Santapan Harian Keluarga, 17 – 23 Mei 2026

Tema Bulanan : Gereja Rumah Tangga dan Pendidikan Karakter

Tema Mingguan   : Gereja Rumah Tangga yang Memulihkan Trauma

Minggu, 17 Mei 2026

bahan bacaan : 1 Samuel 1 : 1 – 20 (TB2)

Lahirnya Samuel
Ada seorang laki-laki dari Ramataim di tanah Zuf, dari daerah pegunungan Efraim, namanya Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf, seorang Efraim. 2 Ia mempunyai dua isteri, seorang bernama Hana dan yang lain bernama Penina. Penina mempunyai anak, sedangkan Hana tidak. 3 Tahun demi tahun orang itu pergi dari kotanya untuk menyembah dan mempersembahkan kurban kepada TUHAN semesta alam di Silo. Kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, adalah imam TUHAN di sana. 4 Pada hari Elkana mempersembahkan kurban, ia selalu memberikan satu bagian masing-masing kepada Penina, isterinya, dan kepada semua anaknya laki-laki dan perempuan. 5 Kepada Hana, ia memberikan bagian terbaik, sebab Hanalah yang dikasihinya dan TUHAN telah menutup kandungannya. 6 Untuk membuatnya geram, saingannya selalu menyakiti hatinya karena TUHAN telah menutup kandungannya. 7 Demikianlah yang terjadi demi tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah TUHAN, Penina menyakiti hatinya, sehingga ia menangis dan tidak mau makan. 8 Lalu Elkana, suaminya, berkata kepadanya: "Hana, mengapa engkau menangis? mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?" 9 Suatu kali, setelah mereka makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sementara Imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu Rumah TUHAN, 10 Dengan hati pedih Hana berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. 11 Kemudian ia bernazar demikian: "TUHAN semesta, jika Engkau sungguh memperhatikan sengsara hamba-Mu ini, mengingat dan tidak melupakan hamba, tetapi memberi hamba seorang anak laki-laki, maka hamba akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya. Pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya." 12 Sementara ia terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN, Eli mengamati mulutnya. 13 Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya yang bergerak, tetapi suaranya tidak kedengaran. Karena itu Eli menyangka perempuan itu mabuk. 14 Lalu Eli berkata kepadanya: "Berapa lama lagi engkau berlaku masih mabuk? Singkirkanlah anggurmu." 15 Tetapi Hana menjawab: "Bukan demikian, tuan, aku seorang perempuan yang sangat tertekan. Aku tidak minum anggur ataupun minuman keras, tetapi mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN. 16 Janganlah anggap hambamu ini perempuan tercela. Aku berb icara demikian lama aku sangat susah dan sakit hati." 17 Jawab Eli: "Pergilah dengan damai. Allah Israel akan memberikan apa yang kau minta kepada-Nya." 18 Berkatalah Hana: "Kiranya hambamu ini mendapat kemurahan hati Tuan." Kemudian perempuan itu pergi, lalu ia makan dan mukanya tidak muram lagi. 19 Keesokan harinya mereka bangun pagi-pagi, dan sujud menyembah di hadapan TUHAN; kemudian mereka pulang ke Rama. Elkana bersetubuh dengan Hana, isterinya, lalu TUHAN ingat kepada Hana. 20 Hana pun mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki pada waktunya. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: "Aku telah memintanya dari TUHAN."

