Santapan Harian Keluarga, 01 – 07 November 2026

Tema Bulanan : Gereja Merawat Dan Meningkatkan Relasi Kemanusiaan

Tema Mingguan : Menjadi Teladan Dalam Membangun Relasi Sosial

Minggu, 01 November 2026

bahan bacaan : Filipi 3 : 17 – 21 s.d 4 : 1 (TB2)

Nasihat-nasihat kepada jemaat
17 Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu. 18 Sebab, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. 19 Kesudahan mereka ialah kebinasaan, ilah mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi. 20 Sebab, kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, 21 yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.
Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang terkasih!

Teladan Dimulai dari Konsistensi

Dalam kehidupan sosial bersama orang lain, saat ada di tempat kerja, di lingkungan rumah tangga atau di media social, kita sering mengeluh tentang sikap orang lain. Kenapa orang itu begitu egois dan sombong? Kenapa rekan kerja sulit diajak bekerja sama? Kenapa tetanggaku itu tidak peduli?. Rasul Paulus dalam teks ini menawarkan perspektif yang berbeda. Ia tidak menunggu dunia berubah dulu baru ia bertindak. Sebaliknya ia berkata, “turutilah teladanku” (Fil.3: 17). Paulus menyadari bahwa perubahan sosial dimulai dari diri sendiri, dari individu yang berani menjadi teladan.  Karena itu Paulus menjadikan dirinya sebagai teladan dan meminta jemaat di Filipi untuk meniru hidupnya karena hidupnya selaras dengan nilai-nilai Kerajaan Allah, bukan nilai duniawi. Dalam relasi sosial, orang tidak hanya percaya pada apa yang dikatakan, tapi pada apa yang kita lakukan secara konsisten. Jika kita ingin lingkungan yang jujur, mulailah dengan kerja yang jujur, tidak menyebarkan gosip atau berita bohong.Jika kita ingin lingkungan yang damai, mulailah dengan mengasihi dan mendengarkan orang lain tanpa menghakimi. Menjadi teladan berarti hidup kita adalah “buku terbuka” yang bisa dibaca oleh orang lain. Pastikanlah cerita yang mereka baca adalah cerita tentang integritas dan kasih.

Doa: ya Tuhan, jadikan hidup kami teladan yang layak diikuti, amin.

Senin, 02 November 2026

bahan bacaan : 1 Korintus 11 : 1 (TB2)

Ikutilah teladanku, sama seperti aku juga mengikuti teladan Kristus.

Turutilah Teladanku!

Ketika rasul Paulus menulis kalimat ini kepada jemaat di Korintus, ia tidak sedang menyombongkan diri atau merasa hidupnya sempurna tanpa cela. Paulus sedang mengkespresikan sebuah tanggungjawab moral yang besar sebagai seorang pelayan. Ia bisa menjadi teladan hanya karena dia memposisikan dirinya sebagai cermin yang memantulkan Kristus. Meneladani Kistus berarti menyerap kasih-Nya. Ketaatan-Nya kepada Bapa dan kerendahan hati-Nya. menjadi teladan bagi orang lain berarti menyalurkan apa yang telah kita serap dari Kristus kepada orang-orang di sekitar kita.  Bayangkanlah jika hari ini kita berkata kepada anak kita, pasangan kita, rekan kerja kita, “Ikutilah caraku mengampuni, ikutilah teladanku dalam mengasihi, sama seperti aku telah mengikuti Kristus.” Menjadi teladan bukan berarti kita tidak pernah berbuat salah. Menjadi teladan juga berarti menunjukkan bagaimana cara seorang Kristen merespons kesalahan yaitu dengan segera berbalik dan bertobat dan mengandalkan anugerah Allah untuk bangkit kembali. Kita tidak dipanggil untuk menjadi sempurna dengan kekuatan sendiri sebelum bisa menjadi teladan. Kita dipanggil untuk setia mengikuti dan meneladani Kristus sehingga ketika orang lain melihat hidup kita, mereka menangkap “pantulan” karakter Kristus di dalam diri kita

Doa: Tuhan Yesus, jadikan aku teladan yang nyata dalam lingkunganku, amin.

Selasa, 03 November 2026

bahan bacaan : Bilangan 12 : 1 – 3 (TB2)

Dosa Miryam dan Harun
Miryam dan Harun mencela Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab ia telah mengambil seorang perempuan Kush. 2 Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah Ia berfirman dengan perantaraan kita juga?" Hal itu didengar oleh TUHAN. 3 Adapun Musa itu seorang yang sangat rendah hati, lebih dari setiap manusia di muka bumi.

