Santapan Harian Keluarga, 25 – 31 Oktober 2026

Tema Bulanan : Gereja Mewartakan Kasih Allah Yang Tidak Berkesudahan

Tema Mingguan : Jangan Takut! Wartakan Kasih Allah Di Tengah Badai Kehidupan

Minggu, 25 Oktober 2026

bahan bacaan : Kisah Para Rasul 27 : 14 – 26 (TB2)

Kapal terkandas
14 Tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin "Timur Laut". 15 Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan. Karena itu kami menyerah saja dan membiarkan kapal kami terombang-ambing. 16 Kemudian kami hanyut sampai ke pantai sebuah pulau kecil bernama Kauda, dan di situ dengan susah payah kami dapat menguasai sekoci kapal itu. 17 Setelah sekoci itu dinaikkan ke atas kapal, mereka memasang alat-alat penolong dengan meliliti kapal itu dengan tali. Karena takut terdampar di dasar pasir Sirtis, mereka menurunkan layar dan membiarkan kapal itu terapung-apung saja. 18 Karena kami sangat hebat diombang-ambingkan angin badai, keesokan harinya mereka mulai membuang muatan kapal ke laut. 19 Pada hari yang ketiga mereka membuang alat-alat kapal dengan tangan mereka sendiri. 20 Setelah beberapa hari tidak kelihatan matahari dan bintang-bintang, dan angin badai yang dahsyat terus-menerus mengancam kami, akhirnya putuslah segala harapan kami untuk dapat menyelamatkan diri kami. 21 Karena mereka beberapa lamanya tidak makan, berdirilah Paulus di tengah-tengah mereka dan berkata: "Saudara-saudara, sekiranya nasihatku dituruti, supaya kita jangan berlayar dari Kreta, kita pasti terhindar dari kesukaran dan kerugian ini! 22 Sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bersemangat, sebab tidak seorangpun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini. 23 Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang memiliki aku dan yang kusembah, berdiri di sisiku, 24 dan ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; Sesungguhnya karena rahmat Allah kepadamu, semua orang yang berada bersama engkau di kapal ini akan selamat. 25 Sebab itu tetaplah bersemangat  saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah, bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dikatakan kepadaku. 26 Namun kita harus mendamparkan kapal ini di salah satu pulau."

Harapan di Tengah Badai

Perjalanan laut Paulus menuju Roma berubah menjadi mimpi buruk ketika badai besar bernama Euroklidon menerjang kapal mereka. Namun, di tengah kepanikan massal itu, Paulus berdiri dengan tenang. Ia tidak ikut panik, melainkan membawa berita pengharapan dari Tuhan yang meneguhkan semua orang di kapal tersebut. Badai kehidupan bisa menerjang siapa saja, termasuk orang-orang yang sedang melakukan kehendak Tuhan seperti Paulus. Masalah, krisis, atau penderitaan bukanlah tanda  Tuhan meninggalkan kita, tetapi seringkali menjadi medan kuasa-Nya dinyatakan. Ketenangan Paulus di tengah badai bukanlah karena ia kebal masalah, melainkan karena ia memiliki relasi yang erat dengan Allah. Ia mendengarkan suara-Nya dan percaya penuh pada janji-Nya. Paulus tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi ia juga menguatkan orang-orang di sekitarnya yang putus asa. Di tengah badai hidup kita, Tuhan memanggil kita untuk menjadi saksi, mewartakan kasih dan penyertaan Allah kepada mereka yang ketakutan. Badai bisa saja datang dalam pekerjaan, keluarga, atau pelayanan dan membuat kita merasa kehilangan arah. Ingatlah pesan malaikat kepada Paulus: “Jangan takut!” Allah yang menyertai Paulus adalah Allah yang sama, yang memegang kendali atas badai hidup kita.

Doa: ya Tuhan Yesus, kuatkan iman dan harapan kami, Amin.

