Santapan Harian Keluarga, 10 – 16 Oktober 2021

Tema Bulanan : ” PEKABARAN INJIL YANG MEMBARUI MASYARAKAT “

Tema Mingguan : “KASIH KARUNIA ALLAH MEMBENARKAN ORANG PERCAYA”

Minggu, 10 Oktober 2021                                   

bacaan : Roma 1 : 16 – 17

Injil itu kekuatan Allah
16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. 17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."

Injil Itu Kekuatan Allah

Hal penting dan tidak boleh dilupakan oleh setiap orang yang percaya kepada Yesus adalah bahwa injil itu kekuatan Allah. Injil adalah kekuatan Allah yang  menyelamatkan semua orang yang percaya kepada-Nya. Injil, kekuatan yang memberikan  keselamatan  kepada manusia dan dunia. Iman dan kasih karunia Allah yang menyelamatkan, menerangi pikiran dengan kebenaran dan menuntun pada keselamatan itu. Injil adalah kekuatan yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani (ayat 16). Ini adalah tema yang sangat penting dalam semua surat Paulus, terutama surat Roma. Gagasan menyelamatkan menunjuk pada karya Allah yang membebaskan manusia dari dosa dan kuasa-kuasa jahat. Keselamatan dialami oleh mereka yang percaya kepada Yesus sebagai Anak Allah dan Juruselamat dunia. Yesus adalah Anak Allah yang telah datang ke dunia untuk menjadi tebusan bagi mereka yang percaya. Pengurbanan Yesus adalah kasih karunia yang dialamatkan kepada seluruh dunia tanpa terkecuali. Maksudnya adalah bahwa keselamatan di dalam Yesus dapat dialami oleh semua manusia yang percaya dan bukan karena jasa. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri, kecuali oleh kasih karunia Allah. Inilah berita yang menguatkan harapan dan keyakinan bahwa Allah mangasihi, peduli dan rela berkorban. Kita menjadi kuat, sebab Allah dapat melakukan hal yang tidak mampu manusia kerjakan.  Injil menjadi pesan iman yang membebaskan manusia dari kekuatiran, kebimbangan dan keputusasaan.

Doa: Tuhan perlindunganku, berikanlah kekuatan-Mu untuk kami. Amin.

Senin, 11 Oktober 2021                                

bacaan : Mazmur 35 : 27 – 28

27 Biarlah bersorak-sorai dan bersukacita orang-orang yang ingin melihat aku dibenarkan! Biarlah mereka tetap berkata: "TUHAN itu besar, Dia menginginkan keselamatan hamba-Nya!" 28 Dan lidahku akan menyebut-nyebut keadilan-Mu, memuji-muji Engkau sepanjang hari.

Bersukacitalah Karena Kasih Karunia Allah Menyelamatkan

Suatu kali Socrates bertanya kepada seorang lelaki tua yang sederhana tentang apa yang membuatnya bersyukur. Lelaki itu menjawab “Yang paling saya syukuri adalah meski keadaan saya begini, saya memiliki sahabat–sahabat yang begitu SETIA sampai saat ini. Ada banyak sahabat yang tidak setia. Dalam kitab Amsal tertulis, ”Kekayaan menambah banyak sahabat ”tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya. (Amsal 19:4). Sahabat palsu biasanya lebih suka bergaul dengan si kaya dan menjadi seorang penjilat serta penghianat. Namun sahabat sejati menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran. Pengalaman tentang kebaikan yang luar biasa juga dialami pemazmur. Pemazmur mengalami dan meyakini bahwa kasih Allah melebihi segala sesuatu dalam hidupnya. Ia katakan;  biarlah bersorak-sorak dan bersukacita karena Dia membebaskan dari musuhnya. Kasih karunia Allah menolong kita melangkah, dan memberi kekuatan. Allah menjadikan kita sahabat, agar kasih karunia-Nya diteruskan kepada semua orang. Kita diminta untuk berhati-hati dan bijak agar dapat mebedakan mana sahabat serta mana lawan. Kisah di atas mengajarkan bahwa sahabat sejati dapat menjadikan kita bersyukur. Kita bersyukur bahwa Allah di dalam Yesus telah menjadi sahabat yang setia. Dia selalu setia di dalam hidup kita. Ia mengangkat, menolong, membebaskan dari berbagai kesulitan, keraguan, ketakutan, dan kecemansan. Jadikanlah Dia sahabat setia kita dalam susah maupun senang.

Doa:    Tuhan tunjukanlah kasih setia-Mu, yang menyelamatkan hidup kami. Amin.

Selasa, 12 Oktober 2021                                     

bacaan : Roma 2 : 12 – 16

12 Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat. 13 Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. 14 Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. 15 Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. 16 Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.

Allah Berlaku Adil

Allah menuntun kita untuk menemukan kebenaran-Nya. Kebenaran akan Allah memerdekakan kita. Paulus katakan: Allah berikan kebenaran kepada semua orang dan Ia berlaku adil atas mereka. Allah mencintai semua umat manusia, sekalipun bangsa lain tidak memiliki Hukum Taurat. Ia menciptakan hati nurani, agar semua orang dapat memahami benar dan salah.  Hukum Taurat, menunjukkan bahwa manusia tidak mampu untuk lepas dari dosa sehingga dibutuhkanlah anugerah yang menyelamatkan. Paulus menegaskan bahwa semua orang harus  menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya mereka memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidup, baik atau jahat. Perbuatan jahat orang percaya yang telah diakui dalam pertobatan, akan diampuni (Roma 8:1). Siapa yang melakukan kesalahan  akan menanggung akibatnya. Hal itu terkait dengan penghakiman Allah.  Keselamatan seseorang tidak ditentukan Hukum Taurat, tetapi oleh kasih karunia Allah. Hukum Taurat berisi tuntunan Allah bagi umat-Nya untuk hidup dan beribadat dan saling melayani. Yesus datang ke dunia dalam kebenaran  dan memerdekakan manusia dari perhambaan dosa. Ia adalah hakim yang adil dan benar. Demikianlah orang Kristen harus menyempurnakan dalam diri mereka takut akan Tuhan, sehingga dapat hidup dalam kemurnian hati nurani dan penguasaan diri, berjaga, berdoa,  kudus, saleh, serta menunjukkan kemurahan juga kebaikan kepada semua manusia.

Doa:    Ya Tuhan berilah Roh-Mu menuntun hati kami, agar mampu melakukan kebenaran. Amin.

Rabu, 13 Oktober 2021                                          

bacaan : Roma 4 : 2 – 6

2 Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. 3 Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." 4 Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. 5 Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran. 6 Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:

Dibenarkan Karena Iman

Pernahkah kita mendengar istilah “sombong rohani”? Istilah ini mengandung pandangan bahwa diri lebih baik secara moral, atau lebih benar dari orang lain. Pandangan ini juga diperlihatkan oleh orang Kristen asal Yahudi yang merasa paling benar di hadapan Allah karena mempraktekkan hukum taurat (band. Rm.3:20). Mereka beranggapan bahwa keselamatan hanya dimiliki oleh orang yang melakukan hukum taurat, sebaliknya semua yang tidak mempraktekan hukum taurat dianggap “kafir” dan tak berhak atas keselamatan Allah. Pandangan ini sangat berbahaya karena berpotensi perpecahan bagi orang Kristen Yahudi dengan non Yahudi di Roma. Menanggapi pandangan tersebut, Paulus kemudian memberikan pemahaman yang baru dengan memberikan contoh tentang tokoh Abraham, bapa leluhur Israel (ay.1). Abraham dikenal sebagai bapa orang beriman karena memiliki iman yang sungguh kepada Allah (band. Kej.12:1-9; 15:1-21; 18:1-15). Allah memperhitungkannya sebagai kebenaran (ay.3 band.Ibrn.11:8). Demikian juga dengan Daud dibenarkan oleh iman bukan oleh perbuatannya (ay.6).  Paulus mau mengatakan bahwa baik Abraham maupun Daud dibenarkan oleh Tuhan karena iman mereka bukan karena melakukan tuntutan Hukum Taurat atau melakukan perbuatan baik lainnya. Karena itu, apa yang harus dibanggakan di hadapan Allah? Makna bacaan ini bagi kita adalah bahwa setiap orang percaya sudah menerima anugerah keselamatan secara cuma-cuma dari Allah melalui pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib bukan hasil usaha kita atau perbuatan baik (rajin beribadah, rajin melayani, memberikan persepuluhan,dll) sebab berkat yang diterima adalah milik Allah yang diberikan berdasarkan kasih karunia-Nya. Karena itu, kita tidak perlu “sombong rohani” dengan mengaggap diri  paling baik dan benar di hadapan Tuhan sedangkan orang lain berdosa.

Doa: Tuhan tuntunlah hati kami untuk tidak sombong rohani. Amin.

 Kamis, 14 Oktober 2021                               

bacaan : Roma 5 : 1 – 2                                 

Hasil pembenaran
Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. 2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.

Bersama Yesus, Melangkah di Tengah Badai Hidup

Pandemi Covid 19 dengan varian Delta dan MU telah menimbulkan rasa kecemasan, ketakutan bahkan Kesengsaraan (penderitaan) bagi banyak orang. Situasi serupa juga dialami oleh orang Kristen di Roma, mereka mengalami  penganiayaan yang hebat karena iman kepada Yesus Kristus. Dalam menghadapi situasi yang demikian, ada orang Kristen yang yang tetap bertahan dalam iman kepada Yesus Kristus sekalipun harus menderita, tetapi ada juga yang akhirnya memilih untuk meninggalkan imannya kepada Yesus Kristus karena tidak sanggup menghadapi tekanan tersebut. Paulus menasihati orang percaya agar di tengah situasi yang sulit, mereka tetap mempertahankan iman kepada Yesus Kristus. Alasannya,  mereka sudah dibenarkan karena iman melalui pengorbanan Yesus di kayu salib. Yesus telah menyelamatkan mereka dari kuasa dosa dan memberikan sukacita, damai sejahtera (ay.1) Kehidupan yang  berpusat pada Yesus memampukan orang percaya untuk kokoh berdiri menghadapi berbagai kesengsaraan bahkan dapat bermegah dalam pengharapan karena mereka akan menerima kemuliaan Allah (ay.2). Bacaan ini menegaskan sikap berani menghadapi kenyataan hidup, terutama yang membebani dan menekan. Masalah janganlah melemahkan pengharapan kita kepada Yesus Kristus, sebaliknya menjadi pintu masuk membangun pengharapan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang bijak: “Harapanlah yang membuat seseorang mampu untuk bertahan menjalani hidup sekalipun ada begitu banyak tantangan dan hambatan”. Semoga kita memiliki harapan kepada Yesus Kristus dalam hidup ini. Saat kita membuka mata di pagi hari,  bahkan ketika akan menutupnya pada malam nanti, tetaplah berpengharapan kepada Yesus, Tuhan penyelamat, sambil menyambut hari esok yang lebih baik.

Doa: Tuhan, tuntunlah kami melangkah di tengah badai hidup. Amin.

Jumat, 15 Oktober 2021                                    

bacaan : Lukas 18 : 9 – 14

Perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai
9 Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: 10 "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. 11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; 12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. 13 Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. 14 Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Barangsiapa Merendahkan Diri Akan Ditinggikan

Kesombongan; sifat suka meninggikan diri, sok tahu dan merasa paling hebat adalah salah satu sifat yang dibenci Tuhan (band.Ams.6:16-17). Hal ini dijelaskan pula oleh Tuhan Yesus melalui perumpamaan tentang orang farisi dengan pemungut cukai dalam perikop bacaan kita tadi. Dikatakan bahwa Orang Farisi dan pemungut cukai sama-sama berdoa di Bait Allah.  Orang farisi dengan sombongnya menghadap Tuhan dengan menganggap dirinya paling benar karena  merasa tidak melakukan dosa (seperti yang dilakukan pemungut cukai). Ia juga merasa paling hebat karena berpuasa 2 kali seminggu, memberikan persepuluhan secara rutin (ay.11,12). Sedangkan Pemungut cukai dengan sikap rendah diri dan merasa tidak layak, datang menyesali dosa-dosanya dan memohon pengampunan dari Tuhan (ay.13). Tuhan Yesus katakan orang yang berdoa dengan jujur dan benar adalah si pemungut cukai. Doanya didengar oleh Allah karena ia tahu diri sebagai orang yang memerlukan kasih karunia Allah. Doa orang farisi tidak diterima oleh Allah karena kesombongannya. Maknanya bagi kita saat ini, jangan sombong atau merasa diri paling banar, paling hebat di hadapan Tuhan karena melakukan kewajiban keagamaan; rajin beribadah, memberikan persepuluhan, melayani pekerjaan Tuhan, dan sebgainya. Karena Tuhan membenci orang-orang sombong, sebaliknya Dia mengasihi orang rendah hati dan mengakui dosa-dosanya. Firman Tuhan: ”Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan (ay.14). Jadi, biarkan Tuhan yang memuji kita jangan kita memuji diri kita sendiri. Melaksanakan kewajiban keagamaan; beribadah, persepuluhan, melayani pekerjaan Tuhan adalah cara kita mengucap syukur atas berkat yang kita terima  dari Tuhan. Ingatlah, hidup kita hanya karena kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib.

Doa: Roh Kudus jauhkan kami dari sifat kesombongan. Amin.

Sabtu, 16 Oktober 2021                                        

bacaan : Mazmur 4 : 2

(4-2) Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku!

Doa Menjadi Kekuatan

Semua orang tidak terlepas dari yang namanya masalah, penderitaan, putus asa, galau, gelisah, bimbang, kecewa, takut, kuatir. Mengapa penderitaan tidak terlepas dari diri kita? Karena masalah/penderitaan adalah bagian dari kehidupan manusia. Sebab itu yang terpenting adalah bukan soal masalahnya tetapi pada bagaimana kita dapat menyelesaikannya.  Perikop bacaan kita menjelaskan bagaimana Pemazmur  mengalami tekanan akibat fitnah dan kebohongan yang dilakukan oleh musuh-musuhnya terhadap dirinya. (ay.3). Ia  menyampaikan permohonan doanya kepada Tuhan dan mengharapkan jawaban-Nya (ay.2). Pemazmur  mengandalkan Tuhan sebagai penolong satu-satunya dan menjadikan-Nya sebagai sumber kebenaran yang akan membela dan memberikan keadilan kepadanya berdasarkan kasih karunia Tuhan. Kita belajar untuk menyerahkan hidup secara total kepada Tuhan kapan dan di manapun berada. Akta berserah dan membawa seluruh persoalan hidup kepada Tuhan,  menjadikan kita menjadi tenang, tenteram dan aman. Berserah kepada Tuhan adalah pengalaman iman pemazmur yang patut diteladani. Kita belajar bahwa dengan berserah kepada Tuhan dan membawa seluruh persoalan hidup kepada-Nya maka akan hilang rasa takut, cemas serta kuatir. Yakinlah bahwa dengan percaya kepada Tuhan, maka persoalan hidup tidak menjadi beban pikiran. Kita akan terhindar dari dialaminya penyakit susah tidur (insomnia) yang membahayakan kesehatan. Menurut hasil penelitian di Amerika Serikat, penyakit susah tidur (insomnia) mengakibatkan masalah psikologis (depresi berat atau gangguan kejiwaan) dan masalah kesehatan yang serius, seperti: stroke, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kegemukan (obesitas) dan penurunan daya tahan tubuh. Jadi marilah berserah dan berseru pada Tuhan, sebab Ia akan menjawab dan memberikan kelegaan kepada kita.

Doa:  Tuhan, jangan tinggalkan aku sendiri, jawablah aku. Amin.

*sumber : SHK bulan Oktober 2021 LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 3 – 9 Oktober 2021

Tema Bulanan : ” PEKABARAN INJIL YANG MEMBARUI MASYARAKAT “

Tema Mingguan : ” KASIH ALLAH YANG MENDAMAIKAN “

Minggu, 03 Oktober 2021                                       

bacaan : Ibrani 2 : 5 – 18

Yesus seketika lebih rendah dari pada malaikat-malaikat

5 Sebab bukan kepada malaikat-malaikat telah Ia taklukkan dunia yang akan datang, yang kita bicarakan ini. 6 Ada orang yang pernah memberi kesaksian di dalam suatu nas, katanya: "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, atau anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? 7 Namun Engkau telah membuatnya untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat, 8 segala sesuatu telah Engkau taklukkan di bawah kaki-Nya." Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepada-Nya, tidak ada suatupun yang Ia kecualikan, yang tidak takluk kepada-Nya. Tetapi sekarang ini belum kita lihat, bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepada-Nya. 9 Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia. 10 Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah--yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan--,yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan. 11 Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara, 12 kata-Nya: "Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat," 13 dan lagi: "Aku akan menaruh kepercayaan kepada-Nya," dan lagi: "Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Allah kepada-Ku." 14 Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; 15 dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. 16 Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. 17 Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. 18 Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.

Jalanilah Hidup dengan Damai dan Kudus

Minggu pertama di bulan Oktober ini kita jalani dengan inspirasi tema: kasih Allah yang mendamaikan. Kasih Allah yang mendamaikan telah terwujud melalui kehadiran Yesus Kristus di dunia. Yesus Kristus diutus untuk menjadi tebusan bagi dosa-dosa manusia. Dosa menjadi penghalang dan menjauhkan manusia dari mengalami kasih Allah. Kehidupan orang berdosa selalu diwarnai dengan pemberontakan terhadap Allah. Inilah alasan tindakan pendamaian yang dikaryakan Yesus. Ia menghapus dosa manusia dan mendamaikan mereka dengan Allah. Pendamaian itu dilakukan dengan cara mengurbankan diri-Nya sendiri untuk menjadi tebusan. Yesus yang berkurban itu meninggalkan kemuliaan-Nya di surga, datang dan masuk ke dunia. Tindakan Ilahi demikian inilah yang dimaksudkan penulis surat Ibrani melalui pernyataan “Yesus seketika lebih rendah dari pada malaikat-malaikat”. Anak Allah menjadi manusia dan menjadi lebih rendah dari malaikat untuk sementara waktu. Kristus telah merendahkan diri-Nya dan taat kepada Allah, bahkan sampai mati di kayu salib. Yesus mengalami maut bagi manusia, Ia mati di salib. Kematian-Nya menghapus dosa dan mengalahkan maut serta kejahatan. Kristus berkurban supaya manusia didamaikan dengan Allah. Manusia yang berdamai dengan Allah hidup dan mengalami kemurahan-Nya dengan berlimpah. Semua orang yang berdamai dengan Allah telah menjadi kudus. Artinya “dipilih” atau “dipisahkan” bagi Allah. Orang-orang kudus hidup menjauhkan kejahatan dan dosa karena menyukai kasih, kebenaran, kebaikan, dan kemurahan. Hidup dalam kekudusan adalah panggilan orang Kristen sekarang ini. Kita sedang dalam hidup dalam masyarakat yang tersu bergumul dengan berbagai masalah dan terpanggil untuk terus membarui kehidupan bersama itu. Hendaklah kita hidup dengan damai dan kudus.

Doa:  Ya Tuhan, Allah pendamai, layakkanlah kami untuk hidup berdamai dan kudus dengan semua orang. Amin.

Senin,  04 Oktober 2021                                  

bacaan : Kejadian 9 : 8 – 17

8 Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia: 9 "Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu, 10 dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi. 11 Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi." 12 Dan Allah berfirman: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya: 13 Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi. 14 Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, 15 maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup. 16 Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi." 17 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi."

Janji Allah, Jaminan Kelangsungan Hidup di Semesta

Kisah ini adalah kelanjutan dari tuturan surutnya air bah dan menegaskan pesan kebaikan Allah. Allah mengasihi manusia dan segenap keberadaan di bumi serta menjamin kelangsungan hidup semua ciptaan-Nya. Masa hidup yang sulit atau ancaman kematian massal telah berlalu. Manusia harus belajar dari masa lalu yang kelam bahwa akibat buruk dari pemberontakan terhadap Allah atau kejahatan ternyata sangat merugikan. Allah menciptakan manusia dan semesta ini dengan baik dan karena itu kehidupan harus pula dijalani dengan cara yang berkenan kepada-Nya. Pencipta semesta itu baik adanya dan oleh sebab itu tetap berkarya untuk mendatangkan kebaikan. Busur di awan atau pelangi adalah ungkapan reflektif bahwa bumi ini penuh kebaikan Allah, sehingga kita layak hidup di dalamnya. Pelangi merupakan tanda perjanjian Allah yang kekal bahwa kehidupan di semesta ini pasti terus berlangsung dengan baik. Janji Allah menjadi kekuatan untuk menjalani dan menghadapi semua akibat buruk yang disebabkan oleh keterlanjuran dan kecerobohan manusia. Kelangsungan semua ciptaan dijamin Sang Pencipta yang baik. Kebaikan pasti mengalahkan keburukan atau kejahatan, sehingga seluruh makhluk layak hidup dengan harmoni di semesta ini. Pesan pengharapan ekologis atau semesta ini  membuat kita yakin akan kebaikan Allah yang tak pernah berakhir. Kehidupan di semesta ini pasti berlangsung terus karena Allah telah memberikan jaminan kebaikan-Nya. Kehidupan haruslah dijalani dengan pengharapan bukan kegelisahan, kebimbangan, kecemasan, dan kekuatitan. Kita memang tidak dapat meramalkan dan memastikan dengan tepat seluruh fenomena semesta tetapi dapat percaya kepada Allah yang telah berjanji. Janji Allah layak dijadikan jaminan  melangsungkan kehidupan di semesta ini.

Doa: Ya Tuhan, Allah pencipta yang baik, tolonglah kami agar dapat hidup dengan percaya akan janji-Mu. Amin.

Selasa, 05 Oktober  2021                                   

bacaan : Yesaya 27 : 2 – 13

2 Pada waktu itu akan dikatakan: "Bernyanyilah tentang kebun anggur yang elok! 3 Aku, TUHAN, penjaganya; setiap saat Aku menyiraminya. Supaya jangan orang mengganggunya, siang malam Aku menjaganya; 4 kehangatan murka tiada pada-Ku. Sekiranya tampak kepada-Ku puteri malu dan rumput, Aku akan bertindak memeranginya dan akan membakarnya sekaligus, 5 kecuali kalau mereka mencari perlindungan kepada-Ku dan mencari damai dengan Aku, ya mencari damai dengan Aku!" 6 Pada hari-hari yang akan datang, Yakub akan berakar, Israel akan berkembang dan bertunas dan memenuhi muka bumi dengan hasilnya. 7 Apakah TUHAN memusnahkan umat-Nya seperti Ia memusnahkan orang yang memusnahkan mereka? Atau apakah Ia membunuh umat-Nya seperti Ia membunuh orang yang membunuh mereka? 8 Dengan menghalau dan dengan mengusir mereka Engkau telah melawan mereka. Ia telah menyisihkan mereka dengan angin-Nya yang keras di waktu angin timur. 9 Maka beginilah akan dihapuskan kesalahan Yakub dan inilah buahnya kalau ia menjauhkan dosanya: ia akan membuat segala batu mezbah seperti batu-batu kapur yang dipecah-pecahkan, sehingga tiada lagi tiang-tiang berhala dan pedupaan-pedupaan yang tinggal berdiri. 10 Sebab kota yang berkubu itu terpencil, suatu tempat kediaman yang dikosongkan dan ditinggalkan seperti padang gurun; anak lembu akan makan rumput dan berbaring di situ menghabiskan dahan-dahan pohon. 11 Apabila ranting-rantingnya sudah kering, maka akan dipatahkan; perempuan-perempuan akan datang dan menyalakannya. Sebab inilah suatu bangsa yang tidak berakal budi, itulah sebabnya dia tidak disayangi oleh Dia yang menjadikannya dan tidak dikasihi oleh Dia yang membentuknya. 12 Maka pada waktu itu TUHAN akan mengirik mulai dari sungai Efrat sampai sungai Mesir, dan kamu ini akan dikumpulkan satu demi satu, hai orang Israel! 13 Pada waktu itu sangkakala besar akan ditiup, dan akan datang mereka yang hilang di tanah Asyur serta mereka yang terbuang ke tanah Mesir untuk sujud menyembah kepada TUHAN di gunung yang kudus, di Yerusalem.