Kekuatan Doa Saat Perasaan Disakiti

Pilihan tepat dilakukan Hana yakni berdoa dan menyerahkan pada Tuhan saat disakiti oleh Penina. Hana disakiti perasaan hatinya sebab ia mandul atau tidak mempunyai anak. Hana berdoa dengan kesungguhan dan kesedihan hati serta meminta seorang anak dari Tuhan dan akan memberikan anak itu kembali kepada Tuhan. Doa Hana dikabulkan Tuhan dan dia bersyukur atas jawaban Tuhan yang memberikan seorang anak kepadanya. Jawaban Tuhan memulihkan Hana dari perasaan sakit hati Karena tindakan Penina. Hana juga mendapat dukungan dari suaminya Elkana dengan tetap mengasihi dan mencintainya. Seruan Hana tidak hanya meminta anak pada Tuhan, namun sekaligus melepaskan beban perasaanya yang terus disakiti oleh Penina. Kesaksian firman Tuhan ini menjadi teladan bagi kita saat menghadapi berbagai persoalan dan tantangan hidup. Terkadang semua itu membuat kita menjadi takut, kecewa dan trauma. Namun jika kita berseru kepada Tuhan dalam doa, itu menjadi kekuatan untuk menghadapinya. Sebagaimana Hana meyakini bahwa Tuhan akan menolongnya, maka kita juga percaya bahwa Tuhan akan menjawab setiap doa dan memberikan jalan keluar bagi kita pada waktuNya.

Doa: Tuhan, terima kasih karena selalu menjadi kekuatan bagiku di saat perasaanku tersakiti, Amin.  

Senin, 18 Mei 2026

bahan bacaan : Markus 5: 1 – 20 (TB2)

Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa
Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa. 2 Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. 3 Orang itu tinggal di pekuburan itu dan tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, 4 karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantai itu diputuskannya dan belenggu itu dipatahkannya. Tidak seorangpun yang kuat untuk menjinakkannya. 5 Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu. 6 Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkan-Nya lalu menyembah-Nya, 7 dan dengan keras ia berteriak: "Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Maha Tinggi? Demi Allah aku mohon, jangan siksa aku!" 8 Sebab, sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya: "Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!" 9 Ia bertanya kepada orang itu: "Siapa namamu?" Jawabnya: "Namaku Legion, karena kami banyak." 10 Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir mereka keluar dari daerah itu. 11 Di lereng bukit itu sekawanan besar babi sedang mencari makan, 12 lalu roh-roh itu memohon kepada-Nya, "Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasuki babi-babi itu!" 13 Yesus mengabulkan permohonan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi tebing yang curam ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya. 14 Penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di desa-desa sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang telah terjadi. 15 Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion itu. Mereka pun merasa takut. 16 Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceriterakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu. 17 Lalu mereka mulai mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka. 18 Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu memohon, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. 19 Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah dilakukan Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!" 20 Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala sesuatu yang telah dilakukan Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.

Memulihkan Trauma untuk Menjadi yang Baru

Pria dalam kisah ini tinggal di pekuburan, berteriak-teriak, dan memukuli dirinya dengan batu. Ini adalah gambaran seseorang yang mengalami trauma mendalam, ia hidup secara fisik, tetapi mati secara batin.Yesus sengaja menyeberangi danau hanya untuk menemui satu orang ini. Trauma seringkali membuat seseorang merasa terisolasi, tetapi Yesus menunjukkan bahwa tidak ada medan yang terlalu berat untuk menjangkau jiwa yang terluka. Sebagai gereja rumah tangga, tugas kita adalah membawa kehadiran Kristus ke meja makan dan ruang tamu kita. Pemulihan terjadi bukan karena kita hebat memberi nasihat, tetapi karena kita menghadirkan kasih yang tidak menghakimi, persis seperti cara Yesus menyapa pria itu. Setelah dipulihkan, pria itu ditemukan dalam kondisi “berpakaian dan sudah waras” (ayat 15). Trauma merampas martabat dan kejernihan berpikir seseorang. Gereja Rumah Tangga yang memulihkan adalah tempat di mana martabat dikembalikan, tidak lagi mengungkit kesalahan masa lalu. Rasa aman dibangun menggantikan “rantai” kekerasan atau teriakan dengan “pakaian” kasih sayang dan penerimaan. Pemulihan trauma membutuhkan  proses. Yesus mengutus pria itu kembali ke rumahnya untuk menjadi saksi. Ini berarti keluarga adalah pusat misi pertama. Jika keluarga kita sudah mengalami pemulihan Tuhan, maka dari sanalah berita anugerah akan terpancar ke lingkungan sekitar.

