Santapan Harian Keluarga, 27 Sept – 03 Okt 2026

Tema Bulanan : Gereja Tekun Meningkatkan Kapasitas Pelayan dan Umat

Tema Mingguan : Bekerja dengan Tekun, Jujur dan Bertanggungjawab

Minggu, 27 September 2026

bahan bacaan : Lukas 16 : 1 – 13 (TB2)

Perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada orang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. 2 Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apa ini yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawaban atas apa yang engkau kelola, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. 3 Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak kuat, mengemis aku malu. 4 Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. 5 Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah utangmu kepada tuanku? 6 Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Katanya kepada orang itu: Terimalah surat utangmu, duduklah dan tulislah segera: Lima puluh tempayan. 7 Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Berapakah utangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Terimalah surat utangmu, dan tulislah: Delapan puluh pikul. 8 Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang. 9 Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi."
10 "Siapa yang setia dalam hal kecil, setia juga dalam hal besar. Siapa yang tidak benar dalam hal kecil, tidak benar juga dalam hal besar. 11 Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? 12 Jikalau kamu tidak setia mengenai harta orang lain, siapakah yang akan memberikan hartamu sendiri kepadamu? 13 Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Sebab ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

 Tekun, Jujur Dan Bertanggung Jawab

Setiap pekerjaan pasti membutuhkan ketekunan, kejujuran dan tanggung jawab tinggi dalam menjalaninya. Kalau kita pahami lebih dalam sesungguhnya wujud dari tanggung jawab itu dinyatakan melalui ketekunan dan kejujuran dimana ada  penghargaan atas hidup dan kerja  itu sendiri. Marcus Aurelius pernah berkata : “tanggung jawab adalah milikmu, tidak ada yang bisa menghentikan anda dari bersikap jujur atau berterus terang”. Ungkapan ini memberi makna bahwa bagaimanapun kita adanya nanti sangat bergantung pada pilihan dan keputusan kita sendiri. Oleh karena itu baik tekun, jujur dan bertanggung jawab adalah sebetulnya pilihan dan keputusan kita. Hal ini sejalan dengan kisah bendahara yang tidak jujur dalam bacaan ini sebab ketidakjujurannya adalah pilihannya sendiri dan ia harus menerima konsekuensi dari perbuatannya yaitu dipecat oleh tuannya. Kisah ini memang menarik karena di satu sisi tentu kita pun belajar bahwa ketidakjujuran dapat menimbulkan banyak dampak baik bagi diri sendiri tapi juga orang lain. Oleh karena itu ketika kita berkomitmen pada kejujuran, kita sedang membantu mengurangi tingkat kesalahpahaman, keraguan dan ketakutan di masyarakat. Perbuatan bendahara yang tidak jujur dan menyalahgunakan uang tuannya tidak harus menjadi perilaku kita baik dalam kehidupan keluarga, gereja, dunia kerja kita dan masyarakat. Kejujuran harus tetap menjadi warisan nilai iman yang terpelihara dari genarasi ke genarasi sebab membawa dampak besar bagi hidup yang penuh damai Sejahtera.

Doa: Ya Tuhan, mampukan kami bekerja denan tekun, jujur dan bertanggungjawab. Amin

Senin, 28 September 2026

bahan bacaan : Ayub 8 : 1 – 7 (TB2)

Bildad membela keadilan Allah
Berbicaralah Bildad, orang Suah: 2 "Berapa lamakah lagi engkau akan berbicara begitu, dan perkataan mulutmu seperti angin yang menderu? 3 Mungkinkah Allah membengkokkan keadilan? Mungkinkah Yang Mahakuasa membengkokkan kebenaran? 4 Jikalau anak-anakmu telah berbuat dosa terhadap Dia, maka Ia telah membiarkan mereka dikuasai oleh pelanggaran mereka. 5 Tetapi engkau, kalau engkau mencari Allah, dan memohon belas kasihan dari Yang Mahakuasa, 6 kalau engkau bersih dan jujur, tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu. 7 Kedudukanmu yang dahulu akan terlihat kecil, tetapi keadaanmu yang kemudian akan menjadi sangat mulia.

