Tema Bulanan : Gereja Tekun Meningkatkan Kapasitas Pelayan dan Umat
Tema Mingguan : Bersyukur dan Tekunlah Bermisi dengan Takut akan Allah
Minggu, 06 September 2026
bahan bacaan ke-1 : Mazmur 136: 1-3 (TB2)
Kasih setia Allah kepada orang Israel
Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 2 Bersyukurlah kepada Allah segala ilah! Sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 3 Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuan! Sesungguhnya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
bahan bacaan ke-2 : Pengkhotbah 4:17 – 5: 6 (TB2)
Takutlah akan Allah
(4-17) Jagalah langkahmu ketika engkau berjalan ke Rumah Allah! Mendekat untuk mendengar lebih baik dari pada mempersembahkan kurban yang dilakukan orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat. 2 (5-1) Janganlah terburu-buru membuka mulutmu, dan janganlah hatimu tergesa-gesa mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit saja. 3 (5-2) Karena sebagaimana mimpi datang dalam banyaknya kesibukan, demikian pula percakapan bodoh dalam banyaknya perkataan. 4 (5-3) Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda untuk menepatinya, karena Ia tidak berkenan kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. 5 (5-4) Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya. 6 (5-5) Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan apa yang dikerjakan tanganmu?
Bersyukur dan Tekunlah Bermisi
Hari ini gereja kita, Gereja Protestan Maluku (GPM), merayakan ulang tahunnya yang ke-91. Sebuah usia yang matang dalam perjalanan pelayanan dan kesaksian iman.
Firman Tuhan hari ini mengajak kita bersyukur dan berhenti sejenak untuk bertanya: masihkah kita bermisi dengan takut akan Allah? Firman ini mengingatkan, Allah melihat kita yang datang bersyukur kepada-Nya. Ibadah bukan sekadar rutinitas mingguan, bukan hanya hadir secara fisik, menyanyi, berdoa, atau mendengar khotbah. Ibadah sejati dimulai dari hati yang hormat, rendah hati, dan mau mendengarkan suara Tuhan. Sering kali orang berpikir bahwa bermisi berarti pergi ke tempat jauh, membangun gedung, atau melakukan kegiatan sosial. Semua itu penting. Tetapi misi yang paling mendasar justru dimulai dari cara kita beribadah kepada Allah. Jika kita datang kepada Tuhan dengan hati yang sombong, penuh keluhan, atau setengah hati, maka pelayanan kita kepada sesama pun akan kehilangan makna. Kita tidak dapat membawa kasih Kristus kepada orang lain jika kita sendiri tidak sungguh mengalami kasih-Nya dalam persekutuan dengan-Nya.Di usia GPM yang ke-91 tahun ini, kita dipanggil untuk tetap tekun bermisi. Namun ketekunan dalam misi hanya dapat lahir dari ibadah yang berkualitas dan hidup yang takut akan Allah. Dirgahayu GPM ke 91, Tuhan berkati!
Doa: Terima kasih Tuhan, ajar kami setia berjanji, Amin.
Senin, 07 September 2026
bahan bacaan : Ibrani 12 : 25 – 29 (TB2)
25 Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang memperingatkan mereka di bumi tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga? 26 Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi, melainkan langit juga." 27 Ungkapan "Satu kali lagi" menunjuk kepada penggantian dari apa yang tergoncangkan, yaitu apa yang dijadikan, supaya apa yang apa yang tidak tergoncangkan, tinggal tetap. 28 Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. 29 Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.
