Santapan Harian Keluarga, 11 – 17 Oktober 2026

Tema Bulanan : Gereja Mewartakan Kasih Allah Yang Tidak Berkesudahan

Tema Mingguan : Memberi Tanpa Pamrih Sebagai Wujud Kasih Yang Rela Berkorban

Minggu, 11 Oktober 2026

bahan bacaan : 2 Samuel 24 : 18 – 25 (TB2)

Mezbah didirikan dan Tulah berhenti
18 Pada hari itu Gad datang kepada Daud dan berkata kepadanya: "Pergilah, dirikanlah mezbah bagi TUHAN di tempat pengirikan milik Arauna, orang Yebus." 19 Daud pun pergi, sesuai dengan perkataan Gad, seperti yang diperintahkan TUHAN. 20 Ketika Arauna memandang ke bawah, ia melihat raja beserta pegawai-pegawainya mendatanginya. Arauna pun ke luar, lalu sujud kepada raja dengan muka sampai ke tanah. 21 Arauna bertanya: "Untuk apakah tuanku raja datang kepada hambanya ini?" Jawab Daud: "Untuk membeli tempat pengirikan ini darimu dengan maksud mendirikan mezbah bagi TUHAN, supaya tulah ini berhenti menimpa rakyat." 22 Lalu berkatalah Arauna kepada Daud: "Baiklah tuanku raja mengambilnya dan mempersembahkan apa yang dipandangnya baik; Inilah lembu-lembu untuk kurban bakaran, juga papan-papan pengirik dan perangkat kuk lembu untuk kayu bakar. 23 Semuanya ini, ya raja, Arauna berikan kepada raja." Arauna berkata pula kepada raja: "Kiranya TUHAN, Allahmu, berkenan kepadamu." 24 Tetapi kata raja kepada Arauna: "Jangan, aku benar-benar mau membelinya darimu dengan suatu harga. Aku tidak akan mempersembahkan kepada TUHAN, Allahku, kurban bakaran dengan cuma-cuma." Lalu Daud membeli tempat pengirikan dan lembu-lembu itu seharga lima puluh syikal perak. 25 Di sana Daud mendirikan mezbah bagi TUHAN dan mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan. TUHAN pun mengabulkan doa untuk negeri itu, dan tulah berhenti menimpa orang Israel.

Arti Sebuah Pengorbanan

Firman Tuhan ini mengajarkan kita tentang arti sejati sebuah pengorbanan. Sikap Daud terhadap Arauna memberikan teladan iman yang sangat kuat bagi kita : ibadah dan persembahan kepada Tuhan tidak boleh didasarkan pada sesuatu yang murah, gampang, atau tanpa pengorbanan. Di tengah tantangan kehidupan saat ini, kita sering kali terjebak dalam mentalitas serba instan dan hitung-hitungan dalam memberi. Kisah ini menegur kita sebagai keluarga untuk merefleksikan kembali motif kita dalam melayani dan memberi, baik di dalam gereja maupun di tengah masyarakat. Memberi yang sejati adalah ketika kita rela melepaskan ego, kenyamanan, dan milik kita yang paling berharga demi kemuliaan nama Tuhan dan kebaikan sesama. Kasih yang rela berkorban tidak pernah mencari keuntungan diri sendiri, melainkan bergerak atas dasar ketulusan tanpa pamrih. Mari kita jadikan perenungan ini sebagai landasan hidup dalam membangun kehidupan mesra dengan Allah dan sesama, seturut semangat “hidup orang bersaudara” di bumi Maluku. Ketika kita mampu memberi dengan sukacita dan kerelaan berkorban baik itu waktu, tenaga, maupun materi maka mezbah ucapan syukur yang kita dirikan akan mendatangkan berkat dan pemulihan.

