Santapan Harian Keluarga, 2-8 April 2023

Tema Bulanan :

Ttema Mingguan :

Minggu, 2 April 2023

bacan : Matius 27 : 32-44

Yesus disalibkan
32 Ketika mereka berjalan ke luar kota, mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang bernama Simon. Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus. 33 Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak. 34 Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya. 35 Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi. 36 Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia. 37 Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: "Inilah Yesus Raja orang Yahudi." 38 Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya. 39 Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, 40 mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!" 41 Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: 42 "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya. 43 Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah." 44 Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga.

Pikul salib bersama Yesus

Semua orang ingin selamat sehingga segala upaya dilakukan untuk menjaga keselamatan dirinya. Ada yang melakukan tindakan antisipatif jika tahu ada ancaman atau ada yang berjuang keluar dari situasi malapetaka dan musibah. Perjalanan Yesus ke bukit Golguta atau Bukit Tengkorak adalah perjalanan untuk pelaksanaan hukuman mati, yakni disalibkan. Semua orang yang turut dalam hadir dalam iring-iringan Yesus menuju ke Golguta atau persis bahwa ia akan mati di atas kayu salib. Ketika tiba di bukit Golguta dan Yesus disalibkan di situ, banyak orang menggelengkan kepala menghujat dan mengolok-oloknya dengan perkataan : orang lain IA diselamatkan, tapi diriNya sendiri tidak bisa diselamatkan. Sejatinya Yesus dapat menyelamatkan diriNya, namun ia tidak mau melakukannya. Yesus harus menjalani apa yang sudah Allah Bapa tentukan bagi diriNya, demi penebusan dan penyelamatan umat manusia. Karena itu, Ia menjalani hingga akhir dengan taat. Hari ini kita sungguh hari ini kita sungguh bersyukur dan mengagungkan Tuhan atas karya penyelamatan yang dikerjakan Allah dalam Yesus Kristus. Ada banyak anak yang mau menyatakan pengakuan dan kesedihan diri untuk sungguh-sungguh taat beriman dan memikul salib bersama Yesus pengakuan sebagai anggota sidi Gereja Protestan Maluku. Kiranya semakin banyak orang tergerak untuk percaya dan mengikuti Yesus, lalu taat dan setia memikul salib. Itulah Respon yang sepatutnya ditunjukkan oleh semua orang yang mau menjadi pengikut Yesus, atas Anugerah keselamatan yang telah dikerjakan Allah melalui Kristus Putra TunggalNya.

doa : mampukanlah kami untuk taat dan setia memikul salib bersama Yesus, amin

Senin, 3 April 2023

bacaan : Matius 10 : 34-39

Yesus membawa pemisahan Bagaimana mengikut Yesus
34 "Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. 35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, 36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. 37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. 38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. 39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Pegang Erat Komitmen Mengikut Yesus

Mengikut Yesus membutuhkan sikap pengorbanan dan komitmen melepaskan segala kepentingan diri, kelompok, dan golongan. Mengikut Yesus memerlukan juga keikhlasan dan ketulusan hati. Meskipun nyawa menjadi taruhan, mengikut Yesus tetaplah menjadi komitmen yang teguh dan kuat. Ini harus menjadi prinsip hidup orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Bacaan hari ini mengingatkan hal tersebut. Tidak boleh ada lasan apapun ketika mau mengikutiNya, baik itu alasan hal orang tersebut. tua, anak, bahkan nyawa yang terancam. Yesus mau kita mengikutiNya dengan kesungguhan hati. Tidak dengan separuh atau setengah hati. Mengikut Yesus harus pula tanpa memperhitungkan untung-rugi. Banyak orang Kristen beranggapan bahwa kalau mengikut Yesus pasti senang, tidak ada masalah. selalu mendapat berkat, kesuksesan dan sebagainya. Ketika anggapan-anggapan ini selalu ada dalam pikiran dan tidak terwujud dalam perjalanan hidup, maka orang menjadi goyah. Mereka mengemukakan berbagai alasan ketika diminta komitmennya untuk melayani. Firman Tuhan mengingatkan kita semua, pegang eratlah komitmen dalam mengikut Tuhan Yesus, apapun situasi dan kondisi hidup yang dijalani. Kerelaan dan ketaatan memikul salib dan mengikut Yesus, memberikan kepada kita kelayakan dan kemuliaan yang tidak bisa diberikan oleh dunia ini yakni keselamatan kekal.

doa : Kami mau memegang teguh komitmen untuk mengikutMu, Yesus. Amin.

Selasa, 4 April 2023

bacan : Matius 16 : 24-25

24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. 25 Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Jangan Takut Kehilangan Nyawa karena Yesus

Tidak ada manusia yang ingin kehilangan nyawa, sebab bicara tentang nyawa berarti itu menyangkut kehidupan atau kematian. Kehidupan adalah masih ada nyawa. Sebaliknya, kematian menunjukkan bahwa seseorang sudah tidak lagi bernyawa. Atas dasar itulah, orang selalu melakukan apapun untuk mempertahankan nyawa agar tetap hidup. Dalam kenyataannya, banyak pengikut Yesus yang telah dan mau melepaskan imannya kepada Yesus supaya tidak kehilangan nyawa. Melalui nas bacaan hari ini, Yesus mengingatkan kita tentang hal kehilangan nyawa. Barang siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya. Tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena AKU (Yesus), ia akan memperolehnya (ay.25), Sebagai pengikut Yesus, janganlah takut menghadapi berbagai tantangan dan ancaman hidup. Jangan pula takut kehilangan nyawa karena Yesus. Nyawa tidak diciptakan melainkan dianugerahkan oleh Allah Bapa kepada manusia. Orang yang kehilangan nyawa karena Yesus, akan memperolehnya kembali dari Allah Bapa. Jadi, sikap yang harus dimiliki oleh kita adalah tidak menyangkal Yesus karena alasan apapun. Setialah mengikutiNya hingga akhir hidup.

Doa : Kuatkan kami untuk tidak menyangkal Yesus dlam segala situasi hidup, Amin

Rabu, 5 April 2023

Bacaan : Yohanes 12 : 25-26

25 Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. 26 Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.

Hidup untuk melayani Tuhan

Mengikut dan melayani Tuhan adalah panggilan yang berharga. Ini menjadi Respon yang indah ketika seseorang mengalami Kasih Setia Tuhan. Injil Yohanes melukiskan Kasih setia Tuhan melalui pengorbanan Kristus bagi manusia. Pengorbanan ini begitu besar dan memberi arti penting bagi manusia. Nampak dalam perumpamaan tentang biji gandum. Jika biji gandum mati ia terbelah dan bertumbuh menjadi banyak biji gandum. Semangat berbagi itu menjadi tanda kasih bagi banyak orang. Sebagai orang yang telah ditebus dan diselamatkan oleh Kristus, setiap orang Kristen diberikan kesempatan melayani Aku, dia akan dihormati Bapa. Ini suatu janji yang sungguh menggembirakan. Melayani Tuhan adalah sebuah kehormatan yang diberikan kepada kita selagi masih ada waktu dan kesempatan. Karena itu, layanilah Tuhan dengan setia dan sepenuh hati. Lakukanlah pekerjaan pelayanan dengan tulus dan penuh sukacita. Yakinlah Tuhan memberkati orang-orang yang setia melayaninya melalui sikap dan tindakan sehari-hari sesuai dengan kerja dan panggilan masing-masing. Marilah saling melayani di dalam kasih Kristus.

Doa : Mampukanlah kami untuk melayanimMu dengan setia dan tulus, Amin

Kamis, 6 April 2023

bacaan : Matius 11 : 28-30

28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. 29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

Datanglah pada Yesus, Ia Lemah Lembut dan Rendah Hati.

Semua orang punya masalah kesulitan dan beban hidup tersendiri. Di dalam situasi seperti itu tidak semua orang mampu mengatasi masalah dan beban hidupnya. Terkadang orang terjerumus pada pikiran dan perbuatan yang jauh dari kehendak Tuhan. Hal ini membuat hidupnya semakin sulit dan tidak bahagia. Melalui nas ini Yesus menawarkan solusi atau jalan keluar yang dapat memberikan sukacita dan kelegaan. Ada tiga hal yang merupakan ajakan Yesus, Pertama, datanglah kepadaNya, pikullah kuk dan belajar daripadaNya. Sikap Yesus yang lemah lembut dan rendah hati nampak dalam sikapNya yang mau menerima siapa saja. Ajakan untuk selalu datang kepada Yesus adalah ajakan untuk belajar dan sikapNya yang lemah lembut dan rendah hati. Itu yang akan memberikan ketenangan kepada jiwa. Lemah lembut dalam tutur kata dan rendah hati dalam perbuatan mesti menjadi ciri khas setiap pengikut Tuhan. Lemah lembut dan rendah hati kepada siapa saja yang kita jumpai. Zaman sekarang sikap lemah lembut dan rendah hati mulai sulit dijumpai dalam kehidupan bersama, juga dalam keluarga. Banyak yang berlomba untuk memperlihatkan diri sebagai yang hebat. Sulit menerima kekurangan dan kelebihan orang lain. Kita diajak hari ini teladanilah Tuhan Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, karena orang-orang seperti inilah yang memiliki bumi.

doa : padamu kami merasakan kelegaan karena engkau lemah lembut dan rendah hati amin

Jumat, 7 April 2023

bacaan : Matius 27 : 46-56

Yesus mati
45 Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. 46 Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? 47 Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: "Ia memanggil Elia." 48 Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum. 49 Tetapi orang-orang lain berkata: "Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia." 50 Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. 51 Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, 52 dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. 53 Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang. 54 Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah." 55 Dan ada di situ banyak perempuan yang melihat dari jauh, yaitu perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus dari Galilea untuk melayani Dia. 56 Di antara mereka terdapat Maria Magdalena, dan Maria ibu Yakobus dan Yusuf, dan ibu anak-anak Zebedeus.

Kematian Yesus di hari Jumat Agung

Hari ini kita merayakan Jumat Agung atau kematian Yesus Kristus. Kita mengenang kembali pengorbanan Kristus untuk menebus dosa manusia. KematianNya adalah kematian terhadap dosa yang dilakukan oleh manusia. Karena itu kematian Yesus sungguh Agung. Alam ikut merayakan kematianNya. Hal ini terlihat pada saat Yesus tergantung di kayu salib, ketika Ia menyerahkan nyawaNya. Serentak dengan itu tabir Bait Suci terbelah menjadi dua. Terjadi gempa bumi yang dahsyat dan bukit-bukit batu terbelah. Hal ini menandakan bahwa penderitaan dan kematian Yesus dirasakan oleh seisi alam semesta. KematianNya menghancurkan sekat pemisah yaitu dosa yang menghalangi manusia untuk datang kepada Allah. Penderitaan dan kematian Yesus akhirnya tergenapi dan menjadi kesaksian yang menimbulkan pengakuan percaya dan orang-orang yang menganiaya-Nya. Itulah kesaksian kepala pasukan yang berkata sungguh IA ini adalah Anak Allah. Penderitaan dan kematian Yesus di hari Jumat Agung mengajarkan kepada kita betapa pentingnya menghargai pengorbananNya. Setia mengikuti Yesus walaupun diperhadapkan dengan banyak tantangan dan penderitaan. Mengikuti Yesus mewajibkan kita mengikuti jalan hidup-Nya, ajaran-ajaran-Nya dan setia melakukan kehendak-Nya setiap hari.

doa : Yesus terima kasih atas pengorbananmu bagi kami amin

Sabtu, 8 April 2023

bacaan : Matius 27 : 62-66

Kubur Yesus dijaga
62 Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus, 63 dan mereka berkata: "Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit. 64 Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama." 65 Kata Pilatus kepada mereka: "Ini penjaga-penjaga bagimu, pergi dan jagalah kubur itu sebaik-baiknya." 66 Maka pergilah mereka dan dengan bantuan penjaga-penjaga itu mereka memeterai kubur itu dan menjaganya.

Perkuat Iman untuk Setia, Teguh dan Berani

Ketakutan yang berlebihan biasanya membuat orang bukan saja kehilangan akal sehat, namun juga Iman. Hal itu yang terjadi pada diri imam-imam kepala dan orang Farisi setelah kematian Yesus. Mereka takut jangan sampai murid-murid Yesus mengambil mayat Yesus dari kubur dan mengatakan Yesus sudah bangkit. Para imam kepala dan orang Farisi takut kehilangan popularitas dan pengikut. Mereka telah menyaksikan Yesus mati disalib. Kepala pasukan beserta prajurit-prajurit dan banyak orang mengakui bahwa Yesus adalah anak Allah. Hal ini menimbulkan kepanikan pada Imam kepala dan orang Farisi. Jika Yesus bangkit pada hari ketiga sesuai perkataan-Nya ketika masih hidup, maka pengakuan akan Yesus adalah anak Allah yang semakin menyebar. Banyak orang akan percaya kepada Yesus dan mengikuti-Nya. Firman ini memberikan pesan agar iman dan akal sehat kita jangan pernah hilang jika menghadapi situasi sulit. Kita harus meyakini bahwa apa yang telah dilakukan Yesus melalui penderitaan dan kematian-Nya adalah benar-benar fakta yang menguatkan iman percaya. Sebab itu jangan hanya karena ingin mencari kenyamanan diri, membuat iman menjadi lemah dan menghianati pengorbanan Yesus. Jadilah para pengikut Yesus yang setia Teguh dan berani.

doa : Ya Yesus tolonglah kami untuk setia kepadamu dan tidak mencari kenyamanan diri, amin

sumber : SHK bulan April 2023, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 26 Maret – 1 April 2023

Tema Bulanan :

Tema Mingguan :

Minggu, 26 Maret 2023                                   

Bacaan: Matius 27 : 11 – 26

Yesus di hadapan Pilatus
11 Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" Jawab Yesus: "Engkau sendiri mengatakannya." 12 Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apapun. 13 Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" 14 Tetapi Ia tidak menjawab suatu katapun, sehingga wali negeri itu sangat heran. 15 Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak. 16 Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas. 17 Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?" 18 Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki. 19 Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: "Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam." 20 Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati. 21 Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: "Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?" Kata mereka: "Barabas." 22 Kata Pilatus kepada mereka: "Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?" Mereka semua berseru: "Ia harus disalibkan!" 23 Katanya: "Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?" Namun mereka makin keras berteriak: "Ia harus disalibkan!" 24 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!" 25 Dan seluruh rakyat itu menjawab: "Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!" 26 Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Perjuangkan Keadilan

Pengadilan merupakan salah satu lembaga tempat dimana perkara seseorang atau sekelompok orang diadili. Salah satu hal yang paling mendasar dalam proses pengadilan yakni memperjuangkan dengan seadil-adilnya dan berpegang pada kebenaran. Akan tetapi hal yang mendasar ini seringkali diabaikan karena ada kepentingan pihak-pihak tertentu. Bacaan kita hari ini merupakan kisah yang menceritakan tentang diadilinya Yesus oleh wali negeri yakni Pilatus. Dalam proses peradilan itu imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi memberikan tuduhan kepada Yesus, namun sama sekali  tidak digubris oleh-Nya dan lebih memilih untuk diam (ay. 12-14). Sikap diamnya Yesus tidak berarti menunjukkan ketidakberdayaan-Nya, tetapi memperlihatkan ketidaksukaan-Nya terhadap tuduhan palsu dan pengadilan bengkok tersebut. Sikap diamnya Yesus juga bukanlah sikap pasif yang pasrah kepada keadaan, melainkan sikap aktif memfokuskan diri-Nya kepada kehendak Allah. Ketidakadilan yang pernah dialami oleh Yesus mungkin saja dialami juga oleh kita. Ketidakadilan dapat saja terjadi dimana-mana termasuk di ruang pengadilan, dalam pelayanan masyarakat, gereja maupun keluarga. Ketika diperhadapkan dengan situasi seperti yang dialami oleh Yesus, tentunya kita akan berjuang dengan sekuat tenaga untuk membela diri. Salah satu sikap atau tindakan yang dilakukan untuk membela diri, misalnya dengan membantah setiap tuduhan yang dianggap tidak benar. Namun sikap atau tindakan diamnya Yesus mengajarkan kepada kita bahwa, mengupayakan keadilan tidak harus dilakukan dengan membela diri. Karena meskipun keadilan dan kebenaran dapat diputar-balikan dihadapan manusia, namun hal itu tidak berlaku dihadapan Allah. Oleh sebab itu teruslah memperjuangkan semua yang adil dan benar dengan keyakinan bahwa Allah turut bekerja didalamnya.

Doa: Ya Tuhan, tolong kami agar mampu untuk terus memperjuangkan keadilan. Amin.

Senin, 27 Maret 2023                                    

Bacaan: Matius 27 : 27 – 31

Yesus diolok-olokkan
27 Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. 28 Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. 29 Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!" 30 Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. 31 Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan.

Akibat Ketidakadilan

Ketidakadilan dapat saja terjadi dimana saja termasuk dalam ruang pengadilan sekalipun. Situasi seperti ini dapat terjadi karena mereka yang memiliki peranan penting dalam proses peradilan tidak berani mengatakan ya bagi yang benar atau tidak bagi yang salah. Ketidakadilan yang terjadi dapat berdampak buruk bagi pihak yang diadili yakni penghukuman. Hal seperti inilah yang terjadi dan dialami langsung oleh Yesus, meskipun penderitaan-Nya merupakan rencana Allah demi karya penyelamatan manusia. Ia harus menjalani penderitaan atas kesalahan yang sama sekali tidak diperbuatnya. Ia diolok-olok, diludahi, dipukul kepala-Nya tanpa ada rasa prikemanusiaan sedikitpun (ay. 29-30). Tindakan penganiayaan yang dilakukan kepada Yesus sesungguhnya menunjukkan kebengisan orang-orang yang tidak berpihak kepada kebenaran. Ketidakadilan yang terjadi pada Yesus dapat juga dialami pada diri kita baik di lingkungan masyarakat, gereja dan ruang lingkup terkecil sekalipun seperti keluarga. Misalnya orang tua yang menghukum anaknya tanpa mendengar dan mempertimbangkan dengan baik duduk persoalannya. Namun berdasarkan kisah penganiayaan Yesus dalam bacaan kita hari ini, hendak mengajarkan bahwa memperjuangkan keadilan merupakan hal yang paling penting. Karena dengan memperjuangkan keadilan, sama halnya berpegang kepada kebenaran dan tidak semena-mena terhadap orang lain. Karakter seperti inilah yang harus dihidupi oleh setiap orang percaya serta dipertahankan dalam menjalani kehidupan. Oleh sebab itu tetaplah hidup dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, sehingga memberikan keadilan bagi siapa saja yang ada di sekitar kita. Ingatlah dan camkanlah, katakan ya bagi semua hal yang benar dan tidak bagi semua hal yang salah, agar tidak ada yang menderita karena kesalahan kita.

Doa: Tuhan Yesus, jadikanlah kami sebagai pelaku-pelaku kebenaran dan keadilan. Amin.

Selasa, 28 Maret 2023                               

Bacaan: Yohanes 18 : 28 – 32

Yesus di hadapan Pilatus
28 Maka mereka membawa Yesus dari Kayafas ke gedung pengadilan. Ketika itu hari masih pagi. Mereka sendiri tidak masuk ke gedung pengadilan itu, supaya jangan menajiskan diri, sebab mereka hendak makan Paskah. 29 Sebab itu Pilatus keluar mendapatkan mereka dan berkata: "Apakah tuduhan kamu terhadap orang ini?" 30 Jawab mereka kepadanya: "Jikalau Ia bukan seorang penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!" 31 Kata Pilatus kepada mereka: "Ambillah Dia dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu." Kata orang-orang Yahudi itu: "Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang." 32 Demikian hendaknya supaya genaplah firman Yesus, yang dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.

Keputusan Sepihak

Lasimnya suatu keputusan yang ditetapkan oleh seorang pemimpin dalam lembaga peradilan berdasarkan pertimbangan atas keterangan-keterangan yang diberikan, baik dari pihak saksi maupun terdakwa.  Akan tetapi hal ini berbeda dengan tindakan Pilatus sebagai seorang pemimpin, ketika orang-orang Yahudi membawa Yesus kepadanya. Pasalnya ia hanya bertanya kepada salah satu pihak yakni orang-orang Yahudi yang menginginkan kematian Yesus. Namun mereka tidak dapat memberikan alasan yang jelas kepadanya terkait dengan kesalahan Yesus sehingga Ia di cap sebagai seorang penjahat (ay. 30). Tanpa ada pertimbangan yang matang, Pilatus pun membuat keputusan secara sepihak yakni menyuruh orang-orang Yahudi untuk menghakimi Yesus sesuai hukum taurat mereka (ay. 31a). Meskipun pada akhirnya pihak orang Yahudi menolak untuk menghakimi Yesus, karena didasari pada ajaran hukum taurat mereka yang melarang membunuh (ay. 31b). Tindakan Pilatus yang mengambil keputusan secara sepihak menunjukkan terjadinya krisis kepemimpinan. Sebab krisis kepemimpinan akan berakibat fatal karena tidak dapat bertindak sesuai dengan yang semestinya yakni mengutamakan keadilan. Dikatakan demikian karena tindakan yang dilakukannya hanya atas keterangan salah satu pihak tanpa mengetahui kebenaran secara pasti. Tindakan yang dilakukan Pilatus tidaklah patut untuk dicontohi oleh kita, ketika dipercayakan sebagai seorang pemimpin. Sebab dalam pengambilan keputusan, seorang pemimpin dituntut untuk mengutamakan nilai-nilai kebenaran dan keadilan serta tidak timbang sebelah dan berpihak pada yang salah. Jadilah pribadi yang selalu memperjuangkan keadilan dimanapun kita berada baik dalam ruang lingkup pekerjaan (masyarakat), kehidupan bergereja maupun di dalam keluarga. 

Doa:   Tuhan Yesus, mampukanlah kami menjadi pemimpin yang adil. Amin.

Rabu, 29 Maret 2023                               

Bacaan: Yohanes 18 : 33 – 38a

33 Maka kembalilah Pilatus ke dalam gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya: "Engkau inikah raja orang Yahudi?" 34 Jawab Yesus: "Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?" 35 Kata Pilatus: "Apakah aku seorang Yahudi? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala yang telah menyerahkan Engkau kepadaku; apakah yang telah Engkau perbuat?" 36 Jawab Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini." 37 Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Jadi Engkau adalah raja?" Jawab Yesus: "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku." 38a Kata Pilatus kepada-Nya: "Apakah kebenaran itu?"