Doa: Tuhan, jadikanlah keluarga kami alat pemulihanMu bagi dunia di sekitar kami, Amin  

Selasa, 19 Mei 2026

bahan bacaan : 1 Raja-Raja 19:1-8 (TB2)

Elia ke gunung Horeb
Ahab memberitahukan kepada Izebel semua yang dilakukan Elia dan bagaimana ia membunuh semua nabi dengan pedang, 2 Izebel lalu mengirim utusan kepada Elia dengan pesan: "Kiranya para ilah menghukum aku dengan berat, bahkan lebih lagi, jika besok sekitar waktu ini aku tidak menghabisi nyawamu sama seperti salah seorang dari mereka itu." 3 Elia pun ketakutan, lalu pergi menyelamatkan dirinya; Setelah sampai ke Bersyeba, di wilayah Yehuda, ia meninggalkan hambanya di sana. 4 Tetapi ia sendiri pergi ke padang gurun sejauh satu hari perjalanan. Ia tiba dan duduk di bawah sebuah pohon arar. Ia memohon supaya ia mati, katanya: "Cukuplah sudah! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." 5 Ia lalu berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: "Bangunlah, makanlah!" 6 Ketika ia melihat sekitarnya, tampaklah di dekat kepalanya ada roti bakar, dan kendi berisi air. Ia makan dan minum, lalu berbaring lagi. 7 Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: "Bangunlah, makanlah! Sebab perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu." 8 Ia pun bangun, lalu makan dan minum. Karena makanan itu ia kuat berjalan selama empat puluh hari empat puluh malam sampai ke Horeb, gunung Allah.

Tuhan Tidak Menghakimi, Ia Merawat

Seringkali kita merasa bahwa menjadi orang beriman berarti harus selalu kuat. Namun, Elia menunjukkan bahwa seorang nabi besar pun bisa mengalami kelelahan mental yang hebat. ​Menarik untuk diperhatikan bagaimana Tuhan merespons Elia yang ingin mati. Tuhan tidak memarahi Elia karena kurang iman. Sebaliknya, Tuhan mengirim malaikat untuk membawa makanan dan minuman kepadanya. Dalam ayat 7, malaikat itu berkata: “Bangunlah, makanlah! Sebab perjalananmu masih jauh.” Makanan yang diberikan Tuhan memberi Elia kekuatan untuk berjalan 40 hari 40 malam menuju Gunung Horeb. Ini adalah pengingat bagi kita:Jangan memaksakan diri hanya dengan kekuatan sendiri.Terimalah bantuan baik itu nutrisi, istirahat, maupun dukungan sesama sebagai bentuk pemeliharaan Tuhan. Jika hari ini kita merasa lelah secara emosional dan mental, ketahuilah bahwa kita tidak sendiri. Bahkan jika kita sedang merasa “cukuplah itu, Tuhan” karena beban hidup yang berat, datanglah pada-Nya. Dia tidak hanya memberikan solusi atas masalah kita, tetapi Dia memberikan kekuatan di dalam diri kita untuk berjalan melaluinya.

Doa: Mampukanlah kami untuk keluar dari tekanan hidup.  Amin.

Rabu, 20 Mei 2026

bahan bacaan : 1 Raja-Raja 19: 9 – 18 (TB2)

Allah menyatakan diri di gunung Horeb
9 Di sana ia masuk ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Lalu datanglah firman TUHAN kepadanya, "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" 10 Jawabnya: "Aku Sangat giat bekerja bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, merobohkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang. Hanya aku seorang diri yang masih hidup dan mereka berusaha mencabut nyawaku." 11 Lalu firman-Nya: "Keluarlah dan berdiri di atas gunung itu di hadapan TUHAN!" Lalu melintaslah TUHAN. Angin besar dan kuat yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi TUHAN tidak ada dalam angin itu. Sesudah angin datanglah gempa. Tetapi TUHAN tidak ada dalam gempa itu. 12 Sesudah gempa datanglah api. Tetapi TUHAN tidak ada dalam api itu. Sesudah api itu datanglah suara embusan yang lembut. 13 Ketika Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya, lalu pergi ke luar dan berdiri di pintu gua itu. Datanglah suara kepadanya demikian: "Apakah kerjamu di sini, hai Elia?" 14 Jawabnya: "Aku sangat giat bekerja bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, merobohkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; Hanya aku sendiri yang masih hidup, dan mereka berusaha mencabut nyawaku." 15 Firman TUHAN kepadanya: "Pergilah, kembalilah ke jalanmu ke padang gurun Damsyik. Sesampai engkau di sana, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram. 16 Engkau juga harus mengurapi Yehu, cucu Nimsi, menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, menjadi nabi menggantikan engkau. 17 Siapa yang luput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu; Siapa yang terluput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa. 18 Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, semua orang yang tidak sujud menyembah Ba'al dan yang mulutnya tidak mencium dia."