Doa : Tuhan, ajarkan kami melakukan teladan Kasih-Mu dengan rela berkorban, bagi Kemuliaan nama-MU, amin

Senin, 12 Oktober 2026

bahan bacaan : Kejadian 23 : 1 – 20 (TB2)

Kematian Sara dan pembelian kuburnya
Sara hidup selama seratus dua puluh tujuh tahun; sepanjang itulah umur Sara. 2 Kemudian Sara meninggal di Kiryat-Arba, yaitu Hebron, di tanah Kanaan, lalu Abraham datang meratapi dan menangisi Sara. 3 Sesudah itu Abraham bangun dari sisi isterinya yang meninggal itu, lalu berkata kepada bani Het: 4 "Aku ini pendatang yang menumpang di antara kamu; berikanlah kepadaku kuburan sebagai milik di antara kamu, supaya aku dapat mengantar jenazah isteriku dan menguburkannya." 5 Jawab Bani Het kepada Abraham: 6 "Dengarlah kami, tuanku. Tuanku ini seorang pemimpin agung di antara kami; jadi kuburkanlah jenazah isterimu di kuburan kami yang terbaik. Tidak ada seorangpun dari kami yang akan menolak menyediakan kuburannya bagimu untuk menguburkan jenazah isterimu." 7 Kemudian sujudlah Abraham di hadapan bani Het, penduduk negeri itu, 8 serta berkata kepada mereka: "Jika kamu setuju, bahwa aku mengantar jenazah isteriku dan menguburkannya, dengarkanlah aku dan tolonglah mintakan kepada Efron bin Zohar, 9 supaya ia memberikan kepadaku gua Makhpela miliknya itu, yang terletak di ujung ladangnya; baiklah ia memberikannya dengan harga penuh kepadaku sebagai kuburan milikku di antara kamu." 10 Pada waktu itu Efron hadir di antara bani Het. Lalu jawab Efron, orang Het itu, kepada Abraham yang didengar oleh bani Het, oleh semua orang yang datang di pintu gerbang kota: 11 "Tidak, tuanku, dengarkanlah aku; ladang itu kuberikan kepadamu dan gua yang di sanapun kuberikan kepadamu; di depan mata orang-orang sebangsaku aku memberikannya kepadamu; kuburkanlah jenazah isterimu." 12 Lalu sujudlah Abraham di hadapan penduduk negeri itu 13 serta berkata kepada Efron, yang didengar oleh mereka: "Sekiranya engkau berkenan, dengarkanlah aku: aku bayar harga ladang itu; terimalah dariku, supaya aku dapat menguburkan jenazah isteriku di sana." 14 Jawab Efron kepada Abraham: 15 "Tuanku, dengarkanlah aku: sebidang tanah seharga empat ratus syikal perak, apalah artinya itu bagi engkau dan aku? Kuburkan sajalah jenazah isterimu." 16 Lalu Abraham mendengarkan usul Efron, ia menimbang perak untuk Efron, sebanyak yang dimintanya di hadapan bani Het, empat ratus syikal perak, seperti yang berlaku di antara para saudagar. 17 Demikianlah ladang Efron, yang terletak di Makhpela di sebelah timur Mamre, ladang dan gua yang di sana, serta semua pohon di ladang itu, hingga di seluruh tanah batas itu, 18 beralih kepada Abraham menjadi miliknya, di depan mata bani Het itu, di depan semua orang yang datang di pintu gerbang kota. 19 Sesudah itu Abraham menguburkan Sara, isterinya, di dalam gua ladang Makhpela, di sebelah timur Mamre, yaitu Hebron di tanah Kanaan. 20 Demikianlah ladang dengan gua yang ada di sana beralih dari bani Het kepada Abraham menjadi kuburan miliknya.

Iman dan Kualitas Hidup Abraham

Teks ini memperlihatkan integritas hidup seorang beriman mampu menggerakkan hati orang-orang di sekitarnya untuk memberi dengan tulus. Kisah pedih tentang kematian Sara berubah menjadi kesaksian iman yang indah ketika Abraham hendak membeli sebidang tanah dari bangsa Het untuk kuburan istrinya. Kerelaan bangsa Het memberi ini lahir bukan karena sebuah paksaan, melainkan karena mereka melihat langsung kualitas hidup Abraham yang luar biasa, sampai-sampai mereka menyebutnya sebagai seorang “raja agung di tengah-tengah kami” atau “pemimpin yang diutus Allah, kisah ini memberikan teladan mendalam tentang pentingnya menjaga karakter dan nama baik di tengah masyarakat. Abraham tidak pernah memaksakan kehendaknya atau memanfaatkan statusnya, melainkan selalu bertindak jujur, hormat, dan penuh sopan santun, bahkan saat hatinya sedang hancur karena berduka. Integritas inilah yang memancarkan wibawa rohani, sehingga orang lain dengan sukarela mengulurkan tangan membantu. Kita diajak untuk terus menanam hidup berwibawa melalui kejujuran, ketulusan dan sikap saling menghormati dalam kepelbagaian. Tuhan Yesus menolong kita.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk punya hati yang rela berkorban. Amin.