Kekuatan dari Sebuah Kelembutan Hati

Kisah tragis di padang gurun Sinai yang ada dalam teks hari ini, membuat kita belajar bagaimana sebuah kritik disampaikan karena ada ambisi dan kecemburuan. Musa dikritik oleh saudara-saudaranya, karena menikahi perempuan Kush dan mempertanyakan posisi dan otoritas Musa. Namun lihatlah bagaimana respons Musa saat dikritik dan direndahkan oleh saudara kandungnya sendiri?. Musa tidak membalas. Ia tidak mengucapkan satu patah kata pun untuk membela diri dan menyerang balik. Alkitab justru mencatat karakter Musa: ia adalah seorang yang sangat lembut hatinya. Kelembutan hati di sini bukanlah tanda kelemahan. Itu adalah “kekuatan yang terkendali.” Musa memilih untuk menundukan egonya dan tidak membalas karena ia tahu posisinya sebagai pemimpin yang Tuhan yang tetapkan. Ia menjaga hatinya tetap lembut dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Sebab itu, orang yang aman dengan identitasnya di dalam Tuhan, tidak perlu membela diri secara agresif saat dikritik atau ditekan. Keteladanan Musa mengajarkan kita bahwa kelembutan hati dibentuk saat kita memiliki kesempatan dan kekuatan untuk membalas, namun kita memilih untuk mengampuni dan menyerahkan hak pembelaan itu kepada Tuhan.

Doa: ya Tuhan, bersihkan hati kami dari irihati, cemburu dan ambisi terselubung yang merusak relasi dan kedamaian, Amin.

Rabu, 04 November 2026

bahan bacaan : Hakim–Hakim 4 : 4 – 5 (TB2)

4 Pada waktu itu Debora, seorang nabiah, isteri Lapidot, memerintah sebagai hakim atas orang Israel. 5 Ia biasa duduk di bawah pohon kurma Debora antara Rama dan Betel di pegunungan Efraim, dan orang Israel menghadap dia untuk mencari keadilan.

Kehadiran yang Dicari dan Berdampak

Kitab Hakim-hakim seringkali menggambarkan masa-masa yang kelam bagi bangsa Israel. Mereka berulangkali jatuh dalam dosa. Dijajah oleh musuh dan hidup dalam ketakutan. Di tengah situasi yang tidak menentu, Tuhan berkenan memakai Debora menjadi hakim dan nabiah bagi mereka. Ia juga adalah “isteri Lapidot”. Ini menunjukkan bahwa tugas publik dan pelayanan yang besar tidak membuat Debora melupakan peran dan tanggungjawabnya di dalam keluarga. Orang Israel datang menemuinya dan meminta nasehat karena mereka tahu Allah ada di dalam diri Debora. Kualitas hidup, kedekatannya dengan Tuhan, dan hikmat-Nyalah yang membuat orang-orang dengan sendirinya datang menghormati dia. Hidup Debora menjadi teladan bagi kita bahwa ketika hidup melekat pada Tuhan, kehadiran kita akan melahirkan dampak nyata. Kata-kata kita akan menguatkan yang lemah dan doa-doa kita akan memulihkan yang terluka. Allah tidak pernah membatasi pekerjaan-Nya berdasarkan jenis kelamin. Di tangan Tuhan, seorang perempuan dan laki-laki dapat dipakai menjadi alat pembebasan dan sumber berkat yang luar biasa bagi bangsa, gereja dan keluarganya.

Doa: Beri kami hikmat supaya mampu memberi solusi yang bersumber daripadaMu, ditengah keluarga, gereja dan masyarakat. Amin.

Kamis, 05 November 2026

bahan bacaan : 1 Timotius 4 : 11 – 12 (TB2)

11 Beritakanlah dan ajarkanlah semuanya itu. 12 Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kemurnianmu. 

Menjadi Teladan Tanpa Batas Usia

Timotius adalah seorang penatua muda yang diutus Paulus untuk memimpin jemaat di Efesus, sebuah jemaat yang besar dengan berbagai latar belakang budaya dan usia bahkan banyak yang jauh lebih tua darinya. Tentu hal ini tidak mudah bagi Timotius. Ada bayang-bayang diremehkan, diragukan atau dianggap “belum tahu apa-apa.” Apa pesan Paulus kepada Timotius?. Paulus tidak menyuruh Timotius untuk melawan dengan keangkuhan atau menuntut rasa hormat secara paksa. Sebaliknya, Paulus memberikan nasehat yang jauh lebih kuat yaitu tunjukkan keteladanan hidup. Paulus menyebutkan lima area yang harus dijaga agar hidup Timotius dan juga bagi kita agar dapat menjadi teladan dan tidak diremehkan oleh orang lain. Lima area itu adalah menjadi teladan dalam perkataan, dalam tingkah laku, dalam kasih, dalam kesetiaan dan dalam kesucian. Teladan dalam perkataan artinya  dapat menjaga lidah dan menjaga kualitas ucapan. Teladan dalam tingkah laku artinya menunjukkan gaya hidup yang berintegritas setiap hari. Teladan dalam kasih artinya menjadikan kasih Kristus sebagai penggerak utama dalam bertindak. Teladan dalam kesetiaan artinya menjaga komitmen dengan Tuhan dan sesama, apapun situasinya. Teladan dalam kesucian artinya menjaga kemurnian hati, pikiran dan tubuh dari dosa dan kejahatan. Mari jadikan diri kita teladan seperti Timotius.