Berani Menyampaikan Kebenaran

Salah satu sikap atau tindakan memperjuangkan keadilan yakni dengan berani mengutarakan fakta yang sebenarnya. Akan tetapi tidak semua orang mampu mengambil sikap dan tindakan seperti ini. Hal ini disebabkan karena tidak berani, adanya tekanan atau ancaman dari pihak lain dan sebagainya. Akan tetapi berbanding terbalik dengan sikap dan tindakan yang ditunjukkan oleh Yesus dalam bacaan kita. Terlihat jelas bahwa dalam proses peradilan yang dihadapi Yesus, Ia meresponi setiap pertanyaan yang ditujukan kepada-Nya oleh Pilatus (ay. 34, 36-37). Sikap dan tindakan yang dilakukan oleh Yesus, memperlihatkan keberanian-Nya bersuara untuk menyatakan pendapat. Tanpa gentar sedikitpun, Yesus membenarkan perkataan Pilatus tentang status yang dimilikinya sebagai seorang raja (ay. 37). Tindakan berani tanpa takut yang dilakukan oleh Yesus sudah sepatutnya diteladani oleh kita. Karena ada saat dimana kita hanya perlu diam dan mendengar saja, tetapi ada saat dimana kita juga harus secara tegas bersuara. Sebab semua orang memiliki hak untuk berpendapat bahkan membela diri sekalipun. Sikap takut dan tidak berani akan cenderung membuat kita seperti seorang pengecut dan tidak mampu mengungkapkan kebenaran. Padahal ketika kita menyampaikan pendapat bahkan mengungkapkan kebenaran, menunjukkan karakter dan ciri khas kekristenan yang meneladani Yesus. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa untuk mengungkapkan kebenaran, kita dapat saja diperhadapkan dengan berbagai tantangan seperti tekanan,  ancaman, status sosial yang rendah dll. Jangan biarkan hal-hal tersebut membungkam mulut kita untuk memperkatakan kebenaran, karena dengan demikian menunjukkan keberpihakkan kita dalam memperjuangkan keadilan. Tetaplah berani mengupayakan dan memperjuangkan kebenaran juga keadilan.

Doa:  Bapa di Sorga, tolonglah kami untuk memperkatakan yang benar meski ada dalam derita. Amin.

Kamis, 30 Maret 2023                              

Bacaan: Yohanes 18 : 38b – 40

(18-38b) Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka: "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya. 39 Tetapi pada kamu ada kebiasaan, bahwa pada Paskah aku membebaskan seorang bagimu. Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi bagimu?" 40 Mereka berteriak pula: "Jangan Dia, melainkan Barabas!" Barabas adalah seorang penyamun.

Diburu Tanpa Bersalah

Kisah Yesus dihukum mati yang digambarkan Yohanes, merupakan kelanjutan dari kisah dimana Ia diadili oleh Pilatus. Sesuai pemeriksaan yang dilakukan terhadap Yesus, Pilatus tidak menemukan kesalahan apapun pada diri-Nya. Anehnya, Pilatus tidak dengan tegas memutuskan kebebasan pada Yesus tetapi justru mengajukan pertanyaan tentang kebebasan-Nya kepada orang Yahudi. Tindakan Pilatus menunjukkan kepribadiannya yang tidak berani membela apa yang benar sesuai dengan hati nuraninya. Tindakan Pilatus ini juga dinilai sebagai suatu tindakan yang keliru, ragu-ragu (skeptis), labil dan cari aman karena tidak dapat mengambil keputusan sesuai kewenangannya. Hal ini disebabkan karena ketakutannya kepada orang banyak itu. Yesus harus mendapatkan ketidakadilan dan diburu tanpa bersalah. Situasi ini nampak ketika orang-orang Yahudi lebih memilih untuk mebebaskan Barabas sang penyamun ketimbang Yesus. Tindakan mereka seperti itu memperlihatkan sikap dan karakter manusia yang tidak dapat memperjuangkan keadilan. Bagian bacaan kita ini hendak mengajarkan bahwa  tindakan Pilatus dan orang-orang Yahudi tidaklah patut untuk dicontohi. Di satu sisi kita harus menentukan keputusan yang sesuai dan tidak bertolak belakang dengan kebenaran. Di sisi lainnya juga kita tidak dapat seenaknya menuduh serta menghakimi orang lain tanpa ada bukti yang pasti. Meskipun demikian, tanpa disadari seringkali kita menjadi pelaku ketidakadilan dalam kehidupan seperti yang dilakukan oleh Pilatus dan orang-orang Yahudi. Jadilah pribadi-pribadi yang selalu memperjuangkan keadilan bagi diri, keluarga bahkan juga orang lain. Sebab dengan begitu  menunjukkan kepribadian kita yang baik dan benar di hadapan Allah Sang hakim yang adil.

Doa: Tuhan, pimpin kami agar memahami bahwa setiap orang ingin diperlakukan dengan seadil-adilnya. Amin.

Jumat, 31 Maret 2023                                   

Bacaan: Yohanes 19 : 1 – 12

Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia. 2 Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka memakaikan Dia jubah ungu, 3 dan sambil maju ke depan mereka berkata: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Lalu mereka menampar muka-Nya. 4 Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: "Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya." 5 Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: "Lihatlah manusia itu!" 6 Ketika imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Dia, berteriaklah mereka: "Salibkan Dia, salibkan Dia!" Kata Pilatus kepada mereka: "Ambil Dia dan salibkan Dia; sebab aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya." 7 Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: "Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah." 8 Ketika Pilatus mendengar perkataan itu bertambah takutlah ia, 9 lalu ia masuk pula ke dalam gedung pengadilan dan berkata kepada Yesus: "Dari manakah asal-Mu?" Tetapi Yesus tidak memberi jawab kepadanya. 10 Maka kata Pilatus kepada-Nya: "Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?" 11 Yesus menjawab: "Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya." 12 Sejak itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Dia, tetapi orang-orang Yahudi berteriak: "Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar."

Tetap Teguh Dalam Derita

Pada prinsipnya setiap orang yang melakukan pelanggaran atau kejahatan, harus menerima hukuman sesuai perbuatannya. Namun ada juga orang-orang yang dengan terpaksa menjalani hukuman akibat perbuatan orang lain (mis: dijebak, difitnah, dll). Situasi seperti inilah yang dialami oleh Yesus dalam bacaan kita. Akibat fitnahan yang disampaikan oleh orang-orang Yahudi, membuat Yesus harus menanggung penderitaan karena disesah, diolok bahkan ditampar (ay. 1-3). Meskipun Pilatus telah mengatakan tidak mendapati kesalahan pada Yesus, tetapi imam-imam kepala dan para penjaga bersikeras untuk menyalibkan-Nya (ay. 4, 6). Hukuman mati yang diinginkan orang Yahudi kepada Yesus didasari alasan karena Yesus manganggap diri-Nya sebagai anak Allah (ay. 7). Untuk meyakinkan dirinya, Pilatus mengajukan pertanyaan lagi kepada Yesus tentang siapa diri-Nya (ay. 9). Akan tetapi atas pertanyaan itu Yesus memilih untuk diam. Pilatus melanjutkannya dengan pernyataan terkait jabatannya, tapi dengan tegas Yesus membantahnya. Hal ini mengindikasikan bahwa Yesus tetap berpegang teguh pada pendirian-Nya meski harus menderita. Berpegang teguh artinya sikap yang tetap pada pendirian dan tidak mudah terpengaruh oleh situasi apapun. Sikap Yesus memperlihatkan ketaatan-Nya yang berpegang teguh terhadap semua rencana Allah. Oleh karena itu Ia rela dihukum meski tanpa bersalah. Keteguhan yang diperlihatkan oleh Yesus haruslah juga menjadi sikap dan kepribadian kita. Keteguhan dimaksud tentu saja tidak terlepas dari kehendak Allah. Sikap seperti ini akan menolong kita agar tidak mudah goyah dan terpengaruh meski diperhadapkan dengan penderitaan. Selamat mengakhiri bulan ini dan masukilah bulan yang baru dengan tetap berpegang teguh pada Yesus. 

Doa: Ajari kami ya Tuhan untuk tetap  teguh beriman kepada-Mu, walaupun ada dalam penderitaan. Amin.

*SUMBER SHK Bulan Maret-April 2023, LPJ GPM

Santapan Harian Keluarga, 19-25 Maret 2023

Tema Bulanan :

Tema Mingguan :

Minggu, 19 Maret 2023                                   

Bacaan: 1 Petrus 4 : 12 – 19

Menderita sebagai Kristen
12 Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. 13 Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya. 14 Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu. 15 Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. 16 Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu. 17 Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah? 18 Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa? 19 Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.

Bersukacitalah dalam Penderitaan

Bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya. Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu. (1Ptr.  4:13-14). Firman Tuhan saat ini mengangkat topik tentang penderitaan Kristus,  bukan supaya kita berkecil hati apalagi takut dan kuatir, melainkan supaya kita bersukacita. Pada saat saya menjalani kemoterapi kanker sampai 8 kali setiap tiga minggu sekali, itu bukan hal yang mudah pada awalnya. Saya harus melawan rasa mual dan terus memaksa diri untuk tetap makan, walaupun saya tahu setelah makan pasti akan muntah kembali. Tetapi saya harus tetap makan dan itu berlangsung selama beberapa minggu.Ssetiap kemoterapi gejala yang dirasakan ada pada saat seminggu pertama, seperti mual-mual, muntah, rambut rontok, rasa nyeri hampir diseluruh badan dan efek-efek yang lain Semua itu selalu saya rasakan pada saat setelah melakukan pengobatan kemo. Penderitaan yang dirasakan itu saya jalani tanpa mengeluh dan tetap bersukacita, walaupun berat tetapi saya yakin bisa melewatinya bersama Tuhan. Saya tetap bernyanyi memuji Tuhan di tengah penderitaan yang dialami, berkumpul bersama keluarga dan teman serta selalu bersyukur untuk apapun yang Tuhan berikan. Bersukacita dalam penderitaan memang bukan hal yang mudah, tetapi kalau kita mengikutsertakan Tuhan hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Jika kita meminta Tuhan campur tangan untuk memberi kekuatan, maka semuanya pasti bisa dihadapi dan dilewati bersama-Nya.

Doa: Ya Tuhan, ajarlah kami untuk selalu bersukacita sekalipun ada dalam penderitaan. Amin.   

Senin, 20 Maret 2023                                      

Bacaan: Mazmur 16 : 7 – 11

7 Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. 8 Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. 9 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; 10 sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. 11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

Iman dalam Penderitaan

Pada saat itu Daud sedang merasakan pedihnya mendapatkan ancaman dari musuh-musuhnya. Namun dalam kondisi yang penuh dengan pergumulan, Daud tidak memilih untuk mengeluh dan berputus asa. Melainkan ia memiliki cara sendiri untuk mengatasi segala sesuatu yang dihadapinya pada saat itu. Daud menyadari bahwa sukacita dan kebahagiaan yang ia alami adalah berada di dalam tangan Tuhan. Untuk itu Daud terus menambatkan imannya kepada Tuhan dari tengah-tengah masalah dan penderitaannya. Baru-baru ini ada berita peristiwa gempa yang terjadi di Sukabumi dan dampaknya sangat dirasakan di kota Cianjur. Rumah saya dan keluarga yang di Cianjur, juga ikut terkena dampaknya.  Sebagian tembok hancur dan genteng berjatuhan. Papa dan mama yang ada di Jakarta pun harus mendadak ke Cianjur untuk melihat kondisi rumah. Setelah mereka kesana dan melihat kondisi rumah, saya dan adik mendapatkan kiriman video tentang keadaan rumah kami itu. Kami sekeluarga sedih, tetapi yang saya ingat mama pada saat itu mengatakan,“kita bangun rumah itu berkatnya dari Tuhan. Sekarang rumah itu rusak karena gempa, nanti Tuhan yang membantu kita menyediakan berkat untuk memperbaiki kerusakkannya”. Setelah kami mendengar kata-kata mama itu, kami kembali bersukacita dan tetap percaya pasti Tuhan berikan jalan dan berkat. Tuhan sanggup melakukan hal apapun, ketika kita mau percaya dan bersandar pada-Nya. Kita harus punya iman menghadapi kesulitan dan penderitaan. Tidak larut dalam kesedihan melainkan percaya, ada Tuhan yang selalu akan menolong.

Doa: Tuhan, tolonglah agar kami tetap punya iman dalam penderitaan sehingga selalu ada sukacita dalam hati. Amin.

Selasa, 21 Maret 2023                                               

Bacaan: Roma 5 : 1 – 4

Hasil pembenaran
Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. 2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. 3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, 4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

Ketekunan Dalam Penderitaan

Daya tahan kita akan terlatih ketika mengalami masalah, tantangan, cobaan, kesulitan hidup, dan penderitaan. Saat ini terjadi, ada dua pilihan: Kita tekun, atau menyerah. Pilihlah untuk tetap tekun. Namun, jangan hanya karena mengharapkan buah atau hasilnya secara instan, yang terpenting di sini adalah kemauan untuk menjalani semuanya dengan rela dan gigih. Dengan bersikap demikian maka kita telah berada di jalur yang benar. Pada saat menjalani pengobatan kemoterapi karena sakit, saya juga menjalani pengobatan radiasi sebanyak 25 kali dan karena itu harus ke rumah sakit setiap hari pulang-pergi dari senin sampai jumat. Pada saat itu, setiap kali ke rumah sakit saya di damping oleh orang tua, kadang karena cuaca kami naik mobil tetapi lebih sering menggunakan motor. Kami setiap hari harus ke rumah sakit apapun tantangannya dan itu semua dilakukan dengan tekun dan sabar baik oleh saya juga orangtua. Oleh pertolongan Tuhan, saya bisa menjalani semua proses pengobatan sampai akhir dengan baik. Ketika menjalani penderitaan, kadang kita tidak sabar dengan prosesnya. Kita ingin proses yang cepat atau bahkan di tengah proses itu merasa ingin menyerah. Dalam teks hari ini dikatakan bahwa, kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Tidak semua penderitaan itu buruk, ada penderitaan yang akan berdampak baik untuk diri, karena lewat penderitaan kita diproses Tuhan untuk menjadi pribadi yang tahan uji. Dampak tahan uji adalah kita menjadi pribadi yang lebih kuat menghadapi kehidupan. Tetaplah kuat di dalam Tuhan.

Doa: Ya Tuhan, Beri kami kekuatan dalam menghadapi setiap penderitaan. Amin.

Rabu, 22 Maret 2023                                               

Bacaan: Lukas 15 : 8 – 10

Perumpamaan tentang dirham yang hilang
8 "Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? 9 Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. 10 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."

Dalam Derita, Tuhan Hadir

Dirham disini adalah gambaran dari mata uang emas atau perak. Sesuatu yang sangat berharga, sama seperti halnya satu orang jiwa yang bertobat. Bukti bahwa manusia berharga di mata Tuhan adalah karya Yesus di kayu salib untuk menyelamatkan umat manusia. Sebab itu, Tuhan begitu rindu melihat anak-anakNya bertobat dan berbalik kembali kepada-Nya. Perumpamaan ini memberi kita gambaran yang luar biasa tentang  Tuhan, bagaimana cara Ia menilai manusia yang terhilang. Hati-Nya penuh cinta, selalu tergerak mencari orang yang hilang atau berdosa. Semua dilakukan oleh-Nya demi kehidupan yang masih harus terus berlanjut dalam kesadaran dan pembaruan diri. Saat memutuskan untuk jauh dari keluarga karena panggilan pelayanan, tentu saya dengan sadar tahu bahwa ada resiko yang akan ditanggung misalnya saya harus mengusahakan segala sesuatu sendiri. Terkadang merasa seperti sedih dan kehilangan, tetapi saya tahu Tuhan ada bersama. Melalui orang-orang yang peduli dan mau saling membantu, segala sesuatu dapat dijalani. Apapun yang dirasakan dalam hidup, saya tetap bersukacita karena tahu tangan-Nya yang kuat selalu menopang. Dalam hidup ini sesungguhnya kita tidak pernah sendiri. Itulah sebabnya, kehidupan yang sulit penuh masalah, tantangan dan penderitaan seharusmya tidak membuat kita menjauh dari Tuhan. Justru melalui semua itu membuat kita mengerti Kehadiran Tuhan dan peranan-Nya dalam kehidupan. Mari jalani hidup dengan menjadi lebih kuat dari sebelumnya dan terang Tuhan yang nampak dalam diri akan semakin bercahaya dan menyinari sekeliling kita.

Doa: Tuhan. tolong untuk selalu menyadari bahwa Engkau hadir dalam penderitaan kami. Amin.

Kamis, 23 Maret 2023                                              

Bacaan: Filipi 2 : 12 – 18

Tetaplah kerjakan keselamatanmu
12 Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, 13 karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. 14 Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, 15 supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, 16 sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah. 17 Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian. 18 Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku.

Tetaplah Taat Dalam Segala Situasi dan Kondisi

Rasul Paulus menghubungkan ketaatan dengan integritas. Mereka yang memiliki integritas akan tetap taat pada Tuhan apapun kondisi hidup yang dialaminya. Melalui surat ini, jemaat Filipi didorong untuk tetap taat pada Tuhan, tidak hanya pada saat Rasul Paulus hadir, namun ketika Rasul Paulus tidak bisa hadir bersama jemaat. Bagi Rasul Paulus, ibadah memang tidak boleh berhenti hanya dalam ruang ibadah. Ibadah harus terwujud secara konkret dalam kehidupan. Keselamatan yang telah diterima harus diperjuangkan dalam ketaatan dan integritas hidup. Betapapun tidak ada yang melihat dan menyaksikan ketaatan yang kita tampilkan, namun tetaplah hidup dalam ketaatan. Ada cerita tentang seorang ibu penjual kue yang menjajakan dagangannya dipinggir jalan, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Walaupun hidup pas-pasan bersama keluarganya, kadang mereka hanya makan sekali sehari. ia tetap bersyukur.  Suatu ketika ada pria bermobil yang berhenti untuk membeli dagangannya, pria itu membeli semua kuenya, saat pria itu berjalan ke mobil, ibu itu melihat uang 100 ribu milik pria bermobil yang jatuh. Sebenarnya ibu itu bisa saja menunggu pria itu pergi dan mengambil uangnya, tetapi ia tidak melakukannya. Ia mengembalikan uang itu kepada pemiliknya. Cerita di atas dan nas hari ini memberikan pesan bahwa dalam kondisi apapun bahkan ketika susah dan menderita, ketaatan kepada Tuhan harus tetap dinampakkan. Itulah integritas kita sebagai orang beriman yang setia melakukan perintah-Nya. Melalui hidup yang benar orang akan melihat keberadaan Tuhan didalam kita.

Doa: Ya Tuhan, Mampukan kami supaya selalu taat kepada-Mu dalam segala situasi dan keadaan. Amin.

Jumat, 24 Maret 2023                                  

Bacaan: 1 Tesalonika 5 : 16 – 18

16 Bersukacitalah senantiasa. 17 Tetaplah berdoa. 18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

Hati yang Bersukacita

Sukacita adalah suatu bentuk ungkapan perasaan sebagai pandangan hidup dari orang-orang yang selalu memiliki sikap optimis atau pengharapan dalam menghadapi segala situasi hidup. Boleh saja tekanan hidup datang menghampiri, tetapi perasaan sukacita itu tidak pupus karena ia memiliki iman dan pengharapan kepada Tuhan. Sukacita adalah bukti dari kualitas iman seseorang sebagai hasil dari pengalaman batin dalam hidupnya. Sukacita tercipta karena adanya dorongan energi positif yang mengalir dalam diri seseorang karena hubungannya dengan Tuhan. Sukacita tidak ditentukan oleh situasi, sehingga tidak terperangkap kepada hal-hal yang bersifat lahiriah saja. Artinya, secara lahiriah bisa saja seseorang kelihatan menderita dan serba kekurangan, namun di dalam batinnya dia merasa berkecukupan, sehingga tidak gampang dirongrong oleh kekuatiran. Paulus menasihatkan jemaatnya di Tesalonika untuk tetap bersukacita meski mereka harus mengalami penderitaan yang begitu rupa karena penganiayaan. Tantangan menjadi pengikut Kristus memang sungguh nyata dan benar-benar mereka alami, maka dari itu Paulus ingin jemaat memperkokoh hidup persekutuan dengan bersukacita (ay.16), tekun berdoa (ay.17), dan bersyukur (ay.18). Kepada kita pun diingatkan hal yang sama. Tantangan, persoalan dan penderitaan telah menjadi bagian kehidupan manusia. Namun, Tuhan mau kita tetap mengandalkan-Nya, menaikkan doa, selalu bersyukur dan memiliki hati yang bersukacita dimana pun kita berada. Tuhan Allah yang kita imani adalah Tuhan yang tidak pernah mengecewakan, maka berharaplah pada-Nya Sumber sukacita yang sejati.

Doa: Ya Tuhan, Mampukan kami untuk selalu berpengharapan kepadaMu. Amin.

Sabtu, 25 Maret 2023                               

Bacaan: 2 Korintus 12 : 1 – 10

Paulus menerima penglihatan dan penyataan
Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun demikian aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan yang kuterima dari Tuhan. 2 Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau--entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya--orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. 3 Aku juga tahu tentang orang itu, --entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya-- 4 ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia. 5 Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku. 6 Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang menghitungkan kepadaku lebih dari pada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari padaku. 7 Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. 8 Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. 9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.

Text Box: Senang Dan Rela Dalam Penderitaan

Derita merupakan suatu kondisi atau perasaan yang tidak menyenangkan dan dapat dialami oleh pribadi atau sekelompok orang. Kondisi atau perasaan yang tidak menyenangkan ini, tentu saja tidak ingin dialami oleh siapapun. Penderitaan seringkali membuat mereka yang mengalaminya memberikan reaksi yang berbeda-beda. Mungkin saja ada yang dengan sabar dan ikhlas, tetapi ada juga yang bimbang, kecewa dan putus asa. Lebih parahnya lagi dapat meyalahkan diri sendiri, orang lain dan juga menyalahkan Tuhan. Penderitaan juga dialami dan diungkapkan Paulus dalam bacaan kita hari ini. Penderitaan itu diakibatkan karena keraguan jemaat Korintus atas kerasulan Paulus. Selain itu penderitaannya juga bertujuan agar ia tidak meninggikan diri atas penglihatan dan penyataan yang dinyatakan kepadanya (ay. 7). Paulus tetap meresponi setiap penderitaan yang ditanggungnya dengan senang dan rela. Karena baginya dalam kelemahan, siksaan, kesukaran, penganiayaan dan kesesakan itu ia justru mengalami kuasa Tuhan (ay. 9-10). Penderitaan tidak hanya dapat dialami dan dirasakan oleh Paulus saja, tetapi juga kita sebagai orang percaya. Terjadinya penderitaan dapat disebabkan karena berbagai macam faktor misalnya ekonomi, kesehatan, hubungan sosial dan lain sebagainya yang berdampak buruk bagi pribadi, keluarga bahkan masyarakat. Namun sebagaimana Paulus yang melihat derita sebagai sesuatu yang memungkinkannya merasakan kuasa Allah, demikian juga seharusnya dengan kita. Oleh karena itu apapun bentuk penderitaan yang kita alami tetaplah menjalaninya dengan sabar, ikhlas serta penuh kerelaan. Janganlah bimbang, kecewa dan putus asa atas setiap penderitaan yang menghampiri hidup. Tetaplah berbahagia dan bersukacita, sambil meyakini bahwa Allah akan senantiasa menunjukkan kuasa-Nya.

Doa: Ya Tuhan, ajarilah kami memaknai penderitaan yang dialami dan  senantiasa meyakini kuasa-Mu. Amin.

*SUMBER : SHK Bulan Maret 2023, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 12-18 Maret 2023

Tema Bulanan :

Tema Mingguan :

Minggu, 12 Maret 2023                                

Bacaan: Matius 26 : 47 – 56

Yesus ditangkap
47 Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. 48 Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: "Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia." 49 Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: "Salam Rabi," lalu mencium Dia. 50 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Hai teman, untuk itukah engkau datang?" Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya. 51 Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. 52 Maka kata Yesus kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. 53 Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? 54 Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?" 55 Pada saat itu Yesus berkata kepada orang banyak: "Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. 56 Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi." Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.

