Santapan Harian Keluarga, 12 – 18 Februari 2023

Tema Bulanan : Gereja Kuat : Murnikan Hidup dan Maknai Derita

Tema Mingguan : Hidup yang Murni : dari Lawan jadi Kawan

Minggu, 12 Februari 2023                            

bacaan : 1 Korintus 3 : 1 – 9   

Perselisihan
Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. 2 Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. 3 Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? 4 Karena jika yang seorang berkata: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan Apolos," bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani? 5 Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. 6 Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. 7 Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. 8 Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. 9 Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

         Hidup Yang Murni : Musuh Berubah Jadi Teman

Brandon dan Brethley teman sekelas namun mereka tak pernah akur. Sering terjadi pertengkaran di antara mereka sehingga teman-teman sekelas menjuluki keduanya “Tom dan Jerry”. Suatu hari terjadi tawuran dan kepala Brethley terkena lemparan batu hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak. Melihat hal ini, hati nurani Brandon terusik dan dia pun menolong Brethley tanpa berpikir bahwa mereka selama ini bermusuhan. Peristiwa itu mengubah permusuhan di antara keduanya menjadi pertemanan. Bacaan hari ini berkisah tentang kehidupan jemaat di Korintus yang tidak rukun pula. Paulus menyebut mereka sebagai manusia duniawi yang belum dewasa dalam Kristus. Mereka berselisih karena hal yang sebetulnya tidak perlu dipertentangkan. Tidak perlu ada pro kontra di antara mereka sebab baik Paulus, Apolos maupun Kefas, sama-sama rasul Tuhan. Ketiganya sama-sama memberitakan Injil Yesus Kristus. Mereka hanyalah alat  yang dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya. Tetapi karena sifat kedagingan itu sudah tumbuh subur dalam hati jemaat maka tidak ada tempat lagi bagi Roh Kudus untuk berkarya dan memberikan pencerahan. Mereka berselisih karena kehilangan tuntunan kuasa Tuhan. Padahal orang-orang yang mereka “jagokan” ini hidupnya rukun-rukun saja karena mereka adalah kawan sekerja Allah. Kawan sekerja Allah ini bekerja sesuai peran masing-masing dan percaya bahwa Allah-lah yang akan memberkati pekerjaan mereka (baca : memberi pertumbuhan). Karena itu jemaat harus menghentikan pertikaian mereka dan kembali hidup rukun serta damai. Pertikaian dan perselisihan haruslah diubah menjadi pertemanan yang rukun. Ingatlah bahwa  di dalam hidup yang rukun tersedia berkat (band. maz. 133). Hindarilah pertengkaran baik antara suami-isteri, orang tua-anak, kakak beradik maupun hidup bertetangga dan antar rekan sekerja. Pertengkaran membuat batin tertekan dan kehilangan rasa damai.  Paulus mengingatkan kita untuk meninggalkan hidup kedagingan itu lalu mengusahakan persekutuan yang rukun dengan semua orang. Persekutuan yang rukun membuahkan sukacita, kebahagiaan dan hidup yang diberkati.

Doa:   Tuhan, tolong kami ‘tuk mengubah permusuhan jadi pertemanan. Amin.

Senin, 13 Februari 2023                              

bacaan : Kejadian 33 : 1 – 11    

Yakub berbaik kembali dengan Esau
Yakubpun melayangkan pandangnya, lalu dilihatnyalah Esau datang dengan diiringi oleh empat ratus orang. Maka diserahkannyalah sebagian dari anak-anak itu kepada Lea dan sebagian kepada Rahel serta kepada kedua budak perempuan itu. 2 Ia menempatkan budak-budak perempuan itu beserta anak-anak mereka di muka, Lea beserta anak-anaknya di belakang mereka, dan Rahel beserta Yusuf di belakang sekali. 3 Dan ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu. 4 Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka. 5 Kemudian Esau melayangkan pandangnya, dilihatnyalah perempuan-perempuan dan anak-anak itu, lalu ia bertanya: "Siapakah orang-orang yang beserta engkau itu?" Jawab Yakub: "Anak-anak yang telah dikaruniakan Allah kepada hambamu ini." 6 Sesudah itu mendekatlah budak-budak perempuan itu beserta anak-anaknya, lalu mereka sujud. 7 Mendekat jugalah Lea beserta anak-anaknya, dan merekapun sujud. Kemudian mendekatlah Yusuf beserta Rahel, dan mereka juga sujud. 8 Berkatalah Esau: "Apakah maksudmu dengan seluruh pasukan, yang telah bertemu dengan aku tadi?" Jawabnya: "Untuk mendapat kasih tuanku." 9 Tetapi kata Esau: "Aku mempunyai banyak, adikku; peganglah apa yang ada padamu." 10 Tetapi kata Yakub: "Janganlah kiranya demikian; jikalau aku telah mendapat kasihmu, terimalah persembahanku ini dari tanganku, karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkaupun berkenan menyambut aku. 11 Terimalah kiranya pemberian tanda salamku ini, yang telah kubawa kepadamu, sebab Allah telah memberi karunia kepadaku dan akupun mempunyai segala-galanya." Lalu dibujuk-bujuknyalah Esau, sehingga diterimanya.

Hidup Yang Murni : Laeng Sayang Laeng”

Beta inga nasihat Papa deng Mama. “Ingatang, hidop orang gandong tu musti laeng sayang laeng. Beta simpang nasihat ni dalang beta pung hati. Pernyataan ini diucapkan seorang ibu saat berlangsung kebaktian pemakaman ibundanya. Praktek hidup yang saling mengasihi sudah selayaknya terjadi di antara saudara satu gandong (=kandung). Selanjutnya mari kita simak kisah hidup Esau dan Yakub. Relasi saudara sekandung ini pernah berantakan karena terjadi tindakan penipuan. Yakub akhirnya diberkati Ishak sebagai anak sulung, bukan Esau. Peristiwa ini  menimbulkan akar pahit (kebencian dan dendam) di hati Esau.  Yakub yang takut kepada Esau, kakak kembarnya harus lari meninggalkan rumah orang tuanya (bdk. Kejadian Psl. 27, 28 dan 32). Namun, seperti kata orang tatua “Busu-busu orang sudara jua. Yakub berkeinginan untuk berbaik dengan Esau, walau dalam hatinya masih ada rasa takut. Cara untuk mensiasati pertemuan damai dengan Esau ditemukan.  Ia berjalan di depan dan diikuti para gundik dan anak-anak mereka, Lea dan anak-anaknya barulah Rahel beserta Yusuf paling belakang. Pikirnya, jika Esau dan pasukan menyerang paling tidak keluarganya yang lain bisa lari menyelamatkan diri. Ternyata apa yang dikuatirkan Yakub tidak terjadi. Esau tidak melampiaskan dendamnya yang tersimpan bertahun-tahun. Ia menyongsong Yakub dengan pelukan dan ciuman kasih sayang. Berkali-kali Yakub merendah di hadapan Esau seraya mohon maaf dan belas kasihan. Esau menaggapi dengan kerelaan memaafkan kesalahan adiknya. berlangsunglah pertemuan yang mengubah permusuhan menjadi perdamaian orang saudara. Ada ungkapan: “piring jua bisa tatoki.” Relasi tak sedap di antara kita dapat saja terjadi, tapi janganlah simpan dendam dan marah sampai mati.  Mari balajar dari Esau dan Yakub. Merendah dan mintalah maaf jika karena kehilafan kita melakukan keburukan. Hidup dengan rasa bersalah dan takut tak ada faedahnya. Berilah pengampunan bagi saudara yang bersalah kepada kita. Matikanlah kemarahan, kebencian dan dendam serta hidupkanlah kasih sayang seorang akan yang lainnya. Bermohonlah agar Tuhan menolong kita untuk hidup seturut kehendak-Nya.

Doa: Tuhan, tolong kami untuk saling sayang sebagai adik dan kakak. Amin.

Selasa, 14 Februari 2023                           

bacaan : Kejadian 50 : 15 – 21

Yusuf menghiburkan hati saudara-saudaranya
15 Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: "Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya." 16 Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: "Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan: 17 Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu." Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya. 18 Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: "Kami datang untuk menjadi budakmu." 19 Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? 20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. 21 Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.

Hidup Yang Murni : “Ale Rasa, Beta Rasa”

Sejak tanggal 10 Februari, silverqueen dan sejenisnya di swalayan-swalayan habis terjual. Apalagi di swalayan yang memberikan promo. Mengapa? Karena “diborong” oleh mereka yang merayakan hari kasih sayang. Pertanyaannya : Apa yang kita pahami tentang kasih sayang itu? Apakah hanya sebatas pemberian cokelat dan bunga atau ada yang lebih dari itu. Mari kita lihat makna kasih sayang yang digambarkan dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya. Sejak kecil Yusuf sudah dibenci suadara-saudaranya karena ia mendapat kasih sayang lebih dari ayah mereka, Yakub. Karena itu mereka merancangkan hal jahat untuk menjauhkan Yusuf dari kehidupan mereka. Akhir cerita, sampailah Yusuf di tanah Mesir dan menjadi orang penting di istana Firaun. Hal ini tidak membuat Yusuf sombong apalagi berencana membalas dendam kepada kakak-kakaknya yang telah menjahati dia. Justeru di saat mereka susah, Yusuf tampil sebagai penolong bagi mereka. Bahkan sampai saat ayah mereka mati, saudara-saudaranya masih berpikir bahwa karena Yakub sudah tiada maka pasti ini saatnya Yusuf membalas dendamnya. Karena itu mereka mengutus orang untuk menyampaikan pesan Yakub kepada Yusuf agar memaafkan saudara-saudaranya. Saudara-saudara Yusuf juga datang dan sujud memohon maaf lalu minta dijadikan budak oleh Yusuf. Namun apa yang terjadi? Yusuf tidak membalas kejahatan yang dibuat. Ia mengampuni malah menghibur dan menenangkan hati mereka. Yusuf berjanji untuk menanggung hidup saudara-saudaranya terhadapnya beserta anak-anak mereka. Itulah kasih sayang yang sesungguhnya. “Potong di kuku rasa di daging, ale rasa beta rasa, ale susah beta lai rasa susah, ale sanang beta iko sanang.” Kasih sayang yang sejati adalah “sagu salempeng pata dua”. Bukan makan sandiri lupa sudara. Bukan makang sambunyi dar sudara, bukan rampas sudara pung bagiang. Kasih sayang sejati tak mengenal dendam,  dan kebencian kecuali  pengampunan. Bunga dan cokelat hanyalah simbol yang tidak akan bermakna jika tidak diikuti dengan perbuatan nyata. Happy Valentine Day, Tuhan Yesus memberkati katong samua agar terus saling mengasihi .

Doa: Tuhan, Kami mau saling mengasihi dan menjauhkan dendam dari hati. Amin.

Rabu, 15 Februari 2023                            

bacaan : Bilangan 12 : 1 – 16

Pemberontakan Miryam dan Harun
Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush. 2 Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN. 3 Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi. 4 Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: "Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan." Maka keluarlah mereka bertiga. 5 Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya. 6 Lalu berfirmanlah Ia: "Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. 7 Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. 8 Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?" 9 Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap mereka, lalu pergilah Ia. 10 Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta! 11 Lalu kata Harun kepada Musa: "Ah tuanku, janganlah kiranya timpakan kepada kami dosa ini, yang kami perbuat dalam kebodohan kami. 12 Janganlah kiranya dibiarkan dia sebagai anak gugur, yang pada waktu keluar dari kandungan ibunya sudah setengah busuk dagingnya." 13 Lalu berserulah Musa kepada TUHAN: "Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia." 14 Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sekiranya ayahnya meludahi mukanya, tidakkah ia mendapat malu selama tujuh hari? Biarlah dia selama tujuh hari dikucilkan ke luar tempat perkemahan, kemudian bolehlah ia diterima kembali." 15 Jadi dikucilkanlah Miryam ke luar tempat perkemahan tujuh hari lamanya, dan bangsa itu tidak berangkat sebelum Miryam diterima kembali. 16 Kemudian berangkatlah mereka dari Hazerot dan berkemah di padang gurun Paran.

Hidup Yang Murni : Jangan Saling Mencela

Musa ditunjuk Tuhan untuk memimpin Israel keluar dari Mesir. Namun Musa beralasan bahwa dia tidak fasih berbicara. Lalu Tuhan menunjuk Harun, kakaknya yang fasih berbicara, untuk mendampinginya. Begitu juga dengan Miryam, kakak perempuan Musa yang punya kelebihan di bidang musik dan tari ikut membantu Musa. Awalnya mereka selalu  solid, namun saat Musa mengambil perempuan Kush menjadi isterinya, Miryam dan Harun protes. Mereka tidak setuju dengan tindakan Musa. Musa dianggap telah melakukan kawin campur, hal yang dilarang dalam aturan bangsanya. Karena itu mereka mengata-ngatai dan mencela Musa. Kemarahan Miryam dan Harun terhadap Musa   bisa jadi sudah ada sebelum itu karena rasa iri. Musa lebih muda dari mereka, tetapi memegang kendali kepemimpinan bangsa itu. Ibarat bisul, perkawinan Musa yang kedua menjadi kesempatan bagi pecahnya bisul itu. Teks hari ini menjelaskan bahwa Musa adalah orang yang sangat lembut hatinya dan di mata Tuhan, ia adalah hamba yang selalu setia, sehingga dibela oleh-Nya. Pembelaan Tuhan terlihat pada hukuman yang Ia berikan kepada Miryam dalam bentuk penyakit kusta. Sekali lagi kelembutan dan kebaikan hati Musa terbukti. Ia tidak tega melihat kondisi kakaknya yang terkena kusta sehingga Musa berseru kepada Tuhan dan mohon agar Miryam disembuhkan. Tuhan mendengar seruan Musa. Miryam hanya mengalami kusta selama tujuh hari lalu ia dipulihkan. Kita dapat belajar hal-hal berikut ini dari cerita Musa dan saudara-saudaranya. Tuhan punya kehendak bebas untuk memilih siapa yang mau dipakai-Nya. Karena itu jangan iri jika yang Tuhan pilih adalah mereka yang lebih muda dari kita. Berhati-hatilah agar tidak cepat menuding seseorang bersalah, sekalipun dia lebih muda. Sudut pandang dan pemahaman kita bukanlah yang paling benar. Karena itu mintalah petunjuk Tuhan sebelum bertindak. Belajarlah untuk terlebih dahulu memikirkan dampak dari setiap tindakan sebelum dilaksanakan. Milikilah hati yang lembut, penyabar, penyayang dan pemaaf, seperti yang ada pada Musa. Jika hal-hal tersebut kita perhatikan dan lakukan, niscaya kehidupan orang basudara akan rukun dan tidak saling mencela.

Doa: Tuhan, tolonglah agar kami hidup rukun dan tidak saling mencela. Amin.

Kamis, 16 Februari 2023                            

bacaan : 1 Samuel 24 : 11 – 23  

0 (24-11) Ketahuilah, pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa TUHAN sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN. 11 (24-12) Lihatlah dahulu, ayahku, lihatlah kiranya punca jubahmu dalam tanganku ini! Sebab dari kenyataan bahwa aku memotong punca jubahmu dengan tidak membunuh engkau, dapatlah kauketahui dan kaulihat, bahwa tanganku bersih dari pada kejahatan dan pengkhianatan, dan bahwa aku tidak berbuat dosa terhadap engkau, walaupun engkau ini mengejar-ngejar aku untuk mencabut nyawaku. 12 (24-13) TUHAN kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, TUHAN kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau; 13 (24-14) seperti peribahasa orang tua-tua mengatakan: Dari orang fasik timbul kefasikan. Tetapi tanganku tidak akan memukul engkau. 14 (24-15) Terhadap siapakah raja Israel keluar berperang? Siapakah yang kaukejar? Anjing mati! Seekor kutu saja! 15 (24-16) Sebab itu TUHAN kiranya menjadi hakim yang memutuskan antara aku dan engkau; Dia kiranya memperhatikannya, memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku dengan melepaskan aku dari tanganmu." 16 (24-17) Setelah Daud selesai menyampaikan perkataan itu kepada Saul, berkatalah Saul: "Suaramukah itu, ya anakku Daud?" Sesudah itu dengan suara nyaring menangislah Saul. 17 (24-18) Katanya kepada Daud: "Engkau lebih benar dari pada aku, sebab engkau telah melakukan yang baik kepadaku, padahal aku melakukan yang jahat kepadamu. 18 (24-19) Telah kautunjukkan pada hari ini, betapa engkau telah melakukan yang baik kepadaku: walaupun TUHAN telah menyerahkan aku ke dalam tanganmu, engkau tidak membunuh aku. 19 (24-20) Apabila seseorang mendapat musuhnya, masakan dilepaskannya dia berjalan dengan selamat? TUHAN kiranya membalaskan kepadamu kebaikan ganti apa yang kaulakukan kepadaku pada hari ini. 20 (24-21) Oleh karena itu, sesungguhnya aku tahu, bahwa engkau pasti menjadi raja dan jabatan raja Israel akan tetap kokoh dalam tanganmu. 21 (24-22) Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku demi TUHAN, bahwa engkau tidak akan melenyapkan keturunanku dan tidak akan menghapuskan namaku dari kaum keluargaku." 22 (24-23) Lalu bersumpahlah Daud kepada Saul. Kemudian pulanglah Saul ke rumahnya, sedang Daud dan orang-orangnya pergi ke kubu gunung.

Hidup Yang Murni : Tidak Membalas Kejahatan Dengan Kejahatan

Rasa iri membuat Saul ingin menghabisi Daud. Saul tidak terima dengan pujian yang diberikan rakyat terhadap Daud karena berhasil mengalahkan orang Filistin (Goliat dan tentaranya). Daud menghindar dan sembunyi dalam gua yang ada pada gunung batu Kambing Hutan, di padang gurun En-Gedi. Jika Daud adalah seorang yang tidak takut Tuhan, maka dengan mudah ia sudah membunuh Saul di goa itu. Saul sama sekali tidak menyadari keberadaan Daud di situ. Tetapi yang dilakukan Daud hanyalah memotong punca jubah (ujung/ sudut kain selendang atau serbai) Saul. Setelah Saul keluar dari goa itu, Daud menyusulnya dan memanggil namanya kemudian sujud di hadapannya. Sesudah itu Daud bangun dan menunjukkan punca jubah Saul yang dipotongnya dan berkata bahwa sebetulnya itu kesempatan untuk membunuh Saul. Namun karena rasa sayang dan hormatnya kepada Saul maka ia tidak melakukan itu. Malah Saul disapanya sebagai “ayahku” (ay.12), sapaan yang menunjukan adanya hubungan kekeluargaan. Sapaan ini bisa saja terjadi karena Daud adalah menantu Saul, suami Mikhal, anak perempuan Saul, (band. 1 Sam.18), tetapi juga sebagai uangkapan rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Rasa iri memang sangat berbahaya karena dapat membuat orang melakukan hal-hal jahat seperti yang dilakukan Saul terhadap Daud. Namun kasih sayang dan kerendahan hati dapat mengalahkan semua rasa yang negatif, seperti : iri hati, cemburu dendam dan sejenisnya. Teks hari ini menceritakan bahwa Daud telah memperlihatkan kebaikan. Kasih sayang dan kerendahan hati itu bisa dimilki Daud karena hanya Tuhan yang menjadi andalannya. Daud menyerahkan setiap persoalan yang dihadapinya kepada Tuhan. Karena itu Daud terhindar dari keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan. Hendaklah kita tetap berusaha untuk mengakui kelebihan orang lain sehingga tidak cemburu dan iri. Jangan menyimpan dendam, tetapi belajarlah untuk memberi pengampungan. Milikilah kasih dan kerendahan hati, yang akan menuntun kita untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Andalkan Tuhan, bukan kekuatan sendiri, sebab pada kta ada keterbatasan. Hidplah dalam perdamaian dengan semua orang.

Doa: Tuhan, kiranya kami tidak  membalas kejahatan dengan kejahatan. Amin.

Jumat, 17 Februari 2023                                

Kejadian 31: 36-42          

36 Lalu hati Yakub panas dan ia bertengkar dengan Laban. Ia berkata kepada Laban: "Apakah kesalahanku, apakah dosaku, maka engkau memburu aku sehebat itu? 37 Engkau telah menggeledah segala barangku, sekarang apakah yang kautemui dari segala barang rumahmu? Letakkanlah di sini di depan saudara-saudaraku dan saudara-saudaramu, supaya mereka mengadili antara kita berdua. 38 Selama dua puluh tahun ini aku bersama-sama dengan engkau; domba dan kambing betinamu tidak pernah keguguran dan jantan dari kambing dombamu tidak pernah kumakan. 39 Yang diterkam oleh binatang buas tidak pernah kubawa kepadamu, aku sendiri yang menggantinya; yang dicuri orang, baik waktu siang, baik waktu malam, selalu engkau tuntut dari padaku. 40 Aku dimakan panas hari waktu siang dan kedinginan waktu malam, dan mataku jauh dari pada tertidur. 41 Selama dua puluh tahun ini aku di rumahmu; aku telah bekerja padamu empat belas tahun lamanya untuk mendapat kedua anakmu dan enam tahun untuk mendapat ternakmu, dan engkau telah sepuluh kali mengubah upahku. 42 Seandainya Allah ayahku, Allah Abraham dan Yang Disegani oleh Ishak tidak menyertai aku, tentulah engkau sekarang membiarkan aku pergi dengan tangan hampa; tetapi kesengsaraanku dan jerih payahku telah diperhatikan Allah dan Ia telah menjatuhkan putusan tadi malam."

Tuhan Selalu Memperhatikan Umat-Nya

Kita mungkin saja akan menghadapi tuduhan atau tekanan dari orang lain. Ketika tuduhan atau tekanan itu dialami, respons diberikan sebagai tanggapannya. Ada yang meresponsnya dengan menunjukkan sikap diam, ribut, atau lainnya. Teks Alkitab ini menceritakan bagaimana sikap Yakub terhadap Laban yang menuduh dirinya melakukan kecurangan. Ada tiga tuduhan Laban, yaitu: 1). Yakub melarikan diri secara diam-diam. 2). Yakub mengambil harta yang masih dianggap milik Laban. 3). Yakub mencuri sesembahannya. Semua tuduhan itu tidak benar kecuali yang ketiga, tetapi yang mencuri pun bukan Yakub melainkan Rahel. Yakub sudah meminta izin untuk kembali ke tanah leluhurnya, maka tuduhan bahwa ia lari tidak benar. Yakub memang merancang kepergian diam-diam sebab Laban menunjukkan gelagat tidak rela melepas. Menghadapi tuduhan ini Yakub  terpancing membela diri dengan nada marah (ay.36). Yakub menelanjangi ketidakadilan Laban. Melalui peristiwa ini Yakub sekali lagi mengalami bagaimana Allah memihak dia. Sebab Allah punya rencana agung melalui dia, dan Allah ingin agar Yakub masuk dalam relasi yang hidup dengan-Nya. Yakub akhirnya menyadari bahwa dalam kesengsaraan dan jerih payahnya, Allah selalu memperhatikan Yakub (ay.42) Yakub telah bekerja dengan rajin dan baik pada Laban, namun mendapat tuduhan dari Laban juga. Meskipun demikian, Yakub mengakui Tuhan selalu ada, memperhatikan dan memberkatinya. Pesan dari kisah ini kepada kita adalah bahwa yang terpenting dalam hidup ini ketika pekerjaan dan karya kita tidak dihargai, bahkan dituduh melakukan hal-hal yang tidak baik, tetaplah mengakui bahwa Tuhan itu ada dan selalu memperhatikan kita.

Doa: Tuhan, perhatikanlah kami saat mengalami kesengsaraan dan Tuduhan dari orang lain. Amin.

Sabtu, 18 Februari 2023                                  

bacaan : Kejadian 26 : 26 – 31 

26 Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya. 27 Tetapi kata Ishak kepada mereka: "Mengapa kamu datang mendapatkan aku? Bukankah kamu benci kepadaku, dan telah menyuruh aku keluar dari tanahmu?" 28 Jawab mereka: "Kami telah melihat sendiri, bahwa TUHAN menyertai engkau; sebab itu kami berkata: baiklah kita mengadakan sumpah setia, antara kami dan engkau; dan baiklah kami mengikat perjanjian dengan engkau, 29 bahwa engkau tidak akan berbuat jahat kepada kami, seperti kami tidak mengganggu engkau, dan seperti kami semata-mata berbuat baik kepadamu dan membiarkan engkau pergi dengan damai; bukankah engkau sekarang yang diberkati TUHAN." 30 Kemudian Ishak mengadakan perjamuan bagi mereka, lalu mereka makan dan minum. 31 Keesokan harinya pagi-pagi bersumpah-sumpahanlah mereka. Kemudian Ishak melepas mereka, dan mereka meninggalkan dia dengan damai. 32 Pada hari itu datanglah hamba-hamba Ishak memberitahukan kepadanya tentang sumur yang telah digali mereka, serta berkata kepadanya: "Kami telah mendapat air."

Menghindar Bukan Berarti Kalah

Jalan keluar dari setiap masalah selalu tersedia. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Begitu juga tidak ada lawan abadi sepanjang damai bisa diupayakan jalan keluarnya. Hal yang demikian menjadi pengalaman Ishak ketika terjadi konflik atau pertengkaran antara para pekerjanya (gembala) dengan gembala Gerar dari Filistin (ay. 20). Pertengkaran tersebut menyangkut  sumur Esek yang digali oleh Ishak dan pekerjanya. Ishak dan pekerjanya berpindah tempat dan menggali sumur yang lain, yaitu Sitna, dengan maksud menghindari pertengkaran. Pertengkaran terjadi lagi di sumur Sitna. Kemudian Ishak dan pekerjanya meninggalkan sumur Sitna dan menggali sumur lain lalu diberi nama Rehobot.  Semuanya dilakukan  Ishak demi terciptanya hidup damai dan rukun dengan orang lain. Selanjutnya diceritakan bahwa Abimelek dari Gerar bersama para sahabatnya Ahuzat dan Pikhol menemui Ishak, namun kedatangan mereka dipertanyakan sebab aneh aneh. Orang yang membenci Ishak datang menemuinya. Ternyata, Abimelek dan para sahabatnya menemui Ishak karena mereka telah melihat penyertaan Tuhan. Perjumpaan itu menghasilkan adanya sumpah setia dan perjanjian bahwa tidak ada lagi perbuatan saling berbuat jahat dan saling mengganggu antara mereka. Mengakhiri atau menyelesaikan suatu pertengkaran selayaknya diupayakan dengan tujuan terciptanya kedamaian, bukan permusuhan. Masalah harus diselesaikan secara damai, mengalah dan menghindar adalah salah satu caranya. Cara tersebut efektif untuk mengantisipasi terjadinya konflik yang lebih besar dan berkepanjangan. Selain itu sekaligus menciptakan persaudaraan dan perdamaian, serta membuat lawan menjadi kawan.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk selalu hidup berdamai. Amin.

*SUMBER : SHK Bulan Februari 2023, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 5 – 11 Februari 2023

Tema Bulanan : Gereja Kuat : Murnikan Hidup dan Maknai Derita

Tema Mingguan : Hidup yang Murni, Mengakui Dosa dan Diampuni

Minggu, 05 Februari 2023

Bacaan: Mazmur 32 : 1 – 11

Kebahagiaan orang yang diampuni dosanya
1 Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! 2 Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! 3 Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; 4 sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Sela 5 Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sela 6 Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui; sesungguhnya pada waktu banjir besar terjadi, itu tidak melandanya. 7 Engkaulah persembunyian bagiku, terhadap kesesakan Engkau menjaga aku, Engkau mengelilingi aku, sehingga aku luput dan bersorak. Sela 8 Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. 9 Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau. 10 Banyak kesakitan diderita orang fasik, tetapi orang percaya kepada TUHAN dikelilingi-Nya dengan kasih setia. 11 Bersukacitalah dalam TUHAN dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur.!