Perjuanganmu Belum Selesai, Aku Bersamamu

Melanjutkan kisah Elia, bagian ini (1 Raja-raja 19:9-18) adalah momen ketika Tuhan memulihkan perspektif Elia yang sedang terganggu oleh rasa takut dan kesepian.  Tuhan menyapa Elia dengan pertanyaan, “Apakah kerjamu di sini, Elia?” (Ayat 9). Tuhan tahu persis mengapa Elia di sana, tetapi Dia ingin Elia mencurahkan isi hatinya. Elia merasa dia adalah satu-satunya orang setia yang tersisa. Seringkali saat kita stres, pandangan kita menjadi sempit. Kita merasa menjadi “satu-satunya” yang menderita atau yang berjuang. Tuhan membiarkan kita bicara agar kita sadar bahwa perasaan kita tidak selalu mewakili seluruh kebenaran.  Setelah itu, ​Elia menantikan Tuhan dalam fenomena alam yang dahsyat: angin besar, gempa bumi, dan api. Namun, Alkitab mencatat bahwa Tuhan tidak ada di sana. Tuhan justru hadir dalam “bunyi angin sepoi-sepoi basa” (suara yang lembut dan halus). Setelah memulihkan jiwa Elia, Tuhan tidak membiarkannya tinggal di gua. Tuhan memberikan instruksi spesifik: mengurapi Hasael, Yehu, dan Elisa. Tuhan juga mengoreksi kekeliruan Elia dengan menyatakan bahwa masih ada 7.000 orang di Israel yang tidak sujud menyembah Baal. Dari sini kita belajar pemulihan seringkali datang saat kita mulai melangkah kembali untuk melayani orang lain. Jika hari ini kita merasa pelayanan atau hidup kita sia-sia, dengarlah bisikan lembut Tuhan: Perjuanganmu belum selesai, dan Aku bersamamu.

Doa: Tuhan, pulihkanlah semangat kami untuk kembali berjalan menyelesaikan tugas yang Engkau percayakan, Amin. 

Kamis, 21 Mei 2026

bahan bacaan : Mazmur 30: 9 – 13 (TB2)

9 Kepada-Mu, ya TUHAN, aku berseru, dan kepada Tuhanku aku memohon belas kasihan: 10 "Apakah untungnya jika nyawaku dicabut, kalau aku turun ke dalam liang kubur? Dapatkah debu bersyukur kepada-Mu dan memberitakan kesetiaan-Mu? 11 Dengarlah, TUHAN, dan kasihanilah aku, TUHAN, jadilah penolongku!" 12 Ratapanku telah Kauubah menjadi tarian gembira, pakaian kabungku Kau tanggalkan, pinggangku Kauikat dengan sukacita, 13 supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan tidak berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.

Allah Menyelamatkan Tiap Rumah Tangga

Setiap manusia tidak ingin mengalami bahaya apapun. Tetapi ketika bahaya datang setiap orang harus berupaya menghindar atau keluar dari bahaya tersebut. Pemazmur Daud memiliki cara tersenciri untuk keluar dari bahaya. Dalam mazmurnya ini, Daud mencoba mengingat hal apa saja yang sudah terjadi di dalam kehidupan yang tidak mudah dijalaninya. Mulai dari ancaman Saul yang iri, belum lagi ancaman musuh-musuhnya di medan pertempuran, pemberontakan anaknya sendiri dan masih banyak lagi. Pada setiap permasalahan hidup Daud berseru dan memohon, sebab Daud percaya Tuhan mendengar. Tuhanlah yang menjadi Penolongnya. Tuhanlah yang membuat segala sesuatu yang awalnya adalah ratapan kesedihan dan kesusahan, menjadi sukacita kebahagiaan. Pesan mendalam dari teks ini adalah apapun permasalahan dan kesusahan hidup yang kita alami, kita patut berseru dan memohon kepada Tuhan, serta percaya bahwa Tuhan akan menolong dan memberi kita kekuatan. Tuhan pasti menolongsehingg segala sesuatunya menjadi baik.