Serukan Perdamaian, Hentikan Kekerasan!

Kisah pengangkapan Tuhan Yesus merupakan awal penderitaan yang akan dialami oleh-Nya. Menarik, bahwa Tuhan Yesus ditangkap justru karena petunjuk dari salah seorang Murid-Nya. Pada akhirnya, penangkapan itu terjadi. Tuhan Yesus sama sekali tidak mengelak atau menghindar, Ia justru mengakui peristiwa ini harus terjadi agar genaplah semua yang tertulis dalam kitab nabi-nabi (ay.56).

Memasuki minggu sengsara keempat ini, pandangan kita diarahkan kepada awal kesengsaraan Tuhan Yesus yang dipenuhi dengan tindakan kekerasan. Dalam bacaan kita, ada kekerasan yang terjadi yakni perlawanan para murid dengan segerombolan orang yang akan menangkap Yesus dan salah seorang dari mereka yakni Hamba Imam Besar mendapatkan perlakuan kekerasan dari salah satu murid Yesus. Hal ini membuat Tuhan Yesus marah dan mengatakan: barangsiapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang, artinya kekerasan yang dibalas dengan kekerasan hanya akan berujung pada kesengsaraan dan penderitaan. Setiap manusia siapapun dia pasti tidak ingin diperlakukan kasar oleh sesamanya, baik secara psikis maupun fisik, verbal maupun non verbal. Tindakan kekerasan hanya menyisakan traumatic, kesedihan dan penderitaan tetapi juga rusaknya relasi dalam kehidupan. Jadi, mari berusahalah hidup damai dan menjauhi kekerasan. Ini harus menjadi gaya hidup kita, sebab hidup dalam kedamaian pasti membawa ketentraman dan kenyamanan. Lawanlah kejahatan, jangan balas kekerasan dengan kekerasan dan jadilah agen-agen perdamaian di dalam keluarga, dunia kerja, lingkup pelayanan dan masyarakat.

Doa: Roh Kudus penuhilah hati kami agar tetap hidup dalam kasih dan perdamaian. Amin.

Senin, 13 Maret 2023                                         

Bacaan: Mazmur 11 : 1 – 7

TUHAN, tempat perlindungan
Untuk pemimpin biduan. Dari Daud. Pada TUHAN aku berlindung, bagaimana kamu berani berkata kepadaku: "Terbanglah ke gunung seperti burung!" 2 Sebab, lihat orang fasik melentur busurnya, mereka memasang anak panahnya pada tali busur, untuk memanah orang yang tulus hati di tempat gelap. 3 Apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu? 4 TUHAN ada di dalam bait-Nya yang kudus; TUHAN, takhta-Nya di sorga; mata-Nya mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia. 5 TUHAN menguji orang benar dan orang fasik, dan Ia membenci orang yang mencintai kekerasan. 6 Ia menghujani orang-orang fasik dengan arang berapi dan belerang; angin yang menghanguskan, itulah isi piala mereka. 7 Sebab TUHAN adalah adil dan Ia mengasihi keadilan; orang yang tulus akan memandang wajah-Nya.

Perlindungan Sejati hanya Bersama Tuhan

Pengalaman menjadi seorang Voluntier/relawan pada satu Yayasan penanganan kekerasan anak dan perempuan di Maluku, memberi kesan berbeda bagi Sarah (nama samaran) terhadap perlakuan kekerasan yang dialami anak dan perempuan, baik kekerasan seksual maupun KDRT. Dampak yang sangat besar dialami oleh para korban kekerasan yaitu hilang kepercayaan diri dan hilang percaya pada orang lain. Dalam konteks ini, sebagai relawan bahkan konselor, sarah berupaya menciptakan suasana aman bagi korban kekerasan yang didampinginya agar mendapatkan kembali kepercayaan dirinya. Selain pemulihan diri dan batin, Sarah mengarahkan pandangan orangyang didampinginya itu kepada Tuhan sebagai tempat perlidungan baginya. Tuhan adalah Allah yang peduli dan selalu menolong orang-orang lemah. Tuhan tidak suka akan perilaku kekerasan. Pada ayat yang ke-5 dan 6 dari bacaan ini, pemazmur menegaskan hal penting itu kepada kita bahwa Tuhan membenci kekerasan, Ia  menghujani orang-orang fasik dengan arang berapi dan belerang; angin yang menghanguskan.

Penderitaan karena kekerasan sering mengakibatkan ketidakberdayaan. Manusia dalam keterbatasannya tidak memiliki kekuatan apapun ketika ada dalam situasi yang demikian. Oleh karenanya, berharap pada keadilan Tuhan menjadi kekuatan setiap jiwa yang berjuang serta menjadikan kita sebagai orang-orang yang sadar bahwa hanya Tuhanlah tempat perlindungan dan sumber kedamaian. Jadikanlah Tuhan sebagai penopang dalam kehidupan. Percayalah semualLuka dalam hidup, hati dan batin kita akan terobati di dalam Kasih dan Penyertaan-Nya.

Doa: Kami sungguh Meyakini Tuhan, hanya Bersama-Mu segala kesesakan hidup berubah menjadi kelegaan. Amin.

Selasa, 14 Maret 2023                                      

Bacaan: Kolose 3 : 18 – 21

Hubungan antara anggota-anggota rumah tangga
18 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. 19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. 20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. 21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.

Menenun Cinta Kasih Tuhan dalam Keluarga

Nas hari ini berbicara tentang hubungan antar angota-anggota keluarga. Laki-laki yang juga adalah suami dan bapa berperan penting menciptakan serta memelihara hubungan hidup yang harmonis di antara semua anggota keluarga. Hubungan hidup yang harmonis itu harus tetap dijaga baik saat senang maupun susah. Memang pada saat menghadapi dan menjalani kesusahan atau penderitaan, kita cenderung emosional dan bertindak kasar. Sehingga hubungan hidup yang harmonis dalam keluarga menjadi terganggu.  Rasul Paulus secara khusus memberikan peringatan kepada suami-suami agar tidak berlaku kasar kepada istrinya. Hal ini menandakan bahwa hubungan antar anggota keluarga, yakni suami-istri harus tercipta keharmonisan. Oleh karenanya, dalam setiap penggembalaan pra nikah para pendeta selalu mengingatkan tentang peran suami-istri sebagai partner yang sama-sama bertanggungjawab menjaga keharmonisan dalam keluarga. Membangun keharmonisan hidup rumah tangga berarti harus menumbuhkan sikap saling menghargai, memahami, mencintai, dan mengayomi. Benar, bahwa dalam setiap rumah tangga pasti ada masalah yang dihadapi namun janganlah masalah-masalah itu menjadi cikal bakal keretakan dalam rumah tangga apalagi jika ada kekerasan yang terjadi di dalamnya. Kekerasan verbal maupun non verbal akan menyisakan rasa sakit baik psikis maupun fisik. Oleh sebab itu, hiduplah saling menghormati dan memahami. Jadikan Kristus sebagai nahkoda dalam rumah tangga agar kehidupan keluarga tetap diberkati dan menjadi saluran berkat bagi sesama.

Doa: Tuhan, Ajarkan kami untuk hidup saling mengasihi di dalam keluarga.  Amin.

Rabu, 15 Maret 2023                                            

Bacaan: Amsal 16 : 29

29 Orang yang menggunakan kekerasan menyesatkan sesamanya, dan membawa dia di jalan yang tidak baik.

Allah menghendaki Hidup yang Penuh Kasih

Kata bang Napi: “kejahatan terjadi bukan karena ada niat pelakunya, tetapi karena ada kesempatan, waspadalah!”. Pernyataan ini menegaskan bahwa kejahatan terjadi  bukan hanya soal ada rencana dan niat dari pelaku, tetapi juga ketika ada kesempatan. Terhadap mereka yang melakukan kejahatan dan kekerasan itu ditegaskan dalam bacaan kita hari ini bahwa mereka sedang berjalan ke arah yang tidak baik. Kehidupan yang dikuasai oleh pikiran yang jahat, kebusukan hati dan keegoisan pada akhirnya tidak akan membuahkan hasil yang baik. Oleh sebab itu jika kita menyadari bahwa kita adalah anak-anak Allah yang sudah diselamatkan maka respon atas keselamatan itu ialah melakukan perbuatan baik yang dikehendaki Tuhan dan membawa sukacita bagi sesama. Ciptakan relasi yang baik dengan sesama dengan tidak merancang kejahatan, iri hati, dendam bahkan melakukan kekerasan bagi sesama. Tindakan kekerasan merupakan tindakan yang tidak beriman. Sebab akibat dari tindakan ini menimbulkan hidup yang jahat, sesat atau lalim bagi orang lain. Tuhan Allah melalui pengorbanan Yesus Anak-Nya, menyatakan kasih-Nya agar kita tidak lagi hidup serupa dengan dunia yang hanya memikirkan kesenangan sesaat, kepuasan semata untuk menyakiti hati sesama. Marilah, dengan kerendahan hati miliki sikap yang mengutamakan hidup dalam kedamaian dengan sesama serta menjunjung tinggi kasih Tuhan yang rela berkorban itu, agar kita semakin dimampukan untuk hidup dalam kasih dan menjadi agen-agen perdamaian dalam kehidupan setiap hari.

Doa:  Roh Kudus, penuhilah hati kami dengan Kasih-Mu agar hidup penuh kasih dengan sesama. Amin.

Kamis, 16 Maret 2023                                      

Bacaan: Amsal 20 : 20 – 22

20 Siapa mengutuki ayah atau ibunya, pelitanya akan padam pada waktu gelap. 21 Milik yang diperoleh dengan cepat pada mulanya, akhirnya tidak diberkati. 22 Janganlah engkau berkata: "Aku akan membalas kejahatan," nantikanlah TUHAN, Ia akan menyelamatkan engkau.

Kejahatan Dibalas Dengan Kebaikan

Prinsip mata ganti mata dan gigi ganti gigi (Kel 21:24), dalam tradisi Israel adalah hukum pencegahan yang bertujuan untuk memastikan ada hukuman yang sesuai diberikan kepada pelaku pelanggaran. Hal ini baik agar tidak terjadi lagi pelanggaran-pelanggaran yang lain serta memberi efek jera bagi para pelaku. Di luar hukum yang berlaku itu, sebagai orang percaya kita meyakini sungguh bahwa pembalasan adalah Hak Tuhan. Oleh sebab itu Amsal 20:22 mengajak kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan melainkan menyerahkan sepenuhnya persoalan hidup kita kepada Tuhan. Menantikan kuasa-Nya bekerja dalam setiap pergumulan hidup adalah cara tepat untuk tetap mempercayakan kehidupan kita kepada-Nya. Jangan mengambil hak Tuhan untuk membalas. Melainkan dengan terus mendoakan mereka yang berlaku tidak adil, kita yakin kelak kehidupan mereka diperbarui dan tidak mengulang pelanggaran atau kejahatan yang sama. Memperingati  minggu sengsara Tuhan Yesus ke empat ini, pandangan kita harus tertuju pada sikap Yesus yang tetap merendah walaupun difitnah, disiksa, dihujat dan dihukum sekalipun. Sikap yang ditunjukkan oleh Tuhan ini bukan karena ketidakberdayaan atau ketidakmampuan-Nya, melainkan karena ketaatan-Nya kepada Allah Bapa di Sorga. Kita diberikan kesempatan untuk menyatakan ketaatan kepada Allah dengan membawa semua gumulan hanya kepada-Nya. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan membalas kejahatan dengan kebaikan.

Doa: Tolonglah kami Tuhan untuk membalas kejahatan dengan kebaikan, Amin.

Jumat, 17 Maret 2023                                     

Bacaan: Matius 5 : 38 – 39

38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. 39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

Bersikap Sopan dan Menjauhi Kekerasan

Hukum dalam teks ini dimaksudkan untuk mencegah kejahatan yang satu karena bila dilakukan maka akan ada balasan yang sepadan. Pada waktu itu seseorang yang menampar pipi kanan orang lain, pasti menggunakan sebelah luar tangan kanan. Sebenarnya yang dimaksudkan ialah bahwa menampar pipi kanan seseorang dengan sebelah luar tangan kanan menandakan penghinaan terhadap orang yang ditampar, Tekanannya bukan pada rasa sakit, tetapi pada penghinaan terhadap orang yang ditampar. Yesus mengajar agar kejahatan yang berupa penghinaan itu tidak perlu dibalas dengan kejahatan pula. Sebaliknya, Yesus mengajarkan agar selalu murah hati. Orang yang murah hati tidak akan membalas kejahatan yang ia terima. Pada saat di sekolah dulu saya sering dibuly oleh teman-teman, mulai dari kekerasan verbal sampai kekerasan fisik. Saya tidak tahu mengapa saat itu mereka suka sekali melakukan hal itu terhadap saya, tetapi semua itu tidak pernah saya ambil dihati. Saya memandang mereka sebagai teman-teman yang harus selalu dikasihi, saya hanya mengatakan kepada Tuhan saat itu untuk selalu memberikan kekuatan dan kesabaran. Kita tentu tidak suka apabila diperlakukan dengan kasar atau jahat oleh orang lain. Kita menginginkan supaya orang lain bersikap sopan, baik dan tidak kurang ajar. Maka mulailah dari diri sendiri untuk selalu bersikap sopan, baik dan menjauhi kekerasan, baik verbal maupun fisik. Jadikanlah diri sebagai contoh terlebih dahulu untuk melakukan yang benar, maka orang lain bahkan lingkungan sekitar akan mengikuti apa yang kita praktekkan.

Doa: Ya Tuhan, Mampukan kami untuk menjadi contoh yang benar, bersikap sopan dan menjauhi kekerasan. Amin.

Sabtu, 18 Maret 2023                                        

Bacaan: Matius 5 : 43 – 48

43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. 45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. 46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? 48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

Berdoa untuk Mereka

Kata-kata Tuhan Yesus dalam bacaan hari ini merupakan pengajaran yang amat dikagumi namun juga tidak disukai oleh kebanyakan orang. Kata-kata ini bertentangan dengan apa yang biasanya orang dunia lakukan kepada musuh-musuhnya. Kristus mengajarkan kita untuk mengasihi sesama dengan sungguh. Saat kebanyakan orang di dunia ini lebih bersikap menuntut balas ketika disakiti, dicurangi atau dirugikan, Kristus mengajak kita untuk mengasihi dan bahkan mendoakan mereka yang telah membuat sakit dan menderita (ay. 44). Pada saat lulus kuliah dan memutuskan untuk test vikaris sebelum melayani di GPM, saya pernah mendaftar di suatu lembaga dan mengikuti sebagaimana prosedur yang ada dengan semua tahapannya. Tiba saat pengumuman hasil ternyata saya dinyatakan tidak lulus karena alasan keterbatasan fisik. Kaki saya yang cacat seperti ini, mereka anggap tidak bisa melayani di pedalaman. Saya lahir sebagai bayi prematur yakni usia 6 bulan, jadi ada di bagian kaki  yang masih belum terbentuk sempurna dan mempengaruhi cara berjalan. Ketika saya mendengar itu saya sedih dan menangis, lalu mengatakan kepada Tuhan: “Tuhan, apa yang mereka katakan saya tidak dapat merubahnya, saya serahkan kepada-Mu”. Akhirnya setelah satu tahun berselang, Tuhan punya rencana yang lebih indah. Saya dipakai-Nya sebagai pelayan di GPM. Dalam penderitaan, berserulah kepada Tuhan dan Ia akan memberikan apa yang terbaik. Jangan membalas dalam bentuk apapun ketika kita disakiti, sebaliknya serahkan semuanya dalam doa karena Tuhan yang lebih tahu apa yang baik bagi kehidupan setiap orang.

Doa: Ya Tuhan, Mampukan kami berdoa bagi mereka yang menyakiti kami. Amin.

*SUMBER : SHK Bulan Maret 2023, LPJ-DPM

Santapan Harian Keluarga, 5-11 Maret 2023

Tema Bulanan :

Tema Mingguan :

Minggu, 05 Maret 2023                                       

Bacaan: Yohanes 3 : 1 – 21

Percakapan dengan Nikodemus
Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. 2 Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." 3 Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." 4 Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" 5 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. 6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. 7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. 8 Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh." 9 Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?" 10 Jawab Yesus: "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? 11 Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. 12 Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi? 13 Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia. 14 Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, 15 supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. 16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. 17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. 18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. 19 Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. 20 Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; 21 tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."

Kasih Yang Menyelamatkan

Film “The Passion Of the Christ” yang disutradarai oleh aktor Mel Gibson, menggambarkan penderitaan hebat yang dialami Yesus menjelang kematian-Nya. Bagaimana Yesus dihina, diolok-olok, dicaci maki, diludahi, dipukuli bahkan sampai mati sebagai penjahat di kayu salib. Yesus menempuh jalan “Via Dolorosa” yaitu jalan penderitaan.  Penderitaan-Nya menjadi bukti betapa besar kasih Allah bagi dunia ini, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (ayat 16). Ayat ini menerangkan bahwa pekerjaan Kristus dan keselamatan yang ditawarkan-Nya bersumber pada kehendak dan tindakan Allah sendiri. Karya keselamatan yang dikerjakan Allah didalam Yesus kristus karena Allah begitu mengasihi manusia di dunia ini. Kita telah berdosa karena itu, melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib supaya kita memperoleh keselamatan Allah. Dengan demikian, setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan beroleh hidup yang kekal, sedangkan bagi mereka yang tidak percaya pasti akan memperoleh kebinasaan/penghakiman. Makna bagi kita yang merayakan Minggu Sengsara Tuhan Yesus, yakni: Pertama, kita telah menerima kasih setia Allah melalui pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib. Maka cinta kasih Allah yang sejati ini dapat kita teruskan dalam membangun hubungan antara suami-isteri, orang tua-anak, saudara dengan saudara baik sedarah maupun tidak sedarah (Misalnya:Kampung, negeri), rekan kerja, pelayan dengan umat, dan sebagainya. Kedua, Tuhan Yesus telah mengalami penderitaan dan kematian karena misi yang diberikan Bapa kepada-Nya, mengingatkan kita sebagai pengikut Kristus pun akan menderita, karena itu tetaplah setia dan percaya kepada Tuhan. Ada harga yang harus kita bayar sebagai bukti ketaatan kita kepada Tuhan. Bagi mereka yang percaya akan memperoleh hidup yang kekal (keselamatan), sebaliknya yang tidak percaya akan mendapatkan kebinasaan.

Doa: Terima kasih atas kasih-Mu yang menyelamatkan kami,amin.

Senin, 06 Maret 2023                                       

Bacaan: Ratapan 3 : 19 – 24

Ratapan 3:19-24 (TB) "Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu."
Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.
Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,
selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!
"TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

Berharap Pada Kasih Setia Tuhan

Setiap orang memiliki memori (ingatan masa lalu), entah itu yang baik maupun buruk. Keduanya melekat erat, bahkan kadang kembali terlintas. Saat ingatan yang baik muncul kita mungkin akan tersenyum bahagia. Sebaliknya, kenangan buruk justru bisa menyebabkan guncangan jiwa (trauma). Ingatan negatif tersebut tentu ingin dilupakan. Namun, bagaimana cara menghilangkan ingatan atau melupakan sesuatu yang buruk?. Nabi Yeremia pernah memiliki pengalaman yang sama. Ia sulit untuk melupakan peristiwa kelam yang dialami oleh bangsa Yehuda, yakni kehancuran kota Yerusalem, runtuhnya Bait Allah, dan umat dibuang ke Babel. Sebagai seorang nabi,Yeremia merasa sangat menyesal dan gagal karena ia menyaksikan penderitaan yang dialami oleh bangsanya sendiri. Hal ini  membawa kesedihan yang mendalam bagi Yeremia, sehingga dia katakan: “jiwaku selalu teringat hal itu, dan tertekan dalam diriku (ayat 21). Namun dalam kesedihan dan penyesalan yang mendalam itu, ia masih tetap berharap pada Tuhan. Yeremia percaya bahwa Allah yang penuh kasih setia dan rahmat (ayat 22) adalah Allah yang akan menyelamatkan dan memberikan pemulihan kepada Yehuda, dimana mereka akan memiliki masa depan yang baru. Makna bagi kita, ada banyak masalah yang kita hadapi yang dapat menyebabkan trauma. Misalnya: kekerasan, perceraian, bencana alam, dan sebagainya. Nabi Yeremia memberikan teladan yang baik bagi kita, tentang bagaimana sikap kita menghadapi masalah, yakni percaya dan berharap kepada Tuhan. Janganah membiarkan hidup dibelenggu oleh pengalaman hidup yang kelam dan membuat kita hanya bisa meratapi kehidupan ini. Manfaatkanlah kesempatan hidup untuk melakukan sesuatu yang lebih berkualitas. Kecenderungan berbuat dosa, tinggalkanlah!. Sebaliknya, dengan berharap dan percaya kepada Tuhan, teruslah bersemangat menjalani kehidupan ini.

Doa: Tuntunlah kami untuk tetap berharap pada kasih setia-Mu, amin.

Selasa, 07 Maret 2023                                   

Bacaan: Ratapan 3 : 25 – 33

25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. 26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN. 27 Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya. 28 Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau TUHAN membebankannya. 29 Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan. 30 Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan. 31 Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan. 32 Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya. 33 Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia.

Teguran Tuhan Membawa Pada Jalan Kehidupan

Kitab Ratapan merupakan lanjutan dari kitab Yeremia. Berisikan puisi yang mengisahkan tragedi besar dalam sejarah bangsa Yahudi, yakni kehancuran Bait Allah di Yerusalem dan pembuangan bangsa Yehuda ke Babel. Kenyataan pahit ini, membuat Yeremia mengalami kesedihan yang mendalam bukan hanya bagi dirinya, namun juga bagi para tawanan dan mereka yang tertinggal hidup dalam kemiskinan (band. Ratapan 2:11). Dalam situasi penderitaan tersebut, Yeremia menasehati Yehuda  untuk Percaya dan berharap hanya kepada Tuhan, sebab Ia baik kepada orang yang berharap dan mencari Dia (ayat 25). Yeremia mengingatkan mereka agar tidak mencari pertolongan kepada bangsa-bangsa asing, tapi menanti dengan diam pertolongan Tuhan (ayat 26). Mereka tidak boleh menyesal, bersungut-sungut tentang apa yang dialami, sebab penderitaan yang mereka alami adalah justeru karena dosa mereka sendiri. Karena itu, mereka harus menyesali diri dan bertobat, supaya Tuhan memulihkan dan menyelamatkan kehidupan mereka kembali. Pesan firman ini adalah penderitaan yang terjadi dalam hidup adalah cara untuk menolong kita bertobat dan membarui hidup. Sebab kadangkala penderitaan yang kita alami adalah teguran akibat dari kesalahan atau dosa. Karena itu, ketika mengalami masalah dan penderitaan dalam hidup, mari sadari keberadaan diri, akuilah kesalahan dan mohon pengampunan. Jika kita mau bertobat dengan sungguh-sungguh, maka Tuhan  akan kembali menyayangi dengan kasih setia-Nya (ay.33). Anugerah pengampunan yang telah diterima itu mesti ditindaklanjuti dengan meninggalkan hidup yang lama dan berbalik kepada Tuhan dan mentaati perintah-Nya. Selain itu, penderitaan tidak boleh membuat jadi lemah, kuatir, cemas. takut dan hilang harapan, melainkan terus bertumbuh menjadi kuat dalam iman dan pengharapan kepada Yesus Kristus, Juruselamat!