Jujur Mengaku Dosa Pada Tuhan

Tema pelayanan sepanjanq pekan ini adalah “Hidup yang murni: mengakui dosa dan diampuni”. Tema ini menegaskan tentang pentingnya mengaku dosa dengan kesungguhan hati kepada Tuhan untuk menikmati keampunan dari-Nya. Kita akan menikmati hidup baru atau hidup yang dimurnikan sebagai anugerah dan kasih sayang Tuhan. Nas hari ini menyaksikan bahwa raja Daud mengungkapkan hal tersebut sebagai bentuk pengajaran yang didasari dari pengalaman hidupnya sendiri. Daud berdosa kepada Tuhan dengan mengambil istri Uria, Batsyeba dan dosanya itu disampaikan oleh nabi Natan. Daud tidak menyangkal apa yang dibuatnya yakni melakukan kesalahan, namun dengan jujur dan terbuka mengakuinya kepada Tuhan (ay.5; bd. 2 Sam12:13). Kesungguhan Daud untuk mengakui segala pelanggaran dan dosanya kepada Tuhan, membuatnya mendapatkan pengampunan. Itulah sebab Daud menyatakan bahwa betapa bahagianya orang yang diampuni pelanggaran dan ditutupi dosanya serta kesalahannya yang tidak diperhitungkan Tuhan. Pemyataan ini bukan berarti merasa aman dan nyaman untuk terus berbuat dosa, namun karena mendapatkan keampunan dari Tuhan saat dengan jujur mengakui dengan sungguh kepada Tuhan. Daud bersyukur dan bersukacita karena menikmati kehidupan yang dibarui atau dimurnikan. la juga mengajarkan untuk tidak keras hati dan suka melawan perintah dan kehendak Tuhan. Ibarat kuda atau bagal yang dak berakal dan mesti dikendalikan oleh tali les dan kekang. Kita adalah keluarga beriman yang tidak luput dari perbuatan salah dan dosa. Hendaklah dengan jujur dan sungguh-sungguh kita berdoa memohon pengampunan dari Tuhan serta berjanji untuk tidak mengulangi dosa. Mohonlah Roh Kudus agar kita dimampukan untuk bertobat dan dibarui sebagai wujud kemurnian hidup.

Doa: Tuhan. jujur kami mengaku dosa, berilah keampunan-MU Amin.

Senin, 06 Februari 2023

Bacaan: Daniel 9 : 3 -19

Daniel 9:3-19 (TB) Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu.
Maka aku memohon kepada TUHAN, Allahku, dan mengaku dosaku, demikian: "Ah Tuhan, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang memegang Perjanjian dan kasih setia terhadap mereka yang mengasihi Engkau serta berpegang pada perintah-Mu!
Kami telah berbuat dosa dan salah, kami telah berlaku fasik dan telah memberontak, kami telah menyimpang dari perintah dan peraturan-Mu,
dan kami tidak taat kepada hamba-hamba-Mu, para nabi, yang telah berbicara atas nama-Mu kepada raja-raja kami, kepada pemimpin-pemimpin kami, kepada bapa-bapa kami dan kepada segenap rakyat negeri.
Ya Tuhan, Engkaulah yang benar, tetapi patutlah kami malu seperti pada hari ini, kami orang-orang Yehuda, penduduk kota Yerusalem dan segenap orang Israel, mereka yang dekat dan mereka yang jauh, di segala negeri kemana Engkau telah membuang mereka oleh karena mereka berlaku murtad terhadap Engkau.
Ya TUHAN, kami, raja-raja kami, pemimpin-pemimpin kami dan bapa-bapa kami patutlah malu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Engkau.
Pada Tuhan, Allah kami, ada kesayangan dan keampunan, walaupun kami telah memberontak terhadap Dia,
dan tidak mendengarkan suara TUHAN, Allah kami, yang menyuruh kami hidup menurut hukum yang telah diberikan-Nya kepada kami dengan perantaraan para nabi, hamba-hamba-Nya.
Segenap orang Israel telah melanggar hukum-Mu dan menyimpang karena tidak mendengarkan suara-Mu. Sebab itu telah dicurahkan ke atas kami kutuk dan sumpah, yang tertulis dalam kitab Taurat Musa, hamba Allah itu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Dia.
Dan telah ditetapkan-Nya firman-Nya, yang diucapkan-Nya terhadap kami dan terhadap orang-orang yang telah memerintah kami, yakni bahwa akan didatangkan-Nya kepada kami malapetaka yang besar, yang belum pernah terjadi di bawah semesta langit, seperti di Yerusalem.
Seperti yang tertulis dalam kitab Taurat Musa, segala malapetaka ini telah menimpa kami, dan kami tidak memohon belas kasihan TUHAN, Allah kami, dengan berbalik dari segala kesalahan kami dan memperhatikan kebenaran yang dari pada-Mu.
Sebab itu TUHAN bersiap dengan malapetaka itu dan mendatangkannya kepada kami; karena TUHAN, Allah kami, adalah adil dalam segala perbuatan yang dilakukan-Nya, tetapi kami tidak mendengarkan suara-Nya.
Oleh sebab itu, ya Tuhan, Allah kami, yang telah membawa umat-Mu keluar dari tanah Mesir dengan tangan yang kuat dan memasyhurkan nama-Mu, seperti pada hari ini, kami telah berbuat dosa, kami telah berlaku fasik.
Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus; sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami.
Oleh sebab itu, dengarkanlah, ya Allah kami, doa hamba-Mu ini dan permohonannya, dan sinarilah tempat kudus-Mu yang telah musnah ini dengan wajah-Mu, demi Tuhan sendiri.
Ya Allahku, arahkanlah telinga-Mu dan dengarlah, bukalah mata-Mu dan lihatlah kebinasaan kami dan kota yang disebut dengan nama-Mu, sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapan-Mu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayang-Mu yang berlimpah-limpah.
Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!"

Berdoa Memohon Pengampunan Tuhan

Nas hari ini mengisahkan tentang Daniel yang berdoa memohon pengampunan dari Tuhan. Pelanggaran dan dosa telah dilakukan oleh leluhur bangsa Israel, termasuk dirinya. Daniel membuat perenungan dan refleksi atas pengalaman beriman bangsa Israel sampai harus dibuang ke Babel. Bukanlah kebetulan, bangsa pilihan Tuhan ini harus keluar dari tanah perjanjian dan Yerusalem. Peristiwa pembuangan ke Babel dimaknai sebagai teguran Tuhan. Bangsa pilihan ini telah hidup jauh dari segala perintah dan ketetapan Tuhan. Mereka berubah setia dan memberontak terhadap Tuhan. Bangsa Israel mengalami penghukuman sebagai bentuk didikan Tuhan yang keras sebab cinta kasih-Nya tak pernah berubah. Keyakinan atas cinta kasih Tuhan itulah yang mendasari akta iman Daniel. la berdoa sambil dengan mengenakan kain kabung dan abu sebagai wujud kesungguhan memohon pengampunan serta belas kasihan Tuhan. Perjalanan panjang bangsanya sejak dari Mesir sampai Kanaan ternoda karena mereka melakukan banyak pelanggaran. Namun oleh sebab kebesaran cinta kasih Tuhan yang mengampuni, membarui dan menyelamatkan, mereka dilayakkan dan berkenan di hadapan-Nya. Belas kasihan Tuhan demikian besarnya bagi semua orang yang mengaku dosa dan memohon pengampunan-Nya. Akuilah kesalahan, pelanggaran atau dosa dalam doa dan pergumulan, mohonlah belas kasihan-Nya yang mengampuni. Persoalan, tantangan bahkan penderitaan yang kita alami dalam perjalanan hidup, hendaknya dimaknai dan disyukuri. Tuhan itu baik dan yakinlah bahwa dalam segala hal atau peristiwa, la pasti turut campur tangan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Kasih setia-Nya tak terbatas, perbaikilah yang salah dan jadilah manusia baru serta teruslah murnikan hidup. Hiduplah sebagai orang beriman yang dimurnikan dalam cinta kasih Tuhan kini dan selamanya.

Doa : Tuhan. kami berdoa memohon ampunan-Mu atas segala dosa Amin.

Selasa, 07 Februari 2023                                   

bacaan : Mazmur 25 : 1 – 7  

Doa mohon ampun dan perlindungan 
Dari Daud. Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku; 2 Allahku, kepada-Mu aku percaya; janganlah kiranya aku mendapat malu; janganlah musuh-musuhku beria-ria atas aku. 3 Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu; yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat dengan tidak ada alasannya. 4 Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. 5 Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari. 6 Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya TUHAN, sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala. 7 Dosa-dosaku pada waktu muda dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat, tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN. 

Doa Mohon Ampun dan Perlindungan Tuhan

Hari ini, kita belajar dari pengalaman beriman raja Daud. Ia berdoa memohon pengampunan dan perlindungan dari Tuhan. Daud menyadari segala hal dan persoalan yang ia alami dalam perjalanan hidupnya pada masa muda, sungguh tidak lepas dari salah dan dosa (ay 7). Pengampunan Tuhan diharapkannya, semoga pelanggaran dan dosa yang diperbuat tidak diingat lagi.  Ia  memohon dengan kesungguhan hati dan terus berproses membarui hidupnya agar selalu berkenan kepada Tuhan. Raja besar inipun mengakui ada begitu banyak lawan dan orang yang membencinya karena keberhasilan dan kehebatan. Ia menjadi hebat dan berhasil karena diberkati Tuhan. Oleh sebab itu ia memohon perlindungan dan penyertaan Tuhan. Semua ancaman dapat diatasi dengan kuasa dan perlindungan Tuhan, bukan karena kehebatannya. Pengalaman iman dan keyakinan inilah yang membuat Daud kuat dan terus bermohon agar dimampukan tetap berjalan di jalan Tuhan, melakukan perintah dan kehendak-Nya. Daud tidak menjadi sombong dan arogan dengan mengandalkan kepintaran serta kemampuannya sebagai manusia semata. Namun karena Tuhan yang menuntun perjalanan hidupnya sehingga ia menjadi berhasil sebagai seorang raja. Pengalaman iman seperti ini layak kita pedomani sebagai keluarga dalam menapaki perjalanan hidup. Berdoalah senantiasa memohon pengampunan sebab sebagai manusia berdosa, kita tidak luput dari perbuatan salah. Tetaplah bersandar pada perlindungan dan penjagaan Tuhan agar terluput dari ancaman kebinasaan. Berilah hidup dituntun Roh, supaya terpelihara dan berkenan pada Tuhan baik kata maupun perbuatan. Berhati-hatilah senantiasa, sehingga kamu tidak jatuh ke dalam pencobaan dan melakukan kesalahan.   

Doa: Tuhan ampuni kami, kiranya penyertaan-Mu selalu nyata dalam hidup ini. Amin.

Rabu, 08 Februari 2023                               

bacaan : Bilangan 14 : 19 – 20  

19 Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari." 20 Berfirmanlah TUHAN: "Aku mengampuninya sesuai dengan permintaanmu.

Memohon Belas Kasihan Tuhan

Cinta kasih Tuhan yang tiada berbatas selalu nyata dalam perjalanan hidup bangsa Israel ketika mereka keluar dari tanah perbudakan Mesir menuju tanah perjanjian Kanaan. Bagian nas Alkitab secara keseluruhan pasal 14 ini menceritakan perjalanan panjang bangsa pilihan Tuhan ini sudah sampai di garis akhir saat akan memasuki  tanah Kanaan. Namun mereka menangis saat  dua belas orang pengintai memberi gambaran tentang keberadaan tanah Kanaan yang berlimpah madu dan susu sesuai janji Tuhan, namun penduduknya adalah orang-orang hebat dan kuat. Sangat manusiawi kalau bangsa Israel menangis sebagai tanda ketakutan dan akhirnya mereka bersungut-sungut kepada Musa dan Harun. Mereka terus mempersoalkan keluarnya mereka dari tanah Mesir yang dianggapnya sebagai negeri yang memberikan kelimpahan susu dan madu. Persungutan bangsa ini, membuat Allah murka dan hendak membinasakan mereka semua (ay12). Namun Musa, memohon belas kasihan Tuhan dan menceritakan kebesaran cinta kasihNya yang terjadi dan dirasakan oleh bangsa Israel mulai keluar dari tanah Mesir sampai saat mereka akan masuk tanah Kanaan (ay.19). Tuhan menjawab, memberikan pengampunan kepada bangsa Israel sesuai permintaan Musa (ay 20). Kisah bangsa Israel dibawa kepemimpinan Musa ini hendaknya dijadikan inspirasi dan pedoman. Kita pasti mengalami besarnya cinta kasih Tuhan dalam keberadaan sebagai keluarga. Kasih Tuhan yang tiada berbatas terus kita alami, sekalipun kita sering memberontak terhadap-Nya. Ingatlah bahwa tantangan dan persoalan hidup dapat membuat kita menangis, ragu, takut serta bersungut-sungut. Mohonlah ampunan dan belas kasihan Tuhan untuk membarui hidup. Pengampunan Tuhan menguatkan iman kita untuk melangkah bersama dengan-Nya dalam kelimpahan kasih karunia.    

Doa: Ya Tuhan, kami bersyukur untuk kasih-Mu yang mengampuni dan menyelamatkan. Amin.

Kamis, 09 Februari 2023                                     

bacaan : Ezra 10 : 7 – 14

7 Lalu disiarkanlah pengumuman di Yehuda dan di Yerusalem kepada semua orang yang pulang dari pembuangan untuk berhimpun di Yerusalem. 8 Barangsiapa dalam tiga hari tidak datang, maka menurut keputusan para pemimpin dan tua-tua segala hartanya akan disita dan ia akan dikucilkan dari jemaah yang pulang dari pembuangan. 9 Lalu berhimpunlah semua orang laki-laki Yehuda dan Benyamin di Yerusalem dalam tiga hari itu, yakni dalam bulan kesembilan pada tanggal dua puluh bulan itu. Seluruh rakyat duduk di halaman rumah Allah, sambil menggigil karena perkara itu dan karena hujan lebat. 10 Maka bangkitlah imam Ezra, lalu berkata kepada mereka: "Kamu telah melakukan perbuatan tidak setia, karena kamu memperisteri perempuan asing dan dengan demikian menambah kesalahan orang Israel. 11 Tetapi sekarang mengakulah di hadapan TUHAN, Allah nenek moyangmu, dan lakukanlah apa yang berkenan kepada-Nya dan pisahkanlah dirimu dari penduduk negeri dan perempuan-perempuan asing itu!" 12 Lalu seluruh jemaah menjawab dan berseru dengan suara nyaring: "Sesungguhnya, adalah kewajiban kami melakukan seperti katamu itu. 13 Tetapi orang-orang ini besar jumlahnya dan sekarang musim hujan, sehingga orang tidak sanggup lagi berdiri di luar. Lagipula pekerjaan itu bukan perkara sehari dua hari, karena dalam hal itu kami telah banyak melakukan pelanggaran. 14 Biarlah pemimpin-pemimpin kami bertindak mewakili jemaah seluruhnya, maka setiap orang di kota-kota kami yang memperisteri perempuan asing harus datang menghadap pada waktu-waktu tertentu, dan bersama-sama mereka para tua-tua dan para hakim di tiap-tiap kota, sampai murka Allah kami yang bernyala-nyala karena perkara ini dijauhkan dari kami."

 Taat dan Setialah kepada Tuhan, Jangan Mendua Hati 

Kita dapat saja berjumpa dengan orang yang kedapatan bersalah namun saat diminta pertanggungjawaban, mengelak dan mencari “kambing hitam” untuk disalahkan. Berhadapan dengan orang seperti ini dubutuhkan sosok “pemimpin” yang tegas, lugas dan berani. Jika seorang pemimpin plin-plan, penakut dan suka mencari “zona aman” (tidak mau repot) maka ia akan kompromi dengan yang salah. Bacaan hari ini menampilkan sosok Ezra, seorang pemimin yang tegas, lugas dan berani menyatakan kesalahan. Tanpa gentar, Ezra memanggil para lelaki suku Yehuda dan Benjamin yang melakukan kawin campur kemudian menetapkan mereka sebagai orang bersalah. Masalahnya apakah kawin campur itu salah? Jawabnya : tidak!  Kesalahan bukan pada fakta kawin campur, tetapi bahwa praktek tersebut mengakibatkan para lelaki Israel jadi tidak taat dan setia kepada Tuhan. Mereka ikut menyembah berhala dari perempuan yang mereka kawini. Seharusnya mereka membawa perempuan-perempuan itu dan menjadikan mereka orang-orang yang percaya kepada Tuhan, dan bukan dipengaruhi untuk ikut menyembah berhala. Karena itu sebagai bentuk pertanggungjawaban, semua laki-laki penyembah berhala mengakui kesalahan mereka dan melakukan apa saja yang dapat menjauhkan mereka dari murka Tuhan yang menyala-nyala. Kisah ini menegaskan pelajaran sebagai berikut. Pertama, jika sudah berbuat, maka harus berani pula bertanggung jawab, jangan cari kambing hitam untuk disalahkan. Kedua, semua kita adalah pemimpin, paling tidak untuk diri sendiri. Jadilah pemimpin yang tegas, lugas dan berani menyatakan kesalahan termasuk untuk diri sendiri, dan jangan suka cari zona aman lalu kompromi dengan yang salah. Ketiga, bergaullah dengan siapa saja, tak perlu pilih-pilih, tetapi ingat jangan mau dipengaruhi apalagi sampai mendua hati terhadap Tuhan. Tetaplah taat dan setia kepada-Nya.

Doa:   Ajarkan kami Tuhan, untuk selalu taat dan setia kepada-Mu. Amin.

Jumat, 10 Februari 2023                               

bacaan : Nehemia 1 : 4 – 11

4 Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit, 5 kataku: "Ya, TUHAN, Allah semesta langit, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang berpegang pada perjanjian dan kasih setia-Nya terhadap orang yang kasih kepada-Nya dan tetap mengikuti perintah-perintah-Nya, 6 berilah telinga-Mu dan bukalah mata-Mu dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang sekarang kupanjatkan ke hadirat-Mu siang dan malam bagi orang Israel, hamba-hamba-Mu itu, dengan mengaku segala dosa yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa. 7 Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu. 8 Ingatlah akan firman yang Kaupesan kepada Musa, hamba-Mu itu, yakni: Bila kamu berubah setia, kamu akan Kucerai-beraikan di antara bangsa-bangsa. 9 Tetapi, bila kamu berbalik kepada-Ku dan tetap mengikuti perintah-perintah-serta melakukannya, maka sekalipun orang-orang buanganmu ada di ujung langit, akan Kukumpulkan mereka kembali dan Kubawa ke tempat yang telah Kupilih untuk membuat nama-Ku diam di sana. 10 Bukankah mereka ini hamba-hamba-Mu dan umat-Mu yang telah Kaubebaskan dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan tangan-Mu yang kuat? 11 Ya, Tuhan, berilah telinga kepada doa hamba-Mu ini dan kepada doa hamba-hamba-Mu yang rela takut akan nama-Mu, dan biarlah hamba-Mu berhasil hari ini dan mendapat belas kasihan dari orang ini." Ketika itu aku ini juru minuman raja.

Akuilah Dosa Supaya Diampuni

Ibu Lenny mendapat khabar bahwa putranya, Boy, ditahan polisi karena terjerat kasus narkoba. Hati ibu Lenny sangat sedih. Walau sedih, ia berpikir bahwa menangis saja tak ada gunanya, karena itu ia masuk ke kamar lalu berlutut dan meratap meminta belas kasihan dan pengampunan Tuhan. Semoga Tuhan mengampuni baik Boy, maupun dia dan keluarga karena gagal mendidik anak mereka. Bacaan kita mengisahkan tentang Nehemia bin Hakhalya, yang turut tertawan, namun telah menjadi orang kepercayaan raja Artahsasta, yakni sebagai juru minuman raja. Jabatan ini sebetulnya telah membuat kehidupan Nehemia nyaman. Namun ketika ia mendengar dari Hanani tentang kehancuran tembok Yerusalem dan sisa orang Yahudi yang masih tinggal di sana terancam, Nehemia menjadi sangat terpukul. Ia menangis, berkabung, berpuasa dan berdoa bagi bangsanya. Nehemia sadar bahwa bangsanya mengalami kehancuran karena ketidaktaatan mereka kepada Allah. Karena itu dalam doanya Nehemia mengaku dosanya, dosa keluarganya dan dosa bangsanya kepada Allah lalu meminta keampunan. Nehemia percaya bahwa Allah yang telah berjanji kepada para leluhurnya akan tetap setia pada janji itu, dan memulihkan keadaan Israel. Kita dapat pula mengalami peristiswa menyakitkan dan membuat hati gundah gulana. Mari belajar dari Ibu Lenny dan Nehemia, datang pada Tuhan, akui dosa dan mohon pengampunan-Nya. Jangan andalkan kemampuan diri sendiri atau mencari pertolongan dari manusia karena semua itu sia-sia adanya. Saat kita menyadari kesalahan dan mohon pengampunan, Tuhan yang setia akan mengampuni dosa dan memberi kelegaan. Dia pasti menuntun kita untuk mengambil tindakan selanjutnya yang tepat. Kasih-Nya besar, Ia berkuasa memurnikan hidup kita.

Doa: Ampuni kami Tuhan dan baharuilah kami seturut kehendak-Mu. Amin.

Sabtu, 11 Februari 2023                                 

bacaan : Mazmur 51 : 9 – 15 

7 (51-9) Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! 8 (51-10) Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali! 9 (51-11) Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! 10 (51-12) Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! 11 (51-13) Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! 12 (51-14) Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! 13 (51-15) Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

Tuhan Mengasihi Orang Yang Menyadari Kesalahannya

Aron dan Aryn kembar beda kelamin. Suatu hari mereka kedapatan mengambil uang Mama. Saat mereka diadili Mama, Aron menyadari bahwa dia telah berlaku salah dan mohon belas kasihan Mama. Sebaliknya Aryn, jangankan mengakui kesalahan, ia justeru menyalahkan Aron. Bacaan kita berkisah tentang Daud yang ditegur Natan karena mengambil Batsyeba, isteri Uria, dengan cara licik untuk dijadikan isterinya (band. 2 Samuel pasal 11 dan 12). Saat ditegur, Daud tidak membela diri sebab dia sadar bahwa dia telah bersalah. Karena itu Daud berdoa kepada Allah.  Daud bermohon agar ditahirkan, dosa-dosanya dibasuh dan diampuni agar ada sukacita dan kegirangan dalam hidupnya. Ia  juga sadar bahwa dosa adalah beban berat yang dapat menjauhkan Roh Allah dari hidupnya. Bukan hanya itu, Daud juga berjanji untuk mengajarkan jalan-jalan Tuhan bagi mereka yang salah jalan, sehingga mereka bisa berbalik dan datang kepada Allah dan melakukan kehendak-Nya. Tak seorangpun dari kita yang tidak pernah berbuat salah. Entah sadar atau tidak, kita pernah melakukan kesalahan yang mendatangkan dosa di hadapan Allah. Belajar dari kisah si kembar Aron dan Aryn serta  Daud dalam bacaan hari ini, maka dapatlah kita simak pelajaran beriman untuk menjadi pedoman hidup ke depan. Kita tidak dapat menyembunyikan kesalahan dari Tuhan, sebab mata-Nya dapat melihat yang kelihatan dan yang tersembunyi sekalipun. Tuhan mengasihi mereka yang menyadari kesalahannya dan mau bertobat. Karena itu akuilah dosa supaya kita diampuni sehingga kegirangan dan Roh Allah dapat dialami. Beritahukanlah jalan Tuhan bagi orang yang salah jalan, agar mereka juga terselamatkan dan Tuhan dimuliakan. Berusahalah untuk tidak mengualangi kesalahan, tapi memperbaikinya dalam terang pengampunan Tuhan. Pengampunan-Nya mengubah dan memurnikan hidup orang beriman.

Doa: Tuhan tolong kami untuk beritahukan jalan-jalan-Mu bagi sesama. Amin.

*SUMBER : SHK Bulan Februari 2023, LPJ-GPM.

Santapan Harian Keluarga, 29 Jan – 4 Feb 2023

Tema Bulanan    :  Gereja Kuat karena Kuasa dan Berkat Tuhan      

Tema Mingguan :  Gereja Yang Berbahagia, Menjadi Kuat

Minggu, 29 Januari 2023                                     

bacaan : Matius 5 : 1 – 12

Ucapan bahagia
Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. 2 Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: 3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. 5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. 6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. 7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. 8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. 9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. 10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. 11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 12 Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."

Jadilah Gereja Yang Paham Akan Kebahagiaan Di Dalam Tuhan

Konsep Kristen tentang berbahagia berbeda dengan konsep kebahagiaan tawaran dunia. Kekuasaan dan status sosial, tidak serta merta memberi kebahagiaan sempurna dan kekal. Bahagia yang dimaksud adalah seruan iman bahwa hidup yang berkenan pada Allah adalah hidup yang bersandar pada-Nya. Kebahagiaan murid-murid Tuhan yang diperoleh bukan dari terpenuhinya aneka kebutuhan sehari-hari, melainkan menggunakan segala sesuatu secara proposional dan terarah kepada kebahagiaan kekal bersama Allah. Maka bagi yesus kebahagiaan sejati adalah pemberian Allah kepada mereka yang memiliki sikap hidup benar dan tidak mengikatkan diri pada harta duniawi melainkan pada harta sorgawi. Khotbah Yesus di Bukit berisikan pernyataan dari prinsip-prinsip kebenaran Kerajaan Allah yang menuntun pada kebenaran sesungguhnya. Mereka berbahagia bukan karena sebuah jabatan atau uang semata. Kebahagiaan adalah kemampuan memaknai setiap kondisi dan situasi, baik ataupun tidak baik keadaannnya. Karena itu Yesus menyebut bahwa orang  berbahagia adalah mereka yang bukannya hidup enak, senang, kaya, banyak uang atau lainnya, tetapi mengalami penghinaan, cemoan dan lainnya. Konsep kebahagiaan orang Kristen didasarkan pada kemampuan untuk mengalami, menjalani, memaknai dan menerima kenyataan hidup. Ajaran tentang kebahagiaan sejatinya merupakan ajakan untuk hidup seturut kesetiaan Yesus di tengah penderitaan, situasi yang tidak nyaman dan penghinaan. Hendaklah kiranya kita tetap tekun dan setia pada jalan Yesus. Berbahagialah mereka yang bergerak bersama Tuhan dan setia di jalan-Nya dan oleh sebab itu gereja pasti menjadi kuat.

Doa: Tuhan kami mau hidup dalam kebahagiaan-Mu. Amin.

Senin, 30 Januari 2023                                

bacaan : Yesaya 48 : 17 – 19

17 Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. 18 Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti, 19 maka keturunanmu akan seperti pasir dan anak cucumu seperti kersik banyaknya; nama mereka tidak akan dilenyapkan atau ditiadakan dari hadapan-Ku."