Doa: Hadirlah dalam rumah tangga kami, supaya kami kuat untuk melakukan tugas kami.  Amin. 

Jumat, 22 Mei 2026

bahan bacaan : 2 Korintus 4: 8 – 10 (TB2)

8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak hancur terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; 9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.

Kristus Hadir dalam Pergumulan Rumah Tangga

uhan mengetahui segala yang terjadi di dunia dan memahami setiap pergumulan umat-Nya. Namun sering kali manusia melupakan Tuhan ketika panik atau bingung menghadapi masalah. Rasul Paulus pun pernah mengalami tekanan, keraguan, dan ketidakpastian dalam pelayanannya. Dalam 2 Korintus 4:8 ia berkata, “Kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa Paulus merasakan kebingungan dan kelemahan, tetapi tidak sampai kehilangan pengharapan. Ia percaya bahwa Tuhan tetap menyertainya. Pengalaman Paulus serupa dengan yang sering kita alami. Kita bisa merasa buntu, ragu, bahkan bertanya mengapa Tuhan mengizinkan hal buruk terjadi atau apakah orang yang kita kasihi akan tetap setia dalam iman. Firman Tuhan menegaskan bahwa kesulitan bukan tanda Tuhan meninggalkan kita. Tuhan tidak menciptakan penderitaan, tetapi Ia mengizinkan pergumulan terjadi agar kita semakin bergantung dan berseru kepada-Nya. Melalui pertolongan dan keselamatan yang Ia berikan, kita belajar memuliakan nama Tuhan. Dalam setiap tekanan hidup, pengharapan kepada-Nya membuat kita tetap berdiri dan tidak putus asa.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk selalu bersyukur dan berdoa dalam keadaan apapun.  Amin. 

Sabtu, 23 Mei 2026

bahan bacaan : Matius 11: 28 -29 (TB2)

28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah dari-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat kelegaan. 30 Sebab kuk yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan."

Undangan Untuk Beristirahat di Dalam Kristus

Melengkapi kisah pemulihan Elia yang kita renungkan di hari-hari sebelumnya, Matius 11:28-29 ini adalah “jawaban” langsung dari Yesus bagi setiap jiwa yang merasa lelah. Jika Elia harus berjalan jauh ke Gunung Horeb untuk mendengar bisikan Tuhan, Yesus kini datang mendekat dan mengundang kita secara pribadi. Yesus tidak memanggil mereka yang merasa suci, kuat, atau sukses. Dia memanggil yang “letih lesu” (kelelahan secara internal/fisik) dan “berbeban berat” (tekanan dari luar, aturan agama yang kaku, atau tuntutan hidup). Yesus tidak berkata “Belajarlah dari kuasa-Ku,” melainkan “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” Kelegaan sejati tidak datang dari perubahan situasi di luar kita, tetapi dari perubahan karakter di dalam kita. Saat kita belajar melepaskan ego, kesombongan, dan ambisi yang membebani, jiwa kita secara otomatis akan menemukan ketenangan. Istirahat yang Yesus tawarkan bukanlah sekadar tidur fisik atau liburan singkat. Itu adalah ketenangan jiwa yang tetap ada meski badai hidup sedang menerpa. Kelegaan adalah janji Tuhan, tetapi kita perlu datang kepadaNya dalam doa. Di bawah kuk yang sama dengan Yesus, beban yang berat menjadi ringan karena kasih-Nya yang menopang.

Doa: Tuhan, kami datang dan meletakan seluruh beban hidup ini di bawah kaki salibMu, Amin

*SUMBER : SHK BULAN MEI 2026, LPJ-GPM

Tinggalkan komentar