Selasa, 13 Oktober 2026

bahan bacaan : Yeremia 52 : 31 – 34 (TB2)

Yoyakhin dikasihani
31 Pada tahun ketiga puluh tujuh sesudah Yoyakhin, raja Yehuda, dibuang, pada tanggal dua puluh lima bulan kedua belas, Ewil-Merodakh, raja Babel, pada tahun ia naik tahta, menunjukkan belas kasihannya kepada Yoyakhin, raja Yehuda, dengan melepaskannya dari penjara. 32 Ewil-Merodakh berbicara baik-baik dengan dia dan memberikan kepadanya kedudukan yang lebih tinggi dari pada kedudukan raja-raja yang bersama dia di Babel. 33 Ia boleh mengganti pakaian penjaranya dan seterusnya boleh makan di hadapan raja selama hidupnya. 34 Untuk nafkahnya, raja Babel selalu memberikan kepadanya, bagian yang diperlukan setiap hari, selama hidupnya, sampai hari kematiannya.

Ketulusan Menopang Sesama

Cerita ini mengisahkan titik balik kehidupan Yoyakhin, raja Yehuda, yang dipenjarakan di Babel selama 37 tahun. Perubahan luar biasa terjadi ketika Ewil-Merodakh menjadi raja Babel. Tanpa menuntut jasa atau balasan masa lalu, raja baru ini melepaskan Yoyakhin, berbicara dengan baik kepadanya, dan mengangkat derajatnya lebih tinggi dari raja-raja lain yang ada di Babel. Allah ternyata sering kali memakai orang lain membawa pemulihan dan mengangkat martabat hidup kita dari keterpurukan. Kita dipanggil meneladani ketulusan ini dalam kehidupan sehari-hari. Mengangkat derajat hidup sesama bukan tentang mencari panggung, popularitas, atau mengharapkan keuntungan timbal balik. Ketika kita menolong anggota keluarga yang kesulitan, mendukung pendidikan anak-anak jemaat, atau merangkul mereka yang tersisih, lakukanlah itu dengan motivasi yang murni. Ketulusan sejati terlihat saat kita rela mengulurkan tangan dan membagikan berkat kepada orang-orang yang bahkan tidak memiliki kemampuan untuk membalas kebaikan kita. Angkatlah beban sesama kita, hiduplah saling menopang di dalam jemaat dan menjadi berkat bagi sesama.

Doa: Tuhan, bantu kami untuk selalu menopang sesama, Amin.

Rabu, 14 Oktober 2026

bahan bacaan : Markus 12 : 41 – 44 (TB2)

Persembahan seorang janda miskin
41 Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memasukkan jumlah yang besar. 42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua uang tembaga, yaitu uang receh terkecil. 43 Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu, janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. 44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang dimilikinya, yaitu seluruh nafkahnya."

Hati Tulus Memberi dan Berbagi

Melalui kisah ini, Yesus mengajak kita melihat esensi sejati dari sebuah pemberian. Di tengah keramaian Bait Allah, banyak orang kaya memberi dari kelimpahan mereka demi pujian atau sekadar kewajiban ritual. Namun, janda miskin ini memberikan dua peser, semua yang dimilikinya untuk hidup. Tuhan tidak pernah menilai besar kecilnya angka yang kita bawa ke tempat persembahan, melainkan ketulusan yang bersumber dari kedalaman hati. Kisah ini menjadi teguran sekaligus penghiburan bahwa persembahan terbaik adalah yang lahir dari kerelaan. Memberi dari kekurangan adalah bukti konkret dari iman yang radikal dan penyerahan diri yang total kepada Tuhan. Janda miskin ini mengajar kita untuk tidak menjadi hamba dari kekhawatiran duniawi. Ketika kita memberi dengan tulus sesuai dengan apa yang ada pada kita, kita sedang mengosongkan diri dan mengizinkan kuasa Allah bekerja sepenuhnya untuk mencukupkan. Hidup kita harus mencerminkan sikap ini, di mana kita saling menopang dan berbagi berkat tanpa rasa takut akan kekurangan, sebab kita tahu Dialah sumber segala berkat yang tidak pernah kering. Ketika kita mampu memberi dengan hati yang tulus, kita sedang menyaksikan dan menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah yang penuh kasih di  dunia ini.