Tuhanlah Sumber Kebahagiaan Yang Sejati

Bagaimana orang buta menuntun orang tuli, tentu sama-sama mengalami kesulitan tiba di tujuan. Pertanyaannya, apa yang membuat mereka dapat tiba di tujuan? Mereka perlu memiliki perasaan yang sama, ketaatan bersama, tidak saling menyalahkan juga tidak marah-marah. Kepekaan dan kebersamaanlah yang memungkinkan mereka dapat mencapai tujuan, walau tidak melihat dan mendengar. Kita juga ttidak mungkin melihat wajah Allah secara langsung atau muka dengan muka. Namun, ketika mengetahui bahwa Dia adalah Allah yang menuntun kita pada jalan hidup yang benar, maka dialamilah rasa senang. Firman, ajaran dan peraturan-Nya adalah penuntun di jalan yang harus ditempuh orang beriman. Berilah hidup dituntun Tuhan, kita akan mengalami damai sejahtera bagaikan sungai yang tidak pernah kering. Bukan saja itu, kebahagiaan melimpah bagaikan gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti, menjadi bagian hidup kita. Pilihlah jalan Tuhan, yakni kasih setia dan kebenaran serta berpeganglah pada kehendak-Nya. Hindarilah untuk memilih jalan sendiri atau tidak mau dihentar Tuhan, Hidup ini milik Tuhan dan Dialah suumber kebahagiaan, bukan materi, kepintaran, kuasa, jabatan dan yang lainnya. Kebahagiaan dan damai sejahtera tidak bisa ditukar atau dibeli dengan apa pun sebab semua itu adalah anugerahTuhan bagi mereka yang berkenan pada-Nya. Ingatlah bahwa kebahagiaan dan damai sejahtera sejati adalah milik Yang Mahakudus,  Tuhan Penebus. Dia akan menganugerahkannya bila kita hidup menurut jalan yang dikehendaki-Nya. Keturunan kita akan seperti pasir dan anak cucu bagaikan kersik (kerikil halus) banyaknya serta tidak akan dilenyapkan atau ditiadakan di hadapan Tuhan.

Doa: Tuhan berilah kepada kami hati yang taat kepada-Mu. Amin.

Selasa, 31 Januari 2023                                

bacaan : Amsal 13 : 21 – 22

21 Orang berdosa dikejar oleh malapetaka, tetapi Ia membalas orang benar dengan kebahagiaan. 22 Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya, tetapi kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar.

Kebahagiaan Orang Baik

Hendaklah kiranya bulan pertama di tahun ini, kita akhiri dengan suasana batin yang bahagia. Semoga kita telah menjalani hidup sebagai orang benar dan bukan orang berdosa. “Benar” berarti apa yang dikenan oleh Tuhan. Sedangkan orang benar (=baik) dipahami sebagai mereka yang hidup sesuai  dengan perintah dan pengajaran Tuhan. Kasih dan kesetiaan adalah dua hal penting yang terdapat dalam perintah dan pengajaran Tuhan. Atas dasar itu dikenal pula sebutan hidup benar yang maksudnya adalah memperlakukan orang lain dengan adil dan jujur. Bila kita hidup tidak sesuai dengan pengertian yang telah dikemukakan, maka itu sama artinya dengan menjadi orang berdosa. Orang berdosa adalah mereka yang berpaling dari Tuhan atau tidak mau menaati pengajaran-Nya. Orang seperti ini yang dalam kitab Amsal disebut dengan sebutan “orang bodoh”, sebab dosa mereka menuntun kepada kebinasaan atau malapetaka. Tak ada satu hal pun yang tersebunyi bagi Tuhan. Mari renung hidup dalam keteduhan batin seraya mengingat hari-hari yang telah dijalani dan bersyukurlah sebab Tuhan baik. Bermohonlah kepada Tuhan yang baik itu agar berkenan mengampuni kebaradaan yang salah. Mintalah pengertian dari-Nya agar pikiran dan perasaan yang menekan jiwa menjadi berlalu sebab semuanya dapat dimaknai. Bukalah hati dan ungkap rasa sambil berseru meminta Ia memberkati semua yang telah dikaryakan. Pandanglah hari esok atau bulan baru dengan tetap berpengharapan pada Tuhan, Raja segala zaman. Dia pasti membenarkan kita sehingga menjadi layak mengalami hidup yang berbahagia. Berbahagialah, karena dalam kebenaran-Nya, kita diperkenankan menjalani hidup sebagai orang benar yang dapat meninggalkan warisan bagi anak cucu. Keturunan kita pasti terus berlanjut di bumi ini, mereka akan hidup dalam kelimpahan kekayaan baik rohani maupun materi.

Doa: Tuhan, kami bersyukur sebab Engkau telah merahmati hidup ini dan melayakkan kami mengalami kebahagiaan sebagai orang benar. Amin.

Rabu, 01 Februari 2023

Bacaan: Mazmur 41 : 1- 4

Doa minta penyembuhan
Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. (41-2) Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! TUHAN akan meluputkan dia pada waktu celaka. 2 (41-3) TUHAN akan melindungi dia dan memelihara nyawanya, sehingga ia disebut berbahagia di bumi; Engkau takkan membiarkan dia dipermainkan musuhnya! 3 (41-4) TUHAN membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya.

Berbahagia Saat Menolong Yang lemah

Kita bersyukur atas kasih dan anugerah Tuhan. Ia telah mempertibakan kita di bulan Februari tahun 2023. Perjalanan panjang masih akan berlangsung di tahun baru ini dengan harapan kebahagian, berkat dan sukacita selalu mewarnai kehidupan kita. Biasanya ukuran kebahagiaan selalu dikaitkan dengan mempunyai uang yang banyak, harta melimpah, punya kedudukan dan kuasa, hidup sehat serta anak-anak yang punya masa depan yang baik. Semuanya itu baik dan sah-sah saja. Namun nas firman Tuhan di hari ini, pemazmur menyatakan bahwa kebahagian seseorang adalah ketika ia memperhatjkan mereka yang lemah. Kata memperhatikan berarti memikirkan dan peduli dengan orang lain. Tidak hanya melihat kepentingan diri sendiri, tetapi dengan tulus dan sukacita selalu menolong orang lemah atau yang membutuhkan pertolongan dan bantuan. Sikap memperhatikan mereka yang lemah ini, berlandaskan keyakinan akan kuasa AJIah yang meluputkan dari kecelakaan, memelihara nyawa serta membantu dan memulihkan saat sakit. Jadi meyakini kuasa Allah adalah dasar sesungguhnya kepedulian kepada mereka yang lemah. Peduli dan mengasihi mereka yang lemah menjadikan seseorang bermakna dan selalu bahagia. Inilah panggilan kita sebagai keluarga Allah yakni untuk peduli kepada mereka yang lemah dan membutuhkan pertolongan serta bantuan. Hidup yang hanya mementingkan diri sendiri, sudah saatnya ditinggalkan. Ingatlah bahwa sesungguhnya Kristus telah lebih dahulu peduli akan hidup kita. Yakinlah, kita pasti mengalami penyertaan, perlindungan, kekuatan serta keselamatan dari Tuhan dan oleh sebab itu kebahagiaan dialami.

Doa : Tuhan mampukan kami untuk peduli dengan mereka yang lemah. Amin.

Kamis, 02 Februari 2023

Bacaan: Mazmur 106 : 3

3 Berbahagialah orang-orang yang berpegang pada hukum, yang melakukan keadilan di segala waktu!

Berbahagia Saat Taat Pada Hukum dan berIaku Adil

Hari ini, pemazmur berbicara tentang kebahagiaan orang-orang yang berpegang kepada hukum dan melakukan keadilan di segala waktu. Hukum dan keadilan adalah hal yang penting dalam kehidupan kita sebagai manusia. Hidup menjadi teratur dan tertib karenanya. Kehidupan yang berlangsung tanpa hukum dan keadilan pasti kacau dan hancur. Harus diakui bahwa dalam kenyataan untuk mewujudkan penegakkan hukum dan keadilan bukanlah hal yang mudah. Sering kali terjadi hukum diperjuabelikan. Ada pula ungkapan “hukum tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas”. Penegakan hukum yang tegas, agaknya hanya kepada orang lemah dan tidak mampu. Hukum tidak menyentuh dan lemah kepada mereka yang punya uang, kuasa dan jabatan. Nyatanya, perwujudan hukum dan keadilan belumlah sesuai dengan apa yang diharapkan. Marilah hayati kata pemazmur; kebahagiaan menjadi milik orang-orang yang selalu berpegang kepada hukum dan melakukan keadilan di setiap waktu. Mereka yang mewujudkan dan melakukannya selalu berpengharapan kepada Allah yang adil dan berkuasa dalam menyatakan hukum dan keadilan-Nya. Hal itu dilakukan tanpa takut dan kuatir terhadap kondisi apapun yang akan dihadapi. Mereka berani dan penuh kejujuran serta ketulusan melakukannya demi keteraturan hidup. Keteraturan hidup adalah kehendak Allah Pencipta. Hidup yang teratur membuat bahagia, sukacita, dan batin tenang. Oleh sebab itu, sudah selayaknya kita tetap berpegang pada hukum dan melakukan keadilan, kapan dan dimana saja. Wujudkanlah hal itu mulai dari dalam keluarga, gereja, masyarakat, bangsa dan negara. Bila semua kita melakukannya dengan baik, maka kebahagian dan sukacita akan dinikmati di dalam cinta kasih Tuhan.

Doa: tuntun kami Tuhan untuk taat pada hukum dan melakukan keadilan. Amin

Jumat, 03 Februari 2023

Bacaan: Pengkhotbah 8 : 9 – 13

Pekerjaan Allah tidak dapat diselami manusia
9 Semua ini telah kulihat dan aku memberi perhatian kepada segala perbuatan yang dilakukan di bawah matahari, ketika orang yang satu menguasai orang yang lain hingga ia celaka. 10 Aku melihat juga orang-orang fasik yang akan dikuburkan boleh masuk, sedangkan orang yang berlaku benar harus pergi dari tempat yang kudus dan dilupakan dalam kota. Inipun sia-sia. 11 Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat. 12 Walaupun orang yang berdosa dan yang berbuat jahat seratus kali hidup lama, namun aku tahu, bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya. 13 Tetapi orang yang fasik tidak akan beroleh kebahagiaan dan seperti bayang-bayang ia tidak akan panjang umur, karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah.

Berbahagia Saat Hidup Takut Tuhan

Firman Tuhan sebagaimana disebutkan penulis Pengkhotbah pada hari ini menegaskan bagi kita semua bahwa orang yang takut kepada Allah dan hadirat-Nya akan beroleh kebahagiaan. Sedangkan orang fasik atau yang tidak takut kepada Allah tidak akan beroleh kebahagiaan. Mereka seperti bayang-bayang yang tidak jelas bentuk dan wujudnya dan tidak berumur panjang sebab tidak takut terhadap hadirat Tuhan. Orang yang takut Tuhan, bukan sepeti seorang anak kecil yang takut pada hantu atau suasana gelap. Mereka adalah orang yang hidupnya selalu menghargai, mengagumi dan menghormati Tuhan serta mewjudkannya dalam sikap dan perbuatan. Sedangkan orang yang tidak takut Tuhan atau orang fasik berperilaku sebaliknya. Tuhan saja tidak mereka hormati apalagi sesama dan ciptaan yang lain. Mereka menampakkan perilaku yang merusak dan menghancurkan hidup sesama manusia serta ciptaan Iainnya. Akhir hidup orang fasik adalah kesia-siaan dan kebinasaan atau tidak mengalami kebahagiaan. Sebaliknya, mereka yang menghormati Tuhan, hidupnya diberkati atau mengalami kebahagiaan. Mereka menjalani hidup dengan sukacita, berkenan pada Tuhan dan berarti bagi sesama. Pesan firman Tuhan ini adalah pedoman bagi kita untuk melangkah menapaki hari-hari hidup di tahun baru ini. Jangan kita mengikuti jejak dan langkah hidup orang fasik yang selalu cenderung kepada kejahatan sebab akhir hidupnya adalah kesia-siaan dan kebinasaan atau tidak mengalami kebahagian. Ikuti dan teladani hidup orang yang takut Tuhan, selalu mewujudkan kebaikan bagi sesama dan semua ciptaan. Kebahagian pasti kita alami senantiasa. Bermohonlah agar Roh Kudus melayakkan dan menuntun kita menjadi orang-orang yang hidupnya takut Tuhan.

Doa: Ya Tuhan. tuntunlah kami dengan Roh Kudus agar selalu hidup takut kepada-Mu. Amin

Sabtu, 04 Februari 2023

Bacaan: Mazmur 84 : 1 – 8

Rindu kepada kediaman Allah
Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur bani Korah. (84-2) Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! 2 (84-3) Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. 3 (84-4) Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! 4 (84-5) Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Sela 5 (84-6) Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah! 6 (84-7) Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. 7 (84-8) Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion.

Berbahagia Saat Berdiam Dalam Rumah Tuhan

Kita telah berada di akhir pekan dan disapa firman Tuhan menurut Mazmur nyanyian ziarah. Mazmur ini berisi kerinduan untuk pergi dan berdiam di rumah Tuhan. Kerinduan mereka seperti burung-burung yang tinggal dekat mezbah Tuhan. Kerinduan yang mendalam itu meringankan perjalanan mereka, dimana daerah gersang dan tandus nampak memancarkan dan menjadi mata air. Sesampainya di rumah Tuhan, doa dipanjatkan, pujian diungkapan, kemudian Tuhan melimpahi mereka dengan berkat dan sukacita. Situasi sebagaimana dialami umat dalam persekutuan di rumah Tuhan, oleh pemazmur dilukiskan sebagai kebahagiaan yang memberi sukacita serta kekuatan untuk menjalani hidup mereka di tengah dunia. Kebahagian yang sejati dinikmati saat meninggalkan segala kesibukan mereka untuk berdiam dan bersekutu dengan Tuhan. Hal ini sejalan dengan ungkapan pemazmur yang menyatakan: lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain (Maz 84:11). Berada di rumah Tuhan adalah kesempatan mengungkapkan isi hati dengan bebas dan tulus, bersyukur atas penyertaan dan tuntunan Tuhan dalam penalanan hidup serta bermohon kepada-Nya. Kesaksian firman Tuhan inipun menjadi teladan bagi kita sebagai keluarga Allah untuk senantiasa memiliki kerinduan datang ke rumah Tuhan untuk bersyukur dan memuji serta memuliakan-Nya. Tuhan telah menganugerahkan berkat, tuntunan dan penyertaan-Nya dalam pekerjaan atau usaha maupun pendidikan selama satu pekan. Oleh sebab itu kehadiran dalam kebaktian di hari minggu untuk memuji dan menyembah Tuhan mesti kita wujudkan dengan sukacita sebagai tanda syukur kepada-Nya. Bila akta iman yang demikian diwujudkan, maka kebahagian sejati selalu mewarnai seluruh perjalalan hidup kita sebagai keluarga dari hari ke hari.

Doa: Terimalah syukur dan sambut kami untuk berdiam di rumah-Mu yang kudus ya Tuhan. Amin

*SUMBER : SHK Bulan Jan-Feb 2023, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 22 – 28 Januari 2023

Tema Bulanan    : Gereja Kuat karena Kuasa dan Berkat Tuhan

Tema Mingguan :  Gereja Yang Bersaksi, Menjadi Kuat

Minggu, 22 Januari 2022                               

bacaan : Yohanes 1:29-34

Yohanes menunjuk kepada Yesus
29 Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. 30 Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. 31 Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel." 32 Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. 33 Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. 34 Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."

Yohanes Pembaptis Bersaksi Tentang Yesus

Sebutan “Anak Domba Allah” dipakai oleh Yohanes untuk menyebutkan diri Yesus. Ia disebut sebagai Anak Domba yang akan dibawa untuk disembelih supaya umat ditebus. Sedangkan ungkapan “Anak Allah” menunjuk pada pengertian bahwa Yesus adalah pilihan Allah untuk memerintah Israel. Kesaksian Yohanes berdasar pada apa yang dilihat, dialami dan dipahami. Penyaksi mata ini menyaksikan bahwa sekalipun dia mendahului Yesus, tapi sesungguhnya Yesus telah ada sebelumnya. Mari cermati dengan baik makna di balik kesaksian Yohanes pembaptis. Ia bersaksi tentang siapa Yesus, hubungan-Nya dengan Bapa dan apa yang dilakukan-Nya. Yesus adalah pencipta dan pemelihara. Ia memelihara semua ciptaan dengan cara menebus dan memerintah. Ada dua pelajaran yang dapat disimak dari kesaksian Yohanes pembaptis ini. Pertama, berusahalah menjadi manusia yang jujur atau tidak berbohong saat berbicara. Perkataan yang keluar adalah ekspresi iman dan oleh sebab itu seharusnya adalah suatu kebenaran. Kebenaran tak bisa dikarang atau diada-adakan dan direkayasa tanpa bukti  karena harus berdasar pada apa yang dilihat, dialami serta dipahami.   Baik dan bijak adanya kalau hidup ini dijalani sebagai manusia yang berkata jujur bukan pembohong. Kedua, pada dasarnya setiap perkataan adalah kesaksian tentang Tuhan kita di dalam Yesus Kristus dan Roh Kudus. Perkataan adalah kesaksian tentang Tuhan, bukanlah sarana mencari popularitas dan kepentingan diri. Memang tak ada salahnya untuk berbicara tentang kepentingan diri, hanya saja jangan sampai lupa untuk memuliakan Tuhan. Biarlah dengan semua perkataan yang kita ucapkan Tuhan dikenal, dipercaya dan dimuliakan oleh semua orang yang mendengarnya. Kiranya tidaklah terjadi, karena perkataan kita, Tuhan dipermalukan. Perkataan adalah kesaksian sehingga haruslah berarti bagi sesama dan membuat Tuhan dimuliakan.   

Doa    :   Kami hendak menyaksikan Engkau Yesus dalam kehidupan kami setiap waktu. Amin            

Senin, 23 Januari 2022                                 

bacaan : 2 Petrus 1:16-21

Nubuat tentang kemuliaan Kristus telah digenapi
16 Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. 17 Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." 18 Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus. 19 Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu. 20 Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, 21 sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.

Bersaksi Bukan Dengan Isapan Jempol

Seorang pelayan menceritakan pengalaman melayani di pulau-pulau terpencil yang jauh. Ia harus menempuh perjalanan yang panjang di laut dengan menggunakan perahu motor kecil selama berjam-jam. Sesekali ia harus menghadapi gelombang besar serta angin yang kencang. Hingga suatu ketika perahu motor yang ditumpanginya dihempaskan oleh angin kencang juga ombak dan gelombang yang besar. Ia tak berhenti berdoa dan tetap meyakini adanya pertolongan Allah saat mengalami situasi yang menakutkan itu. Ketika ia membuka mata dan melihat sekelilingnya, terbitlah dalam hati dan pikiran kesadaran bahwa Tuhan telah menyelamatkan mereka. Cerita ini menjadi kesaksian imannya yang diberitakan kepada orang lain. Ia merasa Tuhan sangat baik dan selalu dekat pada orang-orang yang tetap berharap pada-Nya. Katanya : “saya ingin orang lain bisa mengalami Tuhan dalam hidupnya sama seperti yang saya alami. Sebab setiap orang pasti punya perjalanan hidup yang sulit. Pada kondisi tersulit seperti itu, tangan kasih Tuhan pasti juga dapat dirasakan.” Ini kisah nyata bukan isapan jempol atau cerita dongeng. Petrus menegaskan pentingnya bersaksi tentang Yesus berdasarkan pengalaman bersama Yesus. Mengetahui kasih dan kuasa Yesus itu baik tapi belumlah cukup, sebab jauh lebih baik, bila kita mengalaminya dalam perintiwa nyata yang sementara digumuli. Ada banyak pengajaran tentang Kristus yang telah diperoleh orang Kristen. Namun ia hanya dapat memahami pesan pengajaran itu jika berdialektika (dialami melalui kenyataan konkrit) dengan konteks hidup dimana orang Kristen berada. Karena itu, bersaksi tidaklah cukup dengan kata-kata saja, melainkan juga melalui seluruh hidup. Bersaksilah tentang kemuliaan dan kebaikan Tuhan sebagaimana dialami dalam pengalaman beriman sehari-hari. Roh Kudus berperan untuk menuntun orang Kristen menyaksikan Tuhan yang dikenal dan dialaminya. Berserahlah pada pimpinan dan kuasa Roh Kudus.

Doa :   Tuntunlah kami ya Yesus untuk menceritakan kebaikan-Mu.  Amin

Selasa, 24 Januari 2023                                   

bacaan : 2 Korintus 4:1-12

Harta rohani dalam bejana tanah
Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. 2 Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah. 3 Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, 4 yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. 5 Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. 6 Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. 7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. 8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; 9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. 11 Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. 12 Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu.

“Hidupmu Adalah Bejana Tanah Liat”

Bejana tanah liat adalah wadah yang digunakan untuk menyimpan. Paulus menggunakannya untuk menjelaskan tentang kehidupan orang Kristen. Rasul ini memahami penindasan, penganiyaan dan penderitaan lainnya sebagai fakta kehidupan orang Kristen yang karenanya kekuatan Allah dinyatakan. Selanjutnya ia katakan: “kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami,  supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” Pernyataan Paulus ini sekaligus menunjukkan peranan kehidupan orang Kristen untuk menyaksikan Kristus. Kesaksian tidak selamanya dilakukan dalam bentuk khotbah, pengajaran dan pendidikan, melainkan juga melalui keberadaan hidup, apa yang terjadi dan sementara dialami oleh orang Kristen. Kita tidak perlu tawar hati atau berkecil hati, patah semangat  dan apatis dengan kehidupan yang berat. Sebab melalui setiap keadaan hidup, Tuhan tetap bekerja untuk menyatakan kasih dan pertolongan-Nya. Seseorang yang lemah karena penderitaan diubah menjadi kuat dan bertahan. Kuat dan bertahan serta berani untuk menghadapi penderitaan adalah berita kesaksian yang hidup tentang Kristus. Hidup yang demikian merupakan cahaya yang bersinar di tengah kegelapan manusia. Sebab menyingkapkan dan menunjukkan bahwa kehidupan seharusnya berlangsung dalam campur tangan-Nya. Paulus menyebutkan hal tersebut sebagai kebenaran yang harus disaksikan. Simaklah kisah hidup berikut ini dengan harapan kita lebih memahami ungkapan: harta dalam benjana tanah liat. Seorang ibu  dengan muka yang tersenyum bercerita : “saya sudah berusia 76 tahun dan opa (suami) sudah hampir 80 tahun. Opa sakit dan harus dibantu jika ingin ke toilet. Saya juga sakit jantung dan kadang merasa lemas. Ketika anak kami pergi bekerja, saya harus mejaga opa dan memapahnya ketika ia tak dapat berjalan dengan baik. Saya bersyukur, kami masih baik-baik saja hingga saat ini. Tuhan tetap menyertai dan menolong kami. Jika bukan karena Tuhan, kami tak ada sampai saat ini.” Cerita perempuan lanjut usia ini adalah contoh kesaksian orang Kristen.

Doa:   Ya Tuhan, tolonglah kami untuk memahami setiap jalan hidup kami dan menjadikannya untuk menyaksikan kemurahan-Mu. Amin

Rabu, 25 Januari 2023                                          

bacaan : Yohanes 7:1-13

Yesus pergi ke Yerusalem untuk hari raya Pondok Daun
Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. 2 Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun. 3 Maka kata saudara-saudara Yesus kepada-Nya: "Berangkatlah dari sini dan pergi ke Yudea, supaya murid-murid-Mu juga melihat perbuatan-perbuatan yang Engkau lakukan. 4 Sebab tidak seorangpun berbuat sesuatu di tempat tersembunyi, jika ia mau diakui di muka umum. Jikalau Engkau berbuat hal-hal yang demikian, tampakkanlah diri-Mu kepada dunia." 5 Sebab saudara-saudara-Nya sendiripun tidak percaya kepada-Nya. 6 Maka jawab Yesus kepada mereka: "Waktu-Ku belum tiba, tetapi bagi kamu selalu ada waktu. 7 Dunia tidak dapat membenci kamu, tetapi ia membenci Aku, sebab Aku bersaksi tentang dia, bahwa pekerjaan-pekerjaannya jahat. 8 Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap." 9 Demikianlah kata-Nya kepada mereka, dan Iapun tinggal di Galilea. 10 Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam. 11 Orang-orang Yahudi mencari Dia di pesta itu dan berkata: "Di manakah Ia?" 12 Dan banyak terdengar bisikan di antara orang banyak tentang Dia. Ada yang berkata: "Ia orang baik." Ada pula yang berkata: "Tidak, Ia menyesatkan rakyat." 13 Tetapi tidak seorangpun yang berani berkata terang-terangan tentang Dia karena takut terhadap orang-orang Yahudi.

Kebenaran Disembunyikan

Apakah sikap Yesus yang tidak terang-terangan (ay.10) sama dengan sikap saudara-saudara-Nya yang juga disebutkan tidak terang-terangan (ay.13)? Tentu saja tidak.  Cara Yesus yang tidak terang-terangan merupakan sikap bijaksana-Nya terkait dengan situasi saat itu. Orang-orang Yahudi ingin membunuh Yesus dan bagi-Nya waktu kematian itu belum tiba. Hal demikian berbeda dengan saudara-saudara-Nya yang tak mampu berkata terang-terangan tentang Yesus. Ketidakmampuan mereka disebabkan bukan karena takut terhadap orang Yahudi namun terletak pada hal ketidakmengertian tentang siapa Yesus sesungguhnya. Mereka tidak memahami bahwa Yesus adalah Anak Allah yang datang ke dunia untuk menyaksikan kebaikan Allah melalui kehidupan-Nya. Sikap  saudara-saudara Yesus yang demikian sesungguhnya  menunjukkan kemiripan mereka dengan orang Yahudi dalam hal ketidakmengertian tentang Yesus. Ketidakmengertian saudara-saudara Yesus telah mengakibatkan mereka tidak berani berkata yang benar tentang Yesus di depan orang banyak. Akibat ketidakmenegrtian orang Yahudi, maka Yesus dipahami sebagai saingan yang akan mempengaruhi posisi mereka di depan umum. Ketidakmengertian memang merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi seseorang sehingga tidak mampu mengatakan atau menyaksikan kebenaran. Ketidakmengertian dalam cerita Injil-injil menunjukkan ketidakberdayaan berpikir dan memahami dengan iman tentang Yesus sebagai Raja yang datang untuk menyelamatkan. Sikap ketidakmengertian seperti ini tanpa disadari sering menjadi karakter orang Kristen. Karena itu masih ada orang Kristen yang tidak mampu menyaksikan Yesus dengan menyatakan kebenaran. Bahkan jika ada ancaman bagi dirinya, maka yang benar itu ditutupi atau dikatakan namun secara sembunyi-sembunyi. Kondisi seperti ini sangat melemahkan peran gereja (umat) untuk mengarahkan kehidupan ini menjadi baik.

Doa: Kami ingin menjadi saksi-Mu secara terang-terangan.  Amin

Kamis, 26 Januari 2023                                     

bacaan : Yohanes 8 : 12-20

Yesus adalah terang dunia
12 Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." 13 Kata orang-orang Farisi kepada-Nya: "Engkau bersaksi tentang diri-Mu, kesaksian-Mu tidak benar." 14 Jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Biarpun Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, namun kesaksian-Ku itu benar, sebab Aku tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi. Tetapi kamu tidak tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi. 15 Kamu menghakimi menurut ukuran manusia, Aku tidak menghakimi seorangpun, 16 dan jikalau Aku menghakimi, maka penghakiman-Ku itu benar, sebab Aku tidak seorang diri, tetapi Aku bersama dengan Dia yang mengutus Aku. 17 Dan dalam kitab Tauratmu ada tertulis, bahwa kesaksian dua orang adalah sah; 18 Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku." 19 Maka kata mereka kepada-Nya: "Di manakah Bapa-Mu?" Jawab Yesus: "Baik Aku, maupun Bapa-Ku tidak kamu kenal. Jikalau sekiranya kamu mengenal Aku, kamu mengenal juga Bapa-Ku." 20 Kata-kata itu dikatakan Yesus dekat perbendaharaan, waktu Ia mengajar di dalam Bait Allah. Dan tidak seorangpun yang menangkap Dia, karena saat-Nya belum tiba.