Senin, 26 Oktober 2026

bahan bacaan : Markus 4 : 35 – 41 (TB2)

Angin ribut diredakan
35 Pada hari itu, menjelang malam, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang." 36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak bersama Yesus yang sudah ada dalam perahu, dan perahu-perahu lain menyertai Dia. 37 Lalu mengamuklah topan yang dahsyat sekali dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. 38 Yesus sedang tidur di buritan memakai bantal, lalu murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, tidak perdulikah Engkau kalau kita binasa?" 39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. 40 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu ketakutan? Belumkah kamu percaya?" 41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa sebenarnya orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"

Dalam Dekapan KasihNya

Kisah ini menceritakan perjalanan murid-murid bersama Yesus menyeberangi danau. Tiba-tiba, badai besar dan taufan menerjang hingga ombak menyembur masuk ke dalam perahu, membuat perahu hampir penuh dengan air. Yang membuat situasi semakin menegangkan adalah Yesus sedang tertidur di buritan. Seringkali dalam menghadapi badai persoalan hidup baik itu masalah ekonomi, keluarga, kesehatan, maupun pelayanan, kita merasa seolah-olah Tuhan sedang “tidur” dan tidak peduli. Padahal, fakta terpentingnya adalah Yesus ada di dalam perahu yang sama dengan kita. Kehadiran-Nya menjamin bahwa kita tidak berjalan sendirian. Saat badai menerjang, pandangan para murid tertuju sepenuhnya kepada ombak yang besar dan perahu yang hampir tenggelam, sehingga mereka melupakan siapa yang sedang bersama mereka. Rasa takut membuat mereka lupa akan kuasa dan penyertaan Tuhan. Yesus tidak menegur badai terlebih dahulu, melainkan Ia menegur ketakutan para murid. Yesus rindu agar di tengah situasi yang menakutkan sekalipun, murid-murid-Nya memiliki iman yang teguh percaya bahwa bersama Kristus, tidak ada badai yang terlalu besar untuk dikendalikan-Nya.

Doa: Tuhan ajar kami untuk beriman pada-Mu ketika menghadapi badai hidup, Amin.

Selasa, 27 Oktober 2026

bahan bacaan : Yesaya 41 : 8 – 10 (TB2)

TUHAN menolong Si Ulat Israel
8 Akan tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi; 9 engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: "Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau"; 10 janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.

Janji Penyertaan di Tengah Keterbatasan

Melalui kitab Yesaya, Tuhan menyapa umat-Nya yang seringkali merasa kecil, lemah, dan rentan di tengah dunia yang penuh tantangan. Tuhan memanggil mereka sebagai “hamba-Ku” dan keturunan Abraham yang dikasihi-Nya. Di dalam ayat ini, Tuhan tidak sekadar memberikan janji dari jauh; Ia menegaskan komitmen-Nya yang sangat personal: Ia menyertai, meneguhkan, menolong, dan memegang kita. Tuhan mengingatkan siapa diri kita di mata-Nya, kita adalah orang yang dikasihi-Nya. Kesadaran ini menepis segala rasa minder atau keraguan ketika kita merasa tidak sanggup menghadapi masalah hidup. Ketakutan dan kebimbangan adalah senjata utama yang sering meruntuhkan iman kita. Namun, Tuhan dengan tegas melarang kita takut, bukan karena masalahnya kecil, tetapi karena Allah kita jauh lebih besar daripada setiap persoalan yang kita hadapi. Puncak dari janji penyertaan Tuhan adalah tangan kanan-Nya yang memegang dan menopang kita. Tangan kanan dalam Alkitab menyimbolkan kekuatan dan kekuasaan mutlak. Penyertaan-Nya bukanlah penyertaan yang pasif, melainkan penyertaan yang aktif membela dan membawa kita kepada kemenangan.