Doa: Tuhan, teguran-Mu selalu membawa pada jalan kehidupan. Amin.

Rabu, 08 Maret 2023                                       

Bacaan: Mazmur 69 : 14 – 19

13 (69-14) Tetapi aku, aku berdoa kepada-Mu, ya TUHAN, pada waktu Engkau berkenan, ya Allah; demi kasih setia-Mu yang besar jawablah aku dengan pertolongan-Mu yang setia! 14 (69-15) Lepaskanlah aku dari dalam lumpur, supaya jangan aku tenggelam, biarlah aku dilepaskan dari orang-orang yang membenci aku, dan dari air yang dalam! 15 (69-16) Janganlah gelombang air menghanyutkan aku, atau tubir menelan aku, atau sumur menutup mulutnya di atasku. 16 (69-17) Jawablah aku, ya TUHAN, sebab kasih setia-Mu baik, berpalinglah kepadaku menurut rahmat-Mu yang besar! 17 (69-18) Janganlah sembunyikan wajah-Mu kepada hamba-Mu, sebab aku tersesak; segeralah menjawab aku! 18 (69-19) Datanglah kepadaku, tebuslah aku, bebaskanlah aku oleh karena musuh-musuhku.

Pertolongan Tuhan Yang Menyelamatkan

Masih ingatkah kita tentang musibah gempa bumi yang terjadi di Cianjur, Jawa Barat pada bulan November 2022 yang lalu. Peristiwa tersebut telah memakan korban yang banyak, namun ada keajaiban ditengah-tengah bencana tersebut. Azka, bocah 6 tahun ditemukan selamat setelah terkurung hampir 48 jam di bawah reruntuhan rumahnya. Menurut ayahnya, “ia tetap berharap Tuhan menyelamatkan anaknya”. Memang akhirnya terjadi keajaiban, anaknya ditemukan selamat oleh tim evakuasi. Setiap manusia yang beragama pasti memiliki pengharapan kepada Tuhan Sang Pencipta pada saat mengalami masalah dan penderitaan. Demikian pun dengan Pemazmur, saat ia mengalami situasi yang sulit. Maka ia mohon perlindungan dan jalan keluar dari Allah. Ia mohon agar Allah berkenan menyelamatkan dia karena kasih setia-Nya (ayat 14). Ia berharap agar Allah segera membebaskan dari lumpur yang menenggelamkan, gelombang air yang menghanyutkan, tubir yang menelan (ayat 15-16) sebagai kiasan yang menggambarkan penderitaan dan kesengsaraan yang disebabkan oleh para musuh. Karena itu, pemazmur berharap agar Allah kiranya menjawab doanya. Ia sangat berharap pada kasih setia Allah. Ia berharap agar Allah tidak menyembunyikan wajah-Nya, melainkan segera datang untuk menyelamatkan hidupnya. Makna firman ini bagi kita adalah  sebagai orang percaya, kita yakin mujizat Tuhan nyata. Artinya, di tengah berbagai masalah, seperti: bencana alam, dimusuhi orang, mengalami praktek ketidakadilan, difitnah, gagal dalam usaha, dan sebagainya, janganlah membuat kita putus asa, kecewa dan hilang harapan. Sebaliknya, berbagai masalah itu dihadapi dengan sikap berani. Iman yang teguh kepada Tuhan melalui doa, akan membuat mata kita melihat, Tuhan yang penuh kasih setia itu menolong dan menyelamatkan tepat pada waktu-Nya.

Doa: Tuhan, berilah kami keberanian untuk menghadapi masalah. Amin.

Kamis, 09 Maret 2023                                 

Bacaan: Galatia 6 : 11 – 16

Peringatan dan salam
11 Lihatlah, bagaimana besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri. 12 Mereka yang secara lahiriah suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat, hanya dengan maksud, supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus. 13 Sebab mereka yang menyunatkan dirinyapun, tidak memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka menghendaki, supaya kamu menyunatkan diri, agar mereka dapat bermegah atas keadaanmu yang lahiriah. 14 Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. 15 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. 16 Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.

Merasakan Kasih Setia Tuhan

“Kunyanyikan kasih setia Tuhan, selamanya” adalah penggalan lirik dari pujian Pelengkap Kidung Jemaat no 14 yang biasa dikidungkan dalam kebaktian-kebaktian. Pujian ini memberi penekanan akan kasih setia Tuhan yang selalu dialami oleh orang-orang percaya dalam seluruh pergumulan kehidupan. Kasih setia Tuhan nampak dalam keberadaan manusia yang hidupnya selalu mengandalkan Tuhan bahkan ketika manusia itu lupa mensyukuri Kasih-Nya.  Rasul Paulus menyampaikan peringatan kepada jemaat di Galatia berkaitan dengan menjadi ciptaan baru. Baginya, bukanlah soal sudah disunat atau belum, setia menjalankan hukum taurat dan sebagainya, tetapi yang paling penting ialah menjadi orang-orang yang hidup dalam pembaruan. Pembaruan telah dikerjakan melalui anugerah dan kasih setia Tuhan yang menderita dan berkorban. Oleh sebab itu, mengalami pembaruan dalam diri berarti selalu mau berjalan dalam kehendak Tuhan. Meninggalkan hal lama yang tidak berkenan kepada Tuhan dan memulai hidup baru yang lebih berkenan kepada-Nya. Jadi, penyertaan Tuhan melalui kasih-Nya itu akan terus menuntun kehidupan kita agar menjadi pribadi yang lebih baik. Sebaliknya, orang-orang yang hidup bermegah dengan kekuatan sendiri kehilangan hidup dalam kasih setia Tuhan. Syukurilah bahwa dalam keadaan apapun kasih-Nya tidak pernah berubah, yang menghalangi kita merasakan kasih setia-Nya ialah kemegahan diri sendiri dan ketidaktaatan akan Firman-Nya. Marilah maknai kasih setia Tuhan sekalipun ada dalam penderitaan.

Doa: Mampukanlah kami Tuhan memaknai Kasih Setia-Mu,  Amin

Jumat, 10 Maret 2023                                

Bacaan: Mazmur 119 : 81 – 88

81 Habis jiwaku merindukan keselamatan dari pada-Mu, aku berharap kepada firman-Mu. 82 Habis mataku merindukan janji-Mu; aku berkata: "Bilakah Engkau akan menghiburkan aku?" 83 Sebab aku telah menjadi seperti kirbat yang diasapi; namun ketetapan-ketetapan-Mu tidak kulupakan. 84 Berapa lagi hari-hari hamba-Mu ini? Bilakah Engkau menghukum orang-orang yang mengejar aku? 85 Orang-orang yang kurang ajar telah menggali lobang bagiku, orang-orang yang tidak menuruti Taurat-Mu. 86 Segala perintah-Mu dapat dipercaya; mereka mengejar aku tanpa alasan--tolonglah aku! 87 Hampir saja mereka menghabisi aku di bumi, tetapi aku tidak meninggalkan titah-titah-Mu. 88 Hidupkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu, supaya aku berpegang pada peringatan yang Kauberikan.

Kasih Setia Tuhan, Menghidupkan!

Kehidupan di dunia memang tidak dapat dilepaskan dari penderitaan, permasalahaan hidup, kesengsaraan, kekecewaan, dan berbagai macam beban dalam hidup. Tetapi menjadi perenungan penting dalam hidup kita adalah, pada saat mengalami penderitaan, permasalahaan hidup, kesengsaraan, kekecewaan, dan berbagai beban kehidupan, apakah yang dapat kita lihat dan ingat? Kebanyakan orang hanya melihat pada penderitaan, permasalahan hidup, kesengsaraan, kekecewaan, dan berbagai macam beban yang dialami. Kesemuanya itu menjadi penghalang untuk melihat Tuhan dengan kuasa dan kasih yang dimiliki-Nya. Oleh karena itu banyak yang mengeluh, protes atau bahkan meninggalkan Tuhan di dalam hidupnya. Tetapi firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa kita mempunyai Tuhan yang kekal kasih setia-Nya.

Mazmur 119:81-88 mengisahkan tentang kesengsaraan pemazmur berhadapan dengan orang-orang yang ingin menghancurkannya bahkan membinasakannya. Terlihat jelas pemazmur menggambarkan kesengsaraannya dan karena itu, ia bermohon dengan sungguh kepada Allah agar menyelamatkannya. Sikap pemazmur ini mencerminkan sikap kita sebagai orang-orang yang juga berharap dengan sungguh kepada Allah ketika kita diperhadapan dengan kesengsaraan, penderitaan dan masalah. Namun ada satu sikap yang ditunjukkan pemazmur bahwa dalam keadaan apapun ia tidak akan pernah berpaling dari Kasih dan pertolongan Allah. Sikap ini haruslah kita miliki juga supaya kita tetap kedapatan tegar dan teguh berharap kepada Allah dalam setiap keadaan, sakit-sehat, suka-duka, gagal-berhasil. Tanamkan pada diri dan hati, bahwa kuasa Allah dan Kasih-Nya lebih besar dari semua pergumulan kehidupan kita.

Doa: Ya Tuhan, nyatakanlah kuasa kasih-Mu bagi kehidupan kami, Amin.

Sabtu, 11 Maret 2023                               

Bacaan: Mazmur 119 : 153 – 160

153 Lihatlah sengsaraku dan luputkanlah aku, sebab Taurat-Mu tidak kulupakan. 154 Perjuangkanlah perkaraku dan tebuslah aku, hidupkanlah aku sesuai dengan janji-Mu. 155 Keselamatan menjauh dari orang-orang fasik, sebab ketetapan-ketetapan-M tidaklah mereka cari. 156 Rahmat-Mu berlimpah, ya TUHAN, hidupkanlah aku sesuai dengan hukum-hukum-Mu. 157 Pengejar dan lawanku banyak, tetapi aku tidak menyimpang dari peringatan-peringatan-Mu. 158 Melihat pengkhianat-pengkhianat, aku merasa jemu, karena mereka tidak berpegang pada janji-Mu. 159 Lihatlah, betapa aku mencintai titah-titah-Mu! Ya TUHAN, hidupkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu. 160 Dasar firman-Mu adalah kebenaran dan segala hukum-hukum-Mu yang adil adalah untuk selama-lamanya.

A G A P E

Agape adalah kata yang paling umum yang diartikan sebagai Kasih. Dalam PB Agape berarti kasih yang paling tinggi dan paling mulia. Kasih ini menggambarkan Kasih Allah kepada manusia yang tidak terhingga dan tanpa pamrih. Pemazmur mengungkapkan pergumulannya kepada Allah yang Maha Kasih itu lewat bacaan saat ini. Pemazmur menyadari bahwa hanya oleh Karena Kasih-Nya ia dapat diselamatkan. Oleh sebab itu ia menyampaikan permohonannya kepada Allah tentang keadaan yang dialaminya; sengsaranya, perjuangannya, lawan-lawannya, para pengkhianat yang mengkhianantinya, dll. Dalam kondisi seperti ini ia merasa tidak berdaya, namun pemazmur teguh dalam ketaatannya kepada Allah sehingga ia meyakini Kasih Allah itu tidak akan berpaling darinya (ay.159). Seperti pemazmur, terkadang kehidupan yang kita jalani juga dipenuhi dengan berbagai pergumulan yang berat. Persoalan rumah tangga, pekerjaan, ekonomi, relasi dengan sesama, dsb. Berhadapan dengan pergumulan yang demikian seakan-akan kita merasa Kasih Allah jauh dari kehidupan ini. Kita berteriak memanggil dan mencari Allah untuk menolong dan menyelamatkan. Pada titik ini, kita lupa bahwa di dalam pergumulan yang berat sekalipun Allah sesungguhnya tetap mendengarkan dan mau menyatakan kasih-Nya. Kita hanya perlu terus mendekatkan diri kepada-Nya. Kita  melakukan kehendak-Nya. Dengan demikian, pergumulan berat itu pasti dapat kita lalui bersama Kasih-Nya yang selalu menyertai.

Doa:  Anugerahkanlah Kasih-Mu, Ya Allah, agar kami tetap teguh dalam setiap pergumulan hidup, Amin.

*SUMBER : SHK BUlan Maret 2023, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 26 Feb – 4 Maret 2023

Tema Bulanan : Gereja Kuat : Murnikan Hidup dan Maknai Derita

Tema Mingguan : Maknai Derita : Berserulah, Tuhan Menjawab!

Minggu, 26 Februari 2023                                 

bacaan : Matius 17 : 14 -21

Yesus menyembuhkan seorang anak muda yang sakit ayan
14 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seorang mendapatkan Yesus dan menyembah, 15 katanya: "Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. 16 Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya." 17 Maka kata Yesus: "Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!" 18 Dengan keras Yesus menegor dia, lalu keluarlah setan itu dari padanya dan anak itupun sembuh seketika itu juga. 19 Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: "Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?" 20 Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu. 21 (Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.)"

Dengan Iman Tak Ada Yang Mustahil

Persoalan adalah kenyataan yang mewarnai perjalanan kehidupan orang percaya. Datangnya tidak dapat diperkirakan kapan waktunya. Cara menanggapinya pun berbeda-beda, baik yang positif maupun negatif. Ada yang menggunakan fasilatas kesehatan, merenung dan berseru kepada Tuhan tapi lainnya mengkambing hitamkan orang lain. Teks Matius 17 : 14 – 21  berbicara tentang bagaimana Yesus menyembuhkan seorang anak muda yang sakit ayan. Tidak sedikit orang yang datang kepada Yesus meminta disembuhkan dari segala macam belenggu penyakit dan kuasa jahat. Datanglah seseorang (mungkin orang tua dari anak yang sakit) mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya: “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Penyakit, sekalipun sulit disembuhkan tapi bukan berarti tidak mungkin. Terbuka kemungkinan untuk melakukan berbagai cara, menemui banyak orang dan mendatangi tempat perawatan atau penyembuhan yang berbeda. Kesabaran, kesungguhan, ketabahan atau keuletan perlu dimiliki. Percayalah bahwa Yesus berkuasa membuat mujizat. Datang, berserah dan beserulah kepada-Nya. Pengasihan-Nya besar bagi semua orang yang percaya dan berharap pada-Nya. Yesus pasti mendengar seruan minta tolong yang disampaikan kepada-Nya. Mohonlah pertolongan-Nya saat berjuang mengatasi penderitaan karena sakit.  Dia-lah sumber kesembuhan atau penyembuh yang ajaib. Bila Yesus berkehendak, tak ada yang mustahil.

Doa: Roh Kudus mampukan kami memahami kehendak Allah agar tetap bertumbuh dalam iman dan pengharapan. Amin.

Senin, 27 Februari 2023                                   

bacaan : Matius 20: 29 – 34

Yesus menyembuhkan dua orang buta
29 Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya keluar dari Yerikho, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. 30 Ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan mendengar, bahwa Yesus lewat, lalu mereka berseru: "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!" 31 Tetapi orang banyak itu menegor mereka supaya mereka diam. Namun mereka makin keras berseru, katanya: "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!" 32 Lalu Yesus berhenti dan memanggil mereka. Ia berkata: "Apa yang kamu kehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" 33 Jawab mereka: "Tuhan, supaya mata kami dapat melihat." 34 Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia.

Berseru Dalam Pengharapan

Yesus-lah pengharapan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Pengharapan bagaikan sauh yang menentukan kapal tertambat atau tidak terbawa arus. Orang percaya tak boleh sampai hanyut terbawa gelombang penderitaan dan menjadi binasa.  Sikap dua orang buta yang disembuhkan Yesus, layak dijadikan pelajaran hidu. Kebutaan tidak membatasi mereka datang dan berseru kepada Yesus. Fisik mereka terbatas, tapi pengharapan dapat mengatasi hambatan penglihatan yang dialami. Gerak dan aktifitas fisik ada batasnya tapi tidaklah demikian dengan pengharapan. Tak ada hal yang membatasinya. Mata fisik dapat saja buta atau gelap. Namun pengharapan menjadikan mata batin bersinar. Situasi hidup seberat apa pun bukanlah penghalang untuk datang pada Yesus. Yesus yang pernah ditemui di Yerikho selalu dapat kita temui pula dalam doa yang dipanjatkan dengan berpengharapan. Pertanyaan dan permohonan yang kita sampaikan dalam pergumulan pasti didengar Yesus. Dia-lah Tuhan semesta yang Maha Mendengar. Berserulah dengan penuh harapan dengan tak berkesudahan. Setiap seruan berharap mengandung permohonan belas kasihan. Pengasihan-Nya tak berkesudahan atas orang-orang yang berharap pada-Nya. Janganlah menyerah sekalipun ada tantangan yang menghadang. Tetaplah berjuang, hindarilah menjadi orang percaya yang mudah menyerah. Kemurahan Allah tetap tersedia di kala kita bergumul menjalani dan mengatasi berbagai kesulitan. Yakinlah bahwa kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan mendekatkan diri pada Tuhan dan mengalami pertolongan-Nya.

Doa : Bapa di sorga, dengarlah seruan kami umat-Mu. Amin

Selasa, 28 Februari 2023                               

bacaan : Keluaran 2 : 23 – 25

Musa diutus TUHAN
23 Lama sesudah itu matilah raja Mesir. Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah. 24 Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. 25 Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka.

Kuasa Allah Nyata Dalam Setiap Seruan

Saat hidup berjalan tidak sesuai dengan harapan, orang mungkin saja bertanya apakah masih ada Tuhan? Andaikata Tuhan itu ada mengapa persoalan bertubi-tubi dialami, seakan tak mau pergi dari kehidupan ini? Pertanyaan seperti ini mencerminkan kerapuhan manusia saat berhadapan dengan kesulitan. Nas hari ini menyaksikan kata-kata yang maknnya memberi inspirasi saat bergumul dengan penderitaan. Kata tersebut adalah mendengar, mengingat, melihat dan memperhatikan (ayat 24,25). Semuanya menggambarkan keberadaan Allah saat umat-Nya mengalami kesusahan. Allah sesungguhnya berempatik dengan keberadaan umat-Nya. Ia tuurt merasakan dan mengambil bagian dalam penderitaan. Bangsa Israel yang telah bertahun-tahun mengalami penderitaan di Mesir mengalami tindakan pembebasan Allah. Saat seruan mereka sampai kepada Allah, Ia mengingat perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub. Allah membebaskan mereka dari penindasan dan perbudakan di Mesir. Tuhan yang Maha Tahu turut merasakan apa yang mereka rasakan. Allah tak melupakan kita yang berada dalam pergumulan hidup. Kita ini buatan tangan-Nya, Dia mengetahui setiap kenyataan yang terjadi. Terbukalah di hadapan Allah, curahkan setiap keluh kesah di hatimu dalam seruan kepada-Nya. Lihatlah pertolongan Tuhan dan jalanilah hidup sebagai orang bebas. Bebas dari penindasan dan penderitaan agar menjadi pembebas bagi orang lain. Hindarilah untuk menjadi batu sandungan yang menyebabkan orang lain tertindas atau mengalami penderitaan. Berusahalah untuk membebaskan keluarga sendiri dari penindasan dan penderitaan. Biarlah melalui hidup kita, sesama mengalami kebaikan dan kemurahan Allah.  

Doa; Ya Allah, dengar dan jawablah seruan kami minta tolong. Amin.

Rabu, 01 Maret 2023                                         

Bacaan: 1 Samuel 1 : 9 – 18      

9 Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN, 10 dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. 11 Kemudian bernazarlah ia, katanya: "TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya." 12 Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan TUHAN, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu; 13 dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk. 14 Lalu kata Eli kepadanya: "Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu dari pada mabukmu." 15 Tetapi Hana menjawab: "Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN. 16 Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila; sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku berbicara demikian lama." 17 Jawab Eli: "Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya." 18 Sesudah itu berkatalah perempuan itu: "Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu." Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi.

Dalam Pengharapan, Ada Jawaban Tuhan

Anak adalah anugerah yang paling berharga bagi orang tua, terlebih bagi orang tua yang harus menempuh sebuah perjuangan untuk memiliki anak. Misalnya, melalui proses bayi tabung,  menunggu dan bersabar dalam waktu yang panjang untuk memiliki buah hati. Perjuangan itu, tidaklah mudah butuh kesabaran, butuh dana yang cukup bahkan harus menghadapi ocehan/ejekan dari orang-orang sekitar (kapan punya anak?). Hal ini juga dialami oleh Hana, isteri Elkana dalam perikop bacaan kita tadi. Hana, disebutkan tidak memiliki anak, sedangkan Penina, isteri Elkana yang lain memiliki anak. Hal ini menyebabkan Penina mengejek Hana bertahun-tahun. Akibatnya, Hana sangat sedih dan menderita. Ayat 10-11, menyebutkan dalam keadaan yang sangat menderita dan tertekan itu, ia berdoa dan bernazar kepada Tuhan sambil berseru: “Tuhan semesta alam, perhatikanlah sengsara hamba-Mu ini dengan memberikan seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada Tuhan seumur hidupnya”. Maka jawab Nabi Elia: “Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya. Maka genaplah perkataan nabi Elia, Tuhan telah menolong dan menjawab doa Hana, sebab setahun kemudian ia mengandung dan melahirkan Samuel, yang artinya: “Aku telah memintanya dari pada Tuhan” (ayat 20). Maka Hana menggenapi nazarnya; ia menyerahkan Samuel, anak yang diperoleh dengan susah payah kepada Tuhan seumur hidup. Pesan bagi kita, setiap persoalan hidup tidak boleh membuat kita putus asa, takut dan kuatir, tapi berserulah kepada Tuhan di dalam doa. Tuhan pasti menjawab doa-doa kita menurut kehendak-Nya (ingat syair lagu: Tuhan hanya sejauh doa). Selain itu, kita pun diingatkan pada saat memperoleh berkat baik keturunan, kuasa, jabatan, kekayaan, kesuksesan jangan membuat kita sombong, membanggakan diri bahkan menganggap orang lain rendah, cenderung mengejek dan menyakiti sesama. Bersyukurlah kepada Tuhan, Sumber berkat dengan cara melayani Tuhan dan sesama.

Doa: Tuhan, dengar dan jawablah doa kami yang berharap pada-Mu, amin.

Kamis, 02 Maret 2023                                           

Bacaan: Mazmur 61 : 1 – 9

Doa untuk raja
Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Dari Daud. (61-2) Dengarkanlah kiranya seruanku, ya Allah, perhatikanlah doaku! 2 (61-3) Dari ujung bumi aku berseru kepada-Mu, karena hatiku lemah lesu; tuntunlah aku ke gunung batu yang terlalu tinggi bagiku. 3 (61-4) Sungguh Engkau telah menjadi tempat perlindunganku, menara yang kuat terhadap musuh. 4 (61-5) Biarlah aku menumpang di dalam kemah-Mu untuk selama-lamanya, biarlah aku berlindung dalam naungan sayap-Mu! Sela 5 (61-6) Sungguh, Engkau, ya Allah, telah mendengarkan nazarku, telah memenuhi permintaan orang-orang yang takut akan nama-Mu. 6 (61-7) Tambahilah umur raja, tahun-tahun hidupnya kiranya sampai turun-temurun; 7 (61-8) kiranya ia bersemayam di hadapan Allah selama-lamanya, titahkanlah kasih setia dan kebenaran menjaga dia. 8 (61-9) Maka aku hendak memazmurkan nama-Mu untuk selamanya, sedang aku membayar nazarku hari demi hari.