Hidup dengan Rasa “Takut” yang Sehat
Kata “takut” bukan berarti ngeri,gemetar atau takut dihukum seolah-olah Tuhan itu Hakim yang siap menghukum. Padahal, “takut akan Tuhan” dalam Alkitab artinya rasa hormat yang sangat dalam, seperti sikap kita saat bertemu Raja Agung yang sangat kita kasihi dan kita muliakan. Kita sadar bahwa Tuhan itu kudus, Dia itu hebat, dan kita tidak boleh main-main dengan dosa. Di zaman sekarang, banyak orang kehilangan rasa hormat ini. Orang berani menyepelekan aturan, berani korupsi, berani menyakiti sesama karena merasa tidak ada yang melihat. Tapi Firman hari ini mengingatkan: Tuhan kita adalah api yang menghanguskan kejahatan. Tidak ada satu pun yang tertutup bagi-Nya. Jadi, bagaimana cara kita meningkatkan kapasitas sebagai pelayan dan umat? Dimulai dari rasa takut ini. Karena kita takut mengecewakan Tuhan, kita jadi bekerja jujur meski tidak diawasi bos. Karena kita takut menyakiti hati Tuhan, kita jadi menjaga lidah agar tidak memfitnah tetangga. Rasa takut ini justru membuat kita bebas dari ketakutan lain: takut miskin, takut sakit, atau takut dihina manusia. Kalau kita sudah hormat pada Sang Pencipta alam semesta, apa lagi yang perlu kita takuti? Mari jadikan rasa hormat ini sebagai rem pengendali dalam hidup kita, agar langkah kita selalu lurus di jalan-Nya.
Doa: Tuhan, beri kami hati yang hormat pada-Mu,Amin.
Selasa, 08 September 2026
bahan bacaan : Pengkhotbah 8 : 9 – 13 (TB2)
Perbuatan Allah tidak dapat diselami manusia
9 Semua ini telah kulihat dan aku memberi perhatian kepada segala perbuatan yang dilakukan di bawah matahari, ketika orang yang satu menguasai yang lain hingga ia celaka. 10 Aku juga melihat orang-orang fasik dimakamkan, mereka yang tadinya keluar masuk tempat kudus. Orang yang berlaku benar malah dilupakan dalam kota. Inipun sia-sia. 11 Karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, hati anak-anak manusia penuh niat untuk berbuat jahat. 12 Walaupun orang berdosa yang seratus kali berbuat jahat hidup lama, aku tahu, orang yang takut akan Allah akan baik keadaannya, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya. 13 Tetapi orang fasik tidak akan baik keadaannya dan seperti bayang-bayang ia tidak akan hidup lama, karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah.
Nikmati Hidup, Jangan Cuma Mengejar Angin
Pernahkah saudara-saudari merasa hidup ini tidak adil? Kok orang jahat malah kelihatan sukses, hidupnya enak, padahal dia curang di sana-sini? Sementara orang baik malah sering menderita? Pengkhotbah mengakui realita pahit ini: memang ada hal-hal di dunia ini yang tidak masuk akal bagi otak kita. Tapi pesannya jelas: jangan iri hati! Jangan sampai kita ikut-ikutan jadi jahat hanya karena melihat orang jahat untung. Itu namanya “mengejar angin”. Hasilnya cuma kelelahan dan kekecewaan. Kesenangan orang berdosa itu cuma sementara, seperti busa sabun yang indah sebentar lalu pecah hilang tak berbekas. Sebaliknya, Firman Tuhan menjanjikan kebahagiaan bagi mereka yang “takut akan Allah”. Bahagia di sini bukan berarti kaya raya atau bebas masalah, tapi punya ketenangan hati yang tidak bisa dibeli uang. Orang yang takut Tuhan bisa tidur nyenyak karena hatinya bersih. Mereka menikmati hidup sehari-hari, makan minum bersama keluarga, bekerja dengan jujur, tertawa dengan anak-anak, sebagai hadiah dari Tuhan. Jadi, tugas kita minggu ini adalah melatih diri untuk puas. Stop membandingkan hidup kita dengan orang lain di medsos. Syukuri apa yang ada, lakukan bagian kita dengan benar, dan biarkan Tuhan yang mengurus sisanya. Itulah kunci hidup yang tenang.
Doa: Tuhan, ajar kami puas dan hidup benar. Amin.
Rabu, 09 September 2026
bahan bacaan : Lukas 8 : 1 – 3 (TB2)
Perempuan-perempuan yang melayani Yesus
Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas rasul bersama Dia, 2 demikian juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, 3 Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka.
