Santapan Harian Keluarga, 19 – 25 Desember 2021

Tema Mingguan : ” Merayakan Adventus Dengan Kedamaian Hati

Minggu, 19 Desember 2021                                 

bacaan : Yesaya 9 : 1 – 6

(9-1) Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. 3 (9-2) Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan. 4 (9-3) Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian. 5 (9-4) Sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api. 6 (9-5) Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. 7 (9-6) Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.

Wujudkan Kedamaian Hati Bersama Yesus

Beberapa hari lagi semua umat Kristiani di seluruh dunia akan merayakan Kelahiran Sang Juruselamat, Yesus Kristus. Euforia menyambut kelahiran Yesus dirasakan sejak memasuki bulan Ber-Ber (September, Oktober, November, Desember). Kidung natal terdengar di setiap sudut jalan, gang-gang, bahkan mall-mall. Pernak-pernik natal menghiasi setiap swalayan dan mengundang ibu-ibu rumah tangga untuk berbelanja atau sekedar hanya untuk ‘cuci mata’. Kelahiran Raja Damai merupakan perikop bacaan kita hari ini yang menjelaskan tentang datangnya seorang Pelepas untuk menuntun umat Allah kepada Sukacita, Damai Sejahtera, Kebenaran, Keadilan dan Kedamaian. Dialah Mesias, Yesus Kristus, Anak Allah (ay.5). Nabi Yesaya secara tegas menyampaikan kabar sukacita bahwa akan datang Raja Damai kepada setiap umat Allah untuk menyelamatkan dan membawa kedamaian bagi kehidupan mereka. Kelahiran Raja Damai adalah Berita yang membawa sukacita karena Sang Juruselamat, yakni Yesus Kristus telah meninggalkan segala kemuliaan-Nya dan mendamaikan Diri-Nya dengan kita. Tuhan Yesus tidak menyamar sebagai manusia, namun IA benar-benar telah menjadi manusia. Melalui Tuhan Yesus, kita pun diperdamaikan dengan Allah, oleh Karena itu kita mesti menampakkan damai dari Allah itu di dalam kehidupan kita. Baiknya kita menjadi agen-agen perdamaian di dalam keluarga, jemaat bahkan masyarakat. Disadari bahwa manusia tidak dapat mewujudkan kedamaian tanpa Tuhan, oleh sebab itu mintalah hikmat Kristus untuk menuntun kita agar mampu menghadirkan kedamaian bagi sesama.

Doa:  Ya Tuhan… Penuhilah hidup kami dengan Roh kedamaian, agar kami siap menjadi agen pendamai bagi sesama. Amin.

Senin, 20 Desember 2021                                   

bacaan : Mazmur 69 : 33

32 (69-33) Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali!

Rendah Hati, Sabar Dan Selalu Berdoa Dalam Hidup

Manusia pada umumnya tidak menginginkan hidup dalam keadaan susah, miskin, dan menderita. Manusia ingin hidup sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berada dalam keadaan bebas, tidak tertekan, dan tidak terbelenggu oleh keadaan apapun yang membuat gerak-geriknya dibatasi. Keadaan seperti ini biasanya dirasakan oleh seseorang ketika berada sebagai tahanan (hidup di penjara). Mengapa demikian? Sebab biasanya manusia yang hidup dalam keadaan demikian: susah, miskin, menderita, dan disebut sebagai tahanan yang berada di penjara, dipandang oleh orang lain sebagai manusia hina. Kadang mereka tidak dihargai, dan menjadi cemohan banyak orang. Memang, orang miskin dan para tahanan dianggap sebagai orang-orang yang tidak berharga dalam masyarakat. Firman Tuhan hari ini hendak menegaskan bahwa Tuhan selalu ada bersama orang miskin dan tahanan. Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka dan Tuhan tetap menyayangi dan akan menolong mereka. Karena itu, orang-orang miskin dan para tahanan tidak perlu berkecil hati. Firman Tuhan ini juga mau mengingatkan orang-orang yang sering menghina dan mencela mereka yang miskin dan yang ditahanan untuk jangan pernah menganggap rendah dan hina, serta mencela dan mencemooh orang yang miskin dan yang di tahanan. Jadilah rendah hati satu terhadap yang lain, sabar dalam segala keadaan, dan dalam segala kondisi selalu berdoa kepada Tuhan dalam menjalani kehidupan ini.

DoaTuhan, kuatkan dan mampukanlah kami untuk hidup rendah hati, sabar, dan selalu dekat dalam doa kepadaMU. Amin.                                        

Selasa, 21 Desember 2021                               

bacaan : Lukas 1 : 57 – 66

Kelahiran Yohanes Pembaptis
57 Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki. 58 Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. 59 Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, 60 tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes." 61 Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian." 62 Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. 63 Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan merekapun heran semuanya. 64 Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. 65 Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. 66 Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Bersukacitalah Dalam Ketulusan

Pernahkah kita bersukacita dengan orang yang bersukacita? Tuluskah sukacita itu? Sebab seringkali dalam diri kita,  muncul rasa iri ketika orang lain mengalami keberhasilan  dalam pemberkatan Tuhan. Biasanya, hal ini terjadi dalam kehidupan antar tetangga maupun antar orang bersaudara. Apabila ada satu keluarga diberkati, tetangga atau saudaranya pasti ada yang iri. Mereka tidak turut bersukacita. Kalau pun ada rasa sukacita, itu tidak tulus. Bacaan Alkitab hari ini memberikan catatan penting untuk hidup sebagai tetangga dan sebagai orang bersaudara. Berita kehamilan Elisabet memberikan rasa sukacita tersendiri, apalagi ketika Elisabet telah melahirkan. Semua tetangga dan sanak saudaranya pun turut merasakan sukacita (58). Ketulusan sukacita mereka terlihat ketika bersama Elisabet dan Zakharia, mereka berdiskusi dan membicarakan tentang nama yang akan diberikan kepada anak Elisabet dan Zakharia yang baru lahir itu. Meskipun pada akhirnya Zakharia-lah yang diminta untuk memberi nama kepada anaknya dan memberikan nama Yohanes, namun setidaknya suasana pemberian nama anak terjadi dalam situasi yang penuh sukacita bersama antara Elisabet, Zakharia, para tetangga, dan sanak saudara. Kisah kelahiran Yohanes ini ingin mengajarkan kepada kita begaimana hidup bertetangga dan hidup sebagai orang bersaudara. Tetangga dan saudara yang baik adalah tetangga dan saudara yang penuh pengertian dan selalu hidup dalam saling peduli dan saling memperhatikan satu dengan yang lain. Hal tersebut juga harus berlangsung dalam keikhlasan dan ketulusan. Jangan ada yang mendustai perasaan. Kalau merasakan sukacita biarlah sukacita itu terjadi dalam keikhlasan dan ketulusan agar Tuhan memberkati semua yang bersukacita secara bersama.

Doa:   Ajarlah aku Tuhan untuk bersukacita dengan sesama dalam ketulusan hati yang mendalam. Amin.

Rabu, 22 Desember 2021                             

bacaan : Yesaya 32 : 17 – 18

17 Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya. 18 Bangsaku akan diam di tempat yang damai, di tempat tinggal yang tenteram di tempat peristirahatan yang aman.

Nyatakan Kebenaran Supaya Damai Dan Tenang Dalam Hidup

Semua orang menginginkan damai dan tenang, tidak ada seorang pun yang menginginkan hidup dalam ketidakdamaian dan ketidaktenangan. Namun, terkadang kita tidak tahu bagaimana caranya menumbuhkan kedamaian dan ketenangan dalam hidup. Melalui nabi Yesaya, Tuhan menyampaikan cara untuk membuat kedamaian dan ketenangan tumbuh dalam kehidupan umatNya. Caranya yaitu dengan berpikir, berkata, dan berbuat kebenaran. Nabi Yesaya mengatakan, “dimana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan” (ay.17).  Nubuatan nabi Yesaya ini hendak meletakkan dasar untuk bertumbuhnya damai dan ketenangan dalam hidup, yang tidak lain adalah dengan mengedepankan kebenaran disetiap aspek kehidupan. Mengapa harus kebenaran? Sebab dengan kebenaran merupakan suatu kekuatan yang sangat dahsyat, yang di dalamnya ada hal yang sangat mendasar dan yang sangat dibutuhkan untuk membuat hidup menjadi semakin berarti. Manfaat kebenaran tidak hanya untuk orang yang melakukan kebenaran tetapi juga bagi orang yang menerima kebenaran. Dengan berkata dan melakukan kebenaran sebenarnya di situlah kita sudah berupaya untuk membuat orang lain mengalami perubahan dan perkembangan dalam kehidupannya. Selain itu, ketika kita mengatakan sesuatu yang benar dan melakukan hal yang benar tersebut kepada orang lain dalam hidup ini maka dengan sendirinya kita telah membuat bathin kita dan bathin orang lain mengalami suatu kedamaian dan ketenangan dalam hidup. Tidak hanya itu, kita juga harus menyadari bahwa tanda cinta kita kepada orang lain itu terletak juga dalam perkataan dan perbuatan kebenaran tersebut. Bahwa saat kita mengatakan suatu kebenaran dan memberlakukan segala sesuatu yang benar, tanpa sadar di situlah kita sudah menciptakan suatu relasi yang lebih dalam, dan yang berlangsung dalam suasana yang penuh kedamaian dan ketenangan. Karena itu, baiklah kita dalam menyambut kedatanganNya, mengatakan dan melakukan kebenaran, serta menjadikan kebenaran itu tumbuh di setiap perjalanan hidup kita agar damai dan ketenangan selalu menyertai perjalanan kehidupan kita selamanya.

Doa: Tuhan, Tolonglah kami untuk selalu berkata dan bertindak dalam kebenaran. Amin.

Kamis, 23 Desember 2021                               

bacaan : 2 Korintus 13 : 11

11 Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!

Memperoleh Berkat Tuhan Dengan Cara Tuhan

Berkat Tuhan menjadi hal yang sangat didambakan oleh setiap orang percaya. Kelihatannya orang percaya menganggap berkat Tuhan itu sangat mudah didapatkan dari Tuhan. Bahkan ada yang menganggap dan percaya bahwa berkat Tuhan itu setiap hari Tuhan berikan kepada manusia, yaitu berupa nafas kehidupan. Itu tidak salah, sebab tanpa diminta atau didoakan pun nafas kehidupan diberikan oleh Tuhan. Namun, terkadang banyak orang lupa akan hal itu, sehingga lupa untuk bersyukur atas nafas kehidupan yang Tuhan anugerahkan setiap hari, setiap saat. Selain itu, orang percaya juga banyak yang tidak tahu bagaimana ia harus mendapatkan berkat Tuhan lainnya, selain nafas kehidupan. Dalam 2 Korintus 13:11 ini Rasul Paulus membeberkan tips untuk memperoleh berkat Tuhan (selain nafas kehidupan). Pertama-tama Rasul Paulus mengajak orang percaya untuk bersukacita atas kehidupan yang dianegerahkan Tuhan. Mengapa demikian? Sebab dengan bersukacita orang percaya mengekspresikan dirinya sebagai pribadi yang sadar akan Tuhan sebagai sumber hidup. Selain itu, orang percaya diminta untuk tetap menjaga dirinya agar tetap sempurna dalam hidup. Yang dimaksud dengan sempurna di sini adalah segala pikiran, perkataan dan perbuatan selalu menyatakan kebenaran sebagai umat Tuhan. Bagaimana untuk menjadi sempurna? Matius 19:21,  katakan: “Kata Yesus kepadanya: jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku”. Hal ini berarti untuk menjadi sempurna dalam hidup orang percaya dituntut untuk memberlakukan kasih secara total bukan hanya dalam perkataan, tetapi yang terpenting adalah dalam perbuatan. Menjadi sempurna memerlukan pengorbanan diri demi kehidupan orang lain, bukan mengorbankan orang lain demi kehidupan diri sendiri.Hal yang tidak kalah penting untuk seseorang memperoleh berkat Tuhan yaitu tidak mengabaikan nasehat Firman Tuhan, selalu hidup sehati dan sepikir, serta hidup dalam damai sejahtera penuh kasih mesra dan saling mengasihi. Ketika melakukan hal-hal tersebut, maka dengan sendirinya akan ada berkat Tuhan yang mengalir dalam kehidupan orang percaya, yakni “Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu”.

Doa:  Ajarlah kami untuk bersukacita, dan kuatkanlah kami untuk hidup ramah dan rendah hati… Amin.      

Jumat, 24 Desember 2021                                 

bacaan : Lukas 1 : 26 – 38

Pemberitahuan tentang kelahiran Yesus
26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, 27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. 28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." 29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. 30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. 32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, 33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." 34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" 35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. 36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. 37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." 38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Rayakanlah Natal Dengan Rendah Hati Dan Setia

Sejak dahulu orang yang hamil tanpa status pernikahan itu dianggap aib. Karena itu, siapa pun perempuan yang mengalaminya akan menutupinya sedapat mungkin. Bila ketahuan pasti mendapatkan sanksi sosial, dikucilkan, dan harus menanggung malu. Dalam budaya Yahudi tempat Maria hidup, hukumannya dirajam batu karena dianggap berzinah. Karena itulah, ketika malaikat Gabriel datang kepadanya memberitahukan bahwa ia akan mengandung, Maria berkata, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami?” Maria pasti membayangkan betapa dahsyat hukuman yang akan diperolehnya. Ia pasti bergolak secara mental. Apa kata orang dan pembelaan apa yang akan disampaikannya? Tetapi ia memilih taat atas berita itu. Simaklah perkataannya, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Ia tidak menolak, tetapi menerimanya dengan sepenuhnya berserah kepada Allah. Maria tahu bahwa Allah, yang kepada-Nya ia percaya, berkuasa menolong dan melindunginya. Di malam natal ini marilah kita merenung dan introspeksi diri apakah kita sudah benar-benar berserah terhadap rencana-Nya. Apakah kita mau mengikuti apa yang Allah kehendaki dengan rendah hati dan setia. Seperti Maria walaupun ia tahu akan ada konsekuensi dibalik keputusannya, tetapi ia lebih memilih rendah hati dengan menerima apa yang dpercayakan kepadanya dan dengan setia melakukan perintahNya karena dihatinya ia sangat bersyukur mendapat karunia yang sangat besar. Bagaimana dengan kita apakah kita sudah rendah hati dan setia ?

Doa:  Ya Tuhan, Ajarlah kami untuk Merayakan Natal dengan Rendah hati dan Setia bukan hanya mementingkan kemeriahan pesta. Amin.

Sabtu, 25 Desember 2021                                

bacaan : Matius 1 : 18 – 25

Kelahiran Yesus Kristus
18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. 19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. 20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. 21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." 22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: 23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" --yang berarti: Allah menyertai kita. 24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, 25 tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

Hati yang Merendah dan Setia Lebih Penting

Pasangan muda Yusuf dan Maria paling menonjol dalam kisah kelahiran Yesus versi Injil Matius. Tokoh Yusuf memercayakan dirinya kepada Tuhan. Saat malaikat Tuhan memberitakan alasan kehamilan Maria. Yusuf yang disebut seorang yang saleh, sederhana, dan tulus, belajar percaya dan taat pada sabda Allah. Melalui Roh Kudus, Tuhan berkarya secara istimewa dalam diri Maria. Pada awalnya, dalam diri Yusuf timbul rasa ragu dan konflik batin saat ia mengetahui tunangannya hamil. Injil Matius mencatat bahwa “ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam”. Di satu sisi, Yusuf tidak menginginkan Maria bernasib malang karena ia pasti dirajam oleh masyarakat Yahudi. Di sisi lain, ia tidak dapat menerima kenyataan itu dan berupaya meninggalkan Maria dengan cara menceraikannya. Ia tidak ingin mempermalukan martabat tunangannya di depan publik. Mungkin Yusuf berpikir bahwa dengan cara seperti itu barangkali Maria dapat menikah dengan lelaki yang telah membuatnya hamil. Inilah jalan iman yang dihayati dengan ikhlas dan rela oleh Yusuf. Tetapi setelah mengetahui yang sebenarnya Yusuf memilih tetap menikahi Maria menerima calon istrinya dengan rendah hati dan setia pada rencana Allah. Di hari Natal ini kita bersyukur bahwa sang Juruslamat telah lahir, kita berpesta dengan berbagai macam cara sesuai tradisi di dalam keluarga masing-masing, tetapi bagaimana dengan hati kita? Sudahkah kita rendah hati dan setia mempercayai Dia dalam hidup kita dan percaya akan RencanaNya. Jangan fokus pada perayaannya lebih baik fokus pada hati kita, dan merenungkan apakah hidup kita selama ini sudah sesuai dengan kehendakNya?

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk selalu mengikuti kehendakMu dengan Rendah Hati Dan Setia. Amin.

*Sumber : SHK terbitan LPJ GPM

Santapan Harian Keluarga, 12 – 18 Desember 2021

Tema Mingguan : ” Merayakan Adventus Dengan Bersukacita

Minggu, 12 Desember 2021                             

Zakharia 9 : 9 – 10

Raja Mesias di Sion
9 Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda. 10 Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi.

Menyambut Raja Damai dengan Sukacita

Dihari ini kita telah memasuki minggu adventus ketiga dengan pendasaran firman Tuhan dari kesaksian nabi Zakharia yang menubuatkan kedatangan Mesias sebagai Raja Damai. Gambaran dari kedatangan Raja Damai yang lemah lembut dengan mengendarai seekor keledai. Biasanya seorang raja mengenderai seekor kuda yang menunjuk kepada keperkasaan dan kekuataannya untuk bertarung dalam peperangan. Namun Raja Damai dengan mengendarai seekor keledai menunjuk kepada sosok yang lemah lembut, bersahaja dan rendah hati. Nubuatan nabi ini menjawab segala kejenuhan umat Israel atas setiap kekerasan, pertempuran, peperangan serta jauh dari kedamaian dan ketentraman. Itulah sebabnya seruan nabi ini dengan mengajak umat untuk bersukacita menyambut datangnya Raja Damai. Nubuatan nabi Zakharia ini tergenapi dalam kedatangan Tuhan Yesus yang puncaknya ketika Ia memasuki kota Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai untuk sebuah misi pengorbanan demi keselamatan orang percaya termasuk kita sebagai keluarga Kristen. Kehadiran Tuhan Yesus yang kita nantikan dalam minggu-minggu adventus ini tidak lagi sebagai bayi mungil di Bethlehem, namun sebagai Raja yang akan menghakimi manusia dan dunia ini. Sebagai keluarga Kristen kita mesti bersyukur dan bersukacita karena karya cinta kasih Allah bagi kita melalui kedatangan Tuhan Yesus yang telah menyelamatkan kita diperoleh dengan jalan damai dan jauh dari segala kekerasan. Untuk itu sukacita kita dalam menanti kedatangan Tuhan Yesus harus diwujudkan melalui sikap hidup kita yang selalu lemah lembut, cinta kasih dan penuh damai dalam kehidupan keluarga, persekutuan maupun bermasyarakat.

Doa: Tuhan Yesus kami bersukacita atas kehadiranMu sebagai raja Damai yang telah menyelamatkan kami. Amin.

Senin, 13 Desember 2021                             

bacaan : Mazmur 16 : 7 – 11

7 Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. 8 Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. 9 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; 10 sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. 11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

Bersukacitalah Didalam Tuhan

Kita semua pasti pernah merasakan sukacita. Perasaan sukacita ini dilatarbelakangi dengan berbagai alasan. Namun yang pasti ada kejadian atau situasi yang menguntungkan dan menyenangkan hati kita. Misalnya kita mendapat promosi jabatan, lulus ujian, menang udian berhadiah, keuntungan dalam usaha atau bisnis, dlsbnya. Semua itu wajar dan sah-sah saja, namun berapa lama kita menikmati sukacita atas hal-hal lahiriah itu. Tentu terbatas dan tidak kekal. Hanya satu sukacita kita yang besar dan kekal adalah kesukacitaan kita dalam kasih Tuhan. Hal ini yang disaksikan oleh pemazmur dalam ayat 9 bacaan firman Tuhan saat ini bahwa hatinya bersukacita dan jiwanya bersorak-sorak atas cinta kasih Tuhan yang telah menyelamatkannya. Hati sebagai pusat dari seluruh kehidupan pemazmur yang tentu merasakan sukacita yang berasal dari Tuhan itu kekal dan abadi. Apapun situasi dam kondisi baik tantangan, persoalan maupun penderitaan tetap membuat pemazmur untuk bersukacita. Sebab bukan dari kekuatan dan kemampuan pemazmur tetapi kekuatan dari Allah yang menuntun serta menyertainya sehingga ia tetap bersukacita memuji dan memuliakan Tuhan. Demikianpun kita sebagai keluara Kristen ketika ada di minggu-minggu adventus ini hendaklah kita bersyukur dan bersukacita atas cinta kasih Kristus yang telah menyelamatkan kita melalui pengorbanan, kematian dan kebangkitanNya. Sukacita yang tiada ternilai harganya sebab dibayar dengan pengorbananNya dan memberi hidup kekal bagi kita. Itulah sebabnya apapun keadaan kita dengan berbagai persoalan dan tantangan serta pergumulan hidup, baiklah kita tetap teguh dan bersukacita sebab kita tidak sendiri, Tuhan Yesus sebagai Sang Imanuel selalu menyertai dan memberkati kita.

Doa: Tuhan Yesus sempurnakan sukacita kami dalam cinta kasihMu. Amin.

Selasa 14 Desember 2021                                

bacaan : Mazmur 68 : 1 – 5

Perarakan kemenangan Allah
Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. Nyanyian. (68-2) Allah bangkit, maka terseraklah musuh-musuh-Nya, orang-orang yang membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya. 2 (68-3) Seperti asap hilang tertiup, seperti lilin meleleh di depan api, demikianlah orang-orang fasik binasa di hadapan Allah. 3 (68-4) Tetapi orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukacita. 4 (68-5) Bernyanyilah bagi Allah, mazmurkanlah nama-Nya, buatlah jalan bagi Dia yang berkendaraan melintasi awan-awan! Nama-Nya ialah TUHAN; beria-rialah di hadapan-Nya!

Bersukacita Atas Kemenangan Allah

Allah bangkit maka terseraklah musuh-musuhNya, kenyataan ini disambut dengan sukacita oleh orang-orang benar. Pengalaman iman umat pilihan Allah Israel ketika mereka keluar dari tanah perbudakan Mesir menuju tanah perjanjian Kanaan, berapa banyak Tuhan Allah menghalau segala tantangan dan ancaman bagi umat pilihanNya itu. Baik manusia maupun kekuatan dan kedasyatan alam takluk dalam kuasa dan kemuliaan Allah. Bangsa-bangsa dengan segala kekuatan mereka mencoba untyuk melawan namun mereka hancur dan binasa. Ibarat asap yang hilang tertiup angin serta lilin yang meleleh di depan api, seperti itu orang-orang fasik yang tidak percaya dan mengenal Allah. Kontras dengan kehidupan orang benar yang percaya serta yakin akan kemahakuasaan Allah yang selalu hadir dan nyata dalam seluruh perjalanan kehidupan mereka. Oleh pemazmur digambarkan kehadiran Allah seperti seorang bapak bagi anak yatim dan menjadi suami bagi yang janda serta memberi perlindungan bagi yang sebatang kara. Kehadiran Allah tergenapi melalui kelahiran dan kedatangan Tuhan Yesus sebagai Mesias Anak Allah yang menyelamatkan umat manusia dan dunia dari penghukuman dosa. Kita bersyukur dan bersukacita menyambut karya keselamatan Allah dalam Kristus. Sekalipun ada banyak tantangan dan persoalan bahkan ancaman yang kita hadapi, namun kuasa dan  kemuliaan Allah dalam kasih Kristus selalu nyata dalam  perjalanan kehidupan kita sebagai keluarga Allah. Hal ini patut kita  sambut dengan sukacita dan terwujud melalui sikap dan perilaku hidup yang bersyukur serta setia dan taat kepadaNya.