Ketaatan dan Kedamaian Hidup

Bacaan hari ini berisi pemberitaan nabi Yesaya tentang masa depan umat Israel yang gemilang. Kedamaian atau kebahagiaan hidup di masa depan akan dialami jika mereka hidup dalam ketaatan. Bangsa Israel dipilih supaya hanya kepada Allah saja mereka harus beribadah, bukan ilah yang lain. Israel dikasihani Allah dan digambarkan Yesaya sebagai kebun anggur yang elok. Ia akan menjaga umat pilihan-Nya dan memelihara juga menjamin masa depan yang sukses. Yesaya juga mengingatkan bahwa masa depan yang damai dan bahagia bukan saja menjadi tanggung jawab Allah, tetapi umat juga. Allah memberi jaminan dan pasti menepatinya sedangkan umat haruslah hidup taat. Umat tidak boleh beribadat kepada ilah lain, kecuali hanya pada Allah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Bila mereka berubah setia, maka petaka tak mungkin dihindari. Karena itu nabi ini menegaskan “sekiranya tampak pada-Ku puteri malu dan rumput, Aku akan bertindak memeranginya dan akan membakarnya sekaligus”. Jadi nabi sedang bernubuat tentang dua hal sekaligus, janji tentang masa depan yang berpengharapan, dan penghukuman. Masa depan manakah yang akan dialami umat tergantung pada pilihan cara beriman mereka sendiri. Allah mengharapkan kesetiaan, tetapi jika umat berubah setia, akibat buruk akan dialami. Kisah hari ini hendaklah dijadikan dorongan dan inspirasi agar kita semakin bertanggung jawab dan berpengharapan akan masa depan yang berpangharapan. Hari ini adalah kesempatan untuk mengusahakan masa depan yang gemilang dan sukses. Semoga setiap orang bertanggung jawab atas hidupnya, baik pribadi maupun keluarga. Tetaplah percaya kepada Allah, jangan mengandalkan kuasa yang lain, sebab hanya Dia yang menjamin masa depan yang damai.

Doa:  Tuhan, layakkanlah kami menjadi orang percaya yang taat, agar janji-Mu tentang  hidup yang damai dialami, kini dan nanti. Amin.

Rabu, 06 Oktober 2021                                   

bacaan : Yesaya 55 : 6 – 13

6 Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! 7 Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. 8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. 9 Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. 10 Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, 11 demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. 12 Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai; gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan. 13 Sebagai ganti semak duri akan tumbuh pohon sanobar, dan sebagai ganti kecubung akan tumbuh pohon murad, dan itu akan terjadi sebagai kemasyhuran bagi TUHAN, sebagai tanda abadi yang tidak akan lenyap.

Karya Pembebasan Tuhan Mendamaikan Hidup

Bangsa Israel pernah mengalami kesukaran yang amat dasyat ketika dibuang ke Babel, namun mengalami pemulihan karena Tuhan membebaskan mereka. Peristiwa pembebasan dari Babel dihayati sebagai bentuk cinta kasih Tuhan dan diterima sebagai seruan pertobatan. Nabi Yesaya menegaskan seruan pertobatan itu melalui ungkapan: “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!”. Ia menyerukan pula: “Baiklah orang fasik meningggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya…..” (ayat 6-7). Umat harus bertobat dan meninggalkan semua perbuatan salah, kejahatan, dan pemberontakan yang pernah mereka lakukan terhadap Tuhan. Kasih Tuhan menyelamatkan dan membebaskan serta membuat mereka mengalami kedamaian hidup.  Karya pembebasan dari Babel pasti Tuhan nyatakan, sebab firman-Nya adalah kepastian (ayat 11). Yesaya selanjutnya mengatakan: “Sungguh kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai… (ayat 12). Tuhan membawa umat-Nya keluar dari pembuangan di Babel, dan menolong mereka membangun Yerusalem yang baru. Bacaan hari ini mengajarkan bahwa manusia dapat melakukan kesalahan, kejahatan atau pemberontakan, dan mengalami akibat buruk dalam hidup. Akibat buruk bukanlah akhir hidup, sebab kasih Tuhan tak pernah berakhir dan pasti mengampuni serta memulihkan. Mari belajar untuk memperbaiki kesalahan dan bertobat agar damai dialami dalam hidup. Jalanilah hidup beriman dan wujudkanlah seruan “carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat”. Firman-Nya pasti terjadi, kasih Tuhan tak pernah berakhir, percayalah dengan segenap hati, maka engkau akan menjalani hidup dengan damai.  

Doa: Ya Tuhan, tolonglah kami agar dapat memperbaiki kesalahan, bertobat dan menjalani hidup dengan damai. Amin.

Kamis, 07 Oktober 2021                             

bacaan : Yehezkiel 37 : 24 – 28

24 Maka hamba-Ku Daud akan menjadi rajanya, dan mereka semuanya akan mempunyai satu gembala. Mereka akan hidup menurut peraturan-peraturan-Ku dan melakukan ketetapan-ketetapan-Ku dengan setia. 25 Mereka akan tinggal di tanah yang Kuberikan kepada hamba-Ku Yakub, di mana nenek moyang mereka tinggal, ya, mereka, anak-anak mereka maupun cucu cicit mereka akan tinggal di sana untuk selama-lamanya dan hamba-Ku Daud menjadi raja mereka untuk selama-lamanya. 26 Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka, dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal dengan mereka. Aku akan memberkati mereka dan membuat mereka banyak dan memberikan tempat kudus-Ku di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya. 27 Tempat kediaman-Kupun akan ada pada mereka dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. 28 Maka bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, menguduskan Israel, pada waktu tempat kudus-Ku berada di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya."

Iman Itu Bahan Bakar Kehidupan

Dalam perjalanan tidak selalu jalan yang dilalui lurus tanpa hambatan, terkadang ada tantangan yang membuat perjalanan menjadi melambat bahkan terhambat. Demikian dalam kehidupan kita, tidak selalu hari-hari yang dilalui baik, ada saatnya situasi sulit datang menghampiri. Entah karena kesehatan menurun, kehilangan pekerjaan, ditinggal oleh orang-orang terkasih, keluarga yang berantakan, dan sebagainya. Ada yang mampu menghadapi situasi sulit tersebut tetapi ada juga yang menjadi kecewa, kehilangan pengharapan bahkan mulai ragu kepada Tuhan. Dalam situasi seperti ini apa yang seharusnya dilakukan orang percaya? Dalam nas bacaan ini, Allah berjanji akan memberkati dan diam di tengah-tengah mereka. Allah berkenan memilih umat yang berdosa itu untuk menjadi umat kepunyaan-Nya. Ini artinya bahwa Allah menyertai setiap perjalanan kehidupan yang akan mereka tempuh, tidak hanya satu kali tetapi selama-lamanya. Pada waktunya janji itu ditepati, bangsa Israel dan Yehuda yang tercerai berai disatukan kembali oleh Allah. Bacaan hari ini hendak menguatkan  iman kita agar tidak menjadi lemah apalagi kehilangan pengharapan di dalam Tuhan. Sebab iman adalah bahan bakar kehidupan, tanpa iman kehidupan tidak akan berjalan. Kalau dulu Allah berjanji menyertai kehidupan umat-Nya, tentu kita juga pada saat ini meyakini Ia menyertai perjalanan kehidupan kita. Maka bila kita menjalani kehidupan dan menghadapi situasi yang sulit mohonlah supaya Tuhan memperkuat iman kita yang lemah sehingga tantangan hidup itu dapat kita lewati.

Doa:  Tuhan, tambahkanlah iman kami sehingga kami tetap kuat menghadapi berbagai situasi hidup. Amin.

Jumat, 08 Oktober 2021                                   

bacaan : Zakharia 8 : 9 – 13

9 Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Kuatkanlah hatimu, hai orang-orang yang selama ini telah mendengar firman ini, yang diucapkan para nabi, sejak dasar rumah TUHAN semesta alam diletakkan, untuk mendirikan Bait Suci itu. 10 Sebab sebelum waktu itu tidak ada rezeki bagi manusia, juga tidak bagi binatang; dan karena musuh tidak ada keamanan bagi orang yang keluar dan bagi orang yang masuk, lagipula Aku membuat manusia semua bertengkar. 11 Tetapi sekarang, Aku tidak lagi seperti waktu dahulu terhadap sisa-sisa bangsa ini, demikianlah firman TUHAN semesta alam, 12 melainkan Aku akan menabur damai sejahtera. Maka pohon anggur akan memberi buahnya dan tanah akan memberi hasilnya dan langit akan memberi air embunnya. Aku akan memberi semuanya itu kepada sisa-sisa bangsa ini sebagai miliknya. 13 Dan kalau dahulu kamu telah menjadi kutuk di antara bangsa-bangsa, hai kaum Yehuda dan kaum Israel, maka sekarang Aku akan menyelamatkan kamu, sehingga kamu menjadi berkat. Janganlah takut, kuatkanlah hatimu!"

Responilah Anugerah Keselamatan Dari Allah

Nas bacaan hari ini memperlihatkan penggenapan janji penyelamatan Allah dalam kehidupan bangsa Israel dan Yehuda. Firman Tuhan ini disampaikan oleh Zakharia, bahwa apa yang dijanjikan Allah itu akan menjadi suatu kenyataan pada waktu yang ditentukan Allah sendiri. Hal itu kemudian menjadi nyata ketika Allah menyatukan kembali kehidupan bangsa Yehuda dan Israel dan membuat mereka menjadi umat kepunyaanNya. Pemberitaan Zakharia bagi kita kini adalah bahwa Allah yang dulu berjanji kepada Israel adalah Allah yang kini berfirman kepada kita pula bahwa Ia akan menjadi penyelamat. Janji itu telah tergenapi dalam diri Tuhan Yesus. Ia datang tepat pada waktu yang telah ditetapkan Allah. Dia hadir untuk menyelamatkan umat manusia yang berdosa melalui pengorbananNya. Semua ini murni anugerah Allah. Dengan memahami semua ini, maka perjuangan kita sekarang bukan lagi perjuangan untuk mencari atau meraih keselamatan. Perjuangan kita sekarang adalah bagaimana meresponi dan menjalani kehidupan sebagaimana layaknya orang yang telah memperoleh keselamatan. Melalui firman Tuhan saat ini, kita diingatkan supaya terus melakukan perbuatan-perbuatan sesuai dengan yang Tuhan kehendaki. Kita diajak untuk  berkata benar dan jujur di hadapan Allah. Tidak merancang kejahatan dalam hidup. Tidak mencintai sumpah palsu. Maukah kita  selaku pribadi dan keluarga meresponsi anugerah keselamatan dari Allah itu secara positif dan proaktif? Semoga kita semua terus membangun kehidupan seturut kehendakNya.

 Doa:   Tuhan, terima kasih atas anugerah keselamatan yang diberikan kepada kami. Amin.

Sabtu, 09 Oktober 2021                                       

bacaan : Ibrani 7 : 25 – 28

25 Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. 26 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, 27 yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban. 28 Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian dari pada hukum Taurat, menetapkan Anak, yang telah menjadi sempurna sampai selama-lamanya.

Kasih dan Kemurahan Tuhan Menyelamatkan

Melalui Yesus, kita mengalami kasih dan kehadiran, serta  kemurahan Allah. Sebagai imam besar,  Yesus mengerjakan kehendak Allah untuk menyelamatkan dosa manusia melalui kematian di kayu salib. Bacaan hari ini menegaskan sosok Yesus sebagai imam besar yang berbeda dengan imam-iman lainnya. Dia rela berkorban, mempersembahkan hidup-Nya demi keselamatan manusia dan dunia. Pesan tentang kasih karunia Allah adalah nilai yang mengajarkan bahwa hidup adalah perjuangan dan pengurbanan. Orang tua haruslah belajar untuk  rela melakukan apa saja bagi kebaikan anak-anak. Demikian anak-anak, diharapkan juga mampu menghadapi segala tantangan dan cobaan hidup. Marilah dengan keberanian kita percaya bahwa Sang imam besar pasti menuntun dengan roh dan kebenaran. Berusahalah agar dosa tidak berkuasa lagi dalam hidup, tetapi dengan bersungguh-sungguh melakukan kehendak Tuhan. Ibarat dosa kita merah seperti kermisi akan menjadi putih seperti salju. Imam besar yakni Yesus Kristus yang adalah pengantara, Dia datang menyelamatkan, juga sedang dinanti kembalinya sebagai hakim yang menghakimi. Jadilah seperti lima gadis yang bijaksana,  selalu siap. Hindarilah berperilaku bagaikan   lima gadis yang bodoh, terlambat mempersiapkan kedatangan sang mempelai. Ingatlah bahwa kasih karunia Allah menyelamatkan setiap orang yang percaya kepada-Nya. Jadilah setia di tengah badai hidup, yakinlah bahwa bersama Dia, hidup kita terselamatkan.

Doa: Tuhan selamatkan kami dari keburukan dunia ini. Amin.

*SUMBER : SHK bulan Oktober 2021, LJP-GPM

Santapan Harian Keluarga, 26 September – 2 Oktober 2021

Tema Mingguan : ” SALING MENGUATKAN DENGAN BERBAGI PENGALAMAN IMAN “

Minggu, 26 September 2021                        

bacaan :  Kisah Para Rasul 20 : 17 – 38

Perpisahan Paulus dengan para penatua di Efesus
17 Karena itu ia menyuruh seorang dari Miletus ke Efesus dengan pesan supaya para penatua jemaat datang ke Miletus. 18 Sesudah mereka datang, berkatalah ia kepada mereka: "Kamu tahu, bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: 19 dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. 20 Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; 21 aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus. 22 Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ 23 selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. 24 Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. 25 Dan sekarang aku tahu, bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah. 26 Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu, bahwa aku bersih, tidak bersalah terhadap siapapun yang akan binasa. 27 Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu. 28 Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri. 29 Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. 30 Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka. 31 Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata. 32 Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya. 33 Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga. 34 Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. 35 Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." 36 Sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua. 37 Maka menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia. 38 Mereka sangat berdukacita, terlebih-lebih karena ia katakan, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Lalu mereka mengantar dia ke kapal.

Saling Menguatkan Dalam Pekerjaan Pelayanan

Paulus bercerita tentang perjalanannya dalam menginjili. Bagaimana dia tiba hari pertama di Asia, dalam melayani Kristus ia harus mencucurkan air matanya, menghadapi orang-orang Yahudi yang ingin membunuhnya. Tapi dia tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak berguna bagi jemaat disana. Ia mengajar dan memberitakan semua tentang kasih Allah supaya mereka dapat bertobat dan percaya pada Kristus. Dalam pelayanannya, ia tidak menginginkan perak, emas, atau pakaian. Dengan tangannya sendiri ia bekerja memenuhi keperluannya dan teman-temannya. (Ayat 35). Hal ini mesti menjadi perhatian untuk menjadi umat dan pelayan yang baik, yakni tidak lalai dalam panggilan memberitakan Injil, dapat menjaga diri sendiri dan menjaga kawanan domba Allah. Karena itu, jangan pernah berhenti untuk saling menasehati,  tetap mengerjakan pekerjaan yang dapat menunjang pekerjaan pelayanan, dan selalu berdoa bersama umat dan pelayan. Hal-hal di atas merupakan bagian dari proses saling menguatkan dan berbagi dalam pelayanan dan pengalaman iman. Sebagai umat dan pelayan, kita dapat memerankan peran tersebut dimulai dari keluarga, unit, sektor, jemaat, bahkan gereja ini. Kita tidak bisa sendirian mengerjakannya. Kita perlu keluarga, teman, sahabat , sesama kita untuk saling membantu ,dan menguatkan. Tuhan memakai mereka untuk menolong kita dan Tuhan juga memakai kita menjadi saluran berkat untuk hidup mereka. kiranya kita dapat  Bercerita tentang kebaikan Tuhan dalam hidup dan pelayanan agar semakin dikuatkan dalam menjalani panggilan pelayanan.

Doa:  Tuhan, Ajarlah kami untuk selalu  menjadi berkat dalam hidup, Amin

Senin, 27 September 2021                            

bacaan : 1 Timotius 4 : 1 – 6

Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan 2 oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka. 3 Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran. 4 Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur, 5 sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa. 6 Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.

Terima Semua Dengan Ucapan Syukur

Dalam nas ini Paulus menyatakan bahwa makanan, bahkan juga seksualitas adalah ciptaan Tuhan. Semua yang Tuhan ciptakan adalah baik jika diterima dengan ucapan syukur, karena “semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa”. Tetapi, para pengajar sesat memutarbalikkannya dengan menyatakan bahwa apa yang baik yang berasal dari Tuhan itu justru jahat. Ini sama sesatnya dengan menyatakan bahwa apa yang jahat adalah baik. Keduanya sama-sama mengabaikan, bahkan melawan dan melecehkan apa yang telah Allah buat dan nyatakan bagi umat-Nya. Karena itu menghadapi para pengajar sesat ini Paulus menasehati Timotius untuk selalu mengingatkan ajaran-ajaran yang benar kepada umat yang dilayaninya karena ia tidak hanya telah menerima pengajaran, tetapi juga terdidik dan memiliki hidup yang berakar dalam “soal-soal pokok iman dan ajaran sehat” yang selama ini diikutinya. Karena itu ia pun harus mengajarkan hal-hal yang benar, yang sesuai ajaran sehat dan berguna untuk membangun iman. Kita semua adalah orang-orang yang telah bertumbuh dalam iman dan ajaran yang sehat yang kita terima sejak masih kecil hingga masa tua melalui firman Tuhan, ajaran gereja dan sebagainya. Kiranya pertumbuhan iman kita ini digunakan untuk senantiasa mengingatkan dan mengajarkan hal-hal yang benar, mulai dari dalam keluarga hingga ke dalam masyarakat bahwa segala hal yang diciptakan Tuhan perlu diterima dengan senantiasa mengucap syukur. Baik atau buruk.

Doa:      Ya Tuhan, tolonglah aku untuk tetap mengucap syukur atas apa yang kami terima darimu. Amin.

Selasa, 28 September 2021                   

bacaan : 1 Tesalonika 1 : 2 – 10

Salam Buah pemberitaan Paulus
2 Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan menyebut kamu dalam doa kami. 3 Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita. 4 Dan kami tahu, hai saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu. 5 Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu. 6 Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus, 7 sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya. 8 Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu. 9 Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar, 10 dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang.

Jadilah Teladan Yang Baik

Setiap orang dalam perjalanan hidupnya perlu bertumbuh dengan belajar dari orang-orang lainnya yang bisa menjadi sumber keteladanan. Rasul Paulus bersyukur atas keberadaan jemaat Kristen di kota Tesalonika. Dalam kehidupan dan pelayanan mereka, mereka bisa menjadi teladan yang baik bagi sesamanya.“Kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan,” demikian kata Rasul Paulus. Dengan kata lain, jemaat Kristen Tesalonika telah meneladan Rasul Paulus dan Tuhan Yesus dalam kehidupan jemaat mereka. Dalam hal apa mereka meneladan Rasul Paulus? Dalam hal pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan pengharapan kepada Tuhan Yesus Kristus. Iman, pengharapan, dan kasih terpadu dengan baik  dalam kehidupan orang-orang percaya di Tesalonika. Proses meneladan yang baik ini menyebabkan mereka bisa menjadi teladan yang baik juga bagi sesamanya terutama bagi jemaat-jemaat Kristen di wilayah Makedonia dan Akhaya. Setiap keluarga Kristen diundang untuk mengolah keteladanan iman, pengharapan, dan kasih dalam Kristus.Tentu tidak selalu mudah menjadi teladan. Ketika orang tua ingin menjadi teladan dalam kasih, mau tidak mau orang tua sendiri harus mewujudkan kasih itu. Jika orang tua ingin anak-anaknya bisa meminta maaf jika bersalah, orang tua sendiri juga harus memulai memberi teladan minta maaf ketika bersalah. Jika orang tua tidak ingin anaknya menjadi pembohong, orang tua harus memberi teladan itu kepada anak-anaknya, dengan tidak berbohong kepada mereka. Jadi, mari memberi teladan yang baik.

Doa:  Berikan aku kekuatan ya Tuhan untuk menguatkan orang lain melalui pengalaman imanku. Amin.

Rabu, 29 September 2021                              

bacaan : Galatia 1 : 11 –  24

Bagaimana Paulus menjadi rasul
11 Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. 12 Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus. 13 Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. 14 Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku. 15 Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, 16 berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia; 17 juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik. 18 Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya. 19 Tetapi aku tidak melihat seorangpun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus. 20 Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta. 21 Kemudian aku pergi ke daerah-daerah Siria dan Kilikia. 22 Tetapi rupaku tetap tidak dikenal oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea. 23 Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya. 24 Dan mereka memuliakan Allah karena aku.

Jadikan Tantangan Sebagai Kesempatan Berkarya

Nas bacaan hari ini berisikan pembelaan Paulus kepada orang-orang yang meragukan kerasulannya. Mereka bukan hanya meragukan kerasulan Paulus melainkan juga menyerangnya secara pribadi dan menyampaikan tuduhan-tuduhan palsu bahwa apa yang diajarkan dan diberitakannya itu sesuatu yang keliru. Tuduhan demi tuduhan itu dihadapinya justru ketika ia mulai menyampaikan pengajaran dan kebenaran mengenai keselamatan berdasarkan kasih karunia. Namun dari semua perkataan Paulus ini kita dapat menyimpulkan bahwa ternyata tuduhan demi tuduhan yang dialaminya itu justru menjadi kesempatan bagi Paulus untuk menceritakan pengalaman pertobatan dan karya Allah yang besar dalam hidupnya. Pengalaman iman itulah yang selalu menguatkannya. Karena itu, Paulus tidak menyerah dan berkecil hati menghadapi tantangan yang dterimanya, melainkan semakin teguh dan bersemangat untuk meberitakan Injil. Sebagai orang percaya kita pun perlu meneladani kepekaan dan keberanian Paulus dalam menghadapi setiap tuduhan atau tantangan yang kita terima dalam tanggungjawab pelayanan dan dalam setiap kesempatan kita menjadi saksi Kristus. Jangan biarkan orang lain menjatuhkan kita karena keyakinan akan kebenaran yang kita beritakan dan lakukan. Jangan biarkan keadaan yang sulit membuat kita tidak berdaya dan menyerah atau mundur dari panggilan pelayanan. yakinlah bahwa bersama Kristus, segala tantangan dapat dihadapi dan dijadikan kesempatan untuk bersaksi dan berkarya dengan lebih baik.

Doa:      Tuhan, mampukan aku untuk menjadikan tantangan sebagai kesempatan untuk terus berkarya, Amin

Kamis, 30 September 2021                                   

bacaan : Kolose 2 : 1 – 5

Karena aku mau, supaya kamu tahu, betapa beratnya perjuangan yang kulakukan untuk kamu, dan untuk mereka yang di Laodikia dan untuk semuanya, yang belum mengenal aku pribadi, 2 supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, 3 sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. 4 Hal ini kukatakan, supaya jangan ada yang memperdayakan kamu dengan kata-kata yang indah. 5 Sebab meskipun aku sendiri tidak ada di antara kamu, tetapi dalam roh aku bersama-sama dengan kamu dan aku melihat dengan sukacita tertib hidupmu dan keteguhan imanmu dalam Kristus.

Belajar dari Perjuangan yang Berat

Jika kita selalu mengenang peristiwa sejarah masa lampau, kita selalu diingatkan tentang perjuangan para pahlawan yang berkorban untuk meraih kemerdekaan. Beratnya perjuangan para pahlawan mendorong semangat kita generasi masa kini supaya benar-benar mengisi suasana kemerdekaan ini dengan maksimal. Para pahlawan memang sudah gugur, tetapi karya dan perjuangan mereka akan selalu dikenang. Dalam perjalanan pemberitaan injil, rasul Paulus mengalami tantangan yang tidak sedikit. Disiksa, dipenjarakan, dihujat, diusir bahkan terancam mati. Tantangan-tantangan yang dihadapinya itu kemudian dipakainya sebagai motivasi pelayanan bagi umat di Kolose. Paulus ingin supaya jemaat di Kolose dapat memaknai beratnya perjalanan pemberitaan injilnya sebagai kekuatan untuk mereka terus memelihara injil dan tidak mudah menyerah dalam menjalani kehidupan. Harus kita akui bahwa menjadi pengikut Yesus tidaklah mudah, mesti siap berkorban dan menderita. Tetapi dalam setiap pengorbanan dan penderitaan itu, Tuhan selalu memberikan kekuatan dan jalan keluar. Di hari terakhir di bulan ini, marilah kita mengingat kembali perjalanan sepanjang bulan ini. Perjuangan yang sangat berat melawan kenyataan kehidupan di tengah pandemi virus corona. Jadikanlah pengalaman iman bersama Tuhan untuk selalu menjadi alarm bagi kita saling menguatkan sebagai orang percaya. Pengalaman iman di bulan ini akan menghentar kita menata hidup yang lebih baik di bulan berikutnya. Jangan takut berjuang, sebab bersama Tuhan, perjuanganmu tidak akan sia-sia.

Doa:   Ya Tuhan, berikan aku kekuatan untuk berjuang saat hidup terasa berat. Amin.