Doa: Tuhan, kuatkan dengan janji dalam kelemahan kami. Amin

Rabu, 28 Oktober 2026

bahan bacaan : 1 Korintus 10 : 11 – 13 (TB2)

11 Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu zaman akhir telah tiba. 12 Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! 13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Allah itu setia dan tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Allah Selalu Menyediakan Jalan Keluar Di Tengah Pencobaan

Setiap keluarga pasti menghadapi berbagai pergumulan hidup. ketidakadilan, kegagalan, persoalan ekonomi, penyakit, atau rasa tidak mampu sering datang silih berganti. Berbagai persoalan itu dapat membuat seseorang merasa lelah, putus asa, bahkan seolah berada di jalan buntu tanpa harapan. Dalam keadaan seperti itu, sering muncul pertanyaan, apakah Tuhan masih peduli? Lewat teks kita belajar bahwa Paulus mengingatkan jemaat di Korintus untuk belajar dari pengalaman umat Israel dan tetap setia kepada Allah ketika menghadapi pencobaan. Paulus menegaskan bahwa pencobaan merupakan bagian dari kehidupan orang percaya, tetapi Allah tetap setia. Ia tidak membiarkan umat-Nya dicobai melampaui kekuatan yang dikaruniakan-Nya. Bahkan, Allah selalu menyediakan jalan keluar agar setiap orang mampu bertahan. Inilah bukti kasih Allah yang tidak berkesudahan. Karena itu, setiap kita diajak untuk tidak menyerah, melainkan tetap berharap kepada Tuhan yang senantiasa menyertai, menguatkan, dan membuka jalan menurut kehendak-Nya.

Doa: Tuhan, berilah jalan keluar bagi kami di tengah berbagai persaoalan hidup. Amin

Kamis, 29 Oktober 2026

bahan bacaan : Mazmur 107 : 23 – 32 (TB2)

23 Ada orang-orang yang mengarungi laut dengan kapal-kapal, yang melakukan perdagangan di lautan luas; 24 mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam. 25 Ia berfirman, lalu membangkitkan angin badai yang melambungkan ombak-ombak lautan. 26 Mereka diangkat sampai ke langit dan dihempaskan ke samudera dalam, hati mereka kecut karena malapetaka itu; 27 mereka pusing dan terhuyung-huyung seperti orang mabuk, sehingga mereka kehabisan akal. 28 Maka berseru-serulah mereka kepada TUHAN dalam kesesakan mereka, dan Ia Mengeluarkan mereka dari kesusahan mereka, 29 dibuat-Nyalah badai itu reda, sehingga ombak-ombak tenang. 30 Mereka bersukacita, sebab semuanya teduh, dan dituntun-Nya mereka ke pelabuhan yang didambakan. 31 Biarlah mereka bersyukur kepada TUHAN karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia. 32 Biarlah mereka meninggikan Dia dalam himpunan umat, dan memuji-muji Dia dalam majelis para tua-tua.

Di Tengah Ombak Dan Badai Hidup, Allah Mendengar Seruan

Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Ada saat ketika seseorang diperhadapkan pada persoalan yang datang silih berganti, bagaikan badai yang mengguncang perahu di tengah lautan. Masalah keluarga, kesulitan ekonomi, penyakit, maupun ketidakpastian masa depan sering kali menimbulkan rasa takut dan kehilangan harapan. Mazmur 107:23-32 menggambarkan pengalaman para pelaut yang diterpa badai dahsyat hingga kehilangan kendali atas perahu. Dalam keputusasaan, mereka berseru kepada Tuhan, lalu Tuhan meredakan badai dan menuntun mereka tiba di pelabuhan dengan selamat. Melalui pengalaman itu, pemazmur mengajak umat memuji Tuhan karena kasih setia-Nya yang tidak berkesudahan. Demikian pula dalam setiap pergumulan hidup, Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang berharap kepada-Nya. Karena itu, tetaplah berseru kepada Tuhan dan percayalah kepada penyertaan-Nya, sebab kasih-Nya sanggup menguatkan hati dan menuntun setiap langkah melewati badai kehidupan.

Doa: terima kasih Tuhan, mau mendengarkan seruan kami di tengah badai hidup . Amin.