 Hidup Bersih dan Jujur

Suatu ketika, seorang ibu kehilangan anaknya. Dalam duka yang begitu dalam, bukannya mendapatkan penghiburan, ia justru mendengar perkataan yang melukai: “Mungkin ini hukuman Tuhan karena kesalahanmu.” Perkataan itu seakan-akan menambah beban di atas luka yang sudah terbuka. Alih-alih menguatkan, perkataan ini membuatnya semakin tenggelam dalam rasa bersalah dan kehilangan. Hal ini mengingatkan kita kepada Bildad yang menilai penderitaan Ayub sebagai akibat dosa. Padahal, tidak semua penderitaan adalah hukuman atas dosa. Namun di balik pemahaman yang keliru itu, ada suatu kebenaran: hidup yang bersih dan jujur di hadapan Tuhan tidak pernah sia-sia. Tuhan melihat hati yang tulus dan setia. Ia tidak menutup mata terhadap pergumulan umat-Nya. Karena itu tetaplah hidup dalam kebenaran dan kejujuran. Percayalah, Tuhan sanggup memulihkan “rumah” kita  baik kehidupan keluarga, maupun masa depan sesuai dengan kehendak-Nya. Pemulihan Tuhan mungkin tidak selalu cepat, tetapi pasti dan penuh kasih.

Doa: Tuhan, ajar kami hidup bersih dan jujur. Pulihkan kehidupan keluarga kami. Amin.

Selasa, 29 September 2026

bahan bacaan : 2 Raja-raja 12 : 9 – 16 (TB2)

9 Lalu Imam Yoyada mengambil sebuah peti, membuat lobang pada tutupnya. Ia  menaruhnya di samping mezbah, di sebelah kanan apabila orang masuk ke rumah TUHAN. Para imam penjaga pintu menaruh ke dalamnya semua uang yang dibawa orang ke dalam rumah TUHAN. 10 Ketika mereka melihat bahwa uang dalam peti itu sudah banyak, sekretaris raja datang bersama imam besar, lalu membungkus dan menghitung uang yang terkumpul dalam rumah TUHAN. 11 Mereka menyerahkan jumlah uang yang ditetapkan ke tangan para pekerja yang dijadikan pengawas rumah TUHAN. Mereka ini kemudian membayarkannya kepada tukang-tukang kayu, tukang-tukang bangunan yang mengerjakan rumah TUHAN, 12 tukang-tukang tembok dan para pemotong batu; juga membeli kayu  dan potongan batu untuk memperbaiki kerusakan Rumah TUHAN dan segala pengeluaran untuk perbaikan rumah itu. 13 Tetapi untuk rumah TUHAN tidak dibuat bejana perak, pisau, bokor penyiraman, nafiri, perlengkapan apapun dari emas atau perak, dengan uangnya yang dibawa ke dalam rumah TUHAN. 14 Sebab mereka menyerahkannya kepada para pekerja, untuk dipakai memperbaiki rumah TUHAN. 15 Mereka tidak meminta perhitungan dengan orang-orang yang diserahi uang untuk diberikan kepada para pekerja, sebab mereka itu bekerja dengan jujur. 16 Tetapi uang kurban penebus salah dan uang kurban penghapus dosa tidak dibawa ke dalam rumah TUHAN; semuanya itu adalah bagian para imam.