Jumat, 01 Oktober 2021                                      

bacaan : Kisah Para Rasul 12 : 6 – 17

6 Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu. 7 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: "Bangunlah segera!" Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. 8 Lalu kata malaikat itu kepadanya: "Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!" Iapun berbuat demikian. Lalu malaikat itu berkata kepadanya: "Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!" 9 Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar dan ia tidak tahu, bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia melihat suatu penglihatan. 10 Setelah mereka melalui tempat kawal pertama dan tempat kawal kedua, sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. Sesudah tiba di luar, mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia. 11 Dan setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata: "Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi." 12 Dan setelah berpikir sebentar, pergilah ia ke rumah Maria, ibu Yohanes yang disebut juga Markus. Di situ banyak orang berkumpul dan berdoa. 13 Dan ketika ia mengetuk pintu gerbang, datanglah seorang hamba perempuan bernama Rode untuk mengetahui siapa yang mengetuk itu. 14 Ia terus mengenal suara Petrus, tetapi karena girangnya ia tidak membuka pintu gerbang itu dan segera masuk ke dalam untuk memberitahukan, bahwa Petrus ada di depan pintu gerbang. 15 Kata mereka kepada perempuan itu: "Engkau mengigau." Akan tetapi ia tetap mengatakan, bahwa benar-benar demikian. Kata mereka: "Itu malaikatnya." 16 Tetapi Petrus terus-menerus mengetuk dan ketika mereka membuka pintu dan melihat dia, mereka tercengang-cengang. 17 Tetapi Petrus memberi isyarat dengan tangannya, supaya mereka diam, lalu ia menceriterakan bagaimana Tuhan menuntunnya ke luar dari penjara. Katanya: "Beritahukanlah hal ini kepada Yakobus dan saudara-saudara kita." Lalu ia keluar dan pergi ke tempat lain.

Jalanilah Hidup Dengan Tekun Percaya Dan Berdoa

Pesan kisah penyelamatan Petrus dari penjara menjadi santapan firman di hari pertama bulan Oktober. Bulan ini diawali dengan suguhan penguatan iman, agar kita berdaya menghadapi dan menjalani semua kenyataan. Hari-hari yang akan kita masuki masih menjadi misteri, semua kemungkinan dapat terjadi. Pengalaman hidup mungkin akan dialami dalam bentuk sukses atau gagal, jatuh bangun, suka duka, dan hal-hal itu tidak dapat dihindari. Yakinlah bahwa Tuhan pasti menguatkan kita untuk menghadapi, menggumuli serta memaknai semua pengalaman hidup. Jalanilah hidup dengan berpengharapan karena meyakini pertolongan Tuhan. Tuhan sudah menolong dan membebaskan Petrus ketika ia dipenjarakan dengan penjagaan yang ketat juga berlapis oleh Herodes. Belenggu pemenjaraan yang dialaminya berat dan mustahil dapat diatasi sendiri. Tuhan mengatasi kesukaran yang tak mampu Petrus selesaikan. Tak ada yang mustahil bagi Tuhan sebab Ia tetap mengasihi sampai pada saat kita habis tenaga. Saat di mana tenaga kita habis, Tuhan pasti hadir dan menyatakan pertolongan-Nya yang membebaskan. Petrus dibebaskan Tuhan karena tak punya kuasa untuk membebaskan diri sendiri, yang dimilikinya adalah keteguhan percaya. Ia tetap percaya pada Tuhan walau sedang mengalami kesukaran hebat dalam penjara. Berusahalah agar keyakinan tidak hilang dalam kesukaran dan pencobaan. Pelajaran lain dari kisah ini adalah kenyataan bahwa ketika Petrus sedang dalam penjara, jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah. Doa yang dipanjatkan dengan tekun adalah wujud keteguhan percaya. Berdoa adalah akta iman yang dapat terus dilakukan justeru ketika kita tidak dapat melakukan hal yang lain. Tekun percaya dan berdoa merupakan pengalaman iman Petrus dan jemaat mula-mula yang perlu diteladani untuk menjalani hidup di bulan ini.       

Doa:  Tuhan, mampukanlah kami untuk tekun percaya dan berdoa, terutama ketika menghadapi masa-masa hidup yang sulit. Amin.

Sabtu, 02 Oktober 2021                               

bacaan : 2 Korintus 7 : 2 – 16

Sukacita sesudah dukacita
2 Berilah tempat bagi kami di dalam hati kamu! Kami tidak pernah berbuat salah terhadap seorangpun, tidak seorangpun yang kami rugikan, dan tidak dari seorangpun kami cari untung. 3 Aku berkata demikian, bukan untuk menjatuhkan hukuman atas kamu, sebab tadi telah aku katakan, bahwa kamu telah beroleh tempat di dalam hati kami, sehingga kita sehidup semati. 4 Aku sangat berterus terang terhadap kamu; tetapi aku juga sangat memegahkan kamu. Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah. 5 Bahkan ketika kami tiba di Makedonia, kami tidak beroleh ketenangan bagi tubuh kami. Di mana-mana kami mengalami kesusahan: dari luar pertengkaran dan dari dalam ketakutan. 6 Tetapi Allah, yang menghiburkan orang yang rendah hati, telah menghiburkan kami dengan kedatangan Titus. 7 Bukan hanya oleh kedatangannya saja, tetapi juga oleh penghiburan yang dinikmatinya di tengah-tengah kamu. Karena ia telah memberitahukan kepada kami tentang kerinduanmu, keluhanmu, kesungguhanmu untuk membela aku, sehingga makin bertambahlah sukacitaku. 8 Jadi meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu, namun aku tidak menyesalkannya. Memang pernah aku menyesalkannya, karena aku lihat, bahwa surat itu menyedihkan hatimu--kendatipun untuk seketika saja lamanya--, 9 namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikitpun tidak dirugikan oleh karena kami. 10 Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian. 11 Sebab perhatikanlah betapa justru dukacita yang menurut kehendak Allah itu mengerjakan pada kamu kesungguhan yang besar, bahkan pembelaan diri, kejengkelan, ketakutan, kerinduan, kegiatan, penghukuman! Di dalam semuanya itu kamu telah membuktikan, bahwa kamu tidak bersalah di dalam perkara itu. 12 Sebab itu, jika aku telah menulis surat kepada kamu, maka bukanlah oleh karena orang yang berbuat salah, atau oleh karena orang yang menderita perbuatan salah, melainkan supaya kerelaanmu terhadap kami menjadi nyata bagi kamu di hadapan Allah. 13 Sebab itulah kami menjadi terhibur. Dan selain penghiburan yang kami peroleh itu, kami lebih lagi bersukacita oleh karena sukacita Titus, sebab kamu semua menyegarkan hatinya. 14 Aku memegahkan kamu kepadanya, dan kamu tidak mengecewakan aku. Kami senantiasa mengatakan apa yang benar kepada kamu, demikian juga kemegahan kami di hadapan Titus sudah ternyata benar. 15 Dan kasihnya bertambah besar terhadap kamu, apabila ia mengingat ketaatan kamu semua, bagaimana kamu menyambut kedatangannya dengan takut dan gentar. 16 Aku bersukacita, sebab aku dapat menaruh kepercayaan kepada kamu dalam segala hal.

Persahabatan Menguatkan Persekutuan

Paulus mengalami sukacita karena persahabatan dirinya dengan jemaat di Korintus tetap terpelihara. Hubungan persahabatan itu ditandai dengan tindakan memberi tempat di dalam hati, melakukan yang benar, tak merugikan, dan tidak mencari untung. Persahabatan bukan sekadar ikatan yang bersifat fisik tetapi sebuah tautan batin. Seseorang menerima orang lain sebagai bagian dari dirinya sendiri, sebagaimana dikatakan Paulus; “kamu telah beroleh tempat dalam hati kami”. Beroleh tempat dalam hati berarti dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan memahami “dunia” serta hidup mereka. Orang beriman adalah mereka yang tidak mati rasa, tetapi dapat merasakan suasana batin orang lain. Persahabatan menyuburkan perasaan saling menghargai dan merasakan apa yang dirasakan sahabatnya. Seorang sahabat itu “tahu rasa” bukan “rasa tahu”. Ia tahu merasakan susah, karena itu tidak menjadi penyebab atau menambah kesusahan sahabatnya. Orang-orang yang “tahu rasa” memiliki karakter: bertindak benar, tak merugikan dan tidak pula mencari untuk dari sahabatnya. Seorang sahabat selalu berusaha belajar memperbaiki kesalahan dan tidak mengulanginya. Kesalahan dijadikan kesempatan untuk berusaha menjadi manusia yang lebih baik. Mereka juga saling berterus terang, tak ada hal yang disembunyikan sehingga menjadi rahasia, menerima kelebihan dan mengakui bahwa sahabatnya memiliki makna. Persahabatan adalah pesan penting yang kita temukan dari pengalaman iman Paulus dan jemaat di Korintus. Hendaklah kita menjalani hidup sebagai orang beriman dengan semangat persahabatan. Hidup yang dijalani dengan semangat persahabatan pasti menguatkan persekutuan sebagai orang beriman. Bila persekutuan menjadi kuat, maka sukacita pasti dialami.

Doa: Ya Tuhan, mampukan kami untuk mengupayakan dan memelihara  persahabatan, agar persekutuan tetap menjadi kuat.  Amin.

*SUMBER : SHK BULAN SEPT-OKT 2021, LPJ GPM

Santapan Harian Keluarga, 19 – 25 September 2021

Tema Mingguan : ” GEMBALA YANG TEKUN MELAYANI “

Minggu, 19 September 2021                    

bacaan : Yehezkiel 34 : 1 – 16

TUHAN, Gembala Israel yang baik, melawan gembala-gembala yang jahat
Lalu datanglah firman TUHAN kepadaku: 2 "Hai anak manusia, bernubuatlah melawan gembala-gembala Israel, bernubuatlah dan katakanlah kepada mereka, kepada gembala-gembala itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? 3 Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. 4 Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman. 5 Dengan demikian mereka berserak, oleh karena gembala tidak ada, dan mereka menjadi makanan bagi segala binatang di hutan. Domba-domba-Ku berserak 6 dan tersesat di semua gunung dan di semua bukit yang tinggi; ya, di seluruh tanah itu domba-domba-Ku berserak, tanpa seorangpun yang memperhatikan atau yang mencarinya. 7 Oleh sebab itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN: 8 Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, sesungguhnya oleh karena domba-domba-Ku menjadi mangsa dan menjadi makanan bagi segala binatang di hutan, lantaran yang menggembalakannya tidak ada, oleh sebab gembala-gembala-Ku tidak memperhatikan domba-domba-Ku, melainkan mereka itu menggembalakan dirinya sendiri, tetapi domba-domba-Ku tidak digembalakannya-- 9 oleh karena itu, hai gembala-gembala, dengarlah firman TUHAN: 10 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku sendiri akan menjadi lawan gembala-gembala itu dan Aku akan menuntut kembali domba-domba-Ku dari mereka dan akan memberhentikan mereka menggembalakan domba-domba-Ku. Gembala-gembala itu tidak akan terus lagi menggembalakan dirinya sendiri; Aku akan melepaskan domba-domba-Ku dari mulut mereka, sehingga tidak terus lagi menjadi makanannya. 11 Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. 12 Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan. 13 Aku akan membawa mereka keluar dari tengah bangsa-bangsa dan mengumpulkan mereka dari negeri-negeri dan membawa mereka ke tanahnya; Aku akan menggembalakan mereka di atas gunung-gunung Israel, di alur-alur sungainya dan di semua tempat kediaman orang di tanah itu. 14 Di padang rumput yang baik akan Kugembalakan mereka dan di atas gunung-gunung Israel yang tinggi di situlah tempat penggembalaannya; di sana di tempat penggembalaan yang baik mereka akan berbaring dan rumput yang subur menjadi makanannya di atas gunung-gunung Israel. 15 Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan ALLAH. 16 Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.

Panggilan Seorang Gembala

Terkadang, bahkan sering kita tidak memahami bahwa kita  semula adalah domba yang telah dipanggil untuk menjadi gembala. Inilah yang sering membuat kita mengabaikan panggilan sebagai gembala di tengah-tengah domba. Kita menjadi gembala yang ingin diperlakukan sama seperti domba. Ingin diperhatikan, ingin dilayani, ingin diberi makan, dan ingin dilindungi. Bacaan hari ini dari Yehezkiel 34:1-16 hendak mengingatkan dan menegaskan peran seorang gembala di tengah-tengah domba. Sebagai gembala, ia tidak boleh lupa bahwa di tengah-tengah manusia yang lainnya (domba) dirinya berbeda. Gembala tidak boleh lupa bahwa dia adalah orang khusus yang ditempatkan di tengah-tengah manusia yang lainnya sehingga selalu ingin menjadi sama dengan manusia lainnya, bahkan cenderung ingin menjadi yang lebih dari manusia lainnya. Hal ini pada akhirnya menimbulkan sikap egois, ingin menang sendiri, tidak peduli dengan yang lainnya, bahkan tanpa sadar menyusahkan orang lain. Seorang gembala harus melakukan apapun untuk membangun kehidupan umatnya (domba), mengupayakan kehidupan bagi dombanya; yang sakit didoakan, yang lapar diberi makan, yang haus diberi minum, yang berduka dihibur, yang lemah dikuatkan, yang bersalah diberi pengampunan, dan sebagainya. Itulah panggilan sebagai gembala (pemimpin/pelayan) di tengah domba (umat/masyarakat). Maka marilah kita menjadi gembala yang baik.

Doa: Mampukanlah kami untuk menjadi gembala yang baik dan bertanggungjawab. Amin.

Senin,  20 September 2021                     

bacaan : Yehezkiel 34 : 20 – 24

20 Oleh sebab itu, beginilah firman Tuhan ALLAH terhadap mereka. Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan menjadi hakim di antara domba yang gemuk dengan domba yang kurus; 21 oleh karena semua yang lemah kamu desak dengan lambungmu dan bahumu serta kamu tanduk dengan tandukmu, sehingga kamu menghalau mereka ke luar kandang, 22 maka Aku akan menolong domba-domba-Ku, supaya mereka jangan lagi menjadi mangsa dan Aku akan menjadi hakim di antara domba dengan domba. 23 Aku akan mengangkat satu orang gembala atas mereka, yang akan menggembalakannya, yaitu Daud, hamba-Ku; dia akan menggembalakan mereka, dan menjadi gembalanya. 24 Dan Aku, TUHAN, akan menjadi Allah mereka serta hamba-Ku Daud menjadi raja di tengah-tengah mereka. Aku, TUHAN, yang mengatakannya.

Jangan Menolak Penggilan Menjadi Gembala

Banyak alasan yang selalu menjadi pertimbangan bagi seseorang untuk menerima suatu tanggung jawab. Ada yang beralasan tidak mempunyai waktu, tidak mampu berbicara, masih muda, tidak pintar, dan lain-lain. Bisa saja kita adalah salah satu dari orang-orang yang selalu beralasan jika dipanggil atau diberi suatu tugas/tanggung jawab. Alasan-alasan seperti yang dikemukakan ini dapat dijumpai pada orang-orang yang hendak dipanggil untuk suatu tugas pelayanan di gereja. Banyak yang tidak memahami bahwa panggilan pelayanan di gereja bukanlah semata panggilan dunia, melainkan panggilan Tuhan. Bacaan Yehezkiel 34:20-24,  secara tegas mengingatkan bahwa ketika dalam suatu “kawanan domba” (umat Tuhan) terjadi kekurangan gembala maka Tuhan sendiri yang akan mengangkat satu orang gembala atas mereka. Hal ini berarti panggilan sebagai pelayan atau pemimpin dalam gereja harus dipahami sebagai panggilan Tuhan: Tuhan yang memanggil dan yang mengangkat. Karena itu, dalam merespons panggilan Tuhan tidak boleh ada alasan untuk menolak panggilan Tuhan. Semestinya yang ada yaitu menerima dan siap melaksanakan tanggung jawab tugas pelayanan tersebut. Kita harus meyakini kalau Tuhan yang memanggil dan memilih, maka Tuhan juga yang akan melengkapi dan menyertai dengan Roh hikmat dan kuasaNya agar kita sanggup melakukan tanggungjawab itu dengan baik.

Doa: Tuhan, ajarlah kami untuk memahami dan menerima panggilanMU…amin

Selasa, 21 September 2021                         

bacaan : Markus 6 : 30 – 34

Yesus memberi makan lima ribu orang
30 Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. 31 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. 32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. 33 Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. 34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Kamu Harus Memberi Mereka Makan

Cerita Yesus memberi makan lima ribu orang ini memiliki makna terdalam. Bukan soal keanehan lima ribu orang bisa makan dari lima potong roti dan dua ekor ikan. Bukan juga soal terjadinya mujizat yang mana hanya dengan lima potong roti dan dua ekor ikan bisa mengenyangkan lima ribu orang, bahkan ada tersisa lagi. Kalau kita memfokuskan perhatian pada masalah ekonomi (soal makan/minum), soal lapar, maka memang kita akan menganggap cerita ini tidak terlalu penting dan tidak punya makna. Kisah ini sebenarnya ingin menegaskan bagaimana kita selalu merasa terpanggil untuk menolong orang yang lapar atau orang yang sementara mengalami masalah., Yesus hendak mengajarkan murid-muridNYA dan juga orang-orang Kristen untuk jangan pernah tidak peduli atau mengacuhkan orang yang lapar dan haus, atau orang-orang yang mengalami masalah dan kesulitan dalam hidup. Memang hanya ada lima potong roti dan dua ekor ikan, dan itu tidak cukup untuk memberi makan lima ribu orang. Bagi Yesus menolong orang tidak perlu menunggu kalau ada kelebihan. Tolonglah orang dari apa yang ada, bahkan dari kekurangan yang dimiliki. Yesus katakan: “kamu harus memberi mereka makan”. Kata “harus” menunjukkan bahwa orang Kristen wajib memberi makan kepada mereka yang lapar, wajib menolong orang yang susah, wajib membantu orang yang meminta bantuan. Hal ini juga berarti bahwa membantu/menolong orang itu tidak perlu menunggu kalau pada kita ada kelebihan. Apa yang ada pada kita, itulah yang harus diberikan kepada mereka yang meminta tolong atau bantuan kita. Mengapa harus demikian? Sebab di situlah letak wujud nyata kita menjadi gembala. 

Doa:  Ya Tuhan, ajarlah kami untuk memahami kewajiban menolong orang yang susah… Amin. 

Rabu, 22 September 2021                                   

bacaan : Roma 12 : 6 – 8

6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. 7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; 8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.

Jadilah Gembala Yang Memperlabakan Karunia Tuhan

Masing-masing orang, sejak lahir, memiliki kelebihan dan kekurangan tertentu. Hal ini berarti tidak ada manusia yang sempurna sebab manusia yang satu selalu membutuhkan manusia yang lainnya. Ada orang yang memiliki kemampuan berbicara namun tidak memiliki kemampuan menulis, dan sebaliknya. Ada yang memiliki kemampuan menghafal tapi kurang mampu dalam menganalisa sesuatu, dan sebaliknya. Rasul Paulus juga telah menegaskan hal tersebut diatas. Dengan menggunakan istilah yang lain, Rasul Paulus mengatakan bahwa Tuhan telah mengaruniakan karunia yang berbeda-beda kepada umatNya. Ada yang diberikan karunia untuk bernubuat, ada yang dikaruniakan karunia melayani, ada pula yang diberi karunia untuk mengajar, serta ada yang dikaruniakan karunia untuk menasehati. Masing-masing orang dengan karunianya tersendiri. Tuhan tidak memberikan kepada satu orang sekaligus semua karunia. Ada pun maksud Tuhan untuk memberikan karunia yang berbeda-beda kepada masing-masing orang yaitu agar antara satu dengan yang lainnya merasa saling membutuhkan dalam membangun kehidupan bersama. Selain itu, tidak ada yang merasa lebih hebat antara satu dengan lainnya. Yang terpenting di sini adalah masing-masing orang dapat memperlabakan karunia-karunia itu. Karena itu marilah kita menggunakan semua karunia yang telah dianugerahkan Tuhan  dengan sebaik-baiknya, agar melalui semuanya itu nama Tuhan tetap dipermuliakan dan kita pun menjadi berkat bagi banyak orang.

Doa:  Ya Tuhan, tolonglah kami untuk dapat menjadi gembala yang dapat memperlabakan karunia Tuhan… Amin.

Kamis, 23 September 2021                           

bacaan : Roma 15 : 15 – 16

15 Namun, karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu, 16 yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus.

Gembala Yang Berani

Salah satu sifat yang ada pada manusia adalah sifat “malu hati”. Sifat ini terkadang muncul pada orang-orang yang takut atau tidak berani mengatakan sesuatu hanya untuk menghindari jangan sampai terjadi konflik dengan orang lain, apabila ada kesalahan yang dilakukan oleh orang lain yang ditegur oleh seseorang.   Namun, berbeda dengan Rasul Paulus, pada dirinya ada keberanian untuk mengingatkan jemaat-jemaat yang dilayaninya tentang pelayanan pemberitaan. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma (Roma 15:15-16), Rasul Paulus menegaskan bahwa sebagai orang yang telah dianugerahkan kasih karunia, ia tidak takut untuk mengingatkan jemaat Tuhan akan tugas pelayanan pemberitaan Injil. Karena tugas itu penting bagi pertumbuhan iman mereka. Bagi Paulus, orang-orang Kristen di Roma harus juga berani untuk saling mengingatkan tentang Injil Yesus Kristus kepada semua orang tanpa membeda-bedakan agama, suku, ras, dan sebagainya. Demikian halnya diharapkannya dari kita. Keberanian harus dimiliki oleh orang Kristen ketika menyampaikan kebenaran akan Injil Yesus Kristus: berani untuk berbicara, berani untuk berkata-kata, berani untuk melayani, berani untuk mendoakan, berani untuk mengingatkan, dan berani untuk menolong. Karena itu, sifat malu hati mestinya ditiadakan jika hendak melakukan peran sebagai gembala yang melakukan pelayanan pemberitaan Injil Yesus Kristus. Asalkan yang hendak kita sampaikan itu adalah demi sebuah kebaikan, perubahan dan kemajuan lalu disampaikan dengan santun, maka marilah kita berani melakukan hal itu.

Doa: Beranikanlah kami ya Tuhan, untuk melayaniMU…. Amin.

Jumat, 24 September 2021                          

bacaan : Kolose 3 : 18 – 25

Hubungan antara anggota-anggota rumah tangga
18 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. 19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. 20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. 21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. 22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. 23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. 24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. 25 Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.

Anggota Keluarga Adalah Gembala

Terkadang kita memahami peran sebagai gembala itu adalah dengan menjadi pelayan (pendeta, majelis jemaat, pengurus di gereja). Kita lupa bahwa menjadi gembala itu semestinya dimulai dari keluarga. Rasul Paulus, melalui bacaan ini ia menggaris-bawahi peran gembala dalam keluarga. Bahwa dalam keluarga ada peran sebagai gembala yang dapat dilakukan oleh seisi keluarga. Istri (mama), suami (bapa), anak, dan orang lain di dalam rumah. Sebagai gembala, seorang istri harus tunduk kepada suami. Sebagai gembala, seorang suami (bapa) harus mengasihi istri, tidak berlaku kasar terhadap istri, dan tidak menyakiti hati anak-anak. Sebagai gembala, seorang anak harus menaati orang tua. Kita tahu bahwa tugas seorang gembala itu adalah melakukan pekerjaan Tuhan. Bagi Paulus, melakukan sesuatu untuk Tuhan itu mesti telihat dalam perlakuan terhadap sesama manusia. Hal ini harus dimulai dari dalam keluarga. Makanya Paulus menegaskan dalam ayat 23 “apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. Itu berarti semua tindakan penggembalaan di dalam keluarga semuanya itu dilakukan sebagai bukti kasih dan iman kepada Tuhan. Karena itu, yang terpenting di sini adalah membangun relasi dan komunikasi yang baik antaranggota keluarga demi pelaksanaan peran sebagai gembala, sebab dari situ akan mengalir berkat dari Tuhan yang memberkati seisei keluarga yang sudah setia berperan sebagai gembala. 

Doa: Ya Tuhan, ingatkanlah kami bahwa kami adalah gembala dalam keluarga.. Amin.

Sabtu, 25 September 2021                               

bacaan : Filipi 1 : 21 – 22

21 Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. 22 Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu.

Berfokus Pada Kristus

Ada syair lagu yang berbunyi: “adapun hidupku ini bukannya aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku….”. Setidaknya, sepenggal syair lagu yang sering dinyanyikan ini ingin mengatakan bahwa dalam hidup sebagai orang Kristen, Kristus-lah yang semestinya menjadi pusat dan hidup di dalam kita. Itu berarti selama orang Kristen hidup, kehidupan kekristenan mereka harus menampakkan Kristus lewat kata dan perbuatan. Selain itu, menjadi orang Kristen tidak boleh takut pada kematian. Itu yang dimaknai oleh rasul Paulus. Dai memaknai hidupnya adalah Kristus, sehingga sepanjang hidupnya setelah mengalami pertobatan, Kristus menjadi fokus. Apa pun yang dipikirkannya, dikatakannya, dan dilakukannya selalu terpusat pada Kristus. Mengapa demikian? Sebab Paulus meyakini bahwa ketika dalam hidupnya selalu fokus pada Kristus, ia yakin bahwa kematian itu akan menjadi suatu keuntungan baginya. Hal ini penting diingatkan kepada kita, yakni selama menjalani hidup itu orang Kristen haruslah menegerjakan pekerjaan yang memberi buah. Syair lagu di atas kiranya dapat dimaknai sebagai perintah untuk orang-orang Kristen harus selalu mengerjakan segala sesuatu berfokus pada Kristus. Sebagai keluarga Kristen, kita pun diajarkan oleh firman Tuhan ini untuk dapat mengerjakan segala sesuatu yang memberi buah kebaikan bagi sesama manusia dan alam ciptaan Tuhan.