Doa: Tuhan, kami bersukacita menyambut karya keselamatanmu. Amin.

Rabu, 15 Desember 2021                               

bacaan : Mazmur 100 : 1 – 5

Pujilah Allah dalam bait-Nya
Mazmur untuk korban syukur. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! 2 Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! 3 Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. 4 Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! 5 Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.

Bersorak-sorak dan Bersukacita Memuji Tuhan

Ungkapan perasaan syukur dan kebahagiaan selalu membawa kedamaian dan ketentraman. Sebaliknya marah, dendam, emosi, kekerasan, kebencian adalah luapan perasaan negatif yang berdampak buruk baik fisik maupun psyhis kita. Dalam bagian bacaan firman Tuhan saat ini pemazmur mengajak umat untuk senantiasa bersyukur dan memuji Tuhan. Bersyukur dan memuji Tuhan dalam tradisi Israel menunjuk kepada kesalehan dan ketaatan. Dalam karya pelayanan Tuhan Yesus sebagai Mesias Anak Allah, juga menekankan soal kasih dan pengampunan. Itu berarti orang-orang yang hidup dalam kasih dan pengampunan selalu menunjukan sikap bersyukur, bersukacita dan bersorak-sorai. Mereka mampu melakukan dan menyatakannya oleh karena kekuatan Roh Kudus yang selalu menuntun, menyertai dan memberkati. Di minggu-minggu adventus ini, marilah kita sebagai keluarga Kristen selalu bersyukur, bersukacita dan bersorak-sorai memuji dan memuliakan Allah dalam Kristus oleh karena cinta kasih dan sayangNya yang besar dan melimpah sehingga kita semua tetap kuat dan tegar dalam menjalani hari-hari hidup. Kita mengungkapkannya melalui doa dan ibadah baik dalam persekutuan keluarga maupun bergereja. Memuji dan memuliakan Allah dalam Kristus adalah wajib dan layak kita lakukan sebagai kekuatan dan senjata yang ampuh di tengah kehidupan dunia ini dengan godaan dan tipuan iblis. Jadi mari, naikkan pujian dalam doa dan ibadah kepada Tuhan dengan penuh sukacita dan sorak sorai. Dia yang kita nantikan akan segera datang!

Doa:  Ya Tuhan kami bersorak-sorak dan bersukacita memuji Tuhan, sebab Engkau layak dipuji dan disembah. Amin.

Kamis, 16 Desember 2021                             

bacaan : Mazmur 122 : 1 – 9

Doa sejahtera untuk Yerusalem
Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." 2 Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. 3 Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, 4 ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel. 5 Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud. 6 Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: "Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa. 7 Biarlah kesejahteraan ada di lingkungan tembokmu, dan sentosa di dalam purimu!" 8 Oleh karena saudara-saudaraku dan teman-temanku aku hendak mengucapkan: "Semoga kesejahteraan ada di dalammu!" 9 Oleh karena rumah TUHAN, Allah kita, aku hendak mencari kebaikan bagimu.

Sukacita Berdiam Di Dalam Rumah Tuhan

Kata orang “Sejauh apapun kita pergi menuntut ilmu, bekerja atau berlibur. Ada saatnya kita harus kembali pulang ke rumah dan berjumpa dengan orang-orang yang kita cintai”. Rumah bukan sekedar sebuah tempat tinggal atau tempat berteduh, tetapi rumah merupakan tempat mencurahkan kasih sayang dan berbagi bersama orang-orang terkasih. Bacaan hari ini mengungkapkan tentang sukacita Daud ketika datang ke Rumah Tuhan. Sebagai Raja, Daud pastinya dapat memiliki apapun yang ia inginkan. Namun satu hal yang ia inginkan ialah berada di dalam Rumah Tuhan. Bagi Daud, Sukacita sejati justru ia rasakan saat berada di Rumah Tuhan.  Mengapa demikian?  Karena di Rumah Tuhan, ia mendapatkan segala hal yang diperlukan:  kelepasan, kelegaan, kemenangan, pertolongan, kedamaian dan sukacita.  Sama halnya dengan rumah tempat kita tinggal yang selalu mendatangkan kehangatan dan sukacita karena berjumpa dengan orang-orang yang kita sayangi, Rumah Tuhan juga merupakan Tempat kita sebagai orang-orang percaya berjumpa dengan-Nya dan menikmati sukacita bersama Tuhan. Pernahkah kita merasakan, jika kita ke Gereja (Rumah Tuhan) kita sungguh merasakan kedamaian dan mendapat kekuatan baru? Jika Ya! Maka berbahagialah, sebab itu berarti kita dipenuhi Roh Allah untuk tetap bersukacita dalam setiap keadaan. Sukacita itu mengantar kita untuk menjadi sumber sukacita bagi sesama kita juga. Wujudkanlah itu mulai dari dalam keluarga, tetangga di sekitar hingga semua orang di tengah gereja dan masyarakat.

Doa: Ya Tuhan, Penuhilah hati kami dengan Sukacita. Amin.

Jumat, 17 Desember 2021                             

bacaan : Mazmur 150 : 1 – 6

Haleluya
Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! 2 Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat! 3 Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! 4 Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! 5 Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang! 6 Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!

Pujilah Tuhan!

Francis Jane Crosby lahir pada tanggal 24 Maret 1820. Ketika berusia enam minggu, dia menderita infeksi di matanya. Lalu ada seorang yang mengaku-ngaku sebagai dokter dan mencoba mengobati mata Francis dengan cara meletakkan semangkuk bubur panas di atas kelopak matanya, akibatnya mata Francis menjadi buta. Pada usia 12 tahun, Francis bersekolah di Institut untuk orang buta di New York. Dia kemudian mengajar di tempat itu sambil terus menulis puisi. Hingga meninggal, Francis telah menulis 900 Hymne dan lagu-lagu Rohani. Beberapa lagunya termuat dalam Kidung Jemaat antara lain: Ku Berbahagia (Kj. 392), Di Jalanku, kudiiring (Kj.408), dan Mampirlah dengan Doaku (Kj.26). Dalam kebutaannya, Francis tetap Memuji Tuhan dan Bersukacita. Keterbatasan fisiknya tak membatasi ia menyampaikan pujian dan syukur kepada Tuhan yang dikasihiNya. Mazmur hari ini mengingatkan kita untuk selalu memuji Tuhan Allah. Allah digambarkan sebagai Gembala, Perisai, Batu Karang, Pencipta, Penguasa, Hakim, Pemelihara, dsb. Oleh sebab itu, selama kita masih diberikan kesempatan hidup di dunia ini, maka Pujilah Allah dan Percaya akan Kuasa-Nya. IA akan memberikan kekuatan bagi setiap orang yang berharap pada-Nya. Jika Francis dalam kelemahan dan ketidakberdayaannya Tuhan memampukan ia menjadi penyair dan pencipta lagu yang luar  biasa, maka kita pun pasti akan dimampukan dan dikuatkan untuk menghadapi setiap persoalan hidup. Asalkan, Tetaplah Memuji dan Mengagungkan kebesaran Tuhan.

Doa: Kami ingin selalu Memuji Engkau, Ya Tuhan, Ya Allah Kami. Amin.

Sabtu, 18 Desember 2021                             

bacaan : Yesaya 61 : 10 – 11

10 Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya. 11 Sebab seperti bumi memancarkan tumbuh-tumbuhan, dan seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan ALLAH akan menumbuhkan kebenaran dan puji-pujian di depan semua bangsa-bangsa.

Keajaiban Kemuliaan Tuhan

Miracle in Cell No.7 (Keajaiban di sel no.7) adalah salah satu drama korea yang mengisahkan tentang perjuangan seorang ayah berkebutuhan khusus untuk membahagiakan putri semata wayangnya. Sang putri termasuk anak yang cerdas, dan karena itu ia memahami kekurangan ayahnya serta selalu memuji semua pemberian ayahnya kepadanya. Suatu kali sang anak menginginkan sebuah tas sekolah yang unik. Persediaan tas tersebut tidaklah banyak sehingga ayahnya harus berusaha mengumpulkan uang dari hasil kerja sebagai tukang parkir untuk membeli tas itu. Akhirnya tas itu terjual namun orang lain yang membelinya. Sang putri kecewa, namun ia tetap tersenyum agar ayahnya tidak merasa bersalah. Baginya, kebahagiaan yang sejati adalah memiliki ayah yang selalu menyenangkannya. Bacaan hari ini memperlihatkan tentang Nabi Yesaya yang Bersukaria karena Tuhan mengenakan kepadanya pakaian keselamatan dan Jubah kebenaran. Hal ini membuat Yesaya cakap melakukan tugasnya serta bijaksana dalam mengambil setiap keputusan. Tuhan tidak memberikan harta dan tahta, tetapi jaminan keselamatan dan kekuatan serta jalan kebenaran kepada Yesaya sebagai Harta yang berharga. Merasakan kebahagiaan di dalam hidup ini tidak selamanya harus bergantung pada kekayaan dan materi semata. Seperti sang putri yang merasakan bahagia karena kehadiran ayahnya serta cinta kasih yang tulus dari sang ayah, Yesaya pun bersukaria karena Tuhan mengasihinya dan memberikan perlindungan serta menunjukkan jalan kebenaran kepadanya. Marilah Bersukaria bersama Tuhan, segala Jalan-Nya pastilah mendatangkan Keselamatan dan Damai Sejahtera. Biarlah jiwa kita terus memuliakan Tuhan lewat setiap perkataan dan perbuatan yang menyenangkan-Nya.

Doa: Terima kasih Tuhan… Engkau telah menyelamatkan jiwaku, dan aku Bersukaria. Amin.

Santapan Harian Keluarga, 5 – 11 Desember 2021

Tema Mingguan : “Merayakan Adventus Dengan Beriman

Minggu, 05 Desember 2021                                   

bacaan : Habakuk 2:1-5

Orang yang benar akan hidup oleh karena percayanya
Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku. 2 Lalu TUHAN menjawab aku, demikian: "Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. 3 Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh. 4 Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya. 5 Orang sombong dan khianat dia yang melagak, tetapi ia tidak akan tetap ada; ia mengangakan mulutnya seperti dunia orang mati dan tidak kenyang-kenyang seperti maut, sehingga segala suku bangsa dikumpulkannya dan segala bangsa dihimpunkannya."

Menanti Dengan Iman

Habakuk adalah salah satu kitab  yang terdapat di dalam kanon PL dan merupakan bagian dari kelompok Kitab nabi-nabi kecil.. Tema utama di dalam kitab ini menceritakan bagaimana Tuhan tidak pernah lalai menepati janjiNya atas kehidupan orang benar. Orang-orang fasik yang hidup dengan berlaku curang akan mendapatkan hukuman yang setimpal dan adil dari Tuhan.Oleh sebab itu pada ayat 1 ditegaskan tentang sikap kesetiaan yang harus dimiliki oleh orang percaya dan Habakuk menyatakan bahwa sikap tersebut harus menjadi sikapnya. Habakuk harus menantikan Tuhan dengan kesetiaannya meminta pertolongan dan kekuatan dari Tuhan saja, sekalipun banyak terjadi penindasan dan kejahatan disekitarnya. Kondisi keterpurukan ini mungkin saja akan sangat mempengaruhi keadilan Tuhan bagi Habakuk dan bangsa Israel, sehingga mempengaruhi pula setiap orang yang menanti untuk tetap bertahan. Tetapi Nabi Habakuk menegaskan bahwa orang benar akan memperoleh kehidupan dari kepercayaannya kepada Tuhan (ayat 4). Hal ini berarti bahwa kesetiaan harus disertai iman yang sungguh yang berwujud juga dalam kesetiaan setiap orang benar untuk menyampaikan doa pengaduannya kepada Tuhan. Habakuk menyatakan pentingnya sikap tersebut melalui kehidupannya yang juga terus menerus berseru kepada Tuhan meyakini akan kuasa Tuhan yang akan menolongnya. Tidak pernah luntur dalam hatinya bahwa Tuhan pasti akan menepati janji keselamatanNya. Itulah iman yang sesungguhnya di masa-masa penantian atau adventus bagi kita saat ini.

Doa: Teguhkanlah iman kami dengan tuntutan RohMu, ya Tuhan, dalam masa-masa adventus ini. Amin.  

Senin, 06 Desember 2021                      

bacaan : Mazmur 119 : 166 – 168

166 Aku menantikan keselamatan dari pada-Mu, ya TUHAN, dan aku melakukan perintah-perintah-Mu. 167 Aku berpegang pada peringatan-peringatan-Mu, dan aku amat mencintainya. 168 Aku berpegang pada titah-titah-Mu dan peringatan-peringatan-Mu, sebab seluruh hidupku terbuka di hadapan-Mu.

Mencintai Dalam Penantian

Shasha, ini sudah jam 11 malam, ayo cepat tidur”, seruku kepada Shasha. “Sebentar ma, sedikit lagi, ini sudah mau hampir selesai. Saya lagi menyelesaikan soal-soal ini”, jelas Shasha kepadaku. “Kamu lagi menyelesaikan soal-soal apa? pelajaran apakah itu?, tanyaku. “Pelajaran matematika, ma. Saya menyukainya. Saya ingin menyelesaikan beberapa pertanyaan ini. Saya harus bisa mendapatkan penilaian harian yang lebih baik dari sebelumnya. Beberapa teman memintaku untuk bekerja sama, tapi mereka tidak serius mengerjakan latihan soal-soal ini. Saya tidak mau. Jadi mama, ijinkan saya mengerjakan pelajaran yang saya sukai ini ya? setelah itu, saya akan segera tidur”, jelas Shasha sambil sedikit memelas. Rasa suka/senang dapat memberi dorongan yang lebih kuat bagi seseorang untuk mengerjakan sesuatu yang sifatnya wajib atau harus. Pemazmur mengatakan pada ayat 166b dan 167 yakni “dan aku melakukan perintah-perintah-Mu. Aku berpegang pada peringatan-peringatanMu, dan aku amat mencintaiNya”, menunjukkan pula rasa suka atau yang yang disebut Pemazmur “mencintainya” sebagai alasan yang kuat untuk Pemazmur tetap setia pada perintah-perintah Tuhan. “Mencintainya” tidak hanya sekedar menggambarkan perasaan atau emosi, melainkan menjadi motivasi dan kekuatan bagi Pemazmur selama ia menantikan keselamatan dari Tuhan. Waktu-waktu penantian sebagai masa yang belum pasti harus disikapi dengan kekuatan atau hal-hal dari dalam diri yang akan menolong seseorang untuk tetap tekun melakukannya. Untuk itu, bagi kita sebagai orang percaya di minggu adventus kedua ini, marilah kita mengisi minggu ini dengan rasa suka/senang dan mencintai disertai dengan ketaatan pada perintah Tuhan.

Doa:  Kami mencintai perintahMu dan menyukai untuk melakukannya selama masa-masa penantian ini. Amin

Selasa, 07 Desember 2021                               

bacaan : Roma 15 : 12 – 13

12 Dan selanjutnya kata Yesaya: "Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan." 13 Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.

Hidup Dengan Berpengharapan

Apakah hidup kita sekarang lebih baik daripada dulu? Ada yang menjawabnya,belum tentu!. Sebab kenyataannya sekalipun kita hidup dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, namun kita masih menghadapi banyak masalah. Kemiskinan, keterbelakangan, bencana alam, masalah kemanusiaan bahkan pandemi virus corona masih menjadi wajah kehiduoan saat ini. begitu banyak peristiwa dan tragedi yang mengancam dan merenggut nyawa dan membuat pedih hati kita.. Dalam kondisi demikian, apakah iman kita dapat menjadi landasan yang kokoh untuk bertahan menghadapi situasi ini dan masih adakah harapan yang kita miliki akan hadirnya sebuah kehidupan yang jauh lebih baik ke depan?. Kegelisahan itu dirasakan pula oleh bangsa Israel masa lampau. kapankah masanya sebuah pemerintahan yang adil dan benar, yang memberikan kesejahteraan kepada umat akan mereka nikmati? Dalam kegelisahan itu nabi Yesaya tampil dengan nubuatannya, “Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan”. Ini pula yang diulangi dan ditegaskan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Jadi,  pengharapan itu berasal dari penyerahan hidup kepada Allah melalui  kekuatan Roh Kudus. Karena itu, orang yang berpengharapan selalu bersikap optoimis, sanggup menghadapi berbagai tantangan hidup, karena ia memilih berserah pada  kehendak Tuhan. Itulah sikap pengharapan kita yang harus dimiliki di minggu-minggu adventus ini.

Doa: Tolonglah kami ya Roh Kudus, tetap berpengharapan dalam segala situasi hidup. Amin.

Rabu, 08 Desember 2021                             

bacaan : 2 Korintus 5 : 6 – 10

6 Maka oleh karena itu hati kami senantiasa tabah, meskipun kami sadar, bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan, 7 --sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat-- 8 tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan. 9 Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. 10 Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.

Merayakan Adven Dengan Beriman

Masa advent atau persiapan hari raya natal yaitu perayaan penggenapan kedatangan Tuhan yang pertama diantara umat manusia. Ia lahir sebagai bayi mungil yang memberi sukacita dan keselamatan bagi manusia. Masa advent juga mengarahkan kita dengan penuh harapan menantikan kedatangan Tuhan pada akhir zaman. Tuhan yang dinantikan pada kedua masa ini adalah Tuhan yang hadir secara konkrit dalam sejarah hidup manusia yang beriman. Sebagai gereja, kita berjalan dalam proses keselamatan Allah yang sudah dan sedang berlangsung, serta terus menantikan kepenuhannya. Karena itu, advent mengingatkan gereja akan panggilan misionernya untuk mewartakan sabda Allah kepada segala bangsa agar mengenal Kristus dan kehendakNya. Semangat adventus tidak lain adalah pengharapan, bersihkan hati, beriman teguh, dan tabah menghadapi berbagai berbagai tantangan dan persoalan hidup, tidak mudah tawar hati. Dalam bahasa Paulus, tetaplah berpengharapan dan hiduplah berkenan di hadapan Tuhan, sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus untuk memperoleh apa yang patut kita terima, sesuai dengan yang dilakukan dalam hidup baik ataupun jahat. Semangat adventus ini harus kita miliki. Jagalah diri kita masing-masing supaya jangan jatuh kedalam godaan dunia ini. Mari bersihkan hati dari semua hal yang membuat kita kehilangan damai hati, lalu tetaplah beriman dan berharap menantikan Dia yang datang bukan lagi sebagai bayi malaf, namun sebagai hakim yang menghakimi manusia.

Doa: Peliharalah hidup kami di masa-masa penantian ini ya Tuhan. Amin.

Kamis, 09 Desember 2021                              

bacaan : Filipi 3 : 17 – 4 : 1

Nasihat-nasihat kepada jemaat
17 Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu. 18 Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. 19 Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi. 20 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, 21 yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.
Karena itu, saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!

Jadilah Teladan Iman

Menjadi teladan bukanlah hal mudah. Orang yang menjadi teladan artinya orang yang patut ditiru atau dijadikan panutan oleh orang lain. Ia menjadi role model bagi orang lain. Di dalam keluarga, jemaat, gereja dan masyarakat, kita akan selalu membutuhkan orang-orang yang dapat diteladani dalam sikap, tuturkata dan perilaku hingga teladan iman setiap hari. Dalam alkitab kita pun bisa menemukan banyak contoh orang-orang yang penuh keteladanan.  Rasul Paulus adalah salah satunya. Ia memberi nasehat kepada jemaat di Filipi  “ikutilah teladanku sama seperti aku telah mengikuti teladan Kristus.” Apa yang perlu diteladani dari Paulus? Kehidupannya ternyata sepenuhnya dipimpin oleh Roh Kudus sehingga ia benar-benar mengerti bahwa keberadaan hidupnya hanya untuk Tuhan. Paulus tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Yang dipikirkan hanyalah bagaimana ia bisa memuliakan nama Kristus yang telah mati bagi dirinya, baik melalui kehidupan maupun kematiannya. Itulah sebabnya ia tetap berdiri teguh melayani dan memberitakan Injil. Berdiri teguh menunjuk kepada sikap hidup dan pendirian tidak berubah, tidak goyah namun memiliki sikap hidup setia dan tetap beriman didalam kondisi dan situasi apapun. Itulah hal yang patut diteladani dari Paulus. Pertanyaannya, ada berapa banyak sosok yang layak untuk diteladani di hari-hari penantian ini? Apakah kita sendiri sudah siap dan sanggup menjadi teladan? Belajar dari apa yang dinasihatkan Paulus kepada jemaat di Filipi dan ia mencontohkan dirinya sendiri, marilah kita pun menjadi teladan kebaikan dan teladan iman, tidak goyah dalam situasi apapun. 

Doa:  Mampukan kami menjadi teladan iman dan kebaikan. Amin.

Jumat, 10 Desember 2021                            

bacaan : 1 Yohanes 5 : 1 – 5

Iman mengalahkan dunia
Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari pada-Nya. 2 Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. 3 Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, 4 sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. 5 Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?

Iman Untuk Mengalahkan Dunia

Untuk dapat mengalahkan dunia dan godaannya, kita mesti kuat dalam iman. Yohanes dalam suratnya yang pertama ini mengajak untuk percaya kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah. Ajakan ini sangat penting, sebab inilah bukti dari kekristenan. Orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Anak Allah, tentu mengasihi Allah dan menuruti perintah-Nya Dalam menuruti perintah-Nya itu, kita diingatkan untuk tidak takut. Namun, ketakutan memperlihatkan ketidaksempurnaan kasih. Memang ada banyak faktor yang membuat orang hidup dalam ketakutan. Justru itu Yohanes mengingatkan: “Siapakah yang mengalahkan dunia ini, selain daripada dia yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah?. Sikap percaya bahwa Yesus Anak Allah, yang menjadi kekuatan bagi orang percaya menghadapi hidup. Yesuslah sumber kekuatan kita yang akan datang sebagai Tuhan. Sebagai orang percaya kita diajak untuk tidak perlu takut. Berani menghadapi dan berperang melawan roh-roh jahat di dunia ini sebab  Allah yang telah menyediakan  perlengkapan senjata rohani yang memperlengkapi kita menghadapi dunia dan  cobaannya.  Ada banyak pergumulan hidup di dunia ini yang senantiasa mengintai dan mengancam kita. Mungkin masalah ekonomi, kesehatan, keluarga, pekerjaan, dan masih banyak lagi. Sekalipun demikian iman percaya kita kepada Yesus Kristus jangan menjadi lemah, namun iman kita harus tetap kokoh dan teguh, ibarat batu karang. Dengan demikian di masa-masa penantian ini, sebagai keluarga marilah jaga dan pelihara hubungan kita dengan Tuhan, supaya ada kekuatan  yang dapat kita miliki untuk dapat  mengalahkan dunia ini.