Doa: Tuhan, ajar kami melayani dengan ramah, tulus, dan penuh kasih, amin

Kamis, 15 Oktober 2026

bahan bacaan : 2 Korintus 8 : 1 – 7 (TB2)

Pelayanan kasih
Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang anugerah yang diberikan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. 2 Selagi dicobai dengan berat dalam berbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, mereka kaya dalam kemurahan. 3 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. 4 Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kami, supaya mereka juga beroleh anugerah untuk ambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. 5 Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Tuhan, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami. 6 Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya. 7 Karena itu sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, --dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami--demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.

Sukacita Dari Memberi

Paulus mengajak jemaat Korintus membantu orang-orang percaya di Yerusalem yang mengalami kesulitan. Ia mencontohkan  jemaat-jemaat di Makedonia yang walaupun  menghadapi penderitaan dan hidup kekurangan, tetapi memberi dengan sukacita. Mereka tidak memberi karena memiliki banyak harta, tetapi karena mereka menyerahkan hidup kepada Tuhan. Firman ini memberi pesan bahwa memberi bukan hanya ketika hidup berkecukupan, tetapi juga ketika kita mau berbagi dari apa yang kita miliki. Kita dapat memberi perhatian kepada anggota keluarga yang sedang bergumul, menyediakan waktu mendengarkan, mendoakan mereka yang sakit, membantu tetangga yang membutuhkan, serta mendukung pelayanan gereja dengan hati yang tulus. Ketika orang tua memberi teladan dalam berbagi, anak-anak pun belajar bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada kerelaan menjadi berkat bagi sesama. Keluarga yang memberi dengan sukacita akan bertumbuh dalam kasih, dipelihara oleh Tuhan, dan menjadi kesaksian yang hidup bagi lingkungan di sekitarnya.

Doa: Tuhan, teguhkan iman kami agar tetap rela memberi dalam segala keadaan. Amin.

Jumat, 16 Oktober 2026

bahan bacaan : 1 Raja-Raja 17 : 7 – 16 (TB2)

Elia dan janda di Sarfat
7 Akan tetapi sesudah beberapa waktu, wedi itu mengering, sebab hujan tidak turun di negeri itu. 8 Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia: 9 "Pergilah sekarang ke Sarfat di wilayah Sidon, dan tinggallah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan." 10 Lalu berangkatlah ia ke Sarfat. Sesampainya ia di pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: "Ambillah bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum." 11 Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: "Ambillah juga bagiku sepotong roti." 12 Sahut Perempuan itu: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti sedikitpun padaku, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, lalu aku akan pulang untuk mengolahnya bagiku dan anakku. Kami akan memakannya, lalu kami mati." 13 Tetapi kata Elia kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, lakukanlah seperti yang kaukatakan, hanya saja buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari tepung itu, dan bawalah kepadaku. Sesudah itu barulah kaubuat bagimu dan anakmu. 14 Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi." 15 Perempuan itu pun pergi dan melakukan seperti yang dikatakan Elia; Perempuan itu dan seisi rumahnya serta Elia mendapat makan hari demi hari. 16 Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang disampaikan-Nya dengan perantaraan Elia.

Memberi Dalam Kekurangan; Bukti Iman

Setiap keluarga pasti pernah menghadapi masa-masa sulit. Penghasilan berkurang, kebutuhan hidup semakin besar, sementara masa depan terasa tidak pasti. Dalam keadaan seperti itu, tidak sedikit orang memilih menyimpan apa yang dimiliki karena takut kekurangan. Janda di Sarfat melakukan sebaliknya. Dalam keluarga, sering kali kita merasa sulit berbagi karena khawatir kebutuhan sendiri tidak akan tercukupi. Namun, kisah janda di Sarfat mengingatkan bahwa Tuhan sanggup memelihara orang yang mengutamakan kehendak-Nya. Kerelaan memberi dapat diwujudkan melalui perhatian kepada anggota keluarga, berbagi makanan dengan tetangga yang membutuhkan, mendukung pelayanan gereja, atau menyediakan waktu untuk menolong sesama. Ketika keluarga tetap rela memberi di tengah keterbatasan, mereka sedang membuktikan imannya. Allah yang memelihara janda di Sarfat tetap bekerja hingga hari ini. Ia mengenal kebutuhan kita, umat-Nya dan tidak pernah membiarkan orang yang percaya kepada-Nya kekurangan kasih karunia untuk menjalani hidup setiap hari.