Bersaksi itu Jangan Menghakimi!

Ada ungkapan pepatah tentang menilai orang yang begini bunyinya: “jangan menilai saya dari masa lalu saya, saya tidak hidup di sana lagi”. Sebagian orang agaknya masih suka melakukan seperti yang dikatakan pepatah ini. Kesukaan untuk melihat dan membicarakan kekurangan atau keterbatasan orang lain dan hal yang berhubungan dengan masa lalu mereka,  lumrah terjadi. Tapi apakah perilaku ini memberi manfaat? Tentunya tidak. Implikasi dari sikap menilai orang lain dengan masa lalunya sama dengan sikap suka menghakimi. Kedua-duanya memberi dampak negatif terhadap cara pandang bagi orang lain dan dapat mengakibatkan relasi yang kurang harmonis.       Penulis Injil Yohanes mengatakan : “kamu menghakimi menurut ukuran manusia, Aku tidak menghakimi seorang pun”. Artinya bahwa tindakan menghakimi merupakan tindakan yang berdasar pada pikiran manusia yang bisa saja mengikuti keinginan, kepentingan atau tujuannya. Menghakimi orang lain merupakan sikap yang  sangat dipengaruhi oleh subjektivitas seseorang. Tidak dapat dianggap benar dan baik tentang hal-hal yang dipakai oleh seseorang sebagai alasannya untuk menghakimi atau menilai seseorang. Berbeda dengan Tuhan sebagai Pencipta dan Penyelamat. Ia adalah kebenaran dan Ia yang layak menghakimi setiap orang sesuai perbuatannya. Sebab Ia tidak melakukannya sendiri, tapi bersama dengan Allah yang mengutus-Nya. Kesaksian Gereja adalah kesaksian tentang Kristus dan Bapa-Nya yang menyelamatkan setiap orang bukan kesaksian yang menghakimi karena kelemahan dan keberdosaan seeorang. Karena itu sebagai orang Kristen, kita bertanggung jawab menyaksikan kehidupan yang menerima orang lain dengan seluruh keberadaannya. Selanjutnya mendukung orang tersebut untuk lebih mengenal Allah dan membarui hidupnya. Kita dapat memulainya dari keluarga. Seorang istri tidak menghakimi suami karena kekurangannya dan kesalahannya, namun menerima dan mendukung perubahan hidup suaminya, demikian pun  sebaliknya. Hal tidak menghakimi haruslah terjadi juga dalam relasi antara orang tua dan anak. Tidak saling menghakimi adalah cara bersaksi dan menjadikan gereja kuat.

Doa:  Ajarkan kami Tuhan untuk tidak menghakimi. Amin

Jumat, 27 Januari 2022                                       

bacaan : Kisah Para Rasul 8 : 14-25

14 Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. 15 Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. 16 Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. 17 Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus. 18 Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka, 19 serta berkata: "Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus." 20 Tetapi Petrus berkata kepadanya: "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang. 21 Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah. 22 Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini dan berdoalah kepada Tuhan, supaya Ia mengampuni niat hatimu ini; 23 sebab kulihat, bahwa hatimu telah seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan." 24 Jawab Simon: "Hendaklah kamu berdoa untuk aku kepada Tuhan, supaya kepadaku jangan kiranya terjadi segala apa yang telah kamu katakan itu." 25 Setelah keduanya bersaksi dan memberitakan firman Tuhan, kembalilah mereka ke Yerusalem dan dalam perjalanannya itu mereka memberitakan Injil dalam banyak kampung di Samaria.

Berdoalah Sebelum Bersaksi

Seorang pendeta senior mendapatkan pujian dari jemaat karena khotbahnya yang sangat menyentuh kehidupan jemaat. Katanya kepada mereka : “saya merasa khotbah yang saya sampaikan biasa saja, sama seperti saya menasihati jemaat yang datang dan meminta saya mendampingi mereka. Semua pekerjaan pelayanan itu dapat saya lakukan dengan baik karena saya selalu menyiapkan diri terlebih dulu sebelum melakukannya. Saya berdoa dan membaca berulang-ulang bagian Alkitab yang akan saya berikan kepada jemaat”. Doa menjadi kekuatan utama bagi sang pendeta sama seperti yang telah dilakukan oleh Petrus dan Yohanes. Mereka adalah rasul yang diutus untuk bersaksi dan memberitakan injil, namun mereka tidak melakukannya dengan menggunakan kekuatan akal budi dan kuasa manusia yang ada pada mereka, melainkan mengandalkan kuasa Tuhan.  Kuasa Tuhan memampukan mereka untuk menumpangkan tangan dan Roh Kudus turun atas orang-orang Samaria. Pemahaman yang benar dari Petrus dan Yohanes tentang pelayanan yang mereka lakukan telah membuat mereka dengan tegas menolak permintaan Simon, si penyihir. Uang bukanlah tujuan pelayanan, sebab kasih karunia Allah tidak dapat dibeli oleh siapapun.              Kesaksian dan pelayanan orang Kristen harus dilakukan dengan setia, bertujuan supaya orang lain lebih mengenal Allah serta memuliakan-Nya. Bukan hanya dalam gereja atau tempat-tempat ibadah, tanggung jawab kesaksian itu dilakukan oleh orang Kristen, namun dalam setiap ruang hidup dimana ia berada. Seorang yang percaya kepada Kristus tahu bersikap di tengah-tengah tawaran uang atau materi dan jabatan juga kekuasaan yang ingin membeli kebenaran. Ia tidak mudah dipengaruhi, menolak berpihak pada hal-hal yang mengorbankan hak orang lain karena ada kekayaan yang ditawarkan padanya. Seorang Kristen dapat menjaga hidupnya untuk tetap setia pada kehendak Tuhan. Karena itu, mengawali hidupnya setiap hari dengan berdoa.

Doa: Tuhan, mampukan kami untuk andalkan doa saat bersaksi.  Amin

Sabtu, 28 Januari 2022                                      

bacaan : Keluaran 20 : 16

16 Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

Bersaksi Dusta Menghancurkan Relasi

Sejumlah masalah di pengadilan menjadi sangat lama penyelesaiannya. Salah satu faktor penyebabnya yakni kebutuhan terhadap kesaksian yang benar dari para saksi. Pentingnya kesaksian yang benar nampak pada hukum di Indonesia pada pasal 174 KUHAP yang menyatakan bahwa apabila keterangan saksi di sidang disangka palsu, hakim ketua sidang memperingatkannya dengan sungguh-sungguh…dan mengemukakan ancaman pidana yang dapat dikenakan kepadanya apabila ia tetap memberikan keterangan palsu. Keterangan palsu atau saksi dusta merupakan perbuatan yang tidak bermoral. Sejarah perjalanan bangsa Israel, juga berlangsung dengan berdasar pada prinsip dan mekanisme hukum. Larangan jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu merupakan salah satu perintah yang ada dalam 10 Hukum Taurat. Perintah yang ke-9 ini ikut menegaskan hubungan antara Tuhan Allah dan bangsa Israel sebagai hubungan yang sakral. Bangsa Israel telah dipilih oleh Allah, karena itu mereka harus setia kepada-Nya. Kesetiaan itu berwujud pula dalam relasi di antara umat yang satu dengan yang lainnya. Jika perintah atau larangan ini tidak dipatuhi, maka kekacauan hidup dan penderitaan akan dialami. Bersaksi dusta tentunya akan menimbulkan kesusahan bagi orang, kelompok atau pihak lain. Orang yang mengucapkan saksi dusta tidak peduli pada kehidupan orang lain, mereka hanya memikirkan uang, materi dan kekayaan yang bisa diperoleh atau keinginan-keinginan diri lainnya. Seorang warga bina di rutan mengatakan : “saya tidak tahu berapa lama saya di sini dan apakah saya akan mendapatkan masa hukuman bertambah ataukah saya sudah bisa bebas. Sebab mereka berusaha untuk menyusahkan diriku dengan menyampaikan hal-hal yang tidak benar di pengadilan”. Hal seperti ini sebenarnya tidak boleh terjadi dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Bersaksi dusta menunjukkan kelemahan iman dan hidup dikuasai oleh roh-roh duniawi. Hidup bersesama juga mestinya berlangsung dalam keadaan yang saling menopang dan menghidupkan.

Doa : Tolonglah kami Tuhan dengan kuasa Roh-Mu, supaya kami tidak bersaksi dusta. Amin

*SUMBER : SHK Bulan Januari 2023, LPJ-GPM

        

Santapan Harian Keluarga, 15 – 21 Januari 2023

Tema Bulanan    :  Gereja Kuat karena Kuasa dan Berkat Tuhan                           

Tema Mingguan :  Gereja Yang Setia, Menjadi Kuat

Minggu, 15 Januari 2023                                  

bacaan : Yosua 24 : 1 -28   

Pembaruan perjanjian di Sikhem
Kemudian Yosua mengumpulkan semua suku orang Israel di Sikhem. Dipanggilnya para tua-tua orang Israel, para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya, lalu mereka berdiri di hadapan Allah. 2 Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu: "Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain. 3 Tetapi Aku mengambil Abraham, bapamu itu, dari seberang sungai Efrat, dan menyuruh dia menjelajahi seluruh tanah Kanaan. Aku membuat banyak keturunannya dan memberikan Ishak kepadanya. 4 Kepada Ishak Kuberikan Yakub dan Esau. Kepada Esau Kuberikan pegunungan Seir menjadi miliknya, sedang Yakub serta anak-anaknya pergi ke Mesir. 5 Lalu Aku mengutus Musa serta Harun dan menulahi Mesir, seperti yang Kulakukan di tengah-tengah mereka, kemudian Aku membawa kamu keluar. 6 Setelah Aku membawa nenek moyangmu keluar dari Mesir dan kamu sampai ke laut, lalu orang Mesir mengejar nenek moyangmu dengan kereta dan orang berkuda ke Laut Teberau. 7 Sebab itu berteriak-teriaklah mereka kepada TUHAN, maka diadakan-Nya gelap antara kamu dan orang Mesir itu dan didatangkan-Nya air laut atas mereka, sehingga mereka diliputi. Dan matamu sendiri telah melihat, apa yang Kulakukan terhadap Mesir. Sesudah itu lama kamu diam di padang gurun. 8 Aku membawa kamu ke negeri orang Amori yang diam di seberang sungai Yordan, dan ketika mereka berperang melawan kamu, mereka Kuserahkan ke dalam tanganmu, sehingga kamu menduduki negerinya, sedang mereka Kupunahkan dari depan kamu. 9 Ketika itu Balak bin Zipor, raja Moab, bangkit berperang melawan orang Israel. Disuruhnya memanggil Bileam bin Beor untuk mengutuki kamu. 10 Tetapi Aku tidak mau mendengarkan Bileam, sehingga iapun memberkati kamu. Demikianlah Aku melepaskan kamu dari tangannya. 11 Setelah kamu menyeberangi sungai Yordan dan sampai ke Yerikho, berperanglah melawan kamu warga-warga kota Yerikho, orang Amori, orang Feris, orang Kanaan, orang Het, orang Girgasi, orang Hewi dan orang Yebus, tetapi mereka itu Kuserahkan ke dalam tanganmu. 12 Kemudian Aku melepaskan tabuhan mendahului kamu dan binatang-binatang ini menghalau mereka dari depanmu, seperti kedua raja orang Amori itu. Sesungguhnya, bukan oleh pedangmu dan bukan pula oleh panahmu. 13 Demikianlah Kuberikan kepadamu negeri yang kamu peroleh tanpa bersusah-susah dan kota-kota yang tidak kamu dirikan, tetapi kamulah yang diam di dalamnya; juga kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang tidak kamu tanami, kamulah yang makan hasilnya. 14 Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. 15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" 16 Lalu bangsa itu menjawab: "Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain! 17 Sebab TUHAN, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang telah melakukan tanda-tanda mujizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh, dan di antara semua bangsa yang kita lalui, 18 TUHAN menghalau semua bangsa dan orang Amori, penduduk negeri ini, dari depan kita. Kamipun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita." 19 Tetapi Yosua berkata kepada bangsa itu: "Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu. 20 Apabila kamu meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada allah asing, maka Ia akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu, setelah Ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu." 21 Tetapi bangsa itu berkata kepada Yosua: "Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah." 22 Kemudian berkatalah Yosua kepada bangsa itu: "Kamulah saksi terhadap kamu sendiri, bahwa kamu telah memilih TUHAN untuk beribadah kepada-Nya." Jawab mereka: "Kamilah saksi!" 23 Ia berkata: "Maka sekarang, jauhkanlah allah asing yang ada di tengah-tengah kamu dan condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel." 24 Lalu jawab bangsa itu kepada Yosua: "Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah, dan firman-Nya akan kami dengarkan." 25 Pada hari itu juga Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu dan membuat ketetapan dan peraturan bagi mereka di Sikhem. 26 Yosua menuliskan semuanya itu dalam kitab hukum Allah, lalu ia mengambil batu yang besar dan mendirikannya di sana, di bawah pohon besar, di tempat kudus TUHAN. 27 Kata Yosua kepada seluruh bangsa itu: "Sesungguhnya batu inilah akan menjadi saksi terhadap kita, sebab telah didengarnya segala firman TUHAN yang diucapkan-Nya kepada kita. Sebab itu batu ini akan menjadi saksi terhadap kamu, supaya kamu jangan menyangkal Allahmu." 28 Sesudah itu Yosua melepas bangsa itu pergi, masing-masing ke milik pusakanya.

Beribadah Dengan Tulus Ikhlas dan Setia

Yosua berpidato kepada suku-suku Israel untuk terakhir kalinya di Sikhem. Pidato ini merupakan pidato perpisahan sebab ia sudah tua dan perlu mengingatkan kembali perjanjian yang dibuat Allah dengan bangsa Israel. Kita tahu bahwa sejarah umat Allah dimulai dengan peristiwa pemanggilan Abraham. Kisah ini berlangsung di seberang sungai Efrat dan pada waktu itu Terah, ayah Abraham beribadah kepada allah lain. Abraham dipanggil keluar dari situ dan disuruh ke Kanaan. Tuhan memberkati dan menyertai keturunan Abraham. Bangsa ini Tuhan bebaskan juga dari perbudakan di Mesir, memelihara mereka di padang gurun dan hentar masuk tanah Kanaan. Oleh sebab itu, Yosua meminta bangsa Israel untuk takut akan Tuhan dan beribadah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Kesetiaan mereka kepada Tuhan tidak boleh berubah dan harus dibuktikan melalui akta pembaruan janji. Janji bahwa Tuhan menjadi Allah mereka dan mereka menjadi umat Tuhan, tidak boleh berubah. Kesetiaan sangat penting dalam suatu ikatan perjanjian. Kita pun hidup dengan berbagai perjanjian. Janji sebagai suami-isteri, orang tua dan saksi baptis, pelayan, aparatur negara, melunasi hutang, bekerja keras menghidupi rumahtangga, belajar dengan rajin, bahkan antara dua orang yang saling mencintai dll. Berusahalah untuk tidak melupakan janji dan tetaplah setia. Janji tidak bisa diwakili, harus diaktakan sendiri oleh pihak yang bersepakat dan harus dilakukan dalam kesadaran serta kebebasan, tanpa paksaan. Sebaiknya setiap orang menjadi saksi bagi dirinya sendiri. Selain janji-janji tadi, yang paling utama adalah janji untuk beribadah kepada Tuhan dengan tulus ikhlas dan setia. Hindarilah untuk percaya dan mengandalkan kuasa lain. Bila kita berubah setia, maka risiko tak mungkin dihindari.  Setialah dalam segala hal sebab itulah yang Tuhan kehendaki. Kehidupan orang yang setia selalu berkenan, baik di hadapan manusia maupun Tuhan serta diberkati.

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk menjadi umat-Mu yang setia. Amin

Senin, 16 Januari 2023                             

bacaan : 2 Tawarikh 31 : 11 – 21     

11 Kemudian Hizkia menyuruh menyediakan bilik-bilik di rumah TUHAN dan mereka menyediakannya. 12 Dan dengan setia mereka membawa segala persembahan khusus, persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan kudus itu ke sana. Konanya, seorang Lewi, mengawasi semuanya, dan Simei, saudaranya, adalah orang kedua, 13 sedang Yehiel, Azazya, Nahat, Asael, Yerimot, Yozabad, Eliel, Yismakhya, Mahat dan Benanya adalah penilik di bawah Konanya dan Simei, saudaranya itu, sesuai dengan petunjuk raja Hizkia dan Azarya, kepala rumah Allah. 14 Dan Kore bin Yimna, seorang Lewi, penunggu pintu gerbang di sebelah timur, mengawasi pemberian-pemberian sukarela untuk Allah, serta membagi-bagikan persembahan khusus yang untuk TUHAN dan persembahan-persembahan maha kudus. 15 Di kota-kota imam ia dibantu dengan setia oleh Eden, Minyamin, Yesua, Semaya, Amarya dan Sekhanya dalam pembagian itu kepada saudara-saudara mereka menurut rombongan, kepada orang dewasa dan anak-anak, 16 kecuali kepada setiap orang yang masuk ke rumah TUHAN, menurut hari-hari yang ditetapkan, menurut tugas jabatan yang ditugaskan kepadanya, dan menurut rombongannya, yakni mereka yang tercatat dalam daftar sebagai laki-laki yang berumur tiga tahun ke atas. 17 Para imam dicatat dalam daftar menurut puak-puak mereka, sedang orang-orang Lewi yang berumur dua puluh tahun ke atas dicatat menurut tugas dan rombongan mereka. 18 Para imam terdaftar dengan seluruh keluarga mereka, yakni isteri, anak laki-laki dan perempuan, seluruh kaum itu, karena dengan setia mereka menguduskan diri untuk persembahan kudus. 19 Bagi keturunan Harun, yakni imam-imam, yang tinggal di padang-padang penggembalaan sekitar kota-kota mereka, di setiap kota ada orang-orang yang ditunjuk dengan disebut namanya, untuk mengadakan pembagian kepada setiap orang laki-laki dari keluarga imam dan kepada setiap orang Lewi yang terdaftar. 20 Demikianlah perbuatan Hizkia di seluruh Yehuda. Ia melakukan apa yang baik, apa yang jujur, dan apa yang benar di hadapan TUHAN, Allahnya. 21 Dalam setiap usaha yang dimulainya untuk pelayanannya terhadap rumah Allah, dan untuk pelaksanaan Taurat dan perintah Allah, ia mencari Allahnya. Semuanya dilakukannya dengan segenap hati, sehingga segala usahanya berhasil.

Setia Memberi dan Melayani

Raja Hizkia melaksanakan reformasi keagamaan di Israel dan sasarannya adalah peningkatan kualitas pelayanan di Bait Suci. Konkritnya, ia mengatur sumbangan untuk para imam dan orang Lewi. Umat diminta memberi persembahan dan mereka membawanya langsung ke Bait Suci. Tindakan Hizkia ini berdampak positif dalam bidang peribadatan atau pelayanan. Peningkatan kualitas pelayanan ditentukan oleh peran serta atau keterlibatan umat dan pelayan. Semakin besar partisipasi semua komponen, semakin besar pula kualitas pelayanan. Umat memberi dari apa yang ada pada mereka dan pelayan melayani dengan tekun, tulus, setia dan rendah hati. Sesungguhnya pelayanan para pelayan juga bermakna memberi. Jadi rahasia keberhasilan pelayanan adalah semuanya memberi dengan setia.  Memberi pada prinsipnya berdasar pada apa yang ada, rela, langsung dan dimanfaatkan bagi peningkatan kualitas pelayanan. Kita memiliki bukan saja materi tapi juga hal lain. Bila yang ada pada kita adalah materi, maka berikanlah materi. Jika tidak tersedia materi berikanlah yang lain. Peningkatan kualitas pelayanan ditentukan oleh kesetiaan dan kerelaan kita semua memberi doa, masukan, pertimbangan dan kritik. Bahkan akta memberi harus pula berlangsung baik dalam keluarga maupun jemaat dan masyarakat. Mari saling beri senyum tulus agar kita tidak hidup dalam relasi, kedekatan dan kebersamaan yang tegang serta saling curiga. Bila itu tergantung pada kita, berilah maaf dan pengampunan. Janganlah menahan maaf dan pengampunan, sebab tak ada seorang pun dari kita yang tidak ada salahnya. Hiduplah dalam pengampunan karena kita pun telah diampuni Allah. Demkianlah hidup ini dijalani sebagai kesempatan untuk memberi atas dasar apa yang ada pada kita. Kita memberi dan melayani dengan setia, baik dalam keluarga, gereja maupun masyarakat. Kesetiaan memberi dan melayani adalah pilihan cerdas menguatakan gereja.

Doa: layakanlah kami Bapa untuk tetap setia memberi dan melayani. Amin      

Selasa, 17 Januari 2022                                  

bacaan : 2 Raja-raja 2:1-18

Elia naik ke sorga
Menjelang saatnya TUHAN hendak menaikkan Elia ke sorga dalam angin badai, Elia dan Elisa sedang berjalan dari Gilgal. 2 Berkatalah Elia kepada Elisa: "Baiklah tinggal di sini, sebab TUHAN menyuruh aku ke Betel." Tetapi Elisa menjawab: "Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau." Lalu pergilah mereka ke Betel. 3 Pada waktu itu keluarlah rombongan nabi yang ada di Betel mendapatkan Elisa, lalu berkatalah mereka kepadanya: "Sudahkah engkau tahu, bahwa pada hari ini tuanmu akan diambil dari padamu oleh TUHAN terangkat ke sorga?" Jawabnya: "Aku juga tahu, diamlah!" 4 Berkatalah Elia kepadanya: "Hai Elisa, baiklah tinggal di sini, sebab TUHAN menyuruh aku ke Yerikho." Tetapi jawabnya: "Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau." Lalu sampailah mereka di Yerikho. 5 Pada waktu itu mendekatlah rombongan nabi yang ada di Yerikho kepada Elisa serta berkata kepadanya: "Sudahkah engkau tahu, bahwa pada hari ini tuanmu akan diambil dari padamu oleh TUHAN terangkat ke sorga?" Jawabnya: "Aku juga tahu, diamlah!" 6 Berkatalah Elia kepadanya: "Baiklah tinggal di sini, sebab TUHAN menyuruh aku ke sungai Yordan." Jawabnya: "Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau." Lalu berjalanlah keduanya. 7 Lima puluh orang dari rombongan nabi itu ikut berjalan, tetapi mereka berdiri memandang dari jauh, ketika keduanya berdiri di tepi sungai Yordan. 8 Lalu Elia mengambil jubahnya, digulungnya, dipukulkannya ke atas air itu, maka terbagilah air itu ke sebelah sini dan ke sebelah sana, sehingga menyeberanglah keduanya dengan berjalan di tanah yang kering. 9 Dan sesudah mereka sampai di seberang, berkatalah Elia kepada Elisa: "Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu." Jawab Elisa: "Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu." 10 Berkatalah Elia: "Yang kauminta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi." 11 Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai. 12 Ketika Elisa melihat itu, maka berteriaklah ia: "Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!" Kemudian tidak dilihatnya lagi, lalu direnggutkannya pakaiannya dan dikoyakkannya menjadi dua koyakan. 13 Sesudah itu dipungutnya jubah Elia yang telah terjatuh, lalu ia berjalan hendak pulang dan berdiri di tepi sungai Yordan. 14 Ia mengambil jubah Elia yang telah terjatuh itu, dipukulkannya ke atas air itu sambil berseru: "Di manakah TUHAN, Allah Elia?" Ia memukul air itu, lalu terbagi ke sebelah sini dan ke sebelah sana, maka menyeberanglah Elisa. 15 Ketika rombongan nabi yang dari Yerikho itu melihat dia dari jauh, mereka berkata: "Roh Elia telah hinggap pada Elisa." Mereka datang menemui dia, lalu sujudlah mereka kepadanya sampai ke tanah. 16 Mereka berkata: "Coba lihat! Di antara hamba-hambamu ini ada lima puluh orang laki-laki, orang-orang tangkas. Biarlah mereka itu pergi mencari tuanmu, jangan-jangan ia diangkat oleh Roh TUHAN dan dilemparkan-Nya ke atas salah satu gunung atau ke dalam salah satu lembah." Elisa menjawab: "Janganlah suruh pergi!" 17 Tetapi ketika mereka mendesak-desak dia sampai memalukan, maka berkatalah ia: "Suruhlah pergi!" Mereka menyuruh lima puluh orang. Orang-orang ini mencari tiga hari lamanya, tetapi tidak bertemu dengan Elia. 18 Ketika mereka kembali kepada Elisa yang masih tinggal di kota Yerikho, berkatalah ia kepada mereka: "Bukankah telah kukatakan kepadamu: Jangan pergi?"

Setia Menjaga Soliditas

Albert Camus, Filsuf asal Prancis mengatakan : “jangan berjalan di belakangku, aku tak akan memimpin. Jangan berjalan di depanku, aku tak akan mengikutimu. Cukup berjalan di sampingku dan jadilah sahabat.” Kalimat berhikmat ini seperti hendak menceritakan pula kebersamaan Elia dan Elisa. Berkali-kali dalam cerita ini dikisahkan perjalanan bersama yang mereka tempuh. Elia tahu bahwa waktunya untuk pergi ke dalam keabadian sudah dekat. Berulang-kali Elia meminta kepada Elisa untuk tetap tinggal, namun Elisa tidak bersedia. Elisa terus mengikuti Elia dengan setia atas dasas kesadaran dan keyakinan bahwa kebersamaan mereka merupakan kekuatan bagi pekerjaan pelayanan ke depan. Mereka adalah partner yang harus selalu solid. Soliditas mereka nampak pada sikap saling mengerti kebutuhan yang diperlukan untuk pelayanan. Karena itu atas perkenaan Tuhan, Elia membagikan kuasa yang ada padanya untuk Elisa. Hasilnya Elisa dapat melakukan hal yang sama dengan Elia yakni membelah sungai Yordan. Hal ini berarti bahwa kesetiaan tidak hanya nampak pada tindakan berjalan bersama-sama, namun juga harus terjadi pada sharing atau berbagi  kekuatan/potensi yang berguna bagi pelayanan. Kita adalah gereja oleh sebab itu sebagai umat dan pelayan hendaknya tetap setia melakukan panggilan pelayanan. Seiring dengan kesetiaan itu, kita bertanggung jawab pula untuk setia menjaga relasi sebagai kawan sekerja. Keterlibatan kita dalam pelayanan sebagai tim, panitia atau pengurus tidak hanya membutuhkan kerelaan kita untuk melayani tapi juga kesediaan kita untuk tetap solid melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Kita diminta untuk menjalani panggilan pelayanan dalam keutuhan dan kesetiaan seumur hidup.

Doa : Berkatilah kami Tuhan untuk tetap  solid dalam kerja-kerja pelayanan. Amin

Rabu, 18 Januari 2023                                           

bacaan : Rut 1 : 15 – 22

15 Berkatalah Naomi: "Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu." 16 Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; 17 di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!" 18 Ketika Naomi melihat, bahwa Rut berkeras untuk ikut bersama-sama dengan dia, berhentilah ia berkata-kata kepadanya. 19 Dan berjalanlah keduanya sampai mereka tiba di Betlehem. Ketika mereka masuk ke Betlehem, gemparlah seluruh kota itu karena mereka, dan perempuan-perempuan berkata: "Naomikah itu?" 20 Tetapi ia berkata kepada mereka: "Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. 21 Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku." 22 Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab. Dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai.