Doa: Tuhan memberi iman untuk  mengalahkan dunia  dan cobaannya. Amin.

Sabtu, 11 Desember 2021                                

bacaan : Yudas 1 : 17 – 23

Nasihat-nasihat untuk meneguhkan iman
17 Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus. 18 Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu: "Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka." 19 Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus. 20 Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. 21 Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. 22 Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, 23 selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.

Teguh Dalam Iman

Di minggu-minggu Adventus ini hendak mengajak kita untuk merenungkan dan memaknai seluruh perjalanan hidup agar tetap setia beriman kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Hal ini penting sebab situasi hidup sekarang ini dengan berbagai tantangan dan masalah sangat berpengaruh dan menantang iman orang percaya khusus keluarga Kristen. Oleh penulis surat Yudas menyaksikan bahwa pada akhir jaman akan tampil pengejek-pengejek yang hidup menurut nafsu kefasikan mereka. Mereka adalah pemecah belah yang dikuasi keinginan dunia dan hidup tanpa Roh Kudus. Sifat keserakahan yang kuat  membuat mereka begitu lihai menipu dengan kata-kata manis yang bertujuan memutarbalikkan kebenaran Injil tentang Kristus sebagai Mesias dan Juruselamat. Dengan segala cara mereka membangun kekuatan dan gerakan untuk menolak dan melawan iman Kristen tentang Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Secara sederhana saja kalau sikap dan perilaku hidup kita yang tidak mengimani Kristus, mengandalkan kekuatan-kekuatan  diluar Kristus, hidup dalam keserakahan, kedagingan, perseteruan, kedengkian, amarah, dendam serta berbagai nafsu dunia berarti kita menjadi sama dengan para pengejek tersebut. Itulah sebabnya penting untuk kita memohon tuntunan kuasa Roh Kudus dalam kehidupan kita di minggu-minggu adventus ini agar kita dapat menjauhi sifat-sifat demikian serta menjadi keluarga Kristen yang selalu mewujudkan cinta kasih Kristus melalui sikap dan perilaku hidup yang benar dalam keteguhan iman.

Doa: Tuhan Yesus kuatkan iman kami ditengah tantangan zaman ini. Amin.

*sumber : SHK Terbitan LPJ GPM

Santapan Harian Keluarga, 28 Nov – 4 Des 2021

Tema Mingguan : “Merayakan Adventus Dengan Berpengharapan

Minggu, 28 November 2021                            

bacaan : Yesaya 7 : 10 – 17

Pemberitaan mengenai Imanuel
10 TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya: 11 "Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas." 12 Tetapi Ahas menjawab: "Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN." 13 Lalu berkatalah nabi Yesaya: "Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? 14 Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. 15 Ia akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, 16 sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong. 17 TUHAN akan mendatangkan atasmu dan atas rakyatmu dan atas kaum keluargamu hari-hari seperti yang belum pernah datang sejak Efraim menjauhkan diri dari Yehuda--yakni raja Asyur."

Menaati Firman-Nya

Ketika berada dalam situasi yang mengancam kehidupan, secara tidak langsung mendorong kita untuk cepat bereaksi. Salah satu reaksi yang ditunjukan yaitu terkait dengan pengambilan keputusan. Namun karena kondisi yang mendesak membuat kita tidak memperhitungkan sabda Allah bahkan lalai melibatkan Tuhan di dalam keputusan itu. Hal itu juga yang dilakukan oleh raja Ahas. Mendengar kabar bahwa raja Aram dan raja Israel akan menyerang Yehuda, maka timbulah ketakutan yang besar dari raja Ahas dan juga seluruh rakyatnya. Allah memberi pengharapan bagi Ahas dan rakyatnya melalui nabi Yesaya agar mereka tetap meneguhkan hati dan tetap tinggal tenang, jangan takut dan kecut hati terhadap kedua raja itu. Meski pun Tuhan sudah menyampaikan Firman-Nya melalui nabi Yesaya, namun raja Ahas  tidak mengindahkannya malah justru menolak tanda yang akan diberikan Tuhan. Tanda bahwa akan lahir seorang anak laki-laki yang akan dinamai Imanuel, sesungguhnya merupakan pengharapan yang diberikan oleh Allah. Tidak jarang kita juga seringkali mengabaikan Firman Allah dan mengikuti kehendak diri sendiri ketika menghadapi berbagai ancaman. Namun kita seharusnya menyadari bahwa apapun keputusan serta tindakan yang kita lakukan untuk melindungi diri dari ancaman, akan sia-sia ketika itu diluar Firman dan kehendak Allah. Bacaan hari ini mengajarkan kita tentang pentingnya mengambil keputusan sesuai dengan Firman dan kehendak Allah. Sebab Firman-Nya akan selalu menuntun kehidupan kita serta memberikan pengharapan. Belajarlah untuk tetap menaruh harapan kepada-Nya sebab Allah yang kita sembah di dalam Yesus tidak pernah memberikan harapan yang palsu. Bersama-Nya kita tidak akan kecewa.

Doa: Mampuhkanlah kami memahami kehendak Tuhan sesuai Firman-Mu, Amin.

Senin, 29 November 2021                              

bacaan : Yesaya 30 : 18 – 26

Janji keselamatan bagi Sion
18 Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia! 19 Sungguh, hai bangsa di Sion yang diam di Yerusalem, engkau tidak akan terus menangis. Tentulah Tuhan akan mengasihani engkau, apabila engkau berseru-seru; pada saat Ia mendengar teriakmu, Ia akan menjawab. 20 Dan walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia, 21 dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: "Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya," entah kamu menganan atau mengiri. 22 Engkau akan menganggap najis patung-patungmu yang disalut dengan perak atau yang dilapis dengan emas; engkau akan membuangnya seperti kain cemar sambil berkata kepadanya: "Keluar!" 23 Lalu TUHAN akan memberi hujan bagi benih yang baru kamu taburkan di ladangmu, dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah. Pada waktu itu ternakmu akan makan rumput di padang rumput yang luas; 24 sapi-sapi dan keledai-keledai yang mengerjakan tanah akan memakan makanan campuran yang sedap, yang sudah ditampi dan diayak. 25 Dari setiap gunung yang tinggi dan dari setiap bukit yang menjulang akan memancar sungai-sungai pada hari pembunuhan yang besar, apabila menara-menara runtuh. 26 Maka terang bulan purnama akan seperti terang matahari terik dan terang matahari terik akan tujuh kali ganda, yaitu seperti terangnya tujuh hari, pada waktu TUHAN membalut luka umat-Nya dan menyembuhkan bekas pukulan.

Kasih Setia Tuhan Yang Tak Berkesudahan

Setinggi-tinginya langit, lebih tinggi kasih Yesus ku. sedalam-dalam lautan, lebih dalam kasih Yesus ku. seindah-indah pelangi, lebih indah kasih Yesus ku…dst….

Syair lagu di atas menggambarkan kasih Allah yang tidak tertandingi oleh apapun juga. Hal ini jelas terlihat dalam bacaan kita. Allah tetap menunjukan kasih-Nya kepada Israel sekalipun berulang-ulang kali mereka melakukan kesalahan dan pelanggaran. Pada saat mereka mengandalkan kekuatan manusia atau meminta perlindungan dari bangsa lain, membuktikan ketidaktaatan dan ketidaksetiaan mereka kepada Allah. Namun karena kasih Allah yang begitu besar, Ia tetap mengasihi Israel bahkan memberikan harapan baru bagi mereka apabila mereka kembali dan berseru kepada-Nya. Kasih dan penyertaan Tuhan yang dinyatakan bagi bangsa Israel mengajarkan kita tentang pentingnya bersandar dan bergantung pada Dia sang pemilik kehidupan. Kasih-Nya yang tak berkesudahan akan senantiasa menyertai apabila kita meninggalkan dosa  dan kembali kepada-Nya. Sebagai manusia, kita tidak terlepas dari berbagai kesalahan. Akan tetapi kesalahan dan pelanggaran itu tidak mengurangi kasih Allah sebab Ia memiliki kasih yang tidak dapat di ukuur oleh apapun. Percayakanlah hidupmu kepada Tuhan dan tetaplah bersandar kepada-Nya serta andalkan Dia dalam menjalani hari-hari hidup kita. Pastikan bahwa kita tidak mengandalkan kekuatan diri sendiri juga tidak mengandalkan sesama manusia, sebab hal itu tidak berguna dan percuma. Ingatlah dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terlatak kekutanmu. Tetaplah percaya dan berharap hanya kepada yang Maha kasih..

DoaTuhan, biaralah kasih setia-Mu yang tak berkesudahan itu menyertai setiap langkah hidup kami. Amin.

Selasa, 30 November 2021                           

bacaan : Yesaya 40 : 27 – 31

27 Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: "Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?" 28 Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. 29 Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. 30 Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, 31 tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Ia Selalu Memberi Kekuatan

Menghadapi situasi atau keadaan yang rumit, seringkali membuat kita putus asa dan hilang harapan. Ada yang mencoba menjalaninya dengan iklas, tetapi ada juga yang sebaliknya. Ketika kenyataan hidup tidak sesuai dengan harapan maka kita akan marah, kecewa, menyalahkan diri sendiri, menyalahkan orang lain, tapi juga tanpa sadar kita menyalahkan Tuhan. Kita lalu bertanya, dimanakah Tuhan? Menjadi hilang harapan dan beranggapan seolah-olah Allah tidak mempedulikan kita. Ungkapan serupa juga diucapkan oleh bangsa Israel “hidupku tersembunyi dari Tuhan, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?”. Kesulitan hidup yang dihadapi pada saat pembuangan membuat mereka merasa bahwa Allah telah melupakan dan tidak memperhatikan mereka lagi. Melalui nabi Yesaya dalam bacaan kita mau menyampaikan bahwa dalam setiap ketidak mampuan menghadapi berbagai masalah, sesungguhnya Allah tidak pernah meninggalkan kita. Ia adalah Allah yang setia dan kasih setia-Nya itu untuk selama-lamanya. Ia adalah Allah yang punya kuasa serta mampu memberikan kekuatan bagi kita yang lemah. FirmanTuhan mengingatkan kita sebagai orang percaya agar tetap mengimani dan mengandalkan serta tetap menaruh harapan kepada-Nya. Sebab Ia sumber kekuatan dan tempat perlindungan kita. Kuasa-Nya dapat menolong, menghadapi berbagai tantangan hidup yang mengancam kehidupan kita. Percayalah kepada Allah dan ingatlah, Ia akan senantiasa memberikan kekuatan kepada orang-orang yang selalu menantikan-Nya. Tuhan menyertai dan menolong kita dalam menapaki kehidupan selanjutnya.

Doa:  Berilah kekuatan ya Tuhan, untuk kami menapaki hari-hari hidup ke depan. Amin.

Rabu, 01 Desember 2021                                

bacaan : Yesaya 60 : 1 – 2  

Kemuliaan Sion yang akan datang
Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. 2 Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.

Bangkitlah, Menjadi Teranglah

Yang penting skarang su bangkit to?” atau “yang penting sekarang sudah bangkit, benarkan?, Kalimat tanya retoris ini terjawab di akhir cerita seorang pendeta senior. Kata bangkit yang dipergunakan oleh seorang pendeta junior ini hendak menegaskan perubahan hidup yang kini dialami oleh pendeta berusia 50 tahunan tersebut. Bangkit dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung salah satu arti yakni bangun (hidup) kembali. Dengan kata lain, adanya sebuah perubahan dari keadaan yang tidak baik, yang berat, yang sukar atau sulit, yang suram atau gelap menjadi keadaan yang baik, yang mudah dan terang. Menurut tafsiran Wycliffe, perubahan ini pun ditekankan dalam nubuatan nabi Yesaya kegelapan dunia akan dikalahkan oleh terang Israel. Sudut pandang Wycliffe ini terkait dengan kedatangan Kristus pertama kali atau kelahiran Yesus Kristus, sama seperti Terang yang akan terbit atas bangsa Yahudi. Selanjutnya, terang tersebut hendaknya diteruskan oleh orang percaya sebagai jemaat atau gerejaNya. Sesuai tema bulan Desember yakni merayakan adventus dan natal Kristus dengan rendah hati dan setia, maka terang yang dinyatakan tersebut hendaknya nampak dalam ucapan dan tindakan yang menghargai dan menerima orang lain yang terbatas pengetahuan dan kemampuannnya, yang tidak menjadikan kepentingan dirinya sebagai yang paling utama dan tidak mempedulikan kepentingan orang lain bahkan menganggap kepentingan mereka tidaklah penting untuk diperhatikan, dll. Sebagai keluarga, kita mestinya menyatakan terang tersebut lebih dulu dalam hubungan antar suami dan istri serta orangtua dan anak, supaya kita pun mampu melakukannya bagi orang sekitar. Itulah sikap adventus kita yang sebenarnya.

Doa:  Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk menyatakan terang Kristus kepada yang lain. Amin. 

Kamis, 02 Desember 2021                              

bacaan : Yesaya 62 : 1 – 5

Keselamatan Sion akan datang dengan segera
Oleh karena Sion aku tidak dapat berdiam diri, dan oleh karena Yerusalem aku tidak akan tinggal tenang, sampai kebenarannya bersinar seperti cahaya dan keselamatannya menyala seperti suluh. 2 Maka bangsa-bangsa akan melihat kebenaranmu, dan semua raja akan melihat kemuliaanmu, dan orang akan menyebut engkau dengan nama baru yang akan ditentukan oleh TUHAN sendiri. 3 Engkau akan menjadi mahkota keagungan di tangan TUHAN dan serban kerajaan di tangan Allahmu. 4 Engkau tidak akan disebut lagi "yang ditinggalkan suami", dan negerimu tidak akan disebut lagi "yang sunyi", tetapi engkau akan dinamai "yang berkenan kepada-Ku" dan negerimu "yang bersuami", sebab TUHAN telah berkenan kepadamu, dan negerimu akan bersuami. 5 Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu, dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu.

Perubahan Hidup di Bulan Ber – Ber

Rasanya natal semakin dekat, lagu-lagu natal yang terdengar dibalik jendela semakin mendamaikan hati. “Ibu pendeta…ibu pendeta!, suara seorang perempuan terdengar di luar kamar. Aku pun tersadar dari lamunanku dan menyambut suara tersebut sambil bergegas ke luar kamar “ya, oma Tin”, jawabku. Oma yang sudah menjalani masa pensiunnya sekitar 6 tahun itu terlihat gesit menyiapkan sarapan pagi untukku. Hari itu merupakan hari kedua aku tinggal di rumah Oma Tin. ”Katong su di bulan ber-ber” ni oma e, natal su dekat”, ucapku. “Iya ibu”, jawab oma sambil tersenyum. Suasana pagi itu pun semakin terasa akrab dalam cerita kami tentang Ohoifau, tempat asal oma. Sejak menjadi tempat pelaksanaan sidang MPP AMGPM tahun 2021, pembangunan di kampung Ohoifau pun menampakkan perubahan yang sangat besar. Kondisi ini tentunya berdampak pula bagi pertumbuhan masyarakat setempat, ringkas cerita dari Ketua Majelis Ohoifau, Pendeta Ona Wenno. Sebuah kondisi baik dari masyarakat sangat diharapkan oleh setiap pemimpinnya, demikian juga Nabi Yesaya. Saat itu, keadaan Israel, Yerusalem khususnya sedang mengalami kehancuran, termasuk aspek spiritualitas. Ketidakbenaran menjadi gaya hidup Bangsa Israel. Yesaya pun melihat keadaan bangsanya seperti istri yang ditinggalkan suaminya. Bangsa Israel seperti kehilangan kekuatan dan kebanggaannya. Dalam keadaan yang demikian, nabi tetap percaya bahwa ada saatnya Tuhan akan memulihkan umatNya sesuai janjiNya. Pemulihan tersebut akan mengembalikan Bangsa Israel dalam hubungannya dengan Tuhan seperti suami-istri. Untuk itu, kebenaran harus dinyatakan dalam perubahan hidup seluruh bangsa Israel. Karena kebenaran menjadi penentu perubahan bagi bangsa Israel. Di minggu-minggu adventus ini, marilah kita menjalani hidup sesuai kebenaran yang dikehendaki Tuhan.

Doa: Tuntunlah kami Tuhan untuk hidup dalam kebenaranMu. Amin 

Jumat, 03 Desember 2021                               

bacaan : Yesaya 62 : 6 – 9

6 Di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem, telah Kutempatkan pengintai-pengintai. Sepanjang hari dan sepanjang malam, mereka tidak akan pernah berdiam diri. Hai kamu yang harus mengingatkan TUHAN kepada Sion, janganlah kamu tinggal tenang 7 dan janganlah biarkan Dia tinggal tenang, sampai Ia menegakkan Yerusalem dan sampai Ia membuatnya menjadi kemasyhuran di bumi. 8 TUHAN telah bersumpah demi tangan kanan-Nya, demi tangan kekuatan-Nya: "Sesungguhnya, Aku tidak akan memberi gandummu lagi sebagai makanan kepada musuhmu, dan sesungguhnya, orang-orang asing tidak akan meminum air anggurmu yang telah kauhasilkan dengan bersusah-susah; 9 tetapi orang yang menuainya akan memakannya juga dan akan memuji-muji TUHAN, dan orang yang mengumpulkannya akan meminumnya juga di pelataran-pelataran tempat kudus-Ku."

Menanti Dengan Antusias

Ipen, nanti tunggu bapak yang gemuk-gemuk di luar ya”, kata teman pendetaku melalui telepon. Sudah lima menit berlalu, kapal cepat sudah hampir lepas jangkar, namun bapak yang dibilang oleh teman pendetaku belum juga tiba. Aku sudah mulai tidak tenang menunggu kedatangan bapak tersebut. Ketika tubuhku hendak berbalik menuju pintu kapal, tiba-tiba ada seorang ibu yang memanggil “ibu pendeta, sepertinya bapak yang tadi ibu pendeta bilang sudah dari sana”, serunya sambil menunjuk ke arah pagar masuk pelabuhan. Mataku pun tertumbuk pada seorang bapak yang berbadan besar sementara duduk di belakang pengendara motor sambil memegang sebuah bingkisan. Menunggu memang bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi jika dilakukan dalam waktu yang terbatas. Ketidaksabaran hingga kekuatiran pun menjadi sikap orang yang menunggu. Nabi Yesaya dan bangsa Israel pun dalam teks bacaan hari ini menunjukkan sikap penantiannya terhadap penggenapan janji keselamatan dari Allah. Mereka menantinya sedemikian rupa seperti pengintai yang berjaga-jaga. Walau mereka belum tahu kapan Tuhan akan menyelamatkan, tetapi mereka tidak kehilangan kepercayaan dan pengharapan akan janji tersebut. Mereka menanti sepanjang hari, sepanjang malam bahkan tidak pernah berdiam diri. Mereka hendak menunjukan kesungguhan mereka kepada Tuhan, sehingga Tuhan pun tak dapat tenang dan dapat segera mewujudnyatakan janjiNya. Seperti sikap Nabi Yesaya dan bangsa Israel, demikian pula seharusnya sikap kita saat ini di dalam masa-masa adventus. Kita menanti perayaan kelahiran Yesus tanggal 25 Desember dan kita menanti kedatangan Tuhan pada kali kedua. Kita harus menunjukkan kesungguhan dan sikap kewaspadaan kita dalam penantian. Sehingga ketika Ia datang, kita menjadi orang percaya yang sungguh-sungguh siap.

Doa:  Kami menanti-nantikan Engkau Tuhan, Penyelamat kami. Amin

Sabtu, 04 Desember 2021                            

bacaan : Yesaya 62 : 10 – 12

 10 Berjalanlah, berjalanlah melalui pintu-pintu gerbang, persiapkanlah jalan bagi umat, bukalah, bukalah jalan raya, singkirkanlah batu-batu, tegakkanlah panji-panji untuk bangsa-bangsa! 11 Sebab inilah yang telah diperdengarkan TUHAN sampai ke ujung bumi! Katakanlah kepada puteri Sion: Sesungguhnya, keselamatanmu datang; sesungguhnya, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. 12 Orang akan menyebutkan mereka "bangsa kudus", "orang-orang tebusan TUHAN", dan engkau akan disebutkan "yang dicari", "kota yang tidak ditinggalkan".

Berjalanlah, Jangan Diam Saja!

Sambil menggerakkan kaki berjalan di tempat, anak-anak sekolah minggu pun bernyanyi dengan riang “berjalanlah-berjalanlah melalui pintu gerbang, persiapkanlah jalan bagi Tuhan…”. Lirik lagu sekolah minggu ini hampir sama dengan ayat 10 pada teks bacaan kita. Namun dalam teks ini hendak menegaskan sikap penantian dari Nabi Yesaya dan Bangsa Israel akan keselamatan Tuhan yang seharusnya berlangsung dalam kesungguhan dan kesetiaan supaya pada saat pemulihan terjadi, mereka pun menjadi kesaksian bagi bangsa-bangsa. Berjalan melalui pintu gerbang artinya bahwa mereka harus berjalan menurut ketentuan/kehendak/perintah Allah, sehingga kelak pada saat keselamatan itu datang, orang akan menyebutkan mereka bangsa yang kudus, umat tebusan Tuhan yang dicari oleh Tuhan dan tidak ditinggalkanNya. Sebutan tersebut pun akan dikenakan pada diri kita dan menjadi saksi Allah bagi dunia ini, jika kita juga hidup dalam ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan Allah di minggu-minggu adventus. Sebagai orang-orang yang sudah diselamatkan melalui kematian dan kebangkitan Kristus, penantian kita bukan lagi pada perayaan kelahiranNya saja, melainkan pada kedatanganNya di kali yang kedua. Masa itu terjadi sama seperti pencuri yang datang pada malam hari, dimana kita tidak tahu kapan waktu pastinya. Oleh sebab itu tindakan “berjalan” merupakan suatu tindakan aktif dan optimis yang harus dinampakkan dalam sikap penantian kita. Tindakan aktif yang sesuai dengan kehendak Tuhan atau seturut FirmanNya.

Doa: Tolonglah kami ya Tuhan untuk berjalan seturut kehendakMu. Amin

*sumber : SHK terbitan LPJ GPM

Santapan Harian Keluarga, 21 – 27 November 2021

Tema Mingguan : “Kesetaraan Semua Ciptaan Di Hadapan Allah

Minggu, 21 November 2021                         

bacaan : Mazmur 147 : 1 – 11

Kekuasaan dan kemurahan TUHAN
Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu. 2 TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai; 3 Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka; 4 Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya. 5 Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga. 6 TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi. 7 Bernyanyilah bagi TUHAN dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi! 8 Dia, yang menutupi langit dengan awan-awan, yang menyediakan hujan bagi bumi, yang membuat gunung-gunung menumbuhkan rumput. 9 Dia, yang memberi makanan kepada hewan, kepada anak-anak burung gagak, yang memanggil-manggil. 10 Ia tidak suka kepada kegagahan kuda, Ia tidak senang kepada kaki laki-laki; 11 TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.