Mengutamakan Kejujuran

Dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pelayanan, kita sering diperhadapkan pada hal-hal kecil yang menguji hati: bagaimana kita mengelola kepercayaan, menjalankan tanggung jawab, dan bersikap tulus pada apa yang dipercayakan kepada kita. Terkadang hal-hal sederhana ini luput dari perhatian, padahal justru di sanalah karakter kita dibentuk. Firman Tuhan dalam 2 Raja-raja 12:9-16 menceritakan bagaimana Imam Yoyada menata kembali pengelolaan persembahan dengan cara yang terbuka. Uang yang terkumpul dipergunakan untuk memperbaiki Bait Tuhan, dan para pekerja melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Bahkan mereka tidak diawasi secara ketat, karena mereka dikenal sebagai orang-orang yang dapat dipercaya. Dari sini kita belajar bahwa Tuhan berkenan bukan hanya pada apa yang kita lakukan, tetapi juga bagaimana kita melakukannya. Kejujuran dan ketulusan menjadi dasar yang memampukan pemulihan terjadi baik dalam pelayanan, keluarga, maupun kehidupan pribadi.

Doa: Tuhan, mampukan kami bekerja dengan rajin dan jujur. Amin.

Rabu, 30 September 2026

bahan bacaan : Amsal 21 : 5 – 6 (TB2)

5 Rancangan orang rajin pasti mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa pasti mengalami kekurangan. 6 Memperoleh harta benda dengan lidah dusta adalah uap yang lenyap dari orang yang mencari maut.

Kerja Jujur Mendatangkan Berkat

Di tengah realitas hidup saat ini, tidak sedikit orang yang tergoda untuk menjalani hidup dengan cara yang kurang bertanggung jawab, seperti enggan bekerja dengan sungguh-sungguh, terlalu tergantung pada bantuan, atau mencari jalan pintas melalui pinjol, praktik judi, maupun cara lain yang tidak tepat. Tekanan ekonomi yang semakin meningkat juga sering membuat sebagian orang tergoda untuk mengabaikan nilai kejujuran demi memperoleh keuntungan dengan cepat. Namun, Kitab Amsal 21:5-6 mengingatkan bahwa rancangan orang yang tekun akan membawa kelimpahan, sedangkan keuntungan yang diperoleh dengan cara yang tidak benar hanya bersifat sementara dan pada akhirnya mendatangkan kesulitan. Firman Tuhan ini menegaskan bahwa keberhasilan sejati tidak hanya dilihat dari hasil, tetapi dari proses yang dijalani dengan benar. Oleh karena itu, kita diajak untuk hidup dengan disiplin, bekerja dengan penuh tanggung jawab, menggunakan setiap kesempatan dengan bijaksana, serta tetap menjujung tinggi kejujuran. Dengan demikian kita mempercayakan hidup kepada Tuhan melalui proses yang benar,  sehingga berkat yang kita terima menjadi berkat yang membawa kebaikan dan damai sejahtera bagi diri sendiri maupun sesama.

Doa: Tuhan, kami percaya berkatMu ada bagi kami yang bekerja dengan jujur, Amin.

Kamis, 01 Oktober 2026

bahan bacaan : Amsal 11 : 1 – 4 (TB2)

Neraca yang curang menjijikkan bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat. 2 Bila keangkuhan tiba, datang juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati. 3 Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya. 4 Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut.

Jadilah Pribadi yang Jujur

Di dunia dewasa ini, kejujuran merupakan hal yang sangat penting. Tanpa kejujuran, seseorang tidak akan mudah dipercaya. Kita mungkin pernah diperhadapkan dengan situasi seperti ini. Kita mengalami kekurangan dan tiba-tiba kita menemukan barang  berharga milik orang lain. Apakah yang menjadi pilihan sikap kita? Sebagai orang percaya kita takut Tuhan dan karena itu kita diajak untuk bersikap jujur. Inilah yang ditekankan dalam teks bacaan hari ini. Kejujuran adalah karakter yang dibentuk dalam kesadaran mengatakan benar terhadap yang benar dan salah terhadap yang salah. Kejujuran adalah juga soal mengakui milik dan mengatakan dengan berani tentang yang buka milik. Hidup orang bijak adalah hidup yang bersesuaian dengan kehendak Tuhan. Menjadi pribadi yang jujur itu adalah kewajiban. Orang jujur hidupnya diberkati Tuhan. Marilah kita menjadi pribadi yang jujur sebab dengan kejujuran, kita memperlihatkan kehidupan sebagai orang berhikmat.

