalam kesusahan justru memperlakukan orang yang lebih lemah dengan tidak adil. Hal ini menunjukkan bahwa penindasan tidak hanya dilakukan oleh orang kuat (mereka yang memiliki kuasa, jabatan, kekayaan), tetapi juga dilakukan oleh siapa saja termasuk orang miskin. Hal ini mengingatkan kita bahwa keadaan seseorang tidak boleh menjadi alasan untuk  berlaku tidak adil dan menindas sesama karena dapat membawa kehancuran. Sebaliknya, setiap orang dipanggil untuk hidup dengan kasih, keadilan dan menghargai sesama, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan.

Doa: Roh Kudus tuntunlah kami untuk hidup tidak menindas sesama Amin.  

Kamis, 13 Agustus 2026

bahan bacaan : Amsal 29 : 5 – 7 (TB2)

5 Orang yang menjilat sesamanya membentangkan jerat di depan kakinya. 6 Orang yang jahat terjerat oleh pelanggarannya, tetapi orang benar akan bersorak dan bersukacita. 7 Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak memahaminya.

Kita Dipanggil Untuk Membela Hak Orang Lemah

Ada kata bijak mengatakan, ”Hak orang lemah adalah tanggung jawab orang yang kuat”. Artinya, orang yang memiliki kuasa, jabatan, dan kedudukan yang lebih tinggi memiliki kewajiban untuk melindungi, menjaga dan memperjuangkan hak orang yang lemah dengan adil bukan untuk menindasnya, sebagaimana dijelaskan dalam ayat 7, “Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak memahaminya”. Orang yang hidup takut akan Tuhan lebih peduli terhadap orang yang lemah (miskin, janda, yatim piatu, orang asing) bahkan mereka membela dan memperjuangkan hak-hak mereka yang lemah, seperti: hak untuk diperlakukan adil, hak untuk mendapat perlindungan, hak untuk dikasihi dan ditolong, hak untuk diperlakukan dengan hormat, dan hak untuk hidup (tidak boleh disakiti atau dibunuh). Sebaliknya orang  fasik (orang jahat) tidak peduli terhadap  orang yang lemah. Ia cenderung egois, tidak mau tahu, bahkan bisa saja menindas sesama. Namun, kita diingatkan bahwa Tuhan menghukum mereka yang hidup tidak adil dan menindas sesamanya.

Doa: Roh Kudus mampukan kami untuk membela hak orang lemah, Amin  

Jumat, 14 Agustus 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 7 : 54 – 60 (TB2)

Stefanus dibunuh -- Saulus hadir
54 Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi. 55 Namun Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. 56 Lalu katanya: "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah." 57 Berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga, mereka serentak menyerbu dia. 58 Mereka menghalau dia ke luar kota, dan melemparinya dengan batu. Saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang pemuda yang bernama Saulus. 59 Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." 60 Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Sesudah berkata demikian, ia pun meninggal.

Tetap Setia, Tetap Mengampuni

Kisah seorang misionaris bersama keluarganya memberitakan injil di suku pedalaman di Afrika. Istri dan anak-anaknya dibunuh oleh kepala suku. Ia sangat marah dan berniat untuk membalas dendam. Namun, pada suatu hari, anak kepala suku sakit keras hingga hampir meninggal. Misionaris yang memiliki latar belakang medis itu langsung menawarkan diri untuk mengobati anak tersebut. Akhirnya, anak itu sembuh, dan kepala suku beserta semua anggota suku tersebut menjadi percaya serta menganut agama Kristen. Pengalaman pemberitaan injil dari misionaris tersebut, tidak jauh berbeda dengan pengalaman iman Stefanus (martir pertama Gereja Kristen) yang dihukum mati tanpa pengadilan oleh Mahkamah Agama karena ia memberitakan injil kepada banyak orang pada saat itu. Namun, yang terkesan adalah saat menjelang kematiannya ia memberikan pengampunan kepada mereka yang telah menganiayanya. Pesan bagi kita, tetaplah setia kepada Kristus dan tugas pemberitaan injil, sekalipun menghadapi penganiayaan bahkan kematian. Dan belajarlah memberikan pengampunan kepada orang-orang yang menyakiti kita. Jangan merampas hak hidup sesama manusia.

Doa: Tuhan, penuhi kami dengan Roh Kudus supaya kami dapat mengampuni mereka yang menyakiti ,Amin. 

Sabtu, 15 Agustus 2026

bahan bacaan : Imamat  19 : 32 – 34  (TB2)

32 Engkau harus bangkit berdiri di hadapan orang ubanan, menghormati orang yang tua dan takut akan Allahmu; Akulah TUHAN. 33 Apabila seorang pendatang tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. 34 Pendatang yang tinggal padamu harus kauperlakukan sama seperti orang Israel asli di antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu dahulu juga pendatang di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.

Hormati orang Tua, Jangan Menindas Pendatang atau Orang Asing

Panggilan Israel sebagai bangsa pilihan Tuhan mesti mewujudkan sikap mengasihi sesama manusia seperti mereka mengasihi diri sendiri. Hal ini ditunjukkan dengan penghormatan kepada mereka yang lanjut usia, tidak menindas para pendatang atau orang asing dengan memperlakukan mereka seperti saudara sendiri. Apa yang dilakukan oleh  menunjukkan ketaatan mereka kepada Tuhan Allah yang selalu mengingatkan Israel pada pengalaman mereka sebagai bangsa pendatang atau orang asing di Mesir. Tindakan demikian merupakan sikap hidup kudus sebagaimana Allah yang kudus, sehingga Israel dipilih untuk melakukannya dalam kehidupan mereka. Demikian pun juga kita sebagai keluarga Allah yang mesti mewujudkan panggilan kita dalam membangun relasi hidup dengan sesama baik dalam persekutuan keluarga, bertentangga, berjemaat maupun bermasyarakat. Menghormati mereka yang dituakan, mengasihi sesama sebagai saudara seperti mengasihi diri kita sendiri. Menolong dan membantu mereka ketika mereka membutuhkan bantuan dan pertolongan. Dengan demikian kita mampu meneladani kasih Allah dalam Kristus yang senantiasa mengasihi kita.

Doa:  Tuhan, kami mohon tuntunanMu bagi kami, agar kami mampu menghormati dan mengasihi sesama kami.  Amin   

*SUMBER : SHK BULAN AGUSTUS 2026

Tinggalkan komentar