Kemurahan Tuhan Tak Berkesudahan

Ketika diperhadapkan dengan pertanyaan, Maukah menyenangkan Hati Tuhan atau Hati manusia? Pasti setiap orang percaya dengan lantang menjawab menyenangkan Hati Tuhan. Tetapi, kenyataannya lebih banyak kita mengecewakan Hati Tuhan daripada menyenangkan-Nya.

Pemazmur lewat bacaan hari ini mengungkapkan bahwa Kekuasaan dan Kemurahan Tuhan tidak pernah berkesudahan di dalam kehidupan kita. IA menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka mereka (ay.3). Ketika seseorang terluka, hal yang dirasakan ialah sakit, remuk jiwa, patah hati dan hancur. Dalam keadaan yang demikian, Iblis memakainya sebagai senjata agar kita menyerah dan tidak bangkit lagi. Kita senantiasa mengingat pengalaman-pengalaman buruk serta terus dihantui dengan kekecewaan. Pada akhirnya kita menjadi kecewa, dendam, depresi, sulit mengampuni, apatis dan meragukan Kuasa Tuhan. Jika diperhadapkan dengan situasi ini, maka hal mendasar yang harus kita lakukan ialah Berdoa dan Tenangkan diri. Tidak perlu memaksakan untuk menanggung semuanya sendiri, Panggillah Nama Tuhan, Curahkan keluh kesahmu Pada-Nya. IA akan menyembuhkan dan memulihkan kita. Walaupun kita sering kali mengecewakan-Nya, namun IA tidak pernah membiarkan kita jatuh hingga tergeletak, bahkan IA selalu menggendong dan menolong kita. Oleh sebab itu, respon untuk setiap Kemurahan Tuhan harus kita nyatakan lewat pikiran, tutur kata, tindakan kita. Bernyanyilah bagi Tuhan dengan setiap perbuatan baikmu, Pujilah Nama-Nya dengan tutur katamu yang manis, Senangkanlah Hati-Nya dengan selalu Bersandar dan Berharap Pada-Nya.

Doa: Ya Tuhan, Kemurahan-Mu selalu menyertai Kehidupan Kami. Amin.

Senin, 22 November 2021                               

bacaan : Ulangan 22 : 1 – 4

Tentang tolong-menolong
"Apabila engkau melihat, bahwa lembu atau domba saudaramu tersesat, janganlah engkau pura-pura tidak tahu; haruslah engkau benar-benar mengembalikannya kepada saudaramu itu. 2 Dan apabila saudaramu itu tidak tinggal dekat denganmu dan engkau tidak mengenalnya, maka haruslah engkau membawa hewan itu ke dalam rumahmu dan haruslah itu tinggal padamu, sampai saudaramu itu datang mencarinya; engkau harus mengembalikannya kepadanya. 3 Demikianlah harus kauperbuat dengan keledainya, demikianlah kauperbuat dengan pakaiannya, demikianlah kauperbuat dengan setiap barang yang hilang dari saudaramu dan yang kautemui; tidak boleh engkau pura-pura tidak tahu. 4 Apabila engkau melihat keledai saudaramu atau lembunya rebah di jalan, janganlah engkau pura-pura tidak tahu; engkau harus benar-benar menolong membangunkannya bersama-sama dengan saudaramu itu."

Jangan Menahan Kebaikan

Don’t Judge a Book by its Cover “Jangan menilai buku dari sampulnya! Ungkapan ini sangat pas untuk menggambarkan penampilan Mark Bustos yang sangar. Mark adalah seorang penata rambut dari new York yang menghabiskan akhir pekannya dengan memberi layanan potong rambut gratis bagi para Tunawisma. Kisahnya menjadi perbincangan hangat di dunia maya dan semua orang tersentuh dengan Kebaikan hatinya. Dalam sehari ia menargetkan enam orang untuk dicukur atau dipotong rambutnya. Kegiatan ini ia lakukan sejak Mey 2012 ketika ia pergi ke Filipina. Di sana ia berjumpa dengan anak-anak miskin dan ia memulainya dengan memangkas rambut mereka secara gratis. “Rasanya begitu menyenangkan” begitulah yang dirasakan Mark, menolong dengan sukacita. Energi positif ini ia bawa hingga kembali ke New York.

Bacaan hari ini dilihat sebagai lampiran tentang Hukum Teokratis. Hukum itu mengingatkan bahwa Allah menghendaki hubungan antar sesama dipenuhi dengan Kasih, Hukum Kasih inilah yang merupakan prinsip hakiki yang dipakai dalam bidang kehidupan umat.  Salah satu Hukum itu ialah Tolong Menolong.

Berkaca dari kisah Mark, maka Firman Tuhan juga mengajarkan kita untuk terbuka menolong orang yang membutuhkan pertolongan. Janganlah menutup mata hati kita untuk melakukan kebaikan. Selagi kita diberi kesempatan, talenta dan waktu untuk berbuat baik, maka lakukanlah! Lakukan dengan Kasih yang tidak pura-pura. Lakukan karena kita sadar bahwa Tuhan tidak pernah menahan Kebaikan untuk menolong kita.

Doa: Ajari kami Tuhan, untuk hidup saling Menolong. Amin.

Selasa, 23 November 2021                               

bacaan : Imamat 25 : 1 – 7

Tahun Sabat dan tahun Yobel
TUHAN berfirman kepada Musa di gunung Sinai: 2 "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu telah masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, maka tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi TUHAN. 3 Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu, 4 tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi TUHAN. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi. 5 Dan apa yang tumbuh sendiri dari penuaianmu itu, janganlah kautuai dan buah anggur dari pokok anggurmu yang tidak dirantingi, janganlah kaupetik. Tahun itu harus menjadi tahun perhentian penuh bagi tanah itu. 6 Hasil tanah selama sabat itu haruslah menjadi makanan bagimu, yakni bagimu sendiri, bagi budakmu laki-laki, bagi budakmu perempuan, bagi orang upahan dan bagi orang asing di antaramu, yang semuanya tinggal padamu. 7 Juga bagi ternakmu, dan bagi binatang liar yang ada di tanahmu, segala hasil tanah itu menjadi makanannya.

Kasih Allah Yang Membebaskan

Merasakan kebebasan adalah hal mutlak yang diinginkan setiap orang. Bebas berekspresi, bebas berpendapat, bebas dari ketidakadilan bahkan bebas dari tuntutan hidup. Kebebasan sedikit saja pastinya membuat kita merasa lega.

Ada 3 (tiga) hukum Sabat dalam Perjanjian Lama, yaitu Hari Sabat (siklus mingguan), Tahun Sabat (siklus tahunan) dan Tahun Yobel (siklus generasi).  Walaupun puncak dari ketiga siklus ini memiliki penekanan yang khas, tetapi maknanya sama yaitu “Berhenti”, “Beristirahat”, atau “Pembebasan”.  Kedua hukum ini sama-sama memberi pedoman legal bagi bangsa Israel yang sedang dan atau baru saja mengalami pembuangan/perbudakan di negeri orang, bahwa di tanah perjanjian, mereka tidak boleh saling menerkam/memakan, tidak boleh saling mematikan, tidak boleh memperbudak sesama bangsa mereka, dan tidak boleh lagi melakukan tindakan ketidakadilan.

Pembebasan yang sama dirasakan bukan hanya oleh manusia, namun alam ciptaan pun merasakannya. Bahwa di tahun ke-7 Tanah juga harus beristirahat. Tidak ada pekerjaan membajak atau menanam tumbuhan. Hal ini mengajarkan kita bahwa Tuhan Allah menghendaki adanya keseimbangan semua ciptaan. Manusia dan alam menjadi sahabat untuk saling melengkapi. Setiap pribadi, keluarga, persekutuan harus memiliki akses dan kesempatan yang adil pada berbagai sumber daya yang ada untuk kehidupan yang lebih baik. Kebaikan Tuhan inilah yang patut disyukuri dalam kehidupan orang-orang beriman.

Doa: Terima Kasih Tuhan, Engkau Membebaskanku dari Belenggu Dosa. Amin.

Rabu, 24 November 2021                              

bacaan : Imamat 25 : 14 – 17

14 Apabila kamu menjual sesuatu kepada sesamamu atau membeli dari padanya, janganlah kamu merugikan satu sama lain. 15 Apabila engkau membeli dari sesamamu haruslah menurut jumlah tahun sesudah tahun Yobel, dan apabila ia menjual kepadamu haruslah menurut jumlah tahun panen. 16 Makin besar jumlah tahun itu, makin besarlah pembeliannya, dan makin kecil jumlah tahun itu, makin kecillah pembeliannya, karena jumlah panenlah yang dijualnya kepadamu. 17 Janganlah kamu merugikan satu sama lain, tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.

Jangan Bikin Orang Lain Susah Dan Rugi

Dalam dunia ekonomi, faktor yang paling diutamakan adalah untung. Alasannya, prinsip utama dalam ekonomi adalah pengorbanan yang sekecil-kecilnya memperoleh hasil yang sebesar-besarnya. Karena itu, dalam setiap kegiatan ekonomi selalu yang dicari dan yang ingin didapatkan adalah keuntungan. Tidak ada pelaku ekonomi yang tidak menginginkan untung. Pelaku ekonomi tidak mau mengalami kerugian dalam setiap tindakan ekonominya. Hal inilah yang membuat umumnya manusia dalam setiap pekerjaan mengejar keuntungan lalu orang lain mendapatkan kerugian. Setiap manusia tidak mau mengalami kerugian dalam segala aspek kehidupannya. Kadangkala, bahkan seringkali agar tidak ingin mengalami kerugian manusia lalu melakukan segala cara untuk mendapatkan keuntungan. Di sinilah manipulasi, rekayasa, parlente, penipuan terjadi. Masing-masing orang selalu ingin menang dan ingin untung dengan cara apapun, menghalalkan segala cara. Prinsipnya yang penting beta (saya) untung walaupun yang lain rugi.

Firman Tuhan dari Imamat 25:14-17, mengingatkan kita bahwa segala pikiran, perkataan, bahkan perbuatan kita tidak boleh membuat orang lain mengalami kerugian (17). Kita mesti hidup dalam rasa takut akan Tuhan. Sebab orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang tidak membuat orang lain mengalami kerugian melalui pikiran, perkataan bahkan tindakannya. Karena itu, berhati-hatilah menggunakan hidup dalam bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, dan lainnya. Hendaknya seluruh aspek hidup kita mencerminkan sikap takut akan Tuhan, sehingga tidak menimbulkan kerugian dalam bentuk apapun bagi orang lain.   

Doa: Tuhan, mampukanlah kami melakukan segala sesuatu yang tidak merugikan orang lain. Amin.

Kamis, 25 November 2021                            

bacaan : Imamat 25 : 39 – 43

39 Apabila saudaramu jatuh miskin di antaramu, sehingga menyerahkan dirinya kepadamu, maka janganlah memperbudak dia. 40 Sebagai orang upahan dan sebagai pendatang ia harus tinggal di antaramu; sampai kepada tahun Yobel ia harus bekerja padamu. 41 Kemudian ia harus diizinkan keluar dari padamu, ia bersama-sama anak-anaknya, lalu pulang kembali kepada kaumnya dan ia boleh pulang ke tanah milik nenek moyangnya. 42 Karena mereka itu hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir, janganlah mereka itu dijual, secara orang menjual budak. 43 Janganlah engkau memerintah dia dengan kejam, melainkan engkau harus takut akan Allahmu.

Lakukanlah Apa Yang Ingin Orang Lain Lakukan Kepada Kita

Salah satu kalimat bijak Socrates (470-399 SM) yang cukup bermakna yaitu: “Jangan lakukan pada orang lain apa yang membuatmu marah jika dilakukan padamu oleh orang lain”. Pernyataan Socrates ini diperjelas lagi oleh Yesus dengan mengatakan: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka….” (Matius 7:12). Pernyataan Socrates maupun Yesus sama-sama hendak menekankan kepada kita untuk tidak memperlakukan orang lain dengan hal-hal yang kita sendiri tidak menginginkan orang lain melakukannya kepada kita, berupa perlakuan yang tidak baik, negatif, dan jahat.

Atas dasar itulah, Tuhan Allah menyampaikan kehendakNYA kepada umat Israel untuk memperlakukan orang miskin, budak, orang upahan, dan pendatang dengan baik. Bahkan lebih dari itu, jika mereka itu (orang miskin, budak, upahan, dan pendatang) bekerja sebagai budak, maka harus dibebaskan pada waktunya (tahun Yobel). Selain itu, mereka juga tidak boleh diperlakukan dengan kejam, sebab Israel sendiri dulu adalah orang miskin, budak, orang upahan, dan pendatang di tanah Mesir. Setelah pembebasan dikerjakan Tuhan Allah bagi umatNya, maka mereka juga patut untuk membebaskan sesama yang menderita dan susah. Orang yang hidup takut Tuhan, pasti akan memperlakukan orang lain dengan baik, sama seperti yang diinginkan orang lain perbuat baginya. Sebaliknya, tidak memperlakukan orang lain secara kejam. Marilah kita menjadikan pribadi dan rumah tangga kita, orang-orang yang berbuat kebaikan kepada semua orang.

Doa:  Mampukanlah kami untuk memperlakukan orang lain dengan baik, agar kami juga diperlakukan dengan baik oleh orang lain. Amin. 

Jumat, 26 November 2021                            

bacaan : Imamat 25 : 47 – 55   

47 Apabila seorang asing atau seorang pendatang di antaramu telah menjadi mampu, sedangkan saudaramu yang tinggal padanya jatuh miskin, sehingga menyerahkan dirinya kepada orang asing atau pendatang yang di antaramu itu atau kepada seorang yang berasal dari kaum orang asing, 48 maka sesudah ia menyerahkan dirinya, ia berhak ditebus, yakni seorang dari antara saudara-saudaranya boleh menebus dia, 49 atau saudara ayahnya atau anak laki-laki saudara ayahnya atau seorang kerabatnya yang terdekat dari kaumnya atau kalau ia telah mampu, ia sendiri berhak menebus dirinya. 50 Bersama-sama dengan si pembelinya ia harus membuat perhitungan, mulai dari tahun ia menyerahkan dirinya kepada orang itu sampai kepada tahun Yobel, dan harga penjualan dirinya haruslah ditentukan menurut jumlah tahun-tahun itu; masa ia tinggal pada orang itu haruslah dihitung seperti masa kerja orang upahan. 51 Jikalau jumlah tahun itu masih besar, maka dari harga pembeliannya harus dikembalikan sebagai penebus dirinya menurut jumlah tahun itu. 52 Jika waktu yang masih tinggal sampai kepada tahun Yobel sedikit lagi saja, maka ia harus membuat perhitungan dengan orang itu; menurut jumlah tahun itulah ia harus membayar uang tebusan dirinya. 53 Demikianlah ia harus tinggal padanya sebagai orang upahan dari tahun ke tahun. Janganlah ia diperintah dengan kejam oleh orang itu di depan matamu. 54 Tetapi jikalau ia tidak ditebus dengan cara demikian, maka ia harus diizinkan keluar dalam tahun Yobel, ia bersama-sama anak-anaknya. 55 Karena pada-Kulah orang Israel menjadi hamba; mereka itu adalah hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu."

Ringan Sama Dijinjing, Berat Sama Dipikul

Semut merupakan serangga yang berukuran sangat kecil namun mampu mengangkat dan membawa makanan atau beban yang berukuran lebih besar darinya. Caranya adalah secara bersama atau bergotong royong. Kebersamaan serangga ini memberi nilai bahwa berusaha dan berjuang untuk mencapai sesuatu itu, tidaklah untuk diri sendiri melainkan untuk sesama, untuk rekan-rekan semut lainnya.

Menyimak bacaan Imamat 25:47-55 terlihat penekanan utamanya terletak pada sikap menolong dan menopang sesama saudara untuk keluar dari kesusahan, kesulitan hidup, dan kemiskinan. Bahkan orang yang mampu diharuskan menebus kesusahan dan kemiskinan yang dialami oleh sesamanya. Jika ada perhitungan di dalamnya, perhitungan itu bukan untuk yang satu mendapat untung lebih dari yang lain. Harus ada keadilan di dalamnya. Itulah panggilan sebagai umat Tuhan.

Berdasar dari Firman Tuhan ini, setidaknya, kita bisa belajar dari karakter hidup semut yang saling membantu dan menopang sesama anggotanya. Sekecil apapun diri kita (sama seperti seekor semut yang sangat kecil), kita dapat berperan dan menjadi agen menolong dan menyelamatkan sesama kita yang mengalami kesulitan dan penderitaan dalam hidup. Peran kita adalah tidak menjadi orang yang egois dan individualistik dalam hidup bersama sesama kita. Sebaliknya kita bersama sesama manusia yang lain dapat menjadi partner/rekan yang berjuang bersama menolong sesama yang mengalami kesusahan, kesulitan hidup, dan menderita. Setidaknya dalam hidup sebagai umat Tuhan kita mesti menjalankan prinsip “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”, bukan berprinsip ringan sama dijinjing, berat orang lain yang pikul.

Doa:  Ya Tuhan, kuatkanlah kami untuk dapat bersama yang lain menolong sesama kami yang menderita dan susah…amin.

Sabtu, 27 November 2021                                  

bacaan : Roma 14 : 1 – 10

Jangan menghakimi saudaramu
Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya. 2 Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja. 3 Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu. 4 Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri. 5 Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. 6 Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah. 7 Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. 8 Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. 9 Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup. 10 Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. 

Jangan Menghakimi Jika Tidak Ingin Dihakimi

Sepenggal kalimat yang ditulis oleh Evangelina Tessia Pricilla (Pengarang dan Penulis buku dari Indonesia) mengatakan kepada kita bahwa tidak ada seorang pun diperbolehkan untuk menghakimi orang lain, sebab kita sendiri bukanlah manusia sempurna yang tidak pernah melakukan kesalahan di dunia ini.

Hal ini sejalan dengan pernyataan William Shakespeare (Penyair dan Dramawan dari Inggris 1564-1616) yang menyebutkan: “Bersabarlah untuk menghakimi, karena kita semua orang berdosa”. Tidak hanya itu, seorang Penulis terkenal dari Inggris, George Eliot (1819-1880), lebih tegas lagi mangatakan: “Kita semua memiliki dosa rahasia kita; dan jika kita mengenal diri kita sendiri, maka kita tidak harus menghakimi satu sama lain dengan kasar”. Pernyataan-pernyataan di atas setidaknya merupakan refleksi iman dari ketiga penulis tersebut yang bersumber pada bacaan Roma 14:1-10. Dalam suratnya, Rasul Paulus mengungkapkan hasil pengamatan dan analisanya terhadap kehidupan jemaat di Roma yang ternyata memiliki perilaku hidup saling menghakimi. Saling menghakimi tidak hanya terjadi antara jemaat Kristen asal Yahudi, tapi juga non-Yahudi yang berdebat soal makanan. Jemaat juga menghakimi hamba orang lain (ay.4). Semua ini menegaskan kepada kita bahwa sebelum kita menghakimi orang lain, hakimilah diri kita sendiri. Pertimbangkanlah; apakah kita adalah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan? Ingat, ketika ahli-ahli Taurat dan orang Farisi membawa perempuan yang kedapatan berzinah kepada Yesus, dengan tegas Yesus katakan: “Barang siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh.8:7). Karena itu, Janganlah menjadi hakim atas orang lain supaya orang lain juga tidak menjadi hakim atas kita. Sebab ukuran yang kita pakai untuk mengukur orang lain, itu juga akan dikenakan kepada kita.

Doa:  Tuhan, mampukanlah kami untuk tidak menjadi hakim atas sesama kami. Amin.

*sumber : SHK bulan November 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 14 – 20 November 2021

Tema Mingguan : “Berbela Rasa Dengan Sesama

Minggu, 14 November 2021                            

bacaan : Lukas 10 : 25 – 37

Orang Samaria yang murah hati
25 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 26 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" 27 Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." 28 Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." 29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" 30 Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. 36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" 37 Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

Kebersamaan Hidup Yang Dijaga dan Dirawat

Sering kita lupa  pada ajaran Yesus yaitu kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri. Kebanyakan kita bisa berfikir baik, berbicara juga baik namun kemampuan melakukannya yang sangat lemah. Kasih yang rela berkorban sebagaimana tindakan orang Samaria dalam perikop ini menantang kita semua untuk mewujudkan dalam kehidupan setiap hari. Kata orang Samaria ini “Rawatlah dia dan jika kau belanjakan lebih dari ini, aku akan menggantikannya waktu aku kembali”. Perumpamaan ini menggambarkan cinta kasih kepada sesama. Cinta kasih yang tidak terbatas ini menunjukkan bahwa siapa yang melihat orang terluka dan membiarkannya serta tidak menolongnnya, sama seperti mereka menyebut diri mereka orang Kristen namun hatinya tidak peka terhadap penderitaan dan kesusahan orang lain. Hal ini   dengan jelas mengungkapkan bahwa didalam diri mereka tidak terdapat Kasih. Panggilan untuk mengasihi adalah tanggung jawab orang yang beriman. Karena kasihNya yang besar, Allah menciptakan manusia segambar dan menjadi termulia. Kasih Allah memelihara kita sehingga kita hidup. Karena  kasih setia Allah itulah manusia tidak hidup sekedar hidup, namun membuat hidup itu bermanfaat dan berkualitas dengan mengasihi sesamanya. Sepuluh contoh hidup kebersamaan dalam keluarga dan sesamanya. Saling menyayangi, saling menghormati, hidup selalu rukun, selalu berbagi, selalu tolong-menolong, selalu menghibur seorang dengan yang lain, saling memotivasi, selalu menjadi penyemangat keluarga dan sesama, selalu ada disaat keluarga dan sesama sedang susah. Marilah kita menjaga dan merawat hidup dalam kebersamaan dengan mengasihi, menolong dan membantu sesama sebagai wujud menghidupi kasih Kristus.

Doa: Ajarilah kami Tuhan untuk terus hidup saling mengasihi. Amin.

Senin, 15 November 2021                          

bacaan : Keluaran 22 : 21 – 24

Peraturan tentang orang-orang yang tidak mampu

21 "Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir. 22 Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas. 23 Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring. 24 Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim

Berbela Rasa Dengan Sesama

Suatu hari seorang pemuda mencari sarapan di pagi hari, ia pergi menuju tempat jualan nasi kuning kesukaannya. Ia tidak langsung pergi ke gerobak makanan untuk membeli nasi kuning sarapannya, namun ia mampir ke tempat olahraga untuk  bertemu dengan teman-temannya. Setelah mengobrol, ia kembali pulang dan membeli nasi kuning langganannya. Sesampai disana ia terkejut, karena sang ibu  penjual nasi kuning di gerobak kecil itu, tengah terisak-isak menangis sambil memandang jauh ke jalan. Sang pemuda dengan heran bertanya, mengapa ibu menangis? Jawab ibu itu, tadi ada yang menipu dengan membeli nasi kuning beberapa bungkus lalu ia memberikan uang seratus ribu rupiah dan meminta lagi beberapa bungkus. Setelah ia pergi ibu baru sadar bahwa kalau uangnya ternyata palsu.