Rut, Perempuan Moab Yang Setia

Inilah kisah tentang relasi kesetiaan antara mertua dan menantu, yakni Naomi dan Rut. Mereka berdua tetap setia saat hidup di tempat asing dan mengalami kehilangan orang terkasih. Naomi seorang perempuan Betlehem yang mengikuti Elimelekh suaminya ke Moab. Sedangkan Rut perempuan yang berasal dari Moab, mengikuti Naomi mertuanya pulang ke Betlehem.  Latar kehidupan mereka berdua adalah kesusahan. Naomi pergi bersama Elimelekh ke Moab karena kelaparan di Betlehem kemudian ditinggal mati oleh suami dan anak-anak mereka, yakni Mahlon dan Kilyon. Pengalaman penderitaanlah yang menjadi alasan ia menggantikan namanya dari Naomi menjadi Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit. Fakta serupa dialami juga oleh Rut, suaminya meninggal dan rela mengikuti Naomi pulang ke Betlehem, suatu negeri yang asing baginya. Naomi pernah menjadi orang asing di Moab dan Rut karena kesetiaanya, datang sebagai orang asing di Betlehem. Naomi mengalami kehilangan suami dan anak-anak di negeri asing dan Rut dalam kehilangan suami menjadi orang asing di Betlehem. Rut adalah perempuan yang setia terhadap mertuanya Naomi, seorang janda Israel. Kesetiaan dalam penderitaan bukanlah tindakan tanpa makna. Perempuan Moab ini mengaktakan “kesetiaan walaupun bukan karena”. Ia tetap setiap walaupun telah kehilangan suaminya dan harus pergi ke negeri asing. Rut bukanlah perempuan yang setia karena ada apa-apa. Sekalipun ia mengalami kehilangan dan ketiadaan, namun tetap setia. Demikianlah nantinya Tuhan berkenan menjadikan perempuan setia ini sebagai nenek raja Daud dan dari keturunan mereka terlahir Yesus Sang Juruselamat.

Doa: Tuhan, tolomglah kami untuk menjadi gereja yang setia dan kuat. Amin.

Kamis, 19 Januari 2023                                

bacaan : Matius 24 : 45 – 51

Perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat
45 "Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? 46 Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. 47 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. 48 Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: 49 Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, 50 maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, 51 dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi."

Hamba Yang Setia Dan Bijaksana

Yesus mengajar dengan menggunakan perumpamaan. Ajaran tentang Kerajaan Allah yang sedang datang diumpamakan dengan hamba yang setia dan hamba yang jahat. Ingatlah bahwa baik atau buruknya seseorang terlihat pada tindakannya. Pesan perumpamaan ini merupakan panggilan agar kita selayaknya menjalani hidup seperti hamba yang setia dan bijaksana. Hendaklah kiranya ciri  hamba yang setia dan bijaksana dijadikan pedoman hidup. Ciri hamba itu adalah bertanggung jawab melaksanakan semua peran atau tugas, sabar, tekun, tahu membedakan baik-buruk serta memilih yang baik, komitmen tidak berubah dan pada akhirnya mendapat hadiah bukan hukuman. Jadilah setia dan bijak karena kita adalah anak-anak kerajaan Allah.  Orang percaya harus menjalani hidup sehari-hari dengan prinsip kebaikan bukanlah kejahatan. Peran atau tugas adalah pemberian Tuhan yang harus dilaksanakan dengan setia dan bijaksana. Yesus berkehendak agar semua orang percaya berhasil melaksanakan apa pun peran atau tugas selama ia hidup. Kita memiliki peran dan tanggung jawab baik selaku pribadi, keluarga, gereja maupun masyarakat. Kesetiaan dan kebijaksanaan menjadikan kita kuat dalam hidup ini. Mohonlah Roh Kudus agar berdaya menjadi setia dan bijaksana dalam menunaikan semua peran dan tanggung jawab sampai pada akhirnya. Ingatlah bahwa awal yang baik itu baik, tapi jauh lebih baik bila dapat berlangsung sampai akhir. Peran dan tanggun jawab adalah pergumulan yang dinilai secara keseluruhan di akhir setiap proses. Jadilah setia dan bijaksana agar awal yang baik dapat dipertahankan sampai pada kesudahannya. Yesus berkehendak agar kita hidup dengan inspirasi mengalami akhir yang baik, berhasil atau sukses.

Doa:  Tuhan mampukan kami untuk hidup dengan setia dan bijaksana. Amin 

Jumat, 20 Januari 2023                           

bacaan : 1 Timotius 1 : 12 – 17

Ucapan syukur atas kasih karunia Allah
12 Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku-- 13 aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. 14 Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. 15 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. 16 Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. 17 Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.

Paulus, Utusan Kristus Yang Setia.

Kehendak, rencana dan kemurahan Allah tersedia bagi semua orang. Kebenarannya dapat ditemui pada diri Saulus yang diubah menjadi Paulus dan dipakai Allah sebagai pemberita injil. Paulus, bukan lagi Saulus karena  pertobatan telah terjadi dalam dirinya. Allah berkehendak, berkuasa dan berkasih karunia mengubah  dan menguatkan bahkan menganggap Paulus setia dalam pelayanan. Semua pengalaman yang dialaminya disyukurkan. Akta ungkapan syukur dari utusan Allah yang setia ini layak untuk dijadikan teladan bergereja. Bergereja berarti beriman dan dengan demikian bersyukur. Bersyukur adalah wujud kesetiaan gereja kepada Allah yang telah berkasih karunia. Hendaklah kita tetap bersyukur dalam segala hal dan keadaan, baik atau pun tidak. Bersykurlah karena Tuhan tetap menganugerahkan hidup, keluarga, pekerjaan, jabatan, alam yang berkelimpahan dengan sumber hayati, baik di darat, laut, hutan, sungai, kebun, dusun dan yang lainnya kepada kita. Teruslah menjadi orang percaya yang setia dengan cara bersykur tetapi juga belajar dari masa lampau. Ujilah pengalaman hidup, ambil yang baik dan perbaiki kesalahan. Peliharalah pengalaman yang baik sebagai harta iman dan pelajaran hidup serta bertobatlah dari yang salah. Orang percaya yang setia adalah mereka yang terus belajar memperbaiki atau meninggalkan perilaku yang berisiko. Gereja bahkan peradaban dan kehidupan menjadi lemah kalau pelayan dan umat masih malas, masa bodoh, memfitnah, mabuk, dusta, korupsi, selingkuh, menjadi pengerdar atau pemakai narkoba, serta yang lainnya.  Ingatlah bahwa sebagai orang percaya kita sungguh berharga serta berkenan pada Tuhan dan karena itu Ia pasti menganugerahkan kasih karunia-Nya. Tak ada waktu terlambat, mohonlah hikmat dan pengertian dari Tuhan dan mulailah berusaha memperbaiki yang salah. Kehidupan, keluarga atau orang-orang yang disayangi dan menyayangi, berharap kita tetap ada dan berarti. Hormat dan kemuliaan bagi Raja segala zaman.

Doa: Tuhan mampukanlah kami menjadi orang percaya yang setia. Amin.

Sabtu, 21 Januari 2023                                       

bacaan : Wahyu 2 : 8 – 11

Kepada jemaat di Smirna
8 "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali: 9 Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu--namun engkau kaya--dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis. 10 Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. 11 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua."

Setia Sampai Mati

Kita hendaknya belajar dari jemaat Smirna, sebab dalam penderitaan mereka tetap setia bahkan sampai mati. Jemaat Kristen di Smirna terdiri dari banyak pendatang miskin yang berasal dari Galilea dan Yudea. Mereka melarikan diri dari sana selama meletusnya pemberontakan orang Yahudi tahun 66-74. Hidup di Smirna bukanlah jaminan terbebas dari kesukaran. Masalah muncul lagi karena difitnah oleh suatu kelompok yang menyebut dirinya orang Yahudi. Kelompok ini menuduh orang Kristen sebagai sumber segala masalah dan persekutuan yang tidak setia kepada pemerintah Romawi. Hidup memang tidak mudah untuk dipahami, silih berganti penderitaan dialami dan agaknya tak ada tempat yang bebas dari kesukaran. Bila demikian halnya, maka yang diperlukan dalam hidup beriman adalah kesetiaan percaya kepada Yang Awal dan Yang Akhir. Kita mungkin saja miskin materi dan menderita secara badani, tapi bila kesetiaan percaya dimiliki, maka melimpahlah harta rohani. Hal ini tidaklah berarti bahwa kita harus mempertahankan apalagi menyuburkan kemiskinan dan penderitaan. Justeru karena kesetiaan percaya, kita menjadi berdaya untuk menghadapi situasi hidup yang sulit. Kemiskinan dan penderitaan tak bisa diatasi dengan kekuatiran, kebimbangan, keputusasaan, keraguan, menghindar dan mempersalahkan. Selain itu, kesetiaan percaya juga tetap diperlukan orang Kristen walau tidak miskin materi dan menderita badani. Apa pun kondisi hidup ini, tetaplah miliki kesetian percaya kepada Sang Alfa dan Omega itu. Yakinlah bahwa baik sekarang atau pun nanti Dia pasti memelihara hidup kita. Kiranya kita tetap miliki kesetiaan percaya supaya tidak terpisahkan dari kasih Tuhan kini dan selamanya.

Doa: Tuhan yang dapat memberikan kita jalan kebenaran dan hidup. Amin.

*SUMBER : SHK BUlan Januari 2023, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 8 – 14 Januari 2023

Tema Bulanan    :  Gereja Kuat karena Kuasa dan Berkat Tuhan                           

Tema Mingguan :  Gereja Yang Berhikmat, Menjadi Kuat

Minggu, 08 Januari 2023                           

bacaan : 1 Korintus 1 : 18 – 31

Hikmat Allah dan hikmat manusia
18 Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. 19 Karena ada tertulis: "Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan." 20 Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? 21 Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. 22 Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, 23 tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, 24 tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. 25 Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. 26 Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. 27 Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, 28 dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, 29 supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. 30 Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita. 31 Karena itu seperti ada tertulis: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan."

Hiduplah Selalu Dalam Hikmat Allah

Ada orang yang menggunakan kuasa, kehebatan dan kecerdasannya untuk menindas orang lain dan menguntungkan diri sendiri atau juga kelompoknya. Orang-orang seperti ini yang ingin dikritisi oleh Paulus dalam teks bacaan saat ini. Paulus menyatakan bahwa orang-orang seperti itu tidak memiliki hikmat Allah. Perbuatan-perbuatan itu seperti ahli-ahli taurat dan orang-orang farisi yang hanya menilai sesuatu berdasarkan nalar dan pengetahuan, tetapi rendah hikmat. Menurut Paulus, hikmat Allah berbeda dengan hikmat manusia. Hikmat Allah merujuk kepada iman dan percaya Kristus yang adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sementara hikmat manusia merujuk kepada sebuah kebodohan. Menurut orang Farisi pemberitaan tentang Kristus adalah suatu kebodohan. Oleh sebab itu, Paulus menegaskan orang-orang seperti itulah yang akan dibinasakan, sehingga tidak ada seorang pun yang dapat memegahkan diri di hadapan Allah. Barangsiapa ingin bermegah, baiklah ia bermegah di dalam Tuhan. Penegasan ini pun ditujukan kepada kita. Kehebatan, kepandaian dan kecerdasan yang dimiliki, terasa hampa jika kita tidak memiliki hikmat Allah. Hikmat Allah menolong orang bersikap bijaksana dan arif mengambil keputusan. Jangan pernah mengandalkan hikmat manusia, sebab kita akan luput dari kebaikan Allah yang telah disediakan bagi kelangsungan hidup. Mintalah hikmat Allah supaya kita terus dipakai-Nya memberi dampak baik bagi semua makhluk ciptaan Allah. Peringatan akan kematian Tuhan Yesus adalah wujud penampakkan gereja yang berhikmat. Orang yang berhikmat hidup dalam kerendahan, keutuhan dan mengandalkan Tuhan.

Doa: Bapa Pengasih, berilah hikmat-Mu agar kami bijaksana menjalani kehidupan. Amin.

Senin, 09 Januari 2023                                   

bacaan : Matius 11 : 16 – 19

16 Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: 17 Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. 18 Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. 19 Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya."

Perbuatan Baik Adalah Wujud Hikmat Allah

Penulis injil Matius mencatat bahwa ajaran dan karya Yesus menarik perhatian banyak orang. Selain itu, ada sebagian orang, khususnya orang Farisi dan Ahli Taurat, mempertanyakan mangapa Yesus, misalnya menjadi sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Mereka ini kelihatannya tidak memahami makna dari tindakan atau perbuatan Yesus. Inilah alasan dikaitkannya  perbuatan dengan hikmat Allah. Itulah sebabnya pula dalam nas hari ini dikatakan: tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya (ayat 19). Perbuatan bukanlah sekadar gerakan fisik yang didorong oleh motif emosional, bendawi, sosial, ekonomi atau lannya. Sejatinya setiap perbuatan adalah wujud hikmat Allah. Dorongan yang menggerakan semua tindakan atau perbuatan orang percaya adalah sikap taat pada kehendak Tuhan. Orang berhikmat adalah mereka yang mengaktakan perbuatannya sebagai wujud ketaatan pada kehendak Tuhan. Perbuatan tidak boleh bertentangan dengan kehendak Tuhan.  Mereka yang perbuatannya sesuai dengan kehendak Allah adalah orang berhikmat. Ingatlah bahwa Allah berkehendak agar umat-Nya melakukan perbuatan baik. Salah satu wujud perbuatan baik adalah membantu sesama, bahkan jika mereka itu ternyata orang asing atau yang dipinggirkan, dilupakan, hina dan miskin. Hikmat nampak dalam sikap solider atau peduli dengan orang lain. Kita mungkin sedang susah, tapi bukan tidak mungkin masih ada orang lain yang jauh lebih menderita dan sedang menanti uluran bantuan dengan penuh harap.  Ulurkanlah tangan, nyatakanlah kebaikan hati dan ringankanlah beban hidup orang lain. Berkasih-kasihanlah kamu seorang akan yang lain supaya ringanlah hidup ini dan gereja menjadi kuat.

Doa: Ya Bapa sumber hikmat, biarlah kami terus peduli akan sesama. Amin  

Selasa, 10 Januari 2023                               

bacaan : Matius 13 : 53 – 58

Yesus ditolak di Nazaret
53 Setelah Yesus selesai menceriterakan perumpamaan-perumpamaan itu, Iapun pergi dari situ. 54 Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? 55 Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? 56 Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?" 57 Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya." 58 Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.

Orang Berhikmat Memahami Yesus

Terkadang kita dekat dengan seseorang, mendengarnya bicara dan melakukan sesuatu, namun orang tersebut tidaklah dipahami. Hal ini pernah terjadi saat Yesus tiba dan mengajar di tempat asal-Nya. Yesus mengajar dan mengadakan mujizat di Nazaret, tempat asal-Nya sehingga semua orang takjub, namun mempertanyakan hikmat dan kuasa Yesus. Rupanya mereka ini adalah orang Farisi dan Ahli Taurat. Mereka mempertanyakan, meragukan, dan sekaligus membenci serta menolak Yesus. Yesus ditolak oleh kelompok terpandang agama Yahudi, terpelajar dan para pemimpin yang tak mengetahui asal hikmat dan kuasa Yesus. Hikmat dan kuasa Yesus untuk mengajar dan mengadakan mujizat berasal dari Bapa-Nya. Kedudukan terhormat atau terpandang dan kepintaran serta popularitas menjadi tidak berkenan di hadapan Tuhan serta tak bermanfaat bila dikotori dengan kebencian dan penolakan. Orang berhikmat memberisihkan hati, rumah, kedudukan dan keberadaan serta lingkungan di mana ia berada  dari rasa benci dan penolakan. Yesus diterima dan dihormati di rumahnya. ia dan seisi rumahnya memahami dan hidup seturut ajaran Yesus serta mengandalkan kuasa-Nya.  Mereka yang berhikmat, karena memahami Yesus, mengerti pula ajaran pentingnya alam semesta bagi hidup manusia. Hari ini kita memperingati hari internasional gerakan sejuta pohon. Menanam pohon berarti besar bagi kelestarian dan keberlanjutan alam serta keberadaan manusia. Jadilah berhikmat dan pahamilah bahwa alam atau pohon dapat berada tanpa manusia, namun tidaklah demikian bagi manusia. Mari bergiat menanam pohon supaya bumi menjadi rumah yang hijau demi keberlanjutan hidup semua ciptaan. Semesta adalah ciptaan Tuhan yang harus dilestarikan dan salah satu caranya adalah menanam pohon. Mari menjadi satu dari sejuta orang yang menanam pohon sebab tanpa satu tak akan  ada sejuta.

Doa: Ya Yesus tolonglah kami agar berhikmat dan terus menanam pohon. Amin

Rabu, 11 Januari 2023                                 

bacaan : Mazmur 37 : 30 – 33

30 Mulut orang benar mengucapkan hikmat, dan lidahnya mengatakan hukum; 31 Taurat Allahnya ada di dalam hatinya, langkah-langkahnya tidak goyah. 32 Orang fasik mengintai orang benar dan berikhtiar membunuhnya; 33 TUHAN tidak menyerahkan orang benar itu ke dalam tangannya, Ia tidak membiarkannya dinyatakan fasik pada waktu diadili.

Tanda Hidup Orang Berhikmat

Hikmat bukanlah sekadar ungkapan atau pengetahuan tanpa wujud. Selalu terwujud, dikenali dan ditandai dalam hidup. Bila pemazmur mengatakan bahwa mulut orang benar mengucapkan hikmat, maka ini berarti bahwa hikmat menjadi tanda orang benar. Maksudnya adalah perkataan orang berhikmat benar adanya. Kata lainnya adalah hikmat menjadi ciri orang benar. Hendaknya hal ini dipahami sebagai tanda pertama hidup orang berhikmat. Baik adanya untuk belajar dan berusaha menjadi orang benar atau berhikmat saat mengucapkan kata. Perkataan yang terlontar dari mulut memang tak mungkin ditarik kembali, namun dapatlah dipertimbangkan atau dipikirkan sebelum diucapkan. Orang berhikmat menimbang manfaat dan memikirkan dampak dari perkataannya. Berusahalah agar jangan terjadi yang sebaliknya, sudah berkata baru ditimbang dan dipikirkan. Perkataan manusia berdampak luar biasa baik positf maupun negatif. Ucaplah kata yang menyembuhkan, meneguhkan, membimbing dan mendamaikan. Hindariah untuk berkata yang menyakitkan, menyesatkan, menjatuhkan, menipu, dan gosip. Tanda kedua orang berhikmat adalah lidahnya mengatakan hukum. Maksudnya orang berhikmat selalu hidup dengan adil, bukan curang, menindas dan memeras.  Ketiga, taurat Allah ada di dalam hatinya. Hal ini berarti bahwa hidup orang berhikmat terbuka dan dipimpin Taurat Allah. Ia menjalani hidup sebagaimana pengajaran Allah. Hidup dengan kasih, sabar, setia, tekun dan bekerja keras serta mengandalkan kuasa dan pertolongan Tuhan. Akhirnya hidup orang berhikmat pasti ditandai oleh keteguhan langkah-langkahnya. Hidup dijalani dengan kepastian bukan ragu, kuatir, bimbang dan tanpa arah. Langkah hidup orang berhikmat teguh sebab ia memahami kehendak dan jalan Tuhan serta berpengharapan.   Tujuan hidupnya jelas tak akan sesat karena tawaran dunia yang menggiurkan. Sebab ia mengandalkan ajaran, pertolongan dan berkat Tuhan.

Doa: Tuhan, kiranya mulut, lidah, hati dan langkah kami  berkenan pada-Mu. Amin

Kamis, 12 Januari 2023                                       

bacaan : Kisah Para Rasul 6 : 8 -15

Tuduhan terhadap Stefanus
8 Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. 9 Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini--anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria--bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, 10 tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara. 11 Lalu mereka menghasut beberapa orang untuk mengatakan: "Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah." 12 Dengan jalan demikian mereka mengadakan suatu gerakan di antara orang banyak serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat; mereka menyergap Stefanus, menyeretnya dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama. 13 Lalu mereka memajukan saksi-saksi palsu yang berkata: "Orang ini terus-menerus mengucapkan perkataan yang menghina tempat kudus ini dan hukum Taurat, 14 sebab kami telah mendengar dia mengatakan, bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita." 15 Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.

Teladan Hikmat Dari Stefanus

Stefanus adalah seorang dari pemimpin jemaat perdana yang dipilih rasul-rasul. Ia menjadi berhikmat dipenuhi iman, karunia, kuasa  serta Roh Kudus. Orang berhikmat hidupnya dipenuhi iman, karunia, kuasa dan Roh Kudus. Oleh sebab itu kemampuan yang dimiliki Stefanus sesungguh berasal dari Tuhan. Hendaklah kita belajar untuk tidak memenuhi hasrat hidup dengan ambisi kekuasaan, kepentingan diri dan kelompok, kekayaan, kenikmatan serta kenyamanan. Belajarlah dari Stefanus yang memenuhi keberadaan dan jalan panggilannya dengan hal-hal yang ilahi. Kekuatan ilahilah yang sempurna memberdayakan kita menjalani hidup dan melaksanakan tanggung jawab sampai tuntas dan gemilang. Tak ada hidup dan tanggung jawab yang bebas dari kesukaran atau tantangan. Kita memerlukan kekuatan ilahi, iman, karunia, kuasa dan Roh Kudus. Tuduhan palsu adalah salah satu bentuk tantangan. Kita mungkin tidak akan disukai atau dibenci oleh banyak pihak, sekalipun karya terbaik telah dikerjakan. Berhati-hatilah sebab mungkin saja karya terbaik yang diaktakan justeru diputarbalikan kebenarannya atau dipalsukan. Kita dapat saja menjadi sasaran empuk tuduhan palsu sampai diadili. Percayakanlah hidup pada Tuhan, Ia akan memberikan kuasa-Nya yang memampukan kita untuk berbicara dan sanggup melawan atau membantah semua tuduhan palsu. Yakinlah bahwa dengan kuasa ilahi kemanusiaan kita akan diubah hingga menjadi bagaikan makhluk sorgawi. Kiranya teladan hikmat dari Stefanus meneguhkan iman kita sehingga makin berani dan tetap bergairah melaksanakan semua tanggung jawab. Hidup dan panggilan serta tanggung jawab adalah kesempatan mengalami kuasa ilahi dan mewujudkan  kebaikan. Tanpa iman, karunia, kuasa dan Roh Kudus, kita tak akan berdaya atau rapuh. Semua tantangan, apa pun bentuknya hendaklah menjadi kesempatan untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan, berserah dan berharap pada-Nya. Bersama Tuhan pasti ada jalan keluar dari semua masalah.

Doa: Ya Tuhan, berilah kuasa-Mu agar kami berani hadapi tantangan. Amin 

Jumat, 13 Januari 2023                                 

bacaan : Yakobus 3 : 13 – 18

Hikmat yang dari atas
13 Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan. 14 Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran! 15 Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan. 16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. 17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. 18 Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.

Hidup Menurut Hikmat Allah

Yakobus menasihati kita untuk hidup sesuai dengan hikmat Allah. Hikmat Allah disebut pula hikmat yang dari atas dan dipertentangkan dengan hikmat dunia. Konsep hikmat dibicaraannya dalam kaitan dengan cara hidup dan perbuatan yang baik. Perbuatan adalah ekspresi cara hidup dan oleh sebab itu harus berkenan pada Tuhan. Cara hidup dan perbuatan yang baik bersumber dari hikmat Allah. Hidup orang berhikmat djalani dengan kelemahlembutan bukan kekerasan. Kekerasan tak boleh berlangsung dalam hidup terutama dalam rumahtangga. Hindarilah melakukan kekerasan baik fisik, psikhis, verbal (kata), ekonomi dll.  Hiduplah dalam cinta kasih, pengertian, saling mendukung, menopang, menghargai, menyemangati dan menerima. Hindarilah menjalani hidup dengan pertengkaran. Bila ada masalah selesaikanlah dengan baik-baik atas dasar kasih dan pengertian. Berusahalah untuk tidak dikuasai amarah, sebab hanya akan menyebabkan dikeluarkan perkataan yang menyakitkan bahkan pemukulan secara fisik. Berusahalah untuk saling terbuka dalam segala hal misalnya keuangan. Hendaklah suami tidak merahasiakan uang dari isteri apalagi memegangnya atau sebaliknya. Percayalah bahwa isteri telah dikaruniakan kemampuan untuk manata atau mengatur uang. Sebab mereka adalah ahli dalam hal keuangan. Karena itu seorang isteri hendaklah cakap mengatur rumahtangganya dan hindarilah berlaku boros. Selanjutnya Yakobus juga menasihati kita untuk tidak hidup dengan perasaan iri hati, mementingkan diri sendiri, memegahkan diri dan berdusta melawan kebenaran. Hal-hal demikian tak akan membawa kebaikan dalam hidup bersama. Kebaikan pasti dialami dalam hidup bersama kalau dlangsungkan dengan murni, damai, ramah, penurut, penuh belas kasihan, tidak munafik dan benar. Oleh sebab itu hendaklah kita tetap berusaha untuk meluputkan kehidupan dari kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Hiduplah sesuai hikmat yang dari atas.

Doa: Bapa, tolonglah kami untuk hidup sesuai hikmat yang dari atas. Amin  

Sabtu, 14 Januari 2023                                    

bacaan : Roma 11 : 25 – 36

Penyelamatan Israel
25 Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. 26 Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: "Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. 27 Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka." 28 Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang. 29 Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. 30 Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka, 31 demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan. 32 Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua. 33 O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! 34 Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? 35 Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? 36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Alangkah Dalamnya Hikmat Allah

Pandangan Paulus tentang hikmat Allah berhubungan dengan tindakan penyelamatan yang dikaryakan-Nya. Pertama-tama kepada orang Yahudi dan kemudian bagi orang Yunani. Orang Yahudi adalah keturunan Abraham dan Sara, yang juga dikenal sebagai umat Israel.  Sebutan orang Yunani dipakai untuk menyebut orang-orang yang bukan Yahudi. Allah berkenan kepada semua orang atau bangsa karena iman, bukan asal atau jasa mereka. Oleh sebab itu bagi Paulus Allah belum menolak umat Israel walaupun banyak dari mereka tidak percaya kepada Yesus Kristus sebagai jalan untuk “dibenarkan” atau diterima Allah. Paulus rupanya berharap agar bangsanya sendiri (Israel) percaya kepada Injil tentang Yesus. Allah telah mengundang orang-orang bukan Yahudi untuk menjadi bagian dari umat-Nya, khususnya saat sejumlah orang Israel ternyata keras kepala menolak mendengarkan Dia.  Maksud Paulus dengan ungkapan alangkah dalamnya hikmat Allah yakni bahwa Allah tetap setia kepada umat pilihan-Nya pada satu sisi dan di sisi yang lain keselamatan terbuka juga kepada semua bangsa. Keputusan, rancangan dan jalan-Nya tidak terselami. Tak ada seorang pun manusia yang mengetahui pikiran Tuhan atau yang pernah menjadi penasihat-Nya. Segala sesuatu dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Keselamatan disediakan Allah bagi semua bangsa dan oleh sebab itu kita tak boleh mengurungnya bagi diri sendiri. Hikmat Allah mengajarkan kepada umat-Nya hidup yang beriman dan terbuka kepada semua orang. Kita tidak terpanggil untuk pilih kasih atau memandang muka. Tuhan Allah kita adalah Pencipta yang mengasihi semua orang.  Mari terus menjalani hidup dalam ketulusan dan kerelaan untuk mengasihi semua orang pula. Berusahalah untuk menjadi orang percaya yang setia dan bertanggung jawab atas semua keputusan yang telah dibuat. Ingatlah bahwa Allah tetap setia walau kita tak setia kepada-Nya.