Doa: Tuhan Yesus ajar kami untuk selalu bersikap jujur, Amin.

Jumat, 02 Oktober 2026

bahan bacaan : Amsal 12 : 24 – 28 (TB2)

24 Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa. 25 Kekhawatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia. 26 Orang benar mendapati tempat penggembalaannya, tetapi jalan orang fasik menyesatkan mereka sendiri. 27 Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga. 28 Di jalan kebenaran terdapat hidup, tetapi jalan kemurtadan menuju maut.

Janganlah Malas, Rajinlah Bekerja

Perkembangan harga barang dan tuntutan hidup membuat perjalanan kita di saat-saat sekarang menjadi tidak mudah. Kita dituntut bekerja keras demi memenuhi kebutuhan. Demi kehidupan, kita tidak bisa berpangku tangan. Pekerjaan apa saja akan ditekuni  demi kelanjutan hidup. Tetapi  kesadaran ini ternyata hanya dimiliki oleh orang yang rajin. Bagi orang malas, mereka hanya mau hidup senang tanpa harus mengeluarkan keringat. Di saat orang lain sementara berjuang memenuhi hidup, mereka justru malah menunjukkan kemalasan. Amsal menggambarkan mereka sebagai orang yang berhati bebal. Adapun karakteristik utama orang bebal adalah orang yang tidak takut Tuhan. Kebebalan membuat  mereka tidak mau mendengarkan nasihat. Karakter hidup seperti ini hanya akan membuat mereka mengalami kesusahan. Amsal menyebutkan bahwa bila orang rajin menikmati kesenangan, mereka sebaliknya yaitu kesusahan. Kita tentu tidak mau hidup susah. Karena itu, marilah kita rajin bekerja. Jangan malas, sebab kemalasan hanya akan membuat hidup kita susah. Ingatlah “Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga”.

Doa: ya Tuhan Yesus ajar kami untuk selalu bersikap rajin dalam berusaha, Amin.

Sabtu, 03 Oktober 2026

bahan bacaan : Amsal 13 : 4 – 5 (TB2)

4 Hati orang malas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan. 5 Orang benar benci kepada dusta, tetapi orang fasik busuk dan memalukan.

Jangan Kerja Baku Harap

Pekerjaan adalah panggilan Tuhan dan bila diitekuni dengan kesungguhan hati merupakan wujud pengucapan syukur dan pertanggungjawaban kita kepada-Nya. Hanya saja terkadang ditemukan pribadi-pribadi yang tidak maksimal melakukannya. Satu bentuk kecendrungan perilaku itu nampak melalui model kerja yang hanya bisa mengharapkan kerja keras orang lain atau yang dikenal dengan istilah “kerja baku harap”.. Gaya hidup macam ini dikritik oleh teks kita hari ini. Sebagai kitab pengajaran hikmat, Amsal menekankan pentingnya tidak bermalas-malasan sebab  mengakibatkan kesia-siaan. Bila kita menginginkan sesuatu, kita harus mengusahakannya dengan sungguh-sungguh dan bukan atas dasar “baku harap”. Selagi sesuatu hal bisa kita kerjakan, kita harus bisa melakukannya sendiri tanpa harus menunggu. Hikmat dari Tuhan menolong kita memahami betul apa yang harus kita kerjakan. Benar, kita perlu kerjasama sebab semua hal tidak bisa kita kerjakan sendiri. Tetapi yang terlebih penting adalah kita harus tahu bahwa jangan membawa kerja baku harap dalam suatu pencapaian tujuan. Kita tidak akan pernah mencapai apapun bila itu menjadi prinsip kerja kita.

Doa: Tuhan Yesus,tolonglah kami untuk rajin bekerja dan tidak kerja baku harap, Amin.

*SUMBER : SHK BULAN SEPT & OKT 2026, LPJ-GPM

Tinggalkan Balasan