Doa:   Ya Tuhan, arahkanlah pikiran, perkataan, dan perbuatan kami terfokus pada Kristus… Amin.

*SUMBER : SHK BULAN SEPT 2021, LJP GPM

Santapan Harian Keluarga, 12 – 18 September 2021

Tema Mingguan : ” TANGGUNG JAWAB DAN RESIKO SEORANG GEMBALA “

Minggu, 12 September 2021                       

bacaan : Yehezkiel 3 : 16 – 21    

Yehezkiel dipanggil menjadi penjaga Israel
16 Sesudah tujuh hari datanglah firman TUHAN kepadaku: 17 "Hai anak manusia, Aku telah menetapkan engkau menjadi penjaga kaum Israel. Bilamana engkau mendengarkan sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka atas nama-Ku. 18 Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! --dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. 19 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu dan ia tidak berbalik dari kejahatannya dan dari hidupnya yang jahat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu. 20 Jikalau seorang yang benar berbalik dari kebenarannya dan ia berbuat curang, dan Aku meletakkan batu sandungan di hadapannya, ia akan mati. Oleh karena engkau tidak memperingatkan dia, ia akan mati dalam dosanya dan perbuatan-perbuatan kebenaran yang dikerjakannya tidak akan diingat-ingat, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. 21 Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang yang benar itu supaya ia jangan berbuat dosa dan memang tidak berbuat dosa, ia akan tetap hidup, sebab ia mau menerima peringatan, dan engkau telah menyelamatkan nyawamu."

Jadilah Penjaga Bagi Sesamamu

Kita baru merayakan Ulang Tahun GPM yang ke 86 tahun. Jika diibaratkan dengan manusia maka GPM sudah menjadi lansia yang sarat pengalaman karena telah banyak makan asam garam dan pasti akan sangat bijaksana dalam bertutur maupun bertindak. Dirgahayu GPM, semoga para pelayan dan wargamu, akan menjadi orang-orang yang bijak dalam bertutur maupun bertindak.

Hari ini kita belajar dari Nabi Yehezkiel yang diberi tugas oleh Tuhan, sebagai penjaga Israel. Tugas ini berisiko tinggi karena Yehezkiel harus menyampaikan peringatan kepada bangsa pilihan Tuhan itu. Jika peringatan itu tidak disampaikan, maka Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban darinya dan bisa jadi nyawa Yehezkiel sendiri menjadi taruhannya. Memang berat tugas ini, tetapi itu adalah tugas yang harus diembaninya sebagai seorang suruhan Tuhan. Saudaraku, setiap kita adalah juga ‘penjaga’ bagi sesama kita.  Artinya kita memiliki tanggung jawab memberitakan Firman dan kehendak Tuhan bagi orang-orang di sekitar kita.  Kita tidak boleh tinggal diam dan bersikap masa bodoh saat melihat orang-orang di sekitar kita dengan sengaja ataupun tanpa sengaja melakukan dosa.  Kita harus berani menegur mereka jika hidup mereka bertentangan dengan firman Tuhan.  Sebab sama seperti Yehezkiel, kita juga akan dimintai pertanggungjawaban dari Tuhan. Jika Yehezkiel terpanggil untuk menjadi Penjaga Israel maka kita terpanggil untuk menjadi Penjaga bagi sesama kita. Melakukan tugas ini memang berisiko, karena ada yang bisa menerima peringatan kita dan mau berubah, tetapi ada juga yang tidak bisa menerima dan malah berperkara dengan kita. Tetaplah lakukan tugas kita, karena Tuhan akan tetap menyertai kita.

Doa:   Tuhan, lengkapi kami dengan keberanian, hikmat dan semua yang kami perlu untuk menjadi penjaga bagi sesama kami. Amin.    

Senin, 13 September 2021                                  

bacaan : Yeremia 10 : 21   

21 Sungguh, gembala-gembala sudah menjadi bodoh, mereka tidak menanyakan petunjuk TUHAN. Sebab itu mereka tidak berbahagia dan seluruh binatang gembalaan mereka cerai-berai.

Tidak Bertanya Sesat Di Jalan

Coba anda mencari seseorang di suatu tempat yang masih asing bagi anda dan karena malu, anda tidak bertanya. Anda pasti akan muter-muter saja dan mungkin juga tersesat seharian tanpa menemukan orang yang anda cari. Tapi jika anda mau bertanya pada orang-orang yang berdiam di situ, pasti ada petunjuk yang diperoleh dan anda bisa segera menemukan yang dicari. Hal ini terjadi juga pada para gembala yang menurut Yeremia “BODOH”, karena melakukan tugas mereka tanpa bertanya kepada Tuhan sehingga menyebabkan “hewan gembalaan” mereka tercerai berai dan mereka menjadi tidak bahagia (Yeremia 10:21). GEMBALA bagi bangsa Israel adalah gambaran pemimpin mereka. Nabi Yeremia sedang mengecam para pemimpin Israel karena menjadi gembala yang bodoh dan jahat. Mereka bertindak menurut kehendak sendiri tanpa meminta petunjuk Tuhan dan mereka pun gagal menjadi pemimpin yang baik atau menurut bacaan kita “tidak bahagia” Saudaraku, dalam perjalanan kehidupan kita, entah saat kita berada di tengah keluarga, di tempat kerja atau di mana saja dan melakukan aktifitas kita, sering kita juga mengalami “tersesat” dan “tidak bahagia”. Hal itu disebabkan oleh berbagai hal, misalnya : pekerjaan kita berantakan, hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita tidak harmonis dan sebagainya. Kondisi ini terjadi karena kita melakukan segala sesuatu dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri karena menganggap diri bisa, pintar, cakap lalu tidak bertanya kepada Tuhan. Jadi, jika kita tak ingin “tersesat” dan “tidak bahagia” dalam hidup kita, mari tanyakan Tuhan terlebih dulu sebelum kita melakukan sesuatu. Libatkan Tuhan dalam setiap rencana dan kerja kita.

Doa:   Tuhan, kami akan selalu bertanya dan minta petunjuk-Mu sebelum kami  beraktifitas. Kami percaya Tuhan mendengar kami. Amin. 

Selasa, 14 September 2021                             

bacaan : Yeremia 23 : 1 – 4

Janji tentang Tunas Daud yang adil
"Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!" --demikianlah firman TUHAN. 2 Sebab itu beginilah firman TUHAN, Allah Israel, terhadap para gembala yang menggembalakan bangsaku: "Kamu telah membiarkan kambing domba-Ku terserak dan tercerai-berai, dan kamu tidak menjaganya. Maka ketahuilah, Aku akan membalaskan kepadamu perbuatan-perbuatanmu yang jahat, demikianlah firman TUHAN. 3 Dan Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Ku dari segala negeri ke mana Aku menceraiberaikan mereka, dan Aku akan membawa mereka kembali ke padang mereka: mereka akan berkembang biak dan bertambah banyak. 4 Aku akan mengangkat atas mereka gembala-gembala yang akan menggembalakan mereka, sehingga mereka tidak takut lagi, tidak terkejut dan tidak hilang seekorpun, demikianlah firman TUHAN.

Jadilah Pemimpin Yang Bertanggung Jawab

Kores dipercayakan Tuhan untuk menjadi Kepala Desa di salah satu Desa di Pulau B. Pada saat dilantik dan diambil sumpah, Kores berjanji akan melakukan tugasnya dengan baik. Bahkan di dalam pidatonya Kores mengutip beberapa ayat Alkitab dan mengatakan bahwa dia akan menjadi “Gembala Yang Baik” bagi masyarakat desa itu. Namun seiring perjalanan waktu, Kores ingkar janji. Banyak kecurangan yang dilakukannya sehingga jabatan Kores dicopot dan dia dijebloskan ke dalam penjara.    Saudaraku, apa yang terjadi dengan Kores dalam kisah di atas juga terjadi dalam kehidupan umat pilihan Allah, Israel. Dalam bacaan kita, melalui Yeremia, Allah mengecam para raja Yehuda karena perilaku mereka ibarat gembala yang jahat. Mereka lalai dan membiarkan umat Allah terserak dan tercerai berai, karena itu Tuhan menghukum mereka (ay.1-2). Sementara umat Israel, sekalipun telah berdosa terhadap Allah namun karena kasihNya yang besar, Allah berinisyatif untuk mengumpulkan mereka kembali dan memberikan pemimpin yang lebih bertanggung jawab agar kehidupan umat dapat dipulihkan (ay.3-4). Jika kita sedang dipercayakan menjadi pemimpin, entah di dalam masyarakat, di gereja, di persekutuan-persekutuan, termasuk di dalam keluarga sebagai Papa dan Mama, baiklah lakukan tugas kepemimpinan itu dengan baik dan benar. Baik dan benar bukan menurut ukuran kita, tetapi sesuai kehendak Tuhan. Jadilah gembala yang baik dan bertanggung jawab, sebab jika tidak, maka sewaktu-waktu Allah akan mengambil alih kepemimpinan itu dan yang bersalah pasti akan dihukum. Tuhan Yesus, Sang Gembala Yang Maha Baik telah memberikan contoh bagaimana menjaga dan merawat para domba. Belajarlah padaNya dan jadilah pemimpin yang bertanggung jawab.

Doa: Tuhan, jadikanlah kami pemimpin yang bertanggung jawab. Amin.

Rabu, 15 September 2021                            

bacaan : Yeremia 25 : 34 – 38

34 Mengeluh dan berteriaklah, hai para gembala! Berguling-gulinglah dalam debu, hai pemimpin-pemimpin kawanan kambing domba! Sebab sudah genap waktunya kamu akan disembelih, dan kamu akan rebah seperti domba jantan pilihan. 35 Maka bagi para gembala tidak akan ada lagi kelepasan, dan bagi para pemimpin kawanan kambing domba tidak akan ada lagi keluputan. 36 Dengar! para gembala berteriak, para pemimpin kawanan kambing domba mengeluh! Sebab TUHAN telah merusakkan padang gembalaan mereka, 37 dan sunyi sepilah padang rumput yang sentosa, oleh karena murka TUHAN yang menyala-nyala itu. 38 Seperti singa Ia meninggalkan semak belukar persembunyian-Nya, sebab negeri mereka sudah menjadi ketandusan, oleh karena pedang yang dahsyat, oleh karena murka-Nya yang menyala-nyala."

Ikutilah Kehendak Tuhan

Yeremia dalam bacaan kita hari ini, mengisahkan tentang amarah Tuhan Allah kepada bangsa-bangsa karena tidak melakukan kehendak-Nya. Penghukuman yang Allah berikan tidaklah memandang muka, semua bangsa yang berdosa dihukum-Nya. Gambaran murka Allah itu ibarat  cawan yang berisi anggur yang memabukkan, yang membuat orang yang meminumnya menjadi mabuk, muntah-muntah, rebah dan tidak bangun lagi. Ayat bacaan kita (34-38) memperlihatkan kondisi umat yang mengalami Kemurkaan Tuhan Allah. Mereka seperti kehilangan arah dan ketakutan serta cemas. Inilah gambaran kesengsaraaan manusia ketika tidak setia dan taat kepada Tuhan.

Hal yang sama berlaku juga dalam kehidupan kita. Dalam konteks keluarga misalnya, ada pola didikan yang diberikan setiap orang tua kepada anak-anaknya. Pola didikan itu pasti berbeda-beda namun bertujuan sama yakni menginginkan anak-anaknya menjadi orang yang baik, setia dan taat. Tidak jarang, dalam didikan itu ada orang tua yang mendidik anaknya dengan keras dan tegas agar anaknya lebih bertanggung jawab dan mandiri. Bila kedapatan anaknya melakukan kesalahan, maka akan ada konsekuensi yang diterima anak. Entah dimarahi, dipukul, dicubit, dsb, pasti si anak harus menerimanya dan belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Belajar dari kesalahan adalah sikap yang mesti dimiliki setiap orang dengan komitmen bahwa tidak akan lagi melakukan kesalahan yang sama. Oleh karena itu, bijaklah melihat setiap tantangan dan masalah sebagai bagian dari cara Tuhan sedang mendidik dan mengarahkan kita untuk setia dan taat melakukan kehendak-Nya.

Doa: Ampunilah kami Tuhan, Jadilah penuntun bagi kehidupan kami. Amin.

Kamis, 16 September 2021                           

bacaan : Matius 12 : 9 – 15a

Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat
9 Setelah pergi dari sana, Yesus masuk ke rumah ibadat mereka. 10 Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka bertanya kepada-Nya: "Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat?" Maksud mereka ialah supaya dapat mempersalahkan Dia. 11 Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya? 12 Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat." 13 Lalu kata Yesus kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka pulihlah tangannya itu, dan menjadi sehat seperti tangannya yang lain. 14 Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan bersekongkol untuk membunuh Dia.15 Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.

Nilai Kemanusiaan

Bacaan hari ini menceritakan tentang seorang yang lumpuh sebelah tangannya di dalam rumah ibadat. Orang Farisi menjebak dan mempersalahkan Yesus dengan pertanyaan, namun dengan bijaksana, Yesus mengatakan, “Jika seekor dombamu jatuh ke dalam lobang pada hari sabat, pasti kau akan mengeluarkannya?” Tuhan Yesus ingin menunjukkan bahwa manusia pastinya lebih berharga dari domba, oleh sebab itu jika domba dapat diselamatkan pada hari sabat, mengapa manusia tidak? Kita sering terperangkap pada aturan dan batasan-batasan yang mungkin saja tidak memberi kenyamanan dalam kehidupan kita. Bahkan aturan dan batasan itu digunakan juga untuk memojokkan atau menjatuhkan kita. Benar, bahwa setiap aturan yang dibuat untuk kebaikan bersama, namun ada hal-hal tertentu yang mesti disikapi secara bijak sehingga tidak merugikan diri kita. Oleh karenanya, evaluasi perlu dilakukan jika ada aturan yang tidak lagi menjawab kebutuhan hidup manusia. Dalam hidup berkeluarga pasti juga ada seperangkat aturan yang diterapkan. Tidak secara tertulis namun aturan-aturan tersebut sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh setiap anggota keluarga. Misalnya, tugas ibu adalah memasak, tugas ayah memperbaiki sesuatu yang rusak, tugas anak-anak membantu ibu membersihkan rumah. Jika kebiasaan ini setiap hari dilakukan maka akan menjadi sebuah aturan dengan pembagian peran yang ada, sehingga jika ada tugas yang terlewatkan atau tidak dilakukan sesuai kebiasaan itu, maka akan menjadi hal yang salah. Tindakan ini yang dikritisi Yesus, ketika berhadapan dengan pertanyaan orang Farisi tentang bekerja pada hari sabat. Sikap Yesus pada akhirnya menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan lebih tinggi dari aturan/hukum yang ada. Oleh sebab itu, kita diajak untuk bersikap kritis tetapi juga menghargai setiap aturan dengan mempertimbangkan nilai kemanusiaan.

Doa:      Tuhan, berilah kepada kami hati yang selalu mengasihi sesama. Amin.

Jumat, 17 September 2021                                   

bacaan : Lukas 15 : 1 – 7

Perumpamaan tentang domba yang hilang
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. 2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." 3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 4 "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? 5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, 6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. 7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."

Hilangkan Egomu, Temukan Kasihmu

Domba kecil, Domba kecil, hilang di atas bukit, datanglah Gembala angkat Domba kecil.” Ingatkah kita akan lagu ini? Ya! Ini adalah salah satu lirik lagu sekolah minggu yang sudah sangat dikenal. Lirik sederhana ini membuat kita dengan mudah memahami makna lagu, yakni sang Gembala telah menemukan Domba yang hilang. Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli taurat karena mereka bersungut ketika melihat Tuhan Yesus duduk bersama orang-orang berdosa dan para pemungut cukai. Tanggapan Tuhan Yesus kepada mereka sederhana, bahwa satu domba yang hilang ketika ditemukan pasti Gembalanya akan sangat bahagia. Bukankah lebih baik satu orang berdosa bertobat daripada 99 orang benar yang tidak bertobat. Seorang Gembala memang harus selalu berada bersama-sama dengan domba-dombanya, sebab tugas gembala ialah menjaga, memelihara dan melindungi kawanan domba-dombanya itu. Gembala bukan hanya ditujukan kepada para pelayan. Gembala adalah pemimpin dalam suatu komunitas. Gembala di dalam keluarga, jemaat, masyarakat adalah pemimpin yang bertugas mengayomi dan memberi rasa aman kepada semua orang yang dipimpinnya. Sikap netral mesti dimiliki seorang Gembala sehingga tidak membedakan satu dari yang lain, hanya saja terkadang sikap egois dan sombong mengakibatkan kita tidak mampu memberlakukannya. Oleh sebab itu, firman Tuhan mengingatkan belajarlah menghilangkan ego kita dan temukanlah kasih untuk menerima dan menggembalakan tanpa saling membedakan.

Doa:   Ya Yesus Gembala yang Agung, tolong kami Tuhan untuk dapat mengasihi sesama kami. Amin.

Sabtu, 18 September 2021                              

bacaan : Matius 18 : 12 – 14

Perumpamaan tentang domba yang hilang
12 "Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? 13 Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. 14 Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang."

Bring Me Home (Bawa Aku Pulang)

Pulanglah anak-Ku, Bapa rindu berseru.. Pulanglah hai anak-Ku Ada ampun Bapa bagimu”. Sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan oleh Nikita mengisahkan tentang kerinduan seorang ayah kepada anak bungsunya yang merantau dan melakukan hal-hal yang tidak berkenan. Seruan “Pulanglah Anak-Ku” bermakna bahwa sang ayah benar-benar merindukan anaknya untuk kembali pulang. Bacaan hari ini secara sederhana ingin menunjukkan bahwa Kasih Tuhan begitu besar bagi kita, sehingga IA menghendaki agar tidak satupun kita (Anak-anak-Nya) hilang dari hadapan-Nya. Hilang disini berarti tidak menjauh dari Hadirat Tuhan, tidak melakukan sesuatu diluar Kehendak Tuhan, dan tidak menyakiti hati Tuhan. Layaknya seorang ayah yang merindukan kepulangan anaknya, walaupun anaknya telah melakukan kesalahan kepadanya menunjukkan bahwa Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus melakukan hal yang sama, bahwa IA akan memberikan kesempatan untuk kita kembali “Pulang” (bertobat) kepada-Nya. Oleh Sebab itu, peka dengar panggilan-Nya, tetap siuman untuk selalu melakukan kehendak-Nya, taati setiap perintah-Nya.  Bayangkan saja, kita sebagai orang tua ketika anak kita kembali pulang dan meminta maaf untuk setiap kesalahannya pastinya kita akan memeluk dan memaafkannya walaupun mungkin ada sedikit bentakan atau kemarahan yang diluapkan namun setelah itu kita akan bersukacita karena anak kita telah kembali. Hal yang sama akan kita alami bersama Tuhan, kembalilah kepada-Nya, IA tidak memperhitungkan pelanggaran kita, yang IA lihat hanyalah hati yang sungguh-sungguh bertobat.

Doa: Terima Kasih Ya Tuhan, Untuk setiap Kasih-Mu. Amin.

*sumber SHK Sept 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 5 – 11 September 2021

Tema Mingguan : ” KEPEMIMPINAN YANG MENGGEMBALAKAN “

Minggu, 05 September 2021                         

bacaan : Yohanes 10 : 1 – 20

Gembala yang baik
"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; 2 tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. 3 Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. 4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. 5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal." 6 Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka. 7 Maka kata Yesus sekali lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. 8 Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. 9 Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. 10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. 11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; 12 sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. 13 Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. 14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku 15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. 16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. 17 Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. 18 Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku." 19 Maka timbullah pula pertentangan di antara orang-orang Yahudi karena perkataan itu. Banyak di antara mereka berkata: 20 "Ia kerasukan setan dan gila; mengapa kamu mendengarkan Dia?" 21 Yang lain berkata: "Itu bukan perkataan orang yang kerasukan setan; dapatkah setan memelekkan mata orang-orang buta?"

Keluarga Yang Saling Menggembalakan

Tuhan Yesus mengandaikan persekutuan jemaat sebagai domba-domba-Nya dan IA sendiri menyediakan diri-Nya menjadi Gembala domba. Dalam bacaan kita hari ini dijelaskan bahwa tanggungjawab untuk menggembalakan didasari oleh panggilan Tuhan Yesus sebagai Gembala Agung kita. Tidak ada satu pun yang sanggup menjadi gembala yang baik seperti Yesus, yang memelihara dan berkorban bagi domba-dombaNya. Yesus memelihara umatNya dengan penuh kasih dan pengorbanan. Ia telah menderita untuk umatNya, untuk kita semua. Meneladani sang Gembala Agung, Yesus Kristus, maka kita pun dipanggil untuk melakukan tugas menggembalakan itu. Tanggungjawab itu harus dilaksanakan dengan penuh kerendahan hati dan cinta kasih. Keluarga merupakan tempat pertama dan utama untuk melaksanakan tanggungjawab menggembalakan itu, sebab anak-anak di dalam keluarga adalah “domba-domba Allah” yang harus digembalakan untuk mempelajari dan menghayati nilai-nilai kehidupan. Dengan demikian orang tua mempunyai tanggungjawab untuk menggembalakan, yaitu: mengajar, mendidik, membina, mengasuh dan mendewasakan anak-anak dalam iman kepada Tuhan Yesus. Orang tua hendaklah menjadi “gembala” yang rendah hati, yang mengasuh anak-anaknya tanpa kekerasan namun dengan kelemah-lembutan, dan penuh kasih sayang. Ketika dalam keluarga ada saling menggembalakan, maka akan tercipta sebuah persekutuan keluarga yang harmonis dan bahagia. Maka  melalui iman, marilah kita sambut panggilan itu dan menghadirkan Gembala Agung di keluarga kita melalui kehidupan yang saling menggembalakan demi kebaikan dan kebahagiaan bersama.

Doa: Yesus Gembala yang baik, tuntunlah kami untuk hidup saling menggembalakan di dalam keluarga. Amin.

Senin, 06 September  2021                         

bacaan : Mazmur 23 : 1 – 6

TUHAN, gembalaku yang baik
Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. 2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; 3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. 4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. 5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. 6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Bersyukur Atas Kebajikan Dan Kemurahan Tuhan

Hari ini kita bersyukur atas kebajikan dan kemurahan Tuhan di usia 86 tahun Gereja Protestan Maluku. Melewati berbagai persoalan dan tantangan bahkan ancaman, baik yang berasal dari luar persekutuan gereja maupun persoalan yang terjadi dalam kehidupan bergereja,  kita selalu meyakini Tuhan Yesus sebagai Gembala  terus menuntun dan menyertai. Karena itu, firman Tuhan hari ini mau mengajak kita merenungkan kasih dan pemeliharaan Tuhan itu. Dalam nas ini pemazmur mengibaratkan dirinya seperti seekor domba, lemah dan tak berdaya menghadapi tantangan dan bahaya. Di dalam keadaan seperti itu, ia memiliki gambaran yang indah tentang Tuhan: Tuhan adalah Gembalaku. Ketika pemazmur berbicara tentang Tuhan sebagai Gembala, ia berpikir tentang Tuhan sebagai Pelindungnya. Bagi domba, gembala adalah segala-galanya. Seorang gembala akan memimpin domba-dombanya ke tempat di mana domba dapat makan dan beristirahat dengan tenang. Gembala  juga yang menuntun domba-dombanya ke jalan yang benar. Ia akan menjauhkan dari marabahaya dan menjaga mereka dengan baik. Begitu juga  kehidupan kita orang percaya. Kehidupan kita, keluarga, jemaat, dan gereja masih ada hingga hari ini karena Tuhan yang menyertai dan memberkati. Seperti seorang gembala yang baik yang memperhatikan domba-dombanya, begitu juga Tuhan kepada kita semua. Kebajikan dan kemurahan Tuhan sebagai Gembala tetap dinyatakanNya bagi Gereja Protestan Maluku.  Sebab itu, marilah  kita bersyukur dan mengagungkan nama Tuhan setiap waktu lalu kita  bertekad menjadi domba-dombaNya yang baik, yang mengenal suara Sang Gembala dan tetap mengikuti Dia.

Doa: Terima kasih Tuhan Yesus Gembala Yang Baik, atas kebajikan dan kemurahanMu bagi gereja kami. Amin.

Selasa, 07 September  2021                         

bacaan : Mazmur 78 : 70 – 72

70 dipilih-Nya Daud, hamba-Nya, diambil-Nya dia dari antara kandang-kandang kambing domba; 71 dari tempat domba-domba yang menyusui didatangkan-Nya dia, untuk menggembalakan Yakub, umat-Nya, dan Israel, milik-Nya sendiri. 72 Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya.