Pemuda itu kemudian mengeluarkan dompetnya, dan berkata “bu ini uang seratus ribu buat ibu”. Sangat senang hati ibu sebab dengan seratus ribu itu mengembalikan modalnya sehingga ia dapat kembali berjualan nasi kuning di esok hari.

Melalui bacaan hari ini, Tuhan Allah memperingati umat Israel supaya tidak mengambil keuntungan dari kaum minoritas yakni orang asing, janda dan anak yatim. Mereka harus ditolong dan dikasihi sebab mereka juga butuh hidup. Allah sangat memperhatikan kesulitan mereka yang lemah dan berkekurangan. Terdorong oleh belas kasihan terhadap mereka, Allah mengingatkan untuk tidak memperlakukan mereka seperti orang asing, sebab mereka juga memiliki hak atas hidup. Sebagai keluarga Allah, kita mesti mewujudkan hidup berbela rasa dengan sesama teristimewa mereka yang susah dan lemah supaya ada keseimbangan. Semuanya itu demi kehidupan bersama di bumi tempat kita berpijak untuk menikmati berkat Tuhan.

DoaTuhan berkati kami demi mewujudkan kasih dalam kebersamaan  dengan sesama yang susah dan berkekurangan. Amin.

Selasa, 16 November 2021                        

bacaan : Keluaran 22 : 25 – 27

25 Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya. 26 Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam, 27 sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya--pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih."

Hidup Berbela Rasa

Ada tiga reaksi ketika kita menjumpai seseorang yang malang hidupnya: Pertama, ada yang memandang rendah karena ia merasa dirinya lebih berkuasa; kedua, ada yang merasa tidak peduli sehingga tidak merasa perlu untuk menolong. Dan ketiga, tergerak oleh belas kasihan sehingga mendorongnya untuk memberi pertolongan. Saat hati seseorang berpusat pada diri sendiri maka ia akan mengabaikan hidup orang miskin. Sebaliknya, hati yang berbela rasa akan mendorongnya untuk menolong mereka yang menderita. Di masa lalu, kehidupan para janda, orang asing, dan anak-anak yatim kerap diperlakukan tidak adil. Dan Allah berfirman kepada orang-orang Israel untuk tidak menindas mereka yang lemah. Allah mengingatkan bahwa dulu mereka adalah orang asing, menderita, dan tertindas di Mesir. Allah menunjukkan betapa menderitanya hidup sebagai orang asing yang tertindas. Pengalaman itu akan selalu mengingatkan mereka untuk tidak menindas keberadaan orang-orang yang miskin. Allah juga mengingatkan agar kita menaruh sikap berbela rasa kepada mereka yang malang hidupnya. Ketika kita melihat orang yang lapar dan haus, kita harus memberinya makan dan minum. Artinya, tanggung jawab untuk memperhatikan dan berbela rasa kepada para janda, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin adalah panggilan kita sebagai orang-orang yang telah menerima belas kasihan dan anugerah Allah. ketika kita adalah AnakNya tentu kita mewarisi karakterNya, hiduplah berbela rasa dengan sesama manusia dari hati bukan karena ingin menjadi pusat perhatian.

Doa:  Ya Tuhan, Ajarlah kami untuk memiliki hati yang berbela rasa kepada mereka yang lemah dengan tulus. Amin.

Rabu, 17 November 2021                               

bacaan : Ulangan 15 : 7 – 8

7 Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, 8 tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan

Membantu  Tanpa Memikirkan Untung Rugi

Musa menekankan realitas kemiskinan dan bagaimana orang yang lebih kaya atau berkelebihan harus menanganinya. Mereka diperingatkan akan adanya bahaya bagi orang yang berkelebihan menyikapi orang miskin di sekitarnya, yakni: menegarkan hati mengabaikan kebutuhan orang miskin dan menggenggam tangan untuk tidak bersedia memberikan apa yang diperlukan orang mereka. Allah memperhatikan sikap dan motivasi mereka untuk menolong orang yang berkekurangan. Karena itu, Musa memperingatkan umat Israel agar mereka jangan menegarkan hati dengan sikap yang serakah dan mementingkan diri sendiri. Allah menginginkan mereka memiliki hati yang bersimpati. “..tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan” (ay.8). Firman Allah ini mendorong umat Israel pada masa lampau dan kita pada masa kini untuk memiliki bela rasa dengan sesama, keprihatinan, dan kemurahan terhadap mereka yang sedang kekurangan dan mengalami kesulitan, dan  mereka yang miskin dan bersedia untuk membantu tanpa memikirkan untung rugi. Bukankah Tuhan Yesus telah memberikan teladan yang sama kepada kita untuk kita ikuti? Dia peduli kepada orang banyak dengan berbagi hidup dengan mereka, menolong orang yang susah dan menderita, membantu orang yang berkekurangan. Karena itu, ketika kita berniat membantu sesama yang susah dan membutuhkan, jangan memikirkan untung rugi. Berbela rasalah dengan motivasi yang tulus dan hati yang benar.

Doa:  Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk hidup berbela rasa dengan sesama yang lemah dan membutuhkan. Amin.

Kamis, 18 November 2021                            

bacaan : Ulangan 15 : 9 – 11

9 Hati-hatilah, supaya jangan timbul di dalam hatimu pikiran dursila, demikian: Sudah dekat tahun ketujuh, tahun penghapusan hutang, dan engkau menjadi kesal terhadap saudaramu yang miskin itu dan engkau tidak memberikan apa-apa kepadanya, maka ia berseru kepada TUHAN tentang engkau, dan hal itu menjadi dosa bagimu. 10 Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu. 11 Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu."

Peduli Karena Kita Mengasihi

Pada Tahun Sabat berbagai tindakan pembebasan harus dilakukan oleh umat Israel. Pertama, penghapusan utang. Kedua, pembebasan para budak. Dengan bertindak demikian, umat turut serta di dalam mewujudkan kemurahan Allah. Murah hati memancarkan kesadaran akan kemurahan Allah yang lebih dulu telah memberkati umat dengan limpah. Pengaturan penghapusan utang dalam kehidupan bangsa Israel juga merupakan suatu bentuk keadilan dan pertolongan kepada sesama yang tidak sanggup untuk membayar utang. Firman Tuhan mengatakan pentingnya membuka tangan dan hati untuk menolong mereka yang miskin dan membutuhkan. Yang kuat tidak boleh menindas yang lemah, melainkan mengulurkan tangan untuk membantu. Kenyataanya, orang miskin selalu ada di sekitar kehidupan kita dan mereka membutuhkan pertolongan. Tuhan mau memakai kita untuk menjadi saluran berkat-Nya. Persoalannya, apakah mata kita terbuka untuk melihat mereka yang ada di sekitar kita dan membutuhkan uluran tangan kasih kita? Tuhan menghendaki supaya kita dapat menunjukan kasih dan empati kita terhadap mereka. Bukan saja dalam bentuk derma atau pemberian sesaat, tetapi juga dukungan berkesinambungan yang memampukan mereka mengubah keadaan mereka sendiri menjadi lebih baik. Bersediakah kita menolong? Mari kita melakukannya dengan penuh kasih dan ketulusan hati, karena kasih dan hati yang tulus adalah kekuatan yang mendorong kita untuk menolong mereka yang lemah dan berkekurangan.

Doa:  Ya Tuhan, Kami mau melakukan kehendakMu dengan selalu punya hati yang peduli dengan sesama. Amin.

Jumat, 19 November 2021                                   

bacaan : Rut  2 : 10 – 12

10 Lalu sujudlah Rut menyembah dengan mukanya sampai ke tanah dan berkata kepadanya: "Mengapakah aku mendapat belas kasihan dari padamu, sehingga tuan memperhatikan aku, padahal aku ini seorang asing?" 11 Boas menjawab: "Telah dikabarkan orang kepadaku dengan lengkap segala sesuatu yang engkau lakukan kepada mertuamu sesudah suamimu mati, dan bagaimana engkau meninggalkan ibu bapamu dan tanah kelahiranmu serta pergi kepada suatu bangsa yang dahulu tidak engkau kenal. 12 TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung."

Tunjukkanlah Kebaikan Hatimu

Nama ‘Rut’ berarti ‘belas kasih’. Sesuai dengan arti namanya, Rut memang beroleh belas kasih dari Tuhan. Hidupnya mengalami pemulihan dan diberkati Tuhan. Menarik sekali jika memperhatikan kisah perjalanan hidup Rut beserta Naomi, ibu mertuanya ini. Rut, meski telah ditinggal mati suaminya, tetap berkomitmen mengabdi dan mendampingi ibu mertuanya yang juga janda. Di tengah keterbatasan dan pergumulan yang berat keduanya terus berjuang agar dapat bertahan hidup. Dengan cara-Nya yang ajaib Ia campur tangan dalam kehidupan mereka.  Sesungguhnya bisa saja Naomi minta tolong langsung kepada Boas, seorang kaya raya, tapi ia sadar Boas bukanlah kerabatnya melainkan kerabat mendiang suaminya.  Akhirnya Rut meminta ijin kepada mertuanya pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai yang terlewatkan dari para pekerja, dan ternyata ladang itu milik Boas.  Boas yang melihat itu tidak marah, malah menunjukkan kasih dan kemurahannya.  Ternyata berita kesetiaan dan kebaikan hati Rut terhadap mertuanya sampai ke telinga Boas. Tunjukanlah kebaikan hatimu untuk semua orang bukan karena ada maksud terselubung tetapi karena memang kita mengasihinya, walaupun ia belum tentu melakukan hal yang sama tetapi yang terpenting kita sudah melakukan yang terbaik. Jangan melakukan kebaikan karena ingin mendapat balasan yang sama, tetapi karena kita ingin hidup kita bermakna bagi semua orang. Hendaklah kita tulus seperti Rut yang tidak mengharapkan apapun ketika ia peduli kepada Naomi, dan Boas ketika peduli kepada Rut.

Doa:  Ya Tuhan, Tolonglah kami untuk melakukan kasih kepada sesama kami tanpa mengharapkan imbalan. Amin.

Sabtu, 20 November 2021                                      

bacaan : Amsal 14 : 21

21 Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita.

Take & Give

The Blind Side (Bagian yang tak terlihat) merupakan film yang diangkat dari Kisah nyata Mike Oher, seorang pemuda kulit hitam yang tinggal di lingkungan yang buruk. Ia beberapa kali tinggal bersama orang tua asuh, namun memutuskan untuk pergi. Hidupnya diperparah dengan kondisi ibunya yang menjadi pencandu narkoba. Suatu ketika, Mike bertemu dengan pasangan suami istri kulit putih kaya raya, Sean dan Anne, Pasangan tersebut mengajak Mike menginap di rumahnya setelah melihatnya kedinginan di jalan. Seiring berjalannya waktu, pasangan tersebut memutuskan untuk mengadopsi Mike menjadi anak angkat mereka. Anne kemudian mendaftarkan Mike ke Tim Football karena Mike punya potensi pada olahraga itu. Teman-teman dari Sean dan Anne tidak setuju dengan keputusan mereka mengadopsi Mike, menurut mereka Mike tidaklah cocok menjadi bagian keluarga Sean sebab ia berkulit Hitam. Mendengar cemoohan mereka, Anne kemudian berkata bahwa tidak ada perbedaan diantara kita. Warna kulit bukanlah alasan untuk perbedaan itu. Mike telah menjadi bagian keluarga kami dan akan selamanya seperti itu. Akhirnya, Mike berhasil menjadi pemain Football yang handal dan dilirik oleh banyak Tim. Mike sukses bergabung dengan Baltimor Revans pada posisi penyerang.

Dari kisah diatas, kita belajar bahwa sikap menghargai sesama bukan terletak pada pendidikan, kekayaan atau status seseorang, tetapi karena memiliki Belas Kasih. Bacaan ini mengingatkan kita untuk tidak menghina sesama namun Peka untuk setiap penderitaan mereka yang membutuhkan. Ingatlah bahwa Berkat yang kita terima di dalamnya ada juga Berkat yang Tuhan titipkan untuk kita berbagi dengan sesama. Percayalah bahwa ketika kita memiliki Belas Kasih kepada sesama dengan penuh ketulusan maka kehidupan kita akan selalu diwarnai dengan sukacita dan kebahagiaan.

Doa: Berilah hati yang Penuh Belas Kasih kepada kami, Ya.. Tuhan. Amin.

*sumber : SHK bulan November 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 7 – 13 November 2021

Tema Mingguan : “Merawat Relasi Hidup Bersama

Minggu, 07 November 2021                          

bacaan : Matius 23 : 1 – 12

Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi
Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: 2 "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. 3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. 4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. 5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; 6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; 7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. 8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. 9 Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. 10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. 11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Perkataan dan Perbuatan Harus Selaras

Tuhan Yesus sebenarnya tidak memandang buruk ajaran atau hukum yang dibuat oleh orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Ajaran mereka berasal dari sumber yang sama yaitu Allah sendiri. Ajaran-ajaran itu penting dalam kehidupan karena berguna untuk membawa manusia mengenal Allah dan setia pada perintah-perintahNya.  Namun, yang dikritik Tuhan Yesus adalah cara hidup mereka yang bertolak belakang dengan ajaran yang mereka ajarkan. Ajaran itu mereka bebankan kepada orang lain, sedangkan mereka sendiri tidak mempraktekkannya dalam kehidupan setiap hari. Tuhan Yesus berkata, “mereka mengajarkannya, tetapi tidak melakukannya.”Karena itu kepada para murid dan orang banyak Yesus mengingatkan hal ini agar mereka jangan meniru apa yang dilakukan oleh orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Kritik Yesus ini sangat relevan bagi setiap kita yang adalah pengajar dalam gereja bahkan dalam keluarga, dalam diri orangtua yang mendidik anak-anak. Kadangkala apa yang diajarkan kepada anak-anak dalam keluarga, kita sendiri sebagai orangtua tidak melakukannya. Keselarasan antara hal-hal baik yang keluar dari mulut dengan tindakan yang kita lakukan adalah tantangan bagi setiap pengikut Yesus. mengajar hal-hal baik seperti memberi ampun, jujur, setia, bertindak adil dan tidak pilih kasih adalah sangat mudah, namun perlu usaha luar biasa untuk dapat melakukannya. Kualitas kehidupan kita justru terlihat ketika apa yang kita katakan sejalan dengan apa yang kita lakukan. Hidup kita justru dilihat dari apa yang kita lakukan secara konkrit, bukan hanya teori belaka. Sebab kesaksian hidup sederhana yang baik, lebih berharga dari teori-teori suci yang tidak pernah dipraktekkan.

Doa:  Tuhan Yesus, mampukanlah kami untuk bertindak selaras dengan apa yang diucapkan. Amin.

Senin, 08 November 2021                                  

bacaan : Roma 15 : 5 – 7

5 Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, 6 sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. 7 Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah

Hidup Saling Menerima

Menerima adalah hal mudah untuk dilakukan. Itu benar, terutama jika yang diterima itu yang enak-enak dan yang baik-baik. Menerima kue enak itu mudah. Begitu juga menerima pertolongan orang lain saat mobil kita tiba-tiba mogok di tengah jalan juga mudah.Tapi bagaimana jika yang harus diterima adalah sesuatu yang sering kita anggap sebagai yang buruk, jelek dan tidak enak? Wah, nanti dulu, tidak semua orang bisa menerimanya dengan baik. Menarik bahwa dalam surat yang ditujukan kepada Jemaat Roma, yang tak terlalu dikenalnya secara personal, Rasul Paulus menyampaikan nasihat. Ia menganjurkan Jemaat di Roma untuk hidup saling menerima, seperti Kristus telah menerima mereka. Nampaknya, Paulus mengandaikan Jemaat Roma berkonteks sama dengan Jemaat-jemaat lain yang telah dikenalnya dengan baik, seperti Efesus atau Filipi yang memiliki masalah perbedaan latar belakang budaya dan tradisi. Perbedaan adalah sebuah realita dalam kehidupan jemaat Kristen yang masih sangat muda saat itu. Namun yang jadi masalah adalah saat pihak-pihak yang berbeda itu tidak bisa saling menerima dan malah saling berprasangka. Prasangka inilah yang membuat jemaat-jemaat terancam pertikaian dan perpecahan. Oleh sebab itu, Paulus meminta mereka untuk hidup saling menerima dengan dasar penerimaan adalah karena apa yang telah dilakukan oleh Kristus. Tak semua orang dalam hidup kita mudah untuk diterima. Kadang ada saja orang yang sulit, yang menyebalkan dan membuat kita tak nyaman. Namun, saat bertemu dengan orang macam itu ingatkan himbauan Paulus: terimalah orang lain, sama seperti Kristus menerima engkau.

Doa:  Tuhan, sebagaimana Engkau telah menerima kami, ajarilah kami untuk menerima satu akan yang lain. Amin.

Selasa, 09 November 2021                                     

bacaan : Filipi 2 : 1 – 4

Kristus
Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, 2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, 3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; 4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Hidup Dalam Kerendahan Hati

Kekuatan persekutuan orang percaya terletak pada kesatuan hati, pikiran, kasih, jiwa, dan tujuan di antara para anggotanya. Jika kesatuan itu tidak lagi dimiliki maka persekutuan akan menuju pada kehancuran. Paulus melihat adanya ancaman internal yang berpotensi mengoyak kesatuan jemaat Filipi, yaitu sikap yang mementingkan diri sendiri sehingga orang lain dianggap tidak penting. Sikap ini merupakan wujud kesombongan yang dapat menghancurkan hubungan antar pribadi dan berpotensi menghambat kemajuan dalam kehidupan persekutuan. Orang yang sombong senang mendapatkan pujian bagi dirinya sendiri. Ia menganggap dirinya yang paling hebat dan menginginkan orang lain pun menganggapnya  demikian. Orang seperti ini biasanya sulit untuk bekerja sama dengan orang lain. Bagi orang tersebut keutuhan persekutuan bukanlah prioritasnya. Menanggapi ancaman tersebut, Paulus mengajak segenap jemaat Filipi untuk menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat di dalam Kristus Yesus. Yesus  rela mengosongkan diri-Nya supaya manusia berdosa dapat diselamatkan. Ia mengabaikan kemuliaan diri-Nya sebagai Allah. Kerendahan diri Tuhan Yesus menjadi teladan bagi kita semua. Merendahkan diri memang bukan perkara mudah, sebab itu kita perlu melatih diri untuk bersikap demikian dalam relasi kita dengan sesama, khususnya di antara persekutuan orang percaya. Hidup dengan merendahkan diri tidak membuat harga diri kita jatuh. Tetapi itu adalah cara kita meresponi kasih Allah dalam hidup yakni menjaga hubungan dalam persekutuan tetap harmonis.

Doa: Tuhan Yesus, mampukan kami untuk hidup dengan rendah hati. Amin.

Rabu, 10 November 2021                                     

bacaan : Roma 12 : 10

10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

Hidup Saling Mengasihi

Jemaat di kota Roma hidup di tengah masyarakat yang beragam. Oleh karena itu, jemaat mestinya tidak hanya mementingkan kehidupan persekutuan dengan saudara seiman, tetapi juga kehidupan bersama dengan masyarakat lain yang ada di sekitar mereka. Mereka harus tetap melakukannya meskipun mereka sering mengalami tekanan, bahkan aniaya. Kepada mereka, Paulus mengingatkan akan panggilan jemaat untuk hidup di dalam kasih satu dengan yang lain, dan juga dengan sesama manusia. Kasih itu tidak berpura-pura, tetapi harus tulus dan sungguh-sungguh. Jemaat harus dapat menunjukkan kasih mereka kepada semua orang dan juga dapat menunjukkan respek dan penghargaan kepada orang lain dengan memberikan penghormatan yang sepantasnya. kehidupan orang Kristen pada saat ini pun demikian. Kita bukan hanya hidup dengan saudara seiman, tetapi juga dengan mereka yang tidak seiman. Hidup penuh kasih dalam persekutuan orang percaya seharusnya memampukan kita untuk mengasihi semua orang, bahkan yang berbeda iman dengan kita. Kasih yang tulus, sungguh-sungguh, dan bukan cuma kata-kata manis, tetapi terwujud dalam kerja yang nyata dan berdampak. Karena itu, kasih terhadap sesama anggota tubuh Kristus harus diekspresikan dengan jujur, menjauhi tindakan jahat dan melakukan yang baik, dan diteruskan dalam semangat persaudaraan kepada orang lain atau sesama saudara yang berbeda iman. Inilah wujud kesaksian kita sebagai gereja yang hidup di tengah keragaman.

Doa: Tolonglah kami ya Tuhan agar hidup saling mengasihi. Amin.

Kamis, 11 November 2021                   

bacaan : Kisah Para Rasul 4 : 32

Cara hidup jemaat
32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.

Menjadi Berkat Bagi Semua Orang

Hidup persekutuan jemaat mula-mula memperlihatkan kepada kita bahwa persekutuan mereka tidak hanya sebatas pada ibadah bersama, berdoa bersama, makan bersama tetapi juga hidup bersama dalam satu kasih sebagaimana yang dikatakan dalam nas ini “Mereka sehati dan sejiwa”. Yang mempersatukan mereka bukanlah ikatan keluarga atau karena saling mengenal, tetapi mereka terikat oleh kasih Tuhan. Hidup yang sehati dan sejiwa adalah buah dari karya keselamatan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, bahwa Yesus sampai mati di kayu salib adalah hanya karena kasihNya agar kita disatukan dalam kasih Allah. Persekutuan yang kudus yang diikat oleh kasih Tuhan bukan persekutuan yang munafik dan egois. Sama-sama beribadah, berdoa, mendengarkan firman Tuhan,  bersatu di dalam doa, bersatu di dalam ibadah namun tidak bersatu di dalam kehidupan yang nyata. Sehingga kita hendak menggumuli kembali bagaimana kehidupan jemaat mula-mula ini, yakni hidup yang sehati dan sejiwa ini tetap menjadi dasar kehidupan kita. Seperti yang diperlihatkan oleh jemaat mula-mula, bahwa mereka yang sehati dan sejiwa memberikan apa yang ada padanya menjadi milik bersama, hal ini bisa menjadi teladan bagi kita dengan selalu bertanya pada diri kita sendiri, apa yang dapat kuberikan? Apa yang dapat kulakukan untuk membantu sesama? Artinya bahwa iman kita kepada Tuhan akan berbuahkan kepekaan pada orang lain. Maka bagaimana kita membangun diri kita menjadi orang yang berbahagia adalah ketika kita dapat memberi, dapat menolong dan dapat berbuat sesuatu hal yang baik bagi sesama kita atau dengan kata lain kita menjadi berkat bagi semua orang.