Tuhan Melindungi Orang Lemah

Setiap manusia pasti mempunyai masalah yang membuat jadi sedih, marah, kuatir dan takut. Hal yang sama pun dialami oleh Daud sebagai seorang raja. Ia tidak saja memiliki kejayaan dan kesuksesan; kerajaan yang besar, kekayaan yang melimpah, popularitas yang luar biasa. Namun, hidup Daud pun tidak  bebas dari masalah. Masalah yang dihadapi oleh Daud adalah serangan dari musuh-musuhnya (ayat 4). Mereka mengejar dan berusaha untuk membunuhnya.. Dalam situasi tersebut, Daud  memohon kepada Tuhan untuk menjawab doanya (Ay.2). Ia mengadukan permasalahannya dan memohon agar secepatnya Tuhan bertindak memberikan pertolongan dan perlindungan dari musuh-musuh yang bangkit melawannya. Bagi Daud hanya Tuhan satu-satunya Penolong dan Penyelamat hidupnya. Karena itu, Daud menggambarkan Tuhan sebagai tempat perlindungan dan menara yang kuat, Tuhan adalah kemah dan sayap perlindungan (ay.4-5). Daud mengakui menjalani hidup sebagai seorang penggembala (banding 2 Sam.15) bukanlah hal yang mudah karena ancaman dan bahaya selalu mengintainya. Tapi dengan menjadikan Tuhan sebagai  tempat untuk ia berlindung, maka ia akan merasa aman dan selamat (band.Maz 17:8). Makna bagi kita, Pertama, jadikanlah Tuhan sebagai tempat perlindungan yang menaungi dan menyelamatkan hidup kita dari setiap ancaman dan bahaya. Misalnya: orang-orang yang memusuhi kita, bencana alam, penyakit, masalah keluarga, dan sebagainya. Percaya dan berharap kepada Tuhan tidak akan mengecewakan kita, karena Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya. Ia selalu menjawab doa-doa kita indah pada waktunya. Kedua, kita diingatkan bahwa Tuhan menjawab doa orang-orang yang hidupnya Takut akan Tuhan dan melakukan kehendak-Nya dengan taat dan setia, rajin berbuat baik, melayani Tuhan dan orang lain.

Doa: Tuhan, lindungilah kami dari ancaman dan bahaya, amin.

Jumat, 03 Maret 2023                                           

Bacaan: Mazmur 86 : 1 – 7

Doa minta pertolongan
Doa Daud. Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku. 2 Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu. 3 Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. 4 Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku. 5 Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu. 6 Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah suara permohonanku. 7 Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku.

Tuhan Hanya Sejauh Doa

Kisah perjalanan seorang hamba Tuhan (Pendeta) dari Jakarta menuju Ambon. Mulanya perjalanan aman-aman saja tapi kemudian sebelum 30 menit pesawat lending di Bandara Pattimura, tiba-tiba cuaca menjadi sangat ekstrim (hujan disertai angin kencang). Akibatnya, menggoncangkan pesawat dengan sangat keras sehingga awak pesawat memerintahkan seluruh penumpang untuk menggunakan pelampung karena pesawat berada tepat diatas ketinggian laut. Suasana menjadi panik disertai suara tangisan dari anak-anak yang berada di dalam pesawat. Singkatnya, semua yang berada di dalam pesawat hanya dapat berserah kepada Tuhan, memohon pertolongan-Nya untuk menyelamatkan para penumpang, dan akhirnya semua tiba dengan selamat. Sama seperti orang lain pada umumnya, Daud pun pernah mengalami pergumulan dan penderitaan dalam hidupnya. Dia pernah berada dalam kesesakan (ayat 7). Penderitaan yang dimaksud adalah adanya ancaman dari musuh-musuhnya. Mereka membenci dan ingin mempermalukan serta  membunuhnya (ayat 14,17). Dalam situasi tersebut, tidak ada hal lain yang dapat dilakukan oleh Daud, selain berseru dan berdoa memohon pertolongan Tuhan. Melalui pengalaman hidupnya bersama Tuhan, pemazmur percaya bahwa Tuhan yang penuh kasih setia dan maha pengampun pasti akan menjawab seruan dan doanya (ayat 5). Pesan teks di minggu sengsara ketiga ini  adalah: ketika kita menghadapi masalah dan penderitaan, seperti: bencana alam, dimusuhi dan dibenci orang, diperlakukan dengan tidak adil dan benar, kesulitan keuangan, kehilangan pekerjaan, gagal dalam usaha, sakit, masalah antara suami-isteri, orang tua dan anak, tetangga dengan tetangga, dan sebagainya. Tetaplah percaya dan mengandalkan Tuhan. Tekunlah berdoa. Yakinlah, Tuhan tidak pernah tinggalkan dan Ia selalu menjawab doa orang-orang yang mencari-Nya.

Doa: Tuhan, kami mau berserah dan berharap hanya pada-Mu, amin.

Sabtu, 04 Maret 2023                                   

Bacaan: Mazmur 55 : 17 – 20

16 (55-17) Tetapi aku berseru kepada Allah, dan TUHAN akan menyelamatkan aku. 17 (55-18) --Di waktu petang, pagi dan tengah hari aku cemas dan menangis; dan Ia mendengar suaraku. 18 (55-19) Ia membebaskan aku dengan aman dari serangan terhadap aku, sebab berduyun-duyun mereka melawan aku. 19 (55-20) Allah akan mendengar dan merendahkan mereka, --Dia yang bersemayam sejak purbakala. Sela Karena mereka tidak berubah dan mereka tidak takut akan Allah.

Di Tengah Kecemasan, Tuhan Menjawab

Kitab mazmur berisi nyanyian, pujian, doa untuk pertolongan Allah, dan syair yang menyatakan kepercayaan umat kepada Allah. Kitab ini juga memuat berbagai perasaan yang dirasakan oleh umat, antara lain: pujian, pengucapan syukur, kesedihan, tertekan, keputusasaan dan pengharapan, hati yang terluka.  Salah satu contoh, doa minta tolong terhadap musuh (Mazmur 55:1-24) didalamnya terdapat perikop kita Mazmur 55:17-20.  Perikop ini mengisahkan masalah besar yang dihadapi oleh Daud, yakni pengkhianatan orang-orang terdekatnya, yakni: pemberontakan putranya, Absalom dan penasehat kerajaannya, Ahitofel (2 Sam 15).Mereka bersekongkol untuk menjatuhkan Daud sebagai raja (ayat 19). Dapat dibayangkan perasaan Daud saat dikhianati oleh anak dan orang kepercayaannya. Ia sangat menderita dan meratapi hidupnya sepanjang hari; baik pagi, siang maupun petang/malam (ayat 18), sampai-sampai ia merasa takut karena dikejar-kejar anaknya sendiri, sehingga ia harus melarikan diri ke tempat pengungsiaan (band. Ay.6-9). Dalam situasi terancam tersebut, Daud percaya dan mengandalkan Tuhan yang akan menyelamatkannya (ay.17,19). Tuhan akan menjawab doa orang-orang yang ditindas, sedangkan para musuh akan mengalami penghukuman Allah; dipermalukan karena perbuatan mereka yang jahat (ay.20). Makna bagi kita, dalam hidup selalu ada pengkhianatan, baik yang dilakukan oleh orang-orang dekat: suami, isteri, anak, orang tua, saudara maupun rekan kerja, rekan pelayan, rekan politik, rekan bisnis, dan sebagainya. Pengkhianatan membawa penderitaan bagi kita, apalagi yang dilakukan oleh orang dekat. Dalam penderitaan, Pemazmur mengingatkan kita untuk percaya dan mengandalkan Tuhan. Selain itu, kita pun diingatkan untuk tidak berkhianat dan melakukan kejahatan kepada sesama. Tetaplah berbuat baik.

Doa: Roh Kudus tuntun kami untuk berbuat baik kepada sesama, amin.

  • SUMBER : SHK Bulan Februari-Maret 2023, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 19 – 25 Februari 2023

Tema Bulanan : Gereja Kuat : Murnikan Hidup dan Maknai Derita

Tema Mingguan : Maknai Derita : Yesus Gunung Batu Keselamatan

Minggu, 19 Februari 2023                                   

bacaan :  Matius 17:1-13

Yesus dimuliakan di atas gunung
Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. 2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. 3 Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. 4 Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." 5 Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." 6 Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. 7 Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!" 8 Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri. 9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorangpun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati." 10 Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?" 11 Jawab Yesus: "Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu 12 dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka." 13 Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.

Jangan Takut, Sebab Kasih Yesus Besar Kepada Kita

Berjalan mengikuti seseorang yang dianggap tokoh merupakan suatu kebanggaan, apalagi dari sekian banyak orang yang ada hanya orang-orang tertentu yang dibawa. Sudah barang tentu orang yang dibawa harus tunduk dan memegang rahasia. Itulah yang terjadi ketika Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke sebuah gunung. Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Ketika tiba di gunung Yesus berdoa, dan sambil berdoa terjadilah beberapa kejadian, antara lain: 1). wajah Yesus berubah dan bercahaya seperti matahari. 2).  Pakaian Yesus menjadi sangat putih berkilat-kilat, berkilau-kilauan, bersinar seperti terang. 3). Tampak kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. 4). Terlihat  wajah Yesus penuh kemuliaan Tuhan. 5). Terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia”. 6). Yesus berkata “Berdirilah, jangan takut!”, “Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.” Peristiwa ini menunjukkan bahwa dimana pun Yesus berada, Allah Bapa selalu ada dan bersama-Nya. Allah mengasihi Anak-Nya, meskipun untuk menyelamatkan manusia, Ia harus dikorbankan. Kasih Allah Bapa tak pernah lenyap saat penderitaan dialami. Masukilah peringatan sengsara Yesus yang pertama ini dengan cara menjadikan-Nya sebagai gunung batu keselamatan. Memperingati sengsara Yesus sesungguhnya merupakan kesempatan mengalami kasih-Nya. Sebagaimana kasih Allah Bapa besar bagi Yesus, Anak-Nya, begitu pula kasih Yesus besar adanya untuk kita. Kasih Yesus akan selalu menyertai kita.

Doa: Tuhan, jangalah pernah melepaskan kasih-Mu dari kami. Amin

Senin, 20 Februari  2023                                       

bacaan : Mazmur 3:1-5 

Nyanyian pagi dalam menghadapi musuh
Mazmur Daud, ketika ia lari dari Absalom, anaknya. (3-2) Ya TUHAN, betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku; 2 (3-3) banyak orang yang berkata tentang aku: "Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah." Sela 3 (3-4) Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku. 4 (3-5) Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus.

Jangan Lupa Tuhan Saat Susah

Mazmur ini ketika Daud lari dari Absalom anaknya. Absalom melakukan konspirasi dan strategi untuk melakukan pemberontakan, akibatnya Daud pendukungnya melarikan diri. Saat pelarian tersebut berlangsnung Daud menyampaikan keluh-kesahnya kepada Tuhan: betapa banyaknya orang-orang yang bangkit menyerang dan  melawannya. Daud berkeluh kesah, namun tetap percaya bahwa Tuhan adalah perisainya, kemuliaannya, yang mengangkat kepalanya. Hal ini menunjukkan bahwa ada kehadiran khusus Tuhan untuk menebus dan memberi pertolongan dalam situasi yang tanpa pengharapan. Daud menemukan kebenaran iman yang menguatkan dan mengakui bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan dia. Tuhan pasti menganugerahkan kuasa dan kebesaran-Nya untuk melindungi. Itulah yang membuat Daud bukan saja bisa tidur nyenyak, ia bahkan tidak takut kalau musuh yang tadinya disebut banyak menjadi bertambah banyak atau puluhan ribu orang yang siap mengepungnya. Pertolongan atau keselamatan dari Tuhan bukan saja ditujukan bagi Daud, tetapi juga kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Pertolongan dan keselamatan dari Tuhan akan datang dalam hidup kita bak selaku pribadi maupun keluarga.Tuhan yang kita percaya dalam Kristus dan Roh Kudus pasti menolong dan menyelamatkan meskipun banyak orang memusuhi atau menyerang. Teguhlah berpegang pada Tuhan dan jangan pernah meninggalkan Dia, meskipun banyak orang meninggalkan kita. Dia-lah gunung batu keselamatan dan sahabat yang setia tatkala kita dimusuhi serta ditinggalkan. Hidup memang tidak mudah karena itu perteguhkanlah iman. Berserah dan berharap saja pada Tuhan, hidup mu pasti dipelihara-Nya.

Doa: Tuhan, janganlah pernah meninggalkan kami. Amin.

Selasa, 21 Februari 2023                                

bacaan : Mazmur 68:20-22 

19 (68-20) Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita; Allah adalah keselamatan kita. Sela 20 (68-21) Allah bagi kita adalah Allah yang menyelamatkan, ALLAH, Tuhanku, memberi keluputan dari maut. 21 (68-22) Sesungguhnya, Allah meremukkan kepala musuh-Nya, tempurung kepala yang berambut dari orang yang tetap hidup dalam kesalahan-kesalahannya.

Pujilah Tuhan Yang Telah Menyelamatkan Kita

Ancaman dalam hidup ini selalu saja ada, entah yang berasal dari alam, atu pun dari sesama manusia. Begitulah yang dialami oleh Daud, beberapa kali terancam oleh kekuatan alam dan manusia. Saat Daud belum menjadi raja Israel, dia bekerja sebagai gembala kambing domba, singa dan beruang merupakan ancaman serius pada waktu itu (bdk. 1 Sam.17:34-38). Daud juga pernah berhadapan dengan Goliat, si badan besar dari Filistin (1 Sam.17). Ancaman berikutnya adalah  dari raja Saul yang beberapa kali mencoba membunuh Daud. Bahkan yang lebih menyakitkan yaitu ancaman dari anaknya Absalom (2 Sam.13) yang berusaha melakukan kudeta militer walaupun pada akhirnya gagal total. Namun, Daud dapat melewati berbagai ancaman tersebut, dan baginya semua itu karena kekuatan, kekuasaan dan pertolongan Tuhan. Atas dasar itulah, Daud memuji Tuhan, sekaligus mengajak umat Israel memuji-Nya pula, sebab keselamatan yang mereka alami asalnya dari Dia. Tuhan  Allah dengan kekuatan dan kekuasaan-Nya telah mampu menolong dan menyelamatkan umat-Nya beserta orang-orang yang dikasihi-Nya. Tuhan Allah telah melepaskan mereka dari berbagai ancaman musuh. Hukuman telah dijatuhkan-Nya pula atas mereka (ay. 22). Sadarilah bahwa ancaman terhadap kehidupan selalu ada. Namun Tuhan selalu ada untuk melindungi, menolong, dan menyelamatkan kita melewati berbagai ancaman dalam hidup ini. Buktinya adalah kita bisa ada sampai saat ini, hidup dalam kondisi sebagaimana yang sedang dialami. Kasih karunia dan berkat Tuhan tidak akan berkesudahan. Atas dasar itu,  teruslah memuji Tuhan Allah Penyelamat kita dalam segala waktu dan di setiap keadaan.

Doa : Tuhan, kami syukurkan pertolongan dan keselamatan-Mu. Amin.

Rabu, 22 Februari 2023                                       

bacaan : Mazmur 62:1-5

Perasaan tenang dekat Allah
Untuk pemimpin biduan. Menurut: Yedutun. Mazmur Daud. (62-2) Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. 2 (62-3) Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. 3 (62-4) Berapa lamakah kamu hendak menyerbu seseorang, hendak meremukkan dia, hai kamu sekalian, seperti terhadap dinding yang miring, terhadap tembok yang hendak roboh? 4 (62-5) Mereka hanya bermaksud menghempaskan dia dari kedudukannya yang tinggi; mereka suka kepada dusta; dengan mulutnya mereka memberkati, tetapi dalam hatinya mereka mengutuki.

Ingat, Hanya Dekat Allah  Ada Ketenangan

Saat konflik Maluku, banyak orang mencari tempat yang aman untuk berlindung dari ancaman tembakan senjata. Begitu pula ketika terjadi gempa bumi, semua orang bergegas berlari mencari daerah ketinggian untuk menyelamatkan diri, takut diterjang tsunami. Tempat yang aman dicari agar terlindung atau selamat dari ancaman. Daud ketika berhadapan dan diburu oleh Absalom  yang memberontak hendak menguasai tahtanya juga demikian. Ia  meyakini bahwa tempat yang aman untuk berlindung dari bahaya adalah Allah. Katanya, hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku (ay.2). Pernyataan Daud ini merupakan suatu deklarasi kepercayaan Daud   kepada Allah.
Artinya, Daud memilih menaruh kepercayaan bahwa “hanya kepada Allah semata” ada keamanan dan keselamatan. Allah itu menjadi “gunung batu” dan “kota benteng” (ay.3). perlindungan Allah tidak dapat digoncang atau diruntuhkan. Ibarat gunung batu yang tidak bisa dihancurkan oleh siapa pun. Ada musuh yang mencoba menggulingkannya (ay.4-5). Musuh tersebut bukan orang lain, melainkan orang dekat. Mereka berdusta, memberkati dengan mulut manis, tapi mengutuki dalam hati. Musuh inilah yang membuat Daud sangat tertekan. Mereka tidak berasal dari luar, tetapi orang dalam yakni keluarganya sendiri. Meskipun begitu, Daud tetapi yakin bahwa berlindung kepada Allah itu jauh lebih baik dan efektif dari pada perlindungan yang dibuat oleh manusia. Kisah ini sesungguhnya merupakan pelajaran iman. Tetaplah meyakini perlindungan Tuhan saat menghadapi sitruasi hidup yang sulit, terancam, dan berbahaya. Mendekat kepada Allah itu merupakan cara terbaik yang membuat kita selalu aman, terlindung, dan menikmati keselamatan-Nya.

Doa : Tuhan, ajarlah kami untuk selalu mendekat kepada-Mu.  Amin.

Kamis, 23 Februari 2023                              

bacaan : Mazmur 62:6-9      

5 (62-6) Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. 6 (62-7) Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. 7 (62-8) Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah. 8 (62-9) Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.

Curahkanlah Isi Hatimu Kepada Tuhan Allah

Zaman sekarang, manusia telah dibawa ke dalam suatu situasi yang disebut dengan nama kesibukan disertai banyak persoalan, penyakit, bahkan perang yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Kejahatan manusia semakin tinggi, merosotnya moral hidup, masalah sosial, ekonomi yakni kemiskinan, bencana alam, dan sebagainya. Kepada siapakah persoalan-persoalan ini disampaikan sehingga kita dapat bernafas lega karena ada yang melindungi atau menolong? Daud menyatakan keyakinannya dengan tegas pada ayat 6 bahwa hanya pada Allah, kita harus berharap, sebab pada-Nya ada ketenangan. Allah itu gunung batu dan keselamatan, kota benteng yang tidak tergoyahkan, serta ada perlindungan penuh. Pemazmur mengakui, aku tidak akan goyah (ayat 7). Allah diakui sebagai Keselamatan dan kemuliaannya. Allah telah berkasih karunia kepadanya. Karena itu ia mendorong umatnya supaya hanya percaya kepada Allah, dan mencurahkan isi hati dalam doa hanya kepada-Nya. Daud menyampaikan semua persoalan hidupnya kepada Allah. Curahkanlah isi hati, maksudnya persoalan-persoalan hidup kepada Allah, sebab Dia-lah perlindungan kita. Jelaslah sudah jawaban atas pertanyaan kepada siapakah dapat disampaikan persoalan-persoalan hidup yang menimpa kita sekarang ini?  Hanya  kepada Tuhan Allah, kita sampaikan persoalan hidup. Curahkanlah isi hatimu kepada-Nya sebab Allah adalah tempat perlindungan kita. Jadi, apapun persoalan hidup yang dialami sekarang ini, belajarlah dari pengalaman iman pemazmur. Teladan iman yang diteladankannya adalah mencurahkan isi hati kepada Allah. Kita hadapi dan selesaikan persoalan atau pergumulan hidup dengan berlindung dan berharap pada kasih karunia-Nya.

Doa: Tuhan, dengarkanlah curahan hatiku kepada-Mu. Amin.

Jumat, 24 Februari 2023                                   

bacaan : Mazmur 46:1-12 

Allah, kota benteng kita
Untuk pemimpin biduan. Dari bani Korah. Dengan lagu: Alamot. Nyanyian. (46-2) Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. 2 (46-3) Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; 3 (46-4) sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Sela 4 (46-5) Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. 5 (46-6) Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi. 6 (46-7) Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur. 7 (46-8) TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela 8 (46-9) Pergilah, pandanglah pekerjaan TUHAN, yang mengadakan pemusnahan di bumi, 9 (46-10) yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api! 10 (46-11) "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" 11 (46-12) TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub.

Dalam Kesesakkan Tuhan Selalu Menolomg

Apa yang dapat kita lakukan jika mengalami kesesakan hidup? Jawaban terhadap pertanyaan ini dapat ditemui pada Mazmur 46. Mazmur ini  ditulis ketika kesukaran hidup melanda Israel. Wujud kesukaran hidup tersebut adalah Yerusalem dikepung oleh Sanherib, raja Asyur. Namun Tuhan sanggup melepaskan mereka dari kesesakan terebut. Karena itu, Mazmur 46 ini berisikan suatu sanjungan yang sangat tinggi kepada Allah atas keperkasaan-Nya  yang menolong dan menyelamatkan Israel.  Pemazmur memberi kesaksian tentang kehebatan Allah (ay. 2-8). Alah diyakini sebagai tempat perlindungan, kekuatan, dan penolong dalam kesesakan. Selanjutnya umat diajak untuk merenungkan pekerjaan Allah (ay.9-12). Allah yang menyelamatkan  melalui pemusnahan musuh dan penghentian peperangan. Dia adalah tempat perlindungan dan sumber penyegaran di tengah kesesakan. Allah juga bermaksud untuk menghapus segala kekacauan dalam dunia politik manusia (ayat 10) supaya seluruh bumi meninggikan-Nya. Tuhan Allah harus ditinggikan, sebab nyata bahwa Ia selalu menyertai umat-Nya dan terus menjadi kota benteng. Berdasar pada kesaksian ini, kita dapat mengintrospeksi perjalanan hidup. Terkadang kita juga mengalami kesesakan, namun ternyata dalam masa hidup yang sulit itu, Tuhan selalu hadir menopang, menolong, dan menyelamatkan. Setiap orang dan keluarga memiliki pengalaman hidup tentang kebaikan Tuhan. Pertolongan-Nya kita alami saat bergumul dengan masalah kesehatan fisik dan batin, ekonomi atau yang lainnya. Atas dasar itulah, kita harus terus meyakini kekuatan kuasa Tuhan Allah yang tetap menyertai dan menolong  dalam perjalanan hidup ini.

Doa: Tuhan, tolong kami selalu untuk terus meyakini kuasa-Mu yang menyertai, menolong dan menyelamatkan. Amin.

Sabtu, 25 Februari 2023                               

bacaan : Mazmur 73 : 21 – 28

21 Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, 22 aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. 23 Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. 24 Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. 25 Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. 26 Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. 27 Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; Kaubinasakan semua orang, yang berzinah dengan meninggalkan Engkau. 28 Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.