Tuhan Mencari Orang-Orang Yang Setia Dan Tulus Hati

Sebelum menjadi pemimpin yang besar Daud harus melewati proses ujian kesetiaan dalam perkara-perkara kecil terlebih dahulu. Seperti menggembalakan kawanan domba milik ayahnya. Dalam menggembalakan, Daud menunjukkan kesetiaan dan ketulusan yang pada akhirnya Tuhan membuat segala sesuatu indah tepat waktunya. Seperti yang ditulis Asaf : dipilihnya Daud, hamba-Nya, diambil-Nya dia dari antara kandang-kandang kambing domba; dari tempat domba-domba yang menyusui didatangkan-Nya dia, untuk menggembalakan Yakub, Umat-Nya dan Israel milik-Nya sendiri. Daud teruji, setia dan tulus hati, menggembalakan kawanan domba yang dipercayakan kepadanya. Di masa-masa seperti sekarang ini, ujian dan tantangan semakin besar. Tantangan itu berupa masalah, penderitaan, kesesakan, kedagingan, dll. Anak-anak Tuhan mengalami kekecewaan di tempat-tempat kerja. Yang banyak terisi oleh orang-orang lain yang tidak seiman. Terjadinya hal ini oleh karena kita yang kurang kuat menghadapi resiko-resiko kerja yang berat. Nampak anak-anak Tuhan mulai kehilangan kesetiaan dan ketulusan dalam mengerjakan tugas-tugas yang telah Tuhan percayakan. Kondisi itu yang membuatnya kehilangan kesempatan dalam meraih prestasi. Kembali kita diingatkan Sebagai anak-anak Tuhan jadilah panutan, dimana dan kapanpun waktunya kita harus bisa menjadi berkat bagi dunia ini. Jadilah gembala yang baik dan pakailah pola pendekatan gembala dalam menuntun keluaraga dan sesama yang lain. Tuhan mencintai orang-orang yang setia dan tulus hati di bumi ini.

Doa:  Tuhan kuatkan dan teguhkan hatiku, untuk kerjakan tugas-tugas yang Engkau percayakan. Amin.

Rabu, 08 September 2021                                     

bacaan : Yeremia 3 : 15

15 Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku; mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian.

Allah Mengaruniakan Gembala Yang Menggembalakan

Cacat tubuh laki-laki itu, namun ia bisa mencari nafkah dan  menjadi pengusaha yang sukses. Dia juga menikahi seorang gadis sempurna tanpa cacat dan sama-sama mereka membangun rumah tangga dan memperoleh dua orang anak yang cantik dan sehat. Orang memandang rendah kepadanya, tidak punya masa depan, dengan hidup yang seperti begitu. Namun Tuhan membuat dia  berhasil dan sukses. Dalam kondisi cacat di kursi roda, laki-laki itu memiliki kemampuan untuk mendidik dan menuntun keluarganya dengan baik. Anak-anak diingatkan untuk hadapi tantangang dan cobaan. Jalanilah dengan keyakinan bahwa dengan iman dan doa, setia dan taat pada Tuhan, kita dapat melakukan segala yang baik dalam hidup ini. Sosok Ayah yang cacat ini telah memberikan  inspirasi kepada keluarga kita, dan lainnya bahwa Allah itu baik. Allah mempercayakan kita sebagai gembala yang memimpin keluarga Allah. Ia memberi hati yang taat ibarat hati seorang ayah yang mengasihi anak-anaknya, membimbing menuntun pada jalan kebenaran dan hidup. Anak-anak akan mengenal sosok ayah sebagai gembala dan berbangga memilikinya, sekalipun dia seorang yang cacat fisiknya. Kita belajar tidak saja mengenal Allah, tetapi mengenal perbuatan-perbuatan-Nya yang Ia lakukan atas kita. Karenanya setiap orang yang percaya harus menyerahkan diri penuh dalam tuntunan-Nya. Banyak keberhasilan dan kesuksesan di didapat oleh karena  takut akan Tuhan, hidup dalam ketaatan dan kesetiaan pada Tuhan. Dalam susah maupun senang hiduplah bersama Tuhan sebab Dia gembala yang baik, yang selalu menggembalakan kita. Marilah kita belajar dari Tuhan gembala yang baik, supaya kita  pun dapat menggembalakan yang lain dengan hati yang penuh kasih .

Doa: Tuhan, karuniakanlah kemampuan bagi kami dalam menggembalakan keluarga. Amin.

Kamis, 09 September 2021                              

bacaan : Yesaya 40 : 9 – 11

9 Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: "Lihat, itu Allahmu!" 10 Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. 11 Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati.

Allah Dan Kekuatan-Nya

Banyak orang takut pada virus corona, sebab berat resiko jika terinfeksi virus ini. Banyak cara dipakai untuk terhindar baik 5M, pola makan yang sehat, istirahat yang teratur juga vaksin. Virus ini belum juga berakhir. Dalam situasi ini kita bertanya dan terus bertanya, Tuhan, kapan virus ini ,berakhir? Mungkinkah kita akan kuat kedepan dalam menjalani hidup di masa pandemic ini?. Dalam situasi dan keadaan apapun yang membuat kita terganggu, ingatlah bahwa Allah kita tetap ada bersama kita. Yesaya menggambarkan Allah sebagai Gembala yang menggembalakan dan domba-domba-Nya terpelihara. Allah juga dilukiskan sebagai seorang Gembala yang mengangkat seekor anak domba supaya melindungi dan membawanya dekat di hati-Nya. Tuhan datang dengan kekuatan dan kekuasaan seperti pemimpin yang perkasa, namun kehadiran-Nya bagaikan Gembala penuh perhatian yang menggembalakan domba-domba-Nya. Kebenaran ini harus disambut dengan iman, pengharapan dan kerinduan dalam doa kepada Tuhan. Karena itu umat diharapkan tidak merasa kecewa dan takut apalagi putus asa. Yesaya mengumandangkan firman Tuhan bahwa Tuhanlah yang akan menolong mereka. Karena itu umat diajak untuk bersorak-sorak bagi Dia yang datang yang membawa kemenangan, pembebasan, ditengah penderitaan dan kesesakan. Menghadapi situasi sekarang ini, mari kita bersyukur kepada Tuhan yang selalu membuat kita menjadi orang-orang yang kuat, tidak menjadi takut dalam menghadapi semua tantangan dan cobaan. Jadi jangan kita  takut menjalani hidup dalam cobaan dunia ini. Justru yang perlu sekarang ini kita minta adalah kekuatan dan kesehatan dari Tuhan, agar kekuatan Roh-Nya melindungi dan memampukan kita menjalani hidup ini .

Doa: Tuhan membebaskan kita dari rasa takut. Amin.

Jumat, 10 September 2021                          

bacaan : I  Tawarikh  11 : 1 – 3

Daud menjadi raja atas Israel
Lalu berkumpullah seluruh Israel kepada Daud di Hebron dan berkata: "Ketahuilah, kami ini darah dagingmu. 2 Telah lama, ketika Saul memerintah, engkaulah yang memimpin segala gerakan orang Israel. Dan TUHAN, Allahmu, telah berfirman kepadamu: Engkaulah yang harus menggembalakan umat-Ku Israel, dan engkaulah yang menjadi raja atas umat-Ku Israel." 3 Maka datanglah semua tua-tua Israel menghadap raja di Hebron, lalu Daud mengadakan perjanjian dengan mereka di Hebron di hadapan TUHAN, kemudian mereka mengurapi Daud menjadi raja atas Israel, seperti yang difirmankan TUHAN dengan perantaraan Samuel.

Raja Israel Pilihan Allah Sendiri

Tuhan telah menunjuk Daud sebagai Raja pengganti Saul, yang akan menggembalakan umat Israel. Daud yang dipilih Allah itu diberikan kemampuan untuk membawa umatnya ke keadaan yang baik dan sejahtera. Dalam mengerjakan tugas-tugas itu ada unsur pengorbanan. Dia rela berkorban untuk umatnya. Dia tidak saja berdoa dan taat pada Firman-Nya, tetapi mencintai umat juga membebaskan mereka dari banyak musuh. Sama seperti Daud, Allah mempercayakan kita sebagai anak-anak-Nya dalam melakukan tugas-tugas dan Dia meminta kita melakukannya dengan hati yang rela berkorban. Karena itu, sebagai hamba yang melayani, tunjukanlah kasih dan kesetiaan. Dengan kasih kita melayani, baik itu melayani anak-anak, suami/ istri  atau lainnya, dan dengan kesetiaan kita buktikan bahwa kita melakukannya sama seperti kita melakukan untuk Tuhan. Dengan doa dan Firman kita paham akan kebenaran di dalam melaksanan semua bentuk tanggung jawab. Mungkin kita akan kecewa dan putus asa, kita bisa salahkan siapa saja, tetapi jangan lupa Allah tidak pernah mempersatukan kita untuk sesuatu yang buruk, dan kalaupun yang buruk itu datang segeralah memperbaikinya. Tugas kita demikian sebab Allah percayakan kita untuk hal baik dan memperbaiki hal buruk supaya kita menjadi berarti. Oleh karena itu setiap orang yang mau berhasil dan sukses, adalah mereka yang sungguh-sungguh melakukan tanggung jawab dalam doa dan pergumulan. Ingat bahwa Daud yang dipilih Allah itu diberikan kemampuan untuk membawa umatnya ke keadaan yang baik, sejahtera. Jangan kita lupa ada dalam doa, dan jangan jemu-jemu melakukan kebaikan sekalipun tersakiti. Lakukan yang baik, jauhkan yang tidak baik. Lakukan yang positif jauhkan yang negatif, berjuang keras demi keselamatan diri dan sesama demi kebahagiaan bersama.

Doa:  Tuhan mampukan kami mengerjakan tugas-tugas yang Engkau telah percayakan. Amin.                                               

Sabtu, 11 September 2021                           

bacaan : 1 Tawarikh 13 : 1 – 8

Tabut dipindahkan dari Kiryat-Yearim
Daud berunding dengan pemimpin-pemimpin pasukan seribu dan pasukan seratus dan dengan semua pemuka. 2 Berkatalah Daud kepada seluruh jemaah Israel: "Jika kamu anggap baik dan jika diperkenankan TUHAN, Allah kita, baiklah kita menyuruh orang kepada saudara-saudara kita yang masih tinggal di daerah-daerah orang Israel, dan di samping itu kepada para imam dan orang-orang Lewi yang ada di kota-kota yang dikelilingi tanah penggembalaan mereka, supaya mereka berkumpul kepada kita. 3 Dan baiklah kita memindahkan tabut Allah kita ke tempat kita, sebab pada zaman Saul kita tidak mengindahkannya." 4 Maka seluruh jemaah itu berkata, bahwa mereka akan berbuat demikian, sebab usul itu dianggap baik oleh segenap bangsa itu. 5 Lalu Daud mengumpulkan semua orang Israel dari sungai Sikhor di Mesir sampai ke jalan yang menuju Hamat, untuk menjemput tabut Allah dari Kiryat-Yearim. 6 Lalu Daud dan segenap orang Israel berangkat ke Baala, ke Kiryat-Yearim, yang termasuk wilayah Yehuda, untuk mengangkut dari sana tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN yang bertakhta di atas kerubim. 7 Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru dari rumah Abinadab, sedang Uza dan Ahyo mengantarkan kereta itu. 8 Daud dan seluruh orang Israel menari-nari di hadapan Allah dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, ceracap dan nafiri.

Tanyakan Tuhan Dan Jadikan Dia Alternatif Pertama

Syalom saudaraku! Bersyukurlah kepada Tuhan karena kita telah tiba dengan selamat di penghujung usbu ini. Hari ini kita belajar dari Daud dan Umat Israel dalam menangani Tabut Perjanjian, Benda yang adalah lambang kehadiran Allah, yang hanya bisa diangkat/ dipegang oleh para imam dari Suku Lewi. Jika membaca perikop 1 Taw.13:1-8 ini sepintas maka kita akan menyimpulkan bahwa Daud telah melakukan yang terbaik sebagai seorang pemimpin. Ia tidak memutuskan sendiri apa yang hendak dikerjakannya tetapi ia berunding dengan para pemimpin pasukan dan mengumpulkan orang Israel termasuk para imam Lewi dari berbagai penjuru. Tapi kenapa terjadi malapetaka saat tabut itu dipindahkan hingga memakan korban? Rupanya yang baik menurut Daud belum tentu baik menurut Tuhan. Yang Tuhan inginkan adalah, Daud harus bertanya kepada Tuhan lebih dulu. Langkah selanjutnya akan Tuhan tentukan dengan caraNya. Jika hal itu dilakuan Daud maka Uza yang bukan berasal dari imam Lewi tidak akan menyentuh tabut yang berakibat kematiannya. Jika Daud lebih dulu bertanya kepada Tuhan, maka Tuhan akan memberinya hikmat untuk menyerahkan tugas memimpin pujian kepada kaum Lewi, sesuai aturan di Israel.  Saudaraku, sering kali kita berinisiatif melakukan sesuatu tanpa bertanya kepada Tuhan. Tuhan menjadi alternatif terakhir dalam perencanaan kita, bukan alternatif pertama dan utama sehingga kita sering gagal. Karena itu baik Papa sebagai pemimpin dalam keluarga maupun Mama dan anak-anak harus menjadikan Tuhan sebagai alternatif pertama dan utama dalam setiap perencanaan kita, maka Tuhan Pemimpin yang Agung akan menuntun kita untuk melakukan yang baik dan benar menurut Tuhan.

Doa:          Ya Tuhan, tolong kami tuk menempatkan Tuhan sebagai altrnatif pertama dalam setiap perencanaan kami. Amin.

*sumber : SHK Sept 2021, LPJ GPM

Santapan Harian Keluarga, 29 Agustus – 4 September 2021

Tema Mingguan : ” KELUARGA YANG MELAKUKAN KEBAIKAN AKAN MEWARISI KEHORMATAN “

Minggu, 29 Agustus 2021                                  

bacaan : Amsal  3 : 27 – 35

Anjuran untuk berbuat baik
27 Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. 28 Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi," sedangkan yang diminta ada padamu. 29 Janganlah merencanakan kejahatan terhadap sesamamu, sedangkan tanpa curiga ia tinggal bersama-sama dengan engkau. 30 Janganlah bertengkar tidak semena-mena dengan seseorang, jikalau ia tidak berbuat jahat kepadamu. 31 Janganlah iri hati kepada orang yang melakukan kelaliman, dan janganlah memilih satupun dari jalannya, 32 karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat. 33 Kutuk TUHAN ada di dalam rumah orang fasik, tetapi tempat kediaman orang benar diberkati-Nya. 34 Apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Iapun mencemooh, tetapi orang yang rendah hati dikasihani-Nya. 35 Orang yang bijak akan mewarisi kehormatan, tetapi orang yang bebal akan menerima cemooh.

Kehormatan Adalah Buah Perbuatan Baik

Kitab Amsal menegaskan pesan-pesan iman yang patut dipedomani orang percaya dalam hidup sehari-hari. Salah satu dari pesan-pesan itu adalah manusia dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok, yakni “orang benar” dan “orang fasik”. Orang benar disebut juga orang bijak atau orang pandai, sedangkan orang fasik disebut juga orang jahat atau orang bodoh. Bacaan hari ini mengajak kita untuk berusaha menjadi orang benar atau orang bijak. Orang benar memahami bahwa setiap tindakkan pasti menghasilkan akibat, dan karena itu mereka tahu keputusan apa yang harus diambil sebelum melangkah. Orang benar akan memilih “jalan” yang menuju kepada berkat, kebahagiaan, kekayaan, dan kehormatan. Hidup orang benar adalah benar artinya bersikap tulus dan memperlakukan orang lain dengan adil dan jujur, secara khusus mereka yang miskin atau kurang beruntung. Orang benar tidak akan merancang kejahatan terhadap sesamanya. Ia juga tidak bertengkar atau iri hati terutama kepada orang yang melakukan kelaliman. Itulah sebabnya dalam ayat 33 – 35, Tuhan akan memberkati orang yang bijak atau orang benar, tetapi mengutuk rumah orang fasik atau bodoh. Orang bijak yang rendah hati akan dipuji oleh sesama, tetapi orang bodoh yang mengejek Tuhan pada akhirnya akan dicemooh. Orang yang bijak akan mewarisi kehormatan, sebab kehormatan adalah buah dari perbuatan baik. Jalani dan penuhilah hari-hari hidup dengan perbuatan baik.

Doa:  Ya Tuhan layakanlah kami melakukan perbuatan baik dalam hidup yang adalah anugerahmu. Amin.

Senin, 30 Agustus 2021   

bacaan : Amsal  11 : 25 – 27

25 Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum. 26 Siapa menahan gandum, ia dikutuki orang, tetapi berkat turun di atas kepala orang yang menjual gandum. 27 Siapa mengejar kebaikan, berusaha untuk dikenan orang, tetapi siapa mengejar kejahatan akan ditimpa kejahatan.

Jadikanlah Hidupmu Berkat Bagi Orang Lain

Kitab Amsal juga menyebutkan bahwa hikmat adalah anugerah Tuhan. orang percaya memiliki karunia ini dan didorong untuk menggunakannya. Hikmat memampukan orang percaya memahami pentingnya memperlakukan orang lain secara jujur dan adil, rendah hati, setia, bekerja keras, menghormati orang tua dan orang berpengaruh lainnya serta peduli terhadap orang miskin juga mereka yang memerlukan bantuan. Orang percaya hidup karena berkat Tuhan dan terpanggil untuk menjadi berkat bagi orang lain. Karena itu dalam ayat 25 disebutkan: “Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.” Orang yang suka memberi kepada orang lain, akan menerima ganjaran. Pemberi yang murah hati akan diingat oleh mereka yang pernah ditolongnya. Sebaliknya, orang yang tamak tidak mempunyai sahabat dan dikutuk oleh orang miskin. Kita terpanggil untuk peduli terhadap orang lain yang membutuhkan perhatian dan bertolongan bukan untuk dipuji, tetapi supaya Tuhan dimuliakan. Ada orang yang hidup dalam kondisi yang memprihatinkan karena kurang makan, sehingga muncullah larangan untuk “menahan gandum” (ayat 26). Ayat ini berkaitan dengan para pedagang yang menahan gandum supaya ada kelangkaan gandum, dengan demikian mereka dapat memasang harga lebih tinggi. Oleh sebab itu kita diminta untuk mengejar kebaikan dan menjauhkan kejahatan. Perbuatan baik adalah pilihan iman untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Doa:  Ya Tuhan sumber berkat, jadikanlah kami saluran berkat-Mu bagi orang lain. Amin.

Selasa, 31 Agustus 2021                                 

bacaan : Amsal 25 : 21 – 22     

21 Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. 22 Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan TUHAN akan membalas itu kepadamu.

Orang Bijak Membalas Kejahatan Dengan Kebaikan

Bacaan hari ini berisi pesan yang menarik dan sekaligus menantang orang Kristen. Umumnya manusia berkecenderungan untuk membalas perlakuan kejahatan dengan kejahatan karena didorong terusiknya harga diri dan rasa malu. Bila harga diri seseorang terusik dan ia mengalami rasa malu, maka sangat mungkin perlakuan jahat yang dialaminya akan dibalas dengan jahat pula. Membalas kejahatan dengan kebaikan adalah salah satu wujud perilaku orang bijak, dan karena itu merupakan keunikan hidup yang harus diwujudkan orang Kristen. Keunikan hidup demikian didasarkan pada prinsip kasih. Hal ini tersebut dalam ungkapan “Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air.  Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan Tuhan akan membalas itu kepadamu”. Amsal ini menegaskan pentingnya bersikap baik terhadap musuh. Perilaku seperti ini bersifat ritual,  maksudnya orang yang sudah melakukan kesalahan harus mengusung semangkok bara api di atas kepalanya, sebagai ungkapan penyesalan atas tindakkannya. Maksud Amsal ini adalah bahwa kebaikan akan menyebabkan orang yang bersalah menyesali perbuatan salahnya. Orang Kristen telah dianugerahi hikmat dan oleh sebab itu terpanggil untuk berbuat kebaikan ketika mengalami keburukan, agar Tuhan dimuliakan. Tuhan dimuliakan bila orang yang melakukan kejahatan menyadari kesalanannya dan bertobat. Orang jahat bertobat jika ia mengalami kebaikan Tuhan, melalui hidup orang Kristen yang bersedia mengampuni.

Doa:  Tuhan layakkanlah kami untuk mampu mengasihi orang yang melakukan kejahatan terhadap kami. Amin

Rabu, 01 September 2021                                  

bacaan : Matius 7 : 1 – 5

Hal menghakimi
"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. 2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. 3 Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? 4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. 5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." 6 "Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu."

Janganlah Menghakimi Saudaramu

Gajah di pelupuk mata tak terlihat, semut di seberang lautan terlihat.” Sebuah peribahasa yang sudah sangat sering kita dengar. Peribahasa ini menunjuk kepada kecenderungan mudahnya melihat kesalahan dan keburukan orang lain daripada melihat dan mengakui kesalahan serta kelemahan sendiri.  Dalam ajaranNya hari ini, Tuhan Yesus pun mengingatkan hal yang sama. Dengan tegas Ia berkata: “keluarkan dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” Tuhan mengetahui kecenderungan manusia bahwa sangat mudah seseorang melihat kekurangan dan kesalahan orang lain dari pada melihat dan mengakui kekurangan dan kesalahan dirinya sendiri. Sebab itu, Ia mengecam perilaku hidup yang munafik seperti ini dan menginginkan agar kita menjadi orang-orang yang dapat mengenal diri atau tahu diri, jangan suka menghakimi orang lain. Jujurlah dalam melihat dan mengenal diri kita, di mana selain ada kebaikan yang kita miliki namun pasti ada juga kekurangan dan kelemahannya. Kita tidak perlu menutup-nutupi kekurangan dan kelemahan kita, tetapi justru menyadari dan mengakuinya sehingga kita bisa lebih rendah hati, tidak merasa lebih baik dan lebih benar daripada orang lain, apalagi merasa diri paling benar dan paling baik. Dengan bersikap rendah hati, kita tidak hanya mudah  mengoreksi dan membarui  diri sendiri tetapi juga tidak bersikap mudah menghakimi, melainkan dapat mendengarkan dan menerima orang lain dengan segala keberadaannya. Marilah kita wujudkan hal itu mulai dari dalam keluarga kita, janganlah saling menghakimi,tetapi bangunlah kehidupan keluarga yang penuh cinta kasih, kesabaran, pengertian dan kerendahan hati.

Doa:   Ya Bapa yang Pengasih, ajarlah kami untuk tidak saling menghakimi.   Amin.

Kamis, 02 September 2021                                 

bacaan : Matius 6 : 1 – 4

Hal memberi sedekah
"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. 2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. 4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Berilah Sedekah Dengan Tersembunyi

Mungkinkah seseorang dapat mencegah agar tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanannya? Kenyataannya, tangan kita sering bekerja bersama-sama. Dua-duanya sering bekerja berpasangan: mengangkat, membawa, menangkap, mengendarai, memeluk dan banyak kegiatan lain. Apa yang dilakukan tangan yang satu diketahui oleh tangan yang lain. Dua-duanya dikendalikan oleh otak yang sama. Dengan begitu, apa yang dilakukan oleh tangan yang satu, yang lainnya juga ikut. Apa yang dinasihatkan oleh Yesus dalam nas ini menggambarkan hal yang sebaliknya. Ucapan Yesus ini bersifat paradoks atau tampak berlawanan. Apakah maksud dari ucapan Yesus dalam nas ini? ucapan nasehat Tuhan Yesus ini lebih bersifat simbolis, yakni Ia mau  memberi tahu kita agar berusaha tidak mengetahui secara sadar apa yang sedang kita lakukan. Dalam hal ini, ketika kita memberi sedekah. Kalau kita memberi sedekah atau sesuatu pemberian, bukan hanya kita diingatkan agar  pemberian kita itu tidak harus diketahui oleh orang lain atau tidak dipamerkan, melainkan juga agar kita tidak terus menerus membicarakan hal itu. Karena kecenderungan manusia adalah ketika ia telah melakukan sebuah kebaikan atau memberikan sebuah pemberian, seringkali kita suka membanggakan diri dan menceritrakan hal itu kepada orang lain agar diketahui Namun firman hari ini mengingatkan kita supaya tidak membanggakan diri karena pemberian-pemberian kasih yang kita lakukan; atau menceritakan perbuatan murah hati yang telah kita lakukan. Kalau kita telah melakukan sebuah perbuatan kasih atau pemberian, Ingatlah! jangan memamerkan kedermawanan itu atau menarik perhatian dan pujian orang lain dengan itu. Kiranya kita semua dapat terhindar dari bahaya kesombongan dan keangkuhan.

Doa:  Tuhan, biarlah hanya Engkau yang tahu kebaikan hati dan pemberian kasihku untuk sesama. Amin.

Jumat, 03 September 2021                        

bacaan : Yakobus 4 : 11 – 12

Jangan memfitnah orang
11 Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. 12 Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?