Doa:  Allah dalam Yesus Kristus, tolonglah kami agar kami menjadi berkat bagi semua. Amin.

Jumat,12 November 2021                                  

bacaan : 1 Petrus 3 : 1 – 7

Hidup bersama suami isteri
Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, 2 jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu. 3 Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah, 4 tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. 5 Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya, 6 sama seperti Sara taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya. Dan kamu adalah anak-anaknya, jika kamu berbuat baik dan tidak takut akan ancaman. 7 Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.

Rahasia Menjadi Pasangan Yang Harmonis

Keterbukaan dan pengertian merupakan rahasia antara suami dan istri dalam menjalani kebahagiaan rumah tangga bersama anak-anak. Rumah tangga Kristen adalah wadah kesaksian untuk bertumbuhnya iman dan spiritualitas, yang terwujud dalam hubungan dan relasi penuh pengertian dan saling mengasihi diantara anggota keluarga. Hal ini terletak pada hati nurani sebagai pusat atau jantung seluruh keberadaan dan pergerakan kita sebagai manusuia dan bukan semata pada materi. Jika hati nurani kita sehat, dimana spiritualitas relasi kita dengan Tuhan menjadi prioritas, maka akan layak dalam kebahagian dan sukacita kehidupan pasangan suami istri. Mereka saling menghargai, menghormati, saling melengkapi kekurangan masing-masing, tidak ada yang lebih istimewa sebab di mata Tuhan manusia sama. Dunia ini tidak harus menempatkan kelompok lebih tinggi yang ditinggikan dan kelompok rendah yang  dilemahkan, namun tinggi atau rendah, lemah atau kuat, mereka masing-masing memiliki kelebihan-kelebihan khusus yang Allah berikan. Ciptakan hubungan yang harmonis sebab letak kebahagiaan adalah pada kemampuan menjaga dan merawat cinta kasih sebagai anugerah Tuhan. Kebahagiaan rumah tangga tidak semata oleh karena materi yang berlebihan, namun cinta kasih Kristus yang kita bangun di dalam keluarga dan menjadi  inti dari kebahagian itu sendiri. Memang bukan hal yang mudah untuk menjaga kebersamaan dalam keluarga. Banyak cobaan, tantangan dalam kebersamaan yang dibangun akan mendewasakan kita bertumbuh dalam iman. Pentingnya untuk menghadirkan Allah dalam Kristus melalui doa dan aktivitas binakel setiap malam. Sebab kehadiran Tuhan dan RohNya menuntun kita untuk bersikap bijaksana seorang akan yang lain, saling bertanggung jawab seorang akan yang lain, hidup penuh kasih, saling menghormati, saling melengkapi, saling memafkan. ’’Hidup rukun Tuhan perintahkan berkat bagi rumah tangga kita”

Doa:  Tuhan berkatilah keharmonisan rumah tangga kami. Amin.  

 Sabtu, 13 November 2021                              

bacaan : Mazmur 133 : 1 – 3

Persaudaraan yang rukun
Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! 2 Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. 3 Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.

Rahasia Berkat Tuhan

Bermusuhan dapat membuat seseorang hidup tidak tenang dan kehilangan rasa damai. Kepribadian yang demikian diidentifikasi oleh sifat-sifat seperti sinisme, mudah tersinggung,  dan amarah. Mereka ini memiliki pandangan hidup yang negative dan mungkin memiliki interaksi yang buruk dengan orang lain.  Mereka juga mungkin sedang stress berat, sehingga mereka menjadi mudah tersinggung. Memperbaiki perilaku tersebut dengan mewujudkan persekutuan rukun, kuncinya adalah berdoa dan membaca firman. Kerukunan antar saudara dikiaskan dengan minyak dan embun yang menyegarkan dan disamakan dengan berkat Tuhan. Alangkah baik dan indahnya apabila saudara–saudara diam dengan rukun. Persaudaraan yang rukun tidak sebatas marga dan darah daging, namun hubungan lebih luas didalam kerja dan hasil kerja kita, adalah menerima semua orang sama dan memberlakukan semua orang sama, dan juga memelihara hubungan dan relasi. Di Timur tengah kuno minyak yang dicampur rempah dan wangi dipakai untuk menguatkan dan melicinkan kulit seorang tamu yang disambut, kemudian menuangkan minyak di atas kepalanya atau meminyaki kakinya. Simbol minyak adalah pertobatan dan hubungan persaudaraan. Kebiasaan hidup rukun dalam kehidupan kekristenan adalah pola hidup Tuhan Yesus yakni saling mengasihi. Kasih seorang akan yang lain sampai pada musuhnya, akan memulihkan hubungan yang rusak menjadi baik. Karena itu dengan menjaga dan merawat hubungan persaudaraan maka akan ada sukacita hidup dan berkat. Berkat  itu akan menjadi milik orang-orang yang hidup berdamai. Marilah kita menjaga dan merawat kebersamaan hidup di muka bumi ini, sebab bumi adalah milik Tuhan dan menjadi  rumah kita bersama, tempat kita  hidup bersama. Hidup rukun dan damai, berkat Tuhan diperintahkan kepada kita.

Doa:  Tuhan berkati kehidupan kami melalui hidup yang rukun. Amin

*sumber : SHK bulan November 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 31 Oktober – 6 November 2021

Tema Mingguan : “Memberitakan Injil Dengan Kasih dan Sukacita

Minggu, 31 Oktober 2021

bacaan :1 Tesalonika 2 : 1 – 12

Pelayanan Paulus di Tesalonika
Kamu sendiripun memang tahu, saudara-saudara, bahwa kedatangan kami di antaramu tidaklah sia-sia. 2 Tetapi sungguhpun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat. 3 Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya. 4 Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita. 5 Karena kami tidak pernah bermulut manis--hal itu kamu ketahui--dan tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi--Allah adalah saksi-- 6 juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus. 7 Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. 8 Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. 9 Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu. 10 Kamu adalah saksi, demikian juga Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang percaya. 11 Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang, 12 dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.

Menyenangkan Allah

Melakukan kebaikan kepada semua orang merupakan semangat yang selalu disuarakan terutama oleh gereja.  Tetapi yang menjadi pertanyaannya, apa motivasi di balik perbuatan baik yang kita lakukan? Apakah untuk menyenangkan hati Allah atau sebaliknya demi kepuasan dan keuntungan diri sendiri? Rasul Paulus dalam bacaan kita menunjukan dirinya sebagai sosok teladan yang baik yang dapat dicontohi. Ia akui dalam menjalani tugas pelayanannya melewati banyak tantangan termasuk dianiaya dan dihina tetapi ia menjalani semuanya semata-mata karena kasih kemurahan Tuhan. Motivasi rasul Paulus sangat jelas yaitu untuk menyukakan hati Tuhan. Untuk menyukakan hati Tuhan itu, ia tidak mempersoalkan setiap tantangan yang ia hadapi. Bahkan dengan sukacita tanpa membebani orang lain dan kasih seperti yang digambarkan olehnya “seperti seorang ibu mangasuh dan merawati anaknya” juga “seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu”. Sebagai manusia kita cenderung melakukan kebaikan dengan motivasi yang tidak benar di hadapan Tuhan. Sadar atau tidak, perbuatan baik yang kita lakukan terkadang untuk mendapatkan pujian dan menguntungkan diri sendiri. Bahkan tidak disertai dengan kasih dan sukacita.  Sikap dan perbuatan baik Paulus yang disertai cinta kasih terrmasuk memberitakan injil patutlah diteladani. Semua yang dilakukannya itu dengan motivasi yang jelas yaitu memprioritaskan Allah.  Kita diingatkan untuk tetap belajar melakukan sesuatu dengan sungguh, bukan untuk dilihat oleh manusia tetapi sebaliknya untuk menyenangkan hati Allah.

Doa:   Tuhan, mampukan kami menyenangkan hati-Mu lewat sikap dan perbuatan kami, Amin

Senin, 01 November 2021                              

bacaan : 2 Korintus 2 : 1 – 4

Aku telah mengambil keputusan di dalam hatiku, bahwa aku tidak akan datang lagi kepadamu dalam dukacita. 2 Sebab, jika aku mendukakan hatimu, siapa lagi yang dapat membuat aku menjadi gembira selain dia yang berdukacita karena aku. 3 Dan justru itulah maksud suratku ini, yaitu supaya jika aku datang, jangan aku berdukacita oleh mereka, yang harus membuat aku menjadi gembira. Sebab aku yakin tentang kamu semua, bahwa sukacitaku adalah juga sukacitamu. 4 Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua.

Melayani dengan Kasih Mendatangkan Kebaikan

Inilah surat kedua Paulus kepada jemaat Korintus yang bersifat  pribadi; berisikan ungkapan emosi dan kasih sepenuh hati kepada jemaat di sana. Paulus dengan jujur menyampaikan alasan ia tidak mengunjungi jemaat Korintus karena ia berdukacita sebab kedapatan jemaat tidak bertobat; ada beberapa guru palsu, ada kelompok orang yang memberontak berusaha untuk meremehkan kerasulan Paulus dan mempengaruhi jemaat dari kebenaran firman yang diberitakan Paulus. Mereka menuduh Paulus sombong, kurang cakap sehingga tidak memenuhi persyaratan sebagai seorang rasul Yesus Kristus. Keadaan inilah yang membuat Paulus sangat cemas dan sedih sehingga Paulus memutuskan untuk menunda perkunjungannya di Korintus. Keputusan Paulus ini, agar jemaat mempunyai kesempatan menyelesaikan masalah-masalah yang sedang terjadi dalam jemaat dan mereka mengalami pertobatan agar kunjungannya mendatangkan sukacita bukan dukacita. Bagi Paulus, sukacitanya merupakan sukacita jemaat, sebaiknya dukacitanya merupakan dukacita jemaat. Paulus sunguh-sungguh menyatu dengan jemaat yang dilayaninya. Selain itu, agar Paulus dapat menghindari perselisihan diantara Paulus dan Jemaat Korintus untuk menghindari perpecahan dalam jemaat.

Makna Bacaan ini bagi keluarga saat ini, Pertama, kita semua (papa,mama dan anak-anak) terpanggil untuk memberitakan injil melalui tugas dan tanggungjawab masing-masing orang agar Tuhan dimuliakan, namun terkadang kita mengalami berbagai masalah yang membuat kita cemas, putus asa, bersedih dan sebagainya. Akan tetapi kita belajar dari Paulus untuk senantiasa melayani dengan kasih, sukacita, dan pengampunan agar kita dapat membawa banyak orang kepada pertobatan didalam Yesus. Kedua, kita turut menopang orang lain menyelesaikan masalah mereka sendiri sehingga mereka menuju kedewasan iman.

Doa: Tuhan pakailah kami sebagai alat pelayanan-Mu. Amin.

Selasa, 02 November 2021                           

bacaan : 2 Korintus 6 : 1 – 10

Paulus dalam pelayanannya
Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima. 2 Sebab Allah berfirman: "Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau." Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu. 3 Dalam hal apapun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela. 4 Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, 5 dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa; 6 dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik; 7 dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela 8 ketika dihormati dan ketika dihina; ketika diumpat atau ketika dipuji; ketika dianggap sebagai penipu, namun dipercayai, 9 sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati; 10 sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.

Pakailah Hidup Sebagai Anugerah Tuhan

Lagu hidup Ini adalah kesempatan, merupakan lagu yang paling suka dinyanyikan; baik ibadah maupun moment lainnya. Karena lagu ini memberikan pesan iman yang kuat bahwa hidup manusia di dunia adalah anugerah Tuhan sekaligus mengingatkan kita bahwa hidup kita sangat singkat. Karena itu, setiap waktu adalah moment untuk melayani Tuhan dan sesama. Paulus juga berbicara mengenai pentingnya hidup karena hidup kita berada dalam waktu yang sangat terbatas (waktu Tuhan), maka kita harus melayani dan memberi buah dari pelayanan kita (band.1 Kor.7:29). Bacaan kita berisikan nasehat Paulus kepada jemaat Korintus agar mereka jangan menyia-nyiakan kasih karunia Allah yang telah mereka terima melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib (ay.1). Hal ini, Paulus perlihatkan melalui pelayanannya, meskipun ia mengalami banyak masalah, penderitaan dan penganiayaan bahkan dipenjarakan. Ia tetap menunjukkan sikap dan teladan yang baik sebagai pelayan Tuhan.  Ia sabar menangung cercaan dan siksaan, memiliki kemurahan hati, bekerja keras, berjaga-jaga, menahan lapar, kebaikan untuk menolong sesama dengan kasih yang tidak pura-pura/munafi (ay.4-6). Kadang dihormati kadang dihina, kadang dicaci maki kadang dipuji, kadang dianggap sebagai penipu namun dipercaya, nyawa Paulus selalu terancam. Tapi, melalui pelayanannya sebagai rasul membawa banyak orang datang kepada Kristus.

Makna bacaan ini bagi keluarga, menjadi orang Kristen (pelayan Tuhan) ada harga yang harus kita bayar, yakni bersedia menjalani penderitaan (salib); dibenci orang, mendapatkan perlakuan tidak adil, difitnah, dicaci-maki,dan sebagainya. Namun kita harus tetap mengisi hidup ini dengan kebaikan-kebaikan; mengasihi, mengampuni mereka yang memusuhi kita, sabar menanggung   penderitaan, melayani dengan kasih yang tulus, maka Tuhan akan memberkati hidup kita. (bd. Roma 2:1).

Doa: Tuhan, jadikanlah hidup kami sebagai alat kemuliaan-Mu. Amin.

Rabu, 03 November 2021                                 

bacaan : Roma 15 : 19 – 21

oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh. Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus.Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain, tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: "Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya."

Jadikanlah Dirimu Sebagai Alat Kecil Untuk Melayani

Bunda Teresa menulis, “Manusia hanyalah pensil di tangan Allah. Pensil hanyalah pensil, tidak akan bermanfaat apapun jika tidak dipakai untuk menulis. Pensil akan memperlihatkan kegunaannya kalau mau dipakai Allah”. Kalimat yang ditulis oleh Bunda Teresa ini mengandung makna: hidup manusia akan berguna atau sukses, jika ada campur tangan Tuhan. Jadi, tidak ada alasan untuk manusia menyombongkan diri atas keberhasilan/kesuksesan yang dicapainya. Paulus melihat dirinya sendiri, sebagai suatu alat di dalam tangan Yesus Kristus. Ia tidak berbicara tentang apa yang telah dikerjakan dan apa yang telah dicapainya, tetapi tentang apa yang telah Kristus kerjakan melalui diriny. Dalam tugas pemberitaan injil ada banyak tanda dan mujizat yang menyertai melalui peran Roh Kudus sehingga banyak bangsa menjadi percaya dan mengalami pertobatan. Hal ini memberikan kepuasan dan kehormatan bagi Paulus sebagai pelayan Kristus. Bahwa Kristus memanggil dan mengutusnya sebagai seorang pemberita injil (perintis) kepada mereka yang belum mengenal Kristus. Dengan begitu, ia tidak perlu bersalahpaham (bertengkar) dengan mereka yang lebih dahulu di utus untuk memberitakan injil pada wilayah tertentu. Maknanya bagi keluarga kita, Paulus dalam melaksanakan tugas pemberitaan injil dengan berbagai keberhasilan yang diraihnya, ia mengaku bukan kehebatan dirinya melaikan kuasa Tuhan yang memungkinkan ia melakukan semuanya. Demikian pula dengan keberhasilan/kesuksesan yang kita raih dalam hidup ini, seperti: jabatan, kekayaan/harta, kuasa, pendidikan yang tinggi, menjadi pelayan gereja, janganlah membuat kita sombong, menganggap diri paling hebat dan paling penting dari orang lain karena kita hanyalah “pensil di tangan Tuhan”. Hidup kita akan menjadi berguna (memiliki penghormatan) bila kita melayani Tuhan dengan penuh ketulusan dan kerendahan hati.

Doa: Tuhan, jadikanlah hidup kami seperti “pensil” di tangan-Mu. Amin.

Kamis, 04 November 2021                       

bacaan : 1 Tesalonika 3 : 1 – 13

Kabar baik yang dibawa oleh Timotius
Kami tidak dapat tahan lagi, karena itu kami mengambil keputusan untuk tinggal seorang diri di Atena. 2 Lalu kami mengirim Timotius, saudara yang bekerja dengan kami untuk Allah dalam pemberitaan Injil Kristus, untuk menguatkan hatimu dan menasihatkan kamu tentang imanmu, 3 supaya jangan ada orang yang goyang imannya karena kesusahan-kesusahan ini. Kamu sendiri tahu, bahwa kita ditentukan untuk itu. 4 Sebab, juga waktu kami bersama-sama dengan kamu, telah kami katakan kepada kamu, bahwa kita akan mengalami kesusahan. Dan hal itu, seperti kamu tahu, telah terjadi. 5 Itulah sebabnya, maka aku, karena tidak dapat tahan lagi, telah mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu, karena aku kuatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia. 6 Tetapi sekarang, setelah Timotius datang kembali dari kamu dan membawa kabar yang menggembirakan tentang imanmu dan kasihmu, dan bahwa kamu selalu menaruh kenang-kenangan yang baik akan kami dan ingin untuk berjumpa dengan kami, seperti kami juga ingin untuk berjumpa dengan kamu, 7 maka kami juga, saudara-saudara, dalam segala kesesakan dan kesukaran kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu. 8 Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan. 9 Sebab ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas segala sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita? 10 Siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu. 11 Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan kami jalan kepadamu. 12 Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu. 13 Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya.

Melayani dengan Setia dan Tekun Membawa Sukacita

Perikop ini berbicara mengenai pengutusan Timotius kembali ke Tesalonika oleh Paulus berdasarkan kerinduan dan kecemasannya mengenai orang-orang Tesalonika yang mengalami penganiayaan dan penderitaan hebat. Paulus mendorong mereka supaya berdiri teguh dalam iman, tidak mudah terombang-ambing, hidup kudus sesuai dengan kebenaran Injil. Paulus boleh merasa khawatir, namun pada akhirnya buah pemberitaannya tidaklah sia-sia. Sebab Timotius justru membawa kabar yang menggembirakan (sukacita) tentang iman dan pelayanan kasih orang-orang Tesalonika. Penderitaan dan penganiayaan yang mereka alami, tidak menggoyahkan iman mereka kepada Yesus Kristus, mereka teguh berdiri didalam Kristus bahkan mereka terus meningkatkan pelayanan kasih kepada sesama. Hal ini telah mendatangkan sukacita dan penghiburan bagi Paulus yang berada di penjara. Dalam rasa syukur dan sukacita, Paulus berdoa siang-malam agar kerinduannya untuk bertemu dengan jemaat di Tesalonika dapat segera diwujutkan oleh Tuhan. Pertemuan tersebut sekaligus mendorong jemaat untuk memiiki kedewasaan iman, hidup berbagi seorang dengan yang lain, hidup tidak bercacat di hadapan Tuhan (merdeka dari dosa) sambil menanti kedatangan Yesus Kristus kedua kalinya. Maknanya bagi keluarga, Menanti kadatangan Tuhan Yesus kedua kalinya (akhir zaman) akan ada berbagai godaan dan tantangan sebagai pekerjaan iblis (bd. 1 Petrus 5:8-9). Sebab itu, orang percaya harus terus percaya dan mengandalkan Tuhan, rajin berdoa, mengasihi sesama, meningkatkan hubungan kasih sayang diantara anggota keluarga (laeng sayang laeng, potong di kuku rasa di daging), hidup kudus; jangan menyembah berhala, iri hati, amarah, perselisihan, perseteruan, mementingkan diri sendiri, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.

Doa: Tuhan, kuatkanlah iman kami menghadapi tantangan zaman. Amin.

Jumat, 05 November 2021                               

bacaan : Filipi 1 : 12 – 20

Kesaksian Paulus dalam penjara
12 Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil, 13 sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus. 14 Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut. 15 Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. 16 Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, 17 tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara. 18 Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita, 19 karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus. 20 Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.

Kristus Sebagai Sumber Sukacita Dan Kasih

Surat Filipi adalah surat penuh sukacita atau kegembiraan. Surat yang berisi nasehat Paulus saat berada dalam penjara. Karena itu, surat Filipi disebut sebagai “surat penjara”. Paulus tetap bersukacita walau dipenjarakan. Semua itu karena Kristus, karena Injil yang diberitakannya telah membawa banyak orang menjadi percaya kepada Kristus termasuk pasukan pilihan dan tentara romawi. Selain itu, sukacita Paulus semakin bertambah ketika ia mendengarkan kabar baik mengenai jemaat-jemaat yang didirikannya, termasuk Filipi terus mengalami pertumbuhan iman dan pemberian kasih. Hal ini membuat ia terus memotivasi dan memberikan semangat kepada jemaat Filipi untuk sungguh-sungguh melaksanakan pekerjaan pemberitaan injil, meskipun ada sebagian orang yang menggunakan tugas pemberitaan injil untuk mencari keuntungan diri sendiri “bekerja demi upah”, dengan perasaan iri (cemburu) yang mengakibatkan perselisihan (ay.15). sikap Paulus kepada mereka yang memberitakan injil dengan maksud tertentu ia tidak memiliki rasa iri hati atau tersinggung secara pribadi selama Yesus Kristus diberitakan, ia tidak peduli siapa yang mendapat keuntungan atau mencari nama ataupun penilain negative tentang dirinya. Yang terutama bagi Paulus adalah “KRISTUS DIBERITAKAN” (ay.20). Makna bacaan ini bagi keluarga, Tugas pemberitaan Injil senantiasa diperhadapkan dengan resiko dan tantangan, akan tetapi hati kita harus terus bersukacita dan mengucap syukur supaya kita dapat memberitakan injil dan memotivasi orang lain untuk bertumbuh dalam iman dan pelayanan kasih kepada sesama. Jangan ada iri hati (cemburu) atas keberhasilan orang lain dan jangan melakukan tugas pemberintaan injil (pelayanan) dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan (melayani demi upah), mencari nama, gila hormat, dsbnya. Tetapi hendaknya kita melayani dengan rendah hati demi kemuliaan nama Tuhan.

Doa: Tuhan kiranya hati kami berlimpah sukacita. Amin.

Sabtu, 06 November 2021                           

bacaan : 2 Korintus 1 : 3 – 11

Ucapan syukur
3 Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, 4 yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. 5 Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah. 6 Jika kami menderita, hal itu menjadi penghiburan dan keselamatan kamu; jika kami dihibur, maka hal itu adalah untuk penghiburan kamu, sehingga kamu beroleh kekuatan untuk dengan sabar menderita kesengsaraan yang sama seperti yang kami derita juga. 7 Dan pengharapan kami akan kamu adalah teguh, karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami. 8 Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. 9 Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. 10 Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi, 11 karena kamu juga turut membantu mendoakan kami, supaya banyak orang mengucap syukur atas karunia yang kami peroleh berkat banyaknya doa mereka untuk kami.