Doa: Tuhan, buatlah kami memahami jalan dan keputusan-Mu.   Amin

*SUMBER : SHK Bulan Januari 2023, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 1 – 7 Januari 2023

Tema Bulanan    :  Gereja Kuat karena Kuasa dan Berkat Tuhan                           

Tema Mingguan :  Dengar dan Lakukanlah Perintah Tuhan, Hidup Diberkati

Minggu, 01 Januari 2023                             

bacaan : Ulangan 28 : 1 – 14

Berkat
"Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. 2 Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu: 3 Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang. 4 Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. 5 Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu. 6 Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar. 7 TUHAN akan membiarkan musuhmu yang maju berperang melawan engkau, terpukul kalah olehmu. Bersatu jalan mereka akan menyerangi engkau, tetapi bertujuh jalan mereka akan lari dari depanmu. 8 TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. 9 TUHAN akan menetapkan engkau sebagai umat-Nya yang kudus, seperti yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepadamu, jika engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya. 10 Maka segala bangsa di bumi akan melihat, bahwa nama TUHAN telah disebut atasmu, dan mereka akan takut kepadamu. 11 Juga TUHAN akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu--di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu. 12 TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman. 13 TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, 14 dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya."

Ketaatan Dan Kesetiaan Mendatangkan Berkat

Kita telah mengakhiri tahun 2022 dan memasuki tahun baru 2023. Mengawali hidup di tahun baru ini, kita diajak untuk bersyukur atas kasih dan sayang Tuhan yang tidak pernah habis. Tahun baru memiliki segudang rahasia dan tidak seorang pun dapat menerawang apa yang kelak akan terjadi. Tetapi ada harapan serta iman bahwa Tuhan tetap memelihara  dengan berkat-berkat-Nya yang tidak pernah berkesudahan. Nas saat ini menyaksikan bahwa berkat adalah karunia yang Allah limpahkan kepada umat yang taat dan setia melakukan perintah-perintah-Nya. Berkat itu antara lain: tempat yang lebih utama bagi Israel melebihi semua bangsa lain: di tempat kerja, keturunan, hasil pekerjaan atau usaha dan rumah tangga, bahkan saat pergi atau pulang; berkat perlindungan dan kemenangan atas musuh; kesejahteraan dan kelimpahan hidup di tanah perjanjian; berkat  ditetapkannya sebagai umat yang kudus. Tuhan pun berjanji akan membuka perbendaharaan-Nya yang melimpah. Namun semua berkat-Nya ini memiliki syarat, yaitu mereka harus  tetap setia mendengarkan perintah-Nya, tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, tidak mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya. Mari awali tahun sambil berkomitmen untuk tetap melangkah dengan taat dan setia pada perintah-Nya. Seluruh keberadaan, hidup, pergumulan, perjuangan, panggilan dan pengabdian hendaknya dijalani dengan berpadanan pada kehendak Tuhan. Tuhan pasti melimpahkan berkat-Nya bagi kita. Yakinlah bahwa tahun ini pasti cerah karena diterangi cahaya berkat Tuhan, sehingga kita tak akan hidup dalam kegelapan.  Masalah atau krisis kita hadapi dan atasi bersama Tuhan sumber berkat. Masukilah tahun ini dengan tetap taat juga setia dan jadilah tenang sebab Tuhan memberkati kita.

Doa:   kiranya kami terus taat dan setia melakukan perintah-Mu ya Allah. Amin.

Senin, 02 Januari 2023                           

bacaan : Kejadian 22 : 15 –  19

15 Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepada Abraham, 16 kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri--demikianlah firman TUHAN--:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, 17 maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. 18 Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku." 19 Kemudian kembalilah Abraham kepada kedua bujangnya, dan mereka bersama-sama berangkat ke Bersyeba; dan Abraham tinggal di Bersyeba.

Apakah Iman Kita Akan Goyah?

Suasana sukacita tahun baru masih sangat terasa. Tetapi kita pun hendaknya menyadari bahwa hidup di tahun yang baru ini tidak akan terus-menerus dipenuhi dengan sukacita dan kegembiraan. Kegagalan akan hadir di samping keberhasilan, suka duka, untung rugi, jatuh bangun, tenang tegang serta ada maupun tiada. Kenyataan hidup demikianlah yang memungkinkan iman terus bertumbuh dan benar-benar diuji apakah kita mampu melalui setiap musim hidup ataukah tidak? Sama halnya dengan Abraham dalam bacaan saat ini. Iman  Abraham diuji dengan mempersembahkan anak tunggalnya yaitu Ishak kepada Allah. Secara tegas diungkapkan bahwa karena iman Abraham kepada Allah diwujudkannya dalam sikap ketaatannya, dengan melakukan perintah-perintah Allah sekalipun ujian itu berat baginya. Mana mungkin ia harus mengorbankan anak tunggalnya? Tetapi justru ia menaati Allah. Abraham menunjukkan bahwa kesetiaannya terletak kepada penundukannya kepada Allah, dan percaya bahwa Allah akan menggenapi semua yang Ia janjikan.  Karena ketaatan serta imannya yang sungguh kepada Allah, maka segala yang dijanjikan diberikan kepada Abraham. Begitu pula hidup kita di masa kini. Kehidupan kita telah diberkati. Kehidupan yang diberkati itu masih akan tetap diuji dalam perjalanan waktu. Apakah kita akan goyah? Mintalah kekuatan dari Tuhan agar tetap teguh beriman kepada-Nya.  Setia dan taat pada firman-Nya, maka kehidupan kita bersama keluarga terpelihara. Berserahlah kepada-Nya baik saat susah maupun senang, teruslah belajar memahami kehendak Tuhan dan jadilah orang percaya yang taat. Bila kita berserah, memahami kehendak Tuhan dan tetap setia, maka sesungguhnya keteguhan iman telah dimiliki.

Doa:  Ya Allah, tolonglah  agar kami teguh dalam iman kepada-Mu. Amin.

Selasa, 03 Januari 2023                                 

bacaan : Kejadian 26 : 1 – 6

Ishak di negeri orang Filistin Maka timbullah kelaparan di negeri itu. --Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. 2 Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: "Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. 3 Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. 4 Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, 5 karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku." 6 Jadi tinggallah Ishak di Gerar.

Taat Dan Percayalah Pada Janji-janji Tuhan

Ketaatan adalah hal yang mudah dibicarakan tetapi sulit untuk dilakukan, apalagi saat berada dalam situasi yang sulit atau tidak nyaman.  Ketaatan bersumber dari kepercayaan. Keduanya saling berkaitan. Kepercayaan menjadi dasar seseorang bersikap taat. Bacaan saat ini menggambarkan bahwa Ishak mengalami berkat Tuhan secara luar biasa karena taat dan percaya. Ia melakukan apa yang Tuhan perintahkan, meski dalam situasi yang tidak mendukung. Hal itu tampak saat terjadi kelaparan hebat Tuhan melarang Ishak untuk pergi ke Mesir, melainkan tinggal di Gerar, suatu tempat di Filistin.  “Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu.”(ay.3). Ishak menunjukkan ketaatan sekaligus percaya pada perintah Tuhan. Tanpa bertanya dan berbantah, ia mengikuti yang disampaikan. Semua ini dilakukan atas dasar percaya bahwa Tuhan tetap akan menyertai dan memberkatinya. Perintah Tuhan seringkali tidak kita pahami, karena itu banyak orang tidak mau taat dan percaya. Padahal Tuhan punya rencana yang indah bagi setiap orang yang mau taat kepada-Nya. Sebab itu, dibutuhkan sikap percaya yang lahir dari iman dan diwujudkan dalam ketaatan pada perintah-Nya. Orang yang taat tidak akan memahami masalah sebagai akhir hidup. Ia yakin bahwa masalah adalah kesempatan untuk mengalami kasih dan kemurahan Tuhan. Kita tidak hidup dan menghadapi persoalan seorang diri, sebab Dia, Sang Khalik serta Pemelihara selalu campur tangan juga memberikan keluputan. Dia-lah pemilik hidup ini dan mengetahui apa yang terbaik bagi kita.

Doa: ya Allah, kami berjanji untuk terus taat dan percaya pada janji-Mu. Amin.

Rabu, 04 Januari 2023                               

bacaan : Ulangan 7 : 12 – 16

Janji berkat
12 "Dan akan terjadi, karena kamu mendengarkan peraturan-peraturan itu serta melakukannya dengan setia, maka terhadap engkau TUHAN, Allahmu, akan memegang perjanjian dan kasih setia-Nya yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu. 13 Ia akan mengasihi engkau, memberkati engkau dan membuat engkau banyak; Ia akan memberkati buah kandunganmu dan hasil bumimu, gandum dan anggur serta minyakmu, anak lembu sapimu dan anak kambing dombamu, di tanah yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu. 14 Engkau akan diberkati lebih dari pada segala bangsa: tidak akan ada laki-laki atau perempuan yang mandul di antaramu, ataupun di antara hewanmu. 15 TUHAN akan menjauhkan segala penyakit dari padamu, dan tidak ada satu dari wabah celaka yang kaukenal di Mesir itu akan ditimpakan-Nya kepadamu, tetapi Ia akan mendatangkannya kepada semua orang yang membenci engkau. 16 Engkau harus melenyapkan segala bangsa yang diserahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu; janganlah engkau merasa sayang kepada mereka dan janganlah beribadah kepada allah mereka, sebab hal itu akan menjadi jerat bagimu.

Janji Berkat Allah Sempurna, Percayalah!

Nas bacaan hari ini, menyaksikan tentang bangsa Israel memperoleh hak istimewa di tengah-tengah segala bangsa di muka bumi. Mereka dipilih dan dikasihi Tuhan, bahkan dijanjikan berkat dalam segala hal. Janji berkat Tuhan atas mereka meliputi jumlah yang banyak, buah kandungan, hasil bumi, pertanian, dan peternakan yang berhasil (12-13). Mereka dijanjikan kesuburan dan tidak ada yang mandul baik orang laki-laki atau perempuan maupun hewan. Tuhan akan menjauhkan mereka dari segala sakit penyakit dan wabah celaka (14-15). Bangsa Israel akan memperoleh janji berkat Allah kalau mampu melaksanakan tanggung jawab atau kewajiban dengan baik. Kewajiban umat pilihan ini adalah tidak boleh beribadah kepada allah lain. Gagasan ini mengulang sangat sering dalam Pejanjian Lama. Allah menuntut kesetiaan yang mutlak dari bangsa Israel. Umat pilihan haruslah menunjukkan kesetiaan yang mutlak dalam hal beribadah kepada Allah. Beriman haruslah percaya kepada Tuhan Allah saja, tidak boleh yang lain. Alasannya adalah karena Tuhan yang kita percaya adalah Tuhan semesta alam yang berkuasa di seluruh jagad ini (sorga dan bumi). Setidaknya kita mendapat pelajaran tentang cara hidup mendua hati. Bila seseorang mendua hati dalam mencintai misalnya, maka dipastikan pecah pula kasih sayangnya. Oleh sebab itu jangan mendua hati dengan Tuhan. Kita tak boleh percaya kepada kuasa, ilah atau kekuatan lain di samping Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus dan Roh Kudus. Bersihkanlah hidup dari praktek penggunaan mantera, tiop-tiop, doti, talikaeng, pakatang, orang mawe, tukang barobat dan penyembahan berhala. Percayalah kepada Tuhan Allah saja, maka kesempurnaan janji berkat-Nya menjadi bagian hidup kita.

Doa:  Ajarkanlah kami untuk hanya percaya kepada-Mu ya Tuhan.  Amin.

Kamis, 05 Januari 2023                            

bacaan : Ulangan 11 : 13 – 21

13 Jika kamu dengan sungguh-sungguh mendengarkan perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, sehingga kamu mengasihi TUHAN, Allahmu, dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, 14 maka Ia akan memberikan hujan untuk tanahmu pada masanya, hujan awal dan hujan akhir, sehingga engkau dapat mengumpulkan gandummu, anggurmu dan minyakmu, 15 dan Dia akan memberi rumput di padangmu untuk hewanmu, sehingga engkau dapat makan dan menjadi kenyang. 16 Hati-hatilah, supaya jangan hatimu terbujuk, sehingga kamu menyimpang dengan beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya. 17 Jika demikian, maka akan bangkitlah murka TUHAN terhadap kamu dan Ia akan menutup langit, sehingga tidak ada hujan dan tanah tidak mengeluarkan hasil, lalu kamu lenyap dengan cepat dari negeri yang baik yang diberikan TUHAN kepadamu. 18 Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu. 19 Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun; 20 engkau harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu, 21 supaya panjang umurmu dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka, selama ada langit di atas bumi.

Kasihilah Tuhan Allah Dengan Segenap Hati, Jiwa dan Raga

Perintah Allah kepada bangsa Israel melalui Musa dalam teks ini, bahwa hidup dalam ketaatan akan mendatangkan berkat, dan hidup dalam ketidaktaatan akan mendatangkan kutuk. Ketaatan yang dimaksudkan dimulai dengan sungguh-sungguh mendengar perintah Allah. Namun tidak cukup hanya mendengar melainkan melakukan perintah Tuhan dengan setia, beribadah kepada-Nya dengan segenap hati dan jiwa. Musa menegaskan sekali lagi bahwa jika bangsa Israel taat kepada Allah dengan segenap hati dan jiwa, maka mereka akan diberkati bagaikan hujan yang turun sehingga suburlah tanaman, padang rumput bagi hewan dan mereka akan menjadi kenyang. Perintah ini ditujukan kepada bangsa Israel supaya tidak lagi ada allah-allah lain dalam pendengaran, hati dan jiwa mereka. Hanyalah Allah Israel yang telah mengeluarkan mereka dari belenggu perbudakan di Mesir. Dengan demikian, berkat yang telah dijanjikan Allah akan dinyatakan. Janji berkat penyertaan Allah masih berlaku bagi kita hingga di tahun baru ini. Hal itu membuktikan bahwa Allah itu setia. Bersama Dia kita dimampukan untuk menjalani hari-hari hidup yang penuh dengan tantangan dan rintangan. Karena itu, percayalah kepada Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan raga. Beribadahlah untuk mengagungkan nama-Nya di setiap waktu dalam kehidupan keluarga kita. Tahun ini kiranya keluarga kita jadikan sebagai sekolah iman yang mengajarkan pengajaran tentang mengasihi Tuhan. Anak dan keturunan selayaknya terus dididik sungguh-sungguh untuk mengasihi Tuhan dengan berbagai cara dan dalam setiap kesempatan. Percayalah bahwa bila pengajaran iman ini dilalukan, maka selama ada langit di atas bumi, umur panjang akan kita alami.

Doa: kami mau mengasihi-Mu dengan segenap hati, jiwa dan raga. Amin.

Jumat, 06 Januari 2023                                     

bacaan : Yeremia 17 : 7 – 8

7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! 8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Berharaplah dan Andalkan Tuhan Dalam Hidup

Harapan adalah Hal yang dapat membuat manusia bertahan meskipun dalam kondisi terburuk. Harapan memberi energi positif  bagi jiwa, tubuh, dan roh manusia. Tanpa harapan, mata kita selalu tertuju pada masalah dan kesulitan. Tetapi dengan harapan, menolong kita melihat peluang, kekuatan, serta menemukan makna di balik setiap persoalan hidup yang dihadapi. Harapan satu-satunya yang dapat menolong kita ialah Tuhan. Yeremia dalam bacaan hari ini menubuatkan betapa pentingnya berharap dan mengandalkan Tuhan. Hal ini disampaikan untuk mengkritisi bangsa Israel yang lebih mengandalkan kekuatan diri serta berharap pada manusia. Mereka perlu berbalik, berharap dan mengandalkan Tuhan Allah sebagai satu-satunya penolong sejati. Berharap dan mengandalkan Tuhan membuat kehidupan bangsa Israel diberkati ibarat pohon yang ditanam di tepi air yang pada waktunya akan berbuah. Peringatan ini pun ditujukan kepada kita semua supaya menyadari bahwa tidak ada satu kuasa pun yang dapat diandalkan selain Tuhan. Terlebih dalam masa-masa sulit, hanya kuasa Tuhanlah yang menjadi sumber pengharapan. Karena itu kita senantiasa perlu merendahkan diri dan mengandalkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Mengandalkan Tuhan bukan berarti kita tidak melakukan apa pun. Mengandalkan Tuhan berarti kita siap berkarya sambil percaya bahwa Tuhan akan menolong dan memberkati di segala situasi yang akan dijalani. Jalanilah hidup dengan optimis agar tidak terpuruk oleh sebab kuatir, ragu, putus asa dan bimbang. Kita pasti kita menemui pergumulan, kesukaran, kesusahan, kegagalan. Oleh sebab itu berharaplah pada Tuhan  dan andalkanlah Dia dalam setiap kondisi hidup.

Doa:   Tuhan, kami mau berharap dan mengandalkan-Mu di hidup ini. Amin.

Sabtu, 07 Januari 2023                               

bacaan : 1 Raja – raja 2 : 1 – 4

Pesan Daud yang terakhir sebelum meninggal
Ketika saat kematian Daud mendekat, ia berpesan kepada Salomo, anaknya: 2 "Aku ini akan menempuh jalan segala yang fana, maka kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki. 3 Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju, 4 dan supaya TUHAN menepati janji yang diucapkan-Nya tentang aku, yakni: Jika anak-anakmu laki-laki tetap hidup di hadapan-Ku dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, maka keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel.

Hiduplah Dengan Benar, Bahagia Keturunanmu

Daud menyadari bahwa saatnya sudah dekat, ia akan menempuh jalan segala yang fana.  Oleh sebab itu sebelum meninggal, ia menitipkan pesan terakhir bagi anaknya, Salomo yang akan melanjutkan tanggungjawab kepemimpinan atas bangsa Israel. Daud meminta Salom untuk menguatkan hati dan berlaku sebagai laki-laki. Selain itu ia juga berpesan agar penerus keturunan dan tanggungjawab kepemimpinan itu untuk melakukan semua kewajiban dengan setia kepada Allah. Kewajiban dan kesetiaan dinampakkan dalam sikap hidup sesuai jalan yang telah ditunjukkan Allah, mengikuti segala ketetapan, perintah dan peraturan. Semua itu tertulis dalam hukum-hukum Musa. Pesan dari kisah ini adalah bahwa Daud bukan saja menyiapkan dirinya untuk menuju keabadian, tapi Salomo juga. Daud akan pergi dengan tenang dan Salomo yang ditinggalkan menjadi kuat. Mari belajar pula untuk hidup berkenan pada kehendak Tuhan. Kita  harus melakukannya dengan segenap hati dan jiwa. Hati menjadi dasar utama yang menggerakkan pikiran dan perasaan untuk bertindak. Jika hati dan jiwa bersih, hal itu akan tercermin dalam perilaku kepemimpinan yang bersih dan baik. Pesan ini menjadi penting sebab sebagai seorang pemimpin bangsa yang besar, haruslah menjadi teladan bagi orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang hidupnya bersih, keluarga dan seluruh masyarakatnya akan diberkati. Kita semua adalah pemimpin. Pemimpin atas diri sendiri, dalam keluarga, gereja dan masyarakat. Berkehendaklah dan berusaha untuk memiliki hati dan jiwa yang bersih. Hidup berkenan kepada Allah dengan melakukan perintah-Nya. Keturunan kita akan berbahagia. Sebab itu, hiduplah dengan benar dan jadilah berkat bagi semua orang.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk hidup dengan benar.  Amin.

*SUMBER : SHK bulan Januari 2023, LPJ_GPM

Santapan Harian Keluarga, 25-31 Desember 2022

Minggu, 25 Desember 2022                                

bacaan : Lukas 2 : 8 – 20    

Gembala-gembala
8 Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. 9 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. 10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: 11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. 12 Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." 13 Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 14 "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." 15 Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita." 16 Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. 17 Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. 18 Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. 19 Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. 20 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Bersukacitalah Dalam Perjumpaan di Hari Natal

Menjelang perayaan Natal Kristus, orang-orang Kristen biasanya  membersihkan dan menghias rumah, memasang pohon natal dll. Begitu pula, perayaan Natal Kristus dirayakan bukan hanya dalam bentuk menghadiri ibadah Natal sambil mengenakan pakaian yang baru dan indah, tapi dengan berlangsungnya sebuah perjumpaan. Ada satu hal yang menarik dari perayaan Natal Kristus setiap tahun, yaitu terjadi perjumpaan sanak saudara, antar tetangga, komunitas atau persekutuan. Inilah fakta menarik dan penting dari  perayaan Natal Kristus di setiap tahunnya, yaitu perjumpaan. Fakta ini penting dan menarik sebab dalam perjumpaan tersebut ada sikap saling memaafkan  kesalahan yang telah dilakukan, baik secara sadar maupun tidak sadar. Teks Lukas 2:8-20 menampilkan aspek penting yang terjadi saat peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Aspek tersebut adalah perjumpaan antara malaikat Tuhan  dengan gembala-gembala. Perjumpaan juga terjadi antara gembala-gembala dengan Yusuf, Maria, dan bayi Yesus. Perjumpaan yang terjadi membuat adanya perubahan pada gembala-gembala, yaitu ketakutan berubah menjadi keberanian, kesunyian menjadi sukacita serta memuji dan memuliakan Allah. Intinya, perjumpaan gembala-gembala dengan malaikat Tuhan dan keluarga Yesus membuat adanya suatu perubahan sikap dan perilaku hidup. Jadi, di perayaan Natal Kristus, hal terpenting yang harus kita miliki adalah menemukan makna perjumpaan.  Perjumpaan kita dengan Tuhan di ibadah Natal, keluarga dan sanak saudara serta sesama manusia, selayaknya melahirkan perubahan hidup. Kita tak lagi takut melainkan berani menghadapi tantangan hidup, selalu bersukacita sambil memuji dan memuliakan Allah melalui perbuatan baik. Selamat merayakan Natal Kristus, 25 Desember 2022. Tuhan Yesus Sang Natalis memberkati kita.

Doa: ya Yesus, berkatilah perjumpaan kami di hari natal agar mendatangkan sukacita dalam hidup. Amin.

Senin, 26 Desember 2022                                

bacaan : Matius 2 : 16 – 18 

Pembunuhan anak-anak di Betlehem
16 Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. 17 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: 18 "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi."

Teruslah Berjumpa Dengan Mereka yang Memberi Rasa Damai

Ada berbagai fakor yang dapat menyebabkan seseorang menjadi marah. Salah satunya adalah ketidakpatuhan. Itulah yang terjadi pada diri Herodes. Penyebab kemarahan Herodes adalah karena orang-orang majus tidak menuruti perkataannya. Herodes meminta orang majus menemui dan menyelidiki tentang Yesus dan kembali memberitahukan semua yang telah mereka ketahui karena ia ingin bertemu juga dengan-Nya (band. Matius 2:7-8). Ternyata, setelah orang-orang majus berjumpa dengan bayi Yesus beserta kedua orang tua-Nya, mereka tidak kembali menjumpai Herodes. Hal inilah yang membuat Herodes menjadi marah sehingga mengeluarkan maklumat untuk membunuh semua anak laki-laki yang berumur dua tahun ke bawah. Orang-orang majus tidak kembali ke Herodes sebab setelah berjumpa dengan bayi Yesus pikiran mereka diubah Tuhan. Orang-orang majus disadarkan, sehingga mereka tidak ingin berjumpa lagi dengan Herodes yang terkenal jahat dan kejam. Hal ini berarti ada perbedaan antara berjumpa Yesus (Anak Allah)  dengan Herodes (raja di dunia). Berjumpa bayi Yesus (Anak Allah) melahirkan rasa damai sejahtera. Sebaliknya, berjumpa Herodes (raja di dunia) tidak membuat adanya damai hati. Jadi, dari kisah ini kita dapat belajar, sekaligus memahami betapa penting dimilikinya damai hati dan kerinduan untuk berjumpa dengan juruselamat. Perjumpaan dengan  juruselamat menolong kita menemukan kebenaran. Mengetahui jalan mana yang Tuhan kehendaki untuk kita jalani. Yesus Sang Natalis menghendaki kita menjalani hidup dengan ciinta kasih dan tanpa kekerasan. Panggilan kita adalah menghidupkan bukan mematikan dan oleh sebab itu berusahalah agar terhindar dari perbuatan yang merusak atau mencelakakan orang lain. Pergunakanlah talenta dan kuasa yang ada pada kita untuk menghapus air mata, kesedihan dan keluh kesah orang lain.

Doa: Ya Tuhan, biarlah melalui Natal Kristus damai di hati ini tetap kami nikmati sepanjang hidup. Amin.      

Selasa, 27 Desember 2022                             

bacaan : Lukas 17 : 11 – 19   

Kesepuluh orang kusta
11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. 12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh 13 dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" 14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. 15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, 16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. 17 Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? 18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" 19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."

Yesus Berkuasa Menyembuhkan dan Menyelamatkan

Umumnya ketika manusia mengalami sakit yang dibutuhkan adalah kesembuhan. Atas dasar itulah, orang sakit selalu menjumpai dokter dan minum obat agar bisa cepat sembuh. Biasanya juga orang menghampiri Tuhan dalam doa meminta Ia menyembuhkan penyakit yang diderita. Hal yang sama dilakukan pula oleh kesepuluh orang kusta, sebagaimana terdapat dalam bacaan teks ini. Ketika mengetahui bahwa Yesus sementara menyusuri wilayah dimana mereka berada, kesepuluh orang kusta ini datang dan menjumpai-Nya. Tujuannya hanya satu, yakni agar Yesus menyembuhkan mereka dari sakit kusta yang dialami. Yesus kemudian menyuruh mereka memperlihatkan diri kepada para imam. Namun, di tengah jalan kesepuluh orang kusta ini mengalami kesembuhan. Sembilan dari sepuluh orang kusta yang disembuhkan Yesus, pergi tanpa berita. Hanya ada satu yakni orang Samaria yang kembali menemui Yesus, bersujud, bersyukur dan memuliakan Allah. Orang ini memang sudah sembuh dari sakit kusta yang ia alami. Namun ketika ia kembali lagi menjumpai Yesus untuk mengucap syukur, kepada-Nya dianugerahkan hal lain yang sangat berarti, yakni keselamatan. Kata Yesus: berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkanmu (ay.19). Ia tidak hanya sembuh, namun juga mengalami selamat. Hal ini disebabkan karena imannya. Ia sembuh dan selamat karena diyakininya bahwa Yesus bukan hanya menyembuhkannya. Yesus juga telah menyelamatkannya. Jadi, dari firman Tuhan ini kita diingatkan bahwa jangan hanya menjumpai Tuhan untuk apa yang kita inginkan atau butuhkan. Datanglah pada-Nya agar kita juga memahami apa yang dikehendaki-Nya bagi kita.  Jangan lupa untuk terus menjumpai Tuhan, bersyukur dan memuliakan-Nya agar Ia menganugerahkan baik kesembuhan maupun keselamatan. Yesus pasti memberi melebihi apa yang kita inginkan.