Hanya Tuhan Satu-Satunya Pelindung Kita

Kebahagian dan kepahitan ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa terpisahkan satu dengan yang lainnya. Kepahitan dan kebahagian ini menempati suatu ruang dalam batin manusia atau yang dikenal dengan sebutan hati. Kepahitan hidup sering  dialami oleh siapa pun dan hal itu disebabkan oleh mereka yang dicintai, tapi juga  orang lain. Ibarat sebuah pohon, kepahitan adalah akar dan karena letaknya di dalam tanah, maka tak terlihat. Namun kita dapat merasakan dan melihatnya dari buah yang dihasilkan. Akar yang pahit pasti menghasilkan buah pahit. Sebaliknya, akar yang manis pasti pula menghasilkan buah manis. Saat kepahitan kita alami, maka hidup dipengaruhinya. Bila kita tak mampu mengatasi kepahitan, maka hilanglah pegangan dan harapan bahkan  bersikap sinis terhadap Tuhan. Mazmur 73 merupakan mazmur ratapan pribadi. Pemazmur yang tulus dan bersih hati harus mengalami kemalangan. Sedangkan orang fasik mengalami kebahagiaan, walaupun semua itu sementara adanya. Menggumuli kepahitan dapat menjadi kesempatan menemukan komitmen iman. Tetaplah dekat pada Tuhan walau penderitaan sedang menderu dengan hebatnya. Dekat pada-Nya dan ungkaplah semua rasa yang menekan batin. Kepahitan adalah buah dari menyembunyikan atau menekan rasa sakit dalam hati. Tetap mengasihi Tuhan, berjalan bersama-Nya dan maknailah kepahitan. Ia pasti memberi hikmat agar kita berdaya menemukan makna atau kebaikan dan menghitung berkat-Nya saat bergumul dengan penderitaan. Biarlah bersama pemazmur kita berkata aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan Allah, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.

Doa: Ya Tuhan ajarilah kami untuk tetap bersandar kepada-Mu, penolong yang setia, saat menghadapi segala kepahitan hidup. Amin. 

*SUMBER : SHK Bulan Feb 2023, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 12 – 18 Februari 2023

Tema Bulanan : Gereja Kuat : Murnikan Hidup dan Maknai Derita

Tema Mingguan : Hidup yang Murni : dari Lawan jadi Kawan

Minggu, 12 Februari 2023                            

bacaan : 1 Korintus 3 : 1 – 9   

Perselisihan
Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. 2 Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. 3 Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? 4 Karena jika yang seorang berkata: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan Apolos," bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani? 5 Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. 6 Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. 7 Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. 8 Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. 9 Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

         Hidup Yang Murni : Musuh Berubah Jadi Teman

Brandon dan Brethley teman sekelas namun mereka tak pernah akur. Sering terjadi pertengkaran di antara mereka sehingga teman-teman sekelas menjuluki keduanya “Tom dan Jerry”. Suatu hari terjadi tawuran dan kepala Brethley terkena lemparan batu hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak. Melihat hal ini, hati nurani Brandon terusik dan dia pun menolong Brethley tanpa berpikir bahwa mereka selama ini bermusuhan. Peristiwa itu mengubah permusuhan di antara keduanya menjadi pertemanan. Bacaan hari ini berkisah tentang kehidupan jemaat di Korintus yang tidak rukun pula. Paulus menyebut mereka sebagai manusia duniawi yang belum dewasa dalam Kristus. Mereka berselisih karena hal yang sebetulnya tidak perlu dipertentangkan. Tidak perlu ada pro kontra di antara mereka sebab baik Paulus, Apolos maupun Kefas, sama-sama rasul Tuhan. Ketiganya sama-sama memberitakan Injil Yesus Kristus. Mereka hanyalah alat  yang dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya. Tetapi karena sifat kedagingan itu sudah tumbuh subur dalam hati jemaat maka tidak ada tempat lagi bagi Roh Kudus untuk berkarya dan memberikan pencerahan. Mereka berselisih karena kehilangan tuntunan kuasa Tuhan. Padahal orang-orang yang mereka “jagokan” ini hidupnya rukun-rukun saja karena mereka adalah kawan sekerja Allah. Kawan sekerja Allah ini bekerja sesuai peran masing-masing dan percaya bahwa Allah-lah yang akan memberkati pekerjaan mereka (baca : memberi pertumbuhan). Karena itu jemaat harus menghentikan pertikaian mereka dan kembali hidup rukun serta damai. Pertikaian dan perselisihan haruslah diubah menjadi pertemanan yang rukun. Ingatlah bahwa  di dalam hidup yang rukun tersedia berkat (band. maz. 133). Hindarilah pertengkaran baik antara suami-isteri, orang tua-anak, kakak beradik maupun hidup bertetangga dan antar rekan sekerja. Pertengkaran membuat batin tertekan dan kehilangan rasa damai.  Paulus mengingatkan kita untuk meninggalkan hidup kedagingan itu lalu mengusahakan persekutuan yang rukun dengan semua orang. Persekutuan yang rukun membuahkan sukacita, kebahagiaan dan hidup yang diberkati.

Doa:   Tuhan, tolong kami ‘tuk mengubah permusuhan jadi pertemanan. Amin.

Senin, 13 Februari 2023                              

bacaan : Kejadian 33 : 1 – 11    

Yakub berbaik kembali dengan Esau
Yakubpun melayangkan pandangnya, lalu dilihatnyalah Esau datang dengan diiringi oleh empat ratus orang. Maka diserahkannyalah sebagian dari anak-anak itu kepada Lea dan sebagian kepada Rahel serta kepada kedua budak perempuan itu. 2 Ia menempatkan budak-budak perempuan itu beserta anak-anak mereka di muka, Lea beserta anak-anaknya di belakang mereka, dan Rahel beserta Yusuf di belakang sekali. 3 Dan ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu. 4 Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka. 5 Kemudian Esau melayangkan pandangnya, dilihatnyalah perempuan-perempuan dan anak-anak itu, lalu ia bertanya: "Siapakah orang-orang yang beserta engkau itu?" Jawab Yakub: "Anak-anak yang telah dikaruniakan Allah kepada hambamu ini." 6 Sesudah itu mendekatlah budak-budak perempuan itu beserta anak-anaknya, lalu mereka sujud. 7 Mendekat jugalah Lea beserta anak-anaknya, dan merekapun sujud. Kemudian mendekatlah Yusuf beserta Rahel, dan mereka juga sujud. 8 Berkatalah Esau: "Apakah maksudmu dengan seluruh pasukan, yang telah bertemu dengan aku tadi?" Jawabnya: "Untuk mendapat kasih tuanku." 9 Tetapi kata Esau: "Aku mempunyai banyak, adikku; peganglah apa yang ada padamu." 10 Tetapi kata Yakub: "Janganlah kiranya demikian; jikalau aku telah mendapat kasihmu, terimalah persembahanku ini dari tanganku, karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkaupun berkenan menyambut aku. 11 Terimalah kiranya pemberian tanda salamku ini, yang telah kubawa kepadamu, sebab Allah telah memberi karunia kepadaku dan akupun mempunyai segala-galanya." Lalu dibujuk-bujuknyalah Esau, sehingga diterimanya.

Hidup Yang Murni : Laeng Sayang Laeng”

Beta inga nasihat Papa deng Mama. “Ingatang, hidop orang gandong tu musti laeng sayang laeng. Beta simpang nasihat ni dalang beta pung hati. Pernyataan ini diucapkan seorang ibu saat berlangsung kebaktian pemakaman ibundanya. Praktek hidup yang saling mengasihi sudah selayaknya terjadi di antara saudara satu gandong (=kandung). Selanjutnya mari kita simak kisah hidup Esau dan Yakub. Relasi saudara sekandung ini pernah berantakan karena terjadi tindakan penipuan. Yakub akhirnya diberkati Ishak sebagai anak sulung, bukan Esau. Peristiwa ini  menimbulkan akar pahit (kebencian dan dendam) di hati Esau.  Yakub yang takut kepada Esau, kakak kembarnya harus lari meninggalkan rumah orang tuanya (bdk. Kejadian Psl. 27, 28 dan 32). Namun, seperti kata orang tatua “Busu-busu orang sudara jua. Yakub berkeinginan untuk berbaik dengan Esau, walau dalam hatinya masih ada rasa takut. Cara untuk mensiasati pertemuan damai dengan Esau ditemukan.  Ia berjalan di depan dan diikuti para gundik dan anak-anak mereka, Lea dan anak-anaknya barulah Rahel beserta Yusuf paling belakang. Pikirnya, jika Esau dan pasukan menyerang paling tidak keluarganya yang lain bisa lari menyelamatkan diri. Ternyata apa yang dikuatirkan Yakub tidak terjadi. Esau tidak melampiaskan dendamnya yang tersimpan bertahun-tahun. Ia menyongsong Yakub dengan pelukan dan ciuman kasih sayang. Berkali-kali Yakub merendah di hadapan Esau seraya mohon maaf dan belas kasihan. Esau menaggapi dengan kerelaan memaafkan kesalahan adiknya. berlangsunglah pertemuan yang mengubah permusuhan menjadi perdamaian orang saudara. Ada ungkapan: “piring jua bisa tatoki.” Relasi tak sedap di antara kita dapat saja terjadi, tapi janganlah simpan dendam dan marah sampai mati.  Mari balajar dari Esau dan Yakub. Merendah dan mintalah maaf jika karena kehilafan kita melakukan keburukan. Hidup dengan rasa bersalah dan takut tak ada faedahnya. Berilah pengampunan bagi saudara yang bersalah kepada kita. Matikanlah kemarahan, kebencian dan dendam serta hidupkanlah kasih sayang seorang akan yang lainnya. Bermohonlah agar Tuhan menolong kita untuk hidup seturut kehendak-Nya.

Doa: Tuhan, tolong kami untuk saling sayang sebagai adik dan kakak. Amin.

Selasa, 14 Februari 2023                           

bacaan : Kejadian 50 : 15 – 21

Yusuf menghiburkan hati saudara-saudaranya
15 Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: "Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya." 16 Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: "Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan: 17 Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu." Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya. 18 Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: "Kami datang untuk menjadi budakmu." 19 Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? 20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. 21 Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.

Hidup Yang Murni : “Ale Rasa, Beta Rasa”

Sejak tanggal 10 Februari, silverqueen dan sejenisnya di swalayan-swalayan habis terjual. Apalagi di swalayan yang memberikan promo. Mengapa? Karena “diborong” oleh mereka yang merayakan hari kasih sayang. Pertanyaannya : Apa yang kita pahami tentang kasih sayang itu? Apakah hanya sebatas pemberian cokelat dan bunga atau ada yang lebih dari itu. Mari kita lihat makna kasih sayang yang digambarkan dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya. Sejak kecil Yusuf sudah dibenci suadara-saudaranya karena ia mendapat kasih sayang lebih dari ayah mereka, Yakub. Karena itu mereka merancangkan hal jahat untuk menjauhkan Yusuf dari kehidupan mereka. Akhir cerita, sampailah Yusuf di tanah Mesir dan menjadi orang penting di istana Firaun. Hal ini tidak membuat Yusuf sombong apalagi berencana membalas dendam kepada kakak-kakaknya yang telah menjahati dia. Justeru di saat mereka susah, Yusuf tampil sebagai penolong bagi mereka. Bahkan sampai saat ayah mereka mati, saudara-saudaranya masih berpikir bahwa karena Yakub sudah tiada maka pasti ini saatnya Yusuf membalas dendamnya. Karena itu mereka mengutus orang untuk menyampaikan pesan Yakub kepada Yusuf agar memaafkan saudara-saudaranya. Saudara-saudara Yusuf juga datang dan sujud memohon maaf lalu minta dijadikan budak oleh Yusuf. Namun apa yang terjadi? Yusuf tidak membalas kejahatan yang dibuat. Ia mengampuni malah menghibur dan menenangkan hati mereka. Yusuf berjanji untuk menanggung hidup saudara-saudaranya terhadapnya beserta anak-anak mereka. Itulah kasih sayang yang sesungguhnya. “Potong di kuku rasa di daging, ale rasa beta rasa, ale susah beta lai rasa susah, ale sanang beta iko sanang.” Kasih sayang yang sejati adalah “sagu salempeng pata dua”. Bukan makan sandiri lupa sudara. Bukan makang sambunyi dar sudara, bukan rampas sudara pung bagiang. Kasih sayang sejati tak mengenal dendam,  dan kebencian kecuali  pengampunan. Bunga dan cokelat hanyalah simbol yang tidak akan bermakna jika tidak diikuti dengan perbuatan nyata. Happy Valentine Day, Tuhan Yesus memberkati katong samua agar terus saling mengasihi .

Doa: Tuhan, Kami mau saling mengasihi dan menjauhkan dendam dari hati. Amin.

Rabu, 15 Februari 2023                            

bacaan : Bilangan 12 : 1 – 16

Pemberontakan Miryam dan Harun
Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush. 2 Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN. 3 Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi. 4 Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: "Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan." Maka keluarlah mereka bertiga. 5 Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya. 6 Lalu berfirmanlah Ia: "Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. 7 Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. 8 Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?" 9 Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap mereka, lalu pergilah Ia. 10 Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta! 11 Lalu kata Harun kepada Musa: "Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami. 12 Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya." 13 Lalu berserulah Musa kepada TUHAN: "Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia." 14 Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sekiranya ayahnya meludahi mukanya, tidakkah ia mendapat malu selama tujuh hari? Biarlah dia selama tujuh hari dikucilkan ke luar tempat perkemahan, kemudian bolehlah ia diterima kembali." 15 Jadi dikucilkanlah Miryam ke luar tempat perkemahan tujuh hari lamanya, dan bangsa itu tidak berangkat sebelum Miryam diterima kembali. 16 Kemudian berangkatlah mereka dari Hazerot dan berkemah di padang gurun Paran.

Hidup Yang Murni : Jangan Saling Mencela

Musa ditunjuk Tuhan untuk memimpin Israel keluar dari Mesir. Namun Musa beralasan bahwa dia tidak fasih berbicara. Lalu Tuhan menunjuk Harun, kakaknya yang fasih berbicara, untuk mendampinginya. Begitu juga dengan Miryam, kakak perempuan Musa yang punya kelebihan di bidang musik dan tari ikut membantu Musa. Awalnya mereka selalu  solid, namun saat Musa mengambil perempuan Kush menjadi isterinya, Miryam dan Harun protes. Mereka tidak setuju dengan tindakan Musa. Musa dianggap telah melakukan kawin campur, hal yang dilarang dalam aturan bangsanya. Karena itu mereka mengata-ngatai dan mencela Musa. Kemarahan Miryam dan Harun terhadap Musa   bisa jadi sudah ada sebelum itu karena rasa iri. Musa lebih muda dari mereka, tetapi memegang kendali kepemimpinan bangsa itu. Ibarat bisul, perkawinan Musa yang kedua menjadi kesempatan bagi pecahnya bisul itu. Teks hari ini menjelaskan bahwa Musa adalah orang yang sangat lembut hatinya dan di mata Tuhan, ia adalah hamba yang selalu setia, sehingga dibela oleh-Nya. Pembelaan Tuhan terlihat pada hukuman yang Ia berikan kepada Miryam dalam bentuk penyakit kusta. Sekali lagi kelembutan dan kebaikan hati Musa terbukti. Ia tidak tega melihat kondisi kakaknya yang terkena kusta sehingga Musa berseru kepada Tuhan dan mohon agar Miryam disembuhkan. Tuhan mendengar seruan Musa. Miryam hanya mengalami kusta selama tujuh hari lalu ia dipulihkan. Kita dapat belajar hal-hal berikut ini dari cerita Musa dan saudara-saudaranya. Tuhan punya kehendak bebas untuk memilih siapa yang mau dipakai-Nya. Karena itu jangan iri jika yang Tuhan pilih adalah mereka yang lebih muda dari kita. Berhati-hatilah agar tidak cepat menuding seseorang bersalah, sekalipun dia lebih muda. Sudut pandang dan pemahaman kita bukanlah yang paling benar. Karena itu mintalah petunjuk Tuhan sebelum bertindak. Belajarlah untuk terlebih dahulu memikirkan dampak dari setiap tindakan sebelum dilaksanakan. Milikilah hati yang lembut, penyabar, penyayang dan pemaaf, seperti yang ada pada Musa. Jika hal-hal tersebut kita perhatikan dan lakukan, niscaya kehidupan orang basudara akan rukun dan tidak saling mencela.

Doa: Tuhan, tolonglah agar kami hidup rukun dan tidak saling mencela. Amin.

Kamis, 16 Februari 2023                            

bacaan : 1 Samuel 24 : 11 – 23  

0 (24-11) Ketahuilah, pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa TUHAN sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN. 11 (24-12) Lihatlah dahulu, ayahku, lihatlah kiranya punca jubahmu dalam tanganku ini! Sebab dari kenyataan bahwa aku memotong punca jubahmu dengan tidak membunuh engkau, dapatlah kauketahui dan kaulihat, bahwa tanganku bersih dari pada kejahatan dan pengkhianatan, dan bahwa aku tidak berbuat dosa terhadap engkau, walaupun engkau ini mengejar-ngejar aku untuk mencabut nyawaku. 12 (24-13) TUHAN kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, TUHAN kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau; 13 (24-14) seperti peribahasa orang tua-tua mengatakan: Dari orang fasik timbul kefasikan. Tetapi tanganku tidak akan memukul engkau. 14 (24-15) Terhadap siapakah raja Israel keluar berperang? Siapakah yang kaukejar? Anjing mati! Seekor kutu saja! 15 (24-16) Sebab itu TUHAN kiranya menjadi hakim yang memutuskan antara aku dan engkau; Dia kiranya memperhatikannya, memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku dengan melepaskan aku dari tanganmu." 16 (24-17) Setelah Daud selesai menyampaikan perkataan itu kepada Saul, berkatalah Saul: "Suaramukah itu, ya anakku Daud?" Sesudah itu dengan suara nyaring menangislah Saul. 17 (24-18) Katanya kepada Daud: "Engkau lebih benar dari pada aku, sebab engkau telah melakukan yang baik kepadaku, padahal aku melakukan yang jahat kepadamu. 18 (24-19) Telah kautunjukkan pada hari ini, betapa engkau telah melakukan yang baik kepadaku: walaupun TUHAN telah menyerahkan aku ke dalam tanganmu, engkau tidak membunuh aku. 19 (24-20) Apabila seseorang mendapat musuhnya, masakan dilepaskannya dia berjalan dengan selamat? TUHAN kiranya membalaskan kepadamu kebaikan ganti apa yang kaulakukan kepadaku pada hari ini. 20 (24-21) Oleh karena itu, sesungguhnya aku tahu, bahwa engkau pasti menjadi raja dan jabatan raja Israel akan tetap kokoh dalam tanganmu. 21 (24-22) Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku demi TUHAN, bahwa engkau tidak akan melenyapkan keturunanku dan tidak akan menghapuskan namaku dari kaum keluargaku." 22 (24-23) Lalu bersumpahlah Daud kepada Saul. Kemudian pulanglah Saul ke rumahnya, sedang Daud dan orang-orangnya pergi ke kubu gunung.

Hidup Yang Murni : Tidak Membalas Kejahatan Dengan Kejahatan

Rasa iri membuat Saul ingin menghabisi Daud. Saul tidak terima dengan pujian yang diberikan rakyat terhadap Daud karena berhasil mengalahkan orang Filistin (Goliat dan tentaranya). Daud menghindar dan sembunyi dalam gua yang ada pada gunung batu Kambing Hutan, di padang gurun En-Gedi. Jika Daud adalah seorang yang tidak takut Tuhan, maka dengan mudah ia sudah membunuh Saul di goa itu. Saul sama sekali tidak menyadari keberadaan Daud di situ. Tetapi yang dilakukan Daud hanyalah memotong punca jubah (ujung/ sudut kain selendang atau serbai) Saul. Setelah Saul keluar dari goa itu, Daud menyusulnya dan memanggil namanya kemudian sujud di hadapannya. Sesudah itu Daud bangun dan menunjukkan punca jubah Saul yang dipotongnya dan berkata bahwa sebetulnya itu kesempatan untuk membunuh Saul. Namun karena rasa sayang dan hormatnya kepada Saul maka ia tidak melakukan itu. Malah Saul disapanya sebagai “ayahku” (ay.12), sapaan yang menunjukan adanya hubungan kekeluargaan. Sapaan ini bisa saja terjadi karena Daud adalah menantu Saul, suami Mikhal, anak perempuan Saul, (band. 1 Sam.18), tetapi juga sebagai uangkapan rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Rasa iri memang sangat berbahaya karena dapat membuat orang melakukan hal-hal jahat seperti yang dilakukan Saul terhadap Daud. Namun kasih sayang dan kerendahan hati dapat mengalahkan semua rasa yang negatif, seperti : iri hati, cemburu dendam dan sejenisnya. Teks hari ini menceritakan bahwa Daud telah memperlihatkan kebaikan. Kasih sayang dan kerendahan hati itu bisa dimilki Daud karena hanya Tuhan yang menjadi andalannya. Daud menyerahkan setiap persoalan yang dihadapinya kepada Tuhan. Karena itu Daud terhindar dari keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan. Hendaklah kita tetap berusaha untuk mengakui kelebihan orang lain sehingga tidak cemburu dan iri. Jangan menyimpan dendam, tetapi belajarlah untuk memberi pengampungan. Milikilah kasih dan kerendahan hati, yang akan menuntun kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Andalkan Tuhan, bukan kekuatan sendiri, sebab pada kta ada keterbatasan. Hidplah dalam perdamaian dengan semua orang.

Doa: Tuhan, kiranya kami tidak  membalas kejahatan dengan kejahatan. Amin.

Jumat, 17 Februari 2023                                

Kejadian 31: 36-42          

36 Lalu hati Yakub panas dan ia bertengkar dengan Laban. Ia berkata kepada Laban: "Apakah kesalahanku, apakah dosaku, maka engkau memburu aku sehebat itu? 37 Engkau telah menggeledah segala barangku, sekarang apakah yang kautemui dari segala barang rumahmu? Letakkanlah di sini di depan saudara-saudaraku dan saudara-saudaramu, supaya mereka mengadili antara kita berdua. 38 Selama dua puluh tahun ini aku bersama-sama dengan engkau; domba dan kambing betinamu tidak pernah keguguran dan jantan dari kambing dombamu tidak pernah kumakan. 39 Yang diterkam oleh binatang buas tidak pernah kubawa kepadamu, aku sendiri yang menggantinya; yang dicuri orang, baik waktu siang, baik waktu malam, selalu engkau tuntut dari padaku. 40 Aku dimakan panas hari waktu siang dan kedinginan waktu malam, dan mataku jauh dari pada tertidur. 41 Selama dua puluh tahun ini aku di rumahmu; aku telah bekerja padamu empat belas tahun lamanya untuk mendapat kedua anakmu dan enam tahun untuk mendapat ternakmu, dan engkau telah sepuluh kali mengubah upahku. 42 Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang Disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa; tetapi kesengsaraanku dan jerih payahku telah diperhatikan Allah dan Ia telah menjatuhkan putusan tadi malam."