Allah Sumber Penghiburan Sejati

Kehidupan tidak selalu berjalan dengan mulus. Kadang kita harus menghadapi persoalan dan cobaan yang dapat menggoyahkan iman kita dan membuat kita menyerah dan putus asa. dalam kondisi seperti itu penghiburan sangat kita butuhkan untuk menyejukkan hati dan menambah semangat agar terus berjuang di dalam Tuhan. Dan penghiburan yang sejati hanya akan kita dapatkan dari Tuhan, melalui hati yang setia dan takut akan Tuhan. Di dalam pergumulan dan penderitaan, Allah selalu setia memberikan penghiburan. Penghiburan dan pemulihan-Nya akan mengalir terus menerus sampai kita benar-benar pulih dan berhasil melewati masa-masa sulit. Penghiburan dari Allah akan memampukan kita untuk semakin bertumbuh dan berakar di dalam-Nya. Itulah yang dirasakan oleh Paulus dalam panggilan pelayanannya. Meskipun begitu banyak tantangan dan rintangan ia hadapi sampai merasa seperti mau mati, namun keyakinan akan datangnya penghiburan dari Tuhan membuatnya kuat bertahan dan menjadi kesaksian yang nyata bagi orang-orang di Korintus yang juga mengalami penderitaan. Karena itu, ketika kita sedang melalui hari-hari yang sulit, datanglah pada Allah, berharaplah akan kekuatan dan penghiburan dari-Nya. Ingatlah akan perbuatan-perbuatanNya di masa lampau. Ingatlah akan kasih setia-Nya yang tidak pernah berubah. Maka saat ini pun akan sama seperti saat itu, saat Allah mengangkat kita dari kesusahan, penderitaan dan masalah. Ia akan membawa pemulihan dan kedamaian. Jadi, jangan lelah untuk berseru kepada Allah Sumber penghiburan sejati.

DoaTuhan Yesus, Engkaulah Allah sumber penghiburan sejati dalam hidup kami, Amin.

*SUMBER : SHK Bulan November 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 24 – 30 Oktober 2021

Tema Bulanan : ” PEKABARAN INJIL YANG MEMBARUI MASYARAKAT “

Tema Mingguan : ” HIDUP SEBAGAI ORANG YANG MENGANDALKAN TUHAN “

Minggu, 24 Oktober 2021                              

bacaan : Yeremia 17 : 1 – 18

Pergumulan nabi oleh karena bangsa yang berdosa
"Dosa Yehuda telah tertulis dengan pena besi, yang matanya dari intan, terukir pada loh hati mereka dan pada tanduk-tanduk mezbah mereka 2 sebagai peringatan terhadap mereka! --Mezbah-mezbah mereka dan tiang-tiang berhala mereka memang ada di samping pohon yang rimbun di atas bukit yang tinggi, 3 yakni pegunungan di padang. --Harta kekayaanmu dan segala barang perbendaharaanmu akan Kuberikan dirampas sebagai ganjaran atas dosamu di segenap daerahmu. 4 Engkau terpaksa lepas tangan dari milik pusakamu yang telah Kuberikan kepadamu, dan Aku akan membuat engkau menjadi budak musuhmu di negeri yang tidak kaukenal, sebab dalam murka-Ku api telah mencetus yang akan menyala untuk selama-lamanya." 5 Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! 6 Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. 7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! 8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. 9 Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? 10 Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya." 11 Seperti ayam hutan yang mengerami yang tidak ditelurkannya, demikianlah orang yang menggaruk kekayaan secara tidak halal, pada pertengahan usianya ia akan kehilangan semuanya, dan pada kesudahan usianya ia terkenal sebagai seorang bebal. 12 Takhta kemuliaan, luhur dari sejak semula, tempat bait kudus kita! 13 Ya Pengharapan Israel, TUHAN, semua orang yang meninggalkan Engkau akan menjadi malu; orang-orang yang menyimpang dari pada-Mu akan dilenyapkan di negeri, sebab mereka telah meninggalkan sumber air yang hidup, yakni TUHAN. 14 Sembuhkanlah aku, ya TUHAN, maka aku akan sembuh; selamatkanlah aku, maka aku akan selamat, sebab Engkaulah kepujianku! 15 Sesungguhnya, mereka berkata kepadaku: "Di manakah firman TUHAN itu? Biarlah ia sampai!" 16 Namun tidak pernah aku mendesak kepada-Mu untuk mendatangkan malapetaka, aku tidak mengingini hari bencana! Engkaulah yang mengetahui apa yang keluar dari bibirku, semuanya terpampang di hadapan mata-Mu. 17 Janganlah Engkau menjadi kedahsyatan bagiku, Engkaulah perlindunganku pada hari malapetaka. 18 Biarlah orang-orang yang mengejar aku menjadi malu, tetapi janganlah aku ini menjadi malu; biarlah mereka terkejut, tetapi janganlah aku ini terkejut! Buatlah hari malapetaka menimpa mereka, dan hancurkanlah mereka dengan kehancuran berganda.

Mengandalkan Tuhan, Menghasilkan Buah

Yeremia mengontraskan kehidupan umat Yehuda yang mengandalkan diri dan kenikmatan sesaat dengan kehidupan orang-orang yang mengandalkan Tuhan. Ia mengibaratkannya bagaikan padang gurun dan semak bulus yang senantiasa dalam kekeringan dengan pohon yang ditanam di tepi aliran air. Pohon yang ditanam di tepi aliran air bisa jadi akan mengalami masa-masa berat dalam kehidupan, tetapi ia mendapatkan kekuatannya dari Tuhan yang selalu memasok akarnya dengan air kehidupan. Keadaan hidup boleh penuh masalah, tetapi “daunnya tetap hijau” dan ia “tidak berhenti menghasilkan buah”. Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Edna Medford, Abraham Lincoln disebut sebagai presiden terbaik Amerika. Secara tidak sengaja, orang ini mendengar suara orang berbicara di dalam kamar tersebut. Karena penasaran, dia berhenti sejenak dan mencoba melihat siapakah orang yang sedang berbicara serta apa yang dikatakannya. Seketika itu, terlihat dengan jelas sang presiden sedang berlutut di samping tempat tidurnya dan mengucapkan doa dengan sepenuh hati: “Tuhan Yesus, tolong saya untuk dapat memimpin bangsa yang besar ini.” Keberhasilan Abraham Lincoln terletak pada kesadaran dirinya untuk selalu mengandalkan pertolongan dan kuasa Tuhan. Itu sebabnya, nama Abraham Lincoln terus dikenang sampai hari ini sebagai presiden Amerika Serikat yang paling berhasil. Jika kita mengandalkan Tuhan hidup kita akan selalu menghasilkan buah dan apapun yang kau usahakan berhasil dan nama Tuhan dimuliakan melalui hidupmu.

Doa: Ya Tuhan, kami ingin selalu mengandalkan-Mu dan merindukan hidup yang menghasilkan buah serta memuliakanMu  Amin.

Senin, 25 Oktober 2021                                  

bacaan : Ulangan 6 : 10 – 19

10 Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu--kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kaudirikan; 11 rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kauisi; sumur-sumur yang tidak kaugali; kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun, yang tidak kautanami--dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang, 12 maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. 13 Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah. 14 Janganlah kamu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa sekelilingmu, 15 sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu di tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka TUHAN, Allahmu, terhadap engkau, sehingga Ia memunahkan engkau dari muka bumi. 16 Janganlah kamu mencobai TUHAN, Allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Masa. 17 Haruslah kamu berpegang pada perintah, peringatan dan ketetapan TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; 18 haruslah engkau melakukan apa yang benar dan baik di mata TUHAN, supaya baik keadaanmu dan engkau memasuki dan menduduki negeri yang baik, yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, 19 dengan mengusir semua musuhmu dari hadapanmu, seperti yang difirmankan TUHAN.

Mengandalkan Tuhan Bukan Hanya Saat Kita Butuh

Musa dalam perikop ini tidak pernah bosan mengatakan kepada bangsa Israel agar mereka bertindak dengan hati-hati dan tidak melupakan Tuhan, yang telah membebaskan mereka dari perbudakan. Israel akan mendapatkan berkat yang luar biasa ketika mereka masuk ke tanah perjanjian. Oleh karena itu, Musa meminta agar mereka tetap setia kepada Tuhan. Musa meminta mereka untuk berhati-hati dalam setiap tindakan yang mereka lakukan. Tuhan Allah mau bangsa Israel tetap setia dan mengandalkan-Nya dalam segala keadaan. Ia tidak ingin bangsa Israel menjauh dari-Nya, sehingga Musa diutus untuk memperingatkan mereka. Namun kadang kala bangsa ini tidak sadar bahwa mereka sangat dicintai, Ia hanya ingin mereka taat dan setia, tidak menyimpang ke kanan dan ke kiri, bertidak hati-hati dan waspada dengan selalu mengandalkan-Nya. Ketika  sedang dalam keadaan susah lalu ada teman, sahabat, bahkan orang asing yang menolong, kita bisa secara spontan mengucapkan terima kasih dan tidak melupakan kebaikan orang itu. Bagaimana dengan Tuhan? jika dengan manusia saja kita akan selalu mengingat apa yang sudah mereka lakukan, apakah kita akan selalu ingat pada Tuhan untuk setiap kebaikan yang Ia lakukan? Apakah kita akan berterima kasih atas kebaikannya. Jika dengan manusia saja kita bisa mengenang kebaikannya selama bertahun-tahun mengapa dengan Tuhan kita hanya mengingatnya pada saat kita butuh setelah begitu banyak kebaikan yang Tuhan berikan? Mari mengandalkan Tuhan setiap saat bukan hanya mengandalkanNya saat kita butuh.

Doa: Ya Tuhan, ajarlah kami untuk mengandalkanMu setiap saat, bukan hanya saat kami butuh. Amin

Selasa, 26 Oktober 2021                            

bacaan : Yehezkiel 33 : 12 – 13

12 Dan engkau anak manusia, katakanlah kepada teman-temanmu sebangsa: Kebenaran orang benar tidak menyelamatkan dia, pada waktu ia jatuh dalam pelanggaran dan kejahatan orang jahat tidak menyebabkan dia tersandung, pada waktu ia bertobat dari kejahatannya; dan orang benar tidak dapat hidup karena kebenarannya, pada waktu ia berbuat dosa. 13 Kalau Aku berfirman kepada orang benar: Engkau pasti hidup! --tetapi ia mengandalkan kebenarannya dan ia berbuat curang, segala perbuatan-perbuatan kebenarannya tidak akan diperhitungkan, dan ia harus mati dalam kecurangan yang diperbuatnya.

Teguran Yang Berdampak, Buah dari Mengandalkan Tuhan

Selain memberikan rumput dan air yang cukup dan melindungi dari binatang buas, tanggung jawab dari penjaga kambing domba adalah juga mengingatkan kambing dombanya dengan tongkat apabila kambing dombanya mulai berjalan sendiri menuju tempat yang berbahaya. Itulah gambaran tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada Yehezkiel sebagai penjaga Israel. Tanggung jawab Yehezkiel adalah menyampaikan peringatan, teguran, nasihat dari Tuhan kepada bangsa Israel ketika mereka berbuat dosa. Ketika kita dipercaya oleh Tuhan untuk menjadi penuntun atau mengingatkan orang-orang yang berbuat dosa atau kesalahan, kita harus mengingatkannya dengan sungguh-sungguh dan tidak ada rasa takut dan merasa tidak enak atau malu hati, ketika kita melakukan yang benar kita dapat menolong orang itu untuk kembali kepada Tuhan dan menjadi orang yang lebih baik. Orang yang mengandalkan Tuhan akan selalu meminta hikmat-Nya untuk menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pergaulan. Kita akan lebih bijaksana dalam bersikap dan bergaul dan tidak mudah terpengaruh oleh pergaulan yang tidak baik. Orang yang sungguh-sungguh dekat Tuhan akan selalu meminta hikmat dan pimpinan-Nya dalam melangkah. Alangkah lebih baik jika kita memberi teguran yang berdampak untuk kebaikan mereka, dibandingkan kita hanya diam saja melihat mereka jatuh. Tuhan memakai kita untuk menjadi berkat. Jika kita ingin menjadi berkat andalkanlah Tuhan setiap saat maka Ia akan memakaimu menjadi saluran berkat bagi banyak orang.

Doa: Tuhan, kami ingin selalu mengandalkan-Mu setiap saat dan dipakai Engkau pakai untuk menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Amin

Rabu, 27 Oktober 2021                                    

bacaan : Mazmur 16 : 1 – 11

Bahagia orang saleh
Miktam. Dari Daud. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. 2 Aku berkata kepada TUHAN: "Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!" 3 Orang-orang kudus yang ada di tanah ini, merekalah orang mulia yang selalu menjadi kesukaanku. 4 Bertambah besar kesedihan orang-orang yang mengikuti allah lain; aku tidak akan ikut mempersembahkan korban curahan mereka yang dari darah, juga tidak akan menyebut-nyebut nama mereka di bibirku. 5 Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku. 6 Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku. 7 Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. 8 Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. 9 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; 10 sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. 11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.

Aman Dalam Perlindungan Tuhan

Hidup yang mengandalkan Tuhan seumpama seseorang pengemudi yang mengendarai kendaraannya ke daerah perbukitan. Ia akan melintasi lintasan yang tidak hanya lurus tetapi juga berbelok-belok bahkan tanjakan yang bagian kiri dan kanannya merupakan curam yang sangat dalam dan mengerikan. Namun sesampainya di puncak ia akan menikmati ketenangan, udara yang sejuk serta memanjakan matanya dengan melihat indahnya pemandangan di sekitar. Artinya bahwa dalam setiap perjalanan hidup, lika-liku kehidupan akan kita hadapi. Akan tetapi ketika terus mengandalkan Tuhan maka yang akan kita peroleh ialah sukacita, ketenteraman dan nikmat yang berasal dari pada Tuhan. Bacaan kita ini merupakan ungkapan isi hati Daud yang menggambarkan tentang penyerahan hidupnya kepada Allah. Dalam perjalanan hidupnya, berbagai macam tantangan dan persoalan hidup juga ia alami. Akan tetapi tantangan dan hambatan itu sama sekali tidak mengubah sedikitpun kepercayaan Daud bahwa hanya Allah satu-satunya yang dapat memberikan perlindungan. Pandangan yang tetap kepada Tuhan membuatnya tidak goyah bahkan terus bersukacita dan bersorak-sorai. Sebagai orang percaya kita harus belajar dari Daud yang selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan. Dengan meminta Tuhan untuk selalu menjaga dan senantiasa melindungi maka kita akan tetap kedapatan aman dalam perlindungan-Nya. Andalkan Tuhan dan biarkan Ia memegang kendali atas seluruh kehidupan kita. Semoga sukacita dan damai sejaterah dari Allah selalu menyertai.

Doa: Ajari kami untuk tetap mengandalkan Engkau, agar kami aman dalam perlindungan-Mu. Amin.

Kamis, 28 Oktober 2021                             

bacaan : 2 Tawarikh 13 : 1 – 20

Raja Abia
Dalam tahun kedelapan belas zaman raja Yerobeam menjadi rajalah Abia atas Yehuda. 2 Tiga tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Mikhaya, anak Uriel dari Gibea. Dan ada perang antara Abia dan Yerobeam. 3 Abia memulai perang dengan pasukan pahlawan-pahlawan perang, yang jumlahnya empat ratus ribu orang pilihan, sedangkan Yerobeam mengatur barisan perangnya melawan dia dengan delapan ratus ribu orang pilihan, pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa. 4 Lalu Abia berdiri di atas gunung Zemaraim, yang termasuk pegunungan Efraim, dan berkata: "Dengarlah kepadaku, Yerobeam dan seluruh Israel! 5 Tidakkah kamu tahu, bahwa TUHAN Allah Israel telah memberikan kuasa kerajaan atas Israel kepada Daud dan anak-anaknya untuk selama-lamanya dengan suatu perjanjian garam? 6 Tetapi Yerobeam bin Nebat, hamba Salomo bin Daud, telah bangkit memberontak melawan tuannya. 7 Petualang-petualang, orang-orang dursila, berhimpun padanya; mereka terlalu kuat bagi Rehabeam bin Salomo, yang masih muda dan belum teguh hati, dan yang tidak dapat mempertahankan diri terhadap mereka. 8 Tentu kamu menyangka, bahwa kamu dapat mempertahankan diri terhadap kerajaan TUHAN, yang dipegang keturunan Daud, karena jumlah kamu besar dan karena pada kamu ada anak lembu emas yang dibuat Yerobeam untuk kamu menjadi allah. 9 Bukankah kamu telah menyingkirkan imam-imam TUHAN, anak-anak Harun itu, dan orang-orang Lewi, lalu mengangkat imam-imam menurut kebiasaan bangsa-bangsa negeri-negeri lain, sehingga setiap orang yang datang untuk ditahbiskan dengan seekor lembu jantan muda dan tujuh ekor domba jantan, dijadikan imam untuk sesuatu yang bukan Allah. 10 Tetapi kami ini, Tuhanlah Allah kami, dan kami tidak meninggalkan-Nya. Dan anak-anak Harunlah yang melayani TUHAN sebagai imam, sedang orang Lewi menunaikan tugasnya, 11 yakni setiap pagi dan setiap petang mereka membakar bagi TUHAN korban bakaran dan ukupan dari wangi-wangian, menyusun roti sajian di atas meja yang tahir, dan mengatur kandil emas dengan pelita-pelitanya untuk dinyalakan setiap petang, karena kamilah yang memelihara kewajiban kami terhadap TUHAN, Allah kami, tetapi kamulah yang meninggalkan-Nya. 12 Lihatlah, pada pihak kami Allah yang memimpin, sedang imam-imam-Nya siap meniup tanda serangan terhadap kamu dengan nafiri isyarat-isyarat. Hai orang Israel, jangan kamu berperang melawan TUHAN, Allah nenek moyangmu, karena kamu tidak akan beruntung!" 13 Tetapi Yerobeam mengirim suatu pasukan penghadang yang harus membuat gerakan keliling supaya sampai di belakang mereka, sehingga induk pasukannya berada di depan Yehuda dan pasukan-pasukan penghadang di belakang mereka. 14 Ketika Yehuda menoleh ke belakang, lihatlah, mereka harus menghadapi pertempuran dari depan dan dari belakang. Mereka berteriak kepada TUHAN, sedang para imam meniup nafiri, 15 dan orang-orang Yehuda memekikkan pekik perang. Pada saat orang-orang Yehuda itu memekikkan pekik perang, Allah memukul kalah Yerobeam dan segenap orang Israel oleh Abia dan Yehuda. 16 Orang Israel lari dari depan Yehuda, tetapi Allah menyerahkan mereka ke dalam tangan Yehuda. 17 Abia dengan laskarnya mendatangkan kekalahan yang besar kepada mereka. Dari orang Israel mati terbunuh lima ratus ribu orang pilihan. 18 Demikianlah orang Israel ditundukkan pada waktu itu, sedang orang Yehuda menjadi kokoh, karena mereka mengandalkan diri kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka. 19 Abia mengejar Yerobeam dan merebut dari padanya beberapa kota, yakni Betel dengan segala anak kotanya, Yesana dengan segala anak kotanya dan Efron dengan segala anak kotanya. 20 Tak pernah lagi Yerobeam mendapat kekuatan di zaman Abia. TUHAN memukul dia, sehingga ia mati.

Pertolongan Tuhan Tepat Pada Waktunya

Ketika sudah tidak sanggup menghadapi berbagai masalah yang terjadi dalam kehidupan, seringkali kita berteriak dimanakah Tuhan? Akan tetapi tidak sedikit di antara kita juga yang secara tidak langsung mempersalahkan Tuhan tentang apa yang dialami. Pertanyaannya adalah benarkah kita sudah sepenuhnya bergantung dan melakukan kehendak Allah? Bacaan kita jelas menunjukan bahwa pertolongan Allah tidak pernah terlambat.  Dalam kepemimpinan raja Abia, ia tidak meninggalkan Allah dan tetap melakukan yang dikehendaki oleh-Nya.  Meskipun Yerobeam mengirimkan dua kali lipat pasukannya untuk memerangi serta mengepung Yehuda, namun raja Abia dan pasukannya tidak gentar sebab mereka mengandalkan Allah dan Allah ada di pihak mereka. Allah mengindahkan teriakan raja Abia dan Yehuda serta memberikan kemenangan bagi mereka. Dari kisah di atas, kita diajarkan untuk tetap hidup bergantung dan melakukan kehendak Allah. Tetap yakinkan diri kita bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Bahkan dalam keadaan yang terpuruk sekalipun, Allah sanggup mengubahnya menjadi sukacita. Biarkan hidupmu ada dalam kendali Allah sebab pertolongan-Nya akan selalu tepat pada waktunya.

Doa:  Tuhan kami percaya dengan mengandalkan Engkau, Engkau ada di pihak kami. Amin.

Jumat, 29 Oktober 2021                                       

bacaan : Amsal 3 : 5 – 8

5 Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. 6 Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. 7 Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; 8 itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.

Percayakanlah Hidupmu Kepada Tuhan

Dalam dunia maritim, kompas punya peranan penting bagi seorang nahkoda ketika menahkodai kapalnya. Kompas adalah alat navigasi yang berfungsi untuk menentukan arah mata angin secara akurat. Tanpa kompas sang nahkoda belum tentu dapat melakukan perjalanannya dengan benar. Berlayar menyusuri samudera yang luas tanpa menggunakan kompas sama halnya dengan orang yang mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi tidak mengandalkan-Nya. Realita menunjukan bahwa banyak diantara kita yang mengaku sebagai orang percaya tetapi tidak menunjukan kebergantungannya kepada Allah, melainkan menunjukan sikap yang merasa dirinya lebih tau, lebih baik dan lebih hebat. Bahkan keberhasilan yang dicapai seolah-olah merupakan hasil usaha sendiri. Cara hidup seperti ini mencirikan hidup orang yang hanya bersandar pada pengertian diri sendiri dan menganggap dirinya bijak serta tidak takut Tuhan. Bacaan kita ini mengajarkan pentingnya menaruh kepercayaan seutuhnya kepada sang pemberi hidup. Sebab percaya pada-Nya merupakan fondasi utama membangun relasi antara kita dengan Allah. Percaya berarti memiliki keyakinan yang sungguh dan bersandar seluruh hidup sepenuhnya kepada Allah. Sebagai orang percaya sudah seharusnya kita bergantung kepada Tuhan dengan segenap hati dan mengakui Dia dalam segala hal. Percayalah kepada-Nya karena Dialah yang memelihara seluruh hidup kita. Jangan bergantung pada kekuatan diri sendiri, sebab sekuat-kuatnya manusia tanpa Allah ia tidak akan mampu. Tetaplah andalkan Tuhan dan percayakan hidupmu kepada-Nya.

Doa:  Ya Tuhan, mampukan kami untuk tetap mempercayakan hidup kepada-MU, Amin

Sabtu, 30 Oktober 2021                                

bacaan : Mazmur 31 : 15 – 16

(31-15) Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: "Engkaulah Allahku!" 15 (31-16) Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!