Doa: Tuhan, ajari kami untuk tetap memberi walau dalam kekurangan, Amin.

Sabtu, 17 Oktober 2026

bahan bacaan : 2 Raja-Raja 4 : 8 – 17 (TB2)

Perempuan Sunem dengan anaknya
8 Pada suatu hari Elisa berjalan lewat Sunem. Di sana tinggal seorang perempuan kaya yang mendesak dia untuk makan. Jadi setiap kali lewat, ia singgah ke sana untuk makan. 9 Kata perempuan itu kepada suaminya: "Sesungguhnya aku tahu bahwa orang yang selalu singgah pada kita itu adalah abdi Allah yang kudus. 10 Baiklah kita membuat sebuah kamar atas yang kecil berdinding batu, baiklah kita menaruh di sana sebuah tempat tidur, meja, kursi dan kandil baginya. Apabila ia datang kepada kita, ia boleh tinggal di sana." 11 Pada suatu hari Elisa datang ke sana, lalu masuk ke kamar atas itu dan tidur di situ. 12 Kemudian ia berkata kepada Gehazi, hambanya: "Panggillah perempuan Sunem itu." Gehazi pun memanggilnya, lalu perempuan berdiri dihadapanya. 13 Elisa telah berkata kepada Gehazi: "Coba katakan kepadanya: Sesungguhnya engkau telah sangat bersusah-susah untuk kami. Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Adakah yang dapat kubicarakan tentang engkau kepada raja atau panglima tentara?" Jawab perempuan itu: "Aku tinggal di antara kaumku!" 14 Kemudian Elisa berkata: "Apakah yang dapat dibuat baginya?" Jawab Gehazi: "Sesungguhnya, ia tidak mempunyai anak, dan suaminya sudah tua." 15 Kata Elisa: "Panggillah dia!" Ia memanggilnya, lalu perempuan itu berdiri di pintu. 16 Berkatalah Elisa: "Pada waktu seperti ini juga, tahun depan, engkau ini akan mendekap seorang anak laki-laki." Tetapi jawab perempuan itu: "Janganlah tuanku, ya abdi Allah, janganlah berdusta kepada hambamu ini!" 17 Perempuan itu pun mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki pada waktu seperti itu, pada tahun berikutnya, sesuai dengan yang dikatakan Elisa kepadanya.

Keramahan Yang Mendatangkan Berkat

Dalam kehidupan ini, kita sering berdoa agar Tuhan menjawab kebutuhan dan pergumulan kita. Namun sebelum Allah menyatakan mukjizat-Nya, Ia terlebih dahulu membentuk hati yang mau mengasihi dan melayani dengan sepenuh. Perempuan Sunem tidak dikenal karena doa-doanya yang panjang, melainkan karena kepekaannya mengenali Elisa sebagai abdi Allah dan keramahannya melayani Abdi Allah itu. Di balik sikap yang tenang, tersimpan kerinduan yang tidak pernah diucapkannya kepada siapa pun, yaitu keinginan memiliki seorang anak. Namun, Allah melihat apa yang tersembunyi di dalam hati. Pada waktu yang telah ditetapkan-Nya, Tuhan menggenapi janji melalui kelahiran seorang anak baginya. Kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah menutup mata terhadap setiap pelayanan penuh keramahan yang dilakukan dengan kasih dan ketulusan. Karena itu, janganlah jemu melayani dengan ramah. Ketika kita melayani dengan ramah, berkatNya menghampiri tepat waktu. Ketika kita melayani dengan sepenuh hati  maka kerinduan kita diubah-Nya menjadi kenyataan dan kesaksian nyata.

Doa: Tuhan kuatkan keluarga kami menjalani hidup seturut kehendak-Mu selalu amin.

*SUMBER : SHK BULAN OKTOBER 2026, LPJ-GPM

Tinggalkan Balasan