Misi Itu Bukan Cuma Buat Pendeta
Sering ada anggapan kalau “bermisi” atau melayani Tuhan itu cuma tugas Pendeta, Penatua, atau Diaken saja. Umat biasa tinggal duduk manis di bangku gereja, dengar khotbah, lalu pulang. Salah besar! Lihat cerita di Lukas 8 ini. Yesus berkeliling memberitakan Injil, dan Dia tidak sendirian. Dia didampingi oleh kedua belas murid, dan juga oleh beberapa perempuan seperti Maria Magdalena, Yohana, dan Susana. Bahkan dikatakan mereka “melayani Yesus dengan kekayaan mereka”. Artinya, misi Tuhan itu dikerjakan bersama-sama oleh semua orang, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, kaya dan sederhana. Ini pesan penting untuk peningkatan kapasitas kita semua. Mungkin kita tidak bisa berkhotbah di mimbar, tapi kita bisa melayani dengan masakan untuk kegiatan gereja. Mungkin kita tidak punya uang banyak untuk memberi persembahan besar, tapi kita punya waktu untuk menjenguk tetangga yang sakit. Mungkin kita hanya ibu rumah tangga, tapi ketika kita rajin berdoa itu adalah kekuatan bagi misi gereja. Tidak ada pelayanan yang kecil di mata Tuhan jika dilakukan dengan kasih. Mari kita tekun menggunakan talenta masing-masing. Jangan tunggu dipanggil jadi pejabat gereja baru mau gerak. Mulai hari ini, jadilah misionaris di lingkunganmu sendiri: di pasar, di kantor, di sekolah, dan di rumah.
Doa: Tuhan, pakai hidup kami untuk melayani sesama,Amin.
Kamis, 10 September 2026
bahan bacaan : Pengkhotbah 12 : 9 – 14 (TB2)
Akhir kata
9 Selain berhikmat, Pengkhotbah juga mengajarkan pengetahuan kepada umat. Ia menimbang, menguji dan menyusun banyak amsal. 10 Pengkhotbah berusaha mendapatkan kata-kata yang menyenangkan dan menulis dengan jujur kata-kata kebenaran. 11 Kata-kata orang berhikmat seperti ujung tongkat penggiring ternak dan kumpulan-kumpulannya seperti paku-paku yang tertancap, diberikan oleh satu gembala. 12 Lagipula, anakku, waspadalah! Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan. 13 Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan peliharalah perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. 14 Sesungguhnya Allah akan membawa setiap perbuatan ke penghakiman yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.
Inti Hidup Itu Sederhana: Takutlah akan Allah!
Di akhir hayatnya, sang Pengkhotbah merangkum seluruh pengalaman hidupnya yang panjang dan penuh kebijaksanaan. Setelah mencoba segala macam hal di dunia ini, ia menemukan satu kesimpulan final yang sangat sederhana: “Takutlah akan Allah dan lakukanlah perintah-perintah-Nya.” Titik. Tidak ada rumus rahasia untuk sukses, tidak ada jalan pintas menuju kebahagiaan abadi. Semuanya kembali pada hubungan kita dengan Tuhan dan ketaatan kita pada firman-Nya. Di dunia yang semakin rumit dengan berbagai pilihan dan godaan, kita sering lupa hal yang paling dasar ini. Kita sibuk membangun menara prestasi, tapi lupa pondasi imannya. Mari kita evaluasi diri: Sudahkah kita menjadi pribadi yang makin takut akan Tuhan seiring bertambahnya usia dan pengalaman? Atau jangan-jangan kita malah makin sombong? Ingatlah bahwa setiap perbuatan, bahkan yang tersembunyi sekalipun, akan dibawa ke pengadilan Tuhan. Ini bukan untuk menakut nakuti, tapi untuk menyadarkan kita bahwa hidup ini bermakna.Mari tekun meningkatkan kapasitas rohani kita bukan supaya dipuji manusia, tapi supaya kita hidup semakin memuliakan Tuhan. Hiduplah dengan prinsip sederhana: cintai Tuhan, taati aturan-Nya, dan kasihilah sesama. Itulah inti dari segalanya.
Doa: Tuhan, tuntun kami hidup taat sampai akhir Amin.
Jumat, 11 September 2026
bahan bacaan : 2 Korintus 5 : 11 – 21 (TB2)
Pelayanan untuk pendamaian
11 Kami tahu apa artinya takut akan Tuhan, karena itu kami berusaha meyakinkan orang. Allah mengenal kami dan aku harap kamu juga mengenal kami menurut penilaian hati nuranimu.12 Dengan ini kami tidak berusaha memuji-muji diri kami sekali lagi kepada kamu, tetapi kami mau memberi kesempatan kepada kamu untuk memegahkan kami, supaya kamu dapat menghadapi orang-orang yang bermegah karena hal-hal lahiriah dan bukan batiniah. 13 Sebab jika kami tidak menguasai diri, hal itu demi Allah, dan jika kami menguasai diri, hal itu demi kamu. 14 Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. 15 Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. 16 Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang pun juga menurut ukuran manusia. Jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. 17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. 18 Semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. 19 Sebab di dalam Kristus, Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka dan Dia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. 20 Jadi kami ini utusan-utusan Kristus, sebab Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; Dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. 21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.