Doa: Ya Tuhan, kami bersyukur sebab berjumpa dengan-Mu, kami diberikan lebih dari yang kami minta dari-Mu. Amin.

Rabu, 28 Desember 2022                                 

bacaan : Matius 9 : 27 – 31 

Yesus menyembuhkan mata dua orang buta
27 Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: "Kasihanilah kami, hai Anak Daud." 28 Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" Mereka menjawab: "Ya Tuhan, kami percaya." 29 Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: "Jadilah kepadamu menurut imanmu." 30 Maka meleklah mata mereka. Dan Yesuspun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: "Jagalah supaya jangan seorangpun mengetahui hal ini." 31 Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu.

Percayalah Pada Yesus Dia-lah Juruselamat

Segala sesuatu yang kita lakukan pastinya dilatar-belakangi oleh apa yang disebut motivasi (daya dorong). Sama seperti dalam cerita Yesus menyembuhkan mata dua orang buta. Dua orang ini berjalan mengikuti Yesus sambil berseru “kasihanilah kami , hai anak Daud.  Tindakkan mereka yang berjalan mengikuti Yesus dalam keadaan buta, menjelaskan besarnya pengaruh motivasi. Mereka terdorong dan digerakkan oleh adanya keinginan untuk dijamah dan disembuhkan Yesus. Keinginan mereka untuk sembuh sangat kuat, sehingga menjadi berani masuk menjumpai Yesus dalam rumah dimana Ia berada. Kedua orang buta ini yakin bahwa Yesus dapat melakukan sesuatu untuk mata mereka yang tidak bisa melihat. Yesus tadinya sudah mendengar suara kedua orang buta ini, dan kini Yesus melihat lansung kedua orang buta tersebut datang dan menjumpai-Nya. Tentu, Yesus tahu bahwa kedua orang buta ini ingin dijamah dan disembuhkan oleh Yesus supaya bisa melihat. Yesus mendengar, melihat dan berkenen dengan upaya habis-habisan yang dilakukan kedua orang ini. Hal yang paling penting dari kisah ini adalah kedua orang tersebut terus mengikuti dan selalu berupaya menjumpai Yesus sebab mereka memiliki iman. Kedua orang tersebut sangat percaya bahwa dengan mengikuti Yesus, dan terus berupaya menjumpaiNya dalam iman, pasti Yesus akan menolong dan menyembuhkan. Keinginan untuk sembuh dari kebutaan didasarkan pada kesungguhan percaya. Keinginan tanpa iman tak pernah terwujud. Beriman tanpa berusaha mendekat pada Yesus pun sia-sia. Oleh sebab itu landaskanlah seluruh keinginan pada iman, teruslah berusaha untuk dekat pada Yesus dan terimalah anugerah-Nya. Yakinlah bahwa tak ada persoalan atau masalah yang lebih besar dari anugerah Tuhan. Jangalah kendorkan percayamu, Yesus pasti mendengar, melihat dan mengulurkan tangan kasih-Nya memberi pertolongan kepada kita.

Doa:  Ya Tuhan, kuatkan kami untuk tidak saja mengikuti-Mu, namun juga selalu menjumpai-Mu dengan iman teguh. Amin.

Kamis, 29 Desember 2022                            

bacaan : Yohanes 1 : 35 – 42

Murid-murid Yesus yang pertama
35 Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. 36 Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!" 37 Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. 38 Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu cari?" Kata mereka kepada-Nya: "Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?" 39 Ia berkata kepada mereka: "Marilah dan kamu akan melihatnya." Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. 40 Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. 41 Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)." 42 Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)."

Mengikuti Yesus dan Tinggal Bersama-Nya

Meskipun saya susah, menderita dalam dunia, saya mau ikut Yesus sampai slama-lamanya. Demikian penggalan syair lagu saya mau ikut Yesus. Kita boleh mengajukan pertanyaan mengapa harus Yesus bukan yang lain? Jawaban atas pertanyaan in adalah karena sesungguhnya Yesus adalah Anak Domba Allah. Dia-lah Sang Penebus dosa manusia dan dunia. Yesus adalah Rabi (Guru),  juga Mesias (yang diurapi). Mengikuti Yesus adalah pilihan yang menyelamatkan oleh sebab itu perlu dilakukan dengan pergumulan iman. Perlu kejelasan siapa sesungguhnya yesus, apa yang dikerjakan-Nya dan di mana Ia tinggal. Para murid tidaklah mengikuti Yesus karena ikut-ikutan atau terpaksa tapi atas dasar dimilikinya kesadaran. Mereka sadar dan rela untuk datang dan melihat lalu tinggal bersama-Nya. Kehidupan Yesus itu terbuka, tidak tertutup atau tersembunyi. Mengikuti Yesus ditopang pula dengan kepastian. Inilah maksudnya Yesus berkata: “marilah dan kamu akan melihatnya.” Mereka datang dan lihat, sehingga mengalami sendiri apa yang sudah didengar dari orang lain tentang diri-Nya. Mengikuti Yesus tidak boleh terjadi hanya karena dengar kata orang. Kita harus berjumpa secara langsung dengan Yesus dan tinggal bersama-Nya. Tetaplah pada kerelaan mengikuti Yesus dan tinggallah bersama Dia di penghujung tahun ini. Tinggallah bersama Yesus Sang Penyelamat, bukan dengan keraguan, kesombongan, tipu daya, kemalasan dan keragu-raguan. Kita juga terpanggil untuk datang dan lihat kenyataan sesungguhnya dari saudara, teman bahkan sesama manusia. Jalanilah hidup beriman dengan kepastian, jangan pada “dengar kata orang”. Datanglah dan lihat sendiri serta tinggallah bersama Yesus.

Doa: ya Yesus Penyelamat, datanglah dan tinggal bersama kami.  Amin.

Jumat, 30 Desember 2022                            

bacaan : Yohanes 1 : 43 – 51

43 Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" 44 Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. 45 Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." 46 Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" 47 Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" 48 Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." 49 Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" 50 Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." 51 Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia."

Tetaplah Hidup Sebagai Murid Yesus

Kita semakin mendekat pada penghujung tahun ini dan berkesempatan untuk terus belajar memahami pesan di balik kisah Yesus memanggil murid-Nya yang pertama. Yesus telah memasuki Galilea, tempat ia akan melayani. Ia tidak melayani seorang diri, tapi bersama para murid. Tahun ini akan segera diakhiri tapi pelayanan kita tak akan pernah selesai. Nas hari ini merupakan suguhan pelajaran agar kita layak mengakhiri tahun ini sebagai pengikut Yesus atau murid-Nya. Pertama, tahun ini tak boleh diakhiri dengan keraguan. Manusia dapat meragukan baik hidupnya sendri maupun Tuhan. Natanael pernah meragukan Yesus. “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”. Mungkinkah Tuhan masih berkenan menyatakan kebaikan-Nya di penghujung tahun ini? Selamatkah kita mengakhiri tahun ini dan baik-baik saja di tahun depan? Apakah kesehatan, karier, pekerjaan, ekonomi dan hidup kita tetap berlangsung dalam jaminan pertolongan Tuhan? Mari tunduk dan diam sejenak di penghujung tahun ini merenungkan hidup dan kemurahan Tuhan. Kemurahan Tuhan tak akan berakhir, percayalah pada-Nya dan jangan ragu. Kedua, akhirilah tahun ini dalam pengakuan akan kemahakuasaan Allah. Keraguan Natanael ternyata ia selesaikan dengan cara “datang dan lihat” Yesus. Ia mendekat pada Yesus dan keraguannya diselesaikan. Ternyata, tanpa diketahui, yesus mengenal hidupnya. Yesus mengenal pula hidup kita masing-masing. Tak ada yang tersembunyi atau luput dari tilikkan-Nya. Mohonlah agar kehendak-Nya jadi atas hidup kita di penghujung tahun ini. Akuilah kebaikkan-Nya dan muliakanlah Dia dengan hidupmu. Ketiga, yakinlah bahwa Yesus akan membuat kita melihat atau menyingkapkan hal-hal yang belum pernah diketahui sebelumnya. Tahun depan masih menjadi rahasia, tapi Yesus akan memberi hikmat, pengertian, dan kuasa untuk memasukinya. Tuhan tak akan membiarkan kita pergi kalau Ia tidak menyertai.   

Doa:  Tuhan, datanglah dan lihat hidup kami, berilah pengasihan-MU. Amin.

Sabtu, 31 Desember 2022                             

bacaan : Mazmur 118 : 1 – 29

Nyanyian puji-pujian
Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. 2 Biarlah Israel berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" 3 Biarlah kaum Harun berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" 4 Biarlah orang yang takut akan TUHAN berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" 5 Dalam kesesakan aku telah berseru kepada TUHAN. TUHAN telah menjawab aku dengan memberi kelegaan. 6 TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? 7 TUHAN di pihakku, menolong aku; aku akan memandang rendah mereka yang membenci aku. 8 Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada manusia. 9 Lebih baik berlindung pada TUHAN dari pada percaya kepada para bangsawan. 10 Segala bangsa mengelilingi aku--demi nama TUHAN, sesungguhnya aku pukul mereka mundur. 11 Mereka mengelilingi aku, ya mengelilingi aku--demi nama TUHAN, sesungguhnya aku pukul mereka mundur. 12 Mereka mengelilingi aku seperti lebah, mereka menyala-nyala seperti api duri, --demi nama TUHAN, sesungguhnya aku pukul mereka mundur. 13 Aku ditolak dengan hebat sampai jatuh, tetapi TUHAN menolong aku. 14 TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku. 15 Suara sorak-sorai dan kemenangan di kemah orang-orang benar: "Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan, 16 tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!" 17 Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN. 18 TUHAN telah menghajar aku dengan keras, tetapi Ia tidak menyerahkan aku kepada maut. 19 Bukakanlah aku pintu gerbang kebenaran, aku hendak masuk ke dalamnya, hendak mengucap syukur kepada TUHAN. 20 Inilah pintu gerbang TUHAN, orang-orang benar akan masuk ke dalamnya. 21 Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku. 22 Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. 23 Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita. 24 Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya! 25 Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran! 26 Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN! Kami memberkati kamu dari dalam rumah TUHAN. 27 Tuhanlah Allah, Dia menerangi kita. Ikatkanlah korban hari raya itu dengan tali, pada tanduk-tanduk mezbah. 28 Allahku Engkau, aku hendak bersyukur kepada-Mu, Allahku, aku hendak meninggikan Engkau. 29 Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

Bersyukur di Penghujung Tahun.

Sebegini jauh Tuhan telah menuntun kita dengan kemurahan-Nya dan tiba di hari terakhir tahun 2022. Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya! (ayat 24). Pemazmur bersyukur karena ia sudah mengalami kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Ia mengaktakan rasa syukurnya dalam kesadaran iman bahwa dirinya adalah hamba atau pelayan Tuhan, orang yang takut akan Tuhan dan orang benar. Mari akhiri tahun ini seturut ajakan pemazmur. Pertama, bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik. Kasih setia-Nya tetap untuk selama-lamanya. Kedua akuilah kebaikan-Nya dengan cara merenung masa-masa sulit yang pernah dialami. Kebaikan Tuhan terbukti saat kita mengalami kesesakan. Kita seakan sedang melintasi lorong sempit kehidupan, mengalami jalan buntu atau tak ada jalan keluar. Tak ada jalan keluar dari berbagai masalah baik kesehatan, ekonomi, pendidikan, direndahkan, ditolak, dibenci maupun kehilangan harmoni dan sukacita dalam keluarga.  Pemazmur ternyata mengatasi kesesakan dengan cara berseru pada Tuhan. Tuhan berpihak kepadanya, menjawab dengan memberi kelegaan. Ia meluputkan, memberi kekuatan,  keperkasaan, mengajar dan menjadikan pemazmur sebagai alat-Nya. Kebaikan Tuhan tidak saja dialami ketika sukses, sehat, dan kuat. Tuhan menyatakan kebaikan-Nya dalam masa hidup yang tenang dan tegang.  Mari belajar untuk tidak; melupakan Tuhan saat sukses dan kenyang serta menghina-Nya kala gagal atau lapar.  Ketiga, akhirilah tahun ini dengan mengikuti teladan pemazmur yang bermohon: ya Tuhan, berilah kiranya keselamatan! Ya Tuhan berilah kiranya kemujuran. Sungguh alangkah indah dan baiknya bila kita semua selamat dan mengalami kemujuran. Tahun ini semoga tidak diakhiri dengan keburukan, kejahatan, kebinasaan dan kegagalan. Akhirnya, yakinlah bahwa hari terakhir tahun ini adalah hari yang diberkati Tuhan. Tuhan pasti memberkati kita melewati titian hidup ini.

Doa: ya Penunggu jalan zaman, terimalah syukur kami di hari ini. Amin.

*SUMBER : SHK Bulan DESEMBER 2022, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 18-24 Desember 2022

Minggu, 18 Desember 2022                             

bacaan : Yesaya 11 : 1 – 10

Raja Damai yang akan datang
Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. 2 Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; 3 ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. 4 Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik. 5 Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang. 6 Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. 7 Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. 8 Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. 9 Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya. 10 Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.

Raja Damai

Damai itu indah, merupakan penggalan kalimat yang sudah tidak lazim lagi di pendengaran kita. Kata damai sendiri merujuk pada suatu situasi yang kondusif, aman dan tentram. Gambaran situasi seperti inilah yang mejadi harapan setiap orang secara pribadi, kehidupan keluarga, bergereja, bermasyarakat bahkan berbangsa. Situasi damai juga tidak terlepas dari peranan para pemimpin seperti yang diungkapkan oleh Yesaya dalam perikop bacaan kita yakni Raja Damai yang akan datang. Bagian ini menubuatkan tentang akan datangnya seorang Raja dan kedatangan-Nya itu  memberikan kedamaian. Raja yang dinubuatkan itu berasal dari keturunan Isai ayah Daud (ay. 1). Roh Tuhan ada padanya…..seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang (ay. 2-5), adalah gambaran hikmat yang dimiliki oleh sang Raja. Kepribadian-Nya sama sekali tidak menyimpang dari kebenaran. Bahkan kehadiran-Nya berdampak positif dan membawa kedamaian seperti yang dilukiskan dengan gambara; serigala akan tinggal bersama domba…..dan anak yang cerai susunya akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak (ay. 6-8). Jenis binatang buas yang digambarkan, tidak lagi menjadi ancaman melainkan hidup berdampingan satu dan lainnya dengan penuh kedamaian. Semua yang mendiami bumi seakan hidup dalam pengenalan akan Allah dan tidak ada lagi perbuatan yang jahat. Bacaan Yesaya 11:1-10 menolong kita untuk memahami situasi ketika kedatangan Raja yang telah dinubuatkan. Ketenteraman dan keamanan akan menjadi bagian dalam menjalani hari-hari kehidupan. Menjalani masa penantian selama minggu Advent IV ini, sebagai umat Allah kita diajak untuk mempersiapkan diri agar tetap setia  menyambut kehadiran Sang Raja Damai. Kita menyambut-Nya dengan hidup yang berdamai. Berdamai dengan diri sendiri, sesama bahkan alam semesta. Ingatlah bahwa Raja Damai yang kita nantkan itu akan datang dalam kekudusan dan kemuliaan.

Doa:  Ya Tuhan, Kami bersyukur atas hadir-Mu yang membawa damai. Amin

Senin, 19 Desember 2022                                   

bacaan : Mikha 4 : 1 – 5

Sion sebagai pusat kerajaan damai
Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung rumah TUHAN akan berdiri tegak mengatasi gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; bangsa-bangsa akan berduyun-duyun ke sana, 2 dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan firman TUHAN dari Yerusalem." 3 Ia akan menjadi hakim antara banyak bangsa, dan akan menjadi wasit bagi suku-suku bangsa yang besar sampai ke tempat yang jauh; mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. 4 Tetapi mereka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya dengan tidak ada yang mengejutkan, sebab mulut TUHAN semesta alam yang mengatakannya. 5 Biarpun segala bangsa berjalan masing-masing demi nama allahnya, tetapi kita akan berjalan demi nama TUHAN Allah kita untuk selamanya dan seterusnya.

Jadilah Bermakna

Dalam kondisi yang terpuruk seringkali kita berharap agar dapat keluar dengan selamat dari situasi itu. Keterpurukan dapat saja melanda siapapun baik pribadi, keluarga, masyarakat dan lain sebagainya. Bangsa Israel pernah pula mengalami keterpurukkan, yakni ketika mereka berada di bawah kendali kekuasaan bangsa lain dan mengalami pembuangan. Selain dibuang dalam pembuangan di Babel, mereka juga mengalami diaspora atau tercerai berai ke berbagai tempat. Namun nabi Mikha hadir dengan nubuatannya saat itu umat Israel di tindas bahkan harus meninggalkan Yerusalem, akan tetapi pada saatnya nanti semua orang akan yang memberitakan tentang harapan bagi umat Allah. Meskipun pada kembali ke negeri pemberian Allah itu. Nabi Mikha juga menggambarkan saat dimana ketika orang Yehuda pulang dan membangun kembali Yerusalem dan Bait Suci yang sebelumnya telah diruntuhkan oleh bangsa lain. Demikianlah Sion akan menjadi pusat kerajaan damai. Artinya bahwa ada saatnya dimana tidak ada lagi peperangan melainkan kedamaian. Seperti Sion yang menjadi pusat kerajaan damai, demikian juga dengan kehidupan kita sebagai orang percaya. Supaya dengan keberadaan kita orang lain pun dapat merasakan kehidupan yang tenteram, nyaman serta penuh dengan sukacita. Intinya, kehadiran kita dapat memberikan rasa damai bagi kehidupan sesama. Jangan biarkan kehidupan kita dipenuhi dengan perselisihan, kebencian, amarah dan dendam. Semuanya justru akan menjauhkan hati dan pikiran kita dari damai itu sendiri. Biarlah dengan menciptakan kehidupan yang penuh dengan damai sejahtera yang berasal dari Allah, hidup kita semakin berarti di dalam keluarga, hidup bergereja maupun kehidupan bermasyarakat. Jadilah bermakna dan siapkanlah hati kita sebagai umat Allah dalam menyambut datangnya Sang pembawa damai.

Doa:  Ya Tuhan, tolonglah kami agar menjadi berarti dengan memberikan kedamaian, amin 

Selasa, 20 Desember 2022                            

bacaan : Mazmur 85 : 9 – 14

8 (85-9) Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan? 9 (85-10) Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. 10 (85-11) Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. 11 (85-12) Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. 12 (85-13) Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. 13 (85-14) Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.

Allah Sumber Kedamaian

Hidup damai artinya menjalani atau mengalami kehidupan tanpa adanya permusuhan dan perselisihan melainkan ketenangan batin. Oleh karena itu tidak heran pemazmur menaikan doa kepada Tuhan memohon pemulihan atas Israel. Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah….(ay. 9). Perkataan ini menjelaskan keyakinan pemazmur yang mengakui kedaulatan Allah sebab setiap perkataan-Nya atau yang difirmankan-Nya mengandung kedamaian. Namun untuk mendapatkan situasi atau kondisi yang penuh dengan kedamaian bahkan keselamatan, haruslah didasari pada rasa takut akan Tuhan. Rasa takut akan Tuhan pula akan menghasilkan kasih, kesetiaan, keadilan, kebaikan dan damai sejahtera. Semua yang baik dan benar serta mengandung damai, semata-mata hanya bersumber dari Allah. Sebab itu sebagai orang-orang yang percaya sudah seharusnya memiliki pemahaman untuk menciptakan rasa damai. Tentu saja hal ini harus dimulai dari diri sendiri, keluarga maupun kehidupan bersama dengan kesadaran membangun hidup dalam rasa takut akan Tuhan. Dikatakan demikian karena sesungguhnya pemicu hilangnya kedamaian dapat bersumber dari orang lain tetapi juga dari dalam diri sendiri. Potensi hilangnya damai juga bersumber dari sikap, tutur kata dan tindakan atau perbuatan kita yang semena-mena. Sebagaimana pemazmur yang memohon pemulihan untuk mendapatkan kedamaian, demikian juga mengajarkan kepada kita untuk terus berdoa agar dapat terciptanya kehidupan yang damai. Ingatlah bahwa  Allah mampu memberikan kedamaian bagi kita, meski ada dalam keadaan seburuk apapun itu. Jadi takutlah akan Tuhan sambil terus berdoa kepada Allah, agar hati dan batin bahkan kehidupan dengan sesama terus merasakan kedamaian. Jalanilah  minggu Advent IV ini dengan damai yang bersumber dari Allah.

Doa: Tuhan Yesus sumber damai, anugerahkanlah kedamaian bagi kami  umat-Mu. Amin.

Rabu, 21 Desember 2022                                 

bacaan : Yesaya 54 : 1 – 10

Perjanjian damai dengan Sion
Bersorak-sorailah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembiralah dengan sorak-sorai dan memekiklah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami, firman TUHAN. 2 Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu! 3 Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan mendiami kota-kota yang sunyi. 4 Janganlah takut, sebab engkau tidak akan mendapat malu, dan janganlah merasa malu, sebab engkau tidak akan tersipu-sipu. Sebab engkau akan melupakan malu keremajaanmu, dan tidak akan mengingat lagi aib kejandaanmu. 5 Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya; yang menjadi Penebusmu ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi. 6 Sebab seperti isteri yang ditinggalkan dan yang bersusah hati TUHAN memanggil engkau kembali; masakan isteri dari masa muda akan tetap ditolak? firman Allahmu. 7 Hanya sesaat lamanya Aku meninggalkan engkau, tetapi karena kasih sayang yang besar Aku mengambil engkau kembali. 8 Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, firman TUHAN, Penebusmu. 9 Keadaan ini bagi-Ku seperti pada zaman Nuh: seperti Aku telah bersumpah kepadanya bahwa air bah tidak akan meliputi bumi lagi, demikianlah Aku telah bersumpah bahwa Aku tidak akan murka terhadap engkau dan tidak akan menghardik engkau lagi. 10 Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau.

Sambutlah Dia!

Bacaan hari ini, menyatakan kepada kita bahwa segala hal akan berlalu, tetapi kasih setia Tuhan dan perjanjian damai-Nya tinggal tetap, dan tidak akan berubah bagi kita. Kasih setia Tuhan itulah landasan hidup kita, atau tempat kita berlabuh. Ingatlah bahwa perjanjian damai-Nya tetap menyertai kita, bahkan dalam badai sekalipun. Badai kehidupan bisa datang silih berganti, tetapi perjanjian damai-Nya tetap ada bagi kita. Karena itu, mari kita andalkan kasih setia-Nya dan perjanjian damai-Nya. Semua itu akan tinggal tetap, atau selalu menjadi milik kita. Mari berpegang pada Firman Tuhan. Percaya pada rancangan, janji dan petunjuk-Nya. Karena Dia Tuhan yang dapat kita andalkan. Perbuatan-Nya ajaib tak perlu diragukan. Dia tidak akan pernah salah, ingkar janji, atau lalai menjaga dan melindungi kita. Ia akan menuntun kita melewati berbagai musim dan memimpin menuju kasih dan kebaikan serta menikmati perjanjian damai-Nya. Saat kita menantikan janji Tuhan untuk waktu yang lama, terkadang timbul pertanyaan-pertanyaan dalam hati. Apakah mungkin kita belum menerima janji itu karena sudah melakukan kesalahan? Ya, setiap pelanggaran ada konsekuensinya. Namun harus dipahami bahwa kasih Allah jauh lebih besar dari segala dosa dan pelanggaran kita. Dia tahu kita ini manusia lemah yang tidak luput dari kesalahan. Selama ada kesungguhan untuk tidak mengulangi kesalahan, kemudian  belajar hidup kudus serta berusaha mentaati perkataan-Nya, akan selalu ada anugerah dan kasih karunia yang dilimpahkan-Nya atas kita. Itulah sebabnya janji-Nya tidak tergoyahkan. Sambutlah Dia, Tuhan pembawa damai dengan pengharapan karena Dia tidak pernah mengecewakan.

Doa: Ya Tuhan, siapkan kami untuk menyambut kedatangan-Mu. Amin.

Kamis, 22 Desember 2022                                   

bacaan : Yohanes 14 : 27

27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

Yesus Sumber Damai Sejahtera

 Seorang sahabat menceritakan kepada saya bahwa selama bertahun-tahun ia mencari kedamaian dan kepuasan hati. Ia dan suaminya membangun usaha yang sukses sehingga mampu membeli rumah besar, pakaian mewah, dan perhiasan mahal. Namun, semua harta dan pertemanannya dengan orang-orang yang berpengaruh tidak juga memuaskan kerinduan hatinya akan kedamaian. Lalu suatu hari, ketika ia merasa terpuruk dan putus asa, seorang teman membawakannya kabar baik tentang Yesus Kristus. Saat itulah ia bertemu dengan Sang Raja Damai, dan pemahamannya tentang arti kedamaian dan kepuasan yang sejati pun berubah selamanya. Yesus berbicara tentang damai sejahtera yang sejati itu kepada para sahabat-Nya. Yesus menyatakan bahwa damai sejahtera yang diberikan-Nya tidak seperti yang diberikan dunia ini. Pernyataan itu menegaskan keinginan-Nya agar para murid tetap mengalami damai sejahtera sekalipun kesulitan mendera mereka. Damai sejahtera yang berasal dari Roh Kudus tidak sama dengan damai yang diberikan oleh dunia. Damai daripada-Nya melampaui segala harta atau apa pun yang menjanjikan jaminan bagi hari depan kita. Ketika kita dengan sungguh-sugguh mengandalkan Roh Kudus, penyertaan-Nya dalam setiap langkah hidup  akan semakin nyata. Kita pun boleh semakin yakin terhadap janji-Nya dan percaya bahwa Dia turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan. Yakinlah bahwa hati kita akan dipenuhi dengan kedamaian dan rasa syukur karena bisa melihat dan merasakan betapa melimpah berkat-Nya. Hidup kita akan menjadi lebih indah dan juga menjadi berkat bagi banyak orang lainnya.

Doa:  Ya Tuhan,  mampukan kami membawa Damai Sejahtera-Mu dalam hidup sehari-hari. Amin.

Jumat, 23 Desember 2022                               

bacaan : Imamat 26 : 1 – 13

Berkat
"Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah TUHAN, Allahmu. 2 Kamu harus memelihara hari-hari Sabat-Ku dan menghormati tempat kudus-Ku, Akulah TUHAN. 3 Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya, 4 maka Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya. 5 Lamanya musim mengirik bagimu akan sampai kepada musim memetik buah anggur dan lamanya musim memetik buah anggur akan sampai kepada musim menabur. Kamu akan makan makananmu sampai kenyang dan diam di negerimu dengan aman tenteram. 6 Dan Aku akan memberi damai sejahtera di dalam negeri itu, sehingga kamu akan berbaring dengan tidak dikejutkan oleh apapun; Aku akan melenyapkan binatang buas dari negeri itu, dan pedang tidak akan melintas di negerimu. 7 Kamu akan mengejar musuhmu, dan mereka akan tewas di hadapanmu oleh pedang. 8 Lima orang dari antaramu akan mengejar seratus, dan seratus orang dari antaramu akan mengejar selaksa dan semua musuhmu akan tewas di hadapanmu oleh pedang. 9 Dan Aku akan berpaling kepadamu dan akan membuat kamu beranak cucu serta bertambah banyak dan Aku akan meneguhkan perjanjian-Ku dengan kamu. 10 Kamu masih akan makan hasil lama dari panen yang lampau, dan hasil lama itu akan kamu keluarkan untuk menyimpan yang baru. 11 Aku akan menempatkan Kemah Suci-Ku di tengah-tengahmu dan hati-Ku tidak akan muak melihat kamu. 12 Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku. 13 Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, supaya kamu jangan lagi menjadi budak mereka. Aku telah mematahkan kayu kuk yang di atasmu dan membuat kamu berjalan tegak."