Tuhan Selalu Memperhatikan Umat-Nya

Kita mungkin saja akan menghadapi tuduhan atau tekanan dari orang lain. Ketika tuduhan atau tekanan itu dialami, respons diberikan sebagai tanggapannya. Ada yang meresponsnya dengan menunjukkan sikap diam, ribut, atau lainnya. Teks Alkitab ini menceritakan bagaimana sikap Yakub terhadap Laban yang menuduh dirinya melakukan kecurangan. Ada tiga tuduhan Laban, yaitu: 1). Yakub melarikan diri secara diam-diam. 2). Yakub mengambil harta yang masih dianggap milik Laban. 3). Yakub mencuri sesembahannya. Semua tuduhan itu tidak benar kecuali yang ketiga, tetapi yang mencuri pun bukan Yakub melainkan Rahel. Yakub sudah meminta izin untuk kembali ke tanah leluhurnya, maka tuduhan bahwa ia lari tidak benar. Yakub memang merancang kepergian diam-diam sebab Laban menunjukkan gelagat tidak rela melepas. Menghadapi tuduhan ini Yakub  terpancing membela diri dengan nada marah (ay.36). Yakub menelanjangi ketidakadilan Laban. Melalui peristiwa ini Yakub sekali lagi mengalami bagaimana Allah memihak dia. Sebab Allah punya rencana agung melalui dia, dan Allah ingin agar Yakub masuk dalam relasi yang hidup dengan-Nya. Yakub akhirnya menyadari bahwa dalam kesengsaraan dan jerih payahnya, Allah selalu memperhatikan Yakub (ay.42) Yakub telah bekerja dengan rajin dan baik pada Laban, namun mendapat tuduhan dari Laban juga. Meskipun demikian, Yakub mengakui Tuhan selalu ada, memperhatikan dan memberkatinya. Pesan dari kisah ini kepada kita adalah bahwa yang terpenting dalam hidup ini ketika pekerjaan dan karya kita tidak dihargai, bahkan dituduh melakukan hal-hal yang tidak baik, tetaplah mengakui bahwa Tuhan itu ada dan selalu memperhatikan kita.

Doa: Tuhan, perhatikanlah kami saat mengalami kesengsaraan dan Tuduhan dari orang lain. Amin.

Sabtu, 18 Februari 2023                                  

bacaan : Kejadian 26 : 26 – 31 

26 Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya. 27 Tetapi kata Ishak kepada mereka: "Mengapa kamu datang mendapatkan aku? Bukankah kamu benci kepadaku, dan telah menyuruh aku keluar dari tanahmu?" 28 Jawab mereka: "Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN menyertai engkau; sebab itu kami berkata: baiklah kita mengadakan sumpah setia, antara kami dan engkau; dan baiklah kami mengikat perjanjian dengan engkau, 29 bahwa engkau tidak akan berbuat jahat kepada kami, seperti kami tidak mengganggu engkau, dan seperti kami semata-mata berbuat baik kepadamu dan membiarkan engkau pergi dengan damai; bukankah engkau sekarang yang diberkati TUHAN." 30 Kemudian Ishak mengadakan perjamuan bagi mereka, lalu mereka makan dan minum. 31 Keesokan harinya pagi-pagi bersumpah-sumpahanlah mereka. Kemudian Ishak melepas mereka, dan mereka meninggalkan dia dengan damai. 32 Pada hari itu datanglah hamba-hamba Ishak memberitahukan kepadanya tentang sumur yang telah digali mereka, serta berkata kepadanya: "Kami telah mendapat air."

Menghindar Bukan Berarti Kalah

Jalan keluar dari setiap masalah selalu tersedia. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Begitu juga tidak ada lawan abadi sepanjang damai bisa diupayakan jalan keluarnya. Hal yang demikian menjadi pengalaman Ishak ketika terjadi konflik atau pertengkaran antara para pekerjanya (gembala) dengan gembala Gerar dari Filistin (ay. 20). Pertengkaran tersebut menyangkut  sumur Esek yang digali oleh Ishak dan pekerjanya. Ishak dan pekerjanya berpindah tempat dan menggali sumur yang lain, yaitu Sitna, dengan maksud menghindari pertengkaran. Pertengkaran terjadi lagi di sumur Sitna. Kemudian Ishak dan pekerjanya meninggalkan sumur Sitna dan menggali sumur lain lalu diberi nama Rehobot.  Semuanya dilakukan  Ishak demi terciptanya hidup damai dan rukun dengan orang lain. Selanjutnya diceritakan bahwa Abimelek dari Gerar bersama para sahabatnya Ahuzat dan Pikhol menemui Ishak, namun kedatangan mereka dipertanyakan sebab aneh aneh. Orang yang membenci Ishak datang menemuinya. Ternyata, Abimelek dan para sahabatnya menemui Ishak karena mereka telah melihat penyertaan Tuhan. Perjumpaan itu menghasilkan adanya sumpah setia dan perjanjian bahwa tidak ada lagi perbuatan saling berbuat jahat dan saling mengganggu antara mereka. Mengakhiri atau menyelesaikan suatu pertengkaran selayaknya diupayakan dengan tujuan terciptanya kedamaian, bukan permusuhan. Masalah harus diselesaikan secara damai, mengalah dan menghindar adalah salah satu caranya. Cara tersebut efektif untuk mengantisipasi terjadinya konflik yang lebih besar dan berkepanjangan. Selain itu sekaligus menciptakan persaudaraan dan perdamaian, serta membuat lawan menjadi kawan.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk selalu hidup berdamai. Amin.

*SUMBER : SHK Bulan Februari 2023, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 5 – 11 Februari 2023

Tema Bulanan : Gereja Kuat : Murnikan Hidup dan Maknai Derita

Tema Mingguan : Hidup yang Murni, Mengakui Dosa dan Diampuni

Minggu, 05 Februari 2023

Bacaan: Mazmur 32 : 1 – 11

Kebahagiaan orang yang diampuni dosanya
1 Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! 2 Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! 3 Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; 4 sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Sela 5 Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela 6 Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui; sesungguhnya pada waktu banjir besar terjadi, itu tidak melandanya. 7 Engkaulah persembunyian bagiku, terhadap kesesakan Engkau menjaga aku, Engkau mengelilingi aku, sehingga aku luput dan bersorak. Sela 8 Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. 9 Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau. 10 Banyak kesakitan diderita orang fasik, tetapi orang percaya kepada TUHAN dikelilingi-Nya dengan kasih setia. 11 Bersukacitalah dalam TUHAN dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur.!

Jujur Mengaku Dosa Pada Tuhan

Tema pelayanan sepanjanq pekan ini adalah “Hidup yang murni: mengakui dosa dan diampuni”. Tema ini menegaskan tentang pentingnya mengaku dosa dengan kesungguhan hati kepada Tuhan untuk menikmati keampunan dari-Nya. Kita akan menikmati hidup baru atau hidup yang dimurnikan sebagai anugerah dan kasih sayang Tuhan. Nas hari ini menyaksikan bahwa raja Daud mengungkapkan hal tersebut sebagai bentuk pengajaran yang didasari dari pengalaman hidupnya sendiri. Daud berdosa kepada Tuhan dengan mengambil istri Uria, Batsyeba dan dosanya itu disampaikan oleh nabi Natan. Daud tidak menyangkal apa yang dibuatnya yakni melakukan kesalahan, namun dengan jujur dan terbuka mengakuinya kepada Tuhan (ay.5; bd. 2 Sam12:13). Kesungguhan Daud untuk mengakui segala pelanggaran dan dosanya kepada Tuhan, membuatnya mendapatkan pengampunan. Itulah sebab Daud menyatakan bahwa betapa bahagianya orang yang diampuni pelanggaran dan ditutupi dosanya serta kesalahannya yang tidak diperhitungkan Tuhan. Pemyataan ini bukan berarti merasa aman dan nyaman untuk terus berbuat dosa, namun karena mendapatkan keampunan dari Tuhan saat dengan jujur mengakui dengan sungguh kepada Tuhan. Daud bersyukur dan bersukacita karena menikmati kehidupan yang dibarui atau dimurnikan. la juga mengajarkan untuk tidak keras hati dan suka melawan perintah dan kehendak Tuhan. Ibarat kuda atau bagal yang dak berakal dan mesti dikendalikan oleh tali les dan kekang. Kita adalah keluarga beriman yang tidak luput dari perbuatan salah dan dosa. Hendaklah dengan jujur dan sungguh-sungguh kita berdoa memohon pengampunan dari Tuhan serta berjanji untuk tidak mengulangi dosa. Mohonlah Roh Kudus agar kita dimampukan untuk bertobat dan dibarui sebagai wujud kemurnian hidup.

Doa: Tuhan. jujur kami mengaku dosa, berilah keampunan-MU Amin.

Senin, 06 Februari 2023

Bacaan: Daniel 9 : 3 -19

Daniel 9:3-19 (TB) Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.
Maka aku memohon kepada TUHAN, Allahku, dan mengaku dosaku, demikian: "Ah Tuhan, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang memegang Perjanjian dan kasih setia terhadap mereka yang mengasihi Engkau serta berpegang pada perintah-Mu!
Kami telah berbuat dosa dan salah, kami telah berlaku fasik dan telah memberontak, kami telah menyimpang dari perintah dan peraturan-Mu,
dan kami tidak taat kepada hamba-hamba-Mu, para nabi, yang telah berbicara atas nama-Mu kepada raja-raja kami, kepada pemimpin-pemimpin kami, kepada bapa-bapa kami dan kepada segenap rakyat negeri.
Ya Tuhan, Engkaulah yang benar, tetapi patutlah kami malu seperti pada hari ini, kami orang-orang Yehuda, penduduk kota Yerusalem dan segenap orang Israel, mereka yang dekat dan mereka yang jauh, di segala negeri kemana Engkau telah membuang mereka oleh karena mereka berlaku murtad terhadap Engkau.
Ya TUHAN, kami, raja-raja kami, pemimpin-pemimpin kami dan bapa-bapa kami patutlah malu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Engkau.
Pada Tuhan, Allah kami, ada kesayangan dan keampunan, walaupun kami telah memberontak terhadap Dia,
dan tidak mendengarkan suara TUHAN, Allah kami, yang menyuruh kami hidup menurut hukum yang telah diberikan-Nya kepada kami dengan perantaraan para nabi, hamba-hamba-Nya.
Segenap orang Israel telah melanggar hukum-Mu dan menyimpang karena tidak mendengarkan suara-Mu. Sebab itu telah dicurahkan ke atas kami kutuk dan sumpah, yang tertulis dalam kitab Taurat Musa, hamba Allah itu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Dia.
Dan telah ditetapkan-Nya firman-Nya, yang diucapkan-Nya terhadap kami dan terhadap orang-orang yang telah memerintah kami, yakni bahwa akan didatangkan-Nya kepada kami malapetaka yang besar, yang belum pernah terjadi di bawah semesta langit, seperti di Yerusalem.
Seperti yang tertulis dalam kitab Taurat Musa, segala malapetaka ini telah menimpa kami, dan kami tidak memohon belas kasihan TUHAN, Allah kami, dengan berbalik dari segala kesalahan kami dan memperhatikan kebenaran yang dari pada-Mu.
Sebab itu TUHAN bersiap dengan malapetaka itu dan mendatangkannya kepada kami; karena TUHAN, Allah kami, adalah adil dalam segala perbuatan yang dilakukan-Nya, tetapi kami tidak mendengarkan suara-Nya.
Oleh sebab itu, ya Tuhan, Allah kami, yang telah membawa umat-Mu keluar dari tanah Mesir dengan tangan yang kuat dan memasyhurkan nama-Mu, seperti pada hari ini, kami telah berbuat dosa, kami telah berlaku fasik.
Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus; sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami.
Oleh sebab itu, dengarkanlah, ya Allah kami, doa hamba-Mu ini dan permohonannya, dan sinarilah tempat kudus-Mu yang telah musnah ini dengan wajah-Mu, demi Tuhan sendiri.
Ya Allahku, arahkanlah telinga-Mu dan dengarlah, bukalah mata-Mu dan lihatlah kebinasaan kami dan kota yang disebut dengan nama-Mu, sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapan-Mu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayang-Mu yang berlimpah-limpah.
Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!"

Berdoa Memohon Pengampunan Tuhan

Nas hari ini mengisahkan tentang Daniel yang berdoa memohon pengampunan dari Tuhan. Pelanggaran dan dosa telah dilakukan oleh leluhur bangsa Israel, termasuk dirinya. Daniel membuat perenungan dan refleksi atas pengalaman beriman bangsa Israel sampai harus dibuang ke Babel. Bukanlah kebetulan, bangsa pilihan Tuhan ini harus keluar dari tanah perjanjian dan Yerusalem. Peristiwa pembuangan ke Babel dimaknai sebagai teguran Tuhan. Bangsa pilihan ini telah hidup jauh dari segala perintah dan ketetapan Tuhan. Mereka berubah setia dan memberontak terhadap Tuhan. Bangsa Israel mengalami penghukuman sebagai bentuk didikan Tuhan yang keras sebab cinta kasih-Nya tak pernah berubah. Keyakinan atas cinta kasih Tuhan itulah yang mendasari akta iman Daniel. la berdoa sambil dengan mengenakan kain kabung dan abu sebagai wujud kesungguhan memohon pengampunan serta belas kasihan Tuhan. Perjalanan panjang bangsanya sejak dari Mesir sampai Kanaan ternoda karena mereka melakukan banyak pelanggaran. Namun oleh sebab kebesaran cinta kasih Tuhan yang mengampuni, membarui dan menyelamatkan, mereka dilayakkan dan berkenan di hadapan-Nya. Belas kasihan Tuhan demikian besarnya bagi semua orang yang mengaku dosa dan memohon pengampunan-Nya. Akuilah kesalahan, pelanggaran atau dosa dalam doa dan pergumulan, mohonlah belas kasihan-Nya yang mengampuni. Persoalan, tantangan bahkan penderitaan yang kita alami dalam perjalanan hidup, hendaknya dimaknai dan disyukuri. Tuhan itu baik dan yakinlah bahwa dalam segala hal atau peristiwa, la pasti turut campur tangan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Kasih setia-Nya tak terbatas, perbaikilah yang salah dan jadilah manusia baru serta teruslah murnikan hidup. Hiduplah sebagai orang beriman yang dimurnikan dalam cinta kasih Tuhan kini dan selamanya.

Doa : Tuhan. kami berdoa memohon ampunan-Mu atas segala dosa Amin.

Selasa, 07 Februari 2023                                   

bacaan : Mazmur 25 : 1 – 7  

Doa mohon ampun dan perlindungan 
Dari Daud. Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku; 2 Allahku, kepada-Mu aku percaya; janganlah kiranya aku mendapat malu; janganlah musuh-musuhku beria-ria atas aku. 3 Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu; yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat dengan tidak ada alasannya. 4 Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. 5 Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. 6 Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. 7 Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN. 

Doa Mohon Ampun dan Perlindungan Tuhan

Hari ini, kita belajar dari pengalaman beriman raja Daud. Ia berdoa memohon pengampunan dan perlindungan dari Tuhan. Daud menyadari segala hal dan persoalan yang ia alami dalam perjalanan hidupnya pada masa muda, sungguh tidak lepas dari salah dan dosa (ay 7). Pengampunan Tuhan diharapkannya, semoga pelanggaran dan dosa yang diperbuat tidak diingat lagi.  Ia  memohon dengan kesungguhan hati dan terus berproses membarui hidupnya agar selalu berkenan kepada Tuhan. Raja besar inipun mengakui ada begitu banyak lawan dan orang yang membencinya karena keberhasilan dan kehebatan. Ia menjadi hebat dan berhasil karena diberkati Tuhan. Oleh sebab itu ia memohon perlindungan dan penyertaan Tuhan. Semua ancaman dapat diatasi dengan kuasa dan perlindungan Tuhan, bukan karena kehebatannya. Pengalaman iman dan keyakinan inilah yang membuat Daud kuat dan terus bermohon agar dimampukan tetap berjalan di jalan Tuhan, melakukan perintah dan kehendak-Nya. Daud tidak menjadi sombong dan arogan dengan mengandalkan kepintaran serta kemampuannya sebagai manusia semata. Namun karena Tuhan yang menuntun perjalanan hidupnya sehingga ia menjadi berhasil sebagai seorang raja. Pengalaman iman seperti ini layak kita pedomani sebagai keluarga dalam menapaki perjalanan hidup. Berdoalah senantiasa memohon pengampunan sebab sebagai manusia berdosa, kita tidak luput dari perbuatan salah. Tetaplah bersandar pada perlindungan dan penjagaan Tuhan agar terluput dari ancaman kebinasaan. Berilah hidup dituntun Roh, supaya terpelihara dan berkenan pada Tuhan baik kata maupun perbuatan. Berhati-hatilah senantiasa, sehingga kamu tidak jatuh ke dalam pencobaan dan melakukan kesalahan.   

Doa: Tuhan ampuni kami, kiranya penyertaan-Mu selalu nyata dalam hidup ini. Amin.

Rabu, 08 Februari 2023                               

bacaan : Bilangan 14 : 19 – 20  

19 Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari." 20 Berfirmanlah TUHAN: "Aku mengampuninya sesuai dengan permintaanmu.

Memohon Belas Kasihan Tuhan

Cinta kasih Tuhan yang tiada berbatas selalu nyata dalam perjalanan hidup bangsa Israel ketika mereka keluar dari tanah perbudakan Mesir menuju tanah perjanjian Kanaan. Bagian nas Alkitab secara keseluruhan pasal 14 ini menceritakan perjalanan panjang bangsa pilihan Tuhan ini sudah sampai di garis akhir saat akan memasuki  tanah Kanaan. Namun mereka menangis saat  dua belas orang pengintai memberi gambaran tentang keberadaan tanah Kanaan yang berlimpah madu dan susu sesuai janji Tuhan, namun penduduknya adalah orang-orang hebat dan kuat. Sangat manusiawi kalau bangsa Israel menangis sebagai tanda ketakutan dan akhirnya mereka bersungut-sungut kepada Musa dan Harun. Mereka terus mempersoalkan keluarnya mereka dari tanah Mesir yang dianggapnya sebagai negeri yang memberikan kelimpahan susu dan madu. Persungutan bangsa ini, membuat Allah murka dan hendak membinasakan mereka semua (ay12). Namun Musa, memohon belas kasihan Tuhan dan menceritakan kebesaran cinta kasihNya yang terjadi dan dirasakan oleh bangsa Israel mulai keluar dari tanah Mesir sampai saat mereka akan masuk tanah Kanaan (ay.19). Tuhan menjawab, memberikan pengampunan kepada bangsa Israel sesuai permintaan Musa (ay 20). Kisah bangsa Israel dibawa kepemimpinan Musa ini hendaknya dijadikan inspirasi dan pedoman. Kita pasti mengalami besarnya cinta kasih Tuhan dalam keberadaan sebagai keluarga. Kasih Tuhan yang tiada berbatas terus kita alami, sekalipun kita sering memberontak terhadap-Nya. Ingatlah bahwa tantangan dan persoalan hidup dapat membuat kita menangis, ragu, takut serta bersungut-sungut. Mohonlah ampunan dan belas kasihan Tuhan untuk membarui hidup. Pengampunan Tuhan menguatkan iman kita untuk melangkah bersama dengan-Nya dalam kelimpahan kasih karunia.    

Doa: Ya Tuhan, kami bersyukur untuk kasih-Mu yang mengampuni dan menyelamatkan. Amin.

Kamis, 09 Februari 2023                                     

bacaan : Ezra 10 : 7 – 14

7 Lalu disiarkanlah pengumuman di Yehuda dan di Yerusalem kepada semua orang yang pulang dari pembuangan untuk berhimpun di Yerusalem. 8 Barangsiapa dalam tiga hari tidak datang, maka menurut keputusan para pemimpin dan tua-tua segala hartanya akan disita dan ia akan dikucilkan dari jemaah yang pulang dari pembuangan. 9 Lalu berhimpunlah semua orang laki-laki Yehuda dan Benyamin di Yerusalem dalam tiga hari itu, yakni dalam bulan kesembilan pada tanggal dua puluh bulan itu. Seluruh rakyat duduk di halaman rumah Allah, sambil menggigil karena perkara itu dan karena hujan lebat. 10 Maka bangkitlah imam Ezra, lalu berkata kepada mereka: "Kamu telah melakukan perbuatan tidak setia, karena kamu memperisteri perempuan asing dan dengan demikian menambah kesalahan orang Israel. 11 Tetapi sekarang mengakulah di hadapan TUHAN, Allah nenek moyangmu, dan lakukanlah apa yang berkenan kepada-Nya dan pisahkanlah dirimu dari penduduk negeri dan perempuan-perempuan asing itu!" 12 Lalu seluruh jemaah menjawab dan berseru dengan suara nyaring: "Sesungguhnya, adalah kewajiban kami melakukan seperti katamu itu. 13 Tetapi orang-orang ini besar jumlahnya dan sekarang musim hujan, sehingga orang tidak sanggup lagi berdiri di luar. Lagipula pekerjaan itu bukan perkara sehari dua hari, karena dalam hal itu kami telah banyak melakukan pelanggaran. 14 Biarlah pemimpin-pemimpin kami bertindak mewakili jemaah seluruhnya, maka setiap orang di kota-kota kami yang memperisteri perempuan asing harus datang menghadap pada waktu-waktu tertentu, dan bersama-sama mereka para tua-tua dan para hakim di tiap-tiap kota, sampai murka Allah kami yang bernyala-nyala karena perkara ini dijauhkan dari kami."

 Taat dan Setialah kepada Tuhan, Jangan Mendua Hati 

Kita dapat saja berjumpa dengan orang yang kedapatan bersalah namun saat diminta pertanggungjawaban, mengelak dan mencari “kambing hitam” untuk disalahkan. Berhadapan dengan orang seperti ini dubutuhkan sosok “pemimpin” yang tegas, lugas dan berani. Jika seorang pemimpin plin-plan, penakut dan suka mencari “zona aman” (tidak mau repot) maka ia akan kompromi dengan yang salah. Bacaan hari ini menampilkan sosok Ezra, seorang pemimin yang tegas, lugas dan berani menyatakan kesalahan. Tanpa gentar, Ezra memanggil para lelaki suku Yehuda dan Benjamin yang melakukan kawin campur kemudian menetapkan mereka sebagai orang bersalah. Masalahnya apakah kawin campur itu salah? Jawabnya : tidak!  Kesalahan bukan pada fakta kawin campur, tetapi bahwa praktek tersebut mengakibatkan para lelaki Israel jadi tidak taat dan setia kepada Tuhan. Mereka ikut menyembah berhala dari perempuan yang mereka kawini. Seharusnya mereka membawa perempuan-perempuan itu dan menjadikan mereka orang-orang yang percaya kepada Tuhan, dan bukan dipengaruhi untuk ikut menyembah berhala. Karena itu sebagai bentuk pertanggungjawaban, semua laki-laki penyembah berhala mengakui kesalahan mereka dan melakukan apa saja yang dapat menjauhkan mereka dari murka Tuhan yang menyala-nyala. Kisah ini menegaskan pelajaran sebagai berikut. Pertama, jika sudah berbuat, maka harus berani pula bertanggung jawab, jangan cari kambing hitam untuk disalahkan. Kedua, semua kita adalah pemimpin, paling tidak untuk diri sendiri. Jadilah pemimpin yang tegas, lugas dan berani menyatakan kesalahan termasuk untuk diri sendiri, dan jangan suka cari zona aman lalu kompromi dengan yang salah. Ketiga, bergaullah dengan siapa saja, tak perlu pilih-pilih, tetapi ingat jangan mau dipengaruhi apalagi sampai mendua hati terhadap Tuhan. Tetaplah taat dan setia kepada-Nya.

Doa:   Ajarkan kami Tuhan, untuk selalu taat dan setia kepada-Mu. Amin.