Utusan Damai Kristus
Rasul Paulus mengingatkan bahwa setiap orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Hidup lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang. Pembaruan ini bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi membawa kita pada sebuah panggilan mulia: menjadi pelayan-pelayan pendamaian. Allah telah lebih dahulu mendamaikan dunia dengan diri-Nya melalui Kristus, dan kini Ia mempercayakan pelayanan itu kepada kita. Menjadi pelayan perdamaian berarti hidup dengan hati yang dipenuhi kasih, bukan kebencian; membawa pengampunan, bukan dendam; serta membangun hubungan yang retak, bukan memperlebar perpecahan. Dalam keluarga, gereja, dan masyarakat, kita dipanggil untuk menjadi jembatan yang menyatukan, bukan tembok yang memisahkan. Tugas ini memang tidak mudah, tetapi kita tidak berjalan sendiri. Kristus yang telah mendamaikan kita dengan Allah juga memampukan kita untuk berdamai dengan sesama. Ketika kita membuka hati untuk mengampuni dan mengasihi, kita sedang mencerminkan kasih Allah itu sendiri. Karena itu, marilah kita hidup sebagai utusan Kristus, yang melalui hidup kita, orang lain dapat merasakan damai sejahtera dari Tuhan. Jadilah pembawa damai di mana pun kita berada, sebab itulah identitas kita sebagai pelayan Kristus.
Doa Tuhan, Jadikan kami pembawa damai. Amin
Sabtu, 12 September 2026
bahan bacaan : 2 Korintus 6 : 1 – 10 (TB2)
Paulus dalam pelayanannya
Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan menyia-nyiakan anugerah Allah, yang telah kamu terima. 2 Sebab Allah berfirman: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari keselamatan, Aku menolong engkau." Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu. 3 Dalam hal apapun kami tidak menyebabkan orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela. 4 Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dengan penuh ketabahan dalam penderitaan, kesengsaraan dan kesukaran, 5 dalam menanggung pukulan, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga dan kelaparan; 6 dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tulus ikhlas; 7 dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan baik di tangan kanan maupun tangan kiri 8 ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat dan ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, ternyata orang benar, 9 sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; 10 sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak berpunya, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.
Setia dan Tekun
Bacaan 2 Korintus 6:1-10 menegaskan bahwa anugerah Allah adalah pemberian yang berharga dan tidak boleh disia-siakan. Anugerah itu bukan hanya menyelamatkan, tetapi juga memanggil kita untuk hidup dalam ketaatan dan kesungguhan melayani Tuhan. Rasul Paulus mengingatkan bahwa sekarang adalah waktu perkenanan itu, hari ini adalah saat keselamatan, sehingga kita diajak untuk meresponsnya dengan sungguh-sungguh. Dalam pelayanannya, Paulus menunjukkan sikap tabah dan tekun dalam segala keadaan. Ia menghadapi penderitaan, kesukaran, dan penolakan, namun tetap setia dan tidak menyerah. Pelayanan yang ia lakukan bukan karena keadaan yang mudah, melainkan karena kesadaran akan anugerah Allah yang besar dalam hidupnya. Demikian juga kita, dalam menjalani kehidupan dan pelayanan, sering diperhadapkan dengan berbagai tantangan. Namun firman Tuhan mengajak kita untuk tetap bertahan, setia, dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan. Anugerah Allah menjadi sumber kekuatan untuk terus melangkah. Marilah kita hidup dengan penuh syukur, melayani dengan tekun, dan tetap setia dalam segala keadaan, sehingga hidup kita memuliakan Tuhan.
Doa: Tuhan, kuatkan kami setia selalu menjalankan misi-Mu, Amin
*SUMBER : SHK BULAN SEPTEMBER 2026, LPJ-GPM