Karya Pembebasan adalah Anugerah

Karya pembebasan Allah adalah bukti bahwa Ia menolong dan menyelamatkan bangsa Israel. Perbudakan di Mesir menjadi pengalaman tak terlupakan. Mereka dibebani dengan tanggung jawab kerja yang melelahkan. Mereka tidak memperoleh imbalan memadai; diperlakukan di luar batas kemanusiaan. Mereka tidak bisa menjalani kehidupan keluarga yang menggembirakan dan kehilangan waktu beribadah. Segala beban itu terlepas ketika Tuhan campur tangan dengan cara-Nya yang ajaib. Penegasan kehadiran Allah yang membebaskan menjadi penting bagi bangsa Israel. Allah hadir untuk membebaskan umat pilihan-Nya dari perbudakkan. Kebebasan mereka bukan karena kesempatan yang terbuka luas. Mereka bebas bukan karena kemampuan berjuang, tetapi semata anugerah Allah. Allah mengutus dan memperlengkapi Musa dan Harun sebagai alat untuk menyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya. Beban kerja dan segala intimidasi yang diibaratkan dengan ’kuk kayu’ sudah dipatahkan. Bangsa Israel tidak lagi berjalan sebagai orang upahan atau budak kasar. Mereka memperoleh martabat kemanusiaan penuh sebagai bangsa merdeka. Tuhan telah melepaskan mereka dari penderitaan panjang di Mesir untuk bereangkat ke tanah yang dijanjikan. Tanah yang diberkati serta yang berlimpah susu dan madu. Allah setia atas perjanjian-Nya sehingga bangsa Israel tidak dilupakan dan dibiarkan dalam kesengsaraan selamanya. Anugerah-Nya selalu ada bagi kita yang bersedia menyambut kedatangan-Nya. Tinggal menghitung jam kita akan masuk dalam persiapan menyambut Sang Natalis. Sambutlah Dia yang sudah memberi kebebasan itu dengan sukacita dan sorak-sorai.

Doa: Tuhan, terima kasih untuk karya pembebasan-Mu dalam hidup kami.  Amin.   

Sabtu, 24 Desember 2022                               

bacaan : Yesaya 60 : 15 – 22

15 Sebagai ganti keadaanmu dahulu, ketika engkau ditinggalkan, dibenci dan tidak disinggahi seorangpun, sekarang Aku akan membuat engkau menjadi kebanggaan abadi, menjadi kegirangan turun-temurun. 16 Engkau akan mengisap susu bangsa-bangsa dan akan meminum susu kerajaan-kerajaan maka engkau akan mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Juruselamatmu, dan Penebusmu, Yang Mahakuasa, Allah Yakub. 17 Sebagai ganti tembaga Aku akan membawa emas, dan sebagai ganti besi Aku akan membawa perak, sebagai ganti kayu, tembaga, dan sebagai ganti batu, besi; Aku akan memberikan damai sejahtera dan keadilan yang akan melindungi dan mengatur hidupmu. 18 Tidak akan ada lagi kabar tentang perbuatan kekerasan di negerimu, tentang kebinasaan atau keruntuhan di daerahmu; engkau akan menyebutkan tembokmu "Selamat" dan pintu-pintu gerbangmu "Pujian". 19 Bagimu matahari tidak lagi menjadi penerang pada siang hari dan cahaya bulan tidak lagi memberi terang pada malam hari, tetapi TUHAN akan menjadi penerang abadi bagimu dan Allahmu akan menjadi keagunganmu. 20 Bagimu akan ada matahari yang tidak pernah terbenam dan bulan yang tidak surut, sebab TUHAN akan menjadi penerang abadi bagimu, dan hari-hari perkabunganmu akan berakhir. 21 Pendudukmu semuanya orang-orang benar, mereka memiliki negeri untuk selama-lamanya; mereka sebagai cangkokan yang Kutanam sendiri untuk memperlihatkan keagungan-Ku. 22 Yang paling kecil akan menjadi kaum yang besar, dan yang paling lemah akan menjadi bangsa yang kuat; Aku, TUHAN, akan melaksanakannya dengan segera pada waktunya.

Pemulihan Tuhan Tergenapi

 Allah memakai nabi Yesaya untuk mengingatkan bangsa Israel supaya menunggu dan bersabar. Ia berjanji akan memulihkan umat-Nya. Mereka yang ditinggalkan, dibenci, dan bahkan dipandang hina, nantinya akan dihormati (15). Mereka akan diberi kemakmuran sebagai ganti kesengsaraan dan kelaparan(16-17). Kekerasan tidak akan lagi menimpa mereka dan hanya Allah sajalah yang akan menjadi penerang abadi mereka (18-20). Mereka akan memiliki negeri untuk selama-lamanya dan keturunan mereka akan menjadi bangsa yang kuat (21-22). Nubuatan-nubuatan Allah ini disampaikan nabi Yesaya agar umat Israel dapat percaya kepada-Nya. Allah tidak akan meninggalkan bangsa pilihan-Nya. Allah selalu menyertai mereka dalam keadaan apa pun, apalagi saat mereka mengalami penderitaan dan seolah tak ada jalan keluar. Allah hanya menghendaki agar mereka senantiasa mengandalkan-Nya, sebab hanya Dia satu-satunya yang memberi pertolongan. Allah akan menjadi terang abadi dan menjadi Tuhan yang kita agungkan. Dialah Tuhan dan Juruselamat,  Penebus kita satu-satunya. Tuhan memanggil kita untuk hidup dengan pengharapan akan dunia baru, yang memiliki  cara pandang berbeda dari dunia dimana kita hidup kini dan di sini. Persiapkanlah hidup baik pribadi maupun keluarga untuk menyambut hadirnya Sang juruselamat yaitu Yesus Sang Natalis. Yesus akan datang segera dalam keagungan-Nya. Kita pasti dipakai-Nya juga sebagai alat untuk menyatakan keagungan-Nya. Nantikanlah Yesus dengan pujian, kesederhaan, tanpa kekerasan, dan persembahan syukur sesuai apa yang ada padamu. Yesuslah Tuhan kita, juruselamat dan Penebus Yang Mahakuasa. Sang Natalis pasti datang segera dengan damai sejahtera dan keadilan, Ia melindungi dan mengatur hidup kita.

Doa:  Tuhan Yesus, tolonglah agar kami layak menyambut-Mu.  Amin.

*SUMBER : SHK Bulan DESEMBER 2022, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 11-17 Desember 2022

Minggu, 11 Desember 2022                              

bacaan : Lukas 1 : 46 – 56

Nyanyian pujian Maria
46 Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, 47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, 48 sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, 49 karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. 50 Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. 51 Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; 52 Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; 53 Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; 54 Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, 55 seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." 56 Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.

Jiwaku Memuliakan Tuhan dan Hatiku Bergembira Karena Allah Juruselamatku

Kita bersukacita dan bersyukur karena minggu Advent III telah dijalani. Hidup kita dianugerahi kekuatan, kesehatan dan berkat dan oleh sebab itu Tuhan layak dimuliakan. Nas hari ini, Lukas 1:46-56, mengisahkan akta memuliakan Tuhan yang dilakukan oleh Maria ibu Yesus. Maria mengaktakannya secara spontan sebagai tanggapan atas rencana dan tindakkan Allah. Allah memakai Maria menjadi alat-Nya untuk menyelamatkan manusia dan dunia. Malaekat Gabriel disuruh ke Nazaret untuk bertemu Maria yang bertunangan dengan Yusuf dan menyampaikan bahwa ia akan melahirkan anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Dia akan disebut Anak Allah yang Maha Tinggi. Roh Kudus akan turun ke atas Maria dan Anak yang dilahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Maria memuliakan Tuhan dan bergembira karena Allah, juruselamatnya. Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya, melakukan perbuatan besar dan rahmat-Nya turun temurun atas orang-orang yang takut akan Dia. Kuasa-Nya diperlihatkan dan orang yang congkak hatinya dicerai-beraikan. Ia menurunkan orang-orang berkuasa, melimpahkan segala yang baik kepada orang lapar dan menolong Israel  karena jani-Nya tak pernah dilupakan. Maria adalah contoh hidup, Ia mampu memahami maksud Tuhan dan hidup dalam relasi yang harmonis dengan kerabatnya. Kiranya minggu Advent III ini terus kita jalani sebagai orang percaya yang rendah hati, memahami maksud Tuhan, hidup damai dengan semua orang dan memberi diri dipakai menjadi alat penyelamatan-Nya. Hayatilah teladan iman Maria, teruslah bergembira dan muliakanlah Tuhan, baik dengan kata maupun tindakkan kita.

Doa: Tuhan, mampukanlah kami untuk dapat memuliakan-Mu. Amin.

Senin, 12 Desember 2022                                

bacaan : Mazmur 92 : 1 – 5

TUHAN, Hakim yang adil
Mazmur. Nyanyian untuk hari Sabat. (92-2) Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi, 2 (92-3) untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi dan kesetiaan-Mu di waktu malam, 3 (92-4) dengan bunyi-bunyian sepuluh tali dan dengan gambus, dengan iringan kecapi. 4 (92-5) Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya TUHAN, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak-sorai.

Bersukacita Karena Pekerjaan Tuhan

Pemazmur menyaksikan hidup yang bersukacita dan akta iman ini layak kita teladani selama menjalani minggu Advent III. Hidup hendaknya kita lakoni dengan bersukacita bukan sedih, kecewa, bersungut, berbantah, putus asa, kuatir dan bimbang. Ada begitu banyak tanggung jawab yang mesti kita emban dan karenanya kita memerlukan kekuatan. Bersukacita adalah kekuatan atau daya hidup yang menggerakkan seluruh tanggung jawab dan membuat kita berhasil. Mari simak dengan saksama alasan atau sebab pemazmur bersukacita. Ia tidak bersukacita karena alasan yang manusiawi atau bendawi, tapi ilahi. Kita memang dapat bersukacita karena harta, kepintaran, jabatan, kecantikan dll, namun semua itu bukanlah segala-galanya. Alasan bersukacita yang sesungguhnya atau sejati adalah karena pekerjaan Tuhan. Tuhanlah pencipta langit dan bumi dengan segala isinya. Kita hidup dan berkarya karena kebaikan Tuhan yang tersedia pada seluruh ciptaan-Nya. Udara memungkinkan kita bernafas, tanah tempat  berpijak dan melakukan semua aktifitas, hujan yang membasahi dan menyejukkan juga menjamin ketersediaan air. Pandanglah laut yang membiru dengan gelombangnya atau hijaunya hutan karena segala kelimpahannya.  Hidup tak akan  ada artinya tanpa pekerjaan Tuhan. Pekerjaan Tuhan adalah wujud sempurna kebaikan dan atas dasar itu pemazmur berkata adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada-Nya. Ia memandang baik pula untuk menyanyikan mazmur bagi Yang Mahatinggi dan memberitakan kasih setia-Nya di waktu pagi dan malam. Kebaikkan Tuhan dalam pekerjaan-Nya tak akan berakhir dan oleh sebab itu jangan pula lenyap kesukacitaan dalam hidupmu. 

Doa: ya Tuhan, biarlah kami tetap bersukacita karena pekerjaan-Mu. Amin.

Selasa 13 Desember 2022                        

bacaan : 2 Tawarikh 6 : 40 – 42 

40 Sebab itu, ya Allahku, kiranya mata-Mu terbuka dan telinga-Mu menaruh perhatian kepada doa yang dipanjatkan di tempat ini. 41 Dan sekarang, bangunlah ya TUHAN Allah, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu! Kiranya, ya TUHAN Allah, imam-imam-Mu berpakaian keselamatan, dan orang-orang yang Kaukasihi bersukacita karena kebaikan-Mu. 42 Ya TUHAN Allah, janganlah Engkau menolak orang yang telah Kauurapi, ingatlah akan segala kasih setia-Mu kepada Daud, hamba-Mu itu."

Bersukacita Karena Kehadiran Tuhan

Salomo dan bangsa Israel sukses menyelesaikan pembangunan Bait Allah serta mentahbiskannya. Mereka bersukacita dan bersyukur karena hal itu dan yang lebih penting karena meyakini bahwa Tuhan mendengar permohonan dan berkenan hadir. Menyelesaikan dan mentahbiskan Bait Allah bukanlah yang utama. Kehadiran Allah di dalamnya itulah yang utama. Bait Allah tanpa kehadiran Tuhan kehilangan artinya. Kehadiran Tuhan dalam Bait-Nya adalah hal yang menentukan dan oleh sebab itu Salomo bersama segenap bangsa Israel memanjatkan permohonan mereka. Nas hari ini dimulai dengan ungkapan: sebab itu ya Allahku, kiranya mata-Mu terbuka, dan telinga-Mu menaruh perhatian kepada doa yang dipanjatkan di tempat ini (ayat 40). Permohonan selanjutnya adalah dan sekarang, bangunlah ya Tuhan Allah, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu. Inilah pelajaran tentang betapa pentingnya kehadiran Tuhan di tempat perhentian-Nya. Bait suci yang telah selesai dibangun dan ditahbiskan haruslah dijadikan tempat perhentian Tuhan. Kita boleh sukses menikahi kekasih idaman dalam pesta yang gemerlap, tapi tanpa kehadiran Tuhan dalam suatu pernikahan, besar risikonya. Siapapun boleh bermegah karena telah sukses membangun rumah tempat kediaman, namun bila Tuhan tidak hadir di dalamnya, sia-sialah semua itu. Jabatan dan posisi hebat boleh diraih, namun kelanjutan dan artinya terpelihara bila Tuhan hadir. Tapakilah hari-hari hidup ini sambil terus memohonkan kehadiran Tuhan. Mohonlah agar Tuhan berkenan hadir dalam tubuh kita, keluarga, pekerjaan, jemaat, gereja dan masyarakat. Orang-orang yang meyakini dan mengalami kehadiran Tuhan menjalani keberadaan mereka bagaikan seorang imam yang berpakaian keselamatan. Hidup kudus, memuliakan Tuhan dan menjadi berkat. Mereka bersukacita karena kebaikan Tuhan dan keturunannya diberkati di dunia ini. Bersukacitalah sebab Tuhan hadir dengan kuasa dan berkat-Nya dalam hidup  kita.   

Doa: ya Tuhan hadirlah agar sukacita kami alami dalam hidup ini.  Amin.  

Rabu  14 Desember 2022                                 

bacaan : Zefanya 3 : 9 – 15  

Janji keselamatan
9 "Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama TUHAN, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu. 10 Dari seberang sungai-sungai negeri Etiopia orang-orang yang memuja Aku, yang terserak-serak, akan membawa persembahan kepada-Ku. 11 Pada hari itu engkau tidak akan mendapat malu karena segala perbuatan durhaka yang kaulakukan terhadap Aku, sebab pada waktu itu Aku akan menyingkirkan dari padamu orang-orangmu yang ria congkak, dan engkau tidak akan lagi meninggikan dirimu di gunung-Ku yang kudus. 12 Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN, 13 yakni sisa Israel itu. Mereka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong; dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu; ya, mereka akan seperti domba yang makan rumput dan berbaring dengan tidak ada yang mengganggunya." 14 Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem! 15 TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi.

Bersukacita Karena Tuhan Telah Memulihkan

Umat Israel bersukacita karena mereka mengalami kebaikan Tuhan yang memulihkan. Tindakkan pemulihan Tuhan yang dimaksud di sini adalah pemulangan dari pembuangan di Babel. Pembebasan dan pemulangan dari Babel dimaknai sebagai cara Tuhan memulihkan keberadaan umat pilihan-Nya. Mereka yang pulang dari Babel disebut sebagai sisa Israel (ayat 13). Sebutan sisa menunjuk pada pengertian “permulaan baru”. Umat diberi kesempatan untuk hidup dalam situasi dan kadar iman yang baru. Terbukalah peluang untuk dialaminya hidup baru di tanah pusaka mereka. Umat tak lagi hidup sebagai bangsa buangan atau merasa terbuang jauh dari hadapan Tuhan mereka. Hidup di tanah dan negeri sendiri serta dekat dengan Tuhan membuat bangsa pilihan ini bersukacita. Umat yang bersukacita itu disebut dalam ayat 14 nas hari ini. Bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem! Kesaksian tentang tindakkan Tuhan yang memulihkan ini hendaknya menginspirasi kita selama menjalani minggu Advent III. Kebaikkan Tuhan tak akan pernah berakhir, selalu berlangsung “permulaan baru”. Pesan tentang “permulaan baru”, mendorong kita untuk hidup dengan semangat membarui diri. Jalanilah hidup dengan cara pandang, kesadaran, pikiran dan berbuatan yang baru. Hiduplah dengan “bibir yang bersih” agar kita layak memanggil nama Tuhan dan beribadah kepada-Nya. Usahakanlah dan pelihara keutuhan, hindarilah hidup dalam pertengkaran serta perpecahan. Jadilah umat yang rendah hati di hadapan Tuhan dan carilah perlindungan pada-Nya. Jauhilah kelaliman, bicara bohong dan lidah penipu.   Yakinlah bahwa Ia akan memulihkan hidup kita dari keletihan, kesusahan, tekanan, kesalahan, dan kejatuhan serta keterpurkkan. Bersukacitalah karena kita pasti mengalami hidup yang dipulihkan Tuhan. Kita hidup seperti domba yang makan rumput dan berbaring dengan tidak ada yang mengganggunya.

Doa: Tuhan kami bersukacita  karena anugerah-Mu yang memulihkan. Amin.  

Kamis 15 Desember 2022                             

bacaan : Zefanya 3 : 16 – 20  

16 Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: "Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu. 17 TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai, 18 seperti pada hari pertemuan raya." "Aku akan mengangkat malapetaka dari padamu, sehingga oleh karenanya engkau tidak lagi menanggung cela. 19 Sesungguhnya pada waktu itu Aku akan bertindak terhadap segala penindasmu, tetapi Aku akan menyelamatkan yang pincang, mengumpulkan yang terpencar dan akan membuat mereka yang mendapat malu menjadi kepujian dan kenamaan di seluruh bumi. 20 Pada waktu itu Aku akan membawa kamu pulang, yakni pada waktu Aku mengumpulkan kamu, sebab Aku mau membuat kamu menjadi kenamaan dan kepujian di antara segala bangsa di bumi dengan memulihkan keadaanmu di depan mata mereka," firman TUHAN.

Orang yang Bersukacita, Berani dan Kuat

Separuh dari hari-hari di bulan terakhir tahun ini telah kita masuki. Kita diminta untuk terus menjalani kehidupan dengan meyakini karya Tuhan yang memulihkan hidup. Kesaksian nabi Zefanya kembali meneguhkan semangat kita untuk menjalani hidup sebagai orang percaya yang berani dan kuat. Sama seperti bangsa Israel yang  pulang dari Babel, kitapun dapat saja mengalami rasa takut dan lemah. Hidup ini menjadi bermakna bila dijalani dengan berani dan kuat, bukan takut atau lemah. Rasa takut melemahkan, seolah-olah telah mengalami “patah” tangan. Tak ada hal apapun yang dikerjakan atau dihasilkan. Waktu atau kesempatan berlalu dengan sia-sia tanpa dimanfaatkan secara baik. Orang yang berani dan kuat mampu menjalani hidup dengan berpengharapan dan bersemangat. Nas hari ini mengaskan bahwa pengharapan dan kekuatan berasal dari Tuhan. Penegasan itu sebagaimana disebutkan dalam ayat 16 bacaan kita. “Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu.” Sambutlah kenyataan hidup dengan tetap bersukacita karena dari Tuhan akan datang kekuatan dan pengharapan. Pernyataan jangan takut merupakan penegasan yang membangkitkan semangat dan harapan untuk tetap bergantung kepada Tuhan. Bergantunglah pada Tuhan di tengah berbagai persoalan, tantangan bahkan godaan dari kekuatan kedagingan dan dunia ini. Menarik bahwa pernyataan jangan takut dalam Alkitab jumlahnya 365 kali. Angka ini sesuai dengan jumlah hari-hari dalam  satu tahun. Hal ini berarti bahwa penyertaan Tuhan melingkupi seluruh hari hidup kita.  Inilah alasannya mengapa kita harus menjalani hidup dengan berani dan kuat. Tetaplah beraktifitas, jangan menjadi lesu dan diam. Teruslah berkarya dan hasilkanlah prestasi, bersukacitalah senantiasa. Percayakanlah hidupmu kepada Tuhan dan jadilah umat-Nya yang berani dan kuat. Ia ada di tengah-tengahmu dan membuat engkau tak akan mendapat cela atau malu, tapi kenamaan serta kepujian.   

Doa: Bapa Pengasih, jadikanlah kami berani dan kuat jalani hidup ini. Amin.  

Jumat  16 Desember 2022                                  

bacaan : Yoel 2 : 23 – 27  

23 Hai bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena TUHAN, Allahmu! Sebab telah diberikan-Nya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkan-Nya kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti dahulu. 24 Tempat-tempat pengirikan menjadi penuh dengan gandum, dan tempat pemerasan kelimpahan anggur dan minyak. 25 Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentara-Ku yang besar yang Kukirim ke antara kamu. 26 Maka kamu akan makan banyak-banyak dan menjadi kenyang, dan kamu akan memuji-muji nama TUHAN, Allahmu, yang telah memperlakukan kamu dengan ajaib; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya. 27 Kamu akan mengetahui bahwa Aku ini ada di antara orang Israel, dan bahwa Aku ini, TUHAN, adalah Allahmu dan tidak ada yang lain; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya."

Bersukacita Karena Berkat Tuhan

Firman Tuhan di hari ini menyaksikan tentang ajakan nabi Yoel kepada umat pilihan atau yang disebut bani Sion untuk bersorak-sorak dan bersukacita. Alasannya adalah karena Tuhan telah memberikan atau menurunkan hujan pada awal dan akhir musimnya sesuai dengan kondisi seperti dahulu. Bani Sion pernah mengalami gagal panen baik gandum maupun buah anggur akibat serangan belelang. Serangan itu berskala besar karena dilakukan oleh berbagai jenis belalang, yakni pindahan, pelompat, pelahap dan pengerip. Umat Israel mengalami penderitaan hebat karena melanggar perintah dan kehendak Tuhan. Merka dihukum tapi kemudian mengalami pemulihan dari Tuhan. Kehidupan baru dialami karena apa yang diusahakan dalam hidup menjadi berhasil. Teruslah jalani minggu Advent III ini dalam keyakinan bahwa Tuhan pasti memberkati hidup kita. Tetaplah berusaha, sebab Tuhan pasti memberkati apapun yang kita usahakan dalam hidup ini. kita berusaha karena Tuhan pasti memberkatinya dan dari tempat usaha itu akan dibawa pulang sesuatu untuk memberi makan keluarga. Tuhan menghendaki kita agar terus bekerja atau melakukan pencarian. Baik di daratan, lautan, hutan, kantor, sekolah, kampus, toko, kios, perusahan, hotel, bengkel, angkot, kapal, mobil maupun di mana saja. Tempat di mana kita bekerja, berusaha atau mencari menjadi berarti karena di situ tersedia berkat Tuhan. Mari belajar dengar, pahami dan taat pada perintah atau kehendak Tuhan saat melakukan pekerjaan, agar Ia menyediakan berkat-Nya di tempat engkau berusaha. Bila usaha dalam hidupmu berhasil, engkau tak akan mendapat malu. Biarlah engkau dan seisi rumahmu menjadi kenyang dengan hasil usaha yang diberkati Tuhan. Hindarilah untuk memberi makan keluarga dari uasaha yang dikerjakan dengan tipu muslihat atau kejahatan. Percayalah kepada Dia sumber berkat itu dan kita pasti mengalami keajaiban-Nya. Bila telah kenyang karena berkat Tuhan, bersukacitalah dan pujilah nama-Nya.      

Doa : Tuhan buatlah kami bersukacita karena berkat-Mu. Amin.  

Sabtu, 17 Desember 2022                                    

bacaan : Ezra 6 : 19 – 22

19 Dan pada tanggal empat belas bulan pertama mereka yang pulang dari pembuangan merayakan Paskah. 20 Karena para imam dan orang-orang Lewi bersama-sama mentahirkan diri, sehingga tahirlah mereka sekalian. Demikianlah mereka menyembelih anak domba Paskah bagi semua orang yang pulang dari pembuangan, dan bagi saudara-saudara mereka, yakni para imam, dan bagi dirinya sendiri. 21 Orang-orang Israel yang pulang dari pembuangan memakannya dan demikian juga setiap orang yang memisahkan diri dari kenajisan bangsa-bangsa negeri itu lalu menggabungkan diri kepada mereka, untuk berbakti kepada TUHAN, Allah Israel. 22 Lagipula mereka merayakan hari raya Roti Tidak Beragi dengan sukacita, tujuh hari lamanya, karena TUHAN telah membuat mereka bersukacita; Ia telah memalingkan hati raja negeri Asyur kepada mereka, sehingga raja membantu mereka dalam pekerjaan membangun rumah Allah, yakni Allah Israel.

Dalam Tuhan Ada Sukacita

Berbagai persoalan hidup acapkali membuat kita mengalami kebimbangan, kekuatiran juga putus asa dan karenanya  hilanglah sukacita. Sukacita dialami ketika kita dapat mengatasi atau terbebas dari persoalan yang dihadapi. Hal seperti ini juga yang dialami dan dirasakan oleh bangsa Israel. Pembangunan bait Allah yang dilakukan oleh tua-tua orang Yahudi, dapat terselesaikan pada tahun ke enam zaman pemerintahan Darius raja Persia. Pentahbisan bait Allah dirayakan dengan sukaria oleh bangsa Israel yakni para imam dan orang-orang Lewi serta mereka yang pulang dari pembuangan. Para imam dan orang-orang Lewi mentahirkan diri dari kenajisan dan menyembelih anak domba Paskah, bagi semua orang yang pulang dari pembuangan dan merayakan Paskah. Hari raya Roti Tidak Beragi juga dirayakan dengan penuh sukacita. Paskah dirayakan agar bangsa Israel selalu mengingat bagaimana Allah telah menyelamatkan mereka dari perbudakan di Mesir (Kel. 12-13). Darah domba Paskah mengingatkan Israel pada darah yang dioleskan di pintu rumah oleh nenek moyang mereka dahulu. Akta pengolesan darah anak domba terjadi  sebelum Allah menjatuhkan tulah yang kesepuluh atas orang Mesir. Roti tidak beragi disantap saat perayaan Paskah dan dilanjutkan selama tujuh hari. Kedua perayaan yang dilakukan saat kembali dari pembuangan dengan sukacita itu mengambarkan respon bangsa Israel atas kasih dan penyertaan Allah. Kasih dan penyertaan Allah mereka alami dalam hidup. Pengalaman ini mengajarkan kepada kita secara pribadi, keluarga maupun sebagai persekutuan bergereja bahwa seberat apapun persoalan yang dihadapi, tetaplah percaya kepada kuasa Allah. Kuasa Allah yang membebaskan pernah dialami bangsa Israel, maka sebagai umat yang percaya-Nya, kitapun meyakininya. Allah di dalam Yesus Kristus dan Roh Kudus berkuasa membebaskan kita dari berbagai persoalan hidup. Dia-lah sumber pengharapan, sukacita dan damai sejahtera.

Doa: ya Tuhan, sumber sukacita peliharalah hidup kami. Amin.

*SUMBER : SHK Bulan DESEMBER 2022, LJP-GPM