Jumat, 30 Oktober 2026

bahan bacaan : Mazmur 138 : 1 – 8 (TB2)

Nyanyian syukur dalam kesesakan
Dari Daud. Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, dan bermazmur bagi-Mu di hadapan para ilah bangsa-bangsa. 2 Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan kesetiaan-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu. 3 Pada hari aku berseru, Engkau menjawab aku, dan menambahkan kekuatan dalam jiwaku. 4 Hendaklah semua raja di bumi bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, sebab mereka telah mendengar janji dari mulut-Mu; 5 hendaklah mereka bernyanyi tentang jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN. 6 TUHAN itu tinggi, tetapi Ia melihat orang yang hina, orang yang sombong dikenal-Nya dari jauh. 7 Walaupun aku berjalan dalam kesesakan, Engkau melindungi hidupku dari amarah musuhku; Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku. 8 TUHAN akan menyelesaikan segala-galanya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu tetap untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!

Tuhan Akan Menyelesaikan Segalanya Dan Tidak Meninggalkan Kita

Tidak ada seorang pun yang ingin hidup dalam kesesakan. Namun, perjalanan hidup tidak selalu berjalan mulus. Ada saat-saat ketika beban terasa begitu berat, harapan mulai memudar, dan jalan yang ditempuh seolah dipenuhi berbagai rintangan. Dalam keadaan seperti itu, hati mudah diliputi rasa cemas dan putus asa. Teks ini mengajarkan bahwa di tengah kesesakan, Daud tetap memuji Tuhan karena percaya kepada kasih dan kesetiaan-Nya. Ia yakin bahwa Tuhan mendengar setiap seruannya, menguatkan jiwanya, dan tetap bekerja dalam hidupnya. Daud juga mengakui bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan pekerjaan tangan-Nya. Keyakinan inilah yang menjadi pengharapan bagi setiap keluarga. Walaupun jalan yang ditempuh tidak selalu mudah, Tuhan tetap hadir menyertai dan menyempurnakan rencana-Nya. Karena itu, jangan biarkan kesesakan menghilangkan iman. Tetaplah berharap kepada Tuhan. Dia akan menyelesaikan segalanya sebab kasih-Nya tidak pernah berkesudahan dan Dia tidak pernah meninggalkan orang yang percaya kepada-Nya.

Doa: Tuhan, kami percaya Engkau menyelesaikan segalanya, Amin.

Sabtu, 31 Oktober 2026

bahan bacaan : Roma 1 : 16 – 17 (TB2)

Injil itu kekuatan Allah
16 Sebab aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. 17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

Hidup Oleh Anugerah Allah

Setiap orang tentu menginginkan kehidupan yang baik dan berkenan kepada Tuhan. Namun, tidak seorang pun dapat memperoleh keselamatan atau hidup benar hanya karena kekuatan dan usahanya sendiri. Teks hari ini menegaskan bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Melalui Yesus Kristus, Allah menyatakan kasih karunia-Nya kepada manusia. Anugerah itu diberikan bukan karena manusia layak menerimanya, melainkan karena kasih Allah yang begitu besar. Oleh sebab itu, hidup sebagai orang percaya bukanlah hasil dari jasa atau kemampuan sendiri, melainkan anugerah Allah yang diterima dengan iman. Paulus juga menegaskan bahwa di dalam Injil nyata kebenaran Allah yang dinyatakan dari iman kepada iman. Karena itu, orang benar dipanggil untuk hidup oleh iman, dengan terus mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan. Anugerah Allah bukan hanya menyelamatkan, tetapi juga memperbarui cara hidup setiap orang percaya agar semakin serupa dengan kehendak-Nya. Sebab itu, di hari Reformasi ini kita diingatkan, hiduplah setiap hari dengan penuh syukur, karena anugerah Allah selalu cukup untuk menopang, membimbing, dan menguatkan setiap langkah kehidupan kita.

Doa: Tuhan, terma kasih karena kami hidup oleh anugerah-Mu. Amin.

*SUMBER : SHK BULAN OKTOBER 2026, LPJ-GPM

Tinggalkan Balasan