Janganlah Saling Memfitnah

Siapa yang suka dan merasa senang kalau difitnah? Tidak satu pun diantara kita yang mau difitnah. Kendatipun demikian, perilaku memfitnah sering kita temui dalam kehidupan setiap hari. Padahal tindakan seperti ini adalah tindakan yang tidak terpuji dan tidak dikehendaki oleh Tuhan. Oleh sebab itu, nas bacaan hari ini mau memberikan peringatan penting mengenai hal fitnah ini. Mengapa kita diingatkan untuk jangan saling memfitnah? Karena fitnah adalah suatu tindakan memberikan informasi yang tidak benar mengenai seseorang. Dengan melakukan fitnah, seseorang dapat membuat orang lain menderita dan hancur. Dengan fitnah, seseorang telah menghakimi orang lain berdasarkan bukti palsu. Itu suatu pelanggaran hukum menurut surat Yakobus. ltu berarti orang yang melakukan fitnah menganggap dirinya berada di atas hukum sehingga la bisa mempermainkan hukum demi kepentingan pribadinya. Padahal, hanya ada satu pembuat hukum yaitu Tuhan. Hanya Tuhan sajalah yang dapat menghakimi seseorang berdasarkan hukum-Nya. Karena itu, manusia seharusnya tidak mempermainkan hukum, apalagi menghakimi orang lain dengan  menyebarkan kebohongan atau memfitnah. Jangan karena iri hati dan benci terhadap seseorang lalu kita menghancurkannya dengan cara-cara yang tidak baik. Adakah hari-hari ini kita pernah memfitnah teman, saudara, atau orang lain? adakah saat ini sebagai keluarga kita saling irihati dan cemburu, memendam kebencian dan menyebarkan fitnah diantara saudara, adik-kaka, suami-isteri, orang saudara dan sebagainya? Mari bertobatlah dan minta ampun kepada Allah. Kiranya kita tidak mengulanginya kembali. Dengan mengandalkan Roh Kudus, mulai hari ini, berhentilah memfitnah dan teruslah mengasihi. Jadilah pribadi dan keluarga pembawa damai! 

Doa:  Ya Tuhan Allah, tolonglah kami untuk tidak saling memfitnah dan  menghakimi dalam hidup ini. Amin.

Sabtu, 04 September 2021                        

bacaan : 1 Yohanes 3 : 11 – 18

Kasih terhadap saudara sebagai tanda hidup baru
11 Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi; 12 bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar. 13 Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu. 14 Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. 15 Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. 16 Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. 17 Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? 18 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

Janganlah Membenci Saudaramu

Piring jua bisa tatoki, pica di meja makan, bukan cuma sekali saja, sama deng hidop ade kaka, biar laeng marah laeng, mar busu-busu orang sodara jua. Mari hidup baku sayang, jaga itu ikatan, jangan pisah mama pung sayang, kaka e. Seng ada kepeng bisa cari, mas permata cuma fantasi, kalo kaka mo cari di mana”. Ini sepenggal syair lagu orang Ambon yang memberikan inspirasi tentang pentingnya mengasihi saudara. Hari ini kita pun membaca sebuah nasehat yang sama dari penulis surat 1 Yohanes. Dalam suratnya ia menasihati  supaya jangan membenci saudara kita. Mengapa hal itu diingatkannya? Karena rasa benci dapat berujung pada rencana dan tindakan yang jahat atau menyakiti. Ini merupakan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Lihatlah contoh nyata dari kisah Kain yang membunuh Habel saudaranya, semua itu dimulai dari rasa benci, dan Tuhan menghukumnya karena tindakan itu. Maka janganlah sebagai saudara kita saling membenci apalagi merancangkan kejahatan untuk saudara kita sendiri. Sebaliknya Tuhan mengajarkan kita untuk selalu mengasihi, dimulai dari keluarga kita sendiri. Dari keluargalah benih cinta kasih harus kita tanam dengan baik. Supaya dengan begitu kita mengetahui kasih Kristus ada di dalam kita, yaitu apabila kita tetap hidup saling mengasihi. Dalam situasi hidup yang susah seperti sekarang ini, kita diingatkan, jangan menutup pintu hati manakala ada keluarga atau saudara yang menderita dan kekurangan. Apalagi membenci saudara hanya karena mereka orang kurang. Mari hidup saling berbagi dalam kasih, dan janganlah membenci saudaramu, karena itu menjadi tanda sebuah kehidupan baru yang diperkenankan Tuhan untuk kita hadirkan dalam kehidupan setiap hari.

Doa: Bapa di Surga, tolonglah aku untuk tidak membenci saudaraku. Amin.

*sumber : SHK Agust-Sept 2021, LPJ-GPM

Santapan Harian Keluarga, 22 – 28 Agustus 2021

Tema Mingguan : “Menjadi Keluarga yang Siap Menghadapi Tantangan”

Minggu, 22 Agustus 2021                             

bacaan : Efesus 6 : 10 – 20

Perlengkapan rohani
10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. 13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; 16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, 18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus, 19 juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil, 20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

Perisai Iman

Ada pengalaman iman dari seorang bapak ketika menghadapi kerusuhan yang terjadi di Ambon tahun 1999. Keadaan kota semakin mencekam, sang bapak harus bersama-sama dengan warga yang lain untuk berjaga-jaga di perbatasan. Setiap mau keluar berjaga, anak perempuannya selalu mengatakan, “Papa, bae-bae ee.. Jang lupa berdoa voor Tuhan Yesus, supaya Tuhan Yesus jaga papa”. Sambil memeluk anaknya itu, sang bapak menunjukkan pada rompi anti pelurunya, ada kantong yang selalu diisi Alkitab kecil berwarna merah, dan ia berkata: “Tuhan Yesus pasti jaga papa”. Bapak itu kemudian keluar untuk berjaga-jaga dan berperang. Kuasa Tuhan dialaminya ketika terjadi baku tembak, ada peluru yang mengenai dada kirinya, namun ia selamat karena peluru tersebut terkena Alkitab yang ada di kantong baju anti pelurunya. Hari itu setelah perang usai, sang bapak pulang lalu menceritakan pengalaman yang dialami itu kepada istri dan anak-anaknya, mereka menangis sambil bersyukur karena Alkitab kecil itu menyelamatkan suami dan papa mereka. Sejak saat itu, keluarga ini tidak pernah kuatir ketika menemui tantangan hidup, karena dengan mengandalkan Tuhan mereka yakin akan diselamatkan. Kuatir, cemas, takut adalah perasaan manusiawi yang dialami setiap manusia ketika berhadapan dengan tantangan. Rasul Paulus mengingatkan Jemaat Efesus untuk berjaga-jaga terhadap segala hal yang dapat menggoyahkan iman mereka kepada Tuhan. Tantangan yang mereka terima secara internal (ay.11, 16) dan eksternal (ay.12) haruslah  dihadapi dengan menggunakan perisai iman yakni berdoa, melakukan kebenaran serta berpegang teguh pada perintah-Nya. Keluarga yang mengenakan perisai iman pasti mampu berdiri di tengah-tengah tantangan hidup bahkan selebihnya juga akan menjadi kuat di dalam Tuhan dan selalu taat untuk mempercayakan hidup di dalam kendali Tuhan.

Doa: Tuhan, yang kami butuhkan adalah Perisai Iman dalam hidup ini. Amin.  

Senin, 23 Agustus 2021                                

bacaan : Ulangan 31 : 1 – 6

Yosua sebagai pengganti Musa
Kemudian pergilah Musa, lalu mengatakan segala perkataan ini kepada seluruh orang Israel. 2 Berkatalah ia kepada mereka: "Aku sekarang berumur seratus dua puluh tahun; aku tidak dapat giat lagi, dan TUHAN telah berfirman kepadaku: Sungai Yordan ini tidak akan kauseberangi. 3 TUHAN, Allahmu, Dialah yang akan menyeberang di depanmu; Dialah yang akan memunahkan bangsa-bangsa itu dari hadapanmu, sehingga engkau dapat memiliki negeri mereka; Yosua, dialah yang akan menyeberang di depanmu, seperti yang difirmankan TUHAN. 4 Dan TUHAN akan melakukan terhadap mereka seperti yang dilakukan-Nya terhadap Sihon dan Og, raja-raja orang Amori, yang telah dipunahkan-Nya itu, dan terhadap negeri mereka. 5 TUHAN akan menyerahkan mereka kepadamu dan haruslah kamu melakukan kepada mereka tepat seperti perintah yang kusampaikan kepadamu. 6 Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau."

Don’t be Afraid! God is Always With You

(Jangan Takut! Tuhan Selalu Menyertai Engkau)

Nyanyian GPM No. 274 berjudul: “Berjalan Bersama Yesus[1] adalah nyanyian yang mengisahkan tentang penyertaan Tuhan Yesus bagi kehidupan orang-orang percaya. Siang atau malam, di tengah badai bahkan Iblis menghalang, kita tidak akan menjadi lemah ketika  “Berjalan bersama Yesus”. Perjalanan bangsa Israel menuju negeri yang dijanjikan Tuhan dipimpin oleh Yosua, sebab Musa telah mencapai usia 120 tahun dan mengaku di hadapan Tuhan, bahwa ia tidak kuat lagi untuk menuntun mereka memasuki tanah yang telah Tuhan janjikan. Ia menguatkan Yosua agar mampu memimpin bangsa Israel, juga mengingatkannya  bahwa Tuhan akan berjalan di depan untuk menuntun mereka. “Tuhan akan Menyertai engkau, IA tidak akan meninggalkan engkau, Karena itu Janganlah Takut dan Janganlah patah hati”. Kalimat ini dikatakan Musa kepada Yosua agar ia teguh dan kuat melakukan tugasnya. Gambar atau lukisan wajah Yesus, ornamen-ornamen Kristiani seperti Salib dan gantungan pintu yang memuat Firman Tuhan serta kalimat motivasi, mungkin saja dapat ditemui dalam kediaman atau rumah kekuarga-keluarga Kristen. Benda-benda mati itu sesungguhnya secara teologis mengekspresikan keyakinan setiap keluarga bahwa Allah di dalam Yesus Kristus akan selalu menjaga kehidupan mereka. Apapun masalah kita, entah antar suami-istri atau orang tua-anak, saudara bersaudara bahkan hidup dengan sesama dapat terselesaikan jika kita selalu berjalan bersama Tuhan. Jangan pernah takut! apapun tantangan hidup di  depan, tetap teguhkan iman dan kuatkan hati, maka jaminan keselamatan  sukacita akan kita peroleh di dalam Tuhan.

Doa:Tuhan, teguhkan hati kami untuk selalu bersandar pada-Mu. Amin.

Selasa, 24 Agustus 2021                                

bacaan : Lukas 21 : 34 – 38

Nasihat supaya berjaga-jaga
34 "Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. 35 Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. 36 Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia." 37 Pada siang hari Yesus mengajar di Bait Allah dan pada malam hari Ia keluar dan bermalam di gunung yang bernama Bukit Zaitun. 38 Dan pagi-pagi semua orang banyak datang kepada-Nya di dalam Bait Allah untuk mendengarkan Dia.

Tetaplah Berjaga – Jaga

Gempa bumi dengan kekuatan 6,8 SR yang melanda provinsi Maluku, khususnya kota Ambon, Kairatu dan pulau Haruku pada tanggal 26 September 2019 memakan korban meninggal 23 orang dan luka-luka sebanyak lebih dari 100 orang. Bencana ini berdampak kepada kerusakan kantor, rumah dan berbagai bangunan lainnya bahkan tidak sedikit masyarakat yang harus mengungsi karena kuatir akan terjadi gempa susulan. Peristiwa ini ada maknanya, kita belajar untuk selalu berjaga-jaga dan waspada. Berjaga-jaga bukan hanya ketika ada dalam kesulitan atau menghadapi bahaya dari luar, namun juga menjaga diri dari setiap tutur kata dan perilaku hidup sehari-hari. Bencana alam yang terjadi dapat juga dipahami sebagai alarm atau pengingat agar sebagai manusia kita menjaga kekudusan hidup. Hal ini diingatkan lewat bacaan saat ini bahwa menjaga diri dari segala hal duniawi yang dapat memabukkan sehingga membuat kita lupa membangun persekutuan dengan Tuhan lewat Doa. Berdoa adalah wujud dari hidup berjaga-jaga agar tidak jatuh dalam berbagai pencobaan namun juga sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi setiap tentangan hidup. Keluarga yang berdoa adalah wujud hidup saling mengasihi agar semua tetap terjaga di dalam lindungan Tuhan. Kita harus memperbiasakan diri ada dalam doa atau pergumulan keluarga setiap saat, entah pagi atau malam hari. Ambillah waktu sejenak bersama suami, istri, anak-anak, orang tua dan bangunlah persekutuan doa sebagai cara untuk berjaga-jaga serta wujud syukur atas pemeliharaan Tuhan bagi kehidupan kita. Hal ini tentu akan semakin menguatkan kehidupan antar anggota keluarga bahkan kita dapat menjadikan moment ini untuk saling berbagi kasih.

Doa: Ya Tuhan, terima kasih untuk penjagaan dan perlindungan-Mu bagi keluarga kami. Amin.

Rabu, 25 Agustus 2021                                        

bacaan : Lukas 17 : 1 – 6

Beberapa nasihat
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. 2 Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini. 3 Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. 4 Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia." 5 Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!" 6 Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."

Pengampunan Karena Iman

“Kalo ale pung iman basar sama deng biji sesawi saja, maka ale bisa parenta pohon par pindah dari akang pung tampa”, ungkapan ini biasanya kita dengar sebagai penguatan atau solusi ketika  diperhadapkan dengan kesulitan atau masalah. Bacaan hari ini, memperlihatkan bahwa ungkapan di atas memang keluar dari mulut Tuhan Yesus yang menjawab pertanyaan para rasul (ay.5-6). Pernyataan Yesus menjawab kegelisahan para rasul tentang nasihat untuk saling mengampuni. Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial membuat seseorang membutuhkan orang lain untuk berelasi. Relasi di antara nanusia memungkinkan terjadinya banyak hal, baik menyenangkan maupun menyakitkan. Ketersinggungan dan kesalahpahaman yang terjadi dalam hubungan antar dua orang atau lebih, kemungkinan akan sulit diselesaikan, apalagi jika masing-masing mempertahankan pendapat dan egonya. Oleh karena itu, para rasul diingatkan Tuhan  Yesus untuk menegur siapa pun yang berbuat dosa dan mengajarkan mereka untuk hidup saling mengampuni. Perbedaan pendapat sering terjadi dalam keluarga dan dapat dianggap sebagai suatu kewajaran. Karena perbedaan adalah cara untuk saling mengingatkan bahwa setiap kita tidak ada yang sempurna. Oleh karenanya, jika suami atau istri bahkan anak-anak saling menemukan kesalahan, maka tegorlah dengan kasih dan tuntunlah ke jalan yang benar. Hindari kata-kata yang menjatuhkan ketika menyampaikan teguran, jangan menghakimi dan berlaku kasar dalam memberikan nasihat karena semua itu hanya akan berdampak buruk bagi relasi keluarga kita. Percayakan seluruh kehidupan kepada Tuhan, maka hidup saling mengasihi akan terwujud dalam keluarga kita. Ingat, tantangan terbesar dalam hidup Kristiani adalah menaklukan ego diri. Taklukkanlah dengan iman dalam Tuhan Yesus Kristus.

Doa:   Ajarkan kami untuk hidup saling mengasihi dan mengampuni, Ya Tuhan. Amin.

Kamis, 26 Agustus 2021                        

bacaan : 1  Tesalonika 5 : 1 – 11

Berjaga-jaga
Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, 2 karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam. 3 Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman--maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin--mereka pasti tidak akan luput. 4 Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, 5 karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. 6 Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. 7 Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam. 8 Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan. 9 Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, 10 yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia. 11 Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.

Bersiaplah! Baik atau Tidak Baik Waktunya

Beberapa bulan yang lalu ada beberapa video yang beredar tentang penglihatan anak-anak akan kedatangan Tuhan. Salah satunya video yang diunggah oleh seorang ibu yang mengaku bahwa anaknya yang berusia 2 tahun melihat kedatangan Tuhan. Ibu ini menjelaskan dalam video yang berdurasi 2 menit 50 detik itu bahwa anaknya yang bernama Lily melihat sosok yang datang dari atas dan menyebutnya sebagai Raja, Bapa (Abba), yang akan mengangkat kamu ke atas. Kalimat ini diucapkan beberapa kali dan setelah itu Lily menunduk sebanyak 3 kali. Tentang kebenaran video ini sebagai orang-orang percaya, kita tidak dapat memprediksi atau percaya begitu saja namun hal ini dapat dijadikan sebagai peringatan dan pengingat akan Kemahakuasaan Tuhan. Rasul Paulus mengajak umat di jemaat Tesalonika untuk mengadakan “persiapan” bagi kedatangan Yesus yang kedua kali. Hal ini dilakukannya karena ada beberapa anggota jemaat yang mencoba ‘menghitung’ saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali, dimana melalui nubuatan, mereka berharap dapat memprediksi saat peristiwa akhir itu tiba agar mereka dapat bersiap-siap untuk menyambut-Nya. Akibatnya, ada beberapa orang yang hidup tanpa merasakan pentingnya “persiapan” bagi kedatangan Tuhan. Paulus menyamakan Parousia (kedatangan Tuhan) sama dengan kedatangan pencuri di waktu malam, tidak ada yang tahu atau mampu memprediksinya. Oleh karena itu, bersiaplah setiap waktu. Persiapan yang kita lakukan ialah memurnikan diri, hidup di dalam persekutuan bersama Tuhan, saling membangun seorang akan yang lain melalui perkataan dan perbuatan yang baik, semuanya itu dimulai dari dalam keluarga. Kita juga diminta untuk  melakukan “persiapan” dengan cara hidup saling menasihati dan menjaga satu dengan yang lain, saling mengingatkan, saling menegur serta hendaknya kita selalu ‘sadar’ untuk hidup dalam kekudusan bersama Tuhan.

Doa: Ya Tuhan, hanya oleh iman kami dapat merasakan kehadiranMu. Amin.

Jumat, 27 Agustus 2021                              

bacaan : Yakobus 4 : 1 – 10

Hawa nafsu dan persahabatan dengan dunia
Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? 2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. 3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu. 4 Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah. 5 Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: "Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!" 6 Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." 7 Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! 8 Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! 9 Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. 10 Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.

Orang Beriman Mampu Hadapi Tantangan Zaman

Bacaan hari ini merupakan petunjuk praktis bagi orang beriman yakni mereka yang percaya telah diselamatkan oleh Yesus. Orang beriman sudah diselamatkan dan dianugerahkan kesempatan untuk hidup di dunia dan mengalami semua kenyataan sebagai manusia. Hidup di dunia tak mungkin luput dari pergumulan, baik dalam diri, maupun yang berasal dari luar. Manusia menghadapi pergumulan ganda, yang ada dalam diri sendiri maupun dari dunia sekitar. Hawa nafsu adalah pergumulan dalam diri dan persahabatan dengan dunia berasal dari luar. Inilah tantangan orang beriman, harus hidup sesuai kehendak Allah dan bukan untuk memuaskan hawa nafsu. Hawa nafsu mengakibatkan iri hati, congkak, halalkan cara untuk mencapai tujuan,  sengketa, pertengkaran, perkelahian, dan pembunuhan.  Bila hal-hal demikian dilakukan, maka orang beriman telah bersahabat dengan dunia dan menjadi musuh Allah. Karena itu kita harus mengalahkan hawa nafsu dan tidak bersahabat dengan dunia. Semua orang yang hidup dengan hawa nafsu dan bersahabat dengan dunia tidak akan dapat melakukan perbuatan baik. Perbuatan baik dapat diaktakan bila hawa nafsu dikalahkan. Lawanlah hawa nafsu dengan pertolongan Allah, tetaplah beriman, dekatkanlah diri pada Allah dan tunduklah pada-Nya, sucikanlah hatimu, dan tahirkanlah tanganmu. Atas dasar itu dalam ayat 10 bacaan hari ini disebutkan; Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu. Janganlah takut, Allah akan memampukan kita menghadapi tantangan zaman, kini dan selamanya.

Doa:  Tuhan, teguhkan iman kami, agar mampu hadapi tantangan zaman. Amin.

Sabtu, 28 Agustus 2021                             

bacaan : Keluaran 20 : 1 – 17

Kesepuluh firman
Lalu Allah mengucapkan segala firman ini: 2 "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. 3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. 4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. 5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, 6 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku. 7 Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. 8 Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: 9 enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, 10 tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. 11 Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya. 12 Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. 13 Jangan membunuh. 14 Jangan berzinah. 15 Jangan mencuri. 16 Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. 17 Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu."

Taat Pada Perintah Tuhan Dan Hadapilah Tantangan Zaman

Perintah-perintah sebagaimana tersebut dalam daftar sepuluh firman menegaskan hungan  Allah dan umat-Nya. Hubungan Allah dan umat-Nya itu disebut hubungan perjanjian. Allah berjanji melindungi umat-Nya dan umat berjanji setia kepada Allah. Itulah sebabnya perintah-perintah itu diawali dengan pernyataan Allah “Akulah Tuhan, Allahmu yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan” (ayat 2). Tuhan memilih umat Israel dan membebaskan mereka dari perbudakan, dan pada saat itu pula terbentuk hubungan sakral antara Allah dan umat-Nya. Perintah-perintah itu diberikan untuk meneguhkan hubungan perjanjian yang telah tercipta di antara Allah dan umat-Nya. Israel telah dipilih Allah, oleh karena itu mereka harus setia hanya kepada-Nya. Mereka harus menyembah Allah saja dan tidak membuat atau menyembah patung-patung ilah lain. Nama Allah itu kudus sehingga orang tidak boleh menyalahgunakannya dengan cara apapun. Nama itu tidak boleh dipakai untuk ingkar janji, berdusta sesudah bersumpah untuk mengatakan kebenaran, juga tidak boleh dipakai sebagai kata kutukan dll. Hubungan dengan Tuhan juga mengharuskan dikhususkannya sebuah hari untuk istirahat, sebagaimana dilakukan Allah pada penciptaan. Akta beristirahat, beribadah dan membebaskan budak (bahkan hewan) dari pekerjaan, adalah cara umat Israel menunjukkan kepada dunia keunikan hubungan mereka dengan Allah. Perintah-perintah lain menolong memahami hubungan di antara satu sama lain. Inti dari seluruh perintah itu adalah kasih kepada Allah dan sesama manusia. Taat mengasihi mampukan orang percaya hadapi tantangan zaman.       

Doa: Ya Roh Kudus jadikanlah kami orang percaya yang taat. Amin.

*sumber : SHK bukan Agustus 2021, LPJ GPM


Santapan Harian Keluarga, 15 – 21 Agustus 2021

Tema Mingguan : “Menjadi Keluarga Yang Berhikmat”

Minggu, 15 Agustus 2021                      

bacaan : 1 Raja-Raja 3 : 16 – 28 

Hikmat Salomo pada waktu memberi keputusan
16 Pada waktu itu masuklah dua orang perempuan sundal menghadap raja, lalu mereka berdiri di depannya. 17 Kata perempuan yang satu: "Ya tuanku! aku dan perempuan ini diam dalam satu rumah, dan aku melahirkan anak, pada waktu dia ada di rumah itu. 18 Kemudian pada hari ketiga sesudah aku, perempuan inipun melahirkan anak; kami sendirian, tidak ada orang luar bersama-sama kami dalam rumah, hanya kami berdua saja dalam rumah. 19 Pada waktu malam anak perempuan ini mati, karena ia menidurinya. 20 Pada waktu tengah malam ia bangun, lalu mengambil anakku dari sampingku; sementara hambamu ini tidur, dibaringkannya anakku itu di pangkuannya, sedang anaknya yang mati itu dibaringkannya di pangkuanku. 21 Ketika aku bangun pada waktu pagi untuk menyusui anakku, tampaklah anak itu sudah mati, tetapi ketika aku mengamat-amati dia pada waktu pagi itu, tampaklah bukan dia anak yang kulahirkan." 22 Kata perempuan yang lain itu: "Bukan! anakkulah yang hidup dan anakmulah yang mati." Tetapi perempuan yang pertama berkata pula: "Bukan! anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup." Begitulah mereka bertengkar di depan raja. 23 Lalu berkatalah raja: "Yang seorang berkata: Anakkulah yang hidup ini dan anakmulah yang mati. Yang lain berkata: Bukan! Anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup." 24 Sesudah itu raja berkata: "Ambilkan aku pedang," lalu dibawalah pedang ke depan raja. 25 Kata raja: "Penggallah anak yang hidup itu menjadi dua dan berikanlah setengah kepada yang satu dan yang setengah lagi kepada yang lain." 26 Maka kata perempuan yang empunya anak yang hidup itu kepada raja, sebab timbullah belas kasihannya terhadap anaknya itu, katanya: "Ya tuanku! Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia." Tetapi yang lain itu berkata: "Supaya jangan untukku ataupun untukmu, penggallah!" 27 Tetapi raja menjawab, katanya: "Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia; dia itulah ibunya." 28 Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.