Jumat, 10 Februari 2023                               

bacaan : Nehemia 1 : 4 – 11

4 Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit, 5 kataku: "Ya, TUHAN, Allah semesta langit, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang berpegang pada perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan tetap mengikuti perintah-perintah-Nya, 6 berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa. 7 Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu. 8 Ingatlah akan firman yang Kaupesan kepada Musa, hamba-Mu itu, yakni: Bila kamu berubah setia, kamu akan Kucerai-beraikan di antara bangsa-bangsa. 9 Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana. 10 Bukankah mereka ini hamba-hamba-Mu dan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan tangan-Mu yang kuat? 11 Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini." Ketika itu aku ini juru minuman raja.

Akuilah Dosa Supaya Diampuni

Ibu Lenny mendapat khabar bahwa putranya, Boy, ditahan polisi karena terjerat kasus narkoba. Hati ibu Lenny sangat sedih. Walau sedih, ia berpikir bahwa menangis saja tak ada gunanya, karena itu ia masuk ke kamar lalu berlutut dan meratap meminta belas kasihan dan pengampunan Tuhan. Semoga Tuhan mengampuni baik Boy, maupun dia dan keluarga karena gagal mendidik anak mereka. Bacaan kita mengisahkan tentang Nehemia bin Hakhalya, yang turut tertawan, namun telah menjadi orang kepercayaan raja Artahsasta, yakni sebagai juru minuman raja. Jabatan ini sebetulnya telah membuat kehidupan Nehemia nyaman. Namun ketika ia mendengar dari Hanani tentang kehancuran tembok Yerusalem dan sisa orang Yahudi yang masih tinggal di sana terancam, Nehemia menjadi sangat terpukul. Ia menangis, berkabung, berpuasa dan berdoa bagi bangsanya. Nehemia sadar bahwa bangsanya mengalami kehancuran karena ketidaktaatan mereka kepada Allah. Karena itu dalam doanya Nehemia mengaku dosanya, dosa keluarganya dan dosa bangsanya kepada Allah lalu meminta keampunan. Nehemia percaya bahwa Allah yang telah berjanji kepada para leluhurnya akan tetap setia pada janji itu, dan memulihkan keadaan Israel. Kita dapat pula mengalami peristiswa menyakitkan dan membuat hati gundah gulana. Mari belajar dari Ibu Lenny dan Nehemia, datang pada Tuhan, akui dosa dan mohon pengampunan-Nya. Jangan andalkan kemampuan diri sendiri atau mencari pertolongan dari manusia karena semua itu sia-sia adanya. Saat kita menyadari kesalahan dan mohon pengampunan, Tuhan yang setia akan mengampuni dosa dan memberi kelegaan. Dia pasti menuntun kita untuk mengambil tindakan selanjutnya yang tepat. Kasih-Nya besar, Ia berkuasa memurnikan hidup kita.

Doa: Ampuni kami Tuhan dan baharuilah kami seturut kehendak-Mu. Amin.

Sabtu, 11 Februari 2023                                 

bacaan : Mazmur 51 : 9 – 15 

7 (51-9) Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! 8 (51-10) Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali! 9 (51-11) Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! 10 (51-12) Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! 11 (51-13) Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! 12 (51-14) Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! 13 (51-15) Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

Tuhan Mengasihi Orang Yang Menyadari Kesalahannya

Aron dan Aryn kembar beda kelamin. Suatu hari mereka kedapatan mengambil uang Mama. Saat mereka diadili Mama, Aron menyadari bahwa dia telah berlaku salah dan mohon belas kasihan Mama. Sebaliknya Aryn, jangankan mengakui kesalahan, ia justeru menyalahkan Aron. Bacaan kita berkisah tentang Daud yang ditegur Natan karena mengambil Batsyeba, isteri Uria, dengan cara licik untuk dijadikan isterinya (band. 2 Samuel pasal 11 dan 12). Saat ditegur, Daud tidak membela diri sebab dia sadar bahwa dia telah bersalah. Karena itu Daud berdoa kepada Allah.  Daud bermohon agar ditahirkan, dosa-dosanya dibasuh dan diampuni agar ada sukacita dan kegirangan dalam hidupnya. Ia  juga sadar bahwa dosa adalah beban berat yang dapat menjauhkan Roh Allah dari hidupnya. Bukan hanya itu, Daud juga berjanji untuk mengajarkan jalan-jalan Tuhan bagi mereka yang salah jalan, sehingga mereka bisa berbalik dan datang kepada Allah dan melakukan kehendak-Nya. Tak seorangpun dari kita yang tidak pernah berbuat salah. Entah sadar atau tidak, kita pernah melakukan kesalahan yang mendatangkan dosa di hadapan Allah. Belajar dari kisah si kembar Aron dan Aryn serta  Daud dalam bacaan hari ini, maka dapatlah kita simak pelajaran beriman untuk menjadi pedoman hidup ke depan. Kita tidak dapat menyembunyikan kesalahan dari Tuhan, sebab mata-Nya dapat melihat yang kelihatan dan yang tersembunyi sekalipun. Tuhan mengasihi mereka yang menyadari kesalahannya dan mau bertobat. Karena itu akuilah dosa supaya kita diampuni sehingga kegirangan dan Roh Allah dapat dialami. Beritahukanlah jalan Tuhan bagi orang yang salah jalan, agar mereka juga terselamatkan dan Tuhan dimuliakan. Berusahalah untuk tidak mengualangi kesalahan, tapi memperbaikinya dalam terang pengampunan Tuhan. Pengampunan-Nya mengubah dan memurnikan hidup orang beriman.

Doa: Tuhan tolong kami untuk beritahukan jalan-jalan-Mu bagi sesama. Amin.

*SUMBER : SHK Bulan Februari 2023, LPJ-GPM.

Santapan Harian Keluarga, 29 Jan – 4 Feb 2023

Tema Bulanan    :  Gereja Kuat karena Kuasa dan Berkat Tuhan      

Tema Mingguan :  Gereja Yang Berbahagia, Menjadi Kuat

Minggu, 29 Januari 2023                                     

bacaan : Matius 5 : 1 – 12

Ucapan bahagia
Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. 2 Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: 3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. 5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. 6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. 7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. 8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. 9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. 10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

Jadilah Gereja Yang Paham Akan Kebahagiaan Di Dalam Tuhan

Konsep Kristen tentang berbahagia berbeda dengan konsep kebahagiaan tawaran dunia. Kekuasaan dan status sosial, tidak serta merta memberi kebahagiaan sempurna dan kekal. Bahagia yang dimaksud adalah seruan iman bahwa hidup yang berkenan pada Allah adalah hidup yang bersandar pada-Nya. Kebahagiaan murid-murid Tuhan yang diperoleh bukan dari terpenuhinya aneka kebutuhan sehari-hari, melainkan menggunakan segala sesuatu secara proposional dan terarah kepada kebahagiaan kekal bersama Allah. Maka bagi yesus kebahagiaan sejati adalah pemberian Allah kepada mereka yang memiliki sikap hidup benar dan tidak mengikatkan diri pada harta duniawi melainkan pada harta sorgawi. Khotbah Yesus di Bukit berisikan pernyataan dari prinsip-prinsip kebenaran Kerajaan Allah yang menuntun pada kebenaran sesungguhnya. Mereka berbahagia bukan karena sebuah jabatan atau uang semata. Kebahagiaan adalah kemampuan memaknai setiap kondisi dan situasi, baik ataupun tidak baik keadaannnya. Karena itu Yesus menyebut bahwa orang  berbahagia adalah mereka yang bukannya hidup enak, senang, kaya, banyak uang atau lainnya, tetapi mengalami penghinaan, cemoan dan lainnya. Konsep kebahagiaan orang Kristen didasarkan pada kemampuan untuk mengalami, menjalani, memaknai dan menerima kenyataan hidup. Ajaran tentang kebahagiaan sejatinya merupakan ajakan untuk hidup seturut kesetiaan Yesus di tengah penderitaan, situasi yang tidak nyaman dan penghinaan. Hendaklah kiranya kita tetap tekun dan setia pada jalan Yesus. Berbahagialah mereka yang bergerak bersama Tuhan dan setia di jalan-Nya dan oleh sebab itu gereja pasti menjadi kuat.

Doa: Tuhan kami mau hidup dalam kebahagiaan-Mu. Amin.

Senin, 30 Januari 2023                                

bacaan : Yesaya 48 : 17 – 19

17 Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. 18 Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti, 19 maka keturunanmu akan seperti pasir dan anak cucumu seperti kersik banyaknya; nama mereka tidak akan dilenyapkan atau ditiadakan dari hadapan-Ku."

Tuhanlah Sumber Kebahagiaan Yang Sejati

Bagaimana orang buta menuntun orang tuli, tentu sama-sama mengalami kesulitan tiba di tujuan. Pertanyaannya, apa yang membuat mereka dapat tiba di tujuan? Mereka perlu memiliki perasaan yang sama, ketaatan bersama, tidak saling menyalahkan juga tidak marah-marah. Kepekaan dan kebersamaanlah yang memungkinkan mereka dapat mencapai tujuan, walau tidak melihat dan mendengar. Kita juga ttidak mungkin melihat wajah Allah secara langsung atau muka dengan muka. Namun, ketika mengetahui bahwa Dia adalah Allah yang menuntun kita pada jalan hidup yang benar, maka dialamilah rasa senang. Firman, ajaran dan peraturan-Nya adalah penuntun di jalan yang harus ditempuh orang beriman. Berilah hidup dituntun Tuhan, kita akan mengalami damai sejahtera bagaikan sungai yang tidak pernah kering. Bukan saja itu, kebahagiaan melimpah bagaikan gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti, menjadi bagian hidup kita. Pilihlah jalan Tuhan, yakni kasih setia dan kebenaran serta berpeganglah pada kehendak-Nya. Hindarilah untuk memilih jalan sendiri atau tidak mau dihentar Tuhan, Hidup ini milik Tuhan dan Dialah suumber kebahagiaan, bukan materi, kepintaran, kuasa, jabatan dan yang lainnya. Kebahagiaan dan damai sejahtera tidak bisa ditukar atau dibeli dengan apa pun sebab semua itu adalah anugerahTuhan bagi mereka yang berkenan pada-Nya. Ingatlah bahwa kebahagiaan dan damai sejahtera sejati adalah milik Yang Mahakudus,  Tuhan Penebus. Dia akan menganugerahkannya bila kita hidup menurut jalan yang dikehendaki-Nya. Keturunan kita akan seperti pasir dan anak cucu bagaikan kersik (kerikil halus) banyaknya serta tidak akan dilenyapkan atau ditiadakan di hadapan Tuhan.

Doa: Tuhan berilah kepada kami hati yang taat kepada-Mu. Amin.

Selasa, 31 Januari 2023                                

bacaan : Amsal 13 : 21 – 22

21 Orang berdosa dikejar oleh malapetaka, tetapi Ia membalas orang benar dengan kebahagiaan. 22 Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya, tetapi kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar.

Kebahagiaan Orang Baik

Hendaklah kiranya bulan pertama di tahun ini, kita akhiri dengan suasana batin yang bahagia. Semoga kita telah menjalani hidup sebagai orang benar dan bukan orang berdosa. “Benar” berarti apa yang dikenan oleh Tuhan. Sedangkan orang benar (=baik) dipahami sebagai mereka yang hidup sesuai  dengan perintah dan pengajaran Tuhan. Kasih dan kesetiaan adalah dua hal penting yang terdapat dalam perintah dan pengajaran Tuhan. Atas dasar itu dikenal pula sebutan hidup benar yang maksudnya adalah memperlakukan orang lain dengan adil dan jujur. Bila kita hidup tidak sesuai dengan pengertian yang telah dikemukakan, maka itu sama artinya dengan menjadi orang berdosa. Orang berdosa adalah mereka yang berpaling dari Tuhan atau tidak mau menaati pengajaran-Nya. Orang seperti ini yang dalam kitab Amsal disebut dengan sebutan “orang bodoh”, sebab dosa mereka menuntun kepada kebinasaan atau malapetaka. Tak ada satu hal pun yang tersebunyi bagi Tuhan. Mari renung hidup dalam keteduhan batin seraya mengingat hari-hari yang telah dijalani dan bersyukurlah sebab Tuhan baik. Bermohonlah kepada Tuhan yang baik itu agar berkenan mengampuni kebaradaan yang salah. Mintalah pengertian dari-Nya agar pikiran dan perasaan yang menekan jiwa menjadi berlalu sebab semuanya dapat dimaknai. Bukalah hati dan ungkap rasa sambil berseru meminta Ia memberkati semua yang telah dikaryakan. Pandanglah hari esok atau bulan baru dengan tetap berpengharapan pada Tuhan, Raja segala zaman. Dia pasti membenarkan kita sehingga menjadi layak mengalami hidup yang berbahagia. Berbahagialah, karena dalam kebenaran-Nya, kita diperkenankan menjalani hidup sebagai orang benar yang dapat meninggalkan warisan bagi anak cucu. Keturunan kita pasti terus berlanjut di bumi ini, mereka akan hidup dalam kelimpahan kekayaan baik rohani maupun materi.

Doa: Tuhan, kami bersyukur sebab Engkau telah merahmati hidup ini dan melayakkan kami mengalami kebahagiaan sebagai orang benar. Amin.

Rabu, 01 Februari 2023

Bacaan: Mazmur 41 : 1- 4

Doa minta penyembuhan
Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (41-2) Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka. 2 (41-3) TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya! 3 (41-4) TUHAN membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya.

Berbahagia Saat Menolong Yang lemah

Kita bersyukur atas kasih dan anugerah Tuhan. Ia telah mempertibakan kita di bulan Februari tahun 2023. Perjalanan panjang masih akan berlangsung di tahun baru ini dengan harapan kebahagian, berkat dan sukacita selalu mewarnai kehidupan kita. Biasanya ukuran kebahagiaan selalu dikaitkan dengan mempunyai uang yang banyak, harta melimpah, punya kedudukan dan kuasa, hidup sehat serta anak-anak yang punya masa depan yang baik. Semuanya itu baik dan sah-sah saja. Namun nas firman Tuhan di hari ini, pemazmur menyatakan bahwa kebahagian seseorang adalah ketika ia memperhatjkan mereka yang lemah. Kata memperhatikan berarti memikirkan dan peduli dengan orang lain. Tidak hanya melihat kepentingan diri sendiri, tetapi dengan tulus dan sukacita selalu menolong orang lemah atau yang membutuhkan pertolongan dan bantuan. Sikap memperhatikan mereka yang lemah ini, berlandaskan keyakinan akan kuasa AJIah yang meluputkan dari kecelakaan, memelihara nyawa serta membantu dan memulihkan saat sakit. Jadi meyakini kuasa Allah adalah dasar sesungguhnya kepedulian kepada mereka yang lemah. Peduli dan mengasihi mereka yang lemah menjadikan seseorang bermakna dan selalu bahagia. Inilah panggilan kita sebagai keluarga Allah yakni untuk peduli kepada mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan serta bantuan. Hidup yang hanya mementingkan diri sendiri, sudah saatnya ditinggalkan. Ingatlah bahwa sesungguhnya Kristus telah lebih dahulu peduli akan hidup kita. Yakinlah, kita pasti mengalami penyertaan, perlindungan, kekuatan serta keselamatan dari Tuhan dan oleh sebab itu kebahagiaan dialami.

Doa : Tuhan mampukan kami untuk peduli dengan mereka yang lemah. Amin.

Kamis, 02 Februari 2023

Bacaan: Mazmur 106 : 3

3 Berbahagialah orang-orang yang berpegang pada hukum, yang melakukan keadilan di segala waktu!

Berbahagia Saat Taat Pada Hukum dan berIaku Adil

Hari ini, pemazmur berbicara tentang kebahagiaan orang-orang yang berpegang kepada hukum dan melakukan keadilan di segala waktu. Hukum dan keadilan adalah hal yang penting dalam kehidupan kita sebagai manusia. Hidup menjadi teratur dan tertib karenanya. Kehidupan yang berlangsung tanpa hukum dan keadilan pasti kacau dan hancur. Harus diakui bahwa dalam kenyataan untuk mewujudkan penegakkan hukum dan keadilan bukanlah hal yang mudah. Sering kali terjadi hukum diperjuabelikan. Ada pula ungkapan “hukum tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas”. Penegakan hukum yang tegas, agaknya hanya kepada orang lemah dan tidak mampu. Hukum tidak menyentuh dan lemah kepada mereka yang punya uang, kuasa dan jabatan. Nyatanya, perwujudan hukum dan keadilan belumlah sesuai dengan apa yang diharapkan. Marilah hayati kata pemazmur; kebahagiaan menjadi milik orang-orang yang selalu berpegang kepada hukum dan melakukan keadilan di setiap waktu. Mereka yang mewujudkan dan melakukannya selalu berpengharapan kepada Allah yang adil dan berkuasa dalam menyatakan hukum dan keadilan-Nya. Hal itu dilakukan tanpa takut dan kuatir terhadap kondisi apapun yang akan dihadapi. Mereka berani dan penuh kejujuran serta ketulusan melakukannya demi keteraturan hidup. Keteraturan hidup adalah kehendak Allah Pencipta. Hidup yang teratur membuat bahagia, sukacita, dan batin tenang. Oleh sebab itu, sudah selayaknya kita tetap berpegang pada hukum dan melakukan keadilan, kapan dan dimana saja. Wujudkanlah hal itu mulai dari dalam keluarga, gereja, masyarakat, bangsa dan negara. Bila semua kita melakukannya dengan baik, maka kebahagian dan sukacita akan dinikmati di dalam cinta kasih Tuhan.

Doa: tuntun kami Tuhan untuk taat pada hukum dan melakukan keadilan. Amin

Jumat, 03 Februari 2023

Bacaan: Pengkhotbah 8 : 9 – 13

Pekerjaan Allah tidak dapat diselami manusia
9 Semua ini telah kulihat dan aku memberi perhatian kepada segala perbuatan yang dilakukan di bawah matahari, ketika orang yang satu menguasai orang yang lain hingga ia celaka. 10 Aku melihat juga orang-orang fasik yang akan dikuburkan boleh masuk, sedangkan orang yang berlaku benar harus pergi dari tempat yang kudus dan dilupakan dalam kota. Inipun sia-sia. 11 Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat. 12 Walaupun orang yang berdosa dan yang berbuat jahat seratus kali hidup lama, namun aku tahu, bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya. 13 Tetapi orang yang fasik tidak akan beroleh kebahagiaan dan seperti bayang-bayang ia tidak akan panjang umur, karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah.

Berbahagia Saat Hidup Takut Tuhan

Firman Tuhan sebagaimana disebutkan penulis Pengkhotbah pada hari ini menegaskan bagi kita semua bahwa orang yang takut kepada Allah dan hadirat-Nya akan beroleh kebahagiaan. Sedangkan orang fasik atau yang tidak takut kepada Allah tidak akan beroleh kebahagiaan. Mereka seperti bayang-bayang yang tidak jelas bentuk dan wujudnya dan tidak berumur panjang sebab tidak takut terhadap hadirat Tuhan. Orang yang takut Tuhan, bukan sepeti seorang anak kecil yang takut pada hantu atau suasana gelap. Mereka adalah orang yang hidupnya selalu menghargai, mengagumi dan menghormati Tuhan serta mewjudkannya dalam sikap dan perbuatan. Sedangkan orang yang tidak takut Tuhan atau orang fasik berperilaku sebaliknya. Tuhan saja tidak mereka hormati apalagi sesama dan ciptaan yang lain. Mereka menampakkan perilaku yang merusak dan menghancurkan hidup sesama manusia serta ciptaan Iainnya. Akhir hidup orang fasik adalah kesia-siaan dan kebinasaan atau tidak mengalami kebahagiaan. Sebaliknya, mereka yang menghormati Tuhan, hidupnya diberkati atau mengalami kebahagiaan. Mereka menjalani hidup dengan sukacita, berkenan pada Tuhan dan berarti bagi sesama. Pesan firman Tuhan ini adalah pedoman bagi kita untuk melangkah menapaki hari-hari hidup di tahun baru ini. Jangan kita mengikuti jejak dan langkah hidup orang fasik yang selalu cenderung kepada kejahatan sebab akhir hidupnya adalah kesia-siaan dan kebinasaan atau tidak mengalami kebahagian. Ikuti dan teladani hidup orang yang takut Tuhan, selalu mewujudkan kebaikan bagi sesama dan semua ciptaan. Kebahagian pasti kita alami senantiasa. Bermohonlah agar Roh Kudus melayakkan dan menuntun kita menjadi orang-orang yang hidupnya takut Tuhan.

Doa: Ya Tuhan. tuntunlah kami dengan Roh Kudus agar selalu hidup takut kepada-Mu. Amin

Sabtu, 04 Februari 2023

Bacaan: Mazmur 84 : 1 – 8

Rindu kepada kediaman Allah
Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur bani Korah. (84-2) Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! 2 (84-3) Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. 3 (84-4) Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! 4 (84-5) Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela 5 (84-6) Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! 6 (84-7) Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. 7 (84-8) Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion.

Berbahagia Saat Berdiam Dalam Rumah Tuhan

Kita telah berada di akhir pekan dan disapa firman Tuhan menurut Mazmur nyanyian ziarah. Mazmur ini berisi kerinduan untuk pergi dan berdiam di rumah Tuhan. Kerinduan mereka seperti burung-burung yang tinggal dekat mezbah Tuhan. Kerinduan yang mendalam itu meringankan perjalanan mereka, dimana daerah gersang dan tandus nampak memancarkan dan menjadi mata air. Sesampainya di rumah Tuhan, doa dipanjatkan, pujian diungkapan, kemudian Tuhan melimpahi mereka dengan berkat dan sukacita. Situasi sebagaimana dialami umat dalam persekutuan di rumah Tuhan, oleh pemazmur dilukiskan sebagai kebahagiaan yang memberi sukacita serta kekuatan untuk menjalani hidup mereka di tengah dunia. Kebahagian yang sejati dinikmati saat meninggalkan segala kesibukan mereka untuk berdiam dan bersekutu dengan Tuhan. Hal ini sejalan dengan ungkapan pemazmur yang menyatakan: lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain (Maz 84:11). Berada di rumah Tuhan adalah kesempatan mengungkapkan isi hati dengan bebas dan tulus, bersyukur atas penyertaan dan tuntunan Tuhan dalam penalanan hidup serta bermohon kepada-Nya. Kesaksian firman Tuhan inipun menjadi teladan bagi kita sebagai keluarga Allah untuk senantiasa memiliki kerinduan datang ke rumah Tuhan untuk bersyukur dan memuji serta memuliakan-Nya. Tuhan telah menganugerahkan berkat, tuntunan dan penyertaan-Nya dalam pekerjaan atau usaha maupun pendidikan selama satu pekan. Oleh sebab itu kehadiran dalam kebaktian di hari minggu untuk memuji dan menyembah Tuhan mesti kita wujudkan dengan sukacita sebagai tanda syukur kepada-Nya. Bila akta iman yang demikian diwujudkan, maka kebahagian sejati selalu mewarnai seluruh perjalalan hidup kita sebagai keluarga dari hari ke hari.

Doa: Terimalah syukur dan sambut kami untuk berdiam di rumah-Mu yang kudus ya Tuhan. Amin

*SUMBER : SHK Bulan Jan-Feb 2023, LPJ-GPM