Tetaplah Berharap Kepada Tuhan

Ketika diperhadapkan dengan sederetan persoalan di dalam kehidupan, banyak diantara kita yang mengungkapkan isi hati serta mencari solusi dengan meminta pendapat orang lain. Dengan harapan persoalan yang dihadapi itu sedapat mungkin diselesaikan. Perikop bacaan kita memperlihatkan tentang penderitaan yang dialami oleh pemazmur. Tekanan yang dihadapi oleh pemazmur bukanlah sesuatu yang sepeleh. Meskipun demikian, pemazmur tidak meminta pedapat atau solusi dari orang lain dan juga sama sekali tidak meninggalkan Tuhan, melainkan tetap berharap kepada-Nya. …..kepada-Mu aku percaya….ayat ini membuktikan dengan berharap dan mengandalkan Tuhan menunjukan iman pemazmur yang begitu teguh kepada Allah. Begitupun dengan kita, masalah dan tantangan hidup datang silih berganti. Tantangan atau persoalan dimaksud bisa saja berkaitan dengan pekerjaan, study, kesehatan, pelayanan bahkan tantangan atau persoalan yang dialami dalam kehidupan keluarga. Persoalan seperti itulah yang terkadang membuat kita semakin menjauh bahkan juga meninggalkan Tuhan. Akan tetapi tahukah kita, Justru persoalan terbesar di dalam hidup yaitu ketika kita tidak berharap kepada Tuhan. Pemazmur dalam bacaan kita saat ini mau mengajarkan kita tentang pentingnya berharap, berlindung serta terus mengandalkan Tuhan sebagai bukti dari iman kita kepada-Nya. Apapun yang menjadai persoalanmu, tetaplah percaya dan bersandar kepada-Nya sebab Dialah yang dengan kasih setia-Nya akan selalu memelihara dan menolongmu. Ingatlah, ketika masalah menghampiri hidup kita janganlah berharap kepada manusia karena akan sia-sia, tetapi tetaplah bersandar dan berpengharapan hanya kepada Allah.

Doa: Bapa, tolonglah kami agar selalu berharap hanya kepada Mu, Amin.

*SUMBER : SHK bulan Oktober 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 17 – 23 Oktober 2021

Tema Bulanan : ” PEKABARAN INJIL YANG MEMBARUI MASYARAKAT “

Tema Mingguan : ” KOYAKKANLAH HATIMU DAN BERBALIKLAH KEPADA TUHAN “

Minggu, 17 Oktober 2021                                    

bacaan : Yoel 2 : 12 – 17

Seruan untuk bertobat
12 "Tetapi sekarang juga," demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh." 13 Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. 14 Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu. 15 Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; 16 kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah penganten laki-laki keluar dari kamarnya, dan penganten perempuan dari kamar tidurnya; 17 baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: "Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?"

Dosa Menyebabkan Penghukuman, Pertobatan Mendapatkan Keselamatan

Sepanjang tahun 2021 ini, tercatat telah terjadi berbagai bencana alam maupun non alam di negeri ini. Bencana alam berupa banjir bandang, tanah longsor, angin puting beliung, kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan. Bencana non-alam berupa pandemic covid-19 dengan berbagai variannya. Sebuah tabloid nasional memuat tulisan dengan judul “Apakah Tuhan itu baik?” Bacaan hari ini  menyaksikan bahwa nabi Yoel juga mempertanyakan kebaikan Tuhan. Tema utama kitab Yoel tentang “Hari Tuhan”. Hari Tuhan dihubungkan dengan  penghukuman Allah kepada umat Israel akibat dosa mereka. Mereka berbalik meninggalkan Allah dan menyembah berhala, pejabat dan umat melakukan kesalahan. Akibat dosa yang dilakukan umat Israel ini maka Allah mendatangkan penghukuman-Nya, berupa wabah belalang yang mengerikan disertai kelaparan yang hebat melanda seluruh negeri (YL.1:2-20). Penghukuman Allah yang dasyat ini hanya dapat dibatalkan jika umat, para imam dan seluruh pelayan berbalik kepada Tuhan dengan segenap hati, berpuasa, menangis, mengaduh dan memohon belas kasih Tuhan (ay.12,17). Berbalik berarti umat mencari Tuhan, meninggalkan allah-allah sembahan mereka serta melakukan kehendak Tuhan, yakni membangun relasi dengan Tuhan, sesama dan alam ciptaan-Nya dengan baik dan benar. (ay.13), “Koyakkanlah hatimu” artinya pertobatan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh bukan berpura-pura (munafik), karena Allah menilai hati setiap orang. Allah akan menyelamatkan bukan menghukum, karena Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia (ay.14). Bencana atau penderitaan adalah peringatan supaya perbuatan dosa ditinggalkan dan berbalik kepada Tuhan, sehingga Ia menyelamatkan hidup kita.

Doa: Tuhan, Tuntunlah kami untuk bertobat dan berbalik kepada-Mu. Amin.

Senin, 18 Oktober 2021                                     

bacaan : 1 Samuel 7 : 2 – 9

Orang Filistin terpukul kalah dekat Mizpa
2 Sejak saat tabut itu tinggal di Kiryat-Yearim berlalulah waktu yang cukup lama, yakni dua puluh tahun, dan seluruh kaum Israel mengeluh kepada TUHAN. 3 Lalu berkatalah Samuel kepada seluruh kaum Israel demikian: "Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin." 4 Kemudian orang-orang Israel menjauhkan para Baal dan para Asytoret dan beribadah hanya kepada TUHAN. 5 Lalu berkatalah Samuel: "Kumpulkanlah segenap orang Israel ke Mizpa; maka aku akan berdoa untuk kamu kepada TUHAN." 6 Setelah berkumpul di Mizpa, mereka menimba air dan mencurahkannya di hadapan TUHAN. Mereka juga berpuasa pada hari itu dan berkata di sana: "Kami telah berdosa kepada TUHAN." Dan Samuel menghakimi orang Israel di Mizpa. 7 Ketika didengar orang Filistin, bahwa orang Israel telah berkumpul di Mizpa, majulah raja-raja kota orang Filistin mendatangi orang Israel. Serta didengar orang Israel demikian, maka ketakutanlah mereka terhadap orang Filistin. 8 Lalu kata orang Israel kepada Samuel: "Janganlah berhenti berseru bagi kami kepada TUHAN, Allah kita, supaya Ia menyelamatkan kami dari tangan orang Filistin itu." 9 Sesudah itu Samuel mengambil seekor anak domba yang menyusu, lalu mempersembahkan seluruhnya kepada TUHAN sebagai korban bakaran. Dan ketika Samuel berseru kepada TUHAN bagi orang Israel, maka TUHAN menjawab dia.

Mengasihi Tanpa Syarat

Sadar akan setiap kesalahan dan berkomitmen untuk tidak mengulang kesalahan yang sama adalah bentuk penyesalan diri seorang manusia ketika diperhadapkan dengan situasi yang sulit. Bentuk penyesalan itu kemudian mengajarkan kita agar berpikir, berkata-kata dan bertindak dengan hati-hati serta memikirkan dampak dari setiap perbuatan kita. Jangan hanya karena ingin menang, ingin bebas atau ingin aman lalu mengabaikan dampak dari keinginan-keinginan itu. Jika keinginan itu didapatkan dari usaha dan kerja yang sungguh-sungguh dan tidak merugikan siapapun maka tidak akan ada penyesalan, tetapi jika keinginan yang didapatkan dari tindakan tidak manusiawi maka suatu saat pasti hasilnya berujung penyesalan. Samuel mengantarkan orang-orang Israel untuk kembali kepada Tuhan dan menyembah-Nya. Mizpa menjadi daerah pemulihan bagi bangsa Israel. Mereka berkomitmen untuk tidak mengulang kesalahan mereka lagi dan berjanji akan menyembah Tuhan, oleh sebab itu mereka berkata kepada Samuel agar terus berseru kepada Tuhan sehingga Tuhan menyelamatkan mereka dari bangsa Filistin. Bacaan hari ini, mengajarkan kita untuk sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan tanpa syarat. Percaya dan meyakini kuasa-Nya bukan karena dorongan keinginan manusiawi, tetapi oleh keyakinan akan penyelamatan Tuhan. Oleh karena itu, janganlah gegabah, fokuslah kepada Tuhan dan setiap perbuatan-Nya yang ajaib, berpikirlah sebelum bertindak dan berkata, maka setiap gumulan kita akan dijawab-Nya dengan mendatangkan kebaikan dan sukacita.

Doa: Ya… Tuhan, mampukan kami untuk tetap berjalan pada kehendak-Mu. Amin

Selasa, 19 Oktober 2021                                        

bacaan : Hosea 6 : 1 – 3

"Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita. 2 Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya. 3 Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi."

Fondasi Kepercayaan Yang Tulus

Film Fire Proof (Tahan Api) menggambarkan tentang kehidupan dalam rumah tangga yang mengalami konflik interpersonal. Konflik kerap terjadi pada pasangan suami istri hanya karena berbeda pendapat atau kurangnya komunikasi. Salah satu konflik yang menonjol dari film ini ialah tentang rasa percaya yang “pura-pura” antar suami istri agar rumah tangga mereka tetap bertahan. Hingga pada titik kejenuhan, istri memutuskan untuk hubungan ini berakhir dengan perceraian. Sang suami awalnya setuju, namun kedua orang tuanya mencegah ia dengan mengatakan bahwa pernikahan mereka masih dapat diselamatkan. Pada akhirnya, sang suami mempraktekkan rumus cinta dari ayahnya sehingga rumah tangga mereka terselamatkan. Oleh karenanya, keyakinan dan kesungguhan menjadi basis dalam membangun sebuah hubungan. Nabi Hosea memanggil bangsa Israel untuk bertobat serta mengharapkan rahmat dan kemurahan hati Tuhan untuk memulihkan mereka.  Dalam ayat 3a dikatakan bahwa, Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan; hal ini merupakan sebuah frase untuk berbalik kepada Tuhan atau seruan pertobatan. Yakinlah akan besarnya pengasihan Tuhan.  Oleh karena itu, bangunlah hubungan yang sungguh-sungguh dengan Tuhan lewat setiap keluarga kita. Hubungan yang tulus, penuh kasih sayang, saling menguatkan dalam tiap keluarga. Percayalah, jika landasan hubungan yang dibangun bukan sebuah kepura-puraan maka setiap tantangan yang ada di dalamnya pasti dapat terselesaikan dengan penuh kedamaian.

Doa: Urapilah kami dengan Roh Kudus-Mu Tuhan, agar kami memiliki hati yang tulus, Amin

Rabu, 20 Oktober 2021                                         

bacaan : Hosea 12 : 1 – 7

Efraim dan Yakub bapa leluhurnya
(12-1) Dengan kebohongan Aku telah dikepung oleh Efraim, dengan tipu oleh kaum Israel; sedang Yehuda menghilang dari dekat Allah, dari dekat Yang Mahakudus yang setia. (12-2) Efraim menjaga angin, dan mengejar angin timur sehari suntuk, memperbanyak dusta dan pemusnahan; mereka mengadakan perjanjian dengan Asyur, dan membawa minyak kepada Mesir. 2 (12-3) TUHAN mempunyai perbantahan dengan Yehuda, Ia akan menghukum Yakub sesuai dengan tingkah lakunya, dan akan memberi balasan kepadanya sesuai dengan perbuatan-perbuatannya. 3 (12-4) Di dalam kandungan ia menipu saudaranya, dan dalam kegagahannya ia bergumul dengan Allah. 4 (12-5) Ia bergumul dengan Malaikat dan menang; ia menangis dan memohon belas kasihan kepada-Nya. Di Betel ia bertemu dengan Dia, dan di sanalah Dia berfirman kepadanya: 5 (12-6) --yakni TUHAN, Allah semesta alam, TUHAN nama-Nya-- 6 (12-7) "Engkau ini harus berbalik kepada Allahmu, peliharalah kasih setia dan hukum, dan nantikanlah Allahmu senantiasa."

Kesempatan Kedua

Tuhanku, Bila Hati Kawanku adalah judul lagu dari Kj. No. 467, yang mengisahkan tentang pengakuan seseorang kepada Tuhan karena telah menyakiti hati sesamanya oleh karena tingkah laku dan tutur katanya. Pengakuan itu mengisyaratkan adanya penyesalan yang mendalam. Tuhan mengenal umat-Nya, Ia mengenal Efraim, Yakub, dan mengetahui setiap detail kehidupan mereka. Tuhan telah melakukan yang terbaik bagi umat-Nya, namun mereka berbuat yang sebaliknya. Tuhan telah memelihara kasih setia-Nya, namun umat mengabaikan-Nya. Tuhan menjaga umat-Nya, namun umat menjauhi-Nya. Dalam keadaan yang demikian, sulit untuk memahami bahwa Tuhan bisa sakit hati karena perbuatan umat-Nya. Bagaimana mungkin Tuhan yang penuh kasih sayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia bisa sakit hati? Namun, ketika kita tidak melakukan apa yang dikehendaki-Nya dan melanggar setiap ketetapan-Nya maka Ia akan kecewa dan sakit hati (ay.3). Kenyataan membuktikan adanya fakta tentang anggota keluarga yang  saling menyakiti dan mendukacitakan hati. Antar suami-istri, orang tua-anak, bahkan hidup bersaudara. Koinflik dipicu dorongan emosional marah. Kita perlu belajar untuk tidak berbicara ketika sedang marah. Berusahalah menenangkan diri dan berdoalah kepada Tuhan agar Roh Kudus menguasai hati kita. Belajarlah untuk terus saling menegur dengan kasih, merendahkan hati, dan mengalah untuk menciptakan hidup yang berdamai sejahtera. Percayalah pada Tuhan sebab kasih-Nya besar dan selalu  mengampuni.

Doa: Ya Tuhan, berilah kasih-Mu yang melembutan hati agar kami mampu hidup dengan bermakna. Amin.

Kamis, 21 Oktober 2021                                  

bacaan : Ulangan 30 : 1 – 10

Pulih setelah tobat
"Maka apabila segala hal ini berlaku atasmu, yakni berkat dan kutuk yang telah kuperhadapkan kepadamu itu, dan engkau menjadi sadar dalam hatimu di tengah-tengah segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, menghalau engkau, 2 dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dan mendengarkan suara-Nya sesuai dengan segala yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, baik engkau maupun anak-anakmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, 3 maka TUHAN, Allahmu, akan memulihkan keadaanmu dan akan menyayangi engkau. Ia akan mengumpulkan engkau kembali dari segala bangsa, ke mana TUHAN, Allahmu, telah menyerakkan engkau. 4 Sekalipun orang-orang yang terhalau dari padamu ada di ujung langit, dari sanapun TUHAN, Allahmu, akan mengumpulkan engkau kembali dan dari sanapun Ia akan mengambil engkau. 5 TUHAN, Allahmu, akan membawa engkau masuk ke negeri yang sudah dimiliki nenek moyangmu, dan engkaupun akan memilikinya pula. Ia akan berbuat baik kepadamu dan membuat engkau banyak melebihi nenek moyangmu. 6 Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup. 7 TUHAN, Allahmu, akan menjatuhkan segala sumpah serapah itu kepada musuhmu dan pembencimu, yang telah mengejar engkau. 8 Engkau akan mendengarkan kembali suara TUHAN dan melakukan segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini. 9 TUHAN, Allahmu, akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam segala pekerjaanmu, dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu, sebab TUHAN, Allahmu, akan bergirang kembali karena engkau dalam keberuntunganmu, seperti Ia bergirang karena nenek moyangmu dahulu-- 10 apabila engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dengan berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya, yang tertulis dalam kitab Taurat ini dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu."

Pemulihan Yang Sejati

Pandemik Covid-19 merupakan pandemik global yang hingga saat ini masih terus diupayakan agar berhenti atau selesai penyebarannya. Banyak upaya dilakukan oleh pemerintah, aparat keamanan, para medis, tokoh-tokoh agama hingga masyarakat sipil. Cara mencegahnya diupayakan dengan berbagai metode mulai dari 3M (Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan) hingga Vaksinasi. Semua metode ini diharapkan agar Pandemik ini segera berlalu. Kenyataan ini hendaklah terus direfleksikan orang percaya agar selalu berharap kepada Tuhan. Gereja Protestan Maluku menyuarakan agar semua warga GPM berdoa serentak di rumah masing-masing juga dari TOA Gereja pada setiap pukul 20.00 WIT malam. Keheningan dan penyerahan diri kepada Tuhan dalam setiap doa, sesungguhnya merupakan pengakuan atas keberdosaan kita juga. Ulangan 30 : 1 – 10 menegaskan bahwa bangsa Israel diperintahkan untuk segera berbalik kepada Tuhan, sebab jika  berbalik kepada Tuhan lalu melakukan kehendak-Nya maka pemulihan dan keselamatan akan diterima. Tuhan Allah memiliki kasih yang begitu besar, Ia karuniakan untuk setiap umat-Nya yang bersedia kembali kepada-Nya. Oleh sebab itu, keluarga-keluarga Kristen tetaplah membangun hubungan intim dengan Tuhan dalam doa setiap malam, saling mendoakan, pelihara hidup saling mengasihi serta positif thinking untuk setiap tantangan di dalam hidup. Percayalah, pemulihan akan kita peroleh di dalam penyertaan-Nya.

Doa: Pulihkanlah kami ya Tuhan, dengan kuasa dan kasih setia-Mu. Amin.

Jumat, 22 Oktober  2021                                   

bacaan : Zefanya 2 : 1 – 3

Seruan untuk bertobat
Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang acuh tak acuh, 2 sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN. 3 Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN.

Carilah Tuhan dan Bertobatlah

Manusia selalu ingin terhindar dari bencana atau malapetaka, termasuk mereka yang beriman kepada Tuhan. Kita juga paham bahwa Tuhan tidak pernah memandang muka. Ia cemburu  dan menunjukkan murkaNya kepada siapa pun yang tidak melakukan kebaikan, kebenaran, dan keadilan kepada sesama manusia. Bacaan hari ini menegaskan tindakan kenabian  Zefanya yang menyerukan pertobatan, jika tidak ingin dihalau seperti sekam yang tertiup dan sebelum murka Tuhan menyala-nyala. Bertobat dari apa? Zefanya menyerukan untuk bertobat dari praktek ketidakadilan dan keangkuhan atau kesombongan. Pertobatan seperti apa yang harus dilakukan? Bertobat dengan mencari Tuhan. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang melakukan praktek ketidakadilan merupakan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Begitu pun mereka yang tidak memiliki kerendahan hati, yang suka menyombongkan diri, hidup dalam keangkuhan merupakan orang-orang yang belum mengenal Tuhan meskipun mereka adalah orang-orang yang beragama. Seruan carilah Tuhan, merupakan perintah pertobatan agar terhindar dari malapetaka dan murka Tuhan yang menyala-nyala. Anjuran ini haruslah direfleksikan dan diwujudkan dalam hidup beriman sehari-hari, agar kita mengalami kebaikan dan kemurahan Tuhan kapan dan di mana saja. Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui.

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk hidup dalam pertobatan. Amin

Sabtu, 23 Oktober 2021                            

bacaan : 2 Tawarikh 6 : 34 – 42

34 Apabila umat-Mu keluar untuk berperang melawan musuh-musuhnya, ke arah manapun Engkau menyuruh mereka, dan apabila mereka berdoa kepada-Mu dengan berkiblat ke kota yang telah Kaupilih ini dan ke rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu, 35 maka Engkau kiranya mendengar dari sorga doa dan permohonan mereka dan Engkau kiranya memberikan keadilan kepada mereka. 36 Apabila mereka berdosa kepada-Mu--karena tidak ada manusia yang tidak berdosa--dan Engkau murka kepada mereka dan menyerahkan mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan ke negeri yang jauh atau yang dekat, 37 dan apabila mereka sadar kembali dalam hatinya di negeri tempat mereka tertawan, dan mereka berbalik, dan memohon kepada-Mu di negeri tempat mereka tertawan, dengan berkata: Kami telah berdosa, bersalah, dan berbuat fasik, 38 apabila mereka berbalik kepada-Mu dengan segenap hatinya dan dengan segenap jiwanya di negeri orang-orang yang mengangkut mereka tertawan, dan apabila mereka berdoa kepada-Mu dengan berkiblat ke negeri mereka yang telah Kauberikan kepada nenek moyang mereka, ke kota yang telah Kaupilih dan ke rumah yang telah kudirikan bagi nama-Mu, 39 maka Engkau kiranya mendengarkan dari sorga, dari tempat kediaman-Mu yang tetap, kepada doa dan segala permohonan mereka dan kiranya Engkau memberikan keadilan kepada mereka, dan Engkau kiranya mengampuni umat-Mu yang telah berdosa kepada-Mu. 40 Sebab itu, ya Allahku, kiranya mata-Mu terbuka dan telinga-Mu menaruh perhatian kepada doa yang dipanjatkan di tempat ini. 41 Dan sekarang, bangunlah ya TUHAN Allah, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu! Kiranya, ya TUHAN Allah, imam-imam-Mu berpakaian keselamatan, dan orang-orang yang Kaukasihi bersukacita karena kebaikan-Mu. 42 Ya TUHAN Allah, janganlah Engkau menolak orang yang telah Kauurapi, ingatlah akan segala kasih setia-Mu kepada Daud, hamba-Mu itu."

Datanglah KepadaNya, Jangan Malu

Bacaan 2 Tawarikh 6:34-42, berisi doa Salomo.  Ini adalah doa yang disampaikan Salomo pada waktu pentahbisan Bait Suci, dan tertulis dalam 30 ayat. Kisah  ini menunjukkan bahwa doa menjadi bagian terpenting dalam Bait Suci Salomo selain persembahan dan puji-pujian. Salomo meminta belas kasihan Allah untuk mendengar seruan umat Israel dan Allah kiranya bermurah hati mengampuni apabila mereka menyesali dosa dan kesalahan serta ingin berbalik kepada Allah. Ada berbagai macam ekspresi dan tindakan orang yang menyesal. Ada yang diam meratapi diri, menangis sejadi-jadinya, memohon ampun dari orang yang disakiti, dan lain-lain. Alkitab mencatat banyak kesaksian tentang orang Israel, mulai dari raja, nabi, sampai orang biasa, yang menyesal dan mengakui dosa. Salah satu ekspresi yang mereka lakukan adalah mengoyakkan pakaian. Melalui tindakan itu, mereka mengakui keberadaan diri, ketidaklayakan, dan dosa mereka di hadapan Allah yang mahakudus. Allah menghendaki penyesalan atau sadar diri akan dosa yang sungguh bukan hanya sesaat bukan hanya sekadar mengoyakkan pakaian, tetapi mengoyakkan hati, (penyesalan yang tulus dan ada keinginan untuk menjadi lebih baik secara terus-menerus). Allah adalah setia dan penyayang dan Ia pasti mengampuni kesalahan dan dosa kita. Jangan malu datang kepada-Nya, akuilah kesalahanmu dan buat komitmen untuk jadi lebih baik, Ia ingin engkau berbalik dengan sungguh-sungguh, Ia menunggumu datang kepadaNya dalam doa.

Doa: Ya Tuhan, Ampunilah kami akan segala kesalahan kami, beri kami kesempatan untuk menjadi lebih baik . Amin.

*SUMBER : SHK bulan Oktober 2021, LPJ-GPM