Doa : Tuhan, kuatkan hati kami di tengah badai. Amin.

Jumat, 06 November 2026

bahan bacaan : 1 Tesalonika 1: 6 – 10 (TB2)

6 Dan kamu mengikuti teladan kami dan teladan Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus, 7 sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya. 8 Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu. 9 Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana sambutan kamu terhadap kami dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan benar, 10 dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.

Meniru, Menjadi Teladan, Membuat Firman Bergema

Paulus berkata kepada Jemaat Tesalonika, “Kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan” (1Tes. 1:6). Kata “penurut” menunjuk pada tindakan meniru atau mengikuti teladan hidup. Jemaat Tesalonika tidak hanya mendengar pemberitaan Paulus, tetapi juga memperhatikan bagaimana Paulus hidup, melayani, bertahan dalam penderitaan, dan tetap setia kepada Tuhan. Apa yang mereka lihat kemudian mereka hidupi. Namun proses itu tidak berhenti pada meniru. Paulus juga berkata bahwa mereka kemudian “menjadi teladan” bagi orang-orang percaya di Makedonia dan Akhaya. Mereka yang sebelumnya belajar dari kehidupan orang lain, kini menjadi kehidupan yang dapat dipelajari oleh orang lain. Karena itu Paulus menegaskan bahwa dari antara mereka “Firman Tuhan bergema”. Firman tidak hanya terdengar dari mulut, tetapi memancar melalui kehidupan. Teks ini bukan hanya menceritakan Jemaat Tesalonika, tetapi juga bertanya kepada kita: siapakah yang kita teladani, dan siapakah yang sedang belajar dari kehidupan kita? Keluarga adalah tempat pertama keteladanan itu terjadi. Bayangkan sebuah lampu kecil yang dinyalakan di ruang keluarga pada malam yang gelap. Lampu itu tidak berbicara, tetapi cahayanya membuat setiap orang dapat melihat jalan. Demikian juga orang tua, pasangan, dan anak-anak. Ketika satu anggota keluarga hidup dalam kasih, kejujuran, kesabaran, doa, dan pengampunan, hidupnya menjadi cahaya bagi yang lain.

Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami untuk menjadi teladan Firman-Mu. Amin

Sabtu, 07 November 2026

bahan bacaan : Ibrani 13 : 7 (TB2)

7 Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan teladanilah iman mereka.

Warisan Iman Dalam Keluarga

Ibrani 13:7 justru mengajak jemaat kembali mengingat orang-orang yang pernah menuntun mereka dalam iman. Jemaat saat itu hidup dalam tekanan, kelelahan, dan ancaman untuk mundur. Karena itu, “mengingat” bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menghadirkan kembali jejak iman yang pernah memberi kekuatan. Mengingat berarti menyadari bahwa iman kita tidak tumbuh sendirian. Ada orang tua, pendeta, guru, sahabat, atau anggota jemaat yang pernah menanamkan Firman dalam hidup kita. Memperhatikan berarti melihat dengan jernih bagaimana mereka menjalani iman, terutama ketika menghadapi kesulitan. Meneladani berarti membawa nilai iman itu ke dalam konteks hidup kita sendiri. Kita tidak dipanggil menjadi salinan dari pemimpin masa lalu. Kita dipanggil menghidupi iman yang sama secara baru. Hari ini, mungkin tekanan kita berbeda, tetapi panggilannya tetap sama yakni setia. Seorang anak mungkin tidak lagi mengingat semua nasihat ayah atau ibunya. Namun ia mengingat bagaimana ibunya tetap berdoa ketika ekonomi keluarga sulit, bagaimana ayahnya tetap jujur ketika ada kesempatan mengambil jalan pintas, dan bagaimana keduanya tetap saling mengampuni ketika terluka. Bertahun-tahun kemudian, ketika anak itu menghadapi krisisnya sendiri, kenangan itu hidup kembali. Itulah teladan menjadi khotbah yang tidak pernah selesai.

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk bersikap sabar dan dapat berelasi dengan siapapun secara baik. Amin

*SUMBER : SHK BULAN NOV 2026, LPJ-GPM

Tinggalkan Balasan