Orang Berhikmat Adil Dalam Membuat Keputusan

Hikmat Ilahi tidak semata-mata berupa akal budi yang rasional, karena juga menyangkut kasih dan kepedulian terhadap sesama. Manusia yang bergumul dengan penderitaan dan dosa seharusnya mendapat perlakuan yang adil. Kasus yang diperhadapkan kepada Salomo merupakakan kasus yang pelik. Masalahnya bukan sekadar bagaimana bertindak adil secara rasional, tetapi juga dalam pandangan Allah. Allah menghendaki agar mereka yang tertindas memperoleh belas kasihan dan bagi si penindas diberikan hukuman. Kedua perempuan sundal ini, selain menjadi budak dosa juga mewakili manusia yang diperbudak oleh kondisi sosial masyarakat yang bersifat patrilineal. Kondisi mereka melacurkan diri pasti tidak lepas dari perlakuan masyarakat yang diskriminatif terhadap kaum perempuan. Mereka sepatutnya mendapat perhatian dari masyarakat, bukan dari sang raja muda yang saleh saja. Raja ini bukanlah orang berhikmat yang kehilangan perasaan pada saat memerintahkan agar bayi yang diperebutkan itu dibelah menjadi dua bagian. Salomo justeru karena hikmat ilahi membongkar dinginnya hati manusia yang dibelenggu dosa. Ia juga menghangatkan hati nurani dari orang yang belum kehilangan kemanusiaannya. Kiranya hikmat yang sama memandu kita pada saat keputusan, terutama dalam keluarga. Janganlah mengandalkan rasio, tetapi nurani agar peka terhadap hati Allah yang peduli kepada orang tertindas. Mintalah hikmat ilahi sebab Allah akan memberikan hikmat-Nya kepada yang memintanya.

Doa:  Tuhan berikanlah hikmat agar kami memutuskan hal apapun menurut kehendak-Mu. Amin!.

Senin, 16 Agustus 2021                                       

bacaan : Ezra 7 : 25 – 27

25 Maka engkau, hai Ezra, angkatlah pemimpin-pemimpin dan hakim-hakim sesuai dengan hikmat Allahmu yang menjadi peganganmu, supaya mereka menghakimi seluruh rakyat yang diam di daerah seberang sungai Efrat, yakni semua orang yang mengetahui hukum Allahmu; dan orang yang belum mengetahuinya haruslah kauajar. 26 Setiap orang, yang tidak melakukan hukum Allahmu dan hukum raja, harus dihukum dengan seksama, baik dengan hukuman mati, maupun dengan pembuangan, dengan hukuman denda atau hukuman penjara.” 27 Terpujilah TUHAN, Allah nenek moyang kita, yang dengan demikian menggerakkan hati raja, sehingga ia menyemarakkan rumah TUHAN yang ada di Yerusalem,

Melayani Dengan Sungguh

Tuhan lebih dulu melayani kepadaku, melayani-melayani lebih sungguh. Panggilan untuk melayani sebagaimana tersirat dalam penggalan lirik lagu di atas adalah sebuah komitmen iman yang mulia. Ezra adalah seorang imam, keturunan dari imam Eleazar anak imam Harun. Ia seorang ahli kitab dan mahir dalam taurat Musa. Perlindungan Tuhan selalu menyertainya baik ketika mengalami pembuangan di Babel, maupun pada saat pulang ke Yerusalem. Ezra pulang ke Yerusalem, karena diberikan tanggungjawab oleh raja Artahsasta untuk mengatur semua hal yang berkaitan dengan kebaktiaan di rumah Allah. Bacaan hari ini mengajarkan teladan kesetiaan dalam melayani pekerjaan Tuhan. Melayani merupakan suatu panggilan iman yang lahir dari hati yang tulus tanpa ada paksaan. Bahkan pada saat ketiadaan pengharapan sekalipun, kita harus dengan sungguh memberi diri untuk dipakai oleh Tuhan. Panggilan melayani tidak hanya ditujukan kepada orang-orang tertentu atau di tempat tertentu saja. Melayani adalah panggilan untuk dilakukan oleh siapa saja kapan pun waktunya. baik dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, bergereja maupun dalam keluarga. Berusahalah untuk terus saling melayani satu akan yang lainnya dengan tetap meminta hikmat Allah, agar dituntun dan mampu menjalani hidup sebagai orang percaya. Ingat dan yakinlah bahwa pertolongan Tuhan pasti nyata menyertai setiap orang yang menunjukan kesetiaan kepada-Nya.

Doa:  Tuhan Yesus, berikanlah hikmat bagi kami untuk melayani dimanapun kami berada. Amin.

Selasa, 17 Agustus 2021                          

bacaan : 2 Raja-raja 11 : 1 – 20

Atalya dibunuh dan Yoas menjadi raja
Ketika Atalya, ibu Ahazia, melihat bahwa anaknya sudah mati, maka bangkitlah ia membinasakan semua keturunan raja. 2 Tetapi Yoseba, anak perempuan raja Yoram, saudara perempuan Ahazia, mengambil Yoas bin Ahazia, menculik dia dari tengah-tengah anak-anak raja yang hendak dibunuh itu, memasukkan dia dengan inang penyusunya ke dalam gudang tempat tidur, dan menyembunyikan dia terhadap Atalya, sehingga dia tidak dibunuh. 3 Maka tinggallah dia enam tahun lamanya bersama-sama perempuan itu dengan bersembunyi di rumah TUHAN, sementara Atalya memerintah negeri. 4 Dalam tahun yang ketujuh Yoyada mengundang para kepala pasukan seratus dari orang Kari dan dari pasukan bentara penunggu. Disuruhnyalah mereka datang kepadanya di rumah TUHAN, lalu diikatnya perjanjian dengan mereka dengan menyuruh mereka bersumpah di rumah TUHAN. Kemudian diperlihatkannyalah anak raja itu kepada mereka. 5 Sesudah itu ia memerintahkan kepada mereka: "Inilah yang harus kamu lakukan: sepertiga dari kamu, yakni yang selesai bertugas pada hari Sabat di sini, tetapi mengawal di istana raja-- 6 sepertiga lagi ada di pintu gerbang Sur dan sepertiga pula di pintu gerbang di belakang para bentara penunggu--haruslah mengawal di istana; 7 dan kedua regu dari pada kamu, yakni semua orang yang bertugas di sini pada hari Sabat dan mengawal di rumah TUHAN, 8 haruslah mengelilingi raja dari segala penjuru, masing-masing dengan senjatanya di tangannya, dan siapa yang mendatangi barisan haruslah mati dibunuh. Dan baiklah kamu menyertai raja setiap kali ia keluar atau masuk." 9 Para kepala pasukan seratus itu melakukan tepat seperti yang diperintahkan imam Yoyada. Masing-masing mengambil orang-orangnya yang selesai bertugas pada hari Sabat bersama-sama dengan orang-orang yang masuk bertugas pada hari itu, lalu datanglah mereka kepada imam Yoyada. 10 Imam memberikan kepada para kepala pasukan seratus itu tombak-tombak dan perisai-perisai kepunyaan raja Daud yang ada di rumah TUHAN. 11 Kemudian para bentara itu, masing-masing dengan senjatanya di tangannya, mengambil tempatnya di lambung kanan sampai ke lambung kiri rumah itu, dengan mengelilingi mezbah dan rumah itu untuk melindungi raja. 12 Sesudah itu Yoyada membawa anak raja itu ke luar, mengenakan jejamang kepadanya dan memberikan hukum Allah kepadanya. Mereka menobatkan dia menjadi raja serta mengurapinya, dan sambil bertepuk tangan berserulah mereka: "Hiduplah raja!" 13 Ketika Atalya mendengar suara bentara-bentara penunggu dan rakyat, pergilah ia mendapatkan rakyat itu ke dalam rumah TUHAN. 14 Lalu dilihatnyalah raja berdiri dekat tiang menurut kebiasaan, sedang para pemimpin dengan para pemegang nafiri ada dekat raja. Dan seluruh rakyat negeri bersukaria sambil meniup nafiri. Maka Atalya mengoyakkan pakaiannya sambil berseru: "Khianat, khianat!" 15 Tetapi imam Yoyada memerintahkan para kepala pasukan seratus, yakni orang-orang yang mengepalai tentara, katanya kepada mereka: "Bawalah dia keluar dari barisan! Siapa yang memihak kepadanya bunuhlah dengan pedang!" Sebab tadinya imam itu telah berkata: "Janganlah ia dibunuh di rumah TUHAN!" 16 Lalu mereka menangkap perempuan itu. Pada waktu ia masuk ke istana raja dengan melalui pintu bagi kuda, dibunuhlah dia di situ. 17 Kemudian Yoyada mengikat perjanjian antara TUHAN dengan raja dan rakyat, bahwa mereka menjadi umat TUHAN; juga antara raja dengan rakyat. 18 Sesudah itu masuklah seluruh rakyat negeri ke rumah Baal, lalu merobohkannya; mereka memecahkan sama sekali mezbah-mezbahnya dan patung-patung dan membunuh Matan, imam Baal, di depan mezbah-mezbah itu. Kemudian imam Yoyada mengangkat penjaga-penjaga untuk rumah TUHAN. 19 Sesudah itu ia mengajak para kepala pasukan seratus orang-orang Kari dan para bentara penunggu dan seluruh rakyat negeri, lalu mereka membawa raja turun dari rumah TUHAN; mereka masuk ke istana raja melalui pintu gerbang para bentara; kemudian duduklah raja di atas takhta kerajaan. 20 Bersukarialah seluruh rakyat negeri dan amanlah kota itu, setelah Atalya mati dibunuh dengan pedang di istana raja.

Rencana Allah Mendatangkan Kesejahteraan dan Keamanan

Perencanaan adalah realitas yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia dan dilakukan dengan maksud memperoleh kebaikan.  Ideal atau esensi perencanaan dimaksud dapatlah menjadi sirna bila nurani dibutakan oleh kejahatan dan kepentingan diri semata. Nurani yang jahat menyebabkan perencanaan dan tindakan yang membinasakan sesama. Kisah hari ini mengisahkan pesan iman bahwa Tuhan tidak pernah menghendaki perencanaan dan tindakan yang tidak terpuji karena itu pasti bertindak menyatakan kehendak-Nya. Atalya sangat berambisi mengambil alih tahta kerajaan, sehingga merancangkan yang jahat di mata Tuhan dan akhirnya ia pun mati dibunuh. Membunuh orang lain dipahami sebagai tindakan yang benar untuk memperoleh tujuan memuaskan kepentingan disi sendiri. Kehendak Tuhan ditegakkan, Ia memakai Yoseba dan imam Yoyada sebagai alat penyelamatan, sehingga Yoas diangkat menjadi raja. Kisah pembunuhan terjadi pula dalam kehidupan dewasa ini baik dalam bentuk fisik maupun psikis. Kita juga belajar bahwa mementingkan kepentingan diri sendiri selalu merusak kebersamaan yang rukun. Tanggung jawab untuk saling mengasihi,  melindungi, memberikan rasa nyaman dan aman serta kesejahteraan antara satu dengan yang lainnya harus diwujudkan dalam keluarga.  Momentum peringatan hari kemerdekaan RI yang ke-76 ini hendaknya dimaknai sebagai kesempatan untuk  tidak semena-mena terhadap orang lain. Hiduplah dengan cinta kasih dan harmoni dengan semua orang, lakukanlah yang benar dan bersyukurlah senantiasa.

Doa:  Ya Tuhan, ajari kami agar tidak memutlakkan kepentingan diri dan  mengorbankan orang lain. Amin.

Rabu, 18 Agustus 2021                                     

bacaan : Daniel 5 : 10 – 30

10 Karena perkataan raja dan para pembesarnya itu masuklah permaisuri ke dalam ruang perjamuan; berkatalah ia: "Ya raja, kekallah hidup tuanku! Janganlah pikiran-pikiran tuanku menggelisahkan tuanku dan janganlah menjadi pucat; 11 sebab dalam kerajaan tuanku ada seorang yang penuh dengan roh para dewa yang kudus! Dalam zaman ayah tuanku ada terdapat pada orang itu kecerahan, akal budi dan hikmat yang seperti hikmat para dewa. Ia telah diangkat oleh raja Nebukadnezar, ayah tuanku menjadi kepala orang-orang berilmu, para ahli jampi, para Kasdim dan para ahli nujum, 12 karena pada orang itu terdapat roh yang luar biasa dan pengetahuan dan akal budi, sehingga dapat menerangkan mimpi, menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi dan menguraikan kekusutan, yakni pada Daniel yang dinamai Beltsazar oleh raja. Baiklah sekarang Daniel dipanggil dan ia akan memberitahukan maknanya!" 13 Lalu dibawalah Daniel menghadap raja. Bertanyalah raja kepada Daniel: "Engkaukah Daniel itu, salah seorang buangan yang telah diangkut oleh raja, ayahku, dari tanah Yehuda? 14 Telah kudengar tentang engkau, bahwa engkau penuh dengan roh para dewa, dan bahwa padamu terdapat kecerahan, akal budi dan hikmat yang luar biasa. 15 Kepadaku telah dibawa orang-orang bijaksana, para ahli jampi, supaya mereka membaca tulisan ini dan memberitahukan maknanya kepadaku, tetapi mereka tidak sanggup mengatakan makna perkataan itu. 16 Tetapi telah kudengar tentang engkau, bahwa engkau dapat memberikan makna dan dapat menguraikan kekusutan. Oleh sebab itu, jika engkau dapat membaca tulisan itu dan dapat memberitahukan maknanya kepadaku, maka kepadamu akan dikenakan pakaian dari kain ungu dan pada lehermu akan dikalungkan rantai emas, dan dalam kerajaan ini engkau akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga." 17 Kemudian Daniel menjawab raja: "Tahanlah hadiah tuanku, berikanlah pemberian tuanku kepada orang lain! Namun demikian, aku akan membaca tulisan itu bagi raja dan memberitahukan maknanya kepada tuanku. 18 Ya tuanku raja! Allah, Yang Mahatinggi, telah memberikan kekuasaan sebagai raja, kebesaran, kemuliaan dan keluhuran kepada Nebukadnezar, ayah tuanku. 19 Dan oleh karena kebesaran yang telah diberikan-Nya kepadanya itu, maka takut dan gentarlah terhadap dia orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa; dibunuhnya siapa yang dikehendakinya dan dibiarkannya hidup siapa yang dikehendakinya, ditinggikannya siapa yang dikehendakinya dan direndahkannya siapa yang dikehendakinya. 20 Tetapi ketika ia menjadi tinggi hati dan keras kepala, sehingga berlaku terlalu angkuh, maka ia dijatuhkan dari takhta kerajaannya dan kemuliaannya diambil dari padanya. 21 Ia dihalau dari antara manusia dan hatinya menjadi sama seperti hati binatang, dan tempat tinggalnya ada di antara keledai hutan; kepadanya diberikan makanan rumput seperti kepada lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai ia mengakui, bahwa Allah, Yang Mahatinggi, berkuasa atas kerajaan manusia dan mengangkat siapa yang dikehendaki-Nya untuk kedudukan itu. 22 Tetapi tuanku, Belsyazar, anaknya, tidak merendahkan diri, walaupun tuanku mengetahui semuanya ini. 23 Tuanku meninggikan diri terhadap Yang Berkuasa di sorga: perkakas dari Bait-Nya dibawa orang kepada tuanku, lalu tuanku serta para pembesar tuanku, para isteri dan para gundik tuanku telah minum anggur dari perkakas itu; tuanku telah memuji-muji dewa-dewa dari perak dan emas, dari tembaga, besi, kayu dan batu, yang tidak dapat melihat atau mendengar atau mengetahui, dan tidak tuanku muliakan Allah, yang menggenggam nafas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku. 24 Sebab itu Ia menyuruh punggung tangan itu dan dituliskanlah tulisan ini. 25 Maka inilah tulisan yang tertulis itu: Mene, mene, tekel ufarsin. 26 Dan inilah makna perkataan itu: Mene: masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri; 27 Tekel: tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan; 28 Peres: kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia." 29 Lalu atas titah Belsyazar dikenakanlah kepada Daniel pakaian dari kain ungu dan pada lehernya dikalungkan rantai emas, dan dimaklumkanlah tentang dia, bahwa di dalam kerajaan ia akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga. 30 Pada malam itu juga terbunuhlah Belsyazar, raja orang Kasdim itu.

Takut Tuhan Peroleh Hikmat dan Tinggi Hati Direndahkan Orang

Keegoisan membuat seseorang menjadi tinggi hati, memiliki keyakinan berlebihan atas apa yang dilakukannya, dan tidak memperhitungkan dampak buruk dari keputusan atau tindakannya.   Pengalaman haruslah dijadikan pelajaran hidup agar dapat terhindar dari akibat buruk keegoisan. Belsyazar sama sekali tidak belajar dari pengalaman ayahnya Nebukadnezar tapi justru meninggikan diri dengan kekuasaannya. Kekuasaan yang didapati oleh seseorang sebenarnya adalah pemberian Tuhan yang harus dijalankan dengan penuh rasa tanggungjawab dan takut. Perilaku tinggi hati atau sombong membuat seseorang tidak menghargai kekudusan hadirat Tuhan dan karenanya menimbulkan kemarahan-Nya. Tulisan di dinding adalah bukti kemarahan Tuhan atas tingkah laku Belsyazar seorang raja yang tinggi hati. Bacaan hari mengajarkan bahwa kesombongan akan membuat seseorang tidak menghargai kekudusan hadirat Tuhan. Kita harus menghargai dan tunduk pada otoritasnya-Nya dan terus belajar dari pengalaman, yang baik diteladani serta tidak mengulangi yang buruk. Keluarga berperanan penting dalam upaya pengenalan akan Tuhan. Karya dan kasih Tuhan diceritakan, kehendak-Nya diajarakan terus-menerus, sehingga seluruh keluarga takut Tuhan serta tunduk di hadirat-Nya. Daniel adalah contoh orang yang takut Tuhan, ia diberikan hikmat hikmat dan akal budi untuk mengartikan serta memaknai maksud Allah dalam tulisan di dinding. Orang yang takut akan Tuhan diberikan hikmat dan pengertian, dihargai dalam hidup karena prestasinya serta memuliakan Tuhan.

Doa:  Tuhan, berikanlah hikmat bagi kami agar tetap merendahkan diri dan menghargai kekudusan Hadirat-Mu. Amin.

Kamis, 19 Agustus 2021                              

bacaan : Bilangan 22 : 2 – 13

Balak memanggil Bileam
2 Balak bin Zipor melihat segala yang dilakukan Israel kepada orang Amori. 3 Maka sangat gentarlah orang Moab terhadap bangsa itu, karena jumlahnya banyak, lalu muak dan takutlah orang Moab karena orang Israel. 4 Lalu berkatalah orang Moab kepada para tua-tua Midian: "Tentu saja laskar besar itu akan membabat habis segala sesuatu yang di sekeliling kita, seperti lembu membabat habis tumbuh-tumbuhan hijau di padang." Adapun pada waktu itu Balak bin Zipor menjadi raja Moab. 5 Raja ini mengirim utusan kepada Bileam bin Beor, ke Petor yang di tepi sungai Efrat, ke negeri teman-teman sebangsanya, untuk memanggil dia, dengan pesan: "Ketahuilah, ada suatu bangsa keluar dari Mesir; sungguh, sampai tertutup permukaan bumi olehnya, dan mereka sedang berkemah di depanku. 6 Karena itu, datanglah dan kutuk bangsa itu bagiku, sebab mereka lebih kuat dari padaku; mungkin aku sanggup mengalahkannya dan menghalaunya dari negeri ini, sebab aku tahu: siapa yang kauberkati, dia beroleh berkat, dan siapa yang kaukutuk, dia kena kutuk." 7 Lalu berangkatlah para tua-tua Moab dan para tua-tua Midian dengan membawa di tangannya upah penenung; setelah mereka sampai kepada Bileam, disampaikanlah kepadanya pesan Balak. 8 Lalu berkatalah Bileam kepada mereka: "Bermalamlah di sini pada malam ini, maka aku akan memberi jawab kepadamu, sesuai dengan apa yang akan difirmankan TUHAN kepadaku." Maka tinggallah pemuka-pemuka Moab itu pada Bileam. 9 Kemudian datanglah Allah kepada Bileam serta berfirman: "Siapakah orang-orang yang bersama-sama dengan engkau itu?" 10 Dan berkatalah Bileam kepada Allah: "Balak bin Zipor, raja Moab, mengutus orang kepadaku dengan pesan: 11 Ketahuilah, ada bangsa yang keluar dari Mesir, dan permukaan bumi tertutup olehnya; karena itu, datanglah, serapahlah mereka bagiku, mungkin aku akan sanggup berperang melawan mereka dan menghalau mereka." 12 Lalu berfirmanlah Allah kepada Bileam: "Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati." 13 Bangunlah Bileam pada waktu pagi, lalu berkata kepada pemuka-pemuka Balak: "Pulanglah ke negerimu, sebab TUHAN tidak mengizinkan aku pergi bersama-sama dengan kamu."

 Taat Dan Bertindak Sesuai Petunjuk Allah

Ketaatan merupakan bukti iman setiap orang percaya. Hidup yang taat senantiasa  melibatkan Tuhan dalam berbagai macam pertimbangan dan keputusan. Kisah tentang Balak bin Zipor memanggil Bileam bin Beor sebagimana yang kita baca hari ini secara tegas menyajikan pesan ketataan. Awalnya adalah ketika Balak bin Zipor  yang adalah raja Moab, merasa ketakutan melihat banyaknya bangsa Israel yang sedang berkemah di daerah seberang sungai Yordan. Ia pun mengutus orang-orang suruhannya kepada Bileam untuk mengutuki bangsa Israel, dengan tujuan dapat mengalahkan dan menghalau bangsa tersebut. Bileam seorang pelihat yang diketahui memiliki kemampuan memberkati dan mengutuk. Hal apa pun diberkatinya menjadi terberkati dan bila dikutuk akan terkutuk. Perkataan-perkataan yang diucapkannya berasal dari Tuhan sebab orang ini hidup dalam ketataan yang luar biasa. Ketaatan Bileam pada kehendak Tuhan layak dijadikan teladan beriman agar sebagai orang percaya kita mampu terhindar dari perilaku ketidaktaatan. Kita harus taat menjadikan firman sebagai pedoman agar kehendak Tuhan menguasai keinginan manusiawi. Kisah ini juga mengingatkan kita agar tidak menghalalkan cara dan mengorbankan orang lain demi memperoleh tujuan. Berusahalah terus menjadi orang percaya yang taat, selalu melibatkan dan meminta campur tangan Tuhan dalam seluruh kenyataan hidup. Berdoalah senantiasa, mintalah hikmat dari Tuhan agar terhindar dari niat jahat dan perilaku mendatangkan keburukan bagi orang lain.

Doa:   Tuhan Yesus, berikanlah hikmat agar setiap sikap dan perbuatan  kami mencerminkan ketaatan sesui dengan Kehendak-Mu. Amin.

Jumat, 20 Agustus 2021                                   

bacaan : Ayub 12 : 12 – 13

12 Konon hikmat ada pada orang yang tua, dan pengertian pada orang yang lanjut umurnya. 13 Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian.

Hikmat Allah Menuntun Hidup

Orang benar menjalani hidupnya bukan dengan mengandalkan pengertian sendiri, tetapi berdasar pada hikmat atau pengertian yang berasal dari Allah. Hidupnya berkenan kepada Allah dan meyakini bahwa campur tangan-Nya berlangsung dalam segala sesuatu yang dialami. Gagasan ideal tentang orang benar ini tak selamanya terwujud dalam kenyataan sehari-hari. Kenyataan membuktikan bahwa masih ada orang yang bersandar pada pengertian sendiri, angkuh, merasa paling hebat atau benar baik dalam pikiran maupun tindakan, dan menganggap bahwa sukses adalah hasil kerja kerasnya bukan anugerah Allah. Bacaan hari ini menegaskan bahwa pada saat Ayub mengalami berbagai tantangan hidup, dengan kesadaran diri ia tetap mengakui kekuasaan dan hikmat Allah. Ia mengakui bahwa sekalipun hikmat dan pengertian ada pada orang berusia lanjut, namun  hanya Allah sajalah yang memiliki hikmat, kekuatan pertimbangan  serta pengertian sejati. Kita diminta untuk menyadari bahwa selama hidup dijalani, masalah pasti ada dan berlangsung kapan serta di mana saja.  Masalah hanya dapat diatasi dengan mengandalkan Allah, bukan bersandar pada pengertian sendiri. Keluarga haruslah dijadikan sebagai tempat belajar tentang hikmat, pengertian serta mengandalkan Allah baik dalam keadaan senang maupun susah. Bergantunglah pada Allah sebab hikmat-Nya akan senantiasa membimbing pada pemahaman, serta menuntun hidup. Ingatlah bahwa hikmat yang sejati berasal dari Allah karena itu janganlah mengandalkan pengertian sendiri agar hidup kita dituntun dan berkenan kepada-Nya.

Doa:  Ya Allah, berikanlah hikmat-Mu agar dapat menuntun seluruh kehidupan kami. Amin.

Sabtu, 21 Agustus 2021                            

bacaan : 2 Tawarikh 34 : 1 – 7

Raja Yosia -- Pembaharuan yang dilakukan Yosia
Yosia berumur delapan tahun pada waktu ia menjadi raja dan tiga puluh satu tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. 2 Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. 3 Pada tahun kedelapan dari pemerintahannya, ketika ia masih muda belia, ia mulai mencari Allah Daud, bapa leluhurnya, dan pada tahun kedua belas ia mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari pada bukit-bukit pengorbanan, tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan. 4 Mezbah-mezbah para Baal dirobohkan di hadapannya; ia menghancurkan pedupaan-pedupaan yang ada di atasnya; ia meremukkan dan menghancurluluhkan tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan, dan menghamburkannya ke atas kuburan orang-orang yang mempersembahkan korban kepada berhala-berhala itu. 5 Tulang-tulang para imam dibakarnya di atas mezbah-mezbah mereka. Demikianlah ia mentahirkan Yehuda dan Yerusalem. 6 Juga di kota-kota Manasye, Efraim dan Simeon, sampai di kota-kota Naftali, yang di mana-mana telah menjadi reruntuhan, 7 ia merobohkan segala mezbah dan tiang berhala, meremukkan segala patung pahatan serta menghancurluluhkannya, dan menghancurkan semua pedupaan di seluruh tanah Israel. Sesudah itu ia kembali ke Yerusalem.

Orang Tua Sebagai Teladan Yang Berhikmat

Umur 8 tahun, secara psikologi dikategorikan sebagai usia anak sekolah. Perkembangan emosional dan sosial anak mulai dialami pada usia ini. Tanda perkembangan tahap ini ialah mulai beradaptasi dengan lingkungan sekitar, mencari tahu mana yang salah dan benar, dapat mengidentifikasi dirinya melalui pertemanan, keluarga, kegemaran maupun kemampuan diri. Perkembangan yang demikian pada akhirnya menuntut peran orang tua agar dapat mengarahkan anak untuk menemukan jati dirinya. Yosia dinobatkan sebagai Raja Yerusalem pada usia 8 tahun. Ia telah diajarkan sejak kecil untuk mengenal Allah dan bertumbuh di dalam keluarga yang taat. Yosia  tidak mengikuti jejak kakeknya Manasye yang menyimpang dari ketaatan kepada Allah dan membawa bangsa Yehuda untuk menyembah berhala (2 Raja-raja 21:1-18). Ia bertumbuh menjadi anak yang taat kepada Allah dan memilih untuk mereformasi atau melakukan pembaruan terhadap segala penyimpangan. Membimbing anak untuk menjadi pribadi yang baik dan berguna adalah dambaan setiap orang tua. Keluarga adalah basis pembentukan karakter dan kepribadian anak karena itu orang tua haruslah menjadi teladan orang berhikmat. Anak sudah mulai belajar menentukan yang salah dan benar ketika berumur 8 tahun dan orang tua terpanggil menjadi guru kehidupan yang meneladankan kebaikan. Teladan kebaikan adalah karakter orang tua berhikmat yang oleh karenanya anak-anak dibimbing dan dibentuk menjadi manusia yang taat kepada Allah. Anak-anak yang sejak dini telah diajarkan hal yang baik dan benar  menjadi berkualitas dalam perkembangan. Mereka akan menjadi orang berhikmat, tahu membedakan baik dan buruk, tidak jatuh ke dalam pencobaan lalu menjadi mangsa kesia-siaan serta taat kepada Allah.    

Doa:   Ya, Tuhan, sertailah keluarga kami untuk tetap berhikmat kepada-Mu. Amin.

*sumber : SHK bulan Agustus 2021, LPJ GPM

Santapan Harian Keluarga, 8 – 14 Agustus 2021

Tema Mingguan : “Menjadi Keluarga Yang Berharap Kepada Tuhan”

Tema Mingguan : “Menjadi Keluarga Yang Berharap Kepada TUHAN”

Minggu, 08 Agustus 2021                              

bacaan : Mazmur 42 : 1 – 12

Kerinduan kepada Allah
Untuk pemimpin biduan. Nyanyian pengajaran bani Korah. (42-2) Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. 2 (42-3) Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? 3 (42-4) Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: "Di mana Allahmu?" 4 (42-5) Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah-gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan. 5 (42-6) Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! 6 (42-7) Jiwaku tertekan dalam diriku, sebab itu aku teringat kepada-Mu dari tanah sungai Yordan dan pegunungan Hermon, dari gunung Mizar. 7 (42-8) Samudera raya berpanggil-panggilan dengan deru air terjun-Mu; segala gelora dan gelombang-Mu bergulung melingkupi aku. 8 (42-9) TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku. 9 (42-10) Aku berkata kepada Allah, gunung batuku: "Mengapa Engkau melupakan aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?" 10 (42-11) Seperti tikaman maut ke dalam tulangku lawanku mencela aku, sambil berkata kepadaku sepanjang hari: "Di mana Allahmu?" 11 (42-12) Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

Curhatlah Kepada Tuhan

Masalah disikapi sebagian orang dengan cara mencari teman curhat, entah itu pelayan, sahabat, keluarga, atau orang terdekat lainnya. Curhat biasanya dilakukan dengan harapan mendapat solusi, atau setidaknya membuat hati lega dan meringankan beban. Curhat bukanlah hal yang salah, namun dapat tidak bermanfaat bila melibatkan orang yang kurang tepat. Kemampuan menyimpan rahasia tidak dimiliki oleh semua orang. Masalah dan rahasia dapat bocor serta tersebar, sehingga  merugikan orang yang curhat. Pengalaman pemazmur hendaknya dijadikan teladan iman menemukan solusi menyelesaikan persoalan tekanan batin. Ia mengungkapkan: “mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah dalam diriku”? Pemazmur mengalami tekanan batin yang mendalam karena berbagai masalah, dan merintih mohon pertolongan. Ia berharap pada Tuhan dan mengungkapkan tekanan batinnya dalam doa. Kita pun mengalami banyak masalah yang menekan batin, terutama pandemi covid 19. Krisis iman, ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan hadir dan menekan batin dengan hebat. Belajarlah pada pemazmur yang berharap pada Tuhan, Ia  memberikan pertolongan, sehingga hati menjadi lega karena diliputi sukacita. Keluarga haruslah menjadi basis beriman yang di dalamnya tekad dan hati disatukan lalu curhat kepada Tuhan dalam doa. Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat dan nyata saat kita berserah dan membuka hati. Tuhan adalah harapan satu-satunya dan tempat berteduh yang abadi. Ia tahu apa yang dihadapi dan menekan batin, jadilah kuat dan tetap berserah diri serta mengandalkan Dia dalam segala situasi.

Doa: KepadaMu ya Tuhan kami membawa seluruh persoalan kami. Amin.

Senin, 09 Agustus 2021                                       

bacaan : Yesaya 2 : 22

22 Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?

Jangan Berharap Kepada Manusia

Uang dan jabatan sering dijadikan sebagai tumpuan harapan seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Uang dipahami sebagai raja dunia, identitas manusia, dan digunakan sebagai standar dalam menentukan derajat sosial. Kualitas seseorang diukur dari ada tidaknya uang yang dimiliki, bukan berdasarkan norma dan karakter. Jabatan pun memiliki pengaruh yang tidak kurang mempengaruhi perilaku manusia dewasa ini. Ingatlah ungkapan “orang dalam” yang diandalkan saat mengikuti tes memperoleh pekerjaan, anak masuk sekolah dll. Uang dan jabatan dijadikan andalan penyelesaian berbagai hal dan Tuhan dilupakan. Kita memerlukan uang dan jabatan atau manusia, namun tidak boleh melupakan Tuhan sumber segala sesuatu. Mereka yang berharap dan mengandalkan Tuhan tidak menjadi kecewa. Bacaan hari ini, Yesaya 2:22 menegaskan, jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih daripada embusan nafas. Manusia adalah ciptaan Allah yang sungguh amat baik, namun tetap terbatas dalam hal tertentu. Tuhan-lah tumpuan harapan satu-satunya, Ia sanggup menjawab segala kebutuhan hidup manusia. Ia hadir dengan pertolongan-Nya di saat manusia berada pada “titik paling rendah” dalam hidupnya. Setiap orang yang berharap kepada Tuhan tidak pernah kecewa. Yakinlah akan kasih dan kebaikan Tuhan dan jadilah kuat serta tenang. Kasih dan kebaikan manusia bisa sirna dan musnah seiring berjalannya waktu, namun yang berasal dari  Tuhan abadi adanya. Setiap orang yang berharap kepadaNya akan mengalami kelimpahan hidup.

Doa: Tuhan, ajarilah kami untuk tetap berharap kepadaMu. Amin.

Selasa, 10 Agustus 2021                               

bacaan : Yesaya 36 : 1 – 10

Yerusalem dikepung oleh Sanherib
Maka dalam tahun keempat belas zaman raja Hizkia majulah Sanherib, raja Asyur, menyerang segala kota berkubu negeri Yehuda, lalu merebutnya. 2 Raja Asyur mengutus juru minuman agung dari Lakhis ke Yerusalem kepada raja Hizkia disertai suatu tentara yang besar. Ia mengambil tempat dekat saluran kolam atas di jalan raya pada Padang Tukang Penatu. 3 Keluarlah mendapatkan dia Elyakim bin Hilkia, kepala istana, dan Sebna, panitera negara, serta Yoab bin Asaf, bendahara negara. 4 Lalu berkatalah juru minuman agung kepada mereka: "Baiklah katakan kepada Hizkia: Beginilah kata raja agung, raja Asyur: Kepercayaan macam apakah yang kaupegang ini? 5 Kaukira bahwa hanya ucapan bibir saja dapat merupakan rencana dan kekuatan untuk perang! Sekarang, kepada siapa engkau berharap, maka engkau memberontak terhadap aku? 6 Sesungguhnya, engkau berharap kepada tongkat bambu yang patah terkulai itu, yaitu Mesir, yang akan menusuk dan menembus tangan orang yang bertopang kepadanya. Begitulah keadaan Firaun, raja Mesir, bagi semua orang yang berharap kepadanya. 7 Dan apabila engkau berkata kepadaku: Kami berharap kepada TUHAN, Allah kami, --bukankah Dia itu yang bukit-bukit pengorbanan-Nya dan mezbah-mezbah-Nya telah dijauhkan oleh Hizkia sambil berkata kepada Yehuda dan Yerusalem: Di depan mezbah inilah kamu harus sujud menyembah! 8 Maka sekarang, baiklah bertaruh dengan tuanku, raja Asyur: Aku akan memberikan dua ribu ekor kuda kepadamu, jika engkau sanggup memberikan dari pihakmu orang-orang yang mengendarainya. 9 Bagaimanakah mungkin engkau memukul mundur satu orang perwira tuanku yang paling kecil? Padahal engkau berharap kepada Mesir dalam hal kereta dan orang-orang berkuda! 10 Sekarangpun, adakah di luar kehendak TUHAN aku maju melawan negeri ini untuk memusnahkannya? TUHAN telah berfirman kepadaku: Majulah menyerang negeri itu dan musnahkanlah itu!"

Suka Duka DipakaiNya Untuk Kebaikanku

Seorang tukang periuk selalu menginginkan periuk buatannya baik dan sempurna. Periuk yang kurang baik, akan dirombak dan dibentuk kembali  agar menjadi sempurna. Tuhan pun demikian, senantiasa berkarya dan mendatangkan kebaikan dalam seluruh keadaan manusia. Manusia adalah ciptaan-Nya yang sungguh amat baik. Alkitab juga menyaksikan bahwa Israel adalah umat pilihan, dan dari merekalah bangsa-bangsa lain memperoleh berkat. Pilihan dan keistimewahan yang telah ditetapkan Allah itu di kemudian hari disangkali Israel, mereka hidup menurut kehendak sendiri. Dosa besar yang mereka lakukan adalah penyembahan berhala dan berharap serta bersandar pada kekuatan militer bangsa lain. Bacaan hari ini menegaskan pula bahwa kesukaran yang Israel alami bukanlah alasan berakhirnya kebaikan Allah. Allah tetap mengasihi dan menyatakan kebaikan-Nya. Kesaksian Yesaya ini layak dijadikan inspirasi bagi orang percaya agar tetap meyakini kebaikan Allah. Orang yang meyakini kebaikan Allah memiliki kekuatan untuk terus mendekatkan diri, berdoa dan berserah.  Allah menyatakan kasih kepada manusia dalam seluruh situasi hidup, baik suka maupun duka.  Suka duka dipakai Allah untuk membentuk manusia menjadi pribadi beriman yang kuat dan lebih baik serta berkenan kepada-Nya. Ia memberikan kekuatan yang memampukan kita melewati penderitaan atau masa hidup yang sulit. Kebahagiaan dan kesukaran akan terjadi silih berganti menghiasi hidup kita. Hendaklah terus berharap pada Tuhan baik dalam suka maupun duka.

Doa: Ya Tuhan, arahkan langkah kami untuk tetap ada di jalanMu. Amin.

Rabu, 11 Agustus 2021                                 

bacaan : Mazmur 38 : 1 – 23

Doa pada waktu sakit
Mazmur Daud pada waktu mempersembahkan korban peringatan. (38-2) TUHAN, janganlah menghukum aku dalam geram-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan murka-Mu; 2 (38-3) sebab anak panah-Mu menembus aku, tangan-Mu telah turun menimpa aku. 3 (38-4) Tidak ada yang sehat pada dagingku oleh karena amarah-Mu, tidak ada yang selamat pada tulang-tulangku oleh karena dosaku; 4 (38-5) sebab kesalahanku telah menimpa kepalaku; semuanya seperti beban berat yang menjadi terlalu berat bagiku. 5 (38-6) Luka-lukaku berbau busuk, bernanah oleh karena kebodohanku; 6 (38-7) aku terbungkuk-bungkuk, sangat tertunduk; sepanjang hari aku berjalan dengan dukacita. 7 (38-8) Sebab pinggangku penuh radang, tidak ada yang sehat pada dagingku; 8 (38-9) aku kehabisan tenaga dan remuk redam, aku merintih karena degap-degup jantungku. 9 (38-10) Tuhan, Engkau mengetahui segala keinginanku, dan keluhkupun tidak tersembunyi bagi-Mu; 10 (38-11) jantungku berdebar-debar, kekuatanku hilang, dan cahaya matakupun lenyap dari padaku. 11 (38-12) Sahabat-sahabatku dan teman-temanku menyisih karena penyakitku, dan sanak saudaraku menjauh. 12 (38-13) Orang-orang yang ingin mencabut nyawaku memasang jerat, orang-orang yang mengikhtiarkan celakaku, memikirkan kehancuran dan merancangkan tipu daya sepanjang hari. 13 (38-14) Tetapi aku ini seperti orang tuli, aku tidak mendengar, seperti orang bisu yang tidak membuka mulutnya; 14 (38-15) ya, aku ini seperti orang yang tidak mendengar, yang tak ada bantahan dalam mulutnya. 15 (38-16) Sebab kepada-Mu, ya TUHAN, aku berharap; Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan, Allahku. 16 (38-17) Pikirku: "Asal mereka jangan beria-ria karena aku, jangan membesarkan diri terhadap aku apabila kakiku goyah!" 17 (38-18) Sebab aku mulai jatuh karena tersandung, dan aku selalu dirundung kesakitan; 18 (38-19) ya, aku mengaku kesalahanku, aku cemas karena dosaku. 19 (38-20) Orang-orang yang memusuhi aku besar jumlahnya, banyaklah orang-orang yang membenci aku tanpa sebab; 20 (38-21) mereka membalas yang jahat kepadaku ganti yang baik, mereka memusuhi aku, karena aku mengejar yang baik. 21 (38-22) Jangan tinggalkan aku, ya TUHAN, Allahku, janganlah jauh dari padaku! 22 (38-23) Segeralah menolong aku, ya Tuhan, keselamatanku!

KepadaMu Ku Berdoa

Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang lusuh dan layu menghampiri seorang penjaga makam sambil menyerahkan seikat bunga. “Pa, seperti biasanya, tolong letakan bunga ini di makam anakku ya”. Penjaga makam tersenyum dan berkata, “Ibu, selama bertahun-tahun ibu melakukan ini”. Wanita paruh baya itu menjawab, “Anakku telah tiada, untuk apa aku hidup, hidupku hanya untuk anakku”. Penjaga makam itu pun berkata dengan bijaksana, “Anak ibu akan sedih melihat ibu seperti ini. Teruslah melanjutkan hidup, masih banyak hal baik yang bisa ibu lakukan”. Beberapa bulan kemudian, sebuah mobil mewah parkir di depan pintu sebuah makam. Seorang wanita cantik paruh baya turun dengan senyum berseri dan menghampiri penjaga makam. “Saya mau mengucapkan terima kasih, beberapa bulan lalu saat kita berjumpa di sini, sebenarnya saya mengalami sakit kanker otak. Saya putus asa, rasanya ingin mati bersama anakku, tetapi berhasil bangkit berkat nasihatmu. Saya bersama anak-anak yatim piatu di panti asuhan, mengajarkan mereka membaca, menulis, memasak dan menjahit, semua hal itu membuat saya begitu bahagia”. Keputusasaan bisa menimpa siapa saja pada saat mengalami kesukaran, misalnya pada waktu sakit. Pemazmur mengungkapkan: “tidak ada yang sehat, berdegup, terbungkuk”, jiwanya terancam dan ia mengalami kesepian yang amat sangat. Tuhan dijadikannya sebagi tempat bersandar, mengeluh dan memohon.  Saat kita tidak bisa lagi melakukan sesuatu, doalah satu-satunya solusi. Tuhan pasti menjawab doa dan menolong  melalui orang-orang di sekitar kita.

Doa: Tuhan, kepada-Mu lah ku serahkan segala pergumulanku. Amin.

Kamis, 12 Agustus 2021                                     

bacaan : Mazmur 71 : 5

5 Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya ALLAH.

Berharaplah Pada Tuhan Sepanjang Hidupmu

Bacaan hari ini mengisahkan pengalaman beriman yang dialami raja Daud pada masa lanjut usianya. Ia merenung dan mengakui kemurahan Tuhan yang telah dialaminya sejak masa muda. Tuhan berkarya di sepanjang rentang usianya dengan cara menguatkan, menuntun, melindungi, dan memberkati. Hidupnya berlangsung karena kebaikan Tuhan. orang yang menapaki hidup di usia lanjut mengalami berkurangnya kekuatan fisik dan membayang akhir hidup yang mendekat. Pengalaman beriman yang telah dialaminya bersama Tuhan menguatkan iman. Imannya tetap kokoh, walau telah memasuki usia senja dan mengakui bahwa kemurahan Tuhan tidak pernah berakhir. Tuhan terus menyertainya sampai di masa lanjut usia dan ia pun tetap beriman serta memohon pertolongan dari-Nya. Kasih setia Tuhan dipuji dan diakuinya melalui ungkapan: “Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah”. Pengalaman spiritual Daud ini hendaknya dijadikan pelajaran berharga yang menuntun perjalanan hidup kita. Tuhan adalah harapan satu-satunya yang mampu memberi pertolongan untuk mengatasi berbagai kenyataan hidup yang mengguncang. Ia pasti menolong, melindungi, dan menyertai hidup orang percaya. Pertolongan-Nya menghalau takut dan kuatir terhadap risiko memasuki masa tua, sehingga sirnalah perasaan menjadi beban bagi orang lain, terabaikan serta tidak berguna. Hidup dan lanjut usia bukanlah kenyataan yang harus disesali tetapi dimaknai dan disyukuri sebagai kasih karunia Tuhan. Berharaplah pada Tuhan yang menguasai sejarah dan hidupmu, bersukacitalah senantiasa.

Doa: Tuhanlah harapanku berilah berkat-Mu berlimpah-limpah. Amin!

Jumat, 13 Agustus 2021                                

bacaan : Mazmur 123 : 1 – 4

Berharap kepada anugerah TUHAN
Nyanyian ziarah. Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di sorga. 2 Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita. 3 Kasihanilah kami, ya TUHAN, kasihanilah kami, sebab kami sudah cukup kenyang dengan penghinaan; 4 jiwa kami sudah cukup kenyang dengan olok-olok orang-orang yang merasa aman, dengan penghinaan orang-orang yang sombong.

Belas Kasihan Tuhan Melegakan Batin

Banyak orang mengalami tekanan batin ketika dihina, dicela dan dituding tanpa alasan yang jelas. Tekanan seperti ini pada saatnya akan mengakibatkan dialaminya stres dan depresi. Stres dan depresi mengakibatkan kelelahan serta kelemahan baik fisik maupun mental bahkan berbagai macam penyakit. Daud pun pernah mengalami pengalaman serupa, hatinya penuh sesak dengan hinaan. Telinganya tidak kuat lagi mendengar teriakan yang bernada ejekan. Matanya terasa perih melihat orang-orang dan pemandangan di sekelilingnya. Mulutnya pun terbungkam rapat tidak bisa lagi berkata apa-apa. Tekanan batin ini diatasinya dengan berdoa, menyembah dan menaikkan ucapan-ucapan syukur kepada Tuhan. Ia memohon belas kasihan, pertolongan, dan bimbingan Tuhan. Permohonannya bernada seruan dan pengakuan: ”Kasihanilah kami, ya Tuhan, kasihanilah kami,  sebab kami sudah cukup kenyang dengan penghinaan, jiwa kami sudah cukup kenyang dengan olok-olok orang-orang yang merasa aman, dengan penghinaan orang-orang yang sombong” (ayat 3 dan 4). Kata kami dalam bacaan ini menjelaskan bahwa permohonan Daud bukan saja bersifat pribadi tetapi juga persekutuan. Ia berdoa memohon pertolongan untuk seluruh umat dan dirinya sendiri. Berdoa sungguh-sungguh memohon belas kasihan Tuhan telah Daud teladankan kepada kita. Teladanilah sikap iman Daud dan yakinlah bahwa hanya belas kasihan Tuhan sajalah yang bisa mengatasi kemelut batin. Kemelut batin baik yang dialami secara pribadi maupun persekutuan dapat diatasi dengan memohon belas kasihan Tuhan. Belas kasihan Tuhan-lah yang mampu melegakan batin.

Doa: Ya Tuhan legakanlah tekanan batin kami dengan belas kasihan-Mu. Amin!

Sabtu, 14 Agustus 2021

bacaan : Mazmur 130 : 1 – 8

Seruan dari dalam kesusahan
Nyanyian ziarah. Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! 2 Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. 3 Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? 4 Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang. 5 Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. 6 Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi. 7 Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan. 8 Dialah yang akan membebaskan Israel dari segala kesalahannya.

Berharaplah Pada Tuhan Karena Ia  Setia Mengasihi

Ungkapan “Nyanyian ziarah” yang dipakai di awal mazmur ini sesungguhnya berarti “naik”. Yerusalem didirikan di daerah perbukitan, dan Bait Allah ada di atas bukit bernama Sion. Pemazmur naik menghampiri Allah dalam Bait-Nya yang Kudus dan berdoa mengakui kesalahannya. Ia berseru dari dalam kesukaran dan memohon agar Tuhan mengampuni kesalahannya. Kesalahan yang sudah dilakukan diakui dan berseru memohon agar Tuhan mendengar seruannya. Pengampunan Tuhan ia mohonkan supaya terlepas dari akibat kesalahannya. Pengampunan Tuhan-lah yang akan menyelamatkan pemazmur, sebab kasih setia ada pada-Nya. Keyakinannya akan kasih setia Tuhan teguh, sehingga ia sabar menanti jawaban Tuhan. Bacaan hari ini menegaskan pesan bahwa semua orang dapat melakukan kesalahan dan Tuhan tahu semuanya. Kita diminta untuk terbuka dan jujur mengakui semua kesalahan serta memohon pengampunan. Ingatlah kesalahan yang disembunyikan atau ditutupi memberatkan batin dan membuat hidup menjadi tidak bergairah. Kita mengharapkan pengampunan Tuhan agar terlepas dari rasa bersalah dan mengalami kelegaan. Tuhan itu baik, kasih setia ada pada-Nya, datanglah dan berserulah dari dalam kesukaranmu, Ia pasti mendengar. Berhati-hatilah menjalani keberadaan sebagai orang beriman agar terhindar dari melakukan kesalahan. Mohonlah hikmat dari-Nya supaya hidup dituntun dan diterangi serta berkenan kepada-Nya. Bersabarlah bila permohonan tidak cepat terjawab, percayalah bahwa pada waktu-Nya Tuhan pasti menjawab. Yakinlah akan kasih setia Tuhan yang tak pernah berkesudahan.      

Doa: Ya Tuhan, ingatlah akan kami yang mengharapkan kasih setia-Mu. Amin!

*sumber : SHK bulan Agustus 2021, LPJ GPM